• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 1"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN INTERAKSI OBAT MELALUI OPTIMALISASI

REKONSILIASI OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING

DRUG INTERACTION STUDIES THROUGH MEDICATION RECONCILIATION IN HYPERTENSION DISEASE PATIENTS AT HOSPITALIZED

PKU MUHAMMADIYAH GAMPING HOSPITAL

Bayu Adi Wibowo 1), Nurul Maziyyah, M.Sc., Apt 1)

School of Pharmacy, Muhammadiyah University of Yogyakarta [email protected]

INTISARI

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Hipertensi dengan stadium lanjut sering menyebabkan komplikasi sehingga pasien perlu obat dalam jumlah dan jenis yang banyak. Hal ini dapat meningkatkan potensi interaksi obat. Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan antar obat lama (rutin dikonsumsi) pasien dengan obat baru yang diresepkan atau diterima pasien saat menjalani terapi di instalasi rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi interaksi obat potensial pada pasien hipertensi berdasarkan hasil rekonsiliasi obat di instalasi rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.

Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data secara prospektif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling pada pasien hipertensi rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping selama bulan September - November 2014 dan didapatkan sampel sebanyak 26 pasien. Analisis dan evaluasi interaksi obat dilakukan berdasarkan mekanisme interaksi, onset, tingkat keparahan, dokumentasi interaksi dan level signfikansi dengan mengacu pada referensi Drug Interaction Facts oleh Tatro tahun 2006 dan Stockley’s Drug Interaction oleh Stockley tahun 2008.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat pada pasien hipertensi didominasi oleh 3-5 kombinasi obat (69%). Hasil analisis interaksi obat secara teoritik menunjukkan bahwa 12 pasien (46%) berpotensi mengalami interaksi obat. Berdasarkan mekanisme interaksinya terdapat 21,1% interaksi farmakokinetik, 47,3% interaksi farmakodinamik dan 31,6% tidak diketahui

(2)

onset lambat dan 26,3% onset cepat. Berdasarkan tingkat keparahannya terdapat 31,6% tingkat keparahan mayor, 47,3% tingkat keparahan moderat, dan 21,1%

keparahan minor. Berdasarkan dokumen interaksinya terdapat 5,3% dokumentasi Establised, 21,1% dokumentasi probable, 47,3% dokumentasi suspected, 15,8%

dokumentasi possible, dan 10,5% tidak diketahui dokumentasinya. Berdasarkan level signifikansinya diketahui terdapat 26,3% level signifikansi 1, 31,6% level signifikansi 2, 15,8% level signifikansi 3, 15,8% level signifikansi 4, dan 10,5%

level signifikansi 5.

Kata Kunci: Hipertensi, interaksi obat, rekonsiliasi obat, RS PKU Muhammadiyah Gamping.

.

(3)

ABSTRACT

Hypertension is a chronic disease that every year to increase.

Hypertension with advanced stage make to complications that patients need more and kind medication. This can cause drug interactions. Medication reconciliation is the process of comparing an older drug (routinely consumed) patients with new drugs that are prescribed or when patients received inpatient therapy. This study aims to identify and evaluate potential drug interactions in patients with hypertension drug based on the results medication reconciliation in patient PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.

This research uses non experimental research with descriptive design.

Collecting data prospectively with purposive sampling technique sampling in hypertension patients hospitalized at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital during September to November 2014 and obtained a sample 26 patients. Drug Interactions Analysis and evaluation conducted by the mechanism of interaction, the onset, severity, interaction and level of documentation signfikansi with reference to the Drug Interaction Facts by Tatro 2006 and Stockley's Drug Interaction by Stockley 2008.

The results showed that the medication in hypertensive patients was dominated by the 3-5 combination of drugs (69%). Results of medication reconciliation analysis showed that 12 patients (46%) potentially had drug interaction. Based on the mechanism of interaction there were 21.1%, pharmacokinetic interactions, 47.3% % pharmacodynamic interaction and 31.6 unknown interaction mechanisms. Based on its onset, there were 73.7% slow onset interaction, 26.3% fast onset. Based on the severity level there were 31.6%

major severity levels, 47.3% moderate severity levels, and 21.1% severity minor levels. Based on the interaction documention there were 5,3% Establised documentation, 21.1% probable documentation, 47.3% suspected documentation, 15.8% possible documentation ,and 10.5% unknown documentation. Based on significance level there were 26.3% significance level 1, 31.6% significance level 2, 15.8% significance level 3, 15.8% significance level 4, and 10.5% significance level of 5.

Keywords: Hypertension, Drug Interactions, Medication Reconciliation, PKU Muhammadiyah Gamping Hospital

(4)

PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

Sekitar 77,9 juta (1 dari setiap 3) orang dewasa di Amerika Serikat memiliki tekanan darah tinggi (AHA,

2013). Peningkatan prevalensi

hipertensi juga terjadi di Indonesia, dari 7,6 % tahun 2007 menjadi 9,5 % tahun 2013 (Riskesdas, 2013).

Hipertensi dengan stadium lanjut sering menyebabkan komplikasi sehingga pasien perlu obat dalam jumlah dan jenis yang banyak.

Penggunaan obat dengan jumlah item yang banyak dapat menimbulkan terjadinya Drug Related Problem (DRP) (Setyani dkk,2006).

Rekonsiliasi obat dipahami sebagai proses formal dimana daftar lengkap dan tepat dari obat lama pasien dinilai bersama-sama dengan obat baru selama transisi perawatan

atau obat baru yang mereka dapatkan. (ASHP, 2011; Muñoz, 2013; Sánchez, 2007). Melalui program rekonsiliasi yang tepat, sekitar 80 % dari kesalahan yang berkaitan dengan pengobatan dan potensi bahaya yang ditimbulkan dapat dikurangi (Rozich, 2004;

Gleason, 2004).

Rumah Sakit PKU

Muhammadiyah Gamping

merupakan salah satu rumah sakit swasta yang berada di Yogyakarta dan merupakan rumah sakit pendidikan yang telah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Belum diterapkannya rekonsiliasi obat di rumah sakit tersebut membuat peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai identifikasi terjadinya interaksi obat pada pasien hipertensi dengan menggunakan rekonsiliasi obat.

(5)

METODELOGI

Bahan dan Alat yang Digunakan Alat penelitian berupa lembar pengumpul data konsumsi obat, Bahan yang digunakan adalah daftar obat lama dan baru

Jalannya Penelitian

Data didapat dengan melakukan pendataan obat baru yang diterima pasien dan wawancara kepada pasien tentang obat yang dikonsumsi rutin pasien sebelumnya.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif non

eksperimental dan dikelompokan menjadi :

1. Karakteristik pasien, meliputi jenis kelamin, umur, dan penyakit penyerta

2. Identifikasi interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksi, onset, tingkat keparahan, dokumentasi interaksi dan level signifikansi.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karaketeristik Pasien

Seluruh pasien yang telah melakukan wawancara kemudian kelompokkan berdasarkan jenis

(6)

kelamin dan usianya untuk mengetahui prevalensi kejadian hipertensi (Tabel 1).

1. Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pasien hipertensi dalam sampel penelitian lebih banyak berjenis kelamin laki- laki dibanding dengan perempuan, hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Rahajeng dan Tuminah (2009) bahwa berdasarkan jenis kelamin pada kelompok hipertensi, laki – laki memiliki resiko hipertensi lebih tinggi daripada perempuan.

Penyebab laki – laki memiliki resiko lebih tinggi terserang hipertensi dipengaruhi oleh banyak hal seperti perilaku tidak sehat merokok dan konsumsi alkohol, depresi dan rendahnya status pekerjaan, perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan

dan pengangguran. Demikian halnya pengaruh faktor pendidikan dan pekerjaan.

2. Distribuasi Pasien Berdasarkan Umur

Semakin tua umur pasien pada penelitian menunjukkan persentase yang lebih tinggi dibandingkan usia muda dan dewasa. Hal ini telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya oleh Setiawan (2004) serta Rahajeng dan Tuminah (2009) yang menemukan bahwa prevalensi hipertensi makin meningkat seiring dengan bertambahnya umur.

Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku, akibatnya terjadi peningkatan darah sistolik (Kaplan,2002; Kuswardhani, 2006).

(7)

3. Distribusi Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta

Hipertensi yang tidak tertangani dengan baik, secara bermakna akan mengurangi harapan hidup karena terjadi kerusakan pada jantung, otak, dan ginjal (Samara, 2001). Stroke menjadi penyakit penyerta terbanyak pertama karena sangat dimungkinkan penyebab hipertensi pasien adalah stres, sehingga tubuh merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Gunawan, 2001).

Apabila terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya bagi orang yang sudah menderita hipertensi sehingga menimbulkan komplikasi. Organ target yang paling sering terserang komplikasi hipertensi yang pertama adalah otak,

yang kedua adalah ginjal, yang ketiga adalah pembuluh darah dan yang terakhir adalah jantung (Prasetyorini & Prawesti, 2012). Jika tekanan darah keotak terus tinggi dapat menyebabkan stroke hemorragik (Ikawati, 2009).

B. Identifikasi Interaksi Obat Identifikasi interaksi obat dilakukan dengan buku referensi interaksi obat stockley’s Drug Interaction Fact (2008) oleh Stockley dan Drug Interaction Fact (2006) oleh Tatro.

C. Analisis Interaksi Obat Potensial dan Evaluasi Interaksi Obat

Analisis interaksi obat secara teoritik terhadap 26 pasien hipertensi menemukan bahwa 12 pasien (46%) mengalami interaksi obat. Adapun jumlah kejadian interaksi adalah

(8)

sebanyak 20 kejadian dengan 17 macam interaksi obat.

1. Analisis Interaksi Obat Berdasarkan Mekanisme Interaksi

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa interaksi obat terbanyak terjadi pada fase farmakodinamik (45

%). Farmakodinamik adalah studi hubungan konsentrasi obat dengan efek biologi (fisiologi dan biokimia) yang ditimbulkan. Helms dan Quan

2006) mengungkapkan bahwa perbedaan interaksi pada fase farmakokinetik dan farmakodinamik terletak pada lokasi interaksi dimana interaksi farmakokinetik terjadi pada sepanjang tahapan perjalanan obat dan interaksi farmakodinamik terjadi pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik.

Penatalaksanaan interaksi obat dapat dilakukan dengan menghindari kombinasi obat yang berpotensi menimbulkan interaksi

(9)

dengan memilih obat pengganti yang tidak berinteraksi, penyesuaian dosis obat, dan monitoring pasien.

Pengobatan dapat diteruskan jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal atau bila interaksi tersebut tidak bermakna secara klinis.

2. Analisis Interaksi Berdasarkan Onset

Data pada tabel 3 menunjukkan secara teoritik terdapat 15 kejadian (75 %) dengan onset lambat, 5

kejadian onset cepat (25 %).

Interaksi onset cepat membutuhkan penanganan segera karena efeknya dapat muncul dalam 24 jam setelah konsumsi obat. Pada onset lambat, efeknya akan muncul dalam hitungan hari sampai minggu (Tatro, 2006).

3. Analisis Interaksi Obat Berdasarkan Tingkat Keparahan

Tingkat keparahan interaksi sangat penting dalam menilai risiko dibandingkan dengan keuntungan

(10)

terapi yang terjadi (Tatro, 2006).

Data tingkat keparahan interaksi obat pada tabel 4 menunjukkan terdapat 4 kejadian (20 %) dengan tingkat

4. Analisis Interaksi Obat Berdasarkan Dokumentasi Interaksi

Dokumentasi interaksi menentukan tingkat kepercayaan bahwa interaksi dapat menyebabkan berubahnya respon klinis pasien (Tatro, 2006). Data tingkat keparahan interaksi obat pada tabel 5 menunnjukkan secara teoritik

keparahan minor, 9 kejadian (45 %) dengan tingkat keparahan moderat, dan 7 kejadian (35 %) dengan tingkat keparahan mayor.

1 kejadian interaksi (5 %) established atau terbukti terjadi pada

studi terkontrol, 5 kejadian (25 %) dengan dokumentasi probable atau sangat mungkin terjadi interaksi tetapi tidak terbukti secara klinis, 9 kejadian (45 %) dengan dokumentasi suspected atau mungkin terjadi dengan didukung data yang baik, namun dibutuhkan penelitian lebih

(11)

lanjut, dan 3 kejadian (15 %) dengan dokumentasi possible atau bisa terjadi, namun data yang sangat terbatas, serta 2 kejadian interaksi

5. Analisis Interaksi Obat Berdasarkan Level Signifikansi

Level signifikansi adalah penilaian terhadap tingkat keberbahayaan interaksi yang terjadi dari data dokumentasi klinik yang tercatat (Tatro, 2006). Data tingkat keparahan interaksi obat dapat dilihat

(10 %) unlikely atau diragukan, tidak ada bukti yang baik dari efek klinis (Tatro, 2006).

pada tabel 6. Pada level signifikansi 2 dan 1 memiliki jumlah kejadian terbesar pertama dan kedua sebanyak 6 kejadian, yang berarti interaksi obat diduga terjadi dan beberapa penelitian mendukung terjadinya interaksi obat.

Untuk mencegah interaksi yang terjadi, dibutuhkan manajemen terapi

(12)

yang tepat. Manajemen terapi yang digunakan harus dilihat dari

a. Interaksi Level Signifikansi 1 Interaksi obat dengan level signifikansi 1 pada tabel 7 menyebabkan kerusakan permanen dan dapat menyebabkan kematian (Tatro, 2006).

mekanisme kerja interaksi obat dan efek dari interaksi obat tersebut.

Kaptopril dan Spironolakton Kombinasi golongan ACE Inhibitor dengan spironolakton dapat menghasilkan hiperkalemia klinis yang relevan atau berat, terutama jika terdapat faktor risiko penting lainnya

(13)

(Stockley, 2008; Tatro, 2006).

Mekanisme interaksi ini belum diketahui, namun salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian hiperkalemia tampaknya dosis spironolakton.

Pada pasien yang mendapat kombinasi ini diketahui dosis spironolakton sebesar 25 mg sebanyak 1 x sehari dan dosis kaptopril yang didapat sebesar 50 mg 3x sehari, sehingga dirasa dosis spironolakton tidak terlalu besar serta frekuensi pemberian yang hanya 1x sehari membuat kemungkinan kecil terjadinya efek hiperkalemia pada pasien. Namun tetap disarankan untuk dilakukan monitoring kadar kalium secara ketat.

Tormboaspilet dan Klopidogrel Pemberian obat klopidogrel yang bersamaan dengan aspirin dapat

menimbulkan peningkatan resiko pendarahan, tapi penggunaan dosis rendah aspirin dan klopidogrel dapat menguntungkan (Tatro, 2006;

Stokley, 2008).

Managemen yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan perdarahan GI klopidogrel adalah dengan penambahan obat PPI setelah terapi klopidogrel pada pasien dengan faktor risiko untuk pendarahan GI.

Ini untuk meningkatkan penyembuhan lesi saluran cerna, karena PPI dapat menekan produksi asam lambung (Kurniawan &

sinadibrata, 2013).

b. Interaksi Level Signifikansi 2 Interaksi obat dengan level signifikansi 2 merupakan interaksi yang menghasilkan efek berat atau berbahaya dan memerlukan pengobatan tambahan untuk

(14)

mengatasi interaksi (Tatro, 2006).

Efek dan manajemennya dapat

Tromboaspilet dan Bisoprolol Efek penurunan tekanan darah dari beta blocker mungkin dilemahkan oleh aspirin (Tatro, 2006). Terdapat bukti bahwa NSAID dapat meningkatkan tekanan darah pada pasien yang sedang mendapatkan obat antihipertensi, walaupun beberapa studi tidak menemukan peningkatan klinis secara relevan. Penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan memonitoring tekanan darah pasien.

dilihat pada tabel 8.

Kaptopril dan NSAID (parasetamol dan ketorolaks)

Ada bukti bahwa sebagian besar NSAID dapat meningkatkan tekanan darah pada pasien yang memakai antihipertensi, termasuk ACE inhibitor, meskipun beberapa penelitian tidak menemukan peningkatan yang relevan secara klinis. Kombinasi dari NSAID dan ACE inhibitor dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal dan hiperkalemia (Stokley, 2008).

Meskipun informasi tentang NSAID masih terbatas, mekanisme menunjukkan bahwa semua dari

(15)

mereka cenderung berinteraksi sama.

Sampai lebih banyak mekanisme diketahui, managamen yang bisa dilakukan disarankan dengan cara meningkatkan monitoring fungsi ginjal dan tekanan darah bila NSAID ditambahkan atau dihentikan pada pasien yang sedang mengkonsumsi ACE inhibitor (Stokley, 2008).

c. Interaksi Level Signifikansi 3 Interaksi obat dengan level signifikansi 3 merupakan interaksi yang menghasilkan efek ringan dan tidak memerlukan pengobatan tambahan untuk mengatasi interaksi (Tatro, 2006). Efek dan manajemennya dapat dilihat pada tabel 9.

ACEI (kaptopril dan lisinopril) dan Furosemid

Kombinasi furosemid dan ACEI menyebabkan “first dose hypotension” (pusing, pingsan) atau terjadinya hipotensi pada penggunaan dosis pertama atau kedua ACEI. Hal ini tampaknya terkait dengan kondisi tertentu pasien (seperti gagal jantung, hipertensi renovaskular, hemodialisis) (Stockley, 2008). Hasil sebuah studi juga menyebutkan furosemid yang diberikan saat pasien menerima terapi kaptopril atau lisinopril dapat menyebabkan hipotensi akut dan menurunkan efek dari furosemid itu sendiri (Syamsudin et all, 2012;

(16)

Setyani dkk,2006).

Manajemen yang bisa dilakukan adalah menghentikan atau mengurangi dosis furosemid sebelum akan ditambahkan ACEI. Atau pada pasien yang sedang menggunakan pengobatan diuretik, pemberian ACEI harus dengan dosis yang paling rendah terlebih dahulu.

(Stockley, 2008).

d. Interaksi Level Signifikansi 4 Interaksi obat dengan level signifikansi 4 merupakan interaksi yang menghasilkan efek sedang sampai berat dengan dokumentasi yang sangat terbatas (Tatro, 2006).

Efek dan manajemennya dapat dilihat pada tabel 10.

Simvastatin dan Klopidogrel Beberapa bukti menunjukkan atorvastatin, dan mungkin statin lainnya (misalnya simvastatin) dapat mengganggu aksi antiplatelet klopidogrel, namun data yang saling bertentangan dan yang ada saat ini tidak cukup bukti untuk melakukan perubahan dalam praktek (Tatro, 2006; Stokley, 2008).

Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan dosis klopidogrel karena efek klopidogrel yang dapat dilemahkan. Sedangkan studi lain

(17)

mengatakan tidak diperlukan penghentian penggunaan statin selama pengobatan klopidogrel sampai ada bukti baru yang mengubah praktek dalam aktifitas klinik. Studi prospektif lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah interaksi klinis yang benar signifikan. Sampai saat itu, perubahan dalam praktek tampaknya tidak diperlukan (Stokley, 2008).

e. Interaksi Level Signifikansi 5 Interaksi obat dengan level signifikansi 5 (Tabel 11) merupakan interaksi yang menghasilkan efek ringan & kejadian munculnya efek interaksi sangat kecil (Tatro, 2006).

Ketorolak dan ranitidin

Penghambat reseptor H2 tidak berpengaruh atau menyebabkan hanya sedikit perubahan klinis dan tidak terlalu penting dalam tingkat serum aspirin dan NSAID. Lebih penting penghambat reseptor H2 dapat melindungi mukosa lambung dari efek iritasi dari NSAID (Stokley,2008).

Mekanisme interaksi ini adalah tingkat serum piroksikam yang mungkin ditingkatkan karena metabolismenya melalui sistem sitokrom P450 dikurangi oleh cimetidine. Mungkin juga ada beberapa efek pada ekskresi ginjal.

Sebagian besar interaksi antara

(18)

NSAID dan cimetidine, famotidine, nizatidine atau ranitidin tidak signifikan secara klinis. Melihat dari tidak terlalu bahayanya interaksi ini, maka dirasa tidak perlu dilakukan penanganan yang serius karena penghambat reseptor H2 dapat melindungi mukosa lambung dari efek iritasi NSAID dan penggunaan bersamaan mungkin menguntungkan (Stokley, 2008).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil rekonsiliasi obat, maka dapat ditarik kesimpulan hasil penelitian bahwa prevalensi kejadian interaksi obat potensial pada pasien hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta di Instalasi Rawat

Inap Rumah Sakit PKU

Muhammadiyah Gamping periode September – November 2014 adalah

sebesar 46% dengan jenis interaksi obat potensial adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkan mekanisme interaksi Interaksi pada fase farmakodinamik sebanyak 47,3%, interaski farmakokinetik sebanyak 21,1%, dan interaksi tidak diketahui mekanismenya sebanyak 31,6%.

b. Berdasarkan onset

Interaksi pada onset lambat 73,7%, interaksi pada onset cepat (26,3%)

c. Berdasarkan tingkat keparahan

Interaksi mayor 31,6%, interaksi moderat 10%, interaksi minor 15,7%.

d. Berdasarkan dokumentasi interaksi

Interaksi establised 5,3%, Interaksi probable 15,7%, interaksi suspected 47,4%,

(19)

interaksi possible 21,1%, dan interaksi unlikely 10,5%.

e. Berdasarkan level signifikansi

Interaksi level signifikansi 1 26,3%, level signifikansi 2 31,6%, level signifikansi 3 10,5%, level signifikansi 4 21,1%, dan level signifikansi 5 10,5%.

Saran

Berdasarkan dengan hasil penelitian, maka saran yang dapat penulis ajukan adalah sebagai berikut:

1. Bagi responden atau masyarakat a. Mencatat semua nama obat yang

sedang digunakan untuk mempermudah tenaga kesehatan dalam proses pendataan serta menjaga keselamatan pasien jika terdapat alergi obat,

b. Berkonsultasi sebelum melakukan pengobatan alternatif selain yang diresepkan dokter, untuk menghindari adanya kejadian interaksi obat.

2. Bagi Institusi Rumah Sakit dan Apoteker

a. Memulai menerapkan

rekonsiliasi obat agar meminimalisir insiden interaksi obat yang terjadi dengan membuat form rekonsiliasi obat b. Meningkatkan kerjasama antar

tenaga kesehatan lain untuk menghindari ketidakcocokan data pengobatan pasien.

3. Bagi peneliti lain

Mengoptimalkan proses rekonsiliasi obat dengan meninjau dari berbagai aspek pengobatan pasien yang tidak hanya dilihat dari kajian interaksi obat namun juga sampai ke

(20)

intervensi dan konseling kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

ASHP (American Society of Health- System Pharmacist), 2013, ASHP statement on the pharmacist’s rolein medication reconciliation,

Am J Health-System

Pharmacists, 70, 453-6 ASHP (The American Society of Health-System Pharmacists).

Delgado Sánchez, O., Anoz Jimenez, L., Serrano Fábia, A. and Nicolas Pico, J. (2007) Conciliación de la medi- cación (Medication Reconciliatin). Medical Clinics (Barc).

Gleason, K.M., Groszek, J.M., Sullivan, C., Rooney, D., Barnard, C. and Noskin, G.A.

(2004). Reconciliation of discrepancies in medication histories and admission or- ders of newly hospitalized patients.

American Journal of Health- System Pharmacy, 61, 1689- 1695.

Gunawan, Lany. (2001). Hipertensi.

Yogyakarta: Kanisius.

Helms, R.A. dan Quan, D.J., 2006.

Textbook of Therapeutics: Drug and Disease Management, 8th ed.

Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, hal. 2773-2778.

Ikawati, Zullies., Sri Djumiani, I Dewa Putu P.S, 2008. kajian keamanan pemakaian obat anti- hipertensi di poliklinik usia lanjut instalasi rawat jalan rs dr sardjito.

Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol.

V, No. 3.

Kaplan, NM., Williams, Wilkins., 2002. Clinical hypertension. 8th ed. Lippincott.

Kuswardhani, T. 2006.

Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia. FK UNSRI. 93 hlm Muñoz, Ana Belén Jiménez., Ana

Clara Zoni., Esther Duran- Garcia., Paz Rodriguez Pérez., María Sanjurjo Saez., Rosa Pla- Mestr., 2013. An opportunity for improvement with a medication reconciliation programe. Open Journal of Internal Medicine.

Prasetyorini, Hesty Titis., dan Dian Prawesti Aziza. 2012. Stres Pada Penyakit Terhadap Kejadian Komplikasi Hipertensi Pada Pasien Hipertensi. Jurnal STIKES. Volume 5, No. 1.

Rahajeng, Ekowati & Sulistyowati Tuminah. 2009. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia. Volume 59 Nomor:

12, Desember 2009.

Riset Kesehatan Dasar. 2013. Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.

Rozich, J.D., Howard, R.J., Justeson, J.M., Macken, P.D., Lindsay, M.E. and Resar, R.K. (2004).

Standardization as a mechanism to improve safety in health care.

Joint Com- mission Journal on Quality and Patient Safety, 30.

Samara D, Basuki B, Dkk. Duduk Statis Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Perempuan.

Universa Medicina. Jakarta. 2005 Setiawan, Zamhir., 2006, Karakteristik sosiodemografi sebagai factor resiko hipertensi studi ekologi di pulau Jawa tahun

(21)

2004, Tesis, Program Studi Epidemiologi Program Pasca Sarjana FKM-UI, Jakarta.

Setyani, Wahyuning., Yasin, Nanang Munif. Puspita, Santi. 2006.

Evaluasi Drug Related Problem (DRPs) Pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pemerintah Kota Semarang Periode Maret- Oktober 2006. Media Farmasi Indonesia Vol 3 No 1

Stockley, I.H., 2008, Stockley’s Drug Interaction (8th ed), Pharmaceutical Press, Great Britain.

Syamsudin, dkk. 2012. A Retrospective Study On The Potential Drug Interaction Between Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor Or Angiotensin Receptor Antagonist And Other Drugs In End-stage Choric Renal Failure Patients. International Research Journal Of Pharmacy.

Tatro, D.S., 2006, Drug Interaction Facts, Lippincot William and Wilkins, Philadelphia.

Referensi

Dokumen terkait

Pada inkontinensia urin, inervasi tidak terjadi dengan baik menyebabkan uretra tidak dapat menutup dengan baik sehingga urin dapat keluar, yang dapat

Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa Penyebab berkas klaim BPJS yang negative sebelum dilakukan pengendalian koding INA- CBGs di RSUD Bagas Waras adalah

Tanaman ini mengandung komponen pembentuk gel (KPG) berupa hidrokoloid jenis gum yang bersama-sama pati akan membentuk gel yang kokoh.Gum adalah bentuk serat

Dari hasil analisis yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan positif yang

Yang dimaksud dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa adalah Karena nilai yang terkandung didalam Pancasila tidak lain adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang terdapat

– Antibiotik topikal gentamycin salep  oles 1x sehari malam hari sebelum tidur pada mata kanan dan kiri. – Siklopegik sulfas atropin tetes mata  1 tetes 3x sehari pada

pada syarat administrasi untuk pengajuan kredit rumah antara kedua bank tersebut yang ternyata tidak jauh berbeda. Hal lain yang dibandingkan antara lain adalah

Pada hari ini Senin, tanggal Delapan bulan Oktober tahun Dua Ribu Dua Belas, bertempat di KPPBC Tipe A3 Bitung, Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pengadaan Barang Inventaris