• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN AESTHETIC COMPONENT PASIEN MALOKLUSI DENGAN ASIMETRI POSTUR TUBUH PADA MAHASISWA FKG USU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN AESTHETIC COMPONENT PASIEN MALOKLUSI DENGAN ASIMETRI POSTUR TUBUH PADA MAHASISWA FKG USU"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN AESTHETIC COMPONENT PASIEN MALOKLUSI DENGAN ASIMETRI POSTUR

TUBUH PADA MAHASISWA FKG USU

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar sarjana Kedokteran Gigi

MUHAMMAD SHOLEH NIM: 130600108

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ortodonti Tahun 2019

Muhammad Sholeh

Gambaran Aesthetic Component pasien maloklusi dengan asimetri postur tubuh pada mahasiswa FKG USU.

x+ 61 Halaman

Maloklusi dapat memengaruhi respon pada otot tubuh bagian kepala, leher dan TMD. Beberapa studi juga melaporkan postur tubuh manusia mewakili posisi tubuh dan hubungan ruang antara berbagai segmen anatomi yang menjaga keseimbangan yang tepat pada kondisi statis dan dinamis sesuai dengan adaptasi terhadap lingkungan dan sasaran motorik. Perkembangan maloklusi dengan postur tubuh memiliki hubungan dengan oklusi sentrik dan tulang belakang bagian leher.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi Aesthetic Component mahasiswa FKG USU dengan asimetri postur tubuh. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif crossectional. Sampel penelitian ini adalah 80 mahasiswa FKG USU usia 18-25 tahun dengan asimetri postur tubuh yang belum pernah menerima perawatan ortodonti dan tidak memiliki riwayat trauma pada wajah maupun tulang belakang. Pengukuran tingkat kebutuhan perawatan maloklusi dilakukan menggunakan indeks IOTN dengan komponen Aesthetic Component (AC) dan pemeriksaan pemeriksaan asimetri postur tubuh dengan menggunakan skoliometer dengan cara Adam’s Forward Bending Test.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi Aesthetic Component (AC) untuk data frekuensi mahasiswa yang tidak membutuhkan perawatan ortodonti (nilai 1 – 4) adalah 92,6% (n=74). Frekuensi yang membutuhkan perawatan sedang (nilai 5 – 7) adalah 6,3% (n=5) dan frekuensi yang sangat membutuhkan perawatan yang tinggi adalah 1,3% (n=1). Dari 80 sampel yang diteliti, distribusi nilai Aesthetic

(3)

(n=34) mahasiswa FKG USU yang tidak butuh perawatan ortodonti, 2,5% (n=2) yang membutuhkan perawatan sedang dan 1,3% (n=1) yang sangat membutuhkan membutuhkan perawatan ortodonti. Untuk subjek perempuan, sebanyak 50,0%

(n=40) tidak membutuhkan perawatan ortodonti, 3,8% (n=3) membutuhkan perawatan sedang dan tidak ada mahasiswa perempuan yang membuthkan perawatan ortodonti yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa, subjek dengan asimetri postur tubuh tidak membutuhkan perawatan ortodonti berdasarkan IOTN.

Daftar Rujukan : 62 (1994-2017)

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 10 Januari 2019 Pembimbing Tanda Tangan

1. Dr. Ervina Sofyanti,drg.,Sp.Ort (K)

………

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 14 Januari 2019

TIM PENGUJI

KETUA : Dr. Ervina Sofyanti,drg.,Sp.Ort.(K) ANGGOTA : 1. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort.(K)

2. Nurhayati, drg., Sp.Ort.(K)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Esa yang telah memberikan berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Aesthetic Component pasien maloklusi dengan asimetri postur tubuh pada mahasiswa FKG USU” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Rasa hormat dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada orang tua tercinta, yaitu Syahrul Hamzah dan Elvia dan saudara Muhammad Khalil Zarghani yang selalu ada untuk mendukung dan mendoakan penulis dalam mengerjakan skripsi ini sehingga semakin termotivasi dalam pengerjaannya.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Dr. Trelia Boel, drg., Sp.RKG (K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K) sebagai ketua Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera Utara dan penguji yang telah memberikan saran dan masukan untuk penulis.

3. Aditya Rachmawati, drg., Sp.Ort., sebagai coordinator skripsi di Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera Utara.

4. Dr. Ervina Sofyanti, drg., Sp.Ort (K) sebagai pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga, motivasi dan kesabaran untuk membimbing, diskusi, dan member saran sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

5. Nurhayati, drg., Sp.Ort.(K) sebagai penguji yang telah memberikan saran dan masukan untuk penulis.

6. Nurdiana, drg., Sp.PM selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani program akademik.

7. Seluruh staf pengajar dan pegawai Departemen Ortodonsia Universitas

(7)

8. Teman dekat penulis, Amalia Khoiri yang selalu ada untuk membantu penulis dalam mengerjakan skripsi, serta memberikan semangat daan motivasi kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam mengerjakan juga menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman-teman seperjuangan dan seangkatan Van Baya Ginting, Arif Ahmad Pasaribu, Yudha Syah Agung Siregar, Muhammad Mulkan Nasution, Wihda yang sama-sama berjuang bersama penulis dalam mengerjakan skripsi, saling mensupport juga memotivasi satu sama lain dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman terkasih Fariza Yamami Rizal, Afrina Fadhilah, Annisya Ulfatma, Muhammad Rizki Fauzi, Hanny Anastasya Anshari, Nurul Anggraini, Rasyidah Sofriani Yusma, Putri Arum Nia, Intan Permata Sari dan Immanuel hutabarat yang selalu ada dalam membantu dan memberi semangat kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam menyusun skripsi ini.

11. Teman-teman di Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah saling membantu dan memberikan semangat, terutama untuk Jesslyn dan Keishini.

12. Teman-teman angkatan 2013 yang saling mendukung satu sama lain dalam pengerjaan skripsi, serta seluruh senior dan junior yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas dukungan dan semangat yang diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dan keterbatasan ilmu dalam skripsi ini. Namun dengan kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, pengembangan ilmu, dan masyarakat dibidang maloklusi dan postur tubuh.

Medan, 20 Januari 2019 Penulis

Muhammad Sholeh NIM: 130600108

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL

PERNYATAAN PERSETUJUAN

TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 4

1.5.2 Manfaat Praktis ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Maloklusi... 5

2.2 Indeks Penilaian Kebutuhan Perwatan Ortodonti ... 9

2.2.1 Peer Assesment Rating (PAR) ... 9

2.2.2 Dental Aesthetic Index (DAI) ... 9

2.2.3 Index of Complexibility, Outcome and Need (ICON) ... 11

2.2.4 Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) ... 13

2.2.4.1 Dental Health Component (DHC) ... 14

2.2.4.2 Aesthetic Component (AC) ... 16

2.3 Asimetri ... 27

2.3.1 Asimetri Wajah ... 27

2.3.1.1 Asimetri Dental ... 28

2.3.1.2 Asimetri Skeletal ... 29

2.3.1.3 Asimetri Jaringan Lunak ... 30

2.3.1.4 Asimetri Fungsional ... 30

2.3.2 Asimetri Postur Tubuh ... 31

(9)

2.3.2.2 Kifosis ... 32

2.3.2.3 Skiliosis ... 33

2.3.2.4 Pemeriksaan Asimetri Postur menggunakan Skoliometer ... 34

2.4 Persepsi Estetika Dental ... 35

2.5 Hubungan Maloklusi dengan Asimetri Postur Tubuh ... 35

2.5 KerangkaTeori... 37

2.6 KerangkaKonsep ... 38

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

3.3 Populasi dan Sampel ... 39

3.4 Sampel Penelitian ... 39

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 39

3.4.2 Kriteria Eksklusi... 40

3.4.3 Besar Sampel ... 40

3.5 Variabel Penelitian ... 40

3.6 Definisi Operasional... 41

3.7 Alat dan Bahan Penelitian ... 42

3.7.1 Alat Penelitian ... 42

3.7.2 Bahan Penelitian... 42

3.8 Prosedur Penelitian... 43

3.9 Pengolahan dan Analisis Data ... 45

3.10 Etika Peneltian ... 45

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 47

BAB 5 PEMBAHASAN ... 53

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 58 LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Grade DAI .….….….….….….….….….….….….….….……… 11

2. Grade susunan oklusal (Daniels dan Richmond 2000) ……… 12

3. Aesthetic Component. Tingkat Daya Tarik Gigi Pada Skala 1-10 ... 19

4. Definisi Operasional ... 41

5. Distribusi berdasarkan jenis kelamin ... 47

6. Distribusi frekuensi AC ... 48

7. Distribusi nilai AC berdasarkan jenis kelamin ... 49

8. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) ... 49

9. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan nilai AC (4 – 6) ... 50

10. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan grade AC (4 – 6) ... 50

11. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan nilai AC (7 – 9) ... 51

12. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan grade AC (7 – 9) ... 51

13. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan nilai AC (10 – 12) ... 51

14. Distribusi asimetri postur tubuh (Lumbal) berdasarkan grade AC (10 – 12) ... 52

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Maloklusi Klas I Angle ……… 5

2. Maloklusi Klas II Angle ...……… 6

3. Maloklusi Klas II Divisi I Angle .……… 6

4. Maloklusi Klas II Divisi I Angle ……… 7

5. Maloklusi Klas III Angle ……… 8

6. Overjet ……… 15

7. Openbite ……… 16

8. Overbite ……… 16

9. Foto Aesthetic Component ……… 17

10. Foto Intra Oral Frontal sebelum di edit ……… 22

11. Foto Intra Oral Frontal sesudah di edit ……… 22

12. Foto intra oral bukal kanan sebelum di edit ……… 23

13. Foto intra oral bukal Kiri sebelum di edit ……… 23

14. Foto intra oral bukal Kanan sesudah di edit ……… 24

15. Foto intra oral bukal Kiri sesudah di edit ……… 24

16. Foto Intra Oral Oklusal: rahang atas sebelum di edit ……… 25

17. Foto Intra Oral Oklusal: rahang bawah sebelum di edit ……… 25

18. Foto intra oral oklusal: rahang atas sesudah di edit ……… 25

19. Foto intra oral oklusal: rahang bawah sesudah di edit ……… 26

20. Asimetri Dental Pada Pasien Maloklusi Klas II ……… 29

21. Asimetri Skeletal ……… 30

22. Asimetri Postur Tubuh ……… 31

23. Skoliosis ……… 33

24. Alat Penelitian ……… 43

25. Penggunaan Skoliometer ……… 44

26. Intra Oral Photography ……… 45

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian 2. Lembar persetujuan (Informed Consent)

3. Kuesioner

4. Rincian biaya penelitian 5. Data hasil penelitian 6. Hasil Uji Statistik 7. Ethical Clearance

(13)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang ortodonti telah berkembang dengan pesat meliputi aspek tumbuh kembang. Perawatan ortodonti yang bersifat interdisiplin dan multidisiplin memberi kemajuan yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan estetika yang berkaitan dengan keseimbangan dinamis.

Maloklusi diduga memiliki relevansi yang erat dengan perubahan postur tubuh.1 Maloklusi berkaitan dengan estetika dan keseimbangan fungsi serta memiliki prevalensi sebesar 80% dari jumlah penduduk.2

Istilah ketidakteraturan bentuk gigi dan susunan gigi yang tidak rapi, dikenal dengan istilah maloklusi, didefinisikan sebagai anomali yang mengakibatkan gangguan fungsi. Gangguan fungsi ini dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik atau emosional pasien. Maloklusi dan pengaruhnya terhadap gangguan fungsi mulut dan estetika wajah telah menjadi perhatian besar di bidang kesehatan.3,4 Etiologi maloklusi menurut Graber terdiri atas faktor umum dan lokal. Faktor umum adalah faktor yang bukan berasal dari gigi seperti, keturunan, kongenital, lingkungan, malnutrisi, kebiasaan buruk, postur, dan trauma. Faktor lokal adalah faktor yang terjadi dari gigi seperti anomali jumlah gigi, anomali ukuran gigi, anomali pada bentuk gigi, abnormal pada frenulum labial, premature loss, erupsi gigi permanen lambat, ankylosis, karies, dan restorasi dental yang tidak baik.5

Beberapa aspek dari kondisi sistem stomatognati telah ditemukan adanya keterkaitan erat dengan perubahan postur. Maloklusi dapat mempengaruhi respon pada otot tubuh pada bagian kepala, leher dan TMD.6 Beberapa studi melaporkan postur tubuh manusia mewakili posisi tubuh dan hubungan ruang antara berbagai segmen anatomi yang menjaga keseimbangan pada kondisi statis dan dinamis (fungsi anti-gravitasi otot) sesuai dengan adaptasi terhadap lingkungan dan sasaran motorik.

Terlihat adanya korelasi positif antara oklusi sentrik dan tulang belakang bagian leher

(14)

(C2-C7) terhadap perkembangan maloklusi dengan postur tubuh.7 Penelitian yang dilakukan oleh Perinetti dkk (2010) terhadap 122 responden dengan rentang usia 10,8 hingga 16,3 tahun menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan disebabkan variabilitas postur tubuh dan maloklusi yang dinilai.6 Penelitian Alwarawreh dkk (2014) terhadap 952 anak-anak (234 laki-laki, 718 Perempuan) usia 12-15 tahun dari sekolah dasar di kota Karak, di selatan Yordania antara September 2013 - Februari 2014 melaporkan bahwa Dental Health Component (DHC) dari Indeks of Orthodontic Treatment Need (IOTN) dan gangguan postur tubuh terbukti memiliki hubungan.8 Penelitian Neiva dkk, mengatakan perubahan postur berhubungan dengan Temporomandibular Disorder (TMD). Penelitian yang dilakukan pada 37 responden (13 pria dan 24 perempuan), melaporkan bahwa maloklusi, gangguan pada TMD, dan sistem stomatognati memiliki hubungan yang timbal balik dengan perkembangan asimetri postur tubuh.9

Gangguan ketidakseimbangan muskuloskeletal sering terjadi pada populasi, terutama yang berhubungan dengan tulang belakang. Huggare dkk (1991) menemukan bahwa anak-anak dipengaruhi oleh skoliosis memiliki lebih banyak maloklusi klas II Angle dan crossbite. Penelitian Lippold dkk (2003) pada anak prasekolah menunjukkan insiden tinggi maloklusi klas II Angle pada anak-anak yang mengalami skoliosis. Bassat dkk melakukan penelitian di kota Yerusalem pada 79 pasien perempuan dan 17 laki-laki usia remaja (rerata usia 13,9 ± 3,5 tahun) dan mendapatkan karakteristik oklusi yang berbeda pada pasien skoliosis dengan pasien yang memiliki postur tubuh normal. Pasien dengan skoliosis menunjukkan risiko asimetri hubungan molar arah transversal yang lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa skoliosis.10

Perawatan ortodonti dapat meningkatkan nilai estetik dan psikologi sosial.

Perawatan ortodonti telah menjadi salah satu bagian integral pada kesehatan mulut dan menjadi informasi dasar dalam perawatan maloklusi.10 Terdapat berbagai macam metode yang telah diterapkan untuk mengukur tingkat kebutuhan perawatan maloklusi. Salah satunya adalah Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), yang

(15)

dikemukakan oleh Brook dan Shaw dan dimodifikasi oleh Richmond pada tahun 1989. Indeks ini telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional sebagai metode yang sederhana, reliable dan valid, secara objektif menilai kebutuhan akan perawatan.11 Kemudian ada metode Index of Complexity, Outcome and Need untuk mengukur tingkat keparahan maloklusi dan hasil perawatan. Metode tersebut lebih signifikan di banding indeks kebutuhan perawatan lainnya. Skor ICON ini didasarkan dari pendapat 97 ahli ortodonti internasional di 9 Negara. Fox dkk (2002) menemukan korelasi yang signifikan antara IOTN dan ICON sehubungan dengan kebutuhan perawatan maloklusi.12

IOTN terdiri dari 2 komponen, yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). AC menilai persepsi seseorang tentang penampilan gigi- geligi pasien melalui penilaian berdasarkan fotografi, dimana terdapat 10 skala penilaian yang menunjukan tingkatan penampilan gigi-geligi yang secara estetik terlihat paling menarik. DHC menilai beberapa jenis maloklusi seperti overjet, overbite, openbite, crossbite, crowding, erupsi palatal yang terhalang, celah bibir atau palatal, serta hipodonsia.13,14 AC dapat dipakai sebagai tambahan jika index kebutuhan perawatan masih belum dapat ditentukan dengan DHC. Aesthetic Component dari IOTN dapat mewakili keadaan estetika dental seseorang sebelum dilakukan perawatan ortodonti.14

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran aesthetic component mahasiswa FKG USU dengan asimetri postur tubuh, yang berkaitan dengan gangguan estetika, sehingga menjadi alasan utama bagi subjek remaja dan dewasa muda dalam mencari perawatan, termasuk perawatan maloklusi dan gangguan postur tubuh. Oleh karena itu, dengan penilaian Aesthetic Componet (AC) diharapkan dapat menjadi suatu pertimbangan awal dalam melakukan rencana perawatan, termasuk ortodonti dan ortopedi pada remaja.

(16)

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana distribusi gambaran Aesthetic Component (AC) pasien maloklusi dengan asimetri postur tubuh pada mahasiswa FKG USU ?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui distribusi gambaran Aesthetic Component (AC) mahasiswa FKG USU dengan asimetri postur tubuh.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Hasil penelitian ini diharapkan memberi informasi mengenai gambaran maloklusi pada subjek dengan asimetri postur tubuh.

2. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai penelitian dasar untuk penelusuran faktor etiologi yang berkaitan dengan postur tubuh terhadap pasien maloklusi.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Hasil penelitian ini diharapkan memberi kontribusi terhadap diagnosis, rencana perawatan dan perawatan pada pasien ortodonti.

2. Hasil penelitian ini diharapkan memberi informasi mengenai kondisi postur dan keadaan anomali dari penilaian IOTN.

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mencegah perawatan yang kompleks pada pasien ortodonti 18 – 25 tahun.

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Maloklusi

Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi dan atau malrelasi antara rahang atas dan rahang bawah.3,4,11 Maloklusi sebenarnya bukan suatu penyakit tetapi bila tidak dirawat dapat menimbulkan gangguan pada fungsi pengunyahan, penelanan, bicara, dan keserasian wajah yang berakibat pada gangguan fisik maupun mental.4,15-17 Maloklusi memiliki dampak yang besar terhadap individu dan lingkungan sosial dalam hal kenyamanan, kualitas hidup, keterbatasan sosial dan fungsi.4,18

1. Maloklusi Klas I

Rahang bawah terletak pada relasi mesiodistal yang normal terhadap rahang atas. Posisi cusp mesiobukal molar satu rahang atas beroklusi dengan groove bukal molar satu permanen rahang bawah dan cusp mesiolingual molar satu permanen rahang atas beroklusi dengan fossa oklusal molar satu permanen rahang bawah ketika rahang dalam posisi istirahat dan gigi dalam keadaan oklusi sentrik (Gambar 1).19-21 Maloklusi Klas I menggambarkan hubungan skeletal yang normal dan fungsi otot yang normal. Walaupun maloklusi Klas I Angle memiliki hubungan molar yang normal tetapi oklusinya bisa menjadi tidak tepat disebabkan malposisi gigi, rotasi gigi, proklinasi, gigitan terbuka anterior, crowding, spacing dan lain sebagainya19-21

Gambar 1. Maloklusi Klas I Angle22

(18)

2. Maloklusi Klas II

Hubungan mesiodistal pada lengkung gigi tidak normal dengan seluruh gigi rahang bawah lebih posterior menciptakan ketidakharmonisan dengan gigi insisivus atas dan garis wajah. Tonjol mesiobukal molar pertama rahang atas beroklusi dengan ruang diantara tonjol mesiobukal molar pertama rahang bawah dan dengan bagian distal premolar dua rahang bawah. Selain itu, tonjol mesiolingual molar pertama permanen rahang atas beroklusi lebih ke mesial dari tonjol mesiolingual premolar pertama permanen rahang bawah.21,22

Gambar 2. Maloklusi Klas II Angle22

a. Klas II divisi 1

Maloklusi Klas II divisi 1 memiliki karakteristik dengan adanya proklinasi atau labioversi gigi insisivus rahang atas, sehingga overjet meningkat. Maloklusi ini juga menunjukkan adanya aktivitas otot yang abnormal, fungsi bibir abnormal, obstruksi nasal dan pernafasan melalui mulut. 19,21

Gambar 3. Maloklusi Klas II divisi 1 Angle21

(19)

b. Klas II divisi 2

Maloklusi Klas II divisi 2 memiliki hubungan molar Klas II dengan karakteristik maloklusi ini adalah adanya inklinasi lingual atau linguoversi gigi insisivus sentralis rahang atas dan insisivus lateral rahang atas yang lebih ke labial ataupun mesial (Gambar 4).19,21 Pasien akan menunjukkan overbite anterior yang berlebih (deep overbite). Bibir biasanya kompeten dengan garis bibir biasanya lebih tinggi daripada normal (high lip line), bibir bawah menutupi insisivus atas lebih dari setengah insisivus atas.20,21

Gambar 4. Maloklusi Klas II divisi 2 Angle21

3. Maloklusi Klas III

Cusp mesiobukal molar satu permanen rahang atas beroklusi lebih ke distal terhadap groove mesiobukal molar satu permanen rahang bawah atau sebaliknya groove bukal molar satu permanen rahang bawah beroklusi lebih ke mesial terhadap cusp mesiobukal molar satu permanen rahang atas (Gambar 5).19,21 Selain itu, jika molar satu permanen rahang bawah memiliki posisi lebih ke anterior daripada molar satu permanen rahang atas juga disebut sebagai maloklusi Klas III.25 Maloklusi ini dapat disebabkan adanya maksila yang kecil dan sempit sedangkan mandibula dalam batas normal.21

(20)

Gambar 5. Maloklusi Klas III Angle22

Indeks oklusal telah banyak digunakan sebagai metode untuk mencapai evaluasi yang lebih seragam terhadap kebutuhan perawatan ortodonti selama bertahun-tahun. Beberapa indeks telah dikembangkan untuk mengkategorikan maloklusi ke dalam kelompok sesuai dengan tingkat kebutuhan perawatan.23

Beberapa indeks oklusi yang sudah dapat diterapkan, merupakan suatu alat penilaian yang objektif seperti indeks yang dikemukakan oleh Van Kirk & Pennell (1959), Poulton & Aaronson (1961), Bjork dkk. (1964), Summers (1971). Indeks- indeks ini dibuat dengan membagi oklusi menjadi komponen-komponen yang lebih penting, seperti susunan berjejal, celah, hubungan antero-posterior, besar overjet dan overbite insisal, malposisi gigi tunggal dan lainnya. Setiap komponen dianalisis terpisah, menggunakan kriteria yang didefinisikan dengan cermat, dan bila mungkin, menggunakan ukuran yang sesungguhnya.3

Oklusal indeks yang umum digunakan untuk menilai kebutuhan perawatan ortodonti antara lain: Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), Dental Aesthetic Index (DAI), Peer Assesment Rating (PAR) dan Index of Complexity, Outcome and Need (ICON). ICON dan PAR lebih sering digunakan untuk menilai hasil perawatan.

Dalam beberapa segi, indeks IOTN, DAI dan ICON memiliki kesamaan, kegunaannya menilai dua komponen morfologis dan estetika. Ketiga indeks tersebut mengukur sifat yang sama seperti overjet, reverse overjet, openbite, overbite, hubungan molar antero-posterior, dan pergeseran gigi. Perbedaannya pada indeks IOTN, analisis komponen estetika dipisahkan dari komponen kesehatan gigi.12,14,18,19,24

(21)

2.2 Indeks Penilaian Kebutuhan Perawatan Ortodonti 2.2.1 Peer Assesment Rating (PAR)

Indeks PAR adalah indeks kuantitatif oklusal yang mengukur berapa banyak penyimpangan oklusi pasien dari keseimbangan oklusi normal. Indeks ini dirancang untuk mengukur keberhasilan atau hasil dari perawatan ortodontik dengan membandingkan keparahan oklusi sebelum dan sesudah perawatan.25

Indeks PAR memiliki lima komponen, yaitu:

1. Segmen anterior atas dan bawah. Grade yang dicatat untuk keseimbangan kedua segmen anterior atas dan bawah. Hal yang dicatat berupa crowding, spacing dan impacted teeth.

2. Buccal occlusion. Oklusi bukal dicatat untuk kedua sisi kiri dan kanan.

Daerah yang dicatat dari kaninus sampai ke molar terakhir. Pengukuran penyimpangan dilakukan pada saat gigi berada dalam keadaan oklusi.

3. Overjet. Hal yang dicatat berupa overjet yang positif dan jarak insisal gigi insisivus yang prominent. Contoh: jika dua gigi insisivus lateral yang berada di posisi crossbite sementara gigi insisivus sentral dengan overjet meningkat menjadi 4 mm, Grade 3 untuk crossbite dan 1 untuk overjet positif, maka Grade totalnya adalah 4.

4. Overbite.

5. Analisis garis median. Perbedaan centreline antara midline gigi atas dan bawah dicatat dalam kaitannya dengan gigi insisivus bawah. Nilai individu dihitung pada masing-masing komponen dan dikalikan dengan bobot masing-masing komponen. Grade dijumlahkan untuk mendapatkan Grade total yang mewakili tingkat kasus yang menggambarkan sejauh mana penyimpangan dari oklusi normal.25

2.2.2 Dental Aesthetic Index (DAI)

Dental Aesthetic Index (DAI) merupakan salah satu indeks untuk mengidentifikasi ciri oklusal yang menyimpang dan telah digunakan WHO sebagai indeks antar-budaya. Indeks ini terdiri dari 10 ciri-ciri keadaan oklusal yang menyimpang, yaitu: overjet, underjet/overbite, gigi yang hilang, diastema, anterior

(22)

openbite, gigi anterior yang berjejal, anterior spacing, maloklusi anterior yang parah (mandibula dan maksila), serta hubungan anteroposterior gigi molar. Kriteria penilaian terhadap 10 ciri-ciri keadaan oklusal di atas adalah sebagai berikut :11-14

1. Gigi insisivus, kaninus dan premolar yang hilang : jumlah gigi permanen tersebut dihitung dan dicatat.

2. Gigi berjejal pada segmen insisivus : kedua segmen insisivus atas dan bawah harus diperiksa. Hal tersebut dicatat berdasarkan: 0 = jika tidak ada gigi berjejal, 1 = salah satu segmen ada yang berjejal, 2 = kedua segmen berjejal.

3. Spacing pada segmen insisivus : kedua segmen insisivus atas dan bawah harus diperiksa. Hal tersebut dicatat berdasarkan : 0 = jika tidak ada spacing, 1 = salah satu segmen ada spacing, 2 = kedua segmen ada spacing.

4. Diastema: midline diastema diartikan celah di antara dua gigi insisivus permanen maksila pada posisi normal kontak poin.

5. Maloklusi yang besar pada gigi-geligi anterior maksila berupa : salah satu gigi rotasi, atau pergeseran gigi dari susunan gigi yang normal. Keempat gigi insisivus pada lengkung maksila harus diperiksa untuk menentukan lokasi maloklusi terbesar.

6. Maloklusi yang besar pada gigi-geligi anterior mandibula. Hal yang diperiksa sama dengan di atas, namun gigi yang diperiksa adalah pada mandibula.

7. Overjet anterior maksila.

8. Overjet anterior mandibula: overjet pada mandibula dicatat ketika gigi insisivus bawah lainnya pada keadaan crossbite.

9. Openbite anterior.

10. Hubungan anteroposterior gigi molar: kedua sisi kiri dan kanan dinilai pada keadaan oklusi dan hanya penyimpangan hubungan molar terbesar yang dicatat. Kode yang digunakan: 0 = normal, 1 = setengah cusp, 2 = satu cusp.

11. Perhitungan grade DAI: rumus persamaan untuk menilai grade DAI adalah:

(gigi yang hilang x 6) + (gigi berjejal) + (spacing) + (diastema x 3) + (Maloklusi yang besar pada gigi-geligi anterior maksila) + (Maloklusi yang besar pada gigi-

(23)

mandibula x 4) + (Openbite anterior x 4) + (Hubungan anteroposterior gigi molar x 3) + 13.Keparahan maloklusi dan kebutuhan perawatan dapat dilihat pada (Tabel 1).

Tabel 1. Keparahan maloklusi dan kebutuhan perawatan berdasarkan grade DAI.23,26

Keparahan Maloklusi Indikasi Perawatan Grade DAI Tidak ada kelainan atau

maloklusi minor

Tidak atau sediki membutuhkan perawatan

<25

Maloklusi yang nyata Perawatan pilihan 26-30

Malolusi yang parah Keperluan yang tinggi 31-35 Maloklusi yang sangat

parah

DIharuskan >35

2.2.3 Index of Complexity, Outcome and Need (ICON)

Index of Complexity, Outcome and Need (ICON) ini telah dikembangkan dan digunakan untuk mengevaluasi kompleksitas perawatan ortodonti. ICON didasarkan pada penilaian subjektif dari 97 ortodonti dari 9 negara. ICON ini terdiri dari lima komponen (Tabel 5) :12,25

1. Aesthetic Component (AC): yang digunakan adalah komponen estetika dari IOTN. Setelah Grade diperoleh, kemudian dikalikan dengan bobot 7.

2. Crossbite: jika ditemukan hubungan antar gigi cusp to cusp atau lebih buruk lagi di segmen bukal. Ini termasuk bukal dan lingual crossbite dari satu atau lebih gigi dengan atau tanpa perpindahan mandibula.

3. Hubungan vertikal anterior: Sifat ini termasuk openbite (tidak termasuk kondisi pertumbuhan) dan deep bite. Jika kedua ciri dijumpai, hanya grade yang tertinggi yang dicatat dan dihitung.

4. Lengkung gigi atas berjejal / spacing: Jumlah mesio-distal mahkota gigi- geligi dibandingkan dengan lingkar lengkung yang tersedia.

5. Hubungan antero-posterior segmen bukal: dinilai sesuai dengan tabel 5 untuk setiap sisi secara bergantian, kemudian nilai keduanya ditambahkan.

(24)

6. Perhitungan nilai akhir : setelah semua nilai telah diperoleh dan dikalikan dengan bobot masing-masing, kemudian ditambahkan untuk menghasilkan ringkasan grade akhir.

Skor total awal yang diperoleh merupakan gambaran kompleksitas dan kebutuhan perawatan. Skor di atas 43 menunjukkan adanya kebutuhan perawatan pada kasus tersebut. Skor derajat kompleksitas perawatan dapat dibaca sebagai berikut:27

 Mudah : < 29

 Ringan : 29-50

 Moderate : 51-63

 Sukar : 64-77

 Sangat sukar : > 77

Setelah selesai perawatan kasus tersebut diskor lagi dan perbedaan skor

sebelum dan sesudah perawatan menunjukkan hasil perawatan yang dinyatakan dengan rumus:

“Derajat perbaikan = skor sebelum perawatan – (4 x skor sesudah perawatan)”

Keberhasilan perawatan digolongkan sebagai berikut:27

 Terjadi perubahan yang besar : > - 1

 Sangat berubah : -25 sampai -1

 Cukup berubah : -53 sampai -26

 Sedikit berubah : -85 sampai -54

 Tidak berubah atau jadi jelek : < -85

Tabel 2. Protokol pemberian grade susunan oklusal (Daniels dan Richmond 2000)28

Grade 0 1 2 3 4 5

Estetik 1-10 mengguna kanACdari IOTN

(25)

Berjejal pada leng- kung gigi rahang atas

Grade tertinggi dari spacing atau gigi berjejal

<2 mm 2,1 - 5 mm

5,1 -9 mm

9,1 - 13 mm

13,1 – 17 mm

>17 mm atau gigi impaksi

Spacing pada leng- kung gigi rahang atas

Transversal ≤2 mm 2,1 – 5 mm

5,1 –

9 mm >9 mm

Cross- bite

Hubungan cusp to cusp atau lebih

Tidak ada cross- bite

Cross -bite

Openbite Grade Gigitan <1 mm 1,1 - 2 mm

2,1-4

mm >4 mm 2.2.4 Index Of Orthodontic Treatment Need (IOTN)

Index of Ortodontic Treatment Need (IOTN) telah mendapat pengakuan secara internasional sebagai metode untuk mengukur kebutuhan perawatan secara objektif.

Terdapat dua komponen dalam IOTN, yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC).11,13,14,26

Hassan (2006) mengatakan bahwa indeks IOTN merupakan alat ukur yang valid yang dapat digunakan pada perawatan ortodonti.24

IOTN juga berguna untuk menilai prevalensi dan keparahan maloklusi pada penelitian epidemiologi. Pada penelitian Tung dan Kiyak (1998) disebutkan bahwa prevalensi perempuan terhadap penampilan wajahnya lebih besar dibandingkan laki- laki berdasarkan indeks IOTN.29 Ertugay dkk (2001) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui besarnya kebutuhan anak-anak sekolah di Turki terhadap kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan indeks IOTN, terlihat bahwa terdapat kebutuhan perawatan ortodonti yang tinggi pada anak anak sekolah di Turki.29

Burden (2001) menyebutkan bahwa laki-laki lebih memerlukan kebutuhan perawatan ortodonti dibandingkan perempuan berdasarkan indeks IOTN. Berbeda dengan penelitian Burden, Zahid (2010) mengatakan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan indeks IOTN.29

(26)

Penelitian Alkhatib dkk (2005) di London yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh etnis terhadap kebutuhan perawatan ortodonti dengan menggunakan IOTN mendapatkan hasil bahwa tidak ada pengaruh etnis terhadap kebutuhan perawatan ortodonti.30 Hal yang sama juga diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya oleh Mandall dkk (2000) yang mengatakan bahwa etnis tidak berpengaruh terhadap kebutuhan perawatan ortodonti.30

2.2.4.1 Dental Health Component (DHC)

Dental Health Component memiliki lima kategori penilaian. Skor 1 menunjukkan bahwa subjek tidak memerlukan perawatan ortodonti, sedangkan skor 5 menunjukkan bahwa subjek sangat memerlukan perawatan ortodonti. Tiap tingkatan disertai subdivisi sesuai ciri yang ditemukan, dimana sub divisi tersebut menunjukkan tipe occlusal discrepancy. Penilaian diambil dari studi model dan dilakukan oleh ahli ortodonti.29

Adapun pengukuran yang dilakukan pada Dental Health Component meliputi pengukuran overjet, overbite, gigitan silang (cross bite), gigitan terbuka (open bite), gigitan terbalik (reverse overjet), hypodontia, celah bibir dan palatum (defect of cleft lip and palate), dan impeded eruption teeth. Pada Dental Health Component, ciri dari identifikasi oklusi yang paling parah menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan akan perawatan.29

Overjet adalah jarak antara tepi insisal gigi insisivus rahang atas dengan permukaan labial dari gigi insisivus rahang bawah yang diukur secara horizontal.

Pada Dental Health Component, overjet ditandai dengan sub-divisi “a” (Gambar 6).

(27)

Gambar 6. Overjet22

Reverse overjet adalah jarak antara tepi insisal gigi insisivus rahang atas dengan gigi insisivus rahang bawah jika insisivus rahang atas oklusi dengan permukaan lingual insisivus rahang bawah. Gigitan terbalik ditandai dengan subdivisi “b”.

Gigitan silang (crossbite) merupakan hubungan abnormal dalam arah labiolingual atau bukolingual yang melibatkan satu gigi atau lebih terhadap satu gigi atau lebih pada rahang yang berlawanan. Anterior Crossbite atau posterior crossbite ditandai dengan subdivisi “c”. Pergeseran gigi adalah gigi yang gagal menempatkan diri di dalam posisi yang normal pada lengkung gigi. Pada Dental Health Component, pergeseran gigi ditandai dengan subdivisi “d”.31

Gigitan terbuka (open bite) adalah tidak adanya kontak vertikal antara gigi di rahang atas dengan gigi di rahang bawah, terbagi atas anterior open bite dan posterioropen bite, yang ditandai dengan subdivisi “e” (Gambar 7).

Gambar 7. Openbite21

(28)

Overbite adalah jarak antara tepi insisal rahang atas terhadap tepi insisal rahang bawah yang diukur secara vertikal,31 yang ditandai dengan subdivisi “f” (Gambar 8).

Gambar 8. Overbite22

Hypodontia adalah kurang atau tidak lengkapnya gigi di dalam deretan lengkung gigi, yang ditandai dengan subdivisi “h”. Supernumerary teeth dimasukkan ke dalam kategori 4 dengan sub divisi “x”.

2.2.4.2 Aesthetic Component (AC)

Aesthetic Component adalah komponen dari Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) yang digunakan untuk melihat kebutuhan perawatan ortodonti dengan menggunakan foto intraoral, terdiri dari 10 skala foto berwarna yang disusun menjadi dua kolom, yang menunjukkan keadaan dental dengan tingkat yang berbeda.

Penilaian Aesthetic Component dilakukan secara subjektif, dapat dilakukan oleh orang awam atau ortodonti dan tidak dipengaruhi oleh warna dental, oral hygiene maupun kondisi gingival.29,32

(29)

Gambar 9. Foto Aesthetic Component32

Pada umumnya, ada dua cara untuk melakukan pemeriksaan Aesthetic Component, yaitu dengan menggunakan kaca atau kamera. Cheek retractor dipasangkan pada mulut, kemudian sampel diminta untuk melihat keadaan rongga mulut melalui kaca atau dapat juga difoto dengan menggunakan kamera. Kemudian sampel diminta untuk mengidentifikasi foto mana dari Aesthetic Component yang paling mendekati keadaan rongga mulut sampel pada bagian anterior.24,31

Nilai 1 menunjukkan susunan gigi yang paling baik, sedangkan nilai 10 menunjukkan susunan gigi yang paling tidak baik. Hasil dari pemeriksaan Aesthetic Component dapat dibagi menjadi 3 kategori penilaian, nilai 1 - 4 menunjukkan sedikit atau tidak butuh perawatan, nilai 5 - 7 menunjukkan kebutuhan perawatan sedang dan nilai 8 - 10 menunjukkan kebutuhan perawatan tinggi. Pada penggunaannya, Dental Health Component tidak dapat mendukung hasil penilaian Aesthetic Component, akan tetapi hasil dari Aesthetic Component dapat mendukung hasil dari Dental Health Component. Aesthetic Component ini mudah digunakan, dengan cara skor didapatkan melalui penilaian subjektif dan Aesthetic Component ini dapat memberikan edukasi pasien atau masyarakat.23,26

(30)

Penilaian Aesthetic Component berkaitan erat dengan persepsi. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN. Al Sarheed dkk (2003) menyebutkan bahwa persepsi seseorang tentang kebutuhan perawatan ortodonti dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin serta latar belakang sosial ekonomi. Akan tetapi berbeda dengan penelitian Abdullah (2004) dan Hedayati (2007) tentang kebutuhan perawatan ortodonti mengatakan bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap persepsi seseorang. Dalam penelitian Al Khatib (2005) dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap kebutuhan perawatan ortodonti dapat berbeda dengan orang lain, yang mungkin dipengaruhi oleh kultural dan lingkungan sosial.29

Aesthetic Component dari IOTN juga digunakan dalam beberapa penelitian untuk melihat bagaimana persepsi individu terhadap masalah estetika dental.

Mugonzibwa dkk (2004) melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar persepsi anak-anak Tanzania terhadap susunan gigi dan didapat hasil bahwa sebagian besar anak-anak tersebut merasa tidak senang terhadap ketidakteraturan susunan gigi geligi di rongga mulut.35 Flores dan Major (2004) mengatakan penampilan atau bentuk susunan gigi, terutama di bagian anterior dapat menjadi faktor yang mempengaruhi penilaian atau persepsi seseorang terhadap masalah estetika dental berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN. Hedayati (2007) juga menyebutkan bahwa orang tua lebih memperhatikan estetika dental anak perempuan dibandingkan anak laki-lakinya.26

Aesthetic Component dari IOTN dapat mewakili keadaan estetika dental seseorang sebelum dilakukan perawatan ortodonti. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat perbandingan persepsi estetika dental antara orang awam dengan pengguna perawatan ortodonti berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan Albarakati dan Trivedi dkk.13,23 Albarakati (2001) meneliti perbandingan persepsi estetika dental antara orang awam dengan pengguna ortodonti di Arab Saudi, berdasarkan Aesthetic Component dengan subjek penelitian pasien di salah satu rumah sakit terlihat perbedaan yang sangat

(31)

India, Trivedi dkk (2011) meneliti perbandingan persepsi estetika dental antara orang awam dengan pengguna ortodonti berdasarkan Aesthetic Component, dengan subjek penelitian mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran gigi dan diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara orang awam dengan ortodonti.13

Berdasarkan penelitian Albarakati dan Trivedi dkk.di atas, subjek penelitian diminta langsung menilai keadaan dentalnya dengan cara mengidentifikasi foto dari skor Aesthetic Component yang paling mendekati keadaan gigi anterior mereka.

Adapun hasil yang didapat dari kedua penelitian tersebut adalah sebagian besar subjek cenderung menilai keadaan giginya lebih baik dari keadaan yang sebenarnya, sehingga didapatkan hasil pengukuran yang tidak akurat.14,23

Tabel 3. Aesthetic component: Tingkat Daya Tarik Gigi Pada Skala 1 - 10

Skor Kebutuhan Perawatan

1 dan 2 Tidak perlu

3 dan 4 Sedikit perlu

5, 6, dan 7 Kebutuhan sedang

8, 9, dan 10 Sangat perlu

Keberadaan fotografi terutama yang berwarna sangat bermanfaat dalam memberi gambaran pada pasien dengan lebih jelas mengenai kondisi giginya. Pada bidang ortodonti dikenal 2 macam foto klinis yaitu foto intraoral dan foto ekstraoral.

Foto intraoral adalah foto yang mencakup rongga mulut pasien, sedangkan foto ekstraoral merupakan foto yang mencakup kepala dan rahang pasien. Menurut Samawi (2008), foto klinis yang dibuat minimal adalah 4 foto ekstraoral dan 5 foto intraoral. Masing-masing foto sebaiknya dibuat pada awal perawatan, selama perawatan dan setelah perawatan sehingga nantinya dapat dibandingkan untuk melihat perubahan yang telah dicapai.34

Perawatan ortodonti berbeda dengan perawatan gigi yang lain. Perawatan dental lain seperti restorasi, periodonsia, ekstraksi dan lain-lain umumnya tidak

(32)

membutuhkan waktu yang panjang, terkadang hanya satu kali kunjungan ke dokter gigi telah selesai. Akan tetapi perawatan ortodonti membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang, bahkan sampai 1 - 2 tahun atau lebih, sehingga kondisi awal seringkali tidak diingat secara detail.

Semakin meningkatnya jumlah pasien ortodonti juga mengakibatkan jumlah pasien yang mungkin mengajukan keluhan juga bertambah. Keluhan pasien mungkin saja bukan akibat perawatan yang diberikan tetapi mungkin sudah ada sejak sebelum perawatan. Akan tetapi tidak semua klinisi melakukan dokumentasi terhadap perawatan terutama dalam pembuatan foto klinis, ataupun foto klinis yang ada kurang memadai. Penelitian di Inggris menunjukkan hanya 48% dokter gigi yang membuat foto klinis.35 Tujuan penulisan ini adalah untuk mengemukakan bagaimana pembuatan foto klinis intra dan ekstraoral yang baik untuk pencatatan di bidang ortodonti dapat menjadi bahan komunikasi antara klinisi dan pasien.

a. Foto ekstraoral

Foto ekstraoral relatif lebih mudah dibuat daripada intraoral. Posisi pasien dan klinisi perlu diperhatikan untuk memperoleh foto ekstraoral yang baik. Empat foto ekstraoral yaitu foto wajah frontal, foto wajah tersenyum, foto profil, dan foto profil 45o akan memberi informasi maksimum tentang wajah, jaringan lunak, proporsi dan estetik senyum. Foto wajah frontal dengan bibir dalam posisi istirahat biasanya yang pertama dibuat dan yang paling mudah diambil. Wajah dan leher pasien terlihat dengan batas tepi yang sesuai. Pasien berdiri dengan kepala pada posisi NHP (Natural head position), mata melihat lurus ke kamera. Pasien pada posisi istirahat dan bibir menutup dengan santai (bila bisa). Posisi kepala diusahakan tidak miring, foto diambil 90o terhadap garis tengah wajah dengan garis pupil datar. Latar belakang sebaiknya polos, dapat berupa putih atau gelap.33 Pada bidang ortodonti, foto frontal digunakan untuk menentukan morfologi tipe wajah, pemeriksaan proporsional wajah, pemeriksaan kesimetrian wajah, dan pemeriksaan keadaan bibir pasien.

Foto wajah tersenyum dibuat dengan cara yang sama dengan pembuatan foto frontal, tetapi pasien diminta tersenyum dengan bagian gigi terlihat. Foto ini

(33)

Apabila diperlukan, dapat diperjelas dengan foto frontal dengan pasien tersenyum lebar untuk melihat derajat paparan gingiva rahang atas.36

b. Foto intraoral

Ada paling tidak 5 foto intraoral yang perlu dibuat yaitu: foto frontal, foto bukal kanan dan kiri, foto oklusal rahang atas dan bawah. Foto frontal dan oklusal dibuat saat pasien menggigit dalam posisi sentrik. Pada pembuatan foto intraoral diperlukan pemakaian cheek retcractor dan cermin intraoral.37

Foto frontal biasanya dibuat pertama kali. Pasien dapat duduk dengan posisi yang nyaman pada dental chair setinggi siku operator. Kemudian klinisi berdiri dibelakang pasien dan memasangkan cheek retractor bertujuan untuk menarik bibir pasien ke samping sehingga memberi jarak antara gigi atau gingiva dengan bibir.

Penggunaan cheek retractor di perlukan untuk mendapatkan visualisasi maksimum semua gigi dan alveolar ridge. Foto dibuat 90° terhadap garis tengah wajah dengan berpedoman pada perlekatan frenulum. Pemakaian ring flash akan sangat membantu agar didapatkan gambaran tanpa bayangan terutama pada bagian terdalam rongga mulut dan vestibulum bukal.34

Gambar 10. Foto Intraoral Frontal sebelum diedit42

(34)

Gambar 11. Foto Intraoral Frontal sesudah diedit42

Foto oklusi bukal kanan dibuat dengan memanfaatkan cheek retractor yang kecil. Pasien diminta sedikit menoleh ke kiri sehingga bagian kanan menghadap klinisi. Retraktor kanan ditarik sampai gigi molar terakhir terlihat. Foto dibuat 90°

terhadap gigi pada area kaninus-premolar, sehingga relasi segmen bukal dapat terlihat. Foto oklusi bukal kiri dibuat dengan cara hampir sama dengan foto oklusi bukal kanan. Pasien diminta sedikit menoleh ke kanan sehingga gigi bagian kiri dapat terlihat lebih jelas.34

Gambar 12. Foto intraoral bukal kanan sebelum diedit42

(35)

Gambar 13. Foto intraoral bukal Kiri sebelum diedit42

Gambar 14. Foto intraoral bukal Kanan sesudah diedit42

Gambar 15. Foto intraoral bukal Kiri sesudah diedit42

(36)

Cermin intraoral berperan penting pada pembuatan foto oklusal. Pemilihan ukuran cermin disesuaikan dengan lebar mulut dan saat pemotretan pasien diminta bernapas melalui hidung.37 Pada pembuatan foto oklusal rahang atas dipakai cheek retractor yang kecil atau unilateral.34 Mulut pasien dibuka lebar, cermin diletakkan dengan hati-hati di bagian dalam mulut, sehingga dapat menangkap gambaran lebar lengkung posterior dengan maksimum. Kemudian cermin sedikit ditekan ke bawah sehingga seluruh rahang atas terlihat sampai gigi molar terakhir. Pasien diinstruksikan sedikit menunduk. Fokus pada gambar pantulan di cermin dan shot dapat diambil 90° terhadap bidang cermin dengan mid palatal raphe dipakai sebagai acuan.

Pada pembuatan foto oklusal rahang bawah, cermin ditarik ke atas sehingga bayangan rahang bawah dapat dilihat di cermin. Pasien diminta untuk sedikit mengangkat dagu. Posisi lidah penting diperhatikan. Pasien diminta menggulung lidah ke belakang dengan posisi dibelakang cermin sehingga tidak mengganggu gambaran gigi terutama di daerah posterior. Pengambilan gambar intraoral lewat cermin dengan jarak jauh memerlukan peningkatan intensitas cahaya.37

Gambar 16. Foto Intraoral Oklusal: rahang atas sebelum diedit42

(37)

Gambar 17. Foto Intraoral Oklusal: rahang bawah sebelum diedit42

Gambar 18. Foto intraoral oklusal: rahang atas sesudah diedit42

(38)

Gambar 19. Foto intraoral oklusal: rahang bawah sesudah diedit42

Pencatatan dalam bidang ortodonti diperlukan untuk proses diagnostik dan perencanaan perawatan. Salah satu elemen penting rekam medis adalah foto klinis.

Foto diperlukan sebagai basis data klinis, dokumentasi, monitoring, demonstrasi dan publikasi.38 Selama ini, telah terjadi perubahan teknik fotografi dari konvensional ke digital.39 Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya biaya fotografi.40 Biaya lebih murah karena tidak perlu membeli film, untuk menyimpan film dan lembaran foto.

Selain itu penggunaannya relatif mudah, dapat dilakukan pengambilan foto secara berulang - ulangdan mudah untuk menghapusnya apabila tidak sesuai. Hasil foto dapat dilihat langsung dan dapat diedit.

Pembuatan foto intraoral memerlukan perhatian khusus agar menghasilkan foto yang detail. Foto frontal dan bukal dibuat saat pasien pada posisi oklusi sentris.

Terkadang pasien menggigit tidak dalam oklusi sentris. Keadaan ini akan menyebabkan penetapan diagnosis yang salah. Karena itu operator harus berhati - hati melihat apakah oklusi pasien sudah benar. Cheek retractor dipakai untuk menarik bibir, mukosa labial dan bukal sedemikian sehingga daerah yang difoto mendapat cahaya maksimal dan memperluas lapangan pandang.41 Cheek retractor yang dipakai perlu disesuaikan dengan ukuran mulut pasien. Cheek retractor yang kekecilan,

(39)

cukup dan apabila kebesaran akan terasa menyakitkan bagi pasien. Cara memegang alat bantu yang dipakai juga perlu mendapat perhatian agar keberadaan alat ataupun jari untuk memegang tidak terlalu tampak pada foto yang dihasilkan. Seringkali foto intraoral perlu dibuat lebih banyak (tidak hanya 5 buah) untuk menunjukkan detail pada gigi ataupun jaringan lunak yang perlu dicatat, misalnya bila dijumpai kecacatan pada gigi (retak, karies, lesi white spot, dll), warna dan kondisi gingiva yang abnormal (keradangan, infeksi, penonjolan tulang, dll).

2.3 Asimetri

Simetri adalah persamaan salah satu sisi dari suatu objek baik dalam segi bentuk, ukuran, dan sebagainya dengan sisi yang berada di belakang median plane.43 Jadi asimetri berarti ketidakseimbangan antara satu sisi dan sisi lainnya, misalnya pada sisi kiri atau kanan. Hal ini dapat terjadi pada setiap individu. Asimetri fungsional atau morfologi dapat terlihat dalam aktifitas manusia, misalnya dominan menggunakan tangan kanan atau kiri pada saat beraktifitas.44

Asimetri dentofasial bersifat kompleks dan dapat terjadi baik unilateral maupun bilateral dalam arah anteroposterior (sagital), superoinferior (vertikal) dan mediolateral (tranversal). Asimetri wajah dapat pula terjadi pada individu dengan oklusi yang baik, sedangkan asimetri dental juga dapat dijumpai pada individu dengan wajah yang simetri. Jadi, kedua jenis asimetri ini dapat dijumpai pada satu individu yang sama.44,46

2.3.1 Asimetri Wajah

Asimetri wajah merupakan ketidakseimbangan yang terjadi pada wajah dalam hal ukuran, bentuk dan posisi pada sisi kiri dan kanan.43,45Asimetri wajah terjadi akibat adanya diskrepansi pada masa pembentukan tulang atau malposisi pada tulang kraniofasial. Selain itu, asimetri wajah juga dapat disebabkan karena ketidakseimbangan perkembangan jaringan lunak wajah.47

(40)

Asimetri wajah yang normal atau abnormal biasanya ditentukan berdasarkan pertimbangan dokter dengan melihat keseimbangan wajah pasien atau dari persepsi pasien sendiri. Penelitian Haraguchi dan Okatoma menyatakan bahwa jika perbedaan satu titik pada sisi kiri dan kanan wajah ke midline wajah kurang dari 2 mm diklasifikasikan sebagai asimetri yang masih dalam batasan normal.45

Penelitian Haraguchi melaporkan bahwa pada kasus asimetri wajah yang minor diperoleh hasil sisi kanan lebih lebar daripada sisi kiri dan terdapat deviasi dagu ke arah kiri.45 Menurut penelitian Servet dan Proffit, dari 1460 pasien yang dirawat di klinik dentofasial University of North Carolina terdapat 34% (n= 196) pasien yang mempunyai asimetri wajah secara klinis. Dari 34% (n=496) pasien yang memiliki asimetri wajah tersebut, 5% (n=23) asimetri terdapat pada sepertiga wajah atas, 36%

(n=178) pada sepertiga wajah tengah (terutama pada hidung), dan 74% (n=365) pada sepertiga wajah bawah. Sepertiga wajah bawah menunjukkan frekuensi dan asimetri yang lebih tinggi daripada sepertiga wajah atas dan sepertiga wajah tengah. Penelitian Lundstorm menyatakan bahwa asimetri juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan non-genetik, atau kombinasi dari keduanya. (cit, Bishara 1994)47

Bentuk wajah tergantung pada pola skeletal dan jaringan lunak. Berdasarkan struktur, asimetri wajah dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu, asimetri dental, asimetri skeletal, asmetri jaringan lunak dan asimetri fungsional.44,49

2.3.1.1 Asimetri Dental

Asimetri dental merupakan ketidakseimbangan gigi geligi dan asimetri tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, ketidakseimbangan yang disebabkan oleh jumlah gigi dengan lengkung gigi yang tersedia, ketidakseimbangan jumlah gigi rahang atas dan bawah pada segmen yang sama, ketidakseimbangan lengkung gigi rahang atas dan bawah secara keseluruhan atau sebagian.43Asimetri lengkung gigi biasanya dapat ditemui pada pasien yang mempunyai maloklusi yang berat, misalnya asimetri dental pada pasien maloklusi Klas II (Gambar 21)

(41)

Gambar 20. Asimetri dental pada pasien maloklusi Klas II48

Asimetri dental dapat disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lokal. Faktor genetik inilah yang mempengaruhi diameter lebar mesiodistal gigi sehingga menyebabkan terjadinya asimetri dental.47Faktor lokal yang dipengaruhi oleh lingkungan mencakup premature loss gigi desidui, kebiasaan menghisap atau mengunyah sebelah sisi yang disebabkan karies, ekstraksi atau trauma.43,44Penelitian Garn (1966) melaporkan bahwa asimetri ukuran gigi tidak melibatkan semua gigi yang terdapat dalam satu lengkung. Gigi pada klas morfologi yang sama biasanya menunjukkan asimetri yang sama, misalnya gigi premolar satu maksila kanan yang lebih besar dari normal biasanya diikuti dengan gigi premolar dua maksila kanan yang juga lebih besar. Hal tersebut juga terjadi pada gigi molar. Namun kelainan yang terjadi pada gigi premolar tidak seharusnya berpengaruh pada gigi molar. Selain itu, asimetri lebih sering dijumpai pada daerah yang lebih distal dari klas morfologi yang sama, misalnya, insisivus lateralis, premolar dua, dan molar tiga.49

2.3.1.2 Asimetri Skeletal

Asimetri skeletal merupakan asimetri yang terjadi pada tulang pembentukan wajah. Asimetri skeletal dapat terjadi pada satu tulang saja seperti maksila atau mandibula, ataupun melibatkan beberapa tulang pembentukan wajah. Selain itu, asimetri skeletal juga dapat melibatkan beberapa tulang pada satu sisi wajah seperti

(42)

hemifasial mikrosomia (Gambar 21).44Asimetri skeletal dapat dinyatakan sebagai hasil akhir dari semua asimetri baik asimetri dental, fungsional, dan jaringan lunak.

Apabila asimetri dental, fungsional dan jaringan lunak tidak dirawat maka akan berkembang lebih parah dan akhirnya akan terjadi asimetri skeletal, seperti deviasi dan perkembangan skeletal yang unilateral.47

2.3.1.3 Asimetri Jaringan Lunak

Asimetri jaringan lunak merupakan ketidakseimbangan pembentukan otot pada wajah. Asimetri jaringan lunak biasanya menyebabkan disproporsi wajah dan diskrepansi midline. Asimetri jaringan lunak biasanya juga dapat disertai dengan penyakit seperti hemifasial atrofi atau cerebral palsy.47Selain itu, fungsi otot yang abnormal dapat meyebabkan deviasi dental dan skeletal.44

2.3.1.4 Asimetri Fungsional

Asimetri fungsional merupakan suatu keadaan dimana terjadi pengerakan mandibula ke arah lateral atau anterior-posterior yang disebabkan oleh karena adanya gangguan oklusi sehingga menghalangi tercapai oklusi sentrik yang benar.47Deviasi fungsional ini dapat disebabkan karena lengkung maksila yang sempit atau faktor lokal seperti malposisi gigi.44

(43)

Gambar 21. Asimetri skeletal disebabkan hemifasial mikrosomia.47 2.3.2 Asimetri Postur Tubuh

Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo, dkk postur tubuh merupakan perpaduan antara tinggi badan, berat badan, serta berbagai ukuran anthropometrik lainnya yang ada pada diri seseorang. Jadi pengertian postur tubuh adalah bentuk tubuh atau sikap badan yang terlihat dari ujung kaki sampai ujung rambut dan merupakan perpaduan antara tinggi badan dan berat badan. Salah satu yang membentuk postur tubuh adalah susunan tulang belakang. Tulang belakang sangat berperan penting untuk pembentukan postur tubuh. Tulang belakang yang normal akan membentuk postur tubuh yang normal, begitu pula sebaliknya. Namun, dalam kenyataannya terdapat gangguan pada tulang belakang yang membuat perubahan pada postur tubuh. Salah satu kelainan pada tulang belakang yang sering ditemui adalah lordosis, kifosis, dan skoliosis (Gambar 22).50

(44)

Gambar 22. (A) Skoliosis (B) Kifosis (C) Lordosis 2.3.2.1 Lordosis

Lordosis adalah kecekungan lengkungan vertebra lumbal dan servikal kearah depan ketika dilihat dari samping. Lordosis adalah penekanan ke arah dalam kurvatura servikal lumbal melebihi batas fisiologis. Lordosis kongenital pada kondisi klinik sedikit di dapat, yang biasanya deformitas ini bersifat progresif. Dengan adanya kondisi deformitas lordosis akan memberikan pengaruh pada spina torakal, jarak spina-sternum (penurunan kapasitas paru), gagal nafas, dan bahkan kematian dini. Pada saat deformitas ini terjadi pada lumbal, maka secara progresif akan terjadi hiperlordosis pada lumbal.50

2.3.2.2 Kifosis

Kifosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang yang bisa terjadi akibat trauma, gangguan perkembangan atau penyakit degeneratif. Kifosis pada masa remaja juga disebut penyakit Scheuermann. Kifosis kongenital merupakan kondisi kelainan kongenital dengan angulasi konveks yang bertambah secara tidak normal pada kurvatura tulang torakal. Kondisi kifosis kingenital memang kondisi yang jarang terjadi, tetapi bila kondisi ini tidak diberikan intervensi akan meningkatkan resiko paraplegi. Kifosis kongenital terdiri dari dua tipe, yaitu tipe defek pada segmen tulang

A B C

(45)

belakang,dan tipe defek deformasi.50 Penyakit Scheuermann adalah suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri punggung dan adanya bonggol di punggung (kifosis).

2.3.2.3 Skoliosis

Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya.

Skoliosis adalah penyimpangan tulang belakang ke lateral dari garis tengah atau terjadi lengkungan yang abnormal pada vertebra kearah lateral. Kongenital skoliosis adalah suatu kondisi perubahan kurvatura spina kearah lateral yang disebabkan oleh anomali dari perkembangan tulang belakang.50 Kongenital skoliosis adalah suatu kondisi perubahan kurvatura spina ke arah lateral yang di sebabkan oleh anomali dari perkembangan tulang belakang.51(Gambar 23)

Gambar 23. (A) Normal (B) Skoliosis

(46)

1.3.2.4 Pemeriksaan Asimetri Postur dengan menggunakan Skoliometer

Pemeriksaan asimetri postur tubuh menggunakan skoliometer dilakukan dengan posisi membungkuk kedepan atau dengan posisi yang dikenal sebagai Adam’s Forward Bending Test. Adam’s Bending Test ini dapat dilakukan dengan cepat sehingga dapat digunakan untuk screening pasien dalam mendeteksi asimetri pada postur, serta dinilai sensitif dalam mendeteksi adanya kelainan pada postur dan mudah dilakukan oleh pasien sendiri. Pemilihan sampel asimetri postur tubuh dilakukan dengan melakukan pemeriksaan postur tubuh dengan menggunakan scoliometer.52 Dalam posisi berdiri, sampel diminta untuk melakukan Adam’s Forward Bending Test dengan cara membungkuk ke depan hingga sejajar dengan lantai, kedua telapak tangan dikatupkan dan lengan diluruskaan kebawah membentuk sudut tegak lurus dengan badan. Pengukuran dilakukan pada empat area, yaitu pada area cervical, thoracic, thoraco – lumbar, dan Lumbar dengan cara menggerakkan scoliometer tepat di atas tulang spinal mulai dari area cervical hingga ke area lumbar.

Perhatikan nilai dari skala yang ada pada scoliometer. Sampel dinilai mengalami asimetri postur tubuh bila nilai skala pada satu atau lebih area yang diperiksa menunjukkan nilai > 3°, dan dinilai simetri postur tubuh bila keseluruhan area yang diperiksa menunjukkan nilai 0-3°.53,54

Gambar 24. Pemeriksaan menggunakan skoliometer54

(47)

2.4 Persepsi Estetika Dental

Persepsi sesorang tentang estetika berbeda-beda karena pada umumnya persepsi ditentukan secara subjektif. Salah satu faktor yang penting untuk estetika wajah adalah posisi dental yang baik dimana posisi dental yang baik tidak hanya mendukung terwujudnya senyum yang menarik, tetapi juga dapat mendukung kesehatan mulut sehingga secara keseluruhan akan meningkatkan self esteem dan self image seseorang di dalam kehidupannya.52

Akan tetapi tidak semua masyarakat peduli terhadap posisi dental yang dimilikinya disebabkan pada dasarnya ia sudah merasa nyaman dengan keadaan dentalnya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa persepsi umum masyarakat terhadap estetika dental kebanyakan hanya pada bagian anterior, dimana persepsi tersebut dinilai dengan menggunakan sesuatu alat ukur yang disebut indeks.53

2.5 Hubungan maloklusi dengan asimetri postur tubuh

Sistem stomatognati adalah salah satu unit fungsional pada tubuh. Kondisi sistem stomatognati telah ditemukan untuk terkait erat dengan perubahan postur.

Maloklusi dapat mempengaruhi respon pada otot tubuh dikepala, leher, dan TMD.6 Beberapa studi menunjukan adanya hubungan antara dimensi oklusi sentrik dan tulang belakang bagian leher. Maloklusi terkait erat dengan postur tubuh.7

Neiva dkk. (2012), melakukan penelitian mengenai perubahan postur berhubungan dengan disfungsi sendi tempromandibular yang dilakukan pada 37 responden (13 pria dan 24 perempuan). Hasil penelitiannya mengatakan bahwa gangguan pada sistem stomatognati, gangguan pada sendi tempromandibular, dan maloklusi memiliki hubungan yang timbal balik dengan perkembangan asimetri postur tubuh.9

Penelitian yang dilakukan oleh Perinetti dkk (2010) terhadap 122 responden dengan rentang usia 10,8 hingga 16,3 tahun menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan disebabkan variabilitas postur tubuh dan maloklusi yang dinilai.6

Penelitian Alwarawreh dkk (2014) terhadap 952 anak-anak (234 laki-laki, 718 Perempuan) usia 12-15 tahun dari sekolah dasar di kota Karak, di selatan Yordania

Gambar

Gambar 2. Maloklusi Klas II Angle 22
Gambar 4. Maloklusi Klas II divisi 2 Angle 21
Tabel  1.  Keparahan  maloklusi  dan  kebutuhan  perawatan  berdasarkan  grade  DAI. 23,26
Tabel 2. Protokol pemberian grade susunan oklusal (Daniels dan Richmond  2000) 28  Grade  0  1  2  3  4  5  Estetik  1-10  mengguna kanACdari IOTN
+7

Referensi

Dokumen terkait

Disisi lain perkembangan pinjaman, simpanan masyarakat serta nisbah pinjaman terhadap masyarakat pada BRI Udes, LDKP dan Bank pasar dalam kurun waktu terakhir menunjukkan

Dengan melihat analisa hasil dalam penelitian ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan otot lengan dilakukan dengan cara melakukan push up dengan kemampuan

dilakukan selama 20 menit. Setelah pemajanan, telur kemudian dipindahkan ke wadah penetasan. Prevalensi telur yang terserang jamur diamati setelah pemajanan sebelum

Dari table diatas dapat dilihat bahwa hasil ramalan tingkat kemandirian fiskal/kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan,

Pada sebagian besar provinsi, proporsi jumlah penduduk memiliki potensi untuk mencapai aksesibilitas yang tinggi pada sistem keuangan syariah dengan tersedianya

Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dengan analisis data yang bersifat deskriptif (descriptive analisys). Hasil penelitian ini menunjukan: 1)

Guru menerapkan model pembelajaran “ular tangga PAI ( SKI dan Fiqih )” untuk memahami konsep materi sistem yang akan diberikan dengan tahapan sebagai berikut :. • Permainan ini

Dengan cara yang sama perkiraan harga alat proses yang lainya dapat dilihat dalam tabel LE-3 dan tabel LE-4 untuk perkiraan harga peralatan utilitas pada Pabrik Kelapa Sawit..