BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata saat ini berkembang pesat menjadi salah satu industri yang

Teks penuh

(1)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pariwisata saat ini berkembang pesat menjadi salah satu industri yang menjanjikan di berbagai negara salah satunya adalah di Indonesia. Dampak positif dirasakan diberbagai sektor baik ekonomi sosial dan budaya. Dengan adanya pengembangan infrastruktur dan sarana prasarana mendorong arus wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara, sehingga mampu menambah devisa negara.

Menteri Pariwisata dan ekonomi kreatif Wishnutama menargetkan devisa dari sektor pariwisata bisa mencapai 21 juta dolar AS atau sekitar Rp 294 miliar (kurs Rp 14.000 per dolar AS) pada tahun depan. Wishnutama menjelaskan pendapatan ini bisa terdongkrak dari lima Bali Baru yang menjadi wisata prioritas pemerintah (AyoBandung.com, diakses pada tahun 2019)

Pada tahun 2017 Menteri Pariwisata Kabinet Kerja I (2014-2019), Arief Yahya mengatakan pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen menempati peringkat kedua setelah Vietnam 29 persen, sementara Malaysia tumbuh 4 %, Singapura 5,7 %, dan Thailand 8,7 %. Pada tahun yang sama, rata- rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 % dan 7 % di ASEAN (Kementerian Pariwisata, 2019). Sehingga dapat dilihat bahwa perkembangan pariwisata di Indonesia maju pesat dan pembangunannya selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun. Kementerian Pariwisata telah menetapkan 10 destinasi wisata unggulan atau yang dikenal dengan istilah 10 Bali Baru yang terdiri dari Danau

1

(2)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2

Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Taman Wisata Candi Borobudur, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, dan Taman Nasional Wakatobi yang diharapkan dapat mendongkrak destinasi wisata lain yang ada di Indonesia selain Bali.

Candi Borobudur merupakan salah satu lima Destinasi Super Prioritas yang pada tanggal 30 Agustus 2019 mendapat arahan presiden pada rapat terbatas.

Presiden Jokowi menyebut perlunya penataan infrastruktur di Candi Borobudur, salah satunya dengan melebarkan jalan di sekeliling Candi Borobudur dengan demikian pengembangan Kawasan Wisata Borobudur segera diselesaikan dan segera ditetapkan. Percepatan pengembangan dan pembangunan Kawasan Pariwisata Borobudur, diperlukan pengaturan secara khusus agar menyatukan pelaksanaan kewenangan pengelolaan kawasan melalui pembentukan Badan Otorita Pengelola Kawasan Borobudur.

Badan Otorita Borobudur yang selanjutnya disebut Badan Otorita Borobudur (BOB), didirikan sebagai salah satu upaya pemerintah untuk melaksanakan akselerasi program percepatan pengembangan kawasan Pariwisata Borobudur dengan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2017 Tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Borobudur dan Peraturan Menteri No. 10 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelaksana Otorita Borobudur.

Badan Otorita Borobudur (BOB) memiliki struktur organisasi yang tertinggi yang disebut Dewan Pengarah yang terdiri dari ketua yang diserahkan kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang membawahi Kelompok ahli yaitu terdiri dari tenaga profesional, sekretaris yaitu Sekretaris menteri koordinatif dan

(3)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3

ketua pelaksana harian yaitu Menteri Pariwisata serta di bawah Menteri Pariwisata memiliki anggota yang terdiri dari beberapa kementerian (Dokumen BOB, Pengembangan atraksi wisata di Kawasan Pariwisata Borobudur, 2020)

Struktur Badan Otorita Borobudur (BOB) saat ini mempunyai Direktur utama yang membawahi Direktur Keuangan, Umum dan Komunikasi Publik, Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan, Direktur Destinasi Pariwisata dan Direktur Pemasaran Pariwisata. Dari beberapa direktorat tersebut memiliki beberapa kepala divisi dan setiap direktoratnya menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing sesuai dengan yang telah ditetapkan. Badan Pelaksana Otorita Borobudur/Badan Otorita Borobudur mempunyai tugas melakukan koordinasi, sinkronisasi dan fasilitasi perencanaan, pengembangan, pembangunan dan pengendalian di Kawasan Pariwisata Borobudur, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) dan melakukan perencanaan, pengembangan, pembangunan, pengelolaan, dan pengendalian di Kawasan Pariwisata Borobudur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (2).

Badan Otorita Borobudur (BOB) memiliki fungsi utama yaitu (1) fungsi Otoritatif dalam bentuk lahan yang ada di Bukit Menoreh Purworejo seluas 309 hektar. Badan Otorita Borobudur telah berhasil membangun destinasi wisata baru yang berkonsep Glamour Camping. (Glamping) yang diberi nama De Loano yang memiliki luas 50 hektar di zona otoritatif dan telah diresmikan pada tanggal 14 Februari 2019, dan (2) fungsi Koordinatif yang ada di tiga Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang terbagi menjadi tiga destinasi yaitu Borobudur-Yogyakarta, Semarang-Karimunjawa, dan Solo-Sangiran. Dalam upaya mengembangkan

(4)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4

Kawasan Pariwisata Borobudur, Badan Otorita Borobudur melakukan beberapa upaya pemasaran yang dilakukan di tiga DPN untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Berdasarkan latar belakang masalah, maka dibahas tentang

”Pemasaran Oleh Badan Otorita Borobudur Dalam Pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan untuk memberikan arah penulisan Tugas Akhir ini, maka perumusan masalah adalah sebagai berikut :

Apa saja upaya yang telah dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur untuk mengembangkan Kawasan Pariwisata Borobudur ?

Bagaimana metode pemasaran yang dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur dalam pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur?

Bagaimana kendala yang dihadapi dan solusi yang dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur dalam upaya pengambangan Kawasan Pariwisata Borobudur ?

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang dapat dicapai dengan penelitian ini adalah :

4. Untuk mengetahui apa saja upaya pemasaran yang telah dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur dalam mengembangkan Kawasan Pariswisata Borobudur.

5. Untuk mengetahui metode pemasaran yang dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur dalam pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur.

(5)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5

3. Untuk mengetahui kendala apa saja yang dihadapi dan solusi yang dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur dalam pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur.

D. Manfaat Penelitian

1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan akademik mengenai pemasaran oleh Badan Otorita Borobudur dalam pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur.

2. Diharapkan dari penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan untuk meningkatkan kesadaran akan adanya pemasaran oleh Badan Otorita Borobudur terhadap pengembangan di Kawasan Pariwisata Borobudur.

3. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Diploma III Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

E. Tinjauan Pustaka

1. Signifikasi Industri Pariwisata

Penelitian ini didasarkan pada fenomenal yang ada di dalam dunia pariwisata di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dimana kebijakan kementerian pariwisata membentuk badan ototrita yang bertujuan untuk mengembangkan pariwisata dikasawasan Borobudur dan pemasaran dari badan otorita sangat penting karena untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung di Kawasan Pariwisata Borobudur.

Menurut Undang – Undang No 10 Tahun 2009 bahwa Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka

(6)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6

menghasilkan barang / atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

a) Pengertian Pariwisata

Kata pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta. Pariwisata terdiri dari dua suku kata, yaitu “pari” dan “wisata”. Pari berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar. Sedangkan wisata berarti perjalanan, berpergian. Jadi pariwisata diartikan sebagai suatu perjalanan yang dilakukan berkali-kali (berputar-putar) dari satu tempat ke tempat lain, yang dalam bahasa Inggris disebut “tour”. Pengertian lebih luas dikemukakan oleh Freuler (1996) bahwa pariwisata dalam artian modern merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar yang menumbuhkan kecintaan terhadap keindahan alam, bertambahnya pergaulan karena berkembangnya perniagaan, industri, perdagangan, serta penyempurrnaan dari alat-alat pengangkutan (Yoeti, 1983).

Berdasarkan Undang-Undang Kepariwisataan No 10 Tahun 2009 Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah. Hunziker dan Kraf (Yoeti, 1996:115) mengungkapkan bahwa pariwisata adalah keseluruhan hubungan dan gejala-gejala yang timbul dari adanya orang asing dan perjalanannya itu tidak untuk bertempat tinggal menetap dan tidak ada hubungan dengan kegiatan untuk mencari nafkah. Sehingga

(7)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7

dalam melakukan perjalanannya tersebut hanya mencari hal-hal yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

Yoeti (1996:118) berpendapat bahwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

b) Pengembangan Kawasan Pariwisata

Berdasarkan Undang-Undang Kepariwisataan No 10 tahun 2009 Kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.

Menurut Lanya (1995) pengembangan adalah memajukan dan memperbaiki atau meningkatkan sesuatu yang telah ada. Suwantoro (1997) menyatakan pengembangan bertujuan untuk mengembangkan produk yang pelayanan yang berkualitas, seimbang, dan bertahan.

Menurut Swarbrooke (1996:99) pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya pariwisata mengintegrasikan

(8)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8

segala bentuk aspek aspek diluar pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung akan kelangsungan pengembangan pariwisata. Menurut Joyosuharto (1995:46), pengembangan pariwisata memiliki tiga fungsi, yaitu :

a. Menggalakkan ekonomi

b. Memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup

c. Memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa

Pengembangan pariwisata tidak pernah lepas dari suatu perencanaan. Syamsu, dkk (2001), perencanaan pengembangan suatu kawasan wisata memerlukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti:

Marketing Research, Situational Analysis, Marketing Target, Tourism Promotion, Pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam promosi dan Marketing.

2. Konsep Pemasaran Pariwisata a) Pemasaran Pariwisata

Dari sudut pandang pemasaran, pasar berarti para pembeli baik yang nyata maupun yang masih potensial terhadap sauatu produk tertentu. Menurut Wahab pengertian pasar adalah permintaan nyata maupun potensial suatu produk baik yang dapat dijamah atau tidak dapat dijamah (Wahab, 1997:33).

Sedangkan pasar menurut pemasaran adalah permintaan nyata maupun potensial suatu produk baik yang dapat dijamah ataupun yang tidak dapat dijamah. Sehingga pasar wisata merupakan bagian dari pasar

(9)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 9

perjalanan (travel market), yang cakupan maknanya lebis luas dan lebih rinci dalam produk masing-masing. Pasar wisata dari sudut pandang daerah tujuan wisata adalah suatu pengkajian dan studi yang mendalam mengenai suatu pasar, sejauh dilihat dari kepentingan negara penerima wisatawan.

Maksudnya adalah untuk mengungkapkan kekuatan pasar yang membentuk dan mempengaruhi pasar tersebut sehingga mampu meningkatkan porsi kunjungan ke daerah tujuan wisata itu dengan berbagai fungsi pemasaran.

Pasar disini dapat diartikan sebagai komulasi dari seluruh pembeli aktual maupun potensial dari suatu produk. Pasar terdiri dari individu-individu yang mempunyai baik kebutuhan atau hasrat terhadap suatu produk atau jasa atau kemampuan, keinginan, dan wewenang untuk membeli produk lain. Dalam hal ini dapat didefinisikan bahwa pelancong atau pengunjung (Suwantoro, 1997:95).

Pemasaran adalah suatu cara dalam menjalankan suatu usaha dengan lebih menitik beratkan perhatian terhadap pelanggan daripada terhadap produk. Semua fungsi manajemen termasuk pengorganisasian, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengawasan terhadap hasil-hasilnya, diarahkan kepada orientasi pemasaran yang mewujudkan suatu kumpulan teknik dan strategi guna mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Sedangkan menurut Kotler (2001) pemasaran adalah analisis, perencanaan, dan pengawasan mengenai sumber-sumber kebijakan dan kegiatan yang berkenaan dengan pelanggan perusahaan, yang maksudnya ingin memuaskan kebutuhan dan

(10)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10

harapan dari kelompok pelanggan tertentu yang dipilih, agar dapat memperoleh keuntungan.

Pemasaran merupakan salah satu hal pokok yang harus dilakukan untuk mengembangkan pariwisata. Salah satu pengertian pemasaran adalah suatu kegiatan yang maksudnya untuk mempengaruhi, menghimbau, dan wisatawan potensial sebagai konsumen agar mengambil keputusan- keputusan untuk mengadakan perjalanan wisata, yaitu merupakan produk yang ditawarkan (Soekadijo, 1996:217).

Dalam melaksanakan pemasaran ada pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan ini antara lain :

1) Orang – orang pariwisata nasional 2) Pemerintah daerah

3) Instansi sektoral produsen produk wisata seperti hotel, restoran dan lainnya

4) Produsen tunggal seperti museum yang mengelola secara swasta Dalam kegiatan pemasaran yang paling efektif adalah “membuat puas”

setiap wisatawan yang datang sehingga wisatawan yang datang akan menjadi iklan hidup bagi calon wisatawan yang lainnya (Rijanto, 1986:15).

b) Unsur – Unsur Dalam Pemasaran Pariwisata

Menurut Middleton (1994) berpendapat bahwa dalam pemasaran pariwisata terdapat lima elemen yang mesti dilibatkan secara bersama– sama.

Lima elemen tersebut adalah elemen permintaan pasar (market demand), elemen biro perjalanan (travel organizers), elemen lembaga-

(11)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11

lembaga pariwisata pada destinasi (destination organizers), elemen penawaran (product supply), dan elemen fisik aksesibilitas.

Produk pariwisata adalah segala suatu yang dapat ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar yang dapat berwujud dan tidak berwujud. Produk pariwisata dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

1. Barang yaitu bentuk dari produk yang berwujud dan dapat disentuh.

Dalam dunia pariwisata produk berwujud barang memiliki peranan lebih kecil daripada jasa atau layanan.

2. Jasa yaitu bentuk dari produk yang tidak berwujud, tidak dapat disentuh dan hanya dapat dirasakan.

3. Ide atau gagasan yaitu merupakan bentuk tidak berwujud dalam produk, misalnya merancang paket wisata yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan.

c) Strategi Pemasaran Pariwisata

Salah Wahab dalam bukunya Pemasaran Pariwisata (1992) isinya antara lain, kata strategi dulunya dipakai oleh orang-orang Yunani untuk istilah para jendral pemimpin pasukan. Strategi merupakan metode operasional yang dipergunakan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan perang secara keseluruhan, dalam suatu pertempuran yang luas atau dalam suatu tenggang waktu yang lama.

Menurut Marpaung (2002) strategi pemasaran merupakan dasar dari seluruh kebijakan perusahaan, karena strategi pemasaran merupakan basis dari penentuan serta memberikan pengarahan bagi keputusan perusahaan.

(12)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12

Rencana perusahaan juga berisi rancangan tindakan yang perlu diambil bagi setiap elemen dari marketing mix. Sehingga tugas dari seorang marketing manager tidak hanya terkait pada pengambilan keputusan operasional, melainkan juga harus terlibat dalam rencana strategi jangka panjang.

Kementerian Pariwisata RI 2016 telah mengembangkan portofolio strategi pemasaran pariwisata yang telah diformulasikan oleh Indonesia yang dimaksud untuk mencapai target kunjungan wisatawan yang dikenal dengan sebutan BAS adalah singkatan dari Branding, Advertising dan Selling :

1) Branding : berkaitan dengan usaha untuk meningkatkan citra daerah tujuan wisata.

2) Advertising : berkaitan dengan kegiatan komunikasi pemasaran daerah tujuan wisata yang bersifat non personal yang ditujukan kepada masyarakat luas.

3) Selling : berkaitan dengan upaya jangka pendek untuk merangsang agar segera masyarakat untuk mengunjungi destinasi tujuan wisata.

F. Metode Penelitian

Untuk mendapatkan data – data penulis menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data, adapun cara tersebut adalah sebagai berikut :

1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor Badan Otorita Borobudur (BOB) di Jalan Faridan M.Noto No 19, Kotabaru, Yogyakarta. Penelitian ini

(13)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13

dilakukan selama yang bulan Januari – Juli 2020 sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Adapun Teknik Pengumpulan Data, antara lain : a) Observasi

Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena objek pengamatan (Djaali dan Muljono, 2007:16 ). Dalam penelitian ini observasi dilakukan pada Kantor Badan Otorita Borobudur (BOB), terkait dengan peran pemasaran Badan Otorita Borobudur dalam pengembangan kawasan pariwisata Borobudur.

b) Wawancara

Wawancara merupakan proses interaksi dan komunikasi antara pengumpul data dengan responden. Sehingga wawancara dapat diartikan sebagai cara mengumpulkan data dengan bertanya langsung kepada responden, dan jawaban-jawaban dicatat atau direkam dengan alat perekam. (Kusmayadi dan Sugiarto, 2000: 83).

Dalam penelitian menggunakan data informan yang dipilih adalah pimpinan dan beberapa staff di Badan Otorita Borobudur yaitu :

1) Bapak Agus Rochiyardi selaku Direktur Pemasaran Badan Otorita Borobudur

(14)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14

2) Bapak Putut Bayu selaku Staff industri kelembagaan Badan Otorita Borobudur

Berdasarkan judul tugas akhir mengenai pemasaran oleh Badan Otorita Borobudur sehingga memilih kedua informan tersebut karena mereka ahli di bidangnya.

c) Studi Pustaka

Studi pustaka yaitu mempelajari buku-buku referensi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti untuk mendapatkan data yang akan digunakan sebagai landasan dalam membahas kenyataan yang ditemui dalam penelitian sehingga nantinya diperoleh acuan- acuan yang mendukung dalam kegiatan penulisan. Buku tersebut sesuai dengan judul dan dapat menjadi bahan tambahan untuk membuat tugas akhir ini. Buku diperoleh penulis dari perpustakaan, toko buku, dan sumber-sumber lainnya. Teknik ini digunakan untuk mendapat data-data yang diinginkan berdasarkan bukti-bukti tertulis. Penulis juga bisa mengambil data lain dari berbagai sumber seperti artikel, jurnal atau sumber-sumber yang lain guna melengkapi data. Buku-buku referensi yang penulis gunakan sebagai pegangan dalam penyusun penulisan tugas akhir ini dapat dilihat di daftar pustaka.

d) Studi Dokumen

Dokumen adalah data yang diperoleh secara langsung dari tempat penelitian meliputi brosur, pamflet dan dokumentasi objek (Tika

(15)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15

1996:80). Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumen.

Metode dokumen adalah metode pengumpulan data yang ditujukan memperoleh data secara langsung dari tempat penelitian meliputi Peraturan Presiden No 46 Tahun 2017 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Borobudur dan Peraturan Menteri Pariwisata No 10 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelaksana Otorita Borobudur, foto-foto dan arsip-arsip

3. Analisis Data

Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis adalah sebuah metode dimana penulis mengamati, memahami, dan menganalisa secara langsung objek penelitian menjadi bahan atau materi pembuatan laporan, sehingga dapat menggambarkan mengenai situasi, kondisi, dan keadaan pada suatu kelompok atau suatu tempat tertentu. Analisis deskriptif kualitatif adalah menstranformasi data mentah ke dalam bentuk data yang mudah dimengerti dan ditafsirkan, serta menyusun, dan menyajikan data supaya menjadi suatu informasi yang merupakan data yang tidak berbentuk angka (Samsudin Sulaiman dan Kusherdyana, 2013:20).

(16)

commit to user

library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

16

G. Sistematika Penulisan

Hasil penelitian yang diperoleh setelah dilakukan analisa, kemudian disusun dalam bentuk laporan akhir dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, berisi uraian tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka yang meliputi pengertian pariwisata, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II Gambaran Umum Badan Otorita Borobudur, berisi tentang profil Badan Otorita Borobudur, tentang Sejarah awal mula berdirinya, fungsi dan tugas Badan Otorita Borobudur, struktur organisasi BOB dan kerjasama BOB dengan pihak lain.

BAB III Pemasaran Oleh Badan Otorta Borobudur Dalam Pengembangan Kawasan Pariwisata Borobudur berisi tentang latar belakang Badan Otorita Borobudur, beserta menguraikan pemasaran yang telah dilakukan Badan Otorita Borobudur terhadap Kawasan Pariwisata Borobudur, metode pemasaran yang digunakan oleh BOB dan menguraikan kendala serta solusi yang dihadapi dalam pengembangkan Kawasan Pariwisata Borobudur.

BAB IV Penutup, berisi mengenai uraian kesimpulan dan saran yang membangun serta berman.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :