PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN
DAN SIKAP BEKERJA SAMA DALAM BERMAIN DRAMA
PADA SISWA KELAS VIII B SMP INSTITUT INDONESIA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Oleh:
Sesilia Pradita Novita Sari NIM: 121224022
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN
DAN SIKAP BEKERJA SAMA DALAM BERMAIN DRAMA
PADA SISWA KELAS VIII B SMP INSTITUT INDONESIA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Oleh:
Sesilia Pradita Novita Sari NIM: 121224022
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini saya persemba hkan kepada
Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Santa Sesilia yang senantiasa
memberikan berkat yang berlimpah kepada saya dalam setiap proses kehidupan
yang telah saya lalui hingga saat ini.
Bapak dan Ibuku tercinta, Marcellinus Parjiono dan Cyerenia Dwi Astuti yang
selama ini selalu mendukungku, memberikan doa, restu, kasih sayang, motivasi,
dan keperca yaan.
Adik-adikku tersa yang, F ransisca Krista Arinta dan Yohanes Anindra Bagas
Wicaksono yang selama ini selalu menghibur, memberikan doa, semangat, dan
dukungan.
Sepupu terkasih, Christiana Wahyunita Arum Melati dan Adriana Lintang Cahya
Dewi yang selalu mendukung saya, memberikan doa, selalu menghibur dan
memberi semangat.
Teman-teman PBSI 2012 khususnya kelas A yang sangat saya cintai
v MOTTO
“God says don’t worry about your future. He is the author of your story and He’s already written the final chapter”
(Max Lucado)
“ Kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis Kesabaran adalah teman akrab kebijaksanaan”
(Sesilia Pradita)
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”
viii
ABSTRAK
Novitasari, Sesilia Pradita. 2017. Penggunaan Metode Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Keterampilan dan Sikap Bekerja Sama dalam Bermain Drama pada Siswa Kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yaitu rendahnya kemampuan keterampilan dan sikap bekerja sama siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia saat bermain drama. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan sikap bermain drama pada siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia menggunakan metode bermain peran (role playing).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia. Tahapan penelitian terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, dan pengamatan, serta refleksi. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar kuesioner dan observasi. Data yang diperoleh berupa hasil tes siswa bermain drama setiap siklus, data hasil observasi, aspek afektif, dan hasil pengisian kuesioner oleh siswa.
Hasil tes kinerja siswa pada siklus I adalah 65,62 dan siklus II 78,87. Presentase pada siswa yang mencapai 75 mengalami peningkatan dari 33,33% menjadi 83,33%. Hasil afektif yang diperoleh pada siklus I 45,83% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 75%. Hasil tes siswa bermain drama dinilai berdasarkan indikator penilaian, yaitu ekspresi, penghayatan, gerak, intonasi, dan artikulasi. Hasil penampilan pada siklus I beberapa siswa masih pasif, gugup, dan belum sepenuhnya berekspresi dengan baik. Hasil pada siklus II para siswa menjadi lebih aktif, terjadi peningkatan pada aspek ekspresi, gerak, dan intonasi. Terjadi perkembangan perilaku pada siswa. Siswa menjadi percaya diri, menghargai teman yang tampil, dan dapat bekerja sama dengan kelompoknya. Hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran (role playing) pada pembelajaran bermain drama telah meningkatkan keterampilan dan sikap bekerja sama dalam bermain drama siswa SMP Institut Indonesia Yogyakarta.
ix
ABSTRACT
Novitasari, Sesilia Pradita. 2017. The Usage of Role Playing Method to Increase The Skill and Attitudes Cooperating in Drama Play to The Students of VII B Class, Institut Indonesia Yogyakarta Junior High School; Academic Year 2015/2016. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language and Literature Study Program, Departement of Language Education and Arts, the faculty of Education, Sanata Dharma University.
This research was motivated by the problems of the low capacity of the skills and attitudes cooperate class VIII B of SMP Institut Indonesia while playing drama. This study aims to improve the skills and attitudes of role-play in class VIII B of SMP Institut Indonesia using methods play a role playing.
This research is a classroom action research (PTK). Subjects in this study were students of class VIII B of SMP Institut Indonesia. Stages of the study consisted of planning, action and observation, and reflection. The experiment was conducted by 2 cycles. The instrument used in this study is a questionnaire and observation. Data obtained in the form of the test results of students play the drama of each cycle, the data observation, affective, and the results of the questionnaires by the students.
The results of performance tests of students in the first cycle is 65.62 and the second cycle is 78.87. The percentage of the students who achieve 75 has increased from 33.33% to 83.33%. Affective results obtained in the first cycle of 45.83% increased in the second cycle to 75%. The test results of students playing drama assessed by the assessment indicators, namely expression, appreciation, movement, intonation and articulation. The result of the appearance of the first cycle a few students still passive, nervous, and still not fully express it well. The results of the second cycle students become more active, there was an increase in the aspect of expression, movement, and intonation. Developments in the behavior of students. Students become confident, appreciate friends who appear, and can work with the group. The results of this analysis can be concluded that the application of the method of role playing on learning to play the drama has been improving the skills and attitudes cooperate in playing drama school students Institut Indonesia Yogyakarta.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi
yang berjudul “Penggunaan Metode Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Keterampilan dan Sikap Bekerja Sama dalam Bermain Drama pada Siswa Kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016” dengan tepat waktu. Tugas akhir dalam bentuk skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi strata satu dan memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.
Penulis menyadari kelancaran dan keberhasilan penulisan skripsi tidak lepas dari bimbingan, bantuan, nasehat, dukungan, dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada:
1. Rohandi, Ph.D., selaku dekan FKIP Universitas Sanata Dharma.
2. Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia sekaligus Dosen Pembimbing dengan penuh kasih membimbing dan memberikan saran bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Segenap Dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah memberikan bekal pengetahuan dan bantuan kepada penulis selama proses di bangku perkuliahan.
4. Robertus Marsidiq, karyawan sekretariat PBSI yang sabar dan memberi kemudahan serta kelancaran penulis selama berproses dalam menyelesaikan skripsi ini.
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO... ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
xiii
2.2.4 Pembelajaran Drama di Sekolah ... 16
2.2.5 Kerja sama Siswa dalam Bermain Drama ... 20
2.2.6 Metode Pembelajaran ... 21
2.2.7 Metode Bermain Peran (Role Playing) ... 22
2.2.8 Pembelajaran Bermain Drama melalui Metode Bermain Peran (Role Pla ying) ... 28
2.2.9 Kerangka Berpikir ... 29
2.2.10Hipotesis ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
3.1 Jenis Penelitian... 32
3.6.2.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi ... 36
3.6.2.3 Refleksi... ... 37
3.6.3 Siklus II ... 37
3.6.3.1 Rencana Tindakan ... 38
3.6.3.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi ... 38
3.6.3.3 Refleksi ... 39
3.7 Teknik Pengumpulan Data... ... 40
3.7.1 Tes (Praktik Bermain Drama)... ... 39
3.7.2 Nontes... ... 40
xiv
3.7.2.2 Wawancara... ... 41
3.7.2.3 Angket... ... 40
3.7.2.4 Dokumentasi ... 41
3.8 Instrumen Penelitian ... 41
3.9 Validitas dan Realiabilitas ... 46
3.10 Teknik Analisis Data... 48
3.11 Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 59
3.12 Indikator Keberhasilan Pembelajaran ... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1 Pelaksanaan Penelitian ... 53
4.1.1 Waktu Penelitian ... 54
4.1.2 Hasil Penelitian ... 54
4.1.3 Deskripsi Awal ... 54
4.1.3.1 Pelaksanaan Siklus I ... 57
4.1.3.2 Pelaksanaan Siklus II ... 73
4.1.4 Analisis Data ... 86
4.1.5 Pembahasan ... 89
4.1.5.1 Nilai Bermain Drama ... 87
4.1.5.2 Aspek Afektif ... 91
4.1.6 Keterbatasan Penelitian ... 92
BAB V PENUTUP ... 92
A. Kesimpulan ... 92
B. Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 95
LAMPIRAN ... 96
xv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Pedoman Penilaian Tes Praktik Bermain Drama ... 42
Tabel 3.2 Kategori Nilai Hasil Observasi Aspek Afektif ... 49
Tabel 3.3 Indikator Keberhasilan Penelitian ... 50
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian... 54
Tabel 4.2 Aspek Penilaian Drama ... 62
Tabel 4.3 Hasil Belajar ... 64
Tabel 4.4 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ... 71
Tabel 4.5 Peningkatan Skor Rata-rata Siklus I dan II ... 83
xvi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 31
Gambar 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas ... 32
Gambar 4.1 Deskripsi Pratindakan Siswa Terkait Bermain Drama ... 56
Gambar 4.2 Para Siswa Menyimak Video Pembelajaran Drama ... 60
Gambar 4.3 Siswa Berlatih Bersama dengan Kelompoknya ... 62
Gambar 4.4 Siswa Berlatih Bersama dengan Kelompoknya ... 64
Gambar 4.5 Siswa Menampilkan Drama ... 78
Gambar 4.6 Peningkatan Skor Keterampilan Bermain Drama Siklus I dan Siklus II ... 83
Gambar 4.7 Grafik Perbandingan Data Siklus I dan II ... 87
Gambar 4.8 Deskripsi Keadaan Siswa Terkait Pembelajaran Bermain Drama (Pascatindakan) ... 88
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian dari Universitas ... 97
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian dari Sekolah ... 98
Lampiran 3 Surat Bukti Penelitian SMP Institut Indonesia Yogyakarta ... 99
Lampiran 4 Silabus Pembelajaran ... 100
Lampiran 5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 102
Lampiran 6 Daftar Nama Siswa Kelas VIII B ... 120
Lampiran 7 Nilai Siswa Kelas VIII B ... 121
Lampiran 8 Contoh Angket Pratindakan dan Pascatindakan ... 123
Lampiran 9 Hasil Angket Pratindakan dan Pascatindakan ... 125
Lampiran 10 Hasil Observasi Aktivitas Siswa ... 129
Lampiran 11 Rubrik Penilaian Observasi Aktivitas Siswa ... 131
Lampiran 12 Naskah Drama ... 133
Lampiran 13 Transkrip Wawancara ... 142
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Selain kegiatan berbahasa, yang dikehendaki di dalam pembelajaran bahasa adalah kegiatan bersastra. Kegiatan bersastra mencakup kegiatan mendengarkan, kegiatan berbicara, kegiatan membaca, dan kegiatan menulis.
nilai-nilai, mendapatkan ide-ide baru, meningkatkan pengetahuan sosial budaya, berkembangnya rasa dan karsa, serta terbinanya watak dan kepribadian.
Hasil dari karya sastra yang baik berupa puisi, prosa, maupun drama telah diajarkan melalui bangku sekolah pada pengajaran bahasa Indonesia yang tidak hanya bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga kemampuan untuk mengapresiasi dari hasil karya sastra tersebut. Salah satu hasil dari karya sastra yaitu seni sastra dan pertunjukan seni teater. Orang menganggap drama sebagai seni pertunjukan akan membuang fokus itu sebab perhatiannya harus dibagi rata dengan unsur lainnya (Mulyana, 1997: 144).
Di dalam setiap pengajaran, khususnya pengajaran sastra drama tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai baik itu secara berkelompok maupun secara individu. Pengajaran sastra di sekolah, khususnya drama merupakan suatu pengajaran yang membutuhkan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berencana. Namun pada kenyataannya pengajaran sastra tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak pengajar yang kesulitan terlebih dalam ketidaktersediaannya media dan metode untuk pengajaran sastra, sehingga harapan terhadap keberhasilan pengajaran sastra sulit.
dibutuhkan metode khusus untuk merangsang anak didik dalam keberhasilan pencapaian tujuan dari pengajaran. Metode pembelajaran yang menyenangkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Pembelajaran yang interaktif akan menghasilkan suasana belajar yang mendukung dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dan kreatif dalam pembelajaran.
Indonesia yang memprihatinkan mengharuskan guru untuk melakukan perbaikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Misalnya, guru melakukan kegiatan inovatif, penggunaan metode yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, serta media pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas pemakalah tertarik untuk membahas permasalahan tersebut dan menerapkan metode role playing untuk mengatasi permasalah yang terjadi pada kepasifan para siswa saat melakukan pementasan drama di kelas. Pada pembelajaran materi drama salah satunya menggunakan metode bermain peran (role playing) pada materi drama diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas, aktif dalam pembelajaran, saling menghargai, bekerja sama dengan kelompok, mengikuti pembelajaran dengan serius. Melalui pembelajaran drama diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, kepekaan sosial yang tinggi dan dapat memerankan tokoh drama sesuai dengan perwatakannya.
Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah model bermain peran
1.2Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada peningkatan keterampilan dan sikap bekerja sama dalam bermain drama yang baik dan benar dengan penerapan metode bermain peran (role playing) pada siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini berfokus pada upaya meningkatkan kemampuan keterampilan dan sikap bekerja sama dalam bermain drama.
1.3Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Apakah penggunaan metode bermain peran (role playing) dapat meningkatkan keterampilan bermain drama pada siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016?”.
1.3.2 Bagaimanakah perubahan sikap dalam bekerja sama siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016 setelah mengikuti pembelajaran dengan metode bermain peran (role pla ying)? 1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.4.1 Mendeskripsikan peningkatan keterampilan bermain drama pada siswa
1.4.2 Mendeskripsikan sikap bekerja sama siswa kelas VII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran (role playing).
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan banyak manfaat kepada para pembaca, baik secara teoritis dan secara praktis. Adapun manfaatnya sebagai berikut: 1.5.1 Secara Teoretis
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan tugas akhir ini adalah memberikan kontribusi teoritis tentang peningkatan keterampilan bermain drama dengan menggunakan metode bermain peran (role pla ying).
1.5.2 Secara praktis 1.5.2.1 Bagi siswa
1.5.2.1.1 Memberikan kemudahan bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan bermain drama menggunakan metode bermain peran (role playing).
1.5.2.1.2 Memberikan perubahan sikap bekerja sama pada siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode bermain peran (role playing).
1.5.2.1.3 Memberi suasana belajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. 1.5.2.2 Bagi Guru
1.5.2.2.1 Mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran bermain drama.
1.5.2.2.2 Sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam bermain drama dengan menggunakan metode bermain peran (role pla ying).
1.5.2.3 Bagi Peneliti
1.5.2.3.2 Mengembangkan wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai bermain peran menggunakan metode bermain peran (role playing).
1.6Batasan Istilah
Berikut ini disajikan istilah-istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini agar kesatuan pemahaman dapat mempermudah pemahaman penelitian
1.6.1 Bermain Drama
Bermain drama adalah memberi, bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku atau ucapan. Menciptakan sebuah peranan berarti menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia di atas pentas baik fisik, mental, maupun emosional (Harymawan 1988: 30).
1.6.2 Keterampilan bermain drama
Keterampilan bermain drama adalah keterampilan seseorang dalam memerankan suatu peran atau karakter tokoh dalam bermain drama tidak terlepas dari dialog dan gerakan, karena inti dari sebuah drama adalah pada kedua aspek tersebut (Waluyo, 2007: 114).
1.6.3 Sikap Bekerja Sama
Bekerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan bersama (Tohirin, 2006:50).
1.6.4 Metode bermain peran (role pla ying)
laku mereka sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber penyelidikan itu sendiri (Bruce Joyce, Marsha Weil, dan Emily Calhoun, 2009).
1.7 Sistematika Penyajian
9 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini dilakukan oleh Wiastra (2013). Judul penelitian ini adalah “Penerapan Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Denpasar
Tahun 2012/2013”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas
dengan subjek penelitian siswa kelas IX SMP Negeri 2 Denpasar sebanyak 42 orang, dilaksanakan dalam dua siklus. Prosedur penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa siklus I nilai rata-rata kelas 77,97 dengan ketuntasan kelas sebesar 66,66% meningkat menjadi nilai rata-rata 83,35 dengan ketuntasan 100% pada siklus ke II. Terjadi peningkatan sebesar 33,34%. Kualitas pembelajaran pada siklus I sebesar 78,57 dengan kualitas sedang meningkat menjadi 84,16 pada siklus II termasuk kualitas tinggi.
Penelitian relevan kedua dilakukan oleh Silaen (2014). Judul penelitian ini adalah “Penerapan Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri 1
siklus, data hasil observasi aspek afektif dan hasil pengisian kuisioner motivasi oleh siswa. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Untuk hasil belajar pada siklus 1 skor rata-rata hasil belajar kognitif yang diperoleh sebesar 71,41, dengan ketuntasan kelas sebesar 75%, sedangkan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh sebesar 80,625%, dengan ketuntasan kelas 100%. Untuk hasil belajar aspek afektif, rata-rata presentase kelas yang diperoleh pada siklus I sebesar 80,175%, sedangkan pada siklus II rata-rata presentase kelas hasil belajar aspek afektif yang diperoleh sebesar 83,03%. Untuk hasil motivasi belajar siswa pada awal pembelajaran rata-rata presentase adalah 84,375 dan pada akhir pembelajaran 100. Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan metode pembelajaran bermain peran (role playing) pada materi sistem peredaran darah manusia mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Long Ikis, Kalimantan Timur Tahun ajaran 2013/2014.
2.2 Kajian Teori 2.2.1 Hakikat Drama
Drama adalah bentuk sastra yang dapat merangsang gairah dan mengasyikkan para pemain dan penonton sehingga sangat digemari masyarakat. Di samping mudah disesuaikan untuk dimainkan dan dinikmati masyarakat segala umur, drama sangat tinggi nilai pendidikannya. Drama merupakan peragaan tingkah laku manusia yang mendasar, drama baru dapat disusun dan dipentaskan dengan berhasil jika diikuti pengamatan yang teliti baik oleh penulis maupun para pemainnya. Tokoh-tokoh pendidikan melihat bentuk sastra ini sebagai suatu wadah bagi generasi muda dalam menuju kedewasaannya dengan melakukan berbagai macam peran yang perlu dipahami benar (Rahmanto, 1988: 89).
Istilah drama drama berasal drama berasal dari akar tunjang “drama” dari
bahasa Greek (Yunani kuno) drau yang berarti melakukan (a ction) atau berbuat sesuatu (Ahmadi, 1990). Berbuat berarti memang layak dilihat. Wiyanto (2002: 1) sedikit berbeda, katanya drama dari bahasa Yunani dram, artinya bergerak. Kiranya, gerak dan aksi adalah mirip. Jadi, tindakan dan gerak merupakan ciri utama dram. Tiap drama mesti ada gerak dan aksi, yang menuntun lakon.
kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekorasi dan panggung), seni kostum, seni rias, seni tari, dan lain sebagainya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan watak, drama juga dapat membantu mengembangkan nilai-nilai yang ada dalam diri peserta didik, memeperkenalkan kehidupan manusia dari kebahagiaan, keberhasilan, kepuasan, kegembiraan, cinta, kesakitan, keputusasaan, acuh tak acuh, benci dan kematian. Drama juga dapat memberikan sumbangan pada pengembangan kepribadian yang kompleks, misalnya ketegaran hati, imajinasi, dan kreativitas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Endraswara (2005: 192).
2.2.2 Unsur-unsur drama
Unsur drama adalah unsur pembangun dari dalam karya sastra drama. Istilah unsur drama juga dikenal dengan istilah unsur intrinsik dalam suatu drama. Menurut Supriyadi (2006: 70-73) unsur-unsur pembangun dalam suatu drama adalah sebagai berikut.
1) Tema dan Amanat
2) Alur atau Plot
Alur atau plot drama adalah rangkaian peristiwa yang disusun secara sistematis untuk membangun suatu cerita drama. Alur drama secara konvensional yakni dimulai dari peristiwa awal/pengenalan tempat dan tokoh, kemudian terjadi konflik menuju klimaks. Konflik yang terjadi menjadi memuncak atau menjadi klimaks cerita dan akhirnya cerita menurun dan selesailah cerita drama tersebut.
3) Latar atau Setting
Latar atau setting adalah tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Latar/setting dalam drama biasanya dibuat pengarang selogis mungkin sesuai dengan jenis drama.
4) Tokoh dan Penokohan
Tokoh drama adalah orang, binatang, tumbuh-tumbuhan yang digunakan penulis/pengarang untuk menyampaikan ide atau amanat cerita. Tokoh dalam drama dapat dibedakan menjadi tokoh yang banyak muncul dan kurang. Tokoh terdiri atas protagonis, antagonis, dan tritagonis. Penokohan dalam drama adalah dengan dialog atau analitik dan dramatik. Perwatakan tokoh dapat diketahui penonton melalui dialog antartokoh dan perbuatan para tokohnya.
5) Dialog
6) Penonton
Penonton adalah orang atau sekelompok orang yang menikmati pertunjukan drama, baik drama radio, televisi, film, maupun panggung. Penonton merupakan unsur drama yang tidak dapat dipisahkan, karena dengan penonton inilah pertunjukkan akan menjadi berhasil dan tidak. Dalam drama, unsur penonton merupakan unsur yang sangat penting. Penonton dapat membuat suatu pertunjukkan lemah dan kuat, berhasil atau tidak.
7) Sutradara
Sutradara adalah orang yang menggarap naskah drama menjadi suatu pertunjukkan atau orang yang merancang dan memimpin suatu pertunjukkan, baik di radio, televisi, film, dan panggung.
2.2.3 Keterampilan Bermain Drama
Naskah drama belum lengkap jika belum diperankan atau dipentaskan. Berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama (Waluyo, 2007: 114). Sejauh mana keterampilan seorang aktor dalam berperan, baru dapat dilihat setelah ia memerankan dan mengekspresikan tokoh yang dibawakannya.
Manusia sebagai makhluk sosial, pada umumnya menyukai hal-hal yang berbau imitasi, artinya suka meniru-niru apa yang dilihatnya dalam pergaulan. Imitasi ini bisa meniru kebiasaan orang lain, penampilan orang lain, cara berbicara orang lain dan sebagainya. Dalam hal ini berarti seseorang sudah mulai melakukan kegiatan meniru. Sebagai contoh dapat dilihat ketika seorang anak bermain pasar-pasaran dengan teman-temannya. Disadari atau tidak, anak tersebut sudah melakukan permainan drama. Ketika anak-anak bermain pasar-pasaran, seorang anak memerankan karakter tokoh penjual yang mempunyai keterampilan untuk merayu pembeli, ada seorang anak yang memerankan pembeli, memerankan tukang masak dan sebagainya (Harymawan, 1993: 44).
Seorang aktor dapat menggambarkan karakter seorang tokoh secara maksimal. Harymawan (1993: 45) menyatakan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh seorang aktor ketika memerankan sebuah karakter tokoh. Ketiga hal tersebut adalah mimik, plastik dan diksi.
a. Mimik
b. Gestur
Gestur atau plastik merupakan cara bersikap dan gerakan-gerakan anggota badan. Gestur juga dapat diartikan sebagai sikap. Gestur atau plastik juga dapat diartikan sebagai gerakan tubuh. Harymawan (1993: 46) menyatakan bahwa sikap dan gerak dengan sendirinya akan terpengaruh oleh mimik dan pada umumnya bergantung juga pada tanda yang sama, tak setegas dan seprinsipil mimik.
c. Diksi
Diksi merupakan cara penggunaan suara atau ucapan. Diksi memberikan kebebasan pada aktor untuk menghidupkan individualitasnya dalam peranan, karena diksi tidak ditentukan oleh pengarang naskah drama. Diksi ditentukan oleh aktor itu sendiri. Oleh karena itu, diksi dapat mempengaruhi arti dari suatu kalimat (Harymawan, 1993: 48).
2.2.4 Pembelajaran Drama di Sekolah
Pembelajaran drama di sekolah dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1) pembelajaran teks drama yang termasuk sastra, dan 2) pementasan drama yang termasuk bidang teater (Waluyo, 2007: 162). Dalam pembelajaran teks drama yang termasuk sastra, pementasan drama dilakukan di kelas oleh guru bahasa Indonesia. Disarankan agar dilakukan pementasan, meskipun hanya sekali dalam satu semester dan berupa pementasan sederhana. Hal ini dimaksudkan untuk melatih keterampilan siswa mulai dari pementasan kecil, sebelum akhirnya menyajikan pementasan yang lebih besar (teater sekolah).
memilih bahan yang disajikan, metode yang akan dipakai dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang dihadapi para siswa. Hendaknya selalu diingat bahwa drama bukan hanya pemaparan atau diskusi tentang peristiwa
kehidupan yang nyata; drama sebenarnya lebih merupakan “penciptaan kembali”
kehidupan nyata. Bahasa, tentu saja merupakan unsur utama dalam drama, tetapi masih ada beberapa unsur lain yang juga sangat penting , seperti: lagu kalimat, lafal, volume suara, tekanan, dan masih banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan agar dapat menyampaikan pesan secara sempurna.
Tujuan utama dalam mempelajari drama adalah untuk memahami bagaimana suatu tokoh harus diperankan dengan sebaik-baiknya dalam suatu pementasan. Dalam mempelajari pementasan ini memang tidak selalu mudah, terutama bagi siswa yang sama sekali belum mengenal pelik-pelik keadaan suatu pentas drama. Untuk itu seorang guru (pelatih) drama bertanggung jawab untuk memperkenalkan siswa-siswanya pada kondisi pementasan drama. Dalam beberapa hal, lingkungan siswa sehari-hari (misalnya: TV, sandiwara, film dsb.) dapat dimanfaatkan untuk membantu menyampaikan pengalaman pementasan nyata. Dalam beberapa hal lain, guru hendaknya dapat memberikan gambaran tentang proses dramatisasi yang lebih lengkap daripada pengetahuan yang dimiliki siswanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari (Rahmanto, 1988: 90).
Berbicara mengenai tujuan pengajaran, kita tidak akan lepas dari tokoh populer, yaitu Benjamin S Bloom. Waluyo (2007: 167) mengatakan bahwa untuk merumuskan lebih jelas mengenai tujuan pembelajaran sesuai dengan teori Bloom, maka perlu diketahui penjelasan rinci kawasan-kawasan tujuan mengajar beserta contoh nyata kerja operasional yang berguna untuk menyusun tujuan instruksional khusus. Ketiga domain tujuan mengajar menurut Benjamin S Bloom melalui Waluyo (2007: 167-169) adalah sebagai berikut.
a. Kognitif
Kawasan kognitif dalam tujuan pengajaran berisi perilaku-perilaku yang lebih menekankan pada aspek intelektual. Adapun aspek yang termasuk dalam ranah kognitif menurut Bloom melalui Waluyo (2007: 167-168). Pertama adalah
1) Pengetahuan, yang meliputi pengetahuan akan hal khusus (definisi, membedakan, mendapatkan, mengingat, mengenal kembali).
2) Pemahaman, yang meliputi terjemahan, penafsiran, perhitungan atau ramalan.
3) Analisis, yang meliputi analisis hasil komunikasi untuk menarik kesimpulan, dan menganalisis.
4) Sintesis, yang meliputi hasil komunikasi yang bertujuan untuk (menuliskan, menceritakan, menghasilkan mengubah, membuktikan kebenaran), hasil dari rencana atau rangkaian kegiatan yang diusulkan (mengusulkan, merencanakan, menghasilkan, kegiatan pemecahan).
b. Afektif
Kawasan afektif dalam tujuan pengajaran berisi perilaku-perilaku yang lebih menekankan pada aspek perasaan dan emosi. Adapun aspek yang termasuk ke dalam kawasan afektif menurut Bloom melalui Waluyo (2007: 169) adalah sebagai berikut:
1) Menerima (receiving), menyangkut minat siswa terhadap sesuatu. Misalnya menerima terhadap pelajaran drama yang ditandai dengan minat atau perhatian positif terhadap drama.
2) Menjawab/mereaksi (responding), artinya ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bermain drama.
3) Menaruh penghargaan (valuing), siswa mampu memberikan penilaian terhadap drama yang akan atau sudah dipentaskan.
4) Mengorganisasikan sistem nilai, nilai-nilai dalam diri seseorang bersifat kompleks, maka nilai-nilai itu bersifat kait mengkait, sehingga menjadi sistem nilai.
5) Mengadakan karakterisasi nilai, kemampuan tertinggi dalam kawasan afektif dalam mengkarakterisasi nilai-nilai. Maksudnya, nilai-nilai ersebut sudah siap untuk menjadi tingkah laku seseorang.
c. Psikomotorik
aktris dibekali pengetahuan dan sikap. jadi permainannya bukan sekedar gerak motorik belaka.
Melalui pembelajaran bermain drama siswa dapat mengembangkan keterampilan kebahasaannya dan membantu mereka dalam menambah wawasan hidup dan kehidupan yang lebih luas. Selain itu, drama dapat membantu siswa dalam pemahaman dan penggunaan bahasa yang sedang dipelajarinya. Hal ini, menunjang salah satu fungsi bahasa, yaitu untuk berkomunikasi.
2.2.5 Kerja Sama Siswa Dalam Bermain Drama
Selain keterampilan dalam bermain drama. Sikap siswa ketika pembelajaran di kelas berlangsung perlu diperhatikan terlebih saat bermain drama. Kerja sama merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia, karena dengan kerja sama juga menuntut interaksi antara beberapa pihak. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Selain itu dengan bekerja sama siswa dapat memberikan pendapat atau informasi pengalaman yang dimiliki. Disinilah kelebihan dalam bekerja sama dapat saling bertukar pikiran dalam kelompok. Oleh karena itu, dengan proses pembelajaran kerja sama di dalam kelompok akan lebih memudahkan siswa dalam belajar. Indikator kerjasama siswa dapat dilihat melalui beberapa kemampuan siswa dalam membantu teman dalam kelompok, kemampuan menghargai teman, dan kemampuan membina kebersamaan di dalam kelas.
Dalam penggunaan metode bermain peran (role palying) siswa dituntut untuk bekerja sama dengan teman kelompoknya. Saling membantu sesama anggota dalam kelompok yang belum jelas, menghargai pendapat setiap anggota, setiap anggota berbagi tugas secara adil, setiap anggota ikut memecahkan masalah dalam kelompok hingga mencapai kesepakatan, bekerja sama ketika pentas sehingga dapat menampilkan secara maksimal.
2.2.6 Metode Pembelajaran
Perkembangan mental peserta didik di sekolah antara lain, meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. Pembelajaran harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.
didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan pada kreativitas, rasa ingin tahu. bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan. Bahan ajar disusun secara sistematis agar mudah diserap dan dikuasai oleh anak. Semuanya didasarkan pada pendekatan yang dianut. Melihat hal itu, jelas bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang dianut; dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang digunakan. (Mulyasa, 2007: 107).
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Pada saat menerapkan metode dalam pembelajaran seorang guru harus menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Metode pembelajaran tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, guru harus mampu meminimalisasi kekurangan yang ada pada masing-masing metode pembelajaran. Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti memilih metode bermain peran (role playing) untuk diterapkan pada pembelajaran bermain drama.
2.2.7 Metode Bermain Peran (Role Playing)
Metode ini dapat digunakan untuk mempraktikkan isi pelajaran yang baru, mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi pemeran sehingga menemukan kemungkinan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan sesungguhnya. Metode ini menuntut guru untuk mencermati kekurangan dari peran yang diperagakan siswa (Yamin, 2009).
Dalam bermain peran, siswa mengeksplorasi masalah hubungan manusia dengan memberlakukan situasi masalah, kemudian mendiskusikan enactments
(keadaan, situasi atau hukum yang berlaku) secara bersama, siswa dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, dan strategi dalam pemecahan masalah. Bermain peran sebagai model pembelajaran memiliki akar di kedua pribadi dan dimensi dan sosial pendidikan. Ia mencoba untuk membantu individu menemukan makna pribadi dalam dunia sosial mereka dan untuk mengatasi dilema pribadi dengan bantuan dari kelompok sosial. Dalam dimensi sosial, memungkinkan individu untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi sosial, terutama antar pribadi, dan dalam mengembangkan cara-cara yang layak dan demokratis untuk mengatasi situasi ini. Kami telah menempatkan metode bermain peran dalam keluarga sosial karena kelompok sosial memainkan peran seperti yang diperlukan, karena kesempatan pengembangan pribadi manusia penting dan unik yang menawarkan permainan peran untuk menyelesaikan dilema interpersonal dan sosial (Bruce Joyce, 2009: 290).
siswa dapat berdiskusi dan menganalisa situasi sosial terutama antar masalah pribadi mereka, dengan demikian metode bermain peran ini sangat baik sekali diterapkan untuk menggali lebih jauh potensi yang ada dalam diri peserta didik, serta permasalahan apa yang sebenarnya dialami oleh siswa yang dapat dijadikan dasar bagi guru untuk mencapai tujuan pendidikan.
2.2.6.1 Tujuan dan Asumsi Bermain peran
Inti dari bermain peran adalah keterlibatan peserta dan pengamat dalam situasi masalah yang nyata dan keinginan untuk resolusi dan pemahaman yang menimbulkan keterlibatan ini. Proses role-playing menyediakan contoh hidup dari perilaku manusia yang berfungsi sebagai wahana bagi siswa untuk: (1) mengeksplorasi perasaan mereka, (2) mendapatkan informasi tentang sikap, nilai-nilai, dan persepsi mereka, (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam pemecahan masalah mereka, dan (4) mengeksplorasi materi pelajaran dengan cara yang bervariasi.
(menyampaikan) materi pelajaran dengan cara yang bervariasi (Bruce Joyce, 2009: 291).
2.2.6.2 Metode Pembelajaran Bermain Peran
Bruce Joyce dan Marsha Weil, 2009 dalam bukunya Models Of Tea ching
menjelaskan satu persatu tentang sembilan prosedur metode pembelajaran bermain peran yang diungkapkan oleh Shaftel sebagai berikut:
Pertama, pemanasan (warm up the group). Dalam tahap ini, guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Bagian berikutnya dari proses pemanasan adalah menggambarkan permasalahan dengan jelas disertai dengan contoh. Hal ini bisa muncul dari imajinasi siswa atau sengaja disiapkan oleh guru. Sebagai contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibaca di depan kelas. Pembacaan cerita berhenti jika dilema dalam cerita menjadi jelas. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat siswa berpikir tentang hal tersebut dan memprediksi akhir dari cerita.
yang galak dengan kumis tebal. guru menunjuk salah seorang siswa untuk memerankan anak seperti ilustrasi di atas.
Ketiga, menata panggung (set the stage). Dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa dimana dan bagaimana peran itu akan dimainkan. Apa saja kebutuhan yang diperlukan. penataan panggung ini dapat sederhana atau kompleks. Yang paling sederhana adalah hanya membahas skenario (tanpa dialog lengkap) yang menggambarkan urutan permainan peran. Misalnya siapa dulu yang muncul, kemudian diikuti oleh siapa, dan seterusnya. Sementara penataan panggung yang lebih kompleks meliputi aksesoris lain seperti kostum dan lain-lain. Konsep sederhana memungkinkan untuk dilakukan karena intinya bukan kemewahan panggung, tetapi proses bermain peran itu sendiri.
Keempat, menyiapkan pengamat (prepare observers). Guru menunjuk beberapa siswa sebagai pengamat. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran. untuk itu, walaupun mereka ditugaskan sebagai pengamat, guru sebaiknya memberikan tugas peran terhadap mereka agar dapat terlibat aktif dalam permainan tersebut.
Keenam, diskusi dan evaluasi (discuss and avaluate). guru bersama siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul. Mungkin ada siswa yang meminta untuk berganti peran. Atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah. Apa pun hasil diskusi dan evaluasi tidak jadi masalah.
Ketujuh, memainkan peran ulang (reenact). Siswa dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario. Siswa dan guru bisa berbagi penafsiran baru dan memutuskan kapan individu baru harus bermain. Aktivitas cadangan antara pembahasan dan bertindak. Seharusnya, pada permainan peran kedua ini akan berjalan lebih baik.
Kedelapan, diskusi dan evaluasi (discuss and evaluate). pembahasan diskusi dan evaluasi lebih di arahkan pada realitas. Mengapa demikian? Karena pada saat permainan peran dilakukan. banyak peran yang melampaui batas kenyataan. Misalnya seorang siswa memainkan peran sebagai pembeli. Ia membeli barang dengan harga yang tidak realistis. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi. Contoh lain, seorang siswa memerankan peran orang tua yang galak. Kegalakannya yang dilakukan orang tua ini dapat dijadikan bahan diskusi.
membahas bagaimana sebaiknya menghadapi situasi tersebut. Seandainya jadi penjual, sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara ini, siswa akan menemukan pengalaman baru dan akan belajar tentang kehidupan. dan yang tak kalah pentingnya dengan bermain peran ini, siswa akan lebih bersemangat, senang dan lebih aktif dalam belajar, sehingga siswa dapat menyerap materi dan tentunya tujuan pembelajaran pun akan tercapai.
Bermain peran (role pla ying) perlu digunakan di dalam kelas karena role playing dapat membuktikan diri sebagai suatu media pendidikan yang ampuh, di mana terdapat peran-peran yang dapat didefinisikan dengan jelas, yang memiliki interaksi yang mungkin di eksplorasi dalam keadaan yang bersifat simulasi (skenario) (Zaini, dkk: 2008).
2.2.7 Pembelajaran Bermain Drama melalui Metode Bermain Peran (Role Playing)
Teknik pembelajaran role playing membuka kesempatan bagi semua siswa untuk mengembangkan kemampuan bermain peran mereka. Selain itu, adanya sesi
feedback atau pemberian masukan dari teman-teman, diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk dapat memperbaiki kekurangannya pada saat praktik bermain drama (Melvin, Silberman, 2011: 233).
2.2.8 Kerangka Berpikir
Berdasarkan hasil wawancara kepada guru bahasa Indonesia SMP Insitut Indonesia, diketahui bahwa siswa kurang tahu cara berekspresi dalam bermain drama, rendahnya keberanian siswa, guru yang masih melakukan metode penugasan, rendahnya minat siswa dalam bermain drama disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah ketidaktepatan metode dan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran bermain drama yang dilakukan secara konvensional menjadi rendahnya minat siswa. Hal tersebut menjadikan siswa kurang percaya diri, bosan dan tidak tertarik mengikuti pembelajaran. Komponen terpenting untuk pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar salah satunya adalah model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pengajar harus memiliki metode agar siswa dapat belajar efektif dan efesien. Guru harus menguasai metode dan model pembelajaran serta pandai dalam memilih dan menerapkan sesuai dengan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai.
Permasalahan dalam pembelajaran yang terjadi pada siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta difokuskan kepada peningkatan keterampilan dan sikap bekerja sama siswa di dalam kelas dalam kelas bermain drama. Peneliti mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan metode bermain peran (role playing). Alat ukur yang digunakan dalam metode bermain peran (role playing)
untuk mengetahui seberapa besar efektifitas metode bermain peran (role playing)
Kerangka Berpikir:
1. Siswa bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya dalam pembelajaran bermain drama.
2.2.9 Hipotesis
33 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk merencanakan masalah tersebut dengan melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut (Wina Sanjaya, 2009: 26).
Menurut Arikunto (2006: 3), penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan guru yang dilakukan oleh siswa. Penelitian tindakan kelas yang ideal seharusnya dilakukan dengan melakukan kerjasama secara kolaboratif antara pihak yang melakukan tindakan dengan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (Arikunto, 2006: 17). Dalam hal ini, penelitian melibatkan mahasiswa sebagai peneliti yang berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta.
Acuan yang dijadikan pedoman penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc. Taggart yang mencakup perencanaan tindakan, implementasi tindakan dan observasi, serta refleksi. Gambar model penelitian tindakan kelas dapat dilihat sebagai berikut.
Gambar 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan Mc. Taggart
Dari gambar siklus tersebut, maka tahap-tahap dalam penelitian tindakan meliputi: (1) Plan (perencanaan); (2) Act (Pelaksanaan tindakan), (3) Observe
(pengamatan); dan (4) Reflect (refleksi).
3.2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Institut Indonesia Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016 yang berjumlah 24 orang, terdiri dari 12 orang siswa putra dan 12 orang siswa putri.
3.3 Objek Penelitian
Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah keterampilan bermain drama dan sikap bekerja sama siswa kelas VIII SMP Institut Indonesia Yogyakarta menggunakan metode bermain peran (role pla ying).
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian 3.4.1 Tempat penelitian
Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VIII SMP Institut Indonesia, Jln. Jendral Sudirman Urip Sumoharji, Klitren Yogyakarta 55222.
3.4.2 Waktu penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April-Mei 2016, semester II (genap). 3.5 Rancangan Penelitian
Penelitian berawal dari adanya masalah dalam pembelajaran bermain drama di kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta. Masalah yang ada diamati dan dieksplorasi, yang kemudian menjadi dasar perencanaan penelitian. Perencanaan dilakukan secara umum dan khusus. Perencanaan umum meliputi keseluruhan penelitian. Perencanaan khusus mencakup tiap siklus penelitian yang selalu dilakukan di awal siklus, selanjutnya dilakukan pemberian tindakan
Tindakan yang dilakukan adalah penerapan teknik pembelajaran role playing dalam meningkatkan keterampilan dan sikap bekerja sama dalam bermain drama pada siswa kelas VIII B SMP Institut Indonesia Yogyakarta. Pada siklus pertama siswa akan mendapatkan praktik bermain drama dengan teknik role playing. Hasil refleksi dari siklus pertama akan dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tindakan berikutnya.
3.6 Prosedur Pelaksanaan Tindakan
Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik.
3.6.1 Pra Tindakan
Kegiatan pratindakan merupakan kegiatan pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. Bagian ini lebih mengarahkan peneliti untuk menjelaskan apaa yang akan dilakukan pada pra-tindakan sebelum dilaksanakan penelitian.
1) Permohonan ijin untuk melaksanakan penelitian kepada guru Bahasa Indonesia SMP Institut Indonesia Yogyakarta.
2) Wawancara kepada guru Bahasa Indonesia SMP Institut Indonesia. Wawancara dilakukan dengan maksud untuk memperoleh informasi berkenaan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.
3) Mengidentifikasi dan menemukan akar permasalahan yang dialami oleh siswa kelas VIII B pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
5) Menyusun judul dan proposal penelitian.
6) Mengkaji standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pokoknya. 7) Menyusun instrumen pembelajaran.
8) Menyusun instrumen pengumpulan data (instrumen penilaian, angket, lembar observasi)
9) Mempersiapkan media yang diperlukan dalam mendukung pembelajaran di kelas.
3.6.2 Siklus I
Kegiatan pelaksanaan penelitian tindakan pada siklus ini dilakukan empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
3.6.2.1 Rencana Tindakan
Peneliti terlebih dahulu merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan antara lain sebagai berikut:
1) Menganalisis materi dan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) untuk rencana pembelajaran.
2) Membuat perangkat pembelajaran yang berupa silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan pada saat melakukan penelitian.
3) Mempersiapkan materi yang akan diajarkan. 4) Membuat instrumen pengumpulan data, yaitu
a. Membuat lembar observasi untuk mengetahui perkembangan bermain drama siswa di dalam kelompok menggunakan metode bermain peran
b. Membuat kuesioner untuk mengukur sikap siswa dalam bermain drama.
3.6.2.2 Pelaksanaan dan Observasi
Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan dari rancangan (Arikunto, 2006: 139). Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah dengan melaksanakan perencanaan yang telah dibuat, yakni dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan metode bermain peran (role playing).
Kegiatan observasi dalam penelitian ini dilaksanakan untuk mengamati keterampilan bermain drama, aktivitas dan perilaku (sikap) siswa. Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
1) Mengkondisikan kelas dalam suasana belajar.
2) Menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3) Menyampaikan apersepsi untuk memotivasi siswa agar siswa lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
4) Peneliti menampilkan video drama. Video yang akan ditampilkan berjumlah dua dengan judul malin kundang dan serigala berbulu domba. 5) Peneliti menyampaikan materi secara singkat.
6) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 orang. 7) Memberi penjelasan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan.
9) Siswa dan peneliti bersama-sama menarik kesimpulan mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan bersama-sama.
10) Melakukan refleksi bersama siswa.
Pengamatan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan menggunakan lembar observasi yang disiapkan. Hal yang diamati adalah aktivitas siswa dalam kelompok.
3.6.2.3 Refleksi
Refleksi dilakukan pada setiap akhir pertemuan pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk membuat perencanaan tindak lanjut untuk siklus berikutnya berdasarkan daftar permasalahan tersebut, dalam rangka perbaikan untuk mencapai indikator yang ditetapkan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
1) Merefleksikan apa yang telah dilakukan pada siklus I baik pertemuan 1 dan 2.
2) Mencatat hal-hal yang telah dan belum tercapai pada siklus I, baik pertemuan 1 dan 2, kendala dan hambatan yang ditemukan, kondisi siswa sebelum dan setelah siklus I.
3) Membandingkan hasil evaluasi siswa dan hasil observasi. 3.6.3 Siklus II
3.6.3.1 Rencana Tindakan
Kegiatan pada siklus II meliputi:
1) Indentifikasi masalah dan merumuskan masalah berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3) Menyusun instrumen penelitian yang sesuai dengan metode bermain peran
(role pla ying).
3.6.3.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Peneliti melaksanakan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama dan melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang dilakukan siswa di kelas. Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
1) Mengkondisikan kelas dalam suasana belajar
2) Menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3) Menyampaikan apersepsi untuk memotivasi siswa. 4) Peneliti menyampaikan materi secara singkat.
5) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 orang. 6) Melaksanakan pementasan drama dengan metode bermain peran (role
playing) sesuai RPP yang telah dibuat sebelumnya
7) Siswa dan peneliti bersama-sama menarik kesimpulan mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan bersama-sama.
Pengamatan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan menggunakan lembar observasi yang disiapkan. Hal yang diamati adalah aktivitas siswa dalam kelompok.
3.6.3.3 Refleksi
Pada siklus ini dievaluasi mengenai tindakan-tindakan yang sudah dilakukan. Hal-hal yang dicatat adalah seberapa besar perubahan atau peningkatan keterampilan dan perubahan sikap bekerja sama siswa dalam bermain drama menggunakan metode bermain peran (role playing). Kegiatan pada refleksi siklus II meliputi:
1) Merefleksikan apa yang telah dilakukan pada siklus II (pertemuan 1 dan 2).
2) Mencatat hal-hal yang telah dan belum dicapai pada siklus 2 pertemuan 1 dan 2, kendala dan hambatan yang ditemukan, kondisi siswa sebelum dan setelah siklus.
3) Membandingkan hasil evaluasi siswa dan hasil observasi pada siklus 1 dan 2.
4) Memutuskan apakah penelitian pada siklus 1 dan 2 sudah berhasil atau belum.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah segala macam alat atau aktifitas yang dapat digunakan dalam pengumpulan data atau informasi dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik, yaitu teknik tes dan teknik non tes.
3.7.1 Tes (praktik bermain drama)
Teknik tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam pemahaman dalam pembelajaran. Tes yang digunakan oleh peneliti adalah berupa tes performansi dalam memainkan drama dengan langkah-langkah penerapan metode Bermain Peran (role playing).
3.7.2 Nontes
Teknik pengumpulan nontes dilakukan dengan pengamatan atau observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Adapun penjelasan masing-masing teknik sebagai berikut.
3.7.2.1 Pengamatan atau Observasi
sikap siswa, interaksi yang terjadi antara siswa dan guru, serta perlakuan dan tindakan guru dari awal hingga akhir pelajaran berlangsung.
3.7.2.2 Wawancara
Wawancara dilakukan dengan guru dan siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pandangan guru dan siswa terhadap kemapuan bermain drama, metode, dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran.
3.7.2.3 Angket
Angket adalah instrumen pencarian data yang berupa pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Instrumen ini disusun berdasarkan indikator yang dapat mengungkapkan pengetahuan dengan pengalaman berbicara, khususnya bermain drama.
3.7.2.4 Dokumentasi
Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumentasi foto. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik ini berupa gambar kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Peristiwa yang didokumentasikan diusahakan dapat mewakili setiap kegiatan dalam pembelajaran bermain drama.
3.8 Instrumen Penelitian
1) Pedoman pengamatan, digunakan untuk mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran.
2) Angket, digunakan untuk memperoleh data tentang kegiatan pembelajaran bermain drama.
3) Lembar penilaian keterampilan bermain drama, digunakan untuk penilaian tes praktik bermain drama. Lembar penilaian digunakan untuk melaporkan hasil penilaian berdasarkan faktor-faktor penunjang keterampilan dalam bermain drama yang diolah dari Harymawan (1993:45). Rincian aspek penilaian bermain drama dapat dilihat dalam tabel berikut
Tabel 3.1 : Pedoman penilaian Tes Praktik Bermain Drama melalui Teknik role playing
Tabel Pedoman Penilaian Bermain Drama
No Aspek Indikator
1. Mimik 1.ekspresi
5= (9-10) siswa dapat menyesuaikan dialog sesuai tokoh yang diperankan, pandangan menyebar dan menguasai situasi dalam pemeranan.
4= (7-8) dapat menyesuaikan dialog sesuai tokoh yang diperankan, pandangan menyebar ke seluruh ruang, kurang dapat menguasai situasi. 3= (5-6) siswa kurang dalam menyesuaikan dialog
sesuai tokoh yang diperankan, pandangan terpaku pada satu arah dan kurang dapat menguasai situasi.
2= (3-4) siswa kurang dalam menyesuaikan dialog sesuai tokoh yang diperankan, terpaku pada satu serta tidak dapat menguasai situasi. 1= (1-2) siswa tidak menyesuaikan dialog sesuai
2. Penghayatan 5= (9-10) siswa sangat menghayati karakter tokoh yang diperankannya, sesuai dengan alur dan tuntutan naskah.
4= (7-8) penghayatan karakter tokoh sudah bagus, kurang mengikuti alur dan tuntutan naskah. 3= ( 5-6) siswa kurang menghayati karakter tokoh, tidak
mengikuti sesuai dengan alur cerita.
2= (3-4) siswa tidak menghayati karakter tokoh dalam cerita ,dan tidak mengikuti sesuai dengan alur cerita.
1= (1-2) siswa sama sekali tidak menghayati karakter tokoh, melenceng dari tuntutan naskah.
3. Gerak 5= (9-10) saat tampil kemunculan pertama terlihat mantap, gerakan bersifat alami, menyesuaikan dialog, dapat memposisikan tubuh
(blocking)dengan baik.
4= (7-8) kemunculan pertama terlihat mantap, gerakan bersifat alami, menyesuaikan dialog, dan kurang begitu bisamenempatkan diri
(blocking).
3= (5-6) kemunculan pertama sedikit ragu-ragu, gerakan bersifat alami kurang menyesuaikan dialog, kurang dapat menempatkan diri
(blocking).
2= (3-4) kemunculan pertama terlihat ragu-ragu, gerakan terlihat kaku, kurang menyesuaikan dialog, tidak dapat menempatkan diri
(blocking).
1= (1-2) sangat terlihat gugup dan ragu-ragu sehingga gerakan terlihat canggung, tidak sesuai dengan dialog.
4. Diksi 1. Intonasi
5= (9-10) siswa dapat mengatur jeda dengan tepat, intonasi bervariasi menyesuaikan tuntutan naskah, pembicaraan lancar dan tidak terputus-putus.
intonasi bervariasi sesuai tuntutan naskah, pembicaraan lancar tetapi sedikit terputus-putus.
3= (5-6) siswa dapat mengatur jeda, intonasi cukup bervariasi sesuai tuntutan naskah,
pembicaraan kurang lancar, sedikit terbata-bata.
2= (3-4) siswa kurang dalam mengatur jeda, intonasi monoton, pembicaraan tidak lancar dan terbata-bata.
1= (1-2) siswa sama sekali tidak dapat mengatur jeda, berbicara seolah membaca dan tidak jelas.
5. Artikulasi 5= (9-10) pengucapan keras, terdengar jelas dan dapat dimengerti.
4= (7-8) pengucapan keras , terdengar cukup jelas dan dapat dimengerti. bahasa jelas tapi kurang keras.
3= (5-6) pengucapan cukup keras,terdengar jelas tetapi kurang dapat dimengerti.
2= (3-4) pengucapan pelan, terdengar, namun tidak begitu jelas dan tidak dapat dimengerti. 1= (1-2) pengucapan sama sekali tidak dapat
dimengerti
.
pada saat berakting. Seorang pemeran drama menggunakan wajahnya untuk memerankan karakter tertentu. Organ pada wajah digunakan untuk memperkuat karakter. Organ tersebut seperti mata, hidung, alis, mulut, dan lainnya. Misalnya memerankan orang yang marah, maka mata dibuka lebar-lebar atau melotot. b) Aspek penghayatan mencakup penjiwaan terhadap karakter tokoh yang diperankan serta kesesuaian permainan (acting) dengan tuntutan yang ada dalam naskah.
c) Aspek gerak berkaitan dengan sikap atau gerak-gerik pemain saat mempraktikan drama. Kesesuaian gerakan dan dialog perlu untuk diperhatikan, hal ini agar gerakan-gerakan yang dihasilkan tidak terlihat kaku.
d) Aspek intonasi terkait dengan bagaimana siswa mengatur tinggi rendahnya suara, mengatur jeda pada saat melakukan percakapan, serta penyesuaiannya dengan tuntutan dialog dalam naskah drama.
e) Aspek Artikulasi berkaitan dengan ketepatan pengucapan bunyi bahasa. Agar percakapan dapat dimengerti penonton, pemain harus dapat melafalkan setiap kalimat dengan baik. Tidak cukup hanya dengan keras, tetapi juga harus jelas vokalisasinya.
3.9 Validitas dan Reliabilitas
Suatu penelitian harus menggunakan instrumen yang baik untuk memperoleh data yang akurat. Instrumen yang baik harus memenuhi persyaratan valid dan reliabel. Sebuah instrumen dapat dikatan valid jika instrumen tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur tersebut, dan suatu instrmen dikatakan reliabel apabila instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data.
3.9.1 Validitas data
Burn melalui Madya (2009: 37-45) mengemukakan beberapa validitas dalam peneitian tindakan, yaitu validitas demokratik (democratic validity),
validitas proses (process validity), validitas hasil, validitas katalik (catalytic validity), dan validitas dialogik (dialogic va lidity). Adapun validitas yang digunakan dalam penelitian tindakan ini adalah:
3.9.1.1 Validitas Demokratis
bermain drama, hingga dicapai suatu kesepakatan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Selanjutnya, permasalahan yang ada didiskusikan untuk merumuskan tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan penelitian yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian (siswa). Siswa juga didorong untuk mengungkapkan pendapat dan gagasannya selama penelitian berlangsung.
3.9.1.2 Validitas Proses
Validitas proses dicapai dengan cara peneliti dan kolabolator secara intensif, berkesinambungan dan berkolaborasi dalam semua kegiatan yang terkait dengan proses penelitian (Madya, 2009: 40). Proses penelitian dilakukan dengan guru sebagai praktisi tindakan di kelas dan peneliti sebagai partisipan observer yang selalu berada di kelas dan mengikuti keseluruhan proses pembelajaran. Guru bersama peneliti secara kritis merefleksikan proses pembelajaran sehingga dapat melihat berbagai kekurangan dan segera berupaya untuk memperbaikinya.
3.9.2 Reliabilitas Data
3.10 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif yang didukung oleh data kuantitatif, yaitu mendeskripsikan kemampuan bermain drama sebelum dan sesudah implementasi tindakan. Analisis kualitatif digunakan untuk data kualitatif yang berupa hasil wawancara, tes bermain drama, angket, lembar observasi. Data kuantitatif diperoleh dari hasil penilaian bermain drama sebelum dan sesudah diberi tindakan.
3.10.1 Ketuntasan Individu
Ketuntasan individu siswa dapat diperoleh jika siswa memperoleh nilai
≥75 yang merupakan nilai KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Nilai
ketuntasan individu ditentukan dari nilai atau skor yang diperoleh siswa dengan menggunakan persamaan:
Nilai Individu = ∑ ��
∑ � �
× 100%
3.10.2 Ketuntasan Klasikal
Ketuntasan klasikal dikatakan telah dicapai apabila siswa melampaui KKM dengan target pencapaian lebih dari atau sama dengan 75% dari jumlah siswa dalam kelas. Untuk mengetahui ketuntasan secara klasikal menggunakan rumus sebagai berikut :
Presentase KKM = ∑ �� � ���
� ℎ ��
× 100%
Dalam menghitung rata-rata kelas setiap siklus digunakan rumus :
Rata-rata = = ∑ � � ℎ ℎ ��
3.10.3 Observasi
Dalam penelitian ini, observasi dilakukan pada setiap siswa. Terdapat 7 aspek dalam ranah afektif yang harus diisi oleh observer. Skor observasi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Nilai = �� � ℎ
� �
× 1
Tabel 3.2 Kategori Nilai Hasil Observasi Aspek Afektif
(Arikunto, 2007)
3.11 Kriteria Keberhasilan Tindakan
Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan, keberhasilan penelitian tindakan ditandai dengan adanya perubahan menuju arah perbaikan. Indikator keberhasilan tindakan ini terdiri dari keberhasilan proses dan performasi.
3.11.1 Indikator keberhasilan proses dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dapat berlangsung dengan menyenangkan dan untuk aspek siswa di kelas ketika pembelajaran berlangsung. Siswa lebih menghargai teman yang tampil di depan kelas, percaya diri, mampu bekerja sama dengan baik bersama kelompoknya, konsentrasi/serius dalam mengikuti pembelajaran.
3.11.2 Indikator keberhasilan perfomance dideskripsikan dari keberhasilan siswa dalam praktik bermain drama dengan metode bermain peran (role pla ying). Siswa
Presentase yang diperoleh Keterangan
66,68 ≤ q ≤ 100 Tinggi
33,34 ≤ q ≤ 66,67 Sedang
Tabel 3.3 Indikator Keberhasilan Pembelajaran
No Indikator
Target
Prasiklus Siklus I Siklus II