• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PDRB DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT PURWAKARTA PERIODE 1992-2011.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PDRB DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT PURWAKARTA PERIODE 1992-2011."

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR ii

UCAPAN TERIMA KASIH iii

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah..…………... 1

1.2 Rumusan Masalah………..………...………...…..………... 8

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian…….…...………... 8

1.3.1 Tujuan... 8

1.3.2 Manfaat... 9

1.4 Sistematika Penulisan... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka………... 12

2.1.1 Konsumsi dan Fungsi Konsumsi………...…. 12

2.1.2 Teori Konsumsi…………... 14

2.1.2.1 Teori Konsumsi John Maynard Keynes.………….…... 14

2.1.2.2 Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen. 16 2.1.2.3 Teori Konsumsi dengan Siklus Hidup... 18

2.1.4.5 Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif... 20

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi...… 21

2.1.3.1 Pendapatan Nasional………...….. 21

2.1.3.2 Tingkat Suku Bunga……….………...…. 2.1.3.3 Inflasi……..………..………...……… 28 34 2.1.4 Faktor lain yang mempegaruhi Pengeluaran Konsumsi Agregat... 35

2.1.5 Kajian Empirik Hasil Penelitian………. 40

2.2 Kerangka Pemikiran………..…... 41

2.3 Hipotesi Penelitian………... 44

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian………... 45

3.2 Metode Penelitian………...… 45

3.3 Definisi Operasionalisasai Variabel…………..………... 46

3.4 Sumber dan Jenis Data………... 48

3.5 Teknik Pengumpulan Data……… 48

3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis...…….…... 48

3.6.1 Teknik Analisis Data……….……... 48

(2)

vii

3.8 Uji Asumsi Klasik………...……...…...……… 53

3.8.1 Uji Multikolinearitas………...…...… 53

3.8.2 Uji Heteroskedastisitas………...… 55

3.8.3 Uji Autokorelasi………... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian………... 59

4.1.1 Gambaran Umum Subjek... 59

4.1.2 Perkembangan Konsumsi Masyarakat Purwakarta……...….. 61

4.1.3 Perkembangan Pendapatan Regional Bruto...…………...… 63

4.1.4 Perkembangan Tingkat Suku Bunga....………...… 66

4.1.5 Analisis Data ……….………...… 68

4.1.6 Pengujian Hipotesis...………...… 4.1.7 Uji Normalitas……….. 70 75 4.1.8 Pengujian Asumsi Klasik….………...… 76

4.1.8.1 Uji Multikolinearitas………...…...… 76

4.1.8.2 Uji Heteroskedastisitas………...… 77

4.1.8.3 Uji Autokorelasi………... 79

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian…..………….………... 79

4.3 Implikasi Pendidikan………... 83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………... 86

5.2 Saran………... 87 DAFTAR PUSTAKA

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pembangunan merupakan salah satu alternatif terbaik yang dapat dilakukan

oleh suatu bangsa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan maupun taraf hidup

masyarakat. Pengeluran / konsumsi adalah salah satu alat ukur untuk menilai

perkembangan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk. Pengeluaran rumah tangga

dibedakan menjadi dua kategori yaitu pengeluaran makanan dan bukan makanan (non

makanan). Konsumsi terhadap makanan relatif terbatas jumlahnya sedangkan

konsumsi terhadap bukan makanan relatif tidak terbatas. Semakin tinggi pendapatan

seseorang maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke

pengeluaran bukan makanan. Pola ini digunakan sebagai salah satu indikatornya

dengan asumsi bahwa penurunan persentasi untuk makanan mencerminkan

membaiknya kehidupan ekonomi penduduk.

Pergeseran pola pengeluaran terjadi karena elastisitas permintaan terhadap

makanan pada umumnya rendah, sebaliknya elastisitas permintaan barang bukan

makanan pada umumnya tinggi. seperti terlihat pada table 1.1 di bawah ini yang

memperlihatkan persentasi pengeluaran rata-rata perkapita kelompok makanan dan

(4)
[image:4.612.137.482.158.495.2]

Tabel 1. 1

Persentase Pengeluaran Konsumsi Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, Indonesia, 2002-2011

Tahun Jumlah makanan

% kenaikan

Jumlah bukan makanan

% kenaikan

2002 58.47 0 41.53 0

2003 56.89 -1.58 43.11 1.58

2004 54.59 -2.3 45.42 2.31

2005 51.37 -3.22 48.63 3.21

2006 53.01 1.64 46.99 -1.64

2007 49.24 -3.77 50.76 3.77

2008 50.17 0.93 49.83 -0.93

2009 50.62 0.45 0.45 -0.45

2010 51.43 0.81 48.57 -0.81

2011 49.45 -1.98 50.55 1.98

Rata-rata 52.524 -0.902 47.477 1.002222

Sumber : bps.go.id pada Survei Sosial Ekonomi Nasional.

Berdasarkan Tabel 1.1 tampak bahwa pengeluaran konsumsi bukan makanan

pada tahun 2002-2011 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 1,002%. Adapun pada

tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 1,64% kemudian naik pada tahun 2007,

pengeluaran untuk konsumsi bukan makanan mengalami penurunan kembali pada

tahun 2008 dan 2009.

Kondisi ini menunjukan bahwa sebagian besar pengeluaran penduduk

Indonesia digunakan untuk pengeluaran makanan, ini menggambarkan tingkat

(5)

konsumsi akan mengutamakan untuk makanan, hal tersebut berbeda dengan

negara-negara maju yang pada umumnya penduduk membelanjakan sebagian besar

pengeluarannya untuk memenuhi kebutuhan bukan makanan.

Kenyataan yang terjadi di Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini belum

mampu keluar dari struktur ekonomi yang terus didominasi konsumsi. Pasar

domestik yang relatif besar, kontribusi belanja rumah tangga terhadap Produk

Domestik Bruto (PDB) yang besar memang sulit dihindari.

Melihat perkembangan pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia untuk

jenis makanan dan bukan makanan pada Tabel 1.1 di atas selain menunjukkan

persentase untuk makanan lebih besar daripada persentase untuk bukan makanan

dapat diketahui pula bahwa dari tahun ke tahun pengeluaran konsumsi untuk bukan

makanan mengalami peningkatan yang relatif tinggi yaitu pada tahun 2002 bernilai

58,47% dan pada tahun 2011 pengeluaran konsumsinya menjadi 49,45%, bahkan

pada tahun 2007 konsumsi untuk jenis bukan makanan lebih besar (50,76%)

dibandingkan dengan konsumsi untuk makanan (49,24%). Hal tersebut

mengindikasikan adanya pergeseran konsumsi masyarakat Indonesia.

Konsumsi erat kaitannya dengan besaran pendapatan yang diterima oleh

seorang individu, dimana pendapatannya akan dialokasikan untuk dua hal yaitu

mengkonsumsi dan menabung. Ketika individu tersebut mempunyai pendapatan yang

minim dan tidak mencukupi konsumsinya maka individu tersebut akan menutupi

(6)

peningkatan, dimana besaran peningkatan akan memperlihatkan pola kecenderungan

tambahan mengkonsumsi seorang individu.

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa ketika individu tersebut memiliki

pendapatan yang minim dan tidak mencukupi konsumsinya maka individu tesebut

akan mengambil tabungannya atau bahkan melakukan pinjaman, dimana besaran

pinjaman yang bias dilakukan sangat tergantung kepada tingkat suku bunga yang

berlaku.

Fenomena tersebut terjadi pula di salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat

yaitu kabupaten Purwakarta. Kabupaten yang terletak diantara dua kota besar yaitu

Bandung dan Jakarta, dari data rata-rata pengeluaran konsumsi menurut jenis

pengeluaran bukan makanan di Kabupaten Purwakarta. Data yang doperoleh dari

Survei Sosial Ekonomi Nasional 2010 yang dilakukan BPS di kabupaten Purwakarta .

(7)
[image:7.612.70.574.182.491.2]

Tabel. 1.2

Pengeluaran Rata-rata konsumsi perkapita menurut jenis bukan makanan sebulan di Kabupaten Purwakarta tahun 2010

Kelompok Barang

Golongan Pengeluaran Perkapita sebulan

Jumlah < 100.000 100.000 - 149.999 150.000-199.999 200.000-299.999 300.000-499.999 500.000-749.999 750000-999.999 1.000.000 +

Bukan makanan: -

- Perumahan dan fasilitas rumahtangga

- 24575 35242 53886 80214 134938 189091 397737 915683

- Barang dan jasa - 5922 9350 14029 27469 46718 66155 161520 331163

Biaya Pendidikan - 1350 3796 4983 10220 17274 30043 53397 121063

Biaya Kesehatan 4662 6906 9177 10758 15477 22001 25700 94681

- Pakaian. alas kaki

dan tutup kepala - 4391 7077 9087 14551 19974 28112 40478

123670

- Barang-barang

tahan lama - 100 147 2313 5038 10488 40016 88933

147035

- Pajak dan asuransi - 151 562 1698 2511 5963 9116 23295 43296

- Keperluan pesta

dan upacara - 33 1243 355 871 2879 2278 12347

20006

Jumlah bukan

makanan - 41184 64323 95528 151632 253711 386812 803407

1796597

Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2010 BPS Purwakarta

Berdasarkan Tabel 1.2, dapat diketahui bahwa pengeluaran konsumsi

masyarakat Purwakarta untuk kebutuhan non makanan. Rata-rata pengluaran yang

bersifat kebutuhan non makanan kebanyaakan diatas Rp. 1.000.000 dalam waktu satu

bulan, menurut BPS kabupaten purwakarta dalam Statistik Daerah Kabupaten

Purwakarta pengeluaran rata-rata konsumsi perkapita penduduk Purwakarta tahun

2010 komposisi konsumsinya adalah 56,47 persen merupakan konsunsi makanan

(8)

Konsumsi makanan masih mendominasi pola mengkonsumsi masyarakat

Purwakarta, hal ini juga didorong adanya peningkatan jumlah konsumsi masyarakat

Purwakarta setiap tahunnya yang didorong dengan semakin meningkatnya

[image:8.612.113.528.223.416.2]

pendapatan, bisa kita lihat dari tabel sebagai berikut:

Tabel 1.3

Jumlah Konsumsi masyrakat dan PDRB kabupaten Purwakarta tahun 2008-2010

Tahun Konsumsi Agregat

(Rupiah) Pertumbuhan

PDRB

(juta rupiah) Pertumbuhan 2005 190,066,146,012.00 25.49 5,741,815.05 3.51 2006 208,812,632,625.00 9.86 5,963,995.28 3.87 2007 312,251,003,790.00 49.54 6,196,750.00 3.90 2008 429,556,968,234.00 37.57 6,506,040.00 4.99 2009 388,481,098,665.00 (9.56) 6,849,560.00 5.28 2010 453,656,989,643.00 16.78 7,258,980.00 5.98

Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (data diolah)

Berdasarkan Tabel 1.2 di atas tampak bahwa perkembangan konsumsi agregat

masyarakat Purwakarta setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan, kecuali

pada tahun 2009, hal tersebut bisa terjadi karena adanya kenaikan pada jumlah

Pendapatan secara agregat atau Pendapatan daerah regional bruto. Prosentase

pertumbuhan jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah prosentase pertumbuhan

pendapatan.

Pada tahun 1998 dan 2009 perekonomian Indonesia mengalami krisis

moneter yang mempunyai dampak terhadap konsumsi masyarakat secara keseluruhan

(9)

meningkat tajam di Kabupaten Purwakarta mencapai 76,32 persen. Berdasarkan

kondisi tersebut daya beli masyarakat menurun karena harga barang dan jasa naik

sangat tajam. Pada tahun 2009 konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan

negatif sebesar -9,56 persen disamping pendapatan Kabupaten Purwakarta yang

mengalami pertumbuhan Positif sebesar 5,28 persen pada tingkat suku bunga yaitu

sebesar 9,55 persen, sehingga menguntungkan bagi masyarakat yang pendapatannya

tinggi.

Dalam analisa makro, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi atau

sumbangan terhadap pendapatan Kabupaten Purwakarta dan memberikan dampak

dalam menentukan fluktuasi kegiatan ekonomi dari suatu periode ke periode waktu

lainnya.

Berdasarkan fakta dan argumen di atas, penulis tertarik untuk meneliti

masalah yang terkait dengan hubungan antara pengeluaran konsumsi pada masyarakat

dengan Pendapatan Domestik regional Bruto dan tingkat suku bunga di kabupaten

Purwakarta. Oleh karena itu penulis mengambil judul tentang “PENGARUH PDRB

DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PENGE-LUARAN KONSUMSI

MASYARAKAT PURWAKARTA PERIODE 1992-2011”.

(10)

Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan hanya pada faktor

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Tingkat Bunga. Adapun rumusan

masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1) Bagaimana pengaruh PDRB Purwakarta terhadap Pengeluaran konsumsi

masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?

2) Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran konsumsi

masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?

3) Bagaimana pengaruh PDRB dan tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran

konsumsi masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011?

1.3Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1) Untuk mengetahui pengaruh PDRB terhadap terhadap Pengeluaran konsumsi

masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011.

2) Menganalisis pengaruh tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran konsumsi

masyarakat Purwakarta pada periode 1992-2011.

3) Menganalisis pengaruh PDRB dan tingkat suku bunga terhadap Pengeluaran

(11)

1.3.2 Manfaat

Penelitian ini diharapkan memberikan dua manfaat, yaitu :

Manfaat teoritis:

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran bagi perkembangan ilmu ekonomi , khususnya ekonomi makro terkait

dengan perilaku konsumsi dan dapat digunakan untuk pengembangan penelitian

lebih lanjut.

Manfaat Praktis:

1) Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi Pengeluaran konsumsi

masyarakat, terutama variable PDRB dan tingkat suku bunga.

2) Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk mengevaluasi pola

perilaku konsumsinya.

3) Sebagai bahan kajian bagi pengambil kebijakan untuk dapat merencanakan

kebijakan yang tepat dalam merespon pengeluaran konsumsi masyarakat,

karena konsumsi merupakan variabel makro yang sangat signifikan dalam

mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

(12)

Untuk memberi gambaran yang jelas, sehingga skripsi ini dapat dengan

mudah dipahami oleh pembaca, maka pembahasan dalam skripsi ini tersusun dalam

sistematika yang dapat diuraikan sebagai berikut:

A. BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

Dalam bab ini dikemukakan literatur-literatur dan dokumentasi serta

sumber-sumber tertulis dan konsep-konsep yang relevan untuk mempermudah dan

memperkuat data-data atau fakta dalam pengkajian penulisan ini, kerangka

pemikiran, perumusan hipotesis serta kajian empirik beberapa penelitian

sebelumnya.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan mengenai metodologi penelitian yang dilakukan

oleh penulis yang meliputi: objek penelitian, metode penelitian, populasi, dan

sampel, operasional variabel, sumber data dan teknik pengambilan data,

teknik pengolahan data, teknik analisis dan hipotesis statistik yang akan diuji.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai deskripsi dari hasil penelitian yang

meliputi gambaran umum objek penelitian, gambaran umum Subjek

Penelitian, gambaran variabel yang diamati, analisis data dan pengujian

(13)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini penulis mengemukakan kesimpulan dari hasil penelitian yang

telah dilakukan dan mengemukakan saran-saran yang berhubungan dengan

objek penelitian pada penulisan skripsi ini untuk dapat dijadikan sebagai

(14)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3. Metode Penelitian

3.1.Objek Penelitian

Dalam penelitian ini terdiri dari varabel terikat dan variabel bebas. Dimana

konsumsi agregat masyarakat adalah sebagai variabel terikat (Y), PDRB dan tingkat

suku bunga sebagai variabel bebas (X), variabel-variabel tersebut merupakan objek

dari penelitian ini. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian ini berkaitan dengan

masalah konsumsi masyarakat kabupaten Purwakarta. Berdasarkan data yang

diperoleh,jumlah konsumsi dari tahun 1992 – 2011 menunjukkan adanya fluktuasi.

Adapun data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah data time series

dari tahun 1992 – 2011.

3.2. Metode Penelitian

Metode merupakan suatu cara ilmiah yang dilakukan untuk mencapai

maksud dan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah

metode deskriptif dan kuantitatif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang

menggambarkan keadaan objek penelitian untuk mengungkapkan suatu masalah atau

fakta yang ada secara sistematis, faktual dan akurat serta sifat-sifat hubungan antara

(15)

atau menguji data sehingga menghasilkan jawaban identifikasi masalah yang harus

diukur atau diuji oleh alat kuantitatif (Moh.Nazir,2003:54).

Penelitian ini bermaksud memperoleh deskripsi mengenai Pendapatan

Daerah Regional Bruto (PDRB) dan Tingkat bunga, terhadap konsumsi kabupaten

Purwakarta periode 1992-2011.

Masih terkait dengan metode deskriptif analitik ini Sugiyono (2009:103)

berpendapat bahwa :

“Metode penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mencari

unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode desktiptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui teknik survey, studi kasus, studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter. Metode deskriptif ini dimulai dengan mengumpulkan data, mengklasifikasi data, menganalisis data dan menginterpreta-sikannya”.

Adapun ciri-ciri dari metode penelitian deskriptif analitik adalah tidak hanya

memberikan gambaran saja terhadap suatu fenomena tetapi juga menerangkan

hubungan-hubungan, menguji hipotesa-hipotesa, membuat prediksi serta

mandapatkan makna dan implikasi dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.

3.3. Definisi Operasionalisasi Variabel

Untuk memudahkan penjelasan dan pengolahan data, maka variabel yang

diteliti dalam penelitian ini dijabarkan dalam bentuk konsep teoritis, konsep empiris,

(16)
[image:16.612.109.535.146.615.2]

Tabel 3. 1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Konsep Teoritis Konsep Empiris Konsep Analis Skala

Variabel Dependen

Konsumsi (variabel Y)

.

Jumlah konsumsi rumah tangga berdasarkan jumlah makanan dan non makanan

Besarnya Konsumsi masyarakat kabupaten Purwakarta 1992-2011 Data Konsumsi Agregat masyarakat purwakarta tahun 1992-2011 Interval Variabel Independen Produk Domestik Regional Bruto (X1)

Jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) dalam kurun waktu 1 tahun..

Besarnya PDRB Kabupaten Purwakarta pada tahun1992-2011

Data PDRB atas dasar harga konstan tahun 1992-2011 di kabupaten Purwakarta

Interval

Tingkat Suku Bunga

(X2) Tingkat suku bunga yang diukur melalui tingkat suku bunga deposito Besarnya jumlah tingkat suku bunga (deposito) di Indonesia periode 1992-2011

Data tentang jumlah tingkat suku bunga (deposito) di Indonesia periode 1992-2011

(17)

3.4.Sumber dan Jenis Data

Menurut Suharsimi Arikunto (2006:129) yang dimaksud dengan sumber data

dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Adapun sumber data

yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

1) Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Purwakarta dan Jawa Barat

2) Bank Indonesia

3) Referensi studi pustaka, artikel, jurnal, dan lain-lain, Sedangkan jenis data

yang dgunakan adalah dalam penelitian ini adalah Data sekunder diperoleh

dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia dan Internet.

3.5.Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode Archival Research (penelitian

arsip), yaitu pengumpulkan data yang umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan

historis yang telah disusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan

yang tidak dipublikasikan. Semua data yang digunakan dalam penelitian ini

merupakan data sekunder yang diperoleh dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik,

situs BI (www.BI.go.id), perpustakaan UPI, serta berbagai sumber yang relevan.

3.6. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

3.6.1. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, menganalisis data akan menggunakan analisis regresi

(18)

variabel-variabel yang dapat mempengaruhi konsumsi. Alat bantu analisis yang

digunakan yaitu dengan menggunakan program komputer Econometric Views

(Eviews) versi 5.1. Tujuan analisis regresi linier berganda adalah untuk mempelajari

bagaimana eratnya pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas dengan satu

variabel terikat. Dalam penelitian ini akan dilakukan pemilihan model fungsi regresi.

Apakah akan menggunakan regresi model linier atau model log-linier. Dalam

penelitian ini digunakan metode Mackinnon, White dan Davidson (metode MWD)

untuk memilih model yang paling cocok.

Model analisa data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel

bebas terhadap variabel terikat dan untuk menguji kebenaran dari dugaan sementara

digunakan model persamaan regresi linier ganda, sebagai berikut:

C = f ( PDRB, i)

Hubungan tersebut dapat dijabarkan ke dalam dua bentuk fungsi regresi sebagai

berikut:

Keterangan:

C = konsumsi masyarakat

i = tingkat bunga (deposito)

PDRB = Produk Regional Domestik Bruto (PDRB)

β0 = Konstanta

β1 = Koefisien arah Regresi (parameter /estimator /penaksir untuk variabel X)

e = Variabel pengganggu

(19)

3.6.2. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis maka penulis menggunakan uji statistik berupa uji

parsial (uji t), uji simultan (uji f) dan uji koefisien determinasi majemuk(R2).

A. Uji t (Pengujian Hipotesis Regresi Majemuk Secara Individual)

Uji t dilakukan untuk menguji bahwa variabel independen secara parsial

mempengaruhi variabel dependen. Uji t dilakukan dengan cara membandingkan hasil

t hitung dengan t tabel dengan α = 0,05. Keputusan menolak atau menerima Ho

adalah jika t hitung terletak antara daerah penerimaan Ho yaitu -1,96 dan 1,96 maka

[image:19.612.114.523.261.552.2]

Ho diterima, dan diluar itu Ho ditolak. Dapat dijelaskan dalam gambar berikut :

Gambar. 3.1 Gambar Daerah penerimaan dan Penolakan Ho Sumber: Sudjana (2005:227)

Membandingkan nilai t hitung dengan t kritisnya (t tabel). Keputusanya

menolak atau menerima Ho, sebagai berikut :

 Jika nilai t hitung > nilai t krits maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya

Daerah Penerimaan Ho

t tabel t tabel

(20)

 Jika nilai t hitung < nilai t krits maka Ho diterima dan menolak Ha, artinya

variable itu tidak signifikan.

 Jika nilai -t hitung < -t kritis maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya

variable itu signifikan.

 Jika nilai –t hitung > - t kritis maka Ho diterima dan menolak Ha, artinya

variable itu tidak signifikan.

B. Uji F (Pengujian Hipotesis Regresi Majemuk Secara Keseluruhan)

Untuk mengetahui apakah Investasi dan tabungan secara

bersama-sama atau secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan

ekonomi dalam penelitian ini dilakukan uji F. Uji F digunakan untuk menguji

bahwa keseluruhan variabel independent memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap variabel.

Kriteria pengujian nilai F adalah jika Fhitung > Ftabel dengan taraf

keyakinan 95% maka Ho ditolak yang berarti bahwa ada pengaruh secara

serempak atau bersama-sama dari keseluruhan variabel independen terhadap

variabel dependen. Sebaliknya, jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima yang berarti

bahwa tidak ada pengaruh secara serempak dari keseluruhan variabel independen

(21)

C. Uji R2 (Koefisien Determinasi Majemuk)

Menurut Gujarati (2001:98) dijelaskan bahwa koefisien determinasi

(R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya derajat kemampuan menerangkan

variabel bebas terhadap variabel terikat dari fungsi tersebut. Koefisien

determinasi sebagai alat ukur kebaikan dari persamaan regresi yaitu memberikan

proporsi atau presentase variasi total dalam variabel tidak bebas Y yang

dijelaskan oleh variabel bebas X.

Penghitungan R2 merupakan ukuran ikhtisar yang mengatakan

seberapa baik regresi sample mencocokan data. Koefisien determinasi (R2)

menyatakan proporsi ragam pada Y (variabel terikat) yang dapat diterangkan oleh

X (variabel bebas). Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 < R2 < 1), dengan

ketentuan :

 Jika R2 semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel bebas

dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain model

tersebut dapat dinilai baik.

 Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas

dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain model tersebut

(22)

3.7. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kondisi data apakah berdistribusi

normal atau tidak. Kondisi data berdistribusi normal menjadi syarat untuk menguji

hipotesis menggunakan statistik parametrik. Menurut Sudjana (1992: 151)

menyatakan bahwa “Teori-teori menaksir dan menguji hipotesis berdasarkan asumsi

bahwa populasi yang sedang diselidiki berdistribusi normal, jika ternyata populasi

tidak berdistribusi normal, maka kesimpulan berdasarkan teori itu tidak berlaku”.

3.8.Uji Asumsi Klasik

Untuk mendapatkan model yang tidak bias (unbiased) dalam memprediksi

masalah yang diteliti, maka model tersebut harus bebas Uji Asumsi Klasik yaitu :

3.8.1. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah situasi di mana terdapat korelasi variabel bebas

antara satu variabel dengan yang lainnya. Dalam hal ini dapat disebut

variabel-variabel tidak ortogonal. Variabel yang bersifat ortogonal adalah variabel-variabel yang nilai

korelasi antara sesamanya sama dengan nol. Ada beberapa cara untuk medeteksi

keberadaan Multikolinearitas dalam model regresi OLS (Gujarati, 2001:166), yaitu:

1) Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2 tinggi

(biasanya berkisar 0,7 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien regresi yang

(23)

2) Melakukan uji kolerasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya tinggi, perlu

dicurigai adanya masalah multikolinieritas. Akan tetapi tingginya koefisien

korelasi tersebut tidak menjamin terjadi multikolinieritas.

3) Menguji korelasi antar sesama variabel bebas dengan cara meregresi setiap Xi

terhadap X lainnya. Dari regresi tersebut, kita dapatkan R2 dan F. Jika nilai

Fhitung melebihi nilai kritis Ftabel pada tingkat derajat kepercayaan tertentu,

maka terdapat multikolinieritas variabel bebas.

4) Regresi Auxiliary. Kita menguji multikolinearitas hanya dengan melihat

hubungan secara individual antara satu variabel independen dengan satu

variabel independen lainnya.

5) Variance inflation factor dan tolerance.

Dalam penelitian ini akan mendeteksi ada atau tidaknya multiko dengan uji

derajat nol atau melihat korelasi parsial antar variabel independen. Sebagai aturan

main yang kasar (rule of thumb), jika koefisien korelasi cukup tinggi katakanlah

diatas 0,85 maka kita duga ada multikolinieritas dalam model. Sebaliknya jika

koefisien korelasi relatif rendah maka kita duga model tidak mengandung unsur

multikolinieritas (Agus widarjono, 2005:135).

Apabila terjadi Multikolinearitas menurut Yana Rohmana (2010: 149-154)

disarankan untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

(24)

a) Adanya informasi sebelumnya (informasi apriori).

b) Menghilangkan salah satu variabel independen.

c) Menggabungkan data Cross-Section dan data Time Series.

d) Transformasi variabel.

e) Penambahan Data.

3.8.2. Uji Heterokedastisistas

Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier klasik, adalah bahwa

varian-varian setiap disturbance term yang dibatasi oleh nilai tertentu mengenai

variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan σ2.

Inilah yang disebut sebagai asumsi homoskedastisitas. (Gujarati, 2001:177).

Heteroskedastisitas berarti setiap varian disturbance term yang dibatasi oleh

nilai tertentu mengenai variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan

yang sama dengan σ2 atau varian yang sama. Uji heteroskedasitas bertujuan untuk

menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokesdasitas dan jika berbeda disebut

heteroskedasitas.

Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas, salah satu

pengujian yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Metode White. yaitu

dengan cara meregresi residual kuadrat dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat

(25)

heteroskedasitas, dapat digunakan nilai probabilitas Chi Squares yang merupakan

nilai probabilitas uji White. Jika probabilitas Chi Squares < α, berarti H0 ditolak jika

probabilitas Chi Squares > α, berarti H0 diterima.

Pada penelitian digunakan metode White, dengan langkah :

1. Estimasi persamaan Y2= a + β1 x + β2 Y1 + dan dapatkan residualnya (ei)

2. Lakukan regresi auxiliary

3. Hipotesis nul pada uji ini adalah tidak ada heteroskedastisitas. Uji white

didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan dengan R2 yang akan mengikuti

distribusi chi-square dengan degree of freedom sebanyak variabel indevendent

tidak termasuk konstanta dalam regresi auxiliary

Jika nilai chi-square hitung > dari nilai X2 kritis dengan derajat kepercayaan

tertentu (�) maka ada heteroskedastisitas dan sebaliknya jika chi-square < dari

nilai X2 kritis menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas (Agus Widarjono :

2005 : 161).

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Uji White dengan bantuan

software Eviews. Dilakukan pengujian dengan menggunakan White

Heteroscedasticity Test yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat dengan variabel

(26)

3.8.3. Uji Autokorelasi

Suatu keadaan dimana tidak adanya korelasi antara variable penggangu

disturbance term disebut dengan autokorelasi (Gujarati : 2001 : 201). Konsekuensi

dari adanya gejala autokorelasi adalah estimator OLS menjadi tidak efisien karena

selang keyakinan melebar.

1)Variance populasi δ2 diestimasi terlalu rendah (underestimated) oleh variance

residual taksiran (δ2

).

2)Akibat butir b, R2 bias ditaksir terlalu tinggi (overestymated).

3)Jika δ2tidak diestimasi terlalu rendah, maka varians estimator OLS ( β ).

4)Pengujian signifikan (t dan F) menjadi lemah (Gujarati : 2001 : 207).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Breusch-Godfrey, Adapun

langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Estimasi persamaan dan dapatkan residualnya (ei)

2. Melakukan regresi residual et dengan varibel indevendent X dari residual

et-1,et-2,…..et-p,kemudian dapatkan r2 dari regresi persamaannya

3. Jika sampel adalah besar, maka menurut Breusch dan Godfray maka model

dalam persamaan akan mengikuti distribusi chi-square dengAn df sebanyak p.

4. Jika chi-square hitung lebih besar dari nilai kritis chi-squarepada derajat

kepercayaan tertentu, kita menolak hipotesis nul, ini menunjukkan adanya

(27)

skecil dari chi-square tabel maka kita menerima hipotesis nul, artinya model

tidak mengandung unsur autokorelasi.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan uji LM test dengan

bantuan software Eviews. Yaitu dengan cara membandingkan nilai X2tabel

dengan X2hitung (Obs* R-squared). Kalau X2hitung < X2tabel maka dapat

disimpulkan model estimasi berada pada hipotesa nol atau tidak ditemukan

(28)

1

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:

1. PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadappengeluaran konsumsi

masyarakat periode 1992-2011. Hal ini ditunjukan oleh koefisien

pendapatan sebesar 0,06549. Artinya setiap kenaikan pendapatan Rp 1

jutaan akan meningkatkan konsumsi masyarakat reta-rata sebesar Rp.

0,06549 jutaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan Keynes

yang menyatakan pengeluaran konsumsi masyarakat tergantung dengan

tingkat pendapatannya, dimana semakin besar pendapatan yang diterima

semakin besar pula konsumsi yang akan dilakukan.

2. Tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi

masyarakat di kabupaten Purwakarta periode 1992-2011. Artinya tingkat

suku bunga tidak mempengaruhi keinginan masyarakat untuk melakukan

konsumsi. Dimana masyarakat Purwakarta cenderung menggunakan uang

tunai untuk pengeluaran konsumsi daripada untuk sebagian ditabung.

(29)

2

Artinya jika tingkat suku bunga rata-rata naik sebesar 1persen, maka

konsumsi masyarakat akan naik rata-rata Rp. 21,9 miliar rupiah.

3. PDRB dan tingkat suku bunga mampu mempengaruhi pengeluaran

konsumsi masyarakat di Kabupaten Purwakarta sebesar 93,5 persen

(ditunjukkan oleh nilai R2). Hal ini ditunjukkan dari koefisien variabel

independent (PDRB dan suku bunga) mampu mempengaruhi variabel

dependent (Pengeluaran konsumsi) sebesar 0,53061 atau 53,06 persen.

Sedangkan sisanya sebesar 46,94 persen dipengaruhi oleh variabel lain

yang tidak diperhitungkan dalam model ini.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan terhadap penelitian ini, penulis

memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Pendapatan memiliki hubungan yang kuat dengan konsumsi masyarakat. Oleh

karena itu, pemerintah perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan

menggerakkan berbagai sektor ekonomi sehingga dapat mendorong

perekonomian ke arah lebih baik yang berdampak pada meningkatnya

kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan meningkatkan pendapatan dan

(30)

3

2. Masyarakat Purwakarta harus mampu mengelola keuangan untuk pengeluaran

konsumsinya dengan tepat agar besarnya pengeluaran konsumsi untuk waktu

yang akan datang tidak mengalami penurunan dalam jumlah yang besar,

dimana antara pengeluaran konsumsi masyarakat Purwakarta harus seimbang

dengan besarnya pendapatan yang diperoleh masyarakat tersebut.

3. Bank Indonesia sebagai bank sentral perlu menurunkan BI rate yang menjadi

acuan suku bunga bagi perbankan pada tingkat yang normal. Sehingga dengan

turunnya suku bunga, diharapkan konsumsi masyarakat dapat meningkat dan

(31)

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU

Ahman, Eeng dan Yana R. 2007. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Bandung: Laboratorium EKOP UPI

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Case & Fair. 2007.PRinsip-Prinsip Ekonomi. New Jersey : Erlangga

Deliarnov. 1995. Pengantar Ekonomi Makro. UI-Press : Jakarta

Gujarati, Damodar. 1999. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga

Iskandar P dan Nuring. 2010. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta : Mitra Wacana Media

Kasmir, S.E,M.M. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Rajawali Pers : Jakarta

Mangkoesoebroto, Guritno dan Algifari. 1998. Teori Ekonomi Makro. STIE YKPN : Yogyakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi Terjemahan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

Nazir, Moh. (2000). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nopirin. 1988. Ekonomi Moneter. Yogyakarta : BPFE

Riduwan. (2004). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta

Rohmana, Yana. (2010). Ekonometrika Teori dan Aplikasi dengan Eviews. Bandung: Laboratorium Pendidikan Ekonomi dan Koperasi FPEB UPI.

(32)

Singarimbun, M. dan Sofyan, E. (1995). Metode Penelitian Survei Edisi Revisi. Yogyakarta: LP3ES.

Sudjana. (2002). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Widarjono, Agus. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan

Bisnis. Yogyakarta: EKONISIA FE UII.

Reksoprayitno, Soediyono. 2000. Pengantar Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto . 1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Widarjono, Agus. 2005. Ekonometrika Teori dan Aplikasi.Yogyakarta: FE UII.

Zakaria, Junaiddin. 2009. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Jakarta: Gaung Persada Press

SUMBER INTERNET

Administrator Pemerintah Kab Purwakarta. Kabupaten Purwakarta. [online]. Tersedia di : http://www.purwakartakab.go.id [September 2012]

SUMBER LAINNYA

Ferry Hadiyanto.(2010).Analisis Perilaku Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga

dalam Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Suatu Pendekatan Siklus Hidup.

(33)

Gliantika.(2009).Dampak Pendapatan dan Suku Bunga Terhadap Konsumsi

Masyarakat di Sumatera Barat Selama Periode 1993-2008. [online].Tersedia

di: http://jurnal.fe-UNAND.org/wp-content/uploads/2009/11/v9.2.7.pdf [ 10 Januari 2012]

Novya Zulfa Riani..(2010).Kecenderungan mengkonsumsi marginal di kalangan

masyarakat Indonesia[online]. Tersedia di : http://unp.co.id/ind/pdffiles/ JAE%2023-2d [14 April 2012]

Gambar

Tabel 1. 1 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut
Tabel. 1.2 Pengeluaran Rata-rata konsumsi perkapita menurut jenis bukan makanan
Tabel 1.3  Jumlah Konsumsi masyrakat dan PDRB  kabupaten Purwakarta
Tabel 3. 1 Operasionalisasi Variabel
+2

Referensi

Dokumen terkait

Yulia Lamasi Simanulang: Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI dan Inflasi Terhadap Tingkat Suku Bunga..., 2006... Yulia Lamasi Simanulang: Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga

Untuk hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga bahwa, tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga deposito dan

xvii PENGARUH PERBEDAAN OPINI INVESTOR, TINGKAT LIKUIDITAS, COUPON RATE , PERIODE JATUH TEMPO, DAN TINGKAT SUKU BUNGA SBI TERHADAP. HARGA OBLIGASI KORPORASI YANG TERDAFTAR DI

Pada variabel SBI, terdapat pengaruh yang signifikan pada á = 1% tingkat suku bunga terhadap yield obligasi dan jika terjadi kenaikan sebesar 1% pada tingkat suku bunga

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “PENGARUH TINGKAT BAGI HASIL DAN SUKU BUNGA (BI RATE) TERHADAP JUMLAH DANA SIMPANAN BERJANGKA PADA KJKS PRIMA ARTHA DI SLEMAN (PERIODE

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Klasik. Menurut Klasik tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga tinggi pula keinginan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut menguji dan menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto Perkapita, tingkat suku bunga tabungan

PENGARUH KINERJA KEUANGAN DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP HARGA SAHAM Studi Empiris pada Sub Sektor Properti dan Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2017