3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Peneletian ini merupakan penelitian kausal, dimana penulis berusaha untuk menarik kesimpulan atas hubungan sebab-akibat. Definisi penelitian kausal adalah salah satu penelitian konklusif yang mempunyai tujuan untuk mengetahui dan memperoleh bukti mengenai hubungan sebab-akibat (Malhotra, 2004).
Bhattacherjee (2012) mendeskripsikan penelitian kausal sebagai bentuk pengujian dari perubahan variabel terikat yang disebabkan oleh perubahan variabel bebas dan bukan disebabkan oleh variabel yang lain. Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui dampak perubahan self-congruity dan pengaruhnya pada brand love dan dampak brand love dan pengaruhnya pada customer engagement. Penelitian ini juga menggunakan metode penelitian kuantitatif yang diartikan sebagai metode penelitian yang menggunakan populasi/sampel tertentu untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2008). Pendekatan kuantitatif ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas, sehingga hasil riset dapat dianggap sebagai hasil representasi dari seluruh populasi.
3.2. Gambaran Populasi dan Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi merupakan suatu kumpulan subjek atau objek dalam suatu wilayah tertentu dan memiliki jumlah serta karakteristik tertentu yang dipilih oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014).
Seseorang yang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau studi sensus (Sabar, 2007) sehingga dalam penelitian ini, ditetapkan populasinya adalah seluruh pengguna Mobile Legends: Bang Bang Indonesia yang pernah menggunakan hero skin dalam permainannya.
3.2.2. Sampel
Menurut Sugiyono (2008), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam banyak penelitian
dimana jumlah populasinya besar, peneliti tidak mungkin mampu mempelajari setiap elemen populasi tersebut. Maka dari itu, peneliti dapat mengambil sampel yang diambil dari populasi tersebut untuk mewakili keseluruhan populasinya.
Untuk itu, sampel yang diambil dari populasi harus representatif dari populasi yang ada agar hasil uji yang dilakukan pada sampel dapat mewakili jumlah populasi yang besar tersebut.
Pada penelitian ini, jumlah gamers yang menggunakan hero skin di Indonesia tidak diketahui secara pasti jumlahnya, sehingga untuk menghitung jumlah sampel minimum yang dibutuhkan, penulis menggunakan rumus Lemeshow untuk populasi yang tidak diketahui (Lemeshow et al, 1997).
Keterangan:
n = jumlah sampel
Z =skor Z pada kepercayaan 95% = 1.96 P = maksimal estimasi = 0.5
d = sampling error = 10%
Dari perhitungan diatas, penulis menetapkan sampel sebanyak 100 pengguna yang dianggap dapat mewakili/merepresentasikan keseluruhan populasi yang belum diketahui jumlahnya.
Rumus 3.1. Rumus Lemeshow (1997)
3.2.3. Teknik Penarikan Sampel
Sampling dalam penelitian ini akan menggunakan kuisioner dalam bentuk google forms sebagai alat bantu peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non- probability sampling, dimana semua populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden sampel. Jenis pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014:122). Penulis menetapkan purposive sampling karena tidak semua responden memiliki kriteria yang diinginkan penulis. Oleh karena itu, penulis menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi calon responden sebelum menjadi responden penelitian ini diantara lain;
- Responden aktif bermain Mobile Legends: Bang Bang setidaknya dengan intensitas minimal 4-5 kali dalam seminggu.
- Responden pernah / aktif menggunakan hero skin dalam battle.
3.3. Jenis dan Sumber Data 3.3.1. Jenis Data
Jenis data yang akan diekstrak dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang dinyatakan dalam bentuk angka (numerik). Data kuantitatif yang digunakan adalah dalam bentuk skala Likert yang diperoleh dari hasil pengisian kuisioner melalui google forms.
3.3.2. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2, yaitu:
- Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti secara khusus untuk menyelesaikan masalah penelitian (Malhotra, 2004). Data ini diperoleh secara langsung dari penyebaran kuisioner responden sebagai sumber informasi.
- Data Sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh peneliti dengan maksud untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
(Malhotra, 2004). Data ini diperoleh dari literature, jurnal, teori atau catatan yang berhubungan.
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan beberapa pertanyaan secara tertulis untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2014). Kuisioner terdiri dari dua bagian, yaitu yang pertama mengenai profil responden secara umum (jenis kelamin, umur, domisili, dll.) dan yang kedua berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan self-congruity, brand love, dan customer engagement dengan menggunakan skala Likert.
3.4.2. Skala Pengukuran
Pengukuran kuisioner yang digunakan menggunakan skala Likert yang berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap sebuah objek (Sugiyono, 2014). Menurut Malhotra (2004, p. 258), skala Likert merupakan sebuah pengukuran skala dengan lima kategori. Kategori ini dimulai dari “sangat tidak setuju” hingga “sangat setuju” dan responden diharuskan untuk menunjukkan kesetujuan ataupun ketidaksetujuan yang berkaitan dengan pertanyaan yang ada.
Namun pengukuran skala Likert ini sangat sensitif karena berhubungan dengan penilaian seseorang. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti menggunakan pernyataan positif yang dapat dijawab sesuai dengan jawaban yang ada sehingga tidak menimbulkan bias atau pengertian ganda jika memiliki dua jenis pernyataan (positif dan negatif).
Tabel 3.1. Tabel Skala Pengukuran Likert Scale
Keterangan Skor
Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju
Netral Setuju
Sangat Setuju
(STS) (TS) (N) (S) (SS)
1 poin 2 poin 3 poin 4 poin 5 poin
3.5. Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian adalah segala bentuk hal yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dengan tujuan memperoleh informasi dari hal tersebut dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014).
3.5.1. Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mempunyai pengaruh atau menjadi sebab berubahnya atau timbulnya variabel dependen/terikat (Sugiyono, 2014). Variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah self-congruity.
3.5.1.1.Self -congruity (X)
Self-congruity adalah ketika konsep diri konsumen cocok dengan citra/image produk, entah dari sisi aktual, ideal, sosial, maupun ideal-sosial. Self- congruity dapat diukur dari beberapa dimensi sebagai berikut;
X.1. Actual self-congruity merupakan suatu keadaan dimana product image merefleksikan karakter konsumen yang sebenarnya. Actual self-congruity dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
X.1.1. Skin hero yang saya pilih merefleksikan karakter saya (misal;
berani, misterius, ceria, kuat, dan lain-lain).
X.1.2. Skin hero yang saya pilih sesuai dengan gaya berpakaian saya.
(misal: tertutup, berwarna-warni, monokrom, sederhana, nyentrik, dan lain-lain).
X.2. Ideal self-congruity merupakan suatu keadaan dimana product image merefleksikan karakter konsumen yang diidamkan. Ideal self-congruity dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
X.2.1. Saya ingin memiliki karakter seperti skin hero yang saya pilih (misal: ingin menjadi misterius, ingin menjadi tangguh, ingin menjadi feminin, dan lain-lain).
X.2.2. Saya ingin memiliki gaya berpakaian seperti skin hero yang saya pilih (misal: ingin terlihat seksi, ingin terlihat macho, ingin terlihat keren, dan lain-lain).
X.3. Actual social self-congruity merupakan suatu keadaan dimana product
image merefleksikan gambaran karakter konsumen yang sebenarnya yang ada dibenak konsumen saat berinteraksi dengan orang lain. Actual social self-congruity dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
X.3.1. Saat saya berinteraksi dengan orang lain, skin hero yang saya pilih merefleksikan karakter saya (misal; saat berinteraksi dengan orang lain, saya cenderung misterius; saat berinteraksi dengan orang lain, saya cenderung ceria; saat berinteraksi dengan orang lain, saya cenderung berani; dan lain-lain).
X.3.2. Skin hero yang saya pilih sesuai dengan gaya berpakaian saya didepan orang lain (misal; feminin, maskulin, rapi, sopan, anggun, dan lain-lain).
X.4. Ideal social self-congruity merupakan suatu keadaan dimana product image merefleksikan gambaran karakter konsumen yang diinginkan konsumen untuk dimiliki oleh orang lain saat berinteraksi dengan orang tersebut. Ideal social self-congruity dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
X.4.1. Saat saya berinteraksi dengan orang lain, saya ingin menjadi seperti skin hero yang saya pilih dibenak orang yang saya ajak bicara (misal; saat berinteraksi dengan orang lain, saya ingin orang lain beranggapan saya berkarisma; saat berinteraksi dengan orang lain, saya ingin orang lain beranggapan saya bersemangat; saat berinteraksi dengan orang lain, saya ingin orang lain beranggapan saya lucu; dan lain-lain).
X.4.2. Saya ingin berpakaian dengan gaya seperti skin hero yang saya pilih didepan orang lain (misal; feminin, maskulin, rapi, sopan, anggun, dan lain-lain).
3.5.2. Variabel Intervening
Variabel intervening merupakan sebuah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak
langsung dan dapat diamati serta diukur (Sugiyono, 2008). Dalam penelitian ini, variable interveningnya adalah brand love.
3.5.2.1. Brand love (Y)
Brand love didefinisikan sebagai derajat keterikatan emosional yang bergairah yang dimiliki oleh konsumen yang puas terhadap sebuah merk dagang tertentu. Brand love dapat diukur dari beberapa dimensi sebagai berikut;
Y.1. Liking
Liking (intimacy) berbicara mengenai perasaan dalam sebuah hubungan yang mendorong adanya kedekatan, keterikatan, dan keterhubungan.
Y.1.1. Saya merasa dekat dengan hero yang saya pilih dengan pemakaian skin tertentu.
Y.1.2. Saya merasa ada suatu hubungan yang spesial antara saya dengan hero yang saya pilih dengan pemakaian skin tertentu.
Y.1.3. Saya rela menghabiskan sumber daya (dengan diamond/fragment) untuk membeli skin agar hero saya lebih spesial.
Y.2. Yearning adalah keadaan dimana yang satu merindukan persatuan dengan yang lain. Yearning dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
Y.2.1. Saya merasa hero yang menggunakan skin khusus sangat menarik.
Y.2.2. Mengikuti update skin sangat menyenangkan bagi saya.
Y.2.3. Memakai skin tertentu membuat saya bersemangat bermain.
Y.3. Commitment adalah sebuah dedikasi yang dibuat konsumen untuk tetap berhubungan/berinteraksi dengan sebuah produk/brand. Commitment dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
Y.3.1. Saya akan menggunakan skin sebisa saya.
Y.3.2. Saya merasa menggunakan skin adalah keputusan yang tepat.
3.5.3. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang terpengaruh atau yang menjadi akibat dari variabel independen (Sugiyono, 2008). Dalam penelitian ini, variabel dependen (Z) adalah customer engagement.
3.5.3.1. Customer engagement (Z)
Customer engagement adalah serangkaian aktivitas/upaya interaksi dalam rangka memperkuat investasi emosional, psikologis, dan fisik yang diberikan konsumen terhadap sebuah brand. Customer engagement dapat diukur dari beberapa dimensi sebagai berikut;
Z.1. Conscious attention adalah tingkat ketertarikan yang dimiliki/ingin dimiliki oleh seseorang untuk berinteraksi pada fokus engagementnya.
Conscious attention dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
Z.1.1. Apapun yang berkaitan dengan Mobile Legends: Bang Bang mencuri perhatian saya.
Z.1.2. Saya ingin tahu lebih jauh mengenai segala hal tentang Mobile Legends: Bang Bang.
Z.2. Enthused participation adalah reaksi atau perasaan bergairah dan bersemangat yang dimiliki seseorang ketika menggunakan atau berinteraksi dengan fokus engagementnya. Enthused participation dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
Z.2.1. Saya menghabiskan banyak waktu senggang saya untuk bermain Mobile Legends: Bang Bang.
Z.2.2. Saya sangat bersemangat bermain Mobile Legends: Bang Bang.
Z.3. Social connections adalah derajat interaksi yang lebih tinggi yang tercermin melalui pengikutsertaan orang lain kedalam fokus engagementnya, sehingga mengindikasikan adanya hubungan timbal-balik dengan keberadaan pihak ketiga. Social connections dapat diukur dengan beberapa indikator empiris sebagai berikut;
Z.3.1. Saya suka bermain Mobile Legends: Bang Bang dengan teman- teman saya.
Z.3.2. Bermain Mobile Legends: Bang Bang lebih asyik saat saya bermain dengan teman-teman saya.
3.6. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah cara untuk mengolah data yang didapat dari responen menjadi sebuah data informasi yang nantinya akan digunakan sebagai kesimpulan dari penelitian ini.
3.6.1. Path Analysis
Dalam penelitian ini, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik path analysis untuk menunjukkan adanya hubungan yang kuat antar variabel yang diuji. Teknik path analysis digunakan untuk melukiskan dan menguji model hubungan antar variabel yang mempunyai bentuk sebab akibat (Sugiyono, 2008).
Teknik ini merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkan dari sebuah variabel.
Pengujian statistik pada model path analysis dilakukan dengan menggunakan metode partial least square atau biasa dikenal dengan PLS. PLS (partial least square) merupakan bagian dari SEM, yang merupakan teknik baru yang banyak diminati karena tidak membutuhkan distribusi normal atau dapat dikatakan sebuah penelitian dengan jumlah sampel yang sedikit. PLS digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan menjelaskan hubungan teroritikal antara keduanya. Dalam penghitungannya, program aplikasi yang digunakan adalah software SmartPLS. Yang menjadi pertimbangan penulis dalam menggunakan PLS adalah kelebihannya dalam menangani model yang kompleks dengan multiple independent dan dependent dengan banyak indikator, dapat digunakan pada sampel dengan jumlah yang kecil, dan tidak ada data error atau missing value (Abdillah & Hartono, 2015).
3.6.2. Indicator Reliability dan Internal Consistency Reliability
Pengukuran reliabilitas dan validitas dapat dilakukan menggunakan beberapa teknik pengukuran. Untuk mengukur seberapa reliable indikator yang digunakan, dapat digunakan pengukuran indicator reliability dan internal consistency reliability. Evaluasi reliability ini dilakukan untuk memastikan data yang digunakan didalam penelitian ini sudah konsisten. Hal ini perlu dilakukan
karena data yang tidak konsisten dapat berpengaruh besar terhadap output data yang akan diuji selanjutnya.
Sebuah indikator tergolong memiliki reliablity yang cukup baik apabila indicator reliabilitynya bernilai 0,40-0,70 dan dikatakan baik apabila nilainya lebih besar dari 0,70. Kemudian, nilai internal consistency reliability didapat dari composite reliability (Abdillah & Hartono, 2015). Sebuah latent variable akan dinyatakan reliable apabila nilai composite reliabilitynya lebih besar dari 0,70.
3.6.3. Convergent Validity dan Discriminant Validity
Dalam penelitian ini, penulis menguji validitas data dengan menggunakan convergent validity dan discriminant validity yang bertujuan untuk memastikan apakah variabel yang digunakan dalam penelitian ini akurat dalam melakukan pengolahan data. Validitas konvergen berbicara mengenai prinsip bahwa pengukur (manifest variable) dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi.
Rule of thumb yang digunakan untuk menilai validitas konvergen adalah nilai loading yang harus lebih dari 0.7 atau nilai AVE yang harus lebih dari 0.5 barulah data dapat dikatakan sebagai data yang valid. Variabel akan dinyatakan valid apabila nilai AVE yang telah diakar pangkat dua lebih besar (>) dari korelasi setiap latent variable yang berhubungan. Sebaliknya, discriminant validity berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur atau manifest variable konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi. Cara untuk menguji data yaitu dengan melihat nilai cross loading untuk tiap variabel yang harus lebih besar dari 0.7 (Abdillah & Hartono, 2015). Selain itu, metode lain untuk menilai discriminant validity dengan membandingkan akar kuadrat dari nilai AVE masing-masing variabel latent. Nilai ini harus lebih besar dari korelasi variabel laten lainnya agar dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik.
3.6.4. Inner Model atau Model Struktural
Berdasarkan teori subtantif, inner model atau yang disebut juga dengan model structural menggambarkan hubungan antara variabel laten. Inner model dievaluasi dengan menggunakan nilai R-square untuk konstruk dependen.
Sedangkan untuk model structural, digunakan Q-Square predictive relevance.
Yang terkhir, digunakan uji t serta signifikansi dari koefisien paremeter jalur struktural.
Pengujian menggunakan R-square untuk melihat setiap variabel laten dependen (laten endogen). Interpretasi pengujian ini sama dengan interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai apakah variabel laten independen (laten eksogen) tertentu mempunyai pengaruh yang subtantif terhadap variabel laten dependen (laten endogen). Pada model PLS melihat nilai R-square dengan melihat Q-square prediktif relevansi untuk model konstruktif. Apabila nilai R2 berada diantara 0.25 – 0.50, maka dinyatakan lemah, jika nilai R2 berada diantara 0.50 – 0.75 dikatakan sedang, jika > 0.75 maka data dinyatakan substansial.
Untuk model struktural, penilaian Q-Square predictive relevance dilakukan untuk mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Apabila nilai Q-square > 0, berarti menunjukkan model tersebut memiliki predictive relevance. Sebaliknya, jika nilai Q-Square ≤ 0 menunjukkan model tersebut kurang memiliki predictive relevance. Perhitungan Q-Square dilakukan dengan rumus:
Dalam persamaan ini, R1 2 , R22 ... Rp2 adalah R-square variabel endogen dalam model persamaan. Besaran Q2 memiliki nilai dengan rentang 0 < Q2 < 1, dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. T-test dapat dilakukan juga untuk menilai stabilitas dari estimasi ini (Abdillah & Hartono, 2015).
3.6.5. T-Test
Prosedur t-test dilakukan untuk menguji hipotesis mediasi (variabel intervening). Agar peneliti dapat mengatakan pengaruh sebuah variabel dapat dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak, peneliti perlu melakukan pengujian t-test digunakan untuk mendapatkan nilai t-statistik yang diperlukan. T- test dilakukan dengan menggunakan metode bootstrapping. Metode bootstrapping adalah suatu proses pengujian re-sampling yang dilakukan oleh sistem komputer untuk mengukur akurasi pada sample estimate. Variabel baru dapat dikatakan
Rumus 3.2. Q-square
signifikan apabila nilai bootstrap lebih dari (>) 1.96 sedangkan apabila nilai bootstrap lebih rendah (<) dari 1.96, maka dinyatakan pengaruh variabel tersebut lemah (Abdillah & Hartono, 2015).
3.6.6. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, sehingga lebih mudah dipahami dan dintrepretasikan dan dapat digunakan untuk menarik suatu kesimpulan dari hasil penelitian (kuisioner) yang telah dilakukan.