33 BAB III
SEJARAH BERDIRINYA ORKES KERONCONG SWASTIKA A. Sejarah Berdirinya O.K Swastika
Menurut KBBI orkes merupakan kelompok pemain musik yang bermain bersama pada seperangkat alat musiknya.1 Jika dilihat dari sejarahnya, orchestra merupakan awal mula kelompok musik dinamai sebagai orkes di Indonesia. Kata orchestra berasal dari Bahasa Yunani, yang pada awalnya merupakan sebutan untuk suatu lokasi di mana paduan suara bangsa Yunani bermain. Namun pada abad ke-18 orchestra menjadi sebutan bagi para pemain itu sendiri. Hal yang dapat menjadikan sebuah kelompok menjadi orkestra antara lain:
1. Orkestra didasarkan atas alat musik gesek yang terdiri dari keluarga double bass.
2. Kelompok alat musik gesek ini disusun ke dalam bagian-bagian di mana para pemusik selalu memainkan not yang sama dalam satu suara.
3. Alat musik tiup kayu, tiup logam, dan perkusi tampil dalam jumlah yang berbeda sesuai dengan periode dan lagu-lagu yang ditampilkan.
4. Orkestra sesuai dengan waktu, tempat, dan daftar lagu yang dimainkan selalu memperlihatkan standar instrumentasi yang luas.
5. Biasanya orkestra yang telah berdiri terorganisasi dengan anggota- anggota yang mapan, mengadakan latihan dan pentas yang rutin, mempunyai struktur organisasi dan dana.
1 https://kbbi.web.id/orkes diakses pada 16 November 2018, pukul 21.32 commit to user
commit to user
6. Karena orkestra membutuhkan banyak pemain musik untuk memainkan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan, orkestra menuntut tinkgat kecakapan musical yang tinggi untuk memainkan dengan tepat pada nada-nada yang tertulis.
7. Orkestra dikoordinasi langsung dengan satu pusat, yang berawal pada abad 17 dan abad 18 oleh pemain utama biola pertama atau oleh pemain keyboard, yang selanjutnya mulai abad 18 dikoordinasi oleh seorang conductor.2
Ciri-ciri di atas dapat dijadikan acuan mengenai sebuah kelompok orkestra pada masa itu. Bentuk orkestra ini bertahan sampai pada akhirnya di akhir abad 19 mulai dikurangi karena alasan artistik dan ekonomi.
Musik orkestra masuk ke Indonesia karena adanya kontak dengan dunia barat. Pengaruh Barat (Eropa) yang berawal sejak datangnya para pedagang Portugis, yang kemudian disusul oleh hadirnya orang-orang Belanda pada akhir abad 16, sampai sekarang bisa disaksikan dalam berbagai bentuk seni.3 Kemudian orkestra berkembang di Indonesia, dan mengalami perubahan secara bentuk, dan musik. Tidak lagi hanya memainkan musik orkestra, namun juga memainkan musik lain seperti Keroncong, Dangdut dan genre musik lainnya.
Seperti pada umumnya pendirian sebuah kelompok musik, pasti terdapat satu pandangan mengenai apa yang akan dijadikan identitas dari kelompok tersebut,
2 Fu’adi, 2009, Mengenal Lebih Dekat Musik Orkestra, Yogyakarta: UNY.
Halaman 78.
3 Soedarsono, 2002, Seni Pertunjukkan Indonesia di Era Globalisasi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Halaman 61.
commit to user commit to user
baik itu jenis genre musik, penampilan dari kelompok tersebut, dan banyak hal lain yang dapat menjadikan ciri khas dari sebuah kelompok tersebut. Pada awal 1990- an dunia permusikkan Indonesia sedang memiliki banyak ragam, dan juga penikmat. Salah satu yang digemari saat itu adalah Keroncong. Hal inilah yang membuat Sapto Haryono dan rekannya Danis Sugiyanto memutuskan untuk membentuk Orkes Keroncong Swastika..
Orkes Keroncong Swastika terbentuk tahun 1994, diawali oleh keinginan dua pendirinya yaitu Sapto Haryono dan Danis Sugiyanto untuk membuat kegiatan yang lebih positif di kalangan anak muda saat itu. Nama Swastika sendiri merupakan singkatan dari Swara Estetika, yang memiliki makna keindahan suara musik yang dimainkan kelompok musik ini.4 Berlatar belakang memiliki hobby dalam musik klasik, musik keroncong menjadi pilihan mereka untuk O.K Swastika ini. Namun mereka juga merasa bahwa musik keroncong semakin kehilangan tempat di masyarakat, maka dari itu mereka mencoba untuk memasukkan unsur- unsur musik di luar pakem musik keroncong untuk memberi warna baru di musik keroncong yang mereka sajikan. Awalnya mereka belajar mengenai dasar keoncong dengan mengikuti orkes keroncong lain untuk memperdalam pengetahuan tentang musik, dan juga belajar pada pemain senior yang senang menularkan pengalamannya yang unik untuk kemudian dibawa dan dipraktikan ketika bermain bersama dengan Swastika. Setelah berdiri dan mulai aktif bermain musik keroncong, banyak musisi yang mulai bergabung dengan grup musik ini.
4 Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
commit to user commit to user
Keunikan yang dimiliki O.K Swastika adalah penyajian musik keroncong kontemporer, yang mana merupakan penggabungan musik keroncong klasik dengan pakem musik lainnya, dan juga tidak jarang mengaransemen musik seperti pop, jaz, menjadi bernuansa keroncong.5 Seperti dikatakan Danis Sugiyanto bahwa ia ingin memadukan unsur-unsur musik luar, agar keroncong tidak terkesan hanya untuk orang tua saja. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan alat musik yang sebenarnya bukan merupakan alat musik pakem dari keroncong, seperti:
saxophone, keyboard, gitar elektrik, dan juga gendang. Pemilihan jalur kontemporer juga bertujuan untuk menjadikan musik keroncong memiliki variasi, tidak hanya dimainkan dengan pakem yang itu-itu saja.6
Selain keunikan jenis musik keroncong kontemporer yang dipilih orkes keroncong Swastika ini, ada hal lain yang membuat orkes keroncong ini menarik yaitu keanggotaannya yang memiliki anggota senior dan junior yang diberi nama Swastika Junior. Swastika Junior tidak langsung hadir di awal terbentuknya orkes keroncong Swastika, namun terbentuk seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1999 atas dasar ketertarikan dari kalangan muda untuk bergabung dengan orkes keroncong Swastika.
B. Dinamika O.K Swastika Dalam Dunia Keroncong Di Surakarta Sejak terbentuk pada tahun 1994, O.K Swastika secara perlahan mulai memiliki kegiatan pasti sebagai sebuah kelompok musik, mulai dari jadwal latihan, membuat karya baik itu sebuah lagu atau aransemen lagu, mengikuti lomba
5 Ibid.
6 Wawancara dengan Danis Sugiyanto, 27 November 2018.
commit to user commit to user
keroncong, dan masih banyak lagi. Meskipun pada awal terbentuk sempat mendapatkan respon kurang baik dari kelompok musik keroncong yang lain, namun Swastika tetap pada pendirian mereka, dengan memainkan chord-chord yang tidak lazim pada musik keroncong kebanyakan. Namun dengan seperti itu, justru banyak anak muda yang tertarik dengan gaya bermain dari kelompok Swastika ini. hingga kemudian banyak anak muda yang tertarik untuk bergabung di kelompok ini.
Seiring perjalanan, tepatnya masih pada tahun yang sama yaitu tahun 1994, dua orang sahabat ini yaitu Sapto Haryono dan Danis Sugiyanto bertemu dengan Soetopo. Soetopo adalah seorang pengamen jalanan, yang biasa bermain musik Pop. Setelah bertemu dengan kedua orang tersebut mereka akhirnya berlatih bersama, sering ikut kegiatan bertiga dan lain – lainnya. Mereka juga sering kali berguru pada orkes yang terlebih dahulu berdiri, dengan tujuan untuk mengasah diri. Awal mulanya mereka hanya berlatih dengan jam waktu yang tidak tentu. Tapi ketika beberapa orang mulai bergabung dengan komunitas mereka, mereka pun membuat sebuah disiplin waktu dalam berlatih. Awalnya didirikan kelompok ini memang memainkan keroncong asli, namun mereka ingin memadukan unsur-unsur musik dari luar juga. Oleh karena itu Swastika itu jadi keroncong yang kontemporer untuk yang sekarang ini.7
Sebagai salah satu kelompok musik keroncong yang cukup diminati, selain karena warna musik yang mereka bawakan menarik untuk dinikmati, O.K Swastika ini juga diminati karena keterbukaannya terhadap anak muda untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatannya. Salah satu bentuk keterbukaan kelompok ini
7 Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
commit to user commit to user
kepada kalangan anak muda ialah dengan membentuk keanggotaan junior dalam kelompok ini. Setelah pada awalnya Komunitas ini didirikan hanyalah satu keanggotaan saja. Yaitu anggota komunitas seni kroncong Swastika. Jadi tidak ada penyebutan anggota senior maupun junior disini, hingga pada tahun 1999 komunitas ini mendapat perhatian dari kalangan muda. Alhasil beberapa anak muda pun tertarik dan mengikuti komunitas Swastika. Berikut adalah informasi mengenai keanggotaan senior dan junior yang ada pada kelompok Swastika ini.
1. Keanggotaan a. Anggota Senior
Setelah didirikan oleh Sapto Haryono dan Danis Sugiyanto, serta disusul oleh kehadiran Soetopo pada tahun 1994. Beberapa anggota-anggota lain pun ikut bergabung ke komunitas Swastika ini pada tahun yang sama juga yaitu 1994.
Seperti Puji Lestariyanti (Penyanyi), Hadi (Bass), Puspito (Cak) dan Mursito (Cello).
Anggota awal Komunitas Swastika sejak didirikan tahun 1994 : 1) Sapto Haryono (Flute dan Saxophone)
2) Danis Sugiyanto (Biola dan Gendang) 3) Sutopo alias ‘Si Doel’ (Cuk)
4) Puspito (Cak) 5) Mursito (Cello) 6) Hadi (Bass)
7) Puji Lestariyanti (Penyanyi)
commit to user commit to user
Alasan beberapa orang tertarik dengan komunitas ini karena kehadiran komunitas Swastika yang menghindarkan diri dari adanya minuman keras. Terjadi pergantian personil dalam komunitas Swastika antara rentang tahun 1994 – 2016.
Walaupun demikian para pendiri komunitas Swastika seperti Sapto, Danis, dan Soetopo tetaplah eksis hingga kini. Disamping itu juga terdapat Mursito dan Puji Lestariyanti yang juga ikut menemani ketiga orang tersebut dari proses awal terbentuk hingga kini.8 Tidak hanya anak muda yang tertarik untuk bergabung dengan kelompok musik ini, salah satu anggota yang saat ini merupakan anggota senior adalah Yati Mboel yang baru bergabung dengan kelompok ini pada tahun 1999, di mana Yati sebelumnya sudah bergabung dengan beberapa orkes keroncong lain seperti OK Senandung Rindu dan juga Komunitas Sapta Pesona.9
Anggota Senior Komunitas Swastika saat ini:
1) Sapto Haryono (Flute dan Saxophone) 2) Danis Sugiyanto (Biola dan Gendang) 3) Sutopo (Gitar Akustik dan Gitar Elektrik) 4) Martanto alias ‘Canthing’ (Cuk)
5) Agung Soeprapto (Gendang) 6) Didik Rohmadi (Bass) 7) Mursito (Cello)
8) Yanti Mboel (Penyanyi) 9) Puji Lestariyanti (Penyanyi)
8 Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
9 Wawancara dengan Yati, 16 November 2018.
commit to user commit to user
10) Asty Dewi Christiana (Penyanyi)
Anggota senior Swastika ini juga masih aktif bermain baik untuk pentas di tingkat festival, lomba, radio, dan juga latihan rutin yang diadakan di Mangkubumen setiap Rabu malam. Dan keanggotaan pada saat ini masih diisi oleh orang-orang lama dan ditambah beberapa anggota baru seperti Yati dan beberapa orang yang sudah disebutkan di atas.
Gambar 1.
Orkes Keroncong Swastika di Panggung Gesang (Dokumentasi Pribadi)
b. Anggota Junior
Pada tahun 1999 komunitas Swastika mendapat perhatian dari kalangan muda.
Beberapa anak muda ingin bergabung dengan komunitas Swastika, namun dikarenakan kemampuan mereka yang belum bisa mengimbangi anggota – anggota senior maka Sapto Haryono sebagai ketua sekaligus anggota komunitas keroncong Swastika membentuk anggota kedua, yang diberi nama Swastika Junior. Ada dua
commit to user commit to user
tujuan utama didirikannya komunitas Swastika Junior ini, yang pertama yaitu sebagai wadah penyaluran musik keroncong. Bagi anak – anak yang berminat terhadap musik musik keroncong. Dan yang kedua ialah sebagai wadah pelestarian dari seni musik keroncong itu sendiri. Seperti halnya komunitas keroncong Swastika senior, Swastika Junior juga mengalami pergantian personil antra rentang tahun 1996 – 2016. Walaupun demikian tetaplah terdapat anggota junior Swastika yang eksis hingga saat ini. Yaitu Asty Dewi (Penyanyi), Didik Rohmadi (Bass), dan Agung Soeprapto (Gendang). Ketiga orang ini merupakan mantan anggota junior komunitas Swastika yang kini telah menjadi anggota dari komunitas senior Swastika. Di bawah ini akan dijelaskan detail keanggotaan dari Swastika Junior.
Anggota awal Komunitas Swastika Junior sejak didirikan tahun 1999 : 1) Asty Dewi Christiana (Penyanyi)
2) Didik Rohmadi (Bass) 3) Agung Soeprapto (Gendang) 4) Wakidjo (Cuk)
5) Rossi Abun (Cello) 6) Aurelia Theresia (Biola) 7) Agus Wahyono (Keyboard)
Anggota Swastika junior terus mengalami pergantian, dikarenakan usia yang dianggap sudah cukup dewasa dan diajak untuk bermain bersama dengan anggota Swastika senior. Hal ini dikarenakan keanggotaan diperuntukkan kepada
commit to user commit to user
anak-anak muda seperti anak sekolah, dan mahasiswa.10 Adapun anggota Junior Komunitas Swastika saat ini:
1) Fauziah Anggita (Penyanyi) 2) Nisrina Fatin (Penyanyi)
3) Landie Mohammad (Penyanyi atau Gitar Akustik) 4) Rama Yudha (Gitar Akustik dan Biola)
5) Dhandy Satria (Gitar Elektrik dan Gitar Akustik) 6) Mohammad Ridho (Cuk)
7) Khairina Zulfrida (Bass) 8) Edo Putra (Cello)
9) Fillaine Malik Finta (Biola) 10) Devi Merdeka (Flute dan Cak) 11) Prabu Mahardika (Keyboard) 12) Aziz Sumantri (Gendang dan Flute)
Dengan adaya keanggotaan junior ini, jelas membuat kelompok ini berkembang secara bertahap. Seperti beberapa anggota junior yang naik ke anggota senior seperti Asty Dewi Christiana, Didik Rohmadi, dan Agung Soeprapto.11 Juga dengan terus berjalannya keanggotaan yang diisi anak muda ini, dapat menjaga musik keroncong tetap memiliki peminat di kalangan anak muda, seperti pada awal tujuan kelompok musik ini dibuat.
10 Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
11 Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
commit to user commit to user
2. Kegiatan Orkes Keroncong Swastika
Sebagai kelompok musik yang aktif, tentu saja Orkes Keroncong Swastika memiliki kegiatan yang tidak sedikit. Selama penulis melakukan penelitian, kelompok musik ini kerap kali terlibat dalam berbagai kegiatan musik keroncong, seperti tampil di acara Keroncong Bale, Panggung Gesang, dan acara lainnya.
Untuk menunjang penampilan yang baik, latihan rutin tentu diperlukan agar tetap kompak dan harmonis saat tampil. Untuk Kegiatan berlatihnya, komunitas keroncong Swastika biasa berlatih di kediaman Sapto Haryono. Yang bertempat pada Jl. Kana 02 RT 06 Mangkubumen, Banjarsari. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa komunitas keroncong Swastika terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok senior dan junior. Kedua kelompok ini berlatih pada hari Rabu. Untuk anggota yang senior berlatih pada pukul 20.00 sampai dengan pukul 01.00.
commit to user commit to user
Tabel I
Kegiatan Latihan Rutin Anggota Senior Orkes Keroncong Swastika
Sumber: Konservasi data lapangan selama bulan November 2018, dengan mengikuti kegiatan setiap latihan Rabu malam di Mangkubumen
Kegiatan Di Bulan November
Peserta Yang hadir Lagu Yang Dibawakan Waktu Acara
Minggu Pertama 1.Sapto(Flute) 2.Danis(Biola) 3.Agung(Gendang) 4.Martanto(Cuk) 5.Sutopo(Gitar) 6.Didik(Bass) 7.Mursito(Cello) 8.Asty(Menyanyi).
1.Panggung Sandiwara oleh God Bless
2.Keroncong Morekso oleh Sundari Sukotjo
7 November 2018 Pukul 20.00 –
24.00
Minggu Kedua 1.Sapto(Flute) 2.Danis(Biola) 3.Agung(Gendang), 4. Martanto(Cuk) 5.Sutopo(Gitar) 6.Didik(Bass) 7.Mursito(Cello) 8.Yanti Mboel (Menyanyi).
1.Solo Di Waktu Malam oleh Mus Mulyadi 2.Sarinah oleh Waljinah
14 November 2018.
Pukul 20.00 – 24.00
Minggu ketiga 1.Sapto(Flute) 2.Danis(Biola) 3.Agung(Gendang) 4.Martanto(Cuk) 5.Sutopo(Gitar) 6.Didik(Bass) 7.Mursito(Cello) 8.Asty(menyanyi) 9.Puji(Menyanyi) 10.Yanti
Mboel(Menyanyi).
1.Juwita Malam oleh Kris Biantoro
2.Sabda Alam oleh Chrisye 3.Rindu Malam oleh Sundari Soekotjo
21 November 2018.
Pukul 20.00 – 01.00
Minggu Keempat 1.Sapto(Flute) 2.Danis(Biola) 3.Agung(Gendang) 4.Martanto(Cuk) 5.Sutopo(Gitar) 6.Didik(Bass) 7.Mursito(Cello) 8.Asty(Menyanyi) 9.Yanti
Mboel(Menyanyi).
1.Buat Apa Susah oleh Koes Ploes
2.Michelle oleh The Beatles
3.Roda Dunia oleh Gesang 4.Penny Lane oleh The Beatles
28 November 2018.
Pukul 20.00 – 24.00
commit to user commit to user
Tabel II
Kegiatan Latihan Rutin Anggota Junior Orkes Keroncong Swastika
Sumber: Kompilasi data lapangan selama bulan November 2018, dengan mengikuti kegiatan setiap latihan Rabu malam di Mangkubumen
Kegiatan Bulan November
Peserta Yang hadir Lagu Yang Dibawakan Waktu Acara Minggu Pertama 1.Prabu(Keyboard)
2.Landi(Gitar Akustik) 3.Fatin(Menyanyi) 4.Aziz(Gendang) 5.Devi(Flute) 6.Rina(Bass) 7.Ridho(Cuk) 8.Dhandy(Gitar) 9.Rama(Biola) 9.Edo(Cello) 10.Anggi(Menyanyi)
1.Kesempurnaan Cinta oleh Rizky Febrian 2.Kisah Sedih Di Hari Minggu oleh Koes Ploes 3.Aksi Kucing oleh Ubiet
7 November 2018.
Pukul 17.00 – 19.30
Minggu Kedua 1.Prabu(Keyboard) 2.Landi(menyanyi) 3.Fatin(Menyanyi) 4.Aziz(Gendang), 5.Devi(Flute) 6.Rina(Bass) 7.Ridho(Cuk) 8.Dhandy(Gitar) 9.Finta(Biola) 10.Rama(Gitar) 11.Edo(Cello) 12.Anggi(Menyanyi).
1.Problem oleh Ariana Grande
2.Keroncong Kewajiban Manusia oleh Kusbini 3.Merepih Alam oleh Chrisye
14 November
2018
Pukul 17.00 – 20.00
Minggu ketiga 1.Prabu(Keyboard) 2.Fatin(Menyanyi) 3.Aziz(Gendang) 4.Devi(Flute) 5.Rina(Bass) 6.Finta(Biola) 7.Rama(Gitar) 8.Edo(Cello) 9.Fatin (Menyanyi) 10.Anggi(Menyanyi)
1.Tirtonadi oleh Gesang 2.Pop Keroncong oleh Sundari Soekotjo 3.Misty oleh Jhonny Mathis
21 November
2018
Pukul 17.00 – 19.30
Minggu Keempat 1.Prabu(Keyboard) 2.Landi(Menyanyi) 3.Fatin(Menyanyi) 4.Aziz(Flute) 5.Devi(Cak) 6.Rina(Bass) 7.Ridho(Cuk) 8.Dhandy(Gitar) 9.Finta(Biola)
10.Rama(Gitar dan Biola)
1.Eksperimen Keroncong oleh Swastika Senior 2.Pasamuan Panggung oleh Swastika Senior
28 November
2018.
Pukul 17.00 – 20.00
commit to user commit to user
Kegiatan latihan dijalankan dengan begitu baik dan santai. Seluruh anggota komunitas senior Swastika melakukan tugasnya masing–masing. Mereka saling menjaga kekompakan dalam bermain musik. Musik yang mereka lantunkan pun sangat varitatif. Selama kegiatan latihan Sapto dan juga Danis bergantian mengaransemen lagu. Selain jadwal latihan yang rutin setiap rabu malam, tempat latihan Orkes Keroncong Swastika juga selalu di satu tempat, yaitu di rumah Sapto, di Jalan Kana 2, Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Tempat Swastika latihan ini juga tidak berbentuk studio musik, hanya beranda rumah yang dijadikan panggung kecil yang cukup untuk enam sampai tujuh orang setiap bermain.
Tidak hanya itu saja beberapa pemain lain seperti Sutopo selaku pemain gitar juga turut ambil serta dalam proses latihan ini. Selain itu juga Mursito selaku pemain cello juga melakukan hal yang serupa. Hal ini dilakukan dikarenakan beberapa musik yang mereka mainkan adalah musik dengan genre Pop. Sehingga mereka memutar otak agar aransemen lagu bergenre Pop tersebut dapat diubah menjadi genre musik keroncong. Disamping itu juga dalam kegiatan latihan anggota senior Swastika terdapatlah beberapa anggota junior yang turut datang menyaksikan mereka. Hal ini tentu saja mereka lakukan agar dapat bisa mencontoh senior mereka.
3. Prestasi Orkes Keroncong Swastika
Sebagai kelompok musik yang sudah eksis dari tahun 1994, kegiatan O.K Swastika ini cukup banyak dan berpengaruh di dunia perkeroncongan di Surakarta.
Bukan hanya sekedar latihan dan rekaman, anggota Swastika ini juga kerap kali commit to user
commit to user
ikut serta dalam berbagai festival keroncong baik lokal, nasional, juga internasional.
Seperti Sapto yang menjadi juri di salah satu kompetisi keroncong tingkat provinsi yang diadakan di Surakarta.12 Selain anggotanya secara individu, kegiatan Swastika sebagai kelompok juga terhitung banyak, seperti mengikuti kejuaraan. Adapun partisipasi dan prestasi yang diperoleh Swastika selama perjalanannya sebagai kelompok musik keroncong yaitu:
a. Juara II lomba keroncong Pekan Pariwisata Maleman Sriwedari tahun 1994.
b. Juara II lomba keroncong Pekan Pariwisata Maleman Sriwedari tahun 1995.
c. Juara II lomba keroncong Pesta Budaya di Sitihinggil Keraton Surakarta tahun 1996.
d. Juara II lomba keroncong Piala Bergilir Gesang tahun 1996.
e. Juara I lomba keroncong se eks Karesidenan Surakarta di RRI Surakarta tahun 1997.
f. Juara II lomba keroncong tingkat Provinsi Jawa Tengah di Semarang tahun 1997.
g. Juara I lomba keroncong Ulang Tahun Radio PTPN ke – 32 tahun 2000.
h. Juara III lomba keroncong Piala Gubernur Jateng – Gesang – Waljinah dan Andjar Any tahun . 2002. Selain itu Danis Sugiyanto meraih penghargaan penyaji Biola terbaik, sedangkan dan Flute terbaik diraih oleh Sapto Haryono.
i. Juara I lomba keroncong Piala Gubernur Jateng – Gesang – Waljinah dan Andjar Any tahun 2003.
12Wawancara dengan Sapto, 16 November 2018.
commit to user commit to user
j. Parade 1000 Bunga, di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta tahun 2007.
k. Musik Film ”Detour to Paradise”, Art Director: Andy Lee (Taiwan), musik director: Rahayu Supanggah tahun 2008.
l. Sapto Haryono melawat ke Suriname dengan Didi Kempot grup, tahun 2008.
m. 3 orang anggota Swastika melawat ke Denmark dalam Knejpe Festival Helsingor, oktober 2011.
n. Swastika berpartisipasi pada Keroncong TBS 2012
o. Swastika berpartisipasi pada Solo Keroncong Festival 2012 p. Swastika junior pentas di Keroncong SMAN 4 Surakarta q. Swastika berpartisipasi pada Keroncong TBS 2016 r. Pasar Keroncong Kota Gede tahun 2016.
Selain jejeran prestasi dan partisipasi dari orkes keroncong Swastika ini juga terdapat banyak karya yang tercipta selama perjalanan kelompok musik ini. Karya yang dihasilkan kelompok musik Swastika ini kebanyakan berbentuk komposisi musik, yang kerap kali ditampilkan dalam acara-acara tertentu. Berikut ini adalah beberapa karya yang diciptakan OK Swastika dari awal terbentuk hingga saat ini:
a. Pasamuan Panggung Komposisi Musik, dan pertama kali ditampilkan pada Ndalem Padmosusastran Surakarta tahun 2003.
b. Conglung Komposisi Musik, musik eksperimen keroncong dengan calung Banyumas. Dan pertama kali ditampilkan pada Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta tahun 2005.
commit to user commit to user
c. Eksperimen Keroncong Komposisi Musik, tahun 2007.
d. ”Aku, Wanita dan Kebaya” Komposisi Musik, dan pertama kali ditampilkan pada musik Fashion Show Anne Avanty. Jakarta tahun 2007.
e. Swabuwana Komposisi musik, tahun 2012
Karya dan prestasi sudah banyak ditorehkan oleh Orkes Keroncong Swastika. Dengan terus bermain, Orkes Keroncong Swastika terus menyebarkan semangat bermusik pada generasi muda agar tetap menjaga eksistensi keroncong.
Hal ini juga seakan menjadi bukti dari usaha mereka dalam melestarikan kebudayaan Surakarta bernama Keroncong.
commit to user commit to user