• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI SASTRA INTERDISIPLINER (Sebuah Pengantar)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI SASTRA INTERDISIPLINER (Sebuah Pengantar)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI SASTRA INTERDISIPLINER (Sebuah Pengantar)

Oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S.

Matrikulasi Program Magister (S2) Ilmu Linguistik

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

2018

(2)

STUDI SASTRA INTERDISIPLINER (Sebuah Pengantar)

1

Oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S.

I. Pendahuluan

Studi sastra interdisipliner menempatkan studi tentang karya sastra dalam hubungannya dengan disiplin ilmu lain. Di beberapa prodi FIB Unud studi ini dilakukan melalui analisis struktural pada langkah pertama dan dilanjutkan dengan analisis sastra dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial terutama sosiologi (sastra), psikologi (sastra), dan semiotik. Studi sastra interdisipliner memiliki keuntungan utama yaitu studi sastra tidak mengasingkan diri dari disiplin ilmu lain, penelitian sastra sejajar dengan penelitian sosiologi, psikologi, dan semiotik serta aspek ekstrinsik karya sastra lainnya seperti filsafat, sejarah, pendidikan, dan kebudayaan.

Studi sastra meliputi bidang teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Berikut ini akan dijelaskan berturut-turut gambaran umum tentang sastra interdisipliner dan beberapa teori dalam kritik sastra interdispliner.

II. Kritik Sastra dalam Studi Sastra Interdisiplner

Kritik sastra berhadapan dengan karya sastra (cerpen, novel, roman, puisi, drama, dan lain-lain), membahas karya sastra dengan penekanan pada keunggulannya. Mengikuti penjelasan Graham Hough (1966), Pradopo menyebutkan bahwa kritik sastra itu bukan hanya terbatas pada penyuntingan dan penetapan teks, interpretasi, dan pertimbangan nilai, tetapi meliputi masalah yang lebih luas tentang apakah kesusastraan, untuk apa, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain. Karenanya studi sastra, khususnya kritik sastra, memiliki kegunaan antara lain untuk penerangan masyarakat pada umumnya yang menginginkan penerangan tentang karya sastra melalui

1

Disampaikan dalam Matrikulasi Program Magister Linguistik (S2) Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya

Unud, 20 Agustus 2018.

(3)

analisis, interpretasi (penafsiran), dan penilaian (evaluasi) (Djoko Pradopo, 2010:93).

Sastra adalah karya yang diciptakan. Sebagai sebuah ciptaan, realitas dalam karya sastra adalah realitas kedua, mengetengahkan situasi dan kondisi dunia yang berbeda (dunia baru). Realitas kedua ini diangkat dari realitas pertama yaitu realitas sebenarnya. Realitas kedua disebut juga realitas karya sastra atau realitas fiksi. Suara Samudra (Banda, 2017) misalnya adalah karya sastra berbentuk novel yang mengisahkan eksistensi lamafa (penikam ikan paus) dan segenap konflik di seputarnya.

Novel ini lahir dari latar kehidupan nelayan desa Lamalera di pesisir selatan Pulau Lembata (realitas pertama) yang dikemas ke dalam dunia baru yaitu nelayan Lamalera dalam realitas karya sastra (realitas kedua).

Hubungan realitas pertama dan realitas kedua ini menjelaskan sebuah hubungan interdisipliner, sastra interdisipliner (pertama), yang mengawali proses penciptaan sampai novel tersebut hadir di hadapan pembaca.

Karenanya karya sastra memiliki sedikitnya lima fungsi: sebagai hiburan, sebagai bahan renungan, sebagai bahasan pelajaran, sebagai media komunikasi simbolik (media yang digunakan manusia untuk menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya), dan sebagai pembuka paradigma berpikir (Wellek dan Waren, 1989:26).

Karya sastra berbeda dengan karya yang bukan sastra. Salah satu ciri karya sastra yang paling dominan adalah diksi yang sifatnya konotatif.

Misalnya.

Menangiskah dia? Apakah setiap lamafa (nelayan penikam ikan paus) mendengar suara-suara tanpa suara yang datang dari kedalaman air? Ketika berada di tengah samudra setelah melompat dan membenamkan kaffe numung (tempuling) ke tubuh koteklema (ikan paus), suara apakah yang didengar?

Benarkah seekor koteklema bisa menangis demi anaknya atau demi induknya? (Suara Samudra, Banda, 2017:225)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana - dengan isyarat yang

tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya

tiada ("Aku Ingin", dalam Hujan Bulan Juni Djoko Damono, 1994).

(4)

Diksi yang konotatif (suara-suara tanpa suara, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada) memastikan karya sastra mesti dibedakan dengan karya yang bukan sastra. Variabel kontrolnya adalah bahasa sebagai alat untuk menghasilkan karya sastra. Perbedaannya antara lain: 1) bahasa sastra bersifat konotatif bahasa ilmiah bersifat denotatif; 2) bahasa sastra bersifat homonim bahasa ilmiah bersifat struktur; 3) bahasa sastra bersifat ekspresif sedangkan bahasa ilmiah bersifat logis; 4) bahasa sastra mementingkan simbol yang mewadahi gagasan-gagasan tertentu sedangkan bahasa ilmiah mementingkan skema dan bagan-bagan untuk menjelaskan gagasan; 5) bahasa sastra diungkapkan secara estetis sedangkan bahasa ilmiah diungkapkan secara normatif (Emzir dan Rohman, 2015:8).

Penjelasan tentang bahasa sebagai variabel kontrol yang membedakan karya sastra dan bukan sastra menunjukkan bahwa sastra interdisipliner (kedua), bertumbuh bersamaan dengan pemakaian bahasa sebagai alat utama. Dengan demikian penerapan atau penggunaan perspektif intersipliner dalam kritik sastra (ketiga) memiliki keuntungan sebagai berikut: 1) studi sastra harus mampu menjawab permasalahan pragmatis yang dihadapi oleh kemanusiaan; 2) penelitian karya sastra sejajar dengan penelitian antropologi, sosiologi, sejarah, dan disiplin ilmu sosial lainnya; 3) sastra membantu terciptanya cara berpikir yang demokratis; 4) bagi pakar dari disiplin ilmu lain, studi sastra interdisipliner akan memperkaya pengetahuan mereka tentang manusia; 5) dalam jangka panjang studi sastra dapat dilakukan ilmuwan dari disiplin ilmu lain (Rokhman, 2003:4-6 ).

Kritik sastra dilakukan melalui penelitian berdasarkan teori dan metode

tertentu. Ada pelbagai teori yang dapat dipakai.Teori-teori tersebut dapat

menjelaskan tentang studi kritik sastra interdisipliner dalam proses

penciptaan, sastra interdisipliner dalam kaitan dengan pemakaian bahasa

sebagai alat utama, dan penggunaan teori dalam perspektif interdisipliner.

(5)

III. Beberapa Pandangan Teori

Pandangan bahwa studi sastra memfokuskan perhatiannya pada teks-teks sastra obyektif pada dasarnya terjadi karena karya sastra dipandang sebagai karya otonom. Karya sastra dipandang tidak ada kaitannya dengan aspek lain yang berada di luar dirinya. Karya sastra adalah karya seni untuk dirinya sendiri. Pada hal manusia menurut Heidegger (1889 - 1976) adalah in-der-welt-sein (ada di dunia) yang tertanam secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Bangunan filsafat Heidegger berpijak pada pertanyaan "ada", "aku ada maka aku berpikir" dan aku ada, selalu hadir dalam tempat, ruang, waktu dan sejarah. Dengan demikian karya seni yang diciptakan manusia selalu memiliki relasi dengan manusia lain ecara ekologis dalam konteks sosial budaya: agama, moralitas, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, politik, dan lain-lainnya. Studi sastra interdisipliner dilakukan dalam rangka menghadirkan karya sastra di tengah masyarakat dengan menggunakan teori-teori misalnya.

a. Teori Strukturalisme b. Teori Semiotik c. Teori Resepsi

d. Teori Formalisme Rusia e. New Historicism

f. Teori Dekonstruksi g. Teori Hiperialitas h. Teori Hegemoni

Beberapa di antara teori-teori tersebut akan dijelaskan secara singkat

berikut ini.

(6)

I. Teori Strukturalisme

Teori sastra apa pun yang digunakan untuk melakukan analisis karya sastra, selalu didahului dengan pemahaman struktur. Kritik strukturalisme secara khusus mengacu kepada praktik kritik sastra yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913) melalui mazhab yang didirikannya:

Mazhab Jenewa. Konsep dasar yang ditawarkan oleh Saussure adalah perbedaan yang jelas antara signifier (bentuk, bunyi, lambang, penanda) dan signified (yang diartikan, yang ditandakan, yang dilambangkan) dan perbedaan antara parole (tuturan, penggunaan bahasa individual) dan langue (bahasa yang hukum-hukumnya telah disepakati bersama) (Emzir dan Rohman, 2015:37).

Penanda adalah bentuk/wujud fisik dapat dikenal melalui wujud karya sastra misalnya novel karya-karya Maria Matildis Banda seperti Suara Samudra (2017), Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (2016, 2017);

novel karya Oka Rusmini seperti Tarian Bumi (2000) novel karya Putu Wijaya seperti Telegram (1973), cerpen karya Nyoman Rasta Sindhu seperti Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar (1968), kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono seperti Hujan Bulan Juni (1994). Sementara itu petanda adalah makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nilai yang terkandung didalam karya-karya tersebut.

Strukturalisme dipandang sebagai bentuk pendekatan yang menempatkan karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, dan tidak memiliki kaitan dengan lingkungan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, keotonomian teori ini melepaskan karya sastra dari kerangka sejarah sastra dan mengasingkan karya sastra dari lingkungan sosial budaya (Emzir dan Rohman, 2015:39).

Hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena proses penciptaan

karya sastra itu sendiri sudah terjadi dalam lingkup interdisipliner. Karya

sastra otonom hendaknya dipandang sebagai karya original sebagaimana

yang telah dijelaskan Abrams (1981:188) bahwa meskipun strukturalisme

(7)

menganggap setiap fenomena budaya tak ubahnya sebagai institusi yang mandiri yang dapat menentukan hubungan antar unsur secara mandiri, tetap menjadi bagian utama dari pemahaman dasar dalam penelitian sastra selanjutnya. Karenanya karya sastra sebagai penanda dapat digali maknanya sebagai petanda. Penggalian makna ini sekaligus menjelaskan karya sastra tidak diasingkan dari konteks, fungsi, dan nilai-nilainya, dan selanjutnya menempatkan dirinya dalam relevansi sosialnya, dalam sejarah, dan dari permasalahan manusia.

Keunggulan strukturalisme dirangkup Yapi Taum (2017) dalam salah satu materi kuliahnya: 1) sebagai aktivitas yang bersifat intelektual, tujuan teori strukturalisme eksplikasi tekstual; 2) sebagai metode ilmiah (scientific method), teori ini memiliki cara kerja teknis dan rangkaian langkah-langkah yang tertib untuk mencapai simpulan yang valid, yakni melalui pengkajian ergosentrik; 3) sebagai pengetahuan, teori strukturalisme sastra dapat dipelajari dan dipahami secara umum dan luas dan dapat dibuktikan kebenaran cara kerjanya secara cermat.

Hubungannya dengan masyarakat dikembangkan melalui varian-varian strukturalisme. Salah satu di antaranya adalah teori strukturalisme genetik (Lucian Goldman) yang dikembangkan atas penolakan terhadap strukturalisme murni yang dipandang belum memperhatikan aspek kesejarahan teks sastra (Kutha Ratna, 2006). Strkturalisme genetik memahami karya sastra sebagai struktur bermakna, mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, sebagai anggota masyarakat yang berhubungan langsung dengan lingkungan sosial budaya tempatnya hadir dan tumbuh.

Teori ini menekankan hubungan antara struktur sastra dan struktur

masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya

dalam karya sastra. Secara ringkas strukturalisme genetik memiliki

implikasi yang lebih luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu

kemanusiaan pada umumnya (Kutha Ratna, 2006:122).

(8)

2. Teori Semiotik

Semiotik sebagai ilmu tanda menjadi makin populer dan makin luas bidangnya, karena melingkupi tidak hanya ilmu bahasa dan sastra tetapi juga aspek atau pendekatan tertentu dalam ilmu seni (estetika), antropologi budaya, filsafat, dan lain lagi (Teeuw, 2015:38). Semiotik (dari kata Yunani: semeion yang berarti tanda) adalah ilmu yang meneliti tanda-tanda, sistem-sistem tanda, dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko, 1986: 131). Semiotik bearti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya bagi kehidupan manusia (Kutha Ratna, 2006:97). Dengan kata lain, ilmu yang mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco, 1979: 6).

Apa itu tanda? Yapi Taum dalam salah satu materi kuliahnya menjelaskan bahwa tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang bersifat representatif, mewakili sesuatu yang lain berdasarkan konvensi tertentu. Konvensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau gejala kebudayaan menjadi tanda itu disebut juga sebagai kode sosial. Teori semiotik dikembangkan oleh banyak tokoh berikut ini.

a. Charles Sanders Peirce (1839-1914) (ikon, index, simbol).

b. Ferdinand de Saussure (1857-1913) (penanda, petanda, langue, parole)

c. Rolland Barthes (Denotatif dan Konotatif) d. Jurij Lotman (Tanda Primer dan Sekunder)

e. A. Teeuw (Kode Bahasa, Kode Sastra, dan Kode Budaya) f. Umberto Eco ( Tanda itu “kebohongan”; ada sesuatu yang

tersembunyi di baliknya dan bukan sebagai tanda itu sendiri.

g. Michael Riffaterre (Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik).

Berikut ini akan dijelaskan khusus semiotika yang dipelopori Charles

(9)

Sanders Peirce (1839-1914). Peirce seorang ahli filsafat atau logika. Istilah semiotika dia munculkan sebagai padanan kata untuk logika. Menurut Peirce, logika mempelajari cara bernalar dan sesuai dengan hipotesisnya, penalaran dilakukan melalui tanda-tanda (Yapi Taum, 2017). Peirce menjelaskan konsep semiotiknya dalam konsep triad of meaning yang dapat digambarkan berikut ini.

Thouht or reference or meaning

Symbol/sign Referent/object

Gambar di atas menunjukkan hubungan tanda dengan acuan atau denotatumnya. Denotatum karya sastra adalah dunia fiksional, dunia dalam kata-kata, dunia kemungkinan. Dunia fiksi tidak harus sama dengan dunia yang sesungguhnya tetapi harus dapat diterima kebenarannya. Tiga sifat denotatum yaitu ikon, indeks, dan simbol (Kutha Ratna, 2006:114).

Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan tersebut adalah hubungan persamaan (Djoko Pradopo, 2010:120). Icon (ikon) yaitu tanda yang secara inheren memiliki kesamaan dengan arti yang ditunjuk.

Misalnya lukisan pohon yang sama dengan aslinya, gambar rumah yang dibuat sama dengan aslinya, gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (petanda), gambar kuda dengan kudanya, foto dengan orang yang difoto, gambar pohon dengan pohon dan lain-lainnya.

Index (indeks) adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal

(10)

(sebab akibat) antara penanda dan petandanya (Djoko Pradopo, 2010:120). Misalnya penebangan dan penggundulan hutan akibatnya terjadi kekeringan, kebakaran, dan seterusnya. Asap menandakan adanya api, mendung menandakan bakal turun hujan.

Symbol (simbol) adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungannya bersifat arbitrer. Arti tanda ditentukan oleh konvensi (Djoko Pradopo, 2010:120). Misalnya seragam sekolah, bendera partai, bendera nasional, kosa kata yang berbeda untuk menunjuk benda yang sama: enu (nona dalam bahasa Manggarai), ina (nona dalam bahasa Lamaholot Flores Timur). Orang Ngadha Flores menyebut Ine untuk ibu/mama, orang Inggris menyebutnya mother, orang Lamaholot Flores Timur menyebutnya inang.

Hubungan tanda dengan acuan (denotatumnya) menurut Peirce dijelaskan berikut ini.

Dalam penelitian sastra dan bahasa pada umumnya tanda sebagai Ikon (serupa): foto

Tanda dengan Index (sebab - akibat): asap dan api Denotatum (acuan/

Objek)

Simbol (kesepakatan): bendera

(11)

indeks (sebab akibat) dan tanda sebagai arbitrer yang paling banyak dikaji.

Tanda sebagai index misalnya Arakian (seorang nelayan) yang berperan sebagai lamafa (tukang tikam ikan paus) dalam novel Suara Samudra, memiliki hubungan sebab akibat dengan sejumlah tanda yang menjelaskan dirinya seorang lamafa: peledang (perahu), lama uri (peminpin perahu), matros (pendayung), naje (rumah perahu) dan lain-lain.

3. Teori Resepsi (Hans Robert Jauss)

Tokoh teori resepsi yang terkenal adalah Hans Robert Jauss.

Resepsi adalah salah satu aliran dalam penelitian sastra yang terutama dikembangkan oleh mazhab Konstanz tahun 1960-an di Jerman (Yapi Taum, 2017).

Secara defenitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (latin), reception (Inggris), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca (Kutha Ratna, 2006:165). Teori ini memfokuskan perhatian pada penerimaan yaitu bagaimana pembaca atau tanggapan pembaca secara luas (tidak hanya satu pembaca saja) perubahan-perubahan tanggapan, interpretasi, dan evaluasi pembaca umum terhadap teks yang sama atau teks-teks yang berbeda dalam kurun waktu berbeda (Abrams, 1981: 155).

Pembaca menjadi topik utama. Mereka yang tidak terlibat sama sekali dengan proses kreatif penulisan karya sastra diberi ruang luas untuk menikmatinya. Dapat dikatakan pengarang tidak ada lagi. Tarian Bumi (Oka Rusmini) misalnya sudah diterima secara luas dengan berbagai reaksi pembaca, sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, dibahas oleh berbagai kalangan, difilmkan, serta menjadi obyek kajian para peneliti dalam studi sastra interdisipliner dalam kurun waktu, tempat, dan suasana yang berbeda-beda dan pembaca yang berbeda-beda pula.

Sebagaimana disimpulkan Kutha Ratna, dalam kaitan dengan pembaca,

timbul berbagai istilah seperti: pembaca eksplisit, pembaca implisit,

pembaca mahatahu, pembaca yang diintensikan. Di samping itu timbul

(12)

juga berbagai cara pemahaman pembaca seperti concretisasi (Vodicka), horison harapan (Jausz), pembaca implisit dan ruang kosong (Iser), dan kompetensi pembaca (Culler) (Kutha Ratna, 2006:169).

Berbagai resensi, pembahasan umum, tanggapan pembaca umum, tanggapan kritikus, kajian-kajian terhadap karya sastra tertentu adalah referensi utama yang dapat menggunakan teori resepsi. Teori resepsi lebih tepat digunakan untuk karya sastra yang mendapat tanggapan pembaca luas dan lintas waktu baik secara sinkronik maupun diakronik sebagaimana tanggapan pembaca terhadap Tarian Bumi. Cerita-ceitra yang lahir dari tradisi sastra masyarakat tradisional seperti Roro Mendut, Jayaprana Layonsari, Ratu Pantai Selatan, Sangkuriang, juga tepat ika dikaji dengan menggunakan teori resepsi.

4. Beberapa Teori Lainnya

Selain ketiga teori strukturalisme, teori semiotik, dan teori resepsi yang dijelaskan secara singkat di atas, ada berbagai teori lain yang dapat dimanfaatkan dalam studi kritik sastra interdisipliner.

Teori formalisme (Rusia) yang menegaskan aspek formal dan aspek makna karya sastra. New Historicism (Sthephen Greenblatt) yang menegaskan hubungan erat antara teks sastra dan teks non sastra dalam satu rangkaian produksi, pemahaman hakikat kemanusiaan dalam berbaga alternatif, serta teks sastra dan kekuatan sosial yang membentuknya.

Teori Dekonstruksi (Derrida). Dekonstruksi memiliki makna

‘pembongkaran’. Konsep-konsep yang menjadi fokus adalah instabilitas

bahasa, fonosentrisme-logosentrisme, memahami metafora, dan metafora

dan dekonstruksi. Teori dekonstruksi terkenal dengan identifikasi oposisi

dominan dan marginal dan melakukan perubahan perspektif dengan

pembalikkan yang marginal menjadi dominan. Misalnya kisah seorang

anak (marginal) yang pantas menjadi batu karena durhaka pada ibunya

(13)

(dominan). Teori dekonstruksi akan membalikkan pertanyaan tentang tanggung jawab dan pemenuhan kebutuhan anak. Anak menjadi dominan, sehingga ibu yang menjatuhkan kutuk berada pada posisi marginal.

Hiperialitas (Jean Baudrillard). Teori ini dapat memberikan jawaban yang tepat terhadap berbagai persoalan hedonisme dan konsumerisme yang dituangkan dalam karya sastra. Teori ini menggarisbawahi bagaimana tanda dimanipulasi. Manipulasi tanda adalah suatu bentuk pencarian pengakuan sosial karena di balik tanda ada hasrat untuk intregrasi sosial atau distinction (Baudrillard dalam Yusuf, 2014). Gaya hidup yang berubah. Barang-barang dibeli bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan. Motivasi belanja dalam bentuk apa pun (kredit dan kredit macet sekalipun) menjadi sangat kompleks karena gaya hidup.

Teori Hegemoni, Ideologi, dan Peranan Intelektual (Gramsci).

Teori ini memandang masyarakat yang berada dalam konteks dan dinamika kekuasaan, dimana terjadi benturan antara kekerasan, otoritas, kesepakatan, maupun paksaan secara bersama. Mey Dayanti (lulusan S1 Prodi Sasindo FIB Unud) menulis skripsi, kritik sastra interdisipliner terhadap novel Surat-Surat dari Dili (Maria Matildis Banda, 2005) dengan menggunakan teori hegemoni. Kajiannya berbeda (dapat dibaca di Perpustakaan FIB) dari skripsi-skripsi terdahulu selain karena kemampuan personalnya juga karena pilihan teori yang selaras dengan obyek atau novel yang dikaji.

T T e eo or ri i Mo M od da al l B Bu ud da ay ya a, , Mo M od da al l So S os si ia al l. .M Mo od da al l Ek E ko on no om mi i, , d da an n Mo M od da al l S

Si im mb bo ol li ik k (P ( Pi ie er re e B Bo ou ur rd di ie eu u) ). . B Bo ou ur rd di ie eu u te t er rk ke en na al l de d en ng ga an n ko k on ns se ep p ( (H Ha ab bi it tu us s x x M

Mo od da al l) ) + + a ar re en na a = = P Pr ra ak kt te ek k ( (R Ri ic ch ha ar rd d, , 2 20 01 10 0) ). . H Ha ab bi it tu us s ( (k ke eb bi ia as sa aa an n y ya an ng g s su ud da ah h b

be er rl la an ng gs su un ng g la l am ma a) ). . M Mo od da al l ( (m mo od da al l bu b ud da ay ya a, , mo m od da al l so s os si ia al l, , mo m od da al l ek e ko on no om mi i, , d

da an n mo m od da al l si s im mb bo ol li ik k) ). . Ar A re en na a ad a da al la ah h li l in ng gk ku un ng ga an n, , t te em mp pa at t at a ta au u r ru ua an ng g ya y an ng g

l la ah hi ir r da d ar ri i ke k es se ep pa ak ka at ta an n ha h ab bi it tu us s da d an n mo m od da al l ya y an ng g be b ek ke er rj ja a se s ec ca ar ra a ot o to on no om m

d de en ng ga an n hu h uk ku um m- -h hu uk ku um mn ny ya a se s en nd di ir ri i. . Pr P ra ak kt te ek k a ad da al la ah h ha h as si il l d da ar ri i h hu ub bu un ng ga an n

a an nt ta ar ra a h ha ab bi it tu us s, , m mo od da al l, , d da an n a ar re en na a. .

(14)

V. Penutup

Demikian tulisan singkat tentang studi sastra interdisipliner. Dalam praktek kritik sastra, teori apa pun yang digunakan, belum dapat sepenuhnya melepaskan teori strukturalisme (yang memfokuskan perhatian pada karya sastra otonom) yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern (Ferdinand de Saussure).

Studi sastra interdisipliner berkembang cukup baik hingga saat ini dengan adanya berbagai pendekatan terhadap karya sastra. Misalnya ekologi sastra, sastra hijau, sastra etnografi, antropologi sastra, dan lain-lain. Berbagai skripsi, tesis, dan disertasi dapat menjadi salah satu jalan untuk menjadikan studi sastra (kritik, sejarah, maupun teori) interdisipliner lebih berkembang, dengan tetap memperhatikan substansi karya sastra yang terdapat dalam strukturnya.

Denpasar, 17 Agustus 2018

(15)

D Da af ft ta ar r P Pu us st ta ak ka a

A

Ab br ra am ms s, , M M. .H H. . 1 19 97 79 9. . P Pe en ng ga an nt ta ar r F Fi ik ks si i. . Y Yo og gy ya ak ka ar rt ta a: : H Ha an ni in nd di it ta a. .

Adip, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Banda, Maria Matildis. 2016. “Parrhesia dan Kekuasaan Sastrawan dalam Mengungkapkan Kebenaran” dalam Isu-Isu Mutakhir dalam Kajian Bahasa dan Sastra. (Sudibyo dan Ilma ed.) Yogyakarta:

Interlude.

Banda, Maria Matildis. 2016. “Teori Modal dalam Pewarisan Tradisi Lisan”

dalam” dalam Prosiding Seminar Sastra Budaya dan Perubahan Sosial (Setijowati dkk ed.) Surabaya: LPPM Univ.

Kristen Petra.

Banda, Maria Matildis. 2017. Suara Samudra. Penerbit Kanisius:

Yogyakarta.

Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna Buku Teks Dasar

Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. (Evi Setyarini dan Lusi Lian Piantari, penerj). Yogyakarta: Jalasutra.

Dayanti, Mei. 2018. "Hegemoni Kekuasaan dalam Novel Surat-Surat dari Dili Karya Maria Matildis Banda" Skripsi Prodi Sastra Indonedia.

FIB Unud: Denpasar.

Djoko Pradopo, Rachmat. 2010. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana Univercity Press.

Emzir dan Rohman.2015. Teori dan Pengajaran Sastra. Rajagravindo Persada: Jakarta

Haryatmoko, 2002 “Kekuasaan Melahirkan Anti Kekuasaan. Menelanjangi Mekanisme dan Teknik Kekuasaan Bersama Foucault”

(dalam BASIS nomor 01-02, Tahun ke-51, Januari- Februari 2002).

Hartoko, Dick. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Balai Pustaka: Jakarta.

Hoed, H. Benny. 2011. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok:

Komunitas Bambu.

Jabrohim, Ed. 2015. Teori Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar: Yogayakarta.

Jenkins, Richard. 2010. Membaca Pikiran Pierre Bourdieu (Nurhadi, penerj.). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Kebung, Kondrad. 1997. Michael Foucault Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika. Jakarta: Obor.

Mahar, Cheleen. 2009. Pierre Bourdieu: Proyek Intelektual (dalam: Richard Harker, dkk., Habitus x Modal + Ranas = Praktik. Yogyakarta:

Jala Sutra hal 33-41).

Norris, Christopher, 2006. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques

(16)

Derrida. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Ratna, I Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rokhman, dkk. 2003. Sastra interdisipliner Menyandingkan Sastra dan Disiplin Ilmu Sosial. Qalam: Yogyakarta.

Teeuw. A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yapi Taum, Yoseph. 2011. Studi Sastra Lisan Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya. Yogyakarta:

Lamalera.

Yusuf Lubis, Akhyar. 2014. Postmodernisme Teori dan Metode. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Wellek Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta:

Gramedia ---

Yapi Taum, Yoseph: Beberapa Materi Kuliah tentang Teori Strukturalisme,

Teori Semiotik, dan Teori Resepsi.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut : (1) Lingkungan Kerja Fisik dan Lingkungan Kerja Non Fisik secara simultan berpengaruh terhadap

Terbilang : Tiga puluh satu jiita sembilan ratus sembilan puluh ribu

Multi – Temporal and multi spectral data, Delineated the land use/land cover changes Research in the upper gulf of Thailand would increasingly important. These

Dan bagi konsumen SPECS, sepatu yang mereka gunakan sangat memuaskan karena dengan harga yang terjangkau, mereka dapat memiliki produk sepatu dalam negeri yang

Grafik 4.2 Grafik Pengaruh Pemberian Larutan Kulit Bawang Merah Terhadap Panjang Akar Stek Batang Tanaman Sirih Merah Umur 50 hst. Dari hasil analisis variansi

FP, karyawan bagian costumer service Bank Muamalat Cabang Pembantu Sampit, hasil wawancara tanggal 18 Agustus 2012.. cara dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi nasabah

[r]

Setiap orang atau perusahaan yang diketahui menjual minuman beralkohol sebagai penjual langsung dan/atau pengecer minuman beralkohol golongan A, B dan C serta