1
KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT
PUTUSAN SELA
Nomor : 09 /IX/KI-SB/PS-A/2019
1. IDENTITAS
[1.1] Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang menerima, memeriksa dan menjatuhkan putusan dalam Sengketa Informasi Publik dengan Nomor Registrasi : 012/REG-PSI/KI-SB/VIII/2019 yang diajukan oleh :
Nama : Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA).
Alamat : Jl. Bahari No. 02 Kelurahan Wattang,
Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.
Dalam persidangan awal dihadiri oleh Agus Salam selaku Ketua Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA). Selanjutnya disebut sebagai Pemohon,
Terhadap
Nama : Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat
Alamat : Jl. Martadinata No. 09 Kabupaten Mamuju
Dalam persidangan di wakili oleh Indri Damayanti, B.Sc, MAB, Kepala Sub. Bagian Pelayanan Informasi Publik, Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Agus Pramono, SH, MSi, Kepala Sub. Bagian Advokasi Hukum Bina Konstruksi, PIW dan Itjen, Biro Hukum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Muhammad Yusuf Ghazali, SH, Staf
2
Sub. Bagian Advokasi Hukum, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Andi Faisal Fahrial, ST, PPK Sungai dan Pantai I Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat berdasarkan Surat Kuasa Nomor : 03/SJ/SJ/2019 tertanggal 1 September 2019 dari Prof. Anita Firmanti Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat selaku Atasan PPID. Selanjutnya disebut sebagai Termohon,
[1.2] Telah membaca permohonan Pemohon Telah mendengar keterangan Pemohon Telah memeriksa surat-surat Pemohon Telah mendengar keterangan Temohon dan Telah memeriksa surat-surat Termohon.
2. DUDUK PERKARA A. Pendahuluan
[2.1] Bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik pada Tanggal 7 Agustus 2019 yang diterima pada tanggal yang sama dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dengan Registrasi Sengketa Nomor : 012/REG-PSI/KI-SB/VIII/2019.
Kronologi
[2.2] Bahwa Pemohon mengajukan permohonan permintaan informasi publik kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat melalui surat tertanggal 12 Mei 2019 yang di terima pada Tanggal 15 Mei 2019 oleh atas nama Muh. Idrus. Adapun salinan informasi yang dimohonkan
3
oleh Pemohon yaitu : Specipikasi Tehnik, RAB dan Gambar Kerja Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Mampie Tahun Anggaran 2019.
[2.3] Bahwa Termohon telah memberikan tanggapan berupa surat klarifikasi kepada Pemohon melalui surat No. UM.01.11/SP.I-PJSA.PSB/02/V/2019 tertanggal 14 Mei 2019 dan diterima pada tanggal yang sama oleh Pemohon.
[2.4] Bahwa Pemohon kembali mengajukan Surat Keberatan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 24 Mei 2019 yang diterima pada Tanggal 4 Juli 2019 oleh atas nama Burhan.
Pemohon mengajukan Surat Keberatan karena merasa tidak puas dengan jawaban dalam surat tanggapan/klarifikasi yang telah diberikan oleh Termohon.
[2.5] Bahwa hingga batas waktu yang ditentukan dalam memberikan jawaban/tanggapan atas keberatan yang dimohonkan oleh Pemohon, Termohon tidak memberikan tanggapan, sehingga pada Tanggal 7 Agustus 2019 yang diterima pada tanggal yang sama dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dengan Registrasi Sengketa Nomor : 012/REG-PSI/KI-SB/VIII/2019.
[2.6] Bahwa pada Tanggal 4 September 2019 telah dilaksanakan sidang dengan agenda Pemeriksaan Awal yang dihadiri oleh pihak Pemohon dan Termohon.
Alasan atau Tujuan Permohonan Informasi Publik
[2.7] Bahwa alasan atau tujuan Pemohon mengajukan Permohonan Informasi Publik atas perkara a quo adalah untuk diketahui informasi yang dimohonkan dan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan.
4 Petitum
[2.8] Pemohon meminta kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat melalui putusannya agar memerintahkan Termohon membuka informasi yang dimohonkan oleh Pemohon dengan mempertimbangkan dan mengutamakan asas cepat, tepat, biaya ringan dan sederhana.
B. Alat Bukti
Keterangan Pemohon
[2.9] Menimbang bahwa dalam persidangan, Pemohon telah menyampaikan keterangan sebagai berikut :
1. Bahwa Pemohon menyatakan mengajukan permintaan informasi kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat melalui surat tertanggal 12 Mei 2019 yang di terima pada Tanggal 15 Mei 2019 oleh atas nama Muh. Idrus.
2. Bahwa Pemohon menyatakan mengajukan Surat Keberatan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 24 Mei 2019 yang diterima pada Tanggal 4 Juli 2019 oleh atas nama Burhan. Pemohon mengajukan Surat Keberatan karena merasa tidak puas dengan jawaban dalam surat tanggapan/klarifikasi yang telah diberikan oleh Termohon.
3. Bahwa Pemohon menyatakan Termohon tidak menanggapi surat keberatan atas permintaan informasi Pemohon.
4. Bahwa Pemohon menyatakan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang di terima Panitera pada Tanggal 7 Agustus 2019.
5 Surat-Surat Pemohon
[2.10] Bahwa Pemohon telah mengajukan bukti berupa surat-surat tertulis, sebagai berikut :
Surat P-1 Fotokopi surat permohonan informasi publik yang ditujukan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat melalui surat tertanggal 12 Mei 2019.
Surat P-2 Fotokopi tanda terima Surat Permohonan Informasi Publik yang ditujukan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu- Lariang Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 15 Mei 2019 yang di terima oleh atas nama Muh. Idrus.
Surat P-3 Fotokopi surat keberatan yang ditujukan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 24 Mei 2019.
Surat P-4 Fotokopi tanda terima Surat Keberatan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 4 Juli 2019 yang diterima atas nama Burhan.
Surat P-5 Fotokopi Akta Pendirian Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA) Nomor : 14.XA.2005 Tanggal 21 Juli 2005, yang dibuat oleh Notaris Syarief Rahmat Tasman, SH,
Surat P-6 Fotokopi pengesahan pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA) yang diterbitkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI Tanggal 11 April 2017.
6
Surat P-7 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Agus Salam.
NIK 7604041506690003. Alamat Kelurahan Wattang Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar.
Surat P-8 Surat klarifikasi No. UM.01.11/SP.I-PJSA.PSB/02/V/2019 dari Termohon kepada Pemohon tertanggal 14 Mei 2019 yang di cap dan ditandatangani oleh Direksi Teknis, Kristian, ST.
Keterangan Termohon
[2.11] Menimbang bahwa dalam persidangan, Termohon telah menyampaikan keterangan sebagai berikut :
1. Bahwa Termohon menyatakan surat permintaan informasi Pemohon diterima Termohon pada tanggal 15 Mei 2019 yang diterima oleh atas nama Muh. Idrus.
2. Bahwa Termohon menyatakan telah berusaha memberikan tanggapan atas Surat Permintaan Informasi Pemohon tertanggal 12 Mei 2019 berupa surat klarifikasi kepada Pemohon melalui surat No. UM.01.11/SP.I- PJSA.PSB/02/V/2019 tertanggal 14 Mei 2019 dan diterima pada tanggal yang sama oleh Pemohon.
3. Bahwa Termohon menyatakan pada saat Pemohon menyampaikan surat keberatan atas tidak di tanggapinya permintaan informasi Tanggal 12 Mei 2019,Termohon terlebih dahulu menyampaikan tanggapan/klarifikasi atas surat permintaan informasi, namun Pemohon mengabaikan dan tidak berkeinginan menerima tanggapan/surat klarifikasi tersebut.
4. Bahwa Termohon menyatakan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tidak berwenang memeriksa dan memutus sengketa a quo dan menolak permohonan sengketa a quo karena pihak Termohon adalah Badan Publik Tingkat Pusat.
7
5. Bahwa Termohon menyatakan agar Majelis Komisioner Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk menjatuhkan/memutus terlebih dahulu putusan sela sebelum memasuki pokok perkara.
Alat Bukti Termohon
[2.12] Menimbang bahwa untuk menguatkan dalil-dalilnya, Termohon mengajukan bukti surat/tertulis sebagai berikut :
Surat T-1 Surat Kuasa Nomor : 03/SJ/SJ/2019 tertanggal 1 September 2019 dari Prof. Anita Firmanti Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat selaku Atasan PPID kepada Indri Damayanti, B.Sc, MAB, Kepala Sub. Bagian Pelayanan Informasi Publik, Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Agus Pramono, SH, MSi, Kepala Sub. Bagian Advokasi Hukum Bina Konstruksi, PIW dan Itjen, Biro Hukum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Muhammad Yusuf Ghazali, SH, Staf Sub. Bagian Advokasi Hukum, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Andi Faisal Fahrial, ST, PPK Sungai dan Pantai I Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat Surat T-2 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Indri Damayanti,
B.Sc, NIK 3175025804821001 Alamat Jl. Pondasi No.17 RT 003 RW 004 Kelurahan Kayu Putih Kec. Pulo Gadung Jakarta Timur.
Surat T-3 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Agus Pramono, SH, MSi, NIK 3216072702610005 Alamat Jl. SMP No.135 RT 007 RW 007 Kelurahan Pondok Bambu Kec. Duren Sawit Jakarta Timur.
Surat T-4 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Muhammad Yusuf Ghazali, SH, NIK 3674070908780001 Alamat Permata Pamulang Blok A.94 RT 006 RW 004 Kelurahan Baktijaya Kec. Setu Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten.
8
Surat T-5 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Andi Faisal Fahrial, ST, NIK 7371122909830003 Alamat Jl. Abd. Dg Sirua No.159 RT 003 RW 006 Kelurahan Tamamaling Kec. Panakkukang Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Surat T-6 Fotokopi surat No. 02/K.SJ/IX/2019 Tertanggal 4 September 2019 tentang perihal tanggapan Termohon dan Permohonan Putusan Sela dari Kuasa Hukum Termohon.
Surat T-7 Fotokopi Pasal 6 Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013 Tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
Surat T-8 Fotokopi Buku Putusan Komisi Informasi Dalam Bingkai Hukum Progresif Hal. 21-24 A.2.1 Kewenangan Penanganan Sengketa Komisi Informasi terhadap Badan Publik KIP RI Jakarta, 18 September 2015, Surat T-9 Fotokopi Putusan Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah No :
0005/PTS-A/V/2014.
Surat T-10 Fotokopi Putusan Sela Majelis Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Selatan No : 044/XI/KIP-SS/2015, , , , , dan
Surat T-11 Fotokopi Putusan Sela Majelis Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Selatan No : 062/XII/KIP-SS/2015.
Surat T-12 Fotokopi Putusan Sela Majelis Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Selatan No : 048/XI/KIP-SS/2015.
Surat T-13 Fotokopi Putusan Sela Majelis Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Selatan No : 047/XI/KIP-SS/2015
Surat T-14 Fotokopi DIPA T.A. 2019 Balai Wilayah Sungai Sulawesi III.
Surat T-15 Fotokopi Peraturan Menteri PUPR No. 20/PRT/M/2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian PUPR Surat T-16 Fotokopi Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan
Informasi Publik Pasal 27 ayat (3).
9
Surat T-17 Fotokopi Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 674/KPTS/M/2015 Tentang Penetapan struktur organisasi dan Penunjukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
3. PERTIMBANGAN HUKUM
[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan sesungguhnya adalah mengenai Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, sebagaimana diatur pasal 35 ayat (1) huruf c, Undang-undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, selanjutnya disebut UU KIP, juncto pasal 5 huruf b Pasal 13 dan Pasal 36 ayat (1) dan (2) Peraturan Komisi Informasi (Perki) No.1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, yaitu dengan alasan permintaan informasi tidak di tanggapi.
[3.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, berdasarkan pasal 36 ayat (1) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP, Majelis Komisioner terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan terhadap permohonan a quo.
2. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon untuk mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
3. Kedudukan hukum (legal standing) Termohon sebagai Badan Publik dalam penyelesaian sengketa informasi publik.
4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik.
10
Bahwa terhadap keempat hal tersebut, Majelis Komisioner mempertimbangkan dan memberikan pendapat sebagai berikut :
A. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat
[3.3] Menimbang bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki dua kewenangan yaitu Kewenangan Absolut dan Kewenangan Relatif.
Kewenangan Absolut
[3.4] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 4 UU KIP dinyatakan : Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang- Undang Keterbukaan Informasi Publik dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi.
[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 UU KIP, juncto Pasal 1 angka 3 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan :
Sengketa Informasi Publik adalah sengketa yang terjadi antara badan publik dan pengguna informasi publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan informasi berdasarkan perundang-undangan.
[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 UU KIP dinyatakan bahwa :
Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu Badan Publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelengaraan Badan Publik lainnya yang sesuai dengan Undang-undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik.
[3.7] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan :
11 Pasal 22 UU KIP :
Ayat (1)
Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan permintaan untuk memperoleh Informasi Publik kepada badan Publik terkait secara tertulis atau tidak tertulis.
Ayat (7)
Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan : a. Informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak.
b. Badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta.
c. Penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.
d. Dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan;.
e. Dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya.
f. Alat penyampai dan format informasi yang akan diberikan dan/atau g. Biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang diminta.
Ayat (8)
Badan Publik yang bersangkutan dapat memperpanjang waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), paling lambat 7 (tujuh) hari kerja berikutnya dengan memberikan alasan secara tertulis.
12 Pasal 26 ayat (1) huruf a UU KIP :
Komisi Informasi bertugas menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang KIP.
Pasal 36 UU KIP :
(1) Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).
(2) Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis
Pasal 37 ayat (2) UU KIP :
Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2)
Pasal 38 ayat (1) UU KIP :
Komisi Informasi Pusat dan Komisi Informasi Provinsi dan/atau Komisi Informasi Kabupaten/Kota harus mulai mengupayakan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
[3.8] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan bahwa :
13
Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat ditempuh apabila :
1. Pemohon tidak puas terhadap tanggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID atau
2. Pemohon tidak mendapatkan tanggapan atas keberatan yang telah diajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.
[3.9] Menimbang bahwa berdasarkan fakta permohonan dan fakta persidangan, Pemohon telah menempuh mekanisme untuk memperoleh informasi dan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik sebagai berikut :
1. Pemohon telah mengajukan Permohonan Informasi Publik tertanggal 12 Mei 2019 kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan
Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat.
2. Pemohon telah mengajukan Surat Keberatan kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT (Satuan Non Vertikal Tertentu) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat melalui surat tertanggal 24 Mei 2019.
3. Pemohon telah mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada Tanggal 7 Agustus 2019 yang diterima pada tanggal yang sama dan terdaftar di Kepaniteraan dengan Registrasi Sengketa Nomor : 012/REG-PSI/KI-SB/VIII/2019.
[3.10] Menimbang berdasarkan pasal 1 angka 5 Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013, tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, menyatakan :
Atasan PPID adalah pejabat yang merupakan atasan langsung pejabat yang bersangkutan dan/atau atasan dari atasan langsung dari pejabat yang
14
bersangkutan yang ditunjuk dan/atau bertanggungjawab dalam memberi tanggapan tertulis atas keberatan permohonan informasi publik yang diajukan oleh Pemohon informasi publik.
[3.11] Menimbang berdasarkan pasal 1 angka 8 Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013, tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, menyatakan :
Termohon Penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang selanjutnya disebut Termohon adalah Badan Publik yang diwakili oleh Pimpinan Badan Publik, atasan PPID, atau pejabat yang ditunjuk dan diberi kewenangan untuk mengambil keputusan dalam penyelesaian sengketa di Komisi Informasi.
Kewenangan Relatif
[3.12] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU KIP yang dinyatakan :
Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsidan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atauseluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atauAnggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat,dan/atau luar negeri.
[3.13] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (2) dan (3) UU KIP dinyatakan :
(2) Kewenangan Komisi Informasi Pusat meliputi kewenangan penyelesaian sengketa informasi publik yang menyangkut Badan Publik pusat dan Badan Publik tingkat provinsi dan/atau Badan Publik tingkat kabupaten/kota selama Komisi Informasi di Provinsi atau Komisi Informasi Kabupaten/Kota tersebut belum terbentuk.
15
(3) Kewenangan Komisi Informasi Provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan.
[3.14] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan (2) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan :
(1) Komisi Informasi Pusat berwenang menyelesaikan Sengketa Informasi Publik yang menyangkut Badan Publik Pusat.
(2) Komisi Informasi Provinsi berwenang menyelesaikan Sengketa Informasi Publik yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi.
[3.15] Menimbang penjelasan Pasal 6 ayat (1) dan (2) Peraturan Komisi Informasi No.1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik menyatakan :
(1) Yang dimaksud dengan Badan Publik pusat adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya bersifat Nasional atau lembaga tingkat pusat dari suatu lembaga yang hierarkis. Contoh : Kementerian, MPR, DPR, Mahkamah Agung, Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, Partai Politik tingkat pusat, organisasi non pemerintah tingkat pusat, BUMN, atau lembaga negara lain di tingkat pusat.
(2) Yang dimaksud dengan Badan Publik provinsi adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya mencakup provinsi setempat atau lembaga tingkat provinsi dari suatu lembaga yang hierarkis. Sebagai Contoh: Pemerintah Provinsi, DPRD Provinsi, Pengadilan tingkat banding, Kepolisian Daerah, Komando Daerah Militer, BUMD tingkat provinsi, Partai Politik tingkat provinsi, organisasi non pemerintah tingkat provinsi, Rumah Sakit Umum Daerah tingkat provinsi, atau lembaga tingkat provinsi lainnya.
[3.16] Menimbang berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan pada Tanggal 4 September 2019, keterangan secara lisan oleh Termohon dan berdasarkan
16
alat bukti Surat T-14, T-15 dan T-17 yang diajukan oleh Termohon, menjelaskan yang pada intinya bahwa Termohon adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya bersifat Nasional atau lembaga tingkat pusat dari suatu lembaga yang hierarkis.
[3.17] Menimbang bahwa berdasarkan uraian dalam paragraf [3.4] sampai dengan paragraf [3.16] Majelis berpendapat Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa a quo.
B. Kedudukan Hukum / Legal Standing Pemohon
[3.18] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 1 angka 12 UU KIP
Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Pasal 1 angka 7 Perki No. 1 Tahun 2013
Pemohon penyelesaian sengketa informasi publik yang selanjutnya disebut Pemohon adalah Pemohon atau pengguna informasi public yang mengajukan Permohonan kepada Komisi Informasi.
Pasal 11 ayat (1) huruf a Perki No. 1 Tahun 2013
Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan permohonan berupa identitas yang sah, yaitu :
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk, Paspor atau identitas lain yang sah yang dapat membuktikan Pemohon adalah warga negara Indonesia atau
2. Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
3. Surat kuasa dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk pemberi kuasa dalam hal Pemohon mewakili kelompok orang.
17
4. Permohonan informasi kepada Badan Publik, yaitu : Surat permohonan, formulir permohonan, tanda terima atau tanda pemberian/pengajuan permohonan informasi; dan/atau
5. Surat pemberitahuan tertulis dari Badan Publik atas permohonan informasi.
6. Keberatan kepada Badan Publik, yaitu : Surat pengajuan keberatan disertai tanda pemberian/pengajuan, tanda pengiriman atau tanda terima dan
7. Surat tanggapan tertulis atas keberatan Pemohon oleh atasan PPID atau 8. Dokumen lainnya, bila dipandang perlu.
[3.19] Menimbang, bahwa permohonan yang diajukan selain Warga Negara Indonesia, maka berdasarkan uraian paragraf [3.16] wajib menyertakan Anggaran Dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia dan telah tercacat di Berita Negara Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
[3.20] Menimbang bahwa berdasarkan fakta permohonan dan fakta persidangan yang tidak dibantahkan oleh Pemohon sehingga menjadi fakta hukum bahwa Pemohon dalam sengketa a quo yaitu Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA) yang didirikan berdasarkan Akta Notaris Nomor 14.XA.2005 Tanggal 21 Juli 2005 yang dibuat di hadapan Notaris Syarief Rahmat Tasman, SH dan pengesahan pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (LPA) yang diterbitkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI Tanggal 11 April 2017.
[3.21] Menimbang bahwa berdasarkan fakta persidangan pemohon telah mengajukan Permohonan Informasi Publik, Pengajuan keberatan, dan Permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat sebagaimana di uraiakan pada paragraf [2.2] sampai pada paragraf [2.5] pada bagian kronologis.
[3.22] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [3.18] sampai dengan paragraf [3.21], Majelis berpendapat bahwa Pemohon memenuhi syarat kududukan hukum
18
(legal standing) sebagai Pemohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo..
C. Kedudukan Hukum / Legal Standing Termohon
[3.23] Menimbang bahwa kedudukan hukum Termohon dalam sengketa a quo telah diuraikan dan dipertimbangkan pada bagian kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada paragraf [3.4] sampai dengan [3.16]. Pertimbangan tersebut berlaku secara mutatis mutandis dalam menguraikan dan mempertimbangkan kedudukan hukum Termohon.
[3.24] Menimbang berdasarkan paragraf [3.23], Majelis berpendapat bahwa Termohon memenuhi syarat kedudukan hukum atau legal standing sebagai Termohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo.
D. Batas Waktu Pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi
[3.25] Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum yang tidak terbantahkan dalam persidangan, Pemohon telah menempuh mekanisme permohonan informasi, keberatan, dan pengajuan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik sebagaimana yang dimaksud pada paragraf [2.2] sampai dengan paragraf [2.5] pada bagian kronologis.
[3.26] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Perki No. 1 Tahun 2013 yang menyatakan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat di tempuh apabila :
1. Pemohon tidak puas terhadap tangggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID; atau
2. Pemohon tidak mendapat tanggapan atas keberatan yang telah diajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.
19
[3.27] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (2) dan Pasal 37 ayat (2) UU KIP juncto Pasal 1 Perki No. 1 Tahun 2013 disebutkan bahwa jangka waktu pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi ke Komisi Informasi dilakukan paling lambat 14 hari kerja sejak diterimanya tanggapan tertulis atas keberatan atau berakhirnya jangka waktu 30 hari kerja bagi atasan PPID dalam memberikan tanggapan tertulis atas keberatan yang diajukan Pemohon.
[3.28] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [3.25] sampai dengan paragraf [3.27] Majelis Komisioner berpendapat bahwa jangka waktu Pemohon dalam mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat terpenuhi.
[3.29] Menimbang bahwa Majelis Komisioner berpendapat karena Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa a quo, maka demi kepastian hukum Pemohon dapat kembali mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi kepada Komisi Informasi Pusat paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak menerima putusan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat.
[3.30] Menimbang bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa a quo, Majelis tidak akan melanjutkan ke pokok permohonan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan seluruh uraian serta fakta hukum diatas, Majelis Komisioner berkesimpulan :
[4.1 Bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus permohonan a quo.
20
[4.2] Bahwa Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan dalam sengketa a quo.
[4.1] Bahwa Termohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai Termohon dalam sengketa a quo.
[4.1] Bahwa pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik telah memenuhi jangka waktu yang telah ditetapkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik No. 14 Tahun 2008 dan Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013 Tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
5. AMAR PUTUSAN
Memutuskan : Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.
6. PENDAPAT BERBEDA (DISSENTING OPINION)
Terhadap putusan ini, Majelis Komisoner Andi Fachriady Kusno memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion) dengan uraian sebagai berikut :
[6.1] Menimbang ketentuan dalam UU KIP Pasal 27 ayat (2) dan (3) UU KIP dinyatakan :
(1) Kewenangan Komisi Informasi Pusat meliputi kewenangan penyelesaian sengketa informasi publik yang menyangkut Badan Publik pusat dan Badan Publik tingkat provinsi dan/atau Badan Publik tingkat kabupaten/kota selama Komisi Informasi di Provinsi atau Komisi Informasi Kabupaten/Kota tersebut belum terbentuk.
(2) Kewenangan Komisi Informasi Provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan.
[6.2] Menimbang bahwa memperhatikan paragraf [6.1] di atas, pada bagian halaman penjelasan pada pasal tersebut dinyatakan cukup jelas sehingga hal ini menimbulkan
21
berbagai persepsi bahwa apakah hal yang menyangkut badan publik pusat hanya mencakup perwilayahan saja ataukah badan publik pusat yang ada di daerah juga merupakan domain penyelesaian sengketa informasi dari Komisi Informasi pusat.
Terhadap hal ini Komisi Informasi Pusat telah melakukan konsensus sehingga putusan yang dikeluarkan diawali dengan menguraikan terlebih dahulu mana yang merupakan kewenangan Komisi Informasi Pusat dan disisi lain mana yang merupakan kewenangan Komisi Informasi Daerah, dimana hal tersebut dipertimbangan dalam istilah kewenangan relatif. Dalam UU KIP ataupun Perki istilah kewenangan relatif secara tekstual tidak dijumpai dan tidak didefinisikan sehingga sekali lagi ini hanyalah konsensus agar seluruh putusan Komisi Informasi di daerah seragam namun dari sudut pandang pengertian yang sesungguhnya dikembalikan kepada masing-masing Majelis untuk menyikapinya atau dengan kata lain merupakan alternatif. Hal ini diperkuat dengan adanya Pasal 6 ayat (3) Perki No.1 Tahun 2013 Tentang PPSIP pada bagian penjelasan menyatakan :
Yang dimaksud dengan Badan Publik Kabupaten/Kota adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya mencakup Kabupaten/Kota setempat atau lembaga tingkat Kabupaten/Kota dari suatu lembaga yang hierarkis. Contoh : Pemerintah Kabupaten/Kota, DPRD Kabupaten/Kota, Pengadilan tingkat pertama, Komando Distrik Militer, BUMD tingkat Kabupaten/Kota, Partai Politik tingkat Kabupaten/Kota, organisasi non pemerintah tingkat Kabupaten/Kota, RSUD tingkat Kabupaten/Kota, atau lembaga tingkat Kabupaten/Kota lainnya.
[6.3] Menimbang bahwa memperhatikan Pasal 6 ayat (3) Perki No.1 Tahun 2013 Tentang PPSIP pada bagian penjelasan di atas, Pengadilan tingkat Pertama ataupun Komando Distrik Militer secara kelembagaan merupakan bagian dari badan publik pusat namun hal tersebut dikategorikan sebagai bagian badan publik daerah dalam hal penanganan sengketa informasi publik sehingga beranjak dari pasal Perki ini kewenangan relatif dapatlah disikapi dengan bijak , bergantung pada pertimbangan yang rasional dan konstitusional. Namun disisi lain kedudukan badan publik pusat yang ada di daerah menjadi pertimbangan bahwa faktor lingkup kerja atau wilayah
22
layanan yang berada dalam cakupan Komisi Informasi di daerah menjadikan kewenangan relatif bagi Komisi Informasi di daerah walaupun dari segi pendanaan murni APBN. Jadi dasar utama untuk memandang apakah kewenangan relatif itu menjadi kewenangan bagi Komisi Informasi adalah pada wilayah lingkup kerja yang hirarkis.
[6.4] Menimbang bahwa Istilah kewenangan relatif diadopsi dari dunia peradilan dimana kewenangan untuk mengadili atau kompetensi yurisdiksi bagi pengadilan adalah untuk menentukan pengadilan mana yang berwenang memeriksa dan memutus suatu perkara, sehingga pengajuan perkara tersebut dapat diterima atau ditolak dengan alasan pengadilan tidak berwenang mengadilinya. Kewenangan mengadili merupakan syarat formil sahnya sebuah gugatan, sehingga pengajuan perkara kepada pengadilan yang tidak berwenang untuk mengadilinya menyebabkan gugatan tersebut dapat dianggap salah alamat dan tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan kewenangan absolut atau kewenangan relatif pengadilan.
Kewenangan Absolut Pengadilan
Kewenangan absolut pengadilan merupakan kewenangan lingkungan peradilan tertentu untuk memeriksa dan memutus suatu perkara berdasarkan jenis perkara yang akan diperiksa dan diputus. Menurut Undang-undang No. 4 Tahun 2004, kekuasaan kehakiman (judicial power) yang berada di bawah Mahkamah Agung (MA) merupakan penyelenggara kekuasaan negara di bidang yudikatif yang dilakukan oleh lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara. Mengutip pakar hukum Pidana, Yahya Harahap, pembagian lingkungan peradilan tersebut merupakan landasan sistem peradilan negara (state court system) di Indonesia yang terpisah berdasarkan yurisdiksi (separation court system based on jurisdiction). Berdasarkan penjelasan Undang-undang No. 14 Tahun 1970, pembagian itu berdasarkan pada lingkungan kewenangan yang dimiliki masing-masing berdasarkan diversity jurisdiction, kewenangan tersebut memberikan kewenangan
23
absolut pada masing-masing lingkungan peradilan sesuai dengan subject matter of jurisdiction, sehingga masing-masing lingkungan berwenang mengadili sebatas kasus yang dilimpahkan undang-undang kepadanya.
Kewenangan Relatif Pengadilan
Kewenangan relatif pengadilan merupakan kewenangan lingkungan peradilan tertentu berdasarkan yurisdiksi wilayahnya, yaitu untuk menjawab pertanyaan “Pengadilan Negeri wilayah mana yang berwenang untuk mengadili suatu perkara?”. Dalam hukum acara perdata, menurut pasal 118 ayat (1) Herzien Inlandsch Reglement (HIR), yang berwenang mengadili suatu perkara perdata adalah Pengadilan Negeri (PN) yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal tergugat (actor sequitur forum rei).
Persoalannya adalah bagaimana jika seorang tergugat memiliki beberapa tempat tinggal yang jelas dan resmi. Dalam hal ini, penggugat dapat mengajukan gugatan ke salah satu PN tempat tinggal tergugat tersebut. Misalnya, seorang tergugat dalam KTP- nya tercatat tinggal di Mamuju dan memiliki ruko di sana, sementara faktanya ia juga tinggal di Majene. Dalam hal demikian, gugatan dapat diajukan baik pada PN di wilayah hukum Mamuju maupun Majene. Dengan demikian, titik pangkal menentukan PN mana yang berwenang mengadili perkara adalah tempat tinggal tergugat dan bukannya tempat kejadian perkara (locus delicti) seperti dalam hukum acara pidana.
Jika obyek gugatan mengenai benda tidak bergerak (benda tetap), misalnya tanah, maka gugatan diajukan kepada PN yang daerah hukumnya meliputi benda tidak bergerak itu berada. Jika keberadaan benda tidak bergerak itu meliputi beberapa wilayah hukum, maka gugatan diajukan ke salah satu PN atas pilihan penggugat.
Namun jika perkara itu merupakan perkara tuntutan ganti rugi berdasarkan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) pasal 1365 KUH Perdata yang sumbernya berasal dari obyek benda tidak bergerak, maka tetap berlaku asas actor sequtur forum rei (benda tidak bergerak itu merupakan “sumber perkara” dan bukan obyek perkara, misalnya, tuntutan ganti rugi atas pembakaran lahan perkebunan.
24
Dalam perjanjian, terkadang para pihak menentukan suatu PN tertentu yang berkompetensi memeriksa dan mengadili perkara mereka. Hal ini, berdasarkan asas kebebasan berkontrak, bisa saja dimasukan sebagai klausul perjanjian, namun jika terjadi sengketa, penggugat memiliki kebebasan untuk memilih, apakah PN berdasarkan klausul yang ditunjuk dalam perjanjian itu atau berdasarkan asas actor sequtur forum rei. Jadi, domisili pilihan dalam suatu perjanjian tidak secara mutlak menyingkirkan asas actor sequitur forum rei, dan tergugat tidak dapat melakukan eksepsi terhadap tindakan tersebut.
[6.5] Menimbang bahwa dari penjelasan pada paragraf [6.4, selaku Majelis yang memiliki pendapat berbeda, persoalan tentang mana yang merupakan kewenangan relarif adalah berdasarkan lingkup kerja atau tempat tinggal tergugat atau termohon (actor sequitur forum rei). Dengan demikian kewenangan relatif yang dimiliki oleh Komisi Informasi provinsi Sulawesi Barat dalam memutuskan badan publik Termohon adalah memiliki kapasitas untuk menyidangkan perkara ini sampai tuntas dengan dasar bahwa tempat Termohon berada dalam wilayah provinsi Sulawesi Barat, dengan syarat bahwa informasi tersebut dikuasai oleh Termohon. Dalam persidangan pemeriksaan awal pada tanggal 4 September 2019 selaku Majelis menanyakan akan hal tersebut kepada kuasa Termohon bahwa apakah informasi yang diminta oleh Pemohon dimiliki dan dijawab dimiliki.
[6.6] Menimbang bahwa Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat, yang dalam perkara a quo bertindak selaku Termohon merupakan badan publik pusat yang berkedudukan atau memiliki ruang lingkup kerja di wilayah provinsi Sulawesi Barat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mana secara struktur kelembagaan bernaung di bawah berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 20/PRT/M/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian (PUPR).
25
[6.7.] Menimbang bahwa dalam paragraf [6.4] telah digambarkan tentang kewenangan relatif Pengadilan sehingga hal tersebut juga tidak jauh berbeda dengan Badan publik Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS Kalukku- Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat yang mana badan publik tersebut memiliki kantor pusat di Jakarta dan memiliki banyak kantor cabang dalam bentuk balai yang menyebar di seluruh Indonesia. Garis pemikiran tentang kewenangan relatif pengadilan sejalan dengan kewenangan relatif Komisi Informasi Daerah dimana kedudukan badan publik balai tersebut yang obyeknya berada dalam di wilayah provinsi Sulawesi Barat sehingga Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat berhak menerima, menangani dan memutus sengketa informasi antara Pemohon dan Termohon.
[6.8] Penjelasan pada paragraf [6.2] sampai dengan paragraf [6.7] merupakan uraian secara yuridis dan selanjutnya akan memaparkan secara filosofis guna melengkapi sikap dissenting opinion ini sebagai bagian dari kemandirian Majelis.
[6.9] Menimbang bahwa dalam pasal 21 UU KIP dijelaskan “Mekanisme untuk memperoleh Informasi Publik didasarkan pada prinsip cepat, tepat waktu dan biaya ringan.” Prinsip ini merupakan bagian dari maklumat pelayanan bagi pemohon informasi yang menginginkan adanya keadilan dalam memperoleh informasi. Proses ajudikasi nonlitigasi yang saat ini berproses di Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat juga merupakan bagian dari mekanisme Pemohon utnuk mendapatkan informasi, haruslah juga memperhatikan prinsip dasar di atas sehingga Pemohon tidak harus mengajukan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Pusat karena akan menguras biaya transportasi dan akomodasi dan menghadiri setiap sidang di Jakarta.
Adalah hal yang tidak adil bagi pemohon informasi jika hanya untuk meminta penyelesaian sengketa informasi harus ke Jakarta padahal di badan publik tersebut informasi itu tersedia atau dikuasai. Sebaliknya merupakan kewajiban bagi termohon selaku badan publik sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat 1 UU KIP yang berbunyi
“Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik
26
yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan.”
Kesimpulan
[6.10] Bahwa terhadap hal-hal yang telah dipaparkan sebagaimana dimaksud pada paragraf [6.1] sampai dengan paragraf [6.9] dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Selaku Majelis yang memiliki pendapat berbeda memandang bahwa dalam hal penyelesaian sengketa informasi menyangkut badan publik pusat yang memiliki ruang lingkup kerja di wilayah daerah provinsi atau kabupaten maka Komisi Informasi daerah setempat berwenang menerima, memeriksa dan memutus sengketa informasi tersebut, sepanjang informasi tersebut dikuasai atau dimiliki oleh Badan Publik atau Termohon;
2. Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat berwenang menerima, memeriksa dan memutus sengketa informasi terhadap Badan publik Balai Wilayah Sungai Sulawesi III SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS Kalukku-Karama, WS Palu-Lariang Provinsi Sulawesi Barat.
3. Terhadap sengketa a quo ini selaku Majelis hanya berbeda pendapat pada masalah kewenangan relatif saja sedangkan mengenai batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik yang tidak sesuai dengan ketentuan UU KIP dan Perki adalah sejalan dengan pendapat Majelis lainnya.
27
Demikian diputuskan dalam rapat Permusyawaratan Majelis Komisioner yaitu Andi Ishaq Abdullah, S.Sos selaku Ketua merangkap Anggota, Andi Fachriady Kusno, ST, dan Dulhaj Muchtar Mahmud, SE masing-masing sebagai anggota, pada hari Selasa, Tanggal 17 September 2019 dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari ini Rabu, Tanggal 18 September 2019 oleh Majelis Komisioner yang nama-namanya tersebut diatas dengan didampingi oleh Bonewati, SH sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh Pemohon dan Termohon.
KETUA MAJELIS
( ANDI ISHAQ ABDULLAH, S.Sos )
ANGGOTA MAJELIS ( ANDI FACHRIADY KUSNO, ST )
ANGGOTA MAJELIS
( DULHAJ MUCHTAR MAHMUD, SE ) PANITERA PENGGANTI
( BONEWATI, SH )
Untuk salinan Putusan ini sah dan sesuai dengan aslinya, diumumkan kepada masyarakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan ketentuan pasal 59 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
Dikeluarkan di Mamuju
Pada Tanggal : 23 September 2019 PANITERA
DARMAWATI JUSUF