ANALISIS PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K.3) DAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA (JAMSOSTEK)
TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN PADA PT. MITRA PRATAMA MANDIRI JAYA
PERKASA MEDAN
Oleh:
Surya Darma Pardede, S.Pd., MM Dosen STIE Indonesia Medan
ABSTRAK
PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan, merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi sipil dan baja. Penelitian ini dibatasi pada variabel Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) Dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Terhadap Semangat Kerja Karyawan Pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan. Sedangkan permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja secara simultan dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
Sesuai hasil uji Fhitung 390.424 > Ftabel 3,17 dan probabilitas signifikan jauh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,00 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja secara serempak dan signifikan berpengaruh terhadap Semangat Kerja.
Hasil uji parsial Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) nilai thitung 8.738 >
ttabel 1.674 dengan signifikan 0,000 < 0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) terhadap Semangat kerja artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
Hasil uji parsial Jaminan Sosial Tenaga Kerja nilai thitung 8.738 > ttabel 1.674 dengan signifikan 0,000 > 0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh dan signifikan dari Jamsostek terhadap semangat kerja, artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
Koefisien Determinasi menunjukkan besarnya adjusted R square sebesar 0,933 ataui 93,3% dijelaskan dengan variabel independen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3), dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja , sedangkan sisanya (100% - 93,3%
= 6,7%) dapat dijelaskan dengan variabel independen lainnya seperti pemberian penghargaan, pemberian insentif dan lain-lainnya
Kata Kunci : Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) Dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Dan Semangat Kerja
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan SDM diarahkan pada peningkatan harkat, martabat dan kemampuan manusiawi serta kepercayaan diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, dan makmur baik material maupun spiritual. Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan nasional semakin meningkat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melakukan perlindungan tenaga kerja adalah meminimalkan resiko-resiko buruk yang bisa saja terjadi. Dalam hal ini perlu adanya pengetahuan mengenai resiko-resiko yang ada. Resiko- resiko yang menimpa tenaga kerja tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu baik pada waktu kerja maupun di luar kerja demi tuntutan perusahaan.
Resiko yang menimpa tenaga kerja dapat menimbulkan cacat sebahagian, cacat seumur hidup, bahkan dapat menimbulkan kematian.
Salah satu hal yang dapat ditempuh perusahaan agar mampu bertahan dalam persaingan adalah meningkatkan semangat kerja karyawan. Menurut Nitisemito (2006: 60), “semangat kerja adalah
melakukan pekerjaan secara lebih giat sehingga dengan demikian pekerjaannnya akan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik”.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor penting dalam rangka perlindungan dunia kerja, dan juga sangat penting untuk produktivitas dan kelangsungan dunia usaha. Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) adalah salah satu hak dasar bagi pekerja yang merupakan komponen dari hak azasi manusia (HAM). Sistem Manajemen K3L bertujuan melindungi pekerja atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan demi kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional, menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja, dan memelihara serta menggunakan sumber-sumber produksi secara aman dan efisien.
Dengan implementasi K3 yang selalu didasarkan pada potential hazards dan potential risks yang ada serta data K3 yang lalu, maka program K3 dengan target yang jelas dalam periode waktu tertentu disertai Cost-benefit analysis, program K3 tersebut tidak akan merupakan ekstra biaya tetapi akan terbukti meningkatkan produktivitas dari aspek K3 serta meningkatkan citra perusahaan. Indonesia diharapkan akan melaksanakan program perbaikan K3 menuju Budaya K3
tahun 2020 (Boediono, 2015:215- 144).
Menurut Badan Pusat Jaminan Sosial (BPJS) (2016) kecelakaan yang setiap harinya dialami para buruh dari setiap 100 ribu tenaga kerja. Dari sekian banyak jumlah tersebut, penyumbang terbanyak berasal dari kecelakaan kerja konstruksi yang mencapai 30%
dari total keseluruhan jumlah kecelakaan kerja.
Menurut Undang-Undang No.
1 Tahun 1970 bahwa kecelakaan kerja merupakan suatu masalah yang harus segera ditangani bersama, pemerintah telah menjelaskan bahwa kecelakaan kerja wajib dicegah dan ditangani oleh pekerja, pengusaha dan pemerintah. Kasus kecelakaan dapat ditangani melalui pembangunan suatu sistem yang jelas, terukur dan terarah untuk mengatur setiap kegiatan menjadi aman, maka perlu adanya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
Penerapan SMK3
memberikan banyak hal positif pada perusahaan. SMK3 dapat mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan dapat menciptakan kondisi kerja yang produktif (Silaban dkk., 2009). Berdasarkan UU Nomor 13 tahun 2003 menjelaskan tentang pelaksanaan SMK3 yang berupa kewajiban diatur dalam pasal 87 ayat (1) yang berbunyi “Setiap Perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi
dengan sistem manajemen perusahaan”.
Kepala Kantor Wilayah I PT Jamsostek Sumatera Utara, mengatakan, kebanyakan perusahaan yang belum melindungi tenaga kerjanya adalah perusahaan kecil dengan jumlah tenaga kerja 10 orang ke bawah. Masih banyak anggapan bahwa Jamsostek seperti asuransi yang pengurusannya berbelit-belit.
Banyak pula yang masih beranggapan Jamsostek hanya potongan gaji tanpa diketahui manfaatnya. April 2016 terdapat 2.291 perusahaan yang tercatat di Jamsostek Sumut dari 5.428 perusahaan hingga yang terdaftar menunggak pembayaran jamsostek dengan nilai tunggakan Rp 91,6 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak 645 perusahaan menunggak satu hingga tiga bulan dengan nilai tunggakan Rp 7,9 miliar dan 219 perusahaan menunggak empat hingga enam bulan senilai Rp 1,6 miliar
Salah satu perusahaan di Sumut yang bekerja sama dengan PT. Jamsostek adalah PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan, merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi sipil dan baja, dibuka pada September 2005. Dengan memiliki 57 karyawan, dengan staf administrasi berjumlah 6 orang, maintence dan teknisi berjumlah 47 orang, security 2 orang dan cleaning service 2 orang.
Dari prasurvei yang dilakukan sebelumnya, diketahui 57 karyawan diatas terdata sebagai
peserta jamsostek namun khusus untuk maintenance dan teknisi diberikan asuransi K3 akan tetapi tidak keseluruhan dari karyawan atau peserta tersebut menggunakan fasilitas dari jamsostek. Dari 57 orang peserta jamsostek yang diteliti, ternyata 8 peserta diantaranya tidak menggunakan fasilitas tersebut dengan alasan terlalu rumitnya pengurusan untuk menggunakan fasilitas itu. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan tingkat pemahaman masing-masing karyawan mengenai sistem administratif yang berlaku di PT.
Jamsostek.
Berangkat dari kondisi yang telah diuraikan, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berkenaan dengan pelaksanaan K.3 dan jaminan sosial tenaga kerja serta melihat sejauh mana keberhasilan pelaksanaan program tersebut dalam bentuk dengan judul: “Analisis Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) Dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Terhadap Semangat Kerja Karyawan Pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan”.
B. Identifikasi Masalah
Beberapa permasalahan yang muncul, dapat diidentifikasi oleh penulis sebagai berikut:
a) Masih kurangnya pemahaman peserta jamsostek dalam menerima fasilitas kesehatan.
b) Masih banyak anggapan bahwa Jamsostek seperti asuransi yang pengurusannya berbelit-belit.
c) Perusahaan belum memfasilitasi karyawan dalam pengurusan kepesertaan sehingga karyawan masih kurang semangat dalam bekerja.
d) Masih tingginya tingkat kecelakaan kerja dikarenakan terbatasnya alat pelindung diri (APD)
e) Masih kurangnya disiplin karyawan terhadap pemakaian APD yang disediakan oleh perusahaan
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
2. Apakah keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
a) Untuk menguji keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek)
secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
b) Untuk menguji keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3)
a. Pengertian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3)
Menurut Suma’mur, (2009:12), keselamatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan serta terhadap penyakit umum.
Pada hakekatnya
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu keilmuwan multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja, keamanan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, serta melindungi tenaga kerja terhadap
resiko bahaya dalam melakukan pekerjaan serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan atau pencemaran lingkungan kerja.
Menurut Mangkunegara (2012:43) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
1) Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
2) Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya, selektif mungkin.
3) Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
4) Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai/tenaga kerja.
5) Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
6) Agar tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
7) Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
b. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan
kondisi pekerja (Simajuntak, 2014:47).
Kondisi pekerja sangat menentukan terjadinya kecelakaan kerja. Faktor-faktor yang menentukan kondisi pekerja yaitu (Simajuntak, 2014:82):
1) Kondisi mental dan fisik
2) Kebiasaan kerja yang baik dan aman
3) Pemakaian alat-alat pelindung diri
c. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi
dengan lingkungan dan
pekerjaannya (Budiono, 2013:101).
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan atau penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama dibidang kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang, menurut Blum (2011:31) ditentukan oleh empat faktor yakni:
1. Lingkungan,
2. Perilaku yang meliputi sikap,
3. Pelayanan kesehatan: promotif, 4. Genetik,
Kesehatan kerja adalah kondisi yang dapat mempengaruhi kesehatan para pekerja seperti (Simajuntak, 2014:39):
1. Kurangnya pencahayaan yang mengakibatkan sakit mata.
2. Tidak adanya sistem sirkulasi udara sehingga debu-debu atau partikel-partikel kecil akan mengganggu sistem pernapasan pekerja.
3. Pekerja yang bekerja dengan menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya.
4. Tingkat kebisingan yang melebihi batas ambang pendengar yang dapat mengakibatkan ketulian pada pekerja.
d. Indikator-indikator dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Budiono (2013:51) mengemukakan indikator Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), meliputi:
a) Faktor manusia/pribadi (personal factor)
b) Faktor kerja/lingkungan
Dari beberapa uraian di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai indikator tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi: faktor lingkungan dan faktor manusia.
e. Aspek-aspek dan Faktor- faktor yang Mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Menurut Anoraga (2015:72) mengemukakan aspek-aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi:
1) Lingkungan kerja 2) Alat kerja dan bahan 3) Cara melakukan
pekerjaan
Menurut Budiono (2013:65), faktor-faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain:
1) Beban kerja 2) Kapasitas kerja 3) Lingkungan kerja Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Aspek dan Faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain lingkungan kerja, alat kerja dan bahan, cara melakukan pekerjaan, beban kerja, kapasitas kerja, dan lingkungan kerja.
2. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)
a. Pengertian Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)
Manusia dalam hidupnya menghadapi ketidakpastian, baik itu ketidakpastian spekulatif maupun ketidakpastian murni yang selalu
menimbulkan kerugian.
Ketidakpastian ini disebut dengan resiko (Asikin, 2013: 77). Kebutuhan rasa aman merupakan motif yang kuat dimana manusia menghadapi sejumlah ketidakpastian yang cukup
besar dalam kehidupan, misalnya untuk memperoleh pekerjaan, dan untuk memperoleh jaminan kehidupan apabila karyawan tertimpa musibah.
Salah satu upaya pemberian perlindungan tenaga kerja adalah jaminan sosial tenaga kerja seperti yang terdapat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara yang berbunyi sebagai berikut: Perlindungan tenaga kerja yang meliputi hak berserikat dan berunding bersama, keselamatan dan kesehatan kerja, jaminan sosial tenaga kerja yang mencakup jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan, jaminan terhadap kecelakaan, dan jaminan kematian serta syarat-syarat kerja lainnya perlu dikembangkan secara terpadu dan bertahap dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan moneternya, kesiapan sektor terkait, kondisi pemberian kerja, lapangan kerja dan kemampuan tenaga kerja ( Kansil, 2007: 127).
Bertitik tolak dari hal tersebutlah mendorong lahirnya program yang memberikan jaminan perlindungan bagi tenaga kerja. Di berbagai negara di atur pada umumnya melalui berbagai bentuk.
Di Indonesia hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan serta diperkuat dengan Undang-Undang No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang merupakan langkah awal dalam memberikan landasan hukum penyelenggaraan jaminan sosial.
Undang-undang No. 3 tahun 1992 pasal 1 ayat 1 lebih menegaskan lagi yang dimaksud dengan Jamsostek adalah sebagai berikut :“ Suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti penghasilan yang hilang atau berkurang dalam pelayanan sebagaimana akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia” (Manulang, 2011:
131).
Dari pengertian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jaminan sosial mempunyai beberapa aspek yaitu:
1) Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja serta keluarganya.
2) Dengan adanya upaya perlindungan dasar akan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan, sebagai pengganti atau seluruh penghasilan yang hilang.
3) Menciptakan ketenangan kerja karena adanya upaya perlindungan terhadap resiko ekonomi maupun sosial.
4) Karena adanya upaya perlindungan dan terciptanya ketenangan kerja akan berdampak meningkatkan produktifitas kerja.
5) Dengan terciptanya ketenangan kerja pada akhirnya mendukung kemandirian dan harga manusia
dalam menerima dan menghadapi resiko sosial ekonomi.
b. Ruang Lingkup Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Menurut Undang-undang Nomor 3 tahun 1992 pasal 6 ayat 1 bahwa ruang lingkup jaminan sosial meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).
1) Jaminan Kecelakaan Kerja
2) Jaminan Kematian (JK) 3) Jaminan Hari Tua 4) Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan
c. Indikator-Indikator Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Menurut Husni, (2013: 53), Indikator-Indikator Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah sebagai berikut :
1) Tingkat keakuratan pemberian layanan jasa yang dijanjikan 2) Tingkat ketepatan waktu dalam
pemberian layanan jasa yang dijanjikan
3) Tingkat kecepatan pelayanan jasa yang diberikan
4) Tingkat keinginan perusahaan untuk membantu dalam hal memberikan pelayanan jasa 5) Tingkat kesediaan perusahaan
dalam memberikan jaminan kualitas terhadap jasa yang diberikan
6) Tingkat ketentuan fasilitas fisik berupa kartu Jamsostek.
3. Semangat Kerja
a. Pengertian Semangat Kerja Semangat kerja adalah sikap mental dari individu atau kelompok yang menunjukkan kegairahan untuk melaksanakan pekerjaannya sehingga mendorong untuk mampu bekerja sama dan dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya dengan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
Semangat kerja adalah keinginan dan kesungguhan seseorang mengerjakan dengan baik serta berdisiplin untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal (Hasibuan, 2008:152) Semangat kerja adalah kemampuan sekelompok orang-orang untuk bekerja sama dengan giat dan konsekuen dalam mengerjar tujuan bersama. (Tohardi, 2012:427)
Dari beberapa pendapat tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa pada dasarnya semangat kerja merupakan suatu keadaan yang timbul dari dalam diri individu yang menyebabkan individu atau manusia tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam suasana senang sehingga bekerja dengan giat, cepat, dan lebih baik.
b. Indikasi Menurunnya Semangat Kerja
Indikasi menurunya semangat kerja penting diketahui oleh organisasi atau perusahaan karena pengetahuan.
Adapun turunnya semangat kerja karyawan dapat dilihat dari:
1) Rendanya produktivitas kerja.
2) Tingkat absensi yang naik atau turun.
3) Labour tour over atau tingkat perpindahan karyawan yang tinggi.
4) Kegelisahan dimana-mana.
5) Tuntutan yang sering terjadi.
c. Cara Meningkatkan Semangat Kerja
Ada beberapa cara untuk meningkatkankan semangat kerja karyawan yang bersifat material dan non material yaitu:
1) Gaji atau upah yang cukup 2) Memenuhi kebutuhan rohani 3) Sesekali perlu menciptakan
suasana yang santai
4) Tempatkan karyawan pada posisi yang tepat
5) Berikan kesempatan kepada mereka untuk maju
6) Pemberian insentif yang terarah d. Indikator Semangat Kerja
Berdasarkan dari teori-teori yang telah ada maka diketahui indikator semangat kerja adalah :
1) Tinggi rendahnya produktivitas kerja.
2) Tingkat absensi yang rendah atau tinggi.
3) LTO atau tingkat
perputaran karyawan yang tinggi.
4) Kegelisahan dimana-mana.
B. Kerangka Konseptual
Kerangka Konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah.
Untuk mendapatkan pengertian dan gambaran yang lebih jelas tentang
pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) Dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Terhadap Semangat Kerja Karyawan Pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan maka dibawah ini akan dijelaskan tentang variabel tersebut maka dibuat kerangka penelitian berikut ini :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
D. Hipotesis
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya (Rusiadi, 2013:79).
Dari pengertian hipotesis tersebut, penulis membuat hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
2. Keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) dan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan
pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan.
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan asosiatif, karena adanya variabel-variabel yang akan ditelaah hubungannya serta tujuannya untuk menyajikan gambaran secara terstruktur, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar variabel yang diteliti. Sugiyono (2014:53).
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3)
( X1 )
Semangat Kerja Karyawan
(Y) Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Jamsostek) (X2)
B. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di PT.
Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan yang beralamat di Danau singkarak No.7 Medan Sumatra Utara
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014:72)
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan yang berjumlah 57 orang
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.
Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitinya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyek lebih besar dari 100 dapat diambil 0% s.d 15% atau 20% atau lebih (Sugiyono, 2014:135).
Berdasarkan definisi diatas, maka penulis mengambil sampel populasi seluruh karyawan PT.
Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan yang berjumlah 57 orang
D. Variabel Penelitian & Defenisi Operasional
1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian mencakup variabel apa yang akan diteliti.
Penelitian ini menguunakan 2 (dua) variabel bebas yaitu: Keselamatan dan kesehatan kerja (K.3) (X1), dan Jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) (X2), dan 1 (satu) variabel terikat yaitu Semangat Kerja Karyawan (Y)
2. Defenisi Operasional
Definisi operasional merupakan petunjuk bagaimana suatu variabel diukur secara operasional di lapangan. Definisi operasional sebaiknya berasal dari konsep teori dan definisi atau gabungan keduanya yang ada dilapangan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Angket (questionnaire), 2. Observasi
3. Wawancara
E. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian kualitatif sumber data dipilih dan disesuaikan dengan tujuan penelitian adalah : 1. Uji Validitas
Validitas adalah uji untuk mengukur tingkat keandalah dan kesahihan alat ukur yang digunakan.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur apakah alat ukur yang digunakan (kuisioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama.
3. Uji Asumsi Klasik
Beberapa uji asumsi klasik yang harus dipenuhi yaitu:
a. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti dan mendekati distribusi normal.
b. Uji Multikolonearitas
Suatu keadaan dimana variable independen yang satu dengan yang lain dalam model regresi berganda tidak saling berhubungan secara sempurna.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguju apakah dalam sebuah model regresi terdapat ketidak samaan variance dari residual suatu pengamatan lainnya.
4. Model Analisis Regresi Berganda
Model persamaanya adalah sebagai berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2 +∈
Dimana :
Y = Semangat Kerja Karyawan α = Intercept
β1 = Koefisien Regresi
X1 = Keselamatan dan kesehatan kerja (K.3)
X2 = Jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek)
∈ = Kesalahan Pengganggu/Error Term
5. Uji Hipotesis a. Uji F
Uji F-Statistik ini dilakukan untuk melihat seberapa
besar pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
b. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah pengaruh setiap variabel nyata atau tidak.
c. Koefisien Determinasi
Identifikasi determinan (R2) berfungsi untuk mengetahui signifikansi variabel maka harus dicari koefisien determinasi (R2).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Sejarah Singkat PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan
PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan merupakan perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang konstruksi sipil dan baja. Usaha kontraktor ini didirikan oleh Bapak Alex Suwandi sekaligus sebagai pemilik usaha. Beliau dibantu oleh teman dan saudaranya untuk membangun usaha kontraktor ini.
B. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Penyajian Data
Data yang diperoleh selama penelitian akan disajikan sebagai hasil penyebaran angket kepada responden yaitu karyawan PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan sebanyak 57 orang. Dengan jumlah seluruh dari pertanyaan
sebanyak 30 item, terdiri dari item pertanyaan Variabel X1
(Keselamatan Dan Kesehatan Kerja), Variabel X2 (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) dan Variabel Y (Semangat Kerja) dan disediakan 5 (lima) alternatif jawaban, yaitu
a. Sangat setuju (SS) skor 5 b. Setuju (S) skor 4 c. Kurang setuju (KS) skor 3 d. Tidak setuju (TS) skor 2 e. Sangat tidak setuju (STS) skor 1
2. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
a) Uji Validitas
Uji validitas adalah untuk mengetahui kelayakan dari butir- butir daftar pertanyaan (angket) yang telah diberikan kepada responden maka diperlukan uji validitas untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner.
Apabila setiap pertanyaan bernilai > 0,30 maka pertanyaan tersebut dinyatakan valid (sah).
Tabel Hasil Uji Validitas Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Squared Multiple Correlation
Cronbach's Alpha if Item
Deleted
X1.1 73.88 670.324 .644 . .971
X1.2 74.00 669.750 .746 . .970
X1.3 74.19 663.159 .865 . .969
X1.4 74.53 666.075 .875 . .969
X1.5 73.47 682.039 .593 . .971
X1.6 74.60 681.424 .604 . .971
X1.7 74.00 669.750 .746 . .970
X1.8 74.19 663.159 .865 . .969
X1.9 74.53 666.075 .875 . .969
X1.10 73.47 682.039 .593 . .971
X2.1 73.95 667.622 .707 . .970
X2.2 73.49 680.147 .544 . .971
X2.3 74.18 667.076 .670 . .971
X2.4 74.09 674.046 .627 . .971
X2.5 73.32 693.506 .386 . .972
X2.6 74.00 669.750 .746 . .970
X2.7 74.19 663.159 .865 . .969
X2.8 74.53 666.075 .875 . .969
X2.9 73.47 682.039 .593 . .971
X2.10 74.60 681.424 .604 . .971
Y1 74.37 674.308 .815 . .970
Y2 74.42 659.212 .917 . .969
Y3 73.40 682.709 .561 . .971
Y4 74.04 667.749 .732 . .970
Y5 73.63 676.201 .602 . .971
Y6 74.58 660.998 .872 . .969
Y7 74.00 669.750 .746 . .970
Y8 74.19 663.159 .865 . .969
Y9 74.53 666.075 .875 . .969
Y10 73.47 682.039 .593 . .971
Pada Tabel diatas, nilai koefisien korelasi produk moment produk skor masing-masing butir pertanyaan dengan total kesemua butir pertanyaan terlihat pada kolom corrected item total correlation.
Dari data didapat semua nilai koefisien melebihi angka 0,30 hal ini dapat dinyatakan bahwa semua butir pertanyaan dan skor yang didapat adalah valid (sah).
b) Uji Reliabilitas
Tabel Hasil Uji Reliabilitas
Reliability Statistics Cronbach's
Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized
Items N of Items
.971 .972 30
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018 Pada Tabel diatas, terdapat
cronbach’s alpha sebesar 0,971 yang mana nilai lebih besar > 0,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk pertanyaan yang telah disajikan pada responden yang terdiri dari 30 item, baik didalam variabel Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1), Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) (X2) dan Semangat Kerja (Y) adalah reliable atau dikatakan handal
3. Teknik Analisis Data a. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan pengujian hipotesis dari penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik untuk memastikan bahwa alat uji regresi berganda dapat digunakan atau tidak.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertjuan menguji apakah layak digunakan regresi berganda, seperti diketahui bahwa uji-t mengasumsikan bahwa nila residural mengikuti distribusi normal.
Gambar Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan Gambar di atas bahwa distribusi dari titik-titik pada Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1), Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) (X2) dan Semangat
Kerja (Y) menyebar disekitar garis diagonal yang dapat disimpulkan bahwa data yang disajikan dapat dikatakan normal 2) Uji Multikolinieritas
Tabel Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
.215 4.649
Jamsostek (X2) .215 4.649
a. Dependent Variable: Semangat Kerja (Y) Berdasarkan Tabel diatas
bahwa angka VIF adalah 4.649 lebih besar dari 1 (satu) dan nilai tolerance lebih kecil dari 10, maka 0,215 menunjukkan semua variabel tidak saling berkolerasi atau tidak saling berhubungan sesama variabel bebas dengan demikian dapat disimpulkan model regresi bebas gangguan multikolinieritas.
3) Uji Heteroskedasitas
Uji heteroskesdisitas menunjukan adanya nilai varian (residu) tidak konstan. Apabila thitung > ttabel, berarti terjadi heteroskedasitas atau sebaliknya homoskedasitas atau dapat terlihat dari probabilitas signifikan > 0,05.
Gambar Hasil Uji Heteroskedasitas
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018
Berdasarkan Gambar di atas titik-titik secara acak atau tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedasitas pada model regresi, sehingga model regresi ini layak dipakai untuk prediksi prestasi kerja berdasarkan simpulan variabel.
4. Analisis dan Evaluasi
Data yang dikumpul dan disusun, diklasifikasikan, dianalisis dan dievaluasi dan yang terakhir mengambil keputusan atas penelitian tersebut. Hasil pengolahannya adalah :
Tabel Descriptive Statistics Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
Semangat Kerja (Y) 25.33 9.408 57
Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
25.11 9.290 57
Jamsostek (X2) 26.16 8.847 57
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018 Berdasarkan Tabel di atas,
nilai rata-rata dari variabel Semangat kerja adalah 25.33 dengan standar deviasinya adalah 9.408. Untuk variabel Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1) nilai rata-ratanya adalah 25.11 dengan standar deviasinya adalah 9.290. Sedangkan untuk Penempatan Jamsostek (X2) nilai rata-ratanya adalah 26.16 dengan standar deviasinya adalah
8.847, dan jumlah responden (N) adalah 57.
5. Pengujian Hipotesis
a) Uji Pengaruh Serempak (simultant)
Uji Fhitung pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama (serempak) variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).
Tabel Hasil Uji F ANOVAb Model
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 4636.057 2 2318.029 390.424 .000a
Residual 320.609 54 5.937
Total 4956.667 56
a. Predictors: (Constant), Jamsostek (X2), Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
b. Dependent Variable: Semangat Kerja (Y)
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018
Berdasarkan Tabel diatas, bahwa nilai Fhitung sebesar 390.424 dengan tingkat signifikan 0,00.
Karena Fhitung 390.424 > Ftabel 3,17 dan probabilitas signifikan jauh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,00 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) dan Jamsostek secara serempak dan signifikan berpengaruh terhadap Semangat Kerja.
Persamaan Regresi Linier Berganda
Menurut (Kutner,
Nachtsheim dan Neter, 2009:85) Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis data dalam statistika yang seringkali digunakan untuk mengkaji hubungan antara beberapa variabel dan meramal suatu variabel
Tabel Persamaan Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant) -.727 1.017
Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
.660 .076 .652
Jamsostek (X2) .363 .079 .341
a. Dependent Variable: Semangat Kerja (Y)
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018 Berdasarkan Tabel diatas,
diperoleh persamaan regresinya adalah Y = -0.727 + 0.660 X1 + 0.363 X2 . Konstanta sebesar -0.727 menyatakan jika tidak ada variabel bebas (bernilai 0) maka variabel terikat tetap diversifikasi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1) sebesar 0.660, sedangkan
Jamsostek (X2) sebesar 0.363 dapat disimpulkan hipotesis 2 diterima.
b) Uji Pengaruh Parsial
Hasil uji pengaruh parsial variabel Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) secara parsial terhadap Semangat Kerja Terhadap Prestasi Kerja Pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan pada tabel berikut :
Tabel Hasil Uji-t
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardize d Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -.727 1.017 -.715 .478
Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
.660 .076 .652 8.738 .000
Jamsostek (X2) .363 .079 .341 4.568 .000
a. Dependent Variable: Semangat Kerja (Y)
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018
Uji-t menunjukkan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat.
Adapun uji menggunakan langkah- langkah sebagai berikut :
a) Uji pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) terhadap Semangat kerja
Berdasarkan Tabel diatas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) nilai thitung 8.738 > ttabel 1.674 dengan signifikan 0,000 < 0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) terhadap Semangat kerja
artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
b) Uji pengaruh Jamsostek terhadap semangat kerja
Berdasarkan Tabel diatas, Jamsostek nilai thitung 8.738 > ttabel
1.674 dengan signifikan 0,000 >
0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh dan signifikan dari Jamsostek terhadap semangat kerja, artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
c) Koefisien Determinasi
Hasil uji determinasi (R2) dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi pada tabel berikut : Tabel Hasil Uji Determinasi
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 .967a .935 .933 2.437
a. Predictors: (Constant), Jamsostek (X2), Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) (X1)
b. Dependent Variable: Semangat Kerja (Y)
Sumber pengolahan spss versi 19.00, Diolah tahun 2018 Berdasarkan Tabel di atas
bahwa besarnya adjusted R square sebesar 0,933 ataui 93,3% dijelaskan dengan variabel independen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3), dan Jamsostek, sedangkan sisanya (100% - 93,3% = 6,7%) dapat dijelaskan dengan variabel independen lainnya seperti pemberian penghargaan, pemberian insentif dan lain-lainnya
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Dari berbagai uraian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, mengenai Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3), dan Jamsostek terhadap semangat kerja pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan, maka akhirnya penulis mendapat suatu kesimpulan, yang mana kesimpulan tersebut akan diuraikan dibawah ini :
1. Sesuai hasil uji Fhitung 390.424 >
Ftabel 3,17 dan probabilitas signifikan jauh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,00 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) dan Jamsostek secara serempak dan signifikan berpengaruh terhadap Semangat Kerja.
2. Hasil uji parsial
a. Uji pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) terhadap Semangat kerja Hasil uji parsial Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) nilai thitung 8.738 > ttabel 1.674 dengan signifikan 0,000 <
0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) terhadap Semangat kerja artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
a. Uji pengaruh Jamsostek terhadap semangat kerja Hasil uji parsial Jamsostek nilai thitung 8.738 > ttabel 1.674 dengan signifikan 0,000 >
0,05, artinya secara parsial terdapat pengaruh dan signifikan dari Jamsostek terhadap semangat kerja, artinya Hipotesis (H2) sebelumnya di terima.
3. Koefisien Determinasi menunjukkan besarnya adjusted R square sebesar 0,933 ataui 93,3% dijelaskan dengan variabel independen
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3), dan Jamsostek, sedangkan sisanya (100% - 93,3% = 6,7%) dapat dijelaskan dengan variabel independen lainnya seperti pemberian penghargaan, pemberian insentif dan lain-lainnya
B. Saran
Dengan adanya hambatan- hambatan yang dihadapi oleh perusahaan seperti diuraikan pada bab sebelumnya, paling tidak hal itu akan berpengaruh terhadap kinerja, maka penulis mencoba memberikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi perusahaan pada Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) dan Jamsostek, terhadap semangat kerja pada PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan, adapun saran- saran yang ingin penulis sampaikan adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan harus memberikan frekuensi dalam pelatihan dan petunjuk menggunakan alat keselamatan dan kesehatan kerja secara berkala atau terus- menerus tiap periodenya. Karena jika karyawan melakukan pelatihan program keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan dapat mengerti bagaimana seharusnya mengantisipasi kecelakaan kerja pada diri sendiri maupun rekan kerja agar dapat mengurangi kecelakaan maupun sakit akibat kerja. Dan juga perusahaan harus memberikan petunjuk
bagaimana menggunakan alat keselamatan dan kesehatan kerja kepada karyawannya karena dengan didapatkannya ilmu bagaimana menggunakan alat K3 diharapkan karyawan dapat melindungi dirinya apabila suatu waktu terjadi hal yang tidak diinginkan yaitu kecelakaan kerja.
2. Saran yang didapat dari hasil penelitian tentang analisa pelaksanaan program jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek), yaitu sebaiknya PT. Mitra Pratama Mandiri Jaya Perkasa Medan memberikan perincian iuran agar seluruh karyawan dapat memahami manfaat dari program jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) tersebut sehingga karyawan tidak merasa pendapatannya berkurang dengan adanya iuran dari program jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) tersebut.
3. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian terhadap variabel- variabel lain yang menjadi
sumber pelaksanaan
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K.3) dan Jamsostek semangat kerja karena terdapat beberapa aspek yang belum tercakup dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Panji.2015. Manajemen Bisnis. Semarang: PT.
Rineka Cipta
Boediono, 2015, Seri Sinopsis Pengantar Ekonomi No.1 Ekonomi Mikro.
Edisi Kedua. Yogyakarta : BPFE
Blum, Hendrik L (2011). Planning for Health. Humansci.
Press New York
Harrington, Gill dan J.M. 2013.
Buku Saku Kesehatan Kerja Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Husni, Lalu. 2013. Pengantar Hukum
Ketenagakerjaan
Indonesia Edisi Revisi.Jakarta:Rajawali Pers.
Hasibuan, Malayu S. P. 2008.
Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan keenam belas.Jakarta:PT.
Bumi Aksara
Kansil, CST,2007, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
Kartasaputra, 2009,
Manajemen,Perilaku Organisasi:
Pendayagunaan
Sumber Daya Manusia.
(Fourth ed.). Jakarta:
Erlangga.
Kuntodi, 2009, Manajemen dan Sumber Daya Manusia, , Jakarta, Agung Media Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu,
2012, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Mathis, Robert L. dan John H.
Jackson. 2011,
Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama Salemba Empat, Jakarta
Manulang, 2011, Dasar-Dasar Manajemen, edisi revisi, cetakan ketujuh, Penerbit : Ghalia Indonesia, Jakarta
Malayu S.P. Hasibuan, 2012, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Jakarta, PT. Bumi Aksara.
Nitisemito, 2013, Manajemen personalia Manajemen Sumber Daya Manusia.
Edisi Ketiga. Jakarta : Ghalia Indonesi
Rusiadi, 2013, Subiantoro, Nur., dan Hidayat, Rahmat.
Metode Penelitian:
Manajemen, Akuntansi
dan Ekonomi
Pembangunan. Medan:
USU Press.
Suma’mur, 2009, Bunga Rampai
Hiperkes dan
Keselamatan Kerja.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Simajuntak, Payaman J., 2014, Manajemen dan Evaluasi Kinerja, Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Silalahi, Ulber. 2015. Metode Penelitian Sosial.
Bandung: Unpar Press Sentanoe, Kertonegoro, Sentanoe,
2013, Hubungan
Industrial, Hubungan Antara Pengusaha dan Pekerja (Bipartid) dgn Pemerintah (Tripartid), YTKI, Jakarta.
Sugiyono, 2014, Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alpha Beta.
Tohardi, Ahmad, 2012, Pemahaman Praktis Manajemen Sumber Daya Manusia, Universitas Tanjung Pura, Mandar Maju, Bandung
Yamin dan Kurniawan, 2009, Partial Least Square Path Modeling. Salemba Infotek
Ziglar, 2015, Research Method for the Behavioral Science.
Wadsworth/Cengange Learning