5 BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Brachialis Plexus Injury
1. Definisi
Cedera pleksus brakialis adalah kondisi yang relatif sering terjadi dan menyebabkan kerusakan fungsi yang kompleks pada anggota tubuh bagian atas dan menyebabkan kecacatan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kecelakaan traumatis yang terutama disebabkan oleh gerakan traksi, luka atau kompresi pleksus pada permukaan keras pada struktur di dekatnya (tulang, vertebra, atau otot). Terkadang disebabkan oleh tumor, inflamasi atau prosedur diagnostik atau terapeutik. Jika terjadi selama kelahiran maka didefinisikan sebagai Obstetric Brachial Plexus Palsy (Smania, 2012). Istilah Brachialis Plexus Injury mengarah pada luka yang terjadi pada susunan saraf dimana saraf mengendalikan otot-otot jari, tangan, lengan, dan bahu. Saraf tersebut berasal dari sumsum tulang belakang dan terbentuk menjadi 3 ruas yang terletak di bahu bagian atas: ruas atas berasal dari segmen medulla spinalis C5 dan C6 batang tengah dari segmen C7,dan batang bawah dari segmen C8 dan T1. Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan BPI (United Brachialis Plexus Network, 2014).
6 2. Anatomi
Plexus brakhialis adalah pangkal dari serabut-serabut saraf yang berasal dari medulla spinalis yang mempersarafi ekstremitas superior. Plexus braklialis merupakan serabut saraf yang berasal dari dari ramus anterior saraf C5-T1. Saraf C5, C8 dan T1 bergabung membentuk trunk inferior. Trunkus berjalan melewati klavikula dan membentuk divisi anterior dan posterior.
Divisi posterior dari masing-masing trunkus tadi akan membentuk fasikulus posterior. Divisi anterior dari trunkus-trunkus superior dan media membentuk fasikulus lateral. Divisi anterior dari trunkus inferior membentuk fasikulus medial. Kemudian fasikulus posterior membentuk n. radialis dan n. axilaris.
Fasikulus lateral terbagi dua dimana cabang pertama ikut membentuk n.
medianus dan cabang lainnya menjadi n. ulnaris (Leffert, 1985).
Gambar 2.1 Anatomis Plexus Brachialis
Snell (2010) mengungkapkan terdapat enam saraf penting yang keluar dari plexus brachialis, saraf-saraf tersebut adalah:
7
a. Nervus thorakalis longus berasal dari radiks plexus brachialis di leher dan masuk aksilla dengan berjalan turun melewati pinggir lateral iga I di belakang A.aksillaris dan plexus brachialis. Saraf ini berjalan turun melewati permukaan lateral muscullus serratus anterior yang dipersarafinya.
b. Nervus akillaris merupakan cabang yang besar dari fasciculus posterior.
Berada di sebelah dorsal A.aksillaris. meninggalkan fossa aksillaris tanpa memberi persarafan di sisi Nervus Aksillaris, berjalan di antara Musculus subscapularis dan Musculus teres minor, berada di sebelah lateral caput longum musculus tricep brachii, berjalan melalui fissure aksillaris lateralis bersama-sama dengan arteri circumflexa humeri posterior, Nervus axillaris terletak sejajar dengan columna chirurgicum humeri.
c. Nervus radialis merupakan lanjutan langsung dari fasciculus posterior plexus brachialis dan terletak di belakang A. aksillaris. Nervus radialis adalah cabang terbesar plexus brachialis. Sebelum meninggalkan aksilla, saraf ini memberi prcabangan untuk caput longum dan caput medial Musculus triceps dan Nervus cutaneous brachii posterior.
d. Nervus musculocutaneus merupakan percabangan dari fasciculus lateralis dan berpusat pada medulla spinalis segmen C5-C7, mensarafi Musculus coracobrachialis, dan meninggalkan aksilla dengan menembus otot tersebut.
Saraf ini meninggalkan tepi lateral Musculus biceps brachii, menembus fascia dan melanjutkan diri sebagai Nervus cutaneous antebrachii lateralis, yang mempersarafi permukaan lateral region antebrachium.
e. Nervus medianus dibentuk oleh radiks superior dan fasciculus lateralis dan radiks inferior dan fasciculus medialis, berada di sebelah lateral A. aksillaris.
Menerima serabut-serabut yang berpusat pada medulla spinalis segmen C5-
8
T12. Sepanjang brachium, Nervus medianus berjalan berdampingan dengan A. brachialis, mula-mula disebelah lateral,lalu menyilang disebelah ventral arteri tersebut kira-kira ada pertengahan brachium, selanjutnya memasuki fossa cubii dan berada di sebelah medial A. brachialis. Nervus ini tidak memberi percabangan di daerah brachium. Memasuki daerah antebrachium, nervus ini berjalan di antara kedua caput Musculus pronator teres,bejalan ke distal di bagian median (tengah-tengah) antebrachium, oleh karena itu disebut Nervus medianus.
f. Nervus ulnaris adalah cabang utama dari fasciculus medialis, berjalan turun antara A. aksillaris dan V. aksillaris. Pada pertengahan brachium saraf ini berjalan kearah dorsal menembus septum intermusculare medial, berjalan terus ke caudal dan berada pada permukaan dorsal epicondylus medialis humeri, yaitu di dalam sulcus nervus ulnaris. Di tempat ini Nervus ulnaris ditutupi oleh kulit sehingga dapat dipalpasi. Di daerah brachium, Nervus ulnaris tidak memberi percabangan.
3. Etiologi
Mekanisme umum cedera pada pleksus brakhialis adalah gangguan pada keseluruhan ekstremitas atas. Cedera ini biasanya diakibatkan oleh kecelakaan sepeda motor, kecelakaan kendaraan berkecepatan tinggi.
Terjatuh dari ketinggian juga dapat menyebabkan cedera pada pleksus brakhialis, baik itu akibat dari traksi atau dari pukulan langsung,luka tusuk dan luka tembak. Pada cedera tipe traksi, prognosis yang penting adalah apakah luka itu proksimal (preganglionik) atau distal (postganglionik).
9
Sebuah avulsion berarti badan sel dari saraf sensoris tertarik keluar dari cord (Mark dkk, 2015).
Cedera ini biasanya diakibatkan oleh kecelakaan sepeda motor atau kecelakaan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi, jatuh dari ketinggian yang signifikan di bawah daya tarik atau pukulan langsung. Hal itu juga bisa terjadi dengan luka tembus dan luka tembak. Bisa akibat dari cedera iatrogenik, terutama sebagai komplikasi administrasi blok saraf (Khadilkar &
Khade, 2013).
4. Prevalensi
Prevalensi terjadinya BPI pada kecelakaan yang terjadi di Amerika Utara tahun 1900-an adalah sekitar 1,2%. Brachial plexus injury paling sering ditemukan pada orang dewasa, dari usia 14 sampai 63 tahun, bersama dengan 50% pasien berusia antara 19 dan 34 tahun, dan dengan pasien laki-laki yang berisiko sekitar 89%. Diantara 44%-70% penyebab dari cedera pleksus brakhialis adalah trauma, kebanyakan terjadi pada kecelakaan sepeda motor, saat aktivitas olahraga, dan saat di tempat kerjan(Smania, 2012).
Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab trauma plexus brachialis kebanyakan sebesar 80,7 persen. Dari kecelakaan lalu lintas, dibagi lagi yaitu kecelakaan sepeda motor sebesar 63,2% diikuti oleh kecelakaan mobil sebesar 23,5%, kecelakaan sepeda sebesar 10,7% dan tabrakan pejalan kaki sebesar 3,1%. Penelitian yang dilakukan di Inggris tahun 2012, melaporkan bahwa 450-500 kasus cedera supraklavikular tertutup terjadi setiap tahun (Kaiser dkk, 2012).
10 5. Gambaran Klinis
BPI umumnya bersifat unilateral tetapi kadang-kadang bersifat bilateral seperti cedera akibat diffuse polineuropathi inflammator, demyelinating neuropathy, dan multifocal motor neuropathy. Banyak hal yang menjadi penyebab, tetapi infiltrasi tumor, radiation plexitis, dan idiopathic plexitisadalah yang paling sering. Penyebab lain adalah cedera selama persalinan. Jika seluruh plexuscedera, maka keseluruhan anggota gerak atas paralisis dan mati rasa, terkadang ditemukan unilateral Horners syndrome, yaitu tanda ptosis, miosis, dan anhidrosis yangtimbul akibat kerusakan saraf di bagian servikal spinalis (Murat,2007)
Kishner (2013), gambaran klinis cedera pada plexus brakhialis dipengaruhi oleh letak gangguannya antara lain :
a. Lesi Upper Plexus (Erb-Duchenne Paralisis (C5-C6))
Kelemahan terjadi pada bahu dan m. biceps, terkadang disertai trauma pada root C7 yang menyebabkan paralisis pada lengan bawah.
b. Lesi Lower Plexus (Dejerine-Klumpke’s paralisis (C8-T1))
Kelemahan pada otot instrinsik tangan dan fleksor jari yang menyebabkan kehilangan fungsi tangan dan lengan bawah. terkadang disertai dengan adanya kerusakan pada root C7. Sering terjadi Sympathetic Palsy-Horner’s Syndrome.
c. Lesi Total Brachial (Erb-Klumpke’s Paralisis (C5-T1)) Kelemahan yang kompit dan anestesi dari tangan.
d. Lesi Posterior Cord (C5-C8)
Mengenai root C5, C6, C7 dan C8, terjadi kelemahan pada m.deltoid, m. extensor elbow, m. extensor wrist dan m. extensor
11
finger. Level cedera dapat dianalogikan dengan manifestasi klinis, seperti gerakan aktif dan pasif dari bahu, lengan atas, lengan bawah, tangan dan pergelangan tangan melalui berbagai gerakan.
Brachial Plexus Injury (C5, C6) menyebabkan kelumpuhan otot pada bahu dan bicep.
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala cedera brachialis plexus bisa bervariasi, tergantung keparahan dan lokasi cederanya,. Biasanya, hanya satu sisi lengan yang terpengaruh. Cedera ringan biasanya menimbulkan gejala seperti sensasi tersengat listrik atau terbakar di sekujur lengan, atau sensasi kebas. .Gejala- gejala ini biasanya berlangsung hanya beberapa menit, namun beberapa orang bisa mengalaminya hingga harian bahkan mingguan atau lebih lama lagi. Pada kasus cedera yang lebih berat, misalnya sampai sobek atau terlepas dari tulang belakang, biasanya menyebabkan Kelemahan atau ketidakmampuan untuk menggerakkan otot tangan, lengan, atau bahu, tidak bisa menggerakkan dan merasakan sensasi rangsangan, seperti di bahu atau tangan dan nyeri hebat (Tania, 2015).
7. Penanganan
Dalam penanganan pada pasien BPI antara lain sebagai berikut : a. Initial Manajemen
Pemeriksaan fisik secara rinci yang meliputi komponen motorik dan sensorik dari setiap kelompok otot yang dipersarafi oleh plexus brachialis harus dilakukan, kekuatan otot diperkirakan oleh Medical Research Council British sistem penilaian otot dan sensorik dengan mengukur sensasi dermatom dan sensasi 2-point di digit. Tanda Tinel di plexus supraklavikula
12
dan infraklavikula harus diperiksa karena menjadi indikator apakah BPI adalah distal ke foramen tulang belakang atau tidak (postganglionik). Serta pemeriksaan rentang gerak aktif dan pasif pada bahu, siku, lengan bawah, dan pergelangan tangan serta refleks. Tanda-tanda fisik yang menunjukkan diferensiasi anggota badan, termasuk tanda Horner di ekstremitas anestesi, menunjukkan BPI adalah proksimal foramen tulang belakang (preganglionik). Palpasi pada radial dan ulnar diperlukan untuk menyeleksi cedera vaskular secara bersamaan (Nordin & Sinisi, 2009).
b. Manajemen Konservatif
Jika pada diagnosis EMG menunjukkan kerusakan maka diperlukan tindakan manajemen konservatif. Manajemen konservatif termasuk penggunaan asisten perangkat seperti sling dan splints untuk mencegah gerakan posisi yang tidak terkendali anggota tubuh lumpuh yang dapat menghambat kualitas hidup. Berbagai gerakan pasif (PROM) dapat digunakan setiap hari untuk mempertahankan mobilitas sendi dan kekuatan otot pada lengan (Kinlaw, 2005).
c. Surgical Treatment
Jika tidak menunjukkan pemulihan cedera secara spontan dalam kurun waktu 6 bulan, maka harus dilakukan rencana rekonstruksi. Meskipun diperdebatkan, sebagian besar ahli bedah pleksus brakhialis akan setuju bahwa pemulihan fleksi siku adalah fungsi yang paling penting diikuti oleh abduksi bahu. Meskipun pemulihan fungsi motorik merupakan prioritas dalam rekonstruksi pleksus brakialis, pemulihan sensasi pelindung juga penting untuk fungsi memegang, pencegahan cedera, dan bahkan modulasi patogenesis jalur deferentasi nyeri. Masing-masing elemen dapat
13
meningkatkan kualitas hidup pasien (Park et al, 2017). Waktu yang optimal untuk dilakukan intervensi bedah yaitu 3 sampai 6 bulan setelah cedera (Kato, Htut, Taggart, Carlstedt & Birch, 2006). Keterlambatan operasi setelah 6 sampai 18 bulan denervasi dapat menyebabkan kegagalan pelat akhir motor dan dengan demikiankegagalan re-inervasi (Viguie, Lu, Huang, Rengen, & Carlson,1997).
Pilihan operasi yang digunakan di BPI termasuk mencangkok saraf, neurotization (transfer saraf), dan pleksus brakialis lainnya teknik (Leechavengvongs, Witoonchart, Uerpairojkit, Thuvasethakul, &
Ketmalasiri, 1998).
Tindakan yang dilakukan pada pasien BPI antara lain adalah : 1. Nerve Graviting
Mencangkok saraf adalah prosedur yang digunakan untuk membuat konektivitas saraf pecah cedera postganglionik. Perbaikan saraf dengan mencangkok memungkinkan regenerasi akson bawah jalur asli untuk reinnervate beberapa otot. Hal ini secara teoritis strategi terbaik bedah (Alnot, 1995).
2. Neurolization (tranfer saraf)
Jika cedera preganglionik, rekonstruksi menggunakan transfer saraf bisa membantu. Tujuan dari transfer saraf tidak re-inervasi dari pleksus brakialis dalam anatomi aslinya. Alihalih itu, saraf penting yang lebih rendah (donor saraf) melekat pada tunggul distal pecah;
itu dikorbankan untuk mendapatkan fungsi saraf yang lebih menguntungkan (penerima saraf) (Rankine, 2004).
14 8. Prognosis
Brachialis Pleuxus Injury memiliki prognosis yang buruk,jika cidera pada proksimal sampai dorsal root ganglion. Perbaikan pada plexus jarang berhasil. Perkembagan dariondisi Brachialis Plexus Injury tergantung oleh banyak factor diantaranya yaitu usia pasien, jenis saraf yang cedera, waktu intervensi bedah, dan komplikasi atau penyakit penyerta (Sakellariou, 2014).
Kretschmer et al pada tahun 2009 mengungkapkan 87% dari pasien cedera trauma plexus brachialis yang doperasi, dan 83 % pasien merasa puas terhadap tindakan operasi. Meskipun tingkat kepuasan yang tingi, tetapi pasien tetap cacat dan 50%dari populasi pasien BPI tidak dapat bekerja lagi.
Dengan demikian, ada kejanggalan antara kepuasan pasien dan cacat scara fungsional (Kretschmer, Ihle, Anoniadis, Seidel, Heinen & Borm et al,b2009).
Prognosis tergantung pada tingkat keparahan kerusakan saraf. Jika saraf terputus, rupturatau alvusi dari spinal cord, maka tidak ada pemulihan tanpa adanya pembedahan. Selama 100 tahun, berbagai strategi bedah untuk perbaikan saraf dan rekonstruksi sudah dikembangkan.
Intrevensi ini memberikan perbaikan fungsi yang cukup baik untuk beberapa kasus cedera pleksus brakhialis parsial, namun pada cedera total dan terdapat adanya paralisis pada tangan tetapi prognosisnya kurang baik (Tim, 2015).
9. Prognosis Fungsional
Cedera trauma plexus brakhialis cenderung terjadi pada individu muda sehat, dan aktif. Sementara cedera trauma plexus brakhialis sendiri tidak fatal, namun dapat menyebabkan kecacatan dan sulit untuk dikembalikan ke
15
semula (Kim, Cho, Tiel, & Kline, 2003). Selain defisit motor dan sensorik, juga dapat menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan fungsional (Ahmed, Golan, & Jacques, 2007). Dalam sebagian besar studi, hasil bedah dinilai hanya pemulihan secara sensorik dan mototrik tidak selalu berkorelasi dengan statistik fungsional (Kim, Cho, Tiel, & Kline, 2003). Hasil fungsional dan kualitas hidup (Quality of life) dievaluasi hanya dalam beberapa waktu (Choi, Novak, Mackinnon, & Kline, 1997), (Kretschmer, Ihle, Antoniadis, Seidel, Heinen, & Borm et al, 2009). Perkembangan terbaru dari alat penilaian fungsional dan kualitas hidup secara statistik divalidasi telah meningkatkan kemampuan dokter untuk mengukur hasil tersebut (Ahmed, Golan, & Jacques, 2007). Penderita BPI untuk dapat mengembalikan fungsional tangannya kembali maka diperlukan penanganan rehab medik berupa fisio terapi dan juga okupasi terapi.
Okupasi dapat melibatkan pelaksaan berbagai aktivitas untuk penyelesaian dan dapat menghasilkan berbagai pekerjaan yang dikategorikan sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL), aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari (IADL), rest and sleep, education, work, play, leisure, and social participation (AOTA,2014).
Penderita BPI mengalami kelemahan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, rasa nyeri ketikan menggerakkan anggota gerak atas dan juga mengalami gangguan pada sensorisnya. Adanya masalah gangguan tersebut mengakibatkan penderita BPI mengalami kesuliatn dalam melakukan aktivitasnya. Penderita BPI akan kesulitan dalam menggerakkan lengannya untuk ADL seperti makan, mandi, dan juga dalam hal merawat diri. Work pada penderita BPI juga akan mengalami gangguan karena keterbatasan
16
dalam menggunakan tangganya seperti untuk menulis, mencuci maupun untuk mengangkat benda. Penderita BPI dalam memanfaatkan leisure akan mengalami keterbatasan aktivitas terutama yang melibatkan kekuatan otot, rasa nyeri dan daya tahan dalam melakukan aktivitas, seperti dalam berolah raga, menjahit maupun memancing.
Penderita BPI juga perlu adanya keterlibatan dalam masyarakat untuk kehidupan sehari-hari mereka dalam bersosialisasi. Salah satu kegiatan bermasyarakat adalah dengan menyalurkan hoby dengan mengikuti komunitas ataupun kelompok, seperti kelompok olah raga, koleksi barang dan kelompok lainnya. Penderita BPI perlu adanya pengakuan di masyarakat tentang kondisi mereka yang memiliki keterbatasan pada area fisik mereka, dengan adanya komunitas penderita BPI ataupun kegiatan di masyarakat akan banyak membantu mereka. Kegiatan istirakat pada pendereti BPI sangat penting bagi mereka untukmenjaga kondisi tubuhnya. Bagi penderita BPI terkadang mengalami gangguan berupa nyeri ketika tidur, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti posisi tidur maupun masalah sensori. Perlu adanya edukasi yang tepat agar penderita dapat beristirahat dan menjaga kondisi tubuhnya.
Penanganan pada penderuta BPI salah satunya dilakukan melaui tindakan okupasi terapi. Tindakan okupasi terapi dilakukan untuk meningkatkan fungsional anggota gerak ektremitas atas. Diharapkan penderita BPI mamampu kembali produktiv dalam beraktivitas secara mandiri baik aktivitas sehari-hari, mampu bekerja kembali, maupun dapat menyalurkan kegiatannya di waktu luang.
17 B. Bulu Tangkis
1. Definisi Bulu Tangkis
Bulu tangkis atau yang dikenal juga sebagai badminton merupakan salah satu olahraga yang menggunakan raket.Yang mana dimainkan oleh dua orang untuk permainan tunggal atau 2 pasangan untuk permainan ganda.Dan dapat dimainkan secara ganda campuran, seperti halnya dalam permainan tenis. Secara harfiah, bulu tangkis berasal dari dua kata yakni bulu dan tangkis. Kata bulu sendiri merupakan perwujudan dari bentuk kok (shuttlecock) yang terbuat dari bahan dasar bulu angsa.Sementara tangkis diambil dari kata dasar menangkis. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa bulu tangkis merupakan suatu permainan dengan cara menangkis pergerakan dari shuttlecock (bulu) tersebut ( Amad, 2021).
Keberadaan bulu tangkis ini sangat diterima oleh masyarakat luas.
Sehingga keberadaannya hingga menjarah ke seluruh dunia. Hingga pada akhirnya sebuah majalah bernama “Punch” mempublikasikan permainan ini. Tujuan dari permainan bulu tangkis ini sendiri yaitu mengumpulkan poin hingga mencapai 21. Pemain yang mampu mengumpulkan poin hingga 21 terlebih dahulu berarti ialah yang memenangkan permainan. Peraturan yang digunakan di dalam permainan bulu tangkis harus sesuai dengan peraturan yang ada di dalam IBF. Kebijakan ini tak hanya berlaku bagi perlengkapan dan peralatan yang digunakan saja. Namun partai yang berkepentingan juga diwajibkan untuk mengikutinya. Contohnya produsen peralatan ( Amad, 2021).
18 2. Syarat Bermain Bulu Tangkis.
Seperti halnya permainan yang lain, dalam permainan bulu tangkis juga tedapat berbagai macam syrat untuk bermain bulu tangkis. Posisi tangan dapat menggengam silindris graps. Wrist dapat melakukan gerakan fleksi dan ekstensi, fleksi elbow lebih dari 700 dan dapat melakukan ekstensi elbow, fleksi shoulder lebih dari 900, abduksi pada shoulder 900, horizontal abduksi 800,horizontan adduksi 700. Kekuatan otot pada shoulder, elbow, wrist dan hand minimal 4.
3. Hambatan BPI Dalam Bermain Bulu Tangkis.
Pasin BPI dalam bermain bulu tangkis terdapat gangguan pada kekuatan otot yang melemah, lingkup gerak sendi yang terbatas dan juga ketahanan fisik yang menurun. Penderita BPI mengalami masalah pada sensori yang akan menghambat pasien dalam beraktivitas tidak terkecuali bermain bulu tangkis.
C. Kerangka Acuan Biomekanik 1. Definisi
Kerangka acuan biomekanik digunakan pada masalah seperti udema, kontraktur, arthritis, cedera tulang belakang, dan terkait gangguan padatrauma kumulatif. Tujuan pendekatan kerangka acuan biomekanik adalah untuk meningkatkan lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, serta dayatahan, sehingga dapat memperkuat ototyang lemah dengan cara latihan geral aktif dan pasif (Trombly, 2002).
Tujuan penggunaan kerangka acuan biomekanik adalah pasien diharapkan mampu meningkatkan lingkup gerak sendi bahu, meningkatkan kekuatan otot dan daya tahan, sehingga pasien dapat melakukan aktivitas fungsional seperti aktivitas merias diri menggunakan tangan kanan secara
19
mandiri. Sedangkan strategi atau teknik yang digunakan dalam kerangka acuan biomekanik ini yaitu active movement, graded activity, endurance, dan occupation exersice.