• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR, HARGA PREMIUM, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR, HARGA PREMIUM, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PERIODE"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR, HARGA PREMIUM, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP TINGKAT INFLASI

DI INDONESIA PERIODE 2006.1 -2015.12

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi

Oleh:

Wayan Astawan 131324037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2017

(2)
(3)
(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini aku persembahkan untuk :

 Sang Hyang Widhi (Tuhan yang Maha Esa) atas dikabulkannya doa-doaku selama ini

 Bapak dan ibu yang tercinta

 Adikku Kadek Astuti yang tersayang

 Niluh Dewi Purnami yang selalu memberikan semangat dan dukungan

 Laksmita putri yang selalu memberi semangat dari awal skripsi ini

 Teman-teman satu daerah yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu

 Teman-teman kontrakan Bali No 139 A yang selalu memberikan motivasi

 Teman-temanku Angkatan 2013 yang selalu memberikan

dukungan, semangat untuk berjuang bersama-sama dari awal

sampai akhir

(5)

MOTTO

“ Kerja keras yang diimbangi dengan doa akan membuahkan hasil yang baik”

Kerjakanlah segala sesuatu dengan sepenuh hati, Bukan hanya karena orang lain mengatakan Anda harus

mengerjakan,

Melaikan karna Anda percaya bahwa anda harus mengerjakannya .

(J Donald Walters)

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 13 Juni 2017 Penulis

Wayan Astawan

(7)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Wayan Astawan Nim : 131324037

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Harga Premium, Tingkat Suku Bunga terhadap Tingkat Inflasi di Indonesia Periode 2006.1- 2015.12

Beserta pengangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akdemis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupunmemberikan royalti kepada saya selama tetap mencamtumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyatan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 13 Juni 2017 Yang menyatakan

Wayan Astawan

(8)

ABSTRAK

PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR, HARGA PREMIUM, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP TINGKAT INFLASI

DI INDONESIA PERIODE 2006.1-2015.12

Wayan Astawan Universitas Sanata Dharma

2017

Penelitian ini bertujuan untukmengujidanmenganalisis: 1) pengaruh jumlah uang beredarterhadaptingkatinflasi; 2)pengaruhharga premiumterhadaptingkatinflasi;

dan 3) pengaruh tingkat suku bunga terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12. Penelitian ini merupakanexplanatorystudy. Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi yaitu dengan mencari data yang disediakan Bank Indonesia di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Analisis data menggunakan teknik Regresi Linier Berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1) jumlah uang beredar tidak berpengaruh terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12;2) harga premium berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12;dan 3) tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12

Kata kunci: inflasi, jumlah uang beredar, harga premium, suku bunga.

(9)

ABSTRACT

THE EFFECT OF THE QUANTITY OF SPREAD OUT OF MONEY, PREMIUM PRICE, AND THE INTEREST RATES ON THE LEVEL OF INFLATION IN INDONESIA IN 2006.1-2015.12

Wayan Astawan Sanata Dharma University

2017

The aims of this research were to examine and analyze: 1) the effect of quantity of spreadout of money on the level of inflation;2) the effect of premium price on the level of inflation; and 3) the effect of interest rateson the level of inflation inIndonesia in 2006.1-2015.12. This reseach is explanatory study. The data collection methodwas documentation;the data was provided byBank Indonesia in Yogyakarta Province. The data was analyzed usingMultipleLinier Regresion Technique.

The results of this research were: 1) the quantity of spread out of money has noeffecton the level ofinflation in Indonesia in 2006.1-2015.12; 2) the premium price has a positive effecton the level of inflation in Indonesia in 2006.1-2015.12; and 3) the level of interest rates has a positive effecton the level of inflation in Indonesia 2006.1-2015.12.

Keywords: inflation, the quantity of spread out of money, premium price, interest

rates.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena skripsi ini telah selesai tepat pada waktunya. Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapatkan masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih sedalam- dalamnya kepada:

1. Bapak Rohadi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas sanata dharma Yogyakarta;

2. Ibu C. Wigati Retno Astuti., M.Si., M.Ed. selaku Ketua ProramStudi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta;

3. Bapak Y.M.V Mudayen, S.Pd, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

4. Dr. YohanesHarsoyo, S.Pd, M.SidanC. Wigati Retno Astuti., M.Si., M.Edselakudosenpenguji;

5. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi yang telah memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan;

6. Seluruh mahasiswa Angkatan 2013 yang juga telah memberi masukan selama proses diskusi dalam mata kuliah seminar proposal penelitian dan kerjasama yang baik selama ini;

7. Staf administrasi Prodi Pendidikan Ekonomi yang telah membantu kelancaran proses belajar selama ini;

Penulis

Wayan Astawan

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN PERSEMBAHAN...iv

MOTTO...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...vii

ABSTRAK...viii

ABSTRACT...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI...xi

DAFTARGRAFIK...xv

DAFTAR TABEL...xvi

DAFTAR LAMPIRAN...xvii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Batasan Masalah...6

C. Rumusan Masalah...6

D. Tujuan Penelitian...7

E. Manfaat Penelitian...7

BAB II TINJAUANPUSTAKA...8

A. Inflasi...8

1. Pengertian Inflasi...8

(12)

2. Pengukuran Inflasi...9

3. Dampak Inflasi terhadap Perekonomian...11

B. Teori – Teori Tentang Inflasi...13

C. Penggolongan Inflasi...22

D. Faktor-Faktor Utama Penentu Inflasi...28

E. Berbagai Kebijakan Moneter...31

F. Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap Inflasi...34

G. Pengaruh Harga Premium terhadap Inflasi...37

H. Pengaruh Suku Bunga terhadap Inflasi...38

I. Penelitian Terdahulu...39

J. Kerangka Berpikir Teoritik dan Hipotesis...40

BAB III METODE PENELITIAN...43

A. Jenis Penelitian...43

B. Tempat dan Waktu Penelitian...43

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...43

D. Data dan Sumber Data...45

E. Metode Pengumpulan Data...46

F. Teknik Analisis Data...46

G. Uji Prasayarat...47

1. Uji Normalitas...47

2. Uji Linieritas...4

H. Uji Asumsi Klasik...48

1. Uji Multikolonieritas...48

2. Uji Heteroskedastisitas...49

3. Uji Autokorelasi...50

(13)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN...52

A. Analisis Deskriptif Data...52

1. Deskripsi Data Inflasi...52

2. Deskripsi Data JUB...54

3. Deskripsi Data Harga Premium...55

4. Deskripsi Data Suku Bunga...57

B. Temuan Data...59

C. Analisis Data...62

1. Pengujian Prasayarat Regresi...62

a. Pengujian Normalitas...62

b. Pengujian Linieritas...64

2. Pengujian Asumsi Klasik...68

a. Pengujian Multikolonieritas...68

b. Pengujian Heteroskedastisitas...70

c. Pengujian Autokorelasi...72

3. Analisis Regresi Linier Berganda...73

a. Uji F...75

b. Koefisien Determinasi (R

2

)...76

D. Pembahasan...77

1. Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap Tingkat Inflasi...77

2. Pengaruh Harga Premium terhadap Tingkat Inflasi...78

3. Pengaruh Suku Bunga terhadap Tingkat Inflasi...79

4. Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Harga Premium, Suku Bunga

terhadap Tingkat Inflasi...81

(14)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...83

A. Kesimpulan...83

B. Saran...83

DAFTAR PUSTAKA...86

LAMPIRAN

(15)

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik IV.1 Rata-Rata Tingkat Inflasi Tahun 2006-2015...53

Grafik IV.2 Rata-Rata Jumlah Uang Beredar Tahun 2006-2015...55

Grafik IV.3 Rata-Rata Harga Premium Tahun 2006-2015...56

Grafik IV.4 Rata-Rata Suku Bunga Tahun 2006-2015...59

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I.1 Tingkat Inflasi di Indonesia Tahun 2006-2016...3

Tabel III.1 Uji Statistik Durbin-Watson...49

Tabel IV.1 Rata-Rata Tingkat Inflasi Tahun 2006-2015...52

Tabel IV.2 Rata-Rata Jumlah Uang Beredar Tahun 2006-2015...54

Tabel IV.3 Rata-Rata Harga Premium Tahun 2006-2015...56

Tabel IV.4 Rata-Rata Suku Bunga Tahun 2006-2015...57

Tabel IV.5 Rata-Rata Inflasi dan Jumlah Uang Beredar Tahun 2006-2015...59

Tabel IV.6 Rata-Rata Inflasi dan Harga Premium Tahun 2006-2015...60

Tabel IV.7 Rata-Rata Inflasi dan Suku Bunga Tahun 2006-2015...61

Tabel IV.8 Hasil Uji Normalitas...62

Tabel IV.9 Hasil Uji Linieritas Jumlah Uang Beredar ...65

Tabel IV.10 Hasil Uji Linieritas Harga Premium...66

Tabel IV.11 Hasil Uji Linieritas Suku Bunga...67

Tabel IV.12 Hasil Uji Multikolonieritas...79

Tabel IV.13 Hasil Uji Heteroskedastisitas...70

Tabel IV.14 Hasil Uji Autokorelasi...72

Tabel IV.15 Hasil Uji Regresi Berganda...74

Tabel IV.16 Hasil Uji F...76

Tabel IV.17 Hasil Analisis Uji R

2

...77

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Jumlah Uang Beredar Tahun 2006.1-2015.12...87

Lampiran 2 Harga Premium Tahun 2006.1-2015.12...92

Lampiran 3 Suku Bunga Tabungan tahun 2006.1-2015.12...97

Lampiran 4 Tingkat Inflasi tahun 2006.1-2015.12...106

Lampiran 5 Uji Normalitas...107

Lampiran 6 Uji Linieritas Jumlah Uang Beredar...108

Lampiran 7 Uji Linieritas Harga Premium...109

Lampiran 8 Uji Linieritas Suku Bunga...110

Lampiran 9 Uji Multikolinieritas...111

Lampiran 10 Uji Heteroskedastisitas...112

Lampiran 11 Uji Autokorelasi...113

Lampiran 12 Uji Regresi Linier Berganda...114

(18)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perekonomian suatu negara dapat dikatakan sehat jika pertumbuhan ekonominya stabil serta menunjukkan arah yang positif. Hal tersebut tercermin dari kegiatan ekonomi makro. Salah satu indikator ekonomi makro untuk melihat stabilitas perekonomian suatu negara adalah inflasi. Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus dalam suatu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi.

Inflasi ibarat sesuatu yang mengintai perekonomian dimana

pergerakannya sulit untuk diprediksi sehingga sangat menarik untuk dibahas

karena berdampak luas. Inflasi seperti ancaman pada negara-negara berkembang

seperti halnya Indonesia dengan struktur perekonomian bercorak agraris. Inflasi

tidak akan menjadi masalah yang terlalu berarti jika keadaan tersebut diiringi oleh

tersedianya komoditi yang dibutuhkan Inflasi bagaikan pedang bermata dua

dimana satu sisi bisa memberikan keuntungan, dilain sisi merugikan. Inflasi

bagaikan pegas yang harus dijaga kelenturannya jika terlalu tinggi bisa

membahayakan pertumbuhan ekonomi, namun sebaliknya jika terlalu rendah akan

menyebakan kelesuan ekonomi dan tidak akan memberikan stimulan kepada

sektor riil untuk melakukan kegiatan produksi.

(19)

Ada banyak faktor yang mempengaruhi inflasi,penelitian sebelumnya yang menganalisis perilaku inflasi yang dilakukan oleh Maggi dan Saraswati (2013) menyimpulkan bahwa pada periode 2001.1 sampai 2011.12 variabel jumlah uang beredar yang berpengaruh secara signifikan dan positif dalam jangka panjang terhadap inflasi. Variabel tingkat suku bunga pasar uang antar bank berpengaruh secara signifikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di

Indonesia periode 2000.1 sampai 2011.4 yang dilakukan oleh Nugroho dan

Basuki (2012) menyimpulkan bahwa variabel suku bunga memiliki hubungan

yang positif dan signifikan dengan inflasi. Namun, Jumlah Uang Beredar

berpengaruh negatif terhadap inflasi dengan nilai koefisien beta sebesar 0,001,

Artinya apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan

jumlah uang beredar (M2) sebesar satu rupiah akan menurunkan inflasi sebesar

0,001. Berdasarkanacuan 2 penelitian sebelumnya diatas yang telah meneliti

faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi,peneliti memilih tiga faktor yang paling

dominan mempengaruhi inflasi yaitu JUB (jumlah uang beredar), harga premium,

dan suku bunga. Peneliti memilih Jumlah Uang Beredar sebagai variabel yang

akan diteliti karena dalam penelitian sebelumnya Nugroho dan Basuki (2012)

menemukan bahwa variabel JUB berpengaruh negatif terhadap inflasi, sedangkan

yang berpengaruh positif adalah variabel suku bunga, sementara itu pada

penelitian Saraswati (2013) variabel Jumlah Uang Beredar berpengaruh positif

dan signifikan terhadap inflasi. Karena temuan yang belum kondusif diatas

(20)

peneliti tertarik untuk menguji bagaimana pengaruh variabel Jumlah Uang Beredarterhadap inflasi. Selain Jumlah Uang Beredar peneliti juga menyertakan variabel harga premium dan suku bunga untuk diteliti sebagai variabel yang diduga mempengaruhi inflasi. Berdasarkan sepuluh tahun terakhir peneliti tertarik untuk menguji dan menganalisis Jumlah Uang Beredar, harga premium, dan suku bungaterhadap inflasi. Berikut datanya.

Tabel 1.1: Tingkat Inflasi di Indonesia tahun 2005-2016

Tahun Tingkat Inflasi

Desember 2006 6,60%

Desember 2007 6,59 %

Desember 2008 11,06 %

Desember 2009 2,78 %

Desember 2010 4,30 %

Desember 2011 6,96 %

Desember 2012 3,79 %

Desember 2013 8,38 %

Desember 2014 8,36 %

Desember 2015 3,35 %

Desember 2016 3,02 %

Sumber: Laporan Bank Indonesia2006-2016

Menurut Mankiw (2006:81), negara-negara yang memiliki pertumbuhan

uang yang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi sedangkan negara-negara

yang memiliki pertumbuhan uang yang rendah cenderung memiliki inflasi yang

(21)

rendah. Hal tersebut sesuai dengan teori kuantitas bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan uang satu persen menyebabkan kenaikan satu persen inflasi. Dalam teori kuantitas uang, inflasi hanya akan terjadi jika terdapat penambahan volume jumlah uang beredar. Bila jumlah uang tidak bertambah, inflasi akan terhenti dengan sendirinya.

Indonesia adalah salah satu negara importir minyak terbesar akibat ketergantungan terhadap minyak yang sangat tinggi guna menggerakkan perekonomian negara. Peranan minyak sangat besar dalam kegiatan ekonomi sebagai input produksi di tingkat perusahaan maupun untuk konsumsi di tingkat rumah tangga. Kenaikan harga minyakdimana akan mempengaruhi harga barang atau jasa dalam negeri. Menurut Blanchard (2004), variabel kenaikan tingkat harga minyak didasarkan oleh mekanisme transmisi dampak oil price shock terhadap harga dan inflasi yang menyatakan bahwa ketika terjadinya kenaikan harga minyak dunia maka suatu perusahaan akan merespon dengan menaikan mark-up sehingga harga naik, karena hubungan keduanya berbanding lurus.

Dengan asumsi upah tetap, peningkatan harga minyak menyebabkan peningkatan

biaya produksi dan mendorong perusahaan untuk meningkatkan harga. Cost-pust

inflation merupakan inflasi yang terjadi akibat adanya tekanan biaya. Salah satu

pemicu terjadinya cost-pust inflation yaitu adanya peningkatan harga-harga

komuniti yang diatur pemerintah (administered price). BBM merupakan salah

satu contoh komoditi yang harganya diatur oleh pemerintah. Terjadinya kenaikan

harga BBM akan menyebabkan terjadinya inflasi karena selain BBMmerupakan

(22)

kebutuhan mendasar bagi masyarakat, kenaikan harga BBM meningkatkan biaya produksi dari perusahaan-perusahaan. Oleh karena itu kenaikan BBM bersifat cost-pust inflation dalam menciptakan inflasi.

Suku bunga merupakan instrumen konvensional untuk mengendalikan inflasi. Suku bunga yang tinggi akan mendorong orang untuk menanamkan dananya di bank. Suku bunga yang tinggi menyedot uang yang beredar di masyarakat. Namun, di sisi lain, tingginya suku bunga akan meningkatkan nilai uang selain menyebabkan besarnya opportunity cost pada sektor riil (Khalwaty, 2000:143).

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwasanya inflasi sudah menjadi masalah perekonomian di Indonesia sejak lama dimana fenomena inflasi ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi. Sehingga penulis tertarik meneliti mengenai masalah inflasi karena ingin mengetahui apa saja yang mempengaruhi inflasi di indonesia 10 tahun terakhir ini dengan judul

“Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Harga Premium, Tingkat Suku Bunga

terhadapInflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12”.

(23)

B. Batasan Masalah

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi antara lain faktor politik, produk domestik bruto, kurs, jumlah uang beredar, harga premium, dan suku bunga. namun dalam penelitian kali ini hanya meneliti beberapa aspek saja yang diduga memiliki pengaruh paling dominan yaitu Jumlah uang beredar, harga premium, dan suku bunga.

C. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu sebagai berikut :

1. Apakah ada pengaruh jumlah uang beredar terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12?

2. Apakah ada pengaruh harga premium terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12?

3. Apakah ada pengaruh suku bunga terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12?

4. Apakah ada pengaruh jumlah uang beredar, harga premium, suku bunga secara bersama terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12 D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis:

1. Pengaruh jumlah uang beredar terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode

2006-2015.12

(24)

2. Pengaruh harga premium terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1- 2015.12?

3. Pengaruh suku bunga terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2005.1- 2016.12?

4. Pengaruh jumlah uang beredar, harga premium, suku bunga secara bersama terhadap tingkat inflasi di Indonesia periode 2006.1-2015.12

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi pemerintah Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sumbangsih pemikiran dalam upaya untuk meningkatkan stabilitas perekonomian Indonesia.

2. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti sebagai acuan untuk melengkapi penelitian yang sedang dilakukan dan dapat memberikan informasi-informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi.

3. Bagi penulis atau peneliti, hasil penelitian ini merupakan latihan dalam

mengaplikasikan teori dan menghubungkannya dengan kenyataan untuk

mengumpulkan pikiran dan analisis secara sistematis dalam memecahkan

masalah yang timbul di lingkungan masyarakat dengan menggunakan metode

ilmiah.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Inflasi

1. Pengertian

Inflasi adalah suatu kondisi dimana tingkat harga meningkat secara umum dan terus menerus (Boediono, 2001: 246). Menurut Nanga (2000:.241), setidaknya ada tiga hal yang perlu ditekankan dalam memahami inflasi, yaitu:

a. Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berarti bisa saja tingkat harga yang terjadi pada waktu tertentu naik atau turun, tetapi tetap menunjukkan tendensi atau kecenderungan yang meningkat.

b. Kenaikan tingkat harga tersebut terjadi secara terus-menerus (sustained), yang berarti bukan terjadi pada suatu waktu saja, tetapi beberapa waktu lamanya. Kenaikan harga yang sifatnya sementara seperti pada saat momen-momen tertentu seperti hari raya tidak dapat dikatakan sebagai inflasi.

c. Tingkat harga yang dimaksud adalah tingkat harga umum, bukan hanya

satu atau beberapa komoditas saja. Kenaikan harga dari satu atau dua

barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan harga itu

meluas (atau mengakibatkan kenaikan) pada barang lainnya.

(26)

2. Pengukuran inflasi

Menurut Nopirin, (1978:25) dan Bank Indonesia,Kenaikan harga dapat diukur dengan menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain:

a. Indeks Harga Konsumen (IHK)

Indeks harga konsumen (IHK) adalah salah satu pengukuran inflasi yang paling banyak digunakan. Indeks harga konsumen merupakan indeks harga yang mengukur biaya sekelompok barang-barang dan jasa-jasa di pasar, termasuk harga-harga makanan, pakaian, perumahan, bahan bakar transportasi, perawatan kesehatan, pendidikan dan komoditi lain yang dibeli masyarakat untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari. IHK menunjukkan pergerakan harga dari paket sekeranjang barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat yang dilakukan atas dasar survei bulanan di berbagai kota di Indonesia, baik di pasar tradisional dan modern yang mencakup ratusan jenis barang/jasa di setiap kota di Indonesia.

Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokkan ke dalam 7 kelompok pengeluaran yaitu:

1) Kelompok Bahan Makanan

2) Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau 3) Kelompok Perumahan

4) Kelompok Sandang

5) Kelompok Kesehatan

(27)

6) Kelompok Pendidikan dan Olah Raga 7) Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

b. Indeks Harga Perdagangan Besar

Indeks Harga Perdagangan Besar adalah suatu indeks dari harga bahan-bahan baku, produk antara dan peralatan modal dan mesin yang dibeli oleh sektor bisnis atau perusahaan. Sehingga indeks harga produsen hanya mencakup bahan baku dan barang antara atau setengah jadi saja, sementara barang-barang jadi tidak dimasukkan di dalam perhitungan indeks harga (Nopirin, 2011:26). Biasanya pergerakannya sejalan dengan perkembangan IHK.

c. Gross Domestic Product Deflator (GDP)

GDP Deflator adalah suatu indeks yang merupakan perbandingan atau rasio antara GDP nominal (atas dasar harga berlaku) dan GDP riil (atas dasar harga konstan/tahun dasar) dikalikan dengan 100.

GDP riil adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan di

dalam perekonomian, yang diperoleh ketika output dinilai dengan

menggunakan harga tahun dasar. Sedangkan GDP nominal adalah GDP

yang dihitung berdasarkan harga pasar yang berlaku (GDP at current

market price). Sedangkan menurut Nopirin (2011:26), GDP Deflator

merupakan jenis indeks yang lain yang mencakup jumlah barang dan jasa

yang masuk dalam perhitungan GDP sehingga jumlahnya lebih banyak

dibandingkan dengan indeks yang lain. Karena GDP deflator ini

(28)

cakupannya lebih luas dalam arti perhitungannya meliputi semua barang yang diproduksi di dalam perekonomian, maka indeks ini merupakan indeks harga yang secara luas digunakan sebagai basis untuk mengukur inflasi.

3. Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian Nasional

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hyper inflation), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu.

Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan.

Contohnya seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990,

uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di

tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin

hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk

(29)

memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata

uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika

tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan

menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk

berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari

tabungan masyarakat. Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur),

inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur,

nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya,

kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena

nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat

peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan

yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini

terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya

(biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan

naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka

produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa

menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak

sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan

(30)

bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

B. Berbagai Macam Teori Tentang Inflasi

Secara garis besar ada 3 pandangan ahli ekonomi mengenai teori inflasi, yaitu teori inflasi kaum Klasik (Teori Kuantitas), Keynes, dan kaum Strukturalis.

1. Pandangan ahli-ahli ekonomi Klasik

Teori ini menerangkan hubungan diantara permintaan aggregat dan penawaran aggregat dan tingkat harga. Pada dasarnya teori ini mengatakan bahwa perubahan-perubahan dalam penawaran uang akan menyebabkan kenaikan harga yang sama dengan tingkat kenaikan penawaran uang. Rumus yang digunakan adalah MV=PT yang dikenal sebagai teori kuantitas.

(Keterangan: M adalah jumlah uang yang beredar, V adalah Velocity of money atau kecepatan perputaran uang dalam suatu periode, P adalah tingkat harga rata-rata dan T adalah jumlah transaksi yang terjadi selama periode tertentu).

Persamaan tersebut merupakan identitas karena pada hakikatnya nilai

transaksi yang dilakukan dalam perekonomian adalah sama nilainya dengan

produk nasional nominal yang dibeli (nilai transaksi = nilai barang). MV

mencerminkan total pengeluaran uang atau nilai transaksi untuk barang dan

(31)

jasa (total money expenditure on goods and services) dan PT mencerminkan total penerimaan uang hasil penjualan barang dan jasa (total receipts from the sale of good and services).

Di balik teori itu ada 3 pandangan penting ahli ekonomi klasik:

a. Seluruh penawaran uang yang ada dalam perekonomian digunakan untuk transaksi (untuk membeli barang dan jasa). Orang memegang uang untuk membeli barang dan jasa atau untuk memperlancar transaksi yang akan dilakukan. Semakin banyak barang dan jasa yang dibutuhkan untuk bertransaksi, semakin banyak uang yang dipegang untuk keperluan transaksi tersebut. Persamaan di atas dapat ditulis menjadi M=1/V PT, artinya banyaknya uang yang diminta atau diperlukan dalam perekonomian adalah sebesar 1/V dari pendapatan nasional.

b. Ahli ekonomi klasik berpendapat bahwa nilai V (kecepatan perputaran uang) tetap (konstan). V relatif tetap atau paling tidak V hanya berubah jika terjadi perubahan kelembagaan, seperti misalnya kebiasaan melakukan pembayaran serta perubahan teknologi komunikasi. Dengan demikian dalam jangka pendek V tidak berubah (konstan). Pendapat ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kebiasaan orang menerima uang dan membelanjakannya relatif tetap.

c. Ahli ekonomi klasik berpendapat dalam perekonomian selalu terdapat

kesempatan kerja penuh sehingga nilai T konstan (tidak dapat ditambah

lagi). Dengan asumsi bahwa perekonomian selalu dalam keadaan full

(32)

employment, maka besarnya T tidak berubah.Sehingga dari 3 pandangan itu ahli ekonomi klasik mempunyai keyakinan bahwa pertambahan penawaran uang tidak akan menambah pendapatan nasional melainkan hanya menimbulkan kenaikan harga yang tingkatannya sama dengan pertambahan penawaran uang. Peranan uang adalah netral (money is neutral)Uang tidak dapat mempengaruhi variabel-variabel dalam sektor riil seperti pendapatan nasional riil, nilai riil tabungan, investasi, suku bunga. Uang hanya akan mempengaruhi tingkat harga).

Teori kuantitas adalah teori yang paling klasik mengenai inflasi, namun teori ini masih berguna untuk menerangkan proses terjadinya inflasi terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang yang beredar dan psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga (expectations). Inti dari teori ini adalah sebagai berikut:

a. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Tanpa adanya tambahan jumlah uang yang beredar tidak akan terjadi inflasi.

b. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar

dan oleh harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa

yang akan datang.

(33)

Ada tiga kemungkinan keadaan:

a. Keadaan pertama, bila masyarakat tidak mengharapkan harga-harga akan naik, maka tambahan uang yang beredar akan diterima sebagai tambahan likuiditasnya, dan sebagian besar dari kenaikan tersebut tidak dibelanjakan untuk membeli barang-barang.

b. Keadaan kedua, adalah masyarakat mulai sadar bahwa ada inflasi, orang- orang mulai mengharapkan kenaikan harga. Penambahan jumlah uang yang beredar akan digunakan untuk membeli barang-barang, hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian memegang uang kas.

c. Keadaan yang ketiga terjadi pada tahap inflasi yang lebih parah yaitu tahap hiperinflasi. Keinginan untuk tidak memegang uang kas dan adanya keinginan yang sangat besar untuk membelanjakan dengan membeli barang-barang. Keadaan ini ditandai oleh makin cepatnya peredaran uang.

Prosentase kenaikan jumlah uang yang beredar akan diikuti kenaikan prosentase harga yang lebih besar.

2. Pandangan Keynesian

Keynes mengkritik teori-teori yang disampaikan kaum klasik, misalnya:

a. Terdapat beberapa tujuan masyarakat meminta uang, selain untuk transaksi juga ada untuk berjaga-jaga dan spekulasi.

b. Pengangguran sering dihadapi masyarakat jadi dalam perekonomian tidak

terjadi full employment. Sistem pasar bebas kurang bisa membuat

penyesuaian-penyesuaian sehingga kesempatan kerja penuh sangat sulit

(34)

untuk dicapai. Pada saat terjadi pengangguran, pendapatan nasional dapat ditingkatkan dengan pertambahan uang tanpa menyebabkan kenaikan harga.

c. Nilai V dalam jangka panjang tidak konstan. Nilai V cenderung semakin tinggi dari waktu ke waktu, misalnya: karena modernisasi yang membuat alat pembayaran semakin canggih (contoh: penggunaan kartu kredit) sehingga menyebabkan laju perputaran uang bisa menjadi lebih cepat.

d. Peranan uang tidak netral (money is not neutral) (Uang dapat mempengaruhi variabel-variabel dalam sektor riil seperti pendapatan nasional riil, nilai riil tabungan, investasi, suku bunga). Perubahan- perubahan dalam penawaran uang dapat mempengaruhi perekonomian dan pendapatan nasional melalui mekanisme transmisi sebagai berikut:

1) Pertambahan penawaran uang akan menurunkan suku bunga.

2) Penurunan suku bunga akan menambah investasi.

3) Kenaikan investasi akan meningkatkan pendapatan nasional melalui proses multiplier.

Analisis Keynes tidak memperhatikan efek pertambahan uang

terhadap tingkat harga. Harga dianggap konstan karena pengangguran yang

terjadi dalam perekonomian tinggi.Menurut Keynes (dalam Boediono,

1994:163), inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar batas

kemampuan ekonominya, sehingga permintaan masyarakat akan barang-

barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (terjadi

(35)

inflationary gap). Senjang inflasi (inflationary gap) ini timbul karena golongan-golongan masyarakat tersebut berhasil menerjemahkan aspirasi yang dimiliki menjadi permintaan yang efektif akan barang-barang.

Masyarakat berhasil memperoleh dana untuk mengubah aspirasinya menjadi rencana pembelian barang-barang yang didukung dengan dana. Golongan masyarakat seperti ini bisa jadi adalah pemerintah sendiri yang berusaha memperoleh output masyarakat dengan jalan deficit financing, yaitu dengan mencetak uang baru, karena penerimaan dari pajak dan penerimaan lain-lain tidak mencukupi. Bisa juga pengusaha-pengusaha swasta yang ingin membiayai investasi-investasi barunya dengan kredit dari bank atau serikat buruh yang menuntut gaji yang tinggi melebihi produktivitasnya. Keadaan ini menggeser permintaan agregat sehingga terjadi kelebihan permintaan yang disebut inflationary gap, kenaikan permintaan agregat dalam keadaan output full employment akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan pada pasar barang dan jasa sehingga harga barang dan jasa meningkat yang akan menyebabkan terjadinya kenaikan permintaan terhadap faktor produksi, sehingga harga faktor produksi juga akan naik. Kenaikan harga barang dan jasa serta faktor produksi inilah yang merupakan inflasi bagi perekonomian.

Adanya kenaikan harga-harga berarti bahwa sebagian dari rencana-rencana

pembelian barang dari golongan-golongan tersebut tidak bisa terpenuhi. Pada

periode selanjutnya, golongan-golongan tersebut akan berusaha untuk

memperoleh dana yang lebih besar lagi (dari pencetakan uang baru atau kredit

(36)

bank yang lebih besar atau dari kenaikan gaji yang lebih besar). Tentunya tidak semua golongan tersebut berhasil memperoleh tambahan dana.

Golongan yang menang adalah yang bisa memperoleh dana yang lebih banyak sehingga bisa memperoleh bagian output yang lebih banyak, dan sebaliknya yang kalah (yaitu golongan berpenghasilan tetap atau yang penghasilannya tidak secepat laju inflasi) akan memperoleh bagian output yang lebih sedikit.

Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat melebihi jumlah output yang bisa dihasilkan.

Inflasi akan berhenti bila permintaan efektif total tidak melebihi jumlah output yang tersedia.

Penyebab terjadinya kenaikan permintaan agregat ini, menurut monetaris adalah sebagai akibat dari kenaikan ekspansi jumlah uang beredar, sedangkan Keynes tidak menyangkal anggapan tersebut, tetapi menambahkan bahwa kenaikan permintaan agregat bisa juga karena peningkatan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, atau ekspor netto, meskipun tidak disertai dengan kenaikan jumlah uang beredar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa meningkatnya kurva permintaan agregat dapat disebabkan baik oleh faktor-faktor moneter maupun non moneter.

3. Teori Strukturalis

Teori ini didasarkan atas pengalaman di negara-negara Amerika Latin.

Teori ini memberikan tekanan pada adanya ketegaran dari struktur

(37)

perekonomian negara-negara sedang berkembang. Faktor-faktor struktural itu hanya dapat berubah secara gradual dan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, teori ini sering disebut teori inflasi jangka panjang. Menurut teori ini, ada dua “ketegaran” utama dalam perekonomian negara-negara yang sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi (Boediono 1994:167), yaitu:

a. Ketidakelastisan penerimaan ekspor, yaitu laju pertumbuhan nilai ekspor lebih lamban dibanding dengan laju pertumbuhan sektor-sektor lainnya.

Kelambanan tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu: (1) harga barang ekspor di pasaran dunia tidak menguntungkan bila dibandingkan dengan harga barang-barang impor atau terms of trade yang semakin memburuk.

Sering dianggap bahwa harga barang-barang hasil alam (yang merupakan

ekspor utama negara sedang berkembang), dalam jangka panjang naik

lebih lambat daripada harga barang-barang industri (yang merupakan

impor negara sedang berkembang). (2) supply atau produksi barang-

barang ekspor yang tidak responsif terhadap kenaikan harga. Kelambanan

pertumbuhan penerimaan ekspor ini berarti kelambanan pertumbuhan

kemampuan untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkan untuk

konsumsi maupun investasi. Akibatnya, negara tersebut terpaksa

mengambil kebijaksanaan pembangunan yang menekankan pada

penggalakan produksi dalam negri dari barang yang sebelumnya diimpor

(import substitution strategy), meskipun seringkali ongkos produksi dalam

negri adalah lebih tinggi daripada barang-barang sejenis yang diimpor.

(38)

Ongkos produksi yang lebih tinggi ini mengakibatkan harga yang lebih tinggi. Bila proses substitusi impor ini makin meluas, kenaikan ongkos produksi juga makin luas ke berbagai barang (yang tadinya diimpor), sehingga makin banyak harga barang yang naik. Dengan demikian terjadilah inflasi.

b. Ketidakelastisan dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri, yaitu laju pertumbuhan produksi bahan makanan di dalam negeri lebih lamban dibandingkan dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita, sehingga harga bahan makanan di dalam negri cenderung untuk menaik melebihi kenaikan harga barang-barang lain. Hal ini mengakibatkan tuntutan kenaikan upah dari para karyawan (di sektor industri), dengan demikian akan menyebabkan kenaikan ongkos produksi, sehingga biaya produksi total meningkat. Hal inilah yang menyebabkan para pengusaha menaikkan harga jual produknya. Kenaikan harga barang- barang seterusnya mengakibatkan timbulnya tuntutan kenaikan upah lagi.

Kenaikan upah kemudian diikuti oleh kenaikan harga-harga. Dan

seterusnya.

(39)

C. Penggolongan Inflasi

Prasetyo (2011) dan Nopirin (2011) menggolongkan inflasi dengan cukup lengkap diantaranya:

1. Menurut tingkat keparahannya

Laju inflasi dapat berbeda dari suatu negara dengan negara lain atau dalam satu negara untuk waktu yang berbeda. Adapun besarnya laju inflasi dapat dibagi ke dalam empat kategori:

a. Inflasi ringan

Pada umumnya creeping inflation ditandai dengan laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.

b. Inflasi sedang

Inflasi sedang ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (double digit) sebesar 10% sampai dengan 30% per tahun).

c. Inflasi berat

Besarnya antara 30% sampai 100% per tahun. Inflasi ini dapat dikatakan ganas karena dampaknya sudah semakin luas dan sulit dikendalikan

d. Inflasi Tinggi (HiperInflation)

Inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah akibatnya.

Besarnya lebih dari 100% per tahun. Nilai uang merosot dengan tajam

(40)

sehingga masyarakat tidak percaya pada uang yang dipegang dan ingin segera ditukarkan dengan barang. Uang juga berputar dengan cepat.

2. Menurut Penyebabnya

Menurut teori kuantitassebab utama timbulnya inflasi adalah kelebihan permintaan yang disebabkan penambahan jumlah uang beredar.

Adapun jenis-jenis inflasi menurut sebabnya (Samuelson dan Nordhaus, 1998:587) adalah:

a. Inflasi tarikan Permintaan (Demand-Pull Inflation)

Merupakan inflasi yang disebabkan karena tarikan permintaan.

Inflasi ini bermula dari adanya permintaan total (agregat demand), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan seperti ini, kenaikan permintaan total disamping menaikkan harga dapat juga menaikan hasil produksi atau output. Apabila kesempatan kerja penuh (full employment) benar-benar tercapai, penambahan permintaan selanjutnya hanya akan menaikan harga saja. Apabila kenaikan permintaan ini menyebabkan keseimbangan GNP pada kesempatan kerja penuh maka akan terdapat “inflationary gap”. Inflationary gap inilah yang dapat menimbulkan inflasi.

Menurut Bank Indonesia, penyebab terjadinya demand pull

inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap

ketersediaannya. Kondisi ini digambarkan dengan output riil yang

(41)

melebihi output potensialnya atau dengan kata lain permintaan aggregat lebih besar daripada kapasitas perekonomian.

b. Inflasi dorongan biaya (Cost-Push Inflation)

Merupakan inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya produksi yang mengakibatkan adanya penurunan penawaran aggregat. Kenaikan biaya produksi ini ditimbulkan oleh beberapa faktor diantaranya akibat depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negri khususnya negara-negara partner dagang, peningkatan harga barang yang diatur pemerintah (administered prices), terjadinya guncangan sisi penawaran akibat bencana alam dan terganggunya distribusi (BI), persatuan serikat buruh dalam menuntut kenaikan upah, industri yang bersifat monopolistis, sehingga dapat menggunakan kekuasaannya di pasar untuk menentukan harga yang lebih tinggi, dan lain-lain.

c. Inflasi campuran (Mixed Inflation)

Adalah jenis inflasi yang disebabkan oleh kombinasi kekurangan penawaran atau kelebihan dalam permintaan. Inflasi ini sering terjadi karena perilaku permintaan dan penawaran yang tidak seimbang.

d. Ekspektasi inflasi

Faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat

dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan

ekonominya. Ekspektasi tersebut apakah disebabkan oleh adanya perilaku

masyarakat yang secara umum bersifat adaptif atau forward looking,

(42)

karena masyarakat melihat harapan di masa datang akan lebih baik daripada sebelumnya. Harapan masyarakat ini dapat menyebabkan demand pull inflation maupun cost push inflation tergantung dari harapan masyarakat yang mana yang lebih baik dan bagaimana kondisi persediaan barang dan faktor produksi saat itu dan masa datang. Hal ini dapat tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR).

Meskipun barang diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari kondisi suppply-demand. Demikian pula pada saat penentuan UMR, pedagang ikut pula menaikkan harga barang walaupun tingkat kenaikan upah kurang dapat menaikkan permintaan (BI).

3. Berdasarkan asal timbulnya inflasi

Menurut Boediono, (1994) mengemukakan bahwa timbulnya inflasi berdasarkan dua faktor yaitu:

a. Inflasi berasal dari dalam negeri (domestic inflation), misalnya sebagai akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.

b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation), yaitu inflasi

sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibatbiaya

(43)

produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. .

D. Faktor-Faktor Utama Penentu Inflasi 1. JUB (Jumlah Uang beredar)

Jumlah Uang Beredar adalah uang yang berada di tangan masyarakat.

Ada sebagian ahli yang mengkalifikasikan jumlah uang beredar menjadi dua, yaitu: jumlah uang beredar dalam arti sempit atau disebut ‘Narrow Money’

(M1), yang terdiri dari uang kartal dan uang giral (demand deposit); dan uang beredar dalam arti luas atau ‘Broad Money’ (M2), yang terdiri dari M1 ditambah dengan deposito berjangka (time deposit).

Pengertian paling sempit atau biasa dikenal dengan istilah narrow money adalah daya beli yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran atau dapat diperluas mencakup alat-alat pembayaran yang mendekati “uang”

(deposito berjangka dan tabungan). Narrow money yang biasanya disimbolkan dengan M1 terdiri dari uang tunai/kartal (currency) dan uang giral (Demand Deposit). Uang kartal merupakan uang kertas dan uang logam yang ada di tangan masyarakat umum, sedangkan uang giral mencakup saldo rekening koran/giro milik masyarakat umum yang disimpan di bank, (Boediono, 1992)

M1 = C + D

Dimana:\

(44)

C = Currency (uang kartal: kertas dan logam)

D = Demand Deposits (uang giral: rekening koran/giro)

Pengertian uang beredar dalam arti lebih luas (Broad Money) adalah M1 ditambah dengan deposito berjangka dan tabungan milik masyarakat pada bank-bank, (Boediono, 1992)

M2 = M1 + TD + SD

Dimana:

TD = Time deposits (deposito berjangka)

SD = Savings Deposits (Saldo Tabungan)

Menurut Mankiw (2006:81), negara – negara yang memiliki pertumbuhan uang yang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi sedangkan negara – negara yang memiliki pertumbuhan uang yang rendah cenderung memiliki inflasi yang rendah. Hal tersebut sesuai dengan teori kuantitas bahwa kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang satu persen menyebabkan kenaikan satu persen tingkat inflasi.

2. Harga Premium

Harga premium adalah harga jual real premium di POM di Indonesia.

Menurut Mankiw (2007:265), guncangan pada penawaran agregat dapat

menyebabkan fluktuasi ekonomi. Guncangan penawaran adalah guncangan

(45)

pada perekonomian yang bisa mengubah biaya produksi barang serta jasa dan akibatnya, mempengaruhi harga yang dibebankan perusahaan kepada konsumen. Salah satu contoh peristiwa yang menyebabkan guncangan penawaran yaitu organisasi kartel minyak internasional. Dengan membatasi persaingan, dapat menyebabkan produsen minyak utama meningkatkan harga minyak dunia. Peristiwa ini merupakan guncangan penawaran yang memperburuk (adversesupply shock), yang berarti dapat meningkatkan biaya dan harga.

Kenaikan harga BBM memperberat beban hidup masyarakat terutama mereka yang berada di kalangan bawah dan juga para pengusaha, karena kenaikan bbm menyebabkan turunnya daya beli masyarakat dan itu akan mengakibatkan tidak terserapnya semua hasil produksi banyak perusahaan sehingga akan menurunkan tingkat penjualan yang pada akhirnya juga akan menurunkan laba perusahaan. Naiknya harga BBM di indonesia diawali oleh naiknya harga minyak dunia yang membuat pemerintah tidak dapat menjual BBM kepada masayarakat dengan harga yang sama dengan harga sebelumnya, karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran APBN untuk subsidi minyak menjadi lebih tinggi.

3. Suku bunga

BI Rate adalah tingkat bunga tabungan, deposito, dan pinjaman yang

ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate

diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan

(46)

Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter. Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.

Demikian juga halnya dengan suku bunga jangka panjang, produsen akan merespon kenaikan suku bunga di pasar uang dengan mengurangi investasinya, maka produksi dalam negeri (output) menurun sehingga tingkat inflasi domestik menurun.

4. Kurs (nilai tukar)

Kurs adalah Harga atau nilai dari satu mata uang yang dinyatakan dalam ukuran mata uang negara lain”. Dapat juga didefinisikan sebagai

“jumlah uang domestik yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata

uang asing. (Sadono Sukirno, 2000:397) Melemahnya nilai tukar rupiah

menjadikan harga barang-barang impor meningkat dikarenakan dibutuhkan

jumlah rupiah yang lebih banyak untuk mendapatkan barang-barang impor

tersebut, demikian pula halnya dengan barang-barang dengan bahan baku

(47)

produksi yang diimpor. Hal ini juga akan menaikkan harga produksi dalam negeri yang dapat berujung pada terjadinya inflasi. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga mengakibatkan meningkatnya nilai ekspor. Harga barang domestik yang lebih murah menarik minat pihak luar negeri untuk menambah jumlah permintaan akan barangnya sehingga perlahan-lahan harga akan naik dan menyebabkan inflasi (Sipayung, 2013:

337)

E. Berbagai Kebijakan Moneter 1. Discount policy (politik diskonto)

Politik diskonto artinya kebijakan untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga bank dalam rangka memperlancar likuiditas sehari- hari. Bank sentral dalam menjalankan tugasnya mengawasi kegiatan bank umum, dapat mengubah tingkat bunga yang berlaku. Jika dalam kondisi kegiatan ekonomi masih berada di bawah tingkat kegiatan yang diharapkan, bank sentral dapat menurunkan tingkat diskonto/suku bunga, sehingga masyarakat melakukan pinjaman dan banyak investasi yang ada di masyarakat. Begitu juga sebaliknya, apabila bank sentral ingin membatasi kegiatan ekonomi, maka tingkat suku bunga perlu dinaikkan, sehingga masyarakat/pengusaha banyak melakukan tabungan dan uang yang beredar dapat dikurangi.

2. Open market policy (politik pasar terbuka atau operasi pasar terbuka)

(48)

Politik pasar terbuka artinya kebijakan untuk memperjualbelikan surat-surat berharga oleh Bank Indonesia di pasar uang. Pada waktu perekonomian mengalami resesi, maka uang yang beredar perlu diadakan penambahan untuk mendorong kegiatan ekonomi yaitu dengan cara membeli surat-surat berharga. Pada waktu inflasi, untuk mengurangi kegiatan ekonomi yang berlebihan, uang yang beredar harus dikurangi dengan cara menjual surat-surat berharga. Agar operasi pasar terbuka dapat berjalan dengan baik dan berhasil sesuai yang diharapkan, yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka harus diciptakan keadaan perekonomian di mana:

a) bank umum tidak memiliki kelebihan cadangan minimum.

b) dalam perekonomian telah tersedia cukup banyak surat-surat berharga yang diperjualbelikan.

3. Cash Receive Ratio (politik cadangan kas atau giro wajib minimum)

Politik cadangan kas artinya kebijakan untuk menaikkan atau

menurunkan cadangan kas yang harus ada di bank-bank umum. Apabila

kondisi perekonomian terjadi kenaikan harga (inflasi), maka bank sentral

dapat menaikkan cadangan kas minimumnya sehingga uang yang beredar

dapat dikurangi. Sebaliknya jika kondisi perekonomian sedang lesu, maka

pemerintah dapat menurunkan cadangan kas minimumnya, sehingga uang

yang beredar bertambah karena banyaknya pinjaman yang diberikan kepada

masyarakat. Akibat dari naiknya cadangan kas, maka kemampuan bank umum

untuk memberikan pinjaman berkurang atau bank umum tidak mampu

(49)

memberikan pinjaman dan sekaligus dana yang menganggur di bank semakin bertambah.

4. Pengendalian kredit selektif

Yaitu untuk membatasi penggunaan kredit yang terlalu besar atau terlalu cepat pada sector tertentu dan terutama untuk mengurangi penggunaan kredit untuk tujuan spekulasi pembelian surat-surat obligasi, maka diterapkanlah kebijakan pengendalian kredit selektif ini. Caramnya adalah dengan menaikan ketentuan maksimum kredit yang bias dipinjam untuk membiayai pembelian spekulatif tersebut, yang dilakukan dengan menurunkan presntasi kredit maksimum yang dapat digunakan untuk membiayai pembelian spekulatif tersebut.

Sama halnya dibidang konsumsi misalnya untuk kredit perumahan, dilakukan pengendalian dengan cara menaikkan atau menurunkan ketentuan minimum pembayaran uang muka cicilan. Denagn ini akan menaikan besarnya pembayaran cicilan selanjutnya yang akan semakin besar, sehingga diharapkan akan mempengaruhi terhadap keputusan permintaan kredit untuk pembelian tersebut. Hal ini dilakukan apabila memang permintaan kredit untuk pembelian/konsumsi perumahan tadi sudah terlalu besar sehingga menimbulkan tingkat inflasi yang tinggi.

5. Moral Suasion

Yaitu untuk menghindari kemungkinan buruk akibat perluasan ataupun

kontraksi pembelian kredit bank itu terhadap bekerjanya system perbankan

(50)

maupun kegiatan ekonomi secara keseluruhan, maka dibutuhkan bujukan/himbauan moral dari otoritas moneter yang ditujukan kepada bankir atau pengusaha. Persuasi moral ini bertujuan agar para bankir dan pengusaha mentaati kebijakan yang telah ditetapkan oleh Bank Sentral. Kebijakan ini akan lebih efektik jika didukung oleh tindakan yang lebih positif oleh Bank Sentral, antara lain dengan cara melalui: pidato-pidato Gubenur bank sentral, publikasi-publikasi agar dicapai kondisi seperti yang diinginkan oleh otoritas moneter. Himbauan ini ditujukan baik terhadap kredit perbankan secara keseluruhan maupun kepada suatu kredit jenis tertentu atau kepada sector tertentu. Kebijakan moral susion ini hanya akan bermanfaat pada saat tertentu saja sampai kebijakan yang fundamental dilakukan.

F. Pengaruh Jumlah Uang Beredar Terhadap Inflasi

Teori yang menyoroti hubungan antara inflasi dengan Jumlah Uang Beredar adalah teori kuantitas uang. Pertama, inflasi hanya bisa terjadi jika terdapat penambahan volume uang beredar tanpa ada kenaikan jumlah uang beredar hanya akan menaikan harga-harga sementara waktu saja. Artinya apabila jumlah uang beredar melebihi dari yang diinginkan masyarakat, masyarakat cenderung akan membelanjakan uangnya dengan meningkatkan konsumsi barang dan jasa. Sepanjang kapasitas produksi masih tersedia, kenaikan konsumsi tersebut tersebut akan meningkatkan produksi dan memperluas kesempatan kerja.

Akan tetapi, apabila kapasitas produksi telah jenuh maka kenaikan permintaan

barang dan jasa tersebut pada gilirannya akan meningkatkan harga-harga pada

(51)

umumnya (inflasi) (Pohan, 2008:35). Bila jumlah uang tidak bertambah, inflasi akan terhenti dengan sindirinya. Uang selalu didefinisikan sebagai Benda benda yang disetujui oleh masyarakat sebagai alat perantaraan untuk mengadakan tukar menukar atau perdagangan. Yang dimaksud dengan disetujui dalam definisi ini adalah terdapat kata sepakat di antara anggota-anggota masyarakat untuk menggunakan satu atau beberapa benda sebagai alat perantaraan dalam kegiatan tukar- menukar (Sukirno, 2006:267). Uang tidak lain adalah segala sesuatu yang dapat dipakai/diterima untuk melakukan pembayaran baik barang, jasa maupun utang. Dalam sejarah uang, beberapa jenis barang telah pernah dipakai sebagai uang (misalnya kerang, emas, gigi binatang, kulit, perak dan sebagainya). Dengan demikian uang dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang secara umum mempunyai fungsi sebagai berikut : sebagai satuan pengukur nilai, sebagai alat tukar dan sebagai alat penimbun/penyimpan kekayaan. (Nopirin 2011:2).

1. Teori Penawaran Uang

Terdapat perbedaan pendapat dikalanganekonom tentang cara mendefenisikan uang yang dianggap paling tepat. Dua pendekatan dasar yang terbak yang dapat dipergunakan adalah pendekatan transaksi (Transaction Approach) dan pendekatan Likuiditas (Liquidity approach) (Widayatsari dan Mayes, 2009:22-23).

a. Pendekatan Transaksi (Transaction Approach)

Pendekatan transaksi menekankan fungsi uang sebagaimedium

of exchange. Pendukung pendekatan ini menyatakan inti dari uang adalah

(52)

bahwa masyarakat menerimanya sebagai alat pembayaran. Karena ini adalah perbedaan pokok antara uang dan aset keuangan lainnya, dimana semua aset dapat dipergunakan sebagai store of value namun hanya sedikit yang dapat berfungsi sebagai medium of exchange. Inti pendekatan ini menganjurkan kita untuk memperhitungkan aset yang memilikifungsi sebagai medium of exchange dalam perhitungan empiris uang. Aset yang termasuk dalam kategori uang menrurt defenisi ini adalah uang koin dan uang kertas dan juga chekable accountyang dapat ditarik melalui penulisan chek.

b. Pendekatan Likuiditas

Pendekatan ini mnenekankan kepada properti utama dari uang

yaitu bahwa uang haruslah yang bersifat paling likuid dari semua aset

yang ada. Likuiditas dinilai berdasarkan seberapa mudahnya aset dijual

dimasa depan pada masa tertentu, dengan waktu yang singkat dan dengan

biaya transaksi minimal. Pendekatan ini menekankan fungsi uang sebagai

store of value. Uang dalam pendekatan ini adalah tidak berbeda dengan

aset keuangan lainnya, semuanya memiliki kemampuan likuiditas

meskipun dengan tingkatan yang berbeda-beda Tingkatan likuiditas

dimulai dari uang kartal hingga aset keuangan seperti hingga mulai dari

uang yang paling likuid, yaitu aset dengan mudah dapat ditukar dengan

uang cash dalam waktu singkat tanpa biaya apapun. Uang yang termasuk

katagori ini adalah aset yang berfungsi sebagai medium of exchangeyaitu

(53)

uang koin, uang kertas, rekening koran yang dapat ditarik denagn cek.

Ekonomi menyebut aset yang mempunyai tingkat likuiditas tinggi yang hanya akan menghasilkan keuntungan atau kerugian tipis sebagai nearmoney. Contoh dari near moneyadalah aset-aset likuiditas tinggi yang tidak termasuk katagori M1.

G. Pengaruh Harga Premium Terhadap Inflasi

Variabel kenaikan tingkat harga premium didasarkan oleh mekanisme transmisi dampak oil price shock terhadap harga dan inflasi yang dijelaskan oleh Blanchard (2004), yang menyatakan ketika terjadi kenaikan harga minyak dunia maka suatu perusahaan akan merespon dengan menaikkan mark-up sehingga harga naik, karena hubungan keduanya berbanding lurus. Artinya apabila harga premium naik, maka akan diikuti oleh naiknya harga barang-barang dan jasa-jasa di masyarakat, peningkatan biaya produksi danmendorong perusahaan untuk meningkatkan hargapada umumnya (Inflasi) .

Cost-push inflation merupakan inflasi yang terjadi akibat adanya tekanan biaya. Salah satu pemicu terjadinya cost-push inflation yaitu adanya peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price).

BBM merupakan salah satu contoh komoditi yang harganya diatur oleh

pemerintah. Terjadinya kenaikan harga BBM akan menyebabkan terjadinya

inflasi karena selain BBMmerupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat,

kenaikan harga BBM menyebabkan meningkatnya biaya produksi dari

(54)

perusahaan-perusahaan. Olehkarena itu kenaikan harga BBM bersifat cost-push inflation dalam menciptakan inflasi.

Menurut Mankiw (2007:265), guncangan pada penawaran agregat dapat menyebabkan fluktuasi ekonomi. Guncangan penawaran adalah guncangan pada perekonomian yang bisa mengubah biaya produksi barang serta jasa dan akibatnya, mempengaruhi harga yang dibebankan perusahaan kepada konsumen.Salah satu contoh peristiwa yang menyebabkan guncangan penawaran yaituorganisasi kartel minyak internasional. Dengan membatasi persaingan, dapatmenyebabkan produsen minyak utama meningkatkan harga minyak dunia.Peristiwa ini merupakan guncangan penawaran yang memperburuk (adversesupply shock), yang berarti dapat meningkatkan biaya dan harga

H. Pengaruh Suku bunga Terhadap Inflasi

Suku bunga merupakan instrumen konvensional untuk mengendalikan

inflasi. Suku bunga yang tinggi akan mendorong orang untuk menanamkan

dananya di bank. Suku bunga yang tinggi menyedot uang yang beredar di

masyarakat. Artinya apabila suku bunga tabungan tinggi, masyarakat akan lebih

bergairah untuk menabung yang menyebabkan saving tinggi, sehingga

mengurangi pergerakan jumlah uang beredar yang nantinya akan berpengaruh

terhadap rendahnya inflasi. Namun, di sisi lain, tingginya suku bunga akan

meningkatkan nilai uang selain menyebabkan besarnya opportunity cost pada

sektor riil (Khalwaty, 2000:143).

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar WUS tidak pernah melakukan pemeriksan IVA, walaupun sudah ada dukungan dari petugas kesehatan karena wanita usia

tingkat risiko yang mungkin akan dihadapinya dengan cara melakukan diversifikasi dalam portofolio dengan harapan apabila nilai saham pada suatu perusahaan jatuh sedangkan nilai

sosialisasi program kewirausahaan Ditjen Belmawa ke civitas akademika PT dan mengajak PT agar berperan lebih aktif dalam pengembangkan program kewirausahaan Suatu kegiatan

Inkonsistensi struktural didalam pengangkatan dan penempatan guru sebagaimana diangkat didalam literatur sekunder berhubungan hanya dengan guru-guru PNS karena guru-guru kontrak

The statistical analysis shows that wood species, log diameter and their interaction gave significance to highly significant effects on veneer recovery.. Key words: wood species,

Bagi kegiatan SBSV, secara umum upaya publikasi dilakukan selain melalui media cetak, berdasarkan data dan hasil wawancara peneliti menganalisa bahwa Departemen CSR

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa praktik pengungkapan informasi strategis pada website perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia serta menguji apakah ukuran

Kepemimpinan yang berada di biro perjalanan AN Tour & Travel berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa dari jumlah responden sebanyak 44 orang, sebagian