• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Aktifitas Belajar Siswa pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen a. Aktifitas Belajar Siswa Pada Kelas Kontrol dan Eksperimen

Belajar merupakan proses aktifitas yang memiliki keterukuran secara jelas. Dalam proses mengukur aktifitas belajar siswa digunakan teknik observasi yang melibatkan observer dengan instrumen yang berupa lembar observasi. Observasi ini dilakukan dengan tujuan mengetahui perbedaan aktifitas belajarsiswa antara kelas ekperimen dengan yang dalam pembelajarannya menerapkan media pembelajaran berbantuan e-learning dengan kelas kontrol yang dalam proses pembelajarannya menggunakan media dua dimensi.

Berdasarkan data hasil penelitian diketahui bahwa pada pertemuan pertama pada pertemuan pertama tidak ada perbedaan aktifitas belajar siswa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen. Sedangkan pada pertemuan kedua aktifitas belajar pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan pada kelas kontrol. Berikut grafik prosentase rata-rata aktifitas belajar siswa pada kelas kontrol dan eksperimen.

Gambar 4.1 Grafik Persentase Rata-rata Aktifitas Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen pada Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua

Data (gambar 4.1) menunjukkan grafik dari persentase rata-rata antara kelas kontrol dan eksperimen pada pertemuan pertama dan kedua. Hasil yang didapatkan dari observasi pada pertemuan pertama menunjukkan bahwa pada

62.81

75

61.22 71.15

0 10 20 30 4050 60 70 80

Pertama Kedua

Persentase (%)

Eksperimen Kontrol

(2)

kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak memiliki perbedaan aktifitas belajar signifikan. Perbedaan persentase aktifitas siswa hanya selisih 1% antara keduanya. Kelas kontrol 61.22% sedangkan kelas eksperimen 62.81%. namun pada pertemuan kedua terdapat peningkatan persentase aktifitas belajar siswa pada kedua kelas, yaitu kelas kontrol 71.15% dan kelas eksperimen 75.00%.

berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen memiliki peningkatan aktifitas belajar siswa yang lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol.

b. Aktifitas Belajar Siswa pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Berdasarkan Masing-masing Indikator Aktifitas Belajar

Observasi aktifitas belajar siswa yang dilakukan meliputi 5 indikator, yaitu Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan, mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan, mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya, menarik inferensi- inferensi,menghasilkan argumen-argumen.

Masing-masing observer dalam penelitian ini mengamati kurang lebih 10 siswa dari masing-masing kelas yang diobservasi. Data yang diperoleh dari pertemuan pertama dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.2 Grafik Aktivitas Siswa pada Pertemuan Pertama untuk Setiap Indikatornya

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

56 58 60 62 64 66 68 70

1 2 3 4 5

Persentase (%)

Eksperimen Kontrol

(3)

Berdasarkan data dari grafik aktifitas siswa pada pertemuan pertama (gambar 4.2) pencapaian indikator ke -1 dilihat dari mengidentifkasi elemen- elemen organ sistem pernapasan. Indikator ini dicapai oleh kelas kontrol dengan persentase rata-rata 64% dan kelas eksperimen 67%. Pencapaian kelas kontrol pada indikator ke-1 memiliki kriteria cukup,begitupun dengan pencapaian kelas eksperimen pada indiator ke-1 memiliki kriteria lemah, namun kelas eksperimen memiliki pencapaian lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Pada indikator ke-2 yang meliputi siswa menginterpretasi pernyataan dan gagasan mengenai fungsi organ sistem pernapasan, kelas eksperimen memiliki pencapaian lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol yaitu 69% dengan kriteria cukup dan kelas control hanya memperoleh 63% dengan kriteria cukup. Selanjutnya pencapaian indikator ke-3 oleh kelas kontrol 61% dan kelas eksperimen 66%. Pencapaian pada indikator ke-4 oleh kelas kontrol 63% dan kelas eksperimen 65%. Kemudian, pencapaian indikator ke-5 oleh kelas kontrol 67%,sedangkan kelas eksperimen 68%.

Pertemuan kedua memperoleh hasil yang berbeda dengan pertemuan pertama. Rata-rata pencapaian indikator kedua kelas meningkat dibandingkan pada pertemuan pertama. Hasil observasi aktifitas belajar siswa pada pertemuan kedua dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 4.3 Aktivitas Siswa pada Pertemuan Kedua untuk Setiap Indikatornya

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

79 80 80 81 80

78

70

74 73 75

60 65 70 75 80 85

1 2 3 4 5

Persentase (%)

Eksperimen Kontrol

(4)

Berdasarkan grafik aktivitas belajar siswa pada pertemuan kedua (gambar 4.3) pencapaian indikator ke-1 kelas kontrol mencapai 78% dengan kriteria baik, sedangkan kelas eksperimen mencapai 79% dengan kriteria baik. Pada indikator aktivitas siswa ke-2, kelas kontrol memperoleh 70% sedangkan pencapaian pada kelas eksperimen 80% hasil ini menunjukkan kriteria yang baik. Selanjutnya pencapaian indikator ke-3 oleh kelas kontrol sebesar 74% dan kelas eksperimen 80%. Indikator ke-4 kelas kontrol hanya mengalami sedikit peningkatan menjadi 73% sedangkan kelas eksperimen memperoleh 81%.

Aktivitas siswa pada kelas kontrol dan eksperimen cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.4 Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua untuk Setiap Indikatornya

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

67 79

69 80

66 80

65 81

68 80 64

78

63 70

61 74

63

73 67

75

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

pertemuan pertama pertemuan keddua pertemuan pertama pertemuan kedua pertemuan pertama pertemuan kedua pertemuan pertama pertemuan kedua pertemuan pertama pertemuan kedua

1 2 3 4 5

Persentase (%)

Eksperimen Kontrol

(5)

Berdasarkan grafik aktivitas belajar siswa (gambar 4.4) pada pertemuan pertama kelas eksperimen memiliki persentase tertinggi sebesar 79%, pada indikator ke-2 kelas kontrol memperoleh 70% lebih kecil dibandingkan dengan kelas eksperimen memperoleh 80%. Pada pertemuan ke-3 kelas eksperimen memiliki persentase tertinggi dengan nilai 81%. Secara keseluruhan grafik aktivitas siswa menunjukan peningkatan aktivitas belajar siswa pada pertemuan kedua. Kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.

2. Perbedaan peningkatan keterampilan Berpikir Kritis (KBK) Siswa Antara Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen

Penerapan pembelajaran yang berbeda antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen memungkinkan terjadinya perbedaan pencapaian hasil belajar yang diperoleh masing-masing kelas. Dalam penelitian ini kelas kontrol menerapkan pembelajaran dengan media dua dimensi. Sedangkan pada kelas eksperimen diterapkan media pembelajaran berbantuan e-learning dalam pembelajaran biologi dengan masing-masing siswa dapat mengoprasikan e-learning dalam bentuk web LMS (Learning Management System) sebagai media dan sumber belajarnya.

a. Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis (KBK) Siswa Pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

Perbedaan peningkatan keterampilan berpikir siswa yang diteliti memilki acuan pada indikator keterampilan berpikir kritis yang diungkapkan oleh Alec Fisher. Dalam penelitian ini terdapat 5 indikator yang digunakan, yaitu 1) Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan 2) Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan 3) Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya 4) Menarik inferensi-inferensi 5) Menghasilkan argumen-argumen. Data nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa yang diperoleh dari pretest dan postest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada grafik.

(6)

Gambar 4.5 Grafik Nilai Rata-rata Keterampilan Berpikir Kritis Siswa yang Diperoleh dari Pretest-Postest pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

Berdasarkan grafik nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen (Gambar 4.5) yang diperoleh dari uji pengetahuan awal (pretest) tdak jauh berbeda. Sedangkan pada proses posttest nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan. Peningkatan yang diperoleh kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol dengan nilai rata- rata kelas 73, sedangkan kelas kontrol mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 63.

Perbedaan nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen dapat diuraikan dan diamati lebih rinci melalui grafik nilai rata-rata pretest-postest setiap indikator KBK.

Gambar 4.6 Grafik Nilai Rata-rata Pretest-Postest Setiap Indikator KBK pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

42.09 41.67

30.77

49.23 38.72

57.05 63.03 63.68 65.38

60.26

42.08

37.29 29.79

47.25 34.05

65.83 71.04

65.21 68.25

64.58

0 20 40 60 80

KBK 1 KBK 2 KBK 3 KBK 4 KBK 5 KBK 1 KBK 2 KBK 3 KBK 4 KBK 5

Pretest Postets

Persentase (%)

Kontrol Eksperimen

32.21

73.08

24.04

63

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Pretes postes

Persentase (%)

Eksperimen Kontrol

(7)

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

Nilai rata-rata posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai rata-rata pretest.

Berdasarkan hasil pretest kelas kontrol memperoleh nilai lebih tinggi pada semua indikator KBK yakni indikator KBK 1, indikator KBK 2, indikator KBK 3, indikator KBK 4 dan indikator KBK 5. Berbeda dengan kelas kontrol, pada kelas eksperimen nilai rata-rata pretest lebih rendah dibandingkan dengan kelas kontrol yakni pada indikator KBK 1, indikator KBK 2, indikator KBK 3, indikator KBK 4 dan indikator KBK 5.

Berdasarkan grafik nilai rata-rata pretest-postest kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk setiap indicator KBK (Gambar 4.6) terlihat bahwa nilai rata- rata posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan. Nilai rata-rata posttest tertinggi untuk kelas kontrol terletak pada indikator KBK 4, sedangkan nilai rata-rata posttest terendah terjadi pada indikator KBK 1. Hasil ini berbeda dengan kelas eksperimen yang memperoleh nilai rata-rata posttest tertinggi pada indikator KBK 2 dan nilai rata-rata posttest terendah pada indikator KBK 5.

Perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat dari nilai gain (N-gain). Dalam penelitian ini N gain yang digunakan telah dinormalisasikan sehingga N gain yang diperoleh tidak melebihi dari skor 1. Secara umum N gain pada kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.7 Grafik N-gain Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

0.62 0.51

0 0.2 0.4 0.6 0.8

Eksperimen Kontrol

Persentase (%)

N-Gain

(8)

Berdasarkan grafik N-gain (gambar 4.7) diketahui bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan keterampilan berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh N- gain 0,62 sedangkan N-gain kelas kontrol hanya 0,51. Perbandingan kedua N- gain tersebut merupakan N-gain rata-rata dari setiap kelas. Secara lebih rinci peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang dicapai oleh kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk setiap indikator KBK dapat dilihat pada gambar 4.8

Gambar 4.8 N-gain untuk Setiap Indikator KBK pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

Grafik N-gain diatas menunjukan perbandingan N-gain yang dicapai oleh masing-masing kelas pada setiap indikator keterampilan berpikir kritis (KBK). Pada indikator KBK 1 yang meliputi mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan- kesimpulan skor N-gain kelas kontrol 0,26 sedangkan kelas eksperimen 0,39.

Selanjutnya indikator KBK 2 dengan ruang lingkup mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan skor N-gain kelas kontrol 0,37 sedangkan kelas eksperimen 0,54. Kemudian indikator KBK 3 yang meliputi mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya skor N-gain kelas kontrol 0,48 sedngkan kelas eksperimen 0,49. Selanjutnya indikator KBK 4 meliputi menarik inferensi-inferensi skor N-gain kelas kontrol 0,32 sedangkan kelas eksperimen 0,40. Adapun untuk indikator KBK 5 yang merupakan indikator dari menghasilkan argument-argumen skor N-gain untuk kelas kontrol 0,34 dan kelas eksperimen 0,45.

0.26

0.37

0.48

0.32 0.34

0.39

0.54 0.49

0.40 0.45

0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60

KBK 1 KBK 2 KBK 3 KBK 4 KBK 5

Persentase (%)

Kontrol Eksperimen

(9)

b. Analisis Uji Statistik Keterampilan Berpikir Kritis (KBK) Siswa pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

Statistika memegang peranan penting dalam penelitian, baik dalam penyusunan model, penyusunan hipotesis, pengembangan alat dan instrumen, pengumpulan data, penyusunan desain penelitian, penentuan sample dan dalam analisis data (Nazir, 2013). Analisis uji statistik dilakukan dua tahap, yaitu uji prasarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas dan uji hipotesis.

Dalam uji hipotesis data dianalisis dengan menggunakan dua cara yaitu dengan uji Ttes untuk sampel yang berdistribusi normal atau dengan uji Mann-Withney U untuk sampel yang tidak berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan 95% dengan α= 0,05.

1. Uji Statistik Keterampilan Berpikir Kritis (KBK)

Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah, karena dengan analisislah data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna, guna memecahkan penelitian. Menurut Nazir (2013) Statistik dapat menolong peneliti untuk menyimpulkan apakah suatu perbedaan yang diperoleh benar-benar berbeda secara signifikan ataukah hubungan tersebut hanya bersifat random atau kebetulan saja. Penarikan kesimpulan secara statistik memungkin peneliti melakukan kegiatan ilmiah dengan lebih ekonomis dalam pembuktian induktif. Tetapi harus disadari bahwa statistik hanya merupakan alat bukan tujuan dari analisis.

Peningkatan keterampilan berpikir siswa dapat dianalisis dengan mengolah data menggunakan software SPSS. 21. Terdapat dua langkah utama dalam uji statistik ini, yaitu 1) uji prasarat dan 2) uji hipotesis. Dari pengolahan data tersebut diperoleh hasil sebagai berikut.

a) Uji Prasarat

Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas untuk N-gain secara Umum

Data Kelas Uji Normalitas Uji

Homogenitas Kolmogorov Shapiro

N-Gain Kontrol Sig. 0,200 Sig. 0,683 Sig. 0,932 (Homogen) Keterangan Normal Normal

(10)

Eksperimen Sig. 0,200 Sig. 0.119 Keterangan Normal Normal

Tabel 4.1 menunjukan uji prasarat untuk N-gain antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen menyimpulkan bahwa data normal untuk uji normalitas diperoleh nilai signifikansi >0,05 dan data homogen untuk uji homogenitas. Hal ini dilihat dari nilai signifikansi uji homogenitas yang

>0,05.

b) Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan uji statistik untuk memutuskan apakah hipotesis penelitian yang diajukan diterima atau ditolak. Uji hipotesis ini dilakukan sesuai dengan jenis data yang didapatkan dari uji prasarat.

Jika data tersebut berdistribusi normal maka dilakukan uji T tes, sedangkan jika data tersebut tidak normal maka digunakan uji Mann- Withney U.

Tabel 4.2 Hasil Uji Hipotesis Data N-gain Secara Umum Data Uji Hipotesis Nilai

Signifikansi

Keterangan

N- gain

Independent Simple T tes 0,026 H0 ditolak

Uji hipotesis pada tabel 4.2 menunjukan bahwa data N-gain berdistribusi normal setelah diuji dengan T tes menghasilkan nilai signifikansi 0,026 atau <0,05 yang berarti H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa pada pembelajaran biologi berbasis e-learning dengan pembelajaran biologi yang menggunakan media dua dimensi.

2) Uji Statistik Keterampilan Berpikir Kritis (KBK) untuk Setiap Indikatornya.

Uji statistik ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan peningkatan berpikir kritis siswa pada setiap indikator KBK sehingga diketahui indicator berpikir kritis mana yang mengalami peningkatan signifikan

(11)

diantara kedua kelas. Data yang diuji meliputi data N gain setiap indikator KBK.

a) Uji Statistik Data N gain untuk Setiap Indikator Keterampilan Berpikir Kritis (KBK)

Setiap indikator KBK dari data N gain diuji statistik dengan tujuan mengetahui perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis untuk setiap indikator KBK. N gain yang diperoleh dari kedua kelas diolah dengan uji prasarat dan uji hipotesis. Berikut adalah tabel hasil uji prasarat untuk data N gain perindikator KBK.

Tabel 4.3 Uji Prasarat Data N gain untuk setiap Indikator KBK Data N-

gain Kelas Uji Normalitas Uji

Homogenitas Kolmogorov Shapiro

Indikator KBK-1

Kontrol Sig.0,157 Sig. 0,109

Sig. 0,769 (Homogen) Keterangan Normal Normal

Eksperimen Sig.0,200 Sig. 0,554 Keterangan Normal Normal

Indikator KBK- 2

Kontrol Sig. 0,200 Sig. 0,512

Sig. 0,544 (Homogen) Keterangan Normal Normal

Eksperimen Sig. 0,200 Sig. 0,888 Keterangan Normal Normal

Indikator KBK- 3

Kontrol Sig. 0,200 Sig. 0,288

Sig. 0,877 (Homogen) Keterangan Normal Normal

Eksperimen Sig. 0,200 Sig. 0,681 Keterangan Normal Normal

Indikator KBK- 4

Kontrol Sig. 0,200 Sig. 0,101

Sig. 0,576 (Homogen) Keterangan Normal Normal

Eksperimen Sig. 0,200 Sig. 0,553 Keterangan Normal Normal

Indikator KBK- 5

Kontrol Sig. 0,176 Sig. 0,212

Sig. 0,283 (Homogen) Keterangan Normal Normal

Eksperimen Sig. 0,200 Sig. 0,392 Keterangan Normal Normal

(12)

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan- kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan- pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

Berdasarkan tabel hasil uji prasarat data N-gain untuk setiap indikator KBK (tabel 4.3) menunjukkan bahwa semua indikator KBK memiliki distribusi data yang normal. Nilai signifikansi yang diperoleh dari uji normalitas data N-gain untuk setiap indikator KBK yaitu dari indicator KBK-1, KBK-2, KBK-3, KBK-4 dan KBK-5 diatas α pada kelas eksperimen dan kelas kontrol menurut uji kolmogorov dan uji Shapiro.

Uji homogenitas yang ditunjukan tabel (tabel 4.3) menghasilkan data yang homogen. Nilai signifikansi yang diperoleh dari uji homogenitas data N-gain untuk setiap indikator KBK yaitu indikator KBK-1 0,769 indikator KBK-2 0,549 indikator KBK-3 0,877 indikator KBK-4 0,576 dan indikator KBK-5 0,283. Semua hasil ini menunjukan nilai signifikansi yang lebih besar dari nilai α atau >0,05 yang artinya data homogen.

Tabel 4.4 Hasil Uji Hipotesis data N-gain untuk Setiap Indikator KBK N-gain Uji Hipotesis Nilai

Signifikansi

Keterangan

KBK- 1 Independent Simple T tes 0,002 H0 ditolak KBK- 2 Mann-Whitney U 0,279 H0 ditrima KBK- 3 Mann-Whitney U 0,847 H0 ditrima KBK- 4 Mann-Whitney U 0,552 H0 ditrima KBK- 5 Independent Simple T tes 0,009 H0 ditolak

(13)

Keterangan

Indikator KBK 1 : Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan- kesimpulan.

Indikator KBK 2 : Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan- pernyataan dan gagasan-gagasan.

Indikator KBK 3 : Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.

Indikator KBK 4 : Menarik inferensi-inferensi Indikator KBK 5 : Menghasilkan argumen-argumen.

Berdasarkan tabel uji hipotesis data N-gain untuk setiap indikator KBK (tabel 4.4), yang berdistribusi normal diuji hipotesis dengan Independent Simple T tes, sedangkan indikator yang berdistribusi tidak normal diuji hipotesis dengan menggunakan Mann-Withney U. indikator KBK-1berdistribusi normal diuji hipotesis dengan Independent Simple T tes untuk data N-gain menunjukan nilai signifikansi 0,002 sehingga H0

ditolak. Begitupun dengan indikator KBK-5 memiliki nilai signifikansi 0,009. Hasil ini lebih kecil dari α atau <0,05 sehingga H0 ditolak. Nilai signifikansi diatas α ditunjukan oleh indikator KBK-2 dengan nilai 0,279, indikator KBK-3 dengan nilai 0,847 dan indikator KBK 4 dengan nilai 0,552 sehingga H0 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang signifikan pada indikator KBK-1 dan indikator KBK-5 sedangkan pada indikator KBK-2, KBK-3, dan indikator KBK-4 tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

3. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Berbantuan E-Learning

Respon siswa terhadap pebelajaran berbasis e-learning dapat diukur menggunakan angket. Metode ini hanya digunakan pada kelas eksperimen karena kelas kontrol tidak melakukan pembelajaran dengan e-learning. Pengisian angket dilakukan diakhir proses pembelajaran angket diberikan kepada siswa yang termasuk dalam kelas eksperimen, yaitu kelas yang diberi perlakuan khusus berupa pembelajaran e-learninng dalam pokok bahasan sistem pernapasan.

Peryataan dalam angket respon siswa terdiri dari 10 pertanyaan positif dan 10 pertanyaan negatif. Pernyataan dalam angket dibagi menjadi tiga dimensi. Pertama, untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran biologi berbasis e-learning pada konsep sistem pernapasan. Dimensi ini dikembangkan kedalam indikator

(14)

respon terhadap penerapan pembelajaran, rasa ingin tahu, dan manfaat pembelajaran. Kedua, untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran biologi berbasis e-learning pada konsep sistem pernapasan. Dimensi ini dikembangkan menjadi empat indikator, yaitu minat siswa, keaktifan siswa, kemampuan menyampaikan kembali dan motivasi belajar siswa. Ketiga, untuk mengetahui respon siswa terhadap hasil belajar dengan pembelajaran biologi berbasis e-learning pada konsep sistem pernapasan. Dimensi ini dikembangkan kedalam indikator pemahaman siswa, wawasan siswa dan peningkatan kemampuan kognitif siswa.

Ukuran yang digunakan dalam angket adalah skala likert. Skala ini disusun dalam bentuk pernyataan dan diikuti oleh empat respon yang menunjukan tingkatan respon. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengukur kecenderungan sikap peserta terhadap pembelajaran yang diikutinya. Berikut hasil rekapitulasi angket yang telah dianalisis dan dituangkan dalam diagram pie.

Gambar 4.9 Diagram Persentase Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Berbasis E-Learning

Diagram (gambar 4.9) menunjukan respon siswa terhadap pembelajaran berbantuan E-Learnning. Berdasarkan hasil analisis data diatas, pembelajaran berbasis e-learning dalam pembelajaran biologi mendapat respon kuat dengan prosentase 63% , sedangkan sebagian siswa lainnya merespon sangant kuat dengan prosentase 31%, merespon cukup 5% dan merespon lemah 1%. Hasil rata-rata angket respon siswa adalah 99%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap pembelajaran biologi berbasis e-learning adalah kuat.

31%

63%

5% 1%

Sangat kuat Kuat Cukup Lemah

(15)

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Aktivitas Belajar Siswa Antara Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada individu yang belajar (Majid, 2012). Dalam mengukur aktivitas belajar siswa digunakan metode observasi.

Sugiyono (2016) observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi yang dilakukan meliputi 5 indikator. Indikator tersebut yaitu Indikator KBK 1) Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan. 2) Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan- pernyataan dan gagasan-gagasan. 3) Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya. 4) : Menarik inferensi-inferensi 5) Menghasilkan argumen- argumen.

Hamalik dalam Arsyad (2016) pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Analisis data observasi untuk aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama (gambar 4.2) menunjukan nilai prosentase rata-rata kelas kontrol pada indikator-5 yaitu menghasilkan argumen-argumen memiliki prosentase tertinggi sedangkan pada indikator-3 yaitu mengevaluasi argument-argumen yang beragam jenisnya memiliki prosentase terendah. Analisis data observasi untuk aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen pada indikator-2 yakni mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan memiliki prosentase tertinggi sedangkan prosentase terendah pada kelas eksperimen yaitu pada indikator-4 menarik inferensi-inferensi.

(16)

Pertemuan pertama pada kelas eksperimen lebih unggul dari kelas kontrol dalam semua aspek aktivitas belajar siswa. Pembelajaran yang diterapkan pada pertemuan pertama untuk kelas eksperimen menggunakan e-learning dalam bentuk LMS (Learning Management System) website dengan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran ini mendorong siswa untuk dapat belajar secara mandiri dengan menggunakan fasilitas e-learning dalam bentuk LMS website serta guru berperan sebagai fasilitator. Wahyuningsih dan Rakhmat (2017) penggunaan e-learning dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian belajar peserta didik. E-learning dapat menggantikan pembelajaran tatap muka mulai dari proses pembelajaran hingga kegiatan evaluasinya. Darmawan (2014) e-learning merupakan kombinasi antara informasi, interaksi dan komunikasi pendidikan. E- learning mempermudah interaksi antara peserta didik dan materi pelajaran.

Pendidik dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tigas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di dalam website untuk diakses oleh para peserta didik.

Aktivitas belajar pada pertemuan kedua pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan kelas kontrol. Perbedaan ini meliputi kelima aspek indikator aktivitas belajar siswa. Peneliti berpendapat bahwa pada pertemuan kedua peningkatan terjadi disebabkan oleh faktor metode diskusi.

Namun pembelajaran e-learning yang sudah dapat dipahami penggunaan dan manfaatnya oleh siswa dapat dimaksimalkan secara lagsung dalam pembelajarannya. Berbeda dengan kelas eksperimen, pada kelas kontrol pembelajaran dilakukan dengan media dua dimensi.

Rekapitulasi hasil observasi menunjukan persentase aktivitas belajar siswa kelas eksperimen secara umum lebih unggul dibandingkan kelas kontrol. Perbedaan aktivitas belajar tidak begitu nampak pada pertemuan pertama karena siswa dikelas eksperimen masih terkesan kaku dalam menggunakan e-learning dalam bentuk LMS website, sedangkan pada pertemuan kedua perbedaan persentase aktivitas belajar terlihat signifikan dengan adanya diskusi dalam pembelajaran (lihat gambar 4.1). Keunggulan yang dimiliki e-learning dalam bentuk LMS memungkinkan guru dan siswa untuk menggali kemampuan yang dimiliki.

Munir (2010) e-learning adalah proses belajar secara efektif yang dihasilkan dengan caramenggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari

(17)

dukungan dan layanan dalam belajar. E-learning merupakan kepanjangan dari Elektronik Learning, merupakan salah satu metode baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan alasan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ICT. Jaya Kumar C. Koran dalam penelitian Ririn Arisa, mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. E-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.

Darmawan (2014) terdapat tiga fungsi e-learning dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas yaitu sebagai suplemen (tambahan) yang sifatnya pilihan (opsional), pelengkap (komplemen) atau pengganti (substitusi). E-learning berfungsi sebagai suplemen (tambahan) yaitu peserta didik mempunyai kebebasan memilih apakah akan memanfaatkan materi e-learning atau tidak. E-learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) yaitu materinya diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas.

Kegiatan dengan menggunakan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya peserta didik dapat mengakses bahan- bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang.

2. Perbedaan Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Antara Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen

Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan. Kemampuan berpikir kritis dapat diukur dengan menggunakan instrumenyang dikembangkan melalui aspek dan indikator berpikir kritis (Prayoga, 2013). Fisher (2008) mengemukakan bahwa berpikir kritis merupakan kompetensi akademis yang mirip dengan membaca dan menulis. Oleh karena itu, ia mendefinisikan berpikir kritis merupakan interpretasi dan evaluasi yang terampil dan aktif terhadap observasi dan komunikasi, informasi dan argumentasi. Dalam pengukuran keterampilan berpikir kritis tes pilihan ganda beralasan digunakan dan diimplementasikan pada materi system pernapasan pad manusia. Pilihan ganda ini

(18)

bukan hanya menuntut siswa mengetahui jawaban, tetapi siswa juga harus mengetahui alasan dari jawaban tersebut. Dengan demikian dalam penskoran tes pilihan ganda siswa diberi poin 2 untuk jawaban dan alasan yang tepat, 1 poin untuk jawaban yang tepat dan alasan keliru, serta 0 apabila alasan tepat namun jawaban salah serta kedua-duanya salah.

Kemampuan awal siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata pretest yang telah dianalisis dan diuji statistik. Grafik nilai rata-rata pretest (gambar 4.5) menunjukan bahwa kemampuan awal siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak memiliki perbedaan yang jauh. Dari hasil ini nilai kelas kontrol memperoleh rata-rata lebih kecil sedangkan kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata lebih besar dari skor maksimal. Pretest dilakukan sebelum diberikan perlakuan kepada masing-masing kelas. Dalam hal ini setiap kelas belum mengalami proses pembelajaran secara langsung dari peneliti sehingga kemampuan rata-rata yang dimiliki siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Dalam proses selanjutnya terdapat perbedaan kemampuan awal antara kelas kontrol dan kelas eksperimen pada analisis kemampuan awal siswa pada setiap indikator KBK. Berdasalkan hasil yang didapatkan dari pengolahan dan analisis data pretest secara khusus untuk setiap indikator KBK menunjukan bahwa pada indikator KBK-1 tidak dapat perbedaan kemampuan awal antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sedangkan pada indikator KBK yang lainya hanya terdapat sedikit perbedaan kemampuan awal antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Tetapi hasil indikator KBK-4 pada kelas kontrol memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan kelas eksperimen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas kontrol memiliki keunggulan dalam kemampuan awal pada semua aspek yaknimengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan, mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan, mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya, menarik inferensi-inferensi, menghasilkan argumen-argumen.

Namun pada indikator KBK- 4 dengan aspek menarik inferensi-inferensi kelas kontrol memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kelas eksperimen.

Purwanto dalam Juanda (2016) tes merupakan alat ukur untuk proses pengumpulan data dimana dalam memberikan respon atas pertanyaan dalam instrument, peserta didorong untuk menunjukkan kemampuan maksimalnya. Astuti

(19)

(2015) kemampuan awal adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh siswa sebelum mengikuti pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal merupakan prasyarat yang harus dimiliki peserta didik sebelum memasuki pembelajaran berikutnya yang lebih tinggi.

Penerapan pembelajaran e-learning dalam bentuk LMS website dilakukan pada kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Astanajapura. Sedangkan kelas XI IPA 2 merupakan kelas kontrol dengan pembelajaran tanpa menggunakan e- learningdalam bentuk LMS website. Berdasarkan hasil pengukuran kemampuan rata-rata siswa setelah mengikuti pembelajaran (nilai posttest), nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (grafik 4.7). Hasil ini kemudian dianalisis dengan uji statistik yang meliputi uji prasarat dan uji hipotesis. Dari hasil uji hipotesis (table 4.2) data N-gain menunjukan signifikansi sig. <0,05 sehingga H0 ditolak. Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen pada kemampuan rata-rata siswa setelah dilakukannya pembelajaran.

Penilaian terhadap kemampuan akhir dilakukan untuk mengukur seberapa jauh tingkat pencapaian prestasi belajar selama mengikuti pembelajaran.

Keterampilan berpikir kritis yang dijadikan acuan sebagai hasil belajar dapat dicapai lebih tinggi oleh kelas eksperimen dibandingkan dengan pencapaian kelas kontrol. Dengan demikian penerapan e-learning dalam bentuk LMS website dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa secara signifikan.

Arsyad (2016) menjelaskan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain itu, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.

Dalam e-learning LMS website terdapat video, teks dan gambar yang memungkinkan penyajian data menjadi lebih konkrit sehingga mudah dipahami.

(20)

Kerucut pengalaman (cone of experience) yang dikemukakan oleh Edgar Dale memberikan gambaran bahwa semakin konkret siswa mempelajari pelajaran, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh siswa. Sebaliknya semakin abstrak siswa mempelajari pelajaran, maka semakin sedikit pula pengalaman yang diperolehnya.

Analisis kemampuan rata-rata siswa perindikator KBK setelah pembelajaran dilakukan untuk mengetahui pada indikator mana terdapat perbedaan kemampuan yang signifikan. Nilai rata-rata posttest untuk setiap indikator KBK dapat dilihat pada gambar 4.6. nilai rata-rata posttest untuk indikator KBK-2 dan indikator KBK- 4.

Kemampuan awal siswa pada kelas kontrol untuk indikator KBK-4 lebih unggul dibandingkan dengan kelas eksperimen. Hal ini mempengaruhi pencapaian kelas kontrol pada hasil posttest yang telah dilakukan. Menurut Sanjaya (2012) proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan dan karakteristik siswa yang berbeda-beda. Siswa akan mudah mempelajari bahan pelajaran apabila siswa tersebut telah memiliki sejumlah kemampuan awal. Siswa akan mudah mempelajari bahan pelajaran, apabila dalam sirinya terdapat kemampuan awal yang dibutuhkan.

Siswa yang memiliki kemampuan awal akan lebih siap dibandingkan dengan siswa yang belum memiliki kemampuan awal.

Peningkatan keterampilan berpikir kritis dapat dilihat dari N-gain yang diperoleh masing-masing kelas. N-gain untuk kelas kontrol lebih kecil dan N-gain kelas eksperimen lebih besar. Kelas eksperimen memiliki N-gain lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hai ini menunjukan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen lebih unggul daripada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa dikelas kontrol. Hasil uji hipotesis yang diperoleh dari uji Independent Simple T test pada data N-gain secara umum (tabel 4.2). Karena nilai sig.<0,05 maka H0 ditolak dan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang signifikan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen.

Wahyuningsih dan Rakhmat (2017) penggunaan e-learning dalam pembelajaran menurut riset-riset terbaru memberi dampak positif terhadap proses dan hasil belajar. Penggunaan e-learning secara terencana dan terstruktur dapat meningkatkan interaktivitas, kemandirian dan hasil belajar. E-learning dapat

(21)

digunakan untuk menyajikan bahan ajar sesuai dengan gaya belajar seseorang secara visual, auditorial, dan kinetetik. E-learning juga baik digunakan untuk membangun keterampilan berpikir seseorang yang meliputi berpikir kreatif, kritis dan metakognisi. Pada prinsipnya e-learning tidak hanya sekedar media akan tetapi di dalamnya terkandung metode dan sekumpulan strategi untuk memfasilitasi manusia dalam belajar, baik secara individu maupun kelompok.

Analisis N-gain perindikator dilakukan guna mengetahui indikator KBK yang memiliki perbedaan peningkatan signifikan atau bahkan tidak memiliki perbedaan peningkatan KBK antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen. Berdasarkan data N-gain yang diperoleh untuk setiap indikator KBK (gambar 4.8) secara keseluruhan N-gain kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol. N-gain tertinggi kelas eksperimen terdapat pada indikator KBK-2, sedangkan N-gain indikator KBK-1, KBK-3, KBK-4 dan KBK-5 lebih kecil. Pada kelas kontrol N-gain tertinggi pada indikator KBK-3, sedangkan indikator KBK-1, KBK-2, KBK-4 dan KBK-5 N-gain nya lebih kecil.

Uji hipotesis pada masing-masing N-gain indikator KBK dilakukan dengan uji Independent simple T test dan uji Mann- Whitney U karena ada data yang berdistribusi tidak normal. Hasil dari uji hipotesis untuk masing-masing indikator pada data N-gain (tabel 4.3) menunjukan bahwa nilai signifikansi N-gain pada indikator KBK-1 dan indikator KBK-5 nilai signifikansi keduanya menunjukan nilai yang <0,05 sehingga H0 ditolak. Sedangkan hasil uji hipotesis untuk data N- gain indikator KBK- 2, indikator KBK-3 dan indikator KBK-4 nilai signifikansi

>0,05 sehingga H0 diterima. Berdasarkan hasil uji hipotesis ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang signifikan terdapat pada indikator KBK-1 dan indikator KBK-5 sedangkan untuk indikator KBK-2, KBK-3 dan KBK-4 tidak terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang signifikan.

Perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang ditinjau dari masing-masing indikator KBK menunjukan hasil yang kurang signifikan. Hanya pada indikator KBK-1 dan indikator KBK-5 perbedaan peningkatan KBK dapat diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berpendapat bahwa kurang maksimalnya ketercapaian keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dipengaruhi oleh terbatasnya prasarana yang dimiliki siswa untuk memahami

(22)

materi secara lebih mendalam melalui e-learning LMS website. E-learning yang dikembangkan peneliti bersifat online dan dapat dibuka dengan menggunakan komputer, laptop, netbook, handphone. Menurut Desmita (2014) sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar. Berbagai pengalaman yang dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong agar siswa aktif belajar baik secara fisik ataupun non-fisik. Adanya fasilitas dalam pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya sendiri.

3. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Berbantuan E-Learning

Respon merupakan tanggapan yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang telah diberikan. Pengukuran respon siswa terhadap pembelajaran berbantuan e-learning LMS website dalam pembelajaran biologi sangat penting diketahu karena respon siswa terhadap e-learning ini dapat menjadi salah satu tolak ukur dalam mengevaluasi e-learning dan penerapannya. Tujuan pemberian angket adalah untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan pembelajaran yang telah guru terapkan sebagai bahan evaluasi dan refleksi guru untuk dapat memberikan yang lebih baik lagi dan lebih berkualitas kedepannya. Respon merupakan tanggapan yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang telah diberikan sehingga dapat diterima atau bahkan ditolak.

Pengukuran respon siswa terhadap pembelajaran biologi sangat penting diketahui karena respon siswa terhadap pembelajaran berbantuan e-learning dapat menjadi salah satu tolak ukur dalam mengembangkan pembelajaran yang baru terhadap siswa agar ketika siswa telah selesai di jenjang pendidikannya siswa memiliki sebuah pengetahuan. Data respon siswa hanya dibutuhkan pada kelas eksperimen karena kelas kontrol tidak diberikan perlakuan berupa pembelajaran berbantuan e-learning.

Angket yang digunakan tidak mencantumkan opsi ragu-ragu (R) atau opsi tengah (netral). Opsi tersebut tidak digunakan dengan tujuan agar siswa tidak terpengaruh untuk tidak memberikan pendapat yang berakibat tidak adanya respon yang pasti, apakah menerima atau menolak. Sukardi (2008) yang menyatakan bahwa ada kecenderungan seseorang atau responden memberikan pilihan jawaban

(23)

pada kategori tengah karena alasan kemanusiaan, seandainya responden memilih pada kategori tengah maka peneliti tidak akan memperoleh informasi yang pasti.

Hasil penghitungan rata-rata persentase angket respon siswa per dimensi dapat jelaskan bahwa respon siswa terhadap penerapan pembelajaran dan proses pembelajaran berbantuan e-learning, dan hasil belajar dan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa adalah kuat. Hasil perolehan data tersebut, secara umum pembelajaran berbantuan e-learning ini diterima dengan baik oleh siswa.

Hasil dari persentase rata-rata siswa merasa tertarik terhadap pembelajaran biologi berbantuan e-learning pada pokok bahasan sistem pernapasan pada manusia di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Astanajapura.

Dimensi proses yang digunakan dalam angket menggunakan indikator minat, kemampuan menyampaikan kembali, keaktifan siswa dan motivasi. Sebagian besar siswa memberikan respon bahwa pembelajaran berbantuan e-learning dapat menumbuhkan minat serta motivasi dalam belajar, serta meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan kemampuan siswa dalam menyampaikan kembali materi yang telah dipelajari meningkat. Dimensi hasil belajar dalam angket menggunakan indikator pemahaman, wawasan, dan adanya peningkatan keterampilan berpikir kritis.

Respon kuat yang diberikan siswa terhadap pembelajaran biologi berbasis e- learning LMS website ini sesuai dengan pendapat Kemp & Dayton dalam Arsyad (2016) yang mengatakan bahwa media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan keruntunan pesan, daya tarik image yang berubah-ubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan siswa tertawa dan berpikir, yang kesemuanya menunjukan bahwa media memiliki aspek motivasi dan meningkatkan minat.

Darmawan (2014) E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dan materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dan pendidikmaupun antara sesama peserta didik saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Pendidi.k dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam website untuk diakses oleh para peserta didik.

(24)

Hamalik dalam Arsyad (2016) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Dapat diketahui bahwa pembelajaran berbantuan e-learning menggunakan website memberikan hal baru bagi siswa, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor pengetahuannya didalam kelas, dengan demikian siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran dan merespon baik terhadap pembelajaran berbantuan e- learning mengunakan website.

Gambar

Gambar 4.1 Grafik Persentase Rata-rata Aktifitas Siswa Kelas Kontrol dan  Kelas Eksperimen pada Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua
Gambar 4.2 Grafik Aktivitas Siswa pada Pertemuan Pertama untuk Setiap  Indikatornya
Gambar 4.3 Aktivitas Siswa pada Pertemuan Kedua untuk Setiap Indikatornya
Gambar 4.4 Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan Pertama dan  Pertemuan Kedua untuk Setiap Indikatornya
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendampingan dan pelatihan LO terhadap partisipasi kader, ibu balita dan pelayanan kesehatan, partisipasi ibu balita, pelaya-

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwa dari enam elemen dari analisis risiko pemakaian alat pelindung diri masker dan sumbat telinga pada pekerja tekstil di

Program Studi Tata Niaga, Jurusan Ekonomi dan Administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta yang telah meluangkan waktunya memberikan. bimbingan dan dukungan

Dalam rangka memeriahkan HUT Paroki SanMaRe yang ke-3, akan diadakan bazar pada hari Minggu, 25 Agustus 2013, bazar terbuka bagi seluruh umat. Bagi yang berminat membuka

Facility Services ( cleaning service, office support service, gardening &amp; landscaping, Integrated Pest Management, building maintenance service, indoor air

seri faktur pajak tahun 2016 sehingga tidak dapat membuat faktur baru untuk.. mengganti faktur yang dibatalkan dan tidak dapat melakukan permintaan

Teknik Dussel : Teknik dussel adalah teknik yang di gunakan untuk membuat gelap terang pada objek lukis dengan goresan – goresan miring yang menggunakan pensil.. Teknik Pointilis

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga gula darah tetap normal adalah dengan menggunakan obat diabetes atau sering disebut Obat Hipoglikemik Oral (OHO)