PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
PADA MATA PELAJARAN IPS
Siti Rofiah
MI Darul Ulum Sidojangkung
INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK
URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com
© 2021 Kresna BIP. e-ISSN 2550-0481
p-ISSN 2614-7254
Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)
Dikirim : 09 Juni 2021 Revisi pertama : 13 Juni 2021 Diterima : 15 Juni 2021 Tersedia online : 23 Juni 2021
Tujuan penelitian ini, yaitu mendeskripsikan penerapan model pembelajaran group investigation dan meningkatkan hasil belajar IPS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 24 siswa. Data yang digunakan berupa data kualitatif yaitu penerapan model pembelajaran group investigation dan data kuantitatif yaitu hasil belajar IPS tema cita-citaku. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model group investigation diterapkan dengan langkah: membentuk kelompok, mengidentifikasi topik, merencanakan investigasi, melaksanakan investigasi, menyiapkan laporan akhir, mempresentasikan laporan akhir, dan evaluasi. Hasil belajar IPS pada tema cita-citaku meningkat. Pada siklus I hingga siklus III angka hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada tema cita-citaku.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Grup Investigation, IPS
PENDAHULUAN Latar Belakang
Menurut Supardan (2015, p. 16) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah istilah untuk merujuk satu bidang studi atau pelajaran yang mencakup sejumlah ilmu sosial yang diorganisir untuk program-program pembelajaran di sekolah-sekolah. Pembelajaran IPS yang tercantum dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 pasal 77I ayat (1) memiliki tujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat (Presiden Republik Indonesia, 2013).
Kompetensi dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada jenjang sekolah dasar pada kelas I, II, III dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2013 diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain untuk memudahkan pengorganisasian, sedangkan pada kelas IV, V, dan VI berdiri sendiri, tetapi pembelajarannya tetap menggunakan tematik terpadu yaitu kompetensi dasar mata pelajaran IPS diintegrasikan ke dalam berbagai tema (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2013).Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran IPS ditemukan fakta: 1.) Pada saat pembelajaran IPS berlangsung selain menggunakan metode konvensional guru sudah menerapkan model diskusi kelompok; 2.) Pada saat diskusi kelompok terlihat beberapa siswa mengerjakan tugas, tetapi terlihat juga ada beberapa siswa yang pasif karena lebih banyak diam dan bercanda; 3.) Pada awal proses pembelajaran siswa dapat memeperhatikan dan mengerjakan tugas dengan tenang, tetapi setelah beberapa lama siswa menjadi kurang fokus dengan tugasnya, siswa ramai mendiskusikan hal yang tidak berkaitan tentang materi pelajaran dan beberapa siswa berjalan jalan di dalam kelas sehingga menimbulkan proses pembelajaran kurang kondusif; 4.) Pada saat persentasi kelompok berlangsung tidak nampak ada tanggapan dari siswa; dan 5.) Rasa ingin tahu siswa masih kurang sehingga jarang siswa yang mau bertanya, tampak pada saat guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa semua siswa diam dan tidak bertanya kepada guru.
Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti mengambil penelitian yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Group
investigation Pada Mata Pelajaran IPS”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaiamana penerapan model pembelajaran Group investigation pada mata pelajaran IPS kelas IV?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran grub investigation pada mata pelajaran ips kelas IV?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui penerapan model pembelajaran Group investigation pada mata pelajaran IPS kelas IV.
2. Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran grub investigation pada mata pelajaran ips kelas IV.
KAJIAN PUSTAKA Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif IPS yang mencakup tiga tingkatan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes.
Pengertian Model Group investigation
Gagasan model Group investigation bersumber dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Agar bisa belajar seseorang mesti mempunyai teman (partner). Pada tahun 1916, John Dewey mengarang buku “Democracy and Education”. Di dalam buku tersebut, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas semestinya mnjadi cermin bagi masyarakat dan berguna seperti laboratorium dalam belajar tentang kehidupan nyata. Gagasan Dewey akhirnya diwujudkan dalam model Group investigation yang kemudian dikembangkan oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah sosial antar pribadi.
Group investigation ialah suatu wujud pembelajaran kooperatif. Model ini
mengutamakan kesertaan anak didik dalam memilih materi sendiri untuk bahan belajarnya lewat bahan yang tersedia, seperti buku atau bisa lewat internet. Dengan model ini bisa melatih siswa untuk membiasakan kemampuan berpikir secara mandiri dan terampil dalam berkomunikasi. Siswa terlibat mulai tadi tahap perencanaan, baik di dalam penentuan topik ataupun cara mempelajarinya lewat investigasi. Siswa terlibat secara aktif sejak langkah awal hingga akhir pembelajaran, hal ini akan membantu siswa dalam mempertajam pemahamannya akan suatu pelajaaran. Adapun pengertian Group investigation menurut ahli adalah sebagai berikut:
Rusman, Mafun mengatakan bahwa model Group investigation merupakan model yang bisa digunakan guru dalam menumbuhkan kreatifitas siswa, baik sebagai individu ataupun berkelompok.
Suprijono, Aris Shoimin mengemukakan dalam penggunaan model Group
investigation, setiap kelompok akan melaksanakan investigasi sesuai dengan
Hamdani menjelaskan, model investigasi kelompok yaitu model yang kompleks, dimana murid dilibatkan mulai dari tahap perencanaan, baik di dalam penentuan topi ataupun cara mempelajarinya lewat investigasi.
Dwi Astuti Wahyu Nurhayati juga berpendapat bahwasanya model pembelajaran dan teknik pembelajaran merupakan hal utama dalam proses pembelajaran. Model Group investigation bisa melatih siswa agar mempunya tanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka pilih karena model ini mengutamakan aktivitas siswa dimana siswa diberi kebebasan untuk berpikir secara logis, kreatif, reflektif, dan produktif.
Model Pembelajaran Group Investigation
Group investigation adalah tipe pembelajaran kelompok yang melibatkan
siswa dalam perencanaan baik dari topik yang akan dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka (Susanto, 2014, p. 235; Andini, 2016).
Langkah-langkah menerapkan model pembelajaran Group investigation ada 6 tahap yaitu: pembentukan kelompok, menentukan tema yang akan di bahas, melakukan investigasi, membuat laporan tertulis, presentasi kelompok, dan evaluasi atau penilaian (Mustofa, Slameto, Radia, 2018, p. 28). Model pembelajaran kooperatif tipe Group investigation dapat meningkatkan hasil belajar IPS (Erlisnawati & Mahardi, 2014, p. 14; Indrawati, 2018; Gusmawati, Zainuddin, & Wati, 2013). Hal ini sejalan dengan pendapat Susanto (2014, p. 199) bahwa pembelajaran kooperatif membawa konsep inovatif yang dapat meningkatan hasil belajar siswa.
Pelajaran IPS
Pengajaran IPS (social studies), sangat penting bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah karena siswa yang datang ke sekolah berasal dari lingkungan yang berbeda-beda. Pengenalan mereka tentang masyarakat tempat mereka menjadi anggota diwarnai oleh lingkungan mereka tersebut. Sekolah bukanlah satu-satunya wahana atau sarana untuk mengenal masyarakat. Para siswa dapat belajar mengenal dan mempelajari masyarakat baik melalui media massa, media cetak maupun media elektronika, misalnya melalui acara televisi, siaran radio, membaca koran.
Pengenalan siswa melalui wahana luar sekolah mungkin masih bersifat umum terpisah-pisah dan samar-samar. Oleh karena itu agar pengenalan tersebut dapat lebih bermakna, maka bahan atau informasi yang masih umum dan samar-samar tersebut perlu disistematisasikan. Dengan demikian sekolah mempunyai peran dan kedudukan yang penting karena apa yang telah diperoleh di luar sekolah, dikembangkan dan diintegrasikan menjadi sesuatu yang lebih bermakna di sekolah, sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan siswa.
Sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa SD belum mampu memahami keluasan dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melalui pengajaran IPS siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya. Selanjutnya diharapkan mereka kelak mampu bertindak secara rasional dalam memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi.
Perlu disadari bahwa dunia sekarang telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Kemajuan teknologi dan informasi telah mengenalkan kita pada realitas lain dari sekedar realitas fisik seperti yang sebelumnya kita rasakan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hubungan antar negara tetangga menjadi lebih luas, karena dunia seakan-akan menjadi tetangga dekat, hal ini disebabkan kemajuan transportasi dan komunikasi. Dengan demikian seolah-olah dunia “dipindahkan” ke ruang di dalam rumah sendiri.
Dalam hal ini IPS berperan sebagai pendorong untuk saling pengertian dan persaudaraan antar umat manusia, selain itu juga memusatkan perhatiannya pada hubungan antar manusia dan pemahaman sosial. Dengan demikian IPS dapat membangkitkan kesadaran bahwa kita akan berhadapan dengan kehidupan yang penuh tantangan, atau dengan kata lain IPS mendorong kepekaan siswa terhadap hidup dan kehidupan sosial. Jadi rasionalisasi mempelajari IPS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa dapat:
1. Mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna.
2. Lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
3. Mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
METODE PENELITIAN Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart dalam Sanjaya (2010) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung. Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret semester genap 2019/2020. Subyek penelitian adalah siswa-siswi kelas VI MI Darul Ulum Sidojangkung.
Teknik Pengumpulan Data
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2014:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Disamping itu untuk mengetahui leta kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
Teknik Analisis Data
Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.
1. Merekapitulasi hasil tes
2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. 3. Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan
belajar mengajar berlangsung.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65.
Pra Siklus
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran Group investigation, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2020 di kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung. Jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 57.90% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran model Jigsaw.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1) Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran
2) Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu 3) Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung d. Revisi
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.
1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan.
3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.
Siklus I
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2020 di kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada pra siklus, sehingga kesalahan atau kekurangan pada pra siklus tidak terulang lagi pada siklus I. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus I ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari pra siklus. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran model pembelajaran Jigsaw.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut.
1) Memotivasi siswa
2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu
d. Revisi Rancangan
Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus I antara lain:
1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan
/ menemukan konsep.
4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.
Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam
hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada pra siklus, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
c. Refleksi
Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model Jigsaw. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.
2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4) Hasil belajar siswa pada siklus II mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan
Pada siklus II guru telah menerapkan pembelajaran model Jigsaw dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuktindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model
Group investigation memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari pra siklus, Siklus I dan II) yaitu masing-masing (57.90%), siklus I (68,18%) dan siklus II (86,36). Pada siklusII ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Group investigation dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
pembelajaran IPA dengan model pembelajaran Group investigation yang paling dominan adalah, mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Group investigation dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS
2. Pembelajaran model Jigsaw memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu pra siklus (57.90%), siklus I (68,18%) dan siklus II (86,36%).
3. Penerapan pembelajaran model Group investigation mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Mataematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:
1. Untuk melaksanakan model pembelajaran Group investigationmemerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran model Jigsaw dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih
sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Susanto. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Supardan, Dadang. 2015. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial: Perspektif