38
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dilakukan analisa dan pembahasan proses pembangunan kapal dengan metode seksi assembly berdasarkan konsep Product Oriented Break Down Struktur (PWBS) pada perakitan struktur Kapal Tunda Antasena yang dilanjutkan dengan membuat jarinagan kerja.
4.1 Pembagian Konstruksi Lambung Kapal Berdasarkan Aspek Produksi Data yang dibutuhkan dalam perencanaan block pada kapal Tunda Antasena adalah sebagai berikut:
1. Ukuran utama kapal
Ukuran utama kapal Tunda Antasena adalah sebagai berikut:
Tipe Kapal : Tunda Jenis Harbour
LOA (Length Over All) : 29,00 m LWL (Length On The Waterline) : 28,70 m LBP (Length Between Perpendicular) : 28,00 m
B (Breadth) : 9,60 m
H (Depth) : 4,38 m
T (Draught) : 3,50 m
Cb (Coefisien Blok) : 0,541
V (Velocyti) : 11 Knot
GT (Gross Tonage) : 264 GT
Displacement) : 536,879 Ton
39
2. Gambar – gambar representasi kapal (lampiran) sebagai berikut:
a. Gambar Lines Plan b. Gambar Shell Expansion c. Gambar General Arrangement d. Gambar Structure Profile & Deck e. Gambar Midship Section
f. Gambar konstruksi buritan dan haluan (After Peak Construction dan Fore Peak Construction)
g. Gambar konstruksi sekat (Bulkhead Construction)
h. Gambar konstruksi pelat geladak (Deckhouse Construction) i. Gambar konstruksi bangunan atas (Wheelhouse Construction)
4.1.1 Aspek Zone
Zone adalah tujuan proses produksi yang dibagi menurut tata letak dari suatu produksi misalnya: Zona kamar mesin, zona bangunan atas dan lain-lain. Dalam proses pembangunan kapal Tunda Antasena yang difokuskan pada struktur kapal, kapal dibagi menjadi 8 block,lihat lampiran 2
Blok kapal dibagi menjadi sub block. Pada umumnya blok kapal Tunda Antasena terdiri dari dua sub blok, yaitu sub blok I yaitu sub block pada bagian bottom dan sub block II pada bagian sisi dan geladak kapal.
Sub block I yang umumnya dibagi menjadi 3 panel yaitu Panel Bottom Center, Panel Bottom PS, Panel Bottom SS, untuk sub block II dibagi menjadi Panel Side PS, Panel Side SS, Panel Main Deck dan
40
longitudinal deck beam. Untuk block kapal yang memiliki sekat melintang, maka maka ditambahkan satu sub block lagi, yaitu block I dan block V, yang terdiri dari sub block part transverse bulkhead dengan beberapa komponen didalamnya.
4.1.2 Aspek stage
Berdasarkan aspek produksi stage, maka proses pelasanaan pembangunan kapal tunda antasena yang dilaksanakan pada PT.
Galangan Benua Raya Kariangau dimulai dari proses desain enginering.
Data gamabr- gambar rancangan yang sudah selesai pada bagian akan dijadikan acuan pada bengkel-bengkel dalam proses selajutnya.
Proses produksi yang dilakukan pada pembangunan Kapal Tunda Antasena, dengan menganggap bahwa proses fabrikasi sudah selasai, sehingga proses produksinya sebagai berikut
perakitan sub-block; kegiatan yang dilakukan dalam perakitan sub-
block yaitu pengangkatan, fitting, dan welding.
perakitan block, kegiatan yang dilaksanakan dalam perakitan block yaitu pengangkatan, fitting, dan welding.
penyambungan lambung (hull erection),kegiatan yang dilakukan dalam hull erection adalah pengangkatan; cutting, fitting dan welding.
41
4.2 Membagi Struktur (Breakdown Srukture) Kapal Tunda Antasena
pembagian kapal mejadi beberapa block kemudian dijabarkan menjadi beberapa sub-block tiap block, dapat dibuatkan hirarki/level manufacturing perakitan struktur kapal. Secara umum Kapal Tunda Antasena dibagi menjadi 8 block, dalam pembahasan semua block ditinjau, dibatasi pada perakitan sub-block samapai hull erection.
Gambar 4.1 Level ManufacturingPembangunan Kapal Tunda Antasena
(Sumber :Hasil Olahan 2011)
SUB BLOK 1
42
Gambar 4.2 Level manufacturing Perencanaan Pembangunan Kapal TB.Antasena.
SUB BLOK 1
Komponen
Perakitan Komponen
Perakitan panel Perakitan panel
Perakitan Sub-Blok
Perakitan Sub-Blok
Perakitan Blok
43 4.3 Identifikasi Komponen Kegiatan
Jenis Kegiatan yang terdapat pada pembangunan kapal Tunda Antasena seperti yang terlihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Kegiatan Pembangunan Kapal
Kegiatan Jenis Kegiatan Notasi
Perakitan Block HS-3 Pengangkatan,Cutting Fitting (HE-1) Perakitan Block HS-4 & Hull
Erection Block HS-4 ke HS-3
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -2)
Perakitan Block HS-2 & Hull Erection Block HS-2 ke HS-3
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -3)
Perakitan Block HS-45 & Hull Erection Block HS-5 ke HS-4
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -4)
Perakitan Block HS-1 & Hull Erection Block HS-1 ke HS-2
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -5)
PerakitanBlock HS-6 Hull Erection Block HS-6 ke HS5
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -6)
Perakitan Block WH-1 & Hull Erection Block WH-1 & HS 1-5
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -7)
Perakitan Block WH-2 & Hull Erection Block WH-2 kr WH-1
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -8)
Assembling Sirip & Plate sisi kapal Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -9) Perakitan Fender & Assembling
Fender & Plate sisi kapal
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -10)
Perakitan Funnel &
AssemblingFunnel to Plate Bridge Deck WH-1
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -11)
44
Kegiatan Jenis Kegiatan Notasi
Perakitan Satay & Assemling Stay to Main Deck
Pengangkatan, Fitting, Welding Joint
(HE -12)
(Sumber : Hasil Olahan 2011)
4.4 Menyusun Urutan Kegiatan Perakaiatn Kapal
Pada proses penyususnan urutan kegiatan pembangunan kapal dimulai dari penjadwalan pekerjaan baik dari segi keterkaitan pekerjaan, waktu, tenaga, maupun pemanfaatan jadwal sebagai kontrol didalam pelaksanaannnya.
Dari hasil identifiksai komponen kegiatan, selanjutnya disusun menjadi sebuah mata rantai antara kegiatan lainnya sesuai dengan logika ketergantungan menjadi jarinagan kerja yang dijabarkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Tabel Urutan Kegiatan Pembangunan Kapal
(Sumber : Hasil Olahan 2011)
Dari hasil menyusun urutan kegiatan sesui logika ketergantungan, diterjemahkan dalam bentuk network diagram yang merupakan visualisasi dari kegiatan-kegiatanyang ada dalam kegiatan perakiatan pembangunan Kapal Tunda Antasena. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gamabar 4.3
Kegiatan Kegiatan Pengikut Kegiatan Kegiatan Pengikut
HE-1 HE-2,HE-3 HE-7 HE-8
HE-2 HE-4 HE-8 HE-11
HE-3 HE-5 HE-9 HE-10
HE-4 HE-6,HE-7 HE-10 HE-12
HE-5 HE-6,HE-7 HE-11 HE-12
HE-6 HE-9 HE-12 -
45 2
3
(HE- 2)
(HE- 3)
5
4 6 8
(HE-4) 7
(HE-7) (HE-5)
(HE-6) (HE-9)
9
10 12
13
(HE-8) (HE-11)
(H E-
12) (HE-10) 11
1 (HE-1)
Gamabar.4.3 Hubungan Urutan kegiatan Perakitan Pembangunan Kapal
(Sumber :Hasil Olahan2011)
46
4.5 Durasi Kegiatan Perakitan Kapal Tunda Antasena
Durasi kegiatan adalah lama waktu pekerjaan yang direncanakan pada waktu satu pekerjaan. Durasi kegiatan yang dimaksud tersebut adalah waktu yang dibutuhkan pada satu pekerjaan pembangunan, dimana pada saat penyusunan urutan pembangunan kapal sudah ditentukan asumsi lama waktu pekerjaan termasuk jadwal pekerjaan.
Untuk menentukan durasi kegiatan lamanya suatau kegiatan dapat dilakuakan dengan network diagram pada proses pembangunan kapal. Untuk menganalisa waktu atau durasi kegiatan dapat dihitung dengan 2 cara yaitu perhitungan maju/saat paling awal (SPA) dan perhitungan mundur/saat paling lambat (SPL).
Dalam perakitan struktur lambung kapal dianggap bahwa pekerja yang mengerjaankan pekerjaan sebelumnya juga mengerjakaan pekerjaan berikutnya.
Dalam perakitan strktur lambung kapal pekerjaan dimulai dari Perakitan sub-block sampai pada hull erection, dimana komponen kegiatan yang ada didalam yaitu cutting, pengangkatan, fitting, dan welding. Untuk menentukan durasi kegiatan, digunakan data JO setiap kegiatan;
47
berikut ini contoh salah satu tabel perhitungan perakitan struktur lambungkapal berdasarkan jam orang (JO) atau data produktifitas PT.
PAL Indonesia
Tabel 4.3.Contoh Tabel Perhitungan Kegiatan Pekerjaan Block HS-5 Perakitan Struktur Lambung
PERHITUNGAN DURASI PEMBANGUNAN BLOCK HS-5
NO. Keterangan Kegiatan
Pekerjaaan Formula JO
Jo
Perkiraan
Durasi Durasi Meter(m) Berat(Ton) Welding Fitting Pengangkatan Tenaga
JO/Unit JO/Unit JO/Unit Kerja (Jam) (Menit)
1 2 3 4,000 5(3*4) 6 7(5/6) 8(7*60)
(V-1)
Kegiatan Perakitan Sub Block Bulkhead (V-1) pengangkatan Plate
Bulkhead
Plate A PS/SS & Plate B 0,736 0,454 0,334
5
0,067 4,007
Plate C to Plate B 0,462 0,454 0,210 0,042 2,516
Plate D & Plate E 0,268 0,454 0,122 0,024 1,463
Plate DE to Plate ABC 0,268 0,454 0,122 0,024 1,463
Fitting Plate Bulkhead
Plate A PS/SS & Plate B 1,854 0,079 0,146
4
0,037 2,197
Plate C to Plate B 5,105 0,079 0,403 0,101 6,049
Plate D & Plate E 2,890 0,079 0,228 0,057 3,425
Plate DE to Plate ABC 1,067 0,079 0,084 0,021 1,264
Welding Joint Plate Bulkhead
Plate A PS/SS & Plate B 11,124 0,121 1,346
4
0,337 20,190
Plate C to Plate B 30,630 0,121 3,706 0,927 55,593
Plate D & Plate E 17,340 0,121 2,098 0,525 31,472
Plate DE to Plate ABC 6,402 0,121 0,775 0,194 11,620
Pengangkatan Stifner to Plate Bulkhead
a.SBH.HS-5 PS/SS 0,082 0,454 0,037
5
0,007 0,448 b.SBH.HS-5PS/SS
0,067 0,454 0,030 0,006 0,365
(Sumber : Hasil Olahan 2011)
48 Keterangan tabel :
Formula JO = Jam Orang untuk tiap pekerjaan/unit
Pekerjaan = Jenis pekerjaan terdiri dari panjang (m) dan berat (ton)
JO = hasil dari (Formula JO x Unit) Durasi (jam) = hasil dari (JO/Orang)
Durasi (menit) = hasil dari (jam x 60 menit) Formula JO = Lampiran 3
Unit = Untuk Welding dalam satuan meter (m) Untuk Fitting dalam satuan meter (m) Untuk Pengangkatan dalam satuan ton Contoh perhitingan jam orang untuk masing-masing kegiatan
Untuk kegiatan pekerjaan pengangkatan untuk formula jam orang adalah
0,483 maka :
JO = Formula JO x Unit
= 0,483 x 0,094 ton
= 0,046
Jam = JO/ jumla tenaga kerja
= 0,.046/3
= 0,015 (0,015jam x 60 menit = 0,911 menit)
Jadi untuk kegiatan pengankatan dengan berat 0,094 ton dibtuhkan waktu 0,911 menit
49
Untuk kegiatan pekerjaan fitting untuk formula jam orang adalah 0,006
maka:
JO = Formula JO x Unit
= 0,006 x 1.296 m
= 0,008 Jam
Jam = JO/ jumla tenaga kerja
= 0,008 /2
= 0,004 (0.004 jam x 60 menit = 0,234 menit)
Jadi untuk kegiatan fitting dengan panjang 1,296 m dibtuhkan waktu 0,234 menit
Untuk kegiatan pekerjaan welding (pengelasan) untuk formula jam orang
adalah 0,133, maka:
JO = Formula JO x Unit
= 0,133 x 2,596 m
= 0,345 Jam
Jam = JO/ jumlah tenaga kerja
= 0,345/2
= 0,173 (0,173 jam x 60 menit = 10,358 menit)
Jadi untuk kegiatan welding dengan panjang pengelasan 2.596 m dibtuhkan waktu 10.358 menit
4.6 Perhitungan Maju/Analisa Saat Paling Awal (SPA)
Jika hanya ada kegiatan menuju sebuah peristiwa, maka saat paling awal (SPA) peristiwa tersebut adalah saat paling awal (SPA) kegiatan tesebut. Saat
50
selesai paling awal sebuah kegiatan dengan menjumlahkan saat mulai paling awal dan lama kegiatan bersangkuatan.
Secara komulatif, untuk menentukan saat paling awal (SPA) suatu peristiwa adalah sebagai berikut
2
3
(HE-2)
(HE-3)
5
6 4
(HE-4)
(HE-5) (15
8.95 3)
(23 8.399)
(184.009)
(168.051) 461.561
390.115 558.166
645.57
1 0 (231.162)(HE-1) 231.162
gambar 4.4 Network Diagram dan Durasi Kegiatan
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Berdasarkan gambar 4.4 di atas maka perhitungan untuk mendaptkan nilai perhitungan maju dengan menjumlahkan kejadian awal dengan lama waktu yang telah di tentukan dapat diketahui.
SPLx + L = SPLx
0 + 231,162 = 231,162
231,162 + 238,399 = 461,561 461,561 + 184,009 = 645,570
51
Tabel yang ditunjukan dibawah ini merupakan hasil perhitungan saat paling awal (SPA) perakitan struktur lambung kapal sampai selesai.
Tabel 4.4 Perhitungan SPA Pembanguan Kapal Nomor
Peristiwa Saat Paling Awal (SPA) Nilai Maksimal
1 ... 0,000 0,000
2 SPA1 + HE-1 249,958 249,958
3 SPA2 + HE-2 510,902 510,902
4 SPA2 + HE-3 472,953 472,953
5 SPA3 + HE-4 684,500 684,500
6 SPA4 + HE-5 693,918 693,918
7 SPA5 + HE-6 734,377
734,377 SPA5 + Dummy 693,918
8 SPA6 + Dummy 684,500
780,840
SPA6 + HE-7 780,840
9 SPA7 + HE-9 760,386 760,386
10 SPA8 + HE-8 824,898 824,898
11 SPA9 + HE-10 808,063 808,063
12 SPA10 + HE-11 834,509 834,509
13 SPA11 + Dummy 808,063
841,036 SPA11 +Dummy 841,036
(Sumber : Hasil Olahan 2011)
4.7 Perhitungan Mundur/ Saat Paling Lambat (SPL)
Jika hanya sebuah kegiatan keluar dari peristiwa, maka saat paling lambat (SPL) peristiwatersebut adalah saat paling lambat (SPL) mulainya kegiatan tersebut. Saat mulai paling lambat sebuah kegiatan diperoleh dengan mengurangi saat paling lambat (SPL) selesainya kegiatan yang bersangkutan dengan lamanya kegiatannya.
Secara komulatif untuk menentukan saat paling lambat suatu peristiwa adalah sebagai berikut :
52
8
7
(HE-9)(26.009)9
10 12
13
(HE-8) (48.462)
(HE-11) (4.818)
(HE-12) (3.6
24)
645.570 690.557
694.032 694.850
716.566
767.867
11
764.243(HE-10) (47.677)
714.587 763.049
772.243
767.867 716.566
690.557
767.867
Gambar 4.5. Network Diagram dan Durasi Kegiatan
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Berdasarkan gambar 4.5 diatas maka perhitungan untuk mendapatkan nilai perhitungan saat paling lambat (SPL) dengan mengurankan nkejadian akhir dengan lama waktu yang telah ditentukan dapat diketahui
SPLx - L = SPLx
770,770 - 6,527 = 764.243 764.243 - 47,677 = 716.566 716,566 - 26,009 = 690,557
Tabel yang ditunjukan dibawah ini merupakan hasil perhitungan saat paling lambat (SPL) perakiatan struktur lambung kapal sampai selesai.
Tabel 4.5 Pehitungan SPL Pembangunan Kapal Nomor
Peristiwa Saat Paling Lambat (SPL) Nilai Maksimal
13 SPL 12 841,036 0,000
53 Nomor
Peristiwa Saat Paling Lambat (SPL) Nilai Maksimal 12 SPL12 - Dummy 841,036 841,036 11 SPL11 - HE-12 834,509 834,509 10 SPL10 - HE-11 824,898 824,898 9 SPL9 - HE-10 793,359 793,359
8 SPL8 - HE-8 780,840 780,840
7 SPL7 - HE-9 767,350 767,350
6 SPL6 - HE-7 693,918
767,350 SPL6 - Dummy 767,350
5 SPL5 - Dummy 780,840
780,840
SPL5 - HE-6 717,473
4 SPL4 - HE-5 472,953 472,953
3 SPL3 - HE-4 543,875 543,875
2 SPL2 - HE-3 249,958
249,958
SPL2 - HE-2 282,931
1 SPL1 - HE-1 0,000 0,000
(Sumber : Hasil Olahan 2011)
4.8 Identifikasi Jalur Kritis
Pada network diagram, ada beberapa kegiatan yang mempunyai batas toleransi keterlambatan dan ada pula yang tidak mempunyai batas toleransi.
Kegiatan yang tidak mempunyai batas toleransi ini disebut kegiatan kritis. Untuk mengetahui kegiatan kritis ini maka perlu ditentukan peristiwa kritisnya dulu, dan yang pertama diketahui adalah jalur kritis.
1. Peristiwa Kritis
Dari ketentuan mengenai syarat terjadinya peristiwa kritis yaitu SPA sama dengan SPL atau SPA-SPL = 0, dari gambar network diagram dengan SPA dan SPL maka peristiwa kritis yang ada dala kegiatan perkaitan struktur lambung kapal Tunda Antasena adalah sebagai berikut :
54
a. Peristiwa nomor 1 karena SPA1 = SPL1 = 0 b. Peristiwa nomor 2 karena SPA2 = SPL2 = 249,958 c. Peristiwa nomor 4 karena SPA3 = SPL3 = 472,953 d. Peristiwa nomor 6 karena SPA4 =SPL4 = 693,918 e. Peristiwa nomor 8 karena SPA6 = SPL6= 780,840 f. Peristiwa nomor 10 karena SPA8 = SPL8 = 824,898 g. Peristiwa nomor 12 karena SPA10 = SPL10 = 834,509 h. Peristiwa nomor 13 karena SPA12 = SPL12 = 841,036 2. Kegitan kritis
Sesuai ketentuan mengenai kegiatan kritis, maka yang termasuk kegiatan kritis yaitu :
Kegiatan HE-1 merupakan kegiatan kritis karena SPA1 sama dengan SPL1 yatitu 0 dan SPA2 sama dengan SPL2 yaitu 249,958 sehingga SPA1 + L = SPA2 atau SPL1 + L = SPL2 yaitu 0 + 249,958 = 249,958. Selain kegiatan HE-3 kegiatan lain yang memenuhi ketentuan sebagai kegiatan kritis adalah kegiatan HE-3, HE-5, HE-7, HE-8, HE-11, dan HE-12.
3. Lintasan Kritis
Krtiteria dalam menetukan lintasan kritis adalah - Umur lintasan kritis sama dengan umur kegiatan
- Lintasan kritis adalah lintasan yang paling lama umur pelaksanaannnya dari semua lintasan yang ada.
55
Dari gambar network diagram dapat dihitung kurun waktu penyelesaian perakitan struktur kapal, sehingga dapat diketahui bahwa lintasan kritis adalah peristiwa kritis dan kegiatan kritis itu sendiri, lintasan kritisnya yaitu p2,HE-1;p4,HE-3-;p6,HE-5;p8,HE- 7;p10;HE-8;p12,HE-11;p13,HE-12
Dengan umur lintasan :
249.958 + 222.995 + 220.965 + 86.922 + 44.058 + 9.611 + 6,527 = 841.036 jam
Jadi umur kegiatan perakitan struktur lambung Kapal Tunda Antasena adalah 841.036jam
Lintasan kritis dari kegiatan perakitan struktur lambung kapal dalam network diagram dapat dilihat pada gambar 4.6 berikut :
56
Gambar 4.6 Network Diagram permbangunan Kapal
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Untuk lebih jelasnya gambar 4.6 dapat diterjemahkan hubungan saling ketergantungan setiap pekerjaan dalam bar chart pada gambar 4.7 di bawah ini :
57
Gambar 4.7 Bar Chart Pembanguna Kapal
(Sumber :Hasil Olahan2011)
58 Tabel 4.6 Tabel Perhitungan Handling Material
No. 1 Formula Handling Material (ton)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Berat Pekerjaan
3+4+5+...n 0 114,311 114,311 231,068 661,830 66,878 15,532 8,578 5,636 2 Total Pengangkatan 0 114,311 228,623 459,691 1121,521 1188,399 1203,931 1219,463 1225,099
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Gamabar 4.8 Grafik S Curve Untuk Handling Material (Sumber :Hasil Olahan2011)
59 Tabel 4.7 Perhitungan Jam Kerja orang
No. 1 Formula Jam kerja Orang (jam orang)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Jam kerja Orang
3+4+5+...n 0 146,544 146,544 1749,790 1635,732 564,048 349,587 264,440 26,499 2 Total Jam orang 0 146,544 293,088 2042,878 3678,610 4242,658 4592,245 4856,684 4883,183 (Sumber :Hasil Olahan2011)
Gambar 4.9 Grafik S Curve Untuk Jam Kerja Orang
(Sumber :Hasil Olahan2011)
60
Dari perhitungan volume pekerjaan perakitan dan jam kerja orang melakukan perakitan maka dihasilkan kurva S. Dimana fungsi kurva S tersebut adalah sebagai pengontrol untuk pekerjaan pada saat pembangunan kapal.
Sedangakan pengontrolan jumlah pekeja untuk kegiatan perakitan dapat dilihat pada gambar grafik 4.10 yang berfungsi untuk melihat pada pekerjaan mana yang membutuhkan banyak tenaga kerja :
61
Gambar 4.10 Grafik pembebanan jumlah tenaga kerja
(Sumber :Hasil Olahan2011)
62 Tabel 4.8 Total Pekerjaan Pembangunan Kapal
No. Pekerjaan Berat
(Ton)
Handling Material
(Ton)
Fitting (meter)
Panjang Pengelasan
(Meter) A. Asembly Block
1 Block HS-1 26,278 91,471 542,797 1764,158
2 Block HS-2 25,691 87,901 427,626 1439,180
3 Block HS-3 25,459 88,033 725,683 1527,453
4 Block HS-4 20,791 92,018 674,070 1985,129
5 Block HS-5 26,132 72,109 403,248 1202,234
6 Block HS-6 8,685 21,309 132,240 336,020
7 Block WH-1 13,264 23,619 359,905 1040,186
8 Block WH-2 6,736 7,368 171,127 372,478
B. Hull Erection
1 Block HS-3 26,278 - -
2 Block HS-3 dan Block HS-4 25,691 47,245 236,984
3 Block HS-(3,4)dan Block HS-2 25,459 50,811 109,212 4 Block HS-(2-4) dan Block HS-5 20,791 157,945 215,110 5 Block HS-(2-5) dan Block HS-1 26,132 47,828 112,274 6 Block HS-(1-5) dan Block HS-6 8,685 25,095 124,050 7 Block HS-(1-6) dan Block WH-1 13,264 63,605 127,210 8
Block HS-(1-6);WH-1dan Block
WH-2 6,736 30,730 43,380
9 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Sirip 1,428 58,658 116,372 10
Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan
Fender 7,504 116,372 211,390
11
Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan
Funnel 1,074 13,814 19,954
12 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Stay 5,636 116,344 232,688
Jumlah 153,036 652,508
4165,14
2 11215,461
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Setelah didapat total pekerjaan setiap item pekerjaan pada block assembly masing-masing tiap block dan hull erection.Untuk mendapatkan bobot pekerjaan maka dikalikan dengan perhitungan jam orang standar pada tiap item pekerjaan (lampiran 5) dari hasil pekerjaan lalu dibobot seperti tabel di bawah ini :
63 Tabel 4.9 Tabel Pembobotan Pekerjaan Pembangunan Kapal
No. Pekerjaan
Total Pengangkat
an
Total Fitting
Total Welding
Total Beban Pekerjaan
Bobot Pengangkat
an dari Total Pekerjaan
Bobot Fitting dari
Total Pekerjaan
Bobot Welding dari Total Pekerjaan
Total Bobot Beban Pekerjaan (orang.jam) (orang.jam) (orang.jam) (orang.jam) (%) (%) (%) (%) A. Asembly Block
1 Block HS-1 242,544 64,304 408,323 715,172 4,657 1,235 7,839 13,730
2 Block HS-2 241,406 29,765 269,022 540,192 4,635 0,571 5,165 10,371
3 Block HS-3 237,876 34,206 271,769 543,851 4,567 0,657 5,218 10,441
4 Block HS-4 258,909 41,796 517,164 817,869 4,971 0,802 9,929 15,702
5 Block HS-5 189,659 38,211 323,207 551,078 3,641 0,734 6,205 10,580
6 Block HS-6 46,197 14,943 68,691 129,831 0,887 0,287 1,319 2,493
7 Block WH-1 45,216 33,302 178,542 257,060 0,868 0,639 3,428 4,935
8 Block WH-2 9,082 17,169 82,095 108,346 0,174 0,330 1,576 2,080
B. Hull Erection
1 Block HS-3 146,544 - - 146,544 2,813 - - 2,813
2 Block HS-3 dan Block HS-4 142,363 5,078 66,106 213,547 2,733 0,097 1,269 4,100
3 Block HS-(3,4)dan Block HS-2 140,723 5,890 31,569 178,181 2,702 0,113 0,606 3,421
4 Block HS-(2-4) dan Block HS-5 109,103 17,734 59,624 186,461 2,095 0,340 1,145 3,580
5 Block HS-(2-5) dan Block HS-1 145,502 5,495 32,024 183,021 2,793 0,106 0,615 3,514
6 Block HS-(1-5) dan Block HS-6 39,266 2,732 35,165 77,163 0,754 0,052 0,675 1,481
7 Block HS-(1-6) dan Block WH-1 63,613 5,724 30,658 99,995 1,221 0,110 0,589 1,920
8 Block HS-(1-6);WH-1dan Block WH-2 51,713 2,766 10,455 64,934 0,993 0,053 0,201 1,247 9 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Sirip 0,486 17,891 86,115 104,491 0,009 0,343 1,653 2,006 10 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Fender 2,551 86,115 156,429 245,095 0,049 1,653 3,003 4,706
11 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Funnel 0,365 4,213 14,766 19,344 0,007 0,081 0,283 0,371
12 Block HS-(1-6);WH-(1-2)dan Stay 1,950 6,166 18,382 26,499 0,037 0,118 0,353 0,509
Jumlah 2115,068 433,501 2660,105 5208,674 40,607 8,323 51,071 100,000
(Sumber :Hasil Olahan2011)
64
Dari tabel Pembobotan diatas tidak termasuk pekrjaan fabrication, yang hanya difokuskan pada pekerjaan handling material, fitting,welding dan hull erection. Untuk melihat berapa persen kemajuan pembangunan kpal dapat dilihat pada kurva S pada gambar 4.11
Tabel 410 Perhitungan Bobot Pekerjaan
No. 1 Formula Bobot Pekerjaan (%)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Bobot Pekerjaan
3+4+5+...n 0 13,255 13,255 33,594 31,404 10,829 5,333 5,077 0,509 2 Total Bobot Pekrjaan 0 13,255 26,509 60,103 91,507 102,336 107,669 112,746 113,255
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Gambar 4.11 Grafik S Curve Untuk Bobot Pekerjaan
(Sumber :Hasil Olahan2011)
65
untuk melihat jumlah tenaga kerja yang digunakan selama pembangnan kapal dapat dilihat pada kurva S pada gamabar 4.12 dibawah in :
Tabel 410 Tabel Perhitungan Tenaga Kerja
No. 1 Formula Tenaga Kerja (orang)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Tenaga Kerja
3+4+5+...n 0 13 13 26 26 26 26 19 13
2 Total Total Tenaga Kerja 0 13 26 52 78 104 130 149 162
(Sumber :Hasil Olahan2011)
Gambar 4.11 Grafik S Curve Untuk Tenaga Kerja
(Sumber :Hasil Olahan2011)
J umla h Tena g a K erja (ora ng )
66 4.9 Diskusi
Dalam membuat jaringan kerja pembangunan kapal Tunda Antasena, diasumsikan pekerjaan dari fabrication diannggap telah selesai, dan yang menjadi perhitungan untuk pembuatan jaringa kerja mulai dari perakitan sub-block sampai dengan hull erection yang diabatasi pada struktur lambung tidak termasuk out fitting.
Pembangunan kapal digunakan konsep PWBS (Product Wrok Breakdown Struktur) dengan metode pembangunan dengan pendekatan seksi assembly.
Pembangunan Kapal Tunda Antasena dimulai dari pembagian kapal menjadi 8 block, kemudian dari setipa block dibagi menjadi 2 atau 3 sub-block, kemudian dari sub-block dibagi lagi menjadi panel- panel.
Pembangunan kapal dilakukan dengan menggunakan sistem paralel, yang artinya pekerjaan perakitan block dikerjakan secara bersamaan. Pembangunan kapal dimulai dari perakitan block HS-3 kemudian di diatur posisinya. Sesudah itu block HS-4 dan block HS-2 dirakit secara bersamaan, setelah selesai dirakit langsung diereksi ke block HS-3. Begitupun selanjutnya pada perkaitan block HS- 5 dan block HS-1, setelah itu block HS-6 dan block WH-1. Pemasangan sirip bersamaan dengan block WH-2, fender bersamaan dengan funnel, dan yang terakhir dierksi adalah stay.
Galangan kapal yang akan dijadikan sampel untuk pembangunan kapal Tunda Antasena PT. Galangan Benua Raya Kariangau dengan data luas lapangan kerja dan kapasitas alat angkat sebagai berikut:
a. Fasilitas Dock
67 - Building Berth kapasitas 10.000 DWT - Slipway kapasitas 5.000 DWT
- Graving dock kapsitas 8.000 DWT - Crane Mobile kapasitas 10 Ton - Crane Teleshcop Kapasitas 20 ton
- Tower Crane kapasitas 50 ton dan 40 ton b. Blasting and PaintingLuas Area Pembangunan
- Building Berth : o 84x133=11172 m² o 44x150 = 6600 m² o 48x112=5376 m²
- Slipway dengan luas area pembangunan 41x 106 = 4346 m² - Graving dock dengan luas area pembangunan 35x197 = 6895 m² Dari hasil perhitungan berat kapal (lampiran 4) sesuai dengan kapasitas alat angkat, crane mobile, dan tower crane. Berat maksimum untuk sub-blok adalah 16,302 ton. Untuk mengangkat berat sub-blok tersebut ke landasan pembangunan (building berth) maka diperlukan 1 unit Crane Teleshcop karena kapasitas maksimum satu unit mobile crane adalah 20 ton. Sedangkan untuk pengangkatan block untuk hull erection berat maksimum dari block adalah 26,278 ton.jadi crane yng digunakan dengan kapasitas 40 ton.
Tenga kerja yang digunakan dalam pembanguna kapal adalah tenaga kerja dengan sistem paket. Dimana tenaga kerja yang mengerjakaan pekerjaan
68
sebelumnya juga mengerjakan pekerjaan berikutnya.Pekerjaan setiap block dikerjakan oleh 13 orang rinciannya adalah sebagai berikut :
a. Operator alat angkat 1 orang b. Helper 4 orang
c. Fitter 4 orang d. Welder 4 orang
Sehingga total tenaga kerja yang digunakan adalah 26 orang dengan rincian sebagai berikut :
e. Operator alat angkat 2 orang f. Helper 8 orang
g. Fitter 8 orang h. Welder 8 orang
Dari hasil perhitungan didapatkan umur pembangunan kapal tunda antasena adalah 841,036 jam (105,1295 hari,atau 3,5 bulan) diluar hari sabtu dan minggu, yang hanya memfokuskan pekerjaan pada konstruksi diluar out fitting, dengan menggunakan metode CPM (Critichal Path Metod).
Apabila tenaga kerja dikurangi atau ditambah maka konsekunsinya adalah umur kegiatan bisa saja berkurang atau bertambah. Dan perubahan lainnya yang tejadi adalah urutan kegiatan dengan logika ketergantunagan berubah maka peristiwa, kegiatan, dan jalur kritis juga ikut berubah.
Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu
69
a. Dalam pembangunan kapal dapat memperkirakan lama waktu/umur pembangunan kapal dengan menggunakan tenaga kerja dengan jumlah tertentu,
b. Dapat melihat kegiatan yang tidak bisa ditunda pekerjaannya c. Dapat memperkirakaan jumlah tenaga kerja yang digunakan.
d. Fungsi kurva S adalah sebagai pengontrol untuk pekerjaan pada saat pembangunan kapal.
e. Fungsi grafik pembebanan jumlah tenaga kerja yaitu untuk mengontrol jumlah tenaga kerja yang digunakan dalm satu pekerjaan.