• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISA HASIL PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

51

BAB IV

ANALISA HASIL PENELITIAN

Pada landasan teori telah dijelaskan mengenai pengertian manajemen waktu yang merupakan kemampuan dalam memilah-milah pekerjaan yang menjadi prioritas melalui perencanaan, penjadwalan dan melaksanakan tanggung jawab demi mencapai hasil yang diharapkan. Manajemen waktu berperan dalam mengatur jadwal pekerjaan yang cukup banyak menjadi lebih terorganisir dan mendukung dalam mencapaian hasil kerja yang baik. Penerapan manajemen waktu yang baik dapat menunjukkan kualitas seorang pegawai yang pada akhirnya dapat perdampak pada penilaian kinerja karyawan.

Kinerja karyawan dijelaskan sebagai suatu kemampuan dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan, dimana suatu target kerja dapat diselesaikan pada waktu yang tepat atau tidak melampaui batas waktu yang disediakan sehingga tujuannya akan sesuai dengan moral maupun etika perusahaan.

4.1 Menetapkan Tujuan dan Prioritas

Dalam sebuah pekerjaan menentukan prioritas sangat diperlukan untuk mengatur pekerjaan yang memiliki tingkat kepentingan tinggi dan deadline yang pendek. Seorang pegawai yang memiliki tugas pekerjaan cukup banyak harus pandai dalam manajemen waktu dan mampu menentukan skala prioritas demi tercapainya sebuah pekerjaan.

Pendapat yang dikemukakan oleh Waluyo (2008) mengatakan bahwa terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan prioritas:

(2)

a) Tuliskan seluruh kegiatan dan tugas-tugas pada hari ini. Caranya buatlah daftar segala sesuatu yang ingin dilakukan hari ini, bersama dengan batas waktu yang dimiliki, jangan hanya mengandalkan ingatan maka tulislah diatas kertas.

b) Berikan nilai “PENGARUH” untuk setiap tugas atau kegiatan yang ditulis diatas. Gunakan skala 1-10 dimana nilai 1 artinya kegiatan tersebut “tidak penting” dan10 artinya “sangat penting”.

c) Kelompokkan menurut urutan “kepentingannya”. Tentukan prioritas “A”

untuk tugas-tugas dengan nilai diatas 7, prioritas “B” untuk nilai diantara 4-6, dan prioritas “C” untuk nilai dibawah 3.

Berdasarkan hasil penelitian para pegawai menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kepentingan pekerjaan dan deadline dari pekerjaan. Pegawai mengutamakan pekerjaan yang mendesak dan dilihat dari daftar urutan tanggal yang lebih dahulu masuk dalam daftar perencanaan dan membutuhkan penyelesaikan dengan cepat. Terdapat pula perencanaan kedepan terhadap pekerjaan yang selanjutnya harus diselesaikan, dengan begitu dapat dikatakan bahwa para pegawai telah melakukan penyusunan skala prioritas dengan baik demi tercapainya sebuah tugas dan tanggung jawab pekerjaan. Harapan kedepan agar dipertahankan dan ditingkatkan mengenai kemampuan pegawai dalam menyusun skala prioritas karena berdampak positif terhadap hasil pekerjaan yang akan dicapai.

(3)

Disebutkan pula menurut Lakein (1992) bahwa terdapat langkah-langkah dalam melakukan pengendalian waktu, yakni dengan pembuatan suatu daftar perincian tugas-tugas dan dilengkapi dengan penyusunan prioritas. Langkahnya ialah dengan membubuhkan huruf-huruf A, B, atau C di tepi kiri masing masing- masing tugas yang terperinci pada suatu daftar. Dengan keterangan sebagai berikut:

A : untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai tinggi.

B : untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai sedang.

C: untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai rendah.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat penyusunan daftar pekerjaan dalam bentuk catatan fisik, dikarenakan para pegawai sudah hafal dan terbiasa dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Sebelumnya memang terdapat penyusunan To Do List setiap hari untuk memantau pekerjaan yang harus diselesaikan, namun saat ini para pegawai sudah tidak menerapkan kebiasaan tersebut, adapun pegawai yang mengganti dengan model penandaan yang berbeda memalui warna map untuk setiap berkas atau dokumen yang menjadi prioritas.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama masih kurang memperhatikan dalam hal kecermatan, mengingat bahwa membuat To Do List dapat berfungsi sebagai pemantau pekerjaan agar tidak terlewati atau terlupakan untuk diselesaikan. Harapan kedepan agar para pegewai lebih teliti terhadap setiap pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya, mengingat pekerjaan yang harus diselesaikan begitu banyak akibat dari rangkap jabatan yang terjadi di perusahaan.

(4)

Leman (2007) berpendapat bahwa dengan manajemen waktu seseorang dapat merencanakan dan menggunakan waktu secara efisien dan efektif sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dalam kehidupannya, perencanaan tersebut bisa berupa perencanaan jangka panjang, menengah dan pendek.

Berdasarkan hasil penelitian hanya terdapat satu pegawai yang melakukan perencanaan terhadap tujuan-tujuan jangka panjang yang ingin dicapai, yakni pegawai pada bagian Human Resource Development dengan melakukan evaluasi terhadap target yang sudah ditetapkan enam bulan sebelumnya, dilakukan evaluasi setiap trimester sehingga dapat terpantau apakah hasil pekerjaan yang telah dicapai sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan para pegawai dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai masih kurang diperhatikan. Harapan kedepan agar para pegawai lebih memperhatikan dalam hal penyusunan tujuan yang ingin dicapai, karena dapat menjadikan sebuah pekerjaan lebih terarah dan memiliki target dan tujuan yang jelas.

Berdasarkan teori dan kenyataan yang ada di lapangan maka dapat disimpulkan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama telah melakukan penetapan tujuan dan prioritas dengan baik, namun masih terdapat kekurangan dalam hal penentuan tujuan yang ingin dicapai sehingga peningkatan terhadap hasil pekerjaan kurang maksimal. Kedepan diharapkan para pegawai tetap membertahankan dan meningkatkan kemampuan dalam menyusun strategi untuk mencapai hasil kerja yang maksimal.

(5)

4.2 Mekanisme Dari Manajemen Waktu

Mekanisme dari manajemen waktu meliputi proses dari rencana yang akan dilakukan, seperti menyusun jadwal dengan menyusun perencanaan setiap kegiatan yang dilakukan. Salah satu alat utama untuk membuat rencana yang ingin dikerjakan ialah dengan menyusun schedule.

Dijelaskan oleh Lakein (1992) mengenai waktu yang terbaik untuk membuat rencana ialah pada pagi hari atau pada akhir setiap hari. Terdapat banyak faktor-faktor kelebihan pada pembuatan rencana yang dilakukan pagi hari ketika kondisi masih segar. Pokok kegiatan pembuatan rencana di malam hari ialah karena seseorang sudah tahu sampai dimana hari itu dan perspektif tersebut akan menolong untuk memilih kegiatan pada esok harinya.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pegawai yang melakukan perencanaan untuk mengatur jadwal pekerjaan dimulai pada sore hari, dengan alasan karena sudah terlihat hasil kerja untuk saat ini dan sudah memiliki bayangan mengenai pekerjaan yang harus dikerjakan esok hari. Mengenai langkah yang dilakukan oleh para pegawai dalam mencapai target pekerjaan, terlihat para para pegawai menggunakan sistem delegasi pekerjaan kepada orang lain. Terdapat beberapa karyawan outsourcing yang bertugas dalam membantu pekerjaan para pegawai, adapula yang menyatakan bahwa mereka bekerja secepat mungkin untuk dapat mencapai target pekerjaan.

Dapat diambil kesimpulan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama telah melakukan pengaturan jadwal pekerjaan dengan baik dengan memanfaatkan SDM yang ada untuk meringankan beban pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai

(6)

batasan waktu. Harapan kedepan agar pihak perusahaan lebih memperhatikan para karyawannya dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan masing-masing karyawan, karena masih terlihat beberapa karyawan kerepotan dengan pekerjaan yang terlalu banyak dan menumpuk. Dibutuhkan tenaga bantu untuk bagian admistratif agar beban pekerjaan karyawan berkurang dan hasil pekerjaan dapat optimal dan berdampak positif bagi kemajuan perusahaan.

4.3 Pengorganisasian Tugas

Menurut Miner (1988) salah satu kriteria untuk menilai kinerja ialah dilihat dari rendahnya sikap Dependability (ketergantungan) yaitu tingkat kesadaran untuk mendapatkan kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa para pegawai terlihat masih bergantung dengan bantuan orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan.

Perusahaan menerapkan sistem outsourcing bagi karyawan untuk membantu pekerjaan administratif perusahaan, sehingga dalam hal ini terlihat bahwa para pegawai yang diberikan tanggung jawab pada setiap pekerjaan belum maksimal dalam pengorganisasian tugas agar dapat mencapai target sesuai dengan yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Berdasarkan teori dan kenyataan yang ada di lapangan dapat dikatakan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama belum memenuhi persyaratan untuk dikatakan memiliki kinerja yang baik dalam hal pengorganisasian tugas, karena pada kenyataannya para pegawai tidak dapat menyelesaikan semua tugas dan

(7)

tanggung jawab yang diberikan oleh perusahaan, masih dibutuhkan bantuan dari orang lain. Harapan kedepan agar perusahaan tidak memberikan tugas dan tanggung jawab kepada pegawai melebihi kemampuan pegawai atau kelebihan beban kerja yang akibatnya akan berdampak pada kesulitan pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan. Saran kedepan agar perusahaan menambah SDM (sumber daya manusia) agar setiap pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas.

4.4 Proporsi Alokasi Waktu

Proporsi alokasi waktu adalah keseimbangan dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan agihan waktu yang ditetapkan. Untuk pegawai yang memiliki jenis pekerjaan cukup banyak dibutuhkan ketrampilan dalam mengelola waktu agar semua pekerjaan dalam terselesaikan dengan baik dan sesuai deadline.

Menurut Treacy (1993) ada hal-hal yang umum menyebabkan pemborosan waktu yakni: tidak menemukan apa yang dicari, pertemuan, telepon, interupsi, penangguhan, kertas kerja yang kecil-kecil, kemelut, urutan pelimpahan yang terbalik, ingin segalanya sempurna dari gangguan.

Dari hasil observasi dan wawancara terlihat bahwa para pegawai mengalami penundaan pekerjaan disebabkan oleh para pegawai yang lebih banyak meluangkan waktu dengan gadget-nya, semua komunikasi hampir sebagian besar dilakukan melalui telepon, sehingga waktu tersita banyak untuk urusan komunikasi, apa yang seharusnya dikerjakan pada saat itu menjadi lupa dan teralihkan dengan kegiatan yang lain. Terlihat juga pegawai terlalu fokus dengan

(8)

satu pekerjaan, sehingga mengesampingkan pekerjaan yang lain, yang seharusnya juga dapat diselesaikan seiring dengan pekerjaan yang lainnya. Terdapat pula pegawai yang menyatakan bahwa penyebab dari penundaan pekerjaan ialah karena faktor niat dalam menyelesaikan pekerjaan, termasuk juga kendala akibat hubungan dengan pihak eksternal perusahaan. Untuk harapan kedepan para pegawai disarankan untuk lebih berfokus kepada tanggung jawab pekerjaan, menerapkan sikap kedisiplinan dalam bekerja.

4.5 Kualitas Pekerjaan

Disampaikan oleh Prawirosentono (2008) salah satu alat yang dapat dilakukan untuk mengukur kinerja ialah dengan melihat inisiatif para karyawan.

Inisiatif berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan.

Sedangkan teori Miner (1998) menyebutkan bahwa kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan salah satunya adalah dengan melihat Creativeness (kreativitas) yakni keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan

tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

Berdasarkan hasil penelitian di PT Bawen Mediatama menunjukkan bahwa para karyawan dapat berfikir inisiatif dalam hal penyelesaian masalah.

Langkah yang ditempuh para karyawan dalam menyelesaikan masalah ialah dengan mencari akar permasalah terlebih dahulu kemudian diadakan musyawarah

(9)

bersama untuk menemukan solusi, jika masalah tidak dapat diatasi oleh para karyawan dan staff dalam tim maka para karyawan akan meminta saran oleh pimpinan. Sehingga terlihat bahwa karyawan di PT Bawen Mediatama memiliki kualitas kerja yang baik, karena dapat berfikir secara kreatif dalam mencari solusi pada suatu permasalahan.

Berdasarkan teori dan kenyataan yang ada di lapangan dapat dikatakan bahwa karyawan perusahaan telah memiliki mutu kerja yang baik, terlihat dari sikap karyawan dalam menghadapi suatu masalah pekerjaan. Harapan kedepan karyawan terus mempertahankan kualitas kerja, mengutamakan sikap jujur dan bertangung jawab kepada perusahaan dan pimpinan, sehingga ada kesempatan karyawan untuk mempertahankan pekerjaan melalui kelebihan yang dimiliki dalam hal sikap yang baik.

4.6 Kuantitas Pekerjaan

George dan Jones (2002) menyatakan bahwa kinerja dapat dinilai dari kuantitas kerja yang dihasilkan dari sumber daya manusia dan level dari pelayanan pelanggan. Kuantitas kerja yang dimaksud adalah jumlah pekerjaan yang terselesaikan, sedangkan kualitas kerja yang dimaksud adalah mutu dari pekerjaan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama sejauh ini bekerja sebagian besar telah mencapai target, melalui berbagai cara yang ditempuh seperti kerja lembur, melibatkan jasa karyawan outsourcing dan bekerja secepat mungkin.

(10)

Berdasarkan teori dan kenyataan yang ada terlihat bahwa karyawan telah memenuhi syarat untuk dikatakan memiliki kinerja yang baik, karena karyawan dapat menyelesaikan semua tangggung jawab pekerjaan dengan berbagai cara yang dapat dilakukan.

4.7 Penggunaan Waktu Dalam Bekerja

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dessler (2007) menyembutkan terdapat lima faktor dalam penilaian kinerja yang popular, yaitu :

1. Prestasi pekerjaan, meliputi: akurasi, ketelitian, keterampilan, dan penerimaan keluaran.

2. Kuantitas pekerjaan, meliput: volume keluaran dan kontribusi.

3. Kepemimpinan yang diperlukan, meliputi: membutuhkan saran, arahan atau perbaikan.

4. Kedisplinan, meliputi: kehadiran, sanksi, warkat, regulasi, dapat dipercaya/ diandalkan dan ketepatan waktu.

5. Komunikasi, meliputi: hubungan antar pegawai maupun dengan pimpinan, media komunikasi.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa para pegawai menggunakan waktu sesuai dengan jam kerja, bahkan mereka melaksakan lembur demi mencapai target pekerjaan.

Kemudian untuk hasil penelitian mengenai kuantitas pekerjaan menunjukkan bahwa pegawai dapat memenuhi target pekerjaan, hasil dari pekerjaan terselesaikan dengan maksimal.

(11)

Selanjutnya hasil penelitian mengenai kedisplinan menunjukkan bahwa pegawai di PT Bawen Mediatama menerapkan sikap disiplin yang sangat baik, bekerja sesuai dengan jam kerja, bahkan rela melebihi waktu yang ditentukan.

Menggunakan hak sesuai dengan prosedur perusahaan contohnya dalam hal pengambilan cuti kerja, terlihat bahwa para pegawai dapat mentaati prosedur yang diterapkan di perusahaan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa para pegawai telah menunjukkan prestasi yang baik, karena dalam hal pencapaian target dan kedisplinan telah diterapkan dengan baik, sehingga harapan kedepan agar para karyawan tetap mempertahankan etos kerja yang baik dan meningkatkan semangat agar hasil pencapaian lebih optimal.

4.8 Kerjasama Dengan Orang Lain Dalam Bekerja

Menurut Miner (1988) kinerja pegawai dipengaruhi seberapa banyak kontribusi kepada organisasi antara lain termasuk kerjasama yakni keterlibatan seluruh pegawai dalam mencapai target yang ditetapkan akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang diawasi. Kerjasama antara pegawai dapat ditingkatkan apabila pimpinan mampu memotivasi pegawai dengan baik.

Dari hasil observasi dan wawancara terlihat bahwa kemampuan karyawan dalam hal kerjasama atau kerja tim dinilai sudah baik, semua pekerjaan pada bagian setiap karyawan pada dasarnya membutuhkan kerja tim, langkah yang dilakukan para karyawan untuk menyelesaikan persoalan dalam tim juga dinilai cukup baik karena melakukan musyawarah bersama untuk pengambilan keputusan. Untuk harapan kedepan para pegawai disarankan untuk lebih kompak

(12)

dalam bekerja tim, koordinasi diperkuat agar hasil pencapaian lebih optimal dan dapat memberikan dampat yang positif bagi kemajuan perusahaan.

Berdasarkan teori dan kenyataan yang ada maka terlihat bahwa para pegawai telah berusaha memenuhi persyaratan untuk dikatakan memiliki kinerja yang baik dalam hal bekerjasama dengan orang lain, terlihat saling keterkaitan antara pekerjaan satu dengan pekerjaan yang lainnya dan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Sebelumnya penulis telah sepakat menggunakan teori interaksionisme simbolik dari Herbert Mead agar kemudian dapat membantu menjelaskan pendekatan Goffman tentang dramaturgi

Pada perawatan pasien yang telah diketahui atau dicurigai Menderita penyakit menular melalui udara atau droplet, masker yang digunakan hares dapat mencegah

Pendidikan minimal S-1, diutamakan berlatar belakang pendidikan dibidang Ilmu Agama Islam dan/atau telah memiliki pengalaman dalam bidangnya;.. Memiliki kemampuan

Nasabah dengan ini menyatakan tunduk dan terikat pada Syarat dan Ketentuan Danamon Online Banking dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara Republik Indonesia

Terwujudnya fasyankes yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional Terwujudnya pembiayaan pelayanan kesehatan tradisional Terwujudnya pelayanan kesehatan tradisional

Perubahan tata guna lahan yang dilakukan oleh Grub Lippo yaitu Kawasan Lippo Plaza Kairagi adalah 14.69% kendaraan yang mempengaruhi /membebani lalu lintas pada

Padahal di DKI Jakarta Sendiri, terdapat 3(tiga) Instansi Badan Narkotika Nasional yaitu Badan Narkotika Nasional Pusat, Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta,

Di antara beberapa leguminosa herba introduksi yang diamati beberapa tahun terakhir di Timor, Clitoria ternatea (kacang kupu) menunjukkan potensi yang baik untuk dimanfaatkan