vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR ii
UCAPAN TERIMA KASIH iii
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah..…………... 1
1.2 Rumusan Masalah………..………...………...…..………... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian…….…...………... 8
1.3.1 Tujuan... 8
1.3.2 Manfaat... 9
1.4 Sistematika Penulisan... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka………... 12
2.1.1 Konsumsi dan Fungsi Konsumsi………...…. 12
2.1.2 Teori Konsumsi…………... 14
2.1.2.1 Teori Konsumsi John Maynard Keynes.………….…... 14
2.1.2.2 Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen. 16 2.1.2.3 Teori Konsumsi dengan Siklus Hidup... 18
2.1.4.5 Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif... 20
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi...… 21
2.1.3.1 Pendapatan Nasional………...….. 21
2.1.3.2 Tingkat Suku Bunga……….………...…. 2.1.3.3 Inflasi……..………..………...……… 28 34 2.1.4 Faktor lain yang mempegaruhi Pengeluaran Konsumsi Agregat... 35
2.1.5 Kajian Empirik Hasil Penelitian………. 40
2.2 Kerangka Pemikiran………..…... 41
2.3 Hipotesi Penelitian………... 44
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian………... 45
3.2 Metode Penelitian………...… 45
3.3 Definisi Operasionalisasai Variabel…………..………... 46
3.4 Sumber dan Jenis Data………... 48
3.5 Teknik Pengumpulan Data……… 48
3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis...…….…... 48
3.6.1 Teknik Analisis Data……….……... 48
vii
3.8 Uji Asumsi Klasik………...……...…...……… 53
3.8.1 Uji Multikolinearitas………...…...… 53
3.8.2 Uji Heteroskedastisitas………...… 55
3.8.3 Uji Autokorelasi………... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian………... 59
4.1.1 Gambaran Umum Subjek... 59
4.1.2 Perkembangan Konsumsi Masyarakat Purwakarta……...….. 61
4.1.3 Perkembangan Pendapatan Regional Bruto...…………...… 63
4.1.4 Perkembangan Tingkat Suku Bunga....………...… 66
4.1.5 Analisis Data ……….………...… 68
4.1.6 Pengujian Hipotesis...………...… 4.1.7 Uji Normalitas……….. 70 75 4.1.8 Pengujian Asumsi Klasik….………...… 76
4.1.8.1 Uji Multikolinearitas………...…...… 76
4.1.8.2 Uji Heteroskedastisitas………...… 77
4.1.8.3 Uji Autokorelasi………... 79
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian…..………….………... 79
4.3 Implikasi Pendidikan………... 83
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………... 86
5.2 Saran………... 87 DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Pembangunan merupakan salah satu alternatif terbaik yang dapat dilakukan
oleh suatu bangsa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan maupun taraf hidup
masyarakat. Pengeluran / konsumsi adalah salah satu alat ukur untuk menilai
perkembangan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk. Pengeluaran rumah tangga
dibedakan menjadi dua kategori yaitu pengeluaran makanan dan bukan makanan (non
makanan). Konsumsi terhadap makanan relatif terbatas jumlahnya sedangkan
konsumsi terhadap bukan makanan relatif tidak terbatas. Semakin tinggi pendapatan
seseorang maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke
pengeluaran bukan makanan. Pola ini digunakan sebagai salah satu indikatornya
dengan asumsi bahwa penurunan persentasi untuk makanan mencerminkan
membaiknya kehidupan ekonomi penduduk.
Pergeseran pola pengeluaran terjadi karena elastisitas permintaan terhadap
makanan pada umumnya rendah, sebaliknya elastisitas permintaan barang bukan
makanan pada umumnya tinggi. seperti terlihat pada table 1.1 di bawah ini yang
memperlihatkan persentasi pengeluaran rata-rata perkapita kelompok makanan dan
Tabel 1. 1
Persentase Pengeluaran Konsumsi Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, Indonesia, 2002-2011
Tahun Jumlah makanan
% kenaikan
Jumlah bukan makanan
% kenaikan
2002 58.47 0 41.53 0
2003 56.89 -1.58 43.11 1.58
2004 54.59 -2.3 45.42 2.31
2005 51.37 -3.22 48.63 3.21
2006 53.01 1.64 46.99 -1.64
2007 49.24 -3.77 50.76 3.77
2008 50.17 0.93 49.83 -0.93
2009 50.62 0.45 0.45 -0.45
2010 51.43 0.81 48.57 -0.81
2011 49.45 -1.98 50.55 1.98
Rata-rata 52.524 -0.902 47.477 1.002222
Sumber : bps.go.id pada Survei Sosial Ekonomi Nasional.
Berdasarkan Tabel 1.1 tampak bahwa pengeluaran konsumsi bukan makanan
pada tahun 2002-2011 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 1,002%. Adapun pada
tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 1,64% kemudian naik pada tahun 2007,
pengeluaran untuk konsumsi bukan makanan mengalami penurunan kembali pada
tahun 2008 dan 2009.
Kondisi ini menunjukan bahwa sebagian besar pengeluaran penduduk
Indonesia digunakan untuk pengeluaran makanan, ini menggambarkan tingkat
konsumsi akan mengutamakan untuk makanan, hal tersebut berbeda dengan
negara-negara maju yang pada umumnya penduduk membelanjakan sebagian besar
pengeluarannya untuk memenuhi kebutuhan bukan makanan.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini belum
mampu keluar dari struktur ekonomi yang terus didominasi konsumsi. Pasar
domestik yang relatif besar, kontribusi belanja rumah tangga terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) yang besar memang sulit dihindari.
Melihat perkembangan pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia untuk
jenis makanan dan bukan makanan pada Tabel 1.1 di atas selain menunjukkan
persentase untuk makanan lebih besar daripada persentase untuk bukan makanan
dapat diketahui pula bahwa dari tahun ke tahun pengeluaran konsumsi untuk bukan
makanan mengalami peningkatan yang relatif tinggi yaitu pada tahun 2002 bernilai
58,47% dan pada tahun 2011 pengeluaran konsumsinya menjadi 49,45%, bahkan
pada tahun 2007 konsumsi untuk jenis bukan makanan lebih besar (50,76%)
dibandingkan dengan konsumsi untuk makanan (49,24%). Hal tersebut
mengindikasikan adanya pergeseran konsumsi masyarakat Indonesia.
Konsumsi erat kaitannya dengan besaran pendapatan yang diterima oleh
seorang individu, dimana pendapatannya akan dialokasikan untuk dua hal yaitu
mengkonsumsi dan menabung. Ketika individu tersebut mempunyai pendapatan yang
minim dan tidak mencukupi konsumsinya maka individu tersebut akan menutupi
peningkatan, dimana besaran peningkatan akan memperlihatkan pola kecenderungan
tambahan mengkonsumsi seorang individu.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa ketika individu tersebut memiliki
pendapatan yang minim dan tidak mencukupi konsumsinya maka individu tesebut
akan mengambil tabungannya atau bahkan melakukan pinjaman, dimana besaran
pinjaman yang bias dilakukan sangat tergantung kepada tingkat suku bunga yang
berlaku.
Fenomena tersebut terjadi pula di salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat
yaitu kabupaten Purwakarta. Kabupaten yang terletak diantara dua kota besar yaitu
Bandung dan Jakarta, dari data rata-rata pengeluaran konsumsi menurut jenis
pengeluaran bukan makanan di Kabupaten Purwakarta. Data yang doperoleh dari
Survei Sosial Ekonomi Nasional 2010 yang dilakukan BPS di kabupaten Purwakarta .
Tabel. 1.2
Pengeluaran Rata-rata konsumsi perkapita menurut jenis bukan makanan sebulan di Kabupaten Purwakarta tahun 2010
Kelompok Barang
Golongan Pengeluaran Perkapita sebulan
Jumlah < 100.000 100.000 - 149.999 150.000-199.999 200.000-299.999 300.000-499.999 500.000-749.999 750000-999.999 1.000.000 +
Bukan makanan: -
- Perumahan dan fasilitas rumahtangga
- 24575 35242 53886 80214 134938 189091 397737 915683
- Barang dan jasa - 5922 9350 14029 27469 46718 66155 161520 331163
Biaya Pendidikan - 1350 3796 4983 10220 17274 30043 53397 121063
Biaya Kesehatan 4662 6906 9177 10758 15477 22001 25700 94681
- Pakaian. alas kaki
dan tutup kepala - 4391 7077 9087 14551 19974 28112 40478
123670
- Barang-barang
tahan lama - 100 147 2313 5038 10488 40016 88933
147035
- Pajak dan asuransi - 151 562 1698 2511 5963 9116 23295 43296
- Keperluan pesta
dan upacara - 33 1243 355 871 2879 2278 12347
20006
Jumlah bukan
makanan - 41184 64323 95528 151632 253711 386812 803407
1796597
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2010 BPS Purwakarta
Berdasarkan Tabel 1.2, dapat diketahui bahwa pengeluaran konsumsi
masyarakat Purwakarta untuk kebutuhan non makanan. Rata-rata pengluaran yang
bersifat kebutuhan non makanan kebanyaakan diatas Rp. 1.000.000 dalam waktu satu
bulan, menurut BPS kabupaten purwakarta dalam Statistik Daerah Kabupaten
Purwakarta pengeluaran rata-rata konsumsi perkapita penduduk Purwakarta tahun
2010 komposisi konsumsinya adalah 56,47 persen merupakan konsunsi makanan
Konsumsi makanan masih mendominasi pola mengkonsumsi masyarakat
Purwakarta, hal ini juga didorong adanya peningkatan jumlah konsumsi masyarakat
Purwakarta setiap tahunnya yang didorong dengan semakin meningkatnya
[image:8.612.113.528.223.416.2]pendapatan, bisa kita lihat dari tabel sebagai berikut:
Tabel 1.3
Jumlah Konsumsi masyrakat dan PDRB kabupaten Purwakarta tahun 2008-2010
Tahun Konsumsi Agregat
(Rupiah) Pertumbuhan
PDRB
(juta rupiah) Pertumbuhan 2005 190,066,146,012.00 25.49 5,741,815.05 3.51 2006 208,812,632,625.00 9.86 5,963,995.28 3.87 2007 312,251,003,790.00 49.54 6,196,750.00 3.90 2008 429,556,968,234.00 37.57 6,506,040.00 4.99 2009 388,481,098,665.00 (9.56) 6,849,560.00 5.28 2010 453,656,989,643.00 16.78 7,258,980.00 5.98
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (data diolah)
Berdasarkan Tabel 1.2 di atas tampak bahwa perkembangan konsumsi agregat
masyarakat Purwakarta setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan, kecuali
pada tahun 2009, hal tersebut bisa terjadi karena adanya kenaikan pada jumlah
Pendapatan secara agregat atau Pendapatan daerah regional bruto. Prosentase
pertumbuhan jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah prosentase pertumbuhan
pendapatan.
Pada tahun 1998 dan 2009 perekonomian Indonesia mengalami krisis
moneter yang mempunyai dampak terhadap konsumsi masyarakat secara keseluruhan
meningkat tajam di Kabupaten Purwakarta mencapai 76,32 persen. Berdasarkan
kondisi tersebut daya beli masyarakat menurun karena harga barang dan jasa naik
sangat tajam. Pada tahun 2009 konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan
negatif sebesar -9,56 persen disamping pendapatan Kabupaten Purwakarta yang
mengalami pertumbuhan Positif sebesar 5,28 persen pada tingkat suku bunga yaitu
sebesar 9,55 persen, sehingga menguntungkan bagi masyarakat yang pendapatannya
tinggi.
Dalam analisa makro, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi atau
sumbangan terhadap pendapatan Kabupaten Purwakarta dan memberikan dampak
dalam menentukan fluktuasi kegiatan ekonomi dari suatu periode ke periode waktu
lainnya.
Berdasarkan fakta dan argumen di atas, penulis tertarik untuk meneliti
masalah yang terkait dengan hubungan antara pengeluaran konsumsi pada masyarakat
dengan Pendapatan Domestik regional Bruto dan tingkat suku bunga di kabupaten
Purwakarta. Oleh karena itu penulis mengambil judul tentang “PENGARUH PDRB
DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PENGE-LUARAN KONSUMSI
MASYARAKAT PURWAKARTA PERIODE 1992-2011”.
Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan hanya pada faktor
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Tingkat Bunga. Adapun rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1) Bagaimana pengaruh PDRB Purwakarta terhadap Pengeluaran konsumsi
masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?
2) Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran konsumsi
masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?
3) Bagaimana pengaruh PDRB dan tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran
konsumsi masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?
1.3Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
1) Untuk mengetahui pengaruh PDRB terhadap terhadap Pengeluaran konsumsi
masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011.
2) Menganalisis pengaruh tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran konsumsi
masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011.
3) Menganalisis pengaruh PDRB dan tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran
1.3.2 Manfaat
Penelitian ini diharapkan memberikan dua manfaat, yaitu :
Manfaat teoritis:
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi perkembangan ilmu ekonomi , khususnya ekonomi makro terkait
dengan perilaku konsumsi dan dapat digunakan untuk pengembangan penelitian
lebih lanjut.
Manfaat Praktis:
1) Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi Pengeluaran konsumsi
masyarakat, terutama variable PDRB dan tingkat suku bunga.
2) Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk mengevaluasi pola
perilaku konsumsinya.
3) Sebagai bahan kajian bagi pengambil kebijakan untuk dapat merencanakan
kebijakan yang tepat dalam merespon pengeluaran konsumsi masyarakat,
karena konsumsi merupakan variabel makro yang sangat signifikan dalam
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Untuk memberi gambaran yang jelas, sehingga skripsi ini dapat dengan
mudah dipahami oleh pembaca, maka pembahasan dalam skripsi ini tersusun dalam
sistematika yang dapat diuraikan sebagai berikut:
A. BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
Dalam bab ini dikemukakan literatur-literatur dan dokumentasi serta
sumber-sumber tertulis dan konsep-konsep yang relevan untuk mempermudah dan
memperkuat data-data atau fakta dalam pengkajian penulisan ini, kerangka
pemikiran, perumusan hipotesis serta kajian empirik beberapa penelitian
sebelumnya.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dikemukakan mengenai metodologi penelitian yang dilakukan
oleh penulis yang meliputi: objek penelitian, metode penelitian, populasi, dan
sampel, operasional variabel, sumber data dan teknik pengambilan data,
teknik pengolahan data, teknik analisis dan hipotesis statistik yang akan diuji.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai deskripsi dari hasil penelitian yang
meliputi gambaran umum objek penelitian, gambaran umum Subjek
Penelitian, gambaran variabel yang diamati, analisis data dan pengujian
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini penulis mengemukakan kesimpulan dari hasil penelitian yang
telah dilakukan dan mengemukakan saran-saran yang berhubungan dengan
objek penelitian pada penulisan skripsi ini untuk dapat dijadikan sebagai
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. Metode Penelitian
3.1.Objek Penelitian
Dalam penelitian ini terdiri dari varabel terikat dan variabel bebas. Dimana
konsumsi agregat masyarakat adalah sebagai variabel terikat (Y), PDRB dan tingkat
suku bunga sebagai variabel bebas (X), variabel-variabel tersebut merupakan objek
dari penelitian ini. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian ini berkaitan dengan
masalah konsumsi masyarakat kabupaten Purwakarta. Berdasarkan data yang
diperoleh,jumlah konsumsi dari tahun 1992 – 2011 menunjukkan adanya fluktuasi.
Adapun data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah data time series
dari tahun 1992 – 2011.
3.2. Metode Penelitian
Metode merupakan suatu cara ilmiah yang dilakukan untuk mencapai
maksud dan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah
metode deskriptif dan kuantitatif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang
menggambarkan keadaan objek penelitian untuk mengungkapkan suatu masalah atau
fakta yang ada secara sistematis, faktual dan akurat serta sifat-sifat hubungan antara
atau menguji data sehingga menghasilkan jawaban identifikasi masalah yang harus
diukur atau diuji oleh alat kuantitatif (Moh.Nazir,2003:54).
Penelitian ini bermaksud memperoleh deskripsi mengenai Pendapatan
Daerah Regional Bruto (PDRB) dan Tingkat bunga, terhadap konsumsi kabupaten
Purwakarta periode 1992-2011.
Masih terkait dengan metode deskriptif analitik ini Sugiyono (2009:103)
berpendapat bahwa :
“Metode penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mencari
unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode desktiptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui teknik survey, studi kasus, studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter. Metode deskriptif ini dimulai dengan mengumpulkan data, mengklasifikasi data, menganalisis data dan menginterpreta-sikannya”.
Adapun ciri-ciri dari metode penelitian deskriptif analitik adalah tidak hanya
memberikan gambaran saja terhadap suatu fenomena tetapi juga menerangkan
hubungan-hubungan, menguji hipotesa-hipotesa, membuat prediksi serta
mandapatkan makna dan implikasi dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
3.3. Definisi Operasionalisasi Variabel
Untuk memudahkan penjelasan dan pengolahan data, maka variabel yang
diteliti dalam penelitian ini dijabarkan dalam bentuk konsep teoritis, konsep empiris,
Tabel 3. 1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Teoritis Konsep Empiris Konsep Analis Skala
Variabel Dependen
Konsumsi (variabel Y)
.
Jumlah konsumsi rumah tangga berdasarkan jumlah makanan dan non makanan
Besarnya Konsumsi masyarakat kabupaten Purwakarta 1992-2011 Data Konsumsi Agregat masyarakat purwakarta tahun 1992-2011 Interval Variabel Independen Produk Domestik Regional Bruto (X1)
Jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) dalam kurun waktu 1 tahun..
Besarnya PDRB Kabupaten Purwakarta pada tahun1992-2011
Data PDRB atas dasar harga konstan tahun 1992-2011 di kabupaten Purwakarta
Interval
Tingkat Suku Bunga
(X2) Tingkat suku bunga yang diukur melalui tingkat suku bunga deposito Besarnya jumlah tingkat suku bunga (deposito) di Indonesia periode 1992-2011
Data tentang jumlah tingkat suku bunga (deposito) di Indonesia periode 1992-2011
3.4.Sumber dan Jenis Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:129) yang dimaksud dengan sumber data
dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Adapun sumber data
yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1) Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Purwakarta dan Jawa Barat
2) Bank Indonesia
3) Referensi studi pustaka, artikel, jurnal, dan lain-lain, Sedangkan jenis data
yang dgunakan adalah dalam penelitian ini adalah Data sekunder diperoleh
dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia dan Internet.
3.5.Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan metode Archival Research (penelitian
arsip), yaitu pengumpulkan data yang umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan
historis yang telah disusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan
yang tidak dipublikasikan. Semua data yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan data sekunder yang diperoleh dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik,
situs BI (www.BI.go.id), perpustakaan UPI, serta berbagai sumber yang relevan.
3.6. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
3.6.1. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, menganalisis data akan menggunakan analisis regresi
variabel-variabel yang dapat mempengaruhi konsumsi. Alat bantu analisis yang
digunakan yaitu dengan menggunakan program komputer Econometric Views
(Eviews) versi 5.1. Tujuan analisis regresi linier berganda adalah untuk mempelajari
bagaimana eratnya pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas dengan satu
variabel terikat. Dalam penelitian ini akan dilakukan pemilihan model fungsi regresi.
Apakah akan menggunakan regresi model linier atau model log-linier. Dalam
penelitian ini digunakan metode Mackinnon, White dan Davidson (metode MWD)
untuk memilih model yang paling cocok.
Model analisa data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel
bebas terhadap variabel terikat dan untuk menguji kebenaran dari dugaan sementara
digunakan model persamaan regresi linier ganda, sebagai berikut:
C = f ( PDRB, i)
Hubungan tersebut dapat dijabarkan ke dalam dua bentuk fungsi regresi sebagai
berikut:
Keterangan:
C = konsumsi masyarakat
i = tingkat bunga (deposito)
PDRB = Produk Regional Domestik Bruto (PDRB)
β0 = Konstanta
β1 = Koefisien arah Regresi (parameter /estimator /penaksir untuk variabel X)
e = Variabel pengganggu
3.6.2. Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis maka penulis menggunakan uji statistik berupa uji
parsial (uji t), uji simultan (uji f) dan uji koefisien determinasi majemuk(R2).
A. Uji t (Pengujian Hipotesis Regresi Majemuk Secara Individual)
Uji t dilakukan untuk menguji bahwa variabel independen secara parsial
mempengaruhi variabel dependen. Uji t dilakukan dengan cara membandingkan hasil
t hitung dengan t tabel dengan α = 0,05. Keputusan menolak atau menerima Ho
adalah jika t hitung terletak antara daerah penerimaan Ho yaitu -1,96 dan 1,96 maka
[image:19.612.114.523.261.552.2]Ho diterima, dan diluar itu Ho ditolak. Dapat dijelaskan dalam gambar berikut :
Gambar. 3.1 Gambar Daerah penerimaan dan Penolakan Ho Sumber: Sudjana (2005:227)
Membandingkan nilai t hitung dengan t kritisnya (t tabel). Keputusanya
menolak atau menerima Ho, sebagai berikut :
Jika nilai t hitung > nilai t krits maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya
Daerah Penerimaan Ho
t tabel t tabel
Jika nilai t hitung < nilai t krits maka Ho diterima dan menolak Ha, artinya
variable itu tidak signifikan.
Jika nilai -t hitung < -t kritis maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya
variable itu signifikan.
Jika nilai –t hitung > - t kritis maka Ho diterima dan menolak Ha, artinya
variable itu tidak signifikan.
B. Uji F (Pengujian Hipotesis Regresi Majemuk Secara Keseluruhan)
Untuk mengetahui apakah Investasi dan tabungan secara
bersama-sama atau secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan
ekonomi dalam penelitian ini dilakukan uji F. Uji F digunakan untuk menguji
bahwa keseluruhan variabel independent memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap variabel.
Kriteria pengujian nilai F adalah jika Fhitung > Ftabel dengan taraf
keyakinan 95% maka Ho ditolak yang berarti bahwa ada pengaruh secara
serempak atau bersama-sama dari keseluruhan variabel independen terhadap
variabel dependen. Sebaliknya, jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima yang berarti
bahwa tidak ada pengaruh secara serempak dari keseluruhan variabel independen
C. Uji R2 (Koefisien Determinasi Majemuk)
Menurut Gujarati (2001:98) dijelaskan bahwa koefisien determinasi
(R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya derajat kemampuan menerangkan
variabel bebas terhadap variabel terikat dari fungsi tersebut. Koefisien
determinasi sebagai alat ukur kebaikan dari persamaan regresi yaitu memberikan
proporsi atau presentase variasi total dalam variabel tidak bebas Y yang
dijelaskan oleh variabel bebas X.
Penghitungan R2 merupakan ukuran ikhtisar yang mengatakan
seberapa baik regresi sample mencocokan data. Koefisien determinasi (R2)
menyatakan proporsi ragam pada Y (variabel terikat) yang dapat diterangkan oleh
X (variabel bebas). Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 < R2 < 1), dengan
ketentuan :
Jika R2 semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain model
tersebut dapat dinilai baik.
Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain model tersebut
3.7. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kondisi data apakah berdistribusi
normal atau tidak. Kondisi data berdistribusi normal menjadi syarat untuk menguji
hipotesis menggunakan statistik parametrik. Menurut Sudjana (1992: 151)
menyatakan bahwa “Teori-teori menaksir dan menguji hipotesis berdasarkan asumsi
bahwa populasi yang sedang diselidiki berdistribusi normal, jika ternyata populasi
tidak berdistribusi normal, maka kesimpulan berdasarkan teori itu tidak berlaku”.
3.8.Uji Asumsi Klasik
Untuk mendapatkan model yang tidak bias (unbiased) dalam memprediksi
masalah yang diteliti, maka model tersebut harus bebas Uji Asumsi Klasik yaitu :
3.8.1. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah situasi di mana terdapat korelasi variabel bebas
antara satu variabel dengan yang lainnya. Dalam hal ini dapat disebut
variabel-variabel tidak ortogonal. Variabel yang bersifat ortogonal adalah variabel-variabel yang nilai
korelasi antara sesamanya sama dengan nol. Ada beberapa cara untuk medeteksi
keberadaan Multikolinearitas dalam model regresi OLS (Gujarati, 2001:166), yaitu:
1) Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2 tinggi
(biasanya berkisar 0,7 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien regresi yang
2) Melakukan uji kolerasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya tinggi, perlu
dicurigai adanya masalah multikolinieritas. Akan tetapi tingginya koefisien
korelasi tersebut tidak menjamin terjadi multikolinieritas.
3) Menguji korelasi antar sesama variabel bebas dengan cara meregresi setiap Xi
terhadap X lainnya. Dari regresi tersebut, kita dapatkan R2 dan F. Jika nilai
Fhitung melebihi nilai kritis Ftabel pada tingkat derajat kepercayaan tertentu,
maka terdapat multikolinieritas variabel bebas.
4) Regresi Auxiliary. Kita menguji multikolinearitas hanya dengan melihat
hubungan secara individual antara satu variabel independen dengan satu
variabel independen lainnya.
5) Variance inflation factor dan tolerance.
Dalam penelitian ini akan mendeteksi ada atau tidaknya multiko dengan uji
derajat nol atau melihat korelasi parsial antar variabel independen. Sebagai aturan
main yang kasar (rule of thumb), jika koefisien korelasi cukup tinggi katakanlah
diatas 0,85 maka kita duga ada multikolinieritas dalam model. Sebaliknya jika
koefisien korelasi relatif rendah maka kita duga model tidak mengandung unsur
multikolinieritas (Agus widarjono, 2005:135).
Apabila terjadi Multikolinearitas menurut Yana Rohmana (2010: 149-154)
disarankan untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a) Adanya informasi sebelumnya (informasi apriori).
b) Menghilangkan salah satu variabel independen.
c) Menggabungkan data Cross-Section dan data Time Series.
d) Transformasi variabel.
e) Penambahan Data.
3.8.2. Uji Heterokedastisistas
Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier klasik, adalah bahwa
varian-varian setiap disturbance term yang dibatasi oleh nilai tertentu mengenai
variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan σ2.
Inilah yang disebut sebagai asumsi homoskedastisitas. (Gujarati, 2001:177).
Heteroskedastisitas berarti setiap varian disturbance term yang dibatasi oleh
nilai tertentu mengenai variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan
yang sama dengan σ2 atau varian yang sama. Uji heteroskedasitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokesdasitas dan jika berbeda disebut
heteroskedasitas.
Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas, salah satu
pengujian yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Metode White. yaitu
dengan cara meregresi residual kuadrat dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat
heteroskedasitas, dapat digunakan nilai probabilitas Chi Squares yang merupakan
nilai probabilitas uji White. Jika probabilitas Chi Squares < α, berarti H0 ditolak jika
probabilitas Chi Squares > α, berarti H0 diterima.
Pada penelitian digunakan metode White, dengan langkah :
1. Estimasi persamaan Y2= a + β1 x + β2 Y1 + dan dapatkan residualnya (ei)
2. Lakukan regresi auxiliary
3. Hipotesis nul pada uji ini adalah tidak ada heteroskedastisitas. Uji white
didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan dengan R2 yang akan mengikuti
distribusi chi-square dengan degree of freedom sebanyak variabel indevendent
tidak termasuk konstanta dalam regresi auxiliary
Jika nilai chi-square hitung > dari nilai X2 kritis dengan derajat kepercayaan
tertentu (�) maka ada heteroskedastisitas dan sebaliknya jika chi-square < dari
nilai X2 kritis menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas (Agus Widarjono :
2005 : 161).
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Uji White dengan bantuan
software Eviews. Dilakukan pengujian dengan menggunakan White
Heteroscedasticity Test yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat dengan variabel
3.8.3. Uji Autokorelasi
Suatu keadaan dimana tidak adanya korelasi antara variable penggangu
disturbance term disebut dengan autokorelasi (Gujarati : 2001 : 201). Konsekuensi
dari adanya gejala autokorelasi adalah estimator OLS menjadi tidak efisien karena
selang keyakinan melebar.
1)Variance populasi δ2 diestimasi terlalu rendah (underestimated) oleh variance
residual taksiran (δ2
).
2)Akibat butir b, R2 bias ditaksir terlalu tinggi (overestymated).
3)Jika δ2tidak diestimasi terlalu rendah, maka varians estimator OLS ( β ).
4)Pengujian signifikan (t dan F) menjadi lemah (Gujarati : 2001 : 207).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Breusch-Godfrey, Adapun
langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Estimasi persamaan dan dapatkan residualnya (ei)
2. Melakukan regresi residual et dengan varibel indevendent X dari residual
et-1,et-2,…..et-p,kemudian dapatkan r2 dari regresi persamaannya
3. Jika sampel adalah besar, maka menurut Breusch dan Godfray maka model
dalam persamaan akan mengikuti distribusi chi-square dengAn df sebanyak p.
4. Jika chi-square hitung lebih besar dari nilai kritis chi-squarepada derajat
kepercayaan tertentu, kita menolak hipotesis nul, ini menunjukkan adanya
skecil dari chi-square tabel maka kita menerima hipotesis nul, artinya model
tidak mengandung unsur autokorelasi.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan uji LM test dengan
bantuan software Eviews. Yaitu dengan cara membandingkan nilai X2tabel
dengan X2hitung (Obs* R-squared). Kalau X2hitung < X2tabel maka dapat
disimpulkan model estimasi berada pada hipotesa nol atau tidak ditemukan
1
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadappengeluaran konsumsi
masyarakat periode 1992-2011. Hal ini ditunjukan oleh koefisien
pendapatan sebesar 0,06549. Artinya setiap kenaikan pendapatan Rp 1
jutaan akan meningkatkan konsumsi masyarakat reta-rata sebesar Rp.
0,06549 jutaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan Keynes
yang menyatakan pengeluaran konsumsi masyarakat tergantung dengan
tingkat pendapatannya, dimana semakin besar pendapatan yang diterima
semakin besar pula konsumsi yang akan dilakukan.
2. Tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi
masyarakat di kabupaten Purwakarta periode 1992-2011. Artinya tingkat
suku bunga tidak mempengaruhi keinginan masyarakat untuk melakukan
konsumsi. Dimana masyarakat Purwakarta cenderung menggunakan uang
tunai untuk pengeluaran konsumsi daripada untuk sebagian ditabung.
2
Artinya jika tingkat suku bunga rata-rata naik sebesar 1persen, maka
konsumsi masyarakat akan naik rata-rata Rp. 21,9 miliar rupiah.
3. PDRB dan tingkat suku bunga mampu mempengaruhi pengeluaran
konsumsi masyarakat di Kabupaten Purwakarta sebesar 93,5 persen
(ditunjukkan oleh nilai R2). Hal ini ditunjukkan dari koefisien variabel
independent (PDRB dan suku bunga) mampu mempengaruhi variabel
dependent (Pengeluaran konsumsi) sebesar 0,53061 atau 53,06 persen.
Sedangkan sisanya sebesar 46,94 persen dipengaruhi oleh variabel lain
yang tidak diperhitungkan dalam model ini.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan terhadap penelitian ini, penulis
memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Pendapatan memiliki hubungan yang kuat dengan konsumsi masyarakat. Oleh
karena itu, pemerintah perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan
menggerakkan berbagai sektor ekonomi sehingga dapat mendorong
perekonomian ke arah lebih baik yang berdampak pada meningkatnya
kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan meningkatkan pendapatan dan
3
2. Masyarakat Purwakarta harus mampu mengelola keuangan untuk pengeluaran
konsumsinya dengan tepat agar besarnya pengeluaran konsumsi untuk waktu
yang akan datang tidak mengalami penurunan dalam jumlah yang besar,
dimana antara pengeluaran konsumsi masyarakat Purwakarta harus seimbang
dengan besarnya pendapatan yang diperoleh masyarakat tersebut.
3. Bank Indonesia sebagai bank sentral perlu menurunkan BI rate yang menjadi
acuan suku bunga bagi perbankan pada tingkat yang normal. Sehingga dengan
turunnya suku bunga, diharapkan konsumsi masyarakat dapat meningkat dan
DAFTAR PUSTAKA
SUMBER BUKU
Ahman, Eeng dan Yana R. 2007. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Bandung: Laboratorium EKOP UPI
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Case & Fair. 2007.PRinsip-Prinsip Ekonomi. New Jersey : Erlangga
Deliarnov. 1995. Pengantar Ekonomi Makro. UI-Press : Jakarta
Gujarati, Damodar. 1999. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga
Iskandar P dan Nuring. 2010. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta : Mitra Wacana Media
Kasmir, S.E,M.M. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Rajawali Pers : Jakarta
Mangkoesoebroto, Guritno dan Algifari. 1998. Teori Ekonomi Makro. STIE YKPN : Yogyakarta.
Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi Terjemahan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Nazir, Moh. (2000). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nopirin. 1988. Ekonomi Moneter. Yogyakarta : BPFE
Riduwan. (2004). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta
Rohmana, Yana. (2010). Ekonometrika Teori dan Aplikasi dengan Eviews. Bandung: Laboratorium Pendidikan Ekonomi dan Koperasi FPEB UPI.
Singarimbun, M. dan Sofyan, E. (1995). Metode Penelitian Survei Edisi Revisi. Yogyakarta: LP3ES.
Sudjana. (2002). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Widarjono, Agus. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan
Bisnis. Yogyakarta: EKONISIA FE UII.
Reksoprayitno, Soediyono. 2000. Pengantar Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, Arikunto . 1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Widarjono, Agus. 2005. Ekonometrika Teori dan Aplikasi.Yogyakarta: FE UII.
Zakaria, Junaiddin. 2009. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Jakarta: Gaung Persada Press
SUMBER INTERNET
Administrator Pemerintah Kab Purwakarta. Kabupaten Purwakarta. [online]. Tersedia di : http://www.purwakartakab.go.id [September 2012]
SUMBER LAINNYA
Ferry Hadiyanto.(2010).Analisis Perilaku Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga
dalam Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Suatu Pendekatan Siklus Hidup.
Gliantika.(2009).Dampak Pendapatan dan Suku Bunga Terhadap Konsumsi
Masyarakat di Sumatera Barat Selama Periode 1993-2008. [online].Tersedia
di: http://jurnal.fe-UNAND.org/wp-content/uploads/2009/11/v9.2.7.pdf [ 10 Januari 2012]
Novya Zulfa Riani..(2010).Kecenderungan mengkonsumsi marginal di kalangan
masyarakat Indonesia[online]. Tersedia di : http://unp.co.id/ind/pdffiles/ JAE%2023-2d [14 April 2012]