• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SUHU ETERIFIKASI PADA PROSES PEMBUATAN KARBOKSIL METIL KITOSAN TERHADAP SIFAT KELARUTANNYA ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH SUHU ETERIFIKASI PADA PROSES PEMBUATAN KARBOKSIL METIL KITOSAN TERHADAP SIFAT KELARUTANNYA ABSTRAK"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SUHU ETERIFIKASI PADA PROSES PEMBUATAN KARBOKSIL METIL KITOSAN TERHADAP SIFAT KELARUTANNYA

Masagus Muhammad Prima Putra*, Prameidia Putra dan Amir Husni Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada

Jl. Flora, Gedung A4, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 *Penulis untuk korespondensi, e-mail: primaputra@ugm.ac.id

Disampaikan pada Seminar Nasional Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia V Universitas Diponegoro 2013

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu eterifikasi pada proses karboksilasi kitosan terhadap sifat kelarutannya pada pH 7. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 menggunakan kitosan yang diproduksi dari kulit udang galah dengan Derajat Deasetilasi (DD) sebesar 92,75%. Karboksi Metil Kitosan (KMK) disintesis dengan proses eterifikasi menggunakan 3 perlakuan perbedaan suhu yaitu 60oC, 75oC dan 90oC selama 3 jam. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan suhu berpengaruh pada kelarutan karboksi metil kitosan. Semakin tinggi suhu maka kelarutannya juga semakin besar. Perlakuan terbaik pada penelitian ini diperlihatkan pada perlakuan suhu 90oC dengan nilai kelarutan 87% (g/100 ml) atau meningkat sebesar 8 kali dari kelarutan kitosan sebesar 11,67% (g/100 ml). Pembentukan gugus fungsi karboksi metil kitosan ditunjukkan dengan munculnya puncak pada panjang gelombang 1604,77 dan 1411,89 pada pengujian FTIR.

Kata kunci : eterifikasi, gugus fungsi, kelarutan, rendemen

PENDAHULUAN

Kitin merupakan biopolimer alami kedua yang terbanyak setelah selulosa. Keberadaan kitin di alam mencapai 1011 ton/tahun dan merupakan senyawa organik terbanyak di dunia (Kurita, 2006). Keberadaan kitin yang melimpah di alam ini merupakan salah satu potensi yang layak untuk dikembangkan. Dalam pemanfaatannya, kitin kurang dapat termanfaatkan dengan baik karena sifatnya yang sukar larut dalam air dan kereaktifitasnya rendah.

Dewasa ini kitin telah dimodifikasi dengan perlakuan kimia sehingga dihasilkan suatu produk yang bernama kitosan. Kitosan telah banyak dimanfaatkan diberbagai bidang kehidupan seperti kedokteran, farmasi, industri dan pengolahan pangan. Kitosan pertama kali ditemukan pada tahun 1859 oleh Rouqet dengan cara mendidihkan kitin dalam larutan potasium hidroksida (Li et al., 1997). Namun demikian, kelarutan kitosan yang masih rendah pada pH netral membuat adanya keterbatasan pada aplikasinya. Beberapa penelitian sudah dilakukan untuk memperbaiki kelarutannya, salah satunya dengan melakukan karboksilasi (Patale & Patravale, 2011).

(2)

Karboksimetil kitosan merupakan turunan dari kitosan yang diperoleh dengan menyisipkan gugus karboksimetil pada rantai glukosamin (Gambar 1).

(sumber: Jayakumar et al., 2010) Gambar 1. Proses karboksilasi kitosan.

Penambahan gugus karboksimetil diketahui dapat menambah kelarutan kitosan karena bertambahnya muatan ioniknya. Penelitian Patale & Patravale (2011) menunjukkan selain memperbaiki kelarutan kitosan, karboksilasi juga mampu meningkatkan sifat fungsionalnya, sehingga karboksilasi dianggap teknik yang baik untuk meningkatkan sifat fungsional kitosan. Hingga saat ini telah terdapat 4 jenis karboksimetil kitosan yaitu N-, O-, N-O dan N-N karboksimetil kitosan.

N-O karboksimetil kitosan (Gambar 2) merupakan salah satu derivat kitosan yang memiliki gugus karboksimetil pada kedua ujung amino dan hidroksil pada rantai glukosaminnya (Hayes, 1986 cit Miao et al., 2008).

(sumber: Jayakumar et al., 2010)

(3)

Faktor yang mempengaruhi pembentukan karboksimetil kitosan (KMK) adalah kemurnian kitosan, kelebihan natrium hidroksida pada proses alkalisasi kitosan, rasio antara kitosan dan asam monokloroasetat serta suhu eterifikasi kitosan menjadi karboksi metil kitosan (Shahidi et al., 1999). Perlakuan suhu akan mempengaruhi kecepatan reaksi antara kitosan dengan asam monokloroasetat. Suhu berperan dalam proses hidrolisis asam yang berasal dari asam monokloroasetat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu terhadap kualitas dan kuantitas karboksimetil kitosan dari cangkang Udang galah (Macrobraciun rosenbergii).

MATERI METODE Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain: gelas beaker, erlenmeyer, magnetik stirer, kompor listrik, termometer, kertas saring, oven, blender dan spektrofotometer (Shimidzu, jepang).

Bahan

Bahan penelitian yang digunakan antara lain: aquades, HCl teknis, NaOH teknis, HCl (p.a), NaOH (p.a), etanol (p.a), isopropanol (p.a) dan asam monokloroasetat (p.a).

Metode Penelitian Pembuatan Kitosan

Kitosan diperoleh dari proses pembuatan kitosan berbahan dasar kulit Udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Kitosan diperoleh melalui 4 tahap yaitu demineralisasi, deproteinasi, decolorisasi dan deasetilasi. Demineralisasi cangkang udang galah menggunakan HCl 2N 1:20 (w/v) selama 180 menit pada suhu ruang. Cangkang hasil demineralisasi kemudian dikeringkan pada suhu 50oC semalaman. Selanjutnya dilakukan roses deproteinasi menggunakan NaOH 3,5%, 1:15 (w/v) pada suhu 75oC selama 120 menit. Decolorisasi dilakukan setelahnya menggunakan 0,315 % (v/v) NaClO, 1:15 (w/v) selama 15 menit pada suhu ruang. Cangkang kemudian dikeringkan kembali pada suhu 50oC semalaman. Kitin yang diperoleh kemudian dilanjutkan pada proses deasetilasi untuk menghasilkan kitosan. Deasetilasi dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH 50%, 1:20 (w/v) pada suhu 100oC dengan 8 kali pergantian larutan NaOH (satu tahap pergantian selama 60 menit).

Nilai DD (Degree od Deacetylation) dihitung menggunakan rumus yang mengacu pada Rout (2001).

DD % = 118.883 – [40.1647 x (A1655/ A3450)] (1) Dimana;

(4)

A3450 : absorbansi dari gugus O-H pada 3450 cm-1.

40.1647 : faktor dari nilai rasio A1655/A3450 untuk kitosan yang mengalami deasetilasi total.

118.883 : niai dari baseline

Pembuatan Karboksi Metil Kitosan

Sebanyak 2 g kitosan dilarutkan dalam 20 ml Isopropil alcohol dan diaduk pada suhu kamar hingga rata. Selanjutnya ditambahkan NaOH 10M sebanyak 5 ml yang ditambahkan selama 45 menit. Kemudian ditambahkan asam monokloroasetat sebanyak 2,4 g dalam 20 menit. Proses eterifikasi dilakukan pada suhu 60, 75, dan 90oC selama 3 jam. Proses selanjutnya adalah penambahan akuades dingin 1,6 ml kemudian diatur hingga pH 7 dengan asam asetat glasial. Setelah pH netral larutan disaring dan padatan dicuci dengan methanol 70% dengan perbandingan 1:15. Selanjutnya dilakukan penyaringan kedua dengan methanol anhidrat dengan perbandingan yang sama. Padatan diambil dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60oC semalaman.

Pengujian

Penentuan kualitas dan kuantitas karboksimetil kitosan dilakukan dengan melakukan pengujian yang meliputi: rendemen, kelarutan dan analisis gugus fungsi. Penghitungan kelarutan dilakukan dengan melarutkan 1 g karboksi metil kitosan dalam 100 akuades kemudian diaduk selama 15 menit. Sedangkan analisis gugus fungsi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) (Basmal et al., 2007).

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Kitosan

Hasil karakterisasi kitosan menunjukkan kitosan yang diproduksi memiliki nilai DD (Degree of Deacetylation) sebesar 92,74%. Hasil dari pengujian gugus fungsi kitosan udang galah bisa dilihat pada Gambar 3, dimana bisa dilihat munculnya puncak-puncak khas kitosan pada panjang gelombang 1655 dan 3450.

(5)

Gambar 3. Spektrogram kitosan udang galah.

Selain pengujian derajat deasetilasi, kitosan juga dilakukan pengujian terhadap kelarutannya dalam air. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kitosan mempunyai kelarutan sebesar 11,67% g/100 ml.

Karakterisasi N-O Karboksi Metil Kitosan Rendemen

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen karboksimetil kitosan berkisar antara 187% sampai 210% yang dihitung terhadap bobot kitosan. Pada Gambar 4 terdapat data rendemen yang disajikan dalam perbandingan dengan berat awalnya.

(6)

Pada hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil dengan seiring peningkatan suhu. Hasil rendemen tertinggi pada suhu eterifikasi 90oC, kemudian berturut-turut diikuti oleh suhu eterifikasi 75oC dan 60oC. Peningkatan jumlah rendemen kemungkinan disebabkan oleh jumlah substitusi atom H+ yang terdapat pada kitosan dengan gugus CH2COO- dari asam monokloroasetat semakin meningkat. Semakin tinggi suhu maka reaksi yang terjadi juga semakin banyak sehingga substitusi yang terjadi juga semakin besar dan berpengaruh pada hasil akhir rendemen. Sesuai dengan reaksi kimia yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka reaksi akan berjalan lebih cepat.

Kelarutan

Analisis kelarutan menunjukkan bahwa kelarutan karboksimetil kitosan berkisar antara 75 hingga 87% yang dihitung berdasarkan jumlah sisa yang tidak larut dalam air. Terjadi perbedaan hasil kelarutan seiring dengan meningkatnya suhu reaksi. Semakin tinggi suhu reaksi maka jumlah kelarutan karboksi metil kitosan juga semakin tinggi. Hasil kelarutan tertinggi pada suhu eterifikasi 90oC kemudian berturut-turut diikuti oleh suhu eterifikasi 75oC dan 60oC. Kelarutan ini kemungkinan dipengaruhi oleh jumlah gugus karboksil yang mensubstitusi sehigga menyebabkan peningkatan kelarutan. Semakin banyak atom H+ yang tersubstitusi maka semakin besar kelarutan yang terjadi. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Pengujian kelarutan karboksi metil kitosan.

Secara keseluruhan karboksi metil kitosan yang dihasilkan memiliki kelarutan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelarutan kitosan yang hanya 11,67%.

Analisis Gugus Fungsi

Hasil spectrum FTIR dari beberapa perlakuan suhu yang disajikan pada Gambar 6-8.

(7)

Gambar 6. Spektrogram karboksi metil kitosan pada perlakuak suhu 60oC.

Gambar 7. Spektrogram karboksi metil kitosan pada perlakuak suhu 75oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektrum FTIR karboksi metil kitosan yang disintesis dengan perlakuan suhu 90oC menunjukkan terbentukknya gugus karboksimetil pada senyawa kitosan. Terlihat bahwa vibrasi stretching gugus O-H dan N-H terjadi pada puncak 3448 cm-1 dan puncak khas N-O karboksi metil kitosan terjadi pada 1604 dan 1411 cm-1 yaitu gugus COO- yang menunjukkan karboksimetilasi terjasinya pada gugus amino kitosan. Berdasarkan analisa spektrum FTIR ini menyatakan N-O karboksi metil kitosan yang terbentuk merupakan N,O-KMK, yaitu gugus karboksimetil terjadi pada posisi N dan O (Liu et al. 2001).

(8)

Gambar 8. Spektrogram karboksi metil kitosan pada perlakuak suhu 90oC. KESIMPULAN

Hasil dari sintesis karboksi metil kitosan pada kitosan kulit Udang Galah membuktikan bahwa suhu mempengaruhi jumlah rendemen, kelarutan dan juga pembentukan gugus fungsi pada karboksimetil kitosan. Pembentukan karboksi metil kitosan terbaik terjadi pada perlakuan suhu eterifikasi 90oC yang menunjukkan rendemen sebesar 210%, kelarutan 87% dan juga pembentukan gugus fungsional N,O-karboksi metil kitosan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih diucapkan kepada LPPM UGM yang telah mendanai penelitian ini melalui hibah dosen muda tahun 2013.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 175p.

Basmal, J., A. Prasetyo, & A. Farida. 2007. Pengaruh Suhu Eterifikasi Terhadap Kualitas dan Kuantitas Kitosan Larut Air yang dibuat dari Cangkang Rajungan. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol. 2 No. 2 2007.

Erna, M., Emriadi, A. Alif, S. Arief & M.J. Noordin. 2009. Sintesis dan Aplikasi Karboksimetil Kitosan sebagai Inhibitor Korosi pada Baja Karbon dalam Air. Jurnal natur Indonesia 12 (1). Hal 87-92.2009.

(9)

Jayakumar, R., M. Prabaharanb, S.V. Naira, S. Tokurac, H. Tamurac & N. Selvamurugand. 2010. Novel carboxymethyl derivatives of chitin and chitosan materials and their biomedical applications. Progress in Materials

Science 55 (7): 675–709. [on line]

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0079642510000162. Issued September 2010. [25 November 2012).

Kurita, K. 2006. Chitin and Chitosan: Functional Biopolymers from Marine Crustaceans (mini review). Marine Biotechnology Volume 8, 203–226. Liu, X.F., Guan, Y.L, Yang, D.Z., Li, Z., & You, K.D. 2001. Antibacterial action

of chitosan and carboxymethylated chitosan. Journal of Applied Polymer Science 79: 1324-1335

Miao, J., G. Chen, C. Gao & S. Dong. 2008. Preparation and characterization of N,Ocarboxymethyl chitosan/ Polysulfone composite nanofiltration membrane crosslinked with epichlorohydrin. Desalination 233: 147–156 Patale, R.L. & V.B. Patravale. 2011. O,N-carboxymethyl chitosan–zinc complex:

A novel chitosan complex with enhanced antimicrobial activity. Carbohydrate Polymers 85: 105–110.

Rout, S.K. 2001. Ph. D. Thesis on physicochemical functional and spectroscopic analysis of crawfish chitin and chitosan affected by process modification. dissertation, Louisiana state university, Baton, Rouge, La, USA.

Gambar

Gambar 2. Proses pembuatan N,O-karboksimetil kitosan.
Gambar 4. Pengujian rendemen N-O karboksi metil kitosan.
Gambar 5. Pengujian kelarutan karboksi metil kitosan.
Gambar 7. Spektrogram karboksi metil kitosan pada perlakuak suhu 75 o C.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektrum FTIR karboksi metil kitosan yang  disintesis  dengan  perlakuan  suhu  90 o C  menunjukkan  terbentukknya  gugus  karboksimetil pada senya
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan Rencana Pembangunan Desa melaui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa, pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan adalah Kepala Desa menyelenggarakan

In 2013, an application of the Terra MODIS satellite data for the environmental monitoring of oil-producing areas of four oil fields of Tomsk region allowed

Bagian Organisasi Kepegawaian dan Hukum Biro AUAK IAIN Antasari paling lambat tanggal 15 Januari 2015 ;.. Menyusun Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Tahun 2015 agar mengacu

Sistem pemasaran ternak khusus nya sapi potong sampai saat ini masih sederhana, jalur yang dilewati dari pro- dusen sampai ke tangan konsumen masih panjang, peran

Terben- tuknya ikatan merozoit dengan eritrosit terjadi akibat adanya interaksi antara protein pada permukaan merozoit (Mero- zoit Surface Protein / MSP) dengan pro- tein

Under these circumstances, licensing agreements can be concluded, but not be registered and as a consequence, they have no legal effect vis-à-vis third parties.” In

Kesesuaian Rekonsiliasi BMD oleh DPPKA dengan Permendagri 17 2007.. Dalam pelaksanaan Rekonsiliasi BMD oleh DPPKA Surakarta sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam

Berdasarkan hasil penelitian diketahui jumlah siswa yang mendapatkan nilai di bawah 70 pada siklus I berjumlah 10 orang (33.3%), sedangkan pada siklus II turun menjadi 4 orang