• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MORALITAS DALAM PERSPEKTIF IMMANUEL KANT. 1. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Moral

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV MORALITAS DALAM PERSPEKTIF IMMANUEL KANT. 1. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Moral"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

MORALITAS DALAM PERSPEKTIF IMMANUEL KANT A. Pemikiran Immanuel Kant

1. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Moral

Moral berasal dari kata latin mores yang berarti adat kebiasaan.1 Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata moral berarti “akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup”.2

Moral adalah suatu ajaran wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik.

Menurut Imamnuel kant moralitas (Moralitat/Sittlichkeit) adalah kesesuaian sikap dan perbuatan dengan norma atau hukum batiniah, yakni apa yang di pandang sebagai kewajiban. Moralitas akan tercapai apabila mentaati hukum lahiriah bukan lantaran hal itu membawa akibat yang menguntungkan atau lantaran takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan menyadari sendiri bahwa hukum itu merupakan kewajiban.3

Sikap kan ini kerap dituduh sebagai rigorisme moral, yaitu sikap yang terlalu keras dan kaku dalam bidang moral.4 Kant seolah-olah tidak mau menerima berbagai dorongan lain bagi tindakan seseorang. Akan tetapi, sesungguhnya Kant tidak bermaksud demikian. Kant hanya mau

1 Poespoprodjo, Filsafat Moral..., Hal. 118.

2 Kamus besar bahasa Indonesia

3 Lili Tjahjadi,...Hal, 47.

4 Ibid,..., Hal, 47.

(2)

menegaskan bahwa kesungguhan sikap moral kita baru tampak jika kita bertindak demi kewajiban itu sendiri, kendati itu tdak membuat kita enak atau memuaskan perasaan kita. Bagi kant kewajiban menjadi tolak ukur apakah tindakan seseorang boleh disebut tindakan moral atau tidak.5

Moralitas sendiri oleh Kant dibedakan menjadi dua, yaitu moralitas heteronom dan moralitas otonom. Moralitas heteronom adalah sikap dimana kewajiban ditaati dan dilaksanakan bukan karena sesuatu yang berasal dari kehendak si pelaku sendiri, melainkan karena sesuatu yang berasal di luar kehendak pelaku tersebut. Sikap ini menurut Kant menghancurkan nilai moral. Menurut Kant tidak ada yang lebih mengerikan daripada tindakan seseorang yang harus takluk kepada kehendak pihak lain.6

Moralitas otonom adalah kesadaaran manusia akan kewajiabn yang ia taati sebagai sesuatu yang dikendaki nya sendiri karena diyakini sangat baik.7 Di dalam moralitas otonom , orang mengikuti dan menerima hukum lahiriah bukan lantaran mau mencapai tujuan yang diinginkan atau lantaran takut kepada pemberi hukum itu, melainkan karena dijadikan kewajiban sendiri berkat nilainya yang baik. Bagi Kant moralitas otonom merupkan prinsip moralitas tertinggi, sebab jelas berkaitan dengan kebebasan. Kebebasan merupakan hal yang hakiki dari tindakan rasional manusia.

5 Ibid,..., Hal, 48.

6 Lili Tjahjadi,...., Hal, 48.

7 Ibid,... 48

(3)

Moral adalah kata hati, suara hati, perasaan, suatu prinsip, yang a priori, absolut.8 Perasaan yang menentukan tidak dapat dielakan, menetukan ini benar atau salah. Kita boleh saja tawar menawar, tetapi perasaan itu tetap saja pada posisinya. Kata hati itu adalah suatu catagorical imperatif, perintah tanpa syarat yang ada dalam kesadaran kita. Perintah itu ialah perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal, yaitu hukum kewajaran.9

Moralitas bukanlah suatu doktrin tentang bagaimana kita mencapai kebahagian, melainkan bagaimana kita dapat membuat diri kita layak mencapai kebahagian.10

Selanjutnya menurut Kant ada dua macam perintah atau imperatif, yaitu imperatif hipotesis dan imperatif kategoris. Imperatif hipotesis adalah perintah bersyarat, berlaku secara umum. Perintah ini mengatakan suatu tindakan diperlukan sebagai sarana atau syarat untuk mencapai sesuatu yang lain.11

Sedangkan imperatif kategoris adalah perintah mutlak, berlaku umum dan selalu ada dimana-mana atau universal12. Imperatif kategoris tidak berhubungan dengan suatu tujuan yang hendak dicapai.

Imperatif kategoris bersifat formal, artinya hanya merumuskan syarat- syarat yang harus dipenuhi oleh perbuatan manapun juga agar memeperoleh nilai moral yang baik, terepas dari tujuan materilnya.

8 Will Duran.1959. The story of Philosophy. New York: Simon and Schuster. Hal. 276

9 Ibid

10 Ahmad Tafsir. Op cit. Hal, 167.

11 Lili, Tjahjadi. Op cit.Hal. 49.

12 Ibid

(4)

Kant menegaskan dibawah label ”imperatif kategoris” bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin, dan bukan sekadar hal penyesuaian dengan aturan dari luar, entah itu aturan hukum negara agama atau adat istiadat. Secara sederhana Kant memastikan bahwa kriteria mutu moral seseorang adalah kesetiannya terhadap suara hatinya sendiri.

Kant memulai suatu pemikiran baru dalam bidang etika dimana ia melihat tindakan manusia absah secara moral apabila tindakan tersebut dilakukan berdasarkan kewajiban (duty) dan bukan akibat13. Menurut Kant, tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan bukan berdasarkan rasa kewajiban melainkan pamrih yang dihasilkan. Perbuatan dinilai baik apabila dia dilakukan semata-mata karena hormat terhadap hukum moral, yaitu kewajiban.

Kant membedakan antara imperatif kategoris (bersifat langsung) dan imperatif hipotetis (bersifat dugaan) sebagai dua perintah moral yang berbeda.14

Imperatif kategoris merupakan perintah tak bersyarat yang mewajibkan begitu saja suatu tindakan moral sedangkan imperatif hipotesis selalu mengikut sertakan struktur “jika.. maka..”.

Kant menganggap imperatif hipotetis lemah secara moral karena yang baik direduksi pada akibatnya saja sehingga manusia sebagai pelaku moral tidak otonom (manusia bertindak semata-mata berdasarkan akibat perbuatannya saja). Otonomi manusia hanya

13 Ibid,... Hal, 50

14 Lili Tjahjadi,...., Hal, 48.

(5)

dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apapun. Perintah yang berbunyi “lakukanlah”. Imperatif kategoris menjiwai semua perbuatan moral seperti janji harus ditepati, barang pinjaman harus dikembalikan dan lain sebagainya.15

Imperatif kategoris bersifat otonom(manusia menentukan dirinya sendiri) sedangkan imperatif hipotesis bersifat heteronom (manusia membiarkan diri ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan dan emosi).

Dalam buku Grundlegung Kant mengatakan bahwa satu-satunya hal yang baik tanpa pengecualian adalah “kehendak baik”. Akan tetapi, baik disini tidak bersifat mutlak. Semuanya akan menjadi tidak baik apabila disalahgunkan oleh orang yang berkehendak jahat. Maka itu, menurut Kant hanyalah kehendak baik yang bersifat baik secara mutlak, terlepas dari berbagai hal termasuk tujuan yang akan dicapai.16 Jelasnya, kehendak baik adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri.

Akan tetapi dalam keadaan manusia biasa, dimana kita harus berjuang melawan dorongan nafsu yang teratur, kehendak baik di kesamping kan dalam bertindak demi kewajiban. Maka apabila kita menilai perbuatan atau tindakan dari sudut moral, perlulah kita mengetahui apakah tindakan itu dilakukan demi untuk kewajiban atau bukan. Menurut Kant tindakan seseorang adalah baik secara moral

15 Ibid,..., Hal, 48

16 Grundelgung,....Hal, 41.

(6)

bukan lantaran tindakan itu demi mencapai tujuan tertentu, melainkan perbuatan itu di lakukan demi kewajiban semata.17

Selanjutnya menurut Kant, menegaskan bahwa suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban itu memiliki nilai moralnya dari prinsip formal atau maxim formal. Sesorang dikatakan baik secara moral apabila ia menerima (atau menolak) maxime material yang sesuai (atau bertentangan) dengan maxime formal, yang menghendaki agar tindakan dilakukan demi kewajiban itu sendiri.18

Maxime formal dibedakan kant dari kaxime material. Maxime material adalah kaidah atau prinsp subjektif yang memerinthakan ornaag untuk melakukan perbuatan tertentudemi mencapi tujuan tertentu. Sedangkan maxime formal adalah maxime yang memerintahkan kita melakukan begitu saja kewajiban kita apapun wujud kewajiban itu.19

Dengan maksud yang sama, Kant mengatakan bertindak berdasarkan maxime formal berarti bertindak berdasarkan prinsip murni dan a priori. Murni karena tidak memiliki unsur-unsur empiris- material.

Kriteria kewajiban moral menurut Kant, landasan epistemologinya bahwa tindakan moral manusia merupakan apriori akal budi praktis murni yang mana sesuatu yang menjadi kewajiban kita tidak didasarkan pada realitas empiris, tidak berdasarkan perasaan, isi atau tujuan dari tindakan. Kriteria kewajiban moral ini

17 Lili Thahjadi. Op cit. Hal. 50.

18 Ibid. Hal, 53

19 Ibid. Hal, 53

(7)

menurut Kant adalah Imperatif Kategoris. Perintah Mutlak demikian istilah lain dari Imperatif Kategoris, ia berlaku umum selalu dan dimana-mana, bersifat universal dan tidak berhubungan dengan tujuan yang mau dicapai. Dalam arti ini perintah yang dimaksudkan adalah perintah yang rasional yang merupakan keharusan obyektif, bukan sesuatu yang berlawanan dengan kodrat manusia, misalnya

“kamu wajib terbang !”, bukan juga paksaan, melainkan melewati pertimbangan yang membuat kita menaatinya.20

2. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Etika

Etika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Latin) yang artinya kebiasaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia, sedang objek formal etika adalah kebaikan atau keburukan, bermoral atau tidak bermoral.

Moralitas manusia adalah objek kajian etika yang telah berusia sangat lama. Sejak manusia terbentuk, persoalan perilaku yang sesuai dengan moralitas telah menjadi bahasan. Berkaitan dengan hal itu, kemudian muncul dua teori yang menjelaskan bagaimana suatu perilaku itu dapat diukur secara etis yaitu Deontologis dan Teologis. Teori Deontologis dihasilkan oleh pemikiran Immanuel Kant. Deontologi berasal dari kata Deon (Yunani) yang berarti kewajiban. Menurut teori ini perbuatan adalah baik jika dilakukan berdasarkan “imperatif kategoris” (perintah tak bersyarat). Yang menjadi dasar bagi baik

20 Ibid. Hal, 49

(8)

buruknya perbuatan adalah kewajiban dan tujuan yang baik tidak menjadikan perbuatan itu baik.21

Etika Immanuel Kant diawali dengan pernyataan bahwa satu- satunya hal baik yang tak terbatasi dan tanpa pengecualian adalah

“kehendak baik”. Sejauh orang berkehendak baik maka orang itu baik, penilaian bahwa sesorang itu baik sama sekali tidak tergantung pada hal- hal diluar dirinya, tak ada yang baik dalam dirinya sendiri kecuali kehendak baik. Wujud dari kehendak baik yang dimiliki seseorang adalah bahwa ia mau menjalankan Kewajiban. Setiap tindakan yang kita lakukan adalah untuk menjalankan kewajiban sebagai hukum batin yang di taati, tindakan itulah yang mencapai moralitas. 22

Etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik dan watak yang kuat dari perilaku. Kemauan baik adalah syarat mutlak untuk bertindak secara moral. Tindakan yang baik adalah tindakan yang tidak saja sesuai dengan kewajiban melainkan juga yang dijalankan demi kewajiban.

Kewajiban menurutnya adalah keharusan tindakan demi hormat terhadap hukum.23 Tidak peduli apakah itu membuat kita nyaman atau tidak, senang atau tidak, cocok atau tidak, pokoknya aku wajib menaatinya. Ketaatan ini muncul dari sikap batin yang merupakan wujud dari kehendak baik yang ada didalam diri.

Tiga prinsip yang harus dipenuhi :pertama, Supaya suatu tindakan mempunyai nilai moral, tindakan itu harus dijalankan

21 Harun hadiwijoyo. Op Cit. Hal. 64

22 Lili tjahjadi. Op Cit.Hal, 51.

23 Grundlegung. Op Cit. Hal. 38

(9)

berdasarkan kewajiban. Kedua, Nilai moral dari tindakan itu tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu (walaupun tujuannya tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik). Ketiga, Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip itu, kewajiban adalah hal tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal.24

Menurut Kant ada tiga kemungkinan seseorang menjalankan kewajibannya, Pertama, ia memenuhi kewajiban karena hal itu menguntungkannya.Kedua, Ia memenuhi kewajibannya karena ia terdorong dari perasaan yang ada didalam hatinya, misalnya rasa kasihan.

Ketiga, Ia memenuhi kewajibannya kerena kewajibannya tersebut, karena memang ia mau memenuhi kewajibannya.

3. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Moralitas Serta Kaitannya Dengan Agama Dan Tuhan

Ajaran Kant menegenai etika ternyata memiliki pengaruh juga terhadap ajarannya mengenai agama dan tuhan. Menurut Kant, tujuan moralitas adalah kebaikan tertinggi (summum bonum), dan kebaikan tertinggi tentunnya juga berarti kebahagian yang sempurna (bukan kebahagian alam arti empiris, yakni memenuhi segala kecenderungan dalam bidang empiris).25 Akan tetapi, tujuan disini harus diartikan sebagai arah kemana perbuatan kita harus dijuruskan. Menurut Kant kebaikan tertinggi tidak pernah terealisasi seratus persen sempurna sebab

24 Lli Tjahjadi. Op Cit. Hal. 50

25 Harun hadiwijoyo. Op Cit. Hal. 77

(10)

adanya kejahatan.26 Kendati demikian tujuan itu wajib dikejar oleh perbuatan moral.

Agar Kebaikan moral manusia dan kebaikan tertinggi (summum bonum) itu berhubungan, manusia harus menerima adanya tiga postulat ini, yaitu : kebebasan kehendak, immortalitas jiwa, dan adanya Allah.

Kant sendiri menyebut tiga postulat ini sebagai tujuan tertinggi keberadaan kita. Maksudnya ketiga postulat ini merupakan apa yang dicita-citakan dan mau dicapi oleh hidup kita disini.27

Istilah Agama kerap kali dipakai Kant. Dalam istilah biasa agama biasanya menunjuk pranata sosial yang partikular dan kepercayaan ilahi.

Tetapi Kant memakai istilah agama secara khusus yaitu pengakuan kewajiban-kewajiban kita sebagai perintah ilahi28. Apabila dikaitkan dengan teologi, agama tidak lain daripada penerapan teologi pada moralitas. Jadi menurut kant agama adlah pertama-tama dan terutama soal moralitas, yakni kesadaran saya akan semua kewajiban saya yang harus dipenuhi. Selain itu bagi Kant moralitas ada lebih dulu daripada agma. Maka moralitas tidak menggadaikan agama, melainkan sebaliknya, agamalah yang menggadaikan moralitas.

Dalam buku nya Critique of practical pure reason, kant berpendapat bahwa moralitas mengarah kepada agama melalui pemahaman mengenai kebaikan tertinggi (summum bonum). Penjelasan Kant adlah sebagai berikut; Allah adalah yang sempurna (kudus dan baik) secara moral. Maka kehendak dan perintahnya adlah kesempurnaan

26 Lili tjahjadi. Op Cit. Hal, 55

27 Ibid,. Hal 56.

28 Ibid

(11)

juga (kudus dan baik) secara moral. Mengingat moralitas sebagai kebaikan tertinggi, padahal kebaikan tertinggi itu (terdapat) dalam Allah dan hanya bisa dicapai dengan menerima adanya Allah sebagai postulat.

Maka jika kita ingin mencapai tujuan tertinggi, kita harus menyelaraskan diri dengan kehendak dan perintah Allah yang sempurna secara moral.

Dan dengan adanya penelarasan inilah, kita mengakui kewajiban kita sebagai serintah Allah. Dan menurut Kant inilah yang di maksud dengan agama.29

Dalam karya nya istilah summum bonum dicapai bukan melalui kebaikan dan kebahagian tertinggi seseorang, melainkan melalui persekutuan personal. masing-masing dengan nilai mutlak dan . bermartabat sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Untuk mencapai kebahagian tertinggi, orang lantas nenerlukan suatu komunitas yang disebut Kant sebagai komunitas moral.30

Hukum-hukum komunitas moral berbeda dengan komunitas politis.

Hukum komunitas moral tidak mungkin berupa undang-undang lahiriah yang dibuat oleh sembarangan penguasa duniawi, melainkan berupa hukum moral yang menyatakan dirinya kepada masing-masing orang melalui budi mereka sendiri. Tidak ada satu penguasa duniawi yang mempunyai kewenangan dalam bidang hukum moral.

Meskipun Kant lebih dikenal sebagai filsuf yang berkecimpung dalam bidang epistemologi dan etika, tetapi kajian tentang Tuhan pun tak luput dari penelaahannya. Dalam bidang keagamaan atau Teologi, Kant

29 Kant, (1778). Op Cit. Hal. 148.

30 Lili Tjahjadi. Op Cit. Hal. 57.

(12)

menolak bukti-bukti “onto-teologis” adanya Tuhan. Artinya, menurutnya, Tuhan itu, statusnya bukan “objek” inderawi, melainkan apriori yang terletak pada lapisan ketiga (budi tertinggi) dan berupa “postulat.”

Immanuel Kant berargumentasi bahwa konsep seseorang tentang Allah harus berasal dari penalaran; oleh karena itu, ia menyerang bukti- bukti tentang keberadaan Allah, dengan menyangkali keabsahannya.

Kant berpendapat bahwa tidak dapat ada terpisah pengalaman yang dapat dibuktikan melalui pengujian. Dalam hal ini, Kant mengkombinasikan rasionalisme (kebertumpuan pada penalaran manusia) dan empirisme (pembuktian sesuatu berdasar metode ilmiah).

Bagi Kant, Tuhan bukanlah soal teoretis, melainkan soal praksis, soal moral, soal totalitas pengalaman, dan arti atau makna hidup terdalam (ini dampak positifnya). Dampak negatifnya adalah bahwa sebagai

“postulat’ (penjamin) moralitas,31 Tuhan adalah konsekuensi moralitas, maka moralitas merupakan dasar keberadaan Tuhan. Karena itu, muncul tendensi pada Kant untuk meletakkan agama hanya pada tataran moralitas semata atau perkara horizontal saja (hubungan antar manusia saja atau soal perilaku di dunia ini saja). Konsekuensinya, agamanya Kant, tidak memerlukan Credo.

Kant menyatakan bahwa memang tuhan hanya bisa didekati melalui iman dan iman itu dilandasi oleh hukum moral.32 Hukum moral mewajibkan kita untuk selalu melakukan kebaikan. Tetapi hukum moral

31 Mohammad muslih. Op Cit. Hal. 78

32 Ahmad Tafsir. Op Cit Hal. 168

(13)

ini mensyaratkan 3 hal utama, yaitu: kebebasan, keabadian jiwa, dan keberadaan tuhan33.

Kewajiban tentu mengandaikan kebebasan. Kita bebas untuk tidak menjalankan hukum moral untuk melakukan kebaikan. Maka kemudian hukum moral menjadi wajib. Kebaikan menjadi wajib dilakukan. Apabila tidak ada kebebasan maka tidak akan ada kewajiban. Karena manusia bebas untuk melakukan atau tidak melakukan kebaikan maka kemudian muncul kewajiban untuk melakukan kebaikan. 34

Syarat yang kedua adalah keabadian jiwa. Hukum moral bertujuan untuk mencapai kebaikan tertinggi (summum bonum). Kebaikan tertinggi ini mengandung elemen keutamaan dan kebahagiaan. Orang dinyatakan memiliki keutamaan apabila perbuatannya sesuai dengan hukum moral.

Dari keutamaan inilah kemudian muncul kebahagiaan. 35

Tetapi menurut Kant, manusia itu tidak akan selalu mencapai kondisi keutamaan. Tidak akan pernah manusia mencapai kesesuaian kehendak dengan hukum moral. Karena apabila manusia bisa mencapai kesesuaian ini tanpa putus maka itu adalah kesucian dan tidak ada manusia yang akan pernah mencapai kesucian mutlak. Manusia hanya akan selalu berusaha untuk mencapai kesucian itu, dan itu adalah perjuangan tanpa akhir. Karena egoisme dan sifat dasar manusia lainnya, maka perjuangan mencapai kesucian itu adalah perjuangan tanpa akhir.

Oleh sebab itu, keutamaan yang menjadi elemen kebaikan tertinggi yang

33 Lili Tjahjadi. Op Cit Hal. 55

34 Ibid

35 Ibid

(14)

menurpakan tujuan akhir dari hukum moral tidak akan pernah bisa direalisasikan selama manusia hidup.

Dengan kata lain kondisi ideal dimana terjadi kesesuaian antara kehendak dan hukum moral adalah jika manusia sudah tidak memiliki kehendak (mati), tetapi apabila setelah mati tidak ada kehidupan maka kondisi ideal itu juga tidak akan tercapai. Oleh sebab itu, maka hukum moral mengandaikan bahwa jiwa itu abadi. Bahkan setelah raga ini mati jiwa akan selalu abadi untuk mencapai kondisi ideal berupa kebaikan tertinggi.36

Syarat yang ketiga adalah keberadaan tuhan. Telah dijelaskan bahwa kebaikan tertinggi atau summum bonum memiliki elemen keutamaan dan kebahagaiaan. Keutamaan adalah kesesuaian antara kehendak dengan hukum moral dan dari keutamaan inilah muncul kebahagiaan. Kebahagiaan sendiri adalah kondisi di mana realitas manusia sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Tapi hal itu tidaklah mungkin karena manusia bukan yang mahapengatur yang bisa mengharmoniskan dunia fisik sesuai dengan kehendak dan keinginannya.

Tapi justru itulah yang diandaikan apabila kita memiliki keutamaan.

Kebahagiaan diandaikan sebagai sintesis dari dunia fisik, kehendak, dan keinginan. Realitas inilah yang kemudian disebut tuhan. Tuhan adalah penyebab tertinggi alam sejauh alam itu diandaikan untuk kebaikan tertinggi atau tuhan adalah pencipta alam fisik yang sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.

36 Harun hadiwijoyo. Op Cit. Hal, 77

(15)

Apabila kita bertindak sesuai hukum moral maka akan membawa kita pada keutamaan dan keutamaan akan membawa kita pada kebahagiaan dan kebahagiaan adalah kondisi di mana terdapat kesesuaian antara alam fisik dengan kehendak dan keinginan. Dan yang memiliki kesesuaian ketiga elemen ini adalah tuhan. Maka, dengan berbuat baik kita akan sampai pada realitas keberadaan tuhan. Artinya hukum moral mengandaikan keberadaan tuhan.

Jika 3 syarat (kebebasan, keabadian jiwa, dan keberadaan tuhan) ini tidak diandaikan keberadaanya, maka runtuhlah sistem moral. Padalah sistem moral itu selalu ada. Kebaikan selalu ada dan manusia selalu mencoba mewujudkan kebaikan tersebut.

4. Pemikiran Immanuel Kant Tentang Pengetahuan Sebagai Dasar Awal Moralitas

Kaum rasionalis percaya bahwa dasar dari seluruh pengetahuan manusia ada dalam pikiran. Sedangkan kaum empirisis percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari pencerahan indrawi.

Kedua pandangan ini menurut kant benar sebagian dan salah sebagian.

Jadi baik “indra” maupun “akal” sama-sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. Kant berpendapat bahwa seluruh ide dan konsep manusia bersifat ‘apriori, sehingga ada kebenaran apriori, namun ide dan konsep itu hanya dapat di aplikasikan apabila ada pengalaman.

Dengan kata lain bahwa akal budi manusia hanya dapat berfungsi apabila dihubungkan dengan pengalaman.

(16)

Dalam titik tolaknya Kant setuju dengan Hume dan kaum empitris bahwa seluruh pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indra. Sealin itu Kant juga mendukung kaum rasionalis bahwa dalam akal juga terdapat factor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar. Dengan kata lain, ada kondisi-kondisi tertentu dalam pikiran manusia yang ikut menetukan konsepsi kita tentang dunia.

Apapun yang kita lihat pertama-tama akan dianggap sebagai fenomena waktu dan ruang. Kant menyebut waktu dan ruang itu dua bentuk intuisi kita. Dan Kant menekankan bahwa kedua bentuk ini dalam pikiran kita mendahului setiap pengalaman. Selanjutnya kant memandang bahwa waktu dan ruang termasuk pada kondisi manusia. Waktu dan ruang pertama-tama dan terutama adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik.37

Kant pernah mengatakan bahwa ia mengusahakan suatu revolusi dalam filsafat yang ia namakan revolusi kopernikan, artinya suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner yang diadakan oleh Copernicus dalam bidang astronomi.38 Para filsuf dahulu mencoba mengerti pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subyek mengarahkan diri ke obyek. Kant mau mengerti obyek dengan berpangkal dan bertolak dari anggapan bahwa obyek mengarahkan diri ke subyek. Kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subyek dan bukan obyek. Disinilah peran subyek yang berpikir.

37 Ibid. Hal. 64.

38 Ibid

(17)

Pikiran manusia menurut Kant bukanlah pasif yang hanya menerima fenomena dari luar. Dalam hal berpikirnya manusia tidak semata-mata menerima kesan-kesan indrawi tetapi juga membuat keputusan tentang apa yang kita alami.

Kant mengatakan bahwa pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama dalam benak, Pertama, adalah bagian atau daya penerimaan kesan-kesan indrawi (sensibility). Bagian ini berfungsi menerima kesan-kesan yang masuk dan menatanya dengan pengetahuan apriori-intuisi ruang dan waktu.

Kedua, adalah bagian pemahaman (understanding) yang membuat keputusan-keputusan tentang kesan-kesan indrawi yang didapat melalui bagian pertama. Bagian ini berfungsi sebagai memasak artinya ia menyatukan dan mensistesakan pengalaman-pengalaman yang telah diterima dan ditata oleh bagian penerimaan kesan-kesan indrawi untuk selanjutnya diputuskan.

Kedua bagian tersebut saling membutuhkan dalam rangka mencapai suatu pengetahuan. Bagian pemahaman dibantu oleh apa yang disebut dengan kategori apriori. Pentingnya kategori adalah sebagai syarat apriori yang memungkinkan suatu keputusan tentang obyek. Yang dimaksud kategori-kategori adalah bentuk-bentuk yang berbeda-beda, yang didalamnya aku transcendental adalah aku sejauh ia merupakan syart bagi kesatuan pengetahuan dan ia sendiri bersifat tidak bersyarat atau mutlak.

(18)

Setiap tindakan diiringi oleh gagasan: aku berpikir. Kant menyebutnya aku empiri. Kant sekaligus menerima aku kesadaran dan aku empiri untuk membangun suatu pengetahuan baru. Persepsi kant tentang dua dunia, yaitu dunia fenomena (gejala) dan noumena (inti) kant harus mengakui bahwa “Aku-kesadaran” ternyata juga memiliki batas kemampuannya dalam menangkap noumena itu tadi, karena inti dari sesuatu (misalnya Tuhan, jiwa) tidak dapat dikenal. Akhinya berusaha dijawab oleh seorang filsuf muslim Mohammad Iqbal dalam Recontruction of Religious Thought in Islam. Kant telah menunjukkan jalan terbuka untuk membangun suatu proses subyektifikasi dan obyektivikasi pengetahuan agar masing-masing pengetahuan tidak menjadi buta dan berat sebelah. Seperti yang dinyatakan oleh Kant bahwa: “pemikiran tanpa intuisi adalah kosong, sedangka intuisi tanpa konsep adalah buta”. Akhirnya filsafat kant disebut “filsafat kritis”

karena kant tidak membenarkan rasio semata-mata dalam memahami realitas pada dirinya melainkan Kant mengungkapkan tentang keterbatasan yang dimiliki rasio hanya sampai pada dunia pengindraan.

Dalam filsafat Transendental Kant telah berhasil memodifikasi tradisi metafisika yang mengkonsentrasikan diri pada obyek (what is reality) menjadi epistemology (how do I know) dengan melakukan penyelidikan terhadap daya pemikiran manusia. Penyelesaian kant, sekalipun tidak tuntas, namun ia telah memberikan suatu cara bagaimana ilmu bekerja. Menurutnya ilmu bekerja harus memnuhi syarat obyektif mupun subyektif. Syarat obyektif memberikan isi (pengetahuan empiris)

(19)

sedangkan syarat subyektif memberikan bentuk (pengetahuan murni) pada struktur ilmu pengetahuan.39

Terdapat dua unsure yang memberikan sumbangan pada pengetahuan manusia:

 Kodisi lahiriah yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya melalui indra kita, ini disebut materi pengetahuan.

 Kondisi batiniah dalam diri manusia sendiri seperti persepsi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam waktu dan ruang dan sebagai proses-proses yang sejalan dengan hokum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini disebut bentuk pengetahuan.

Kant percaya bahwa ada batasan-batasan yang jelas bagi apa yang dapat kita ketahui. Kaca mata pikiran itulah yang menetapkan batasan- batasan itu tadi.

Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak sebenarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi bila pengetahuan itu datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman, bahkan tidak bergantung pada indera, yang kebenarannya a priori. Kant memulainya dengan mempertanyakan apakah ada yang dapat kita ketahui seandainya seluruh benda dan indera dibuang. Seandainya tidak ada benda dan tidak ada alat pengindiera, apakah ada sesuatu yang dapat kita ketahui?.40

Menurut Kant, pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama yaitu pengalaman pancaindra dan pemahaman akal budi (rasio).

39 Muhammad alfan. Op Cit. Hal 186

40 Harun hadiwijoyo. Op Cit. Hal. 65

(20)

Pengalaman yang diperoleh melalui pancaindra kita kemudian diolah oleh pemahaman rasio kita dan menghasilkan pengetahuan. Itu sebabnya pengetahuan manusia selalui bersifat apriori dan aposteriori secara bersamaan. Tanpa pengalaman indrawi maka pengetahuan hanyalah konsep-konsep belaka, tetapi tanpa pemahaman rasio pun pengalaman indrawi hanya merupakan kesan-kesan panca indra belaka yang tidak akan sampai pada keseluruhan pengertian yang teratur yang menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan41.

Pengetahuan bermula dari pengalaman pancaindra yang kemudian diolah oleh pemahaman rasio untuk menghasilkan sebuah pengetahuan yang menyeluruh dan teratur. Oleh sebab itu, maka segala sesuatu yang tidak bisa dialami oleh pancaindra tidak bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan, tetapi hanya sebagai sebuah hipotesis belaka.42

Menurutnya, proses pengetahuan melalui tiga tahap yakni, pertama, Pengetahuan inderawi: segala data pada awalnya masuk melalui indera kita (aposteriori/pengalaman iderawi). Kedua, Verstand merupakan bagaian akal sederhana (apriori) yang lebih dominan.

Ketiaga, Vernumft merupakan bagian akal yang lebih canggih (apriori) yang lebih dominan43

Pengetahuan ada tiga macam yaitu, pertama, Pengetahuan analitis apriori (statement yang berupa definisi tentang subjek): pengetahuan yang hanya menganalisis tentang subjek. Kedua, Pengetahuan sintetis aposteriori: ada unsur baru yang ditempelkan pada subjek berdasarkan

41 Ibid. Hal. 68

42 Ahmad tafsir.Op Cit. Hal, 165

43 Harun Hadiwijoyo. Op Cit. Hal 71.

(21)

pengalaman dengan subjek. Ketiga, Pengetahuan sintetis apriori:

pengetahuan yang lekat dengan Matematika, sehingga ada unsur-unsur baru tetapi hanya merupakan hasil kalkulasi angka-angka matematis.

Karena itu, Metafisika bisa digolongkan sebagai pengetahuan jenis ketiga ini.44

44 Ibid. Hal. 65

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam tulisan yang berbeda Din Syamsudin juga mengatakan bahwa Masyarakat madani secara umum bisa diartikan sebagai suatu masyarakat atau institusi sosial yang memiliki

Program Kuadrat dapat digunakan untuk meminimalkan risiko suatu saham yang diinvestasikan pada pasar modal dengan kendala jumlah dana yang diinvestasikan dengan acuan nilai

Tugas Pokok Membantu Sekretaris Daerah dalam penyusunan kebijakan daerah di bidang pemerintahan, hukum dan kerjasama, dan pengoordinasian penyusunan kebiajakan daerah

merupakan suatu pelaksanaan Pematangan Lahan Pembangunan Perumahan Panorama Bukit Asri Samarinda, sangat diperlukan pemakaian alat berat, agar pelaksanaan pekerjaan

Antigen irri akan merangsang sel-sel makrofag, manosit, atau Iirnfosit yang mengeluarkan berbagai macarn sitokin, antara lain TNF (tumor nec- rosis factor). TNF akan dibawa

yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketetapan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri

Salah satu komoditas yang mempunyai peluang besar untuk diolah menjadi bahan pakan ternak dengan jumlah yang melimpah di DKI Jakarta yaitu limbah organik pasar.. Berikut

Selain itu, sebagai bahan perbandingan antara pemakaian afiks dalam Friendster dengan afiks dalam ragam formal yang akan dilakukan pada bagian analisis, penulis pun