1 PENDAHULUAN
Globalisasi pada dunia bisnis dewasa ini telah membawa dampak semakin meningkatnya perdagangan internasional. Larissa (2011) mengungkapkan dengan meningkatnya transaksi internasional memacu meningkatkan dibukanya perusahaan mutinasional. Para pelaku bisnis perusahaan multinasional melalui anak perusahaan, cabang perusahaan, dan agennya mengembangkan bisnis di beberapa negara lain dengan melakukan berbagai investasi dan transaksi yang berskala internasional.
Dalam perusahaan-perusahaan tersebut, biasanya sebagian besar aktivitas bisnis terjadi diantara perusahaan mereka sendiri, dalam artian aktivitas bisnis terjadi dari perusahaan induk ke perusahaan anak. Menurut Yani (2001) dalam menentukan harga, imbalan, dan lain-lain antar mereka, biasanya ditentukan berdasarkan kebijakan harga transfer yang ditentukan oleh perusahaan pusat yang dapat sama atau tidak sama dengan harga pasar (market price). Keputusan tentang harga dan imbalan yang diputuskan tentu telah melalui pertimbangan dan kajian yang mendalam dan secara keseluruhan akan mengguntungkan grup perusahaan.
Harga transfer ditetapkan untuk produk-produk antara yaitu barang-barang yang dipasok oleh divisi penjualan kepada divisi pembelian.
Masalah penentuan harga transfer dijumpai dalam perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat-pusat laba dan antar pusat laba yang dibentuk terjadi transfer barang. Harga transfer memiliki peran ganda, disatu sisi harga transfer mempertegas diversifikasi yang dilakukan oleh manajemen puncak.
Harga transfer menetapkan dengan tegas hak masing-masing manajer divisi untuk mendapatkan laba. Dalam penentuan harga trasfer, masing-masing divisi yang terlibat merundingkan berbagai unsur yang membentuk harga transfer, karena setiap unsur yang membentuk harga transfer akan membentuk harga transfer yang akan berdampak pada laba yang dipakai sebagai salah satu alat untuk menciptakan integrasi.
Dalam pengertian yang paling mendasar menurut Pamungkas (2008) seluruh alokasi biaya merupakan salah satu bentuk penentuan harga transfer dan alasan utama sistem penentuan harga transfer adalah untuk mengkomunikasikan
2
data yang membantu memecahkan persoalan penukaran biaya, dan hasil. Didalam melakukan transfer barang dan jasa antar divisi dalam suatu perusahaan, maka harga yang ditetapkan harus menguntungkan kedua divisi, karena sebagian pendapatan dari suatu divisi akan menjadi biaya pada divisi lain. Hal ini sesuai dengan tujuan penetapan harga transfer yaitu untuk mengukur laba divisi yang melakukan transfer produk pada divisi lainnya,dimana laba ini merupakan tolak ukur penilaian prestasi.
Ryan (2011) melakukan penelitian dengan judul Analisis Penentuan Harga Transfer pada PT. KS Grup. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa PT.
Kusumaputra Santosa menggunakan metode penentuan harga transfer berdasarkan cost. Kebijakan perusahaan tersebut diambil dengan pertimbangan kemudahan dalam pencatatan transaksi transfer yang terjadi. Penentuan harga transfer berdasarkan cost kurang adil bagi divisi penjual karena tidak memperhitungkan unsur laba, sehingga tidak memotivasi divisi penjual untuk mentransfer produknya ke divisi lain dalam satu perusahaan. Kelemahannya terletak pada divisi spinning untuk mentransfer produknya ke divisi weaving. Kesimpulannya bahwa metode tersebut kurang adil bagi divisi spinning karena pada divisi spinning mengalami kerugian. Dari metode harga transfer berdasarkan biaya, PT Kusumaputra Saputra Santosa yang merupakan anak perusahaan menderita kerugian, sementara itu PT. Kusumahadi Santosa sebagai induk perusahaan mendapatkan laba yang memadai.
Beda penelitian ini adalah harga transfer diterapkan pada penelitian tersebut dilakukan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam satu grup perusahaan, sedangkan harga transfer pada penelitian ini dilakukan antar divisi dalam satu perusahaan. Objek pada penelitian ini ialah PT. Victory Apparel.
PT. Victory Apparel merupakan salah satu perusahaan multinasional yang merupakan investasi badan asing. PT. Victory Apparel merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri garmen dan tekstil. Perusahaan ini terdiri dari empat divisi diantaranya adalah Divisi Marker, Divisi Cutting, Divisi Sewing, dan Divisi Finishing. Perusahaan didalam memproduksi barang berdasarkan pada pesanan dimana perusahaan telah memiliki beberapa pelanggan tetap.
3
Perusahaan baru-baru ini mendapatkan peringatan dari Direktorat Jendral Pajak untuk membetulkan SPT Tahunan PPh Badan yang telah dilaporkan oleh perusahaan. Direktorat Jendral Pajak telah melakukan mapping laporan keuangan perusahaan sejenis, dan menilai masih ada potensi risiko penyimpangan harga transfer pada PT. Victory Apparel. Di dalam perusahaan dengan banyak divisi yang saling berhubungan, masalah-masalah yang akan dihadapi oleh manajemen semakin kompleks, karena keputusan tidak hanya menyangkut kepentingan satu bagian saja tetapi juga divisi lainnya serta keputusan perusahaan secara keseluruhan. Pengendalian manajemen sangat erat kaitannya dengan harga transfer karena pengendalian manjemen merupakan pengumpulan dan penggunaan informasi untuk membantu dan mengkoordinasi suatu proses pembuatan perencanaan dan keputusan bersama. Harga transfer yang ditetapkan dianggap belum adil untuk mencapai keputusan masing-masing divisi yang terlibat didalamnya, maupun keputusan perusahaan secara keseluruhan. Harga transfer haruslah ditetapkan dengan pertimbangan yang benar.
Persoalan yang timbul pada penelitian ini apa metode harga transfer yang diterapkan PT. Victory Apparel? Berapa besarnya harga transfer yang diterapkan antar bagian pada PT. Victory Apparel? Apakah metode harga transfer yang ditetapkan di PT. Victory Apparel sudah sesuai dengan teori?
Tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan penetapan harga transfer yang diterapkan antar divisi di PT. Victory Apparel.
Manfaat yang akan dihasilkan dari penelitian ini bagi perusahaan adalah membantu menganalisis penetapan harga transfer yang telah diterapkan perusahaan.
TELAAH PUSTAKA Desentralisasi
Desentralisasi adalah praktek pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada jenjang yang lebih rendah. Desentralisasi biasanya diujudkan melalui pembentukan unit-unit yang disebut divisi. Satu cara pembedaan divisi adalah berdasarkan jenis barang atau jasa yang diproduksi, garis geografis atau
4
berdasarkan jenis pertanggungjawaban (Andrian, 2010). Begitu pula bagi perusahaan yang menjalankan bisnis dalam lingkungan internasional umumnya adalah perusahaan yang berkembang besar. Perusahaan tersebut mampu memiliki kegiatan usaha di beberapa negara yang berbeda. Hal ini mendatangkan kebutuhan terhadap adanya pengembangan sistem desentralisasi. Pada pengambilan keputusan desentralisasi menurut Hansen dan Mowen (2008 : 585) berbagai keputusan dibuat pada tingkat manajemen puncak dan manajer pada jenjang yang lebih rendah bertanggungjawab terhadap pengimplementasian keputusan.
Harga Transfer
Pengertian harga transfer menurut Menurut Simamora dalam Mangoting (2000), harga transfer didefinisikan sebagai nilai atau harga jual khusus yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli (buying division). Sama seperti Hansen dan Mowen (2008 : 587) harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi penjual pada divisi pembeli di perusahaan yang sama. Harga yang dibebankan antar divisi di perusahaan bisa dilakukan dengan harga negosiasi, bisa dengan menaikkan (mark up) atau menurunkan harga (mark down), kebanyakan dilakukan oleh perusahaan global (multinational enterprise).
Skenario Harga Transfer
Gambar 1.
Sumber : Ryan (2011)
Gambar 1.
Sumber : Ryan (2011)
Di dalam suatu perusahaan terdapat divisi yang menjual produk (penjual), divisi yang membeli (pembeli), sehingga keputusan penetapan melibatkan dua unit yaitu
Manajemen Puncak
Divisi Penjual Divisi Pembeli
Barang dijual ke customer
5
pembeli dan penjual maka penentuan harga transfer menjadi hal yang sangat penting.
Tujuan Penetapan Transfer Pricing
Tujuan umum transfer pricing menurut Simamora (1999:273) adalah sebagai berikut.
a. Untuk mentransmisikan data keuangan diantara departemen-departemen atau divisi-divisi perusahaan pada waktu mereka saling menggunakan produk satu sama lain.
b. Untuk mengevaluasi kinerja segmen dan dengan demikian akan memotivasi manajer divisi penjualan dan divisi pembelian menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan
Metode Penetapan Transfer Pricing
Secara umum menurut Horngren, Datar, dan Foster (2008) ada tiga cara menentukan harga transfer yaitu : 1. Penentuan harga transfer atas dasar biaya (Cost-Based Transfer Pricing), 2. Pentuan harga transfer atas dasar harga pasar (Market-Based Transfer Pricing) dan 3. Negosiasi (Negotiated Transfer Pricing):
1. Harga Transfer atas Dasar Biaya (Cost-Based Transfer Pricing)
Perusahaan yang menggunakan metode transfer atas dasar biaya menetapkan harga transfer atas biaya variabel dan tetap yang bisa dibagi dalam tiga pemilihan bentuk, yaitu biaya penuh (full cost), biaya penuh ditambah mark- up (full cost plus markup), dan gabungan antara biaya variabel dan tetap (variable cost plus fixed fee).
Dalam metode biaya penuh, semua elemen biaya baik biaya tetap maupun biaya variabel divisi penjual untuk siap ditransfer merupakan dasar untuk penentuan harga transfer produk yang ditransfer ke divisi pembeli. Menurut Ryan (2011) metode ini bisa digunakan jika pihak luar dapat menyerap semua kapasitas yang dimiliki divisi penjual, perhitungannya sebagai berikut:
Perhitungan biaya penuh:
Biaya produksi xx
6
Biaya administrasi dan umum xx
Beban penjualan xx
Total biaya penuh xx
Perhitungan mark-up:
Biaya administrasi dan umum xx
Beban penjualan xx
Laba yang diharapkan (ROI x Aktiva) xx
Jumlah xx
Biaya produksi xx
Mark-up (Jumlah dibandingkan dengan biaya produksi) xx%
Perhitungan transfer pricing
Biaya produksi xx
Mark-up (%) xx
Harga Transfer xx
2. Harga Transfer atas Dasar Harga Pasar (Market-Based Transfer Pricing)
Apabila ada suatu pasar yang sempurna, metode transfer pricing atas dasar harga pasar inilah merupakan ukuran yang paling memadai karena sifatnya yang independen. Namun keterbatasan informasi pasar terkadang menjadi kendala dalam mengunakan transfer pricing yang berdasarkan harga pasar. Merurut Zain (2003) dalam menghitung harga transfer atas dasarharga pasar adalah seperti berikut:
Harga Pasar xxx
Potongan Volume xx
Biaya Penjualan xx
Komisi Penjualan xx
Biaya Penagihan xx
Biaya Pegudangan xx
Total biaya pengurangan xxx
Harga transfer dalam % dari harga pasar xxx 3. Harga Transfer Negosiasi (Negotiated Transfer Price)
Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan divisi- divisi dalam perusahaan yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga transfer negosiasian mencerminkan prespektif kontrolabilitas yang inheren dalam pusat-pusat
7
pertanggungjawaban karena setiap divisi yang berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab atas harga transfer yang dinegosiasikan.
METODA PENELITIAN
Jenis Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini akan menggambarkan penetapan harga transfer yang terjadi di PT. Victory Apparel yang telah terjadi untuk dianalisis secara kuantitatif.
Penelitian dilakukan mulai bulan September 2015 sampai Oktober 2016 untuk mengambil data tahun 2010 sampai 2015 pada PT. Victory Apparel yang berlokasi di Jl. Coaster No 8, Blok B 01-04, Tanjung Emas Export Processing Zone, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber Data
Penelitian menggunakan data primer dengan teknik wawancara yaitu melakukan serangkaian tanya jawab dengan Accounting manager PT. Victory Apparel yang menghasilkan informasi tentang penerapan harga transfer.
Observasi dengan pengamatan secara langsung mendatangi ke objek penelitian guna mengamati kegiatan operasional PT. Victory Apparel dalam masa kerja.
Data sekunder didapatkan dengan teknik dokumentasi untuk mendapatkan laporan penjualan, laporan keuangan tahun 2015 PT. Vicory Apparel.
Langkah Analisis
Untuk mencapai tujuan dan menjawab persoalan penelitian ini, berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan:
1. Mendeskripsikan penerapan harga transfer pada PT. Victory Apparel 2. Mengevaluasi penetapan harga transfer antar divisi pada PT. Victory
Apparel Teknik Analisis Data
8
Teknik analisis data yang digunakan menggunakan metode metode dasar biaya dengan biaya penuh (full cost). Metode biaya dengan biaya penuh menurut Mulyadi (2009:18) adalah penentuan harga pokok produk yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang bersifat variable maupun tetap.
Perhitungan biaya penuh:
Biaya produksi xx
Biaya administrasi dan umum xx
Beban penjualan xx
Total biaya penuh xx
Perhitungan mark-up:
Biaya administrasi dan umum xx
Beban penjualan xx
Laba yang diharapkan (ROI x Aktiva) xx
Jumlah xx
Biaya produksi xx
Mark-up (Jumlah dibandingkan dengan biaya produksi) xx%
Perhitungan transfer pricing
Biaya produksi xx
Mark-up (%) xx
Harga Transfer xx
9 HASIL PENELITIAN
Profil Perusahaan
Awal mula usaha dikenal dengan PT. Victory Apparel yang berdiri pada 26 September 2005 yang berlokasi di Kawasan Berikat Tanjung Emas Export Processing Zone, Jl. Coaster No 8, Blok B01-B02-B03-B04-B05-B06-B06a-A06, Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasinya cukup strategis, dapat ditempuh kurang lebih dua puluh menit dari Bandara Acmad Yani, sepuluh menit dari stasiun kereta api, dan tujuh menit dari pelabuhan. Pabrik ini terdiri dari gedung I yang memiliki luas 21.132,38 m2, dan gedung II yang luasnya 3.190,7 m2.
Perusahaan ini bergerak pada bidang industri garmen dan tekstil. Sesuai dengan pengesahan mentri Kehakiman R.I No: M – 20 – H.T 03.05 – Th. 1990 maka susunan pengurus PT. Victory Apparel adalah sebagai berikut:
Presiden Direktur : Choi Lin Hung Direktur : Cheuk Tak Kwong
Chow Kwok Wai Presiden Komisaris : Li Ming Hung Komisaris : Chen Tien Tui
Staf lainnya dipercayakan pada managemen profesional di perusahaan seperti yang tertera pada lampiran 1.
PT. Victory Apparel memproduksi kain rajut dan tenun, kaos polo, kaos oblong, jaket, pakaian sports, dan juga pakaian anak-anak. Setiap bulannya perusahaan mampu mempunyai volume produksi antara lima ratus ribu sampai tujuh ratus lima puluh ribu potong per bulannya yang dikerjakan oleh lebih dari seribu empat ratus pegawai. Hasil produksi yang sudah jadi akan dikirim ke
10
buyers antara lain: Philips Van Heusen, New Balance, DKNY, Gymboree, Forever 21, Calvin Klein.
Proses Produksi
Proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan adalah memproses kain yang dirubah menjadi pakaian jadi. Ada beberapa proses yang dibutuhkan hingga pakaian jadi dan siap dikirim. Yang pertama ialah bahan baku yang datang dari supplier akan disimpan dalam gedung B-01.
Gambar 2.
Gudang Penyimpanan Bahan Baku
Gambar 2 merupakan merupakan gudang penyimpanan bahan baku. Dari bahan baku ini lalu akan masuk ke Divisi Marker untuk dibentuk pola pada setiap lembaran kainnya. Setelah proses marker ini selesai selanjutnya akan masuk ke proses cutting yaitu proses kain yang akan dipotong sesuai dengan model pesananan. Proses cutting ini dilakukan di gedung B-02 menggunakan mesin cutting seperti pada gambar 3.
11 Gambar 3.
Mesin Cutting
Selanjutnya akan memasuki proses sewing pada Divisi Sewing yang berada pada gedung B-03-04. Ada 37 lines, dimana disetiap line terdapat 22 operator jahit seperti pada Gambar 4.
Gambar 4.
Proses Sewing
Proses sewing ini merupakan proses penggabungan antara potongan dari bagian cutting, atau dengan kata lain mengkonversikan pola kain 2D (Dua Dimensi) ke dalam bentuk 3D (Tiga Dimensi). Setelah proses produksi pada bagian sewing selesai, semua sisa benang yang tergantung dipotong dengan cara dipotong dengan gunting tangan. Mesin potong benang otomatis juga tersedia untuk melakukan tugas ini. Semua sisa benang dalam produk harus dirapihkan juga.
Persyaratan kualitas yang mendasar adalah produk tanpa sisa benang. Hal ini dilakukan oleh bagian Quality Control yang terdapat pada gedung B-03-04. Pada bagian ini juga dilakukan banyak kontrol terhadap produk yang dihasilkan seperti Quality Control wajib memeriksa detail produk, hasil produk yang dihasilkan oleh operator.
Setelah pakaian sudah jadi dan di bundle, produk akan dipilah sesuai permintaan buyer, jika buyer menginginkan pesanan pakaian jadinya dicuci maka
12
produk akan dicuci di proses garment wash pada gedung add B-05. Namun jika buyer tidak menginginkan produk jadinya di cuci maka produk akan langsung masuk ke Divisi Finishing. Seperti pada Gambar 5, pada tahapan finishing ini produk jadi yang telah dicuci maupun tidak dicuci akan di setrika dan juga di packing sekaligus yang dilakukan di gedung B-05-06.
Gambar 5.
Proses Finishing (Packing)
Lalu ada tahap yang penting setelah finishing adalah produk akan masuk ke bagian final quality control pada gedung B05. Pada tahap ini akan dilakukan proses memeriksa produk secara presentasi visual, memeriksa ukuran produk, folding, packing. Setelah kain mentah dijahit, semua kain yang di cek oleh quality checker untuk memastikan bahwa produk dibuat sesuai standar kualitas yang buyer minta. Setelah semua produk jadi di packing, produk harus lolos uji needle detector machine untuk memastikan bahwa tidak ada jarum yang tersangkut pada tumpukan produk jadi. Setelah di cek, produk akan ke dalam carton pack sebagai packing akhir sebelum dikirimkan. Barang akan dimasukkan ke bagian shipment pada gedung B-06A, lalu dikeluarkan dokumen pengiriman, dan produk jadi siap untuk dimuat ekspor. Pada Gambar 6 berikut merupakan ringkasan proses produksi pada PT. Victory Apparel.
13
RAW MATERIAL BULDING B-01
CUTTING BUILDING B-02
SEWING BUILDING B-03-04
QC
BUILDING B-03-04
GARMENT WASH BUILDING add B-05
YES
FINISHING (IRONING) (PACKING) BUILDING B-05-06
FINAL QC BUILDING B-05
SCAN PACK FG BUILDING B-06
QA BUILDING B-06
SHIPMENT BUILDING B-06A
NO
- Packing list
- Cek berat setiap roll - Memilah kain per style, per warna
- Marker - Spreading - Bundling - Numbering - Accuracy Cutting
- Pemeriksaan komponen - Pemeriksaan bundling - Layout process - Trimming
- Packing list - Cek berat setiap roll - Memilah kain per style, per warna
- Detail produksi - Styling
- 20pcs/orang/operasi - Pengukuran bundle pertama
- Trimming - Pressing - Blowing Thread - Folding, Packing
- 100% presentasi
- 100% pengukuran produk - Inspeksi visual
- Size & ratio
- 100% needle detector machine
- 100% checking on tagging accuracy
- Carton pack
- Shipment release - Muat ekspor
- Tampilan warna - Hand feel - Workmanship
Gambar 6
Proses Produksi PT. Victory Apparel
GARMENT WASH
14
Evaluasi Penetapan Harga Transfer Berdasarkan Metode Biaya Penuh PT. Victory Apparel menggunakan metode biaya penuh dalam menghitung harga transfer. Perusahaan memakai metode ini karena diaggap mudah untuk diaplikasikan, semua akun biaya variabel maupun tetap dimasukkan supaya biaya menjadi lebih tepat, perusahaan dapat mengendalikan biaya yang keluar, dan untuk pembuatan keputusan. Namun, sebenarnya menurut Zain (2008) metode biaya penuh dapat diaplikasikan apabila tidak terdapat suatu harga transfer berbasis pasar yang dapat diandalkan yang akan digunakan sebagai basis penetapan. Namun, PT. Victory Apparel lebih memilih menggunakan metode biaya penuh, walaupun sebenarnya dapat menggunakan harga transfer berbasis pasar. Berikut merupakan evaluasi penetapan harga transfer berdasarkan metode biaya dan perhitungan perusahaan. Tabel 1 merupakan perhitungan harga transfer dengan metode biaya penuh tahun 2015.
Tabel 1.
Perhitungan Harga Transfer dengan Metode Biaya Penuh tahun 2015
Dalam US$ Realisasi
Biaya Produksi 31.162.428,60
Biaya administrasi dan umum 1.675.810,60
Beban Penjualan 53.680,50
Total Biaya Penuh 32.891.919,70
Mark-up
Biaya administrasi dan umum 1.675.810,60
Beban Penjualan 53.680,50
Laba yang diharapkan : ROI x Aktiva X
Jumlah 1.729.491,10
Biaya Produksi 31.162.428,60
Mark-up (%) X
15
Harga Transfer
Biaya Produksi 31.162.428,60
Mark-up % X
Harga Transfer 37.667.828
Secara total, harga transfer pada tahun 2015 adalah US$ 37.667.828 namun dengan tidak adanya perhitungan laba yang diharapkan dan mark-up dari biaya produksi.
Evaluasi Penetapan Harga Transfer Antar Divisi pada PT. Victory Apparel Pada saat ini, PT. Victory Apparel berusaha untuk memproduksi dengan kapasitas penuh. Dimana hasil produk dari divisi marker seluruhnya akan ditransfer ke divisi cutting, setelah selesai maka akan ditransfer ke divisi sewing.
Kemudian selanjutnya dari divisi sewing akan ditransfer ke divisi finishing.
Setelah selesai maka produk Clothing telah selesai dan sesuai dengan permintaan.
Apabila PT. Victory Apparel menerapkan harga transfer berdasarkan metode biaya maka dari masing-masing bagian ini mentransfer produksi berdasarkan biaya. Dalam hal ini divisi marker merupakan pusat biaya karena tidak memiliki pengendalian atas perolehan pendapatan. Semua biaya yang terdapat pada divisi marker merupakan dasar bagi perusahaan untuk mengetahui berapa harga produksi yang dialokasikan ke divisi cutting, divisi sewing dan divisi finishing.
Didalam melakukan transfer barang dan jasa antar divisi dalam suatu perusahaan, maka harga yang ditetapkan harus menguntungkan kedua divisi, karena sebagian pendapatan dari suatu divisi akan menjadi biaya pada divisi lain.
Hal ini sesuai dengan tujuan penetapan harga transfer yaitu untuk mengukur laba divisi yang melakukan transfer produk pada divisi lainnya,dimana laba ini merupakan tolak ukur penilaian prestasi. Pada tiga divisi pertama perusahaan dapat mengasumsikan laba yang diharapkan sebesar 2% pada setiap divisi. Hal ini sudah cukup besar mengingat sebelumnya perusahaan tidak dapat menambahkan laba yang diharapkan. Dan pada divisi yang terakhir yakni divisi finishing ada laba sebesar 11% untuk laba yang diharapkan pada divisi finishing.
Pada tahun 2015 total produksi perusahaan adalah sebesar 9.424.988 pcs/tahun.
16 Tabel 2
Harga Transfer Divisi Marker ke Divisi Cutting
(Dalam US$)
Biaya Produksi:
Bahan Baku
8.611.767
Tenaga Kerja Langsung 546.627
Overhead Pabrik 424.465 Total Biaya Produksi
9.582.859
Biaya Administrasi 400.000
Harga Transfer 9.982.859
Laba yang Diinginkan
2%x 9.982.859 199.657
Total Harga Transfer 10.182.516
Dari tabel 2 didapat total harga transfer ke divisi cutting adalah US$ 10.182.516.
dengan memperhitungkan laba yang diinginkan pada divisi marker sebesar 2%
dari harga transfer pada divisi marker. Lalu total harga transfer pada divisi marker akan ditransfer ke divisi cutting. Berikut merupakan harga transfer divisi cutting ke divisi sewing yang dijelaskan pada tabel 3.
Tabel 3
Harga Transfer Divisi Cutting ke Divisi Sewing
(Dalam US$)
Bahan Produksi dari divisi
Marker
10.182.516
Biaya Produksi:
Bahan Baku 7.381.514
Tenaga Kerja Langsung 1.171.343
Overhead Pabrik 477.523
Total Biaya Produksi
9.030.380
Biaya Administrasi 413.021
Harga Transfer 19.625.917
17
Laba yang Diinginkan 2% x 19.625.917
392.518
Total Harga Transfer 20.018.436
Total harga transfer pada divisi cutting adalah US$ 20.018.436. pada divisi cutting ini juga mempertimbangkan laba sebesar 2%. Lalu total harga transfer pada divisi cutting akan ditansfer ke divisi sewing. Berikut merupakan harga transfer dari divisi sewing ke divisi finishing.
Tabel 4
Harga Transfer Divisi Sewing ke Divisi Finishing
(Dalam US$)
Bahan Produksi dari divisi
Cutting
20.018.436
Biaya Produksi:
Bahan Baku 3.690.757
Tenaga Kerja Langsung 1.561.790
Overhead Pabrik 928.517
Total Biaya produksi 6.181.064
Biaya Administrasi 445.012
Harga Transfer 26.644.512
Laba yang Diinginkan
2% x 26.644.512 532.890
Total Harga Transfer 27.177.402
Tabel 3 merupakan harga transfer dari divisi sewing ke divisi finishing dengan total harga transfer sebesar US$ 27.177.402. pada divisi ini juga diterapkan laba yang akan dicapai sebesar 2%. Total harga transfer dari divisi sewing selanjutnya akan ditransfer ke bagian finishing.
Tabel 5
Harga Transfer Divisi Finishing
(Dalam US$)
Bahan Produksi dari divisi
Sewing
27.177.402
Biaya Produksi:
Bahan Baku 4.921.010
Tenaga Kerja Langsung 624.716
Overhead Pabrik 822.401
Total Biaya Produksi 6.368.127
Biaya Administrasi 471.458
Harga Transfer 34.016.987
Laba yang Diinginkan 11% x 34.016.987
3.661.929
Total Harga Transfer 37.678.915
18
Dan yang terakhir adalah divisi finishing dengan total harga transfer sebesar US$
37.678.915 dengan laba yang diharapkan sebesar 11% dari harga transfer pada divisi finishing.
Berdasarkan informasi tersebut terlihat bahwa penetapan harga transfer adalah berdasarkan metode biaya ditambah laba untuk masing-masing bagian supaya setiap bagian saling menguntungkan. Hal ini sesuai dengan tujuan penetapan harga transfer yaitu untuk mengukur laba divisi yang melakukan transfer produk pada divisi lainnya, dimana laba ini merupakan tolak ukur penilaian prestasi. Jika dibandingkan dengan yang telah perusahaan lakukan, perusahaan saat ini tidak memberikan kenaikan laba pada tiga divisi pertama.
Dengan jumlah produksi yang sama sebesar 9.424.988 pcs ini total harga transfer dari yang awalnya US$ 37.667.828 berubah naik menjadi US$ 37.678.915. hal ini juga berpengaruh kepada laba yang awalnya US$ 4.779.908 naik menjadi US$
4.786.995. Dengan adanya selisih laba yang seharusnya dapat lebih tinggi ini, perusahaan seharusnya mempunyai peluang memperoleh laba yang lebih tinggi US$ 11.087, dan perusahaan seharusnya membayar pajak yang lebih tinggi karena ada potensi laba yang lebih tinggi yang akan didapatkan seperti pada tabel 5 dibawah ini.
Tabel 6
Dampak yang Ditimbulkan Akibat Perbedaan Total Harga Transfer
Divisi Realisasi Harga Transfer
(a)
Harga Transfer berdasarkan Teori Biaya
Penuh (b)
Keterangan Analisis
Marker Cutting Sewing Finishing
9.982.859 19.426.260 26.052.336 37.667.828 Total harga transfer US$
37.667.828
10.182.516 20.018.436 27.177.402 37.678.915 Total harga transfer US$
37.678.915
a
<
b a
<
b
a
< b
a
< b
Total harga transfer pada perusahaan lebih kecil daripada total harga transfer menurut teori biaya penuh.
Dampaknya terhadap laba :
Laba dari yang
sebelumnya US$
4.775.908 naik menjadi US$ 4.786.995
Dampaknya terhadap pajak:
Dengan perbedaan laba yang dapat meningkat
19
lebih tinggi,
menunjukkan bahwa pembayaran pajak juga seharusnya lebih tinggi.
20 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Harga transfer yang dilakukan oleh PT. Victory Apparel termasuk dalam intra-company transfer pricing karena dilakukan oleh antar divisi dalam satu perusahaan. Metode yang dipakai perusahaan dalam menghitung harga transfer adalah metode biaya penuh.
Berdasarkan evaluasi penetapan harga transfer antar divisi pada PT.
Victory Apparel, besarnya total harga transfer pada divisi marker adalah US$
10.182.516, total harga transfer ke divisi cutting sebesar US$ 10.182.516, harga transfer dari divisi sewing ke divisi finishing dengan total harga transfer sebesar US$ 27.177.402, dan total harga transfer pada divisi finishing sebesar US$
37.678.915. Berdasarkan evaluasi perhitungan berdasarkan metode biaya penuh, metode harga transfer antar divisi yang diterapkan pada perusahaan juga belum sesuai karena tidak memperhitungkan laba yang diharapkan.
Saran
Penetapan metode harga transfer antar divisi sebaiknya menerapkan metode biaya ditambah laba untuk masing-masing bagian supaya setiap bagian saling menguntungkan dan sesuai dengan tujuan penetapan harga transfer yaitu untuk mengukur laba divisi yang melakukan transfer produk pada divisi lainnya.