EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DENGAN METODE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN MOTIVASI BELAJAR
SISWA SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1
Diajukan oleh:
Is Mardhiyati NIM. 15600022 HALAMAN JUDUL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERSETUJUAN
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
MOTTO
Man Jadda WaJada
“Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil”
“However difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up”
-Stephen Hawking-
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
Ibu dan Bapakku tercinta
“Ibu Sutarti dan Bapak Margino”
Untuk segala do’a dan kerja kerasnya Adik-adikku
“Supriyanti dan Tri Nur Ujiyanto”
Untuk segala semangat dan harapannya
Serta
ALMAMATERKU
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Alhamdulillahi Rabbil’alamin, segala puji syukur kehadirat Allah SWT sang penguasa alam semesta, yang telah memberikan kehidupan yang penuh rahmat, hidayah dan karunia tak terhingga kepada seluruh makhluk-Nya secara umum, dan secara khusus kepada penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memberikan jalan bagi umatnya dengan secercah kemuliaan dan kasih sayang serta ilmu pengetahuan yang tiada ternilai untuk menjalani kehidupan yang lebih berkah.
Penulis menyadari masih banyak hal yang belum sepenuhnya dikuasai dengan baik oleh penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat terwujud berkat bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak.
Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Murtono, M.Si., selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Bapak Mulin Nu’man, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Ibu Sri Utami Zuliana, Ph.D., selaku dosen pembimbing skripsi.
Terima kasih atas kesabaran, keikhlasan, saran, bimbingan, dorongan, dan arahan kepada penulis dalam setiap bimbingan, perjalanan penelitian, dan penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Dr. Hj. Khurul Wardati, S.Sc., M.Sc. selaku dosen penasihat akademik. Terima kasih atas segala saran, masukan, serta arahan kepada penulis selama penulis menempuh pendidikan S-1.
5. Bapak/Ibu Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
6. Ibu Endang Sulistyowati, M.Pd.I., Ibu Luluk Mauluah, M.Si., M.
Pd., dan Ibu Dra. Dewi Indrapangastuti selaku validator soal tes kemampuan berpikir kritis yang telah bersedia memberikan banyak masukan untuk menghasilkan instrumen penelitian yang baik.
7. Bapak Sumarno, M.Pd selaku Kepala SMA Negeri 1 Sewon yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.
8. Ibu Dra. Dewi Indrapangastuti, M.Pd selaku guru matematika kelas X MIPA SMA Negeri 1 Sewon yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
9. Siswa-siswi kelas X MIPA 3 dan X MIPA 4 SMA Negeri 1 Sewon tahun ajaran 2018/2019 yang telah bersedia bekerjasama demi kelancaran proses pembelajaran selama penelitian.
10. Bapak Ibu, Paklik, Bulik, dan adik-adikku terkasih dan tersayang selalu menanyakan kapar skripsi penulis, selalu memberi dukungan baik moril maupun materiil.
11. Teruntuk Kakak Sepupuku Mas Bambang dan saudara jauhku Nur Aishah, yang mau menyediakan sarana untuk penulis demi terselesaikannya tugas akhir ini.
12. Teman-teman satu bimbingan Olief, Zahroh, Ulya, Isni, dan Tika yang selalu memberikan semangat, bantuan, dan masukan kepada penulis.
13. Teruntuk Husna, Diana, Fatimah, Veni, Sinta, Ani yang membantu penulis dalam proses penyelesaian tugas akhir ini.
14. Olief, Rita, Fatimah, Rizqy, Tika, Dedek, Fina, Isni, Rina, Nurhul terima kasih untuk waktu bersamanya.
15. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Matematika angkatan 2015
16. Semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak kesalahan, baik dalam segi pengetikan, pemilihan kata, dan lainnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi perbaikan penyusunan karya ilmiah selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan semoga segala bantuan, bimbingan, dan motivasi yang berbagai pihak berikan kepada penulis apat dibalas dengan pahala dari Allah SWT. Amin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Yogyakarta, 19 Mei 2019 Penulis
Is Mardhiyati NIM. 15600022
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 8
D. Rumusan Masalah ... 8
E. Tujuan Penelitian ... 9
F. Asumsi Dasar ... 9
G. Manfaat Penelitian ... 10
H. Definisi Operasional ... 10
1. Efektivitas Pembelajaran ... 10
2. Pembelajaran Model Inquiry dengan Metode Team Assisted Individualization (TAI) ... 11
3. Model Pembelajaran Inquiry ... 13
4. Metode Team Assisted Individaulization (TAI) ... 13
5. Model Pembelajaran Konvensional ... 14
6. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa ... 14
7. Motivasi Belajar Siswa ... 14
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 15
A. Landasan Teori ... 15
1. Efektivitas Pembelajaran ... 15
2. Model Pembelajaran Inquiry ... 17
3. Metode Team Assisted Individaulization (TAI) ... 20
4. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa ... 21
5. Motivasi Belajar Siswa ... 23
6. Pembelajaran Konvensional ... 24
7. Aturan Sinus dan Cosinus ... 24
B. Kerangka Berpikir ... 28
C. Penelitian yang Relevan ... 30
D. Hipotesis Penelitian ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
A. Jenis Penelitian ... 32
B. Desain Penelitian ... 32
C. Variabel Penelitian ... 33
1. Variabel Bebas ... 33
2. Variabel Terikat ... 34
D. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
E. Populasi dan Sampel ... 34
1. Populasi ... 34
2. Sampel ... 35
F. Instrumen Penelitian... 36
1. Instrumen Pengumpulan Data ... 36
2. Instrumen Pembelajaran ... 38
G. Teknik Analisis Instrumen ... 38
1. Uji Validitas ... 39
2. Hasil Uji Validitas ... 40
3. Uji Reliabilitas ... 40
H. Prosedur Penelitian ... 42
1. Tahap Pra Eksperimen ... 42
2. Tahap Eksperimen ... 43
3. Tahap Pasca Eksperimen ... 43
I. Teknik Analisis Data ... 44
1. Uji Normalitas ... 44
2. Uji Homogenitas... 45
3. Analisis Data dengan Uji t Dua Sampel Independen ... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Hasil Penelitian ... 51
1. Pelaksanaan Penelitian ... 51
2. Keefektifan Model Pembelajaran Inquiry dengan Metode TAI ... 51
3. Keefektifan Pembelajaran Konvensional ... 55
4. Analisis Data ... 56
B. Pembahasan ... 70
BAB V PENUTUP ... 83
A. Kesimpulan ... 83
B. Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 84
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Indikator berpikir kritis ... 22 Tabel 2.2 Penelitian yang relevan ... 30 Tabel 3.1 Nilai UAS untuk pengambilan sampel ... 36 Tabel 4.1 Deskriptif data pretest kemampuan berpikir kritis
siswa ... 57 Tabel 4.2 Tabel normalitas data pretest kemampuan berpikir
kritis siswa ... 59 Tabel 4.3 Uji homogenitas nilai pretest kemampuan berpikir
kritis siswa ... 60 Tabel 4.4 Uji kesamaan rata-rata pretest kemampuan berpikir
kritis siswa ... 61 Tabel 4.4 Uji normalitas posttest kemampuan berpikir kritis ... 62 Tabel 4.5 Hasil uji Mann Whitney ... 63 Tabel 4.6 Deskripsi skor prescale dan postscale motivasi
belajar siswa... 65 Tabel 4.7 Normalitas data prescale motivasi belajar siswa ... 66 Tabel 4.8 Homogenitas skor prescale motivasi belajar siswa .... 67 Tabel 4.9 Uji t skor prescale motivasi belajar siswa ... 67 Tabel 4.10 Uji normalitas data postscale motivasi belajar siswa . 68 Tabel 4.11 Uji homogenitas data postscale motivasi belajar ... 68 Tabel 4.12 Perbedaan rata-rata postscale motivasi belajar siswa . 69
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Segitiga Lancip ABC ... 25 Gambar 2.2 Segitiga Tumpul ABC ... 27
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 PRA PENELITIAN ... 89
Lampiran 1.1 Hasil observasi kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa ... 90
Lampiran 1.2 Pedoman dan hasil wawancara studi pendahuluan ... 94
Lampiran 1.3 Lembar validasi soal pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis ... 97
Lampiran 1.4 Hasil validasi skala sikap motivasi belajar siswa . 99 Lampiran 1.5 Hasil analisis validasi ... 101
LAMPIRAN 2 INSTRUMEN PENELITIAN ... 103
Lampiran 2.1 Kisi-kisi soal pretest kemampuan berpikir kritis siswa ... 104
Lampiran 2.2 Soal pretest kemampuan berpikir kritis siswa ... 108
Lampiran 2.3 Alternatif penyelesaian pretest kemampuan berpikir kritis siswa ... 110
Lampiran 2.4 Pedoman penskoran ... 113
Lampiran 2.5 Kisi-kisi prescale motivasi belajar siswa ... 117
Lampiran 2.6 Soal prescale motivasi belajar siswa ... 118
Lampiran 2.7 Soal posttest kemampuan berpikir kritis siswa ... 121
Lampiran 2.8 Alternatif penyelesaian posttest kemampuan berpikir kritis siswa ... 123
LAMPIRAN 3 INSTRUMEN PEMBELAJARAN ... 126
Lampiran 3.1 Lembar keterlaksanaan RPP ... 127
Lampiran 3.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas eksperimen ... 132
Lampiran 3.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas kontrol ... 141 Lampiran 3.4 Lembar Kerja Peserta Didik ... 150 LAMPIRAN 4 DATA DAN OUTPUT HASIL PENELITIAN ... 167 Lampiran 4.1 Data skor pretest dan posttest kemampuan
berpikir kritis siswa ... 168 Lampiran 4.2 Output analisis data kemampuan berpikir kritis
siswa ... 175 LAMPIRAN 5 SURAT IJIN PENELITIAN... 197 LAMPIRAN 6 CURRICULUM VITAE ... 199
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DENGAN METODE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN MOTIVASI BELAJAR
SISWA
Oleh: Is Mardhiyati 15600022
ABSTRAK
Penggunaan model pembelajaran sangat diperlukan dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dibandingkan model pembelajaran konvensional dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.
Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dan variabel terikat yaitu kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA SMA N 1 Sewon Tahun Ajaran 2018/2019, sedangkan sampel penelitiannya adalah siswa kelas X MIPA 4 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X MIPA 3 sebagai kelas kontrol.
Instrumen dalam penelitian ini adalah soal pretest-posttest kemampuan berpikir kritis siswa, prescale-postscale motivasi belajar siswa, RPP, dan LKPD. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji- t dan uji Mann Whitney. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 23.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis namun tidak lebih efektif terhadap motivasi belajar siswa. Hal itu dikarenakan faktor sosial, di mana siswa mengisi lembar skala sikap
bukan berdasarkan dari diri mereka sendiri namun dipengaruhi oleh teman sebaya
Kata Kunci: Inquiry, Team Assisted Individualization (TAI), Kemampuan Berpikir Kritis Siswa, Motivasi Belajar Siswa.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sangat memperhatikan bidang pendidikan, sebagai salah satu upaya menjadi negara maju. Upaya perbaikan maupun perubahan supaya bisa menjadi negara maju selalu dilakukan oleh pemerintah Indonesia terutama dalam bidang pendidikan (Munirah, 2015). Salah satu upaya memperbaiki pendidikan adalah pembuatan kurikulum. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37 Ayat 1 menyatakan bahwa,
“Kurikulum pendidikan dasar sampai menengah wajib memuat: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.”
Matematika adalah mata pelajaran yang wajib diajarkan sejak pendidikan dasar sampai menengah, seperti dijelaskan di atas, karena beberapa hal. Pelajaran matematika memiliki peran penting bagi siapa saja yang mempelajarinya (Cockroft dalam jurnal Andriani dkk 2016). Mata pelajaran matematika diharapkan mampu membentuk dan mengembangkan keterampilan berpikir nalar, logis, sistematis, dan kritis. (Eny Sulistiani, 2016). Cockroft dalam jurnal Andriani (2016), mengemukakan bahwa matematika perlu diajarkan kepada peserta didik karena matematika selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, matematika menjadi salah satu keterampilan yang harus dimiliki peserta didik untuk mempelajari semua bidang studi yang ada, dan juga matematika merupakan sarana komunikasi.
2
Matematika sangat penting untuk dipelajari karena mampu membangun konsep dan menyelesaikan masalah. Nikson (Muliyardi, 2006) mengemukakan bahwa “pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu peserta didik untuk mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali”.
Matematika bisa dikatakan sebagai suatu cara manusia untuk menyelesaikan maupun menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi melalui kemampuan pemikiran yang kritis (Hasratuddin, 2014).
Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu hal yang perlu dimiliki oleh siswa dalam belajar matematika karena akan malatih ketrampilan membuat keputusan. Menurut Ennis (M. Royani, 2013), berpikir kritis adalah berpikir yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan. Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Memiliki kemampuan berpikir kritis sangat penting dimiliki oleh siswa dalam proses pembelajaran matematika, karena dengan kemampuan berpikir kritis dapat membantu siswa mampu bersikap rasional dan memilih alternatif pilihan yang terbaik bagi dirinya (Jumaisyaroh, dkk, 2014: 2).
Motivasi adalah upaya yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Sardiman (2001) mendefinisikan motivasi sebagai dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku.
Sedangkan Sumadi Suryabrata (2011), motivasi diartikan sebagai
3
keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.
Berdasarkan observasi di kelas, tidak mudah bagi guru menerapkan metode pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa belum terfasilitasi dengan baik dalam pembelajaran matematika khususnya di sekolah menengah atas (SMA). Hal tersebut didukung dengan hasil studi pendahuluan tes kemampuan berpikir kritis yang dilakukan peneliti pada tanggal 18 s.d 20 Februari 2018 di SMA Negeri 1 Sewon Tahun Ajaran 2018/2019 menunjukkan kemampuan berpikir kritis siswa masih sangat rendah. Hal tersebut salah satunya dapat saya lihat dari respon siswa ketika diminta utuk mengerjakan soal. Misalnya saja, ketika terdapat soal diketahui sin 𝛼 =3
5, dan 𝛼 terletak pada kuadran ketiga. Dan yang ditanyakan adalah tentukan lima perbandingan trigonometri lainnya. Ketika membaca soal tersebut, reaksi mayoritas siswa adalah bertanya pada guru mengenai maksud dari soalnya bagaimana, bukan berusaha terlebih dahulu untuk memecahkan secara mandiri. Untuk mengajak siswa berpikir tentang permasalahan yang disajikan, guru masih perlu memancing siswa untuk membawa pikiran siswa menuju konsep yang berkaitan dengan permasalahan yang telah disajikan tadi.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah satu guru matematika siswa kelas X MIPA di SMA Negeri 1 Sewon Tahun Ajaran 2018/2019 diperoleh gambaran mengenai situasi dan kondisi pembelajaran matematika di kelas. Kurikulum yang digunakan
4
adalah kurikulum 2013 revisi 2017. Dominasi metode pembelajaran yang dilakukan guru adalah ceramah, latihan, dan penugasan. Guru menjelaskan materi pelajaran, memberikan contoh soal, kemudian memberikan tugas. Siswa dinilai kurang aktif dalam proses pembelajaran. Siswa cenderung menghafal rumus, tanpa berusaha memahami rumus tersebut. Hal itu berakibat saat ulangan harian siswa kesulitan mengerjakannya. Ketika peneliti menanyakan kepada siswa alasan kesulitan mengerjakan soal uangan adalah siswa lupa akan materi yang sudah dipelajarinya.
Hasil observasi peneliti selama melaksanakan PLP (program latihan profesi) di SMA Negeri 1 Sewon mendapatkan informasi yang memperkuat hasil wawancara tersebut. Guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. Selama proses pembelajaran masih banyak siswa yang pasif dan tidak fokus. Hal itu terlihat ketika guru menjelaskan materi pelajaran, siswa cenderung diam (pasif) dan bermain gadget. Walaupun sudah diingatkan untuk tidak bermain gadget, siswa tetap melakukannya secara diam-diam. Siswa merasa bosan saat pembelajaran berlangsung. Inisiatif siswa untuk belajar matematika kurang, karena siswa lebih memilih bermain gadget dan mengobrol daripada memperhatikan penjelasan dari guru. Saat guru memberikan latihan soal, mayoritas siswa tidak berusaha mengerjakannya sendiri tetapi menunggu jawaban dari temannya.
Pembelajaran matematika dengan model inquiry diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Hal itu disebabkan karena dalam model inquiry ini, siswa akan diberi suatu permasalahan oleh guru kemudian siswa
5
bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut. Sehingga pembelajaran akan lebih memotivasi siswa dan siswa akan lebih paham terhadap konsep matematika tersebut.
Dalam penyelidikan permasalahan, siswa dapat menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Ennis (2006) menyebutkan indikator kemampuan berpikir kritis di kelompokkan ke dalam lima kelompok, yaitu memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, memberikan penjelasan lebih lanjut, dan mengidentifikasi asumsi. Pada proses pembelajarannya siswa diminta untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang diperoleh dari guru kemudian dianalisis mengenai konsep yang harus digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Berdasarkan paparan di atas, peneliti berasumsi bahwa salah satu metode pembelajaran yang mampu memotivasi siswa untuk akan digunakan pada penelitian ini untuk melihat kemampuan berpikir kritis siswa adalah metode pembelajaran TAI. Metode TAI merupakan metode pembelajaran secara kelompok di mana ada seorang asisten membantu secara individual. Seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam kelompoknya. Pada metode pembelajaran TAI dapat menghemat waktu presentasi guru sehingga waktu pembelajaran lebih efektif dan dapat menitikberatkan pada motivasi belajar siswa anak diajak berkelompok kemudian masing-masing kelompok mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang ada kemudian dilakukan
6
presentasi kelompok hasil diskusi. Di sini diharapkan siswa akan lebih leluasa dalam berpikir karena asisten yang membantunya adalah teman sendiri tanpa menghilangkan aspek kooperatif.
Langkah-langkah pembelajaran TAI adalah pertama, guru meminta siswa secara individu untuk mempelajari materi yang akan dibahas. Kedua, guru melakukan tes awal untuk penempatan kelompok. Ketiga, guru membagi kelompok secara heterogen.
Keempat, di dalam kelompoknya, siswa mendiskusikan hasil belajar individu untuk dikoreksikan dengan anggota kelompok yang lain.
Kelima, guru berkeliling dan menjadi fasilitator. Keenam, guru memberikan tes individu untuk mengetahui pencapaian siswa dalam diskusi. Ketujuh, guru memberikan reward pada kelompok yang memiliki nilai tertinggi.
Tujuan pembelajaran mengacu pada indikator berpikir kritis menurut Ennis (dalam M. Royani, 2013) yang dikelompokkan dalam lima indikator: Pertama, memberikan penjelasan sederhana.
Kedua, membangun keterampilan dasar. Ketiga, menyimpulkan.
Keempat, memberikan penjelasan lanjut. Kelima, mengatur strategi dan taktik. Indikator untuk motivasi belajar adalah siswa mempunyai kemauan untuk berbuat, mampu mempersiapkan waktu khusus untuk belajar, mampu merelakan tugas yang lain untuk belajar, mengerjakan tugas lebih awal, selalu berusaha dan tidak menyerah ketika menenmukan permasalahan yang sulit.
Model pembelajaran inquiry yang dipadukan dengan metode TAI ini akan menuntut siswa aktif di dalam suatu kelompok dengan seorang asistennya sehingga mereka merasa lebih percaya diri serta leluasa dalam berpikir karena asisten yang mendampingi adalah
7
teman sebaya dan termotivasi untuk menyampaikan pendapat juga menanyakan konsep secara kritis tanpa mengandalkan penjelasan dari guru saja. Selain itu, siswa juga akan lebih banyak berpendapat dan bertukar pendapat dengan teman serta asisten mengenai materi yang berkaitan dengan permasalahan yang telah mereka pelajari secara individu. Hal tersebut yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajar mereka.
Berdasarkan uraian seperti di atas, untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal dan proses pembelajaran yang kondusif, motivasi siswa untuk belajar sangat diperlukan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar untuk mencapai prestasi yang maksimal. Untuk itu, dalam kesempatan ini peneliti ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi motivasi belajar siswa tersebut. Dengan demikian, untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa disusunlah skripsi ini yang berjudul efektivitas model pembelajaran inquiry dipadukan dengan metode team assisted individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.
B. Identifikasi Masalah
1. Mayoritas siswa kurang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
2. Berdasarkan hasil observasi di kelas, dan kurangnya partisipasi aktif siswa dalam belajar, maka kemampuan siswa dalam
8
berpikir kritis dan motivasinya dalam belajar matematika siswa kelas X MIPA di SMAN 1 Sewon masih perlu untuk difasilitasi.
3. Inovasi model dan metode pembelajaran dalam proses pembelajaran matematika sangat diperlukan guna memfasilitasi belajar siswa untuk membantu mereka pada proses berpikir kritis dan memfasilitasi motivasi belajar siswa.
C. Batasan Masalah
Untuk menjaga agar proses penelitian sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka peneliti memberikan batasan terhadap permasalahan yang akan diteliti. Penelitian ini hanya difokuskan pada efektivitas model pembelajaran inquiry dengan metode Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.
D. Rumusan Masalah
1. Apakah pembelajaran menggunakan model inquiry dengan metode Team Assisted Individualization (TAI) lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis siswa?
2. Apakah pembelajaran menggunakan model inquiry dengan metode Team Assisted Individualization (TAI) lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional terhadap motivasi belajar siswa?
9
E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui keefektifan pembelajaran dengan model inquiry dengan metode Team Assisted Individualization (TAI) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.
2. Mengetahui keefektifan pembelajaran dengan model inquiry dengan menggunakan metode Team Assisted Individualization (TAI) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa.
F. Asumsi Dasar
Asumsi dasar penelitian ini merupakan anggapan dasar yang digunakan sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian (Ibrahim, dkk, 2015: 22). Asumsi dasar pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran matematika dengan model pembelajaran inquiry yang diterapkan oleh peneliti kepada kelas eksperimen sesuai dengan RPP yang telah disusun oleh peneliti.
2. Proses pengerjakan soal pretest dan posttest materi sinus dan cosinus siswa dilakukan secara jujur, serius, dan individual sehingga hasil pretest dan posttest menggambarkan kemampuan berpikir kritis siswa yang sebenarnya.
3. Siswa mengerjakan skala sikap motivasi belajar dengan jujur, serius, dan individual, sehingga hasil skala sikap menggambarkan motivasi belajar siswa yang sebenarnya.
10
G. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang menggunakan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan sebagai bahan kajian lebih lanjut dan lebih mendalam tentang permasalahan yang berkaitan dengan topik penelitian tersebut.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memotivasi siswa pada pembelajaran matematika, khususnya pada materi aturan sinus dan cosinus.
b. Bagi guru, terutama guru mata pelajaran matematika diharapkan dapat memberikan alternatif model pembelajaran inquiry dengan metode TAI yang dapat digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta motivasi belajar siswa.
H. Definisi Operasional
1. Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu ukuran tindakan keberhasilan siswa pada penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dikatakan efektif terhadap
11
kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
a. Model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dikatakan lebih efektif daripada model pembejaran konvensional jika rata-rata skor posttest kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata skor posttest kemampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol.
b. Model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dikatakan lebih efektif daripada model pembejaran konvensional jika rata-rata skor postscale motivasi belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata skor postscale motivasi belajar siswa kelas kontrol.
2. Pembelajaran Model Inquiry dengan Metode Team Assisted Individualization (TAI)
Model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dalam penelitian ini yaitu suatu pembelajaran kooperatif dengan menyajikan permasalahan di mana masalah tersebut merupakan suatu pengantar untuk menuju ke sebuah konsep matematika.
Penggunaan model pembelajaran model inquiry dengan metode TAI mengajak siswa untuk belajar mengidentifikasi maupun menganalisis suatu permasalahan dan bebas menyampaikan ide untuk memberikan kesimpulan.
Langkah model pembelajaran inquiry dengan metode TAI ini, di mana dalam setiap kelompok terdapat satu siswa yang memiliki kemampuan lebih dibanding teman-temannya untuk membantu anggota kelompoknya menyelesaikan permasalah
12
yang terdapat dalam LKPD. Adapun langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pembukaan
1) Guru membuka kelas
2) Guru meminta siswa berkelompok sesuai dengan kelompok yang telah dibuatkan oleh guru.
3) Guru membagikan LKPD dan menyampaikan tujuan pembelajaran
b. Inti
1) Siswa secara berkelompok (team) menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang disajikan dalam LKPD.
2) Merumuskan kemungkinan penyelesaian permasalahan.
Seorang siswa yang memiliki kemampuan lebih mengajak anggota kelompoknya merumuskan kemungkinan konsep apa yang dapat diperoleh dari permasalahan yang disajikan (assisted individualization).
3) Guru berkeliling untuk melihat proses siswa kemudian memberikan arahan pada siswa dalam melakukan proses penyelesaian masalah.
4) Setelah semua kelompok dipastikan selesai mengerjakn LKPD, guru meminta kelompok yng menyelesaiakan LKPD paling terakhir untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.
5) Guru memberikan kesimpulan setelah siswa melakukan presentasi.
13
c. Penutup
1) Guru menyampaikan kesimpulan materi 2) Guru menutup kelas.
3. Model Pembelajaran Inquiry
Model pembelajaran inquiry yang dimaksud peneliti adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membimbing siswa bagaimana meneliti masalah dan pertanyaan berdasarkan fakta, yang di dalamnya terdapat enam langkah pembelajaran, diantaranya: observasi atau pengamatan terhadap berbagai fenomena alam, mengajukan pertanyaan tentang fenomena yang dihadapi, mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban, mengumpulkan data yang terkait dengan pertanyaan yang diajukan, merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data.
4. Metode Team Assisted Individaulization (TAI)
Metode TAI yang dimaksud oleh peneliti yaitu suatu metode pembelajaran secara kelompok di mana ada seorang asisten (assisted) membantu secara individual pada setiap kelompoknya. Seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam kelompoknya. Peneliti berharap metode pembelajaran TAI akan memotivasi siswa saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetisi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif.
14
5. Model Pembelajaran Konvensional
Model pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran matematika yang biasa digunakan oleh guru di SMA Negeri 1 Sewon yaitu menggunakan metode ceramah, drill, dan penugasan dan diskusi kelompok untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan dalam model pembelajaran konvensional adalah RPP yang dibuat oleh sekolah.
6. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Kemampuan berpikir kritis dalam penelitian ini adalah suatu kemampuan yang ditunjukkan siswa melalui indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertama, memberikan penjelasan sederhana. Kedua, membangun keterampilan dasar. Ketiga, menyimpulkan.
Keempat, memberikan penjelasan lanjut. Kelima, mengatur strategi dan taktik.
7. Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar dalam penelitian ini adalah suatu kemampuan yang dimiliki siswa yang mengacu pada indikator bahwa, siswa mempunyai kemauan untuk berbuat, mampu mempersiapkan waktu khusus untuk belajar, mampu merelakan tugas yang lain untuk belajar, mengerjakan tugas lebih awal, selalu berusaha dan tidak menyerah ketika menemukan permasalahan yang sulit.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hipotesis penelitian, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu:
1. Penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa menggunakan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI dibandingkan dengan hasil pembelajaran konvensional.
2. Penggunaan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI kurang efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap motivasi belajar siswa.
B. Saran
1. Bagi guru matematika
a. Diharapkan guru mata pelajaran matematika menerapkan model pembelajaran inquiry dengan metode TAI sebagai variasi model pembelajaran pada materi aturan sinus dan cosinus trigonometri.
b. Mengingat langkah pembelajaran model pembelajaran inquiry dengan metode TAI membutuhkan waktu yang sedikit lama dalam pengaplikasiannya, maka guru hendaknya menjelaskan secara tegas di setiap langkah model pembelajaran tersebut supaya keseluruhan langkah pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan rencana.
84
c. Guru memastikan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerjasama dengan baik dengan siswa yang bertindak sebagai assisted dan tidak menggantungkan jawabannya pada siswa yang lain.
d. Pada pembagian kelompok untuk penerapan metode TAI harus dipastikan terdapat satu siswa yang mampu menjadi asisten yang tegas terhadap teman-temannya supaya proses diskusi dapat berjalan sebagaimana mestinya.
2. Bagi Peneliti
a. Peneliti mampu menanamkan mindset siswa untuk memikirkan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar.
b. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menyediakan jurnal belajar kepada siswa supaya dapat memantai motivasi belajarnya.
c. Proses model pembelajaran inquiry yang harus mengajak siswa untuk melakukan suatu percobaan membuktikan atau menemukan suatu rumus supaya proses berpikir kritis siswa dapat berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi.2009.Psikolgi Sosial.Jakarta:Rineka Cipta.
Anas Sudijono.1996.Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Andari, T. (2012). Efektifitas pembelajaran matematika menggunakan model kontekstual terhadap prestasi belajar matematika ditinjau dari kemampuan awal siswa kelas v sd se-kecamatan bangunrejo kabupaten lampung tengah. JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika), 1(1).
Ariani, S. R. D., Mulyani, B., & Yulianingrum, F. (2008). Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif TAI (Team Assisted Individualization) Dilengkapi Modul dan Penilaian Portofolio untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Penentuan DH Reaksi Siswa SMA Kelas XI Semester I.
Budiastuti, S. A., & Triyanto, T. (2013). Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share dan Team Assisted Individualization Pada Materi Trigonometri Ditinjau Dari Minat Belajar Matematika Siswa SMK di Kabupaten Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pembelajaran Matematika, 1(4).
Ennis, R. H. (1985). A logical basis for measuring critical thinking skills. Educational leadership, 43(2), 44-48.
Ennis, R. H. (1989). Critical thinking and subject specificity: Clarification and needed research. Educational researcher, 18(3), 4-10.
Eralita, N., Redjeki, T., & Hastuti, B. (2012). Efektivitas model pembelajaran kooperatif metode student teams achievement divisions (STAD) dan team assisted individualization (TAI) dilengkapi LKS terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa pada materi pokok koloid Kelas XI SMA N Kebakkramat Tahun Ajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), 1(1), 59-66.
Halimah, U. (2012). Penerapan strategi pembelajaran inquiry berbasis lesson study untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar
86
biologi siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen Malang. Penerapan strategi pembelajaran inquiry berbasis lesson study untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen Malang/Umu Halimah.
https://ikhwahmedia.wordpress.com/2013/01/05/takharij-hadits-man- jadda-wajada/ diakses pada 10 September 2019.
https://www.brainquote.com/search_results?q=however+difficult diakses pada 10 September 2019.
Ibrahim dan Suparni. 2008. Strategi Pembelajaran Matematika.
Yogyakarta: Bidang Akademik .
Karim, A. (2011). Penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan, 1(1), 21-32.
Lindawati, S. (2013). Pembelajaran matematika dengan model inquiry terbimbing untuk meningkatkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama. Jurnal Pendidikan, 2(2).
Meidawati, Y. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran lnkuiri Tebimbing Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP (Doctoral dissertation, Universitas Terbuka).
Mulyono Abdurrahman.2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitaan Belajar.Jakarta:PT. Rineka Cipta, hal.253.
Nurajizah, Siti. 2018. Efektivitas Model Discovery Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemandirian Belajar Siswa SMA pada Pembelajaran Trigonometri. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Jumanti, Lilas Priana. Pengaruh Penerapan Metode Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri 26 Makassar
87
Permendiknas No. 24 Tahun 2016.Standar Isi. Jakarta: Menteri Pendidikan Nasional.
Muthohharoh, Nur Hayyi’.2016. Eksperimen Pembelajaran Matematika dengan Strategi Brain Based Learning dan Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Negeri Ketanggung Tahun Ajaran 2015/2016 Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah untuk
peningkatan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jurnal pendidikan dan pengajaran, 46(1).
Sardirman. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar.Jakarta: Rajawali Pers.
Slameto.2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Bumi Aksara,2006).
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Yuniastuti, E. (2013). Peningkatan keterampilan proses, motivasi, dan hasil belajar biologi dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing pada siswa kelas VII SMP Kartika V-1 Balikpapan. Jurnal penelitian pendidikan, 13(1).