• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPERATOR INTEGRAL FRAKSIONAL DAN KETAKSAMAAN OLSEN DI RUANG TAK HOMOGEN TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "OPERATOR INTEGRAL FRAKSIONAL DAN KETAKSAMAAN OLSEN DI RUANG TAK HOMOGEN TESIS"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

OPERATOR INTEGRAL FRAKSIONAL

DAN KETAKSAMAAN OLSEN

DI RUANG TAK HOMOGEN

TESIS

Karya tulis sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Magister dari

Institut Teknologi Bandung

Oleh

HERRY PRIBAWANTO SURYAWAN

NIM : 20106006

Program Studi Matematika

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

(2)

ABSTRAK

OPERATOR INTEGRAL FRAKSIONAL

DAN KETAKSAMAAN OLSEN

DI RUANG TAK HOMOGEN

Oleh

Herry Pribawanto Suryawan

NIM : 20106006

Di dalam tesis ini akan dibuktikan keterbatasan operator integral fraksional di

ruang Lebesgue tak homogen dan di ruang Morrey tak homogen yang

diperu-mum. Ukuran di ruang tak homogen tidak memenuhi kondisidoubling seperti

halnya di ruang homogen, tetapi merupakan ukuran growth. Selanjutnya juga

akan dibahas ketaksamaan Olsen di kedua ruang tersebut.

Kata kunci: Operator integral fraksional, Ukuran growth, Ruang Lebesgue

(3)

ABSTRACT

FRACTIONAL INTEGRAL OPERATORS

AND OLSEN’S INEQUALITIES

ON NON-HOMOGENEOUS SPACES

By

Herry Pribawanto Suryawan

NIM : 20106006

In this thesis we discuss the boundedness of fractional integral operators on

non-homogeneous Lebesgue spaces as well as on generalized non-homogeneous

Morrey spaces. Non-homogeneous spaces are spaces that are endowed with a

growth measure. We will also prove Olsen’s inequalities on both spaces.

Key words: Fractional integral operators, Growth measure, Non-homogeneous

(4)

OPERATOR INTEGRAL FRAKSIONAL

DAN KETAKSAMAAN OLSEN

DI RUANG TAK HOMOGEN

Oleh

Herry Pribawanto Suryawan

NIM : 20106006

Program Studi Matematika

Institut Teknologi Bandung

Bandung, Februari 2008

Telah diperiksa dan disetujui oleh

Pembimbing

(5)

PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS

Tesis Magister yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di

perpus-takaan Institut Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan

keten-tuan bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI

yang berlaku di Institut Teknologi Bandung. Referensi kepustakaan

diperke-nankan dicatat, tetapi pengutipan atau peringkasan hanya dapat dilakukan

seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk

menye-butkan sumbernya.

Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh tesis haruslah seizin

(6)

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena

namaNya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut

bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang

menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;

dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

(MAZMUR 23: 1-6)

Untuk Mama dan seluruh keluargaku

(7)

Kata Pengantar

Segala puji syukur, hormat, dan kemuliaan untuk Tuhan Yesus Kristus, atas

kasih dan tuntunan-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Banyak hal

terjadi selama penulis menempuh studi dan menulis tesis ini, namun penulis

menyadari semua itu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang indah untuk

hidup penulis.

Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister dari Institut Teknologi Bandung. Penulis menyadari bahwa tesis ini

tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan moral, material, dan doa dari

berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis

menyam-paikan terima kasih kepada:

(1) Prof. Dr. Hendra Gunawan, yang telah berkenan dengan sabar

mem-bimbing penulis, memberikan ilmu, ide, saran, teguran, dan perhatian

yang sangat berharga bagi penulis.

(2) Dr. Wono Setya Budhi dan Dr. Yudi Soeharyadi, yang telah

berke-nan menjadi penguji pada ujian tesis ini dan memberikan masukan yang

sangat berarti.

(3) Dr. Irawati dan Dr. Hilda Assiyatun sebagai wali akademik, yang

telah memberikan pengarahan kepada penulis selama menempuh

(8)

(4) Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Matematika ITB, yang telah

membagikan ilmu dan pengalamannya yang sangat berharga. Khususnya

penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Hendra Gunawan,

Dr. Wono Setya Budhi, Dr. Jalina Widjaya, Dr. Irawati, Dr. M. Intan

Detiena, Dra. Muliana H. Arinardi, M.Si, Prof. Dr. Edy Soewono, Dr.

Oki Neswan, dan Dr. Achmad Muchlis.

(5) Yayasan Sanata Dharma dan Universitas Sanata Dharma, yang telah

memberikan beasiswa dan kemudahan, sehingga penulis dapat

menem-puh pendidikan di ITB dengan baik dan lancar.

(6) Rekan-rekan di ITB dan di USD, atas dukungan dan perhatiannya

ke-pada penulis. Secara khusus penulis ingin berterimakasih keke-pada Ibu

Dra. Idha Sihwaningrum, M.Sc, rekan satu bimbingan, yang telah banyak

membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini melalui diskusi, ide, saran,

dan perhatiannya.

(7) Mama Yuniati, kakak-kakakku, dan seluruh keluargaku atas doa,

perha-tian, dan kasih sayangnya kepada penulis.

(8) Sahabatku dalam suka dan duka, Anton Wardaya, yang tidak pernah

bosan membagikan kasih Allah, dukungan, doa, dan bantuan kepada

penulis.

(9) Semua pihak yang telah membantu sehingga penulisan tesis ini

tersele-saikan dengan baik, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembaca.

Bandung, Januari 2008

(9)

Daftar Isi

Abstrak ii

Abstract iii

Halaman Pengesahan iv

Pedoman Penggunaan Tesis v

Halaman Persembahan vi

Kata Pengantar vii

Daftar Isi ix

1 Pendahuluan 1

1.1 Latar Belakang Masalah . . . 1

1.2 Tujuan Penulisan . . . 5

1.3 Sistematika Penulisan . . . 5

2 Keterbatasan Operator Integral Fraksional di Ruang Tak

Ho-mogen 7

2.1 Keterbatasan Operator Mn di Ruang Lp(µ) . . . . 7

(10)

2.3 Keterbatasan OperatorIn

α di Ruang Morrey Tak Homogen yang

Diperumum . . . 19

3 Ketaksamaan Olsen di Ruang Tak Homogen 27

3.1 Ketaksamaan Olsen di Ruang Lp(µ) . . . 27

3.2 Ketaksamaan Olsen di Ruang Mp,φ(µ) . . . 28

4 Kesimpulan 32

(11)

Bab 1

Pendahuluan

1.1

Latar Belakang Masalah

Salah satu objek kajian dalam Analisis Fourier adalah operator integral. Di

dalam tesis ini akan dipelajari salah satu operator integral yang dikenal sebagai

operator integral fraksional atau sering juga disebut potensial Riesz. Operator

ini pertama kali dipelajari oleh Hardy, Littlewood, dan Sobolev pada sekitar

tahun 1930. Operator ini dapat diperoleh melalui transformasi Fourier dari

operator Laplace (lihat Stein [13] hal. 117 atau Lieb and Loss [9] hal. 123).

Untuk fungsifyang terdefinisi padaRddanα∈Rdengan 0< α < d, operator integal fraksional (orde α)Iα didefinisikan sebagai

Iαf(x) :=

1 γ(α)

Z

Rd

f(y)

|x−y|d−α dy

dengan

γ(α) = Γ(

d−α

2 )

πd2Γ(α

2)

.

NotasiLpmenyatakan ruang Lebesgue, yaitu ruang kelas-kelas ekuivalen fungsi

terukur f sehingga kfkLp <∞ dengan

kfkLp =

µZ

Rd

|f(y)|p dy

¶1 p

(12)

dan

kfkL∞ =esssup

©

|f(x)|:x∈Rdª.

Hardy, Littlewood, dan Sobolev telah membuktikan bahwa operatorIαterbatas

dari Lp ke Lq, yakni

kIαfkLq ≤CkfkLp (1.1) untuk 1

q =

1

p − α

d dan 1 < p < d

α. Ketaksamaan (1.1) ini dikenal sebagai

ketaksamaan Hardy-Littlewood-Sobolev (lihat Stein [14]). Dari ketaksamaan

ini dapat dikatakan bahwa operator Iα memetakan fungsi f menjadi fungsi

lain, yaitu Iαf, yang secara lokal bersifat lebih baik dalam hal keterintegralan.

Selanjutnya pada tahun 1987 F. Chiarenza dan M. Frasca memperlihatkan

keterbatasan operator Iα di ruang Morrey, yang merupakan perumuman dari

ruang Lebesgue. ApabilaLplocmenyatakan ruang Lebesgue lokal —ruang kelas-kelas ekuivalen fungsi terukur f sehingga untuk setiap subhimpunan kompak K dari Rd berlaku

Z

K

|f(x)|p dx <∞,

maka ruang Morrey Lp,λ didefinisikan sebagai ruang semua fungsi f Lp loc

sehingga

kfkLp,λ := sup

B(x,r)

µ

1 rλ

Z

B(x,r)

|f(y)|p dy

¶1 p

<∞ (1.2)

danB(x, r) adalah bola dengan pusatx∈Rddan berjari-jarir, dan 0λ d.

Khususnya untuk λ = 0 diperoleh Lp,λ =Lp. Perhatikan dari (1.2) diperoleh

bahwa terdapat C > 0 sehingga untuk 0≤λ≤d berlaku 1

Z

B(x,r)

|f(y)|p dyC

atau

Z

B(x,r)

(13)

Hasil Chiarenza dan Frasca adalah ketaksamaan berikut

kIαfkLq,λ ≤CkfkLp,λ

untuk 1< p < αd, 0< λ < d−αp, dan q1 = 1pdαλ. Dalam pembuktian keter-batasanIαdariLp,λkeLq,λ, Chiarenza dan Frasca memanfaatkan keterbatasan

operator maksimal Hardy-Littlewood (klasik)

M f(x) = sup

r>0

1 rd

Z

B(x,r)

|f(y)| dy

di Lp,λ (lihat Chiarenza and Frasca [1]).

Dalam penelitian sepuluh tahun terakhir telah diperlihatkan bahwa kondisi

doubling di dalam analisis Fourier bukanlah hal yang esensial tapi dapat diganti

dengan kondisi growth. Hal inilah yang memotivasi munculnya pengertian

ruang tak homogen (lihat Garcia-Cuerva and Martell [5], Garcia-Cuerva and

Gatto [4], dan Nazarov, et al. [10]). Ruang tak homogen adalah ruang Rd

yang dilengkapi dengan ukuran Borel tak negatif µ yang memenuhi kondisi

growth. Ini berbeda dengan ruang homogen yang dilengkapi dengan ukuran

yang memenuhi kondisi doubling. Diberikan kubus dengan panjang sisil,Q(l) di Rd, maka ukuran µpada Rd dikatakan memenuhi kondisi doubling apabila untuk terdapat C > 0 sehingga

µ(Q(2l))≤C µ(Q(l)).

Sementara itu ukuran µdikatakan memenuhi kondisi growth (orde n) apabila terdapat C > 0 sehingga

µ(Q(l))≤C ln untuk suatu n∈R dengan 0< n≤d.

Dengan menggunakan pengertian ukuran growth tersebut di atas dapat

(14)

diperumum. Ruang Lebesgue tak homogen Lp(µ), 1 p≤ ∞, adalah ruang

kelas-kelas ekuivalen fungsi terukur-µ f sehingga kfkLp(µ) <∞, dengan

kfkLp(µ) =

µZ

Rd

|f(y)|p (y)

¶1 p ,

dan

kfkL∞(µ) =esssup

©

|f(x)|:x∈Rdª.

Di sini esssup©|f(x)|:x∈Rdª menyatakan batas atas terkecil esensial dari

|f|. Ruang Lebesgue tak homogen lokal, Lploc(µ), adalah ruang kelas-kelas ekuivalen f sehingga untuk setiap subhimpunan kompak K diRd berlaku

Z

K

|f(y)|p (y)<

dan ruang Morrey tak homogen yang diperumumMp,φ(µ) didefinisikan sebagai

ruang dari semua fungsi f ∈Lploc(µ) sehingga

kfkMp,φ(µ):= sup

r>0

1 φ(r)

µ

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|p (y)

¶1 p

<∞

dan untuk p=∞

kfkM∞,φ(µ) := sup

Q(x,r)

1

φ(Q) kfkL∞(Q)

denganφadalah suatu fungsi yang memenuhi beberapa kondisi tertentu. Khu-susnya untuk φ(t) =t−np maka didapat Mp,φ(µ) =Lp(µ) dan untuk φ(t) =c, suatu fungsi konstan positif maka didapat M∞,φ(µ) =L(µ).

Selanjutnya operator integral fraksional (orde α) dalam konteks ruang tak homogen Lp(µ) dengan µukuran growth orde n, didefinisikan sebagai

Iαnf(x) :=

Z

Rd

f(y)

|x−y|n−α dµ(y)

(15)

In

α di ruang tak homogen, khususnya Lp(µ) dan Mp,φ(µ), dan untuk hal itu

akan dibahas juga operator maksimal Hardy-LittlewoodMnyang didefinisikan

sebagai

Mnf(x) := sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y).

Khususnya akan dibuktikan bahwaMnterbatas diLp(µ), yakni terdapatC > 0 sehingga

kMnfkLp(µ) ≤CkfkLp(µ), untuk p >1.

Catat bahwa untukn =ddiperolehMn=M yaitu operator maksimal

Hardy-Littlewood klasik.

1.2

Tujuan Penulisan

Di dalam tesis ini akan dibuktikan keterbatasan operatorIαndi ruang Lebesgue

tak homogen dan ruang Morrey tak homogen yang diperumum. Selanjutnya

untuk suatu fungsi W yang terdefinisi padaRdakan ditunjukkan keterbatasan operatorW Iαdi ruangLp(µ) danMp,φ(µ). Hasil penulisan tesis ini diharapkan

dapat memberikan kontribusi pengetahuan mengenai keterbatasan operatorIαn

serta ketaksamaan Olsen di ruang tak homogen, khususnyaLp(µ) danMp,φ(µ).

1.3

Sistematika Penulisan

Sistematika dari tesis ini adalah sebagai berikut.

Bab 1 merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,

tin-jauan pustaka, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

Pada bab 2 dibuktikan keterbatasan operator Iαn di ruang Lebesgue tak

(16)

memberikan bukti keterbatasan operator maksimal Hardy-Littlewood Mn di

ruang Lp(µ). Subbab kedua membahas keterbatasan operator In

α di ruang

Lebesgue tak homogen dengan memanfaatkan keterbatasan operator Mn di

ruang tersebut. Sementara pada subbab ketiga akan dibuktikan keterbatasan

operator In

α di ruang Morrey tak homogen yang diperumum.

Bab 3 menyajikan hasil yaitu ketaksamaan Olsen di ruangLp(µ) danMp,φ(µ).

Pada subbab pertama diberikan ketaksamaan Olsen di ruangLp(µ).

Selanjut-nya pada subbab kedua dibuktikan ketaksamaan Olsen di ruang Mp,φ(µ).

Bab 4 merupakan kesimpulan yang memberikan penegasan tentang hasil

te-muan yang diperoleh dari fakta yang telah dibicarakan pada bab-bab

(17)

Bab 2

Keterbatasan Operator Integral

Fraksional di Ruang Tak

Homogen

2.1

Keterbatasan Operator

M

n

di Ruang

L

p

(

µ

)

Pada bagian ini akan dibahas operator maksimal Mn, khususnya akan

diper-lihatkan bahwa Mn bersifat terbatas di ruang Lp(µ). Hasil ini cukup penting

karena akan dipergunakan dalam pembuktian keterbatasan operator In α dari

Lp(µ) ke Lq(µ) untuk suatu q > p.

Dalam hal ukuran Lebesgue, sifat invarian terhadap translasi dan sifat dilasi

merupakan alat yang sangat baik dalam pengembangan Analisis Fourier.

Su-atu perluasan dari hal ini adalah konsep ruang tipe homogen, yaitu ruang

kuasi-metrik yang dilengkapi dengan ukuran Borel tak negatif yang

(18)

dou-bling bukanlah hal yang esensial yaitu banyak hasil dalam Analisis Fourier

yang tetap berlaku ketika kondisidoubling diganti dengan kondisigrowth.

Mi-salnya pada F. Nazarov, et al. [10] mengenalkan ruang tak homogen sebagai

ruang metrik—termasukRd—yang dilengkapi dengan ukuran Borel tak negatif

yang memenuhi kondisi growth.

Diberikan kubusQ⊂Rd dengan sisi-sisi sejajar dengan sumbu-sumbu koordi-nat. Ukuran Borel tak negatif µpada Rd dikatakan memenuhi kondisi growth

(orde n) apabila terdapat konstanta C >0 sehingga

µ(Q)≤C ln

dengan l = l(Q) menyatakan panjang sisi kubus Q dan n bilangan real ter-tentu dengan 0< n≤d. Karena ukuran suatu kubus didominasi oleh panjang sisinya dipangkatkan n, maka ukuran growth (orde n) sering juga disebut se-bagai ukuran berdimensi-n. Untuk suatu k > 0, kQ menyatakan kubus yang sepusat (konsentris) dengan kubusQtetapi panjang sisinya adalah kkali pan-jang sisi kubus Q, yaitu l(kQ) = k l(Q). Lebih lanjut, Q(x, r) menyatakan kubus yang berpusat di x dan berjari-jari r. Dalam hal ini yang dimaksud dengan jari-jari kubus adalah setengah panjang sisinya. Untuk selanjutnya di

dalam seluruh tesis ini,C merupakan konstanta positif yang tidak perlu sama dari satu baris ke baris yang lainnya.

Diberikan f sebarang fungsi terukur-µ, dengan µ ukuran Borel tak negatif pada Rd yang memenuhi kondisi growth orde n dan 1 ≤ p < ∞. Ingat kembali ruang Lebesgue tak homogen Lp(µ), 1p≤ ∞, adalah ruang

kelas-kelas ekuivalen f sehingga kfkLp(µ) <∞, dengan

kfkLp(µ) =

µZ

Rd

|f(y)|p (y)

¶1 p ,

dan

kfkL∞(µ) =esssup

©

(19)

Di sini esssup©|f(x)|:x∈Rdª menyatakan batas atas terkecil esensial dari

|f|, yakni

esssup©|f(x)|:x∈R= inf{M >0 :|f(x)| ≤M a.e.µpada

Rd}. Dua buah fungsi f dan g di Lp(µ) dikatakan ekuivalen jika f = g hampir di

mana-mana.

Selanjutnya, ingat fungsi maksimal Hardy-Littlewood

Mnf(x) = sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)| dµ(y).

Dalam hal ini Mn disebut sebagai operator maksimal. Terdapat pendefinisian

lain untuk fungsi maksimal yang dikenal sebagaifungsi maksimal tak terpusat

yaitu

Mucf(x) = sup Q∋x

1 ln

Z

Q

|f(y)| dµ(y).

Akan diperlihatkan bahwa fungsi maksimal setara titik demi titik (pointwise

equivalent) dengan fungsi maksimal tak terpusat. Untuk setiap x∈Rd, 1

rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y) = 1 (12l)n

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y) = 2

n

ln

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y)

≤2nsup Q∋x

1 ln

Z

Q

|f(y)|dµ(y). Jadi diperoleh sup r>0 1 rn Z

Q(x,r)

|f(y)| dµ(y)≤2nsup

Q∋x

1 ln

Z

Q

|f(y)|dµ(y). Dengan kata lain

Mnf(x)≤2nM

ucf(x). (2.1)

Di lain pihak,

1 ln

Z

Q

|f(y)|dµ(y)≤ 1

rn

Z

Q(x,r)

(20)

≤sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y).

Hubungan ini berlaku untuk setiap kubus Q dengan panjang sisi l, sehingga diperoleh

sup

Q∋x

1 ln

Z

Q

|f(y)|dµ(y)≤sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y). Dengan kata lain,

Mucf(x)≤Mnf(x). (2.2)

Dengan demikian dari (2.1) dan (2.2) diperoleh

Mucf(x)≤Mnf(x)≤2nMucf(x),

untuk setiap x∈Rd.

Untuk membuktikan keterbatasan operatorMn diLp(µ) terlebih dahulu

dibe-rikan pengertian operator tipe lemah dan tipe kuat serta teorema interpolasi

Marcinkiewicz. Diketahui (X, µ) dan (Y, ν) ruang ukuran danT operator dari Lp(X, µ) ke ruang fungsi terukur dariY. OperatorT merupakan operator tipe lemah (p, q), q <∞ jika untuk setiapλ >0 berlaku

ν{y∈Y :|T f(y)|> λ} ≤

µ

CkfkLp(X,µ) λ

¶q

.

dan T merupakan operator tipe lemah (p,∞) jika T merupakan operator ter-batas dari Lp(X, µ) ke L(Y, ν). Operator T merupakan operator tipe kuat

(p, q) jika T terbatas dariLp(X, µ) keLq(Y, ν), yakni terdapatC >0 sehingga

kT fkLq(Y,ν) ≤CkfkLp(X,µ).

Catat bahwa jika T adalah operator tipe kuat (p, q), makaT tipe lemah (p, q). Misalkan T suatu operator tipe kuat (p, q). Tulis Eλ ={y∈Y :|T f(y)|> λ}

maka

ν(Eλ) =

Z

Eλ dν ≤

Z

¯ ¯ ¯ ¯

T f(x) λ

¯ ¯ ¯ ¯

q

dν ≤ kT fk

q Lq(Y,ν) λq ≤

µ

CkfkLp(X,µ) λ

¶q

(21)

Jadi T operator tipe lemah (p, q).

Didefinisikan Lp1(X, µ) + Lp2(X, µ) sebagai ruang semua fungsi f sehingga f =f1+f2denganf1 ∈Lp1(X, µ) danf2 ∈Lp2(X, µ). Misalkanp1 < p2, maka

berlaku Lp(X, µ)⊂Lp1(X, µ) +Lp2(X, µ) untuk setiap p denganp

1 ≤p≤p2.

Untuk melihat hal ini, ambil sebarang f ∈ Lp(X, µ) dan k suatu konstanta

positif. Tulis

f1(x) =

  

f(x) jika |f(x)|> k 0 jika |f(x)| ≤k dan

f2(x) =

  

f(x) jika |f(x)| ≤k 0 jika |f(x)|> k. Maka diperoleh

Z

X

|f1(x)|p1 dµ=

Z

X

|f1(x)|p|f1(x)|p1−p dµ≤kp1−p

Z

X

|f(x)|p

dan juga

Z

X

|f2(x)|p2 dµ=

Z

X

|f2(x)|p|f2(x)|p2−p dµ≤kp2−p

Z

X

|f(x)|p dµ.

Jadi f1 ∈Lp1(X, µ) dan f2 ∈Lp2(X, µ) sehingga f ∈Lp1(X, µ) +Lp2(X, µ).

Teorema berikut memegang peranan penting dalam pembuktian keterbatasan

operator maksimal di ruang Lebesgue tak homogen. Bukti lengkap teorema

ini dapat dilihat pada Duoandikoetxea [2] hal. 29, atau Krantz [8] hal 319,

atau Stein [13] hal 21.

Teorema 2.1. (Teorema interpolasi Marcinkiewicz). Diketahui (X, µ)

dan (Y, ν) ruang ukuran, 1 ≤ p1 < p2 ≤ ∞ dan T operator sublinear dari

Lp1(X, µ) +Lp2(X, µ) ke ruang fungsi terukur dari Y, yang merupakan tipe

lemah(p1, p1)dan juga merupakan tipe lemah(p2, p2). Maka operatorT

(22)

Teorema selanjutnya menyatakan keterbatasan operator Mn di ruang Lp(µ).

Pembuktian teorema ini melibatkan lema cover Vitali yang buktinya dapat

dilihat pada Jones [7] hal. 448 atau Stein [13] hal. 9.

Lema 2.2. (Lema cover Vitali). Diketahui {Q1, Q2, . . . , Qk, . . .} koleksi

kubus di Rd. Maka ada subkoleksi terhitung kubus {Q˜1,Q˜2, . . . ,Q˜j, . . .}

se-hingga

1. Q˜j saling lepas sepasang-sepasang, dan

2. berlaku

[

k

Qk ⊆

à [

j

3 ˜Qj

!

Teorema 2.3. Operator maksimal Mn memenuhi

µ©x∈Rd:Mnf(x)> λª≤ C

λ

Z

Rd

|f(x)| dµ(x)

dan

kMnfkL∞(µ)≤CkfkL(µ).

Bukti. Ambil f ∈L1(µ) dan didefinisikan Eλ =

©

x∈Rd:Mnf(x)> λª.

Jika x∈Eλ, yaitu x∈Rd dan Mnf(x)> λ, maka terdapat rx >0 sehingga

1 rn

x

Z

Q(x,rx)

|f(y)| dµ(y)> λ.

Lema cover Vitali memberikan koleksi kubus yang saling lepas sepasang-

se-pasang {Q(xj, rj)}j, dengan xj ∈Eλ dan rj =rxj, sehingga

Eλ ⊂

[

x∈Eλ

Q(x, rx)⊂

[

j

(23)

Jadi diperoleh

µ(Eλ)≤

X

j

µ(Q(xj,3rj))

≤3nX j

rjn

≤CX

j

1 λ

Z

Q(xj,rj)

|f(y)| dµ(y)

≤ C

λ

X

j

Z

Q(xj,rj)

|f(y)| dµ(y)

≤ C

λ

Z

Rd

|f(y)| dµ(y).

Di sini kita menggunakan fakta bahwa kubus-kubus Q(xj, rj) saling lepas

sepasang-sepasang. Jadi terbukti

µ©x∈Rd:Mnf(x)> λª ≤ C

λ

Z

Rd

|f(x)| dµ(x).

Untuk bagian selanjutnya, apabila diambil sebarangx∈Rddan kubusQ⊂Rd

yang berpusat di x dan berjari-jari r, maka

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)| dµ(y)≤ 1

rn

Z

Q(x,r)

esssup|f(y)| dµ(y)

≤ 1

rn

Z

Q(x,r)

kfkL∞(µ) dµ(y)

=kfkL∞

(µ)

1 rn

Z

Q(x,r)

dµ(y)

=kfkL∞

(µ)

1 rnµ(Q)

≤CkfkL∞

(µ). Akibatnya sup r>0 1 rn Z

Q(x,r)

|f(y)|dµ(y)≤CkfkL∞(µ)

atau berarti

kMnfkL∞

(µ)≤CkfkL∞

(24)

Akibat 2.4. Operator maksimal Mn terbatas di Lp(µ) untuk 1< p < .

Bukti. Untuk mendapatkan keterbatasan operator maksimal Mn dari Lp(µ)

ke Lp(µ) cukup dengan menerapkan teorema interpolasi Marcinkiewicz pada

dua hasil di dalam Teorema 2.3. Catat bahwa Mn merupakan suatu operator

sublinear. Ambil sebarang f, g ∈Lp(µ), 1< p < , maka

Mn(f +g)(x) = sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|(f +g)(y)| dµ(y)

≤sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

(|f(y)|+|g(y)|) dµ(y)

≤sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)| dµ(y) + sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|g(y)| dµ(y) =Mnf(x) +Mng(x)

dan juga

Mn(k.f)(x) = sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|(k.f)(y)| dµ(y) = sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|k||f(y)| dµ(y) =|k|sup

r>0

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)| dµ(y) =|k|Mnf(x).

Karena diketahui juga bahwa Mn merupakan tipe lemah (1,1) dan juga tipe

lemah (∞,∞), maka menurut teorema interpolasi Marcinkiewicz, operatorMn bertipe kuat (p, p) untuk 1< p <∞, yaitu berlaku

kMnfkLp(µ)≤CkfkLp(µ).

Dengan kata lain terbukti bahwa operator maksimal Mn terbatas di Lp(µ)

(25)

2.2

Keterbatasan Operator

I

αn

di Ruang

Le-besgue Tak Homogen

Pada bagian ini akan dibuktikan bahwa operator In

α terbatas dari Lp(µ) ke

Lq(µ) untuk suatu q > p. Ingat kembali definisi operator integral fraksional

di ruang tak homogen sebagai berikut. Untuk 0 < α < n ≤ d dan α, n ∈ R, operator integral fraksional (orde α) adalah

Iαnf(x) =

Z

Rd

f(y)

|x−y|n−α dµ(y)

dengan f ∈L∞(µ) fungsi dengan tumpuan kompak.

Pertama perlu dilihat bahwa operator Iαn ini terdefinisi dengan baik.

Ker-nel dari operator integral ini bersifat singular pada diagonal x = y, namun demikian berlaku

Z

|x−y|<1

f(y)

|x−y|n−α dµ(y)≤ kfkL∞(µ)

X

k=0

Z

2−k−1≤|xy|<2−k 1

|x−y|n−α dµ(y)

≤ kfkL∞(µ)

X

k=0

Z

2−k−1≤|xy|<2−k

1

2(−k−1)(n−α) dµ(y)

≤ kfkL∞(µ)

X

k=0

µ¡Q(x,2−k)¢

2(−k−1)(n−α)

≤ kfkL∞

(µ)

X

k=0

C2(−k)n

2(−k−1)(n−α)

=C2n−αkfkL∞

(µ)

X

k=0

2−kα

<∞. Jadi integral yang mendefinisikan In

α konvergen mutlak. Pada akhirnya

ope-rator In

α ini terdefinisi untuk f ∈ Lp(µ), 1 ≤ p ≤ ∞ sebab koleksi fungsi

f ∈L∞(µ) dengan tumpuan kompak bersifat padat diLp(µ).

(26)

penting dalam pembuktian keterbatasan operator integral fraksional In α di

ru-ang Lebesgue tak homogen.

Teorema 2.5. (Ketaksamaan Hedberg). Diberikan 0 < α < n dan f

fungsi terbatas dengan tumpuan kompak. Maka untuk 1≤p < αn berlaku

|Iαnf(x)| ≤Ckfk

pα n

Lp(µ)M

nf

(x)1−pαn .

Bukti. Ambil sebarang t >0, maka

|Iαnf(x)| ≤

Z

|x−y|<t

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

| {z }

A

+

Z

|x−y|≥t

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

| {z }

B

.

Akan dicari batas untuk masing-masing suku di atas yaitu A dan B. Untuk suku pertama, A, berlaku

A=

Z

|x−y|<t

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

=

X

k=0

Z

2−k−1t≤|xy|≤2−kt

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤2n−αtα

X

k=0

2−kα

(2−kt)n

Z

Q(x,2−kt)

|f(y)| dµ(y)

≤2n−αtα

X

k=0

2−kαMnf(x)

=CtαMnf(x).

Selanjutnya untuk suku kedua yaitu B pertama kita perhatikan untuk kasus p= 1 sebagai berikut

B =

Z

|x−y|≥t

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤ 1

tn−α

Z

|x−y|≥t

|f(y)| dµ(y)

(27)

Untuk kasus 1 < p < n

α, pilih β = p

(n α)n, dimana padalah pangkat

sekawan dari p yaitu 1

p +

1

p′ = 1. Maka β > 0, dan dengan menggunakan

ketaksamaan H¨older diperoleh

B =

Z

|x−y|≥t

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

µZ

|x−y|≥t

|f(y)|p (y)

¶1 pµZ

|x−y|≥t

dµ(y)

|x−y|p′

(n−α)

¶1 p′

=kfkLp(µ)

µZ

|x−y|≥t

dµ(y)

|x−y|p′

(n−α)

¶1 p′

=kfkLp(µ)

à X

k=0

Z

2kt≤|xy|≤2k+1t

dµ(y)

|x−y|n+β

!1 p′

≤ kfkLp(µ)

à X

k=0

µ¡Q(x,2k+1t)¢

(2kt)n+β

!1 p′

≤CkfkLp(µ)2 n p′

t−pβ′

à X

k=0

2−kβ

!1 p′

=CkfkLp(µ)t− β p′

=Ct−(np−α)kfk

Lp(µ).

Jika dipilih p= 1 danC = 1, maka diperoleh ketaksamaan yang sama dengan kasus p = 1 di atas. Dengan demikian kita memperoleh untuk 1 ≤ p < n α

berlaku

|Iαnf(x)| ≤A+B

≤C³tαMnf(x) +t−(np−α)kfk

Lp(µ)

´

untuk setiap t >0. Selanjutnya dengan memilih

t =

µ

Mnf(x)

kfkLp(µ)

¶−pn

>0

dan mensubstitusikannya ke dalam ketaksamaan terakhir, diperoleh

|Iαnf(x)| ≤C

õ

Mnf(x)

kfkLp(µ)

¶−pn

Mnf(x) +C

õ

Mnf(x)

kfkLp(µ)

¶−pn!−(np−α)

(28)

=C

 M

nf(x)−pαn Mnf(x)

kfk−

pα n

Lp(µ)

+M

nf(x)−pαn+1

kfk−

pα n+1

Lp(µ)

kfkLp(µ)

 

=C

 M

nf(x)1−pαn kfk−

pα n

Lp(µ)

 

=Ckfk

pα n

Lp(µ)M

nf

(x)1−pαn.

Dengan menggunakan fakta bahwa fungsi maksimal Mnf terbatas di Lp(µ),

maka bukti selesai.

Sekarang akan diperlihatkan bahwa operator integral fraksional Iαn bersifat

terbatas dari Lp(µ) ke Lq(µ) untuk suatu q > p.

Teorema 2.6. Diberikan0< α < n.

1. OperatorIn

α terbatas dariLp(µ)ke Lq(µ)untuk1≤p < n α dan 1 q = 1 p− α n.

2. Jika 1

q = 1− α

n, maka berlaku

µ©x∈Rd:|Iαf(x)|> λ

ª

µC

kfkL1(µ) λ

¶q

.

Bukti.

1. Dari Ketaksamaan Hedberg diperoleh

|Iαnf(x)| ≤Ckfk

pα n

Lp(µ)M

nf

(x)1−pαn yang berakibat

µZ

Rd

|Iαnf(x)|q dµ(x)

¶1 q

≤Ckfk

p α n

Lp(µ)

µZ

Rd

|Mnf(x)|q(1−pαn) dµ(x)

¶1 q

=Ckfk

p α n

Lp(µ)

µZ

Rd

|Mnf(x)|p (x)

¶1 q

=Ckfk

p α n

Lp(µ)

µZ

Rd

|Mnf(x)|p (x)

¶1 p p q

=Ckfk

p α n

Lp(µ)kM

nfk

p q

(29)

≤Ckfk

p α n

Lp(µ)kfk p q

Lp(µ) =Ckfk

p α n +

p q

Lp(µ) =CkfkLp(µ). Jadi berlaku

kIαnfkLq(µ)≤CkfkLp(µ). Dengan kata lain terbukti In

α terbatas dari Lp(µ) ke Lq(µ).

2. Untuk p= 1, Ketaksamaan Hedberg memberikan

|Iαnf(x)| ≤Ckfkαn

L1(µ)M

nf(x)1−α n

=Ckfkαn

L1(µ)M

nf(x)1q.

Menggunakan fakta bahwa Mn merupakan operator tipe lemah (1,1),

diper-oleh

µ©x∈Rd :|I

αf(x)|> λ

ª

≤µ

  

x∈Rd:Mnf(x)>

  λ

Ckfk

α n

L1(µ)

  q   ≤  

Ckfk

α n

L1(µ) λ   q Z Rd

|f(x)| dµ(x)

=

 

Ckfkαn

L1(µ) λ

 

q

kfkL1(µ)

=

µ

CkfkL1(µ) λ

¶q

.

Ini merupakan ketaksamaan yang ingin dibuktikan.

2.3

Keterbatasan Operator

I

αn

di Ruang

Mor-rey Tak Homogen yang Diperumum

Pada bagian ini akan dibuktikan keterbatasan operator In

α dari Mp,φ(µ) ke

(30)

tertentu. Terlebih dahulu akan diingat kembali mengenai ruang Morrey tak

homogen yang diperumum.

Diberikan f sebarang fungsi terukur-µ, dengan µ ukuran Borel padaRd yang memenuhi kondisi growth dan 1 ≤ p < ∞. Ruang Lebesgue tak homogen lokal, Lploc(µ), adalah ruang kelas-kelas ekuivalen fungsi terukur-µ f sehingga untuk setiap subhimpunan kompak K di Rd berlaku

Z

K

|f(y)|p (y)<.

Khususnya jika f ∈ L1loc(µ) maka f disebut fungsi yang terintegral-µ secara

lokal di Rd. Jelas bahwa Lp(µ)Lp

loc(µ) untuk 1≤p <∞ (lihat Jones [7]).

Pada Gunawan and Eridani [6], diperkenalkan pengertian ruang Morrey yang

diperumum. Terilhami oleh hal tersebut, selanjutnya akan didefinisikan

penger-tian ruang Morrey tak homogen yang diperumum. Misalkan diketahui fungsi

φ : (0,∞)→(0,∞) merupakan fungsi yang memenuhi kondisi doubling, yaitu terdapat C > 0 sehingga

1 C ≤

φ(s) φ(t) ≤C,

apabila 12 ≤ st ≤ 2. Pertama perhatikan bahwa untuk setiap fungsi φ yang memenuhi kondisi doubling berlaku

Z 2k+1r

2kr

φ(t)

t dt ∼φ(2

kr)

untuk setiap bilangan bulatkdanr >0. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut. Karena φ memenuhi kondisi doubling maka terdapatC > 0 sehingga

1 C ≤

φ(t) φ(2kr) ≤C

apabila t∈[2kr,2k+1r]. Jadi

1 Cφ(2

kr)φ(t)(2kr),

yang berarti

1 C

φ(2kr)

2kr

φ(t) t ≤C

φ(2kr)

(31)

Dengan mengintegralkan ketaksamaan ini pada [2kr,2k+1r] yaitu

Z 2k+1r

2kr 1 C

φ(2kr)

2kr dt ≤

Z 2k+1r

2kr

φ(t) t dt ≤

Z 2k+1r

2kr

Cφ(2

kr)

2kr dt

maka diperoleh

K1φ(2kr)≤

Z 2k+1r

2kr

φ(t)

t dt≤K2φ(2

kr

)

dengan K1 dan K2 konstanta positif. Dengan demikian, disimpulkan untuk

setiap bilangan bulat k dan r >0 berlaku

Z 2k+1r

2kr

φ(t)

t dt∼φ(2

k

r).

Untuk 1 ≤ p < ∞ dan fungsi φ seperti tersebut di atas, ruang Morrey tak homogen yang diperumum Mp,φ(µ) didefinisikan sebagai ruang dari semua

fungsi f ∈Lploc(µ) sehingga

kfkMp,φ(µ):= sup

r>0

1 φ(r)

µ

1 rn

Z

Q(x,r)

|f(y)|p (y)

¶1 p

<∞

dan untuk p=∞

kfkM∞,φ(µ) := sup

Q(x,r)

1

φ(Q) kfkL∞(Q).

Berikut diberikan hubungan ruang-ruang Morrey tak homogen yang

diperu-mum.

Lema 2.7. Apabila 1< p < q <∞ maka

M∞,φ(µ)⊆ Mq,φ(µ)⊆ Mp,φ(µ)⊆ M1,φ(µ). Bukti. Misalkan p′ adalah pangkat sekawan dari p, yaitu 1

p +

1

p′ = 1 dan

Q sebarang kubus di Rd, maka dengan menggunakan ketaksamaan H¨older diperoleh

Z

Q

|f(y)| dµ(y)≤

µZ

Q

|f(y)|p (y)

¶1 pµZ

Q

dµ(y)

(32)

µZ

Q

|f(y)|p dµ(y)

¶1 p

(µ(Q))p1′

µZ

Q

|f(y)|p (y)

¶1 p

(C rn))p1′

Jadi

1 rn

Z

Q

|f(y)| dµ(y)≤C

µ

1 rn

Z

Q

|f(y)|p (y)

¶1 p

Ketaksamaan di atas menunjukkan bahwa Mp,φ(µ) ⊆ M1,φ(µ). Selanjutnya

karena 1< qp <∞, maka 1

rn

Z

Q

|f(y)| dµ(y)≤C

µ

1 rn

Z

Q

|f(y)|qp dµ(y)

¶p q .

Tulis f =|g|p, maka

1 rn

Z

Q

|g(y)|p (y)C

µ

1 rn

Z

Q

|g(y)|q (y)

¶p q

atau

µZ

Q

|g(y)|p (y)

¶1 p ≤C µ 1 rn Z Q

|g(y)|q (y)

¶1 q .

Ini berarti Mq,φ(µ)⊆ Mp,φ(µ).

Untuk melihat bahwa M∞,φ(µ)⊆ Mq,φ(µ), perhatikan ketaksamaan

µ

1 rn

Z

Q

|g(y)|q dµ(y)

¶1 q ≤C µ 1 rn Z Q

kgkqL(µ) dµ(y)

¶1 q

≤CkgkL∞(µ).

Perhatikan bahwa untuk φ(t) = tλ

−n

p , 0≤λn, akan diperoleh

Mp,φ(µ) = Lp,λ(µ)

— ruang Morrey tak homogen (klasik) (lihat Bab 1 Pendahuluan). Ingat

(33)

M∞,φ(µ) =L(µ). Jadi ruang Morrey tak homogen yang diperumum terkait

dengan suatu fungsi tak naik φ(t) sehingga φ(t)→ ∞ untuk t→0.

Sekarang akan dibuktikan keterbatasan operator integral fraksional di ruang

Morrey tak homogen yang diperumum.

Teorema 2.8. Misalkan fungsi φmemenuhi kondisi doubling dan untuk setiap

r >0 berlaku

Z ∞

r

tα−1φ(t) dt ≤Crαφ(r),

serta fungsi ψ memenuhi rαφ(r) C

1ψ(r) untuk setiap r, dengan C1 tidak

bergantung pada r. Maka, untuk 1 ≤ p < n α dan

1

q =

1

p − α

n, terdapat C > 0

sehingga berlaku

kIαnfkMq,ψ(µ)≤CkfkMp,φ(µ).

Bukti. Untuk a∈Rd dan r >0, tulis Q=Q(a, r) dan ˜Q=Q(a,2r) dan

f =f1+f2 =f χQ˜ +f χQ˜c.

Karena

kf1kLp(µ) =

µZ

Rd

|f1(x)|p dµ(x)

¶1 p

=

µZ

˜

Q

|f(x)|p (x)

¶1 p

= (2r)npφ(r) 1 φ(r)

µ

1 (2r)n

Z

˜

Q

|f(x)|p dµ(x)

¶1 p

≤C(2r)npφ(r)kfk

Mp,φ(µ) <∞,

maka f1 ∈Lp(µ). Selanjutnya untuk x∈Q

µZ

Q

|Iαnf1(x)|q dµ(x)

¶1 q

(34)

≤Ckf1kLp(µ)

≤C(2r)npφ(r)kfkMp,φ

(µ), sehingga diperoleh µ 1 rn Z Q

|Iαnf1(x)|q dµ(x)

¶1 q

≤Crnp− n

qφ(r)kfkMp,φ

(µ)

≤Crαφ(r)kfkMp,φ(µ)

≤CC1ψ(r)kfkMp,φ(µ) atau

1 ψ(r)

µ

1 rn

Z

Q

|Iαnf1(x)|q dµ(x)

¶1 q

≤CkfkMp,φ(µ). Akibatnya

kIαnf1kMq,ψ(µ)≤CkfkMp,φ(µ). (2.3) Selanjutnya diperoleh estimasi untuk In

αf2 sebagai berikut.

|Iαnf2(x)| ≤

Z

˜

Qc

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

Z

|x−y|≥r

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤ ∞

X

k=0

Z

2kr≤|xy|≤2k+1r

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤ ∞

X

k=0

1 (2kr)n−α

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

=

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

.

Dengan menggunakan ketaksamaan H¨older, diperoleh

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

dµ(y)

(35)

Jadi berlaku

|Iαnf2(x)| ≤C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

dµ(y)

¶1−1 p

=C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

µ(Q(a,2k+1r))

(2k+1r)n

¶1−1 p

≤C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p ≤C ∞ X k=0

(2kr)αφ(2k+1r)kfk

Mp,φ(µ)

≤CkfkMp,φ(µ)

X

k=0

(2kr)αφ(2kr).

Karena φ dan tα memenuhi kondisi doubling, maka

(2kr)αφ(2kr)

Z 2k+1r

2kr

φ(t)

t dt =

Z 2k+1r

2kr

tα−1φ(t) dt

sehingga

X

k=0

Z 2k+1r

2kr

tα−1φ(t) dt=

Z ∞

r

tα−1φ(t) dt. Jadi berlaku

|Iαnf2(x)| ≤CkfkMp,φ(µ)

Z ∞

r

tα−1φ(t)dt

≤Crαφ(r)kfkMp,φ(µ). Maka diperoleh µ 1 rn Z Q

|Iαnf2(x)|q dµ(x)

¶1 q

≤Crα−nqφ(r)kfk

Mp,φ(µ)

µZ

Q

dµ(x)

¶1 q

=Crα−npφ(r)kfk

(36)

≤Crαφ(r)kfkMp,φ(µ)

≤Cψ(r)kfkMp,φ(µ) atau

1 ψ(r)

µ

1 rn

Z

Q

|Iαnf2(x)|q dµ(x)

¶1 q

≤CkfkMp,φ(µ). Akibatnya

kIαnf2kMq,ψ(µ) ≤CkfkMp,φ(µ). (2.4)

Dengan demikian dari (2.4), (2.5), dan ketaksamaan Minkowski diperoleh

kIαnfkMq,ψ(µ)≤CkfkMp,φ(µ). Ini berarti bahwa operator In

(37)

Bab 3

Ketaksamaan Olsen di Ruang

Tak Homogen

3.1

Ketaksamaan Olsen di Ruang

L

p

(µ)

Pada bab ini akan dibahas ketaksamaan Olsen di ruang Lp(µ) dan Mp,φ(µ).

Untuk suatu untuk suatu fungsi W pada Rd akan ditunjukkan keterbatasan operatorW Iαdi ruangLp(µ) dan di ruangMp,φ(µ). Pertama diberikan

ketak-samaan Olsen di ruang Lp(µ) yang buktinya cukup sederhana, yaitu dengan memanfaatkan keterbatasan operator In

α dari Lp(µ) ke Lq(µ) untukq= np n−αp.

Teorema 3.1. (Ketaksamaan Olsen) Untuk1≤p < αn berlaku

kW IαnfkLp(µ) ≤CkWk

Lnα(µ)kfkLp(µ)

yaitu W In

α terbatas di Lp(µ), apabila W ∈L

n α(µ).

Bukti. Ambil sebarangy ∈Rd, dan selanjutnya dengan menggunakan

ketak-samaan H¨older diperoleh

Z

Rd

|W Iαnf(y)|p dµ(y)≤

µZ

Rd

|W(y)|qpq−p dµ(y)

¶q−p q µZ

Rd

|Iαnf(y)|q dµ(y)

(38)

dengan 1q = 1p − α

n. Apabila diambil akar pangkat p pada kedua ruas

ketak-samaan dan dengan memperhatikan bahwa qpqp = n

α, maka didapatkan

µZ

Rd

|W Iαnf(y)|p dµ(y)

¶1 p

µZ

Rd

|W(y)|αn dµ(y)

¶α nµZ

Rd

|Iαnf(y)|q dµ(y)

¶1 q

atau

kW IαnfkLp(µ) ≤ kWk

Lnα(µ)kI

n

αfkLq(µ). Karena operator integral fraksional In

α terbatas dari Lp(µ) ke Lq(µ) untuk

q = nnpαp, maka didapatkan

kW IαnfkLp(µ) ≤ kWk

Lnα(µ)kI

n

αfkLq(µ) ≤CkWk

Lnα(µ)k fkLp(µ).

3.2

Ketaksamaan Olsen di Ruang

M

p,φ

(µ)

Pada bagian ini akan dibuktikan perumuman Teorema 3.1 yaitu ketaksamaan

Olsen di ruang Mp,φ(µ). Bukti dari teorema ini serupa dengan bukti

keter-batasan operator Iαn di ruang Morrey tak homogen yang diperumum (lihat

Teorema 2.8).

Teorema 3.2. (Ketaksamaan Olsen) Misalkan φ memenuhi kondisi dou-bling dan

Z ∞

r

tα−1φ(t) dt ≤Crαφ(r).

Maka, untuk 1≤p < αn dan 1q = 1p − α

n terdapat C >0 sehingga berlaku

kW IαnfkMp,φ(µ) ≤CkWk

Lnα(µ)kfkMp,φ(µ)

dengan W ∈Lnα(µ).

(39)

Jadi f1 ∈Lp(µ) dan berlaku

kf1kLp(µ)=

µZ

Rd

|f1(y)|p dµ(y)

¶1 p = µZ ˜ Q

|f(y)|p dµ(y)

¶1 p

= (2r)npφ(r) 1 φ(r)

µ

1 (2r)n

Z

˜

Q

|f(y)|p (y)

¶1 p

≤C(2r)npφ(r)kfk

Mp,φ(µ). Karena

µZ

Q

|W Iαnf1(y)|p dµ(y)

¶1 p

≤ kW Iαnf1kLp(µ)

≤ kWkLn α(µ)kI

n

αf1kLq(µ)

≤CkWkLn

α(µ)kf1kLp(µ)

≤C(2r)npφ(r)kWk

Lnα(µ)kfkMp,φ(µ),

maka diperoleh

1 φ(r)

µ

1 (2r)n

Z

Q

|W Iαnf1(y)|p dµ(y)

¶1 p

≤CkWkLn

α(µ)kfkMp,φ(µ),

dan akibatnya

kW Iαnf1kMp,φ(µ)≤CkWk

Lαn(µ)kfkMp,φ(µ). (3.1) Selanjutnya untuk x∈Q berlaku

|Iαnf2(x)| ≤

Z

˜

Qc

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

Z

|x−y|≥r

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤ ∞

X

k=0

Z

2kr≤|xy|≤2k+1r

|f(y)|

|x−y|n−α dµ(y)

≤ ∞

X

k=0

1 (2kr)n−α

Z

Q(a,2k+1r)

(40)

=

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

.

Dengan menggunakan ketaksamaan H¨older diperoleh

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

1 (2kr)n

Z

Q(a,2k+1r)

dµ(y)

¶1−1 p .

Jadi berlaku

|Iαnf2(x)| ≤C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

dµ(y)

¶1−1 p

=C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p

µ

µ(Q(a,2k+1r))

(2k+1r)n

¶1−1 p

≤C

X

k=0

(2kr)α

µ

1 (2k+1r)n

Z

Q(a,2k+1r)

|f(y)| dµ(y)

¶1 p ≤C ∞ X k=0

(2kr)αφ(2k+1r)kfkMp,φ(µ)

≤CkfkMp,φ(µ)

X

k=0

(2kr)αφ(2kr).

Karena φ dan tα memenuhi kondisi doubling, maka

(2kr)αφ(2kr)

Z 2k+1r

2kr

φ(t)

t dt =

Z 2k+1r

2kr

tα−1φ(t) dt sehingga

X

k=0

Z 2k+1r

2kr

tα−1φ(t) dt=

Z ∞

r

tα−1φ(t) dt. Jadi berlaku

|Iαnf2(x)| ≤CkfkMp,φ(µ)

Z ∞

r

(41)

≤C rαφ(r)kfkMp,φ(µ). Oleh karena itu diperoleh

1 φ(r)

µ

1 rn

Z

Q

|W Iαnf2(x)|p dµ(x)

¶1 p

≤C(r)α−np kfk

Mp,φ(µ)

µZ

Q

|W(x)|p (x)

¶1 p

≤C(r)α−np kfk

Mp,φ(µ)

µZ

Q

|W(x)|nα dµ(x)

¶α n µZ

Q

dµ(x)

¶1 q

=C(r)α−np kfk

Mp,φ(µ)kWk

Lnα (µ(Q)) 1 q

≤C(r)α−np+ n q kfk

Mp,φ(µ)kWk

Lnα

≤CkWkLn

α kfkMp,φ(µ), dan akibatnya

kW Iαnf2kMp,φ(µ)≤CkWk

Lαn(µ)kfkMp,φ(µ). (3.2)

Dengan demikian dari (3.1), (3.2), dan ketaksamaan Minkowski, diperoleh

kW IαnfkMp,φ(µ)≤CkWk

(42)

Bab 4

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya diperoleh bahwa hasil

utama yang dibicarakan dalam tesis ini adalah keterbatasan operator In α di

ruang Morrey tak homogen yang diperumum, yang tertuang pada Teorema

2.8. Untuk membuktikan sifat ini dipergunakan hasil dari Garcia-Cuerva dan

Martell [5] yaitu operatorIn

α terbatas dariLp(µ) keLq(µ) untuk q= np n−αp, dan

dalam pembuktiannya keterbatasan operator maksimal Mn di ruang Lp(µ)

memegang peranan yang penting. Terilhami oleh hasil Gunawan and Eridani

[6] tentang ketaksamaan Olsen diLp danMp,φ, dapat dibuktikan ketaksamaan

Olsen di ruang Lp(µ) dan Mp,φ(µ). Kedua hasil ini berturut-turut tertuang

di dalam Teorema 3.1 dan Teorema 3.2. Di sini tampak bahwa konsep kunci

dalam penurunan hasil-hasil tersebut adalah ukurangrowth yang

mendefinisi-kan ruang tak homogen Lp(µ) dan Mp,φ(µ).

Semua hasil ini mengukuhkan bahwa kondisidoubling di dalam Analisis Fourier

khususnya operator integral bukanlah hal yang esensial, yaitu dapat diganti

dengan kondisi growth. Hal ini sejalan dengan hasil dari Garcia-Cuerva and

Gatto [4], Garcia-Cuerva and Martell [5], dan Nazarov et al. [10] tentang

(43)

Daftar Pustaka

[1] F. Chiarenza and M. Frasca (1987), ”Morrey spaces and

Hardy-Littlewood maximal function”, Rend. Mat. 7, 273-279.

[2] J. Duoandikoetxea (2001),Fourier Analysis, Graduate Studies in Math,

29, AMS, Providence, Rhode Island.

[3] G. B. Folland (1992), Fourier Analysis and Its Applications, Wadsworth

and Brooks/Cole Advanced Book and Software, Pasivic Grove,

Califor-nia.

[4] J. Garcia-Cuerva and A. E. Gatto (2004), ”Boundedness properties of

fractional integral operators associated to non-doubling measures”,

Stu-dia Math 162, no. 3, 245-261.

[5] J. Garcia-Cuerva and J. M. Martell (2001),”Two weight norm

inequali-ties for maximal operators and fractional integrals on non-homogeneous

spaces”, Indiana University Mathematics Journal50, no. 3, 1241-1280.

[6] H. Gunawan and Eridani,”Fractional integral and generalized Olsen

in-equalities”, to appear in Kyungpook Math. J.

[7] F. Jones (1993), Lebesgue Integration on Euclidean Space, Jones and

(44)

[8] S. G. Krantz (1999), A Panorama of Harmonic Analysis, The Carus

Mathematical Monographs, no. 27, The Mathematical Association of

America, USA.

[9] E. H. Lieb and M. Loss (1997),Analysis, Graduate Studies in Math,14,

AMS, Providence, Rhode Island.

[10] F. Nazarov, S. Treil, and A. Volberg (1998), ”Weak type estimates

and Cotlar inequalities for Calderon- Zygmund operators on

non-homogeneous spaces”, Internat. Math. Res. Notices, no. 9, 463-487.

[11] J. Peetre (1969), ”On the theory of Lp,λ spaces”, Journal of Functional

Analysis, no. 4, 71-87.

[12] I. Sihwaningrum dan H.P. Suryawan (2008), ”Operator integral

fraksio-nal dan ketaksamaan Olsen di ruang Lebesgue tak homogen”, Makalah

dipresentasikan pada Simposium Analisis dan Aplikasinya, Universitas

Gadjah Mada, Yogyakarta.

[13] E. M. Stein (1970), Singular Integrals and Differentiability Properties of

Functions, Princeton University Press, Princeton, New Jersey.

[14] E. M. Stein (1993),Harmonic Analysis: Real-variable Methods,

Orthogo-nality, and Oscilatory Integrals, Princeton University Press, Princeton,

New Jersey.

[15] C. T. Zorko (1986), ”Morrey Space”, Proceeding of the American

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang diperoleh pada makalah ini merupakan perumuman dari ketaksamaan tipe lemah (1, q) untuk operator integral fraksional di ruang Lebesgue atas ruang

42 3.3 Integrasi Keterbatasan Perumuman Operator Integral Fraksional Pada Ruang Morrey Klasik dengan Kewajiban Manusia untuk Menuntut Ilmu serta berfikir dalam pengembangkan

Himpunan bilangan riil Himpunan bilangan

Pada proses pembahasan, penulis melakukan pembuktian ulang penelitian Iaffei dan Nitti 2018 yaitu membuktikan syarat perlu keterbatasan operator integral fraksional pada Ruang

Berbeda dengan pembuktian syarat cukup untuk keterbatasan operator integral pada penelitian sebelumnya yang membagi operator integral fraksional menjadi tiga

Hasil yang diperoleh pada makalah ini merupakan perumuman dari ketaksamaan tipe lemah (1, q) untuk operator integral fraksional di ruang Lebesgue atas ruang

Sebagai konsekuensi dari keterbatasan operator yang dibahas pada bab sebelumnya, akan ditunjukkan bahwa ketaksamaan Olsen berlaku di ruang Morrey tak homogen yang diperumum

Dengan menggunakan Teorema 1.1, pada makalah ini akan dibuktikan ketaksamaan tipe lemah p, p dengan 1 ≤ 𝑝 < ∞ untuk operator maksimal 𝑀𝑝𝑛 di ruang Morrey tak homogen yang diperumum...