• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

1

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

BIRO BINA PEREKONOMIAN

SETDA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TAHUN 2013 – 2018

(2)

2 DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ………... ... 1

1.2. Landasan Hukum ……… ... 2

1.3. Maksud dan Tujuan ... 2

1.4. Sistematika Penulisan ………. ... 3

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD ... 5

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi SKPD ... 5

2.2. Sumberdaya SKPD ……… ... 6

2.3. Kinerja Pelayanan SKPD ……….... 11

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD .... 15

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI ... 18

3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD ... 18

3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih ………. ... 19

3.3. Penentuan Isu-isu Strategis ……….………… ... 26

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN ……… 28

4.1. Visi dan Misi Biro Bina Perekonomian ……….……….. 28

(3)

3

4.2. Tujuan dan Sasaran ……… 28

4.3. Startegi dan Kebijakan ……….. 30

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF ... 31

5.1. Program dan Kegiatan ……….……… ... 31

5.2. Indikator Kinerja ………. ... 33

5.3. Matriks Program, kegiatan, indikator Kinerja dan Pendanaan Indikatif ……….. ... 33

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD ………. ... 34

6.1. Sasaran RJMD ………. ... 34

6.2. Indikator Kinerja Biro Bina Perekonomian ……… 35

BAB VII PENUTUP ………. ... 37

(4)

4 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah dalam koridor Undang- undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional memerlukan pemahaman yang utuh dari seluruh penyelenggara pemerintahan baik di pusat dan maupun daerah untuk menciptakan sinergitas antara pusat dan daerah dalam mengoperasionalkan strategi implementasi kebijakan desentralisasi dalam bentuk perencanaan pembangunan daerah khususnya yang terkait penyelenggaraan urusan pemerintah.

Bagi Provinsi, sebagai wakil Pemerintah Pusat, pelaksanaan desentralisasi memiliki arti yang besar walaupun dengan kewenangan yang diberikan sangat terbatas, namun dalam penyelenggaraan pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan juga masih diperlukan sebagai bagian dari pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pemerintah oleh Kabupaten dan Kota.

Biro Bina Perekonomian merupakan salah satu unsur staf Sekretariat Daerah Provinsi yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk menyiapkan bahan dan melaksanakan koordinasi, pembinaan, fasilitasi, monitoring serta evaluasi, penyusunan dan penyelenggaraan kebijakan dibidang ekonomi kerakyatan, sarana perekonomian, produksi, distribusi dan pemasaran serta kelembagaan ekonomi dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan di era globalisasi dengan tuntunan alam kompetisi yang sangat ketat, persaingan pasar dunia akan sangat mempengaruhi kehidupan rakyat, pemerataan dan peningkatan pembangunan daerah yang berdasarkan kemandirian dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu diperIukan adanya perencanaan strategis sebagai dasar dalam melaksanakan tupoksi yang akan menjadi indikator utama dalam pelaksanaan dan evaluasi kinerja kegiatan dari tupoksi tersebut.

Penyusunan Rencana Starategis Biro Bina Perekonomian merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Rencana Strategis Biro Bina Perekonomian Tahun 2013–2018 merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013–2018. Penyusunan

(5)

5 dokumen perencanaan tersebut diatas, juga merupakan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah.

1.2 Landasan Hukum

Landasan hukum penyusunan rencana strategis Biro Bina Perekonomian tahun 2013–2018 adalah sebagai berikut:

1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara No. 9437);

3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang RPJM Nasional;

4) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan Dokumen Rencana;

6) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tambahan Lembaran Daerah Nomor 235);

7) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2008 tentang Sturktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Provinsi;

8) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang RPJP Daerah Provinsi Sulawesi Selatan;

9) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan;

10) Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Tugas dan Fungsi Organisasi Lingkup Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan;

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan Renstra ini adalah sebagai pedoman bagi seluruh unsur Biro Bina Perekonomian dalam melaksanakan program dan

(6)

6 kegiatan selama kurun waktu 5 (lima) tahun serta alat untuk mewujudkan sinkronisasi dan sinergitas program dan kegiatan dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya yang berkaitan dengan Biro Bina Perekonomian.

Sedangkan tujuan penyusunan Renstra Biro Bina Perekonomian adalah mewujudkan peran Biro Bina Perekonomian dalam pencapaian visi dan misi Kepala Daerah yang tercantum didalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013 – 2018.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penyusunan rencana strategis Biro Bina Perekonomian tahun 2013–2018 adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum 1.3. Maksud dan Tujuan 1.4. Sistematika Penulisan BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi SKPD 2.2. Sumber Daya SKPD

2.3. Kinerja Pelayanan SKPD

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD

3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih.

3.3. Penentuan Isu-isu Strategis

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi SKPD.

4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD 4.3. Strategi dan Kebijakan

(7)

7 BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA,

KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF 5.1. Program dan Kegiatan

5.2. Indikator Kinerja

5.3. Matriks Program, kegiatan, indikator Kinerja dan Pendanaan Indikatif

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

BAB VII PENUTUP

(8)

8 BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi SKPD

Berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 57 Tahun 2012 tentang tugas pokok, fungsi dan rincian tugas jabatan struktural pada Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Biro Bina Perekonomian mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

a. Tugas Pokok

Menyiapkan bahan, koordinasi, pembinaan, fasilitasi, monitoring serta evaluasi penyusunan dan penyelenggaraan kebijakan dibidang ekonomi kerakyatan, sarana perekonomian, produksi, distribusi dan pemasaran serta kelembagaan ekonomi.

b. Fungsi :

1) Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, penyusunan kebijakan, fasilitasi pemantauan, pelaporan di bidang ekonomi kerakyatan serta pelaksanaan penatausahaan Biro Bina Perekonomian ;

2) Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, penyusunan kebijakan, fasilitasi pemantauan, pelaporan dibidang sarana perekonomian ;

3) Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, penyusunan kebijakan, fasilitasi pemantauan, pelaporan dibidang produksi, distribusi dan pemasaran ; 4) Penyelenggaraan koordinasi, pembinaan, penyusunan kebijakan, fasilitasi

pemantauan, pelaporan dibidang kelembagaan ekonomi ; dan 5) Penyelenggaraan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

Struktur Organisasi Biro Bina Perekonomian.

Struktur Organisasi Biro Bina Perekonomian adalah sebagai berikut :

(9)

9 Gambar Struktur Organisasi Biro Bina Perekonomian

2.2. Sumber Daya SKPD 2.2.1. Sumberdaya Manusia

Sumber daya manusia merupakan komponen penting dalam menjalankan kinerja organisasi secara keseluruhan. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan terutama dalam menciptakan Biro Bina Perekonomian sebagai unit kerja perumus kebijakan bagi pimpinan daerah dan Pemerintah Daerah.

Komposisi pegawai saat ini berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 19 orang laki-laki atau 41,3% dan perempuan sebanyak 26 orang atau 58,7%, sebagaimana disajikan dalam Tabel 2.1. Sedangkan komposisi Pegawai Biro Administrasi Perekonomian berdasarkan tingkat golongan yaitu golongan IV sebanyak 7 orang atau 17,39%, golongan III sebanyak 24 orang atau 56,52% dan golongan II sebanyak 14 orang atau 26,08%, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.2. Adapun komposisi pegawai berdasarkan tingkat pendidikan yaitu Pasca Sarjana (S-2) 12 orang atau 28,26%, Sarjana (S-1) 19 orang atau 39,13%, Diploma 2 orang atau 6,52%, dan sisanya yang berpendidikan SLTA sebanyak 12 orang atau 28,26% seperti tertera pada tabel 2.3.

BIRO BINA PEREKONOMIAN

BAGIAN TATA USAHA DAN BINA EKONOMI KERAKYATAN

BAGIAN

BINA KELEMBAGAAN EKONOMI BAGIAN

BINA PRODUKSI, DISTRIBUSI DAN PEMASARAN BAGIAN BINA SARANA

PEREKONOMIAN

SUB BAGIAN SARANA PERHUBUNGAN, TELEKOMUNIKASI DAN

PARIWISATA

SUB BAGIAN SARANA PERINDUSTRIAN DAN

PERDAGANGAN

SUB BAGIAN SARANA BUMN DAN BUMD

SUB BAGIAN BINA PRODUKSI

SUB BAGIAN BINA DISTRIBUSI

SUB BAGIAN BINA PEMASARAN

SUB BAGIAN BINA KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM

SUB BAGIAN BINA KELEMBAGAAN

KEUANGAN

SUB BAGIAN BINA PENGEMBANGAN

EKONOMI SYARIAH SUB BAGIAN

PENGEMBANGAN EKONOMI KERAKYATAN

SUB BAGIAN MONITORING, EVALUASI

DAN PELAPORAN SUB BAGIAN TATA USAHA

(10)

10 Tabel 2.1

Rekapitulasi Pegawai Biro Bina Perekonomian Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2013

NO PERSONIL JENIS KELAMIN JUMLAH

LAKI-LAKI PEREMPUAN

1 2 3 4 5

1 Kepala Biro Bina Perekonoman 1 - 1

2 Kepala Bagian 2 2 4

3 Kepala Sub Bagian 6 6 12

4 Sub Bagian Tata Usaha 1 6 7

5 Sub Bagian Pengembangan Ekonomi

Kerakyatan 1 - 1

6 Sub Bagian Monitoring, Evaluasi dan

Pelaporan 2 - 2

7 Sub Bagian Sarana Perhubungan,

Telekomunikasi dan Pariwisata 1 1 2

8 Sub Bagian Sarana Perindustrian

dan Perdagangan 1 1 2

9 Sub Bagian Sarana BUMN dan BUMD - 3 3

10 Sub Bagian Bina Produksi 2 1 3

11 Sub Bagian Bina Distribusi - 2 2

12 Sub Bagian Bina Pemasaran - 1 1

13 Sub Bagian Bina Kelembagaan

Koperasi dan UKM 1 - 1

14 Sub Bagian Bina Kelembagaan

Keuangan - 2 2

15 Sub Bagian Bina Pengembangan

Ekonomi Syariah - 2 2

JUMLAH 19 26 45

Sumber : Data Kepegawaian Biro Bina Perekonomian tahun 2015

(11)

11 Tabel 2.2

Rekapitulasi PNS Berdasarkan Golongan

Di Biro Bina Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013

N

O UNIT KERJA JML

PNS

GOLONGAN

IV III II I

A B C D E JML A B C D JML A B C D JML A B C D JML

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

1 Kepala Biro Bina Perekonoman 1 - - 1 - - 1 - - - -

2 Kepala Bagian 4 1 3 - - - 4 - - - -

3 Kepala Sub Bagian 12 2 - - - - 2 - - 3 7 10 - - - -

4 Sub Bagian Tata Usaha 7 - - - 2 2 - - 4 2 1 - - 3 - - - - -

5 Sub Bagian Pengembangan

Ekonomi Kerakyatan 1 - - - 1 - - 1 - - - -

6 Sub Bagian Monitoring, Evaluasi

dan Pelaporan 3 - - - 1 - - 1 2 - - 1 - 1 - - - - -

7 Sub Bagian Sarana

Perhubungan, Telekomunikasi dan Pariwisata

2 - - - 1 - - - 1 - - 1 - 1 - - - - -

8 Sub Bagian Sarana Perindustrian

dan Perdagangan 2 - - - 1 - - - 1 - - 1 - 1 - - - - -

9 Sub Bagian Sarana BUMN dan

BUMD 3 - - - 2 - 1 3 - - - -

10 Sub Bagian Bina Produksi 3 - 1 - - - 1 1 - - - 1 - 1 - - 1 - - - - - 11 Sub Bagian Bina Distribusi 2 - - - 2 2 - - - - 12 Sub Bagian Bina Pemasaran 1 - - - 1 - - 1 - - - - - 13 Sub Bagian Bina Kelembagaan

Koperasi dan UKM 1 - - - 1 - 1 - - - - -

14 Sub Bagian Bina Kelembagaan

Keuangan 2 - - - 1 - - 1 - 1 - - 1 - - - - -

(12)

12 15 Sub Bagian Bina Pengembangan

Ekonomi Syariah 2 - - - 1 - - 1 2 - - - -

Jumlah 45 4 4 1 - - 7 6 6 3 10 24 3 4 4 1 14 - - - - -

Table 2.3

Rekapitulasi PNS Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Di Lingkungan Biro Bina Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan

NO UNIT KERJA PENDIDIKAN

JUMLAH

S3 S2 S1 D3 D2 SLTA SLTP SD

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Kepala Biro Bina Perekonoman - 1 - - - 1

2 Kepala Bagian - 2 2 - - - 4

3 Kepala Sub Bagian - 6 6 - - - 12

4 Sub Bagian Tata Usaha - - 1 - - 5 - - 6

5 Sub Bagian Pengembangan Ekonomi Kerakyatan - - 1 - - - 1

6 Sub Bagian Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan - 1 1 1 - - - - 3

7 Sub Bagian Sarana Perhubungan, Telekomunikasi dan Pariwisata

- - 1 1 - - - - 2

8 Sub Bagian Sarana Perindustrian dan Perdagangan - - - 1 - 1 - - 2

9 Sub Bagian Sarana BUMN dan BUMD - 2 1 - - - 3

10 Sub Bagian Bina Produksi - 1 1 - - 1 - - 3

11 Sub Bagian Bina Distribusi - - 2 - - - 2

12 Sub Bagian Bina Pemasaran - - - 1 - - 1

13 Sub Bagian Bina Kelembagaan Koperasi dan UKM - - - 1 - - 1

14 Sub Bagian Bina Kelembagaan Keuangan - - - 2 - - 2

(13)

13

15 Sub Bagian Bina Pengembangan Ekonomi Syariah - - - 2 - - 2

JUMLAH - 12 19 2 - 12 - - 45

Sumber : Data Kepegawaian Biro Bina Perekonomian tahun 2015

(14)

14 2.2.2. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang ada / tersedia untuk mendukung operasional pelaksanaan tugas – tugas Biro Bina Perekonomian dalam lingkup Sekretariat Daerah selama tahun 2015 tercatat sebagai berikut :

1. Kendaraan dinas sebanyak 12 buah, terdiri dari kendaraan roda 4 sebanyak 6 buah, dan kendaraan roda 2 sebanyak 9 unit dalam keadaan baik 6 buah, rusak berat 3 unit ( kendaraan roda dua ).

2. Gedung kantor yang cukup representatif, dimana beberapa ruangan telah dilengkapi dengan air conditioner sebanyak 16 unit (AC) 4 (empat) Rusak dan Alat studio (kamera) 4 unit 3 diantaranya rusak.

3. Peralatan komputer sebanyak 19 unit, notebook 10 Unit 2 diantaranya rusak berat, LCD 2 Unit dalam kondisi baik dan2 buah mesin ketik 1 buah dalam kondisi baik dan 1 buah dalam kondisi rusak, serta meja dan kursi untuk mendukung kelancaran tugas.

4. Sarana komunikasi kantor terdapat 2 (dua) buah Telepon dan disetiap ruangan dilengkapi PABX dan Jaringan Internet.

2.3. Kinerja Pelayanan SKPD

Arah kebijakan Renstra Biro Bina Perekonomian Tahun 2008 – 2013 yang diimplementasikan dalam berbagai program dan kegiatan telah menunjukkan hasil yang baik, dengan capaian sebagai berikut:

1. Sejumlah kegiatan fasilitasi dan koordinasi yang telah dilaksanakan dengan SKPD terkait dan perbankan dalam mendorong peningkatan produksi sektor pertanian telah membuahkan hasil dengan meningkatnya produksi di sektor pertanian.

Berdasarkan potensi dan kinerjanya, terdapat tujuh komoditi pertanian yang ditetapkan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan sebagai komoditi unggulan.

Komoditi tersebut yaitu beras, jagung, kakao, udang, rumput laut, ikan bandeng dan sapi potong.

Sulawesi Selatan berkontribusi besar dalam penyediaan beras di Indonesia, karena merupakan daerah penghasil surplus beras terbesar di Indonesia.

Produksi beras pada tahun 2008 sebesar 2.490.432 ton meningkat menjadi 3.048.000 ton pada tahun 2012. Dengan konsumsi sebesar 867,191 ton pertahun maka Sulawesi Selatan mengalami surplus beras sebanyak 2.180.809 ton.

(15)

15 Produksi jagung pada 2008 sebanyak 1.195.064 ton meningkat menjadi 1.514.608 ton pada tahun 2012 dan berkontribusi sebesar 7% terhadap produksi jagung nasional. Produksi kakao pada 2008 sebesar 110.000 ton meningkat menjadi 196.537 ton pada 2012 yang berkontribusi sekitar 27%

terhadap produksi nasional. Produksi udang pada 2008 sebesar 17.730 ton meningkat mejadi 29.268 ton pada tahun 2012 dengan kontribusi 6% terhadap produksi nasional. Kakao dan udang merupakan komoditi yang menciptakan devisa melalui ekspor. Populasi sapi potong pada 2008 sebanyak 703.000 ekor meningkat menjadi 1.152.053 ekor pada 2012. Ikan bandeng 60.548 ton pada 2008 meningkat menjadi 94.251 ton pada 2012. Sementara rumput laut pada 2008 sebesar 748.000 meningkat menjadi 1.774.248 pada 2012.

2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam menurunkan angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan;

Membaiknya kinerja perekonomian Sulawesi Selatan turut meningkatkan kesempatan kerja dan mengurangi angka kemiskinan di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2007, jumlah penduduk miskin 1.083,40 ribu orang atau 14 persen dari total penduduk, menurun drastic menjadi 825,79 ribu orang pada 2012 atau 9,20 persen. Penurunan jumlah penduduk miskin didorong oleh semakin membaiknya perekonomian makro Sulawesi Selatan yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan semakin terbuka luas lapangan kerja khususnya di sektor perdagangan, hotel, restaurant dan sektor jasa-jasa serta tingkat inflasi yang cukup rendah (dibawah rata-rata nasional) pada beberapa tahun terakhir.

Angka pengangguran terbuka pada 2007 sebesar 9 persen menurun setiap tahun hingga mencapai 6,56 persen dari angkatan kerja pada 2011.

Peningkatan penyerapan enaga kerja sebagai akibat dari semakin berkembangnya aktivitas ekonomi khusunya di sector perdagangan, hotel dan restaurant serta transportasi dan komunikasi

3. Sejumlah kegiatan fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap akses pendanaan usaha kecil, menengah dan koperasi dapat dilihat dari posisi kredit kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah pada Desember 2012 yang mencapai Rp.19,46 Triliun atau meningkat sebesar 8,56% dibandingkan

(16)

16 dengan tahun 2011 yang tercatat sebesar Rp. 17,93 Triliun. Menurut jenis penggunaannya, modal kerja memberikan sumbangan peningkatan dan porsi terbesar yaitu 8,35% dan 73,34%. Adapun porsi kredit UMKM tersebut sebesar 27,52% dari total kredit keseluruhan.

Pengembangan ekonomi syariah juga aktif disosialisasikan melalui workshop dan rapat koordinasi Pengembangan Ekonomi Syariah di Sulawesi Selatan.

Perkembangan perbankan syariah di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan yang cukup pesat dan memiliki prospek pengembangan yang baik.

4. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sarana perekonomian dalam peningkatan kinerja perekonomian di Provinsi Sulawesi Selatan;

Beberapa hasil dari kegiatan fasilitasi dan koordinasi sebagai berikut :

- Pemanfaatan Asset Milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam bentuk kerjasama Bangun Guna Serah

- Penyelesaian masalah saham Perusda Sulsel (Hotel Imperial Aryaduta) pada PT. Lippo Karawaci dengan kompensasi pembangunan hotel di Maccini Sombala.

- Restrukturisasi Perusda Agribisnis dan terbentuknya Perusahaan Lembaga Penjamin Kredit Daerah.

- Monitoring pelaksanaan kegiatan PT. Bank Sulselbar (Pembukaan Cabang di Jakarta dan di Kabupaten / Kota di Sulsel).

- Koordinasi dalam penerbitan Izin Prinsip Operasional Taxi sesuai undang- undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan orang di jalan.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan cukup tinggi dan diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2008 ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 7,78% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,1%.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2009 sebesar 6,23% seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,63%. Tahun 2010, ekonomi Sulawesi Selatan kembali tumbuh sebesar 8,19% jauh lebih tinggi dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,2%. Tahun 2011 tumbuh

(17)

17 sebesar 7,61% dan tahun 2012 mengalami peningkatan yang cukup besar menjadi 8,37%.

Pertumbuhan ekonomi tersebut cukup berkualitas karena laju inflasi cukup terkendali. Pada 2008 inflasi Sulawesi Selatan sebesar 12,4% turun menjadi 3,39% pada 2009. Pada 2010 inflasi relatif naik menjadi 6,56% dan turun menjadi 2,88% pada tahun 2011. Angka inflasi Sulawesi Selatan pada 2010 dan 2011 lebih rendah dari angka inflasi nasional dan menempatkan Sulawesi Selatan sebagai terbaik untuk kawasan timur Indonesia pada penilaian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Award. Dan pada tahun 2012 inflasi Sulawesi Selatan sebesar 4,41% lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 4,3%, namun masih dalam target inflasi nasional sebesar 4,5%±1%.

Terkendalinya laju inflasi tersebut tidak terlepas dari koordinasi yang intensif dari Forum Koordinasi Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (FKPPI) Sulawesi Selatan dimana Biro Bina Perekonomian menjadi sekretariat.

Kegiatan rutin FKPPI adalah :

- Rapat teknis setiap bulan untuk membahas perkembangan inflasi setiap bulannya dan mengambil langkah-langkah antisipasi jika terjadi kenaikan inflasi pada bulan tersebut.

- Pertemuan High Level Meeting dua kali dalam setahun untuk merumuskan kebijakan yang akan diambil untuk mengantisipasi kenaikan harga pada hari besar keagamaan dan tahun baru.

- FKPPI juga mengembangkan Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) yang memuat informasi harga pangan strategis pada 5 pasar tradisional di Makassar yang dimuat pada web site Biro Bina Perekonomian dengan updating setiap hari. SIGAP memuat informasi harga 10 komoditi (beras, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi murni, daging ayam ras, telur ayam ras, cabe merah besar, cabe merah keriting dan bawang merah. Informasi harga komoditi tersebut diperoleh secara harian dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Badan Ketahanan Pangan Daerah yang selanjutnya dipublikasi melalui website oleh admin pada Biro Bina Perekonomian.

- Kegiatan pasar murah yang dilakukan untuk menekan kenaikan harga yang cukup signifikan pada bulan Ramadhan/menjelang hari raya idul fitri.

(18)

18 Beberapa dokumen yang dihasilkan untuk mendukung pengambilan kebijakan pada Biro Bina Perekonomian adalah sebagai berikut :

a. Database Perkembangan Ekonomi Makro Sulsel.

b. Laporan pencapaian pertumbuhan ekonomi daerah dan Laporan perkembangan tingkat inflasi di Sulawesi Selatan.

c. Laporan Analisis Fiskal Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam pelaksanaan program-program strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

d. Data dan Analisis dan Pemetaan Disparitas Pembangunan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

e. Data perbankan syariah dan koperasi syariah di sulsel f. Buku potensi pasar produk unggulan Sulawesi Selatan

g. Data distribusi komoditi yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat h. Case Study Pengembangan Ekonomi Kerakyatan yang dapat dijadikan

model pembentukan lembaga Agribisnis untuk pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Sulawesi Selatan.

i. Need Asseement Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, yang dapat dijadikan acuan dalam mendorong peningkatan akses permodalan bagi pengembangan usaha kecil yang ada di masyarakat baik yang bergerak di sector pertanian maupun jenis usaha lainnya yang berskala kecil yang ada di masyarakat utamnya di daerah pedesaan yang berbasis pada pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan.

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD

Dalam pelaksanaan Tugas pokok dan fungsi Biro Bina Perekonomian berbagai permasalahan dan tantangan yang akan di hadapi di masa mendatang yang perlu menjadi fokus perhatian antara lain:

Bagian Tata Usaha dan Bina Ekonomi Kerakyatan

a) Sarana dan prasarana dalam menunjang peningkatan kinerja Biro Bina Perekonomian masih perlu ditingkatkan;

b) Pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Sulawesi Selatan memerlukan kajian yang lebih mendalam untuk menciptakan model yang tepat guna dan tepat sasaran;

(19)

19 c) Penyusunan laporan pencapaian target ekonomi memerlukan koordinasi

dengan stakeholders terkait;

d) Penyusunan dokumen perencanaan dan Laporan Akuntabilitas Akuntabilitas Kinerja Biro Bina Perekonomian;

e) Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota dalam penyediaan data indikator ekonomi makro yang lebih intensif dalam rangka memetakan potensi ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan yang berbasis Kabupaten dan Kota;

f) Koordinasi dengan stakeholders terkait dalam pengendalian tingkat inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan yang lebih intensif;

Bagian Bina Sarana Perekenomian

a) Peran serta BUMN dan BUMD dalam pembangunan daerah melalui program CSR dan PKBL lebih ditingkatkan;

b) Perusahaan Penjamin Kredit Daerah (PPKD) masih terkendala dengan penyertaan modal sebagai jaminan kredit;

c) Kontribusi sektor industri dan pengolahan utamanya yang berbasis pertanian dalam pertumbuhan ekonomi belum optimal;

d) Pembangunan Industri dalam bentuk kerja sama antara Provinsi dan Kabupaten perlu disempurnakan;

e) Optimalisasi kinerja Perusda Sulsel dalam rangka peningkatan PAD Sulawesi Selatan;

Bagian Produksi Distribusi dan Pemasaran

a) Peningkatan produski sektor pertanian dalam rangka menjaga ketahanan pangan di Sulawesi Selatan memerlukan koordinasi yang intensif

b) Informasi ketersediaan stok bahan pangan perlu ditingkatkan;

c) Informasi harga pangan strategis masih memerlukan sosialisasi lebih lanjut;

d) Informasi dan ketersediaan data mengenai mata rantai jalur distribusi komoditi pertanian masih terbatas;

e) Penyaluran kredit untuk sektor pertanian perlu ditingkatkan untuk mendorong peningkatan produktifitas.

Bagian Kelembagaan Keuangan

a) Penyaluran kredit kepada koperasi dan UMKM masih memerlukan fasilitasi dan koordinasi yang lebih intensif;

b) Kontribusi pembiayaan syariah dalam pembinaan UMKM belum optimal;

(20)

20 c) Belum adanya wadah yang berfungsi sebagai lembaga pemberdayaan secara partisipatif yang dapat mewujudkan kebersamaan untuk menyelesaikan problem UMKM;

d) Peran lembaga keuangan lainnya dalam hal pembiayaan masih memerlukan sosialisasi dan koordinasi yang lebih intensif utamanya di tingkat Kabupaten dan Kota;

(21)

21 BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD

Dalam pelaksanaan Tugas pokok dan fungsi Biro Bina Perekonomian sebagai fasiltator, koordinator dan katalisator pelaksanaan program pembangunan di bidang ekonomi akan menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan dari lingkungan strategis, lingkungan internal maupun eksternal yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Bagian Tata Usaha dan Bina Ekonomi Kerakyatan

a. Sarana dan prasarana dalam menunjang peningkatan kinerja Biro Bina Perekonomian masih terbatas;

b. Pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Sulawesi Selatan memerlukan kajian yang lebih mendalam untuk menciptakan model yang tepat guna dan tepat sasaran;

c. Penyusunan laporan pencapaian target ekonomi memerlukan koordinasi dengan stakeholders terkait;

d. Masih lemahnya koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota dalam penyediaan data indikator ekonomi makro yang lebih intensif dalam rangka memetakan potensi ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan yang berbasis Kabupaten dan Kota;

e. Koordinasi dengan stakeholders terkait dalam pengendalian tingkat inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan belum optimal, sehingga tingkat inflasi yang dipicu oleh bahan makanan masih rentan terjadi;

f. Koordinasi dengan stakeholders terkait dalam pengendalian tingkat inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan masih perlu ditingkatkan;

Bagian Bina Sarana Perekenomian

a. Peran serta BUMN dan BUMD dalam pembangunan daerah melalui program CSR dan PKBL belum optimal;

b. Belum optimalnya peran Lembaga Penjamin Kredit Daerah (LPKD) dalam pengembangan perekonomian daerah;

c. Kontribusi sektor industri dan pengolahan utamanya yang berbasis pertanian belum optimal;

(22)

22 d. Optimalisasi pengembangan Industri strategis dalam bentuk kerja sama antara

Provinsi dan Kabupaten masih memerlukan sosialisi, fasilitasi dan koordinasi ; e. Optimalisasi Perusda Sulsel dalam peningkatan PAD Sulsel;

Bagian Produksi Distribusi dan Pemasaran

a. Belum intensifnya koordinasi dan fasilitasi dalam upaya peningkatan produski sektor pertanian dalam rangka menjaga ketahanan pangan di Sulawesi Selatan;

b. Belum adanya informasi yang dapat diakses masyarakat tentang ketersediaan stok bahan pangan;

c. Informasi harga pangan strategis masih memerlukan sosialisasi dan pengembangan lebih lanjut;

d. Informasi dan ketersediaan data mengenai mata rantai jalur distribusi komoditi pertanian masih terbatas;

e. Penyaluran kredit untuk sektor pertanian perlu ditingkatkan untuk mendorong peningkatan produktifitas.

Bagian Kelembagaan Keuangan

a. Akses masyarakat terhadap lembaga keuangan secara umum masih rendah khususnya yang terkait dengan peningkatan produksi pertanian;

b. Kontribusi Sistem perekonomian syariah sebagai alternatif sumber pembiayaan aktivitas ekonomi masyarakat masih rendah sehingga belum berdampak terhadap peningkatan kinerja perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan ;

c. Peran lembaga keuangan lainnya dalam hal pembiayaan aktivitas perekonomian masyarakat masih memerlukan sosialisasi dan koordinasi yang lebih intensif antar lembaga yang terkait utamanya di tingkat Kabupaten dan Kota;

3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih

3.2.1. Visi Pembangunan Daerah

Berdasarkan permasalahan/isu strategis pembangunan yang potensil dihadapi pada periode 2013-2018, arahan dari RPJPD Sulawesi Selatan, serta arahan dari visi RPJMN 2010-2014, visi pembangunan daerah Sulawesi Selatan 2013-2018 adalah:

(23)

23

“Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan Pada Tahun 2018”

Dalam rumusan visi ini ada tiga pokok visi yakni pilar utama pembangunan Nasional, simpul jejaring, dan akselerasi kesejahteraan. Penjelasan masing-masing pokok visi adalah sebagai berikut.

Pilar Utama Pembangunan Nasional adalah gambaran tentang posisi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang menjadi acuan dan berkontribusi nyata terhadap solusi persoalan mendasar bangsa Indonesia. Persoalan mendasar tersebut khususnya dalam perwujudan katahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan di mana Indonesia masih mengimpor beras, garam, jagung dan daging.

Sulawesi Selatan juga lebih berperan dalam mengembangkan pola ideal perwujudan kehidupan religius dan kerukunan antar umat bergama, selain dapat mengembangkan tata kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, khususnya pada pengembangan demokrasi, dalam substansi dan konteks yang sesuai dengan cara dan karakter Sulawesi Selatan.

Simpul Jejaring adalah gambaran tentang posisi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang semakin menempatkan dirinya sebagai pusat pertumbuhan dan perkembangan luar pulau Jawa, pusat pelayanan barang dan jasa, hub pendidikan, hub kesehatan, serta hub perhubungan darat, laut dan udara. Dengan posisi demikian, Sulawesi Selatan semakin kuat mensinergikan kemajuan kabupaten dan kota serta semakin bersinergi dengan perkembangan regional, nasional dan internasional.

Akselerasi Kesejahteraan adalah gambaran tentang proses dan hasil perubahan pada masyarakat Sulawesi Selatan melalui pengelolaan keragaman modal manusia, sosial, budaya, alam, fisik, dan finansial sehingga dapat mempercepat perwujudan kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Pada saat itu, pertumbuhan ekonomi berada di atas rata-rata nasional, pendapatan perkapita lebih dari Rp.30 juta, angka pengangguran dan angka kemiskinan berada di bawah rata-rata nasional. Agroindustri berkembang pesat sebagai kelanjutan dari perkembangan agribisnis, sementara industri manufaktur dan pertambangan akan berkontribusi signifikan dalam struktur perekonomian. Kondisi ini merupakan fase akhir era tinggal landas dan merupakan awal kematangan ekonomi yang sudah menunjukkan terbentuknya kelas menengah dan civil society dengan jumlah yang signifikan.

(24)

24 3.2.2. Misi Pembangunan Daerah

Untuk mewujudkan visi tersebut, misi yang akan dijalankan pada 2013- 2018 adalah:

1. Mendorong semakin berkembangnya masyarakat yang religius dan kerukunan intra dan antar ummat beragama;

Kebahagiaan (happiness) adalah pencapaian puncak dari seluruh upaya pembangunan. Misi Ini terkait dengan penciptaan kondisi bagi pemenuhan kehidupan rohaniah dan spiritualitas masyarakat sebagai salah satu landasan bagi pencapaian kebahagiaan yang hakiki. Dalam upaya umum ini tercakup penciptaan dukungan untuk kehidupan ummat beragama, baik laki-maupun perempuan, bagi terpenuhinya situasi yang kondusif dalam penyelenggaraan ibadah, kecukupan tempat beribadah, kapasitas penceramah agama, serta kerukunan intra dan antar umat beragama.

2. Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan;

Pencapaian kesejahteraan umum merupakan misi pokok kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya umum ini terkait dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan perkapita, penurunan angka kemiskinan, penurunan angka pengangguran, perbaikan distribusi pendapatan.

Ini diupayakan seiring dengan akselerasi pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan, pengembangan industri, pengembangan wirausaha, penanganan masalah kesejahteraan sosial serta pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Misi ini menseimbangkan antara upaya pertumbuhan kesejahteraan di satu sisi dengan pelestarian lingkungan dan pemerataan kesejahteraan di sisi lainnya, serta memperhatikan kesempatan yang adil antara laki-laki dan perempuan dalam akses dan penerimaan manfaatnya.

3. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur;

Misi ini mencakupi upaya-upaya untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul bagi pelayanan pendidikan, kesehatan dan perhubungan di luar Jaya, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Tercakup di dalamnya upaya untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul bagi pendidikan tinggi selain semakin memantapkan partisipasi wajib belajar 12 tahun, juga upaya menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul layanan kesehatan seiring dengan

(25)

25 pengembangan layanan rumah sakit berskala internasional sambil semakin memantapkan layanan kesehatan untuk lapisan bawah dan rumah tangga miskin. Pada misi ini juga tercakup upaya untuk semakin memajukan intrastruktur perhubungan darat, laut dan udara serta sarana/prasarana transportasi guna memposisikan Sulawesi sebagai simpul perhubungan dan transportasi di Kawasan Timur Indonesia dan luar Jawa umumnya.

4. Meningkatkan daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global;

Peran pemerintah provinsi amat urgen dalam memfasilitasi, mengkordinasikan dan memberi energi kepada daerah kabupaten/kota untuk menghasilkan sinergi dalam mendorong pusat-pusat kemajuan. Misi ini mencakup upaya-upaya mengefektifkan kerjasama antar daerah kabupaten/kota intra Provinsi Sulawesi Selatan, meningkatkan kerjasama pembangunan antar provinsi regional Sulawesi dan kawasan Timur Indonesia, serta mendinamiskan sinergitas global dengan lembaga internasional. Selain itu, misi ini juga berfokus pada upaya meningkatkan daya saing daerah melalui perbaikan iklim investasi dan pengembangan inovasi daerah.

5. Meningkatkan kualitas demokrasi dan hukum;

Kemajuan tatanan menuju peradaban yang baik mempersyaratkan terpatuhinya norma-norma kehidupan. Ini akan beriring dengan perwujudan kesetaraan dan fairness di dalam berbagai aspek tatanan. Misi ini mencakup upaya-upaya peningkatan kesadaran dan kepatuhan hukum, penciptaan iklim bagi persaingan usaha, serta pensubstansian demokrasi dalam tatanan. Selain itu, tercakup upaya-upaya perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak.

6. Meningkatkan kualitas ketertiban, keamanan, harmoni sosial dan kesatuan bangsa;

Perwujudan ketertiban umum dan jaminan keamanan untuk semua (baik laki-laki maupun perempuan) merupakan esensi dari penyelenggaraan pembangunan. Tentu saja ini harus seiring dengan upaya untuk terus menerus memvitalkan manifestasi kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Misi ini mencakup upaya pokok untuk mendukung perwujudan ketertiban dan ketenteraman, pencegahan dan penanganan konflik sosial, pemeliharaan harmoni sosial, penegakan pilar berbangsa dan bernegara, serta penegakan implementasi regulasi daerah.

7. Meningkatkan perwujudan kepemerintahan yang baik dan bersih.

(26)

26 Kepemerintahan yang baik merupakan prasyarat bagi dorongan perubahan yang lebih efektif, efisien dan berkeadilan. Misi ini mencakup upaya- upaya pokok atas reformasi birokrasi, perbaikan sistem pelayanan, peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan aset daerah, perencanaan pembangunan, pengawasan dan pengendalian pembangunan.

Keadaan demikian akan mendorong pengembangan relasi yang baik antara pemerintah, civil society dan dunia usaha.

3.2.3. Tujuan Pembangunan Daerah

Untuk terwujudnya visi pembangunan daerah maka tujuan pembangunan daerah yang hendak dicapai pada 2018 adalah:

1. Berkembangnya masyarakat yang religius dan kerukunan intra dan antar umat beragama;

2. Meningkatnya kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan;

3. Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur;

4. Meningkatnya daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global;

5. Meningkatnya kualitas penyelenggaraan demokrasi dan penegakan hukum;

6. Meningkatnya kualitas ketertiban, keamanan, harmoni sosial, dan kesatuan bangsa;

7. Meningkatnya kualitas penyelenggaran kepemerintahan yang baik dan bersih.

3.2.4. Sasaran Pembangunan 2018

Untuk mencapai tujuan pembangunan daerah tersebut maka sasaran pembangunan yang diprioritaskan pencapaiannya untuk masing-masing tujuan pembangunan tersebut adalah:

Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 1:

1. Keadaan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan agama serta kerukunan intra dan antar ummat beragama terpenuhi;

2. Sarana, prasarana ibadah dan juru dakwah/penceramah agama mencukupi bagi seluruh ummat beragama;

3. Angka melek huruf Al-Qur’an terus meningkat;

(27)

27 4. Peranan agama bagi kemajuan pembangunan daerah dan nasional terus

meningkat.

Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 2:

1. Pertumbuhan PDRB di atas rata-rata nasional;

2. Pemerataan pendapatan semakin nyata dengan gini ratio antara 0,3 sampai 0,4;

3. Pendapatan perkapita terus meningkat dan mencapai lebih dari Rp.30 juta;

4. Persentase penduduk miskin terus menurun dan berada di bawah rata-rata nasional;

5. Angka pengangguran terbuka terus menurun dan berada di bawah rata-rata nasional;

6. Daya beli masyarakat terus meningkat dan mendekati rata-rata nasional;

7. Produksi tanaman pangan dan hortikultura terus meningkat dan berkontribusi terhadap pemenuhan pangan nasional;

8. Produksi tanaman perkebunan rakyat terus meningkat dan mencapai skala ekonomi serta daya saing untuk agroindustri dan ekspor;

9. Produksi peternakan rakyat terus meningkat dan memenuhi kebutuhan daging, telur dan susu tingkat daerah dan nasional;

10. Produksi perikanan (budidaya ikan, udang, kepiting dan rumput laut serta perikanan tangkap) terus meningkat dan mencapai ekspor;

11. Industri garam berkembang dan berkontribusi bagi kebutuhan nasional;

12. Industri manufaktur, logam dasar dan otomotif berkembang dengan produk yang bisa mengisi pasar daerah, nasional dan global;

13. Investasi pertambangan berkembang dan berkontribusi nyata terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja;

14. Laju inflasi terkendali di bawah rata-rata nasional;

15. Koperasi semakin berkembang sebagai gerakan sosial serta produksi UKM berdaya saing di pasar nasional dan global;

16. Jumlah penanam modal dan nilai penanaman modal terus meningkat;

17. Laju kerusakan hutan, mangrove dan terumbu karang berkurang dan ruang terbuka hijau perkotaan terpenuhi;

18. Konsistensi dan efektifitas perencanaan pembangunan daerah, perencanaan tata ruang wilayah, serta koordinasi impelementasinya semakin meningkat.

(28)

28 Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 3:

1. Angka rata-rata lama sekolah sama dengan rata-rata nasional;

2. Angka partisipasi sekolah SD, SMP dan SMA sama dengan rata-rata nasional;

3. Angka melek huruf mendekati rata-rata nasional;

4. Persentase lulusan pendidikan tinggi lebih dari tiga persen penduduk.

5. Pendidikan vocational penerbangan, pramugari, pelayaran, pertanian, pariwisata, dan tenaga kerja internasional semakin meningkat;

6. Angka morbiditas sepuluh penyakit utama dibawah rata-rata nasional;

7. Angka kematian bayi dan angka kematian ibu di bawah rata-rata nasional;

8. Angka harapan hidup di atas rata-rata nasional;

9. Menjadi alternatif layanan rumah sakit bertaraf Internasional;

10. Menjadi alternatif layanan pendidikan tinggi di Indonesia;

11. Proporsi jalan kualitas baik dan agak baik sama dengan rata-rata nasional.

Sasaran pembangunan untuk Tujuan 4:

1. Fasilitas wilayah berupa sarana-prasarana perhubungan, komunikasi, transportasi, energi, perhotelan dan restoran semakin tercukupi jumlahnya dan meningkat kualitasnya baik di ibukota provinsi maupun di kabupaten/kota;

2. Nilai tukar petani, nelayan dan peternak semakin meningkat dan selalu di atas nilai 100.

3. Inovasi dan teknologi daerah terus berkembang dan mendorong produk baru dalam pemanfaatan sumberdaya lokal;

4. Kegiatan pertukaran pengetahuan, seni dan budaya terus berkembang dan melibatkan dunia internasional;

5. Jumlah pengunjung wisata terus meningkat dan sama dengan rata-rata nasional.

Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 5:

1. Indeks demokrasi mendekati rata-rata nasional;

2. Partisipasi masyarakat dalam politik serta eksistensi partai politik semakin memanifestasikan praktek demokrasi yang baik;

3. Indeks pembangunan/pemberdayaan gender mendekati rata-rata nasional;

4. Indeks persepsi korupsi terus membaik.

Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 6:

1. Indeks/angka kriminalitas terus menurun;

(29)

29 2. Peranan dan kerjasama organisasi kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, keolahragaan, kesenian dan perempuan terus meningkat bagi kemajuan daerah dan nasional.

Sasaran pembangunan untuk mencapai Tujuan 7:

1. Opini laporan kuangan bertahan pada nilai WTP dan jumlah kabupaten/kota dengan opini WTP terus bertambah;

2. Nilai LPPD bertahan pada pada tiga besar dan jumlah kabupaten/kota yang berada pada 50 besar terus bertambah;

3. Kompetensi birokrasi dalam manajemen berbasis kinerja dan penerapan teknologi informasi semakin menunjang pelayanan yang prima dan pemerintahan yang bersih;

4. Pengawasan, pemantauan dan evaluasipembangunan semakin efektif;

5. Sinergi dan kerjasama antar kabupaten dan kota semakin efektif dan produktif dalam mendorong kemajuan kawasan;

6. Peranan dan kerjasama dunia usaha dan perbankan dengan pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota dalam kemajuan pembangunan semakin tinggi;

7. Keberdayaan masyarakat melalui kelembagaan lokal meningkat;

8. Kinerja pemerintahan dan pembangunan desa meningkat.

Memperhatikan Visi dan misi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebagaimana disebut di atas, maka Biro Bina Perekonomian harus berorientasi dan bersinergi kepada 2 (dua) dari 7 (tujuh) misi Pemerintah Daerah tersebut yaitu mencakup Misi Kedua, dan Misi Keempat.

3.3. Penentuan Isu-isu Strategis

Dari hasil identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi Biro Bina Perekonomian dan telaahan visi, misi dan program Kepala Daerah terpilih, maka isu-isu yang sangat mendasar untuk dijadikan landasan dalam perumusan strategi dalam penyusunan program dan kegiatan selama lima tahun yang akan datang adalah :

1. Krisis Ekonomi global dan pengaruh harga BBM berdampak pada Perekonomian Regional;

2. Fluktuasi Harga Pangan berdampak pada Inflasi daerah;

3. Aksesibilitas usaha kecil dan mikro terhadap lembaga keuangan belum optimal;

(30)

30 4. Program CSR pada lembaga BUMN dan Swasta belum terintegrasi dengan

program Pemerintah Daerah;

5. Peningkatan daya saing komoditas unggulan daerah dan produk olahannya;

6. Belum optimalnya kinerja BUMD dan UMKM;

(31)

31 BAB IV

VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

4.1. Visi dan Misi Biro Bina Perekonomian

Penetapan rumusan Visi dan Misi Biro Bina Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan mengacu pada Visi dan Misi Provinsi Sulawesi Selatan yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Manengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 – 2018, dengan fokus pada Tugas Pokok dan Fungsi Biro Bina Perekonomian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Visi Biro Bina Perekonomian dirumuskan berdasarkan fungsi dan tugas pokok Biro Bina Perekonomian dalam rangka mencapai visi Sulawesi Selatan untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018, berdasarkan visi tersebut maka visi Biro Bina Perekonomian adalah :

“Akselerator Pembangunan Perekonomian Daerah Yang Berkualitas”

Visi ini merupakan inspirasi bagi Biro Bina Perekonomian dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi guna menciptakan kebijakan yang proporsional, berimbang dan terpadu dalam mengoptimalkan pemanfaatan potensi ekonomi daerah untuk meningkatkan daya saing perekonomian daerah.

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi Biro Bina Perekonomian adalah:

1. Meningkatkan pelayanan administrasi yang akuntabel dan mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan;

2. Mendorong pelaksanaan kebijakan pengembangan produksi, distribusi dan pemasaran komoditi;

3. Mendorong pelaksanaan kebijakan pengembangan sarana perekonomian daerah;

4. Mendorong pelaksanaan kebijakan pengembangan kelembagaan ekonomi;

4.2 Tujuan dan Sasaran

Dalam upaya mendukung pencapaian visi dan misi tersebut diatas, maka selanjutnya ditetapkan tujuan dan sasaran, untuk kurun waktu lima tahun ke depan, sebagai berikut:

(32)

32 4.2.1. Tujuan

Sebagaimana visi dan misi yang telah ditetapkan, maka untuk keberhasilan pencapaiannya perlu ditetapkan Tujuan Biro Bina Perekonomian yang dijabarkan sebagai berikut :

1. Meningkatkan pelayanan administrasi yang akuntabel dan mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan dengan mempertimbangkan kesetaraan gender;

2. Menekan Laju Inflasi;

3. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan;

4. Meningkatkan kinerja BUMD dan UMKM dan Koperasi;

4.2.2. Sasaran

Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam Renstra Biro Bina Perekonomian pada periode 2013 – 2018 adalah sebagai berikut:

1. Administrasi Perkantoran Terlaksana dengan baik;

2. Mengendalikan tingkat inflasi daerah;

3. Meningkatkan Akses informasi harga pangan strategis;

4. Meningkatnya produksi dan produktivitas komoditas unggulan daerah;

5. Terciptanya distribusi yang merata di tingkat masyarakat;

6. Meningkatnya pemasaran hasil produk daerah;

7. Penyaluran RASKIN dengan tepat waktu dan tepat sasaran;

8. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sesuai target Rencana pembangunan jangka menengah Daerah (RPJMD);

9. Terlaksananya dan Terkoordinasi Kegiatan di Tingkat Provinsi dan Kab/ Kota, Terevaluasinya Pemanfaatan DBH-CHT;

10. Adanya sinergitas program BUMN dengan program kerja pemerintah provinsi 11. Terlaksananya sinergitas program dalam pengembangan sarana ekonomi;

12. Meningkatnya pelayanan fasilitas sarana perhubungan, telekomunikasi dan pariwisata;

13. Terlaksananya sinergitas program dalam pengembangan industri dan perdagangan;

14. Berkembangnya Perbankan Syariah;

15. Iklim yang sehat untuk tumbuh dan berkembangnya ekonomi kerakyatan;

16. Meningkatnya kinerja BUMD;

(33)

33 17. Terlaksananya pemantauan lembaga-lembaga keuangan mikro

sertaTersusunnya data-data lembaga yg ada di kab/kota;

18. Meningkatnya kinerja UMKM & Koperasi;

4.3. Strategi dan Kebijakan 4.3.1. Strategi

1. Penguatan dukungan sarana perekonomian daerah;

2. Penguatan dukungan peningkatan produksi, kelancaran distribusi dan peningkatan pemasaran;

3. Penguatan kelembagaan ekonomi;

4. Pengembangan ekonomi kerakyatan;

4.3.2. Kebijakan

Kebijakan dimaksudkan untuk mengarahkan program dan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran Biro Bina Perekonomian. Kebijakan umum Biro Bina Perekonomian telah ditetapkan sebagai berikut :

1. Pengembangan Sarana dan Prasarana dan Kelembagaan Ekonomi ;

2. Penguatan kualitas koordinasi dalam menghasilkan kebijakan perekonomian daerah;

3. Penguatan kerjasama ekonomi antar daerah;

4. Penguatan kelembagaan BUMD, Koperasi dan UMKM;

5. Penguatan konektivitas antar daerah disektor ekonomi

(34)

34 BAB V

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

Berdasarkan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi dan kebijakan yang telah disusun pada bagian sebelumnya, maka disusun langkah-langkah rencana strategis yang lebih operasional (2013 – 2018), meliputi program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran, dan pendanaan indikatif. Program ini merupakan penjabaran dari kebijakan strategis Biro Bina Perekonomian dengan tetap mengacu pada program pembangunan yang tertuang dalam RPJMD Sulawesi Selatan 2013 – 2018.

5.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan yang sesuai tugas pokok dan fungsi Biro Bina Perekonomian yang mengacu pada Program RPJMD 2013 – 2018 yaitu :

I. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran;

II. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Perencanaan dan Sistem Evaluasi Kinerja SKPD;

III. Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi;

IV. Program Pengembangan Perekonomian Daerah;

V. Program Pembinaan Kelembagaan Ekonomi.

Adapun kegiatan-kegiatan yang mendukung program-program tersebut masing-masing sebagai berikut:

I. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran, pelaksanaan program ini mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:

1. Pembinaan pengelolaan administrasi keuangan dan administrasi barang inventaris;

2. Pnatausahaan Biro Bina Perekonomian;

3. Pengadaan sarana dan prasarana perkantoran;

4. Penyusunan laporan hasil tindak lanjut pemeriksaan Biro Bina Perekonomian;

5. Tim Sensus barang Inventaris Biro Bina Perekonomian;

(35)

35 II. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Perencanaan dan Sistem Evaluasi Kinerja SKPD, pelaksanaan program ini mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:

1. Penyusunan Dokumen Perencanaan Biro Bina Perekonomian;

2. Penyusunan database perkembangan ekonomi makro Sulawesi Selatan;

3. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Bina Perekonomian;

III. Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi, pelaksanaan program ini mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:

1. Pengembangan Pusat Informasi Harga Pangan;

IV. Program Pengembangan Perekonomian Daerah;

1. Fasilitasi Peningkatan Produksi Daerah

2. Sosialisasi dan Koordinasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau 3. Koordinasi peningkatan peran BUMN

4. Koordinasi Pemantapan Pola Distribusi

5. Koordinasi dan Fasilitasi MP3EI Koridor IV Prov. Sulsel 6. Koordinasi Pemasaran Produk Daerah

7. Koordinasi pengendalian tingkat inflasi Provinsi Sulawesi Selatan;

8. Koordinasi dan Konsultasi Ramperda Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

9. Koordinasi pengembangan sarana ekonomi;

10. Fasilitasi, Mediasi dan Pembinaan pemantapan Program Prioritas;

11. Koordinasi pembinaan BUMD Provinsi Sulawesi Selatan;

12. Koordinasi pengembangan sarana perhubungan, telekomunikasi dan pariwisata;

13. Koordinasi Pengembangan industri dan perdagangan;

14. Fasilitasi Program Raskin;

15. Fasilitasi pengembangan BP-KAPET Pare-pare.

16. Koordinasi Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyaarakat V. Program Pembinaan Kelembagaan Ekonomi.

1. Koordinasi Pengembangan Kelembagaan Ekonomi;

2. Koordinasi dan fasiitasi pengembangan ekonomi kerakyatan;

3. Workshop pengembangan ekonomi kerakyatan;

4. Fasilitasi dan koordinasi pengembangan ekonomi syariah;

5. Workshop Ekonomi Syariah;

(36)

36 6. Koordinasi pengembangan koperasi dan UMKM;

7. Workshop Penguatan kelembagaan TPID kabupaten/kota.

5.2. Indikator Kinerja

Indikator Kinerja sebagai dasar evaluasi pencapaian pelaksanaan Rencana Strategis (RENSTRA) Biro Bina Perekonomian mengacu pada sasaran Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Biro Bina Perekonomian sebagai katalisator, fasilitator dan koordinator pelaksanaan program pembangunan ekonomi daerah dalam meningkatkan daya saing perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan.

Indikator kinerja tersebut mengacu pada kuantitas dan kualitas pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi sebagai katalisator untuk mencapai target dan sasaran pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan di bidang ekonomi.

5.3. Matriks Program, kegiatan, indikator Kinerja dan Pendanaan Indikatif

(37)

37 BAB VI

INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

6.1. Sasaran RPJMD

Sasaran pembangunan daerah yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Manengah Daerah (RPJMD) 2013 – 2018 merupakan tolak ukur pencapaian arah kebijakan dan program yang akan dilaksanakan selama kurun waktu lima tahun, adapun sasaran dari pelaksanaan agenda dan program 2008-2013 di bidang ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi

Agenda ini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai oleh meningkatnya kesempatan kerja, berkurangnya jumlah penduduk miskin, serta meningkatnya kualitas ketahanan pangan yang dicerminkan oleh ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Sasaran dari pelaksanaan program dan kegiatan dari agenda ini adalah:

a. Pertumbuhan PDRB di atas rata-rata nasional;

b. Pemerataan pendapatan semakin nyata dengan gini ratio antara 0,3 sampai 0,4;

c. Pendapatan perkapita terus meningkat dan mencapai lebih dari Rp.30 juta;

d. Persentase penduduk miskin terus menurun dan berada di bawah rata- rata nasional;

e. Angka pengangguran terbuka terus menurun dan berada di bawah rata- rata nasional;

f. Daya beli masyarakat terus meningkat dan mendekati rata-rata nasional;

g. Produksi tanaman pangan dan hortikultura terus meningkat dan berkontribusi terhadap pemenuhan pangan nasional;

h. Produksi tanaman perkebunan rakyat terus meningkat dan mencapai skala ekonomi serta daya saing untuk agroindustri dan ekspor;

i. Produksi peternakan rakyat terus meningkat dan memenuhi kebutuhan daging, telur dan susu tingkat daerah dan nasional;

j. Produksi perikanan (budidaya ikan, udang, kepiting dan rumput laut serta perikanan tangkap) terus meningkat dan mencapai ekspor;

(38)

38 k. Laju inflasi terkendali di bawah rata-rata nasional;

2. Meningkatnya daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global;

a. Fasilitas wilayah berupa sarana-prasarana perhubungan, komunikasi, transportasi, energi, perhotelan dan restoran semakin tercukupi jumlahnya dan meningkat kualitasnya baik di ibukota provinsi maupun di kabupaten/kota;

b. Nilai tukar petani, nelayan dan peternak semakin meningkat dan selalu di atas nilai 100.

c. Inovasi dan teknologi daerah terus berkembang dan mendorong produk baru dalam pemanfaatan sumberdaya lokal;

d. Jumlah pengunjung wisata terus meningkat dan sama dengan rata-rata nasional

6.2. Indikator Kinerja Biro Bina Perekonomian

Indikator Kinerja sebagai dasar evaluasi pencapaian dari pelaksanaan Rencana Strategis (RENSTRA) Biro Bina Perekonomian mengacu pada upaya untuk meningkatkan fungsi fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi di mana hal tersebut merupakan tugas pokok dan fungsi Biro Bina Perekonomian sebagai katalisator, fasilitator dan koordinator pelaksanaan program pembangunan daerah dalam meningkatkan daya saing perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan.

Indikator kinerja tersebut mengacu pada kuantitas dan kualitas pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi sebagai katalisator untuk mencapai target dan sasaran pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan di bidang ekonomi. Indikator Kinerja Biro Bina Perekonomian yang mengacu pada tujuan dan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Manengah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 - 2018 adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam mendorong Peningkatan produksi sektor pertanian;

2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam menurunkan angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan;

(39)

39 3. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap akses pendanaan usaha kecil, manengah dan koperasi;

4. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sarana perekonomian dalam peningkatan kinerja perekonomian di Provinsi Sulawesi Selatan; Pertumbuhan ekonomi (PDRB) sebesar 8% pertahun dalam kurun waktu 2013 – 2018;

5. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan dalam mendorong berkembangnya agro-industri yang memanfaatkan hasil pertanian unggulan Sulawesi Selatan dan daerah sekitarnya;

6. Meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitasi dan koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan di bidang ekonomi dalam rangka pengembangan industri strategis dan kreatif di Provinsi Sulawesi Selatan;

(40)

40 BAB VIII

PENUTUP

Dokumen Rencana Strategis Biro Bina Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, memuat visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan serta kegiatan yang merupakan acuan dan panduan bagi seluruh Bagian/Sub Bagian di lingkungan Biro Bina Perekonomian dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Diharapkan RENSTRA ini dapat menjadi komitmen dan kesatuan dalam menentukan arah dan peran Biro Bina Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mewujudkan visi dan Misi Sulawesi Selatan sebagaimana diamanatkan dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya dokumen Renstra ini akan dijabarkan dalam Rencana Kerja (Renja) Biro Bina Perekonomian setiap tahunnya, sebagai pedoman dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi untuk mewujudkan Visi dan Misi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Makassar, Oktober 2015

Plh. KEPALA BIRO BINA PEREKONOMIAN

Ir. A. BINAWAN BINTANG, M.Si Pangkat : Pembina Tk.I

NIP : 19600603 199003 1 002

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa penanganan kerangka regulasi yang sejalan dengan kerangka

Berdasarkan pendekatan seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional serta peluang dan ancaman yang

tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah dijabarkan ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun

Dalam perspektif perencanaan pembangunan daerah, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 dan amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 pada Pasal 272 Ayat (1),

Sebagai implementasi dari Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang mewajibkan setiap satuan kerja perangkat daerah

Dalam melaksanakan tugasnya Kecamatan berpedoman pada : Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Dalam perspektif perencanaan pembangunan daerah, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 dan amanat Undang- undang Nomor 23 Tahun 2014 pada Pasal 272 Ayat

BADAN PENDAPATAN DAERAH | 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan