ANALISIS
KINERJA PERDAGANGAN TELUR AYAM
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian 2019
ISSN : 2086-4949
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
ii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian iii
ANALISIS
KINERJA PERDAGANGAN TELUR AYAM
Volume 9 Nomor 2G Tahun 2019
Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5) Jumlah Halaman : 51 halaman
Penasehat : Dr. Ir. Ketut Kariyasa, M.Si
Penyunting : Dr. M. Luthful Hakim Sri Wahyuningsih, S.Si
Naskah :
Maidiah Dwi Naruri Saida, S.Si
Design Sampul : Rinawati, SE
Diterbitkan oleh :
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian
2019
© Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
iv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga publikasi “Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam” telah diselesaikan. Publikasi ini merupakan salah satu output dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian dalam mengemban visi dan misinya dalam mempublikasikan data sektor pertanian maupun hasil analisisnya.
Publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam Semester II Tahun 2019 merupakan bagian dari publikasi Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian tahun 2019. Publikasi ini menyajikan keragaan data series komoditas telur ayam secara nasional dan internasional selama 5 tahun terakhir serta dilengkapi dengan hasil analisis indeks spesialisasi perdagangan, analisis daya saing, indeks keunggulan komparatif serta analisis lainnya.
Publikasi ini disajikan dalam bentuk hardcopy dan softcopy, serta dapat diakses melalui website Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian yaitu http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id. Dengan diterbitkannya publikasi ini diharapkan para pembaca dapat memperoleh gambaran tentang keragaan dan analisis kinerja perdagangan komoditas telur ayam secara lebih lengkap dan menyeluruh.
Kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan publikasi ini, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan publikasi berikutnya.
Jakarta, Desember 2019 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian,
Dr. Ir. Ketut Kariyasa, M.Si NIP. 196904191998031002
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
vi Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian vii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
RINGKASAN EKSEKUTIF ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ...1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
BAB II. METODOLOGI ...3
2.1. Sumber Data dan Informasi ... 3
2.2. Metode Analisis ... 3
BAB III. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN ...9
3.1. Perkembangan Neraca Perdagangan Sektor Pertanian ... 9
3.2. Perkembangan Neraca Perdagangan Sub Sektor Peternakan ... 11
BAB IV. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN TELUR AYAM ...15
4.1. Sentra Produksi Telur Ayam ... 15
4.2. Keragaan Harga Telur Ayam... 16
4.3. Kinerja Perdagangan Telur Ayam ... 19
4.4. Negara Tujuan Ekspor dan Asal Impor Telur Ayam Indonesia ... 25
4.5. Negara Eksportir dan Importir Telur Ayam Dunia ... 27
BAB V. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN TELUR AYAM ...31
5.1. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR) ... 31
5.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dan Indeks Keunggulan Komparatif (RSCA) Telur ayam ... 32
5.3. Penetrasi Pasar ... 33
BAB VI. PENUTUP ...35
DAFTAR PUSTAKA ...37
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
viii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas
Pertanian Indonesia, 2014 – 2018 ... 9
Tabel 3.2. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Sub Sektor Peternakan 2014-2018 ... 12
Tabel 3.3. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Sub Sektor Peternakan, Januari - September 2018-2019 ... 13
Tabel 4.1. Produksi Telur Ayam di Provinsi Sentra di Indonesia, 2014-2018 .. ... 16
Tabel 4.2. Perkembangan Harga Produsen Harrga Konsumen Telur Ayam di Indonesia, 2017-2018 ... 16
Tabel 4.3. Perkembangan Harga Produsen Ayam di Sentra Produksi di Indonesia, 2014-2018 ... 18
Tabel 4.4. Perkembangan Neraca Perdagangan Telur Ayam Indonesia, 2014-2018 . ... 20
Tabel 4.5. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Telur Ayam, Kumulatif Januari – September Tahun 2018-2019 ... 21
Tabel 4.6. Kode Harmonized System (HS) dan Deskripsi Telur Ayam Segar dan Olahan ... 22
Tabel 4.7. Ekspor Kode HS Telur Ayam Indonesia Wujud Segar dan Olahan, 2018 ... 23
Tabel 4.8. Impor Kode HS Telur Ayam Indonesia dalam Wujud Segar dan Olahan, 2018 ... 24
Tabel 4.9. Negara Tujuan Ekspor Total Telur Ayam Indonesia, 2018 ... 26
Tabel 4.10. Negara Asal Impor Total Telur Ayam Indonesia, 2018 ... 27
Tabel 4.11. Negara Eksportir Telur Ayam Terbesar di Dunia, 2014-2018 ... 28
Tabel 4.12. Negara Importir Telur Ayam Terbesar di Dunia, 2014-2018 ... 30
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
x Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Tabel 5.1. Perkembangan Nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self
Sufficiency Ratio (SSR) Telur Ayam Indonesia, 2014-2018 ... 31
Tabel 5.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) Telur Ayam Indonesia,
2014-2018 ... 32 Tabel 5.3. Indeks Keunggulan Komparatif Telur Ayam Indonesia dalam
Perdagangan Dunia, 2014-2018 ... 33 Tabel 5.4. Perkembangan Penetrasi Pasar Telur Unggas Dikeringkan (Kode HS
040891) dari India, 2014-2018 ... 34
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Komoditas Pertanian,
2014-2018 ... 10
Gambar 3.2. Perkembangan Nilai Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, 2014-2018 ... 11
Gambar 3.3. Kontribusi Sub Sektor Pertanian Berdasarkan Nilai Ekspor dan Impor, 2018 ... 11
Gambar 4.1. Provinsi Sentra Produksi Telur Ayam, 2014-2018 ... 15
Gambar 4.2. Perkembangan Margin Harga Produsen dan Konsumen Telur Ayam, 2017-2018 ... 17
Gambar 4.3. Perkembagan Harga Impor Telur Ayam, 2017-2018 ... . 19
Gambar 4.4. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Telur Ayam Indonesia, Tahun 2014-2018 ... 20
Gambar 4.5. Share Nilai Ekspor dan Impor Telur Ayam Segar dan Olahan di Indonesia, 2018 ... 22
Gambar 4.6. Ekspor Telur Ayam Segar Indonesia per Kode HS, 2018 ... 23
Gambar 4.7. Impor Telur Ayam Olahan Indonesia per Kode HS, 2018 ... 25
Gambar 4.8. Negara Tujuan Ekspor Total Telur Ayam Indonesia, 2018 ... 26
Gambar 4.9. Negara Asal Impor Telur Ayam Indonesia, 2018 ... 27
Gambar 4.10. Negara Pengekspor Telur Ayam Terbesar di Dunia, Rata-rata 2014-2018 ... 28
Gambar 4.11. Negara Pengimpor Telur Ayam Terbesar di Dunia, Rata-rata 2014-2018 ... 29
Gambar 5.1. Penetrasi Pasar Telur Ayam dari India, 2014 – 2018 ... 34
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
xii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xiii
RINGKASAN EKSEKUTIF
Sentra produksi telur ayam tahun 2014-2018 terdapat di 10 (sepuluh) provinsi dengan kontribusi kumulatif mencapai 86,49%, yaitu provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Banten dan Lampung. Kontributor terbesar terhadap total populasi ayam ras pedaging yaitu Provinsi Jawa Timur sebesar 25,91% dengan rata-rata produksi sebesar 432,4 ribu ton.
Harga produsen telur ayam menunjukkan kenaikan sebesar 0,23% pada tahun 2017 dan 0,46% pada tahun 2018. Sama dengan harga konsumen yang mengalami kenaikan sebesar 0,41% pada tahun 2017 dan 0,56% pada tahun 2018. Harga produsen rata-rata tahun 2014-2018 disemua provinsi sentra produksi mengalami kenaikan, tertinggi di provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 10,02%.
Selama tahun 2014-2018, harga rata-rata ayam tertinggi berada di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Rp 22.339,-/Kg.
Produksi telur ayam Indonesia hingga saat ini belum mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan impor. Volume impor telur ayam selama periode 2014-2018 rata-rata meningkat sebesar 6,97% per tahun dan dari sisi nilai juga meningkat sebesar 18,95% per tahun. Sementara itu volume ekspor rata-rata meningkat sebesar 3.058,33% dan nilai ekspor naik sebesar 4.394,68%.
Negara tujuan ekspor utama telur ayam Indonesia pada tahun 2018 adalah Myanmar dengan kontribusi 99,00% atau senilai USD 768,39 ribu. Selanjutnya diekspor ke negara Singapura, Kambodia, Qatar, Belgia dan Taiwan. Kemudian impor telur ayam Indonesia tahun 2018 utamanya berasal India dengan kontribusi 60,12% atau senilai USD 6,2 juta. Selanjutnya negara Ukraina, Jerman, Amerika Serikat, Prancis dan Italia.
Nilai IDR telur ayam Indonesia memperlihatkan bahwa pada periode tahun 2014-2018 supply telur ayam Indonesia tergantung pada telur ayam impor tidak besar atau bahkan relatif kecil berikisar 0,09% sampai 0,11%. Selanjutnya nilai
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Telur Ayam
xiv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
SSR komoditas telur ayam tahun 2014-2018 lebih dari 99,91% yang berarti bahwa sebagian besar kebutuhan telur ayam dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Nilai ISP tahun 2014-2018 berkisar -1,00 sd -0,66 yang menunjukkan bahwa daya saing komoditas telur ayam Indonesia sangat rendah.
Berdasarkan hasil perhitungan RSCA juga dapat dilihat bahwa komoditas telur ayam Indonesia secara umum tidak mempunyai daya saing di pasar dunia karena nilai RSCA yang negatif berkisar -1 sampai -0,673.
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 1
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional Negara Indonesia. Peranannya terlihat nyata dalam penerimaan devisa negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku berbagai industri dalam negeri, perolehan nilai tambah dan daya saing serta optimalisasi pengolahan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Peranan sektor pertanian luas dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III 2019 yang cukup besar yaitu 13,45% atau setara Rp 546,9 triliun (angka sangat sementara, BPS) dan menempati urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan dan perdagangan besar dan eceran.
Sektor peternakan merupakan salah satu subsektor yang menjadi motor penggerak pembangunan khususnya di wilayah pedesaan.
Pemenuhan kebutuhan pangan asal hewan sangat penting bagi bangsa Indonesia karena menyangkut pemenuhan gizi bagi penduduk yang cenderung meningkat sepanjang tahun.
Salah satu sumber protein hewani dengan harga relatif yang terjangkau dan mudah diperoleh adalah telur ayam ras. Selain harganya yang terjangkau, telur ayam mudah diolah menjadi berbagai macam masakan sehingga banyak digunakan dalam rumah tangga maupun rumah makan. Telur sebagai bahan pangan mempunyai banyak kelebihan misalnya, kandungan gizi telur yang tinggi, harga relatif murah bila dibandingkan dengan bahan sumber protein lainnya (Idayanti dkk.
2009).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Protein telur adalah bahan yang dibutuhkan dalam banyak makanan. Hari ini, telur tersebar luas di perdagangan internasional dan industry telur merupakan segmen penting dari industry pangan dunia.
Protein telur ayam memiliki sifat fungsional yang unik, seperti pembuat gel, pembuat busa (putih telur) dan pengemulsi (kuning telur) (Mine, 2002).
Telur ayam ras mempunyai permintaan yang tinggi dan terus meningkat serta mempunyai pangsa pasar yang luas. Menjelang hari raya, permintaan telur ayam ras naik sehingga mengakibatkan harga pasar naik. Apabila kenaikan harga tersebut berjalan cukup lama maka peternak tertarik untuk memproduksikan telur lebih banyak, sehingga menyebabkan penawaran telur lebih tinggi dan harga menjadi turun.
Maka hal inilah yang menyebabkan harga telur hingga kini masih turun naik mengikuti pola hari raya (Rasyaf, 1996).
Untuk mengetahui kinerja perdagangan telur ayam baik di dalam maupun di luar negeri, maka akan dibahas mengenai perkembangan produksi, harga serta neraca ekspor impor telur ayam.
1.2. Tujuan
Tujuan analisis kinerja perdagangan komoditas telur ayam adalah untuk mengetahui kondisi produksi, harga (domestik dan internasional) dan kinerja perdagangan komoditas telur ayam serta posisi Indonesia di pasar internasional akan produk pertaniannya.
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 3
BAB II. METODOLOGI
2.1. Sumber Data dan Informasi
Analisis kinerja perdagangan komoditas telur ayam tahun 2019 disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari data sekunder yang bersumber dari instansi terkait baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun di luar Kementerian Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, Food and Agriculture Organization (FAO), dan Trademap.
2.2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan analisis kinerja perdagangan komoditas telur ayam adalah sebagai berikut :
A. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan analisis keragaan, diantaranya dengan menyajikan nilai rata-rata pertumbuhan per tahun, rata-rata dan persen kontribusi (share) yang mencakup indikator kinerja perdagangan komoditas Pertanian meliputi :
Populasi ayam ras petelur
Harga produsen, konsumen, dan internasional
Volume dan nilai ekspor-impor, berdasarkan wujud segar/primer dan olahan/manufaktur, serta berdasarkan kode HS (Harmony Sistem)
Negara tujuan ekspor dan negara asal impor
Negara eksportir dan importir dunia
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
B. Analisis Inferensia
Analisis inferensia yang digunakan dalam analisis kinerja perdagangan komoditas telur ayam antara lain :
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
ISP digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu komoditas, posisi Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau importir komoditas Pertanian tersebut. Secara umum ISP dapat dirumuskan sebagai berikut :
ia ia
ia ia
M X
M - ISP X
dimana :
Xia = volume atau nilai ekspor komoditas ke-i Indonesia
M
ia = volume atau nilai impor komoditas ke-i Indonesia Nilai ISP adalah-1 s/d -0,5 : Berarti komoditas tersebut pada tahap pengenalan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing rendah atau negara bersangkutan sebagai pengimpor suatu komoditas
-0,4 s/d 0,0 : Berarti komoditas tersebut pada tahap substitusi impor dalam perdagangan dunia
0,1 s/d 0,7 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap perluasan ekspor dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang kuat
0,8 s/d 1,0 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap pematangan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang sangat kuat.
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 5
Indeks Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative Advantage – RCA) dan (Revealead Symetric Comparative Advantage- RSCA)
Konsep comparative advantage diawali oleh pemikiran David Ricardo yang melihat bahwa kedua negara akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan apabila menspesialisasikan untuk memproduksi produk-produk yang memiliki comparative advantage dalam keadaan autarky (tanpa perdagangan). Balassa (1965) menemukan suatu pengukuran terhadap keunggulan komparatif suatu negara secara empiris dengan melakukan penghitungan matematis terhadap data-data nilai ekspor suatu negara dibandingkan dengan nilai ekspor dunia. Penghitungan Balassa ini disebut Revealed Comparative Advantage (RCA) yang kemudian dikenal dengan Balassa RCA Index :
w iw
j ij
X X
X X RCA
dimana:
X
ij : Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia)X
j : Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)X
iw : Nilai ekspor komoditi i dari dunia Xw : Total nilai ekspor non migas duniaSebuah produk dinyatakan memiliki daya saing jika RCA>1, dan tidak berdaya saing jika RCA<1. Berdasarkan hal ini, dapat dipahami bahwa nilai RCA dimulai dari 0 sampai tidak terhingga.
Menyadari keterbatasan RCA tersebut, maka dikembangkan Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), dengan rumus sebagai berikut :
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
1) (RCA
1) - RSCA (RCA
Konsep RSCA membuat perubahan dalam penilaian daya saing, dimana nilai RSCA dibatasi antara -1 sampai dengan 1. Sebuah produk disebut memiliki daya saing jika memiliki nilai di atas nol, dan dikatakan tidak memiliki daya saing jika nilai dibawah nol.
Import Dependency Ratio (IDR)
Import Dependency Ratio (IDR) merupakan formula yang menyediakan informasi ketergantungan suatu negara terhadap impor suatu komoditas. Nilai IDR dihitung berdasarkan definisi yang dibangun oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations).
Penghitungan nilai IDR tidak termasuk perubahan stok dikarenakan besarnya stok (baik dari impor maupun produksi domestik) tidak diketahui.
Ekspor 100 Impor
Produksi
Impor
IDR
Self Sufficiency Ratio (SSR)
Nilai SSR menunjukkan besarnya produksi dalam kaitannya dengan kebutuhan dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.:
Ekspor 100 Impor
Produksi
Produksi
SSR
Market Penetration (Penetrasi Pasar)
Market Penetration adalah mengukur perbandingan antara ekspor produk tertentu (X) dari suatu negara (Y) ke negara lainnya (Z) terhadap Ekspor produk tertentu (X) dari dunia ke-Z. Market Penetration bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penetrasi (perembesan) komoditi
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 7
tertentu dari suatu negara di negara tujuan ekspor. Semakin besar nilai penetrasinya dibandingkan nilai penetrasi dari negara lain maka berarti komoditi dari negara tersebut mempunyai daya saing yang cukup kuat.
MP = Export produk X dari negara Y ke negara Z x 100%
Ekspor produk X dari dunia ke Z Atau
MP = Impor produk X negara Z dari Y x 100%
Impor produk X negara Z dari dunia
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 9
BAB III. GAMBARAN UMUM
KINERJA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN
3.1. Perkembangan Neraca Perdagangan Sektor Pertanian
Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat dari neraca perdagangan komoditas pertanian (ekspor dikurangi impor) yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Selama tahun 2014 sampai dengan 2018 neraca perdagangan komoditas pertanian mengalami surplus baik dari sisi volume maupun nilai neraca perdagangan. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Indonesia, 2014 – 2018
Pertumb. (%)
2014 2015 2016 2017 2018 2014 - 2018
1 Ekspor
- Volume (Ton) 36.071.670 40.386.272 35.494.137 41.545.108 42.612.312 4,87 - Nilai (000 USD) 31.038.800 28.046.157 26.728.444 33.520.269 29.386.966 -0,32 2 Impor
- Volume (Ton) 25.793.721 26.483.094 29.648.202 29.766.994 32.169.384 5,77 - Nilai (000 USD) 17.360.040 14.491.076 15.843.337 17.189.859 19.194.671 3,24 3 Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) 10.277.949 13.903.178 5.845.935 11.778.114 10.442.929 16,86 - Nilai (000 USD) 13.678.760 13.555.080 10.885.107 16.330.410 10.192.295 -2,04 Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: Data tahun 2013 - 2016 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 Data tahun 2017 dan 2018 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2017
No. Uraian
Tahun
Berdasarkan Tabel 3.1 terlihat bahwa surplus neraca perdagangan komoditas pertanian dari tahun 2014 – 2018 berfluktuasi dengan kecenderungan naik. Pada tahun 2014 nilai neraca perdagangan komoditas pertanian sebesar USD 13,69 milyar namun tahun 2018 surplus neraca perdagangan mengalami penurunan menjadi sebesar USD 10,19 milyar.
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
10 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Jika dilihat rata-rata pertumbuhannya per tahun, surplus volume neraca perdagangan tahun 2014 - 2018 terlihat mengalami peningkatan yaitu rata-rata peningkatan sebesar 16,86% per tahun. Peningkatan laju ini terutama karena pertumbuhan volume ekspor sebesar 4,87% per tahun dan pertumbuhan volume impor sebesar 5,77% per tahun. Bila dilihat dari sisi nilai, terjadi penurunan neraca perdagangan dengan rata- rata penurunan per tahun sebesar 2,04%, di mana rata-rata penurunan nilai ekspor sebesar 0,32% per tahun dan nilai impor naik sebesar 3,24%
per tahun. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian ini secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 3.1 yang secara umum menunjukkan volume ekspor selalu lebih tinggi dibandingkan volume impornya atau mengalami surplus dalam neraca perdagangan pertanian.
Surplus terbesar terjadi pada tahun 2015 sebesar 13,9 juta ton.
Gambar 3.1. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Komoditas Pertanian, 2014-2018
Dari sisi nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada Gambar 3.2. Surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun 2017 yaitu sebesar USD 16,33 milyar, dengan nilai
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 11
ekspor sebesar USD 33,52 milyar dan nilai impor sebesar USD 17,19 milyar.
Gambar 3.2. Perkembangan Nilai Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, 2014– 2018
3.2. Perkembangan Neraca Perdagangan Sub Sektor Peternakan
Kontribusi nilai ekspor sub sektor peternakan terhadap sektor pertanian berada diposisi kedua setelah perkebunan yaitu sebesar 2,18%. Sedangkan kontribusi nilai impor peternakan terhadap pertanian adalah sebesar 19,19% (Gambar 3.3).
Gambar 3.3 Kontribusi Sub Sektor Pertanian berdasarkan Nilai Ekspor dan Impor, 2018
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Volume ekspor sub sektor peternakan pada tahun 2014-2018 meningkat rata-rata sebesar 1,96% setiap tahun. Dan nilai ekspor naik sebesar 3,86% setiap tahunnya pada periode yang sama. Tahun 2018, nilai ekspor sub sektor peternakan sebesar USD 640,17 juta atau setara dengan 247,4 ribu ton (Tabel 3.2).
Tabel 3.2. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor, Sub Sektor Peternakan 2014 – 2018
Pertumb. (%)
2014 2015 2016 2017 2018 2014 - 2018
1 Ekspor
- Volume (Ton) 235.391 193.294 208.486 226.292 247.435 1,96 - Nilai (000 USD) 587.801 443.433 543.292 625.144 640.171 3,86 2 Impor
- Volume (Ton) 1.491.414 1.379.732 1.645.119 1.648.687 1.832.309 5,78 - Nilai (000 USD) 3.813.509 2.934.277 3.190.958 3.371.486 3.682.625 0,14 3 Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) -1.256.024 -1.186.437 -1.436.634 -1.422.395 -1.584.874 6,49
- Nilai (000 USD) -3.225.708 -2.490.844 -2.647.665 -2.746.342 -3.042.454 -0,49 Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan: - Data tahun 2013 - 2016 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 - Data tahun 2017 dan 2018 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2017
No. Uraian
Tahun
Demikian pula halnya dengan impor, dari sisi volume dan nilai meningkat setiap tahunnya sebesar 5,78% dan 0,14%. Pada tahun 2018 nilai impor sub sektor peternakan sebesar USD 3,68 milyar atau setara 1,83 juta ton. Dari ekspor impor tersebut dapat diketahui bahwa neraca perdagangan sub sektor peternakan masih mengalami defisit. Rata-rata defisit sub sektor peternakan periode 2014-2018 dari sisi volume mengalami kenaikan sebesar 6,49% sedangkan dari sisi nilai mengalami penurunan sebesar 0,49%. Tahun 2018 nilai defisit neraca perdagangan sub sektor peternakan adalah USD 3,04 miliyar (Tabel 3.2).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13
Tabel 3.3. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Sub Sektor Peternakan, Januari - September 2018-2019
2018 2019
1 Ekspor
- Volume (Ton) 183.472 199.135 8,54 - Nilai (000 USD) 473.106 504.326 6,60 2 Impor
- Volume (Ton) 1.329.277 1.383.978 4,12 - Nilai (000 USD) 2.650.059 2.805.722 5,87 3 Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) -1.145.805 -1.184.843 3,41
- Nilai (000 USD) -2.176.953 -2.301.396 5,72 Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan: - Data ekspor impor menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2017
No. Uraian
Januari - September
Pertumb. (%)
Perkembangan volume ekspor sub sektor peternakan Januari - September 2018 mengalami kenaikan sebesar 8,54% dibandingkan Januari - September 2019 yaitu dari 183,5 ribu menjadi 199,14 ribu ton.
Nilai ekspor pada periode tersebut meningkat sebesar 6,6% dari USD 473,1 juta di tahun 2018 menjadi USD 504,3 juta pada tahun 2019.
Demikian juga bila dilihat dari volume dan nilai impor mengalami peningkatan masing-masing sebesar 4,12% dan 5,87%.
Walaupun volume dan nilai ekspor mengalami peningkatan namun neraca perdagangan komoditas peternakan mengalami defisit. Defisit tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,41% dari sisi volume dan naik 5,72% dari sisi nilai pada periode Januari - September 2018 dan 2019.
Neraca perdagangan sub sektor peternakan Januari - September 2018 dan 2019 secara rinci disajikan pada Tabel. 3.3.
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15
BAB IV. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN TELUR AYAM
4.1. Sentra Produksi Telur Ayam
Tahun 2014-2018 sentra produksi telur ayam ras dan buras terdapat di 10 (sepuluh) provinsi dengan kontribusi kumulatif mencapai 86,49%, yaitu provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Banten dan Lampung (Gambar 4.1).
Gambar 4.1 Provinsi Sentra Produksi Telur Ayam, 2014-2018
Kontributor terbesar terhadap total produksi telur ayam yaitu Provinsi Jawa Timur sebesar 25,91% dengan rata-rata produksi tahun 2014-2018 sebesar 432,4 ribu ton. Peringkat kedua adalah Provinsi Jawa Tengah dengan kontribusi sebesar 14,59% dan rata-rata produksi 243,5 ribu ton, diikuti Sumatera Utara dengan share 10,18% dan rata-rata produksi 169,9 ribu ton, Jawa Barat dengan share 9,37% dan Sulawesi Selatan dengan share 6,31% atau sebesar 105,3 ribu ton. Provinsi
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
lainnya memiliki share di bawah 5% dari total produksi telur ayam ras dan buras indonesia (Tabel 4.1).
Tabel 4.1 Produksi Telur Ayam di Provinsi Sentra di Indonesia, 2014-2018
2014 2015 2016 2017 2018
1 Jawa Timur 310.646 410.317 466.557 476.693 497.854 432.413 25,91 25,91
2 Jawa Tengah 226.567 234.363 247.580 250.570 258.434 243.503 14,59 40,49
3 Sumatera Utara 144.421 147.907 153.771 156.309 247.044 169.890 10,18 50,67
4 Jawa Barat 152.697 150.110 155.042 155.367 168.454 156.334 9,37 60,04
5 Sulawesi Selatan 93.938 103.602 109.449 103.883 115.747 105.324 6,31 66,35
6 Sumatera Barat 66.929 68.326 67.592 73.698 85.054 72.320 4,33 70,68
7 Kalimantan Selatan 55.160 68.351 72.312 85.082 92.986 74.778 4,48 75,16
8 Sumatera Selatan 59.501 60.689 61.306 64.514 105.208 70.244 4,21 79,37
10 Banten 49.022 58.929 71.394 66.313 94.227 67.977 4,07 83,44
9 Lampung 59.727 45.040 46.920 48.831 53.938 50.891 3,05 86,49
11 Lainnya 210.341 215.934 230.468 245.932 224.655 225.466 13,51 100
1.428.949 1.563.568 1.682.391 1.727.192 1.943.601 1.669.140 100 Sumber : BPS dan Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan, diolah Pusdatin
Ket : Produksi telur ayam ras merupakan data yang dikompilasi berjenjang dari laporan daerah
Share kumulatif
(%)
Total
No Propinsi Tahun Rata-rata
(Ton) Share
(%)
4.2. Keragaan Harga Telur Ayam
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, ada dua jenis data harga telur ayam, yaitu harga telur ayam ditingkat produsen dan ditingkat konsumen. Harga produsen adalah harga telur ayam ditingkat petani/peternak dengan satuan Rp/Kg, sedangkan harga konsumen adalah harga telur ayam di pasar dengan satuan Rp/Kg.
Tabel 4.2 Perkembangan Harga Produsen dan Harga Konsumen Telur Ayam di Indonesia, 2017-2018
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2017 22.327 22.199 22.062 22.017 22.158 22.337 22.355 22.406 22.450 22.317 22.389 22.880 0,23 2018 23.809 23.745 23.591 23.584 24.122 24.440 24.842 24.877 24.647 24.497 24.390 25.020 0,46
2017 23.238 22.845 22.624 22.348 22.983 23.251 23.407 23.644 23.533 23.295 23.231 24.269 0,41 2018 24.555 23.940 23.498 23.571 24.475 25.087 26.283 25.790 25.228 24.867 24.700 25.992 0,56
2017 911 646 562 331 825 914 1.052 1.238 1.083 978 842 1.389 12,59 2018 746 195 -93 -13 353 647 1.441 913 581 370 310 972 -257,18 Sumber : BPS diolah Pusdatin
Margin Harga Konsumen - Produsen (Rp/kg)
Tahun Bulan Rata-rata
Pertumbuhan (%)
Harga Konsumen Telur Ayam (Rp/kg) Harga Produsen Telur Ayam Ras (Rp/Kg)
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 17
Selama tahun 2017 harga telur ayam ditingkat produsen relatif
hampir sama yaitu pada kisaran harga Rp 22.017,-/Kg sampai Rp 22.880,-/Kg dengan rata-rata pertumbuhan perbulan sebesar 0,23%.
Kemudian pada tahun 2018, terjadi kenaikan harga telur ayam dari tahun sebelumnya namun tidak begitu melonjak. Harga produsen telur ayam pada tahun 2018 berkisar antara Rp 23.584,-/Kg sampai dengan Rp 25.020,-/Kg, dengan rata-rata pertumbuhan perbulan sebesar 0,46%.
Sedangkan harga konsumen telur ayam selama tahun 2017-2018 berada pada kisaran Rp 22.238,-/Kg sampai Rp 25.992,-/Kg, dengan rata-rata pertumbuhan perbulan dibawah 1%. Harga produsen dan konsumen telur ayam tiap bulannya selama tahun 2017-2018 secara rinci dapat di lihat pada Tabel 4.2.
Margin perdagangan telur ayam adalah selisih antara harga produsen telur ayam di tingkat peternak dan harga konsumen telur ayam. Margin harga menunjukkan seberapa besar disparitas harga yang terjadi. Kesenjangan atau ’gap’ harga pada periode ini relatif rendah dan stabil. Untuk tahun 2017 margin terendah terjadi pada bulan april dengan selisih harga produsen dan konsumen sebesar Rp 331,-/Kg, pada bulan lainnya margin berkisar Rp 562,-/Kg sampai Rp 1.238,-/Kg. Tahun 2018 margin harga cukup stabil pada bulan juli margin harga lebih tinggi dibandingakan bulan lainnya yaitu Rp 1.441,-/Kg.
Gambar 4.2. Perkembangan Margin Harga Produsen dan Konsumen Telur ayam, 2017-2018
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa margin harga produsen dan konsumen telur ayam cenderung berfluktuatif walaupun tidak terjadi kenaikan atau penurunan harga yang cukup drastis. Margin harga tertinggi terjadi pada bulan Juli 2018 yaitu sebesar Rp 1.441,-/Kg.
Sedangkan pada bulan Maret dan April 2018, terlihat bahwa margin harga berada di bawah garis 0 atau bernilai negatif yang artinya harga produsen lebih tinggi dibandingkan harga konsumen pada bulan tersebut.
Perkembangan harga produsen telur ayam di provinsi sentra produksi di Indonesia disajikan pada Tabel 4.3. Harga produsen rata-rata tahun 2014-2018 di 10 provinsi sentra produksi mengalami kenaikan dengan persentase diatas 3%. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Barat sebesar 10,02% dengan rata-rata harga produsen periode 2014-2018 Rp 17.984,-Kg. Walaupun rata-rata harga produsen telur ayam tertinggi pada periode tersebut berada di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Rp 22.339,-/Kg, selanjutnya di Provinsi Banten seharga Rp 20.536,-/Kg. Sementara rata-rata harga terendah ada di Jawa Timur yaitu Rp 17.177,-/Kg dan Jawa Tengah seharga Rp 17.935,-/Kg dengan kenaikan dari tahun 2014-2018 masing-masing sebesar 5,85% dan 4,99%. Harga produsen di 5 provinsi sentra lainnya berkisar Rp 19.032,- sampai Rp 19.770,- per kilogram.
Tabel 4.3 Perkembangan Harga Produsen Telur Ayam di Sentra Produksi di Indonesia, 2014-2018
2014 2015 2016 2017 2018
1 Jawa Timur 15.792 16.560 17.124 16.754 19.653 17.177 5,85 2 Jawa Tengah 16.540 17.398 18.621 17.259 19.856 17.935 4,99 3 Sumatera Utara 16.842 18.610 19.115 19.835 20.869 19.054 5,55 4 Jawa Barat 17.523 19.313 19.794 20.198 22.021 19.770 5,94 5 Sulawesi Selatan 17.464 18.784 20.534 19.635 20.878 19.459 4,71 6 Sumatera Barat 15.100 16.749 17.900 18.217 21.952 17.984 10,02 7 Kalimantan Selatan 18.924 21.262 23.150 23.173 25.184 22.339 7,50 8 Sumatera Selatan 16.206 19.065 20.534 20.964 20.878 19.529 6,76
9 Banten 19.547 20.104 20.559 19.874 22.598 20.536 3,87
10 Lampung 17.434 18.256 19.342 19.109 21.017 19.032 4,86
19.855 21.411 22.876 22.325 24.297 22.153 5,28 Sumber : BPS diolah Pusdatin
Indonesia
No Propinsi Tahun Rata-rata
(Rp/Kg)
Rata-rata Pertumbuhan
(%)
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19
Perkembangan harga impor telur ayam dapat dilihat pada Gambar 4.3. Secara umum harga impor telur ayam tahun 2017 dan 2018 sangat fluktuatif. Pada dua tahun tersebut, harga tertinggi terjadi pada bulan maret dimana tahun 2017 sebear USD 410.090/ton dan 2018 USD 440.018/ton, sedangkan harga terendah terjadi pada bulan september 2018 yaitu USD 7.813/ton.
Gambar 4.3. Perkembangan Harga Impor Telur Ayam, 2017-2018
4.3. Kinerja Perdagangan Telur ayam
Perkembangan ekspor dan impor telur ayam menggambarkan keragaan kinerja perdagangannya secara nasional. Neraca perdagangan telur ayam menunjukkan nilai defisit yang berfluktuatif, hal ini karena impor telur ayam yang di lakukan Indonesia lebih besar di bandingkan dengan ekspornya. Defisit telur ayam terbesar terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar USD 20,7 juta namun nilai defisit tersebut menurun untuk tahun 2017 dan 2018 yaitu sebesar USD 9,1 ribu dan USD 9,5 ribu (Gambar 4.4).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Gambar 4.4. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Telur Ayam Indonesia, Tahun 2014-2018
Produksi telur ayam Indonesia hingga saat ini belum mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan impor. Volume impor telur ayam selama lima tahun terakhir rata-rata meningkat sebesar 15,45% per tahun begitu pula dari sisi nilai meningkat sebesar 18,95% per tahun. Sementara itu volume ekspor rata-rata meningkat sebesar 3.058,33% dan nilai ekspor naik sebesar 4.394,68%. Kenaikan yang cukup besar ini terjadi pada tahun 2017, dimana nilai ekspor mencapai USD 2,3 juta atau setara dengan 386 ton (Tabel 4.4).
Tabel 4.4. Perkembangan Neraca Perdagangan Telur Ayam Indonesia, 2014 – 2018
2014 2015 2016 2017 2018
1. Ekspor
- Volume (Ton) 0 9 303 386 46 3.058,33
- Nilai (000 USD) 1 100 1.804 2.287 773 4.394,68
2. Impor
- Volume (Ton) 1.501 1.479 1.791 1.555 1.888 6,97
- Nilai (000 USD) 8.129 15.330 22.468 11.355 10.231 18,95
3. Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) -1.500 -1.470 -1.488 -1.169 -1.842 8,83
- Nilai (000 USD) -8.128 -15.229 -20.664 -9.068 -9.458 17,81
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
No. Uraian Tahun Pertumb 2014-
2018 (%)
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21
Neraca perdagangan telur ayam kumulatif dari Januari-September 2018-2019 mengalami penurunan baik dari sisi volume maupun nilai dengan persentase kenaikan masing-masing sebesar 5,01% dan 18,28%.
Volume ekspor telur ayam Indonesia pada tahun 2019 (januari- september) rata-rata meningkat sebesar 267,61% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 yaitu dari 38 ton pada 2018 naik menjadi 140 ton pada 2019. Namun kenaikan volume ekspor periode januari-september ini juga diikuti dengan kenaikan volume impor dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,59%. Volume dan nilai impor telur ayam kumulatif Januari-September tahun 2018 dan 2019 secara rinci dapat di lihat pada Table 4.5.
Tabel 4.5 Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Telur Ayam, Kumulatif Januari-September Tahun 2018-2019
2018 2019
1. Ekspor
- Volume (Ton) 38 140 267,61
- Nilai (000 USD) 636 1.300 104,42
2. Impor
- Volume (Ton) 1.364 1.400 2,59
- Nilai (000 USD) 7.642 7.025 -8,07
3. Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) -1.326 -1.260 -5,01
- Nilai (000 USD) -7.006 -5.725 -18,28
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
No. Uraian Januari - September Pertumb. (%)
Ekspor telur ayam Indonesia pada tahun 2018 hanya dilakukan dalam wujud olahan. Sedangkan kegiatan impor dilakukan untuk telur ayam dalam wujud segar dan olahan. Nilai ekspor telur ayam olahan sebesar USD 773 ribu atau setara dengan 46 ton. Selanjutnya perbandingan nilai impor telur ayam wujud segar dan olahan yaitu 9,77%
dan 90,23%. Dimana nilai impor telur ayam olahan mencapai USD 9.232
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
ribu atau setara dengan 1.870 ton sedangkan nilai impor telur ayam dalam wujud segar sebesar USD 999 ribu. (Gambar 4.5).
Gambar 4.5. Share Nilai Ekspor dan Impor Telur Ayam Segar dan Olahan di Indonesia, 2018
Kode HS serta deskripsi dalam perdagangan telur ayam Indonesia dibedakan dalam wujud segar dan olahan (Tabel 4.6). Wujud segar terdiri dari 3 kode HS termasuk telur ayam untuk inkubasi dan telur ayam wujud olahan sebanyak 3 kode HS dalam bentuk kuning telur.
Tabel 4.6 Kode HS dan Deskripsi Telur Ayam Segar dan Olahan
Kode HS Deskripsi
Segar
04071110 Telur yang difertilasi untuk inkubasi dr unggas dari spesies Gallus Domesticus
04071190 Telur dipupuk untuk inkubasi, dari unggas dari spesies gallus domesticus, bukan untuk pembiakan 04072100 Telur segar dari unggas dari spesies Gallus Domesticus
Olahan
04081100 Kuning telur dikeringkan
04081900 Kuning telur, segar, dimasak dengan cara mengukus/mendidih, dicetak, dibekukan atau diawetkan, ditambahkan gula tambahan/pemanis lainnya
04089100 Selain kuning telur dikeringkan
Jika dilihat wujudnya, 100% telur ayam yang diekspor pada tahun 2018 adalah dalam wujud segar. Total ekspor tiga kode HS telur ayam dalam bentuk segar tersebut sebesar 46,1 ton atau senilai USD 773,13 ribu (Tabel 4.7).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23
Tabel 4.7 Ekspor Kode HS Telur Ayam Indonesia Wujud Segar dan Olahan, 2018
Volume (Ton)
Nilai
(000 USD)Volume Nilai
Segar 46,10 773,13 100 100
04071110 Telur yang difertilasi untuk inkubasi dr unggas dari spesies Gallus
Domesticus 0,00 1 0,00 0,13
04071190 Telur dipupuk untuk inkubasi, dari unggas dari spesies gallus
domesticus, bukan untuk pembiakan 46 768 99,94 99,39
04072100 Telur segar dari unggas dari spesies Gallus Domesticus 0,03 3,74 0,06 0,48
Olahan 0,00 0,00 0,00 0,00
04081100 Kuning telur dikeringkan 0,00 0,00 0,00 0,00
04081900
Kuning telur, segar, dimasak dengan cara mengukus/mendidih, dicetak, dibekukan atau diawetkan, ditambahkan gula
tambahan/pemanis lainnya 0,00 0,00 0,00 0,00
04089100 Selain kuning telur dikeringkan 0,00 0,00 0,00 0,00
46,10 773,13 100 100
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Total Uraian
Ekspor Share (%)
Deskripsi
Dilihat pada Gambar 4.6. telur ayam segar yang paling banyak diekspor pada tahun 2018 adalah kode HS 04071190 dengan deskripsi telur dipupuk untuk inkubasi, dari unggas dari spesies gallus domesticus, bukan untuk pembiakan. Nilai ekspor kode HS tersebut menyumbang 99,39% dari total ekspor yaitu sebesar USD 768 ribu.
Gambar 4.6. Ekspor Telur Ayam Segar Indonesia per Kode HS, 2018
Jenis telur ayam olahan kedua yang diekspor adalah telur segar dari unggas dari spesies gallus domesticus dengan persentase yang sangat kecil yaitu 0,48% dan nilai ekspor sebesar USD 3,74 ribu.
Sedangkan telur yang difertilisasi untuk inkubasi dari unggas dari spesies
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
gallus domesticus hanya sebanyak 0,13% dan nilai ekspor sebesar USD 1.000. (Gambar 4.6).
Tabel 4.8. Impor Kode HS Telur Ayam Indonesia dalam Wujud Segar dan Olahan, 2018
Volume (Ton)
Nilai
(000 USD) Volume Nilai
Segar 17,29 999,47 0,92 9,769
04071110 Telur yang difertilasi untuk inkubasi dr unggas dari spesies Gallus
Domesticus 14 883 0,74 8,634
04071190 Telur dipupuk untuk inkubasi, dari unggas dari spesies gallus
domesticus, bukan untuk pembiakan 3 116 0,18 1,135
04072100 Telur segar dari unggas dari spesies Gallus Domesticus 0 0 0 0,000
Olahan 1.870 9.232 99,08 90
04081100 Kuning telur dikeringkan 696 3.507 36,86 34,27
04081900
Kuning telur, segar, dimasak dengan cara mengukus/mendidih, dicetak, dibekukan atau diawetkan, ditambahkan gula
tambahan/pemanis lainnya 85 282 4,52 2,76
04089100 Selain kuning telur dikeringkan 1.089 5.443 57,71 53,20
1.888 10.231 100 100
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Impor Share (%)
Total Deskripsi Uraian
Berbeda dengan ekspor, wujud telur ayam yang banyak diimpor adalah dalam wujuud olahan dengan perbandingan nilai impor wujud segar dan olahan adalah 9,77% banding 90,23%. Tahun 2018, kode HS telur ayam yang banyak diimpor dari negara lain adalah kode HS 04089100 atau selain kuning telur dikeringkan sebesar 1,089 ton atau senilai USD 5.443 ribu. Selanjutnya kuning telur yang dikeringkan dengan nilai impor USD 3.507 ribu. Telur yeng difertilisasi untuk inkubasi dari unggas dari spesie gallus domesticus merupakan jenis telur ayam ketiga yang banyak diimpor yaitu sebanyak 14 ton atau senilai USD 883 ribu.
Telur ayam ini merupakan telur ayam dalam wujud segar (Tabel 4.8).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25
Gambar 4.7. Impor Telur Ayam Olahan Indonesia Per Kode HS, 2018 Dilihat dari Gambar 4.7 terdapat tiga jenis telur ayam olahan yang diimpor Indonesia, dari sisi nilai yang paling banyak diimpor adalah selain kuning telur yang dikeringkan dengan persentase sebesar 53,20%
dari total impor dengan nilai impor sebesar USD 5,4 juta. Terbesar kedua yaitu kuning telur yang dikeringkan sebanyak 34,27% dan nilai impor sebesar USD 3,5 juta. Terkecil yaitu kuning telur segar yang dimasak dengan cara dikukus/mendidih, dicetak, dibekukan atau diawetkanyang ditambahkan gula atau pemanis lainnya dengan nilai impor USD 282 ribu atau 2,76%.
4.4. Negara Tujuan Ekspor dan Asal Impor Telur Ayam Indonesia
Negara tujuan ekspor utama telur ayam Indonesia pada tahun 2018 adalah Myanmar dengan kontribusi 99,0% atau senilai USD 768,3 ribu. Sisanya sebesar 1% diekspor ke negara Singapura (0,39%), Kambodia (0,18%), Qatar (0,18%), Belgia (0,12%), dan Taiwan (0,07%). Kontribusi ketujuh negara tersebut telah mencapai 99,94% dari total nilai ekspor telur ayam Indonesia (Gambar 4.8 dan Tabel 4.9)
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Gambar 4.8. Negara Tujuan Ekspor Total Telur Ayam Indonesia, 2018
Tabel 4.9. Negara Tujuan Ekspor Total Telur Ayam Indonesia, 2018 No Negara tujuan Nilai Ekspor
(000 USD) Share (%) Kumulatif (%)
1 Myanmar 768,39 99,00 99,00
2 Singapura 3,04 0,39 99,39
3 Kambodia 1,40 0,18 99,57
4 Qatar 1,38 0,18 99,75
5 Belgia 0,92 0,12 99,87
6 Taiwan 0,54 0,07 99,94
7 Lainnya 0,50 0,06 100
776,17 100
Sumber: BPS diolah Pusdatin Total
Impor telur ayam Indonesia tahun 2018 utamanya berasal India dengan kontribusi 60,12% atau senilai USD 6,2 juta. Selanjutnya negara Ukarina berkontribusi sebesar 24,50%. Total impor dari dua negara tersebut sudah mencapai 84,61% dari total impor telur ayam. Sisanya sebesar 14,03% diimpor dari Jerman (5,0%), Amerika Serikat (4,32%), Prancis (3,86%) dan Italia (0,84%). Keenam negara ini menyumbang 98,64% dari total impor telur ayam (Gambar 4.9 dan Tabel 4.10).
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27
Gambar 4.9. Negara Asal Impor Telur Ayam Indonesia, 2018
Tabel 4.10. Negara Asal Impor Total Telur Ayam Indonesia, 2018 No Negara asal Nilai Impor
(000 USD) Share (%) Kumulatif (%)
1 India 6.178 60,12 60,12
2 Ukraina 2.517 24,50 84,61
3 Jerman 514 5,00 89,61
4 Amerika Serikat 444 4,32 93,94
5 Perancis 397 3,86 97,80
6 Italia 86 0,84 98,64
7 Lainnya 140 1,36 100,00
10.277 100
Sumber: BPS diolah Pusdatin Total
4.5. Negara Eksportir dan Importir Telur Ayam Dunia
Tujuh negara pengekspor telur ayam (telur unggas difertilisasi untuk inkubasi) terbesar di dunia menurut data Trademap tersaji secara rinci pada Gambar 4.10. Kontribusi rata-rata nilai ekspor ketujuh negara ini selama tahun 2014-2018 mencapai 70.39% dari total nilai ekspor dunia. Rata-rata nilai ekspor Amerika Serikat sebagai eksportir terbesar dunia selama periode 2014-2018 mencapai USD 286,4 juta atau 21,87%
dari total ekspor dunia, disusul Belanda dan Jerman sebesar USD 211,8
Analisis Kinerja Perdagangan Telur Ayam
28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
juta dan USD 123,8 juta. Berikutnya Inggris, Belgia, Brazil dan Turki masing-masing berkontribusi sebesar 7,57%; 6,73%; 4,33% dan 4,27%
atau senilai USD 99,1 juta, USD 88,1 juta, USD 56,6 juta dan USD 55,9 juta (Tabel. 4.11 dan Gambar 4.10). Sedangkan Indonesia berada diurutan ke-43 negara pengekspor telur unggas di dunia dengan rata- rata nilai ekspor dari tahun 2014-2018 adalah USD 991 ribu. Nilai ekspor negara-negara tersebut tidak hanya telur ayam namun termasuk juga telur unggas lainnya.
Gambar 4.10. Negara Pengekspor Telur Ayam Terbesar di Dunia,
Rata-rata 2014-2018
Tabel. 4.11. Negara Eksportir Telur Ayam Terbesar di Dunia, 2014-2018
(000 USD)
2014 2015 2016 2017 2018
1 Amerika Serikat 210.033 318.759 309.995 277.781 315.185 286.351 21,87 21,87 2 Belanda 230.295 206.696 196.175 197.955 227.690 211.762 16,17 38,04 3 Jerman 132.879 116.631 111.586 122.312 135.575 123.797 9,45 47,49 4 Inggris 129.315 123.788 63.341 80.809 98.462 99.143 7,57 55,06 5 Belgia 72.968 84.060 82.550 90.913 110.190 88.136 6,73 61,79 6 Brazil 73.270 53.191 41.701 49.420 65.639 56.644 4,33 66,11 7 Turki 54.435 53.536 41.329 49.403 80.964 55.933 4,27 70,39
...
43 Indonesia 0 100 1.804 2284 769 991 0,08 70,46 Negara lainnya 459.957 414.258 330.698 345.704 383.543 386.832 29,54 100,00
Dunia 1.363.152 1.371.019 1.179.179 1.216.581 1.418.017 1.309.590 Sumber: Trademap diolah Pusdatin
Kumulatif
No. Negara Tahun Rata2 Share (%)
(%)