UJI TIPE DAN KETINGGIAN PERANGKAP UNTUK MENGENDALIKAN WALANG SANGIT Leptocorisa acuta Thunberg. (Hemiptera: Alydidae) PADA
PADI SAWAH DI KELURAHAN PEMATANG MARIHAT KECAMATAN SIANTAR MARIMBUN
SKRIPSI
OLEH :
DESI WINDARI SAMOSIR 130301112
AET- HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UJI TIPE DAN KETINGGIAN PERANGKAP UNTUK MENGENDALIKAN WALANG SANGIT Leptocorisa acuta Thunberg. (Hemiptera: Alydidae) PADA
PADI SAWAH DI KELURAHAN PEMATANG MARIHAT KECAMATAN SIANTAR MARIMBUN
SKRIPSI
OLEH :
DESI WINDARI SAMOSIR 130301112
AET- HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana agroteknologi di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018
Judul : Uji Tipe dan Ketinggian Perangkap untuk Mengendalikan Walang Sangit Leptocorisa acuta Thunberg. (Hemiptera: Alydid
ae) pada Padi Sawah di Kelurahan Pematang Marihat Kecamatan Siantar Marimbun
Nama : Desi Windari Samosir NIM : 130301112
ProgramStudi : Agroteknologi
Minat :Hama dan Penyakit Tumbuhan
Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing
(Ameilia Zuliyanti Siregar, Ssi, MSc,PhD) (Ir. Lahmuddin Lubis, MP.
Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi Pembimbing )
Mengetahui
(Dr. Ir. Sarifuddin, MP.
Ketua Program Studi Agroteknologi )
ABSTRACT
Desi Windari Samosir “Test of Type and Height of Trap to Control The Rice Ear Bug Leptocorisa acuta Thunberg. (Hemiptera: Alydidae) in Pematang Marihat Village, Siantar Marimbun”. Supervised by Ameilia Zuliyanti Siregar and Lahmuddin Lubis. This research aims to know the effective type and height of trap which is at most attacked by the rice ear bug in the field. The method used Factorial Randomized Block Design (RBD) which consisted 2 treatments factor and four replications. First factor was type of trap (yellow trap, green trap, carrion aromatic of snail, and carrion aromatic of frog) and the second factor was the height of trap (row of rice plant, 20 cm on the rice plant, 40 cm on the rice plant).
The results showed that the type, and interactions was significant and the height wasn’t significant by the rice ear bug trapped. The best trap used by carrion aromatic of snail with height 40 cm on the rice plant is 50,66 tails. The highest insect consisted by Homoptera amounted to 1258 individuals while the Orthoptera only 11 individuals.
Keyword: Type of Trap, Height of Trap, L. acuta, Effective.
ABSTRAK
Desi Windari Samosir “Uji Tipe Dan Ketinggian Perangkap Untuk Mengendalikan Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg.) (Hemiptera:
Alydidae) Pada Pertanaman Padi Sawah Di Kelurahan Pematang Marihat Kecamatan Siantar Marimbun”. Di bawah bimbingan Ibu Ameilia Zuliyanti Siregar dan Bapak Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe dan ketinggian yang efektif dalam mengendalikan walang sangit di lapangan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor utama adalah tipe perangkap (perangkap warna kuning, perangkap warna hijau, aroma bangkai keong dan aroma bangkai kodok) sedangkan faktor kedua adalah ketinggian perangkap (sejajar bulir tanaman padi, 20 cm di atas bulir padi, dan 40 cm di atas bulir padi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tipe perangkap dan interaksi antara tipe dan ketinggian berbeda nyata, sedangkan faktor ketinggian perangkap tidak berbeda nyata terhadap terhadap jumlah walang sangit.
Perangkap terbaik adalah aroma bangkai keong mas dengan ketinggian 40 cm di atas bulir tanaman padi yaitu 50,66 ekor. Serangga yang terbanyak adalah ordo Homoptera sebesar 1258 individu dan terendah yaitu ordo Orthoptera yaitu 11 individu.
Kata Kunci: Tipe Perangkap, Ketinggian Perangkap, Leptocorisa acuta, Efektivitas
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pematang Siantar, 7 Agustus 1995, putri dari ayah (Alm) A. Samosir dan ibu (Alm) I. Siahaan dan merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Tahun 2013 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Pematang Siantar dan pada tahun yang sama penulis lulus ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur tertulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di program studi Agroekoteknologi dan pada semester VI memilih minat Hama dan Penyakit Tanaman
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK) pada tahun 2013, sebagai anggota Kelompok Kecil di Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen Kebaktian Mahasiswa Kristen USU (UKMKMK USU) pada tahun 2014 , sebagai Komisi Pembinaan di UKMKMK USU periode 2016, sebagai Ketua Komisi Doa di UKMKMK USU periode tahun 2017, Tim Regenerasi di UKMKMK USU (2017- 2018), Tim Doa Pelayanan di UKMKMK USU (2018), Pemimpin Kelompok Kecil di UKMKMK USU (2015- sekarang).
Penulis mengikuti Praktek Kerja Lapang (PKL) di PTPN 6 Unit Usaha Bunut, Jambi tanggal 22 Juli sampai dengan 31 Agustus 2016.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat dan rahmat yang diberikan oleh-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan hasil penelitian ini.
Adapun judul penelitian ini adalah “Uji Tipe Dan Ketinggian Perangkap Untuk Mengendalikan Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg.) (Hemiptera: Alydidae) Pada Pertanaman Padi Sawah Di Kelurahan Pematang Marihat Kecamatan Siantar Marimbun” yang merupakan salah satu syarat untuk menyusun skripsi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Ameilia Zuliyanti Siregar, SSi, MSc, PhD., selaku
ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Lahmuddin Lubis, MP. selaku anggota komisi pembimbing serta kepada teman- teman mahasiswa yang ada di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa dalam hal penulisan hasil penelitian ini belum sempurna. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang dapat membantu dalam membuat penulisan hasil penelitian ini lebih sempurna.
Medan, Maret 2018
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT... ... i
ABSTRAK... ... ii
RIWAYAT HIDUP... ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN...viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 5
Hipotesis Penelitian ... 5
Kegunaan Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg.) ... 6
Biologi Hama ... 6
Gejala Serangan ... 8
Teknik Pengendalian ... 10
Perangkap Serangga ... 12
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
Bahan dan Alat ... 15
Metode Penelitian ... 15
Pelaksanaan Penelitian ... 17
Lahan Percobaan ... 17
Perakitan Perangkap ... 17
Pemasangan Perangkap ... 18
Peubah Amatan ... 18
Jumlah Walang sangit yang Tertangkap ... 18
Seangga Lain Yang Tertangkap ... 18
Analisis Data ... 19
Uji Duncan ... 19
Uji Korelasi ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh tipe dan ketinggian perangkap terhadap jumlah walang sangit yang terperangkap ... 20 Pengaruh tipe dan ketinggian terhadap jumlah serangga lain yang terperangkap ... 23 Korelasi penggunaan tipe dan ketinggian perangkap terhadap walang sangit dan serangga lain ... 27 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 29 Saran ... 29 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1 Pengaruh tipe dan ketinggian perangkap terhadap jumlah walang sangit yang terperangkap (ekor)...20 2 Pengaruh tipe dan ketinggian terhadap jumlah serangga lain yang
terperangkap (ekor)...23 3 Jumlah serangga lain yang terperangkap (ekor)...25 4 Hubungan jumlah walang sangit dan serangga lain yang
terperangkap...27
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan I ... 33
Lampiran 2. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan II ... 33
Lampiran 3. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan III ... 34
Lampiran 4. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan IV ... 34
Lampiran 5. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan V ... 35
Lampiran 6. Jumlah walang sangit yang terperangkap pengamatan VI ... 35
Lampiran 7. Rata-rata pengamatan jumlah walang sangit yang terperangkap….. 36
Lampiran 8. Total pengamatan walang sangit perminggu….. ... 36
Lampiran 9.Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan I ... 38
Lampiran 10. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan II ... 38
Lampiran 11. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan III ... 39
Lampiran 12. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan IV ... 39
Lampiran 13. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan V... 40
Lampiran 14. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan VI ... 40
Lampiran 15. Rata-rata pengamatan jumlah serangga lain yang terperangkap….41 Lampiran 16. Total pengamatan walang sangit perminggu ….. ... 41
Lampiran 17. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada Perangkap kuning...……43
Lampiran 18. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada Perangkap hijau ...……...45
LAMPIRAN GAMBAR
Gambar 1. Lahan Penelitian ... 47 Gambar 2. Perangkap ... 48 Gambar 3. Serangga lain ... 51
PENDAHULUAN Latar Belakang
Di Indonesia beras menyediakan 56 sampai 80% kebutuhan kalori penduduk. Bahkan pada tahun 2025 diperkirakan lebih dari 5 miliar dari sekitar 10 miliar penduduk dunia akan bergantung pada Indonesia masih akan menghadapi defisit beras untuk beberapa tahun mendatang. Pada tahun 2013 produksi padi nasional ditargetkan sebesar 72,06 juta ton GKG dari 68,96 juta ton pada tahun 2012 serta ditargetkan terjadi surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014. Strategi untuk mencapai itu di antaranya dengan melakukan upaya peningkatan produktivitas, perluasan areal dan optimaliasi lahan, penurunan konsumsi beras dan penyempurnaan manajemen gerakan masal P2BN (Syahri dan Somantri, 2013).
Beras merupakan sumber utama makanan pokok di Indonesia. Produksi beras selama tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang fluktuatif.
Produksi beras tahun 2013 naik sebesar 3,32 persen (11.735 ton) dibanding produksi tahun 2012 (BPS Sumut, 2014) namun di tahun 2014 produksi beras turun sebesar 2,58 persen (96.210 ton) dibanding tahun 2013 (BPS Sumut, 2015).
Padi memiliki beberapa fase yaitu fase persemaian, fase vegetatif, fase generatif dan fase pemasakan. Pada setiap fase pertumbuhan padi biasanya diidentifikasi organisme pengganggu tanaman. Diantaranya adalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi. Hama pada fase persemaian diantarnya adalah wereng coklat, wereng hijau, hama putih palsu, keong mas dan tikus sawah. Hama pada fase vegetatif diantaranya adalah penggerek batang, wereng hijau, hama ganjur dan keong mas. Pada fase generatif biasanya wereng coklat,
wereng hijau, penggerek batang, walang sangit, hama ganjur, ulat grayak, hama putih palsu, tikus sawah dan keong mas dan pada fase pemasakan, hama yang sering dijumpai adalah walang sangit, tikus sawah dan burung (BKPPP, 2015).
Jenis individu serangga hama yang tertangkap fase vegetatif berbeda dengan yang tertangkap pada fase generatif. Pada fase vegetatif diperoleh 16 spesies serangga hama dan fase generatif diperoleh 14 spesies serangga hama.
Serangga hama yang hanya muncul di fase vegetatif tercatat 4 spesies yaitu Melanistis leda ismene yaitu ulat kepala tanduk hijau. Dicladispa armigera, Leptispa pygmaea dan Scotinophara lurida dan serangga hama yang hanya muncul di fase generatif ada 2 spesies yaitu Nezara viridula dan Leptocorisa acuta (Sianipar et al, 2015).
Walang sangit (Leptocorisa acuta T., Coreidae: Hemiptera) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. Baik nimfa dan dewasa menghisap cairan daun dan biji padi yang muda, masak susu untuk nutrisi selama daur hidupnya. Walang sangit yang dewasa berbentuk langsing dan panjangnya sekitar 16-18 mm. Bagian perut berwarna hijau atau krem dan pada punggungnya berwarna coklat kehijau- hijauan. Daur hidup rata-rata mencapai sekitar 5 minggu, dalam keadaan normal, daur hidupnya dapat mencapai 115 hari (Pracaya, 2008).
Di Indonesia, walang sangit merupakan hama potensial yang pada waktu- waktu tertentu menjadi hama penting dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi
walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27% (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009).
Walang sangit merupakan binatang berbau, hidup bersembunyi di rerumputan, tuton, paspalum, alang-alang sehingga bervariasi pada tanaman padi muda ketika bunting, berbunga atau berbuah. Walang sangit menempatkan telurnya (14-16 telur hingga 360 butir telur sepanjang hidupnya) secara berjajaran pada daun. Pembasmian dilakukan pada malam hari menggunakan lampu petromaks, memakai umpan bangkai ular, katak, ketam, dan memanfaatkan insektisida (Siregar, 2007). Walang sangit menghisap bulir padi yang telah matang susu dengan menggunakan rostrumnya. Akibatnya, bulir padi tidak terisi penuh bahkan hampa sama sekali. Kepadatan populasi walang sangit memiliki hubungan dengan produksi panen dimana satu ekor walang sangit per malai dalam
satu minggu dapat menurunkan hasil 27 % kualitas gabah (Sihombing dan Samino, 2015).
Pestisida adalah racun yang dapat mempengaruhi kehidupan organisme bukan sasaran (non target organisms) sehingga penggunaannya harus didasarkan atas pertimbangan ekologis yang sangat bijaksana. Dampak jangka panjang dari bahan kimia pada organisme bukan target, perkembangan resistensi serangga terhadap pestisida kimia dan efek berbahaya terhadap manusia dan lingkungan (Tabassum dan Shahina, 2004). Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah
memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati
(Siregar et al, 2013). Dampak negatif tersebut mendorong untuk mengatasi masalah hama walang sangit dengan mencari alternatif pengganti, salah satunya dengan pengendalian secara alami/ hayati, yakni dengan atraktan bau bangkai dan insektisida nabati. Atraktan bau bangkai berperan sebagai penarik hama walang sangit agar masuk dalam perangkap. Menurut Ulfa (2006) bangkai kodok lebih banyak menarik hama walang sangit dibandingkan dengan bangkai kepiting, siput, kodok, ataupun keong mas.
Selain ramah lingkungan, pemakaian bangkai merupakan sebagai kearifan budaya lokal petani yang telah lama digunakan untuk pengendalian hama walang sangit, disamping itu merupakan pengendalian yang aman dalam penggunaannya dan bersifat ekonomis. Perangkap warna terbuat dari kertas berwarna kuning yang berukuran 30 cm x 20 cm yang diolesi dengan lem perekat. Perangkap ini diletakan pada keempat sisi lahan pertanaman padi sesuai arah mata angin, yang
dipasang pada pagi hari dan diletakkan selama tiga hari (Siregar dan Matondang, 2017). Pengendalian walang sangit ramah lingkungan
diyakini dapat mengendalikan populasi hama walang sangit. Sehingga penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui tipe dan ketinggian perangkap yang paling efektif untuk mengendalikan serangan hama walang sangit di Kelurahan Pematang Marihat, Kecamatan Siantar Marimbun.
Tujuan Peneltian
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perangkap dan ketinggian perangkap yang paling efektif untuk mengendalikan serangan hama walang sangit di Kelurahan Pematang marihat, Kecamatan Siantar marimbun.
Hipotesa Penelitian
- Adanya perangkap berpengaruh nyata dalam mengendalikan walang sangit yang tertangkap
- Adanya perbedaan ketinggian perangkap berpengaruh nyata dalam mengendalikan walang sangit yang tertangkap
- Terdapat interaksi perangkap dan ketinggian perangkap dalam mengendalikan hama walang sangit pada tanaman padi
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah sebagai inventarisasi data dalam penelitian pengendalian walang sangit, sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan dan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg.) Biologi Hama
Menurut Kalshoven (1981), hama walang sangit ini diklasifikasikan sebagai berikut: kingdom : Animalia, filum : Arthropoda, kelas : Insecta, sub kelas : Pterygota, ordo : Hemiptera, famili : Alydidae, genus :Leptocorisa, spesies:
Leptocorisa acuta Thunberg.
Siklus hidup walang sangit lebih kurang 35 – 56 hari dan mampu bertelur 200-300 butir per induk. Kemampuan bertelur yang tinggi ini dapat menyebabkan peningkatan populasi walang sangit dengan cepat di pertanaman padi. Walang sangit bertelur pada permukaan daun bagian atas padi dan rumput- rumputan lainnya secara berkelompok dalam satu sampai dua baris. Telur bewarna hitam, berbentuk segi enam dan pipih. Satu kelompok telur terdiri dari 121 butir dan lama periode telur rata-rata 5,2 hari (Effendi et al, 2010) .
Walang sangit (Laptocarisa acuta) termasuk ke dalam ordo hemiptera secara umum morfologinya tersusun dari antenna, caput, toraks, abdomen, tungkai depan, tungkai belakang, sayap depan dan sayap belakang. Serangga ini memiliki sayap depan yang keras, tebal dan tanpa vena. Sayap belakang bertipe membranus dan terlipat dibawah sayap dengan saat serangga istirahat. Tipe alat mulut yaitu penusuk penghisap dengan kemampuan mandibular berkembang dengan baik dalam bentuk parus yang biasanya beruas, dan ramping yang timbul di bagian depan kepala dan umumnya menjulur ke belakang sepanjang sisi ventral tubuh, kadang-kadang tepat di belakang dasar-dasar tungkai belakang. Bagian yang beruas dari mulut atau proborcis adalah labium yang bertindak sebagai suatu
selubung bagi empat stilet penusuk yaitu dua mandibula dan dua maxilla (Kalshoven, 1981).
Walang sangit mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago. Walang sangit bertelur pada permukaan daun bagian atas padi dan rumput-rumputan lainnya secara kelompok dalam satu sampai dua baris. Telur berbentuk seperti cakram (bulat pipih) berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok.
Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur umumnya dilakukan pada saat padi berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan sampai nimfa pertama muncul (Pratimi, 2011).
Nimfa berukuran lebih kecil dari dewasa dan tidak bersayap. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar. Lama periode nimfa rata-rata 17,1 hari. Pada umumnya nimfa berwarna hijau muda dan menjadi coklat kekuning- kuningan pada bagian abdomen dan sayap coklat saat dewasa. Walaupun demikian warna walang sangit ini lebih ditentukan oleh makanan pada periode nimfa. Nimfa setelah menetas akan bergerak ke malai mencari bulir padi yang masih stadia masak susu, bulir yang sudah keras tidak disukai. Nimpa ini aktif bergerak untuk mencari bulir baru yang cocok sebagai makanannya. Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun (Kartoharjono et al, 2010).
Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm. Serangga dewasa berbentuk ramping dan berwarna coklat,
berukuran panjang sekitar 14-17 mm dan lebar 3-4 mm dengan tungkai dan antenna yang panjang. Perbandingan antara jantan dan betina adalah 1:1. Setelah menjadi imago serangga ini baru dapat kawin Setelah 4-6 hari, dengan masa pra peneluran 8,1 dan daur hidup walang sangit antara 32-43 hari. Lama periode bertelur rata-rata 57 hari (berkisan antara 6-108 hari), sedangkan serangga dapat hidup selama rata-rata 80 hari (antara 16-134 hari) (Siwi et al, 1981).
Imago walang sangit yang hidup pada tanaman padi, bagian ventral abdomennya berwarna coklat kekuning-kuningan dan yang hidup pada rerumputan bagian ventral abdomennya berwarna hijau keputihan. Bertelur pada permukaan daun bagian atas padi dan rumput-rumputan lainnya secara kelompok dalam satu sampai dua baris. Aktif menyerang pada pagi dan sore hari, sedangkan di siang hari berlindung di bawah pohon yang lembab dan dingin. Perkembangan yang baik bagi hama Walang sangit terjadi pada suhu antara 27 – 30 ºC. Walang sangit dewasa mengeluarkan bau yang sangat keras dan khas, biasanya berwarna coklat dan hijau. Mereka hinggap pada malai pada waktu pagi dan sore hari, berada pada pangkal tanaman pada siang hari. Walang sangit dewasa sangat kuat terbang dan dalam jumlah banyak dapat bersama-sama terbang menuju lahan pertanaman lain dengan cepat. Walang sangit dapat berpindah tempat (migrasi) dari rumput- rumputan, gulma, atau dari daerah tumbuh-tumbuhan berkayu yang ada disekitar pertanaman padi (Pracaya, 2009).
Gejala Serangan
Walang sangit merupakan hama utama dari kelompok kepik (Hemiptera) yang merusak tanaman padi di Indonesia. Hama ini merusak dengan cara mengisap bulir padi fase matang susu sehingga bulir menjadi hampa. Serangan
berat dapat menurunkan produksi hingga tidak dapat dipanen. Hama ini juga memiliki kemampuan penyebaran yang tinggi, sehingga mampu berpindah ke pertanaman padi lain yang mulai memasuki fase matang susu, akibatnya sebaran serangan akan semakin luas (Effendi et al, 2010) .
Kerusakan yang hebat disebabkan oleh imago yang menyerang tepat pada masaberbunga, sedangkan nimpa terlihat merusak secara nyata setelah pada instar ketiga dan seterusnya. Tingkat serangan dan menurunnya hasil akibat serangga dewasa lebih besar dibandingkan nimfa. 5 ekor walang sangit pada tiap 9 rumpun tanaman akan merugikan hasil sebesar 15%, sedangkan 10 ekor pada 9 rumpun tanaman akan mengurangi hasil sampai 25%. Kerusakan yang tinggi biasanya terjadi pada tanaman di lahan yang sebelumnya banyak ditumbuhi rumput- rumputan serta pada tanaman yang berbunga paling akhir (Kalshoven, 1981).
Walang sangit menyerang tanaman padi terutama dengan merusak biji padi yang sedang berkembang dengan cara menghisap cairan susu dari biji padi pada waktu fase awal pembentukan biji. Alat pengisapnya ditusukkan di antara dua kulit penutup biji padi ("lemma" dan "palea") dan menghisap cairan susu dari biji yang sedang berkembang. Nimfa lebih aktif daripada imago, tetapi imago dapat merusak lebih hebat karena hidupnya yang lebih lama. Nimfa dan imago mengisap bulir padi pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman (Kartoharjono et al, 2010).
Walang sangit mengisap cairan bulir padi dengan cara menusukkan stiletnya. Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi menjadi mengecil tetapi jarang yang menjadi hampa karena walang sangit tidak dapat mengosongkan
seluruh isi biji yang sedang tumbuh. Jika bulir yang matang susu tidak tersedia, walang sangit juga masih dapat menyerang atau menghisap bulir padi yang mulai mengeras dengan cara mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
Dalam prosesnya walang sangit mengkontaminasi biji dengan mikroorganisme yang dapat mengakibatkan biji berubah warna dan rapuh. Kerusakan dalam fase ini lebih bersifat kualitatif. Pada proses penggilingan, bulir-bulir padi akan rapuh dan mudah patah (Willis, 2001).
Teknik Pengendalian 1. Sanitasi Kebun
Walang sangit mempunyai inang yang cukup banyak berupa tanaman rumput-rumputan. Untuk itu pada lahan-lahan pertanaman padi dan sekitarnya dari sebelum musim tanam sampai selesai panen harus dilakukan pembersihan terhadap tanaman rumput-rumputan, sehingga tidak ada tanaman inang alternatif yang dapat digunakan untuk bertahan hidup sebelum menyerang tanaman padi.
2. Kultur Teknik
Pengendalian ini dilaksanakan dengan mengatur pola tanam padi. Untuk mengendalikan keberadaan walang sangit di lapangan, hendaknya dilakukan penanaman padi secara serentak pada hamparan yang luas. Pada saat padi menjelang musim berbunga, walang sangit akan datang dan berkembang biak satu generasi sebelum pertanaman padi tersebut dipanen. Banyaknya generasi walang sangit dalam satu hamparan pertanaman padi tergantung pada selisih waktu tanam pada hamparan tersebut. Semakin serempak penanaman padi dilakukan semakin sedikit jumlah generasi walang sangit pada hamparan tersebut, dengan demikian
selisih waktu tanam dalam satu hamparan tidak boleh lebih dari 2,5 bulan (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Selain itu dapat pula diberikan tanaman perangkap, berupa tanaman padi yang ditanam dalam pot-pot, yang ditanam beberapa hari sebelum penanaman padi di hamparan yang luas. Tanaman perangkap tersebut akan lebih dulu memasuki masa berbunga dan pengisian bulir padi/gabah (periode masak susu), sehingga walang sangit akan lebih dulu berkunjung dan menyerang tanaman padi dalam pot tersebut.
3. Pengendalian Secara Biologi
Belum banyak diteliti dan dilaporkan bahan-bahan biologi yang sudah dikembangkan efektif dan efisien dalam mengendalikan walang sangit. Namun demikian, untuk mengurangi intensitas serangan walang sangit dapat digunakan Beauviria sp dan Metharizum sp, yang menyerang walang sangit pada stadia nimfa dan dewasa. Pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami berupa laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit (Qomarodin, 2006).
4. Pengendalian Mekanik
Pengendalian mekanik dalam konsep pengendalian hama terpadu (PHT) sangat sederhana tidak memerlukan banyak peralatan yang mahal sehingga relatif murah. Cara pengendalian ini tidak mengakibatkan pengaruh negatif bagi lingkungan apabila dilakukan secara tepat dan terus menerus, pengendalian mekanik mampu menurunkan populasi hama secara nyata seperti dengan memasang perangkap hama yang menyerang tanaman (Rahmawati, 2012).
Taktik pengandalian dengan menggunaan asap sudah seringkali dilakukan oleh petani rawa lebak maupun tadah hujan, hasilnya kurang memuaskan. Tetapi dengan mengganti bahan pengasapan tersebut dengan menggunaan bahan galian batubara menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, karena bahan galian batubara tersebut kalau dibakar dapat bertahan lama dan menimbulkan bau yang menusuk sehingga dapat mempengaruhi aktivitas dari hama walang sangit (Qomarodin, 2006).
5. Pengendalian Dengan Pestisida Nabati
Daun sirsak mengandung senyawa asetogenin antara lain asimisin, bulatasin, dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai antifeedant, namun dalam keadaan konsentrasi rendah bersifat racun perut yang mengakibatkan walang sangit mengalami kematian (Tasirilotik, 2015).
6. Pengendalian Dengan Pestisida Kimia
Pengendalian walang sangit dengan bahan kimia (pestisida) ini dapat di lakukan apabila keberadaan populasi hama sudah sampai pada ambang pengendalian yaitu 6 ekor walang sangit /m2. Pestisida yang di gunakan harus yang terdaftar dan di ijinkan untuk pertanaman padi, di aplikasikan pada saat periode masak susu dan tetap mengacu pada 6 tepat penggunaan pestisida (tepat jenis, dosis/konsentrasi, sasaran, waktu, tempat dan cara aplikasinya) (Kartoharjono et al, 2010).
Perangkap Serangga
Serangga mempunyai sifat-sifat khusus, serangga dapat tertarik oleh warna, bau, suhu dan lainnya. Ketertarikan serangga terhadap bau disebabkan
adanya senyawa yang menguap (gas) dari suatu sumber yang disebut volatil.
Senyawa tersebut keluar dari sumbernya baik dari bahan mati (membusuk) maupun hidup dan terjadi pada suhu kamar. Senyawa volatil mempunyai tekanan uap yang tinggi pada temperatur fisiologis yang menyebabkan pergerakannya cepat dan secara biologis aktif walaupun jumlahnya sedikit (Solikhin, 2000).
Serangga hama dapat diperangkap dengan berbagai jenis alat perangkap yang dibuat sesuai dengan jenis hama dan fase yang akan ditangkap. Alat perangkap diletakkan pada tempat atau bagian tanaman yang sering dilewati oleh hama. Sering juga di beri zat-zat kimia yang dapat menarik, melekatkan, maupun membunuh hama. Bahan organik yang telah membusuk dapat diletakkan di sekeliling pertanaman padi yang maupun menekan populasi hama walang sangityang menyerang tanaman padi (Ulfa, 2006).
Walang sangit tertarik pada bau-bauan yang dikandung tanaman lycopodium sp dan Ceratobium sp. Walang sangit juga tertarik pada bau busuk bangkai terutama bau busuk dari bangkai kepiting/ ketam dan keong mas/ siput murbey. Ketertarikan ini dapat di gunakan sebagai dasar tindakan pengendalian terhadap walang sangit. Pengendalian walang sangit dengan menggunakan perilaku ketertarikannya terhadap bau-bauan tertentu ini dapat dilakukan dengan modifikasi perangkap, artinya dibuat satu alat perangkap khusus seperti botol plastik bekas wadah minuman air mineral yang dilubangi sebagai tempat masuknya walang sangit, diberi umpan berupa berupa bangkai ketam/ kepiting atau keong mas yang diikat menggantung di dalam botol dan di bawahnya di berikan larutan air sabun. Selanjutnya diikat pada tiang bambu dengan jarak 3-5m.
semakin banyak perangkap botol ini dipasang akan semakin banyak walang sangit
yang ditangkap. Perangkap ini dipasang ketika pertanaman pada padi memasuki periode masak susu. Dengan cara ini diharapkan walang sangit akan tertarik pada bau busuk bangkai yang dipasang, untuk selanjutnya masuk ke dalam botol, terperangkap di dalamnya dan jatuh mati di larutan air sabun yang ada di bawah bangkai. Pengendalian dengan cara ini cukup efektif dan murah/ efisien (Solikhin, 2000).
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di lahan padi sawah milik petani di Kelurahan Pematang Marihat, Kecamatan Siantar Marimbun. Varietas yang ditanam adalah varietas IR 64, total luas lahan ± 2800 m2 digunakan untuk penelitian 803,52 m2,
Bahan dan Alat
dengan ketinggian tempat ± 400 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli 2017 sampai dengan Oktober 2017, di lapangan kemudian komposisi serangga dan walang sangit pada tanaman padi diidentifikasi.
Bahan yang digunakan adalah tanaman padi (Oryza sativa L.) sebagai tanaman percobaan, kertas kuning dan hijau sebagai perangkap warna, daging keong mas dan daging kodok sebagai perangkap aroma, lem, label sebagai penanda, buku identifikasi dan bahan pendukung lainnya.
Alat yang digunakan adalah botol bekas air mineral sebagai wadah perangkap, kawat, pinset, plastik bening, bambu, tali, pisau, meteran, buku data, alat tulis dan alat pendukung lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu :
- Faktor I: Perangkap (P) P1 : Perangkap warna kuning P2 : Perangkap warna hijau
P3 : Perangkap aroma bangkai keong mas
P4: Perangkap aroma bangkai kodok - Faktor II: Tinggi Perangkap (T)
T1 : Perangkap dengan ketinggian sejajar bulir padi
T2 : Perangkap dengan ketinggian 20 cm di atas bulir tanaman padi T3 : Perangkap dengan ketinggian 40 cm di atas bulir tanaman padi.
Bagan penelitian:
U1 U2 U3
P4T3 P1T3 P2T3
P3T3 P3T2 P4T2
P1T3 P2T1 P3T2
P1T2 P4T2 P4T3
P2T1 P1T1 P1T2
P4T1 P3T3 P1T3
P3T1 P3T1 P2T1
P3T2 P2T3 P3T3
P2T3 P2T2 P4T1
P4T2 P4T1 P1T1
P2T2 P4T3 P3T1
P1T1 P1T2 P2T2
Hasil ulangan diperoleh dari rumus sebagai berikut : (t - 1) (r - 1) ≥ 15
(12 - 1) (r- 1) ≥ 15 r - 1) ≥ 15
11 (r - 1) ≥ 15 11r – 11 ≥ 15 11r ≥ 26 r ≥ 26/11 r ≥ 2,363 r= 3
Metode linier yang dipakai:
Yijk = μ + αi + βj + (αβ) ij +ρk + εijk
Yij = Pengamatan pada satuan percobaan ke-i yang memperoleh kombinasi perlakuan taraf ke j dari faktor A dan taraf ke-k dari faktor B
μ = Mean populasi
αi = Pengaruh taraf ke-i dari faktor A βj = Pengaruh taraf ke-j dari faktor B
(αβ) ij = Pengaruh taraf ke-i dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B
εijk = Pengaruh acak dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij.
Ulangan dilakukan sebanyak tiga kali. Maka hasil komnbinasi diperoleh sebanyak 36 unit percobaan. Selanjutnya data di analisa dengan sidik ragam pada setiap parameter.
Pelaksanaan Penelitian Lahan Percobaan
Penelitian dilaksanakan dari melakukan survei dengan mengamati daerah persawahan padi milik petani. Varietas padi pada areal percobaan adalah IR 64.
Luas lahan padi sebesar ± 2800 m2 digunakan sebagai bahan penelitian sebesar 803,52 m2
Perakitan Perangkap .
Perangkap warna yang digunakan adalah perangkap warna kuning dan hijau. Kertas perangkap dibungkus dengan plastik transparan dan diberi lem sebagai perekat walang sangit dan serangga lain yang terperangkap, kemudian diberi sedikit lubang untuk tali sebagai pengait antara perangkap warna dengan pacak yang akan digunakan sesuai ukurannya masing-masing.
Keong mas dan kodok diambil dan ditimbang sebanyak 125 gram, kemudian dibungkus dengan kantong plastik dan di pendam dalam tanah selama 2 hari hingga menjadi bangkai. Botol mineral ukuran 1 liter dipotong bagian ujung dan bagian bawah secukupnya. Ujung botol disatukan kemudian dilem. Bangkai di masukkan ke dalam botol yang sudah disatukan. Sebagai pintu masuk perangkap, tutup botol dibalik kemudian dimasukkan ke dalam botol dengan posisi tutup botol mengarah ke dalam. Perangkap siap dikaitkan dengan pacak.
Perangkap bangkai dipasang di tengah-tengah petak percobaan dengan patok- patok bambu yang tingginya sejajar dengan bulir padi, 20 cm di atas tanaman padi, dan 40 cm di atas tanaman padi. Perangkap aroma daging kodok dan daging keong diganti setiap 10 hari sekali.
Pemasangan Perangkap
Perangkap dipasang sesuai perlakuan diantara tanaman padi dan dipasang secara acak pada areal pertanaman dengan jumlah 36 buah perangkap.
Peubah Amatan
1. Jumlah Walang Sangit (Leptocorisa acuta) yang Tertangkap
Menghitung jumlah populasi imago walang sangit (L. acuta) yang tertangkap pada masing-masing perlakuan dimana kombinasi perlakuan perangkap P1 (perangkap warna kuning), P2 (perangkap warna hijau), P3 (perangkap aroma daging keong mas), P4 (perangkap aroma daging kodok) dengan ketinggian T1 (sejajar bulir tanaman padi), T2 (20 cm di atas bulir tanaman padi), T3 (40 cm di atas bulir tanaman padi).
2. Serangga lain yang terperangkap
Menghitung dan mengidentifikasi serangga lain yang terperangkap pada perangkap yang telah dipasang pada lahan pengamatan.
Analisis Data
Data pengamatan yang diperoleh dari percobaan dianalisis dengan menggunakan SPSS untuk :
1. Uji Duncan
2. Uji korelasi antara Populasi walang sangit terhadap serangga lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh tipe dan ketinggian perangkap terhadap jumlah Walang sangit yang terperangkap
Berdasarkan hasil sidik ragam jumlah imago walang sangit yang terperangkap pada setiap perlakuan tipe yakni perangkap warna kuning, perangkap warna hijau, perangkap aroma bangkai keong dan perangkap aroma bangkai kodok menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata, sedangkan ketinggian perangkap dan interaksi antara tipe dan ketinggian perangkap tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap jumlah walang sangit yang tertangkap. Pengaruh tipe dan ketinggian terhadap jumlah walang sangit yang tertangkap dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh tipe dan ketinggian perangkap terhadap jumlah walang sangit yang terperangkap (ekor)
Tipe Tinggi Rataan
T1 T2 T3
P1 3,66e 7,66e 4e 5,11c
P2 2,33e 6,33e 6,33e 5
P3
c
30bcd 33,66b 50,66a 38,11
P4
a
26,66 17cde 16cde 19,88
Rataan
b
15,66 16,16 19,25
Berdasarkan hasil pengamatan selama enam kali, pada perlakuan tipe diperoleh hasil bahwa rataan jumlah imago walang sangit yang terperangkap tertinggi yaitu perlakuan P3 (tipe perangkap aroma bangkai keong) dengan nilai rataan sebesar 38,11 ekor. Hasil ini menunjukkan bahwa pada tipe perangkap aroma bangkai keong menangkap lebih banyak hama karena salah satu sifat walang sangit adalah memiliki keterterikan terhadap aroma bau busuk yang berada disekitarnya (Sihombing dan Samino, 2015), bau yang dikeluarkan oleh
bangkai keong sangat menyengat, sehingga walang sangit lebih tertarik. Hal ini juga didukung oleh Solikhin (2000) bahwa walang sangit sangat tertarik dengan bau bangkai sehingga walang sangit lebih memilih bau bangkai keong dan hal ini menunjukkan hasil yang tertinggi pada saat pengambilan sampel di kelurahan Pematang Marihat.
Meningkatnya kehadiran walang sangit dari hari pertama sampai keenam juga disebabkan oleh semakin intensifnya pembusukan bangkai hal ini didukung oleh Solikhin (2000) yang menyatakan bahwa bangkai keong yang semakin membusuk menghasilkan senyawa volatil (gas) yang semakin banyak jumlah atau macamnya sehingga hal ini diduga semakin menarik walang sangit. Pada pengamatan ini walang sangit tinggi juga didukung oleh Reissig et al (1985) karena kondisi penanaman yang tidak serempak, dan di sekitar lahan banyak terdapat tanaman gulma yang menjadi inang walang sangit seperti Paspalum conjugatum, Cyperus rotundus, Imperata cylindrica dan lain-lain .
Tipe perangkap P4 menggunakan perangkap aroma bangkai kodok dengan mengeluarkan bau melalui wadah botol bekas air mineral ukuran 1 liter sehingga menyebabkan walang sangit juga lebih banyak terperangkap dibandingkan perangkap warna yakni dengan rataan 19,88 ekor walang sangit.
Ketertarikan walang sangit terhadap aroma bangkai kodok juga diduga karena adanya senyawa volatil yang keluar dari aroma bangkai tersebut dan hal ini didukung oleh Nihayatih (2004) yang menyatakan bahwa ketertarikan serangga terhadap bau disebabkan oleh adanya senyawa volatil, yang keluar dari bahan yang mati (membusuk). Senyawa volatil dapat kontak bau dengan organisme baik
dalam fase gas maupun cair serta mampu menginduksi aktivitas biologis walaupun berada pada jarak yang jauh dari sumbernya.
Pada perlakuan P1 (perangkap warna kuning) dan P2 (perangkap warna hijau) menunjukkan hasil yang paling rendah apabila dibandingkan dengan perangkap aroma bangkai yakni masing-masing terdiri dari 5,11 dan 5 ekor.
Menurut Ulfa (2006) serangga juga memiliki ketertarikan dengan warna namun ternyata apabila dikombinasikan dengan perangkap aroma di suatu areal pertanaman padi, serangga jenis walang sangit masih lebih tertarik dengan perangkap aroma bangkai.
Pada perlakuan ketinggian, perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan T3 (Perangkap dengan ketinggian 40 cm di atas bulir tanaman padi) dengan rataan jumlah walang sangit yang tertangkap dari awal hingga akhir pengamatan sebesar 19,25 ekor. Walang sangit dapat tertangkap pada pemasangan perangkap mulai dari ketinggian sejajar bulir tanaman padi sampai dengan ketinggian 40 cm diduga karena walang sangit merupakan hama yang tidak dapat terbang jauh dan lebih suka hinggap pada daerah yang menjadi sumber makanan, sehingga ketinggian tersebut cukup efektif untuk pemasangan perangkap walang sangit. Menurut Yunianti (2016) hama walang sangit terbang ke arah sumber makanan yakni hanya akan terbang dari bulir tanaman padi ke bulir tanaman padi berikutnya, oleh karena itu walang sangit tidak akan terbang jauh dari bulir tanaman padi.
Interaksi antara perlakuan tipe dan ketinggian perangkap menunjukkaan bahwa pada perlakuan P3T3 (aroma keong, ketinggian 40 cm di atas bulir padi) memperoleh jumlah walang sangit lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah interaksi yang lainnya dengan hasil rataan adalah sebesar 50,66 ekor. Pemasangan
alat perangkap di lapangan menunjukkan bahwa untuk pengujian tipe alat perangkap botol air mineral dengan lubang horizontal dan ketinggian 40 cm diatas bulir padi efektif dan dapat menangkap hama walang sangit paling banyak.
Pengaruh tipe dan ketinggian perangkap terhadap serangga lain yang terperangkap
Tabel 2. Pengaruh tipe dan ketinggian terhadap jumlah serangga lain yang terperangkap (ekor)
Berdasarkan hasil sidik ragam jumlah serangga lain yang terperangkap pada setiap perlakuan tipe perangkap menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata, sedangkan pada uji ketinggian dan interaksi tipe dan ketinggian menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pengaruh tipe dan ketinggian terhadap serangga lain yang terperangkap dapat dilihat pada tabel 2.
Tipe Tinggi Rataan
T1 T2 T3 Rataan
P1 247,33a 209,33abc 172,66bcd 209,77 a
P2 217,33ab 113,33de 82,33e 137,66
P3
b
0,00e 0,00e 0,00e 0,00
P4
c
0,00e 0,00e 0,00e 0,00
Rataan
c
116,167 80,6667 63,75
Pengamatan selama 6 kali setelah pemasangan perangkap menujukkan bahwa rataan jumlah populasi jenis serangga lain yang tertinggi terdapat pada rataan perlakuan P1T1 (yellow trap dengan ketinggian sejajar bulir tanaman padi) yaitu sebesar 247,33 ekor dan jumlah populasi terendah adalah perlakuan aroma kodok dan keong yaitu 0 ekor. Serangga yang tertarik pada perangkap kuning biasanya adalah serangga diurnal (aktif pada siang hari) hal ini didukung oleh pernyataan Nihayatih (2004) sehingga perangkap kuning merupakan paling banyak menangkap serangga lain. Hal ini juga didukung dari aspek teknis dan dari
sesuai dengan ketinggian yang sudah ditentukan sementara serangga yang memiliki perilaku terbang cepat dan arah lurus akan menabrak perangkap dan merekat ke perangkap oleh lem yang sudah di pasang pada perangkap kuning.
Pada penelitian ini perangkap hijau (P2T1) menjadi tipe perangkap kedua yang paling banyak menangkap serangga selain walang sangit dengan rata-rata 217,33 ekor. Menurut Jumar (2000), perangkap ini merangsang serangga untuk berkumpul dan hinggap pada perangkap sehingga serangga yang terperangkap tidak dapat terbang dan akan mati. Perangkap kuning dan hijau yang banyak menangkap serangga lain berbeda dengan perangkap aroma bangkai yang sama sekali tidak menangkap serangga lain kecuali walang sangit. Hal ini di duga karena tipe perangkap aroma bangkai kodok dan keong hanya di pasang dengan botol yang diletak vertikal serta memiliki lubang untuk masuk serangga yang kecil sesuai tutup botol sehingga kurang efektif untuk menangkap serangga lain.
Hasil yang diperoleh pada pengamatan serangga lain yang terperangkap yaitu 9 ordo dan 38 famili yang teridentifikasi. Jumlah individu yang tertinggi yaitu ordo Homoptera sebesar 1258 individu dan terendah yaitu ordo Orthoptera yaitu 11 individu. Jumlah famili tertinggi yaitu ordo Diptera sebesar 10 famili yaitu Sciaridae, Culicidae, Muscidae, Chironomidae, Pipunculidae, Tipulidae, Sarcophagidae, Tachinidae, Ephrydae, dan Cecidomyiidae. Sementara ordo lainnya yaitu Araneae, Coleoptera, Lepidoptera, Hemiptera, Hymenoptera, dan Odonata. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah serangga lain yang terperangkap (ekor)
Ordo/Famili Pengamatan Total Rataan
I II III IV V VI
Araneae
Tetragnathidae 30 60 49 26 23 8 196 32,66
Thomisidae 0 12 0 3 0 1 16 2,66
Lycosidae 24 14 4 0 0 0 42 7
Total 54 86 53 29 23 9 254 42,33
Coleoptera
Tenebrionidae 5 2 20 7 3 5 42 7
Salpingidae 4 1 3 6 1 1 16 2,66
Coccinellidae 106 140 33 4 11 5 299 49,83
Staphylinidae 9 5 4 1 8 0 27 4,50
Carabidae 1 5 6 10 3 11 36 6
Total 125 153 66 28 26 22 420 70
Diptera
Sciaridae 0 0 0 0 21 0 21 3,5
Tipulidae 2 0 1 0 41 32 76 12,66
Cucilidae 0 8 0 89 33 66 196 32,66
Chironomidae 0 0 0 0 20 11 31 5,166
Pipunculidae 0 0 1 3 0 1 5 0,83
Muscidae 4 35 13 17 24 13 106 17,66
Sarcophagidae 1 0 1 11 15 10 38 6,33
Ephrydae 0 1 4 0 0 2 7 1,16
Tachinidae 0 0 3 0 1 1 5 0,83
Cecidomyiidae 0 0 1 0 1 1 3 0,5
Total 7 44 24 120 156 137 488 81,33
Lepidoptera
Hesperiidae 0 0 1 5 3 0 9 1,5
Pyralidae 94 98 13 10 13 15 243 40,5
Nymphalidae 8 5 2 0 1 0 16 2,66
Noctuidae 2 0 0 0 0 0 2 0,33
Total 104 103 16 15 17 15 270 45
Hemiptera
Pentatomidae 14 19 12 2 1 3 51 8,5
Miridae 1 0 0 0 0 0 1 0,16
Gerridae 0 0 1 0 0 0 1 0,16
Total 15 19 13 2 1 3 53 8,83 Homoptera
Cicadellidae 0 284 175 293 422 66 1240 206,66
Delphacidae 0 9 7 0 1 1 18 3
Total 0 293 182 293 423 67 1258 209,66
Hymenoptera
Elasmidae 0 3 0 1 2 0 6 1
Pteromalidae 0 0 1 0 0 0 1 0,16
Formicidae 0 2 4 1 0 1 8 1,33
Scelionidae 17 13 22 2 12 7 73 12,16
Ichneumonidae 0 14 27 19 20 2 82 13,66
Braconidae 0 80 5 10 0 1 96 16
Apididae 1 0 1 0 0 0 2 0,33
Total 18 112 60 33 34 11 268 44,66
Orthoptera
Acrididae 2 4 2 0 1 1 10 1,83
Tettigoniidae 0 0 0 1 0 0 1 0,16
Total 2 5 2 1 1 1 11 5,5
Odonata
Libellulidae 2 0 0 4 0 1 7 1,16
Coenagrionidae 0 1 4 0 0 0 5 0,83
Total 2 1 4 4 0 1 12 2
Berdasarkan hasil penelitian keanekaragaman serangga lain diperoleh dari pengamatan, Homoptera famili cicadellidae sebanyak 1240 ekor dengan rataan 206,66. Hal ini sesuai dengan penelitian Hamid dan Herry (2009) yang menyatakan bahwa populasi famili cicadellidae yang tinggi disebabkan oleh kesesuain habitat ditinjau dari segi curah hujan dan ketersediaan sumber makanan.
Beberapa famili cicadellidae merupakan serangga herbivora yang dapt menjadi hama bagi tanaman padi serta gulma disekitarnya (Aminatun dkk, 2011), juga merupakan serangga vektor virus yang penting pada pertanaman padi karena
dapat menjadi vektor virus tungro bagi tanaman padi (Departemen Pertanian Bagian Proyek Informasi Pertanian Irian Jaya, 1986)
Korelasi Jumlah walang sangit dan serangga lain
Tabel 4. Hubungan jumlah walang sangit dan serangga lain yang terperangkap Walang sangit Serangga lain
Walang sangit Pearson Correlation 1 -.760**
Sig. (2-tailed) .004
N 12 12
Serangga lain Pearson Correlation -.760** 1
Sig. (2-tailed) .004
N 12 12
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Hasil penelitian antara populasi walang sangit dan serangga lain berpengaruh signifikan yaitu dengan nilai signifikansi 0,004 dan uji Pearson Correlation sebesar -0,760**. Jumlah walang sangit yang terperangkap memiliki hubungan dengan populasi serangga lain . Hubungan walang sangit dengan serangga lain dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa jumlah walang sangit yang rendah sejalan dengan jumlah serangga lain yang tinggi, artinya semakin tinggi populasi serangga lain maka semakin tinggi persaingan walang sangit dalam mendapatkan sumber makanan, sehingga populasi walang sangit lebih rendah apabila dbanding dengan populasi serangga lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan populasi walang sangit adalah ketersediaan makanan, lingkungan dan teknik budidaya padi. Kebiasaan hama khususnya serangga selalu mencari dan berkumpul pada suatu tempat yang memiliki ketersediaan makanan yang cukup. Faktor lingkungan juga mempengaruhi aktivitas serangga seperti
suhu, kelembapan dan cahaya hal ini didukung oleh pernyataan Nofiardi et al (2016).
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Tipe perangkap berpengaruh nyata terhadap jumlah walang sangit yang terperangkap. Tipe perangkap yang terbaik adalah perangkap aroma bangkai keong mas dengan rataan 38,11 ekor .
2. Perbedaan ketinggian perangkap tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah populasi walang sangit yang terperangkap, ketinggian terbaik adalah ketinggian perangkap 40 cm di atas bulir dengan rataan 19,25 ekor.
3. Interaksi tipe perangkap dan ketinggian perangkap tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah walang sangit yang terperangkap. Perangkap aroma bangkai keong mas dengan ketinggian 40 cm di atas bulir tanaman padi adalah interaksi yang tebaik untuk mengendalikan walang sangit yakni dengan rataan 50,66 ekor.
4. Ada korelasi antara populasi walang sangit dengan serangga lain yaitu dengan nilai signifikansi 0,004 dan uji Pearson Correlation sebesar -0,76 Saran
.
Perlu dilakukan penyuluhan kepada petani padi untuk meningkatkan pemeliharaan tanaman padi serta penggunaan perangkap aroma bangkai dan ketinggian perangkap 40 cm di atas bulir tanaman padi di daerah Pematang Marihat Kelurahan Siantar Marimbun untuk mengurangi resiko serangan hama Walang Sangit.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2009. Hama Walang Sangit (Leptocorisa oratorius). Diakses dari http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/ pada tanggal 23 Mei 2017, Medan.
Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP). 2015.
http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/10100/pengendalian -hamautama-tanam-padi.[23Mei2017]
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, 2014. Produksi Padi Dan Palawija Sumatera Utara (Angka Tetap Tahun 2013). Provinsi Sumatera Utara.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, 2015. Produksi Padi Dan Palawija Sumatera Utara (Angka Tetap Tahun 2014). Provinsi Sumatera Utara.
Budiwati T., A. Budiyono., W. Setyawati., A. Indrawati. 2010. Analisis Korelasi Pearson untuk Unsur-Unsur Kimia Air Hujan di Bandung. Peneliti Bidang Pengkajian Ozon dan Polusi Atmosfer- Pusfatsatklim, Lapan.
Jurnal Sains Dirgantara. 7 (2): 100-112.
Effendi T.A., R. Septiadi, A. Salim dan A. Mazid. 2010. Entomopathogenic fungi from the lowland soil of south Sumatera Selatan and their potential as biocontrol agents of stink bugs (Leptocorisa oratorius (F).J HPT Tropika, 10 (2): 161p.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven. 1981. The Pests of Crops in Indonesia.Jakarta. 701p.
Kartoharhardjono A., Kertoseputro, D., dan Suryana, T. 2010. Hama Padi Potensial dan Pengendaliannya. Balai Besar Penelitian Padi. 440p.
Nofiardi E., Sarbino., Rianto, F. 2016. FFluktuasi Populasi dan Keparahan Serangan Walang Sangit (Leptocorisa acuta) pada Tanaman Padi di Desa Sejiram Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Tanjung Pura.
Pracaya. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Secara Organik.
Kanisius. Yogyakarta.
Pracaya. 2009. Hama dan Penyakit Tanaman. Edisi revisi.Swadaya. Jakarta. 428p Pramesti G. 2013. Smart Olah Data Penelitian dengan SPSS 21. Penerbit PT. Elex
Media Komputindo Kompas Gramedia. Surakarta.
Pratimi, A. 2011. Fluktuasi population walang sangit Leptocorisa oratoriusF.
(Hemiptera: Alydidae) pada komunitas padi di Dusun Kepitu, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 52p.
Qomarodin. 2006. Pengendalian Walang Sangit (Leptocorisa oratonus F.) Ramah Lingkungan di Tingkat Petani di Lahan Rawa Lebak. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian, BPP Lahan Rawa. Kalimantan Selatan.
Rahmawati R. 2012. Cepat dan Tepat Berantas Hama dan Penyakit Tanaman.
Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Sianipar, M.S., Djaya, L., Santosa, E., Soesilohadi, R.C.H., Natawigena, W.D., Bangun, M.P. 2015. Indeks Keragaman Serangga Hama Pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.) di Lahan Persawahan Padi Dataran Tinggi Desa Sukawering, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, BIOMA. 17(1):
9-15.
Siregar A.Z. 2007. Hama-Hama Tanaman Padi. Staff Pengajar Departemen Hama Penyakit Tanaman. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Siregar, A. Z., Tobing, M. C., Pinde., Lumongga. 2013. Pengendalian Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) danTriboliumcastaneum (Coleoptera:
Tenebrionidae) dengan Beberapa Serbuk Biji sebagai Insektisida Botani Ramah Lingkungan
Siregar, A. Z., dan Matondang, I. R. 2017. Biodiversity Insects Used Three Traps Of Upland Rice Fields In Simalungun District. International Journal Of Scientific & Technology Research Volume 6, Issue 02, February 2017.
Siwi, S.S., Yassin, A., and Sukarna. 1981. Slender rice bugs and its ecology and economic threshold. Syiposium on Pest Ecology andpest Managemen, Bogor Nov 30-Dec 2 1981.274p.
Solikhin. 2000. Ketertarikan Walang Sangit (Leptocoriza oratorius F.) Terhadap Beberapa Bahan Organik Yang Membusuk. J.Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 1(1): 16-24.
Syahri dan R.U. Somantri. 2013. Respon Pertumbuhan Tanaman Padi Terhadap Rekomendasi Pemupukan PUTS dan KATAM Hasil Litbang Pertanian di Lahan Rawa Lebak Sumatera Selatan. J.Lahan Suboptimal. 2(2): 170- 180.
Tabassum, K. A., and Shahina, F. 2004. In Vitro Mass Rearing of Different Species of Entomopathogenic Nematodes In Monoxenic Solid Culture.
National Nematological Research Centre University of Karachi, Pakistan:298-299
Tasirilotik, F.C.E.N. 2015. UjiEfektivitas Ekstrak Daun Sirsak (Anona muricata L.) Sebagai Bahan Pestisida Organik Terhadap Mortalitas Hama Walang Sangit. Yogyakarta.
Ulfa, M. 2006. Ekstrak Bangkai Kodok Sebagai Perangkap Hama Walangsangit (Leptocorisa acuta Thunb.). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Jember, Jember.
Willis, M. 2001. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut.
Monograf . Badan Litbang Pertanian. Balittra. Banjarharu.
Yunianti, L. 2016. Uji Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle) sebagai Insektisida Alami Terhadap Mortalitas Walang Sangit (Leptocorisa acuta). Karya Ilmiah. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan I
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 0 0 1 1 0,33
P1T2 3 2 1 6 2
P1T3 0 2 1 3 1
P2T1 1 0 0 1 0,33
P2T2 0 1 0 1 0,33
P2T3 2 0 0 2 0,66
P3T1 2 3 10 15 5
P3T2 1 6 12 19 6,33
P3T3 5 3 4 12 4
P4T1 2 9 4 15 5
P4T2 2 3 1 6 2
P4T3 6 5 10 21 7
Total 24 34 44 102 34
Rataan 2,00 2,83 3,67 8,50 2,83
Lampiran 2. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan II
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 0 1 6 7 2,33
P1T2 1 2 1 4 1,33
P1T3 1 1 4 6 2
P2T1 0 0 1 1 0,33
P2T2 1 2 4 7 2,33
P2T3 0 2 1 3 1
P3T1 6 12 14 32 10,67
P3T2 3 10 26 39 13
P3T3 17 5 30 52 17,33
P4T1 1 15 9 25 8,33
P4T2 5 8 5 18 6
P4T3 2 7 0 9 3
Total 37 65 101 203 67,67
Rataan 3,08 5,42 8,42 16,92 5,64
Lampiran 3. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan III
Perlakuan Ulangan
Total Rataan I II III
P1T1 0 1 0 1 0,33
P1T2 1 0 4 5 1,67
P1T3 0 0 2 2 0,67
P2T1 0 0 1 1 0,33
P2T2 0 1 0 1 0,33
P2T3 0 5 3 8 2,67
P3T1 9 0 15 24 8
P3T2 14 1 3 18 6
P3T3 3 33 14 50 16,67
P4T1 11 8 5 24 8
P4T2 0 4 7 11 3,67
P4T3 0 1 2 3 1
Total 38 54 56 148 49,33
Rataan 3,17 4,50 4,67 12,33 4,11
Lampiran 4. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan IV
Perlakuan Ulangan Total Rataan I II III
P1T1 0 0 0 0 0
P1T2 0 0 0 0 0
P1T3 0 0 0 0 0
P2T1 0 2 0 2 0,67
P2T2 0 0 2 2 0,67
P2T3 2 0 0 2 0,67
P3T1 1 1 4 6 2
P3T2 1 4 0 5 1,67
P3T3 5 1 16 22 7,33
P4T1 2 1 5 8 2,67
P4T2 3 1 3 7 2,33
P4T3 2 1 4 7 2,33
Total 16 11 34 61 20,33
Rataan 1,33 0,92 2,83 5,08 1,69
Lampiran 5. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan V
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 0 1 0 1 0,33
P1T2 3 1 1 5 1,67
P1T3 0 0 1 1 0,33
P2T1 1 0 0 1 0,33
P2T2 1 4 0 5 1,67
P2T3 0 2 0 2 0,67
P3T1 2 3 3 8 2,67
P3T2 5 5 5 15 5
P3T3 4 1 1 6 2
P4T1 5 0 0 5 1,67
P4T2 2 1 2 5 1,67
P4T3 1 1 2 4 1,33
Total 24 19 15 58 19,33
Rataan 2,00 1,58 1,25 4,83 1,61
Lampiran 6. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pengamatan VI
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 0 0 1 1 0,33
P1T2 0 2 1 3 1
P1T3 0 0 0 0 0
P2T1 0 1 0 1 0,33
P2T2 0 3 0 3 1
P2T3 2 0 0 2 0,67
P3T1 2 0 3 5 1,67
P3T2 0 2 3 5 1,67
P3T3 1 3 6 10 3,33
P4T1 1 1 1 3 1
P4T2 1 2 1 4 1,33
P4T3 2 0 2 4 1,33
Total 9 14 18 41 13,67
Rataan 0,75 1,17 1,50 3,42 1,14
Lampiran 7. Rata-rata pangamatan jumlah Walang sangit yang terperangkap
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 0 3 8 11 3,67
P1T2 8 7 8 23 7,67
P1T3 1 3 8 12 4
P2T1 2 3 2 7 2,33
P2T2 2 11 6 19 6,33
P2T3 6 9 4 19 6,33
P3T1 22 19 49 90 30
P3T2 24 28 49 101 33,67
P3T3 35 46 71 152 50,67
P4T1 22 34 24 80 26,67
P4T2 13 19 19 51 17
P4T3 13 15 20 48 16
Total 148 197 268 613 204,33
Rataan 12,33 16,42 22,33 51,08 17,03
Lampiran 8. Total pengamatan walang sangit perminggu
Perlakuan Pengamatan Total Rataan
M1 M2 M3 M4 M5 M6
P1T1 1 7 1 0 1 1 11 3,66
P1T2 6 4 5 0 5 3 23 7,66
P1T3 3 6 2 0 1 0 12 4
P2T1 1 1 1 2 1 1 7 2,33
P2T2 1 7 1 2 5 3 19 6,33
P2T3 2 3 8 2 2 2 19 6,33
P3T1 15 32 24 6 8 5 90 30
P3T2 19 39 18 5 15 5 101 33,66
P3T3 12 52 50 22 6 10 152 50,66
P4T1 15 25 24 8 5 3 80 26,66
P4T2 6 18 11 7 5 4 51 17
P4T3 21 9 3 7 4 4 48 16
Total 102 203 148 61 58 41 613 204,29
Rataan 8,5 16,92 12,33 5,08 4,83 3,42 51,08 17,02
Dwikasta Total
Perlakuan T1 T2 T3 Total
P1 11 23 12 46
P2 7 19 19 45
P3 90 101 152 343
P4 80 51 48 179
Total 188 194 231
Analisis Sidik Ragam
SK Db JK KT FH F0,05 F0,01
Blok 2 606,72 303,36 5,44 tn 3,44 5,71
Perlakuan 11 7653,64 695,78 12,47 2,25 3,18 Tipe (P) 3 6654,31 2218,1 39,78 ** 3,04 4,81 Tinggi
(T) 2 90,38 45,19 0,81 tn 3,44 5,71
P*T 6 908,94 151,49 2,71 tn 2,54 3,75
Galat 22 1226,61 55,75 Total 35 9486,97
KK 0,43851
Lampiran 9. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan I
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 20 27 13 60 20
P1T2 24 9 18 51 17
P1T3 24 17 10 51 17
P2T1 48 36 11 95 31,67
P2T2 19 9 8 36 12
P2T3 7 40 4 51 17
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 142 138 64 344 114,67
Rataan 11,83 11,50 5,33 28,67 9,56
Lampiran 10. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan II
Perlakuan Ulangan total Rataan I II III
P1T1 65 110 23 198 66
P1T2 48 17 69 134 44,67
P1T3 39 28 34 101 33,67
P2T1 93 74 51 218 72,67
P2T2 54 13 29 96 32
P2T3 12 10 16 38 12,67
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 311 252 222 785 261,67
Rataan 25,92 21,00 18,50 65,42 21,81
Lampiran 11. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan III
Perlakuan Ulangan Total Rataan I II III
P1T1 38 55 25 118 39,33
P1T2 29 29 34 92 30,67
P1T3 33 29 38 100 33,33
P2T1 19 12 12 43 14,33
P2T2 14 11 16 41 13,67
P2T3 7 13 10 30 10
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 140 149 135 424 141,33
Rataan 11,67 12,42 11,25 35,33 11,78
Lampiran 12. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan IV
Perlakuan Ulangan Total Rataan I II III
P1T1 10 73 37 120 40
P1T2 24 39 58 121 40,33
P1T3 44 32 20 96 32
P2T1 32 32 35 99 33
P2T2 13 30 11 54 18
P2T3 11 12 7 30 10
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 134 218 168 520 173,33
Rataan 11,17 18,17 14,00 43,33 14,44
Lampiran 13. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan V
Perlakuan Ulangan Total Rataan I II III
P1T1 50 72 45 167 55,67
P1T2 51 30 90 171 57
P1T3 56 37 22 115 38,33
P2T1 63 42 56 161 53,67
P2T2 19 36 26 81 27
P2T3 28 17 11 56 18,67
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 267 234 250 751 250,33
Rataan 22,25 19,50 20,83 62,58 20,86
Lampiran 14. Jumlah serangga lain yang terperangkap pengamatan VI
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 23 37 19 79 26,33
P1T2 27 15 17 59 19,67
P1T3 10 24 21 55 18,33
P2T1 12 10 14 36 12
P2T2 10 11 11 32 10,67
P2T3 17 13 12 42 14
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 99 110 94 303 101
Rataan 8,25 9,17 7,83 25,25 8,42
Lampiran 15. Rata-rata pengamatan jumlah serangga lain yang terperangkap Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1T1 206 374 162 742 247,33
P1T2 203 139 286 628 209,33
P1T3 206 167 145 518 172,67
P2T1 267 206 179 652 217,33
P2T2 129 110 101 340 113,33
P2T3 82 105 60 247 82,333
P3T1 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0
Total 1093 1101 933 3127 1042,33
Rataan 91,08333 91,75 77,75 260,5833 86,86
Lampiran 16. Total pengamatan serangga lain perminggu
Perlakuan Pengamatan Total Rataan
M1 M2 M3 M4 M5 M6
P1T1 60 198 118 120 167 79 742 123,66
P1T2 51 134 92 121 171 59 628 104,66
P1T3 51 101 100 96 115 55 518 86,33
P2T1 95 218 43 99 161 36 652 108,66
P2T2 36 96 41 54 81 32 340 56,66
P2T3 51 38 30 30 56 42 247 41,166
P3T1 0 0 0 0 0 0 0 0
P3T2 0 0 0 0 0 0 0 0
P3T3 0 0 0 0 0 0 0 0
P4T1 0 0 0 0 0 0 0 0
P4T2 0 0 0 0 0 0 0 0
P4T3 0 0 0 0 0 0 0 0
Total 344 785 424 520 751 303 3127 521,16
Rataan 28,66 65,41 35,33 43,33 62,58 25,25 260,58 43,43
Dwikasta Total
Perlakuan T1 T2 T3 Total
P1 742 628 518 1888
P2 652 340 247 1239
P3 0 0 0 0
P4 0 0 0 0
Total 1394 968 765
Analisis Sidik Ragam
SK Db JK KT FH F0,05 F0,01
Blok 2 1496,89 748,44 0,39 tn 3,44 5,71
Perlakuan 11 333380 30307,3 15,95 2,25 3,18
Tipe (P) 3 295015 98338,3 51,76 ** 3,04 4,81 Tinggi (T) 2 17175,7 8587,86 4,52 tn 3,44 5,71
P*T 6 21189,8 3531,64 1,85 tn 2,54 3,75
Galat 22 41797,1 1899,87
Total 35 376674
KK 0,50181
Lampiran 17. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada Yellow trap Ordo/Famili/Spesies
Penangkapan
Total Rata- Rata 1 2 3 4 5 6
Coleoptera Coccinellidae
Verania lineate 41 79 22 4 5 2 153 25.5
Chilocorussp 6 1 0 0 0 1 8 1.3
Carabidae
Ophionea nigrofasciata 0 4 5 3 2 1 15 2.5 Tenebrionidae
Tenebrio sp 1 1 9 4 2 1 18 3
Salpingidae 4 0 1 3 0 0 8 1.3
Staphylinidae
Paedorus fuscipes 8 5 0 0 5 0 18 3
Total individu 220
Araneae Tetragnathidae
Tetragnatha sp 22 33 24 17 14 3 113 18.8 Thomisidae
Thomisius sp 0 8 0 1 0 0 9 1.5
Lycosidae
Lycosa sp 5 8 4 0 0 0 17 2.8
Total individu 139
Lepidoptera Hesperiidae
Hesperia sp 0 0 0 5 3 0 8 1.3
Pyralidae
Nymphula defuncalis 8 13 0 1 2 1 32 5.3 Scirpophaga incertulas 9 2 1 2 5 3 22 3.6 Cnaphalocrosis medinalis 7 3 5 0 0 3 18 3 Noctuidae
Narangan aenescens 2 0 0 0 0 0 2 0.4
Nymphalidae
Melanitis leda ismene 8 5 2 0 1 0 16 2.6
Total individu 98
Odonata Coenagrionidae
Ceriagrion calamineum 0 1 4 0 0 0 5 0.8 Libellulidae
Orthetrum Sabina 1 0 0 2 0 1 4 0.6
Total individu 9
Hymenoptera Ichneumonidae
Temelucha philippinensis 0 2 5 11 7 1 26 4.3 Amauromorpha accepta 0 12 15 5 0 0 32 5.3 Xanthopimpla flavolineata 0 0 2 0 0 0 2 0.4
Formicidae 0 0 0 0 0 0 0 0 Spechidae
Sceliphron sp 16 12 19 2 11 7 67 11.2
Elasmidae
Elasmus sp 0 2 0 1 2 0 5 0.8
Apididae
Apis sp 1 0 1 0 0 0 2 0.4
Total individu
224 Orthoptera
Acrididae
Oxya sp 1 3 2 0 1 1 8 1,33
Total individu 8
Diptera Cucilidae
Anopheles sp 0 8 0 50 15 39 112 18,6
Muscidae 4 21 9 11 17 12 74 12,3
Pipunculidae
Tomosvaryella subvirescens 0 0 0 3 0 1 4 0,6 Tipulidae
Tipula sp 2 0 0 0 17 19 38 6,33
Sarcophagidae
Sarcophaga sp 0 0 1 8 11 10 30 5
Tachinidae 0 0 1 0 1 1 3 0,5
Total individu 261
Hemiptera Miridae
Cyrthorhinus lividipennis 1 0 0 0 0 0 1 0,1 Pentatomidae
Scotinophara coarctata 11 10 6 1 0 1 29 4,83
Total individu 30
Homoptera Cicadellidae
Recilia dorsalis 0 109 154 201 267 44 775 129,16
Nephotettix spp 0 6 5 0 1 0 12 2
Total individu 787
Total 158 427 300 343 390 152 1770 295