109 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Pemenuhan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas daksa melalui program rehabilitasi sosial yang dilakukan BBRSBD Prof. Dr. Soeharso dilakukan melalui tiga kegiatan di bawah ini:
a. Rehabilitasi, meliputi:
1) Rehabilitasi Medis 2) Bimbingan Pendidikan 3) Bimbingan Sosial
4) Bimbingan Ketrampilan / Vokasional b. Resosialisasi, meliputi:
1) Praktik Belajar Kerja (PBK) 2) Pelatihan Kewirausahaan 3) Sarasehan
4) Bimbingan Persiapan Keluarga
c. Penyaluran dan Tindak Lanjut Rehabilitasi, meliputi:
1) Ujian Akhir 2) Penyaluran 3) Bimbingan Lanjut
Berdasarkan hasil rehabilitasi sosial, maka dapat disimpulkan bahwa hak atas pekerjaan para penyandang disabilitas daksa sudah terpenuhi sebagian.
Macam hak yang terpenuhi antara lain hak untuk mendapatkan pelatihan kerja, informasi kerja, kesempatan kerja yang sama, perencanaan kerja, penempatan kerja sesuai bakat dan keterampilan, hak untuk berwirausaha mandiri , serta hak untuk mengikuti penyaluran kerja dalam open employment. Adapun yang belum terpenuhi di antaranya hak mengakses pekerjaan bagi sebagian penerima manfaat yang tidak bisa mengikuti penyaluran dan hak memperoleh jaminan perlindungan kerja. Hal ini dikarenakan belum ada pendampingan lanjut bagi penerima manfaat yang sudah lulus, dan belum bekerja, artinya proses rehabilitasi sosial berakhir saat kelulusan penerima manfaat.
2. Dampak program rehabilitasi sosial terhadap pemenuhan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas daksa yang dilakukan oleh BBRSBD Prof. Dr. Soeharso
Program Rehabilitasi Sosial memberikan dampak pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi para disabilitas daksa. Berikut dampak program rehabilitasi sosial terhadap pemenuhan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas daksa yang dilakukan oleh BBRSBD Prof. Dr. Soeharso, meliputi:
a. Ranah fisiologis (medis)
Adanya perubahan fisik paska dilakukannya rehabilitasi medis terhadap Penerima manfaat (PM) dapat membantu dalam pelatihan keterampilan dan juga kemampuan kerja.
b. Ranah mental-sosial
Terbentuknya rasa percaya diri yang menjadi langkah awal untuk mengatasi keterbatasan fisik sehingga menjadi bekal untuk mengikuti persaingan kerja. Penerima manfaat juga menjadi lebih berani untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar dan menjadi pribadi yang tidak lagi tertutup seperti sebelumnya.
c. Ranah pendidikan/intelektual
Penerima manfaat (PM) yang sebelumnya buta aksara, kini bisa membaca, menulis, dan berhitung. Penerima manfaat (PM) dapat meningkatkan jenjang pendidikan formal melalui kejar paket. Penerima manfaat (PM) juga bisa mendapatkan pengetahuan umum yang berguna bagi kehidupan sehari-hari.
d. Ranah vokasional
Dampak pada ranah vokasional ini dapat terlihat dari perkembangan keterampilan para penerima manfaat (PM) untuk bekerja sesuai keterampilan yang diajarkan. Selain itu, dapat mengikuti program penyaluran kerja melalui open employment maupun membuka usaha mandiri. Sehingga, dengan bekerja maka hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak mereka sudah bisa terpenuhi.
Berkaitan dengan pelaksanaan program rehabilitasi sosial, maka hasil penelitian ini dapat memberikan pandangan baru terkait hak warga negara dari sudut pandang kelompok rentan sosial yakni penyandang disabilitas daksa.
Sesuai dengan teori Differential Citizenship bahwasanya hak warga negara itu dapat dilihat dari konteks dan domain yang berbeda-beda. Adanya penghargaan terhadap perbedaan di dalam negara maka akan melahirkan inclusive citizenship yaitu suatu masyarakat yang dapat menghargai keberadaan kelompok yang
‘berbeda’ hal ini penyandang disabilitas daksa dengan jalan memberikan perlakuan khusus agar mereka bisa sejajar dengan warga negara lainnya dalam hak maupun kewajibannya.
3. Hambatan program rehabilitasi sosial terhadap pemenuhan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas daksa yang dilakukan oleh BBRSBD Prof. Dr. Soeharso
Berdasarkan hasil penelitian BBRSBD Prof. Dr. Soeharso mengalami hambatan-hambatan untuk menjalankan program rehabilitasi sosial yang membantu pemenuhan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas daksa antara lain:
a. Hambatan internal, dari segi penerima manfaat (PM) 1) Sikap yang mudah menyerah
2) Sikap pemalu, tertutup, dan susah menyesuaikan diri 3) Sikap keras kepala
b. Hambatan eksternal
1) Hambatan dari segi fasilitator keterampilan berupa kualitas dan kuantitas fasilitator yang terbatas sehingga muncul kesulitan dalam pemnelajaran secara personal.
2) Hambatan dari segi sarana prasarana, berupa ketersediaan alat praktik keterampilan terbatas sehingga haru ssaling bergantian. Selain itu beberapa akses jalan bertipografi sulit bagi disabilitas dengan kursi roda.
Berdasarkan adanya hambatan-hambatan di atas, maka peneliti mencoba memberikan beberapa alternatif solusi. Pertama, berkaitan dengan kepribadian
penerima manfaat (PM) maka diperlukan pendampingan psikolog secara intens mengingat kepribadian sosial seseorang tidak bisa dirubah secara instan.
Kepribadian sosial ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap sosialisasi mereka di dunia kerja kelak. Kedua, terkait dengan fasilitator maka solusi utama terletak pada pola rekruitmen yang dilakukan Kementrian Sosial. Rekruitmen harusnya dilakukan secara selektif dengan syarat pendidikan sesuai dengan kriteria keterampilan yang dibutuhkan agar nanti kompetensi pembelajarannya bisa lebih memadai. Selain itu fasilitator juga perlu menyusun kurikulum keterampilan yang diajarkan, bukan hanya menyesuaikan permintaan penerima manfaat (PM) sehingga pemberian materi lebih terstruktur dan sesuai kebutuhan pasar. Ketiga, berkaitan dengan sarana prasarana maka perlu dilakukan evaluasi internal untuk kemudian memperbaiki ketersediaan sarana pendukung rehabilitasi sosial.
B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan dan jawaban yang telah dirumuskan, ditambah dengan fenomena yang dibahas dalam penelitian ini tentang Program Rehabilitasi Sosial guna membantu pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi penyandang disabilitas daksa yang dilakukan oleh BBRSBD Prof. Dr.
Soeharso maka implikasi yang ditimbulkan sebagai berikut:
1. Implikasi Teoritis
Berdasarkan hasil penelitian ini, secara teoritis dapat diketahui bahwa hasilnya sesuai dengan pandangan Teori Differential Citizenship yang mana kewarganegaraan dipandang dengan pendekatan non tradisional.
Kewarganegaraan dilihat dari konteks hak kelompok minoritas yaitu penyandang disabilitas. Pendekatan non tradisional Teori Differential Citizenship Wayne Hudson mengandung beberapa syarat yaitu, pertama, kewarganegaraan berbeda dalam konteks dan domain berbeda yakni hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak menurut sudut pandang penyandang disabilitas. Kedua, kewarganegaraan berbeda melibatkan beberapa kapasitas berbeda. Dalam hal ini adalah peran berbagai pihak dalam pelaksanaan program
Rehabilitasi Sosial bagi Penyandang disabilitas daksa. Ketiga, kapasitas warga negara tidak berada di bawah kewarganegaraan tunggal. Hal ini merujuk pada hak atas pekerjaan penyandang disabilitas daksa sebagai kelompok minoritas di tengah warga negara normal yang mayoritas. Kesadaran akan perbedaan konteks kewarganegaraan ini dapat menimbukan inclusive citizenship.
2. Implikasi Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu kajian ilmiah yang dapat dikembangkan sebagai problem solving bagi pemerintah dan balai sejenis dalam menghadapi pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi penyandang disabilitas
b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu kajian ilmiah yang dapat dikembangkan untuk kemajuan program Rehabilitasi Sosial yang dilakukan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Prof. Dr. Soeharso.
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan referensi bagi penelitian sejenis.
C. Saran
Berdasarkan hasil temuan studi dilapangan, kesimpulan, implikasi, maka peneliti dapat kemukakan saran-saran berikut:
1. Kepada BBRSBD Prof. Dr. Soeharso
a. Memperluas jaringan kerja sama untuk penyaluran kerja sampai ke luar Jawa mengingat penerima manfaat (PM) banyak yang berasal dari luar Jawa.
b. Melakukan pendataan dan pemantauan terhadap mantan penerima manfaat (PM) yang sudah bekerja, berwirausaha, maupun belum bekerja untuk memastikan bahwa hak atas pekerjaan mereka benar sudah terpenuhi.
c. Meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan sarana prasarana penunjang rehabilitasi sosial, baik alat praktik keterampilan maupun akses jalan ke asrama.
2. Kepada fasilitator keterampilan
Agar memberikan perhatian lebih terhadap penyusunan materi untuk program bimbingan keterampilan. materi seharusnya bukan saja berdasarkan
perminataan penerima manfaat (PM), akan lebih baik jika materi juga disusun dalam bentuk kurikulum sehingga menjadi bahan acuan yang jelas dalam pembelajaran. Materi yang disusun juga harus memperhatikan kebutuhan keterampilan di pasar tenaga kerja, sehingga kompetensi lulusan bisa setara dengan lulusan Balai Latihan kerja. Kompetensi lulusan akan sangat membantu dalam penyaluran kerja.
3. Kepada Seksi Bimbingan Sosial
Pendampingan psikolog terhadap penerima manfaat (PM) perlu diintensifkan lagi mengingat karakteristik penerima manfaat yang tidak bisa berubah secara instan. Perkembangan karakter kepribadian ini sangat penting karena berkaitan dengan kemampuan mereka untuk menjalankan fungsi sosialnya setelah mereka kembali ke masyarakat maupun memasuki lapangan kerja kelak.
4. Kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia
Agar lebih memperhatikan pola rekruitmen pegawai fasilitator keterampilan agar pelayanan bimbingan keterampilan menjadi lebih maksimal dalam kuantitas dan kualitas. Jumlah fasilitator yang memadai akan memudahkan pembelajaran di vak keterampilan yang dilakukan secara personal. Kualitas fasilitator yang mumpuni akan melahirkan tenaga kerja disabilitas yang kompeten untuk bersaing di dunia kerja.