PENERAPAN KETERAMPILAN BERTANYA DASAR, LANJUT DAN PELACAK UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
BIDANG STUDI AGAMA HINDU PADA SISWA KELAS V SEMESTER II SDN MABUAN
Manie SDN Mabuan
INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK
URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com
© 2021 Kresna BIP.
e-ISSN 2550-0481 p-ISSN 2614-7254
Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)
Dik irim : 01 Ok tober 2021 Revisi pertama : 07 Ok tober 2021 Diterima : 09 Ok tober 2021 Tersedia online : 18 Ok tober 2021
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar Pendidikan Agama Hindu siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada siklus 1 terdiri dari tiga kali pertemuan dan siklus II terdiri dari empat kali pertemuan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas V Semester 2 SDN Mabuan dengan subyek penelitian 11 orang siswa yang terdiri dari 5 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan.
Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain 1).Observasi dan wawancara untuk mendapatkan data aktivitas belajar siswa, 2).Metode tes digunakan untuk mendapatkan data prestasi belajar siswa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan pemaparan makna yang naratif.
Hasil penelitian ini menunjukkan, Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Kelas V Semester 2 SDN Mabuan dengan hasilnya sebagai berikut: pada siklus I aktivitas belajar siswa secara klasikal mencapai 57%, rata-rata kelas (M) = 72,72, daya serap (DS) = 72,72%, ketuntasan belajar (KB) = 64%. Meningkat pada siklus II menjadi aktivitas belajar siswa secara klasikal sebesar 83%, rata-rata kelas (M) = 79,54, daya serap (DS) = 79,54%, dan ketuntasan belajar (KB) = 90%.
Berdasarkan analilsis data di atas dapat disimpulkan bahwa Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Kelas V Semester 2 SDN Mabuan ternyata dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar pendidikan agama Hindu pada siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan Tahun Pelajaran 2017/2018.
Kata Kunci: Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak , Prestasi
Email : [email protected]
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk waktu serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI No. 20). Berdasarkan fungsi pendidikan maka peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan di kelas.
Guru juga merupakan kunci dan sekaligus tombak pencapaian misi pembaruan pendidikan nasional yang dimaksudkan. Untuk itulah seorang guru harus memiliki kompetensi yang memadai dengan menguasai beberapa keterampilan-keterampilan sebagai seorang pendidik, karena pendidikan merupakan masalah penting dalam kehidupan. Maju mundurnya kehidupannya suatu bangsa sebagian ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara itu.
Kenyataan di lapangan saat ini di mana ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju banyak permasalahan yang muncul tidak terkecuali masalah pendidikan. Cara pendekatan konvensional (ceramah) yang tidak efektif dan menimbulkan kejenuhan sehingga keaktifan siswa kurang di dalam kelas, serta pendekatan keterampilan proses dengan teoritis. Pengajar yang kurang kreatif dalam upaya menggali, menemukan atau menciptakan gagasan baru berupa metode pembelajaran yang inovatif.
Pendidikan Nasional memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam suatu konsep ajaran Agama Hindu memiliki konsep pendidikan untuk membentuk umat yang bertawa sehingga diharapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan yang disebut catur asrama yang artinya empat tujuan kehidupan manusia, salah satunya pada tingkat senjang yang pertama yaitu masa brahmacari. Pada masa brahmacari umat manusia menuntut ilmu yang setinggi-tingginya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, terkait menunut ilmu pada masa brahmacari, ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki dijadikan untuk mencapai tujuan hidup manusia, dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan Jagathita yaitu kebahagiaan yang sempurna.
Melalaui pendidikan itulah kebahagiaan yang sempurna. Pendidikan formal ditingkat SD sudah mengembangkan pendidikan yang khusus untuk meningkatkan pengetahuan tentang Agama seperti mengadakan pasraman kilat tetapi guru memberikan materi kepada peserta didik untuk lebih meningkatkan keaktivan siswa peserta didik dalam proses pembelajaran diperlukan pembelajaran yaitu penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut disertai pelacak di SDN Mabuan yang tujuanya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru agama Hindu di Kelas V Semester 2 SDN Mabuan ternyata hasil belajar siswa masih belum optimal.
Belum optimalnya hasil belajar siswa ini memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak untuk mencari faktor-faktor penyebabnya dan mencari alternatif pemecahannya. Selain itu hasil observasi terhadap kelas V Semester 2 SDN Mabuan diperoleh beberapa informasi bahwa belum optimalnya hasil belajar siswa
dalam mata pelajaran agama Hindu kelas V Semester 2 disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya: proses pembelajaran kurang bergairah dan menantang siswa untuk berperan aktif karena pengelolaan kelas yang monoton, pengajar dalam menyajikan materi dominan menggunakan metode ceramah (konvensional), kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat baik lisan maupun tulisan, materi yang disampaikan jarang dirujuk ke hal-hal yang bersifat praktis, dalam penyajian materi kurang memperhatikan pengetahuan awal (prioknowledge) yang dimiliki siswa, kurangnya kesempatan yang diberikan kepada siswa diluar jam pelajaran atau sekolah untuk menyampaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Sedangkan temuan yang diperoleh dari beberapa guru dinyatakan, bahwa, pengajaran kurang memberikan stimulasi kepada siswa untuk aktif. Fakta tersebut diperkuat dari hasil introspeksi diri (refleksi proses pembelajaran) yang telah diterapkan oleh peneliti bahwa : proses pembelajaran yang diterapkan didominasi oleh penggunaan metode konvensional (ceramah), hal ini terjadi akibat terbatasnya waktu tatap muka karena banyak hari efektif yang libur, pengajar berorientasi pada penuntasan materi tanpa memperhatikan proses. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan oleh pengajar kurang memberikan stimulasi dalam belajar.
Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, perlu diterapkan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak dalam mata pelajaran agama Hindu. Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan di dalam kehidupan sehari-hari biasanya bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang belum diketahui. Dalam proses belajar mengajar tujuan pertanyaan yang diajukan guru ialah agar siswa belajar, yaitu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir. Dalam proses belajar mengajar setiap pertanyaan baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respon siswa sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa itu sendiri.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan penting mengapa keterampilan bertanya ini sangat perlu dimiliki guru dan calon guru. Pertama, setelah berakarnya kebiasaan mengajar dengan menggunakan metode ceramah yang cenderung menempatkan guru sebagai sumber informasi yang pasif. Kedua, latar belakang kehidupan anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang kurang bisa mengajukan pertanyaan dan mengeluarkan pendapat. Ketiga, penggalakan penerapan gagasan. Cara belajar siswa aktif sekarang ini yang menuntut siswa lebih banyak terlibat secara mental dalam proses belajar mengajar, seperti bertanya dan berusaha menemukan jawaban-jawaban dari masalah yang dihadapi. Keempat, pandangan yang salah mengenai tujuan pertanyaan yang menyatakan bahwa pertanyaan hanya dipakai untuk mengevaluasi hasil belajar siswa.
Berdasarkan keempat hal tersebut di atas, jelas bahwa penguasaan keterampilan bertanya bagi seorang guru dan calon guru sangat penting, karena dengan penggunaan keterapilan bertanya yang efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar diharapkan timbul perubahan sikap pada guru dan siswa.
Perubahan pada guru adalah dari yang banyak memberi informasi, menjadi lebih banyak mengundang interaksi. Pada siswa, dari lebih banyak mendengarkan
informasi guru menjadi lebih banyak berpartisipasi dalam bentuk bertanya, menjawab, dan mengajukan pendapat. Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka dipandang perlu mengangkat topik ini menjadi sebuah penelitian dengan judul
“Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Kelas V Semester 2 SDN Mabuan”.
Rumusan Masalah
Secara umum perumusan masalah adalah suatu hal yang penting dan yang harus dilakukan sebelum mengadakan penelitian, sebab merumuskan masalah dengan baik, maka akan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah aktivitas belajar siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan pada pembelajaran pendidikan Agama Hindu melalui penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak dapat meningkatkan?
2. Bagaimanakah penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bidang studi pendidikan Agama Hindu pada siswa kelas V Semester 2 Mabuan?
Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian yang dilakukan adalah untuk memberikan suatu pengetahuan tentang pentingnya minat belajar siswa melalui penerapan keterampilan bertanya dasar dan lanjut serta pelacak untuk meningkatkan prestasi belajar bidang studi pendidikan agama Hindu.
1. Untuk mengetahui aktivitas belajar pendidikan agama Hindu di kelas V Semester 2 Mabuan, melalui penerapan keterampilan bertanya dasar dan lanjut serta pelacak di bidang studi pendidikan agama Hindu.
2. Untuk mengetahui penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak yang dapat meningkatkan prestasi siswa dalam bidang studi agama Hindu pada siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan
KAJIAN PUSTAKA
Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak
Penerapan keterampilan-keterampilan yang dimaksud di dalam sesuatu peristiwa belajar mengajar. Mengajar membutuhkan pergintegrasian yang unik di dalam perancangan dan penyesuaian-penyesuaian yang transaksional di dalam pelaksanaannya. Dalam proses belajar mengajar tujuan pertanyaan yang diajukan guru ialah agar siswa belajar, yaitu memperoleh pengetahuan dan meningkatan kemampuan berpikir. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon seseorang (Hasibaan, dkk. 1985 ; 62). Dengan proses belajar mengajar guru mengajukan pertanyaan kepada siswa-siswanya. Cara yang ditempuh guru dalam mengajukan pertanyaan mempunyai pengaruh dalam pencapaian hasil belajar dan peningkatan cara berpikir siswa. Cara mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakan satu hal yang tidak mudah. Sebab itu seorang guru atau calon guru perlu berusaha agar memahami dan menguasai
keterampilan bertanya sebagai salah satu keterampilan mengajar. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Sedangkan keterampilan bertanya yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Memperbesar partisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Keterampilan bertanya pelacak adalah pemberian pertanyaan kepada siswa tetapi jawaban yang diberikan siswa dinilai oleh guru benar, tetapi masih dapat di tingkatkan menjadi lebih sempurna maka guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa dengan mengklarifikasikan jawaban tersebut meminta siswa memberikan alasan, meminta kesepakatan pandangan kepada siswa yang lain, meminta ketepatan jawaban, meminta jawaban yang relevan, meminta contoh, dan meminta jawaban yang lebih kompleks.
Keterampilan bertanya dibedakan atas keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan, sedangkan keterampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari pada keterampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar partisifasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri.
Dalam proses belajar mengajar umumnya guru mengajukan pertanyaan kepada siswa-siswanya. Cara yang ditempuh guru dalam mengajukan pertanyaan mempunyai pengaruh dalam pencapaian hasil belajar dan peningkatan cara berpikir siswa. Cara mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakan satu hal yang tidak mudah. Sebab itu seorang guru atau calon guru perlu berusaha agar memahami dan menguasai keterampilan bertanya sebagai salah satu dari keterampilan mengajar.
Mengajar adalah perbuatan yang komplek, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan pesan. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh semua komponen belajar mengajar. Tujuan yang ingin dicapai atau seperti telah dikemukakan di atas, pesan yang ingin disampaikan, subyek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan tidak kalah pentingnya, guru sendiri, dalam arti keterampilan serta wawasannya tentang diri dan misinya sebagai pendidik.
Pengertian Partisipasi
Partisipasi adalah suatu gejala demontrasi, dimana orang ikut serta di dalam perencanaan serta pelaksanaan dari segala sesuatu yang berpusat kepada kepentingannya dan juga ikut memiliki tanggung jawab sesuai dengan tingkatan dan kewajibannya. Partisipasi juga merupakan kesediaan untuk membantu keberhasilan setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Dalam Ensiklopedi Pendidikan, partisipasi disebutkan : “Sesuatu gejala demokrasi, dimana orang ikut serta di dalam perencanaan serta pelaksanaan segala sesuatu yang berpusat kepada kepentingannya dan juga ikut memilih tanggung jawab sesuai dengan tingkat dan kewajiban “(Poerbakawatja, 209, Rapet, 1977:7).
Sedangkan didalam Phatologi sosial dikatakan bahwa partisipasi sosial adalah :
“Keanggotaan dan peranan didalam kelompok-kelompok sosial, dan aktivitas- aktivitas yang bersifat cultural” (Vebrianto, 1979:54). Partisipasi adalah kesedian untuk membantu keberhasilan setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri (Mubyarto, 1984:35).
Aktivitas Belajar
Dalam belajar seseorang tidak akan pernah dapat menghindari diri dari suatu situasi. Situasi ini akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar. Secara umum aktivitas belajar berhubungan dengan masalah belajar, menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berpikir dan latihan. Setiap dimanapun dan kapanpun memberikan kesempatan belajar kepada seseorang (Djamarah, 2002:38).
Aktivitas belajar siswa tidak terpaku pada bertanya atau berpendapat.
Yang dimaksudkan dengan aktivitas belajar adalah segala usaha yang dilakukan oleh siswa secara fisik ataupun psikis yang mendukung proses belajar. Disamping bertanya dan berpendapat, yang dimasukkan kedalam aktivitas belajar siswa antara lain mendengarkan, memandang, menulis, membaca, mengingat, serta kegiatan yang mendukung proses belajar mengajar.
Dengan demikian aktivitas belajar adalah segala usaha atau kegiatan positif yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan situasi dan kondisi, yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar. karena banyaknya aktivitas belajar tersebut para ahli mengadakan klasifikasi seperti pandangan :
1. Paul D. Dierich yang membagi aktivitas menjadi beberapa kelompok seperti : a) Kegiatan – kegiatan visual yaitu : membaca, melihat gambar, demontrasi,
pameran dan mengamati orang lain bekerja.
b) Kegiatan lisan/oral : mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan dan diskusi.
c) Kegiatan mendengarkan : mendengarkan penyajian bahan, percakapan, permainan atau diskusi kelompok.
2. Getrud M Whipple membagi kegiatan-kegiatan murid tersebut seperti berikut ini :
a) Bekerja dengan alat – alat visual : mengumpulkan gambar-gambar dan bahan ilustrasi lainnya, mendengarkan penjelasan, mengajukan pertanyaan.
b) Mempelajari masalah-masalah : mencari informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting, membagi membawa buku-buku dari rumah dan perpustakaan, menilai informasi dari beberapa sumber dan membuat rangkuman dan laporan.
c) Tes : mengerjakan informal, menyiapkan tes dan menyusun grafis. Sesuai dengan klasifikasi aktivitas belajar dan pengertian aktivitas belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah segala usaha atau kegiatan positif yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan kondisi, yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar.
Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil perubahan kemampuan yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, ini sejalan dengan pendapat Sumadi (1984:253) bahwa prestasi belajar dapat dilihat dari nilai raport yang merupakan perwujudan atau meliputi upaya yang dilakukan guru dalam memberikan penilaian kepada siswa, menurut Nasrun (1979:21) memberikan batasan bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang pelajaran yang disajikan dalam tes, dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh akibat usaha dari kemampuan sikap atau keterampilan dari siswa (seseorang).
Prestasi belajar merupakan salah satu hasil belajar yang dapat merefleksikan tentang suasana yang diciptakan oleh guru sarana/fasilitas menunjang, teori dan kajian pustaka yang memberi konstribusi terhadap penggunaan metode dalam proses pembelajaran. Prestasi belajar sebagai suatu potensi dipengaruhi oleh perasaan, sifat, nilai-nilai diri, dan aktivitas pada saat belajar.
Proses pembelajaran dapat berhasil yang pada umumnya disebutkan hasil belajar atau prestasi belajar. Proses pembelajaran ini sangat dipengaruhi oleh minat siswa itu sendiri di samping itu belajar siswa tersebut seperti : minat siswa kurang dalam pelajaran yang didapat, akan prestasi yang mereka dapatkan akan berkurang juga dan begitu juga sebaliknya bila minat siswa itu tinggi terhadap pelajaran maka prestasi juga akan meningkat.
Pendidikan Agama Hindu
Pengertian pendidikan agama Hindu menurut hasil Seminar Kesatuan Tafsir tentang aspek-aspek agama Hindu dapat dibedakan menjadi dua, yakni pendidikan agama Hindu di Sekolah dan pendidikan agama Hindu di luar sekolah.
Pendidikan agama Hindu diluar sekolah merupakan suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa masyarakat dengan ajaran agama Hindu itu sendiri sebagai pokok materi, ”Sedangkan pendidikan agama Hindu di sekolah ialah suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa raga anak didik sesuai dengan ajaran agama Hindu” (Parisada Hindu Dharma Pusat, 1985 – 1986b: 23 – 24).
Pendidikan Hindu sangat menunjang tujuan pendidikan nasional yaitu pembangunan sepiritual umat Hindu khususnya sehingga tercapainya kerukunan antar umat beragama.
Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup menyendiri maka itu manusia hidup berkelompok, Membentuk masyarakat dan bernegara. Demikian pula halnya masyarakat Indonesia hidup bernegara yang berdasarkan Pancasila dan setiap warga Negara Indonesia harus hidup dengan memeluk agama tertentu yang di akui di Indonesia. Nilai – nilai agama hanya dapat di lakukan dengan proses pendidikan. Jadi Agama dengan pendidikan tidak bisa terlepaskan dalam kehidupan ini. Manusia juga di sebut dengan mahluk pribadi karena perbedaan pada penampilan fisik,bakat, minat, dan kemampuan.manusia berhubungan erat dengan pendidikan, karena manusia perlu dididik dan sewaktu-waktu dapat ditunjukan dengan mendidik, maka dari itu manusia juga di sebut mahluk yang harus mendapat pendidikan. Pentingnya pendidikan atau pentingnya ilmu
pengetahuan banyak diuraikan di dalam pustaka suci seperti Bhagawadghita, Sarasamuscaya, Rg. Weda dan di dalam beberapa pustaka Upanisad yang merupakan uraian ilmu tentang Weda. Dan Weda merupakan kumpulan bentuk dari ilmu pengetahuan. Weda secara etimologi berasal dari urat kata “Vid”(Sansekerta) yang berarti tahu,Pengetahuan atau terang. Sedangkan Upanisad berarti duduk di bawah dekat guru mendengarkan ajaran – ajaran suci kerohanian.
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian
Adapun lokasi/tempat diadakannya penelitian ini adalah di Mabuan, Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Berdasarkan penelitian pendahuluan di sekolah ini ditemukan permasalah seperti tertuang dalam latar belakang masalah di atas.
Dengan permasalahan tersebut peneliti memilih tempat ini yaitu SDN Mabuan, Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, sebagai tempat untuk mengadakan penelitian.
Metode Pengumpulan Data
Data adalah bahan mentah yang perlu diolah untuk menjadi suatu karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan baik untuk diri kita sendiri maupun untuk kepentingan pengetahuan ilmiah. Karena data adalah bahan mentah yang perlu diolah untuk dijadikan karya ilmiah maka sangat perlu kiranya data tersebut diolah dengan berbagai tehnik atau metoda. Metode Pengumpulan Data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Observasi merupakan pengamatan dalam proses tindakan bagaimana pengaruh kendala tindakan, bagaimana cara-cara tindakan, serta persoalan- persoalan lainnya yang mungkin timbul dari hasil observasi ini menjadi dasar refleksi apa yang telah dilakukan.
Proses observasi diselenggarakan pada setiap pembelajaran berlangsung dari awal sampai akhir pada setiap jam pelajaran berlangsung. Fokus pengamatan dalam setiap observasi, yaitu aktivitas belajar secara individu dan secara berkelompok, yaitu meliputi : perhatian siswa terhadap penyajian materi, motivasi belajar, ketekunan dan keuletan, serta partisipasi dalam mengerjakan masalah atau soal dan tugas, partisipasi bertanya kepada temannya, aktivitas kepada guru, aktivitas menggali pengetahuan dari sumber-sumber lain yang berhubungan dengan materi yang disajikan, memberikan tuntunan kepada temannya, aktivitas kelas, suasana kelas, kegiatan individu dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, keterampilan individu dalam mengemukakan pendapatnya, serta keterampilan memberikan jawaban atas pertanyaan teman atau guru, interaksi, partisipasi antar individu, serta penggunaan media belajar.
2. Metode Wawancara
Dalam buku Metode Research (penelitian ilmiah). Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilaksanakan melalui telpon.
Hubungan dalam penginterview dan yang d2nterview bersifat sementara, yaitu berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan kemudian diakhiri. Hubungan dalam interview biasanya seperti antara orang asing yang tak berkenalan, namun pewawancara harus mampu mendekati responden, sehingga ia rela memberikan keterangan yang kita inginkan. Dalam interview peneliti menerima informasi yang diberikan oleh informan tanpa membantah, mengecam, menyetujui dan tidak menyetujuinya. Dengan interview peneliti bertujuan untuk memperoleh data yang dapat diolah untuk memperoleh generalisasi atau hal-hal yang bersifat umum yang menunjukkan kesamaan dengan situasi-situasi lain (Nasution, 2004, 113-114)
James P. Chaplin (Kartini kartono, 2003) menginterpretasikan wawancara atau interview adalah percakapan dengan bertatap muka dengan tujuan untuk memperoleh informasi factual, atau menaksir dan menilai kepribadian individu atau untuk tujuan-tujuan konseling/penyuluhan, atau tujuan terapeutis.
Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Pengantar Metodologi Riset Sosial menyampaikan Interview atau Wawancara adalah suatu percakapan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih yang duduk berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu masalah tertentu (interview = berbincang-bincang, tanya jawab, asal kata interview = perjumpaan sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Dari kata entre, inter, dan voir = videre = melihat, interview = tanya jawab lisa dengan maksud untuk dipublikasikan.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengadakan wawancara tentang aktivitas dan prestasi siswa pada mata pelajaran pendidikan agama hindu di SDN Mabuan kecamatan Dusun Selatan kabupaten Barito Selatan.
3. Metode Analisis Dokumentasi
Teknik pengambilan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen- dokumen (Usman dan Akbar, 2004: 73).
Keuntungan menggunakan dokumentasi ialah biayanya relatif murah, waktu dan tenaga lebih efisien. Data-data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi cenderung merupakan data sekunder. Mengingat data, konsep- konsep maupun pustaka-pustaka yang ada relevansinya dengan pokok masalah yang terdapat dalam sumber bacaan. Dokumentasi yang menjadi sumber data dalam metode dokumentasi ialah buku-buku atau dokumentasi dikaji dan dianalisa untuk menemukan konsep-konsep dan teori yang relevan dengan pokok- pokok penelitian.
Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: reduksi data dan penyimpulan hasil analisis. Sedangkan analisis kualitatif hanya sebagai penunjuang data untuk dapat memperkuat argumentasi atau paparan naratif (dalam Wirya, 2007). Reduksi data dimaksudkan adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokan data pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna (dalam Ririn, 2007).
Paparan data meruapakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, tabel, grafik atau perwujudan lainnya yang dapat memberikan gambaran yang jelas tentang proses dan hasil tindakan yang dilakukan. Penyimpulan hasil analisis merupakan pengambilan inti dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat dan bermakna.
Paparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, tabel, grafik atau bersifat Deskriftif Kualitatif yang dapat memberikan gambaran jelas tentang proses dan hasil tindakan yang dilakukan atau dijelaskan berdasarkan teori.
Penyimpulan hasil analisis merupakan pengambilan inti dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat, dan bermakna. Untuk data tentang prestasi belajar, sekor yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriftif dengan menggunakan rumus :
∑x 1. Menentukan Rata-rata Kelas M = ________
N Penjelasanya : M = Rata-rata kelas
∑x = Jumlah nilai seluruh siswa N = Jumlah siswa
2. Menentukan Daya Serap (DS) = M X 10%
Penjelasanya : DS = Daya Serap M = Rata-rata kelas
∑S. tuntas
3. Ketuntasan Belajar KB = _______________ 100%
N
Penjelasanya : ∑ s.tuntas = Jumlah siswa yang tuntas ∑ s. = Jumlah seluruh siswa
SKBM = Standar Ketuntasan Belajar Minimum yang ditetapkan sekolah = 75
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Kondisi Awal
Pelaksanaan tindakan ini mengambil lokasi pada SDN Mabuan subyek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 11 orang, yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Berdasarkan tindakan pendahuluan yang dilaksanakan pada awal Januari 2018 dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi diperoleh data sebagai berikut.
Hasil wawancara terhadap guru pengajar diperoleh informasi bahwa siswa pasif, kurang aktif dalam proses pembelajaran seperti kurangnya usaha untuk bertanya, kurangnya perhatian siswa saat guru menjelaskan, kurangnya rasa ingin tahu terhadap pengetahuan yang berkaitan dengan bidang studi Agama Hindu, kurangnya keterlibatan siswa dalam aktivitas berbicara. Kurangnya aktivitas keterampilan mengemukakan pendapat siswa disebabkan oleh kurangnya keterlibatan siswa dalam aktivitas berbicara, siswa kerap mengalami kesulitan
dalam menyiapkan pesan atau idenya kepada orang lain, siswa takut mengemukakan idenya karena tidak yakin akan dirinya atau “takut salah” tentang hal yang diucapkannya, rasa pesimis dan malu pada diri sendiri serta teman-teman sekitarnya.
Hasil Pre-test sebelum tindakan diperoleh nilai rata-rata (M) yaitu 65, daya serap (DS) sebesar 65% dan ketuntasan belajar sebesar 60% sedangkan Kreteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebagai target dalam penelitian ini sebesar 70. Hal ini disebabkan bahwa siswa kurang bergairah mengikuti proses pembelajaran, pengajar dalam menyajikan materi lebih banyak dengan menggunakan metode ceramah ini ditambah dengan kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengelola kelas maupun metode pembelajaran yang mengakibatkan interaksi belajar mengajar bersifat monoton dan membosankan.
Untuk memecahkan masalah di atas digunakan Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak yang dilaksanakan dalam sistem siklus.
Siklus I
Proses observasi diselenggarakan pada setiap pembelajaran berlangsung dari awal sampai akhir pada setiap siklus. Observasi yang dilakukan meliputi aktivitas belajar siswa secara individual dan kelompok, dalam observasi ini siswa yang mengikuti pembelajaran di kelas V Semester 2 SDN Mabuan sebanyak 11 orang, yang terdiri dari 5 orang laki - laki dan 6 orang perempuan. Data aktivitas siswa diambil dengan menggunakan lembar observasi, yang terdiri dari 7 aktivitas prilaku siswa yang merupakan deskriptor - deskriptor dalam indikator prilaku siswa yang sudah dimodifikasi. Setiap indikator siswa yang tampak selama di observasi yang dilaksanakan pada lembar observasi dengan memberi nilai. Skor aktivitas diperoleh dengan menjumlahkan skor yang didapat oleh siswa yang bersangkutan untuk tiap aktivitas. Lembar observasi tersebut dapat dilihat seperti tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Aktivitas Siswa pada Siklus I No Aspek Aktivitas Belajar
Keterlibatan Siswa Frekuensi %
1 Bertanya sesuai topik 6 55
2 Penggunaan bahasa yang benar 7 64
3 Spontanitas merespon pertanyaan 5 45
4 Mengemukakan pendapat 6 55
5 Penggunaan waktu yang efesien 7 64
6 Keaktivan siswa dalam memecahkan masalah 5 45 7 Kerja sama dalam hubungan antara siswa yang satu
dengan yang lainnya 8 73
Jumlah 44 401
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2018)
Rata-rata aktivitas siswa dalam pembelajaran sebesar 57% (rendah). Hasil observasi tentang aktivitas siswa atau prilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran siklus I masih rendah yaitu 57%, terbukti dengan hasil yang diperoleh belum
Evaluasi dan Analisis
Evaluasi siklus I dilaksanakan pada tanggal akhir bulan Februari 2018 yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar yang telah dilaksanakan dengan Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak dan evaluasi diberikan setelah tindakan dilaksanakan, dengan memberikan tes tulis terhadap siswa secara individu. Adapun tes yang diberikan adalah tes prestasi belajar dalam bentuk isian jumlah soal 5 item. Evaluasi ini dilaksanakan selama 1 jam pelajaran (1 x 40 menit).
Dalam pelaksanaan evaluasi ini peran peneliti adalah sebagai berikut:
1. Peneliti membagikan tes kepada siswa satu persatu
2. Peneliti memberikan penjelasan kepada siswa dalam mengerjakan tugas.
3. Peneliti menyuruh siswa untuk mengerjakan tes yang telah diterimanya.
4. Setelah waktu yang ditetapkan sudah habis, peneliti menyuruh untuk mengumpulkan pekerjaannya.
5. Peneliti memeriksa secara teliti hasil kerja siswa.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya prestasi atau hasil belajar siswa, maka di bawah ini ditampilkan data hasil evaluasi post-test siklus I sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Evaluasi Siklus I
No.Absen Nilai Keterangan
1 65 Belum Tuntas
2 70 Belum Tuntas
3 75 Tuntas
4 80 Tuntas
5 75 Tuntas
6 75 Tuntas
7 75 Tuntas
8 75 Tuntas
9 65 Belum Tuntas
10 70 Belum Tuntas
11 75 Tuntas
Jumlah Seluruh Skor Siswa 800 -- Skor Rata-Rata Kelas 72,72 --
Daya Serap 72,72% --
Ketuntasan Belajar Siswa 64% -- Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2018)
Adapun rincian perolehan nilai prestasi belajar dari masing-masing siswa pada siklus I adalah sebagai berikut:
1. Satu orang siswa memperoleh nilai 80 (9%) 2. 6 orang siswa memperoleh nilai 75 (55%) 3. Dua orang siswa memperoleh nilai 70 (18%) 4. Dua Orang siswa memperoleh nilai 65 (18%)
Dari hasil evaluasi siklus I post-tes mengalami peningkatan atau kemajuan dalam pencapaian skor pada masing-masing siswa dibandingkan dengan hasil sebelum tindakan, akan tetapi hasil yang dicapai belum mencapai target yang diinginkan oleh peneliti karena hasil evaluasi skor rata-rata kelasnya adalah 72,72 daya serap sebesar 72,72% dan ketuntasan belajar siswanya 64%, Sedangkan target yang diinginkan oleh peneliti adalah skor rata–rata kelas 75 daya serap siswa adalah 75% dan ketuntasan belajar siswa adalah 75%.
Analisis
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriftif kualitatif, dengan rumus :
∑x
1. Menentukan Rata-rata Kelas M = _______
N Penjelasanya : M = Rata-rata kelas
∑x = Jumlah nilai seluruh siswa N = Jumlah siswa
2. Menentukan Daya Serap (DS) = M X 10%
Penjelasanya : DS = Daya Serap M = Rata-rata kelas
3. Ketuntasan Belajar KB = ∑S. tuntas
______________ 100%
N
Penjelasanya : ∑ s.tuntas = Jumlah siswa yang tuntas ∑ s. = Jumlah seluruh siswa
Sesuai analisis data tersebut di atas, dapat dilihat hasil skor rata-rata kelas (M) pada siklus I adalah 72,72 daya serap sebesar 72,72% dan ketuntasan klasikal (KK) yang dicapai sebesar 64%. Berdasarkan hasil prestasi belajar pada siklus I apabila dibandingkan dengan target peneliti yang direncanakan yaitu tercapainya prestasi belajar yang ditunjukan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 75%, daya serap 75 dan ketuntasan belajar siswa adalah 75%, maka hasil penelitian pada siklus I ini belum mencapai target yang diinginkan. Oleh karena itu perlu ada perbaikan pada siklus berikutnya yaitu siklus II.
Refleksi
Hasil aktivitas siswa sudah mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan sebelum tindakan, namun hasil yang dicapai oleh siswa belum mencapai target. Hal ini dapat dilihat dari data sebagai berikut: aktivitas klasikal pada siklus I sebesar 57% sedangkan target yang diinginkan sebesar 75% dari seluruh siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan. Sedangkan prestasi belajar dimana rata-rata kelas sebesar 72,72 daya serap 72,72% dan ketuntasan belajar secara klasikal 64%.
Hal ini berarti masih berada di bawah target yang diinginkan yaitu rata-rata kelas sebesar 75, daya serap klasikal 75%, dan ketuntasan belajar siswa adalah 75%.
Berdasarkan pada data tersebut di atas, maka langkah perbaikan harus tetap dilaksanakan pada siklus II.
Dari beberapa aspek dalam pembelajaran dengan menggunakan Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak, masih ada beberapa hal yang kurang mendukung untuk mendongkrak prestasi belajar siswa. Aspek tersebut lebih banyak terkait dengan masalah konsep diri siswa yang belum berani dalam pengaktualisasian dihadapan umum. Sikap ragu dan kurang percaya diri masih dominant mempengaruhi dirinya. Untuk itu proses pembelajaran pada siklus II perlu diupayakan suatu proses yang menekankan pada pendekatan psikologis agar subyek didik dapat segera bangkit dari ketertinggalannya. Pendekatan psikologis tersebut dapat berupa motivasi belajar agar mereka mau melatih diri mengemukakan pendapatnya, berani bertanya, mau memberi cintoh, dan sejenisnya. Disamping itu perlu juga mengadakan pendekatan secara individual untuk menuntut siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses kesulitan yang mereka hadapi,
Siklus II
Proses observasi diselenggarakan pada setiap pembelajaran dari awal sampai akhir pada setiap siklus. Observasi yang dilakukan pada siklus II sama dengan siklus I yang meliputi aktivitas belajar siswa, yang di observasi adalah kelas V Semester 2 SDN Mabuan yang terdiri dari 11 orang. Hasil observasi siswa dalam proses belajar mengajar yang berupa aktivitas siswa atau prilaku siswa hanyalah dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Aktivitas Siswa pada Siklus II
No Aspek Aktivitas Belajar Keterlibatan Siswa Frekuensi %
1 Bertanya sesuai topik 10 90
2 Penggunaan bahasa yang benar 9 81
3 Spontanitas merespon pertanyaan 10 90
4 Mengemukakan pendapat 8 72
5 Penggunaan waktu yang efesien 9 81
6 Keaktivan siswa dalam memecahkan masalah 10 90 7 Kerja sama dalam hubungan antara siswa yang
satu dengan yang lainnya
9 81
Jumlah 65 585
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2018)
Berdasarkan data tentang hasil observasi tentang aktivitas siswa atau prilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus II sudah mencapai level tinggi yaitu 83%, kenyataan ini telah menunjukan adanya peningkatan bahkan sudah melampaui target yang diinginkan yaitu 75% siswa aktif. Dengan demikian observasi tentang aktivitas siswa dalam penelitian ini dihentikan dengan kata lain tidak perlu pada siklus berikutnya.
Evaluasi dan Analisis
Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan siklus II, diperlukan adanya evaluasi. Evaluasi siklus II dilaksanakan pada akhir April 2018 yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar yang telah dilaksanakan Penerapan Keterampilan
Bertanya Dasar, Lanjut dan Pelacak dan evaluasi diberikan setelah pertemuan I, II, dan III yaitu pada pertemuan ke IV. Adapun tes yang diberikan kepada siswa adalah tes tulis dalam bentuk isian dengan jumlah soal 5 item. Evaluasi ini dilaksanakan selama 1 jam pelajaran (1 x 40 menit).
Dalam pelaksanaan evaluasi ini peran peneliti adalah sebagai berikut : 1. Peneliti membagikan tes kepada siswa satu persatu
2. Peneliti memberikan penjelasan kepada siswa dalam mengerjakan tugas.
3. Peneliti menyuruh siswa untuk mengerjakan tes yang telah diterimanya.
4. Setelah waktu yang ditetapkan sudah habis, peneliti menyuruh untuk mengumpulkan pekerjaannya.
5. Peneliti memeriksa secara teliti hasil kerja siswa.
Untuk lebih jelasnya tentang hasil belajar melalui post-test pada siklus II, maka akan dibuat tabel seperti tabel berikut di bawah ini.
Tabel 4. Tabel Data tentang Hasil Prestasi Belajar Siswa pada Siklus II
No Nilai Keterangan
1 75 Tuntas
2 80 Tuntas
3 85 Tuntas
4 85 Tuntas
5 80 Tuntas
6 80 Tuntas
7 85 Tuntas
8 80 Tuntas
9 70 Belum Tuntas
10 75 Tuntas
11 80 Tuntas
Jumlah Seluruh Skor Siswa 875
Skor Rata-Rata Kelas 79,54
Daya Serap 79,54%
Ketuntasan Belajar Siswa 90%
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2018)
Adapun rincian perolehan nilai prestasi belajar dari masing-masing siswa pada siklus II adalah sebagai berikut :
a. Tiga orang siswa memperoleh nilai 85 (28%) b. Lima orang siswa memperoleh nilai 80 (45%)5 c. Dua orang siswa memperoleh nilai 75 (18%) d. Satu orang siswa memperoleh nilai 70 (9%)
Berdasarkan hasil evaluasi di atas, maka prestasi sudah mencapai target yang diinginkan oleh peneliti terbukti hasil yang diperoleh pada siklus II yaitu skor rata-rata kelas adalah 79,45 daya serap sebesar 79,45% dan ketuntasan belajar siswa sebesar 90%.
Analisis
Untuk mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriftif kualitatif yaitu dengan menggunakan rerata kelas atau mean kelas (x) dengan rumus:
∑x 1. Menentukan Rata-rata Kelas M = _______
N Penjelasanya : M = Rata-rata kelas
∑x = Jumlah nilai seluruh siswa N = Jumlah siswa
2. Menentukan Daya Serap (DS) = M X 10%
Penjelasanya : DS = Daya Serap M = Rata-rata kelas
∑S. tuntas
3. Ketuntasan Belajar KB = _______________ 100%
N
Penjelasanya : ∑ s.tuntas = Jumlah siswa yang tuntas ∑ s. = Jumlah seluruh siswa
Berdasarkan atas hasil prestasi belajar di atas, dan apabila dibandingkan dengan target penelitian yang direncanakan yaitu tercapainya prestasi belajar yang ditunjukan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 75, daya serap 75% dan ketuntasan belajar 75%, maka hasil penelitian pada siklus II ini sudah mengalami peningkatan dan bahkan sudah melampaui target yang diinginkan. Oleh karena itu, maka tahap penelitian ini disetop hanya sampai pada siklus II. Tindakan ini dilakukan oleh karena beberapa alasan: 1) Sudah mencapai target yang diharapkan, 2) terbatasnya waktu yang tersedia dalam penelitian, 3) hasil yang diperoleh telah menunjukan tingkat kepuasan dilihat dari sudut kwantitatif maupun kualitatif baik proses pembelajaran maupun hasil/prestasinya.
Refleksi
Bertitik tolak dari hasil penelitian di atas, baik dari proses pembelajaran maupun hasil atau prestasi belajar yang dicapai pada siklus II ternyata terdapat peningkatan baik dari aktivitas pembelajalajaran maupun prestasi belajar siswa.
Hal ini dapat dilihat dari temuan sebagai berikut: aktivitas klasikal pada siklus I sebesar 57%, sedangkan pada siklus II sebesar 83% sedangkan target yang diinginkan sebesar 75% dari seluruh siswa. Sedangkan prsestasi belajar dimana rata-rata kelas pada siklus I sebesar 72,72 dengan daya serap 72,72% serta ketuntasan belajar 64% sedangkan pada siklus II rata-rata kelas sebesar 79,54 dengan daya serap 79,54% dan ketuntasan belajar sebesar 90%. Sedangkan target yang diinginkan adalah rata-rata kelas sebesar 75 daya serap 75% dan ketuntasan belajar 75%. Kenyataan ini menunjukan bahwa hasil penelitian telah mencapai target yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh: 1) penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak dilaksanakan secara efektif, 2) suasana pembelajaran yang kondusif, 3) pembelajaran berorientasi pada siswa, dan 4) adanya bimbingan belajar.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan prestasi belajar bidang studi pensisikan Agama Hindu pada siswa kelas V
Semester 2 Mabuan. Hal ini ditunjukan dengan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu pada siklus I sebesar 57% menjadi 83% pada siklus II. Disamping itu juga terdapat peningkatan prestasi belajar sebagai berikut : pada siklus I rata-rata kelas (M) sebesar 72,72, daya serap (DS) sebesar 72,72, dan ketuntasan belajar (KB) sebesar 64% dan meningkat pada siklus II menjadi rata-rata kelas (M) sebesar 79,54, daya serap DS)sebesar 79,54%, dan ketuntasan belajar (KB) sebesar 90%. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas belajar baik pada siklus I dan siklus II yaitu pada siklus 1 aktivitas secara klasikal adalah 57 % dan pada siklus II 83 % Prestasi belajar juga meningkat pada siklus I dan siklus I, masing-masing sebagai berikut : siklus I : M
= 72,72 Daya Serap (DS) = 72,72% dan Ketuntasan Belajar (KB) = 64%.
Sedangkan pada siklus II : M = 79,54, Daya Serap (DS) = 79,54%, dan Ketuntasan Belajar (KB) = 90%.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak mendukung hasil penelitian Depdiknas (Depdiknas, 2000 : 146) ditunjukan bahwa ada peningkatan prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran melalui penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak. Penelitian lain yaitu Puspa (dalam Murja, 2007 : 17) disebutkan bahwa, penerapan keterampilan bertanya dasar dan pelacak dalam pembelajaran PPKn di SMU Dwijendra di peroleh peningkatan prestasi siswa dari 5,48% menjadi 7,23%. Kemudian temuan Winarta (1997 : 25) dinyatakan bahwa jika didalam proses belajar mengajar diterapkan metode diskusi dan penugasan maka prestasi belajar siswa meningkat.
Ini dibuktikan dengan jumlah siswa yang aktif meningkat dari 61,82% menjadi 81,2% serta daya serap siswa meningkat dari 60,2% menjadi 66,0%. Hal ini juga diperkuan dengan Sujani (2004 : 23) dinyatakan bahwa dengan penerapan metode tanya jawab dengan disertai pemberian tugas, berpengaruh positif terhadap literasi sains-teknologi siswa dan hasil belajar siswa meningkat. Sedangkan temuan Dekdikbud (Dekdikbud, 1993 : 135), ditunjukan bahwa dengan penerapan metode tanya jawab akan dapat mengembangkan kemampuan, dapat saling bertukar ide, infornasi dan pengalaman antara siswa satu dengan yang lainya.
Temuan ini ternyata mendukung hasil penelitian Samin (2007 : 63) ditemukan bahwa penerapan metode pembelajaran ketrampilan bertanya lanjut melalui lembar kerja siswa dapat meningkatkan prestasi belajar siswa secara periodik dari siklus I dan siklus II yang ditunjukan dengan hasil pelaksanaan tindakan dapat menunjukkan kenaikan yang berarti yaitu pada siklus I prestasi siswa hanya mencapai 70,06% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80,19%.
Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Wijana (2007 : 47) ditemukan bahwa penerapan metode tanya jawab dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa secara signipikang dari siklus I dan siklus II yang ditunjukan dengan hasil pelaksanaan tindakan dapat menunjukkan kenaikan yang berarti yaitu pada siklus I prestasi siswa hanya mencapai 70,00%
dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80,10%.
Berdasarkan beberapa hasil temuan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak apabila
dilaksanakan dengan perencanaan yang matang dengan memperhitingkan waktu yang tersedia, karakteristik pokok bahasan dan memperhatikan lingkungan siswa akan dapat mengembangkan daya aktivitas siswa dalam mengemukakan pengapat, sikap demokrasi dan mengargai pendapat orang lain, siswa dilatih untuk dapat bersikap independen, dapat memupuk perkembangan siswa untuk bertanggung jawab dan dapat meningkatkan kuwalitas proses pembelajaran sehingga dengan penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak merupakan suatu metode pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan motivasi, aktivitas, dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Agama Hindu.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak ternyata dapat meningkatkan aktivitas belajar pada siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan, dengan rincian sebagai berikut : pada siklus I aktivitas belajar siswa sebesar 57% sedangkan di siklus II aktivitas belajar siswa sebesar 83%.
2. Penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak pada pembelajaran bidang studi Pendidikan Agama Hindu dapat meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan, dengan rincian sebagai berikut : pada siklus I siswa memperoleh rata-rata kelas (M) sebesar 72,72, daya serap (DS) sebesar 72,20%, dan ketuntasan klasikal sebesar 64% sedangkan pada siklus II siswa memperoleh rata-rata kelas (M) sebesar 79,54, daya serap (DS) sebesar 79,54%, dan ketuntasan belajar kelasikal sebesar 90%.
Saran
Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, maka diajukan saran-saran sebagai berikut:
1. Kepada siswa khususnya siswa kelas V Semester 2 SDN Mabuan, hendaknya dapat memanfaatkan metode pembelajaran ini dengan sebaik-baiknya untuk dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar.
2. Diharapkan kepada guru Pendidikan Agama Hindu di kelas V Semester 2 SDN Mabuan untuk menerapkam Penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak pada bidang studi lainya.
3. Kepada guru Pendidikan Agama Hindu kelas V Semester 2 SDN Mabuan yang mengajar di sekolah lain diharapkan mempertimbangkan penggunaan Penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak sebagai salah satu alternatif pilihan metode pembelajaran guna meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.
4. Bagi para peneliti yang berminat mengadakan penelitian lebih lanjut tentang Penerapan keterampilan bertanya dasar, lanjut dan pelacak hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempunyai kemungkinan dapat mempengaruhi keberhasilan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Anggan, Suhandana. 1998. Penelitian Tindakan kelas, Pendekatan Perencanaan dan Implementasi. Singaraja: Biro Penelitian IKIP Negeri Singaraja.
Agib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1989. Petunjuk Pelaksanaan Penelitian. Jakarta.
Djamarah, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Pertemuan Asdi Mahastya.
Kasihani, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Proyek PGSM
Nurkancana, Wayan dan PPN Sunarta. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud.
Sardiman, A.M. 2002. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Soemarsono. 1999. Proses Dasar Mengajar Bertanya Tingkat Dasar. Jakarta:
Gramedia
Sloanze. 1988. Keterampilan Mengajar Penjelasan Dasar dan Lanjutan: Jakarta:
Gramedia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Akasa.
Cony, Semiawan, dkk. 1987. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan siswa Belajar?. Jakarta PT Gramedia.
Dahar, R.W. 1989. Teori-Teori Belajar. Bandung: erlangga.
Endra dan Sudiasa. 1988. Teori Pengukuran dan Penilaian Pendidikan STKIP AH.
Singaraja
Nasution. 1978. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Oemar, Hamalik, 1986. Media Pendidikan. Bandung.
Rindjin, Ketut, dkk. 1997. Penenelitian Tindakan Kelas. STKIP Singaraja.
Soetomo. 1987. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Depdikbud.
Suryabrata, Semadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) IKIP Jogjakarta : Biro Penerbit IKIP Yogjakarta
Wardani, I G.A.K. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbit UT.