SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syaratan Memperoleh Gelar Sar jana Ilmu Komunikasi Pada FISIP - UPN “Veteran” J awa Timur
Oleh :
RENI MAHARANI 0943010130
Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan Univer sitas Pembangunan Nasional “VETERAN” J awa Timur
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pr ogram Studi Ilmu Komunikasi
Oleh :
RENI MAHARANI NPM : 0943010130
Telah Dipertahankan Dihadapan dan Diterima Oleh Tim Penguji Skr ipsi J ur usan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univer sitas
Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada Tanggal 18 J uli 2013
Pembimbing Utama Tim Penguji :
1. Ketua
Dra. Herlina Suksmawati, M.Si J uwito, S.Sos, M.Si
NIP. 19641225 199309 2001 NPT. 3 6704 95 00361
2. Sekertaris
Dr s. Kusnarto, M.Si NIP. 19580811984021001 3. Anggota
Dra. Herlina Suksmawati, M.Si NIP. 19641225 199309 2001
Mengetahui, DEKAN
Nama Mahasiswa : Reni Maharani
NPM : 0943010130
Progdi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Telah diuji dan diseminarkan pada tanggal 30 Mei 2013
PEMBIMBING TIM PENGUJI
Dra. Herlina Suksmawati, M.Si J uwito, S.sos, M.Si NIP. 19641225 199309 2001 NPT. 3 6704 95 00361
Dra. Diana Amelia, M.Si NIP. 19630907 199103 2001
Dra. Herlina Suksmawati, M.Si NIP. 19641225 199309 2001
Mengetahui
DEKAN KETUA PROGRAM STUDI
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah dan berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul
“PERSEPSI REMAJ A SURABAYA TERHADAP KESENIAN
CAMPURSARI DI TELEVISI.” dapat terselesaikan dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Dra.Herlina Suksmawati, M.Si selaku dosen pembimbing yang selama ini telah banyak memberikan bimbingan,perhatian dan masukan hingga terselesaikan skripsi ini.
Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara moril maupun secara materil, untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Dra. H. Suparwati, Ec, Msi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur .
2. Bapak Juwito, S.Sos, Msi, Ketua Progdi Ilmu Komunikasi Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Sosial dan Ilm Politik progdi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan ilmunya.
Akhir kata, penulis mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya skripsi ini.
Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membaca.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Surabaya, 10 Mei 2013
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
BAB II KAJ IAN PUSTAKA 2.1 Studi Pendahuluan ... 12
2.2 Televisi ... 13
2.3 Persepsi... 16
2.3.1 Pengertian Persepsi ... 16
2.3.2 Jenis Persepsi ... 17
2.3.3 Karakteristik Persepsi ... 18
2.3.4 Proses Persepsi ... 19
2.3.5 Persepsi dan Budaya ... 20
2.4 Campur Sari ... 22
2.4.1 Pengertian Campur Sari ... 22
2.4.2 Jenis Alat Musik Campur Sari ... 23
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ... 41
3.2 Definisi Konseptual... 42
3.2.1 Remaja... 42
3.2.2 Persepsi ... 43
3.2.3 Campursari ... 44
3.3 Subyek atau Informan Penelitian ... 45
3.4 Lokasi Penelitian ... 46
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 46
3.6 Teknik Analisis Data ... 48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data ... 50
4.1.1 Gambaran Umum TVRI ... 50
4.1.2 Gambaran Umum Remaja ... 50
4.1.3 Gambaran Umum Campursari ... 52
4.2 Identitas Informan ... 53
4.3 Analisis Data ... 56
4.3.1 Hasil Penelitian ... 56
4.3.2 Pembahasan ... 69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 72
5.2 Saran ... 73
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi remaja surabaya terhadap musik campursari.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif serta analisis deskriptif sebagai metode analisis datanya. Selain itu teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kultivasi dari George Gebner yang membahas proses komunikasi berkaitan dengan media massa khususnya televisi yang diyakini memilki pengaruh besar atas sikap atau perilaku penontonya. Informan dalam penelitian ini adalah remaja yang menjadi sinden dan pemain musik dalam campursari. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan teknik analisis data populasi dan sampel menggunakan teknik snowball sampling.
Hasil penelitian ini adalah, persepsi remaja surabaya terhadap kesenian campursari adalah musik tradisional yang dimainkan dengan alat musik tradisonal yang dipadukan antara musik diatonis dan pentatonic. Namun hanya satu stasiun televisi yang menayangkan acara campursari seperti halnya stasiun televisi TVRI Jawa Timur. Dari hasil pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa remaja saat ini juga menyukai campursari serta ikut andil dalam melestarikannya. Kata Kunci : Persepsi, kesenian campur sari, televisi
ABSTRACT
RENI MAHARANI, SURABAYA PERCEPTION OF YOUTH IN TELEVISION ARTS Mix (Descr iptive Qualitative Study of Perceptions of Teens Against Sur abaya Art Mix in TVRI)
This study aims to determine how adolescent perceptions of Surabaya against campursari music in an era now.
In this study, researchers used qualitative research methods as well as a descriptive analysis of the methods of data analysis. Besides the theory used in this research is cultivation theory of George Gebner that addresses the communication process related to the mass media, especially television which is believed to have the major influence on the attitude or behavior of spectators. Informants in this study is that adolescents become sinden and in campursari music player. Techniques of data collection using interviews, and data analysis techniques and sample populations using snowball sampling technique.
1.1 Latar Belakang Masalah
Media massa mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap khalayak. Terutama media televisi. Televisi dengan berbagai ragam acara yang disuguhkan, mampu menarik perhatian masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Dengan beragamnya tayangan yang diberikan, televisi seolah-olah mampu menyedot perhatian para penontonnya dan membuat ingin selalu menonton televisi. Tidak hanya orangtua saja bahkan anak-anak pun menjadikan televisi sebagai sebuah kebutuhan. Didukung kini dengan kepemilikan pesawat televisi oleh sebuah keluarga. Bukan barang mewah lagi, televisi sudah menjamur dimiliki oleh hampir setiap keluarga.
Televisi merupakan bagian dari salah satu media komunikasi massa. Televisi yang muncul di masyarakat di awal dekade 1960-an, semakin lama semakin mendominasi komunikasi massa. Sebagai media massa. Televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampaian pesan dibandingkan dengan media massa lain. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan (sinkron) dan hidup, sangat cepat (aktual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcast) dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi, 1986: 3).
warna dan kecepatan yang menjadi favorit sejak awal penemuannya. Televisi karena sifatnya yang audiovisual merupakan media yang dianggap paling efektif dalam menyebarkan nilai-nilai yang konsumtif dan permisif.
Dengan adanya program-program yang menarik di televisi, pemirsa seperti dimanja kan, karena pemirsa tinggal memilih acara apa yang ingin ditontonnya, dan pada saluran televisi mana yang mereka inginkan. Dengan banyaknya pilihan acara tersebut tidaklah mengherankan apabila hampir setiap saat remaja maupun anak-anak berada di depan televisi. Mulai dari bangun tidur, pulang sekolah bahkan menjelang tidur kembali.
Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari hampir disegala jenjang usia, baik oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa sekalipun. Acara yang disajikan juga beraneka ragam mulai dari hiburan sampai informasi. Salah satu acara yang menyajikan hiburan yaitu acara musik yang saat ini sedang digandrungi para remaja. Pada dasarnya musik di indonesia terdiri dari musik tradisional dan musik modern. Dimana salah satu yang termasuk musik tradisional adalah campursari.
Mungkin alat-alat musik elektronik seperti gitar listrik dengan kemungkinan berbagai macam efek dibandingkan dengan kacapi Sunda yang juga sudah mengenal efek dan elektrik, tapi masih dalam tataran tradisional barangkali merupakan contoh yang lain bagaimana kita mengkategorikan alat musik tradisional dengan modern. Padahal semuanya menjalani satu proses masing-masing dalam kata kunci perubahan tadi. Triangle dan Hesek adalah sama-sama pecussion yang bahan dasarnya juga barangkali hampir sama.
Musik daerah atau musik tradisional adalah musik yang lahir dan berkembang di daerah- daerah di seluruh Indonesia. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya). Musik tradisi memiliki karakteristik khas, yakni syair dan melodinya menggunakan bahasa dan gaya daerah setempat. Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang.
Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas orang/masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan.
sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual/egoistis. begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik dan gesek
Salah satu contoh musik tradisional yang masih berkembang hingga saat ini adalah Campursari. Campursari merupakan perpaduan antara musik modern dengan musik etnik dimana campursari juga merupakan salah satu bentuk kesenian yang hidup di Jawa. Dalam musik ini para seniman mencoba memadukan dua unsur musik yang berbeda untuk dapat memunculkan suatu bentuk musik yang baru. Dalam hal ini, instrumen etnik yang digunakan adalah gamelan (gamelan ageng) yang dipadukan dengan instrumen musik modern seperti gitar elektrik, bass, drum, dan keyboard.
Istilah campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik kontemporer Indonesia. Nama campursari diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campursari di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan sehingga dapat dikombinasi dengan instrumen musik barat, atau sebaliknya. Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen ‘asing’ ini ‘tunduk’ pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat: langgam Jawa
dan gending.
masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya
dangdut. Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot). Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh para pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa.
Perkembangan musik itu sangat bervariatif ada yang suka musik pop,rock,jazz,dangdut sampai ada yang suka musik campursari. Berdasarkan hasil observasi ditemukan data, sebagian besar remaja lebih menyukai musik pop atau musik modern. Dari setiap tingkatan usia hanya tingkatan usia yang tergolong tua yang cendrung memilih untuk menyukai musik tradisonal indonesia, itupun dalam jumlah yang relatif sedikit. Hal ini juga didukung oleh penelitiian yang dilakukan crew expresi disalah satu SMA di Ternate bahwa remaja saat ini lebih menyukai musik pop,jazz dan rock. Biasanya selera musik seseorang berbeda dengan orang lainnya, sesuai dengan alirannya. Ada orang yang lebih suka mendengar musik yang keras seperti musik rock, atau bahkan yang lebut seperti musik klasik serta jenis musik lainnya seprti pop, dangdut ataupun musik jazz.
66 persen menyukai aliran musik ini. “Musik yang saya suka adalah jenis musik pop karena irama musiknya sangat enak di dengar seperti grup band peterpan yang semua lagunya enak sekali di dengar apalagi jika untuk menemani tidur.
Saya selalu mendengarkan musik pop dari pada musik laennya, menurut salahsatusiswa diSMKN2 Ternate.
Selain di Ternate, di Surabaya pun juga ada pernyataan yang mendukung bahwa musik pop lebih digandrungi para remaja sebagai berikut: Inilah celoteh apa adanya dari mereka yang belia masih ABG (beberapa siswa SMP Santa Maria Surabaya), dan masih begitu muda pengetahuannya terhadap Campursari. Menonton dan menikmati acara CampurSari di TVRI tanggal 21 dan 28 Januari 2013 merupakan pengalaman yang gress, bener-bener anyar untuk mereka.. Mudah-mudahan pada akhirnya musik campursari bisa terasa “mak-nyus” di hati para kawula muda ini ( www.wordpress.com ).
Menurut salah satu siswa SMA Santa Maria yang bernama Felianie, dia berkata “Kesan saya ketika menonton acara campursari, pertama-tama saya cukup menikmati, tetapi jujur lama-lama saya sedikit bosan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan. Karena saya kurang menggemari lagu-lagu berirama keroncong.Menurut saya, suka dan tidaknya orang terhadap suatu jenis musik tergantung pada selera individu yang bersangkutan. Untuk saya sendiri, saya kurang menyukai lagu-lagu campursari karena lagu campursari berirama lambat dan bagi saya itu tidak enak didengar/membosankan.”
kata campursari benar-benar bikin gak minat. Di pikiran saya selama ini, musik keroncong itu tidak pernah jauh dari kata “musik lama”, “membosankan”, dan tidak enak didengar”. www.wordpress.com
Dalam hal ini persentase musik tradisional memang sangat jauh daripada musik modern. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut;
1. Sebagian besar remaja Indonesia beranggapan bahwa musik tradisional Indonesia cenderung memiliki alunan yang lembut sehingga tidak asik didengar atau membuat mengantuk.
2. Merasa kuno dan ketinggalan zaman bila musik yang didengarkan atau dinyanyikan adalah musik tradisional Indonesia.
3. Tidak peduli terhadap musik tradisional Indonesia dan tidak mengetahui tentang musik itu sendiri
4. Adanya rasa memiliki namun tidak ada kemauan untuk menjaga dan melestarikan sehingga musik tradisional Indonesia bias di klaim oleh Negara lain.
5. Dan lain sebagainya.
Jadi, karena tidak ada peminat yang ingin melihat, menonton, dan menyaksikan pagelaran musik tradisional, tidak akan ada pagelaran semacam ini diadakan kembali. Lalu lama kelamaan akan jarang bahkan tidak akan digelar lagi. Jadi selanjutnya akan banyak orang yang tidak mengetahui musik tradisional Indonesia.
Akhir – akhir ini yang sedang terjadi adalah diterpa oleh budaya barat dari luar negeri dimana musik dan tarian yang lebih disukai oleh para remaja. Remaja tidak sadar bahwa dengan menyukai hal-hal tersebut sama aja melindas budaya kita sendiri. Dibantu oleh media maka budaya barat semakin merajalela dikalangan remaja yang seharusnya remaja melestarikan budaya negara sendiri malah lebih menyukai dan melestarikan budaya negara lain.
Ditambah dengan media massa seperti televisi hampir semua statiun televisi menayangkan budaya luar negeri, dari 11 stasiun televisi nasional mulai dari ANTV, GlobalTV, Indosiar, MetroTV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans TV, Trans 7, tvOne, TVRI hanya satu stasiun televisi yang menampilkan dan masih melestarikan budaya negara kita yaitu TVRI seperti kesenian campursari, tidak hanya televisi nasional televisi lokal pun khususnya surabaya juga masih menmpilkan musik campursari yaitu JTV. Dilihat sekarang semakin berkurang juga untuk menyangkan acara-acara iyang melestarikan budaya negara sendiri.
campursri adalah musik asli dalam negeri yang harus tetap dilestarikan agar tidak dimiliki negara lain. Remaja lebih memilih musik luar negeri yang mereka sendiri tidak mengetahui apa arti dri musik itu sendiri. Perkembangan campursari sendiri sudah sangat pesat dari campursari yang musiknya kalem dan lebih pekat dengan gending-gending jawa sekarang lebih bervariasi dengan adanya tambahan musik dagdut koplo jadi sekarang campursari lebih bewarna.
Penyanyi juga tidak hanya dari sinden atau penyanyi campusari melainkan lebih variatif dengan hadirnya penyanyi dangdut. Saat ini juga campursari tidak hanya diperuntukan acara-acara formal saja seperti acara pernikahan tetapi di salah satu stasiun televisi pemerintah campursari masuk dlam satu program yang melestarikan budaya indonesia yaitu Campursari Tambane Ati. Acara yang di tayangkan oleh TVRI ini tayang setiap hari kamis jam 17.30 WIB. Acara ini sangat baik selainkan untuk melestarikan budaya jawa juga dapat mengembangakn campursari itu sendiri.
Meskipun ada remaja yang tidak menyukai campursari ada juga remaja yang menyukai campursari bahakan dia juga menjadi penyanyi atau sinden campursari. Bagi mereka campursari tidak ada bedanya dengn musik yang lain. Bagi mereka selain men yanyi mereka juga dapat melestarikan budaya jawa atau salah satu budaya di indonesia.
untuk membantu menyelesaikan masalah ini. salah satunya adalah teori kultivasi yang digagas oleh George Gerbner.
Gerbner menandaskan, media massa khususnya televisi diyakini memiliki pengaruh yang besar atas sikap dan perilaku penontonnya (behavior effect). Pengaruh tersebut tidak muncul seketika melainkan bersifat kumulatif dan tidak langsung. Inilah yang membedakan teori ini dengan The Hypodermic Neddle Theory, atau sering juga disebut The Magic Bullet Theory, Agenda Setting Theory, Spiral of Silence Theory.
Di antara berbagai teori dampak media, cultivation analysis merupakan teori yang menonjol. Gerbner menyatakan bahwa televisi sebagai salah satu media modern, telah memperoleh tempat sedemikian rupa dan sedemikian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya.
Terpilihnya Surabaya sebagai lokasi penelitian ini adalah dikarenakan Surabaya merupakan kota multi etnis yang kaya budaya. Setiap budaya membaur dengan penduduk asli Surabaya membentuk pluralisme budaya yang selanjutnya menjadi ciri khas kota Surabaya. Masyarakat asli Surabaya juga mudah bergaul dengan gaya bicara yang terbuka. ( http://www.surabaya.go.id/ - Situs resmi pemerintah kota Surabaya)
secara langsung mengumpulkan informasi yang didapat dari subjek penelitian yaitu campur sari di Surabaya. Penelitian ini dilakukan secara intensif melalui observasi lapangan, wawancara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka dapat diambil perumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut : Bagaimana Persepsi Remaja Surabaya Terhadap Kesenian Campursari di TVRI ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi remaja Surabaya terhadap kesenian campursari di TVRI.
1.4 Manfaat Penelitian
2.1 Studi Pendahuluan
Berdasarkan penelitian terdahulu maka dalam penelitian kali ini akan disimpulan beberapa pokok kajian yang sama antara lain : penelitian yang berjudul Persepsi Penonton Televisi Terhadap Tayangan Reka Ulang Peristiwa Kriminal yang ditulis oleh Didik Hariyanto menyampaiakan bahwa setiap pesan komunikasi akan mendapatkan persepsi yang berbeda dari khalayak atau komunikan, banyak faktor yang mempengaruhinya. Begitu juga dengan tayangan reka ulang peristiwa criminal di televisi. Metode penelitian yang digunkan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi karena berupaya membiarkan realitas mengungkapkan dirinya sendiri secara alami, studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadran terdalam pada subjek mengenai suatu peristiwa seperti fenomena kejahatan masyrakat.
2.2 Televisi
Televisi berasal dari dua kata yaitu tele (bahasa yunani) yang berani jauh, dan visi atau videre (bahasa latin) yang berarti penglihatan. Dengan demikian televisi dengan bahasa inggrisnya television diartikan dengan melihat jauh. Melihat jauh disini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi di suatu tempat (studio televisi ) dapat dilihat dari tempat “lain” melalui sebuah perangkat penerima (televisi set) ( Wahyudi, 1986 : 49 ).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2006 : 1335 ), televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar.
Televisi yang muncul di masyarakat di awal dekade 1960-an, semakin lama semakin mendominasi komunikasi massa. Sebagai media massa televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampian pesan dibandingkan dengan media massa lain. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan (sinkron) dan hidup, sangat cepat(aktual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcast) dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi,1986:3).
diungkapkan Wahyudi (1986:215), televisi tidak dapat memuaskan semua orang pada saat bersamaan yang memiliki latar belakang, usia, pendidikan, status sosial, kepercaayaaan, paham, golongan yang berbeda-beda. Televisi dapat membuat orang puas, tidak puas, senang, tidak senang, sedih, gembira, marah yang semuanya merupakan hal wajar karena sifat manusia yang berbeda-beda.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulakan yaitu bahwa televisi adalah alat atau benda untuk menyiarkan siaran-siaran yang menawarkan gambar dan suara sekaligus. Dari siaran televisi ini penonton dapat mendengarkan dan melihat gambar-gambar yang disajikan, yang memadukan antara unsur-unsur film sekaligus. Hal inilah yang menyebabkan televisi menjadi salah satu media massa yang paling diminati di masyarkat.
Menurut Dominick yang dikutip oleh Ardianto, dkk(2007:15-17) menyebutkan bahwa televisi merupakan alat komunikasi massa yang memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Pengawasan ( survillance )
Fungsi ini terbagi dua, yaitu pengawasan peringatan ketika media massa menginformasikan tentang ancaman kondisi efek yang memprihatinkan dan pengawasan instrumental merupakan penyampaian dan penyebaran informasi memilki kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Penafsiran ( intrepretation )
3. Pertalian ( Linkage )
Fungsi ini merupakan penyatuan anggota masyarkat yang beragam, membentuk pertalian berdasarkan kepentingan dan minat yang sama. 4. Penyebaran Nilai (Transmission of Value)
Dimana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok yang mereka tonton.
5. Hiburan ( Entertainment)
Fungsi televisi ini untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak.
Kehadiran televisi begitu berarti bagi masyarakat. Televisi menjadi suatu kebutuhan dalam ruang publik. Tayangan program acara yang beraneka ragam, mendapat perhatian masyarakat. Tentunya televisi mampu menyampaikan pesan yang seolah-olah langsung antara komunikator dengan komunikan.
Melalui televisi masyarakat menjadi tahu berbagai macam informasi. Televisi telah mampu menembus ruang kehidupan masyarakat. Peranan televisi selain sebagai alat informasi juga sebagai kontrol sosial, hiburan serta media penghubung secara geografis yang akan berpengaruh sangat besar terhadap masyarakat. Secara sadar atau tidak sadar pola kehidupan masyarakat telah berubah dan dikendalikan oleh televisi itu sendiri. Banyak jadwal kegiatan masyrakat berubah disesuaikan dengan jdawal program acara yang mereka senangi ditelevisi.
yang ditimbulkan juga beraneka ragam. Dengan demikian, televisi sangat berperan dalam mempengaruhi mental, pola pikir khalayak umum. Televisi karena sifatnya audiovisual mrupakan media yang dianggap paling efektif dalam menyebarkan nilai-nilai yang konsumtif dan permisif.
2.3 Persepsi
2.3.1 Pengertian Per sepsi
Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita (Mulyana, 2001:167).
Persepsi, menurut Rakhmat Jalaludin (1998:51) adalah pengalaman tentang objek, pariwisata, hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpilkan informasi dan menafsirkan pesan.
Seperti yang dinyatakan Gamble dan Gamble “Persepsi merupakan proses seleksi, pengaturan dan penginterpretasikan data sensor dengan cara yang memungkinkan kita mengerti dunia kita”. Dengan kata lain, persepsi merupakan proses dimana orang-orang mengubah kejadian dan pengalaman eksternal menjadi pemahaman internal yang berarti ( Samovar, Porter, Mc.Daniel, 2010 : 222 ).
Donely (1994:53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh sesorang individu.
Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja. Stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera (Chaplin, 1989:358).
Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima sesorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak, kemudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilakn persepsi (Atkinson dan Hilgard, 1991:209).
Berdasrkan beberapa definisi persepsi diatas maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selalanjutnya diproses oleh otak.
2.3.2 J enis Per sepsi
Menurut Mulyana (2001:172) pada dasarnya persepsi manusia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
dari suatu benda. Dapat diartikan bahwa manusia dalam menilai suatu benda mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Dan persepsi terhadap objek bersifat status karena objek tidak mempersiapkan manusia ketika manuasia ketika manusia tersebut mempersiapkan objek-objek tersebut.
b. Persepsi terhadap manusia adalah persepsi manusia terhadap orang melalui sifat-sifat luar dalam (perasaan, motif, dan harapan) dapat diartikan manusia bersifat interaktif karena manusia akan mempersiapkannya dan bersifat dinamis karena persepsi terhadap manusia bisa berubah-rubah dari waktu ke waktu.
c. Persepsi terhadap lingkungan sosial adalah suatub proses bagaiman sesorang menangkap arti dari objek sosial dan kejaidian-kejadian yang kita alami dari lingkungan kita.
2.3.3 Karekteristik Per sepsi
Menurut Busch dan Houtson ( 1985 ) yang dikutip oleh Ujang Sumarwan (2004:114) karekteristik persepsi dapat didefinisikan sebagai berikut:
memperhatikan aspek lingkungan yang berhubungan dengan urusan pribadi mereka. Mereka mengesampingkan urusan-urusan lain yang tidak berkaitan dengan urusan pribadi mereka.
b. Terorganisir atau teratur, suatu perangsang atau pendorong tidak bisa dianggap terisolasi dari perangsang lain. rangsangan dikelompokakn kedalm suatu pola atau informasi yang membentuk kesluruhan. Jadi ketika seseorang memperhatikan sesuatu, perangsang harus berusaha untuk mengatur.
c. Stimulus adalah apa yang dirasakan dan arti yang terdapat didalamnya adalah fungsi dari perangsang atau pendorong itu sendiri.
d. Subjektif, persepsi merupakan fungsi faktor pribadi hal-hal yang berasal dari sifat penikmat atau perasa, kebutuhan, nilai-nilai, motif, pengalaman masa lalu, pola pikir dan kepribadian seseorang dalam individu memainkan suatu peran dalam persepsi.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa karakteristik tertentu dalam membentuk perspsi yaitu bahwa persepsi bersifat selektif, teroragisir atau teratur, adanya stimulus untuk dipersepsi bersifat subjektif. Ke empat karakteristik tersebut sangat erat kaitannya dengan persepsi.
2.3.4 Pr oses Per sepsi
1. Seleksi, adalah proses penyaringan alat indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas, dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
2. Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengauhi oleh bebrapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, motivasi, dll. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan sesorang untuk mengadakan pengategorian informasi yang diterimanya.
3. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi.
Dari pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwa seleksi ( penyaringan terhadap rangsangan ), interpretasi ( pengorganisasian informasi ), interpretasi dan persepsi ( penerjemah berupa reaksi ), merupakan tiga komponen penting yang saling terkait satu sama lain dalam membentuk proses persepsi.
2.3.5 Per sepsi dan Budaya
Kelompok – kelompok budaya boleh jadi berbeda dalam mempersepsikan sesuatu. Orang Jepang berpandangan bahwa kegemaran berbcicara adalah kedangkalan, sedngakan orang Amerika berpandangan bahwa mengutarakan pendapat secara terbuka adalah hal yang baik.
Larry A. Samovar dan Richard E. Porter ( dalam Mulyana, 2003:197 ) mengemukakan 6 unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi persepsi ketika kita berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yakni :
1. Kepercayaan ( beliefs ), nilai ( values ), sikap ( attitude ) 2. Pandangan dunia ( world view )
3. Organisasi sosial ( social organization ) 4. Tabiat manusia ( human nature )
5. Orientasi kegiatan ( activity orientation )
6. Persepsi tentang diri dan orang lain ( perseption of self and other ) Meskipun keenam unsur tersebut dapat dibahas sendiri – sendiri, pada dasarnya unsur – unsur tersebut saling berkaitan. Kita dapat mengalami peristiwa yang sama dan sepakat dengan apa yang kita lihat secara fisik, namun sering berbeda dalam memakanai peristiwa atau objek yang kita lihat.
oleh Chiu dan Hong yang menuliskan,” Bahkan setiap proses kognitif dasar, seperti perhatian dan persepsi merupakan hal yang lunak dan dapat diperolah melalui pengalaman budaya.” (Samovar, Porter, Mcdaniel, 2010 : 223). Selain itu, budaya dapat mempengaruhi proses persepsi, karena seperti sebelumnya dijelakan bahwa persepsi itu bersifat selektif, terlalu banyaknya stimulus yang bersaing menrik perhatian pada waktu yang sama mengakibatkan kita hanya menerima informasi yang berkiatan dengan pengalaman hidup dan pengetahuan kita, dan salah satunya ditentukan oleh faktor budaya.
2.4 Campur Sari
2.4.1 Pengertian Campur Sari
Campursari adalah musik tradisional masyarakat jawa. Musik ini diperkirakan lahir pada dekade "60-an di daerah Jawa Tengah. Musik campursasri dimainkan dengan alat musik gamelan yang terdiri dari: Slenthem, Peking, Kendang, Gong, Bonang/tidak semua bagian, di tambah suling. Untuk melengkapi khasanah musiknya, gamelan tersebut dipadukan dengan alat musik modern seperti: gitar dan keyboard (http://www.keroncong.web.id/article_read.php?a=98).
berbeda yaitu instrumen musik etnik yaitu gamelan dan instrumen musik modern seperti gitar elektrik, bass, drum serta keyboard, sehingga dapat dikatakan bahwa campursari adalah musik hybrida hasil perkawinan silang antara musik barat dan tradisional. Kesenian ini memerlukan beberapa pemain musik, tak kurang dari hampir sepuluh orang untuk menghasilkan irama.
Dapat disimpulkan bahwa Campur Sari adalah musik campuran dari musik tradisional dan modern sehingga memadukan dua unsur musik yang berbeda yaitu instrumen musik etnik yaitu gamelan dan instrumen musik modern seperti gitar elektrik, bass, drum serta keyboard
2.4.2 J enis Alat Musik Campur sari
mengayunkan pemukulnya dan tangan kiri melakukan "patet", yaitu menahan getaran yang terjadi pada lembaran logam. Dalam menabuh slenthem lebih dibutuhkan naluri atau perasaan si penabuh untuk menghasilkan gema ataupun bentuk dengungan yang baik. Pada notasi C, D, E, G misalnya, gema yang dihasilkan saat menabuh nada C harus hilang tepat saat nada D ditabuh, dan begitu seterusnya.
Untuk tempo penabuhan, cara yang digunakan sama seperti halnya bila menggunakan balungan, ricik, dan saron. Namun untuk keadaan tertentu misalnya demung imbal, maka slenthem dimainkan untuk mengisi kekosongan antara nada balungan yang ditabuh lambat dengan menabuh dua kali lipat ketukan balungan. Atau bisa juga pada kondisi slenthem harus menabuh setengah kali ada balungan karena balungan sedang ditabuh cepat, misalnya ketika gendhing Gangsaran pada adegan perangan. Berikut foto alat musik Slenthem :
Kendang, kendhang, atau gendang adalah instrumen dalam
gamelanJawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek. Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan berbeda nuansanya.
Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan. Berikut foto alat musik Gong :
Suling adalah alat musik dari keluarga alat musik tiup kayu atau terbuat dari bambu. Suara suling berciri lembut dan dapat dipadukan dengan alat musik lainnya dengan baik. Suling modern untuk para ahli umumnya terbuat dari perak, emas atau campuran keduanya. Sedangkan suling untuk pelajar umumnya terbuat dari nikel-perak, atau logam yang dilapisi perak.Suling konser standar ditalakan di C dan mempunyai jangkauan nada 3 oktaf dimulai dari middle C. Akan tetapi, pada beberapa suling untuk para ahli ada kunci tambahan untuk mencapai nada B di bawah middle C. Ini berarti suling merupakan salah satu alat musik orkes yang tinggi, hanya piccolo yang lebih tinggi lagi dari suling. Berikut ini adalah foto alat musik sruling :
2.4.3 Sejar ah Campur Sar i
Munculnya musik campursari pada awalnya berangkat dari musik keroncong asli langgam, campursari tetap menggunakan dasar-dasar keroncong. Ada yang cenderung ke musik karawitan, ada yang cenderung ke keroncong. Campursari diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan jenis musik Jawa modern, lirik-lirik lagunya masih mengadopsi lirik gending Jawa tradisional walaupun tidak semua, karena sebagian besar dari senimannya berusaha menciptakan lagu campursari itu menyesuaikan dengan keadaan zaman yang sedang berlangsung. Campursari awalnya dipopulerkan oleh Ki Nartosabdho melalui setiap pertunjukkan wayang kulit yang dimainkannya.
Ki Nartosabdho nama aslinya adalah Sunarto. Ia lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya Partinojo seorang pembuat sarung keris. Sunarto kecil tidak dapat melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Beranjak remaja, Sunarto hijrah ke Jakarta untuk menopang ekonomi keluarganya dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Ia juga turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola.
adalah ibarat satu kesatuan sebagai bapak dan anak, oleh karena itu kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kesayangannya ini menjadi Nartosabdho.Ki Nartosabdho merupakan pembaharu dunia pedalangan tahun 80-an, menggabungkan musik modern dengan musik gamelan sehingga menghasilkan harmoni dengan nuansa tradisi Jawa, namun hal tersebut memunculkan kontroversi.
Sementara campursari zaman modern dipelopori oleh Anto Sugiyarto atau yang lebih dikenal dengan nama Manthous beserta saudara-saudaranya di awal tahun 1993 . Manthous dilahirkan di desa Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta Ketika berusia enam belas tahun ia hijrah ke Jakarta untuk ngamen, malang melintang di dunia musik, ikut bergabung dengan Kroncong Bintang Jakarta. Tahun 1993 Matnhous mendirikan grup musik campursari “Maju Lancar”. Manthous dengan kepekaan musikalitasnya mengadakan inovasi besar-besaran terhadap campursari lama.
menghidupkan musikalitas campursari. Selain itu Manthous juga memasukkan seperangkat drum untuk menambah kesempurnaan musik campursari. Musik campursari yang diciptakan, biasanya bernuansa segar dan penuh dengan keriangan. Munculnya album Campursari Gunung Kidul (CSGK) mengawali kesuksesan Manthous. Berkat penemuan kreatifnya itu, Manthous mendapatkan penghargaan sebagai “Seniman Inovatif” pada tahun 1996 dari PWI Cabang Yogyakarta. Manthous juga menyabet beberapa penghargaan dalam ajang Panasonic Award maupun Ami Sharp Award. Penghargaan terkahir diperolehnya pada tahun 2001 untuk kategori Artis Tradisional Kontemporer terbaik serta Album Tradisional Kontemporer terlaris.
Sari, Tahu opo tempe, Rondho Kempling, loro bronto dan sebagainya yang masih merupakan lagu ciptaan Manthous.
Sayangnya, dikarenakan sedang mengalami sakit sampai dinyatakan terkena stroke, Manthous sekarang tidak bisa lagi menciptakan mahakarya seni yang pernah digagasnya sendiri ini. Walaupun demikian, alunan gending-gending campursari masih sering terdengar di setiap pojok tempat, baik di rumah makan, bus-bus antar kota atau propinsi, radio-radio lokal, dan di acara-acara hajatan.
Keberadaan keberadaan kesenian campursari di Jawa, bisa memberikan peluang untuk ditampilkan pada event festival musik dunia. Hal ini tentu saja jika mendapat dukungan dari penggemarnya. Berbagai terobosan telah dilakukan oleh Dedi Kempot yang telah menyelenggarakan berbagai pagelaran di berbagai negara seperti Belanda dan Suriname. Tetapi jika bangsa sendiri khuusnya masyarakat Jawa kurang memberikan dukungan terhadap keberadaan musik campursari maka mustahil hal tersebut dapat terwujud. Buktinya musik campursari pernah tumbuh bagai cendawan di musim hujan, kini bagai di telan bumi. Bahkan beberapa tahun silam musik campursari sempat menjadi fenomena di belantika musik Indonesia, setelah mendapat sentuhan dari Manthous.
mulai enggan menanggap kesenian ini. Adanya penggabungan seni tradisi dan modern pada pertengahan tahun 1990-an merupakan simbolisasi pertemuan barat dan timur dalam hal sistem tangga nadanya Lahirnya musik campursari oleh Manthous memunculkan daya pesona, menjadi magnet bagi pecinta dan pelaku musik untuk mengapresiasinya, serta mendorong tumbuhnya grup-grup musik campursari tidak hanya di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta. Campursari mengenal empat kategori jenis musik yaitu pelog dan slendro yssang merupakan aransemen dalam musik karawitan, serta mayor minor dalam musik keroncong atau pop.
Menurut Didi Kempot, musik campursari tidak hanya terkenal di Jawa namun juga telah dikenal di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kemunculan campursari sempat memunculkan kontroversi di kalangan seniman, karena dianggap menurunkan suatu tradisi yang terkandung di dalam gamelan sebagai musik istana. Kendati muncul pro kontra terhadap kemurnian aliran musik ini, namun semua pihak sepakat dan memahami bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa. Selain itu muncul pula kontroversi ketika adanya campursari dalam pergelaran wayang. Banyak dalang yang menentang adanya musik campursari dalam wayang. Banyak musisi campursari mengatakan bahwa jenis musik ini sedang mengalami stagnasi.
2.5 Remaja
2.5.1 Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1990) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak (http://www.duniapsikologi.com/remaja-pengertian-dan-definisinya/)
Menurut Sarwono (2004:71) Remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa. Terlepas dari banyaknya versi definisi, deskripsi dan klasifikasi remaja yang jelas masa remaja adalah masa yang penuh emosi. Salah satu ciri periode inin adalah emosi yang meledak – ledak dan sulit dikendalikan.
Menurut Santrock ( 2002 : 7 ) masa remaja masa perkembangan transisi antara masa anak – anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional.
Secara kronologiDari definisi – definisi diatas yang tergolong remaja ini berkisar antara usia 12/13 – 21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa mengutip pendapat erikson maka remaja akan melalui masa krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
Batasan umur pada remaja menurut Monk et.al ( 2003 : 260 ) dibagi menjadi tiga fase, yaitu : (1) Fase remaja awal pada usia 12 tahun-15 tahun, (2) Fase remaja pertengahan pada usia 16 tahun-18 tahun, (3) Fase remaja akhir yaitu pada batasan usia 19 tahun-21 tahun.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan masa transisi / peralihan dari masa anak – anak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, psikososial. Secara kronologi yang terglong remaja berkisar anatar usia 12-21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa maka remaja akan melalui masa krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri ( search for self-identity ).
2.5.2 Proses penyesuaian dir i menuju kedewasaan : a. Remaja Awal (early adolescence )
b. Remaja Madya (middle adolescence)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan – kawan. Ia senang kalau banyak teman yang menyukai. Ada kecenderungan “narcistic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman – teman yang punya sifat – sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana : peka atau tidak peduli, ramai – ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis materalis dan sebagainya.
c. Remaja akhir ( late adolescence )
Tahap ini dalah masa konsolidasi menuju perode dewasa dan ditandai dengan pencapaian 5 hal, yaitu :
a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi – fungsi intelek. b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang –
orang lain dan dalam pengalaman – pengalaman baru.
c. Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi. d. Egosentrisme ( terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri
dengan keseimbangan antara kepentingan diri endiri dengan orang lain ).
e. Tumbuh “ dinding “ yang memisahkan diri pribadinya ( private self ) dan masyarakat umum ( the public ).
mencerminkan tahap – tahap perkembangan umat manusia sebagai berikut :
a. Masa kanak – kanak ( infancy ) : 0-4 tahun, mencerminkan tahap hewan dari evolusi umat manusia
b. Masa anak – anak ( childhood ) : 4-8 tahun, mencerminkan masa manusia liar manusia yang masih menggantungkan hidupnya pada beburu atau mencari ikan.
c. Masa muda ( youth atau preadolescence ) : 8-12 tahun, mencerminkan era manusia sudah agak mengenal kebudayaan, tetapi masih tetap setengah liar ( semi - barbarian ).
d. Masa remaja ( adolescence ) : 12-25 tahun, yaitu masa topan – badai ( strum und drang ), yaitu mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai –nilai.
2.6 Teori Kultivasi
Salah satu teori tentang komunikasi adalah Teori Kultivasi. Teori Kultivasi (Cultivation Theory) merupakan salah satu teori yang mencoba menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi (dalam hal ini televisi) dengan sikap atau perilaku penonton. Teori ini dikemukakan oleh George Gerbner.
langsung. Inilah yang membedakan teori ini dengan The Hypodermic Neddle Theory, atau sering juga disebut The Magic Bullet Theory, Agenda Setting Theory, Spiral of Silence Theory.
Teori Kultivasi mengajukan tiga asumsi dasar untuk mengedepankan gagasan bahwa realitas yang diperantarai oleh TV menyebabakan khalayak menciptakan realitas sosil mereka sendiri yang berbeda dengan realitas sebenarnya. Ketiga asumsi dasar teori kultivasi ini adalah TV merupakan media yang sangat berbeda, TV emebentuk cara masyarakat berpikir dan berinteraksi, serta pengaruh TV bersifat terbatas.
Di antara berbagai teori dampak media, cultivation analysis merupakan teori yang menonjol. Gerbner menyatakan bahwa televisi sebagai salah satu media modern, telah memperoleh tempat sedemikian rupa dan sedemikian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya.
2.7. Kerangka Berpikir
penting karena melalui media massa terutama media audio visual media televisi yang menarik inilah yang memudahkan budaya asing masuk ke indonesia.
Penulis tetarik untuk meneliti tayangan musik campur sari di TVRI sebagai bagian dari budaya tradisional yang saat ini jarang diminati para remaja khususnya. Mengingat remaja merupakan generasi penerus budaya bangsa, seharusnya remaja lebih melestarikan budaya sendiri daripada budaya asing.
Dalam penelitian ini, deskriptif kualitatif digunakan sebagai metode penelitian dengan menggunakan teori komunikasi Kultivasi, teori ini digunakan dalam proses komunikasi berkaitan dengan media massa khususnya televisi yang diyakini memiliki pengaruh yang besar atas sikap dan perilaku penontonnya (behavior effect). Pengaruh tersebut tidak muncul seketika melainkan bersifat kumulatif dan tidak langsung.
Tabel 1. Kerangka Berpikir
Tabel 1. Kerangka Berpikir Budaya Tradisonal melalui media
massa televisi
Campursari ditelevisi khusunya televisi lokal di Jawa Timur yaitu
TVRI Jawa Timur
Fenomena Campursari sebagai bagian dari budaya tradisional di
Surabaya
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 J enis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan deskrpstif, yakni penelitian yang memberikan gamabaran atas uraian suatu keadaan sejernih mungkin, tanpa adanya perlakuan terhadap objek yang diteliti ( Kountur, 2007 : 53 ).Metode ini merupakan suatu metode yang berupaya memeberikan gamabaran tentang suatu fenomena tertentu secara terperinci, sehingga akhirnya diperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang fenomena yang sedang diteliti.
Pendekatan yang peneliti gunakan adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam – dalamnya. Penelitian ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan populasi atau smplingnya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Disini yang lebih ditekankan adalah proses kedalaman ( kualitas ) data, bukan banyaknya data ( kuantitas ) data ( Kriyantono, 2008 : 56 ).
menyesuaiakn diri dengan banyak pengaruh terhadap pola – pola nilai yang dihadapi ( Moleong, 2002 : 24 ).
Menurut Rakhmat ( 2004 : 24 ), penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk beberapa hal, diantaranya :
1. Mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek – praktek yang berlaku.
2. Membuat perbandingan atau evaluasi.
3. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.
4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalm menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
Dalam penelitian ini yang akan diuraikan dan dijelaskan adalah bagaiaman persepsi remaja surabaya terhadap kesenian Campursari di televisi.
3.2 Definisi Konseptual
Definisi Konseptual merupakan pengolahan konsep – konsep yang konstruktif dengan kata – kata yang menggambarkan perilaku, gejala yang diamati, dapat diuji dan dapat ditentukan kebenarannya oleh orang lain. Definisi konseptual dalam penelitian ini dapt dijelaskan sebagai berikut :
3.2.1. Remaja
pada fisik maupun sifat seseorang, dan di masa remaja inilah terbentuknya karakter individu tersebut.
Dimana krisis dari anak- anak menuju dewasa inilah remaja merasa tertantang untuk membuktikan kemampuan intelektualnya. Remaja pada masa ini cenderung mengikuti apa yang dilihatnya. Hal inilah yang menjadikan remaja mudah dipengaruhi oleh hal – hal yang sedang populer saat ini sebagai pembuktian diri. Remaja saat ini mudah terpengaruh dengan budaya asing yang sebenrnya mereka sendiri tidak mengetahui arti nya, justru budaya sendiri mereka tinggalkan dan tidak melestraikan.
3.2.2. Persepsi
Persepsi adalah penafsiran atau interpretasi terhadap objek tertentu sehingga menimbulkan pendapat dari seseorang yang menfsirkan objek..
3.2.3. Campursari
Campursari adalah suatu kesenian musik tradisional yang menggunkan alat musik tradisional dan lirik lagunya berbahasa jawa. Di jawa sendiri perkembangan musik campursari sangat pesaat dengan adanya musik campursari yang sangat bervariatif karena sudah mulai banyak inovasi dari perkembangan musiknya,penyanyi dan alat-alat musiknya.
Pengenalan Campursari awalnya berangkat dari musik keroncong asli langgam, campursari tetap menggunakan dasar – dasar keroncong. Ada yang cenderung ke musik karawitan, ada yang cenderung ke keroncong. Campursari diolah sedemikian rupa sehingga menghasilakan je nis musik jawa modern, lirik – lirik lagunya masih mengadopsi lirik gending jawa tradisioanal walaupun tidak semua, karena sebagian besar dari senimanya berusaha menciptakan lagu campursari itu menyesuaiakan dengan keadaan zaman yang sedang berlangsung. Campursari awalnya di populerkan oleh Ki Nartosabdho melalui setiap pertunjukan wayang kulit yang dimainkannya.
seperti ukulele, cak dan cuk, seruling, bass betot, serta instrumen lainnya, Manthous juga mencoba bereksperimen dengan memasukan instrumen pengganti bass betot dan gitar klasik, yaitu dengan memasukakn bass dan gitar elektrik serta keybord untuk menggantikan seruling dan ukulele. Kehadiran keybord ini semakin menghidupkan musikalitas campursari. Selain itu Mathous juga memasukan seperangkat drum untuk menambah kesempurnaan musik campursari.
Keberadaan kesenian campusari di Jawa, bisa memeberikan peluang untuk ditampilkan pada event bfestival musik dunia. Hal ini tentu saja jika mendapat dukungan dari penggemarnya. Berbagai terobosan telah dilakukan oleh Didi Kempot yang telah menyelenggarakan berbagai pagelaran di berbagai negara seperti Belanda dan Suriname. Tetapi jika bangsa sendiri khususnya masyarakat jawa kurang memebrikan duykungan terhadap keberadaan musik Campursari maka mustahil hal tersebut dapat terwujud.
3.3. Subyek atau Infor man Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subyek atau informan adalah komunitas remaja yang menyukai musik campursari, hal yang mendasari terpilihnya remaja komunitas tersebut sebagai subyek atau informan penelitian adalah karena anggota komunitas ini mayoritas adalah remaja yang berumur 20 – 21 tahun.
Dalam penelitian ini, informan yang akan diteliti dipilih berdasarkan beberapa kriteria, yaitu :
a. Remaja perempuan dan laki-laki dengan usia antara 12 tahun – 21 tahun. Pemilihan usia ini berdasarkan usia remaja sebagai obyek utama penelitian. b. Bertempat tinggal di surabaya.
c. Pecinta Campursari yang tergabung dalam komunitas pecinta campursari. d. Informan lebih bervariatrif mulai dari Profesi pekerja,mahasiswa dan pelajar.
3.4. Lokasi Penelitian
Terpilihnya Surabaya sebagai lokasi penelitian ini dikarenakan Surabaya merupakan kota multi etnis yang kaya akan budaya. Masyarakat asli Surabaya juga mudah bergaul dengan gaya bicara yang terbuka. Hal ini memudahkan masuknya dan diterimanya budaya baru di Surabaya. Dilakukan di Surabaya karena acara campursari di TVRI jawa timur.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Merupakan kegiatan yang setiap saat kita lakukan. Dengan perlengkapan panca indera yang kita miliki, kita sering mengamati objek – objek yang ada disekitar kita. Kegiatan observasi ini merupakan salah satu kegiatan yang kita lakukan untuk memahami lingkungan. Observasi disini diartikan sebagai kegiatan mengamati secara langsung suatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan oleh objek tersebut. ( Kriyantono, 2007 : 106 ).
b. Wawancara Mendalam
Merupakan percakapan anatar periset dengan seseorang yang berharap mendaptkan informasi. Dan informan adalah seorang yang diasumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek (Berger dalam Kriyantono, 2007 : 96 ). Wawancara mendalam adalah suatu cara lansung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan freskuensi yang tinggi secara intensif. Selanjutnya, dibedakan antara responden ( orang yang akan diwawancarai hanya sekali ), dengan informan ( orang yang ingin periset ketahui atau pahami dan yang akan diwawancarai beberapa kali ) ( Kriyantono, 2007 : 96). c. Studi Literatur
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini menggunkan analisis deskripti kualitatif yang disesuaikan dengan permasalahan dari tujuna penelitian. Melalui pendekatan metodologi ini akan menjangkau serta komprehsensif dengan tujuan tanpa mebgurangi akurasi metodologi yang dinginkan. Pembahasan penelitian dilakukan secara deskriptif, yaitu pengumpulan data, analisis data, pengeditan dan yang terakhir adalah proses akhir analisis penelitian dan pembahasan yang didasarkan pada berbagai teori yang digunakan.
Pada tahap awal analisi data, penelitian dilakukan bersamaan dengan proses pengambilan data. Analisis data penelitian berupa proses pengakajian hasil wawancara, pengamatan, dan dokumen yang telah terkumpul. Data kemudian direduksi karena pada saat proses pengambilan data tersebut tidak langsung terdapat proses analisis.
Patton menggungkapkan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor mendefinisikan analisi data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesi (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema hipotesis itu. (Moleong.2002:103).
Terdapat langkah – langkah dalam menganalisis data (Meleong, 2002:105):
2. Melalukan seleksi terhadap data yang dianggap data inti yang berkaitan langsung dengan permasalahan dan yang hanya merupakan data pendukung.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data 4.1.1 Gambaran Umum TVRI
Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah stasiun televisi
pertama di Indonesia, yang mengudara pada tanggal 24 Agustus 1962. Siaran perdananya menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 dari Istana Negara Jakarta. Siarannya ini masih berupa hitam putih. TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta. Dahulu TVRI pernah menayangkan iklan dalam satu tayangan khusus yang dengan judul acara Mana Suka Siaran Niaga (sehari dua kali). Sejak April tahun
1981 hingga akhir 90-an TVRI tidak diperbolehkan menayangkan iklan, dan akhirnya TVRI kembali menayangkan iklan. Status TVRI saat ini adalah Lembaga Penyiaran Publik. Sebagian biaya operasional TVRI masih ditanggung olehnegara. TVRI memonopoli siaran televisi di Indonesia sebelum tahun 1989 ketika didirikan televisi swasta pertama
RCTI di Jakarta, dan SCTV pada tahun 1990 di Surabaya. 4.1.2 Gambaran Umum Remaja
(storm and stress), karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib diri sendiri ( Sarwono, 2004:71 ).
Istilah asing yang sering digunakan untuk menunukan masa remaja antara lain (a) puberteit, puberty dan (b) adelescentia. Puberty (bahasa inggris) berasal dari istilah lain, pubertas yang berarti kelakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda tanda laki laki. Pubesence dari kata pubis (public hair) yang berarti rambut (bulu) pada daerah kemaluan (genital), maka pubescence berati perubahan yang dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.
Sedangkan menurut Dariyo ( 2004:13 ) remaja dalah masa transisii atau peralihan dari masa kanak - kanak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososisal. Secara kronologiDari definisi – definisi diatas yang tergolong remaja ini berkisar antara usia 12/13 – 21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa mengutip pendapat erikson maka remaja akan melalui masa krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
Batasan umur pada remaja menurut Monk et.al ( 2003 : 260 ) dibagi menjadi tiga fase, yaitu : (1) Fase remaja awal pada usia 12 tahun-15 tahun, (2) Fase remaja pertengahan pada usia 16 tahun-18 tahun, (3) Fase remaja akhir yaitu pada batasan usia 19 tahun-22 tahun.
fisik, psikis, psikososial. Secara kronologi yang terglong remaja berkisar anatar usia 12-22 tahun. Untuk menjadi orang dewasa maka remaja akan melalui masa krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri ( search for self-identity ).
4.1.3 Gambaran Umum Campursar i
Campursari adalah suatu kesenian musik tradisional yang menggunkan alat musik tradisional dan lirik lagunya berbahasa jawa. Di jawa sendiri perkembangan musik campursari sangat pesaat dengan adanya musik campursari yang sangat bervariatif karena sudah mulai banyak inovasi dari perkembangan musiknya,penyanyi dan alat-alat musiknya.
Pengenalan Campursari awalnya berangkat dari musik keroncong asli langgam, campursari tetap menggunakan dasar – dasar keroncong. Ada yang cenderung ke musik karawitan, ada yang cenderung ke keroncong. Campursari diolah sedemikian rupa sehingga menghasilakan je nis musik jawa modern, lirik – lirik lagunya masih mengadopsi lirik gending jawa tradisioanal walaupun tidak semua, karena sebagian besar dari senimanya berusaha menciptakan lagu campursari itu menyesuaiakan dengan keadaan zaman yang sedang berlangsung. Campursari awalnya di populerkan oleh Ki Nartosabdho melalui setiap pertunjukan wayang kulit yang dimainkannya.
saudara – saudaranya di awal tahun 1993. Manthous mencoba menggabungkan alat-alat musik tradisioanal jawa klasik seperti kendang, gong dam gender, dipadu dengan alat musik keroncong seperti ukulele, cak dan cuk, seruling, bass betot, serta instrumen lainnya, Manthous juga mencoba bereksperimen dengan memasukan instrumen pengganti bass betot dan gitar klasik, yaitu dengan memasukakn bass dan gitar elektrik serta keybord untuk menggantikan seruling dan ukulele. Kehadiran keybord ini semakin menghidupkan musikalitas campursari. Selain itu Mathous juga memasukan seperangkat drum untuk menambah kesempurnaan musik campursari.
Keberadaan kesenian campusari di Jawa, bisa memeberikan peluang untuk ditampilkan pada event bfestival musik dunia. Hal ini tentu saja jika mendapat dukungan dari penggemarnya. Berbagai terobosan telah dilakukan oleh Didi Kempot yang telah menyelenggarakan berbagai pagelaran di berbagai negara seperti Belanda dan Suriname. Tetapi jika bangsa sendiri khususnya masyarakat jawa kurang memebrikan duykungan terhadap keberadaan musik Campursari maka mustahil hal tersebut dapat terwujud.
4.2 Identitas Infor man
usia ini seseorang mempunyai persepsi atau pandangan terhadap suatu objek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi remaja Surabaya terhadap kesenian campursari di TVRI. Dimana setiap informan pasti memiliki pengalaman dan pendapat.
Adapun identitas informan yang dimilki berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya :
1. Infor man 1
Titi Wijayanti adalah seorang remaja yang berusia 21tahun dan menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Titi mengambil program studi kesenian di Unesa karena dia mau mendalami kesenian tradisional. Titi lebih menyukai perannya menjadi sinden atau penyanyi campursari.
2. Infor man 2
Kholifia Woro Irzalina adalah seorang remaja yang berusia 21 tahun yang saat ini sedang menjadi mahasiswi di Perguruan Tinggi negeri di Surabaya yaitu UNESA semester 6 yang mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Irza juga salah satu sinden campursari di UNESA yairu Campursari MANOHARA.
3. Infor man 3
4. Infor man 4
Laily Dyah Rahmatika adalah seorang remaja yang berusia 20 tahun yang saat ini sedang menjadi mahasiswi di UNESA semester 6 yang mengambil program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa. Selain menjadi mahsiswi Laily juga mengolah bakatnya menjadi sinden di Campursari BHARADA.
5. Infor man 5
Irdinda Gilang adalah seorang remaja yang berusia 21tahun yang saat ini sedang menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi negeri di Surabaya yaitu UNESA semester 6 yang mengambil program studi pendidikan bahasa dan satra. Gilang juga termasuk salah satu personil campursari yaitu pemegang kendang.
4.3 Analisis Data
Pada dasarnya persepsi remaja Surabaya terhadap musik campursari dapat dianalisis melalui hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan lima informan. Setiap informan memilki jawabna yang berbeda mengnai kesenian campursari di Surabaya
4.3.1 Hasil Penelitian
4.3.1.1 Deskr ipsi Per sepsi Remaja Sur abaya Ter hadap Kesenian Campursari secar a umum.
Pada bagian ini peneliti akan menjelasakan hasil wawancara mendalam pneliti dengan kelima informan terkait dengan pertanyaan umum seputar kesenian Campursari. Umumnya remaja mengatahui kesenian campursari melalui media massa khususnya Televisi. Umumnya para informan adalah remaja yang memang saat berkecimpung dalam kesenian campursari mulai dari sindennya sampai dengan pemain musiknya. Berikut adalah kutipan hasil wawancara : A. Pengetahuan Remaja Sur abaya terhadap musik campursari
Berikut hasil wawancara peneliti seputar penegtahuan terhadap musik campursari :
Berdasarkan kutipan wawancara di atas dapat diketahui bahwa informan pertama yaitu Titi (21) tahun, bersattus mahasiswi di perguruan tinggi negeri di Surabaya yang memang aktifitasnya itu menjadi sinden campursari di kampusnya, dengan menjadi sinden sama dengan ikut melestarikan budaya jawa.
Informasi yang berbeda juga disampaiakan oleh informan kedua yang masih menjadi mahasiswi serta menjadi sinden campursari :
“kalo menurut saya ya mbk campursari merupakan identitas atau budaya orang jawa. Musik campursari adalah musik jawa yang dipadukan dengan alat musik tradisional yang harus tetap dilestarikan”.
Berdasarkan kutipan wawancara diatas dapat diketahui bahwa informan kedua cukup mengetahui tentang musik campursari. Menurut informan kedua campursari merupakan identitas orang jawa dan musik campursari dimainkan dengan menggunakna alat musik tradisional.
Informasi yang berbeda juga di sampaikan oleh informan ketiga yang merupakan remaja yang sudah bekerja dan menjadi salah satu sinden universitas swasta di Surabaya :
santun unggah ungguh sebagaimana adat istiadat ketimuran kita”.
Berdasarkan kutipan diatas maka dapat diketahui bahwa infroman indah (20) tahun, lebih mendalami kesenian campursari sehingga bisa menjlaskan bahwa campursari juga dapat mengajarkan unggah ungguh dan sopan santun.
Informasi yang berbeda juga disampaikan olehb informan kelima yang juga salah satu mahasiswi di perguruan tinggi di Surabaya dan menjadi sinden campursari :
“Campursari adalah perpaduan dari musik diatonis dan pentatonis yang sebagian alat musiknya tradisional, utamanya adalah gamelan yang sekarang ini digarap lebih modern seiiring perkembangan jaman”
Berdasarkan k