• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM KEWASPADAAN DINI KLB (ASPEK PANGAN)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SISTEM KEWASPADAAN DINI KLB (ASPEK PANGAN)"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM KEWASPADAAN DINI KLB (ASPEK PANGAN)

Oleh

Rismawati Pangestika, S.Si., M.P.H.

(2)

Pokok Bahasan

Sistem Kewaspadaan Dini KLB 01

Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan 02

Pelaksanaan Surveilans Gizi 03

Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi

04

(3)

Sistem Kewaspadaan

Dini KLB

(4)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

949/MENKES/SL/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)

Sistem Kewaspadaan Dini KLB (SKD-KLB)

• kewaspadaan terhadap penyakit berpotensi KLB beserta faktor- faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya pencegahan dan

tindakan penanggulangan kejadian luar biasa yang cepat dan tepat

Peringatan Kewaspadaan Dini KLB

• pemberian informasi adanya ancaman KLB pada suatu daerah

dalam periode waktu tertentu.

(5)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 949/MENKES/SL/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan

Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)

Deteksi dini KLB

• kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya KLB dengan cara melakukan intensifikasi pemantauan secara terus

menerus dan sistematis terhadap perkembangan penyakit.

Kondisi rentan KLB

• kondisi masyarakat, lingkungan-perilaku dan

penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang merupakan

faktor risiko terjadinya KLB

(6)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 949/MENKES/SL/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan

Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)

Operasional kegiatan SKD-KLB

Kajian epidemiologi secara terus menerus dan sistematis terhadap penyakit berpotensi KLB dan kondisi rentan KLB

Peringatan kewaspadaan dini KLB dan peningkatan kewaspadaan

Kesiapsiagaan sarana kesehatan pemerintah dan

masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya KLB.

(7)

Sistem Surveilans Epidemiologi

Kesehatan

(8)

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman

Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan

Surveilans Kesehatan

• manajemen kesehatan berbasis fakta yang cepat, tepat dan akurat

Tujuan

• tersedia data dan informasi epidemiologi

sebagai dasar manajemen kesehatan untuk

pengambilan keputusan dalam perencanaan,

pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program

kesehatan dan peningkatan kewaspadaan

serta respon kejadian luar biasa yang cepat

dan tepat secara nasional, provinsi dan

kabupaten/kota menuju Indoensia sehat

(9)

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman

Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Mekanisme Kerja

1.Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya

1.Perekaman, pelaporan dan pengolahan data

1.Analisis dan interpretasi data

1.Studi epidemiologi

1.Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan

1.Membuat rekomendasi dan alternatif tindak lanjut

Umpan balik

(10)

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman

Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan

Sasaran Penyelenggaraan

• Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular

• SE. PTM

• SE. Kesehatan Lingkungan dan Perilaku

• SE. Masalah Kesehatan

• Termasuk : Surveilans Gizi dan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)

• SE. Kesehatan Matra

• Termasuk : Surveilans pada kejadian luar biasa penyakit dan keracunan

masalah kesehatan berdasarkan program kesehatan prioritas nasional,

bilateral, regional, global, penyakit potensial wabah, bencana dan komitmen lintas

sektor serta sasaran spesifik

lokal atau daerah.

(11)

Pelaksanaan

Surveilans Gizi

(12)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi

1.1.

Kemiskinan 2.2. Kurangnya akses ke air

bersih dan sanitasi 3.3. Praktik pengasuhan anak yang kurang tepat 4.4. Konsumsi makanan bergizi rendah

Indikator lain Faktor risiko:

1.1. Balita berat badan

kurang, pendek, gizi

kurang 2.2. Remaja putri anemia 3.3. Ibu hamil anemia, risiko kurang energi kronik 4.4. Bayi dengan BBLR

Indikator masalah gizi :

kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus

terhadap masalah gizi masyarakat dan indikator pembinaan gizi

Surveilans gizi

Assessment

Analysis

Action

(13)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi

Pengkajian 1. Assessment

• kegiatan pengumpulan dan pengolahan data mengenai situasi gizi populasi di suatu wilayah

Analisis 2. Analysis

• kegiatan menganalisis determinan masalah gizi termasuk penyebab langsung, tidak langsung dan mendasar. Analisis ini disajikan dalam bentuk informasi yang digunakan untuk diseminasi dan advokasi.

Respon 3. Action

• tindakan yang didasari oleh hasil analisis dan sumber daya yang tersedia. Hasil analisis menjadi dasar perumusan kebijakan, pengambil keputusan, dan

perencanaan program.

(14)

Sistem Ketahanan

Pangan dan Gizi

(15)

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012

Ketahanan Pangan

kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,

beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk

Konsep Ketahanan

Pangan

Tiga pilar ketahanan pangan yaitu (1) Ketersediaan pangan

(2) Akses pangan (3) Pemanfaatan pangan

(16)

Kerangka Konsep Ketahanan

Pangan dan Gizi

(17)

Kerawanan Pangan dan Gizi

Bagian akhir dari proses perubahan situasi pangan dan gizi.

Rawan Pangan

•suatu kondisi ketidakmampuan individu atau

sekumpulan individu di suatu wilayah untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat, aktif dan produktif.

Kerawanan Pangan

•kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan konsumsi pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian masyarakat

Rawan Gizi

•kondisi/keadaan dimana banyak penduduk mengalami kekurangan gizi.

(18)

Kerawanan Pangan dan Gizi

(19)

Global Food Security Index

(20)

Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA)

(21)

Peta Ketahanan dan Kerentanan

Pangan (2021)

(22)

Program-program Peningkatan Ketahanan Pangan dan Mengentaskan Kerentanan Pangan

a. Peningkatan penyediaan pangan di daerah non sentra produksi dengan mengoptimalkan sumberdaya pangan lokal

b. Penanganan balita stunting melalui intervensi program gizi baik yang bersifat spesifik maupun sensitif

c. Penanganan kemiskinan melalui penyediaan lapangan kerja, padat karya, redistribusi lahan;

pembangunan infrastruktur dasar (jalan, listrik, rumah sakit), dan pemberian bantuan sosial;

serta pembangunan usaha produktif/UMKM/padat karya untuk menggerakan ekonomi wilayah

d. Peningkatan akses air bersih melalui penyediaan fasilitas dan layanan air bersih;

sosialisasi dan penyuluhan

e. Pemerataan penyediaan tenaga kesehatan f. Peningkatan pendidikan perempuan.

(23)

Program-program Pengentasan Kerentanan Pangan Di Daerah Perkotaan

•a. Penanganan balita stunting melalui intervensi program gizi baik yang bersifat spesifik maupun sensitif

•b. Sosialisasi pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman

•c. Peningkatan akses rumah tangga terhadap air bersih melalui penyediaan fasilitas dan layanan air bersih

•d. Peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat untuk meningkatkan daya beli masyarakat

•e. Peningkatan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat melalui sosialisasi dan penyuluhan.

(24)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA.

Khusus untuk Atlet yang berprestasi dibawah binaan cabang olahraga yang bersangkutan yang terdaftar pada Pengurus Cabang tidak dikenakan pungutan baik biaya masuk maupun biaya

Pada PT Tunas dwipa Matra selama ini belum pernah dilakukannya Audit Tata Kelola Informasi nya, mengingat Teknologi Informasi merupakan aset penting bagi

Tahap EP2 merupakan proses pemutihan tahap IV prosesnya sama dengan tahap II dimana pulp dari tahap khlorin dioksida diputihkan kembali supaya mendapat yang lebih tinggi dari

Peringatan Hari Pahlawan 10 November adalah agenda nasional yang diperingati setiap tahun baik di dalam negeri maupun luar negeri. Peringatan Hari Pahlawan juga merupakan salah

Hubungan Panjang Tulang Sternum dengan Tinggi Badan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Skripsi.. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Tanggal Perkiraan periode pernyataan kehendak pemegang saham 24 November – 01 Desember 2011 Public Sorini yang berkehendak untuk menjual sahamnya. Tanggal efektif penggabungan

pada kulit akan positif bila dijumpai adanya alergi terhadap bahan alergen standar.. yang