• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH IKLIM TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN TEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH IKLIM TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN TEH"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI OLEH :

MHD. FADIL DWI A. HRP 160301203

AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2022

PENGARUH IKLIM TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN TEH (Camellia sinensis L.) DI KEBUN TOBASARI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV KECAMATAN PEMATANG

SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN PROVINSI SUMATERA UTARA

(2)

SKRIPSI OLEH :

MHD. FADIL DWI A. HRP 160301203

AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2022

PENGARUH IKLIM TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN TEH (Camellia sinensis L.) DI KEBUN TOBASARI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV KECAMATAN PEMATANG

SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN PROVINSI SUMATERA UTARA

(3)
(4)

i ABSTRAK

MHD. FADIL DWI A. HRP : Pengaruh Iklim Terhadap Produktivitas Tanaman Teh (camellia sinensis L.) di Kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dibimbing oleh Irsal dan Jonis Ginting.

Produksi teh dipengaruhi oleh beberapa faktor unsur iklim seperti curah hujan, hari hujan, suhu udara, sinar matahari dan kelembaban udara. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh iklim terhadap produktivitas tanaman teh (Camellia sinensis L.) di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Hipotesis penelitian ada pengaruh nyata curah hujan, hari hujan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan secara parsial maupun simultan terhadap produktivitas teh (Camellia sinensis L.). Penelitian ini dilaksanakan di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV di Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, pada bulan Juni sampai Agustus 2021. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang tersedia di administrasi kebun, meliputi data produksi teh klon Gambung 1 dan klon Gambung 3 tahun 2011 sampai 2020, data curah hujan, data hari hujan, data jumlah sinar matahari, data temperatur dan data kelembapan bulanan tahun 2011 sampai 2020. Metode analisis yang digunakan ialah analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Model diuji kelayakannya dengan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, serta uji autokorelasi dengan menggunakan alat bantu statistik SPSS.v.22 for windows.

Hasil analisis regresi menunjukkan curah hujan , hari hujan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan berpengaruh tidak nyata pada peningkatan produksi teh klon Gambung 1 dan klon Gambung 3 selama tahun 2011 sampai 2020. Korelasi curah hujan , hari hujan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan pada tanaman teh klon Gambung 1 dan klon Gambung 3 selama tahun umur 2011 sampai 2020 memiliki pengaruh yang lemah pada interpretasi nilai r dalam pencapaian produktivitas teh klon Gambung 1 dan klon Gambung 3.

Kata kunci : Produktivitas Teh, Klon, Iklim.

(5)

ii ABSTRACT

MHD. FADIL DWI A. HRP : The Influence of Climate on Tea Crop Productivity (camellia sinensis L.) at Kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Pematang Sidamanik Simalungun Sumatera Utara guided by Irsal and Jonis Ginting.

Tea production is influenced by several climatic factors such as rainfall,rainy days, air temperature, sunlight and air humidity. This study aims to determine the effect of climate on the productivity of tea plants (camellia sinensis L.) in Tobasari plantation PT. Perkebunan Nusantara IV Pematang Sidamanik, Simalungun, Sumatera Utara. Research hypothesis There is a significant effect of rainfall, rainy days, the amount of sunlight, temperature and humidity partially or simultaneously on the productivity of tea (Camellia sinensis L.). This research was conducted at Tobasari plantation PT. Perkebunan Nusantara IV in Pematang Sidamanik, Simalungun, Sumatera Utara, from June to August 2021. This study uses secondary data available in the estate administration, including data on production of tea clones Gambung 1 and clones Gambung 3 from 2011 to 2020, rainfall data, rainy day data, sunshine data, temperature data and monthly humidity data from 2011 to 2020. The analytical method used is multiple linear regression analysis and correlation analysis. The feasibility of the model was tested using the classical assumption test including normality test, heteroscedasticity test, multicollinearity test, and autocorrelation test using statistical tools SPSS.v.22 for windows. The results of the regression analysis showed that rainfall, rainy days, the amount of sunlight, temperature and humidity had no significant effect on increasing production of tea clones Gambung 1 and clones Gambung 3 during 2011 to 2020. Correlation of rainfall, rainy days, amount of sunlight, temperature and humidity on tea plants clones Gambung 1 and clones Gambung 3 during 2011 to 2020 have weak influence on the interpretation of the value of r in achieving the productivity of Gambung clone tea 1 and Gambung 3.

Key Word : Tea Productivity, Clone, Climate.

(6)

iii

RIWAYAT HIDUP

Penulis memiliki nama lengkap Mhd. Fadil Dwi Anggara Harahap lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 05 Agustus 1998 dari pasangan ayahanda Rudianto Edisyahputra Harahap dan ibunda Harnisyah Nasution. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan formal sekolah dasar di SD Negeri 009 Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau pada tahun 2010, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Medan, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013, sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Medan, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2016, penulis diterima di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) pada tahun 2016 dan penulis mengambil konsentrasi/minat di bidang Agronomi.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai asisten Laboratorium Botani (2018-2020), asisten Laboratorium Fisiologi Tumbuhan (2019-2020), asisten Laboratorium Nutrisi Tanaman (2019-2020) dan asisten Koordinator Laboratorium Analisis Pertumbuhan Tanaman (2020). Selain itu, penulis juga menjadi anggota aktif di Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK).

Penulis turut melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Unit kebun Pulo Raja pada tahun 2019 dan

Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) pada tahun 2020 di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

(7)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang karena berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Adapun judul dari penelitian ini adalah ”Pengaruh Iklim Terhadap Produktivitas Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) di Kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan dukungan spiritual dan finansial kepada penulis,

kepada bapak Ir. Irsal, MP selaku ketua komisi pembimbing dan bapak Ir. Jonis Ginting, MS. selaku anggota komisi pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada teman-teman agroteknologi angkatan 2016, seluruh staf pengajar, pengajar serta kerabat di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah berkontribusi dalam penyelesaian penelitia ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Januari 2022 Penulis

(8)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK ... .i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ...viii

DAFTAR LAMPIRAN ...x

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

Hipotesis Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 4

Syarat Tumbuh ... 6

Iklim ... 6

Tanah ... 8

Budidaya Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) ... 9

Curah Hujan, Hari Hujan, Jumlah Sinar Matahari, Temperatur dan Kelembapan ... 11

Klon ... 13

Hubungan Iklim Dengan Produktivitas Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) ... 15

METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 16

Metode Penelitian ... 16

Peubah Amatan ... 17

Produktivitas Teh ... 17

Curah Hujan ... 17

Hari Hujan (hari) ... 18

Jumlah Sinar Matahari ... 18

Temperatur ... 18

Kelembapan ... 18

Klon ... 19

PELAKSANAAN PENELITIAN Studi Kepustakaan ... 20

(9)

vi

Pengumpulan Data ... 20

Pengolahan Data dan Analisis Data ... 20

Uji Asumsi Klasik ... 21

Uji Normalitas ... 21

Uji Heteroskedastisitas ... 21

Uji Multikolinearitas ... 22

Uji Autokorelasi ... 22

Pengujian Hipotesis ... 22

Penarikan Kesimpulan ... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Teh Klon Gambung 1 (kg/ha/bulan) ... 24

Iklim ... 26

Hubungan Iklim dengan Produktivitas Tanaman Teh Klon Gambung 1 (kg/ha/bulan) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 34

Uji Asumsi Klasik ... 35

Analisis Regresi Linier Berganda ... 39

Analisi Korelasi ... 43

Pengaruh Curah Hujan (mm) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 46

Pengaruh Hari Hujan (Hari) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 47

Pengaruh Jumlah Sinar Matahari (Jam) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 48

Pengaruh Temperatur (°C) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 48

Pengaruh Kelembapan (%) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 49

Pengaruh Curah Hujan (mm), Hari Hujan (Hari), Jumlah Sinar Matahari (Jam), Temperatur (°C) dan Kelembapan (%) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020)... 49

Produksi Teh Klon Gambung 3 (kg/ha/bulan) ... 52

Hubungan Iklim dengan Produktivitas Tanaman Teh Klon Gambung 3 (kg/ha/bulan) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 53

Uji Asumsi Klasik ... 55

Analisis Regresi Linier Berganda ... 58

Analisi Korelasi ... 63

Pengaruh Curah Hujan (mm) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 66

Pengaruh Hari Hujan (Hari) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 67

Pengaruh Jumlah Sinar Matahari (Jam) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 67

Pengaruh Temperatur (°C) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 68

Pengaruh Kelembapan (%) Terhadap Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama 10 Tahun (2011-2020) ... 68

(10)

vii

Pengaruh Curah Hujan (mm), Hari Hujan (Hari), Jumlah Sinar Matahari (Jam), Temperatur (°C) dan Kelembapan (%) Terhadap

Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (kg/ha) selama

10 Tahun (2011-2020)... 69

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 72

Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 73

LAMPIRAN ... 77

(11)

viii

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Rataan Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (hg/ha/bulan) selama 10 tahun (2011-2020) ... 24 2. Rataan Curah Hujan (mm/bulan) pada Tanaman Teh selama

10 tahun (2011-2020) ... 26 3. Rataan Hari Hujan (hari) pada Tanaman Teh selama 10 tahun (2011-2020) . 27 4. Rataan Jumlah Sinar Matahari (jam) pada Tanaman Teh selama

10 tahun (2011-2020) ... 29 5. Rataan Temperatur (°C) pada Tanaman Teh selama 10 tahun (2011-2020) .. 31 6. Rataan Kelembapan (%) pada Tanaman Teh selama 10 tahun (2011-2020) .. 32 7. Rataan Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (hg/ha/bulan) selama 10

tahun (2011-2020), Rataan Curah Hujan (mm/bulan), Rataan Hari Hujan (hari), Rataan Hari Hujan (hari), Rataan Jumlah Sinar Matahari (jam), Rataan Temperatur (°C), dan Rataan Kelembapan (%) pada Tanaman Teh selama 10 tahun (2011-2020) ... 34 8. Nilai Signifikansi One Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 36 9. Nilai Signifikansi pada Uji Heterokedastisitas pada Tanaman Teh

selama 10 tahun (2011-2020) 37

10. Uji Multikolinearitas Nilai VIF dan Tolerance pada Tanaman Teh berumur selama 10 tahun (2011-2020) ... 38 11. Nilai Hitung Durbin-Watsons ... 38 12. Analisis Regresi Linier Berganda ... 39 13. Uji T Parsial Curah Hujan dan Hari Hujan pada Tanaman Teh Klon

Gambung 1 selama 10 tahun (2011-2020) ... 40 14. Sidik Ragam Persamaan Regresi Linier Berganda pada Tanaman Teh Klon Gambung 1 selama 10 tahun (2011-2020) ... 42

(12)

ix

15. Model Pengujian Analisis Regresi Linier Berganda pada Tanaman Teh Klon Gambung 1 selama 10 tahun (2011-2020) ... 42 16. Interpretasi Nilai R pada Analisi Korelasi ... 43 17. Analisis Korelasi pada Tanaman Teh Klon Gambung 1 selama 10 tahun

(2011-2020) ... 44 18. Rataan Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (hg/ha/bulan) selama 10 tahun (2011-2020) ... 52 19. Rataan Produktivitas Teh Klon Gambung 3 (hg/ha/bulan) selama 10

tahun (2011-2020), Rataan Curah Hujan (mm/bulan), Rataan Hari Hujan (hari), Rataan Hari Hujan (hari), Rataan Jumlah Sinar Matahari (jam), Rataan Temperatur (°C), dan Rataan Kelembapan (%) pada Tanaman Teh selama 10 tahun (2011-2020) ... 54 20. Nilai Signifikansi One Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 56 21. Nilai Signifikansi pada Uji Heterokedastisitas pada Tanaman Teh

selama 10 tahun (2011-2020) ... 56 22. Uji Multikolinearitas Nilai VIF dan Tolerance pada Tanaman Teh

berumur selama 10 tahun (2011-2020) ... 57 23. Nilai Hitung Durbin-Watsons ... 58 24. Nilai Koefisien Persamaan Regresi Linier Berganda pada Tanaman Teh Klon Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 59 25. Uji T Parsial Curah Hujan dan Hari Hujan pada Tanaman Teh Klon

Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 60 26. Sidik Ragam Persamaan Regresi Linier Berganda pada Tanaman Teh Klon Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 61 27. Model Pengujian Analisis Regresi Linier Berganda pada Tanaman Teh

Klon Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 62 28. Analisi Korelasi pada Tanaman Teh Klon Gambung 3 selama

10 tahun (2011-2020) ... 64

(13)

x

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Data Curah Hujan (mm/tahun) Selama 10 Tahun (2011-2020) dan

Klasifikasi Tipe Iklim Scmidth-Ferguson di Kebun Tobasari ... 77 2. Uji Kolmogorov-Smirnov Test pada tanaman teh klon

Gambung 1 dan Gambung 3 ... 79 3. Nilai uji Heteroskedastisitas signifikansi pada Absolute

Residual pada tanaman teh klon Gambung 1 dan Gambung 3 ... 80 4. Model pengujian analisis regresi linear berganda pada klon

Gambung 1 dan Gambung 3 ... 81 5. Uji Autokorelasi pada tanaman teh klon Gambung 1 dan Gambung 3... 82 6. Tabel Durbin Watson, α = 5% ... 82 7. Nilai koefisien analisis linear berganda pada klon Gambung 1

dan Gambung 3 ... 83 8. Interpretasi nilai r pada analisis korelasi ... 83 9. Uji T parsial analisis linear berganda pada tanaman teh klon

Gambung 1 dan Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 84 10. Nilai t-tabel... 84 11. Sidik ragam analsis linear berganda pada tanaman teh klon

Gambung 1 dan klon Gambung 3 selama 10 tahun (2011-2020) ... 85 12. Nilai F-tabel padaα = 5% ... 85 13. Uji analisis korealsi antar variabel pada tanaman teh klon

Gambung 1 dan Gambung 3 ... 86

(14)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanaman teh adalah tanaman perdu, berdaun hijau, mengandung zat-zat yang larut dalam air, seperti katekin, kafein, asam amino, dan berbagai gula.

Tanaman teh yang dibudidayakan secara komersial terdiri dari dua varietas utama, yaitu Camellia sinensis (L.). O. Kuntze var. Sinensis dan Camellia sinensis (Master) Kitamura var. Assamica (Rohdiana, 2015).

Perkembangan produksi daun teh kering Perkebunan Besar (PB) yaitu gabungan dari PBN (Perkebunan Besar Negara) dan PBS (Perkebunan Besar Swasta) dari tahun 2017 sampai dengan 2019 cenderung mengalami penurunan.

Pada tahun 2017 produksi daun teh kering PB sebesar 97.590 ton, turun menjadi 90.016 ton pada tahun 2018 atau terjadi penurunan sebesar 7,76 persen. Tahun 2019 produksi daun teh kering juga mengalami penurunan sebesar 79.449 ton atau turun sebesar 11,7 persen (BPS, 2019)

Pertumbuhan tanaman teh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal tanaman meliputi sifat-sifat unggul, umur, dan klon tanaman yang dibudidayakan. Faktor eksternal (lingkungan) yaitu kondisi iklim yang meliputi suhu, curah hujan, kecepatan angin, dan kelembaban serta kondisi tanah seperti jenis tanah, pH, dan mikroorganisme tanah. Agar interaksi kedua faktor tersebut mendukung proses pencapaian target produksi, maka dilakukan pengelolaan dalam bentuk tindakan budidaya yang berorientasi dan disesuaikan dengan proses - proses yang terjadi di dalam tubuh tanaman (Ayu dkk, 2010).

Perubahan iklim global dalam wujud meningkatnya suhu udara serta perubahan pola presipitasi termasuk musim kering yang panjang, secara umum

(15)

akan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman, termasuk teh, melalui berbagai cara. Peningkatan suhu udara di atas suhu optimal untuk pertumbuhan teh (25- 26oC) akan mengakibatkan penurunan produksi teh (Wijeratne, 1996). Kekeringan sebagai akibat dari kemarau panjang juga mempunyai peranan menonjol dalam menurunkan produksi tanaman teh.

Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi penghasil teh adalah Kabupaten Simalungun. PTPN IV memiliki tiga kebun teh di dataran tinggi Simalungun, yakni kebun Bah Butong, Sidamanik, dan Toba Sari. Letak ketiga kebun ini berdekatan. Namun, masyarakat umumnya mengenal produk teh dari ketiga kebun ini sebagai teh sidamanik. Ini tentu karena ketiga kebun tersebut dahulu letaknya berada di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Berdasarkan Annual Report PTPN IV tahun 2010, produksi daun teh kering atau daun teh jadi (black tea production) mengalami penurunan rata- rata 5,65%. Hal ini disebabkan antara lain karena adanya konversi areal tanaman teh dan pengaruh fenomena alam yang berdampak kepada penurunan produktivitas tanaman teh.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap produktivitas tanaman teh (Camellia sinensis L.) di kebun Toba Sari PT. Perkebunan Nusantara IV.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap produktivitas tanaman teh (Camellia sinensis L.) di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

(16)

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh nyata curah hujan, hari hujan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan secara parsial maupun simultan terhadap produktivitas teh (Camellia sinensis L.) di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Kegunaan Penulisan

Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Teh

Teh merupakan tanaman yang berasal dari daerah sub tropis, sehingga sangat cocok dibudidayakan di daerah dataran tinggi. Suhu udara yang cocok bagi tanaman teh adalah antara 13-15 oC dengan kelembaban relatif pada siang hari yaitu > 70 % dan curah hujan tahunan tidak kurang dari 2000 mm.

Pekebunan teh di Indonesia berada pada keserasian elevasi yang cukup luas, yaitu sekitar 400-2000 m dpl (Syakir, 2010).

Teh yang digunakan dalam penelitian ini memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae, Sub kingdom : Tracheobinta, Super Divisi : Spermatophyta, Divisi : Magnoliophyta, Kelas : Magnoliopsida, Sub Kelas : Dilleniidae, Ordo : Theales, Famili : Theaceae, Genus : Camellia, Spesies : Camellia sinensis (L) (Putra, 2015).

Tanaman teh secara umum berakar dangkal, peka terhadap keadaan fisik tanah, dan cukup sulit untuk dapat menembus lapisan tanah. Kebanyakan perdu mempertahankan akar tunggang sedalam 90 cm – 150 cm dengan diameter sekitar 7,5 cm. Pertumbuhan akar lateral, penyebarannya dibatasi oleh perdu di dekatnya.

Perdu yang ditanam dengan jarak 120 cm, dipangkas dan dipetik, setelah 4 tahun ujung akarnya saling bertemu (Setyamidjaja, 2000).

Menurut Rukmana dan Yudiracman (2015) batang tanaman teh tumbuh tegak, berkayu tingginya antara 3–5 atau lebih hingga 20 m, banyak bercabang, dan membentuk semak. Batang pohon teh tumbuh dengan lurus dan banyak, akan tetapi batangnya mempunyai ukuran yang lebih kecil. Dengan demikian maka pohon teh ini akan tumbuh dengan bentuk yang mirip pohon

(18)

cemara. Hal itu terjadi jika pohon teh dibiarkan tumbuh tanpa adanya pemangkasan.

Daun teh berupa daun tunggal yang berbentuk lanset dengan ujung meruncing, berwarna hijau, dan tepinya bergerigi. Daun tua bertekstur seperti kulit, permukaan atasnya berkilat dan berwarna hijau kelam. Bunga teh termasuk bunga sempurna yang mempunyai putik (calyx) dengan 5 sampai dengan 7 mahkota (sepal). Daun bunga (petal) berjumlah sama dengan mahkota, berwarna putih halus berlilin, berbentuk lonjong cekung. Tangkai sari panjang dengan benang sari (anthera) kuning bersel kembar, 2 mm sampai dengan 3 mm ke atas (Setyamidjaja, 2000).

Bunga tanaman teh, muncul di ketiak daun, tunggal atau beberapa bunga bergabung menjadi satu, berkelamin dua, dengan garis tengah selebar 3-4 cm berwarna putih dan memiliki benang sari berwarna kuning dengan bau yang sedikit harum (Soraya, 2007). Hal ini juga didukung oleh Elias dan Dykeman (2009) bahwa bunga pada tanaman teh memiliki 5 mahkota dengan jumlah kelopak antara 5-9, bunga tanaman teh tergolong hermaprodit karena didalamnya terdapat dua organ jantan dan betina.

Buah yang masih muda berwarna hijau, bersel tiga, dan berdinding tebal.

Mula-mula berkilat, tetapi semakin tua bertambah suram dan kasar. Bijinya berwarna cokelat beruang tiga, berkulit tipis, berbentuk bundar di satu sisi dan datar di sisi lain. Biji berbelah dua dengan kotiledon besar, yang jika dibelah akan secara jelas memperlihatkan embrio akar dan tunas (Setyamidjaja, 2000).

(19)

Syarat Tumbuh

Pada ketinggian 980 m dpl yang tergolong perkebunan daerah sedang, pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh menunjukkan nilai yang lebih tinggi daripada ketinggian 735 m dpl, 896 m dpl, 1.023 m dpl dan 1.254 m dpl.

Ketinggian optimum bagi budidaya tanaman teh saat ini adalah pada perkebunan daerah sedang (800 – 1.200 m dpl) ( Ayu dkk, 2012)

Tanaman teh dapat tumbuh subur dengan baik pada ketinggian 250-1.200 m dpl, curah hujan minimal 60 mm/bulan, cepat mendapat sinar matahari, karena jika sinar matahari kurang maka pertumbuhan tanaman teh akan lambat, tidak boleh dilalui angin kering dan keadaan tanah subur (Anggorowati, 2008).

Iklim

Iklim merupakan fenomena alam yang digerakkan oleh gabungan beberapa unsur, yaitu radiasi matahari, temperatur, kelembaban, awan, hujan, evaporasi, tekanan udara, dan angin. Faktor yang mempengaruhi unsur iklim sehingga dapat membedakan iklim di suatu tempat dengan iklim di tempat lain disebut kendali iklim. Matahari adalah kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi darat dan air, massa udara, pegunungan, arus laut dan badai (Tjasjono, 2004).

Klasifikasi Schmidt-Ferguson menggunakan nilai perbandingan (Q) antara rata-rata banyaknya bulan kering dan rata-rata banyaknya bulan basah dalam tahun penelitian. Adapun kategori untuk bulan kering (jika dalam satu bulan mempunyai jumlah curah hujan < 60 mm), bulan lembab (jika dalam satu bulan

(20)

mempunyai jumlah curah hujan 60 sampai 100 mm), dan bulan basah (jika dalam satu bulan mempunyai jumlah curah hujan > 100 mm) (Lakitan, 2002).

Pertumbuhan dan produksi teh dipengaruhi oleh tiga faktor utama, antara lain : (1) tanaman (populasi, umur tanaman, jenis tanaman, umur pangkas dan potensi genetik); (2) lingkungan tempat tumbuh (iklim, yang terdiri atas curah hujan dan hari hujan, suhu udara, kelembaban udara, serta panjang penyinaran matahari); (3) tanah, yang meliputi jenis, topografi, elevasi, fisik, kimia dan biologi tanah. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya dan interaksi antar faktor sangat berpengaruh terhadap produktivitas teh (Prawiro, 2009).

Faktor iklim yang harus diperhatikan seperti suhu udara yang baik berkisar 13 - 15 °C, kelembaban relatif pada siang hari lebih dari 70 persen, curah hujan tahunan tidak kurang 2.000 mm, dengan bulan penanaman curah hujan kurang dari 60 mm tidak lebih 2 bulan. Dari segi penyinaran sinar matahari sangat mempengaruhi pertanaman teh. Makin banyak sinar matahari makin tinggi suhu, bila suhu mencapai 30 °C pertumbuhan tanaman teh akan terhambat. Pada ketinggian 400 – 800 m kebun-kebun teh memerlukan pohon pelindung tetap atau sementara. Disamping itu perlu mulsa sekitar 20 ton/ha untuk menurunkan suhu tanah. Suhu tanah tinggi dapat merusak perakaran tanaman, terutama akar dibagian atas. Faktor iklim lain yang harus diperhatikan adalah tiupan angin yang terus menerus dapat menyebabkan daun rontok. Angin dapat mempengaruhi kelembaban udara serta berpengaruh pada penyebaran hama dan penyakit (Effendi dkk, 2010).

(21)

Tanah

Tanaman teh tumbuh baik pada kondisi tanah vulkanik muda dengan drainase yang baik dan tanah yang masam (pH 4.5-5.5). Ketinggian tanaman dapat mencapai 2,75 m untuk teh cina, sedangkan untuk teh jenis Assamica dapat mencapai 6-8 m. Tanaman teh berakar tunggang menyebar secara merata baik vertikal maupun horizontal. Selain itu, teh juga memiliki akar cabang yang tidak terlalu panjang. Tumbuhnya akar pada tanaman teh sangat dipengaruhi oleh pendeknya jarak tanaman dan tinggi pangkasan. teh mempunyai bentuk daun yang beraneka ragam tergantung pada varietasnya. Daun teh berupa daun tunggal yang berbentuk lanset dengan ujung meruncing, berwarna hijau, dan tepinya bergerigi.

Daun teh bertekstur seperti kulit, permukaan atasnya berkilat dan berwarna hijau kelam (Setyamidjaja, 2000).

Tanah ultisols terdapat di kebun PTPN IV antara lain kebun Sidamanik, Tobasari dan Bahbutong. Berdasarkan hasil analisa tanah Rachmiati dkk (2012) diperoleh kesuburan tanah aktual ultisols dengan status unsur hara N tanah dominan 82% sedang, hara P tanah dominan 79% sangat tinggi, unsur Mg dan K bersifat antagonis dimana unsur Mg mempunyai 90% dominan sangat rendah dan unsur K tanah dominan 53% tinggi.

Tanah ultisols banyak ditemukan pada wilayah dengan curah hujan yang tinggi dan pelapukan intensif, basa-basa yang ada di dalamnya banyak mengalami pencucian dan terjadi iluviasi liat di lapisan bawah (Gito, 2012). Tanah ultisols termasuk ke dalam ordo tanah serasi bersyarat bagi tanaman teh karena mempunyai struktur remah atau gumpal dan mempunyai jeluk yang lebih dangkal.

(22)

Budidaya Tanaman Teh

Tanaman teh memerlukan lahan yang serasi atau lahan serasi bersyarat, maka untuk mengetahui potensi lahan tersebut perlu diadakan survei areal sebagai langkah persiapan pembukaan areal dan desain kebun. Tujuan survei areal adalah untuk menentukan letak prasarana, sarana perkebunan dan prioritas serta efisiensi pengelolaan kebun (Vademecum, 1997)

Pembibitan teh dengan stek merupakan cara yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah banyak, dengan jenis klon yang ditentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama dengan pohon induknya.

Tanaman yang akan dijadikan pohon induk, kemurnian dan kesehatannya harus cukup baik, sedangkan faktor umur tanaman tidak banyak berpengaruh terhadap mutu bahan stek yang dihasilkan (Vademecum, 1997)

Makin tinggi populasi tanaman per satuan luas, akan mempercepat tajuk tanaman saling menutup. Jarak tanam yang dianjurkan yaitu 120cm jarak Timur- Barat dan Utara-Selatan, 60, 70, 90 cm. Cara pengajiran lahan yang datar dan landai dengan membuat ajir induk pada sisi blok. Kemudian dilanjutkan dengan sistem baris atau zig-zag sesuai kondisi topografi. Lubang tanam dibuat tepat ditengan dua ajir dalam barisan dengan ukuran untuk bibit asal stek 20x20x20cm.

(Vademecum, 1997)

Prinsip pemberian pupuk ke dalam tanah bertujuan terjaganya imbangan pupuk yang ada agar setiap waktu dibutuhkan tanaman sudah tersedia. Pemberian pupuk tunggal dapat menyebabkan tidak tersedia serempak akibat pemberian, sehingga pupuk diberikan dalam bentuk tercampur. Pupuk campuran ada 3 macam: (1) pupuk dimana NPK berbentuk butiran yang disebut pupuk NPK

(23)

mejemuk, (2) pupuk campuran dari bahan pupuk tunggal sesuai dengan rekomendasi pupuk dengan imbangan N-PK-Mg-S-mikro, dan (3) pupuk campuran dari pupuk tunggal yang dirakit oleh pekebun sendiri.

(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010)

Intensitas pengendalian gulma pada areal tanaman teh produktif sangat bergantung dari keadaan tajuk tanaman, umur atau waktu setelah pangkasan.

Areal tanaman yang dipangkas akan kembali terbuka terhadap cahaya matahari dan akan segera ditumbuhi gulma. Pengendalian gulma secara kimiawi dengan memakai berbagai jenis herbisida, umum digunakan di perkebunan teh. Selain dapat mengatasi kesulitan tenaga kerja, cara ini terbukti pula lebih ekonomis dibandingkan dengan penyiangan secara mekanis (Vademecum, 1997)

Hama dan penyakit tanaman teh perlu dikendalikan secara seksama sesuai petunjuk teknis dan dilaksanakan secara terpadu. Kerugian yang ditimbulkan hama dan penyakit adalah menurunkan produksi daun, merusak mutu produksi, melemahkan dan mematikan tanaman teh dan menyulitkan pengambilan produksi daun. (Vademecum, 1997)

Jenis-jenis pangkasan tanaman teh yaitu pangkasan indung, pangkasan bentuk, pangkasan meja, pangkasan ajir dan pangkasan bersih. Tujuan pangkasan adalah membentuk dan meremajakan cabang-cabang pohon teh sehingga memperoleh sistem cabang yang sehat dan melebar, mengembalikan tinggi pohon teh dengan ketinggian yang memungkinkan untuk pemetikan dan mempertahankan tanaman teh agar tetap dalam fase vegetatif (Vademecum, 1997)

(24)

Pemetikan ialah pengambilan semua pucuk-pucuk yang matang petik, baik secara moral maupun penggunaan alat untuk memperoleh produksi daun yang memenuhi syarat-syarat mutu pengolahan. Jenis pucuk ada beberapa macam, diantaranya ada pucuk peko, pucuk burung, pucuk nagor dan pucuk cakar ayam (Vademecum, 1997)

Curah Hujan, Hari Hujan, Jumlah Sinar Matahari, Temperatur dan Kelembapan

Terdapat hubungan erat (nilai R2 = 0,85) antara penurunan intensitas curah hujan dengan produktivitas di kebun teh dataran tinggi, telah terjadi penurunan intensitas curah hujan pada perkebunan teh di dataran tinggi dan sedang sesudah El-Nino 2009-2010. Rata-rata curah hujan tahun 2010-2014 secara berurutan pada perkebunan teh dataran tinggi dan dataran rendah mengalami penurunan, hal ini menunjukkan bahwa penurunan produktivitas seiring dengan intensitaas curah hujan (Dalimoenthe dkk, 2017)

Menurut Rusmana & Salim (2006) menyebutkan bahwa tanaman teh memerlukan curah hujan minimal 114 mm per bulan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air 1,24 mm sampai dengan 2,68 mm per perdu per hari. Kondisi curah hujan yang rendah selama percobaan berlangsung dapat menyebabkan kebutuhan air tanaman dan efektivitas pemupukan berkurang.

Sebagai tanaman yang mengalami dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, tanaman teh memerlukan curah hujan dan hari hujan yang tingi dan merata sepanjang tahun. Curah hujan yang baik untuk tanaman teh sebaiknya rata – rata 10 tahun terakhir menunjukkan bulan kemarau yang tidak lebih dari 2 bulan serta tidak ada bulan yang sama sekali tidak ada hujan (Vademecum, 1997)

(25)

Luas daun juga berhubungan erat dengan kemampuan tanaman menerima cahaya/radiasi matahari yang sangat dibutuhkan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang akan digunakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan tanaman. Kemampuan daun untuk menghasilkan fotosintat dapat dilihat dari produktivitas persatuan luas daun (Anjarsari dkk, 2105)

Radiasi matahari berperan besar terhadap pertumbuhan pucuk. Produksi bahan kering dari suatu vegetasi merupakan fungsi dari intersespsi radiasi fotosintesis aktif (PAR) (Mariscal, 2000; Monteith,1994) dan biomassa akhir dari tanaman berbanding lurus dengan akumulasi intersepsi selama periode tanam (400 MJ m-2) (Purcell dkk, 2002).

Kondisi optimal penanaman teh adalah pH 4,5–5,6, suhu 12–25ºC, kelembaban nisbi 70–80%, intensitas sinar matahari 70–80%, lama penyinaran matahari 3–6 jam, curah hujan 2.000–4.000 mm/tahun dengan maksimal bulan kering selama 2 (dua) bulan, suhu daun < 35ºC, dan lama penyinaran matahari 4 jam/hari (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).

Faktor suhu, kelembaban, curah hujan dan radisi matahari berkorelasi negatif terhadap bobot basah pucuk dan bobot kering pucuk pada periode pemetikan produksi. Faktor suhu secara signifikan/nyata dengan nilai korelasi sebesar 0,99 berpengaruh terhadap bobot kering pucuk. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu akan menurunkan bobot kering pucuk (Anjarsari dkk, 2020)

Meningkatnya suhu dan cuaca ekstrim merupakan ancaman signifikan terhadap ketahanan sistem produksi teh karena teh adalah salah satu spesies pohon yang paling terpengaruh oleh perubahan cuaca (Ranjitkar dkk, 2016). Suhu udara

(26)

ideal untuk pertumbuhan tanaman teh adalah 13 °C – 25 °C. Umumnya, peningkatan suhu yang moderat meningkatkan hasil teh, namun di atas suhu yang optimal peningkatan suhu lebih lanjut dapat menurunkan produktivitas perkebunan teh (Gunathilaka dkk, 2017). Menurut Bhagat dkk (2010) suhu di atas 30 ° C dan di bawah 13 ° C adalah berbahaya bagi pertumbuhan semak teh.

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air (Handoko, 1995 dalam Setiawan, 2009). Faktor iklim yang harus diperhatikan seperti suhu udara yang baik berkisar 13 - 15 0C, kelembaban relatif pada siang hari >70%, curah hujan tahunan tidak kurang 2.000 mm, dengan bulan penanaman curah hujan kurang dari 60 mm tidak lebih 2 bulan. Dari segi penyinaran sinar matahari sangat mempengaruhi tanaman teh. Makin banyak sinar matahari makin tinggi suhu, bila suhu mencapai 300C pertumbuhan tanaman teh akan terlambat (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010)

Kadar air teh akan bertambah jika kelembaban udara sekitar cukup tinggi.

Selain kelembaban udara, faktor lama penyimpanan dan suhu ruangan juga berpengaruh pada tinggi rendahnya kadar air teh dalam kemasan, yaitu bahwa penurunan suhu diikuti oleh meningkatnya kadar air dari teh pada kelembaban udara yang sama atau dengan kata lain kapasitas penyerapan uap air dalam teh bertambah sejalan dengan penurunan suhu (Aninda dan Daryatmo, 2015)

Klon

Bahan tanaman teh yang digunakan pada saat ini berasal dari benih berupa stek dengan satu ruas daun yang dikenal dengan teknik perbanyakan secara vegetatif. Tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif disebut klon

(27)

yang mempunyai sifat-sifat yang persis sama dengan induknya karena dalam perbanyakan vegetatif hanya terjadi pembelahan sel somatis sehingga seluruh karakter dalam kromosom akan diwariskan pada turunannya tanpa perubahan (Sriyadi, 2012)

Klon unggulan yang dikembangkan PPTK adalah klon unggulan teh seri Gambung yang merupakan klon unggulan teh dari varietas Assamika. Klon-klon unggulan varietas Assamika tersebut terdiri dari GMB 1 sampai GMB 11 . Setiap klon tersebut memiliki karakteristik masing-masing. Klon tanaman teh seri GMB 3, GMB 7, dan GMB 9 memiliki potensi produksi dan kadar katekin yang tertinggi , sedangkan GMB 1, GMB 4, dan GMB 11 juga memiliki kandungan katekin besar dan potensi produksi tinggi (Ramdan, 2020)

Dalam rangka mendukung pengembangan teh hijau telah dilepas oleh Menteri Pertanian tanggal 30 April 2009 sebanyak 5 klon teh Sinensis, yaitu : GMBS 1, GMBS 2, GMBS 3, GMBS 4, dan GMBS 5. Potensi hasil GMBS 1 dapat mencapai 1.939 kg/ha/th, GMBS 2 sebesar 2.151 kg/ha/th, GMBS 3 sebesar 1.839 kg/ha/th, GMBS 4 sebesar 2.107 kg/ha/th, dan GMBS 5 sebesar 2.165 kg/ha/th (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010)

Kandungan katekin pada pucuk teh varietas Assamica lebih banyak dibandingkan dengan varietas Sinensis, Namun varietas Sinensis memiliki aroma lebih baik karena kandungan asam aminonya lebih tinggi. Tanaman teh yang dibudidayakan di Indonesia hampir 100% merupakan varietas Assamica (Andi Nur Alam Syah, 2006)

(28)

Hubungan Iklim Dengan Produktivitas Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) Produksi teh sangat bergantung pada musim dan dampak perubahan iklim pun mulai dirasakan di perkebunan teh. Peningkatan curah hujan, musim kemarau yang cukup kering dan panjang akibat pergeseran musim, meningkatnya siklus anomali musim kemarau, musim hujan, dan berkurangnya kelembapan tanah akan mengganggu sektor pertanian, salah satunya pada sub sektor perkebunan tanaman teh (Setyolaksono, 2014).

Perubahan iklim diperkirakan tidak hanya mengurangi kualitas teh, tetapi juga kuantitas produksi teh sebagai konsekuensi dari peningkatan erosi tanah, hama, dan penyakit yang menjadi lebih resisten (Wijeratne, 2007). Menurut Ethical Tea Partnership (2011) perubahan iklim menyebabkan ancaman bagi tanaman teh karena teh merupakan tanaman yang tergantung pada curah hujan yang terdistribusi dengan baik, sehingga perubahan iklim pada tanaman teh sangat terasa terutama pada penurunan produksi pucuk. Selain itu, faktor lingkungan berhubungan erat dengan laju fotosintesis dan kandungan klorofil. Klorofil berkorelasi positif dengan suhu rata-rata harian, suhu harian tertinggi, suhu harian terendah, dan kelembaban relatif (Wei dkk, 2011).

(29)

METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara dimulai pada bulan Juni 2021 sampai dengan Agustus 2021.

Metode Penelitian

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi. Regresi linier berganda berguna untuk menghitung besarnya pengaruh hubungan dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Variabel terikat adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas yang dinotasikan dengan Y.

Variabel terikat dalam hal ini adalah produktivitas teh dengan dua klon yaitu Gambung 1 dan Gambung 3. Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi perubahan nilai variabel terikat yang dinotasikan dengan X.

Variabel bebas dalam hal ini adalah curah dan hari hujan bulanan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan. Pengolahan data dibantu dengan software SPSS.v.22 for windows.

Pengaruh fungsional curah hujan, hari hujan bulanan, jumlah sinar matahari, temperatur dan kelembapan terhadap produktivitas teh klon Gambung 1 dan Gambung 3 dianalisis dengan menggunakan model persamaan sebagai berikut :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + ɛ

(30)

Keterangan : Y : produktivitas teh

a : intersep dan garis pada sumbu Y b : koefisien regresi linier

X1 : curah hujan X2 : hari hujan

X3 : jumlah sinar matahari X4 : temperatur

X5 : kelembapan Ɛ : error

Peubah Amatan

Peubah amatan yang diuji adalah data sekunder berupa data-data di kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara yang terdiri atas:

Produktivitas Teh

Data produktivitas teh (kg/ha/bulan) yang digunakan berdasarkan data produksi teh bulanan selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor kebun Tobasari PT.

Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Curah Hujan

Data curah hujan berdasarkan data pengukuran curah hujan (mm) bulanan dengan menggunakan ombrometer selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor

(31)

kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Hari Hujan

Data hari hujan (hari) yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan hari dimana turunnya hujan setiap bulannya selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Jumlah Sinar Matahari

Data jumlah sinar matahari (jam) diperoleh dengan cara menjumlahkan lamanya matahari bersinar sampai permukaan bumi setiap bulannya menggunakan campbell stokes selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor kebun Tobasari PT.

Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Temperatur

Data temperatur (oC) berdasarkan data pengukuran suhu udara bulanan dengan menggunakan termometer selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Kelembapan

Data kelembapan (%) berdasarkan data pengukuran kelembapan udara setiap bulannya dengan menggunakan hygrometer selama 10 tahun yakni 2011,

(32)

2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Data ini dikumpulkan dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Klon

Terdapat dua klon teh yang akan diamati di kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, yaitu klon Gambung 1 (GMB 1) dan Gambung 3 (GMB 3). Data diperoleh dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

(33)

PELAKSANAAN PENELITIAN Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan dengan menelusuri dan menelaah studi pustaka yang berkaitan dengan curah hujan, hari hujan, temperatur, jumlah sinar matahari, kelembapan, klon dan produktivitas teh secara umum.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data sekunder yang diolah meliputi data sekunder untuk laporan umum dan data sekunder yang diolah untuk keperluan analisis. Data sekunder yang di olah ini diperoleh dari laporan bulanan kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Data untuk laporan umum meliputi profil umum perusahaan, letak geografis, luas tata guna kebun, keadaan produksi dan produktivitas tanaman. Data sekunder yang diolah untuk keperluan analisis ini diambil data bulanan selama 10 tahun yakni 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020 meliputi data curah hujan (mm), data hari hujan (hari), data jumlah sinar matahari (jam), data temperatur (oC), data kelembapan (%) dan data produksi (kg/ha/bulan).

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dibantu dengan software SPSS.v.22 for windows dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Uji ini berguna untuk melihat apakah data sekunder yang diperoleh layak diuji atau tidak. Data yang layak diuji akan dilanjutkan dengan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi serta dibandingkan dengan hipotesis yang dibuat sebelumnya, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan terhadap hipotesis yang telah diuji. Adapun uji yang dilakukan terhadap data sekunder ialah sebagai berikut :

(34)

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik berguna untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian layak diuji atau tidak. Kelayakan model regresi dapat terlihat dari data yang dihasilkan terdistribusi normal, tidak terdapat multikolinearitas, heteroskedasitisitas dan autokorelasi dalam model yang digunakan. Jika keseluruhan syarat tersebut terpenuhi berarti model analisis telah layak digunakan.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel tidak bebas dan variabel bebas memiliki data yang terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai ekstrim yang nantinya dapat mengganggu hasil penelitian. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal dan mendekati normal. Dalam pembahasan ini akan digunakan uji one sample Kolmogorov – Sminov dengan menggunakan taraf signifikan 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikan dan nilai uji one sample Kolmogorov – Sminov lebih besar dari 5%

atau 0,05.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui adanya ketidaksamaan varians residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain pada model regresi.

Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas atau biasa disebut homoskedastisitas. Metode pengujian yang digunakan adalah uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dalam meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel independen lainnya. Jika nilai signifikansi antara

(35)

variabel independen dengan nilai absolut residual lebih dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heterokedastisitas.

4. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai varian inflation factor (VIF) dan nilai tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1.

5. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan adanya pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) dibandingkan dengan nilai tabel Durbin Watson. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Metode uji Durbin-Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:

 Jika dU <dW < 4-dU maka H0 terima, artinya tidak terjadi autokorelasi.

 Jika dW < dL atau dW > 4-dL maka H0 tolak, artinya terjadi autokorelasi.

 Jika, dL < dW < dU atau 4-dU < dW < 4-dL, maka tidak dapat disimpulkan.

Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hipotesis yang diajukan, untuk menguji hipotesis digunakan Uji-t (parsial), Uji-F (serempak) dan R2. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji dua arah dengan tingkat signifikan (α) sebesar 5% apakah diterima atau ditolak.

(36)

Nilai koefisien determinasi (R2) digunakan untuk melihat besarnya persentase pengaruh variabel bebas terhadap nilai variabel terikat. Nilai R2 semakin mendekati nol memperlihatkan semakin kecil pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat sedangkan nilai R2 semakin mendekati satu memperlihatkan semakin besar pula pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat.

Uji hipotesis secara parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Uji hipotesis secara serempak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel terikat. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel, hipotesis yang diajukan dalam analisis ialah :

H0 : bi = 0 Hi : bi ≠ 0,

Bi = koefisien regresi variabel ke-i

Pengambilan keputusan untuk melihat apakah hipotesis H0 diterima atau ditolak. Hipotesis H0 ditolak membuktikan bahwa variabel bebas yang digunakan berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman teh.

Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan untuk meringkas hasil pengolahan data yang telah di analisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi. Kesimpulan dapat menjelaskan kebenaran dari hipotesis yang telah dibuat apakah diterima atau ditolak.

(37)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data rataan produktivitas teh (kg/ha/bulan) tahun 2011-2020 klon Gambung 1, Data rataan produktivitas teh (kg/ha/bulan) tahun 2011-2020 klon Gambung 3, data curah hujan (mm/bulan), hari hujan (hari/bulan), jumlah sinar matahari (jam), temperatur (oC) dan kelembapan (%) tahun 2011-2020 dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Produktivitas Teh Klon Gambung 1 (kg/ha/bulan)

Produktivitas teh klon Gambung 1 (kg/ha/bulan) selama 10 tahun (2011- 2020) dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rataan produktivitas teh klon Gambung 1 (kg/ha/bulan) selama 10 tahun (2011-2020)

Bulan Tahun Gambung 1

Rataan

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Januari 2.333,77 2.793,32 903,34 1.913,54 1.528,39 1.557,88 1.617,25 2.172,60 2.386,98 1.657,53 1.886,46 Februari 686,46 2.155,38 1.376,99 1.853,06 1.805,38 1.687,86 891,47 1.276,07 2.560,67 1.415,03 1.570,84 Maret 1.261,41 1.616,14 1.386,24 966,98 1.057,14 1.457,66 2.688,31 2.148,61 2.796,98 401,86 1.578,13 April 1.639,33 1.718,18 2.476,62 1.371,99 1.199,26 1.227,46 986,83 2.002,61 4.409,65 1.807,42 1.883,93 Mei 839,33 1.376,07 868,83 1.777,92 1.348,61 1.376,99 1.694,99 2.013,36 2.386,98 1.555,57 1.523,87 Juni 1.716,33 2.010,40 904,45 1.721,89 1.692,21 3.070,87 1.205,94 1.852,61 3.706,31 3.605,94 2.148,69 Juli 1.117,44 1.960,14 1.143,23 1.357,33 1.774,21 2.133,58 1.644,16 3.245,08 1.976,98 1.548,24 1.790,04 Agustus 1.290,17 1.810,26 1.860,85 793,32 522,26 1.394,43 1.317,25 1.532,62 2.386,98 1.980,15 1.488,83 September 1.911,87 1.660,20 1.494,25 1.595,36 2.712,99 1.037,11 1.733,77 821,15 2.386,98 1.594,62 1.694,83 Oktober 1.630,61 1.610,00 1.322,82 2.261,60 1.253,80 658,26 1.418,37 1.484,23 2.386,98 731,54 1.475,82 November 2.663,08 1.465,02 1.133,95 1.116,33 1.294,43 452,88 1.461,78 1.979,78 414,10 1.647,31 1.362,87 Desember 1.920,22 1.547,31 1.763,27 1.549,54 1.221,15 1.436,92 1.514,56 1.702,61 844,16 1.333,95 1.483,37

Tabel 1 menunjukkan bahwa rataan produktivitas teh klon Gambung 1 tertinggi selama 10 tahun terdapat pada bulan Juni yakni sebesar 2.128,67 kg/ha/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan februari yakni sebesar 1.397,38 kg/ha/bulan. Total produktivitas tanaman teh pada tahun 2011 tertinggi terdapat pada bulan November yakni sebesar 2.663,08 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari yakni sebesar 686,46 kg/ha/bulan. Pada

(38)

tahun 2012 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Januari yakni sebesar 2.793,32 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Mei yakni sebesar 1.376,07 kg/ha/bulan. Pada tahun 2013 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebesar 2.476,62 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Mei yakni sebesar 868,83 kg/ha/bulan. Pada tahun 2014 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Oktober yakni sebesar 2.261,60 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Agustus yakni sebesar 793,32 kg/ha/bulan. Pada tahun 2015 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan September yakni sebesar 2.712,99 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Agustus yakni sebesar 522,26 kg/ha/bulan. Pada tahun 2016 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Juni yakni sebesar 3.070,87 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan November yakni sebesar 452,88 kg/ha/bulan. Pada tahun 2017 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Maret yakni sebesar 2.688,31 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari yakni sebesar 891,47 kg/ha/bulan. Pada tahun 2018 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Juli yakni sebesar 3.245,08 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan September yakni sebesar 821,15 kg/ha/bulan. Pada tahun 2019 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebesar 4.409,65 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan November yakni sebesar 414,10 kg/ha/bulan. Pada tahun 2020 total produktivitas tanaman teh tertinggi terdapat pada bulan Juni yakni sebesar 3.605,94 kg/ha/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Maret yakni sebesar 401,86 kg/ha/bulan.

(39)

Iklim

Data curah hujan (mm/bulan) selama 10 tahun (2011-2020) dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 2 (Lampiran 1).

Tabel 2. Rataan curah hujan (mm/bulan) pada tanaman teh selama 10 tahun (2011-2020)

Bulan Tahun

Rataan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Januari 145 110 308 43 266 134 295 209 272 105 188,70

Februari 113 180 302 37 90 193 181 144 88 152 148,00

Maret 178 144 170 285 159 141 218 96 292 136 181,90

April 126 210 435 397 285 174 310 104 170 328 253,90

Mei 255 106 151 263 273 252 152 219 184 213 206,80

Juni 155 94 154 58 93 146 117 96 248 204 136,50

Juli 141 238 198 75 181 163 149 148 182 321 179,60

Agustus 276 86 157 256 199 68 269 50 118 137 161,60

September 194 89 212 210 244 77 311 321 120 289 206,70

Oktober 244 240 470 234 170 88 120 397 352 56 237,10

November 202 280 172 152 242 190 228 253 184 204 209,70

Desember 161 409 385 325 210 123 206 464 197 191 267,10

Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan curah hujan tertinggi selama 10 tahun yaitu terdapat pada bulan Desember yakni sebesar 267,10 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan Juni yakni sebesar 136,50 mm/bulan. Total curah hujan tanaman teh pada tahun 2011 tertinggi terdapat pada bulan Agustus yakni sebesar 276 mm/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari yakni sebesar 113 mm/bulan. Pada tahun 2012 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Desember yakni sebesar 409 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan September sebesar 86 mm/bulan. Pada tahun 2013 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober yakni sebesar 470 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Mei sebesar 151 mm/bulan. Pada tahun 2014 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebesar 397 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Februari sebesar 37 mm/bulan. Pada tahun 2015 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebesar 285

(40)

mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Februari sebesar 90 mm/bulan. Pada tahun 2016 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Mei yakni sebesar 252 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 68 mm/bulan. Pada tahun 2017 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan September yakni sebesar 311 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Juni sebesar 117 mm/bulan. Pada tahun 2018 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Desember yakni sebesar 464 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 50 mm/bulan. Pada tahun 2019 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober yakni sebesar 352 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Februari sebesar 88 mm/bulan. Pada tahun 2020 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebesar 328 mm/bulan dan total curah hujan terendah pada bulan Oktober sebesar 56 mm/bulan.

Data hari hujan (hari/bulan) selama 10 tahun (2011-2020) dari kantor kebun Tobasari PT. Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Rataan hari hujan (hari) pada tanaman teh selama 10 tahun (2011-2020)

Bulan Tahun

Rataan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Januari 11 11 14 7 17 9 17 14 17 9 12,60

Februari 13 18 19 3 6 15 15 9 8 13 11,90

Maret 15 17 6 13 9 8 21 10 14 11 12,40

April 11 19 20 22 15 17 19 10 11 20 16,40

Mei 15 14 12 19 16 13 9 16 9 13 13,60

Juni 12 8 13 6 8 13 11 9 18 17 11,50

Juli 7 15 9 3 10 10 7 6 11 18 9,60

Agustus 19 10 8 15 14 6 16 5 8 7 10,80

September 11 10 10 13 11 6 21 20 14 18 13,40

Oktober 17 20 18 18 11 7 10 25 23 8 15,70

November 19 24 14 13 23 21 22 21 17 19 19,30

Desember 14 21 21 19 13 14 13 20 16 11 16,20

Tabel 3 menunjukkan bahwa rataan hari hujan tertinggi selama 10 tahun yaitu terdapat pada bulan November yakni sebesar 19,30 hari/bulan dan rataan

(41)

terendah terdapat pada bulan Juli yakni sebesar 9,50 hari/bulan. Total hari hujan tanaman teh pada tahun 2011 tertinggi terdapat pada bulan Agustus dan November yakni sebanyak 19 hari/bulan dan total hari hujan terendah terdapat pada bulan Juli yakni sebanyak 7 hari/bulan. Pada tahun 2012 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November yakni sebanyak 24 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Juni sebesar 8 hari/bulan. Pada tahun 2013 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Desember yakni sebanyak 21 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Maret sebesar 6 hari/bulan. Pada tahun 2014 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebanyak 22 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Februari dan Juli sebesar 3 hari/bulan. Pada tahun 2015 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November yakni sebanyak 23 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Februari sebesar 6 hari/bulan. Pada tahun 2016 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November yakni sebanyak 21 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Agustus dan September sebesar 6 hari/bulan. Pada tahun 2017 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November yakni sebanyak 22 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Juli sebesar 7 hari/bulan. Pada tahun 2018 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober yakni sebanyak 25 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 5 hari/bulan.

Pada tahun 2019 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober yakni sebanyak 23 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Februari da Agustus sebesar 8 hari/bulan. Pada tahun 2020 total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan April yakni sebanyak 20 hari/bulan dan total hari hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 7 hari/bulan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penghitungan, didapat Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atas bangunan untuk tambak bandeng „XYZ” menurut penghitungan KP Pratama Sidoarjo Utara tidak

Dari seluruh ayat-ayat Al Qur-an, tidak ada satupun yang bicara secara lugas, eksplisit dan &#34;nash&#34;, bahwa hanya laki-laki yang boleh menjadi pemimpin besar itu.. Al

Untuk menurunkan dana yang merentang himpunan efisien, yaitu himpunan portofolio yang memaksimumkan imbal hasil yang diharapkan dan meminimumkan risiko, dapat dibandingkan

Berdasarkan hasil perhitungan SPSS versi 23 terhadap data mean pre dan post konseling pada domain kualitas hidup, konseling oleh apoteker hanya efektif meningkatkan kualitas

Data yang telah diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh curah hujan dan hari hujan bulanan yang mempengaruhi

Berdasarkan hasil penelitian yang ditelusuri melalui unsur intrinsik utama yaitu, penokohan, latar, dan alur dapat dilihat bahwa sikap konservatif yang ditunjukkan oleh

Standarisasi harga honorarium Satgas PPKS mengacu pada capaian kinerja setiap bulannya, dapat menggunakan standar harga tertinggi dari Kepwal Kota Bandung dalam halaman 3 Nomor 7

Pada probe holder ini probe lima lubang nantinya akan dipasang ke slider dengan sekrup di samping terowongan angin sehingga posisi probe dapat digeser-geser dengan keakuratan