• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tionghoa dalam kebangsaan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tionghoa dalam kebangsaan."

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN

XX/NO.

232

SABTU KLIWON,

20

MEI 2OIT

sor,oPos

ffiffiffiffiffiffiffi

Hendra Kurniawan

he n drayang7 @q m ai l.co m

Dosen Pendidikan Seiarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Menekuni kajian sejarah Tionghoa

alam sejarah nasional

disepakati

masa pergerakan nasional

ditandai

dengan

berdirinya

organisasi modern

Boedi Oetomo (BO) pada

20 Mei 1908. Tanggal ini kemudian

ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan

Nasional.

Anggota organisasi ini didominasi

kaum intelektual Jawa, namun

BO

dianggap sebagai pelopor berdirinya organisasi pergerakan nasional. Apabila menilik lebih

jauh,

sebelum BO berdiri telah

terdapat organisasi modern serupa di kalangan masyarakat Tionghoa.

Organisasi masyarakat Tionghoa

ini

terbukti

juga

memberi pengaruh kuat bagi kemunculan pergerakan nasional. Merujuk

A.K.

Pringgodigdo

{1994), pergerakan nasional

memiliki

makna yang luas, bukan hanya soal

aksi

politik,

namun

juga

ekonomi, kebudayaan, keagamaan,

pendidikan, perempuan,

dan pemuda.

Dari

segi

kewilayahan,

pergerakan

nasional

berarti

meliputi

setiap sudut geografis negeri

ini.

Pergerakan

bukan

hanya

milik

kelompok radikal,

'namun juga yang

kooperatif.

Bukan hanya golongan kebangsaan

tetapi juga gerakan keagamaan, marxis, dan berbagai komunitas Iainnya.

Artinya

pergerakan nasional adalah

milik

semua, termasuk masyarakat Tionghoa. Berangkat

dari konsep tersebut, menjadi ironis apabila selama

ini

masyarakat Tionghoa absen dari historiografi sejarah pergerakan nasional.

Kontribusi etnis Tionghoa masih dipandang sebelah mata dalam

konstruksi sejarah

nasional,

Tionghoa

dalam

Kebangsaan

padahal ada

,kenyataan yang

tidak

dapat

dimungkiri.

Etnis Tionghoa

menjadi salah

satu elemen dari entitas kebangsaan Indonesia bersama dengan etnis dan suku lainnya.

Jauh

sebelum

datangnya

kolonialisme, orang-orang Tionghoa

telah hadir dan hidup bersama

dengan berbagai komunitas di bumi Nusantara. Dalam perjumpaan inilah masyarakat Tionghoa terus bergaul dan berdinamika hingga menorehkan kisah sejarah pada setiap masanya.

Menjelang awal abad ke-20, bersamaan dengan kekalahan

Tiongkok

atas Jepang, mulai bangkit rasa nasionalisme orang-orang Tionghoa, termasuk para Hoakiau

di

perantauan.

Hal

ini

turut

memengaruhi

masyarakat Tionghoa di Iridonesia

yang lantas mendirikan organisasi

sosial politik. Kali pertama muncul gerakan kaum muda Tionghoa yang disebut Jong Chineesche Beweging.

Gerakan

ini

inemprotes aturan

diskriminasi

zona

tempat

tinggal

(wijkenstelsel)

atau kawasan

pecinan

dan

aturan

surat jalan fpassehstelsel) yang diberlakukan oleh pemerintah

kolonial

Belanda

terhadap

masyarakat Tionghoa.

Pada

17

Maret

1900

di

Patekoan,

Batavia,

delapan

tahun

sebelum

BO

lahir,

berdirilah

Tionghoa

Hwee Koan (THHK)yang membuka sekolah-sekolah Tionghoa. Phoa

Keng Hek diangkat

sebagai Presiden THHK yang pertama. Hingga

tahun

1919 ada 250

unit

lebih

sekolah

THHK

di Hindia Belanda. Berdirinya THHK disusul lahirnya berbagai surat

kabar Tionghoa peranakan dalam bahasa Melayu Tionghoa.

Surat kabar tersebut seperti

Li

Po (1901) di Sukabumi, Peucrta Soeroboia (1902) dan Loen Boen

( 1 903) di Surab ay a, Dj aw a Terugah

(1909)

di

Semarang, serta Sin Po (1910)

di

Batavia.

Organisasi dan berbagai surat

kabar tersebut semakin memperkuat

rasa persatuan Tionghoa di Hindia Belanda. Melihat kenyataan

itu,

pemerintah Kolonial Belanda merasa

khawatir dan segera meresponsnya

dengan mendirikan Biro Urusan Cina untuk mengontrol gerakan masyarakat Tionghoa.

Kesadaran

nasionalisme

Indonesia

mulai

tumbuh

di

kalangan Tionghoa.

Mereka

sendiri kemudian

mendorong perubahan dalam THHK, seperti

Kwee Hing Tjiat yang memandang

bahwa hidup bersama di Hindia Belanda (lndonesia) adalah masa

depan Tionghoa, bukan

untuk

kembali ke Tiongkok.

lbkoh Tionghoa nasionalis, Liem

Koen Hian, juga menegaskan bahwa

Indonesia merupakan tanah

air

bagi golongan Tionghoa. Untuk mewujudkannya, Liem Koen Hian

bersama dengan warga Tionghoi di Surabaya yang disokong oleh

kaum nasionalis lainnya, seperti dr.

Soetomd dan Soeroso, mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 25 September 1932.

Harus

Objektif

PTI

bertujuan

membantu

kemajuan ekonomi,

sosial,

dan politik

Indonesia hingga menjadi satu negeri dengan hak dan kewajiban yang sama bagi seluruh rakyatnya. Perjuangan PTI

tidak

setengah-setengah.

Dalam Gabungan Politik Indonesia

(Gapi),

PTI

meminta

status

keanggotaan penuh dan menolak keanggotaan lirar biasa. Artinya PTI dengan tegas menyatakan

garis perjuangannya ikut meraih

kemerdekaan Indonesia. Kenyataan sejarah ini tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Sejarah harus objektif dan mampu

menampung berbagai kekuatan

yang memengaruhi perkembangan

masyarakat. Sejarah nasional perlu mengungkap aktivitas dari berbagai golongan masyarakat, termasuk Tionghoa, dan bukan hanya yang mayoritas.

Sampai sekarang pun Tionghoa

melalui

berbagai

organisasi

maupun

perorangan

terus

berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Pemahaman yang

baik

mengenai persoalan

ini

niscaya dapat menghindari konflik guna menuju penguatan integrasi bangsa.

Keberadaan

THHK

dan PTI menjadi dua bukti nyata bahwa Tionghoa bersama organisasi

pergerakan nasional lainnya turut andil dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Setiap anak bangsa, termasuk Tionghoa,

memiliki

hak dan kewajiban yang sama dalam pengabdian untuk negeri

ini.

Sejarah

telah

menunjukkan

bahwa

masyarakat Tionghoa

memiliki

sense

of

belongirug

terhadap Indonesia

sebagai

tanah

air

dan

tanah

tumpah darah mereka.

Apabila

sejarah pergerakan nasional

telah lama

mencatat

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak pasien penyakit jantung koroner pada etnis Tionghoa yang termasuk kategori kepribadian tipe D dan

Penggunaan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus diharapkan mampu mengungkap aspek-aspek yang diteliti terutama, mengetahui bagaimana orientasi politik masyarakat

Meskipun berbagai organisasi Tiong- hoa yang ada saat itu termasuk Jong Chinese Bewe ging tidak mengirimkan wakilnya, namun ada beberapa orang Tionghoa yang datang atas nama pribadi

Perubahan struktur kawasan dan land use kota Lasem menurut (Pratiwo, 2010) bukan serta merta oleh masyarakat Tionghoa yang sampai saat ini bangunan mereka masih

Golongan minoritas yang dimaksud dalam film Ngenest adalah keturunan Tionghoa sendiri, yang telah memiliki beberapa stigma negatif dan dalam film ini memperlihatkan

Ternyata proses perekrutan pegawai berdasarkan Hopeng dilakukan oleh orang Tionghoa hingga sekarang, dan alasan memilih tetangganya sendiri untuk dijadikan karyawan

Dari tabel 1.4 di atas terungkap bahwa faktor yang mendorong tumbuh dan meluasya tingkat orientasi politik masyarakat etnis Tionghoa di Kota Pontianak dalam

Representasi Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah Indonesia pada Materi Masa Hindu-Buddha: Analisis Wacana Kritis PENDAHULUAN Narasi sejarah resmi official history di banyak negara sangat