KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbila’lamin, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. karena penulis telah dapat menyelesaikan sebuah karya tulis (tesis) yang berjudul ”Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa PGSD melalui Implementasi Strategi Modelling the Way dalam Perkuliahan Pendidikan Matematika II”.
Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika Sekolah Pascasarjana UPI Bandung. Pada penelitian ini penulis menelaah penerapan matematika dengan menggunakan strategi Modelling the
Way dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa
PGSD. Responden penelitian ini adalah mahasiswa PGSD semeter 4 STIT Insida Jakarta.
pembelajaran dengan strategi Modelling the Way mengalami peningkatan hasil kemampuan berpikir kritis matematis yang lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
Penulisan tesis ini dibagi dalam lima bab. Bab I berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Bab II berisi tentang studi kepustakaan yang terdiri dari konsep dasar pembelajaran dengan strategi Modelling the Way, kemampuan berpikir kritis matematis, dan penelitian yang relevan. Bab III berupa metode penelitian yang memuat desain penelitian, responden penelitian, instrumen penelitian dan pengembangannya, teknik analisis data, serta prosedur penelitian. Dalam Bab IV disajikan hasil penelitian dan pembahasan, yang terdiri dari temuan penelitian, analisis data serta pembahasan atas penemuan tersebut. Bab V berupa kesimpulan dan saran bagi pengguna hasil penelitian dan juga untuk penelitian yang lebih lanjut.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ini masih terdapat banyak kekurangan, namun penulis telah berusaha semaksimal mungkin, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dalam upaya meningkatkan prestasi belajar mahasiswa dalam matematika khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya.
Bandung, Juni 2012 Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyadari dan merasakan sepenuhnya, bahwa dalam penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, arahan, dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. H. Yaya S. Kusumah, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika SPs UPI, sekaligus selaku Pembimbing I yang di tengah-tengah kesibukannya telah memberikan bimbingan, arahan yang kritis terhadap berbagai permasalahan, mengawasi pemikiran, dan memeriksa tata bahasa yang penulis gunakan.
2. Bapak Dr. Jarnawi Afgani Dahlan, M. Kes., selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan motivasi, bimbingan, masukan-masukan berharga, dan dorongan dengan sabar, kritis dan penuh perhatian dalam penyusunan tesis ini.
3. Bapak/ibu dosen yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat berharga bagi pengembangan wawasan keilmuan dan kemajuan berpikir untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, serta memberikan bimbingan bagi penulis selama mengikuti studi.
4. Bapak Prof. Dr. Ridho Masduki, M.A., STIT Insida Jakarta yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di lembaga yang beliau pimpin dan juga Dr. Rofiqurrahman, M.A., selaku Pembantu Ketua I STIT Insida Jakarta yang telah banyak membantu penulis selama pelaksanaan penelitian di lapangan.
5. Kementerian Agama RI, yang telah memenuhi segala biaya perkuliahan selama menuntut ilmu di Universitas Pendidikan Indonesia.
6. Suamiku tercinta Ook Junaedi, S.Si., dan putra-putriku tersayang Zahrina Nur Amalina, Zaid Ammar Maulana dan Zaki Ahmad Ghozian yang dengan sabar menunggu, penuh doa dan cinta kasih dan senantiasa memberikan dorongan dan semangat selama mengikuti perkuliahan maupun selama penyusunan tesis ini.
7. Kedua orangtuaku Ayahanda Hilman Makmun, B.Sc. dan Ibunda Jubaedah yang telah memberikan ketauladanan hidup bagiku serta selalu memberikan semangat dalam menyelesaikan studi ini.
8. Teman-teman Mahasiswa S2 dan S3 Angkatan 2010/2011 di Sekolah Pascasarjana UPI Program Studi Pendidikan Matematika serta semua pihak yang telah banyak membantu dan namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.
9. Untuk adikku tercinta Lala Nailah Zamnah, S.Pd. terima kasih atas cinta, bantuan, dukungan serta do’anya. Semoga kebersamaan kita sampai di Jannah-Nya.
Teriring doa yang tulus, semoga Allah SWT. membalas semua budi baik Bapak/Ibu dan saudara semua. Amin.
Bandung, Juni 2012 Penulis
!
DAFTAR ISI
halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... v
LEMBAR PERSEMBAHAN ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah dan Batasan Masalah ... 9
a. Rumusan Masalah ... 9
b. Batasan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
1.5 Definisi Operasional ... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Berpikir Kritis ... 13
2.2 Pembelajaran Matematika Menggunakan Strategi Modelling the Way ... 18
2.3 Pendekatan Konvensional ... 25
2.4 Cara Berpikir Siswa Berdasarkan Jurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA ... 26
2.5 Teori Belajar Pendukung ... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 66
4.1.1 Hasil Penelitian tentang Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 67
4.1.2 Hasil Penelitian tentang Skala Sikap Mahasiswa ... 84
4.1.3 Aktivitas Dosen dan Mahasiswa Selama Proses Pembelajaran... 91
4.1.4 Hasil Wawancara ... 97
4.1.5 Deskripsi Hasil Daftar Isian Dosen ... 99
4.1.6 Deskripsi Pembelajaran Konvensional ... 101
4.2 Temuan dan Pembahasan ... 102
4.2.1 Pembelajaran menggunakan Strategi Modelling the Way. 102 4.2.2 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 104
4.2.3 Sikap Mahasiswa terhadap Pembelajaran menggunakan Strategi Modelling the Way ... 116
4.2.4 Aktivitas Dosen dan Mahasiswa ... 117
4.2.5 Tanggapan Dosen dan Mahasiswa ... 118
4.3 Keterbatasan Penelitian ... 119
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 121
5.2 Saran ... 122
DAFTAR PUSTAKA ... 124
LAMPIRAN-LAMPIRAN LAMPIRAN A: INSTRUMEN PENELITIAN ... 127
LAMPIRAN B: ANALISIS HASIL UJI COBA TES MATEMATIKA ... 199
LAMPIRAN C: ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN ... 210
LAMPIRAN D: ANALISIS DATA SKALA SIKAP DAN OBSERVASI ... 226
LAMPIRAN E: UNSUR-UNSUR PENUNJANG PENELITIAN ... 232
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Nilai Akhir Mahasiswa pada Mata Kuliah Pendidikan Matematika
di SD 2 ... 4
Tabel 3.1 Tabel Weiner tentang Keterkaitan antar Variabel Bebas, Terikat dan Kontrol ... 40
Tabel 3.2 Jumlah Mahasiswa PGSD Insida Jakarta Semester 4 Tahun Akademik 2011/2012 ... 42
Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi ... 47
Tabel 3.4 Interpretasi Uji Validitas Tes Berpikir Kritis Matematis ... 48
Tabel 3.5 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas... 49
Tabel 3.6 Klasifikasi Daya Pembeda ... 51
Tabel 3.7 Daya Pembeda Tes Berpikir Kritis Matematis ... 51
Tabel 3.8 Klasifikasi Tingkat Kesukaran ... 52
Tabel 3.9 Tingkat Kesukaran Butir Soal Berpikir Kritis Matematis ... 52
Tabel 3.10 Klasifikasi Gain Ternormalisasi... 61
Tabel 3.11 Kriteria Persentase Skala Sikap……….. 65
Tabel 3.12 Jadwal Kegiatan Penelitian ... 66
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Pretes dan Postes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa ... 68
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Skor Pretes dan Postes Kemampuan BerpikirKritis Matematis Mahasiswa ... 70
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Variansi Skor Pretes dan Postes
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa ... 71
Tabel 4.4 Rataan Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 72
Tabel 4.5 Rataan dan Deviasi Standar Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 73
Tabel 4.6 Uji Normalitas Distribusi Data Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 75
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Varians Skor Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 75
Tabel 4.8 Analisis Varians Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Menurut Pendekatan Pembelajaran dan Latar Belakang Jurusan Mahasiswa di SMA ... 77
Tabel 4.9 Uji Normalitas Distribusi Data Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Berdasarkan Latar Belakang Jurusan di SMA ... 77
Tabel 4.10 Uji Homogenitas Varians Skor Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Kelas Eksperimen ... 78
Tabel 4.11 Analisis Varians Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Menurut Pembelajaran Menggunakan Strategi Modelling the Way dan Latar Belakang JurusanMahasiswa di SMA ... 79
Tabel 4.12 Hasil Uji Lanjutan Scheffe pada Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis menurut Pembelajaran Modelling the Way dan Latar Belakang Jurusan Mahasiswa di SMA ... 82
Tabel 4.13 Sikap mahasiswa Kelas Eksperimen terhadap Matematika ... 85
Tabel 4.14 Sikap Mahasiswa terhadap Pembelajaran dengan PMW ... 88
Tabel 4.15 Sikap Mahasiswa terhadap Soal Berpikir Kritis Matematis ... 89
Tabel 4.16 Sikap Mahasiswa terhadap Kaitan Berpikir Kritis Matematis dengan pembelajaran menggunakan Strategi Modelling the Way ... 91
Tabel 4.17 Hasil Pengamatan Aktivitas Dosen selama Pembelajaran dengan PMW ... 94
Tabel 4.18 Hasil Pengamatan Aktivitas Mahasiswa selama Pembelajaran dengan PMW ... 96
Tabel 4.19 Persentase Rataan Perkembangan Aktifitas Positif Mahasiswa
terhadap Pembelajaran dengan PMW ... 98 Tabel 4.20 Rangkuman Hasil Uji Hipotesis Penelitian ... 107 Tabel 4.21 Rataan Gain Hasil Belajar Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran
dan Latar Belakang Jurusan Mahasiswa di SMA ... 109 DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Nomogram Harry King untuk Menentukan Ukuran Sampel
Dari Populasi sampai 2000 ... 43 Gambar 3.2 Diagram Alur Penelitian... 58 Gambar 4.1 Diagram Batang Perbandingan Rataan Pretes dan Postes
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa ... 60 Gambar 4.2 Diagram Batang Perbandingan Rataan dan Standar Deviasi
Gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa... 73 Gambar 4.3 Grafik Interaksi antara Faktor Pendekatan Pembelajaran dengan
Faktor Latar Belakang Mahasiswa pada Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis ... 83 Gambar 4.7 Diagram Batang Perkembangan Aktifitas Dosen pada
Pembelajaran dengan menggunakan Strategi Modelling
The Way ... 95
Gambar 4.8 Diagram Batang Perkembangan Aktifitas Mahasiswa pada Pembelajaran dengan menggunakan Strategi Modelling
The Way ... 97
Gambar 4.9 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai
Tes Berpikir Kritis Matematis untuk Soal Nomor 1 ... 110 Gambar 4.10 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai
Tes Berpikir Kritis Matematis untuk Soal Nomor 2 ... 110 Gambar 4.11 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai
Gambar 4.12 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai
Tes Berpikir Kritis Matematis untuk Soal Nomor 4 ... 111
Gambar 4.13 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai Tes Berpikir Kritis Matematis untuk Soal Nomor 5 ... 112
Gambar 4.14 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Mahasiswa mengenai Tes Berpikir Kritis Matematis untuk Soal Nomor 6 ... 112
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A: INSTRUMEN PENELITIAN ... 125
A.1 Silabus Bahan Ajar ... 126
A.2 RPP dan LKS ... 128
A.3 Kisi-kisi Soal dan Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 180
A.4 Alternatif Jawaban Tes Matematika... 183
A.5 Kisi-kisi Angket Sikap Mahasiswa ... 187
A.6 Pedoman Observasi dalam Pembelajaran/Perkuliahan Matematika dengan PMW ... 190
A.7 Pedoman Daftar Isian untuk Dosen... 194
A.8 Pedoman Wawancara Mahasiswa ... 197
LAMPIRAN B: ANALISIS HASIL UJI COBA TES MATEMATIKA ... 198
B.1 Tabel Skor Uji Coba Tes Berpikir Kritis Matematis ... 199
B.2 Lembar Pertimbangan Validitas Muka dan Validitas Isi ... 200
B.3Analisis Validitas per item Butir Soal ... 201
B.4 Analisis Reliabilitas ... 202
B.5 Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda... 203
B.4 Perhitungan Hasil Uji Coba Tes Matematika dengan Anates 4.0 ... 204
LAMPIRAN C: ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN ... 207
C.1 Kategori Kemampuan Mahasiswa ... 208
C.3 Data Hasil Postes ... 212
C.4 Data Gain Ternormalisasi ... 214
C.5 Perhitungan Data dan Uji Statistik untuk Data Pretes, Postes dan Gain Ternormalisasi ... 216
LAMPIRAN D: ANALISIS DATA SKALA SIKAP DAN OBSERVASI ... 223
D.1 Data Skala Sikap Kelas Eksperimen ... 224
D.3 Data Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran PMW ... 227
LAMPIRAN E: UNSUR-UNSUR PENUNJANG PENELITIAN ... 229
E.1 Jadwal Penelitian ... 230
E.2 Foto-foto Penelitian ... 232
E.3 Data-Data Penunjang ... 235
RIWAYAT HIDUP
(4 tahun) dan yang ketiga putra bernama Zaki Ahmad Ghozian (2 tahun).
Menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Nanggeleng Sukabumi,
lulus pada tahun 1994. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 6
Sukabumi lulus pada tahun 1997. Kemudian menempuh pendidikan Sekolah Menengah
Atas di SMA Negeri 1 Sukabumi dan lulus pada tahun 2000. Selanjutnya menempuh
pendidikan tingkat Sarjana di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Jurusan Matematika Universitas Lampung dan lulus pada tahun 2004. Kemudian pada
tahun 2010 memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana
Program Studi Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung dengan
Beasiswa dari Kementerian Agama.
Pengalaman mengajar dimulai sejak semasa kuliah dengan mengajar di Pusat
Bimbingan Belajar di Lampung pada tahun 2002, asisten praktikum mata kuliah
Statistika Dasar pada tahun 2003 dan tahun 2004, tutor pelatihan SPSS 8.0 untuk
Penelitian Pendidikan di FMIPA Universitas Lampung. Selanjutnya pada tahun 2005
diangkat menjadi staf pengajar di STIT Insida Jakarta. Kemudian sejak tahun 2008 Hilda Nurul Hikmah, lahir di Sukabumi, Jawa Barat, pada
tanggal 13 Desember 1982, merupakan anak kedua dari tiga
bersaudara dari pasangan suami istri Bapak Hilman Makmun,
B.Sc. dan Ibu Jubaedah. Menikah dengan Ook Junaedi, S.Si.
pada tanggal 22 Agustus 2004 dan telah dikaruniai tiga orang
anak. Yang pertama putri bernama Zahrina Nur Amalina
(7 tahun), yang kedua putra bernama Zaid Ammar Maulana 280
diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil dan bertugas di MTs Negeri 1 Sagaranten
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Matematika memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik sebagai alat bantu dalam penerapan ilmu lain maupun dalam pengembangan matematika itu sendiri. Semua upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan matematik siswa, tidak hanya berguna untuk memperoleh hasil belajar matematika yang tinggi, lebih dari itu sebagai bekal bagi siswa untuk menjalani kehidupan bermasyarakat. Inilah konsep kehidupan matematika dan matematika untuk kehidupan. Seperti yang ditulis Turmudi (2008) bahwa mengetahui matematika mungkin menjadi kepuasan personal, bahkan suatu kedigdayaan yang menopang kehidupan sehari-hari.
Penguasaan materi matematika oleh siswa (mahasiswa) menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi dalam penataan nalar dan pengambilan keputusan di era persaingan yang semakin kompetitif. Namun sayangnya, matematika masih terdapat anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi atau bahkan paling dibenci oleh kebanyakan siswa (Ruseffendi,1988). Hal tersebut menjadi tugas pengajar untuk memperbaiki anggapan tersebut agar berubah menjadi lebih positif.
2
masih dianggap sebagai mata kuliah yang sulit dan menakutkan. Anggapan tersebut berdampak pada hasil perkuliahan yang selalu kurang memuaskan, padahal mereka merupakan calon guru yang akan mengajarkan konsep matematika di SD.
Keberagaman mahasiswa yang melatarbelakangi pendidikan mahasiswa PGSD, yakni mereka berasal dari berbagai jurusan; baik IPA, IPS maupun bahasa, menjadi salah satu faktor penghambat mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan matematika. Pada umumnya mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar matematika saat di SD, SMP dan SMA berdampak pada rendahnya sikap dan kemampuan berpikir matematik di PGSD, sehingga masih memungkinkan adanya anggapan negatif mahasiswa terhadap matematika, dalam hal ini mata kuliah matematika.
untuk mengembangkan ide-ide mengenai pendidikan matematika di SD serta memberikan kemampuan untuk menghadapi perubahan-perubahan pendidikan matematika di SD.Tetapi dari hasil survey pendahuluan, pada kenyataannya proses pembelajaran di PGSD hanya menuntut mahasiswa untuk menghafal informasi, mengingat informasi dan mengumpulkannya tanpa dituntut memahami informasi yang diperolehnya. Hal ini sebagai akibat dari tidak tertanamnya kemampuan berpikir kritis matematis dalam diri mahasiswa.
Mata kuliah Pendidikan Matematika II dalam struktur kurikulum Jurusan S1 PGSD mulai tahun akademik 2008/2009 berganti nama dengan Pendidikan matematika di SD 2 dan diberikan kepada mahasiswa S1 PGSD semester ke-4. Mata kuliah ini membahas tentang materi matematika SD dan pembelajarannya meliputi geometri datar, geometri ruang, pecahan perbandingan dan skala, bilangan rasional dan irasional, pengukuran, serta pengolahan data, baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Pemilihan materi pada matakuliah Pendidikan matematika di SD 2 ini sesuai dengan fokus tujuan pembelajaran matematika SD yaitu penguasaan bilangan atau
number sense termasuk berhitung di dalamnya (Karim, 1996). Menurut Reys
4
dalam membekali mahasiswa pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan materi matematika dalam pembelajaran di SD kelak.
Berdasarkan pengalaman penulis sebagai pengampu mata kuliah Pendidikan Matematika di SD 2, perolehan prestasi belajar yang dicapai mahasiswa belum cukup memuaskan, masih ada mahasiswa yang memperoleh nilai C dan D. Rataan nilai pada tahun ajaran 2009/2010 berada pada nilai mutu 2,71 atau berada pada kirasan nilai C dan B. Pada tahun ajaran 2010/2011, rataannya berada pada nilai mutu 2,73 atau tetap berada diantara C dan B. Adapun sebaran nilai akhir mahasiswa pada mata kuliah Pendidikan Matematika di SD 2 selama dua tahun terakhir sebagai berikut:
Tabel 1.1 Nilai Akhir Mahasiswa pada Mata Kuliah Pendidikan Matematika di SD 2
Nilai Akhir (Huruf) Banyak Mahasiswa pada tahun akademik
jawaban benar untuk soal tentang konsep dasar, namun tidak demikian untuk soal penerapannya. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa kurang menguasai konsep-konsep matematika SD tersebut.
Mahasiswa masih kesulitan memahami matematika yang dipandangnya matakuliah yang paling sulit dan tidak menyenangkan. Ekspresi, komunikasi dan kemampuan berpikir matematika diantara mahasiswa masih kurang. Fakta tersebut didukung oleh pengamatan Mayadina (2005) bahwa pemahaman konsep mahasiswa PGSD masih lemah dan dibawah 50%. Selain itu, mahasiswa PGSD cenderung menyenangi soal-soal yang berbentuk rutin sehingga saat diberikan soal-soal yang bersifat tidak rutin mereka cenderung kesulitan. Pada umumnya kemampuan mahasiswa PGSD dalam penyelesaian permasalahan matematika dapat dikatakan sedang dan rendah, jarang sekali mahasiswa yang berkemampuan tinggi, serta suasana kegiatan belajar mahasiswa PGSD cenderung tidak terlalu aktif.
6
berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih kurang memuaskan, yakni rerata skornya 50% dalam mata kuliah kapita selekta matematika.
Upaya pembenahan dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir kritis difokuskan pada pemberian kesempatan mahasiswa untuk membangun pengetahuan secara aktif, artinya pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh mahasiswa baik secara individu maupun kelompok dengan menggunakan belajar kooperatif. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa adanya interaksi antar mahasiswa (Lie, 2004). Interaksi sosial yang mungkin muncul dalam penelitian ini adalah setting dalam bentuk diskusi.
Ruseffendi (1988) menyatakan bahwa diskusi dalam kelompok menuntut mahasiswa untuk selalu aktif berpartisipasi. Mahasiswa dilatih berpikir kritis, siap mengemukakan pendapat dengan tepat, berpikir secara objektif dan menghargai pendapat orang lain. Selanjutnya, Totten, Sills, Digby dan Russ (Gokhale, 1995) mengungkapkan bahwa pembelajaran beregu (team teaching) memberi mahasiswa kesempatan untuk terlibat dalam diskusi, bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan menjadi pemikir yang kritis.
pendekatan yang lain daripada gambaran rutin perkuliahan terjadi. Belajar menuntut keaktifan dosen dan mahasiswa. Belajar aktif mensyaratkan interaksi yang tinggi antara dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, dosen perlu mengembangkan berbagai kegiatan belajar yang dapat melibatkan mahasiswa secara aktif (internalisasi) dalam proses belajar berdasarkan tujuan instruksional yang jelas, kegiatan yang menantang kreativitas mahasiswa sesuai dengan karateristik mata kuliah dan karateristik mahasiswa (Paulina, 1996). Pada proses internalisasi, mahasiswa akan merasakan model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme, dan akan berpikir apakah model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme ini dapat ia terapkan kelak, kemudian otaknya berputar merancang model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme yang akan ia terapkan kelak. Dengan proses internalisasi ini, mahasiswa menjadi lebih memahami model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme berikut contoh penerapannya kelak. Sehingga ketika diharuskan mengajar mereka tidak akan ragu dan kebingungan lagi.
8
Salah satu strategi yang diduga sesuai dengan pembelajaran aktif yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam perkuliahan Pendidikan matematika di SD 2 adalah strategi modelling the way. Strategi ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktekkan keterampilan spesifik yang telah dipelajari di kelas dengan demonstrasi. Dengan modelling the way, mahasiswa melakukan simulasi cara membelajarkan konsep-konsep matematika SD, dengan terlebih dahulu menyusun skenario pembelajaran dari keterampilan yang hendak ditampilkan. Dengan menyusun skenario pembelajaran sendiri dan kemudian mempraktekkannya, mahasiswa dilatih kritis dalam menentukan desain penyajian. Hal tersebut tentu saja mendorong mahasiswa dalam memahami konsep penyajiannya.
pembelajaran matematika yang menggunakan pembelajaran strategi Modelling
the Way.
1.2 Rumusan dan Batasan Masalah a. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kritismatematispada mahasiswa yang pembelajarannya menggunakan strategi Modelling the Way lebih baik dari pad amahasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional?
2. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik mahasiswa ditinjau dari latar belakang pendidikan (IPA, IPS, dan bahasa) pada kelompok mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Modelling the Way?
3. Apakah terdapat interaksi antara jenis pembelajaran strategi modelling the
way dan latar belakang pendidikan (IPA, IPS dan Bahasa) terhadap
kemampuan berpikir kritis?
4. Bagaimana sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Modelling the Way?
b. Batasan Masalah
10
1. Penelitian ini akan dilaksanakan pada mahasiswa PGSD semester 4 pada topik konsep keliling dan luas bangun datar serta luas permukaan dan volume bangun ruang.
2. Ada enam indikator kemampuan berpikir kritis dari dua belas indikator kemampuan yang diberikan Ennis (1996) yang akan diukur. Secara rinci akan dijelaskan pada Kajian Teori.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika PGSD melalui pembelajaran matematika menggunakan strategi modelling the way. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi pengaruh pembelajaran menggunakan strategi modelling
the way terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD
2. Mengidentifikasi peningkatan kemampuan berpikir kritis antara mahasiswa ditinjau dari latar belakang pendidikan (IPA, IPS dan Bahasa) pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi modelling the way.
3. Mengidentifikasi interaksi antara jenis pembelajaran dengan latar belakang pendidikan (IPA, IPS dan Bahasa) terhadap kemampuan berpikir kritis. 4. Mengidentifikasi sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini penting untuk dilakukan, secara praktis hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi PGSD (dosen dan mahasiswa), sedangkan secara teoritis akan bermanfaat bagi penelitian dan keilmuan. Adapun rincian manfaat penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa calon guru SD, penggunaan strategi Modelling the Way pada pembelajaran di kelas, membuat mereka disamping memahami konsep yang dijelaskan, juga mendapatkan gambaran dan pengalaman bagaimana penerapan suatu model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme.
2. Bagi dosen: pembelajaran menggunakan strategi Modelling the Way ini dapat dijadikan alternatif dalam memperkenalkan dan menginternalisasikan berbagai model/strategi/metode pembelajaran berbasis konstruktivisme.
3. Hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan/referensi (penelitian yang relevan) para peneliti.
1.5 Definisi Operasional
12
a. Berpikir kritis dalam matematika
Berpikir kritis matematis adalah berpikir kritis pada bidang ilmu matematika. Dengan demikian berpikir matematis adalah proses berpikir kritis yang melibatkan pengetahuan matematika, penalaran matematika dan pembuktian matematika. Berpikir kritis dalam matematika merupakan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah matematika. Ennis (Glazer, 2004) bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya, karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif, di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir.
b. Strategi Modelling the Way menurut Silberman (1996 : 149)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan sebab-akibat melalui pemanipulasian variabel bebas dan menguji perubahan yang diakibatkan oleh pemanipulasian tadi, sehingga penelitian ini digolongkan kepada penelitian eksperimen (Ruseffendi, 1998).
Perlakuan dalam penelitian ini adalah pembelajaran matematika dengan mengunakan strategi modelling the way. Sementara kemampuan berpikir kritis matematik adalah sebagai variabel terikatnya (variabel yang diamati). Pengamatan dilakukan 2 kali yaitu sebelum proses pembelajaran, yang disebut pretes dan sesudah pembelajaran yang disebut postes.
Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi, 1998) yang secara ringkas digambarkan sebagai berikut:
A O X O
A O O
Keterangan:
40
Pada penelitian ini, dipilih sampel penelitian secara acak, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 1 kelompok eksperimen dan 1 kelompok kontrol. Pretes dan postes dilakukan pada 2 kelompok tersebut. Pada kelompok eksperimen memperoleh perlakuan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan strategi modelling the way, sedangkan kelompok kontrol memperoleh perlakuan dengan pendekatan konvensional.
Untuk melihat secara lebih mendalam pengaruh penggunaan pendekatan strategi modelling the way terhadap kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa PGSD, maka dalam penelitian ini dilibatkan kategori latar belakang pendidikan mahasiswa (IPA, IPS dan Bahasa). Keterkaitan antar variabel bebas, terikat dan kontrol disajikan dalam model Weiner (Saragih, 2007) yang disajikan pada Tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1 Tabel Weiner tentang Keterkaitan antar Variabel Bebas, Terikat dan Kontrol
Kemampuan yang diukur Kemampuan Berpikir Kritis
Pendekatan Pembelajaran PSMW PKV
Kelompok Mahasiswa
IPA (A) KKAS KKAV
IPS (B) KKBS KKBV
Bahasa (C) KKCS KKCV
KKSM KKKV
Keterangan :
PSMW : Pembelajaran dengan strategi modelling the way PKV : Pembelajaran dengan pendekatan konvensional
IPA yang pembelajarannya menggunakan strategi modelling the way. KKBS adalah kemampuan berpikir kritis mahasiswa kelompok IPS yang pembelajarannya menggunakan strategi modelling the way. KKCS adalah kemampuan berpikir kritis mahasiswa kelompok Bahasa yang pembelajarannya menggunakan strategi modelling the way.
KKAS adalah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang pembelajarannya menggunakan strategi modelling the way.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Berdasarkan atas permasalahan yang telah diungkapkan, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa tingkat 2 semester 4 PGSD Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah INSIDA Jakarta yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus cabang yang tersebar di beberapa kota, yakni di DKI Jakarta, Kota Bogor dan Kota Sukabumi.
Alasan pemilihan mahasiswa PGSD adalah: fakta yang sebelumnya diungkapkan pada bagian latar belakang masalah bahwa kemampuan berpikir kritis matematik PGSD relatif masih rendah dan mata kuliah pendidikan matematika di SD 2 yang akan diajarkan merupakan mata kuliah wajib untuk mahasiswa PGSD.
42
kelas dari seluruh kelas anggota populasi. Satu kelas dijadikan kelas eksperimen dan 1 kelas lagi dijadikan sebagai kelas kontrol.
Pada kelas eksperimen dilaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi modelling the way, sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional.
Menentukan Ukuran Sampel
Dari penjelasan di atas, populasi penelitian memiliki peluang yang sama bagi tiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel, maka cara menentukan sampel penelitian menggunakan probability sampling (Sugiyono, 2006).
Untuk mempermudah penentuan ukuran sampel, penulis menggunakan
Nomogram Harry King, karena jumlah populasi mahasiswa PGSD Insida Jakarta
semester 4 dari seluruh cabang hanya 200 orang.
Tabel 3.2 Jumlah Mahasiswa PGSD Insida Jakarta Semester 4 Tahun Akademik 2011/2012
Kampus
Jumlah Mahasiswa berdasarkan
Jumlah Latar Belakang Jurusan di SMA
Menentukan sampel menggunakan Nomogram Harry King didasarkan atas tingkat kesalahan yang bervariasi sampai 15%, dengan populasi tertinggi sebanyak 2000 responden. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar 2.1 di bawah ini (Sugiyono, 2006):
44
Dari gambar 2.1 tersebut, peneliti menghendaki tingkat kepercayaan sampel terhaap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka jumlah sampel yang diambil paling sedikit 58 orang (tarik dari angka 200 melewati taraf kesalahan 5%, maka akan ditemukan titik di atas angka 60. Titik itu kurang lebih 58). Karena populasinya berstrata, maka sampelnya juga berstrata berdasarkan latar belakang jurusan di SMA. Dengan demikian masing-masing sampel untuk kelompok jurusan harus proporsional sesuai dengan populasi. Jadi jumlah sampel untuk:
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka peneliti memilih kampus Jakarta-Pondok Kopi, karena jumlah mahasiswa semester 4 paling mendekati hasil perhitungan, sehingga diharapkan sampel yang dipilih bersifat representatif.
3.3 Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Dalam penelitian ini, instrumen tes terdiri dari pretes dan postes. Pretes diberikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk mengukur kemampuan awal masing-masing kelompok dan diberikan sebelum pembelajaran dilakukan. Secara lengkap, kisi-kisi dan instrumen tes berpikir kritis matematis dapat dilihat pada Lampiran A.3.Sedangkan postes digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Dalam penyusunan tes kemampuan berpikir kritis ini, diawali dengan penyusunan kisi-kisi soal berpikir kritis pada subpokok bahasan, kompetensi dasar, indikator, aspek kemampuan kritis yang diukur, serta jumlah butir soal. Setelah membuat kisi-kisi, dilanjutkan dengan menyusun soal disertai kunci jawaban dan pedoman penskoran untuk setiap butir soal. Kisi-kisi penulisan soal, perangkat soal, serta pedoman penskoran untuk setiap butir soal.
Tes kemampuan berpikir kritis yang digunakan adalah tes berbentuk uraian, dengan tujuan agar proses berpikir, ketelitian, dan sistematika penyusunan dapat dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal tes. Disamping itu juga kesalahan dan kesulitan yang dialami mahasiswa dapat diketahui dan dikaji sehingga memungkinkan dilaksanakannya perbaikan.
a. Analisis Validitas
46
Sebelum tes dijadikan instrumen penelitian, tes tersebut akan diukur theory
validity (validitas teori), yaitu construct validity (validitas konstruk), face validity
(validitas permukaan) dan content validity (validitas isi) serta empirical validity (validitas empirik) yaitu validitas butir soal.
1) Validitas Teori (theory validity)
Suatu test matematika dikatakan memiliki validitas yang baik apabila dapat mengukur :(1) kesesuaian antara indikator dan butir soal (construct
validity), (2) kejelasan bahasa dalam soal (face validity), (3) kesesuaian soal
dengan tingkat kemampuan mahasiswa dan kebenaran materi atau konsep
(content validity).
Sebelum diteskan, instrumen yang akan digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa tersebut diuji validitas teorinya oleh 2 orang mahasiswa S3 Pasca Sarjana UPI dan 2 orang dosen matematika STIT INSIDA JAKARTA serta 2 orang guru matematikayang kemudian hasilnya dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Hasil pertimbangan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.2.
2) Validitas Empirik (empirical validity)
∑
∑
∑
∑
r =koefisien validitas X =skor item
=
n banyak subjek Y=skor total
Setelah koefisien validitasnya diketahui, kemudian nilai
XY
r diinterpretasikan berdasarkan kriteria dari Suherman (2003: 112-113), yaitu seperti pada tabel dibawah:
Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Koefisien Korelasi(rxy) Interpretasi
0,80≤rxy<1,00 validatas sangat tinggi 0,60≤rxy<0,80 validitas tinggi 0,40≤rxy<0,60 validitas sedang 0,20≤rxy<0,40 validitas rendah
0,00≤rxy0,20 validitas sangat rendah xy
r <0,00 tidak valid
48
Tabel 3.4 Interpretasi Uji Validitas Tes Berpikir Kritis Matematis
Nomor Soal Korelasi Interpretasi Validitas Signifikansi
1 0, 85 Sangat tinggi Sangat signifikan
2 0, 83 Sangat tinggi Sangat signifikan
3 0, 84 Sangat tinggi Sangat signifikan
4 0, 82 Sangat tinggi Sangat signifikan
5 0, 66 Sedang Signifikan
6 0, 86 Sangat tinggi Sangat signifikan
Dari enam butir soal yang digunakan untuk menguji kemampuan berpikir kritis matematis tersebut berdasarkan kriteria validitas tes, diperoleh satu soal (soal nomor 5) yang mempunyai validitas sedang, dan lima soal sisanya mempunyai validitas tinggi atau baik. Artinya, tidak semua soal mempunyai validitas yang baik. Untuk kriteria signifikansi dari korelasi pada tabel di atas terlihat hanya satu soal yaitu soal nomor 5 yang signifikan, sedangkan lima soal lainnya sangat signifikan.
Untuk tes berpikir kritis matematis diperoleh nilai korelasi xy sebesar 0,81. Apabila diinterpretasikan berdasarkan kriteria validitas tes dari Guilford, maka secara keseluruhan tes kemampuan berpikir kritis matematis memiliki validitas yang tinggi.
b. Analisis Reliabilitas
yang berbentuk uraian, digunakan rumus Alpha (Suherman dan Sukjaya, 1990:194, Suherrman, 2003:139) sebagai berikut:
Setelah koefisien reliabilitas diketahui, kemudian dikonversikan dengan
kriteria reliabilitas Guilford (Ruseffendi, 1998:144), kriteria itu tampak pada tabel
di bawah ini:
Tabel3.5 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas Besarnya r Tingkat Reliabilitas
0,00 ≤r11≤ 0,20 Kecil
0,20 <r11≤ 0,40 Rendah
0,40 <r11≤ 0,70 Sedang
0,70 <r11≤0,90 Tinggi
0,90 <r11≤1,00 Sangat tinggi
Dengan demikian, hasil tersebut dikatakan reliabel jika nilai yang
50
Berdasarkan hasil uji coba reliabilitas butir soal secara keseluruhan menggunakan Anates 4.0, yang hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.4. Untuk tes berpikir kritis matematis diperoleh nilai tingkat reliabilitas sebesar 0,92, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa soal tes berpikir kritis matematis mempunyai reliabilitas yang tinggi.
c. Analisis Daya Pembeda
Daya pembeda atau indeks diskriminasi tes suatu butir soal menyatakan kemampuan butir soal tersebut membedakan antara testi yang berkemampuan tinggi dengan testi yang berkemampuan rendah. Untuk menghitungnya, subjek dibagi menjadi beberapa subkelompok, dengan proporsi 27% kelompok atas dan 27% kelompok bawah (Suherman dan Sukjaya, 1990: 204).
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (To dalam Astuti, 2009):
IA SB SA
DP = −
Keterangan:
DP = daya pembeda
SA = jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah
SB = jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah
IA = jumlah skor ideal salah satu kelompok pada butir soal yang diolah
Tabel 3.6 Klasifikasi Daya Pembeda
Hasil perhitungan daya pembeda untuk tesberpikir kritis matematis disajikan masing-masing dalam Tabel 3.7 berikut ini:
Tabel 3.7. Daya Pembeda Berpikir Matematis Nomor Soal Indeks Daya Pembeda Interpretasi
1 0, 36 Cukup
d. Analisis Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran (TK) suatu butir soal menunjukkan apakah butir soal tersebut tergolong mudah, sedang, atau sukar. Rumus yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran adalah sebagai berikut (To, 1996: 16):
52
Keterangan: TK =tingkat kesukaran
=
T
S jumlah skor yang diperoleh siswa pada butir soal itu
=
T
I jumlah skor ideal pada butir soal itu
Klasifikasi tingkat kesukaran (Suherman, 2003: 169) diperlihatkan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 3.8. Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Tingkat Kesukaran Kategori Soal
TK=0,00 Soal terlalu sukar
0,00<TK≤0,30 Soal sukar
0,30<TK≤0,70 Soal sedang
0,70<TK≤1,00 Soal mudah
TK=1,00 Soal terlalu mudah
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan Anates Versi 4.0. diperoleh tingkat kesukaran tiap butir soal tes berpikir kritis matematis yang terangkum dalam Tabel berikut ini:
Tabel 3.9. Tingkat Kesukaran Butir Soal Berpikir Kritis Matematis Nomor Soal Tingkat Kesukaran Interpretasi
1 0, 27 Sukar
reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran soal, maka dapat disimpulkan bahwa soal tes tersebut layak dipakai sebagai acuan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa PGSD tingkat 2 yang merupakan responden dalam penelitian ini.
2. Instrumen Skala Sikap Mahasiswa
Instrumen skala sikap digunakan untuk memperoleh informasi mengenai sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi
modelling the way. Sikap tersebut meliputi kepercayaan diri dalam belajar
matematika, kecemasan dalam belajar matematika, keberanian dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, perasaan suka atau tidaknya terhadap pemahaman konsep, dan kesukaan terhadap suasana kelas ketika pembelajaran matematika berlangsung. Skala sikap ini diberikan kepada mahasiswa kelompok eksperimen setelah semua kegiatan pembelajaran berakhir, yakni setelah dilaksanakan postes.
Untuk menentukan baik atau tidaknya skala sikap ini tidak ada kriteria mutlak. Akan tetapi dalam penyusunannya dilakukan beberapa tahap. Tahap pertama penyusunan skala sikap ini adalah membuat kisi-kisi. Setelah kisi-kisi disusun, langkah selanjutnya adalah melakukan uji validitas isi dengan meminta pertimbangan sesama mahasiswa Sekolah Pascasarjana UPI, dosen matematika PGSD STIT INSIDA JAKARTA, kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Instrumen skala sikap secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran A.5.
54
tak memutuskan (N), tidak setuju (ST), dan sangat tidak setuju (STS) (Ruseffendi, 1998).
Menurut Subino (1987: 124) skor skala Likert dapat ditentukan secara apriori atau dapat pula secara aposteriori. Adapun teknik penentuan skor dalam penelitian ini adalah secara apriori, yaitu skala yang berarah positif akan mempunyai skor 5 bagi sangat setuju (SS), 4 bagi setuju (S), 3 tak memutuskan (N), 2 bagi tidak setuju (TS), dan 1 bagi sangat tidak setuju (STS). Ketentuan ini diberikan kepada soal yang berarah positif, sedang bagi soal yang berarah negatif akan mempunyai skor 1 bagi sangat tidak setuju (SS), 2 bagi setuju (S), 3 tak memutuskan (N), 4 bagi tidak setuju (TS) dan 5 bagi sangat tidak setuju (STS).
3. Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan semua data tentang aktivitas mahasiswa dan dosen dalam pembelajaran, interaksi antara mahasiswa dan dosen dalam pembelajaran, serta interaksi antar mahasiswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Modelling the Way. Instrumen lembar observasi ini diisi oleh observer, yakni dosen matematika selain peneliti. Lembar observasi mahasiswa dan dosen disajikan dalam Lampiran A.6.
Tujuan utama observasi adalah (1) untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena, baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, (2) untuk mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru maupun peserta didik),serta interaksi antara peserta didik dan guru.
yang relevan dengan KBM, berdiskusi antara sesama mahasiswa, berdiskusi antara mahasiswa dengan dosen dalam menyusun skenario untuk demonstrasi, dan aktivitas yang mungkin menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan KBM.
Adapun aktivitas dosen yang diamati antara lain: penyampaian tujuan pembelajaran, memotivasi siswa, menjelaskan materi secara lisan/tertulis, mengajukan pertanyaan, memberi petunjuk dan membimbing aktivitas siswa, menutup kegiatan pembelajaran, dan aktivitas yang mungkin menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan KBM.
4. Wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan mendalam mengenai perasaan dan sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan strategi modelling the way. Wawancara dilakukan terhadap beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing asal jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS dan Bahasa. Pedoman wawancara mahasiswa dapat dilihat pada Lampiran A.8.
5. Daftar isian dosen
56
3.4 Prosedur Penelitian 1. Tahap Pendahuluan
Tahap ini diawali dengan kegiatan dokumentasi teoritis berupa telaah kepustakaan terhadap pembelajaran menggunakan strategi modelling the way serta pengungkapan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Kegiatan pendahuluan ini menghasilkan suatu proposal penelitian.
Kegiatan selanjutnya adalah menyusun dan mengembangkan instrumen penelitian, baik untuk kelompok eksperimen maupun untuk kelompok kontrol. Instrumen penelitian terdiri dari soal tes kemampuan berpikir kritis, skala sikap mahasiswa, lembar observasi, dan daftar isian untuk dosen. Khusus soal tes kemampuan berpikir kritis akan diuji cobakan kepada mahasiswa tingkat 3 kelas konsentrasi matematika program S-1 PGSD STIT INSIDA JAKARTA.
2. Tahap pelaksanan
Langkah pertama pada tahap ini adalah memilih sampel sebanyak dua kelas. Satu kelas dijadikan kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya dijadikan kelompok kontrol.
Pada setiap akhir pembelajaran dilakukan observasi terhadap aktivitas mahasiswa dan dosen. Setelah semua kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan, kepada kedua kelompok diberikan postes untuk mengukur keberhasilan mahasiswa dalam pembelajaran, Selain itu kepada kelompok eksperimen diberikan skala sikap, sedangkan untuk dua orang dosen yang menjadi pengajar diberikan daftar isian.
Kegiatan akhir dari penelitian ini adalah menganalisis data yang diperoleh baik secara kuantitatif maupun kualitatif, kemudian membuat penafsiran dan kesimpulan hasil penelitian. Selanjutnya prosedur penelitian ini dapat dilihat dalam bentuk diagram pada Gambar 3.1.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Beberapa cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tes, dilakukan sebelum (pretes) dan sesudah (postes) proses pembelajaran terhadap kedua kelompok baik eksperimen maupun kontrol. Namun waktu pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal pada masing-masing kelas.
2. Lembar observasi diisi oleh observer pada setiap pembelajaran matematika berlangsung. Dalam hal ini, observer adalah dosen matematika selain peneliti yang terlibat langsung dalam pemantauan proses pembelajaran. 3. Tes, dilakukan sebelum (pretes) dan sesudah (postes) proses pembelajaran
58
4.
5.
6.
7.
Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian
4. Lembar observasi di isi oleh observer pada setiap pembelajaran matematika berlangsung. Dalam hal ini, observer adalah dosen matematika selain peneliti yang terlibat langsung dalam pemantauan proses pembelajaran.
Pemberian Pretes
Perlakuan pada kelas kontrol (pembelajaran konvensional)
Kesimpulan Pemberian Postes Pengidentifikasian masalah
& tujuan penelitian
Penyusunan instrumen dan bahan ajar
Penguji coba instrumen
Analisis hasil uji coba
Perbaikan instrumen
Analisis Data
a. Perlakuan pada kelas eksperimen (Strategi Modelling the Way) b. Observasi
c. Skala Sikap
5. Skala sikap diberikan kepada seluruh mahasiswa dan daftar isian untuk dosen diberikan kepada dosen matematika selain peneliti yang menjadi observer selama pelaksanaan pembelajaran. Kedua instrumen ini diberikan setelah seluruh pembelajaran selesai dilaksanakan.
7.6 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pretes dan postes dianalisis secara statistik. Sedangkan hasil pengamatan observasi pembelajaran dianalisis secara deskriptif.
Data yang akan dianalisis adalah data kuantitatif berupa hasil tes berpikir kritis matematis mahasiswa dan data kualitatif berupa hasil observasi, skala sikap dan lembar wawancara untuk mahasiswa, serta daftar isian untuk dosen matematika selain peneliti, berkaitan dengan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dikembangkan. Untuk pengolahan data penulis menggunakan bantuan program software SPSS 16, dan Microsoft Excell 2007.
1. Analisis Data Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis
60
melihat perbedaan rataan perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik mahasiswa ditinjau dari latar belakang pendidikan (IPA, IPS, dan bahasa) pada kelompok mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Modelling the Way. Dan jika hasil pengujian menolak hipotesis nol, maka dilakukan Uji lanjutan ANOVA (Uji Scheffe).
Data hasil tes yang diperoleh dari hasil pengumpulan data selanjutnya diolah melalui tahap sebagai berikut:
1. Memberikan skor jawaban siswa sesuai dengan kunci jawaban dan sistem penskoran yang digunakan.
2. Membuat tabel skor pretes dan postes mahasiswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.
3. Penghitungan gain ternormalisasi
Perhitungan gain ternormalisasi (normalized gain) dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa selama penelitian ini. Adapun perhitungan gain ternormalisasi menggunakan rumus dari Meltzer (Maulana, 2007).
pretes
Interpretasi gain ternormalisasi tersebut disajikan dalam bentuk klasifikasi seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.10 Interpretasi Gain Ternormalisasi
Gain Klasifikasi
g>0,7 gain tinggi
0,3<g≤0,7 gain sedang
g≤0,3 gain rendah
4. Melakukan uji normalitas untuk mengetahui kenormalan data skor pretes, postes dan gain kemampuan berpikir kritis matematis. Hipotesis yang digunakanadalah:
H0 : data berdistribusi normal H1 : data tidak berdistribusi normal
Hipotesis tersebut diuji menggunakan uji statistik One-Sample Kolmogorov-
Smirnov.
5. Menguji homogenitas varians data skor pretes, postes dan gain kemampuan berpikir kritis matematis .Hipotesis yang digunakan adalah:
H0 : varians kedua kelompok sama H1 : varians kedua kelompok tidak sama
Hipotesis tersebut diuji menggunakan uji Homogeneity of Varians (Levene
Statistic).
6. Menguji perbedaan rataan data gain, dalam hal ini antara data gain kelas eksperimen dan data gain kelas kontrol.
62
: A
H palingsedikitsatutandasamadengantidakberlaku
Tiga hipotesis yang diuji berdasarkan Tabel Wiener di bawah ini : Latar Belakang
Pendidikan (Jurusan) Rerata
IPA IPS Bahasa
JenisPembelajaran
PSMW KKAS KKBS KKCS α1
PKV KKAV KKBV KKCV α2
Rataan β1 β2 β3
µ
Uji statistik yang digunakan adalah ANOVA dua jalur menggunakan General
Linear Model Univariate Analysis.
7. Menguji perbedaaan rataan gain kelas eksperimen berdasarkan asal jurusan di SMA.
Dalam keadaan hipotesis nol diterima (dalam arti tidak ada perbedaan) tidak diperlukan uji lanjutan. Tetapi, jika hipotesis nol ditolak,untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelompok eksperimen, yaitu kelompok IPA, kelompok IPS, dan kelompok bahasa, perlu dilakukan uji lanjutan perbedaan tiga rerata. Dalam hal ini, peneliti memilih Uji lanjutan Scheffe karena merupakan uji yang paling kuat diantara uji lanjutan ANOVA lainnya (Ruseffendi, 1998).
2. Analisis Data Skala Sikap Mahasiswa
a. Setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara apriori.
b. Setelah pelaksanaan postes, mahasiswa langsung diberikan seperangkat tes sikap.
c. Rataan skor dari keseluruhan jumlah mahasiswa dihitung, cara ini bertujuan untuk mengetahui letak sikap mahasiswa secara umum.
d. Rataan jumlah mahasiswa yang menjawab SS, S, TS, atau STS dihitung, cara ini bertujuan untuk mengungkap kecendrungan pilihan mahasiswa secara umum.
e. Tingkat persetujuan mahasiswa untuk masing-masing item dihitung. Data ini akan mengungkapkan kecendrungan persetujuan mahasiswa secara umum. Cara menentukan tingkat persetujuan adalah sebagai berikut:
Tingkat persetujuan =
64
f. Data hasil skala sikap ini kemudian dibuat bentuk persentase untuk mengetahui frekuensi masing-masing alternatif jawaban yang diberikan. Dalam pengolahan data, digunakan rumus perhitungan sebagai berikut:
%
Keterangan: P = Persentase jawaban
f = Frekuensi jawaban
n = Banyak responden
Setelah data ditabulasi dan dianalisis, maka terakhir data tersebut ditafsirkan dengan menggunakan persentase berdasarkan kriteria Kuntjaraningrat (Supriadi, 2003: 84) sebagai berikut:
Tabel 3.11 Kriteria Persentase Skala Sikap
Persentase Kriteria
P=0% Tak seorang pun
0%<P<25% Sebagian kecil
25%≤P<50% Hampir setengahnya
P=50% Setengahnya
50%<P<75% Sebagian besar 75%≤P<100% Hampir seluruhnya
P=100% Seluruhnya
3. Analisis Data Hasil Observasi
6. Analisa Data Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap 15 mahasiswa pada kelas eksperimen, yaitu sebanyak 5 mahasiswa dipilih secara acak dari masing-masing kelompok IPA, IPS dan Bahasa pada kelompok eksperimen. Data yang terkumpul ditulis dan diringkas berdasarkan permasalahan yang akan dijawab pada penelitian ini.
7. Analisis Data daftar Isian untuk Dosen
Daftar isian untuk dosen diberikan kepada dua orang dosen yang terlibat langsung sebagai observer dalam penelitian ini, dengan tujuan untuk mengungkapkan pandangan dosen tersebut terhadap pembelajaran matematika dengan strategi modelling the way, juga untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran yang sedang dilaksanakan berdasarkan sudut pandangnya.
3.7 Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Nopember 2011 sampai dengan April 2012. Jadwal kegiatan penelitian dapat dilihat dalam Tabel 3.12 berikut:
Tabel 3.12 Jadwal Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Bulan
Nop Des Jan Feb Mar Apr 1. Pembuatan Proposal
2. Seminar Proposal
3. Menyusun Instrumen Penelitian 4. Pelaksanaan KBM di kelas
Eksperimen dan kelas kontrol 5. Pengumpulan Data
120
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada Bab IV mengenai perbedaan peningkatan hasil belajar terhadap kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa, antara mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Modelling the Way dan mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pendekatan konvensional, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa yang belajar dengan menggunakan strategi Modelling the Way lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Kelas yang pembelajarannya menggunakan strategi modelling the way berada pada tingkat kemampuan sedang dan kelas dengan pembelajaran konvensional beraa pada tingkat kemampuan rendah.
2. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa antara mahasiswa yang berasal dari jurusan IPA, IPS dan Bahasa, jika ditinjau dari faktor pendekatan pembelajaran menggunakan strategi Modelling the
way dan latar belakang jurusan mahasiswa.
perbedaan.
4. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis, pembelajaran menggunakan strategi Modelling the Way lebih tepat digunakan pada mahasiswa yang berasal dari jurusan IPA dibandingkan dengan siswa yang berasal dari jurusan IPS dan Bahasa.
5. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan latar belakang jurusan mahasiswa di SMA menyangkut peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan strategi Modelling the Way pada jurusan IPA, IPS, dan Bahasa cenderung lebih baik/tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional dengan kategori yang sama.
6. Setelah mendapatkan pembelajaran, para mahasiswa menunjukkan sikap positif terhadap pelajaran/perkuliahan matematika, terhadap pembelajaran dengan menggunakan strategi Modelling the Way, terhadap soal-soal berpikir kritis matematis yang diberikan dan memberikan pendapat yang positif mengenai kaitan pembelajaran menggunakan strategi Modelling the Way terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis. Secara umum dapat dikatakan bahwa mahasiswa memperlihatkan sikap yang positif terhadap keseluruhan aspek pembelajaran dengan menggunakan strategi
122
memahami, menganalisis, dan meyelesaikan masalah matematika yang diberikan serta menyampaikan kembali dalam skenario yang telah dibuat. 7. Penerapan pembelajaran menggunakan strategi Modelling the Way dapat
meningkatkan aktivitas mahasiswa dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam menyampaikan pendapat, berbagi ide, membantu mahasiswa lain, dan meningkatnya rasa percaya diri mahasiswa dalam mengajarkan kembali materi yang sudah diperolehnya kepada siswa SD nanti.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi para dosen/guru matematika, pembelajaran/perkuliahan dengan menggunakan strategi Modelling the Way dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk diimplementasikan dalam pengembangan pembelajaran matematika di kelas, terutama untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa PGSD.
keterampilan matematika.
3. Perlu dilakukan pembiasaan kepada mahasiswa melalui responsi untuk mengerjakan soal-soal non rutin, untuk meningkatkan lima kemampuan matematis siswa, khususnya soal-soal berpikir kritis matematis, agar mahasiswa terbiasa mengerjakan soal-soal tersebut sehingga dapat meningkatkan kemampuan matematis siswa dan terampil mengajarkannya kelak kepada siswa SD.
4. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi Modelling
the Way, diperlukan kemampuan secara maksimal untuk perencanaan
scaffolding. Hal ini dimaksudkan agar di dalam merancang bahan ajar dan
skenario pembelajaran, konteks permasalahan yang diberikan dapat dengan mudah difahami serta memicu munculnya berbgai ide atau strategi dari mahasiswa, sehingga diperlukan kesiapan dari dosen dalam melakukan arahan. 5. Peneliti selanjutnya hendaknya dapat menggali lebih jauh tentang peningkatan
124
DAFTAR PUSTAKA
Afgani, J. (2011). Analisis Kurikulum Matematika.Jakarta. Penerbit Universitas Terbuka.
Bonwell, C.C. (1995). Active Learning : Creating Excitement in the Classroom. Center for Teaching and Learning. St. Louis College of Pharmacy.
Dahar, R.W. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Ennis, R.H. (1996). Critical Thinking. USA. Prentice Hall, Inc.
Gani, R.A. (2007). Pengaruh Pembelajaran Metode Inkuiri Model Alberta
terhadap Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi. UPI: Tidak
diterbitkan.
Glazer, E. (2004). Technology Enchanced Learning Environments that are
Conductive to Critical Thinking in Mathematics : Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [online].
Tersedia : http://www.lonestar.texas.net~mseifert/crit2.html
Gokhale, A.A. (1995). Collaborative Learning Enchances Critical Thinking.
Journal of Technology Education, Vol 7, No.1.
Herlanti, Y. (2008). Analisis Pola Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pengajaran Dosen. Hasil Laporan Observasi di PGSD S1 UPI, Short Course S2
PGSD UPI: Makalah tidak diterbitkan.
Hudoyo, H. (1985). Teori Belajar Dalam Proses Belajar-Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Huitt, W. (1998). Critical Thinking : An Overview. Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA : Valdosta State University.
Joyce. B. (2000). Models of Teaching. Needham Heights, MA : Allyn & Bacon. Karim, Muchtar. (1997). Pendidikan Matematika. Jakarta : P3GSD DIKTI.
Krulick & Rudnick, J.A. (1999). Innovative Task to Improve Critical and
Creative-Thinking Skill. Developing Mathematica: pp. 138-145.
Lasan, Blasius. (2008). StudiTentangPelaksanaanPenjurusan IPA pada Beberapa
Lie, A. (2004). Cooperative Learning. Jakarta. Gramedia.
Mayadina, D. (2005). Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursus untuk
Mengembangkan Kemampuan Berfikir Kritis Matematis Mahasiswa Calon Guru SD. Tesis pada PPS UPI. Tidak dipublikasikan.
Maulana. (2002). Penggunaan Matafora dalam Perkuliahan Matematika. Prosiding Seminar Nasional Matematika, ISSN : 1693-0800. UPI Bandung. 23 Januari 2002.
Maulana. (2007). Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran
Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD. Tesis SPS UPI. Bandung. Tidak dipublikasikan.
McShane, John. (1991). Cognitive Development : an information processing
approach. Oxford : Basil Blackwell.
Pannen, Paulina dan Malati, Ida. (1996). Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta. UT. Pannen, Paulina dan Mestika. (1996). Belajar Aktif. Jakarta : UT.
Pott, B. (1994). Strategies for Teaching Critical Thinking. Practical assessment,
research & evaluation, 4(3). http://pareonline.net/getvn.asp?v=4&n=3. This paper has been viewed 80, 196 times since 11/13/1999.
Ratih, Ramelan. (2008). Studi Korelasional tentang Pemahaman Teks Ekspositori
dan Berpikir Deduktif dan Induktif pada Siswa SMA. Tesis pada PPS UI.
Tidak dipublikasikan.
Rohani, Ahmad. (2004). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. Rineka Cipta.
Rohayati, A. (2005). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam
Matematika Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual.
Tesis pada PPS UPI. Tidak dipublikasikan.
Ruseffendi, ET. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Ruseffendi, ET. (1993).Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ruseffendi, ET. (2006). Dasar – Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang
Non-Eksakta lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.
126
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Saragih, S. (2007). Mengembangkan Kemampuan Berfikir logis dan Komunikasi
Matematik Siswa SMP melalui Pendekatan Matematika Realistik.
Disertasi UPI. Tidak diterbitkan.
Silberman, Mel. (1996). Active Learning : 101 Strategies to Teach any Subject. Massachusetts : Allyn & Bacon.
Soekisno, B.A. (2002). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa
dengan Strategi Heuristik. Tesis SPS UPI. Bandung. Tidak diterbitkan.
Subino. (1987). Konstruksi dan Analisis Tes. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung. CV Alfabeta.
Supriadi.(2009). Analisis Proses Berpikir Matematika antara Dosen, Mahasiswa (Guru SD & Non Guru SD) PGSD dan Siswa SD dalam Pembelajaran
Matematikadi Propinsi Banten. Bandung: Prosiding Seminar Nasional
Matematika dan Pendidikan Matematika, 19 Desember 2009 Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.
Sutji, R. (2008). Pengaruh Pembelajaran penemuan terhadap Kemampuan
Berfikir Kritis Matematis Mahasiswa Calon Guru. Disertasi UPI. Tidak
diterbitkan.
Syah, M. (1995). Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Thomas, J. (1972). The Variation of Memory with Time for Information appearing during a Lecture. Studies in Adult Education, 4, 57 – 62.
Tim MKPBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.
Turmudi. (2008).
LandasanFilsafatdanTeoriPembelajaranMatematika(berparadigmaEksplo ratifdanInvestigasi). Jakarta: LeuserCitaPustaka.
Trihendradi. C. (2008). Step by Step SPSS 16 Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Penerbit ANDI.