Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 375

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PENERAPAN MODEL SAVI PADA SISWA KELAS 5

SDN DUKUH 03 SALATIGA

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3)

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Kristen Satya Wacana

INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK

URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com e-ISSN 2550-0481

p-ISSN 2614-7254

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

Dikirim : 02 April 2018 Revisi pertama : 03 April 2018 Diterima : 13 April 2018 Tersedia online : 30 April 2018

Hasil belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga belum sesuai harapan. Berdasarkan data yang diperoleh dari guru kelas, terdapat 9 dari 32 siswa yang tuntas KKM sebesar 70. Selain itu, aktivitas belajar siswa kategori baik juga rendah, terdapat 6 dari 32 siswa dengan aktivitas belajar baik. Oleh karena itu dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model SAVI guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Sintak SAVI terdiri atas persiapan, penyampaian, pelatihan dan penampilan hasil. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga. Penelitian ini menggunakan model Kemmis & Mc Taggart dengan tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 40,5% dan mencapai 76,5% siklus II. Hasil belajar matematika siswa tuntas KKM pada siklus I mencapai 53% dan 90,6% pada siklus II. Dengan demikian disimpulkan bahwa penerapan SAVI meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga. Kata Kunci : SAVI, Aktivtas Belajar,

Hasil Belajar

Email : 292014017@student.uksw.edu 1), suroso.sltg@gmail.com2),

(2)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 376

PENDAHULUAN Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu universal yang meliputi ide, gagasan, dan konsep abstrak yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan matematika berbanding lurus dengan perkembangan sains dan teknologi (Kusumawati & Mawardi, 2016). Sebagai contoh adalah pesawat, untuk membuat sebuah pesawat terbang diperlukan berbagai perhitungan matematika yang begitu banyak agar pesawat bisa terbang. Selain itu masyarakat modern yang dinamis juga membutuhkan berbagai hal yang bersifat praktis dan memudahkan pekerjaan, sehingga diperlukan perkembangan teknologi yang lebih canggih. Segala bentuk permasalahan di bidang sains, kepemerintahan dan industri juga dipecahkan dengan matematika (Yustinus, 2017: 1). Melihat begitu banyak peranan matematika, maka matematika perlu ditanamkan dengan benar kepada seluruh siswa sejak dini. Perlu dilakukan pembelajaran yang baik supaya tujuan pembelajaran dapat terwujud.

Berdasarkan hasil ulangan tengah semester siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga yang berjumlah 32 siswa diketahui ada 23 siswa (71,87%) yang belum tuntas KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70 dan hanya ada 9 siswa (28,13%) yang memperoleh nilai diatas KKM. Kurang maksimalnya hasil belajar matematika tersebut disebabkan karena beberapa siswa belum memahami materi. Penyebab lain kurang maksimalnya hasil belajar matematika adalah kurang maksimalnya aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan observasi, aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung hanya ada 6 siswa (19%) yang termasuk dalam kategori baik. Aktivitas siswa yang dalam kriteria cukup sebanyak 19 siswa (59%) dan 7 siswa (22%) termasuk dalam kriteria kurang. Berdasarkan data aktivitas dan hasil belajar siswa, diperlukan solusi dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Somatic Auditory Visualization Intellectually (SAVI) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.

Model pembelajaran SAVI menurut Miftahul Huda adalah model pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa (Ady, 2017). SAVI dipilih karena sesuai dengan perkembangan kognitif siswa SD yang masih terikat dengan objek konkret. Selain itu model ini juga mencakup tiga modalitas belajar yaitu visual, auditory, dan kinestetik (Sari, 2014).

Terdapat penelitian yang telah menerapkan model SAVI dalam pembelajaran jenjang sekolah dasar diantaranya penelitian oleh Esti Yunita, dkk (2013), Karimatun nisak, dkk (2014), Eka Ning Tyas (2015), Sarnoko, dkk (2016) dan Nea Suyono (2017). Penelitian tersebut berhasil menerapkan model SAVI berturut-turut pada matematika, matematika kelas 4 SD, Bahasa Indonesia kelas 2 SD, IPS kelas 4 SD, dan matematika kelas 2 SD. Kelima penelitian tersebut menyimpulkan bahwa model SAVI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta keterampilan proses siswa dalam pembelajaran.

Teori-teori dan hasil penelitian yang relevan tentang model SAVI menjadi pijakan pemilihan model SAVI sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga. Diharapkan penerapan model SAVI dalam pembelajaran dapat meningkatkan aktitas belajar siswa selama proses

(3)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 377 pembelajaran sehingga hasil belajar meningkat pula. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang penerapan model SAVI dalam pembelajaran matematika sehingga dapat berkontribusi dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan menerapkan model pembelajaran inovatif.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah penerapan model SAVI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga?”.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga dengan menerapkan model SAVI.

KAJIAN PUSTAKA Matematika

Hakikat matematika menurut Witgenstein adalah metode berpikir logis (Suhendri, 2010). Hal tersebut berarti bahwa metode yang digunakan merupakan hasil dari pemikiran yang logis. Matematika adalah sebuah struktur yang terorganisasi dari pengetahuan yang setiap pendekatannya diasumsikan secara logis dari pendekatan sebelumnya yang telah terbukti (Yustinus, 2017: 2). Dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika adalah metode yang terorganisasi dan bertumpu pada kesepakatan yang telah terbukti sebelumnya dari hasil berpikir logis.

Model Pembelajaran SAVI

Model pembelajaran SAVI menurut Meier merupakan model pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas, intelektual, serta penggunaan semua alat indera (Tyas, 2014: 73). Model SAVI menekankan bahwa semua alat indera yang dimiliki siswa haruslah dimanfaatkan dalam pembelajaran (Shoimin, 2014: 177). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ngalimun bahwa SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar seharusnya memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa (Sari, 2014). Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa SAVI adalah model pembelajaran yang menekankan penggunaaan semua alat indra siswa, aktivitas fisik dan intelektual.

Sesuai dengan kepanjangannya, model pembelajaran SAVI memiliki beberapa karakteristik yaitu Somatic (Learning by Doing), Auditory (Learning by Hearing),

Visual (Learning by Seeing), dan Intellectual (Learning by Thinking) (Huda, 2014:

284). Somatic berarti belajar dengan bergerak. Dengan kata lain siswa haruslah melakukan suatu aktivitas fisik ketika belajar. Auditory dapat diartikan sebagai belajar dengan mendengar dan berbicara. Pembelajar auditory ini memiliki pikiran yang lebih kuat, karena mereka menangkap informasi melalui indra pendengaran mereka. Setelah mereka menangkap informasi mereka memproses informasi tersebut dengan suara mereka sendiri atau melalui berbicara. Visual dapat diartikan sebagi belajar dengan melihat sesuatu. Siswa pembelajar visual akan lebih mudah belajar jika dapat melihat

(4)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 378 apa yang dilakukan guru. Intellectual berarti mendorong siswa untuk berpikir dengan menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Intelektual merupakan bagian diri manusia yang berguna untuk merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna.

Langkah-langkah Model Pembelajaran SAVI

Model SAVI memiliki 4 sintak, yaitu tahap persiapan, penyampaian, pelatihan, dan penampilan hasil (Shoimin, 2014: 178). Sintak SAVI tersebut akan dijelaskan berikut:

1. Tahap Persiapan (Kegiatan Pendahuluan)

Guru memberikan stimulasi agar memunculkan minat siswa terhadap pengalaman belajar serta menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pada tahap ini guru dapat melakukan kegiatan misalnya seperti: menstimulus rasa ingin tahu siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, melibatkan siswa dalam pembelajaran, menciptakan lingkungan kondusif, banyak melontarkan pertanyaan dan menyampaikan berbagai masalah.

2. Tahap Penyampaian (Kegiatan Inti)

Siswa dibantu oleh guru dalam belajar pengalaman baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan indera, dan sesuai untuk semua gaya belajar. Pada tahap ini guru dapat melakukan kegiatan misalnya seperti: presentasi aktif, melibatkan seluruh otak dan seluruh tubuh, pengamatan dunia nyata, tugas berdasarkan tim, sarana presentasi dengan berbagai warna, uji coba dan berbagai pengetahuan pengalaman belajar yang kontekstual, berbagai cara disesuaikan dengan gaya belajar, proses melatih menemukan.

3. Tahap Pelatihan (Kegiatan Inti)

Siswa dibantu oleh guru dalam rangka memadukan dan menyerap pengetahuan serta keterampilan baru melalui berbagai cara. Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti: simulasi dunia nyata, permainan, pelatihan, pemecahan masalah, refleksi individu, dan umpan balik.

4. Tahap Penampilan Hasil

Siswa dibantu guru dalam menerapkan dan memperluas pengalaman belajar baru yang diperoleh pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan akan terus meningkat. Tahap ini dapat dilakukan misalnya seperti: pelatihan berkelanjutan, materi penguatan pasca sesi, aktivitas penguatan penerapan, umpan balik dan evaluasi kinerja, penciptaan dan pelaksanaan aksi.

Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, karena menjadi tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Hasil belajar menurut Sudjana adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar (Tyas, 2014). Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotor. Sedangkan Purwanto menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku peserta didik akibat belajar (Christina & Kristin, 2016). Perubahan perilaku tersebut terjadi karena siswa menguasai konsep maupun keterampilan yang didapat ketika pembelajaran. Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa hasil

(5)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 379 belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar sehingga menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Sudjana adalah faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Christina & Kristin, 2016). Faktor dari dalam diri siswa dapat berupa perubahan kemampuan yang dimiliki siswa, sedangkan faktor dari luar diri siswa dapat berupa lingkungan maupun kualitas belajar siswa.

Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar menurut Sardiman adalah kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar (Sari, I. F., 2014). Kegiatan-kegitan yang dimaksud adalah kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar mengajar merupakan aktivitas belajar (Hamalik, 2011: 179). Aktivitas dapat berupa berbagai kegiatan yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, baik aktivitas fisik maupun mental yang keduanya saling berkaitan (Sarnoko, dkk, 2016). Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa yang diberikan pembelajar selama pembelajaran berlangsung, baik aktivitas fisik maupun aktivitas mental. Jenis-jenis aktivitas belajar siswa menurut Paul D. Dierich (Mufidah, dkk, 2013) dapat dikelompokkan kedalam 8 kegiatan sebagai berikut: 1) kegiatan visual, 2) kegiatan lisan (oral), 3) kegiatan mendengarkan, 4) Kegiatan menulis, 5) kegiatan menggambar, 6) kegiatan metrik, 7) kegiatan mental, dan 8) kegiatan emosional.

METODE PENELITIAN Waktu dan Jenis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2018. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis & Mc Taggart yang terdiri dari siklus spiral dengan empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Tempat dan Karateristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN Dukuh 03 Salatiga tahun pelajaran 2017/2018. Sekolah tersebut beralamat di Jalan Srikandi No 1 Grogol Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Penelitian dilaksanakan 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Siklus akan diakhiri jika penelitian telah berhasil mencapai indikator keberhasilan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 yang berjumlah 32 siswa yang terdiri dari 13 laki-laki dan 19 perempuan. Rata-rata usia subjek adalah 11 tahun sehingga berada pada tahap perkembangan operasional konkrit.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas observasi, tes dan dokumentasi. Observasi berguna untuk memperoleh data aktivitas belajar siswa dan keterlaksanaan sintak SAVI. Tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yang diperoleh dari data awal, siklus I dan siklus II.

(6)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 380

Indikator Keberhasilan

Terdapat dua indikator keberhasilan dalam penelitian ini. Pertama, penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila hasil belajar siswa di atas KKM ≥70 dengan presentase sebesar 80%. Kedua, penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila aktivitas belajar siswa adalah tercapainya aktivitas belajar kedalam kategori baik dengan presentase sebesar 70%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Pra Siklus

Sesuai dengan data nilai ulangan tengah semester yang diperoleh dari guru kelas 5, terdapat 23 siswa yang tidak tuntas KKM sebesar 70. Berikut adalah hasil belajar matematika siswa kelas 5 sebelum tindakan:

Tabel 1. Nilai Tengah Semester Matematika Siswa Kelas 5 SDN Dukuh 03 No Ketuntasan Jumlah Siswa Presentase 1 Tuntas 9 28,13% 2 Tidak tuntas 23 71,87% 3 Jumlah 32 100% 4 Rata-rata 53

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Selain hasil belajar, aktivitas belajar siswa juga rendah. Berikut adalah tabel aktivitas belajar siswa sebelum dilaksanakan tindakan:

Tabel 2. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pra Siklus No Ketuntasan Jumlah Siswa Presentase 1 Baik 6 19% 2 Cukup 19 59% 3 Kurang 7 22% Jumlah 32 100%

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Siklus I Perencanaan

Tahap perencanaan berisi kegiatan yang akan dilakukan pada tindakan. Beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini adalah 1) membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model SAVI. 2) Mempersiapkan lembar observasi tindakan guru dan aktivitas siswa. 3) Membuat alat peraga berupa balok dengan kubus satuan yang terbuat dari sterofoam.

Tindakan

Pelaksanaan siklus I dilakukan dalam 2 kali pertemuan, tiap pertemuan berdurasi 3 x 35 menit. Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 12 Maret 2018 dengan materi berupa volume balok. Pada kegiatan pendahuluan guru memberi salam dan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa. Guru melakukan absensi

(7)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 381 dilanjutkan dengan mengkondisikan siswa. Guru menciptakan suasana positif sekaligus melakukan apersepsi lalu menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan inti guru meminta siswa untuk mengamati media balok dari kubus satuan yang berwarna-warni lalu siswa diberi kesempatan untuk memperagakan media tersebut. Terdapat beberapa siswa yang memperagakan media tersebut. Siswa yang lain memperhatikan temannya yang memperagakan media tersebut sedangkan guru sambil menyampaikan materi. Siswa dilatih memecahkan masalah dengan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

Setelah materi disampaikan, guru membagi siswa menjadi 8 kelompok. Guru membagi kelompok dengan menggabungkan siswa yang duduk didepan dengan siswa yang duduk dibelakang. Tiap kelompok diberi lembar kerja, lalu guru membimbing siswa. Para siswa membagi tugas dalam kelompok, masing-masing mengerjakan soal yang berbeda yang kemudian didiskusikan.

Siswa diminta untuk menyampaikan hasil diskusi ke depan kelas. Siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapi siswa yang menyampaikan hasil diskusinya. Setelah siswa menanggapi temannya, guru memberikan umpan balik dan siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Pada kegiatan penutup guru bersama siswa membuat kesimpulan.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari rabu tanggal 14 Maret 2018. Proses pertemuan kedua juga serupa dengan pertemuan pertama hanya saja cakupan materinya meliputi masalah sehari-hari yang berkaitan dengan volume balok. Pada akhir pembelajaran siswa diberikan tes formatif berupa 15 soal pilihan ganda.

Observasi

Secara keseluruhan guru sudah melakukan sintak SAVI. Akan tetapi saat pembagian kelompok tidak dilakukan secara heterogen sesuai kemampuan siswa, sehingga ketika diskusi ada kelompok yang membutuhkan bimbingan guru. Aktivitas siswa pada pertemuan pertama awalnya baik, terlihat dari antusias mereka ketika mencoba media. Namun setelah itu, mereka banyak siswa yang mengobrol dengan temannya, sedangkan ketika waktunya diskusi, mereka tidak berdiskusi dan hanya ada beberapa siswa yang memberi tanggapan.

Tindakan yang dilaksanakan guru pada pertemuan kedua serupa dengan pertemuan pertama. Akan tetapi ketika memberikan contoh pemecahan masalah, contoh yang diberikan kurang bervariasi. Aktivitas siswa pada pertemuan kedua mengalami peningkatan, baik aktivitas visual, audio, lisan, menulis, maupun ketika berdiskusi. Rekapitulasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Aktivitas Belajar Siswa Siklus I

No Kategori Pertemuan 1 Petemuan 2 Rata-rata Jumlah % Jumlah % 1 Baik 11 34% 15 47% 40,5% 2 Cukup 17 53% 16 50% 51,5% 3 Kurang 4 13% 1 3% 8% 4 Rata-rata 66 71

5 Rata-rata Aktivitas Belajar Seluruhnya 69

(8)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 382 Data pada tabel menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada siklus I aktivitas belajar siswa kategori baik adalah 40,5%. Hasil tersebut menunjukkan perlu dilaksanakan siklus II karena indikator keberhasilan belum tercapai.

Tabel 4. Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siklus I Jumlah siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata

Tuntas Tidak Tuntas Frekuensi % Frekuensi %

32 100 40 68,5 17 53% 15 47%

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa terdapat 53% siswa yang memperoleh hasil belajar tuntas KKM sebesar 70. Siswa yang memperoleh hasil belajar belum tuntas KKM masih sebanyak 47% siswa. Dengan demikian indikator keberhasilan belum tercapai.

Tahap Refleksi

Tindakan guru terhadap keterlaksanaan sintak SAVI sudah baik. Akan tetapi ada satu hal yang kurang, yaitu pembagian kelompok yang belum heterogen ditinjau dari kemampuan intelektual siswa. Dari hasil refleksi yang telah dilakukan akan lebih baik jika guru membagi siswa dalam kelompok secara heterogen ditinjau dari kemampuan intelektual siswa. Selanjutnya diperlukan adanya kesepakatan awal agar pembelajaran lebih kondusif dan efektif.

Siklus II Perencanaan

Perencanaan siklus II dilakukan berdasarkan refleksi siklus I. Hasil refleksi berguna untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus II. Setelah itu dilakukan kegiatan seperti pada tahap perencanaan pada siklus I.

Tindakan

Berdasarkan perencanaan siklus II, maka pelaksanaan tindakan dilakukan dalam 2 kali pertemuan dengan durasi 3 x 35 menit per pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 19 Maret 2018 dengan materi berupa volume kubus. Proses pembelajaran berjalan seperti siklus I. Hanya saja pada saat pembagian kelompok sudah dilakukan secara heterogen berdasarkan kemampuan intelektual siswa.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari rabu tanggal 21 Maret 2018. Proses pertemuan kedua juga serupa dengan pertemuan pertama hanya saja cakupan materinya meliputi masalah sehari-hari yang berkaitan dengan volume balok. Pada akhir pembelajaran siswa diberikan tes formatif berupa 15 soal pilihan ganda.

Observasi

Pada pertemuan pertama secara keseluruhan guru sudah melakukan semua sintak SAVI. Kali ini pembagian kelompok dilakukan secara heterogen sesuai kemampuan siswa. Aktivitas siswa juga sudah lebih baik. Mulai dari awal siswa terlihat antusias ketika mencoba media. Pembelajaran juga berjalan dengan tenang, karena dari awal sudah ada kesepakatan sanksi jika ada yang tidak tertib. Siswa selalu

(9)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 383 melihat ke arah guru ketika guru menjelaskan dan melihat ke arah teman yang presentasi. Hanya ada beberapa siswa yang terkadang masih mengobrol sendiri. Diskusi juga sudah berjalan dengan baik, tiap anggota kelompok saling berbagi tugas yang kemudian didiskusikan.

Tindakan yang dilaksanakan guru pada pertemuan kedua juga sudah sesuai sintak yang terdapat pada RPP. Aktivitas siswa pada pertemuan kedua mengalami peningkatan, baik aktivitas visual, mendengarkan, lisan, menulis, maupun ketika berdiskusi. Siswa yang mengobrol ketika temannya presentasi sudah berkurang dan mulai berani mengajukan pertanyaan maupun tanggapan. Diskusi berjalan dengan baik, mereka saling berbagi tugas lalu didiskusikan sehingga mereka mengerjakan tugas tepat waktu bahkan ada 3 kelompok yang memiliki siswa waktu. Berikut adalah rekapitulasi aktivitas dan hasil belajar siswa siklus II:

Tabel 5. Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

No Kategori Pertemuan 1 Petemuan 2 Rata-rata Jumlah % Jumlah % 1 Baik 22 69% 27 84% 76,5%% 2 Cukup 10 31% 5 16% 23,5% 3 Kurang 0 0% 0 0% 0% 4 Rata-rata 78 82

5 Rata-rata Aktivitas Belajar Seluruhnya 80

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Data pada tabel menunjukkan bahwa terdapat 76,5% aktivitas belajar siswa kategori baik pada siklus II. Hal tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan telah tercapai.

Tabel 6. Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siklus II Jumlah siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata

Tuntas Tidak Tuntas Frekuensi % Frekuensi %

32 100 40 86 29 90,6% 3 9,4%

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa terdapat 90,6% siswa yang memperoleh hasil belajar tuntas KKM . Dengan demikian indikator keberhasilan telah tercapai.

Refleksi

Dari refleksi yang telah dilakukan terhadap siklus II maka diperoleh temuan baik dari segi tindakan guru maupun aktivitas belajar siswa. Hasil observasi terhadap tindakan guru menunjukkan bahwa semua sintak telah terlaksana dengan baik. Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan. Kelas kondusif dan siswa terlibat aktif selama pembelajaran.

Analisis Deskriptif komparatif Aktivitas Belajar

Data aktivitas belajar siswa diambil mulai pra siklus, siklus I dan siklus II. Perbandingan aktivitas belajar siswa akan disajikan pada tabel berikut:

(10)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 384

Tabel 7. Deskriptif Komparatif Aktivitas Belajar Matematika No Aktivitas Belajar Baik Cukup Kurang

1 Pra Siklus 19% 59% 22%

2 Siklus I 40,5% 51,5%% 8%

3 Siklus II 76,5% 23,5% 0%

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Dari tabel diatas dapat dilihat komparasi aktivitas belajar siswa. Pada awalnya aktivitas belajar kategori baik sebanyak 19%. Pada siklus I aktivitas belajar kategori baik meningkat hingga menjadi 40,5% dan meningkat lagi hingga menjadi 76,5% pada siklus II. Semakin meningkatnya aktivitas belajar kategori baik siswa hingga 76,5% secara klasikal menunjukkan bahwa indikator kinerja aktivitas belajar siswa kategori baik ≥75% telah tercapai.

Hasil Belajar

Hasil belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga sejalan dengan aktivitas belajarnya yang kian meningkat. Hasil belajar matematika siswa kian meningkat tiap siklus. Komparasi hasil belajar matematika siswa disajikan pada tabel berikut:

Tabel 8. Deskriptif Komparatif Hasil Belajar Matematika No Ketuntasan Pra Siklus Siklus I Siklus II

F % F % F % 1 Tuntas 9 28,13% 17 53% 29 90,6% 2 Tidak Tuntas 23 71,87% 15 47% 3 9,4% 3 Jumlah 32 100% 32 100% 32 100% 4 Nilai Minimum 14 40 40 5 Nilai Maksimum 92 100 100 6 Rata-rata 53 68,5 86

Sumber: Hasil Penelitian, diolah (2018)

Tabel diatas menunjukkan hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah diterapkan SAVI dengan materi kubus dan balok. Apabila dibandingkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan tiap siklus. Awalnya terdapat 9 siswa dengan nilai tuntas KKM dengan persentase 28,13%. Pada siklus I hasil belajar siswa tuntas KKM meningkat menjadi 53% dan meningkat lagi hingga menjadi 90,6% pada siklus II. Semakin meningkatnya hasil belajar siswa hingga 90,6% secara klasikal menunjukkan bahwa indikator kinerja hasil belajar siswa ≥80% telah tercapai.

Pembahasan

Aktivitas dan hasil belajar siswa yang telah diperoleh siswa selama proses pembelajaran menunjukkan peningkatan setiap siklusnya. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar juga telah mencapai indikator kinerja yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis komparatif yang telah disajikan.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif komparatif diperoleh hasil bahwa aktivitas belajar siswa terus meningkat sedikit demi sedikit. Aktivitas belajar siswa menjadi lebih baik dari siklus ke siklus. Semula pada pra siklus kondisi aktivitas belajar siswa

(11)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 385 adalah 19% dari 32 siswa yang termasuk dalam aktivitas belajar kategori baik dan 22% aktivitas belajar kategori kurang.

Pada siklus I pertemuan pertama, aktivitas belajar siswa yang termasuk dalam kategori baik meningkat menjadi 34% atau sebanyak 11 siswa. Peningkatan juga terjadi pada pertemuan kedua yaitu sebanyak 15 siswa atau 47% yang termasuk aktivitas belajar kategori baik. Jika dirata-rata aktivitas belajar siswa kategori baik pada siklus I menunjukkan persentase sebesar 40,5%. Jika dibandingkan dengan indikator kinerja, maka aktivitas belajar siswa belum tuntas karena kurang dari 70%. Oleh sebab itu, dilaksanakan siklus II.

Sejalan dengan siklus I, aktivitas belajar siswa kategori baik pada siklus II juga terus meningkat. Pada pertemuan pertama, aktivitas belajar siswa yang termasuk dalam kategori baik meningkat menjadi 69% atau sebanyak 22 siswa. Peningkatan juga terjadi pada pertemuan kedua yaitu sebanyak 27 siswa atau 84% yang termasuk aktivitas belajar kategori baik. Jika dirata-rata aktivitas belajar siswa kategori baik pada siklus II menunjukkan persentase sebesar 76,5%.

Peningkatan aktivitas belajar siswa mulai siklus I hingga siklus II merupakan dampak dari penerapan model pembelajaran SAVI. Pembelajaran dengan menerapkan model tersebut berisi aktivitas-aktivitas belajar yang merupakan modalitas belajar yaitu

visual, audio dan somatic. Aktivitas belajar tersebut ditunjukkan dengan kegiatan

audio, visual, lisan, menulis dan juga diskusi. Aktivitas audio ditunjukkan siswa

dengan tidak mengobrol ketika guru menjelaskan, teman yang presentasi atau berpendapat. Aktivitas visual ditunjukkan siswa dengan siswa melihat kearah guru ketika guru menjelaskan, melihat teman yang sedang presentasi atau memperagakan media serta membaca materi yang seharusnya dibaca. Aktivitas lisan ditunjukkan siswa dengan mempresentasikan hasil diskusi, bertanya kepada guru dan memberi tanggapan kepada temannya yang presentasi. Akivitas menulis ditunjukkan dengan siswa yang berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Aktivitas diskusi ditunjukkan dengan kerjasama, kedisplinan serta peran siswa dalam kelompok. Aktivitas menulis dan diskusi tersebut merupakan aktivitas intelektual siswa yang merupakan unsur SAVI, karena dalam aktivitas tersebut siswa berlatih untuk memecahkan masalah.

Selain aktivitas belajar, hasil belajar juga semakin meningkat. Sebelumnya pada pra siklus hasil belajar matematika siswa didominasi oleh hasil belajar siswa yang tidak tuntas KKM sebesar 70. Terdapat 23 dari 32 siswa yang tidak tuntas KKM atau sebesar 71,87%. Peningkatan hasil belajar matematika juga terus meningkat dari siklus I ke siklus II.

Pada siklus I hasil belajar matematika siswa menunjukkan bahwa hasil belajar yang tuntas KKM ≥ 70 berjumlah 17 dari 32 siswa atau sebesar 53% dengan rata-rata 68,5. Peningkatan hasil belajar matematika siswa tersebut merupakan dampak dari penerapan model SAVI yang meningkatkan aktivitas belajar sehingga hasil belajarpun ikut meningkat. Meskipun mengalami peningkatan, hasil belajar siswa tersebut belum bisa dikatakan berhasil. Hal tersebut dikarenakan ketuntasan siswa secara klasikal ≤80% sehingga indikator kinerja belum tercapai. Maka dari itu dilaksanakan siklus II.

Sejalan dengan siklus II, hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan. Terdapat 29 dari 32 siswa atau 90,6% yang tuntas KKM ≥ 70 dengan rata-rata 86. Jika dibandingkan dengan indikator kinerja sebesar ≥ 80%, maka hasil

(12)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 386 belajar matematika siswa pada siklus II telah tercapai. Peningkatan hasil belajar pada tiap siklus terjadi karena guru telah melaksanakan sintak SAVI dengan benar. Siswapun juga sudah terbiasa dengan model tersebut. Keberhasilan dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa kelebihan SAVI memang benar yaitu membangkitkan kecerdasan terpadu siswa melalui gerak fisik dan aktivitas intelektual, memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa, dan melatih siswa untuk terbiasa berpikir, mengemukakan pendapat serta berani menjelaskan jawabannya.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menerapkan model SAVI pada siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I aktivitas belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga mencapai persentase sebesar 40,5% dengan kategori baik sedangkan pada siklus II persentase aktivitas belajar siswa mencapai 76,5%. Hal tersebut berarti bahwa indikator kinerja aktivitas belajar siswa kategori baik ≥ 70% telah tercapai.

Selain dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa, penerapan model SAVI juga terbukti dapat meningkatkan hasil belajar muatan pelajaran matematika kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga. Pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 53% dengan rata-rata 68,5 sedangkan pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 90,6% dengan rata-rata 86. Hal tersebut berarti bahwa indikator kinerja ketuntasan hasil belajar matematika siswa secara klasikal ≥ 80% telah tercapai.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan mengenai penerapan model SAVI pada siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar maka dapat diberikan beberapa saran. Model pembelajaran SAVI dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. Alangkah lebih baik jika dalam penerapannya guru memperhatikan kemampuan intelektual siswa serta gaya belajar siswa sehingga siswa dapat lebih leluasa dalam menggali pengetahun baru. Diperlukan juga beberapa variasi misalnya seperti kesepakatan atau tata tertib yang berguna agar suasana kelas tetap kondusif dan pelaksanaan sintak SAVI dapat berjalan secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ady, L. R. (2017). Efektivitas Model Pembelajaran Somatic Auditory Visualization Intellectually (Savi) Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Handayani PGSD Fip

Unimed, 7(2), 92-100.

Christina, L. V., & Kristin, F. (2016). Efektivitas Model Pembelajaran Tipe Group

Investigation (GI) dan Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)

dalam Meningkatkan Kreativitas Berpikir Kritis dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas 4. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 6(3), 217-2.

(13)

Yuni Elfiyani1), Suroso2), Yustinus3) 387 Hamalik, O. (2011). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum . Bandung : PT Remaja

Rosdakarya.

Huda, M. 2014. Model-Model Pengajaran Dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kusumawati, H., & Mawardi, M. (2016). Perbedaan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan STAD Ditinjau dari Hasil Belajar Siswa. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 6(3), 251-263.

Mufidah, L., Dzulkifli, E., & Titi, T. (2013). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Matriks. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sidoarjo, 1(1), 117-125.

Nisak, K., Sapti, M., & Yuzianah, D., (2014). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika dengan Pendekatan SAVI Menggunakan LKS dan Media Permainan. Ekuivalen , 292-296.

Sari, A. K. (2014). Analisis Karakteristik Gaya Belajar Vak(Visual, Auditorial, Kinestetik)Mahasiswa Pendidikan Informatika Angkatan 2014. Jurnal Ilmiah Edutic , 1-12.

Sari, I. F. (2014). Penerapan Model SAVI untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA. Jurnak Pedagogi .

Sarnoko, Ruminiati, & Setyosari, P. (2016). Penerapan Pendekatan SAVI Berbantuan Video Pembelajaran untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SSN I Sanan Girimarto Wonogiri. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian

dan Pengembangan , 1235-1241.

Shoimin, A. (2014). 68 Model pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Suhendri, H. (2010). Pengaruh Kecerdasan Matematis–Logis dan Kemandirian

Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika. Jurnal Formatif , 31.

Suyono, N. (2017). Penerapan Pendekatan Somatic, Auditory, Visually, Intelectually (Savi) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Campuran Pada

Siswa Kelas 2.A SDN Cinangsi Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang.

Biormatika .

Tyas, E. N. (2014). Peningkatan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Subtema Tugasku Sehari-Hari di Rumah Menggunakan Model Pembelajaran SAVI Pada

Siswa Kelas II SDN 1 Bolo. Scholaria , 68-82.

Yunita, E., Syafik, A., & Purwoko, R., Y. (2013). Penerapan Pendekatan Pembelajaran SAVI sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil

Belajar Matematika. Equivalen , 282-287.

Yustinus. (2017). Strategi Pemecahan Masalah Matematika. Salatiga: Widya Sari Press.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :