BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Overweight
1. Pengertian
Overweight merupakan suatu penyakit multifaktorial, yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan. Kelebihan berat badan terjadi bila besar dan jumlah sel lemak bertambah pada tubuh seseorang. Bila seseorang bertambah berat badannya maka ukuran sel lemak akan bertambah besar dan kemudian jumlahnya bertambah banyak (Sugondo, 2007).
Overweight adalah keadaan yang hampir mendekati obesitas, seseorang dapat dinyatakan overweight apabila orang tersebut memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 25 sampai 29,99. Overweight sendiri dibagi menjadi 2 bagian, yaitu individu dengan IMT 25 – 27,49 dan individu dengan IMT 27,50 – 29,99 (WHO, 1996).
Overweight didefinisikan sebagai peningkatan berlebihan jaringan lemak pada otot dan jaringan skeletal (Dorlan, 2002). Overweight dikatakan jika IMT ≥ 23. Secara ilmiah overweight terjadi akibat
Overweight adalah kelebihan berat badan termasuk didalamnya otot, tulang, lemak dan air (Aqila, 2010).
Dari uraian diatas maka disimpulkan pengertian overweight adalah
suatu keadaan kelebihan berat badan yang disebabkan oleh penumpukan
lemak yang ditandai dengan IMT 25-29,9.
2. Tipe overweight berdasarkan umur
Menurut Wirakusumah (2000) penggolongan timbulnya kegemukan berdasarkan usia, yaitu:
a. Kegemukan pada masa bayi
Kegemukan pada masa bayi perlu dihindari. Hasil dari beberapa penelitian menunjukan bahwa dari jumlah bayi yang mengalami kegemukan pada usia enam bulan pertama ternyata lebih dari sepertiga menjadi lebih gemuk pada usia dewasa.
b. Kegemukan yang timbul pada masa kanak-kanak
Kegemukan pada usia kanak-kanak disebakan karena faktor pola makanan yang salah dan kurangnya aktifitas fisik. Kelebihan lemak yang ada ditubuh seseorang timbul pada usia dua tahun sampai usia remaja.
c. Kegemukan pada masa dewasa
menyebabkan kurangnya waktu untuk melaksanakan aktifitas untuk mengeluarkan keringat dari tubuh seperti olahraga.
Dibawah ini adalah kategori usia berdasarkan Depkes RI (2009): a. Masa balita = 0 - 5 tahun,
b. Masa kanak-kanak = 5 - 11 tahun. c. Masa remaja Awal =12 - 1 6 tahun. d. Masa remaja Akhir =17 - 25 tahun. e. Masa dewasa Awal =26- 35 tahun. f. Masa dewasa Akhir =36- 45 tahun. g. Masa Lansia Awal = 46- 55 tahun. h. Masa Lansia Akhir = 56 - 65 tahun. i. Masa Manula = 65 - sampai atas
Pada usia-usia tertentu merupakan masa dimana terjadi pertumbuhan dan pekembangan yang cepat dan rentan sehingga terjadi gangguan pada status gizinya yang mengakibatkan overweight.
3. Penilaian status gizi
Menurut World Health Organisation (2006) Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indeks yang sederhana yang paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan status gizi pada populasi dewasa dan perorangan. Yang dijabarkan dengan rumus:
Berat Badan (kg) IMT =
Tabel 2.1 Kriteria Indeks Masa Tubuh (IMT) menurut WHO
Klasifikasi IMT
Underweight < 18,5
Normal 18.5 – 24.9
Overweight 25.0 – 29.9
Obese kelas I 30.0 – 34.9
Obese kelas II 35.0 – 39,9
Obes kelas III 40.0 ≤
Tabel 2.2 Kriteria Indeks Masa Tubuh (IMT) menurut Depkes 2003
Kategori Ayah Ibu
Underweight < 17 kg/m² < 18 kg/m²
Normal 17-23 kg/m² 18-25 kg/m²
Overweight 23-27 kg/m² 25-27 kg/m²
Obese >27kg/m² >27 kg/m²
Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Di samping itu IMT juga tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti edema, ascites, dan hepatomegali (Supariyasa, 2002).
4. Efek yang ditimbulkan
Hidayati, Irawan dan Hidayat (2009), anak obesitas berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti berikut ini:
a. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler
b. Diabetes Mellitus Tipe-2
Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas. Hampir semua anak obesitas dengan diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD.
c. Obstruktive Sleep Apnea
Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala mengorok. Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak di daerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan.
d. Gangguan Ortopedik
Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.
e. Pseudotumor Serebri
5. Penyebab Overweight
Menurut Purwanti (2002) bahwa ada beberapa faktor utama yang menyebabkan overweight, yaitu:
a) Faktor genetik atau faktor keturunan yang berasal dari orang tua Jika kedua orang tuanya menderita kegemukan sekitar 80% anaknya akan menjadi gemuk, bila salah satu yang mengalami kegemukan kejadiannya menjadi 40% dan jika keduanya tidak mengalami kegemukan maka prevalensinya turun menjadi 14%.
b) Faktor psikologis, emosi
Seseorang dapat mempengaruhi perilaku seperti stres, cemas dan takut dapat menimbulkan sikap yang berbeda-beda pada setiap orang dalam mengatasinya misalnya dengan makan makanan kesukaan secara berlebihan,
Menurut Dariyo (2004) bahwa keadaan psikologis yang dapat menyebabkan kegemukan adalah ketidakseimbangan keadaan emosional yang menyababkan individu cenderung untuk melarikan diri dengan cara banyak makanan yang mengandung kalori atau kolesterol tinggi.
c) Pola makan yang berlebihan
Seperti makan berlebihan, makan terburu-buru, menghindari makan pagi dan kebiasaan makan makanan ringan.
pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan karena pengolahannya yang cenderung cepat karena menggunakan tenaga mesin, terlihat bersih karena penjamahnya adalah mesin, restoran yang mudah ditemukan serta karena pelayanannya yang selalu sedia setiap saat, bagaimanapun cara pemesanannya (Worthington & William 2000). d) Kurang melakukan aktivitas fisik.
Aktifias yang kurang akan menyebabkan penumpukan lemak atau kelebihan kalori dalam tubuh yang pada akhirnya seseorang akan mengalami kegemukan.
e) Penggunaan obat-obatan
Seseorang yang dalam keadaan sakit maka bermacam-macam obat dapat diberikan dengan maksud untuk menyembuhkan, beberapa obat dapat merangsang cepat lapar sehingga pasien akan meningkatkan nafsu makannya. Penggunaan obat akan menyebabkan peningkatan berat badan (Rimbawan, 2004).
sebanyak 8 orang (66.7%), 2 orang (16.7%) dan obesitas 2 orang (16.7%). Fitranti (2014) menyatakan dalam penelitianya bahwa kecukupan energi, kecukupan lemak, kecukupan protein dan status gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian overweight pada anak stunting.
B. Kebiasaan Olahraga
1, Pengertian
Olahraga ialah tindakan fisik untuk meningkatkan kesehatan atau
memperbaiki deformitas fisik (Dorland’s, 2004). Menurut Alwi (2003) bahwa
kebiasaan adalah suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dilakukan secara
sadar dan dilakukan secara jelas dan dianggap baik dan benar.
Soeharto (2004) mengungkapkan bahwa dengan berolahraga dapat
meningkatkan pembakaran lemak dalam tubuh menjadi air dan
karbondioksida.
Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani (Kesehatan komunitas, 2002). Khotimah (2009) menjelaskan bahwa olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan dan prestasi optimal.
fisik/physical fitness. Semakin tinggi kemampuan fisik seseorang akan semakin besar kemampuan kerja /produktivitas dan semakin tinggi derajat kesehatannya. Dalam konteks ini tersirat adanya ketahanan tubuh dapat ditingkatkan melalui latihan fisik (Suharto , 2009).
Dapat disimpulkan kebiasaan olahraga adalah suatu bentuk aktivitas yang tersusun dan terencana yang bermanfaat menyehatkan jasmani dilakukan secara berulang-ulang oleh seseorang.
2. Jenis olahraga
a. Aerobik adalah : Olahraga yang dilakukan secara terus-menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya : Jogging, senam, renang, bersepeda.
b. Anaerabik adalah : Olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh tubuh. Misalnya : Angkat besi, lari sprint 100 M, tenis lapangan, bulu tangkis (Kesehatan Komunitas, 2002).
Menurut Rahmatika (2008) dalam Wijayanti (2013) bahwa olahraga yang dianjurkan adalah olahraga yang bersifat aerobik, yaitu olahraga yang menggunakan oksigen dalam sistem pembentukan energinya. Atau dengan kata lain olahraga yang tidak terlalu berat namun dalam waktu lebih dari 15 menit. Contoh olahraga yang dianjurkan antara lain berjalan selama 20-30 menit setiap harinya, berenang, bersepeda santai, jogging, senam aerobik, dll.
Artinya kita hanya perlu melakukannya selama 20 sampai 25 menit setiap hari (Walad, 2013).
Olahraga yang dianjurkan adalah 3-4x dalam seminggu dan setiap kali olahraga minimal 30 menit. Olahraga secara teratur juga baik untuk jantung dan paru-paru serta membantu menurunkan kadar trigliserida di dalam darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Dengan berolahraga teratur juga dapat meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik) di dalam darah. Mencegah terjadinya kenaikan berat badan, diperlukan olahraga dengan intensitas moderat selama 150-250 menit dalam seminggu. Contoh olahraga dengan intensitas moderat contohnya adalah jalan cepat dan berenang (Admins, 2013).
Yoshie (2013) menyatakan bahwa jika seseorang ingin mendapatkan berat badan yang ideal maka dianjurkan seseorang untuk melakukan olahraga minimal 3 kali dalam seminggu.
Lakukan aktifitas fisik sekurang-kurangnya 30 menit per hari dengan baik dan benar agar bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh, misalnya :
a. Turun bus lebih awal menuju tempat kerja yang kira-kira menghabiskan 20 menit berjalan kaki dan saat pulang berhenti di halte yang menghabiskan kira-kira 10 menit berjalan kaki menuju rumah. b. Membersihkan rumah selama 10 menit, dua kali dalam sehari
Lakukan secara bertahap hingga mencapai 30 menit. Jika belum terbiasa dapat dimulai dengan beberapa menit setiap hari dan ditingkatkan secara bertahap. Aktifitas fisik dianjurkan minimal 30 menit, lebih lama akan lebih baik. Aktifitas fisik dapat dilakukan dimana saja, dengan memperhatikan lingkungan yang aman dan nyaman, bebas polusi, tidak menimbulkan cedera, misalnya : dirumah, sekolah, tempat kerja, dan tempat-tempat umum seperti sarana olahraga, lapangan, taman, tempat rekreasi, dll. (Kesehatan Komunitas, 2002).
3. Manfaat olahraga
a. Meningkatkan kerja dan fungsi jantung, paru dan pembuluh darah
yang ditandai dengan :
a) Denyut nadi istirahat menurun. b) Isi sekuncup bertambah. c) Kapasitas bertambah.
d) Penumpukan asam laktat berkurang. e) Meningkatkan pembuluh darah kolateral. f) Meningkatkan HDL Kolesterol.
g) Mengurangi aterosklerosis.
b. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang yang ditandai pada: a) Pada anak : mengoptimalkan pertumbuhan.
b) Pada orang dewasa : memperkuat masa tulang,
c. Meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) pada tubuh sehingga dapat mengurangi cedera.
d. Meningkatkan metabolisme tubuh untuk mencegah kegemukan dan mempertahankan berat badan ideal.
e. Mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit seperti :
a) Tekanan darah tinggi : mengurangi tekanan sistolik dan diastolik. b) Penyakit jantung koroner : menambah HDL-kolesterol dan
mengurangi lemak tubuh.
c) Kencing manis : menambah sensitifitas insulin. d) Infeksi : meningkatkan sistem imunitas.
f. Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap jaringan tubuh.
g. Meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit h. melalui peningkatan pengaturan kekebalan tubuh.
i. Penelitian Kavanagh, latihan aerobik 3 kali seminggu selama 12
minggu.
a) Meningkatkan pembuluh darah kolateral. b) Meningkatkan HDL kolesterol.
c) Mengurangi aterosklerosis (Kesehatan Komunitas, 2002) C. Pola Makan
1. Pengertian
Pola makan dapat diartikan sebagai cara seseorang atau sekelompok
reaksi pengaruh–pengaruh fisiologi, psikologi, budaya dan sosial
(Sulistyoningsih, 2010).
Menurut Baliwati (2004) pola makan adalan susunan jenis dan
jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok pada waktu
tertentu.
Kebiasaan makan remaja juga terdiri dari snack yang 40% berkalori tinggi. Makanan snack yang sering di konsumsi remaja seperti keripik kentang, kue-kuean, dan minuman ringan (soft drink) yang rendah dalam zat gizi. Dan juga es krim, es krim kocok, hamburger dan pizza yang memberikan zat gizi yang penting, tetapi juga tinggi lemak, natrium, dan kalori. Remaja juga bersandar pada restoran fast food yang mempunyai menu terbatas dan sering menekankan pada makanan tinggi kalori, lemak dan natrium (Moore, 1997).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian pola makan adalah suatu jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh mahasiswa dalam kesehariannya.
2. Pola makan tidak sehat
Menurut Prasetyono (2009) pola makan tidak sehat pada seseorang
antara lain :
a. Makan terlalu banyak.
Mengkonsumsi makanan yang melebihi kebutuhan tubuh berarti
menambah kalori tambahan yang disimpan dalam tubuh sebagai lemak.
b. Terlalu banyak makan gula.
Kebiasaan makan banyak ialah kecenderungan makan makanan yang
banyak mengandung kadar gula. Memuaskan selera makan dengan
makanan yang mengandung kadar gula yang tinggi akan menyebabkan
seseorang kehilangan selera makan makanan yang mengandung gizi,
vitamin dan zat mineral yang diperlukan.
c. Mengkonsumsi makanan olahan terlalu banyak.
Seseorang dapat tergantung pada jenis makanan olahan ini dan
mengabaikan makanan segar akan tetapi seseorang akan kekurangan
unsur makanan yang penting, baik bagi dirinya maupun bagi bayi yang
dikandung.
d. Mengabaikan sarapan pagi.
Seseorang biasanya sering mengabaikan sarapan pagi karena kesibukan
mengerjakan pekerjaan rumah. Kebiasaan mengabaikan sarapan pagi
akan mengakibatkan seseorang akan merasa sangat lapar sebelum waktu
makan siang dan memenuhinya dengan makanan cemilan. Sarapan pagi
sangat penting karena merupakan makanan pertama sepanjang hari.
Energi yang tersimpan sebagai sumber cadangan pada malam hari telah
dikosongkan untuk kehidupan alat-alat tubuh. Pada pagi harinya
diperlukan energi tambahan untuk aktifitas tubuh hingga menjelang
tengah hari.
3. Dampak pola makan yang tidak sehat
Almatsier (2005) mengungkapkan bahwa konsumsi makanan
faktor primer atau sekunder. Faktor primer adalah bila susunan makanan
seseorang salah dalam kuantitas dan kualitas yang salah satunya disebabkan
oleh karena pola makan yang tidak sehat. Gangguan gizi tidak seimbang
antara lain :
a. Gizi kurang.
b. Gizi buruk.
c. Gizi lebih.
d. Anemia gizi besi.
e. Kekurangan vitamin A.
f. Gangguan akibat kekurangan iodium (Erna, 2004). 4. Penanggulangan pola makan tidak sehat
Cara menyiasati pola makan tidak sehat dengan mengkonsumsi makanan
yang mengandung 4 sehat 5 sempurna. Kehamilan menyebabkan perubahan
tubuh yang mengakibatkan timbulnya beberapa gangguan makan. Keadaan
ini seringkali mempengaruhi asupan gizi ibu hamil atau kehilangan nafsu
makan. Untuk menyiasati agar nafsu makan tetap terjaga, yaitu dengan cara :
a. Memperbanyak ragam dan variasi makanan.
b. Sajikan makanan yang menarik.
c. Tingkatkan kelezatan rasa makanan.
d. Segera makan begitu makanan disajikan (Kasdu, 2004).
5. Kebutuhan kalori yang dibutuhkan
Menurut Almatsier (2005), jumlah dan jenis makanan yang
dianjurkan makan 3 kali sehari yang terdiri dari komposisi yang berimbang.
membantu dalam kebutuhan kalori, ahli gizi / diet juga menyarankan variasi makanan sesuai dengan daftar bahan makanan penukar. Porsi makanan hendaknya tersebar sepanjang hari, yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam serta kudapan di antara waktu makan. Angka kecukupan gizi (AKG) setiap individu akan berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing, untuk mengukur Akg bagi orang dewasa secara tepat, kebutuhan kalori/energi dapat menggunakan rumus sebagai beriku:
Tabel 2.1 Angka Kecukupan Gizi (AKG) Remaja (Kkal/hari) Jenis kelamin Angka kecukupan gizi (Kkal/hari)
Ringan Sedang Berat
Laki-laki 1,56 X BMR 1,76 X BMR 2,10 x BMR
Perempuan 1,55 X BMR 1,70 X BMR 2,00 x BMR
(Sumber: Almaster, 2005)
Secara sederhana nilai BMR dapat ditaksir dengan menggunakan rumus regresi linier sebagai berikut:
Tabel 2.2 Untuk Menaksir Nilai BMR
Umur BMR (Kkal/hari)
Wanita Laki-laki
0-3 3-10 10-18 18-30 30-60 > 60
61,0 BB + 51 25,5 BB + 499 12,2 BB + 746 14,7 BB + 496 8,7 BB + 829 10,5 BB + 596
60,9 BB + 54 22,7 BB + 495 17,5 BB + 651 15,3 BB + 679 11,6 BB + 879 13,5 BB + 487
(Sumber: Almaster, 2005)
Tabel 2.3 Kebutuhan Kalori Sesuai Usia Jenis
kelamin
Usia (Tahun)
Aktifitas yang dilakukan
Menetap Cukup aktif Aktif
Anak wanita 2-3 4-8 9-13 14-18 19-30 31-50 50+ 1.000 Kkal 1.200 Kkal 1.600 Kkal 1.800 Kkal 2.000 Kkal 1.800 Kkal 1.600 Kkal 1.000-1.400 Kkal 1.400-1.600 Kkal 1.600-2.000 Kkal 2.000 Kkal 2.000-2.200 Kkal 2.000 Kkal 1.800 Kkal 1.000-1.400 Kkal 1.400-1.800 Kkal 1.800-2.200 Kkal 2.000 Kkal 2.400 Kkal 2.400 Kkal 2.200 Kkal
Pria 4-8
9-13 14-18 19-30 31-50 50+ 1.400 Kkal 1.800 Kkal 2.200 Kkal 2.400 Kkal 2.200 Kkal 2.000 Kkal 1.400-1.600 Kkal 1.800-2.200 Kkal 2.400-2.800 Kkal 2.600-2.800 Kkal 2.400-2.600 Kkal 2.200-2.400 Kkal 2.000-2.000 Kkal 2.000-2.600 Kkal 2.800-3.200 Kkal 3.000 Kkal 2.800-3.000 Kkal 2.400-2.800 Kkal (Sumber: Samyunwan, 2012)
Adanya rentang kalori menunjukkan kebutuhan kalori yang berbeda berdasarkan usia dari tiap kelompok. Remaja & anak-anak membutuhkan kalori yang lebih banyak seiring dengan bertambahnya usia. Akan tetapi pada orang dewasa, akan membutuhkan kalori yang lebih sedikit seiring dengan bertambahnya usia.
Keterangan aktifitas yang dilakukan:
1. Aktifitas menetap: Suatu gaya hidup dimana aktifitas yang dilakukan hanya berhubungan dengan kegiatan sehari-hari.
2. Cukup aktif: Suatu gaya hidup yang termasuk didalamnya melakukan aktifitas fisik yang setara dengan berjalan kaki sebanyak 2,5-5 km sehari.
3. Aktif: Suatu gaya hidup yang termasuk didalamnya melakukan aktifitas fisik yang setara dengan berjalan kaki > 5 km sehari
(2007) jumlah kalori yang diperlukan dalam sehari pada seseorang yang
bekerja adalah :
1) Kurus (< 90%) kebutuhan kalori: BB X 40 – 50 kalori sehari.
2) Normal (90-100%) kebutuhan kalori : BB X 30 kalori sehari.
3) Gemuk (>100%) kebutuhan kalori : berat badan (kg) dikalikan 20 kalori
Menurut Tortora dan Derrickson (2011), untuk rekomendasi
distribusi kalori dalam upaya pemenuhan diet seimbang terkait dengan
kebutuhan kalori per hari:
a. 50-60% karbohidrat.
b. < 15% gula sederhana.
c. <30% lemak (dalam bentuk trigliserida/TGA).
d. < 10% asam lemak jenuh.
e. 12-15% protein.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan
Santoso (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan adalah :
a. Kesenangan
Hal-hal yang disukai dan tidak disukai sangat berpengaruh terhadap
kebiasaan makan seseorang. Perasaan suka dan tidak suka seseorang
terhadap makanan tergantung asosiasinya terhadap makanan tersebut.
b. Budaya
Budaya cukup menentukan jenis makanan yang sering dikonsumsi
c. Agama
Agama juga mempengaruhi jenis makann yang dikonsumsi. Sebagai
contoh agama islam mengharamkan daging babi.
d. Taraf sosial ekonomi
Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi
oleh taraf ekonomi. Pendapatan yang rendah akan membatasi seseorang
untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi.
e. Lingkungan alam
Lingkungan alam juga mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi
seperti kondisi tanah dan iklim setempat.
D. Genetik
Faktor ini merupakan faktor utama yang dimiliki oleh seorang manusia dalam awal pertumbuhannya. Faktor ini sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhannya dari bayi sampai dewasa. Biasanya faktor genetik ini susah untuk diubah, karena sudah terbentuk dan melekat pada si manusia sejak mereka lahir. Dan sekalipun bisa diubah itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengubahnya (Depkes, 2005).
Faktor genetik adalah faktor keturunan yang berasal dari orang tuanya. Pengaruh faktor tersebut sebenarnya belum terlalu jelas sebagai penyebab kegemukan. Namun demikian, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa factor genetik merupakan factor penguat terjadinya kegemukan (Purwati, 2001).
Genetik disebut juga ilmu keturunan. Berasal dari kata genes (bahasa
sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak cucu, serta variasi yang
mungkin timbul di dalamnya (Wildan, 1983). Gen adalah butiran kecil yang
terdapat di dalam sel-sel kelamin manusia yang dipindahkan dari orang tua atau
nenek moyang kepada keturunannya dan merupakan sifat yang diwariskan
(Abdul, 1999).
Pengertian genetik berasal dari bahasa Latin genos yang berarti suku
bangsa atau asal usul. Dengan demikian genetik berarti ilmu yang mempelajari
bagaimana sifat keturunan (hereditas) yang di wariskan kepada anak cucu, serta
variasi yang mungkin timbul di dalamnya (Armansyah, 2013)
E. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini:
Keterangan:
--- : Tidak diteliti
: Variabel yang diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Sumber : Purwanti (2002) dan Rimbawan (2004) Aktifitas fisik remaja
- Jumlah waktu tidur - Kebiasaan olahraga
dalam 1 minggu - Kegiatan didalam dan
diluar rumah
Faktor genetik IMT orang tua
Pola makan
- Jumlah makanan yang berlebihan
- Frekuensi makan fast food dan soft drink - Frekuensi makanan yang mengandung lemak dan kolesterol
Psikologis remaja
- Tipe kepribadian remaja - Tingkat stres remaja
Penggunaan obat-obatan - Jenis obat
F. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
G. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Ada hubungan pola makan dengan kejadian overweight pada mahasiswa keperawatan S1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
b. Ada hubungan genetik dengan kejadian overweight pada mahasiswa keperawatan S1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto
c. Ada hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian overweight pada mahasiswa keperawatan S1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Genetik Pola makan Kebiasaan olahraga