• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SELF-DISCLOSURE TERHADAP STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH SELF-DISCLOSURE TERHADAP STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SELF-DISCLOSURE TERHADAP STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19

SKRIPSI

Oleh :

Nur Hayatin Mufidah 201710230311293

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2021

(2)

PENGARUH SELF-DISCLOSURE TERHADAP STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN DI MASA COVID-19

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salahsatu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Nur Hayatin Mufidah 201710230311293

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2021

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur mari kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’Ala, atas Rahmat dan karunia yang telah dilimpahan-Nya penulis dapat menulis hingga menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Pengaruh Self-Disclosure terhadap Stres Kerja Pada Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19” ini untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan serta dalam rangka memperoleh gelar sarjana Pendidikan Strata Satu pada Program Studi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam penulisanan dan penyususnan skripsi ini penulis sepenuhnya menyadari bahwa tidak terlepas dari dukungan, bantuan, bimbingan, serta do’a dari berbagai pihak. Maka dari itu pada kesempatan kali ini peneliti ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar- besarnya serta rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada pihak yang terlibat, antara lain :

1. Bapak M. Salis Yuniardi, M.Psi., PhD selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

2. Ibu Nida Hasanati., Dr., M. Si dan Pak Muhammad Fath Mashuri, S. Psi., M. A selaku dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II yang telah memberikan waktu, kesempatan, serta ilmunya dalam memberikan arahan serta bimbingan terhadap penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Ibu Diana Savitri Hidayati, M.Psi selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan dan arahan sejak awal masuk perkuliahan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang.

4. Semua dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan ilmu dan tenaga untuk pembelajaran selama perkuliahan.

5. Para Tenaga Kesehatan di Puskesmas Batang-Batang yang telah bersedia untuk membantu meluangkan waktunya dalam pengisian kuisioner penelitian ini.

6. Mama dan saudara-saudaraku yang tercinta (Mbak Ayu, Mbak Ifa dan Eunchae) yang senantiasa memberikan dukungan baik material maupun moral melalui cinta kasih sehingga membuat penulis mendapatkan kekuatan atas dukungan yang diberikan selama perkuliahan hingga saat ini. Tidak lupa, kepada kakak ipar ku Mas Ziqi dan juga keponakan-keponakan tercinta ku (Kenzie, Queen dan Raya) yang juga turut memberikan cinta kasih kepada penulis, dan juga untuk Mbah-mbah ku yang sangat aku cintai, yang turut dalam memberikan sokongan bagi penulis untuk bisa menjalani masa-masa kuliah yang sangat indah hingga saat ini. Juga untuk Bapak yang sudah di Surga, kenangan dan juga nasehat yang ditinggalkan semasa hidup menjadi sebuah motivasi tersendiri agar tetap bersemangat dan juga pantang menyerah dalam kondisi apapun.

7. Ibu kos dan keluarga yang sudah memberikan tempat berteduh yang nyaman bagi penulis semasa perkuliahan hingga saat ini. Serta teman teman kos yang bertahan hingga kini Citra, Dita, Kak Nana, Sukma, Lia, Suci, Dinda, Rifa dan Novita.

Terimakasih atas perhatian dan bantuannya selama ini.

8. Teman-teman kelas E 2017 Fakultas Psikologi tercinta yang telah memberikan dukungan serta bantuannya, Mbak Firda, Ade, Izza, Hanifa, Zul, Pipit, Athaya, Juli,

(6)

v

Chantika, Arik, Citra Ayu dan teman teman kelas yang lainnya. Dan juga untuk Wiwin dan juga Ainun yang merupakan teman yang selalu memberikan hiburan tersendiri bagi penulis. Terima kasih atas hiburan dan juga

9. Sumber semangat dan support system penulis yaitu Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung dan Jeon Jungkook yang tergabung dalam grup musik BTS. Terima kasih banyak atas segala ungkapan-ungkapan manis dan juga indah dalam lagu-lagu nya yang menjadi sumber semangat penulis untuk bisa menyelesaikan penelitian ini. Dan yang sudah mengajarkan untuk bisa Love Yourself dan mampu untuk Speak Yourself.

10. Semua pihak yang tidak dapat dituliskan satu persatu oleh penulis, karena kontribusinya dalam memberikan bantuan dan dukungan dalam proses pengerjaan skripsi ini.

Demikian, penulis menyadari bahwa hasil karya yang telah diselesaikan tidaklah sempurna.

Maka dari itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun agar dapat menjadi pembelajaran untuk masa yang akan datang. Selain itu, penulis juga berharap semoga peelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

Malang, Oktober 2021

Penulis

(7)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAK ... 1

LATAR BELAKANG ... 2

KAJIAN TEORI ... 4

Stres Kerja ... 4

Self-DIsclosure ... 5

Tenaga Kesehatan ... 6

Pengaruh Self-Disclosure terhadap Stres Kerja ... 6

Kerangka Berpikir ... 7

Hipotesis ... 7

METODE PENELITIAN ... 8

Rancangan Penelitian ... 8

Subjek Penelitian ... 8

Variabel dan Instrumen Penelitian ... 9

Prosedur dan Analisa Data ... 9

HASIL PENELITIAN ... 10

DISKUSI ... 11

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 13

REFERENSI ... 14

LAMPIRAN ... 17

(8)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian ... ... 8

Tabel 2. Kategorisasi Self-Disclosure dan Stres Kerja ... ... 10

Tabel 3. Uji Normalitas ... ... 10

Tabel 4. Analisis Uji Regresi ... ... 11

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Berpikir ... 7

(10)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Blue Print Skala Self-Disclosure dan Stres Kerja ... 18

Lampiran 2. Skala Self-Disclosure dan Stres Kerja ... 19

Skala Self-Disclosure ... 20

Skala Stres Kerja ... 22

Lampiran 3. Hasil Data ... 23

Lampiran 4. Uji Normalitas Skewness dan Kurtosis ... 36

Lampiran 5. Uji Regresi Linier ... 36

Lampiran 6. Surat Verifikasi Data ... 39

Lampiran 7. Surat Cek Plagiasi ... 40

(11)

1

Pengaruh Self-Disclosure terhadap Stres Kerja Pada Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19

Nur Hayatin Mufidah

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]

Covid-19 saat ini sedang menjadi topik terkini dan menjadi salah satu fenomena baru yang sangat kritis terjadi hampir di seluruh negara. Kondisi stres dapat dirasakan pada tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19, sehingga perlu adanya upaya untuk menurunkan stres yaitu dengan self-disclosure. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh self-disclosure dengan stres kerja pada tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19. Dengan pendekatan penelitian kuantitatif korelasional, peneliti mengambil sampel penelitian dengan menggunakan total sampling dan dengan pengambilan data menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui google form dan didapatkan subjek sebanyak 71 orang tenaga kesehatan dari Puskesmas Batang-Batang. Analisis data yang digunakan yakni uji regresi linier sederhana dan didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,038 yang berarti p < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada Self-Disclosure terhadap Stres Kerja, sehingga pada hasil tersebut didapatkan bahwa jika Self-Disclosure yang dimiliki oleh tenaga kesehatan semakin tinggi, sehingga dapat berpengaruh pada stres kerja.

Kata Kunci : Self-Disclosure, Stres Kerja, Tenaga Kesehatan, Covid-19

Covid-19 is currently the current topic and is one of the most critical new phenomena occurring in almost all countries. Stress conditions can be felt in health workers who handle Covid-19 patients, so efforts are needed to reduce stress, namely self-disclosure. The purpose of this study was to see how much influence self-disclosure and work stress had on health workers during the Covid-19 pandemic. With a correlational quantitative research approach, researchers took research samples using total sampling and by collecting data using questionnaires distributed via google form and obtained as many as 71 health workers from the Batang-Batang Health Center. Analysis of the data used is a simple linear regression test and obtained a significance value of 0.038 which means p <0.05 so it can be concluded that there is a significant effect on Self-Disclosure on Work Stress, so that the results show that if Self-Disclosure is owned by health workers is higher, so it can affect work stress.

Keyword: Self-Disclosure, Job Stress, Health Workers, Covid-19

(12)

Covid-19 saat ini sedang menjadi topik terkini dan menjadi salah satu fenomena baru yang dianggap sangat kritis terjadi hampir di seluruh negara. Merebaknya penyakit ini, membuat angka pasien positif covid-19 di Rumah Sakit semakin tinggi, dan tentu hal ini sangat tidak terhindarkan. Pusat dari fenomena ini sendiri bermula dari kota Wuhan, China dimana ditemukan adanya jenis penyakit pneumonia misterius yang diketahui kasusnya pertama kali terjadi di pasar ikan di kota Wuhan. Merebaknya penyakit ini semakin pesat berdampak pada 5-40 orang pasien dirawat dengan diagnosa Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) hingga akhirnya telah sampai pada kasus besar dengan proses penyebarannya terjadi di beberapa provinsi di China serta beberapa negara tetangga yaitu Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Dampak yang dapat dirasakan tak hanya pada sektor-sektor umum dalam masyarakat saja, akan tetapi pandemi covid-19 ini juga dapat mempengaruhi fisik dan psikis individu itu sendiri. Dalam hal fisik, gejala-gejala yang akan dirasakan yaitu flu berat disertai batuk, dan gejala lainnya yang dapat mengindikasikan orang tersebut dinyatakan positif covid-19.

Sedangkan, dampak psikis sendiri juga dapat dirasakan, mengingat bahwa pandemi ini merupakan fenomena yang baru terjadi, sehingga hal tersebut dapat berpengaruh pada psikis setiap orang. Dampak yang akan dirasakan seperti stres berat, ketakutan dan kecemasan.

Dampak-dampak tersebut biasa ditemukan pada kelompok-kelompok pekerja dimana lebih dapat merasakan pengaruh dari pandemi covid-19 sendiri, seperti para penyedia layanan kesehatan, para garda terdepan, polisi, angkatan senjata dan lainnya. (Dubey et al. 2020).

Oleh karena itu, dampak psikis yang salah satunya adalah stres tersebut dapat menjadi pengaruh besar bagi kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama bagi para kelompok pekerja tersebut selama pandemi.

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, kondisi stres dapat dirasakan pada para penyedia layanan kesehatan dalam ini adalah tenaga kesehatan atau tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penyembuhan pasien terdampak. Stres kerja adalah suatu kondisi dimana individu merasa bahwa dirinya tidak nyaman atau tidak dapat menyesuaikan dengan tuntutan- tuntutan situasional dengan daya psikis, biologis, dan sosial serta adanya beban berlebihan yang tidak terkontrol yang mencakup intrapersonal, interpersonal dan ekstrapersonal dalam dirinya sehingga dengan adanya beban kerja yang dirasakan dapat mengganggu proses pelaksanaan pekerjaan sehingga hal tersebut mampu mengancam keberadaan diri dan kesejahteraannya (Cohen, Kamarck & Mermelstein, 1983, Sarafino, 1994, Schultz & Schultz, 1990). Seperti fenomena stress kerja pada tenaga kesehatan di Palestina dalam penelitian Maraqa et al. (2020) yang diketahui memiliki tingkat stres yang tinggi dimana perolehan hasil data yang menunjukkan bahwa adanya rasa takut apabila menularkan virus pada keluarga menjadi yang tertinggi dengan nilai (91.6%) kemudian diikuti dengan adanya pola pikir para tenaga kesehatan terhadap fakta bahwa penyakit ini tidak memiliki pengobatan dengan nilai (87.7%) serta yang terakhir adanya ketakutan penularan infeksi secara pribadi dengan nilai (85.8%). Beberapa faktor tersebut menjadi yang paling umum dirasakan oleh para tenaga kesehatan di Palestina. Berdasarkan fenomena tersebut, dapat dibuktikan bahwa stres kerja pada tenaga kesehatan menjadi sangat tinggi sejak pandemi covid-19 akibat adanya beban yang dimiliki setiap individu sehingga hal itu dapat mengancam kesejahteraan pekerjaannya.

Adanya kondisi stres kerja ini tentu akan memberikan dampak tersendiri bagi para pekerja, terkhusus bagi para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan selama polemik novel Covid-19 berlangsung. Berkaitan dengan dampak stres kerja sendiri, penelitian dari Karatepe et al. (2018) dan Kim et al. (2015) pada karyawan hotel menunjukkan bahwa stres yang dirasakan oleh karyawan hotel berdampak negatif pada kepuasan kerja karyawan, komitmen organisasi, employee engagement, performa peran ekstra, serta intensi turnover atau peningkatan keinginan untuk meninggalkan tugas.

(13)

Adapun aspek dari stres kerja sendiri ada 2 aspek yaitu Perceived Helplessness atau perasaan ketidakberdayaan merupakan suatu kondisi psikologi dimana individu tersebut tidak memiliki keyakinan akan kontrol lingkungan yang mana kondisi tersebut menggambarkan ketidakberartian akan suatu hal seperti merasa kekurangan motivasi, kognitif maupun emosional, kemudian Perceived Self Efficacy atau perasaan yakin pada diri sendiri yaitu individu memiliki keyakinan diri pada kemampuan yang dimilikinya dalam melaksanakan suatu tindakan untuk mengatur situasi-situasi yang berkaitan dengan masa depan (Fauzi, 2018). Sedangkan untuk faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres menurut Robbins (2006) yaitu faktor lingkungan seperti ketidakstabilan Ekonomi, Politik dan Teknologi.

Kemudian faktor organisasi, yaitu seperti, tuntutan tugas, tuntutan sarana, tuntutan antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan tahap perkembangan organisasi, dan faktor individu seperti masalah dalam keluarga, permasalahan ekonomi dan kepribadian.

Moorhead dan Griffin (1995) menyatakan ada dua sumber stress yang dapat berdampak pada individu yaitu dari organisasi dan juga kehidupan. Sumber dari organisasi sendiri meliputi task demands, physical demands, dan interpersonal demands. Task demands yang dimaksud yaitu stress akan timbul tergantung pada tugas yang dikerjakan. Physical demands yang dimaksud merupakan rancangan lingkungan fisik menjadi sumber stress atau tidak.

Interpersonal demands disini dapat dikaitkan dengan interaksi yang ada dalam pekerjaan.

Sedangkan dalam hal kehidupan, ada dua hal sumber stress yang dapat berdampak pada individu yaitu perubahan kehidupan dan juga trauma kehidupan.

Berdasarkan dari penelitian sebelumnya dari Handayani et al. (2020) menyatakan adanya beberapa sumber stres pada tenaga kesehatan dimana hal ini berdampak langsung pada pekerjaan para tenaga medis kesehatan selama pandemi Covid-19, diantaranya yaitu adanya rasa ketakutan akan risiko terpapar atau terinfeksi oleh virus, dan bisa muncul adanya ketakutan pada kemungkinan menginfeksi orang yang dicintai atau orang terdekat.

Handayani juga menyebutkan bahwa kekhawatiran penularan yang di latar belakangi adanya masalah kurangnya APD (Alat Pelindung Diri) bagi para tenaga kesehatan yang ada di beberapa daerah terpapar virus juga dapat menimbulkan stres bagi para tenaga kesehatan.

Adanya peningkatan durasi kerja dibandingkan dengan sebelumnya, dimana hal ini juga cenderung lebih mudah menyebabkan stres bagi karyawan, terkhusus bagi tenaga kesehatan (Elbay et al, 2020, Handayani, 2020). Adanya stigmatisasi yang diterima oleh tenaga kesehatan atau penilaian lingkungan sosial pada seorang individu maupun kelompok, dimana stigma yang diterima oleh para tenaga kesehatan seolah merendahkan mereka yang menyatakan bahwa mereka adalah pembawa virus, dan hal tersebut dapat memicu adanya stres (Tsamakis et al, 2020).

Bentuk upaya yang dapat digunakan untuk mengurangi stres itu sendiri sangat banyak, salah satunya yaitu dengan memiliki keterbukaan diri (self-disclosure) dimana individu yang memiliki self-disclosure memungkinkan untuk dapat meringankan kondisi stres dirinya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Clark (dalam Baron & Byrne, 2009) yang menyatakan bahwa Self-disclosure dilakukan oleh individu yang stres untuk mengurangi perasaan negatif serta meminimalisir kemungkinan adanya masalah kesehatan dalam dirinya. Self-Disclosure atau keterbukaan diri menurut Morton dan Wrightsman (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2009) adalah proses membagi perasaan serta informasi dalam dirinya kepada orang lain. Kegiatan membagi perasaan ini dilakukan apabila individu tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan orang yang ia percaya untuk mendengarkan ceritanya. Karena semakin menyenangkan orang yang kita kenal serta ia dapat membuat kenyamanan maka dalam

(14)

membuka diri juga akan semakin besar (Dayakisni & Hudaniah, 2009), demikian apabila terjadi sebaliknya, beberapa individu merasa bahwa dirinya tidak dapat membuka diri karena tidak memiliki orang yang dipercaya untuk mendengarkan ceritanya. Sehingga dalam hal ini orang lain yang dikenal menjadi penentu apakah dia dapat dipercaya atau tidak. Bentuk Self- Disclosure sendiri dapat berupa beberapa topik seperti tentang fakta diri yang tersembunyi (pengungkapan deskriptif) atau pengungkapan opini pribadi dan perasaan terdalam (pengungkapan evaluatif), serta pengungkapan motivasi atau ide yang sesuai dan memang ada dalam diri individu tersebut (Dayakisni& Hudaniah, 2009, Taylor et al., 2009).

Penelitian terdahulu oleh Gamayanti et al. (2018) tentang self disclosure dan stres terhadap mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi didapatkan hasil dimana tingkat self disclosure dan stres ada pada kategori sedang dimana mahasiswa cenderung membuka diri apabila dirinya berada pada kondisi stres tanpa harus melalui keintiman, tujuan dan maksud atau nilai yang ada di self-disclosure itu sendiri, sehingga dapat disimpulkan dari hasil tersebut bahwa tidak ada pengaruh antara self-disclosure dengan tingkat stres. Hal ini sedikit berbeda dengan penelitian dari Hamid (2000) tentang “Self-Disclosure and Occupational Stress in Chinese Professional” didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi positif antara stress kerja dengan pengungkapan diri atau self disclosure dimana pengungkapannya dilakukan kepada Ibu, namun terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat stress dan pengungkapan diri kepada sahabat. Berkaitan dengan hasil tersebut, korelasi positif yang ditemukan kepada ibu dianggap bahwa secara konsisten pengungkapan diri kepada ibu lebih membuat stress dibandingkan kepada sahabat.

Berdasarkan pada pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan pembaharuan penelitian yaitu “Pengaruh Self-Disclosure terhadap Stres Kerja Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh self-disclosure terhadap stres kerja pada tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19. Kebaharuan penelitian ini terletak pada situasi terkini saat ini, dimana fenomena Covid-19 sedang merebak dan mengakibatkan jumlah data pasien Covid-19 semakin bertambah, serta kebaruan pada sasaran penelitian yaitu kepada tenaga kesehatan yang sedang menangani pasien covid-19, dimana penelitian sebelumnya masih sedikit peneliti mengangkat isu tentang self-disclosure terhadap stres kerja tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Manfaat teoritis yang bisa didapatkan adalah menambah literatur pada bidang psikologi khususnya psikologi dalam lingkup industri dan organisasi maupun psikologi sosial, sebagai referensi kepada para tenaga kesehatan, serta dapat dijadikan referensi dan bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya tentang pengaruh self disclosure terhadap stres kerja. Demikian untuk manfaat praktisnya adalah diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang self-disclosure dan stres kerja pada tenaga kesehatan sebagai bahan masukan atau evaluasi dalam mengupayakan pengurangan stres kerja.

Stress Kerja

Secara Umum, stres merupakan kondisi atau gangguan psikis yang dialami oleh individu dikarenakan adanya beban dalam dirinya akibat dari lingkungan sekitarnya, sehingga muncullah pikiran berat yang mampu mengganggu kegiatan atau aktivitas individu tersebut.

Sebagaimana menurut beberapa ahli mengatakan bahwa stres kerja adalah adalah suatu gejala dan tanda fisiologis, perilaku, psikologikal somatik yang diakibatkan oleh kondisi dimana individu merasa bahwa dirinya tidak nyaman atau tidak dapat menyesuaikan dengan tuntutan- tuntutan situasional dengan daya psikis, biologis, dan sosial serta adanya beban berlebihan

(15)

yang tidak terkontrol yang mencakup intrapersonal, interpersonal dan ekstrapersonal dalam dirinya sehingga dengan adanya beban kerja yang dirasakan dapat mengganggu proses pelaksanaan pekerjaan sehingga hal tersebut mampu mengancam keberadaan diri dan kesejahteraannya (Cohen, Kamarck & Mermelstein, 1983, Fincham & Rhodes, 1988, Sarafino, 1994, Schultz & Schultz, 1990).

Menurut Fauzi (2018) yang mengacu pada teori dari Robert et. al dan Cohen et. al menyatakan bahwa stres kerja terdiri atas dua dimensi yaitu: 1) Perceived Helplessness atau perasaan ketidakberdayaan merupakan suatu kondisi psikologi dimana individu tersebut tidak memiliki keyakinan akan kontrol lingkungan yang mana kondisi tersebut menggambarkan ketidakberartian akan suatu hal seperti merasa kekurangan motivasi, kognitif maupun emosional. 2) Perceived Self Efficacy atau perasaan yakin pada diri sendiri yaitu individu memiliki keyakinan diri pada kemampuan yang dimilikinya dalam melaksanakan suatu tindakan untuk mengatur situasi-situasi yang berkaitan dengan masa depan.

Moorhead dan Griffin (1995) menyatakan ada dua sumber stress yang dapat berdampak pada individu yaitu dari organisasi dan juga kehidupan. Sumber dari organisasi sendiri meliputi: 1) task demands atau tuntutan tugas dimana stres dapat berasal dari tugas yang dimiliki seorang karyawan, seperti yang kita tahu bahwa memang beberapa pekerjaan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sehingga dari tingkatan stres tersebut dapat memunculkan stres. 2) physical demands atau tuntutan fisik, setelah paparan sebelumnya tentang tuntutan tugas yang dimiliki seorang karyawan, hal yang juga menimbulkan stres adalah dari tuntutan fisik dimana pekerjaan yang melibatkan kerja fisik yang tinggi dapat pula menyebabkan stres akibat adanya risiko dalam pekerjaan itu sendiri, seperti pekerja bangunan memiliki risiko yang tinggi karyawan tertimbun bahan atau alat bangunan yang digunakan. dan 3) interpersonal demands atau tuntutan peran dalam pekerjaan, dimana hal ini lebih menitikberatkan pada hal interaksi yang tercipta dalam kelompok organisasi sehingga dari interaksi tersebut akan muncul kemungkinan-kemungkinan tertentu yaitu kenyamanan atau tekanan, dan stres sendiri akan terjadi apabila kemungkinan yang muncul adalah tekanan yang tercipta seperti gaya kepemimpinan dalam organisasi apakah sesuai atau tidak, interaksi antar karyawan yang membuat nyaman atau tidak, serta konflik kerja yang memungkinkan terjadi.

Robbins (2006) menyebutkan ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi stres yaitu : 1) Faktor Lingkungan seperti ketidakstabilan Ekonomi, Politik dan Teknologi. 2) Faktor Organisasi, dalam hal ini banyak sekali dan bahkan sering menjadi pemicu terjadinya stress di dalam organisasi, yaitu seperti, tuntutan tugas, tuntutan sarana, tuntutan antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan tahap perkembangan organisasi. 3) Faktor Individu, pada faktor ini mencakup dalam kehidupan pribadi seseorang, seperti masalah dalam keluarga, permasalahan ekonomi dan kepribadian.

Self-Disclosure

Umumnya, dapat kita ketahui bahwa banyak sekali upaya-upaya dalam mengendalikan atau mengurangi kondisi stres. Salah satunya yaitu self-disclosure atau keterbukaan diri, dimana upaya ini biasanya digunakan oleh individu yang mengalami stres untuk dapat mengurangi kondisi negatif tersebut agar mudah dalam meningkatkan kesejahteraan kerja. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Clark (dalam Baron & Byrne, 2009) yang menyatakan bahwa Self- disclosure dilakukan oleh individu yang stres untuk mengurangi perasaan negatif serta meminimalisir kemungkinan adanya masalah kesehatan dalam dirinya. Self-disclosure sendiri

(16)

menurut Morton, (1978) dan Wrightsman, (1987) adalah proses membagi perasaan serta informasi dalam dirinya kepada orang lain. Upaya ini dikenal dapat membantu individu dalam mengurangi stres dalam pekerjaan nya, karena pada dasarnya individu yang mengalami stres akan meluapkan beban atau tekanan yang dirasakannya kepada orang lain, sehingga akan memberikan rasa tenang dan tentram tersendiri bagi individu tersebut. Namun, kegiatan membagi perasaan ini dilakukan apabila individu tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan orang yang ia percaya untuk mendengarkan ceritanya. Karena semakin menyenangkan orang yang kita kenal serta ia dapat membuat kenyamanan maka dalam membuka diri juga akan semakin besar (Dayakisni & Hudaniah, 2009).

Devito (1986) mengemukakan 5 aspek dari self-disclosure yaitu: 1) amount atau kuantitas, dimana dalam proses pengungkapan diri perlu memperhatikan kuantitas yang dapat diukur melalui frekuensi antara interaksi individu yang ingin melakukan pengungkapan diri dengan orang yang ia tuju untuk membagikan ceritanya, dan durasi atau waktu yang diperlukan untuk melakukan self-disclosing dengan orang lain. 2) Valence atau hal positif-negatif atas pengungkapan diri, dimana individu dapat mengungkap diri tentang hal yang positif maupun negatif tentang dirinya. 3) Honesty-Accuracy, dimana dalam self-disclosing akurasinya dibatasi oleh seberapa besar individu tersebut mengenal dirinya sendiri, serta kejujuran sendiri bisa saja dilakukan atau bahkan dilebih-lebihkan. 4) Intent atau seberapa jauh individu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan serta sejauh mana kesadaran individu tersebut dalam mengontrol hal-hal yang akan diungkapkan kepada orang lain. 5) Intimacy dimana individu dapat mengungkapkan hal paling inti dari hidupnya, atau hal yang dirasa hanya bohong.

Tenaga Kesehatan

Berdasarkan dari UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga kesehatan menyatakan bahwa Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu menentukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, tentu peran tenaga kesehatan sangat penting sebagai garda terdepan dalam membantu serta mencegah terjadinya kematian pasien terjangkit. Hal ini tentu juga menjadi resiko terbesar bagi para tenaga kesehatan dimana posisi mereka yang ada di garda terdepan dan berhadapan langsung dengan pasien. Sehingga, kemungkinan adanya risiko terjangkit bagi tenaga kesehatan juga tidak akan luput, namun mereka tetap harus menangani kondisi ini.

Pengaruh Self-Disclosure terhadap Stres

Self-Disclosure merupakan proses dimana individu membagikan perasaan atau informasi yang ada dalam dirinya kepada orang lain, sehingga hal tersebut akan mampu mengurangi stres yang dirasakan individu. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dimana menurut Clark (dalam Baron & Byrne, 2005) menyatakan bahwa Self-disclosure dilakukan oleh individu yang stres untuk mengurangi perasaan negatif serta meminimalisir kemungkinan adanya masalah kesehatan dalam dirinya. Individu yang sedang mengalami stres akan meluapkan beban atau tekanan yang dirasakannya kepada orang lain sebagai suatu upaya dalam menurunkan stres, sehingga akan memberikan rasa tenang dan tentram tersendiri bagi individu tersebut. Di masa pandemi saat ini, tentu tenaga medis memiliki beban atau tekanan yang cukup besar dalam mempertanggung jawabkan banyaknya pasien terjangkit virus Covid-19 sehingga memungkinkan akan lebih mudah mengalami stres, dengan adanya peningkatan jumlah pasien positif, peningkatan jam kerja adanya

(17)

kekhawatiran penularan virus, dsb. Dapat disimpulkan dalam hal ini bahwa dengan memiliki self-disclosure yang tinggi, maka tingkat stres pada individu akan menurun, namun sebaliknya apabila self-disclosure yang dimiliki rendah, maka tingkat stres akan cenderung tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Handayani et al. (2019) tentang pengaruh self- disclosure terhadap stres pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dimana diperoleh hasil bahwa self-disclosure berpengaruh signifikan terhadap stres sebesar 28,0%. Namun didapatkan perolehan hasil data yang berbeda dengan penelitian dari Gamayanti et al. (2018) tentang self disclosure dan stres terhadap mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi didapatkan hasil dimana tingkat self disclosure dan stres ada pada kategori sedang dimana mahasiswa cenderung membuka diri apabila dirinya berada pada kondisi stres tanpa harus melalui keintiman, tujuan dan maksud atau nilai yang ada di self-disclosure itu sendiri, sehingga dapat disimpulkan dari hasil tersebut bahwa tidak ada pengaruh antara self- disclosure dengan tingkat stres.

Kerangka Berpikir

Hipotesis

H1 : Self-Disclosure berpengaruh signifikan terhadap stres kerja pada tenaga kesehatan.

(18)

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Pada penelitian digunakan pendekatan kuantitatif dimana menurut Sugiyono (2015) adalah penelitian yang berdasar pada positivisme untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dan pengambilan sampel secara random dengan pengumpulan data menggunakan instrumen, analisis data yang bersifat statistik. Penelitian ini juga bersifat non-eksperimen, dimana merupakan penelitian yang tidak ada variabel independen yang akan dimanipulasi (Heryana, 2020)

Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian korelasional dimana menurut Sugiyono (2017) adalah penelitian yang karakteristik masalahnya berupa hubungan korelasional antara dua variabel atau lebih, dengan tujuan untuk menemukan ada atau tidaknya korelasi antar variabel atau dalam hal ini membuat prediksi dari korelasi antar variabel.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian pada penelitian ini adalah tenaga kesehatan, yang mana merupakan para tenaga kesehatan (Dokter atau Perawat). Menurut Winarsunu (2017) Populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti, dan yang nantinya akan dikenai generalisasi.

Selanjutnya, populasi nantinya akan dikerucutkan menjadi sampel, dimana menurut Winarsunu (2017) sampel adalah anggota-anggota yang mencerminkan sifat dan ciri-ciri yang terdapat pada populasi. Pengambilan sampel untuk penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik total sampling dimana menurut Sugiyono (2018) merupakan teknik pengambilan sampel yang mana seluruh anggota populasinya menjadi sampel. Karakteristik subjek penelitian ini adalah para tenaga kesehatan yang sedang menangani pasien Covid-19, berusia 22-55 tahun, dan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian ini didapatkan sampel yang berjumlah 71 tenaga kesehatan di Puskesmas Batang-batang.

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian

Deskripsi Umum Kategori Frekuensi Presentase

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki

39 32

55%

45%

Usia <30 Tahun

31-40 41-51

53 13 5

75%

18%

7%

Masa Kerja ≤1 Tahun

2 – 10

≥11 Tahun

2 56 13

3%

79%

18%

Pendidikan D3

S1 S2 S3

18 48 4 1

25%

68%

6%

1%

Berdasarkan tabel 1 deskripsi subjek penelitian di atas, didapatkan hasil bahwa kategori jenis kelamin perempuan mendominasi sebesar 55% (39 orang) dibandingkan laki-laki sebesar 45% (32 orang). Sementara itu mayoritas usia responden pada usia <30 Tahun sebanyak 53 orang (75%) dari rentang usia sekitar 22-50 tahun. Serta masa kerja responden dengan rentang <1 tahun hingga 11 tahun dengan mayoritas antara 2 – 10 tahun masa kerja sebanyak

(19)

56 orang (79%). Sementara untuk tingkat pendidikan mayoritas berada pada tingkat S1 sebanyak 48 orang (68%).

Variabel dan Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel yaitu 1 variabel bebas atau variabel independen (X) dan 1 variabel terikat atau variabel dependen (Y). Adapun variabel bebas nya (X) yaitu self- disclosure, sedangkan variabel terikat nya (Y) adalah stres kerja.

Yang dimaksud dengan self-disclosure sendiri adalah proses dimana individu membagikan perasaan atau informasi yang ada dalam dirinya kepada orang lain, sehingga hal tersebut akan mampu mengurangi stres yang dirasakan individu. Instrumen yang digunakan adalah skala penyusunan yang dikembangkan oleh Pinakesti (2016) yang berdasar pada 5 aspek Self- Disclosure yaitu amount atau kuantitas, Valensi atau hal positif-negatif atas pengungkapan diri, Ketepatan dan kejujuran, Intensi atau seberapa jauh individu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan serta sejauh mana kesadaran individu tersebut dalam mengontrol hal-hal yang akan diungkapkan kepada orang lain, Intimacy dimana individu dapat mengungkapkan hal paling inti dari hidupnya. Bentuk skala ini adalah skala likert dengan jumlah item yaitu 40 item dengan 4 alternatif jawaban yaitu (1=sangat tidak setuju, 2=Tidak setuju, 3=Setuju, dan 4=Sangat Setuju), dimana skala ini dimaksudkan untuk mengukur self-disclosure individu.

Dari perolehan indeks reliabilitas nya sendiri diperoleh nilai koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,863.

Stres kerja adalah suatu kondisi dimana individu merasa bahwa dirinya tidak nyaman atau tidak dapat menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan dalam pekerjaannya sehingga hal tersebut mampu mengancam kesejahteraannya. Instrumen yang digunakan adalah PSS (Perceived Stress Scale) yang dikembangkan oleh Cohen dan Williamson (1988) lalu diadaptasi oleh Fauzi (2018) yang berdasarkan pada 2 aspek yaitu Perceived Helplessness atau perasaan ketidakberdayaan merupakan suatu kondisi psikologi dimana individu tersebut tidak memiliki keyakinan akan kontrol lingkungan yang mana kondisi tersebut menggambarkan ketidakberartian akan suatu hal seperti merasa kekurangan motivasi, kognitif maupun emosional, kemudian Perceived Self Efficacy atau perasaan yakin pada diri sendiri yaitu individu memiliki keyakinan diri pada kemampuan yang dimilikinya dalam melaksanakan suatu tindakan untuk mengatur situasi-situasi yang berkaitan dengan masa depan. Bentuk skala PSS ini adalah skala likert, dengan jumlah item nya yaitu 14 item dengan 5 alternatif jawaban yaitu (0=tidak pernah, 1=jarang, 2=terkadang, 3=sering, dan 4=sangat sering), dimana skala ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana tingkat stres yang dirasakan individu. Dari perolehan indeks validitas dan reliabilitas, namun hasil adaptasi dari Fauzi didapatkan Alpha Cronbach sebesar 0.859 setelah ada 3 item yang digugurkan, sehingga jumlah itemnya menjadi 11 item.

Prosedur dan Analisa Data

Pada penelitian ini akan dilakukan tiga prosedur utama yaitu:

Persiapan, pada tahapan ini peneliti mulai melakukan persiapan yang dimulai dengan pendalaman kajian teoritik untuk mendukung konten penelitian yang akan dilakukan.

Selanjutnya, peneliti mempersiapkan instrumen dan juga desain penelitian yang akan dilakukan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu instrumen adaptasi dimana bersumber pada penelitian sebelumnya dan telah mendapatkan uji validitas dan reliabilitas.

(20)

Pelaksanaan, pada tahapan ini peneliti melakukan penyebaran skala secara online pada 1 instansi kesehatan (Puskesmas) di Batang-batang Daya dalam bentuk google form dimana bertujuan untuk mempermudah akses pengambilan data penelitian serta menghindari adanya kontak langsung dengan tenaga kesehatan, dan proses pengambilan data akan berlangsung singkat tergantung pada proses penyebaran skala itu sendiri, dan skala yang disebar ditujukan kepada subjek penelitian sesuai karakteristik yang telah ditentukan. Dalam penyebaran skala tersebut, peneliti memberikan link google form kepada salah satu tenaga kesehatan yang dalam hal ini membantu dalam penyebaran skala penelitian.

Terakhir, pada tahap akhir ini akan dilakukan tahapan analisis data dari perolehan hasil data google form yang telah disebarkan kepada para tenaga kesehatan dengan menggunakan sistem perhitungan SPSS Statistics 17.0 yaitu regresi. Sistem tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu variabel dengan satu variabel lainnya.

HASIL PENELITIAN

Pada penelitian akan dibahas mengenai hasil data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan didapatkan data sebanyak 71 responden dari Puskesmas Batang-Batang Daya dimana merupakan tenaga kesehatan yang sedang menangani Covid-19.

Tabel 2. Kategorisasi Self-Disclosure dan Stres Kerja

Variabel Kategori Frekuensi Presentase

Self-Disclosure Rendah

Sedang Tinggi

32 3 36

45%

4%

51%

Stres Kerja Rendah

Sedang Tinggi

35 1 35

49%

1%

49%

Berdasarkan pada tabel 2 kategorisasi Self-Disclosure dan Stres Kerja diatas didapatkan bahwa pada variabel Self-Disclosure kecenderungan level terbanyak terdapat pada level tinggi dengan persentase 51% dengan frekuensi 36 responden. Sementara untuk variabel Stres Kerja kecenderungan level terbanyak terdapat pada level rendah dan tinggi yaitu dengan persentase 49% dengan frekuensi 35 responden.

Tabel 3. Uji Normalitas

N Std.

Deviation

Skewness Kurtosis

Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error

Self_Disclosure 71 10.909 .004 .285 .741 .563

Stres_Kerja 71 5.182 -.444 .285 -.232 .563

Valid N (listwise) 71

Sebelum data diuji untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel yaitu Self-Disclosure dan Stres Kerja, dilakukan terlebih dahulu uji kenormalan sebagai uji persyaratan pada uji regresi.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau sebaliknya. Uji normalitas dilakukan menggunakan Skewness dan Kurtosis, dimana data dikatakan berdistribusi normal apabila memiliki nilai Skewness dan Kurtosis berada diantara ±2. Berdasarkan pada hasil uji kenormalan didapatkan bahwa nilai

(21)

Skewness untuk variabel Self-Disclosure sebesar 0.004 dan nilai Kurtosis sebesar 0.741 yang artinya berada pada ±2 baik Skewness dan Kurtosis. Sementara untuk variabel Stres Kerja dengan nilai Skewness sebesar -0,444 dan nilai Kurtosis sebesar -.232 keduanya juga berada pada ±2. Hal ini menandakan bahwa data penelitian berdistribusi normal.

Tabel 4. Analisis Uji Regresi

Unstandardized coefficient

Standardized

coefficient t ρ F R R2

B SE β

Constant 27.843 5.428 5.040 0.000

4.476 0.247 0.061 Self-

Disclosure -0.117 0.055 -0.247 -2.116 0.038

Setelah dilakukan uji kenormalan data dan data berdistribusi normal, maka langkah selanjutnya yang dilaksanakan adalah uji hipotesis dengan menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Hasil uji regresi linier pada Tabel 3 menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Self-Disclosure dan Stres Kerja pada tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19. Hal ini dapat dilihat melalui R = 0.247 yang menunjukkan keeratan hubungan berada di tingkat rendah dengan taraf signifikansi p < 0.05 artinya semakin tinggi tingkat self disclosure maka semakin tinggi pula tingkat Stres kerja. Jika dilihat secara parsial variabel Self-Disclosure menunjukkan taraf signifikansi 0.038 (p < 0.05), artinya berpengaruh secara signifikan.

DISKUSI

Berdasarkan hasil analisis pada penelitian yang telah dilaksanakan, menunjukan bahwa ada pengaruh secara signifikan antara Self-Disclosure terhadap Stres Kerja pada tenaga kesehatan. Pada hasil tersebut didapatkan bahwa jika Self-Disclosure yang dimiliki oleh tenaga kesehatan semakin tinggi, sehingga dapat berpengaruh pada stres kerja tenaga kesehatan. Oleh karena itu, hasil tersebut membuktikan bahwa hipotesis yang dibuat oleh peneliti diterima karena menunjukan adanya pengaruh yang signifikan antara Self-Disclosure terhadap stres kerja pada Tenaga Kesehatan.

Pada penelitian ini berdasarkan hasil uji korelasi masing-masing aspek dihasilkan aspek Amount dan juga Intent berkorelasi positif dan signifikan terhadap Stres Kerja. Sehingga dapat dikatakan bahwa kedua aspek tersebut dapat digunakan untuk membantu menurunkan Stres Kerja pada tenaga kesehatan. Dalam penerapannya tenaga kesehatan yang sedang menangani pasien Covid-19 cenderung sering melakukan Self-Disclosure kepada keluarga, teman atau rekan kerjanya, karena hal tersebut dilihat dari seberapa intens atau berapa lama individu tersebut melakukan Self-Disclosure dengan lawan bicara dalam mengungkapkan perasaan dalam dirinya, sehingga mereka menjadi lebih leluasa dan beban yang dirasakan akan berkurang karena dengan adanya teman, rekan kerja dan keluarga yang bisa memberikan feedback atau timbal balik yang dapati diterima. Dalam hal ini juga mereka memperhatikan intent atau keluasan pengungkapan diri mereka, memperhatikan apa yang perlu diungkapkan sehingga dari hal tersebut mereka juga sangat memperhatikan hal privacy atau hal pribadi yang mungkin tidak perlu mereka ungkapkan kepada orang lain.

Apabila dikaitkan dengan penelitian terdahulu yang mendukung mengenai penelitian ini, belum ada yang mengangkat tentang self-disclosure terhadap stres kerja secara spesifik kepada tenaga kesehatan. Penelitian dari Zhen et al., (2021) tentang mahasiswa yang

(22)

mengatasi stres dengan melakukan self disclosure serta mendapatkan dukungan dari orang tua, yang mana didapatkan hasil bahwa self disclosure yang dilakukan oleh mahasiswa melalui media sosial serta adanya dukungan orang tua dapat membantu mahasiswa tersebut untuk bisa mengurangi stres yang dirasakan. Berdasarkan penelitian ini ditemukan hubungan yang positif antara self disclosure dengan tingkat stres pada kelompok kecil individu. Adapun penelitian dari Hamid (2000) yang menyatakan bahwa stres kerja menurun apabila proses self-disclosure dilakukan kepada sahabat, karena dari penelitian tersebut stres semakin meningkat jika dilakukan kepada Ibu.

Penelitian terdahulu yang juga mendukung penelitian ini yaitu penelitian dari Handayani et.

al (2019) yang menemukan bahwa self disclosure berpengaruh signifikan terhadap stres pada mahasiswa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Martins et al., (2013) dimana dikatakan bahwa self-disclosure dapat mengurangi stres yang timbul akibat adanya pengalaman negatif. Hal ini juga dikatakan oleh Zhang (2017) dimana adanya tekanan atau stres dalam kehidupan dapat terbantu dengan melakukan self-disclosure atau pengungkapan diri, yaitu berdasarkan dari penelitian ini dimana dilakukan kepada individu yang menggunakan media sosial seperti facebook diketahui bahwa dengan melakukan disclosing di facebook dapat memfasilitasi individu untuk bisa melakukan pengungkapan secara intens atau intim untuk dapat mengurangi gejala stres yang dialami. Hasil yang juga didapatkan dari penelitian Zhang (2019) penelitian mereka menunjukkan bahwa hubungan antara role stress dengan self- disclosure dimediasi oleh presentasi diri atau self-presentation dan motivasi untuk pemeliharaan hubungan, dimana hal tersebut berfungsi sebagai sumber motivasi untuk memotivasi pengguna dalam melakukan pengungkapan informasi di SNS.

Namun berbeda dengan penelitian terdahulu dari Gamayanti (2018) dimana penelitian tersebut meneliti tentang self-disclosure terhadap stres pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi ditemukan hasil bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara self disclosure terhadap stres pada mahasiswa. Dan juga penelitian dari Suryaningsih et al., (2016) dimana Self-Disclosure atau keterbukaan diri berhubungan positif dengan stres pada remaja di SMP Negeri 8 Surakarta, didapatkan walaupun remaja telah melakukan Self- Disclosure dan berada dalam tingkat yang tinggi, remaja tersebut tidak akan terlepas pada adanya stres yang dirasakan. Adanya perolehan hasil tersebut dipengaruhi adanya waktu pemberian kuesioner penelitian yaitu sebelum pelaksanaan ujian kenaikan kelas dimana saat itu remaja sedang berada dalam tingkat stres yang tinggi untuk menghadapi ujian. Dengan kata lain hal tersebut dipengaruhi oleh stres akademik dimana menurut Damodaran (2015) stres akademik adalah salah satu sumber stres yang sering dialami oleh siswa karena mereka harus menghadapi ujian, belajar kelompok, dan juga memungkinkan memiliki ketakutan akan kegagalan saat ujian sehingga hal tersebut dapat memicu stres.

Adapun penelitian sebelumnya dari Shatte et al., (2017) menyatakan bahwa stres berhubungan signifikan dengan resiliensi dimana dengan memiliki resiliensi yang tinggi akan memberikan efek perlindungan yang relatif konsisten terhadap stres, ketidakpuasan kerja, dan depresi yaitu untuk mengurangi ketidakhadiran di tempat kerja serta hilangnya produktivitas pada pekerjaan saat berada dalam kondisi kerja yang sulit.

Pada penelitian ini tentu terdapat kelebihan dan juga keterbatasan didalamnya. Kelebihan pada penelitian ini adalah dilakukan di masa pandemi Covid-19 sehingga dapat mempengaruhi pada hasil yang nanti didapatkan, dan penelitian ini menjadi perlu untuk dikembangkan di masa pandemi saat ini, khususnya bagi tenaga kesehatan yang sedang menangani Covid-19. Dalam hal ini pula penelitian tentang stres kerja ini tentu menjadi penting untuk dikembangkan lagi dimana masih jarang dilakukan riset yang mengangkat

(23)

tentang pengaruh self-disclosure terhadap stres kerja pada tenaga kesehatan, sehingga penelitian ini dapat menjadi referensi atau acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.

Adapun kekurangan yang terdapat pada penelitian ini dimana dapat dijadikan saran untuk peneliti selanjutnya yaitu adanya hambatan saat pelaksanaan penelitian, dimana subjek tujuan yaitu tenaga kesehatan yang juga sulit untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner yang diberikan dikarenakan kesibukan dalam menangani pasien terdampak Covid-19, sehingga waktu dalam pengambilan data menjadi lama sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih menyesuaikan pada target waktu dan juga sasaran yang dituju dalam pengambilan data dan proaktif dalam proses pelaksanaan penelitian. Dan juga kekurangan pada penelitian ini adalah hanya dilakukan di satu instansi kesehatan saja yaitu puskesmas, dan untuk hasil yang didapatkan sedikit serta jumlah subjek perempuan yang lebih banyak daripada subjek laki-laki, sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan pada populasi yang besar untuk bisa mendapatkan perolehan data yang cukup dan juga mendapatkan hasil yang sebanding antara subjek laki-laki dan juga subjek perempuan.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Self Disclosure terhadap Stres Kerja pada Tenaga Kesehatan.

Implikasi dari penelitian ini yaitu bagi karyawan diharapkan mampu menerapkan Self- Disclosure atau pengungkapan diri selama bekerja agar dapat menekan kemungkinan mengalami gejala stres kerja di tempat kerja selama masa pandemi, hal ini dapat dilakukan seperti dengan curhat dengan rekan kerja atau dengan keluarga yang ada di rumah apabila ada waktu untuk menceritakan apa yang ingin di ungkapkan. Kemudian hendaknya Puskesmas juga memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan yang menangani Covid-19 yaitu turut menerapkan Self-Disclosure dalam budaya perusahaan agar dapat mengurangi kemungkinan adanya resiko stres yang dialami oleh Tenaga Kesehatan. Hal ini dapat dilakukan seperti dengan mengadakan sesi bimbingan konseling untuk membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan dalam melakukan self-disclosure. Dan juga hendaknya bagi peneliti selanjutanya diharapkan dapat lebih menyesuaikan pada target waktu dan juga sasaran yang dituju dalam pengambilan data dan proaktif dalam proses pelaksanaan penelitian serta diharapkan pula agar penelitian selanjutnya bisa dilakukan pada populasi yang lebih besar lagi sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih banyak dan jumlah yang sebanding antara subjek perempuan dan laki-laki.

(24)

REFERENSI

Ables, J. L. (2013). Status, likes, and pokes: Self disclosure and motivation for using Facebook (Thesis). University of Baylor.

Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial (ed. 10). Jakarta: Erlangga

Cohen, S., Kamarck, T., & Mermelstein, R. (1983). A global measure of perceived stress.

Journal of Health and Social Behavior 24(4), 385-396.

Cohen, S., & Williamson, G. (1988). Perceived stress in a probability sample of the United States. In S. Spacapan, & S. Oskamp (Eds.), The Social Psychology of Health:

Claremont Symposium on Applied Social Psychology, 31-67. Newbury Park, CA:

Sage.

Dayakisni, T. & Hudaniah. (2009). Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

Damodaran, D. (2015). Stress management among adolescents. The International Journal of Indian Psychology. 3(1).

DeVito, J. A., (1986). The Interpersonal Communication Book (Fifith Edition). New York:

Lengman

Dubey, S., Biswas, P., Ritwik, G., Chatterjee, S., Dubey, M. J., Chatterjee, S., et al. (2020).

Psychosocial impact of covid-19. Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research

& Reviews 14, 779-788.

Elbay, R. Y., Kurtulmuş, A., Arpacıoğlu, S., & Karadere, E. (2020). Depression, anxiety, stress levels of physicians and associated factors in covid-19 pandemics. Psychiatry Research 290, 1-5 https://doi.org/10.1016/j.psychres.2020.113130.

Fadlunnida, Karmiyati, D., & Hidayati, D. S. (2019). Hubungan pengungkapan diri dan stres remaja penyintas gempa bumi kota palu. Cognicia 7(4), 419-433.

Feldman, G. C., Joormann, J., & Johnson, S. L. (2008). Responses to positive affect: A selfreport measure of rumination and dampening. Cognitive Therapy and Research, 32(4), 507-525.

Fincham, R., P.S. Rhodes. (1988). The Individual, Work, and Organization. London:

Weidenfield and Nicolsen

Gamayanti, W., Mahardianisa, & Syafei, I. (2018). Self disclosure dan tingkat stres pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. PSYMPATHIC: Jurnal Ilmiah Psikologi 5(1), 115-130 doi: 10.15575/psy.v5il.2282.

Hamid, P. N. (2000). Self-disclosure and occupational stress in chinese professionals.

Psychological Reports 87, 1075-1082 https://doi.org/10.2466/pr0.2000.87.3f.1075.

(25)

Handayani, R. T., Kuntari, S., Darmayanti, A. T., Widiyanto, A., Atmojo, J. K. (2020).

Faktor penyebab stres pada tenaga kesehatan dan masyarakat saat pandemi covid-19.

Jurnal Keperawatan Jiwa 8(3), 353-360

Handayani, V. F., Arisanti, I., & Atmasari, A. (2019). Pengaruh pengungkapan diri (self disclosure) terhadap stres pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di fakultas ekonomi dan bisnis universitas teknologi sumbawa. JURNAL PSIMAWA 2(1), 47-51 https://doi.org/10.1234/jp.v2i1.437.

Heryana, A. (2020). Analisis data penelitian kuantitatif. doi: 10.13140/RG.2.2.31268.91529

Karatepe, O. M., Yavas, U., Babakus, E., Deitz, G. D. (2018). The effects of organizational and personal resources on stress, engagement, and job outcomes. International Journal of Hospitality Management, 74, 147-161.

https://10.1016/j.ijhm.2018.04.005

Kim, S. S., Im, J., Hwang, J. (2015). The effects of mentoring on role stress, job attitude, and tunrover intention in the hotel industry. International Journal of Hospitality Management, 48, 68-82.

https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2015.04.006

Ko, H. C., & Pu, H. J. (2011). Understanding the impact of bloggers’ self-disclosure on resilience. Proceedings of the 5th International Conference on Ubiquitous Information Management and Communication, ICUIMC 2011.

https://doi.org/10.1145/1968613.1968663

Maraqa, B., Nazzal, Z., & Zink, T. (2020). Palestinian health care workers’ stress and stressors during covid-19 pandemic: a cross-sectional study. Journal of Primary Care

& Community Health, 11, 2150132720955026.

Martins, M. V., Peterson, B. D., Costa, P., Costa, M. E., Lund, R., & Schmidt, L. (2013).

Interactive effects of social support and disclosure on fertility-related stress.

Journal of Social and Personal Relationships, 30(4), 371–388.

Moorhead, G & Griffin, R. W. (1996). Organizational Behavior. New Jersey: Princeton Pinakesti, A. R. A. (2016). Self-disclosure dan stres pada mahasiswa. (Doctoral dissertation,

University of Muhammadiyah Malang)

Robbins, P. S., (2006). Perilaku Organisasi. Edisi Sepuluh. Diterjemahkan oleh: Drs.

Benyamin Molan. Erlangga, Jakarta.

Sarafino, E. P., (1994). Health Psychology : Biopsychosocial Interactions. Second Edition.

USA: John Wiley & Sons.

Schultz, B & Schultz, J. (1990). Organizational Behavior. New York: Mc Graw Hills, Inc.

(26)

Shatté, A., Perlman, A., Smith, B., & Lynch, W. D. (2017). The positive effect of resilience on stress and business outcomes in difficult work environments. Journal of Occupational and Environmental Medicine, 59(2), 135-140.

https://doi.org/10.1097/JOM.0000000000000914

Stiles, W. B. (1987). “I Have to Talk to Somebody”: A Fever Model of Disclosure. In V. J.

Derlaga & J. H. Berg (Eds.), Self-disclosure: Theory, research and therapy, 257-282.

New York, NY: Plenum Press.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Suryaningsih, F., Suci M. K., Nugraha A. K. (2016). Hubungan antara self disclosure dengan

stres pada remaja siswa SMP Negeri 8 Surakarta. Jurnal Ilmiah Psikologi Candrawijaya. 4(4), 300-310.

Taylor, S. E., Peplau, L. A., Sears, D. O. (2009). Psikologi Sosial: Edisi Kedua Belas.

Jakarta: Kencana.

Tsamakis, K., Triantafyllis, A. S., Tsiptsios, D., Spartalis, E., Mueller, C., Tsamakis, C., et al.

(2020). Covid-19 related stress exacerbates common physical and mental pathologies and affects treatment (review). Experimental and Therapeutic Medicine, 159-162 https://doi.org/10.3892/etm.2020.8671.

Wheeless, L. (1976). Self-disclosure and interpersonal solidarity: Measurement, validation, and relationships. Human Communication Research, 3(1), 47–61.

Winarsunu, T. (2017). Statistik: Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan (Cetakan kedelapan). Malang: UMM Press

Zhang, R. (2017). The stress-buffering effect of self-disclosure on facebook: an examination of stressful life events, social support, and mental health among college students.

Computers in Human Behavior 75, 527-537

https://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2017.05.043.

Zhen, L., Nan, Y., & Pham, B. (2021). College students coping with covid-19: stress- buffering effects of self-disclosure on social media and parental support.

Communication Research Reports 38(1), 23-32

https://doi.org/10.1080/08824096.2020.1870445.

(27)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(28)

Lampiran 1. Blue Print Skala Self-Disclosure dan Stres Kerja 1. Skala Self-Disclosure

Aspek Nomor Item

Jumlah Item Favorable Unfavorable

Jumlah/frekuensi 1 9 27 33 5 14 22 29 38 9

Valensi 6 15 23 30 2 10 19 34 8

Ketepatan/Kejujuran 3 11 20 28 35 16 24 39 8

Keluasan 7 17 25 31 4 12 21 36 8

Kedalaman 13 37 8 18 26 32 40 7

Jumlah Total 40

2. Skala Stres Kerja

Aspek Nomor Item

Jumlah Item Favorable Unfavorable

Perceived Helplesness 1 4 6 7 8 5

Perceived Self Efficacy 2 3 5 9 10 11 6

Jumlah Total 11

(29)

Lampiran 2. Skala Self-Dislosure dan Stres Kerja IDENTITAS DIRI

Nama/Inisial : Jenis Kelamin :

Usia :

Pendidikan Terakhir : D3 S1 S2 S3 (lingkari salah satu) Nama Instansi :

Nama Jabatan :

Masa Kerja/Lama Kerja : PETUNJUK PENGISIAN SKALA

1. Di dalam skala ini akan disajikan sejumlah pernyataan, bacalah setiap pernyataan dengan teliti. Tugas Bapak/Ibu/Saudara/i adalah memilih salah satu alternatif jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri Bapak/Ibu/Saudara/i. Jawaban diberikan dengan memberikan tanda checklist (✓) pada kolom yang telah disediakan disetiap butir-butir pernyataan. Dan setiap butir pernyataan jangan sampai ada yang terlewati.

Adapun alternatif jawabannya yaitu:

Kuesioner I

SS : Jika pernyataan Sangat Sesuai dengan diri Bapak/Ibu/Saudara/i

S TS

: Jika pernyataan Sesuai dengan diri Bapak/Ibu/Saudara/i : Jika pernyataan Tidak Sesuai dengan diri Bapak/Ibu/Saudara/i

STS : Jika pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengan diri Bapak/Ibu/Saudara/i

Kuesioner II

0 : Tidak Pernah Anda alami 1 : Jarang Anda alami

2 : Terkadang Anda alami 3 : Sering Anda alami 4 : Selalu Anda alami

2. Bapak/Ibu/Saudara/i diharapkan menjawab semua pernyataan, jangan sampai ada yang terlewatkan.

3. Skala ini bukanlah suatu tes, jadi tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban adalah benar, asal benar-benar sesuai dengan keadaan diri Bapak/Ibu/Saudara/i.

(30)

1. KUESIONER I – Self-Disclosure

No Pernyataan SS S TS STS

1. Saya terbiasa berbicara di depan banyak orang dalam suatu pertemuan.

2. Saya terbiasa memendam sendiri pengalaman buruk yang pernah saya alami.

3. Saya mengatakan pada orang lain hal-hal yang dapat membuat saya marah.

4. Saya merasa kurang nyaman apabila orang lain ingin mengetahui permasalahan saya.

5. Saya selalu memendam perasaan bila ada yang saya anggap tidak sesuai.

6. Saya terbiasa berbagi rasa dengan teman saya.

7. Saya menceritakan pada teman seluruh keinginan saya agar mereka memahami perasaan saya.

8. Saya enggan memberitahu orang lain mengenai permasalahan yang saya alami dengan saudara saya.

9. Saya selalu menceritakan kepada teman mengenai kegiatan keseharian saya.

10. Saya kurang suka menceritakan perasaan sedih saya.

11. Saya biasa meminta bantuan teman apabila tidak dapat menyelesaikan

suatu permasalahan.

12. Saya kurang mampu berbicara dengan orang lain sesuai dengan yang saya inginkan.

13. Saya memberitahu teman mengenai kebiasaan yang merugikan diri sendiri.

14. Saya kurang bisa mengungkapkan gagasan pada orang yang baru saya kenal.

15. Saya sering mengungkapkan kepada teman mengenai hal-hal yang melukai perasaan saya.

16. Saya kurang bisa mengungkapkan ketidaksukaan saya terhadap orang lain.

(31)

17. Saya dapat mengeluarkan pendapat saya walaupun bertentangan dengan orang lain.

18. Saya kurang bisa menceritakan hal-hal negatif yang saya miliki.

19. Saya kurang suka menceritakan perselisihan saya dengan orang lain pada teman saya.

20. Jika kondisi fisik saya sedang tidak sehat, saya memberitahukannya pada orang lain.

21. Saya membatasi pengungkapan informasi mengenai diri saya sendiri.

22. Saya mendapat kesulitan apabila mengungkapkan pendapat di depan orang- orang yang baru saya kenal.

23. Saya menceritakan pengalaman yang baru saya alami kepada teman.

24. Saya mengeluarkan pendapat hanya jika diminta.

25. Saya mengungkapkan mengenai masa depan kepada teman saya.

26. Saya sulit mengutarakan hal-hal yang melukai perasaan saya.

27. Saya selalu mengungkapkan sumber ketegangan yang saya alami pada orang lain.

28. Saya mengungkapkan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki

29. Saya tidak pernah menceritakan kejengkelan saya.

30. Bila saya mengalami permasalahan yang berat, saya menceritakannya pada orang lain.

31. Saya terbiasa memberitahukan semua masalah yang saya alami.

32. Saya enggan menceritakan pada orang lain mengenai permasalahan yang saya alami di keluarga.

33. Saya mudah mengutarakan ide-ide baru kepada orang lain.

34. Saya enggan untuk mencurahkan pada orang lain mengenai kegelisahan yang saya rasakan.

35. Saya biasa menceritakan ketidaksukaan saya terhadap sesuatu.

36. Saya lebih memilih diam walaupun memiliki pendapat yang bertentangan dengan orang lain.

(32)

37. Bila saya mempunyai masalah keuangan, saya menceritakannya pada teman.

38. Saya sulit mengungkapkan ketidaksesuaian yang saya rasakan akan suatu hal.

39. Saya kurang bisa membicarakan kekurangan yang saya miliki pada orang lain.

40. Saya tertutup mengenai masalah pribadi saya

2. KUESIONER II

No Pernyataan 0 1 2 3 4

1. Saya merasa gugup dan stres saat bekerja

2.

Saya merasa percaya pada kemampuan pribadi saya untuk mengatsi permasalahan sehari-hari 3.

Saya pulang kerja terlalu lelah untuk melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan

4. Saya merasa bahwa saya tidak mampu

5. Saya merasa berhasil melakukan beberapa hal

6. Saya merasa marah karena sesuatu yang tidak bisa saya atasi terjadi 7.

Saya merasa bahwa saya tidak mampu mengatasi beberapa hal yang harus saya selesaikan

8. Saya tidak mampu mengendalikan hal-hal penting didalam hidup saya 9 Saya mampu mengatasi perubahan

penting dikehidupan saya 10. Saya merasa mampu menjalani

kehidupan

11. Saya mampu mengatasi masalah pada kehidupan saya

(33)

Lampiran 3. Hasil Data

Nama/Inisial Jenis Kelamin

Usia Pendidikan Terakhir

Nama Instansi Nama Jabatan

1 Adi Laki-laki 29 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Sukwan

2 Dimas Laki-laki 25 D3 Puskesmas

Batang-Batang

Perawat

3 Luluk Perempuan 26 D3 Puskesmas

Batang-Batang

Asisten Apoteker

4 Nova priyadi Laki-laki 34 D3 Puskesmas Batang-Batang

Perawat pelaksana

5 Ainul Q Laki-laki 30 S1 Puskesmas

Batang-Batang

PERAWAT

6 D Laki-laki 28 D3 Puskesmas

Batang-Batang

Perawat

7 MN Laki-laki 29 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Perawat

8 Mifta Laki-laki 26 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Staff PKSE

9 Dirga M Laki-laki 26 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Entomologist

10 Erlin suprapti Perempuan 40 D3 Puskesmas Batang-Batang

Staf Sanitarian

11 W Perempuan 43 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Perwat

12 Farid Riadi Laki-laki 36 D3 Puskesmas Batang-Batang

Perawat

13 SA Perempuan 25 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Dokter internship

14 HR Perempuan 26 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Apoteker

15 PT Perempuan 25 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Dokter Umum

16 NIS Perempuan 25 S1 Puskesmas

Batang-Batang

Dokter Umum

17 Dian Riska Perempuan 26 S1 Puskesmas Batang-Batang

Dokter Umum

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dibatasi pada sumber stress kerja yaitu faktor karakteristik individu yakni meliputi umur, masa kerja, tingkat pendidikan, jabatan, dan faktor lingkungan

1. Ditinjau dari aspek Context yang meliputi tujuan pembelajaran dan kebutuhan pembelajaran pada pelaksanaan pembelajaran daring pada masa pandemi COVID-19

5.7 Analisis Hasil Uji Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Komitmen Tenaga Kesehatan Puskesmas Di Jawa Timur Pada Masa Pandemi COVID-19

Strategi yang digunakan oleh individu dalam mengatasi stres inilah yang disebut coping stress yaitu suatu proses pemulihan kembali dari pengaruh pengalaman stress atau

Genteng adalah unsur bangunan yang berfungsi sebagai penutup atap dan dibuat dari tanah liat dengan atau tanpa campuran bahan lainnya, dibakar sampai suhu yang cukup tinggi,

Jaminan Kesehatan Warganegara Dalam Pilkada Serentak di Masa Pandemi Covid-19; Perlindungan Hak Asasi Manusia Oleh Pemerintah Pada Masa Pandemi Covid-19; Reformasi Layanan

Kemudian antara tenaga medis di antara provinsi-provinsi di China menunjukkan bahwa tenaga medis di Wuhan memiliki tingkat stres psikologis yang lebih tinggi

Terdapat tiga macam konflik yang terjadi di MA Al-Hidayah pada masa pandemi Covid-19, yaitu konflik yang terjadi antara guru di lingkungan sekolah, konflik