Achyar Zein
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]
Muhammad Al-Farabi
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]
Abdul Roni
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]
Received: 02, 2022. Accepted: 12, 2022.
Published: 12, 2022
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM AL-QURAN SURAH AL-JUM'AH (STUDI AL-MISHBAH DAN AL-WASITH)
Abstract
This study aims to analyze: 1) The content of Islamic education in Surah al-Jumu'ah according to Tafsir Al- Misbah and Al-Wasith, 2) The values of Islamic education contained in Surah al-Jumu'ah. 3) The relevance of Islamic educational values in surah al-Jumu'ah to contemporary education.
This study uses a qualitative method, using a library research approach. The primary data sources in this study were the Qur'an al-Karim along with the Tafsir Al-Misbah by M. Quraih Shihab and the Tafsir al-Wasith by Wahbah az-Zuhaily.
The results showed that: 1) Interpretation of QS al- Jumu'ah by Tafsir al-Misbah and Tafsir al-Wasith, there were no significant differences of opinion regarding their interpretation of QS al-Jumu'ah. 2) Values of Islamic Education in Surah al-Jumu'ah described by Tafsir al- Misbah and Tafsir al-Wasith include: a) Value of Worship:
Always glorify Allah SWT. and an appeal to seek knowledge and practice it, b) Moral Values, c) Death Warning, d) Suggestions to leave business during Friday prayers. 3) The educational values described by Tafsir al-Misbah and Tafsir al-Wasith above have relevance, namely these values can be implied in contemporary Islamic education, for example imitating the Prophet as an educator with perfect abilities in terms of affective , cognitive and psychomotor.
Islamic education is a physical and spiritual guidance that is formed by the main personality according to Islamic teachings. The educational values contained in the Qur'an Surat Al-Jumu'ah study of Tafsir Al-Mishbah Dan Al- Wasith surah begin with the wisdom of Allah, His glory, and His nature with perfect qualities, then praise the Prophet SAW. Educational values in Surah Al-Jumu;ah namely explaining the values of Worship to Allah Almighty, Moral Values, Death Warnings and Recommendations to Leave Business during Friday Prayers.
Keywords : Value, Education, Interpretation, Al-Misbah, Al-Wasith
PENDAHULUAN
Sidi Gazalba dalam Chabib Thoha (Thoha 1996:61) berpendapat bahwa nilai adalah sesuatu yang abstrak, ideal, nilai bukanlah benda konkrit, bukan fakta, bukan hanya soal benar dan salah yang memerlukan bukti empiris, tetapi penghayatan yang diinginkan dan tidak diinginkan. Sedangkan Djahiri dan Wahab (Djahiri dan Abdul Aziz Wahab 1996:22) menyatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai, menurut standar logika (benar-salah), estetika (baik-buruk), etika (adil/tidak adil), agama (dosa). dan halal/haram), dan hukum (sah-sah), serta menjadi acuan dan atau sistem kepercayaan diri dan kehidupan.
Ketika nilai-nilai dimasukkan ke dalam suasana pendidikan, maka nilai-nilai tersebut menjadi sesuatu yang harus ditaati dan wajib ada di dalamnya. (Kartono 1992:95) . Kaitannya dengan pendidikan, khususnya berkaitan dengan pendidik, menurut Sharver dan Strong yang dikutip oleh al-Rasyidin (Al-Rashidin 2009:110) menjelaskan bahwa secara umum nilai dapat dikategorikan menjadi dua bidang utama. Pertama, nilai moral adalah standar atau prinsip yang digunakan seseorang untuk menilai baik atau buruk atau benar atau salah dalam suatu tujuan dan perilaku.
Berbagai keputusan yang berkaitan dengan benar dan salah selalu disebut keputusan etis. Nilai moral tersebut dapat berupa nilai moral pribadi dan nilai dasar sosial.
Kedua, nilai nonmoral Nilai nonmoral adalah standar atau prinsip yang digunakan menurut dan dipengaruhi oleh nilai estetika dan kinerja. Nilai estetika adalah standar yang digunakan untuk menilai keindahan dalam arti luas yang berkaitan dengan alam, seni, musik. (Syarnubi 2019)
Pendidikan secara etimologi dapat diartikan sebagai: benda, cara dan sebagainya, (Syah 2007) sedangkan secara terminologi adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tujuan hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam suatu pengertian mental. (Sudirman 1992)
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. negara (Misdar et al. 2017: 53) .
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan mengarah pada usaha manusia untuk dapat melatih dirinya sesuai dengan fitrah manusia sehingga dapat berkembang menuju tujuan yang diinginkan, yaitu kehidupan yang sempurna dengan terbentuknya kepribadian yang lebih baik lagi.
Pendidikan Islam saat ini mengalami krisis nilai-nilai Islam yang menyebabkan kemerosotan. Para pemerhati pendidikan telah menganalisis beberapa penyebab penurunan tersebut, diantaranya adalah penyebab penurunan tersebut, yaitu mengenai kehidupan yang tidak dirujuk sumber utamanya. Apalagi jika dibandingkan dengan bidang sosial dan budaya yang mengalami penurunan nilai, hilangnya keteladanan, dan keyakinan yang benar kini mulai tercampur dengan pemahaman yang sesat. Materi kehidupan yang tidak mengacu pada sumber utama, terjadinya krisis sosial dan krisis budaya, hilangnya tauladan yang baik, keyakinan yang benar, dan nilai-nilai keislaman. (Sharif 2012:1)
Untuk menghadapi semua permasalahan tersebut, kita harus kembali kepada Al-Qur'an. Salah satu surah yang bisa dijadikan jawaban atas berbagai permasalahan tersebut adalah surah al-Jumu'ah. Adapun upaya untuk mengatasi masalah tersebut harus ditempuh sesuai dengan Al-Qur'an. Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka isi surah al-Jum'ah memiliki relevansi dengan pendidikan, terutama pada nilai-nilai pendidikan yang salah satunya dapat dipahami melalui ayat yang memerintahkan untuk selalu menuntut ilmu. Surat al-Jum'ah merupakan salah satu surat yang menjadi jawaban atas permasalahan, khususnya untuk mengatasi permasalahan dalam pendidikan.
Surat al-Jum'ah menjelaskan tentang diutusnya Nabi Muhammad SAW dan menjelaskan bahwa umatnya akan dimuliakan karena ajarannya, dilanjutkan dengan perumpamaan orang Yahudi dan pengakuan palsu mereka kemudian diakhiri dengan kewajiban shalat Jum'at (Khalil 2018: 3 60 ) Terlihat pula adanya gejala buruk yang merebak di masyarakat dengan sebagian masyarakat yang dengan mudahnya meninggalkan shalat Jumat. Sebagian dari mereka masih sibuk di toko, kantor dan tempat kerja atau tempat lain yang tidak menyegerakan mereka untuk segera melaksanakan sholat jumat.
Surah al-Jum'ah ini memiliki relevansi dengan pendidikan Islam. Karena mengandung nilai-nilai pendidikan seperti yang penulis temukan pada alinea kesembilan yang berbunyi:
orang yang beriman, jika adzan telah dikumandangkan dari hari -
Wahai orang
Jum'at, maka bersegeralah
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9)
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu dipanggil untuk melakukan shalat Jumat, maka bergegaslah untuk mengingat Allah. Dan tinggalkan perdagangan seperti itu, akan lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya."
Thahir Ibnu Asyur menggarisbawahi bahwa ayat-ayat di atas dan di bawah adalah tujuan utama dari surah ini. Kelompok syair terakhir dia nilai sebagai pengantar untuk tujuan itu. Ayat di atas menyatakan: Hai orang-orang yang beriman, ketika dipanggil, yaitu adzan oleh siapa saja, untuk shalat Zhuhur pada hari Jum'at, maka bergegaslah kuatkan tekad dan langkahmu, jangan malas apalagi mengabaikannya, untuk menuju dzikrullah menghadiri shalat dan khutbah jumat, dan meninggalkan jual beli, yaitu segala macam pergaulan dalam bentuk dan kepentingan apapun atau bahkan segala sesuatu yang dapat mengurangi perhatian terhadap upacara jumat. Begitulah adanya, yaitu menghadiri acara hari jumat, yang baik untuk Anda, jika Anda mengetahui kebaikannya, Anda harus memperhatikan perintah ini. (Shihab 2002)
Alasan penulis melakukan penelitian ini karena Surat al-Jum’ah ini memuat beberapa tema besar, antara lain sebagai berikut:
1. Karunia Kenabian
2. Sikap Yahudi Terhadap Taurat
3. Sholat Jum'at dan Kegiatan Kerja Setelahnya
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, penelitian ini bukan dari jenis penelitian lapangan, melainkan masuk ke dalam ranah penelitian non lapangan yaitu penelitian kepustakaan. Sumber data diambil dari bahan-bahan tertulis dari kajian-kajian yang relevan dengan penelitian ini.
Dengan demikian perpustakaan digunakan sebagai sumber untuk mendapatkan data
penelitian. Karena penelitian kepustakaan adalah pencarian yang menggunakan sumber kepustakaan untuk mendapatkan data penelitian (Zed 2008) .
Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Carilah ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2. Memilih ayat dan hadits yang menjadi sumber bahan primer dan sekunder yang relevan dengan penelitian ini
3. Carilah berbagai referensi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti berupa buku-buku, kitab-kitab, dan sebagainya yang relevan dengan penelitian ini.
Verifikasi data dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang konkrit terkait dengan masalah yang diteliti. Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data atau menganalisis isi teks. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggabungkan teknik analisis isi dengan metode tahlili.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Tafsir Surah al-Jum'ah menurut Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Wasith Dalam tafsir QS. al-Jum'ah oleh Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Wasith, tidak menemukan perbedaan pendapat yang signifikan mengenai penafsiran mereka terhadap QS. al-Jumat. Seperti surah sebelumnya, surah ini dimulai dengan hikmah Allah, keagungan-Nya, dan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat yang sempurna, kemudian memuji Nabi. dengan tafsir khataman nabi rahmat Allah swt pendiam dan Nabi adalah orang Arab membacakan ayat-ayat Al- Qur'an kepada umatnya, mensucikan mereka, dan mengajari mereka Al-Qur'an dan As-Sunnah . Diutusnya Rasulullah adalah karunia dari Allah, rahmat dan kasih sayang-Nya.
Berikut gambaran kaum Yahudi, mereka meninggalkan amalan-amalan yang ada di dalam Taurat mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang bermanfaat di punggungnya, tetapi ia tidak mengerti apa-apa dan tidak memperoleh apa-apa selain kelelahan dan itulah kesengsaraan yang tampak. Di akhir surah al-Jum'ah juga dijelaskan anjuran untuk meninggalkan aktivitas
bisnis selama shalat Jumat dan kemudian anjuran agar manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki dan rahmat Allah SWT.
B. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Surat Al-Jumu'ah 1. Nilai Ibadah
Ibadah adalah bentuk konsekuensi atau hasil dari iman. Jika seseorang beriman kepada Allah SWT, maka konsekuensinya adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah sendiri berarti menaati Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, atau istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT baik lahir maupun batin.
(Abidin 2020) . Nilai ibadah yang terkandung dalam QS. al-Jum'ah meliputi:
a) Selalu Memuliakan Allah SWT (Ayat 1)
(ي ّحألا ّزي ّزَعألا ّسوّم) ي ّحألا ّزي ّزَعألا ّسوُّدُقألا ّكّلَمألا ّض أرَ ألْا يّف اَم َو ّتا َواَمهسلا يّف اَم ّ ه ّلِلَ ُحِّّبَسُي Artinya: "Selalu bertasbihlah kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS.
Al-Jum'ah: 1)
Tafsir surat al-Jum'ah ayat 1 menyatakan bahwa segala yang ada di bumi ini bertasbih kepada Allah, karena Allah berkuasa atas segala yang ada di bumi dan di langit. Dalam Tafsir Surat al-Jum'ah ayat 1-2 khususnya pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi baik yang bernyawa maupun tidak, benda keras atau cair, pepohonan, dan sebagainya, bertasbihlah kepada Allah, mensucikan-Nya dari hal-hal yang tidak wajar, seperti sifat-sifat kekurangan dan sebagainya (Prasetiya, Sofyan Rofi, dan Bahar Agus Setiawan 2018) .
Ayat pertama ditutup dengan satu penegasan bahwa Allah berkuasa atas segala yang ada di bumi dan di langit, mengagungkan-Nya dengan kehendak-Nya berdasarkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, suci dari segala yang tidak layak dan tidak sesuai dengan ketinggian-Nya. dan kesempurnaan. . Tuhan Yang Maha Esa, menundukkan semua makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya. Maha bijaksana dalam mengatur urusan mereka.
Dialah yang lebih mengetahui kemaslahatan mereka, yang akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan di akhirat.
b) Himbauan untuk Mencari Ilmu dan Mengamalkannya (Ayat 2) َوُه
لوُس َر َنيِّّيِّّمُ ألْا يّف َثَعَب يّذهلا sebelumnya
Dan kebijaksanaan, bahkan jika mereka Dari Sebelum memutar kesalahan ditampilkan( 2 )
Artinya: "Dialah yang mengutus kepada orang-orang yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (as- Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata." (QS.. Al-Jum'ah: 2)
Tafsir surat al-Jum'ah ayat 2 ini juga menjelaskan beberapa tugas Nabi yang diturunkan kepada orang-orang Arab yang buta huruf. Allah menjelaskan bahwa Dialah yang mengutus orang-orang Arab yang masih buta huruf, yang pada waktu itu belum bisa membaca dan menulis, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu Nabi Muhammad SAW dengan tugas sebagai berikut:
1) Membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat petunjuk dan petunjuk untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
2) Bersihkan mereka dari kepercayaan yang menyesatkan, kemusyrikan, kebodohan yang biadab sehingga mereka percaya pada tauhid untuk mempersatukan Allah, tidak tunduk kepada pemimpin yang menyesatkan dan tidak percaya lagi kepada tuhan-tuhan mereka seperti batu, berhala, pohon, kayu, dan sebagainya.
3) Ajari mereka Al-Kitab yang berisi hukum-hukum agama beserta hukum- hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menulis dalam tafsirnya
“Mahaasinut-ta'wil” tentang hikmah bahwa Nabi Muhammad diutus dan dibangkitkan oleh Allah di antara orang-orang yang ummiy (Al-Qaththan 2015: 9) .
Karena itulah diprioritaskan untuk membangkitkan Nabi Muhammad SAW di kalangan umat karena mereka masih memiliki otak yang paling tajam, hati yang paling kuat, sifat yang paling bersih dan lidah yang paling fasih. Kesucian (sifat) batinnya belum dirusak oleh gelombang modernisasi,
maupun oleh permainan kelompok yang mengaku maju. Oleh karena itu mereka masih polos, sehingga setelah jiwa mereka diisi dengan Islam mereka telah bangkit di antara manusia dengan ilmu yang besar dan dengan kebijaksanaan yang luar biasa dan dengan strategi yang adil. Dengan ajaran itu mereka memimpin bangsa-bangsa, dengan ajaran itu mereka mengguncang singgasana raja-raja besar. Dan dengan jelasnya jejak-jejak ajaran tersebut di pihak mereka, bukan berarti bahwa risalah kedatangan Muhammad hanya untuk mereka.
a. Nilai Moral (Ayat 3-5)
Nilai moral/nilai pendidikan moral diartikan sebagai pembinaan mental dan jasmani yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam masyarakat sebagai hamba Tuhan (Syarnubi et al. 2021) . Nilai pendidikan akhlak juga berarti menumbuhkan kepribadian (personality) dan menambah tanggung jawab (Abdurrahman 2019) . Pendidikan nilai moral merupakan inti dari semua jenis pendidikan karena mengarah pada terciptanya tingkah laku manusia baik jasmani maupun rohani, sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti dirinya dan dirinya sendiri. Nilai pendidikan moral bertujuan untuk membentuk manusia yang tidak hanya intelektual tetapi memiliki karakter dan kepribadian yang terbiasa melakukan perbuatan baik tanpa paksaan dan imbalan, sehingga menjadi manusia yang manusiawi (bermoral). (Amin 2016: 23)
Nilai-nilai moral yang dimaksud adalah seperti yang dicontohkan Nabi dalam mendidik para sahabatnya. Tafsir Surat al-Jum'ah ayat 3-5 menjelaskan bahwa kerasulan Nabi Muhammad adalah untuk seluruh umat manusia, tidak hanya terbatas pada bangsa Arab saja. Rasulullah diturunkan untuk membersihkan dari kemusyrikan dan sifat-sifat biadab yang dimiliki manusia. Tafsir surat al-Jum'ah ayat 3-5 menyatakan bahwa Allah sangat murka kepada orang-orang Yahudi yang telah diturunkan Taurat tetapi mereka tidak mengamalkannya.
Nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat pada ayat 3-5 antara lain: sifat taat, larangan berbuat maksiat dan durhaka pada perintah Allah,
sabar, selalu bersyukur, dan melarang cinta dunia yang berlebihan, tanggung jawab, kejujuran dengan mengetahui sifat-sifat sifat Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dan panutan yang paling utama dan menjauhi sifat zalim dan sombong.
b. Peringatan Kematian (Ayat 6-8)
Tafsir Surah al-Jum'ah ayat 6-8 menceritakan tentang kematian yang pasti akan menimpa setiap makhluk hidup. Hal ini diceritakan dari orang-orang Yahudi yang takut mati karena menyadari banyaknya dosa yang telah mereka lakukan. Tetapi bahkan jika mereka hidup seribu tahun, itu tidak menyelamatkan mereka dari hari penghakiman yang dinyatakan Tafsir Surat al-Jum'ah ayat 6-8. Dalam Tafsir Surat al-Jum'ah ayat 6-8, khususnya pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang Yahudi sangat takut akan kematian dan berusaha menghindarinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan kepada mereka bahwa kematian pasti akan datang menemui mereka.
Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, baik di langit maupun di bumi.
Maka Allah memberitahukan kepada mereka segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, kemudian dibalas sesuai dengan perbuatan mereka.
Kejahatan dibalas dengan kejahatan yaitu neraka, kebaikan dibalas dengan kebaikan yaitu surga.
c. Anjuran Meninggalkan Urusan Saat Sholat Jum'at (Ayat 9-11)
Tafsir Surah al-Jum'ah ayat 9-11 menjelaskan anjuran untuk meninggalkan perdagangan ketika adzan Jumat telah dikumandangkan hingga selesai shalat Jumat. Tafsir surat al-Jum'ah ayat 9-11 ini juga tidak terlepas dari kisah Dihyah al-Kalbi dari Syam yang ketika datang membawa berbagai macam barang menyebabkan banyak orang meninggalkan shalat untuk pergi berdagang, meskipun perilaku ini adalah kesalahan.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi dari Jabir bin 'Abdullah bahwa ketika Nabi berdiri untuk berdakwah pada hari Jum'at, tiba-tiba rombongan unta (pengangkut barang dagangan)
datang, sehingga para sahabat Nabi bergegas. kepadanya agar tidak ada yang mendengarkan khutbah kecuali 12 orang. I (Jabir), Abu Bakar, dan Umar termasuk yang masih tinggal, maka Allah Ta'ala menurunkan ayat:
wa idza ra'au tijaratan au lahwan, sampai akhir surah).
Dalam ayat ini Allah mencela perbuatan orang-orang mukmin yang lebih mementingkan kafilah dagang yang baru datang dari pada Nabi, sehingga mereka membiarkan Nabi berdiri dalam keadaan berdakwah.
Ayat ini ada hubungannya dengan kedatangan Dihyah al-Kalbi dari Syam (Syria), bersama rombongan unta yang membawa barang dagangan seperti tepung, gandum, minyak dan lain-lain. Menurut adat, ketika kafilah unta pedagang tiba, para wanita muda keluar untuk menyambut mereka dengan menabuh genderang, sebagai pemberitahuan kedatangan kafilah, agar orang-orang datang berbelanja untuk membeli barang dagangan yang mereka bawa.
Selanjutnya, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan kesalahan perbuatan mereka dengan menegaskan bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik daripada manfaat dan kenikmatan dunia ini.
Kebahagiaan akhirat itu abadi, sedangkan manfaat dunia ini akan hilang.
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah sebaik-baik pemberi rezeki. Oleh karena itu, kepada-Nya lah kita harus mengarahkan segala usaha dan ikhtiar untuk mendapatkan rezeki yang halal, mengikuti petunjuk dan ridha-Nya.
Dari penjelasan di atas, tersirat bahwa kewajiban bergegas ke masjid dan meninggalkan aktivitas jual beli atau aktivitas duniawi lainnya, tidak berarti hanya mendapatkan dua rakaat shalat Jum'at, tetapi harus bisa mempersiapkan diri sebelum adzan. dan bisa duduk mendengarkan khotbah.
2. Relevansi Nilai Pendidikan Islam Surat Al-Jumu'ah Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer
Pendidikan Islam kontemporer merupakan kegiatan yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mengembangkan potensi peserta didik
berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan Islam pada masa kini. (Prancis 2016) .
Pendidikan Islam kontemporer adalah sistem pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur'an, Hadits dan hasil ijtihad para ahli pendidikan Islam yang berorientasi pada masa kini selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta kebutuhan dan kebutuhan. tuntutan masyarakat modern. (Suparnis 2016)
Dasar pendidikan Islam kontemporer adalah:
a. Al-Qur'an, khususnya yang menyangkut ayat-ayat tarbawi b. Sunnah Rasulullah SAW, khususnya hadits-hadits Tarbawi c. Hasil ijtihad ulama/ahli pendidikan Islam yang meliputi:
1) Landasan filosofisnya adalah filsafat Islam dan filsafat pendidikan Islam.
2) Dasar psikologis, khususnya psikologi pendidikan dan perkembangan.
3) Landasan sosiologisnya adalah tentang struktur masyarakat Islam.
4) Landasan teori adalah konsep, prinsip, teori, dan teknik pendidikan menurut pemikiran para ahli pendidikan Islam.
Sedangkan tujuan pendidikan Islam kontemporer harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU Sisdiknas 2003 Pasal 1 ayat (2), yaitu pendidikan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada dalam nilai-nilai agama, budaya bangsa dan daya tanggap. terhadap tuntutan perubahan zaman.
Tujuan lain dari pendidikan Islam kontemporer adalah:
a. Cita-cita yang ideal adalah mencapai mardhatillah (ridha Allah SWT).
b. Tujuan utamanya adalah mencapai kebahagiaan akhirat dan terbebas dari api neraka.
c. Tujuan sementara:
1) Sebagai seorang muslim muttaqin paripurna yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas dan terampil, berkepribadian, berbangsa dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara.
2) Bisa membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
3) Bisa membentuk masyarakat marhamah dan bisa membentuk negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
4) Dapat menjadikan manusia sempurna yaitu :
a) Manusia sebagai makhluk individu potensial yang mampu melakukan berbagai perbuatan baik memiliki hak dan kewajiban untuk mengembangkan diri, menentukan pilihan, pikiran dan tindakan serta mengembangkan hak asasi manusia lainnya.
b) Manusia sebagai makhluk sosial yang mampu berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosial manusia.
c) Manusia sebagai makhluk monodual (jasmani dan rohani) mampu mengembangkan pikirannya, mengendalikan keinginannya dan memfungsikan hatinya.
d) Manusia sebagai makhluk ilmiah potensial yang mampu menguasai dan mengembangkan nama, makna dan konsep diri.
e) Sebagai khalifah di bumi yang memiliki potensi untuk menguasai dan memiliki keterampilan untuk mengelola dunia dan mensejahterakannya.
f) Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam QS. al-Jum’ah berdasarkan tafsir yang dijelaskan oleh Tafsir al-Misbah dan Tafsir al- Wasith diantaranya nilai-nilai pendidikan ibadah yaitu selalu bertasbih kepada Allah, ajakan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, nilai-nilai pendidikan akhlak , yaitu selalu meneladani sifat dan perilaku baik Nabi Muhammad SAW.
g) Nilai-nilai pendidikan tersebut dapat diimplikasikan dalam pendidikan Islam kontemporer, misalnya terhadap tujuan pembelajaran pendidikan Islam yang hasil akhirnya adalah menjadikan peserta didik manusia yang berakhlak mulia sesuai dengan tujuan Islam, materi pembelajaran pendidikan Islam yang tidak keluar dari ajaran Islam. sumber yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu terdiri dari pendidikan tauhid, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak, kriteria pendidik yang meneladani Nabi sebagai
pendidik dengan kemampuan yang sempurna dari segi afektif, kognitif dan psikomotorik.
KESIMPULAN
Setelah peneliti memaparkan hasil penelitian tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam QS. al-Jum'ah (kajian Tafsir al-Misbah dan al-Wasith), maka dapat ditarik kesimpulan dari kajian ini sebagai berikut:
Hasil pemaparan tafsir QS. al-Jum'ah oleh Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Wasith, tidak menemukan perbedaan pendapat yang signifikan mengenai penafsiran mereka terhadap QS. al-Jumat. Seperti surah sebelumnya, surah ini dimulai dengan hikmah Allah, keagungan-Nya, dan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat yang sempurna, kemudian memuji Nabi. dengan tafsir khataman nabi rahmat Allah swt pendiam dan Nabi adalah orang Arab membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada umatnya, mensucikan mereka, dan mengajari mereka Al-Qur'an dan As-Sunnah . Diutusnya Rasulullah adalah karunia dari Allah, rahmat dan kasih sayang-Nya. Selanjutnya menggambarkan orang-orang Yahudi, mereka meninggalkan amalan yang ada dalam Taurat mereka seperti keledai yang membawa buku-buku bermanfaat di punggungnya, tetapi dia tidak mengerti apa-apa dan tidak memperoleh apa-apa selain kelelahan dan itu adalah kesengsaraan yang nyata. Di akhir surah al-Jum'ah juga dijelaskan anjuran untuk meninggalkan aktivitas bisnis selama shalat Jumat dan kemudian anjuran agar manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki dan rahmat Allah SWT.
Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Surat al-Jum'ah yang dijelaskan oleh Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Wasith diantaranya: 1) Nilai Ibadah: Senantiasa memuliakan Allah SWT. dan himbauan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, 2) nilai-nilai moral, 3) peringatan kematian, 4) dorongan untuk meninggalkan perdagangan selama sholat jumat.
Nilai-nilai pendidikan yang dijelaskan oleh Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Wasith di atas dapat diimplikasikan dalam pendidikan Islam kontemporer, misalnya menuju tujuan pendidikan pembelajaran Islam yang hasil akhirnya adalah menjadikan peserta didik manusia yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. tujuan, materi pembelajaran pendidikan Islam yang tidak keluar dari sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,
yang terdiri dari pendidikan tauhid, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak, kriteria pendidik yang mengikuti teladan Nabi sebagai pendidik dengan kemampuan yang sempurna dari segi afektif, kognitif dan psikomotorik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. 2019. Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia. Depok:
Rajawali.
Abidin, Z. 2020. Figh Ibadah. Yogyakarta: Deepublish.
Al-Qaththan, Sayikh Manna. 2015. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Al-Rasyidin. 2009. Percikan Pemikiran Pendidikan Dari Filsafat Hingga Praktik Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia. Depok: Rajawali.
Amin, S. .. 2016. Ilmu Akhlak. Jakarta: Amzah.
Djahiri, A. Kosasih, dan Abdul Aziz Wahab. 1996. Dasar-Dasar Pendidikan Moral. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.
Kartono, Kartini. 1992. Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis. Bandung: Mandar Maju.
Khalil, Syaikh Adil Muhammad. 2018. Tadabur Al-Qur’an Menyelami Makna Al- Qur’an dari Al-Fatihah sampai An-naas. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Misdar, M. Idi, M. A, Isnaini, Mardeli, Z. M, Zulhijrah, dan Syarnubi. 2017.
“Proses Pembelajaran Di Program Studi Pendidikan Agama Islam FITK UIN Raden Fatah Palembang.” Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3:52.
Pransiska, Toni. 2016. “Konsepsi Fitrah Manusia Dalam Perspektif Islam Dan Impilkasinya Dalam Pendidikan Islam Kontemporer.” Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA 17.
Prasetiya, Benny, Sofyan Rofi, dan Bahar Agus Setiawan. 2018. “Penguatan Nilai Ketauhidan Dalam Praksis Pendidikan Islam.” Journal Of Islamic Education III:2.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an.
Jakarta: Lentera Hati.
Sudirman, N. 1992. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suparnis. 2016. “Pendidikan Islam Kontemporer ‘Problematika’ Tantangan Dan Pearnnya Dalam Menghadapi Era Globalisasi.” At-Ta’lim 15:225–47.
Syah, Darwin. 2007. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: Gaung Persada Press.
Syarif, Ulil Amri. 2012. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an. Jakarta:
Rajawali Pers.
Syarnubi, Syarnubi. 2019. “Guru yang Bermoral dalam Konteks Sosial, Budaya, Ekonomi, Hukum dan Agama (Kajian Terhadap UU No 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen).” Jurnal PAI Raden Fatah 1(1). doi:
10.19109/PAIRF.V1I1.3003.
Syarnubi, Syarnubi, Firman Mansir, Mulyadi Eko Purnomo, Kasinyo Harto, dan Akmal Hawi. 2021. “Implementing Character Education in Madrasah.” Jurnal
Pendidikan Islam 7(1):77–94. doi: 10.15575/jpi.v7i1.8449.
Thoha, Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zed, Mestika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.