BAB TIGA
JENIS-JENIS KHOTBAH
A. Pendahuluan
Terlebih dulu penulis ingin sampaikan tentang outline khotbah. Dalam berkhotbah, kadang masing-masing merasa nyaman dengan menggunakan outline. Artinya membuat tata urut dan letak, dalam sepotong kertas kecil yang dituliskan poin-poin saja. Isinya meliputi tema, ayat, poin-poin utama, illustrasi dan penutup. Namun mungkin orang lain menuliskan secara keseluruhan apa yang akan disampaikan.
Hal ini menurutnya, menghindari penyimpangan atau kesalahan. Kadang menjadi kaku ketika menyampaikannya di mimbar. Tetapi ada juga yang tidak menggunakan outline yang tertulis. Semua disampaikan secara langsung. Menurutnya, apa yang dipelajari dari Alkitab sudah dipahami dan diingat.
Ketika menyampaikan dengan doa dan keyakinan bahwa Roh Kudus akan menolongnya. Masing-masing mempunyai cara dan kebiasaan, sehingga bisa mengembangkannya. Hal yang terpenting adalah Firman Tuhan disampaikan dengan cara yang benar serta jemaat diberkati. Cara seperti apapun, Tuhan pasti bisa memakainya menjadi alat-Nya. Pengkhotbah harus memiliki perisiapan diri dan materi sehingga tidak terkendala ketika penyampaian Firman Tuhan.
Ada beberapa sebutan yang biasa dipakai tentang hal ini.
Ada yang menyebutnya jenis, bentuk dan model tetapi
sebenarnya semua menunjuk pada hal yang sama. Pada prinsipnya hanya ada 3 jenis khotbah, yaitu Topikal, Tekstual dan Ekspositori. Di bawah ini akan dijelaskan masing-masing jenis khotbah secara sepintas dan yang penting bisa memahami serta merancang outline khotbah.
B. Khotbah Topikal
Jenis khotbah ini tidak begitu sulit untuk membuatnya.
Khotbah ini bertumpu pada topik/ judul/ tema dan kemudian pengembangannya didasarkan atau didukung oleh ayat-ayat Alkitab. Dengan menggunakan bentuk pertanyaan dan jawaban maka akan bisa menguraikan tema khotbah dengan baik sehingga mudah untuk dipahami jemaat/pendengarnya.
Dari hasil penelitian beberapa waktu lalu, jenis khotbah ini yang banyak digemari oleh pendengar. Jika menggunakan tiga (3) pertanyaan, yaitu : Apakah, Mengapa, Bagaimanakah, dan ditutup dengan Kesimpulan.
Pertanyaan apakah dijawab dengan definisi atau penjelasan atau menggambarkan pada pendengar tentang apa yang sebenarnya dimaksud tema khotbahnya. Tidak semua definisi jawabannya didapatkan dari Alkitab, mungkin saja menggunakan Kamus Alkitab atau Kamus Bahasa Indonesia.
Pertanyaan mengapa dijawab dengan alasan yang ditandai dengan kata “sebab/ karena”. Jawaban didapat dari Alkitab dengan menggunakan Konkordansi Alkitab atau buku
tentang ayat-ayat yang tepat. Bedakan jawabannya, yang sering terjadi dijawab dengan kata supaya dan bukan karena.
Hati-hati dalam memberikan jawaban, sebab sering sulitnya disini untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan bagaimanakah dijawab dengan cara atau jalannya. Inipun harus ditunjukkan dengan dukungan dari ayat Alkitab. Dengan demikian menghantarkan pendengar untuk semakin yakin bahwa jawaban bersumber dari dasar yang kokoh sesuai keyakinan iman Kristen.
Contoh
Tema: DOA
I. Apakah artinya doa dan berdoa? (Penjelasannya dengan definisi atau pengertian, baik dari Kamus Alkitab maupun dari Kamus Bahasa Indonesia) Doa ialah hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan dalam menyampaikan permohonan atau pergumulan hidup. Dia itu juga bagaikan nafas rohani bagi orang Kristen, dan seterusnya.
II. Mengapa kita berdoa? (Yang diharapkan disini jawabannya ialah alasan kenapa kita berdoa)
1. Karena………... (ayat pendukungnya) 2. Karena ……….. (ayat pendukungnya)
3. Dstnya….. (banyaknya bergantung pada penekanan kita)
III. Bagaimana kita berdoa? (Yang diharapkan disini jawabannya ialah caranya kita berdoa)
1. Tunduk dan berlutut ………(ayat pendukungnya) 2. Mulut mengucapkan isi doa ….. (ayat pendukungnya) 3. Mata terpejam dan lipat tangan (ayat pendukungnya)
Ini contoh saja dan bisa anda cari jawaban yang tepat dan lebih baik dalam menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian bisa juga dengan menggunakan salah satu pertanyaan saja diantara tiga (3) pertanyaan di atas.
Tetapi ada juga yang mengembangkan khotbah topikal yang penting satu topik yang dibicarakan. Misalnya menyampaikan tentang perumpamaan, tokoh, nubuatan dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, tetap tergolong dalam khotbah topikal, hanya dikembangkan saja.
C. Khotbah Tekstual
Jenis ini juga tidak begitu sulit untuk membuat kerangkanya dan biasanya hanya 1 sampai 3 ayat saja sehingga baik pengkhotbah maupun jemaat/pendengar mudah untuk mengingatnya. Struktur khotbah tekstual mirip dengan model khotbah ekspositori maka kadang ada yang menyebutnya ekspositori kecil. Ada bagian-bagian tertentu Alkitab yang mudah untuk dijadikan sebuah ouline khotbah tekstual. Jenis ini juga banyak digemari oleh pendengar dari berbagai kalangan. Mungkin juga banyak pengkhotbah yang suka berkhotbah dengan bentuk ini.
Pada dasarnya khotbah ini lebih bertumpu, baik pokok utama maupun bagiannya, pada ayat tersebut. Jika bisa mengembangkan model khotbah ini dengan baik, maka akan menarik minat jemaat untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan. Berikut ini adalah contoh khotbah tekstual.
D. Khotbah Ekspositori
Khotbah jenis ini memang memerlukan waktu lebih banyak untuk mengerjakannya tetapi akan seimbang dengan hasilnya. Jenis ini bisa satu perikop, pasal atau bahkan kitab.
Pendengar akan memiliki pemahaman Alkitab yang komprehensif tentang suatu bagian atau pokok ajaran. Semua ayat akan dibaca kemudian dikelompokkan atau dikategorikan untuk membentuk bagian-bagian kecil yang memudahkan jemaat/pendengar memahami rangkaian isinya. Tetapi ini bukan khotbah ayat per ayat seperti yang sering orang katakan. Menariknya, dari satu bagian pembacaan Alkitab, bisa menjadi judul dan bagian-bagian isi yang berbeda, bergantung pada penekanan dari tema khotbahnya.
Teks: Yohanes 14: 6 Tema: Siapakah Yesus itu?
(menurut ayat tersebut?
1. Yesus adalah jalan 2. Yesus adalah kebenaran 3. Yesus adalah hidup
Kembangkan dalam penjelasan dengan referensi dan mengorelasikannya dengan ayat-ayat yang mendukungnya.
Contohnya jika teks pembacaan Alkitab diambil dari Yohanes 6:1-15 dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5000 orang lebih (bisa juga dengan bacaan dari kitab lain karena peristiwa ini dicatat oleh ke empat Injil). Mungkin Anda sudah bisa memberikan tema dari bagian ini karena sering mendengar atau membuat kreasi judul sendiri pada penekanan hal tertentu dari kitab tersebut. Bisa menekankan pada iman, masalah, kebutuhan hidup, mujizat, berkat dan seterusnya.
contoh
Thema: Yesus Menyelesaikan Masalah Teks: Yohanes 6 : 1 – 15
1. Latar belakang masalah (1-4) 2. Masalah sesungguhnya (5-6) 3. Jalan keluar secara manusia (7-9) 4. Jalan keluar dari Yesus (10-12) 5. Berkat melimpah (13-15)
Bisa dikembangkan lagi dengan perikop dan judul-judul lain sehingga mahir menggunakan jenis ini dalam membuat rancangan khotbah. Beranjak dari tiga jenis khotbah tersebut, menjadikan perkembangan macam- macam jenis khotbah yang ada sekarang. Ada yang menggunakan khotbah ayat per ayat, biografi, narasi, analogi, pengajaran dan lain sebagainya.
Apapun itu, kiranya tetap dalam kaidah penafsiran yang baik dan benar. Penting belajar Hermeunetika untuk bisa menafsirkan bagian Alkitab yang sedang dipelajari dan membuat penerapan yang tepat sasaran. Bobot dari sebuah khotbah, sering berkaitan dengan hasil dari hermeunetika yang teliti.
E. Tahapan Membuat Kerangka Khotbah
Memiliki bahan khotbah yang berbobot, memang penting. Tetapi bahan khotbah tidak akan bisa menjadi kerangka dengan sendirinya. Harus belajar mengolah dan menata bahan supaya memiliki sistematika yang baik dan logis. Cara demikian akan membuat isi khotbah mudah dipahami dan ada urutan logika berpikir didalamnya.
1. Bahan dan Sarana yang Diperlukan 1) Alkitab (dengan berbagai terjemahan) 2) Buku/ kertas catatan
3) Pulpen atau pensil 4) Konkordansi Alkitab 5) Kamus Alkitab
6) Atlas Alkitab/ Geografi 7) Buku Benda-benda Purbakala 8) Buku- buku tafsiran
2. Tahapan Membuat Kerangka 1) Menentukan jenis khotbah 2) Menetapkan ayat mas atau Nats 3) Mempelajari dengan seksama ayatnya 4) Memilih Thema/ judul
5) Membuat urutan garis besar
6) Mengisi garis besar dengan sub-sub bab 7) Membuat Pendahuluan menarik
8) Membuat penutup
9) Membuat illustrasi dan menempatkannya
10) Kerangka dibuat di atas potongan kertas yang besarnya tidak melebihi ukuran besarnya Alkitab yang digunakan untuk berkhotbah.
F. Khotbah Berdasarkan Tema yang Telah Ditentukan Bila tema khotbah atau teks Alkitab sudah ditetapkan oleh organisasi atau dari tempat pelayanan, maka bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Karena ada beberapa lembaga dan pelayanan memiliki peraturan dan tujuan sendiri dalam hal ini. Gunakanlah itu sebagai patokan ketika belajar atau berkhotbah. Jangan sampai sudah diberikan tema, tetapi ketika berkhhotbah menggunakan tema lain. Yang lebih
mengerti kebutuhan dan memiliki tujuan adalah gereja atau tempat pelayanan tersebut.
Dalam hal outline khotbah. Untuk membuat outline khotbah, kebanyakan orang memilih untuk membuatnya ke dalam tiga (3) poin besar. Tetapi sebenarnya tidaklah ada ketentuan. Mungkin melihat pada kebutuhan atau keperluan penjelasan serta lamanya waktu yang diberikan. Ada beberapa pengkhotbah yang tidak menggunakan kertas catatan, ada yang menggunakan catatan tetapi hanya garis besar saja, tetapi ada juga yang dituliskan semua isi khotbah dari awal sampai akhir, ini tidak menjadi masalah yang penting. Boleh saja seseorang dengan caranya bisa menyampaikan itu semua dengan baik, runtut/urut dan tidak menyimpang dari konsep semula sehingga tujuan bisa tercapai.
Kemudian dalam hal yang berkaitan dengan illustrasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan karena hal ini tidak kalah pentingnya dengan hal-hal lainnya. Bahwa illustrasi harus berhubungan dengan bagian yang dilukiskan dan bersifat menjelaskan atau menggambarkan untuk memudahkan pendengar memahaminya. Jangan isi khotbah lebih banyak berisi illustrasi atau cerita pribadi dibanding inti pengajaran Alkitab yang akan disampaikan. Ketika menyampaikan illustrasi harus dikuasai alur ceritanya dan mengikuti emosi dalam menyampaikannya sehingga memperkuat penekanan. Jangan lupa ullustrasi tersebut
menegaskan tentang hal apa, harus dijelaskan hubungannya.
Tidak hanya berkesan bercerita saja.
Perlu diperhatikan ketika berdiri di belakang mimbar.
Pengkhotbah menjadi pusat perhatian pendengar yang ingin mendengar apa yang akan disampaikan. Gunakanlah kesempatan itu dengan baik untuk menyampaikan kehendak Allah yang sudah anda terima ketika merenungkan dalam persiapan tadi. Sampaikan dengan tenang, suara jelas dan pandangan yang menyapa segenap pendengar. Hindari hanya melihat ke langit-langit; ke tembok kanan atau kiri atau terpaku ke konsep khotbah saja. Biasanya itu terjadi kalau gerogi atau gemetaran menghadapi banyak orang. Semua orang yang belajar khotbah, hampir semua mengalami hal yang sama. Harus bisa mengatasi kondisi seperti ini, karena anda di depan sedang berkomunikasi dengan pendengar, bukan pada yang lain. Kalau persiapan matang dan belajar untuk mengkhotbahkannya, pasti nanti pada waktunya akan bisa lebih tenang dan bisa menguasai diri.
Tentang gerak gerik dan bahasa tubuh serta intonasi kata ketika berdiri di depan, itu sangat berpengaruh. Berdirilah tegap dengan pakaian rapi atau jubah sesuai dengan kebiasaan setempat. Gerak mimik dan tangan sesuai dengan isi khotbah yang sedang disampaikan. Misalnya sedang menceritakan atau mengatakan ketika Yesus naik ke surge, maka gerakan tangan menunjuk ke atas serta diikuti dengan pandangan
sampai menjelaskan lemparkan jalamu ke sebelah kanan tetapi tangan anda melemparkan ke kiri. Ini bisa menjadikan bingung pendengar, yang sebenarnya ke kanan atau ke kiri.
G. Mengembangkan Kompetensi Berkhotbah
Cara untuk mengembangkan kemampuan berkhotbah adalah:
1) banyak membaca khotbah orang-orang terkenal di dunia.
2) Perhatikan cara-cara mereka menyelidiki, menyampaikan, struktur, bahasa dll. Juga perhatikan tentang kelebihan dan kekurangan mereka.
3) Kemudian membaca dan mendengar riwayat orang-orang terkenal, bagaimana cara mereka meningkatkan kemampuan dan sikap ketika melaksanakan khotbah dan setelah berkhotbah.
4) Buku psikologi Kristen dan psikologi pada umumnya yang dipandang dari sudut iman Kristen, perlu dibaca Hal ini akan menolong untuk memahami pergumulan manusia dan karakter serta kebutuhan manusia. Hal ini akan menolong pengkhotbah untuk dapat berkhotbah yang menjawab kebutuhan pendengar.
5) Mintalah seorang pembina atau teman dekat untuk memberitahukan kelemahan kita. Tidak ada orang yang sempurna karena itu evaluasi sangatlah penting peranannya.
6) Sediakanlah selalu sepotong kertas dan pulpen untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang menarik dan mengesankan. Apakah itu peristiwa yang lucu atau yang menyedihkan atau yang mendatangkan semangat. Catatlah kata-kata yang menarik yang ditemukan. Semua catatan tersebut akan sangat membantu kita dalam mempersiapkan khotbah.
7) Buka Youtube atau link tentang khotbah dari berbagai model dan aliran dan kemudian evaluasilah. Semua ini akan memperkaya cara khotbah kita.
8) Berkhotbah adalah pekerjaan penting yang Tuhan percayakan pada hamba Tuhan (pengkhotbah) sepanjang umur, sehingga setiap pribadi harus memacu diri untuk selalu meningkatkan mutu khotbah (Inovatif).
9) Harus bersedia untuk belajar dengan rajin dari berbagai sumber, terlebih belajar Alkitab sehingga memiliki wawasan yang luas.
10) Mintalah pada Tuhan yang empunya pekerjaan supaya kuasaNya dari tempat tinggi akan melengkapi ketika menjalankan tugas panggilan dalam berkhotbah.
11) Selalu latihan dari bahan/kerangka yang sudah dipersiapkan secara berulang-ulang, sebelum naik ke mimbar untuk mengkhotbahkannya.
12) Tetap menjaga kesehatan fisik dan rohani sebagai seorang pengkhotbah, karena ke dua hal ini berpengaruh ketika penyampaian khotbah di mimbar.
H. Hal-hal yang Harus Dihindari Seorang Pengkhotbah 1) Berkhotbah di mimbar tanpa persiapan yang baik.
Persiapan ini menyangkut dengan mempersiapkan diri pengkhotbah, bahan yang akan disampaikan dan sarana yang akan digunakan.
2) Waktu penyampaian. Durasi penyampaian fleksible, tetapi jangan terlalu singkat atau sebaliknya, terlalu lama.
3) Ketika sedang berkhotbah di mimbar, hindari kata-kata:
eeeeee, apa itu, apa namanya….atau sedikit-sedikit berkata- amin..amin…....yahh..yahh..
4) Hindari kalimat yang tidak efektif atau menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika perlu menggunakan Bahasa asing/lain, hendaknya diucapkan dengan lafal yang tepat. Demikian juga jika menggunakan logat Bahasa daerah.
5) Lelucon atau illustrasi yang tidak ada hubungan dengan topik, lebih baik dihindari, agar konsentrasi pendengar tetap terfokus ke topiknya.
6) Jangan pernah mengkritik ajaran pendeta lain di mimbar, apalagi menyebut nama mereka. Ini sesuatu yang tidak menunjang khotbah anda.
7) Jika jemaat tidak memberi respons seperti yang anda harapkan- jangan pernah marah dan menyalahkan mereka, tetapi salahkan diri sendiri yang mungkin kurang mempersiapkan diri dengan baik.
8) Jangan mimbar gereja dijadikan ajang kampanye atau berpolitik yang menjurus ke partai atau pribadi tertentu.
9) Akhir penyampaian khotbah. Bila anda mengatakan
“khotbah ini akan saya tutup”, memang benar-benar sebentar lagi akan ditutup dan jangan sampai masih berbicara panjang lebar lagi. Kadangkala orang terlalu bersemangat sehingga lupa berhenti. Ini dapat memberi kesan yang kurang baik pada pendengar. Jangan lupa menutup khotbah anda dengan doa.
BAB EMPAT
KHOTBAH DAN CARA BERKHOTBAH
A. Hasil Penelitian Tahun 2014-2016
Penulis mengadakan penelitian kepada 100 orang responden yang terdiri dari Jemaat, Pendeta/Gembala, dan Penginjil (sebagai sample) di beberapa denominasi gereja, lokasi, strata sosial dan pendidikan sejak tahun 2014 mengenai jenis khotbah yang disukai.
Pengamatan yang dilakukan sejak tahun 2014 sampai tahun 2016, diperoleh hasil sebagai berikut:
1) Jenis khotbah topikal adalah yang paling disukai oleh 43%
responden (43 orang). Dengan alasan bahwa khotbah topikal tidak membuat jenuh, cara penyampaian dijelaskan ayat per ayat yang mendukung sub pokok pikirannya dan kemudian dihubungkan dengan ayat lain yang searah.
Menurut mereka, khotbah jenis ini tidak membosankan, mudah dimengerti, lebih dinamis, tidak terlihat monoton, mudah dijabarkan oleh pengkhotbah, mudah dalam membuat poin-poin khotbah, tidak melebar kemana-mana, lebih teologis, sistematis, berbobot, jemaat bisa belajar lebih cepat, dan buku panduan serta bahan khotbah topikal banyak dan mudah didapatkan.
2) Khotbah tekstual. Dari total responden yang ada, 30%
responden (30 orang) menyukai jenis khotbah tekstual
mudah dipahami oleh semua kalangan pendengar (jemaat), jemaat akan lebih memahami secara mendetail akan Firman Tuhan karena dijelaskan kata perkata, tidak melenceng dari teks yang ada, mudah untuk menerangkan aplikasi Firman Tuhan, tidak membuat jemaat mengantuk, tidak terlalu rumit untuk menentukan poin, fokus pada satu perikop, tidak memerlukan banyak ayat dan Lebih terstruktur.
3) Khotbah ekspositori. Dari total responden yang ada, 26 % responden menyukai khotbah ekspositori dengan alasan bahwa khotbah ekspositori membuat jemaat lebih mengerti secara mendetail dan mendalam, membuat pengkhotbah semakin paham karena dituntut untuk mengekspos ayat lebih dalam, benar-benar menggali isi teks Alkitab, memunculkan pengetahuan baru yang belum diketahuhi jemaat, mudah menyusun garis besar khotbah.
4) Khotbah jenis lain. Dari total responden yang ada, 1%
responden memilih khotbah dengan bentuk lain karena lebih menarik dan tidak biasa dipakai pengkotbah lain sehingga tampil berbeda.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Tahun 2014-2016
Pendengar khotbah sekarang sudah lebih kristis dan selektif, maka yang lebih penting ialah gaya dan cara penyampaian. Pengkajian atau penalaran terhadap apa yang disampaikan oleh pengkotbah, dapat memberikan nilai kepuasan tersendiri jika dibarengi dengan bobot materi teologi yang kuat dan aplikasi yang benar-benar tepat.
Gaya penyampaian tidak kaku melainkan luwes dan harus memiliki daya tarik yang kuat. Menyampaikan hal-hal yang serius tetapi dengan cara santai, humor dengan diselingi illustrasi yang cocok. Cara penyampaian sebagian orang lebih senang dengan model dialog. Artinya tidak monolog, dari pengkhotbah ke jemaat tanpa ada komunikasi sedikitpun.
Pendekatan model dialog yang responsif disukai karena
30%
43%
26%
1%
Jenis Khotbah yang Diminati
Tekstual Topikal Ekspositori lain-lain
Hasil Analisis Data Tahun 2014-2016
memberi penerimaaan atau pengingatan yang dalam dan lama tertinggal di memori.
Selingan dengan menggunakan model khotbah power point, juga menjadi daya tarik bagi jemaat/pendengar. Jemaat tidak sekadar mendengar, tetapi disuguhkan suara, tulisan dan gambar. Dengan cara demikian, daya serap dan daya tangkap serta daya ingat akan meningkat.
Khotbah tidak melulu untuk mengisi pengetahuan teologi atau dogma gereja; lebih daripada itu, harus dapat memberi petunjuk hidup baru dan bagaimana mewujudkannya hal itu kedalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain, bagaimana kotbah itu menjawab kebutuhan jemaat, memberi jalan atas pergumulan jemaat sehingga jemaat pulang dengan sebuah kepastian atau mendapat jawaban. Jika haus dan dahaga seperti itu terpuaskan, maka dapat dikatakan khotbah itu sudah mendarat, tidak mengawang-ngawang lagi karena sudah terjembatani.
Pengkhotbah harus pandai untuk mengkaitkan antara prinsip dan ajaran Alkitab dengan kehidupan sehari-hari umat/pendengar sehingga betul-betul tepat sasaran. Tentu menyampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti pada umumnya jemaat yang mendengar. Disitu perlunya seorang pengkhotbah mengetahui siapa dan seperti apa pendengar khotbahnya.
Tugas seorang pengkhotbah sebenarnya tidaklah gampang, karena harus tahu prinsip-prinsip khotbah dan melakukannya dengan baik. Membaca selera pendengar namun tidak kehilangan arah atau prinsipnya. Kemudian perlu memahami jenis khotbah yang cocok untuk pendengarnya dan mengikuti aturannya tetapi tidak sekadar bagus kerangkanya saja.
Pengkhotbah perlu belajar intonasi ketika dalam penyampaian dan konsisten dengan tujuan khotbahnya.
Memiliki banyak variasi, memiliki rasa humor, tidak kaku dengan cara penyampaian yang mudah diterima. Tidak berkesan mengajari atau menggurui. Selanjutnya, harus disertai dengan doa dan penyerahan diri pada Roh Kudus, rendah hati, menyelidiki Alkitab dengan baik dan bijak dalam penyampiannya. Sampaikanlah, apa yang sebenarnya Tuhan ingin sampaikan kepada umat-Nya. Tentu dengan penyampaian yang bisa diterima dengan baik dan langsung pada kebutuhan atau menjawab pergumulan pendengar.
Sepertinya menjadi ciri-ciri pendengar sekarang, ingin mendapatkan khotbah yang singkat, lugas, praktis dan memiliki bobot serta enak cara penyampaiannya.
Pengkhotbah semestinya memperhatikan model pendengar sekarang ini, apalagi dengan khotbah online atau virtual, kadangkala tidak memiliki waktu yang panjang. Harus bijak dalam berkhotbah di masa pandemi ini dan dapat
membuat kemasan yang menarik sehingga tidak ditinggalkan pendengar.
C. Hasil Survei Bulan September 2021
Penulis menjaring data dengan cara menyebarkan angket yang berisi beberapa pertanyaan dengan menggunakan google form. Responden yang memberikan respons dengan mengirim formulir yang sudah diisi dengan jawaban yang ada dalam pilihan. Ada sekitar 232 orang yang mengisi dan mengembalikan kuesioner.
1. Data Responden
Adapun data responden adalah sebagai berikut:
1) Pertama, usia responden bervariasi antara 18 tahun sampai 66 tahun. Hanya ada 4 orang yang tidak diketahui usianya.
Pada umumnya, responden berusia antara 18 tahun sampai 49 tahun.
2) Kedua, tentang jenis kelamin dari 232 orang respondens, yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 140 orang dan perempuan sejumlah 92 orang.
3) Ketiga, menyangkut tentang profesi atau pekerjaan dari 232 orang respondens memang bervariasi, diantaranya: dosen, guru, mahasiswa, karyawan, wirausaha, pelayan Tuhan, ibu rumahtangga, Aparatur Sipil Negara, pensiunan.
4) Keempat, adapun asal mereka dari berbagai propinsi, dimana mereka berdomisili sewaktu mengisi form yang
dikirimkan. Diantaranya dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat, Sumatra Utara, Kutai Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Sumba, Nias, Yogyakarta, Bali.
5) Kelima, ada lima (5) pertanyaan yang penulis ajukan kepada respondens untuk dijawab. Lima pertanyaan tersebut ialah menyangkut tentang khotbah dan sekitarnya, yang penulis ambil secara simple saja. Pertanyaan tersebut ialah:
a) Menurut anda jenis khotbah apa yang menarik?
b) Berapa menurut anda durasi yang ideal dalam khotbah?
c) Menurut anda materi khotbah seperti apa yang menarik?
d) Bagaimana cara khotbah yang menarik?
e) Bentuk media yang menunjang dan cocok untuk khotbah sekarang?
2. Hasil Penelitian
1) Jenis Khotbah yang Disukai
Penelitian terhadap jenis atau bentuk khotbah seperti apa yang menarik bagi pendengar untuk saat ini. Dapat dilihat melalui gambar dan keterangan berikutnya.
Dari gambar tersebut nampak dari hasil survey secara prosentase yaitu :
- Jenis khotbah ekspositori, yang memilih sejumlah 41%.
- Jenis khotbah topikal, yang memilih sejumlah 38,2%.
- Jenis khotbah tekstual, yang memilih sejumlah 16,9 %.
- Jenis khotbah lain, yang memilih hal tersebut sejumlah 4,8%.
Dari jumlah tersebut, khotbah ekspositori menempati urutan pertama dari pilihan responden. Tetapi perbedaan secara prosentase, tidaklah begitu menyolok. Jadi bolehlah dikatakan bahwa perbedaan itu tidak begitu signifikan. Dari hasil tersebut, kecenderungan pendengar agaknya mengarah kepada dua bentuk khotbah, yaitu ekspositori dan topikal. Bila dikaitkan dengan kebiasaan pengkhotbah, maka mendorong pengkhotbah untuk bisa menyesuaikan diri dengan dua macam khotbah tersebut. Tetapi dipihak lain, bisa juga memiliki ciri khas pendengar yang berbeda dan budaya berbeda sehingga berpengaruh terhadap penentuan model khotbah yang dipergunakan.
2) Waktu Ideal Pada Waktu Berkhotbah
Pada bagian ini membahas tentang durasi waktu khotbah yang ideal dalam berkhotbah. Dan hasilnya sebagai berikut:
Berdasarkan diagram di atas tentang waktu ideal saat menyampaikan khotbah adalah:
- Durasi khotbah 30 – 45 menit. Dari hasil penelitian, responden yang memilih sejumlah 55,6%.
- Durasi khotbah 20 – 30 menit. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 35,8%.
- Durasi khotbah 45 – 60 menit. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih ada sejumlah 7,8%.
- 1% responde ragu-ragu.
Dari hasil penelitian diatas, nampaknya responden lebih memilih waktu yang ideal dalam berkhotbah itu sekitar, 30 - 45 menit saja dan malah ada yang memilih waktunya lebih pendek dari itu. Kadangkala memang ada pengaruh-pengaruh lain untuk bisa mendengar dalam durasi berapa lama. Kalau penyampaiannya menarik, sering orang bisa saja mendengar melebihi waktu tersebut. Tetapi paling tidak para pengkhotbah bisa mendapatkan gambaran untuk durasi yang ideal.
3) Materi Khotbah
Terkait dengan materi khotbah, hasil penelitian seperti yang tampak pada diagram adalah:
Berdasarkan diagram di atas bahwa:
- Materi khotbah etika/moral/praktis . Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 34,4%.
- Materi khotbah yang alkitabiahlah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 33,2%.
- Materi khotbah bentuk pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 28,4%.
- Materi lainnya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 4% saja.
Dari hasil penelitian di atas, tidaklah signifikan perbedaannya karena jumlah prosentase tidaklah begitu jauh berbeda atau mencolok. Jika diurutkan maka akan ditemukan bahwa yang menarik yaitu tentang etika, moral dan hal-hal yang praktis dan diikuti dengan khotbah yang membahas ayat-ayat Alkitab atau semacam pendalaman Alkitab.
Selanjutnya tentang khotbah yang membahas pengajaran, yaitu tentang ajaran-ajaran iman Kristen. Ada yang berminat untuk hal-hal yang lain, tetapi hanya sedikit saja.
Hasil penelitian ini setidaknya menjadi gambaran bagi para pengkhotbah masa kini dalam mempersiapkan dan menyampaikan khotbah. Perpaduan diantara ketiga unsur di atas akan lebih lengkap dan menarik pendengarnya.
4) Cara Berkhotbah
Pada bagian dibawah ini, meneliti tentang cara berkhotbah yang menarik, dan hasil yang dihimpun dari para responden menunjukkan:
Bila diperhatikan pada gambar diatas, nampaklah hasilnya sebagai berikut:
- Cara khotbah yang serius dan santai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 70,7%.
- Cara khotbah yang santai dan penuh humor menarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 19,8%.
- Cara khotbah yang sangat serius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 6,4%.
- Cara khotbah yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 3%.
Jadi, dapatlah diambil kesimpulan bahwa saat ini, khotbah yang lebih menarik adalah cara penyampaian serius dan santai. Disini menunjukkan bahwa serius hal-hal yang disampaikan dengan cara santai atau bisa menunjukkan variasi dalam cara berkhotbah, kadang serius dan kadang ada waktu jedah untuk santai. Mengelola momen cara menyampaikan berpengaruh terhadap hasil yang ingin dicapai. Rupanya pendengar tidak begitu antusias dengan cara yang santai dan penuh humor.
5) Media Khotbah
Terkait media dalam berkhotbah, hasil penelitian menunjukkan bahwa
- Media yang cocok ialah dengan power point dan kualitas mikrofon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden
- Media yang cocok mikrofon saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 12,1%.
- Media yang lain/tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memilih sejumlah 9,5%.
Jelas sekali dan sangat signifikan bahwa responden 78,4%, artinya sebagian besar memilih pengkhotbah mempergunakan mikrofon dan mempresentasikan khotbahnya melalui power point. Seharusnya seperti itulah untuk pendengar di zaman sekarang ini. Pendengar akan lebih lama mengingat khotbah, jika pengkhotbah menggunakan audio visual dibanding hanya audio saja. Berarti pengkhotbah harus pandai-pandai mengaturnya dan menggunakan media yang sesuai atau cock. Tentu penyampaian yang bisa diterima dengan baik dan langsung pada kebutuhan atau menjawab pergumulan pendengar. Sepertinya menjadi ciri-ciri pendengar sekarang. Ingin mendapatkan khotbah yang singkat, lugas, praktis dan memiliki bobot serta enak cara penyampaiannya. Pengkhotbah mesti memperhatikan model pendengar sekarang ini, apalagi khotbah secara online atau virtual, kadangkala tidak memiliki waktu yang panjang. Harus bijak dalam berkhotbah di masa pandemik ini dan dapat membuat kemasan yang menarik sehingga tidak ditinggalkan pendengar.
Masukan yang perlu diperhatikan untuk para pengkhotbah zaman sekarang ini, jangan hanya
menitikberatkan pada metode yang tepat, tetapi juga menjawab kebutuhan pendengar dan relevan Firman Tuhan sehingga jemaat memiliki pemahaman yang benar tentang rahasia Firman Allah.
D. Kesimpulan
Menyangkut bentuk atau jenis khotbah yang disukai oleh pendengar di saat sekarang adalah bentuk ekspositori dan bentuk topikal. Kemudian lama atau durasi berkhotbah, sekitar 30 – 45 menit adalah waktu yang ideal dan pilihan kedua diantara 20 – 30 menit. Selanjutnya untuk materi khotbah yang menarik adalah etika, moral dan kehidupan praktis serta model PA. Tidak berarti khotbah pengajaran tidak penting, karena ada yang memilih pengajaran.
Cara khotbah yang baik yaitu menyampaikan hal serius dengan santai. Pandai menempatkan intonasi dalam berkata- kata dan menciptakan suasana penyampaian yang santai sehingga pendengar tidak merasa seperti diberondong sejuta kata.
Adapun bentuk media yang cocok dan menunjang dalam penyampaian yaitu dengan menggunakan mikrofon dengan suara yang disesuaikan dengan ruangan serta media power point yang menarik sehingga membantu dan memudahkan pendengar dalam menyimak khotbah.