• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh merek dan gaya hidup terhadap keputusan pembelian Tupperware : studi kasus pada konsumen produk Tupperware di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh merek dan gaya hidup terhadap keputusan pembelian Tupperware : studi kasus pada konsumen produk Tupperware di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo - USD Repository"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MEREK DAN GAYA HIDUP TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TUPPERWARE

Studi Kasus pada Konsumen Produk Tupperware Di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Rusliana Ajeng Triani NIM : 092214084

PROGRAM STUDI MANAJEMEN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

(2)

i

PENGARUH MEREK DAN GAYA HIDUP TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TUPPERWARE

Studi Kasus pada Konsumen Produk Tupperware Di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Rusliana Ajeng Triani NIM : 092214084

PROGRAM STUDI MANAJEMEN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

(3)
(4)
(5)

iv

Motto :

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu

telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh

(urusan) yang lain.

(Q.S Al-Insyirah 6-7)

Berusaha dan berdoa adalah langkah terbaik dalam mencapai suatu

keberhasilan.

Berusaha tanpa berdoa adalah kesombongan.

Berdoa tanpa berusaha adalah mustahil.

Alhamdulillah, atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Karya sederhana ini saya

persembahkan untuk :

(6)
(7)
(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Merek dan Gaya Hidup terhadap Keputusan Pembelian Tupperware”, Studi Kasus pada Konsumen Produk Tupperware di Pedukuhan Mutihan.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang talah memberikan sumbangan waktu, tenaga, bimbingan, nasehat dan dorongan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis dengan penuh kerendahan hati ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. H. Herry Maridjo, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Dr. Lukas Purwoto, M.si., selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma.

(9)

viii

4. Bapak Dr. H. Herry Maridjo, M.Si., selaku dosen pembimbing II, yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan memberikan masukan, saran dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Drs. P. Rubiyanto, M.M. selaku anggota tim penguji yang telah memberikan masukan yang sangat berguna.

6. Segenap Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada penulis.

7. Staf Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas segala bantuan dan kerjasamanya kepada penulis selama proses perkuliahan. 8. Seluruh responden yang berada di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates,

Kecamatan Wates, Kulon Progo, yang telah membantu penulis dengan mengisi angket guna melengkapi dat yang penulis butuhkan.

9. Orangtua tercinta yang selalu menjadi penyemangat dan senantiasa mendoakanku. Terimakasih atas kasih sayang, bimbingan, nasehat, pengorbanan dan semuanya yang telah diberikan untukku.

10. Siwo yang telah memberikan nasehat, bimbingan dan dukungan yang tak terhingga.

(10)
(11)

x

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Halaman Persetujuan Pembimbing ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Halaman Motto dan Persembahan ... iv

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Tulis... v

Halaman Lembar Publikasi ... vi

Halaman Kata Pengantar... vii

Halaman Daftar Isi ... x

Halaman Daftar Tabel ... xiii

Halaman Daftar Gambar ... xiv

Halaman Daftar Lampiran... xv

Halaman Abstrak... xvi

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 3

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA... 6

A. Landasan Teori... 6

B. Penelitian Sebelumnya ... 21

C. Desain Penelitian... 24

(12)
(13)

xii

3. Uji Heterokedastisitas... 75

E. Uji Hipotesis ... 77

F. Pembahasan... 81

BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran... 87

C. Keterbatasan... 88

DAFTAR PUSTAKA... 89

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

III.1 Skor Pernyataan ... 32

III.2 Definisi Operasional ... 33

IV.1 Prestasi dan Penghargaan... 49

V.1 Hasil Uji Validitas... 63

V.2 Hasil Uji Reliabilitas ... 64

V.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia... 65

V.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 66

V.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pembelian Tupperware ... 67

V.6 Statistik Deskriptif ... 67

V.7 Statistik Deskriptif Merek ... 69

V.8 Statistik Deskriptif Gaya Hidup ... 70

V.9 Statistik Deskriptif Keputusan Pembelian ... 71

V.10 Uji Normalitas ... 73

V.11 Uji Multikolinearitas ... 75

V.12 Uji Heterokedastisitas ... 76

V.13 Hasil Analisis Regresi Berganda... 77

V.14 Hasil Uji F ... 78

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

II.1 Kerangka Konseptual Variabel Merek dan Gaya Hidup... 25

IV.1 Distributor Tupperware... 49

IV.2 Struktur Organisasi dan Uraian Pekerjaan... 57

V.1 P-P Plot ... 74

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Angket ... 90

Lampiran 2 : Tabulasi Data Angket ... 91

(17)

xvi

ABSTRAK

PENGARUH MEREK DAN GAYA HIDUP

TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TUPPERWARE

Studi Kasus pada Konsumen Produk Tupperware Di Pedukuhan Mutihan,

Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo.

Rusliana Ajeng Triani Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2013

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) apakah merek dan gaya hidup secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware, 2) apakah merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware.

Jenis Penelitian ini adalah studi kasus. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan angket. Teknik analis data dengan menggunakan Analisis regresi, Uji asumsi klasik dan Uji hipotesis.

(18)

xvii

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF BRAND AND LIFESTYLE

FORWARD THE DECISION TO BY TUPPERWARE

Case Study on the consumer of Tupperware in Yogyakarta

Rusliana Ajeng Triani Sanata Dharma University

Yogyakarta 2013

The purpose of the research were to identity whether there were 1) what brand and lifestyle simultaneous forward the decision to by Tupperware, 2) what brand and lifestyle partial forward the decision to by Tupperware.

The research a case study. The samples of 100 respondents were taken by using Purposive Sampling. Data gathering techniques are questionnaire. Technique used is Regression Analysis, classic assuming, and hypothesis.

(19)
(20)

kebutuhan dan keinginan konsumen. Upaya ke arah itu dilakukan melalui studi atau penilitian dengan maksut mencari sejumlah informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian suatu produk.

Masyarakat kini mulai berfikir selektif dalam membeli produk, sehingga mereka akan mendapatkan kegunaan atau manfaat yang mereka cari dari produk tersebut. Bahkan terkadang mereka tidak ragu untuk mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan produk berkualitas. Ketatnya persaingan akan membuat pemasar untuk merebut pangsa pasar. Salah satu cara untuk merebut pangsa pasar dengan merek. Merek merupakan nama, istilah, simbol, desain yang mengidentifikasi suatu produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Proses pengambilan keputusan konsumen dalam pembelian berbeda-beda tergantung pada jenis keputusan pembelian. Keputusan membeli pasta gigi, sabun mandi, mobil, pakaian, dan lain-lain merupakan hal-hal yang sangat berbeda. Pembelian barang mahal sering kali mengakibatkan lebih banyak pertimbangan pembelian dibandingkan pembelian barang yang tidak mahal (dapat dijangkau oleh banyak konsumen).

(21)

Mereka biasanya akan merasa bangga karena barang yang digunakan kebanyakan memiliki merek yang sama.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Merek dan Gaya Hidup terhadap Keputusan Pembelian Tupperware” Studi Kasus pada Konsumen Produk Tupperware Di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah merek dan gaya hidup secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware?

2. Apakah merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware?

C. Pembatasan Masalah

(22)

lingkungan (ketertarikan) dan apa yang mereka pikir tentang diri mereka sendiri dan juga pendapatan mereka.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan diatas, maka peneliti menggunakan batasan masalah sebagai berikut.

1. Konsumen yang akan diteliti adalah konsumen yang pernah membeli produk Tupperware, yang berada di pedukuhan Mutihan,Wates, Kulon Progo.

2. Produk Tupperware yang diteliti berupa tempat minum, tempat makan, dan toples.

3. Dalam penelitian ini peneliti hanya membatasi pada merek dan gaya hidup.

D. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai yaitu:

1. Untuk mengetahui apakah merek dan gaya hidup secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware.

2. Untuk mengetahui apakah merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian Tupperware.

E. Manfaat Penelitian

(23)

1. Bagi Perusahaan Tupperware

Sumbangan pemikiran dan masukan bagi produsen Tupperware dalam mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk Tupperware.

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan pertimbangan bagi peneliti dimasa yang akan datang.

3. Bagi Penulis

(24)
(25)

pemasaran harus dipahami tidak dalam pengertian lama (katakan dan jual), tetapi dalam pengertian baru yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan. Jika pemasar memahami kebutuhan pelanggan dengan baik, mengembangkan produk yang mempunyai nilai superior, menetapkan harga, mendistribusikan, dan mempromosikan produknya dengan efektif, produk-produk ini akan terjual dengan mudah. Jadi penjualan dan periklanan hanyalah bagian dari bauran pemasaran yang lebih besar dalam satu perangkat pemasaran yang bekerja bersama-sama untuk mempengaruhi pasar (Kotler dan Armstrong, 2001:7).

2. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (William). Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa perusahaan memiliki konsekuensi mengarahkan seluruh kegiatan yang ada dalam perusahaan untuk mengetahui kebutuhan konsumen dan mampu memberikan kepuasan.

Ada 3 unsur pokok yang digunakan sebagai dasar dalam konsep pemasaran (Swastha,2011:6-8).

a. Orientasi pada konsumen

1) Menentukan kebutuhan pokok dari pembelian yang akan dilayani dan dipenuhi.

(26)

3) Menentukan produk dan program pemasaran.

4) Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur, meneliti, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta perilaku mereka.

5) Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah menitikberatkan pada mutu yang tinggi, harga yang murah, atau model yang menarik.

b. Penyusunan kegiatan pemasaran secara integral

Pengintegrasian kegiatan pemasaran berarti bahwa setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan turut berkecimpung dalam suatu usaha yang terkoordinir untuk memberikan kepuasan konsumen, sehingga tujuan perusahaan dapat direalisasi. Selain itu harus terdapat juga penyesuaian dan koordinasi antara produk, harga, saluran distribusi, dan promosi untuk menciptakan hubungan pertukaran yang kuat dengan konsumen. Artinya, harga jual harus sesuai dengan kualitas produk, promosi harus disesuaikan dengan saluran distribusi. Usaha-usaha ini perlu juga dikoordinasikan dengan waktu dan tempat. c. Kepuasan konsumen

(27)

3. Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen (consumer behavior) menurut James F. Engel adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.

Dari hasil pengertian perilaku konsumen di atas, didapat 2 elemen penting dari arti perilaku konsumen yaitu : elemen proses pengambilan keputusan dan juga elemen kegiatan secara fisik. Kedua elemen tersebut melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan barang dan jasa. Konsumen membeli barang dan jasa untuk mendapatkan manfaat dari barang dan jasa tersebut. Jadi perilaku konsumen tidak hanya mempelajari apa yang dibeli oleh konsumen saja, tetapi juga dimana, bagaimana kebiasaan dan dalam kondisi seperti apa produk dan jasa yang dibeli.

(28)

a. Teori-teori perilaku konsumen 1) Teori ekonomi mikro

Teori ini didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :

a) Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan kepuasan dalam batas-batas kemampuan finansialnya.

b) Bahwa konsumen mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.

c) Bahwa konsumen selalu bertindak dengan rasional. 2) Teori psikologi

Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori spikologi, yaitu: a) Teori belajar (learning teory)

Teori ini lebih menekankan pada tindakan penafsiran dan peramalan. Pada proses belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: sikap, keyakinan, dan pengalaman masa lalu. b) Teori psikhoanalitis (psychoanalytic theoty)

(29)

c) Teori sosiologi

Teori ini lebih mengutamakan perilaku kelompok, bukan individu. Hal ini disahkan pada kegiatan kelompok seperti keluarga, teman dalam satu pekerjaan, perkumpulan olahraga, dan sebagainya.

d) Teori antropologi

Pada teori ini yang lebih diutamakan adalah kelompok besar atau kelompok yang ruang lingkupnya sangat luas yaitu kebudayaan (kelompok paling luas), subkultur (kebudayaan daerah), dan kelas-kelas sosial.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

Menurut Kotler (2001:144), faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen adalah faktor kebudayaan, faktor sosial, faktor personal dan faktor psikologi seperti yang ditunjukkan gambar berikut ini.

a. Faktor Budaya

(30)

masyarakat yang relatif permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan tingkah laku yang serupa.

b. Faktor Sosial

Kelompok merupakan dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama. Keluarga merupakan kelompok primer yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga terdiri dari orang tua seseorang. Dari orang tua, seseorang memperoleh suatu orientasi terhadap agama, politik, dan ekonomi serta suatu rasa ambisi pribadi, penghargaan pribadi dan citra. Peran dan status maksudnya setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali membeli produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.

c. Faktor Pribadi

Umur dan tahap daur hidup Orang membeli barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot, dan rekreasi sering kali berhubungan dengan umur. Membeli juga dipengaruhi oleh tahap daur hidup keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannnya.

(31)

Situasi Ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan mengamati kecenderungan dalam pendapatan pribadi, tabungan, dan tingkat minat. Bila indikator ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali, dan mengubah harga produknya.

Gaya Hidup merupakan pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam aktivitas, interes, dan opininya. Gaya hidup seseorang merupakan pola hidup didunia yang diekspresikan melalui kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup ini seringkali mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosialnya.

Kepribadian dan Konsep Diri Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologi unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan dirinya sendiri. Sedangkan konsep diri merupakan apa yang dimiliki seseorang memberi kontribusi pada mencerminkan identitas mereka. Jadi, agar dapat memahami tingkah laku konsumen, pertama-tama pemasar harus dapat memahami hubungan antara konsep diri konsumen dan miliknya.

d. Kelompok referensi kecil

(32)

kelompok biasanya mempunyai pelopor opini (opinion leader) yang dapat mempengaruhi anggotanya dalam membeli sesuatu. Terkadang nasehat orang lain lebih berpengaruh daripada iklan di majalah, surat kabar, televisi, atau media lainnya.

e. Faktor Psikologis

Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhannya. Persepsi meurpakan proses yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti mengenai dunia.

(33)

5. Merek

Merek adalah tanda berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa (Tjiptono,2011:4).

a. Manfaat-manfaat merek 1) Manfaat ekonomik

a) Merek merupakan sarana bagi perusahaan untuk bersaing memperebutkan pasar.

b) Konsumen memilih merek berdasarkan value for money yang ditawarkan berbagai macam merek.

c) Relasi antara merek dan konsumen dimulai dengan penjualan. Premium harga bisa berfungsi layaknya asuransi resiko bagi perusahaan. Sebagian besar konsumen lebih suka memilih penyedia jasa yang lebih mahal namun diyakininya bakal memuaskannya ketimbanh memilih penyedia jasa yang lebih murah yang tidak jelas kinerjanya.

2) Manfaat fungsional

(34)

2) Merek memberikan jaminan kualitas. Apabila konsumen membeli merek yang sama lagi, maka ada jaminan bahwa kinerja merek tersebut akan konsisten dengan sebelumnya. 3) Pemasar merek berempati dengan para pemakai akhir dan

masalah yang akan diatasi merek yang ditawarkan. 4) Merek memfasilitasi ketersediaan produk secara luas. 5) Merek memudahkan iklan dan sponsorship

3) Manfaat psikologis

a) Merek merupakan penyerdehanaan atau simplifikasi dari semua informasi produk yang perlu diketahui konsumen. b) Pilihan merek tidak selalu berdasarkan pada pertimbangan

rasional. Dalam kasus faktor emosional (seperti gengsi dan merek) memainkan peran dominan dalam keputusan pembelian.

c) Merek bisa memperkuat citra diri dan persepsi orang lain terhadap pemakai/pemiliknya.

d) Brand symbolismtidak hanya berpengaruh pada persepsi orang lain, namun juga pada identifikasi diri sendiri dengan objek tertentu.

b. Fungsi Merek 1) Identifikasi

(35)

2) Praktikalitas

Memfasilitasi penghematan waktu dan energi melalui pembelian ulang identik dan loyalitas.

3) Jaminan

Memberikan jaminan bagi konsumen bahwa mereka bisa mendapatkan kualitas yang sama sekalipun pembelian dilakukan pada waktu tempat berbeda.

4) Optimisasi

Memberikan kepastian bahwa konsumen dapat memberi alternetif terbaik dalam kategori produk tertentu dan pilihan terbaik untuk tujuan spesifikasi.

5) Karakterisasi

Mendapatkan konfirmasi mengenai citra diri konsumen atau citra yang ditampilkan pada orang lain.

6) Kontinuitas

Kepuasan terwujud melalui familiaritas dan intimasi dengan merek yang telah digunakan atau dikonsumsi pelanggan selama bertahun-tahun.

7) Hedonistis

(36)

8) Etis

Kepuasan terkait dengan perilaku bertanggung jawab merek bersangkutan dalam hubungannya dengan masyarakat.

Rangkuti (2002:2) merek dapat dibagi dalam pengertian lain, yaitu : a. Brand namemerupakan bagian dari yang dapat diucapkan.

b. Brand markmerupakan bagian dari merek yang dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti lambang, desain huruf atau warna khusus.

c. Trade mark merupakan merek atau sebagian dari merek yang dilindungi hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa. Tanda dagang ini melindungi penjual dengan hak istimewanya untuk menggunakan nama merek (tanda merek).

d. Copyright merupakan hak istimewa yang dilindungi oleh undang-undang untuk memproduksi, menerbitkan, menjual karya tulis, karya musik atau karya seni.

(37)

Pemberian merek pada suatu produk bukan hanya sebuah simbol, karena merek memiliki enam tingkat pengertian (Rangkuti,2002:3),yaitu:

a. Atribut

Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini perlu dikelola dan diciptakan agar pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut apa saja yang dikandung dalam suatu merek.

b. Manfaat

Selain atribut, merek juga memiliki rangkaian manfaat. Konsumen tidak membeli atribut pada produk, namun mereka membeli manfaat fungsional maupun manfaat emosional.

c. Nilai

Merek yang memiliki nilai tinggi akan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkelas, sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek tersebut.

d. Budaya

Merek dapat juga dipakai untuk melambangkan budaya tertentu. Misalnya Panasonic mewakili budaya Jepang yang terorganisir dengan baik, memiliki cara kerja yang efisien dan selalu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

e. Kepribadian

(38)

f. Pemakai

Merek menunjukkan jenis konsumen pemakai merek tersebut. Itulah sebab para pemasar selalu menggunakan analogi orang-orang terkenal untuk menggunakan mereknya.

6. Gaya Hidup

(39)

7. Keputusan Pembelian

Setelah konsumen mendapatkan informasi tentang barang yang dibutuhkan kemudian konsumen membuat keputusan untuk melakukan pembelian. Konsumen akan menetapkan memilih merek yang disukainya diantara beberapa merek yang ada.

Dalam mengambil keputusan untuk membeli mempunyai lima macam keputusan membeli :

a. Keputusan tentang merek b. Keputusan membeli dari siapa

c. Keputusan tentang jumlah produk yang akan dibeli d. Keputusan tentang waktu membeli

e. Keputusan dalam cara pembayaran

B. Penelitian Sebelumnya

1. Mutmainnah Nur Arif dengan judul skripsi Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Produk Sophie Martin pada B.C. Ivrina Katili.

(40)

Metode analisis data yang digunakan Analisis Deskriptif, Uji Validitas dan Reliabilitas, Analisis Regresi Linear Berganda (Multiple Linear Regression), Uji Fhitung (Uji Serentak), Uji thitung, Pengujian Koefisien Determinan (R2).

Setelah dilakukan pembahasan mengenai masalah faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk Sophie Martin pada BC. Ivrina Katili, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain: a. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian yang terdiri

dari faktor keluarga, situasi ekonomi, dan gaya hidup akan tetapi salah satu yang paling berpengaruh adalah gaya hidup , bisa dilihat pada table coefisients dimana setiap terjadi peningkatan variabel gaya hidup sebesar satu satuan maka keputusan konsumen membeli produk Sophie Martin akan meningkat sebesar 0,314 berbeda dengan variabel keluarga dan situasi ekonomi yaitu 0,227 dan 0,229.

b. Didasarkan pada uji FHitung maka Ha diterima secara bersama – sama terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel bebas (keluarga, situasi ekonomi, dan gaya hidup) terhadap keputusan pembelian produk Sophie Martin.

(41)

labih kritikal disbanding dengan Etnik Non Tionghoa, dan untuk mengetahui apakah sikap akan mempengaruhi minat beli konsumen produk bakpao merek larissa.

Metode alat analisis data yang digunakan Uji T-Test, Analisis Regresi Linier Sederhana, dan Uji Asumsi Klasik Model Regresi Sederhana dengan menggunakan Uji Asumsi Klasik Multikolonieritas, Uji Asumsi Klasik Heteroskedastisitas, Uji Asumsi Kalasik Normalitas, Uji Asumsi Klasik Autokorelasi.

Setelah dilakukan pembahasan mengenai masalah Analisis Sikap, Merek, dan Faktor Budaya Terhadap Minat Beli Konsumen pada konsumen bakpao merek larissa di Surakarta, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

a. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari uji T-Test, diketahui bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan sikap terhadap produk bakpao larissa dengan merek larissa dengan produk bakpao larissa dengan merek bukan larissa dimana sikap untuk produk bakpao larissa dengan merek larissa lebih tinggi dibandingkan dengan bakpao larissa dengan merek bukan larissa.

(42)

sedangkan Etnis Non Tionghoa belum mengenal secara luas produk bakpao sehingga memiliki pola pembelian yang tinggi dan cenderung setia kepada satu merek saja.

c. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis regresi linier sederhana, diketahui bahwa pengaruh sikap terhadap minat konsumen pada produk bakpao merek larissa adalah positif. Maka hipotesis ketiga terbukti bahwa sikap berpengaruh terhadap minat konsumen pada produk bakpao merek larissa.

C. Desain Penelitian

(43)

Variabel Independen (X) :

Gambar II.1

Kerangka Konseptual Variabel Merek dan Gaya Hidup

Keterangan :

Pengaruh Parsial Pengaruh Simultan

Bagan tersebut menggambarkan bahwa variabel independen yaitu merek (X1) dan gaya hidup (X2) berpengaruh terhadap variabel dependen

yaitu keputusan pembelian (Y) secara parsial dan simultan.

Pengaruh secara simultan artinya merek dan gaya hidup dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Pengaruh secara parsial artinya semakin merek dikenal oleh konsumen, semakin ingin melakukan pembelian. Adanya pengaruh gaya hidup membuat konsumen melakukan pembelian.

Merek (X1)

Gaya Hidup (X2)

(44)

D. Rumusan Hipotesis

Hipotesis dipandang sebagai jawaban sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya. Dalam penelitian ini penulis mengemukakan alasan mengenai perumusan hipotesis, sebagai berikut:

Mengapa merek dan gaya hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian Tupperware? semakin terkenalnya merek suatu produk pasti akan menimbulkan keputusan untuk membeli produk Tupperware semakin meningkat. Merek yang melekat pada sebuah produk akan membawa pengaruh yang berbeda, hal ini disebabkan oleh adanya atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian dan pemakai. Merek yang memiliki keistimewaan cenderung memiliki daya jual yang tinggi, merek Tupperware memiliki keistimewaan pada tutup yang kedap udara dan kedap cairan.

(45)

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

Ha1 : Merek dan gaya hidup secara simultan berpengaruh terhadap

keputusan pembelian Tupperware.

Ha2 : Merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh terhadap keputusan

(46)
(47)

D. Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel

a. Variabel Independen

Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel yang lain yang sifatnya berdiri sendiri. Dalam penelitian ini yang merupakan variabel independen adalah :

1) Variabel Merek (X1)

2) Variabel Gaya Hidup (X2)

b. Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel penelitian yang diukur dan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dalam penelitian ini adalah :

Keputusan Pembelian (Y). 2. Definisi Variabel

a. Merek

Merek adalah istilah, nama, tanda dan simbul untuk mengidentifikasi barang atau jasa yang dijual seseorang untuk membedakan merek Tupperware dengan merek yang lain. Merek sesuatu hal yang penting bagi konsumen maupun produsen.

Indikator merek menurut soehadi :

(48)

1) Leadership yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pasar, baik harga maupun atribut non-harga.

2) Stability yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

3) Market yaitu kekuatan merk untuk meningkatkan kinerja toko atau distributor.

4) Internationality yaitu kemampuan merk untuk keluar dari area geografisnya atau masuk ke negara maupun daerah lain.

5) Trend yaitu merk menjadi semakin penting dalam industri.

6) Support yaitu besarnya dana yang dikeluarkan untuk mengkomunikasikan merk.

7) Protection yaitu merk tersebut mempunyai legalitas.

b. Gaya hidup

Gaya hidup adalah pola kehidupan seseorang di dunia yang diekspresikan dalam kegiatan, minat, dan opininya serta dalam keputusan membeli sebuah produk tempat minum Tupperware.

Indikator dari gaya hidup : 1) Dapat meningkatkan gengsi.

2) Minat dan keinginan seseorang memiliki produk Tupperware 3) Nilai kebanggaan saat memiliki Tupperware

(49)

c. Keputusan pembelian

Keputusan pembelian adalah sikap atau tindakan yang dilakukan oleh konsumen dalam menentukan pilihan pengambilan keputusan dimana konsumen benar-benar membeli produk tempat minum, tempat makan, dan toples Tupperware.

Indikator keputusan pembelian (Lamb,2001:189) : 1) Kebutuhan terhadap produk

2) Pencarian informasi terhadap produk 3) Evaluasi terhadap produk

4) Keputusan memilih produk

5) Merekomendasikan kepada pihak lain untuk memilih produk.

3. Pengukuran Variabel

(50)

SS : Sangat Setuju

S : Setuju

N : Netral

TS : Tidak Setuju

STS: Sangat Tidak Setuju

Tabel III.1 Skor Pernyatan

Pernyataan Skor

Sangat Setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Netral (N) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

E. Definisi Operasional

(51)

Tabel III.2 Definisi Operasional

Variabel Definisi Indikator Skala

Pengukuran Merek Merek merupakan

istilah, nama, tanda, dan simbol untuk

b. Minat dan keinginan seseorang memiliki produk Tupperware c. Nilai kebanggaan saat memiliki produk kepada pihak lain untuk memilih produk

Tupperware

(52)

F. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan gabungan dari seluruh elemen yang memiliki serangkaian karakteristik serupa, yang mencakup semesta untuk kepentingan masalah riset pemasaran. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah konsumen produk Tupperware yang berada di Pedukuhan Mutihan Wates, Kulon Progo, Yogyakarta.

2. Sampel

Sampel merupakan sub elemen populasi yang terpilih untuk berpartisipasi dalam studi. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi yang diambil. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian konsumen yang telah membeli produk Tupperware yang berada di Pedukuhan Mutihan, Wates. Besarnya sampel yang akan diambil adalah 100 responden. Jumlah ini didasarkan pada rumus infinite (Umar,2003:150)

Untuk menghitung besarnya sampel dapat dapat menggunakan rumus infinite :

=za . p. q d

=(1,96) .(0,5). (0.5) (0,1)

(53)

di mana :

n : jumlah sampel

p : estimator proporsi populasi

q : 1-p = proporsi yang diinginkan mempunyai karekteristik tertentu

Za : nilai uji dengan standar signifikansi 5% (Za/2=1,96)

d : penyimpangan yang ditolerir

p.q : jika p da q tidak diketahui maka dapat diganti dengan 0.25

Maka sampel dalam penelitian ini adalah 96,04 responden atau dapat dibulatkan menjadi 100 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian konsumen produk Tupperware yang pernah membeli produk Tupperware. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 responden.

G. Teknik Pengambilan Sampel

(54)

H. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh peneliti adalah : 1. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari responden. Data yang diterima dari responden sangat diperlukan untuk mengetahui tanggapan responden mengenai keputusan pembelian konsumen hubungannya terhadap merek dan gaya hidup. Sumber data primer adalah konsumen yang menjadi sampel dalam penelitian. Dalam hal ini data diperoleh secara langsung dengan membagi angket kepada konsumen.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain) yang telah dipublikasikan. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari internet, majalah dll yang berhubungan dengan judul skripsi.

I. Teknik Pengumpulan Data

(55)

responden. Pernyataan-pernyataan tersebut dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh jawaban yang objektif.

(http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2200838-pengertian-angket-atau-kuesioner/).

Daftar pernyataan ini berisikan identitas responden dan pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan merek, gaya hidup, dan keputusan pembelian. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. angket adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan daftar pernyataan kepada responden dengan harapan akan memberi respon atas pernyataan tersebut. Data yang dikumpulkan meliputi :

1. Identitas responden.

2. Data mengenai tanggapan responden terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian.

J. Teknik Pengujian Instrumen

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan dalam bentuk angket, sehingga perlu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas.

1. Uji Validitas

(56)

melakukan fungsi ukurannya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

Rumus korelasi product momentadalah sebagai berikut :

rxy = ∑ (∑ )(∑ )

( ∑ ( ) ) ∑ (∑ )

di mana :

rxy = koefisien korelasi antara masing-masing butir pernyataan

x = nilai dari masing-masing item (butir pernyataan) y = nilai total dari butir pernyataan

N = jumlah sampel (responden)

Xy = perkalian antara masing-masing item dengan nilai skor total Untuk menentukan instrumen itu valid atau tidak maka ketentuanya sebagai berikut :

Jika r hitung ≥ r tabel dengan taraf keyakinan 5% , maka instrumen tersebut dikatakan valid.

Jika r hitung < r tabel dengan taraf keyakinan 5%, maka instrumen tersebut dikatakan tidak valid.

2. Uji Reliabilitas

(57)

Rumus cronbach’s Alpha:

α

=

( )

1

di mana :

α

= Cronbach’s Coefficient Alphaatau realibitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan atau pernyataan ∑ = jumlah varians butir

= varians total

Pengujian reliabilitas instrument dilakukan dengan menggunakan teknik cronbach’s Alpha. Angket dikatakan reliabel bila nilai Alpha lebih besar

dari rkritisproduct momentdengan taraf signifikansi 5%.

K. Teknik Analisis Data

1. Analisis Regresi Berganda

(58)

Y = a + b1X1+ b2X2

di mana :

Y = Keputusan pembelian

a = Konstanta

X1 = Merek

X2 = Gaya hidup

b1 = Koefisien merek

b2 = Koefisien gaya hidup

2. Uji Asumsi Klasik

(59)

a. Uji Normalitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan variabel independen mempunyai distribusi data normal atau mendekati normal. Kita dapat melihatnya dari normal probability plot yang membentuk suatu garis lurus diagonal, dan ploting data yang akan dibandingkan dengan garis diagonalnya. Jika data menyebar disekitar garis diagonalnya dan mengikuti arah garis diagonalnya / grafik histogram maka menunjukkan pola distribusi normal. Apabila data jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonalnya / grafik histogram maka menunjukkan pola distribusi tidak normal (Imam Ghozali,2001).

Normalitas akan menguji data variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan. Menguji sampel dengan menguji normalitas :

H0 : X terdistribusi normal

H1 : X tidak terdistribusi normal

Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data variabel bebas dan data variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sekali.

b. Uji Multikolonieritas

(60)

(Ghozali,2006). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji multikolinearitas pada penelitian dilakukan dengan matrik korelasi. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan meperhatikan nilai matrik korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance-nya.

Nilai tolerance adalah besarnya tingkat kesalahan yang

dibenarkan secara statistik (α=10%). Nilai Variance Inflation Factor

(VIF) adalah faktor inflasi penyimpangan baku kuadrat. Nilai tolerance (α) dan Variance Inflation Factor(VIF) dapat dicari dengan menggabungkan kedua nilai tersebut sebagai berikut:

1) Besar nilai tolerance (α)

α = I/VIP

2) Besarnya nilai Variance Inflation Factor(VIF)

VIF = I/ α

Variabel bebas mengalami multikolinieritas jika : α hitung ≤ α dan

VIF hitung > VIF.

c. Uji Heteroskedastisitas

(61)

(Ghozali,2006). Jika varians dari residu atau dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas. Dan jika varians berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,2006). Salah satu cara untuk mendeteksi heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dan nilai residualnya SRESID.

Homokedastisitas terjadi bila pada scatterplot titik-titik hasil pengolahan data antara ZPRED dan SRESID menyebar dibawah manapun di atas titik orogin (angka 0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola tertentu. Heteroskedastisitas terjadi bila pada scatterplot titik-titiknya mempunyai pola yang teratur baik menyempit, melebar maupun bergelombang-gelombang.

3. Uji Hipotesis a. Uji F

(62)

H0:β1=β2=0, artinya merek dan gaya hidup secara bersama-sama

tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Ha:B1;B2 minimal salah satu ≠ nol (0) artinya merek dan gaya

hidup berpengaruh secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian.

2) Menentukan daerah keputusan hipotesis

Untuk menguji ini digunakan tabel F. untuk mencari nilai F tabel perlu diketahui derajat bebas pembilang pada kolom, derajat bebas penyebut pada baris dan taraf nyata.

3) Menentukan nilai F-hitung

Nilai F-hitung ditentukan dengan rumus sebagai berikut:

=

di mana:

F = Nilai F hitung

R2 = Koefisien determinasi

K = Banyaknya variabel yang diteliti n = Banyaknya populasi

(63)

Jika Fhitung>Ftabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya merek

dan gaya hidup secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian.

Jika Fhitung ≤Ftabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya merek

dan gaya hidup secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Ha jika Fh ≥ Ft maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya merek

dan gaya hidup secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

b. Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh 1 variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat (Kuncoro,2007:81). Merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Namun jika thitung < ttotal dengan taraf signifikansi (α) 5% maka ho

diterima. Artinya variabel merek dan gaya hidup secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian, secara signifikan maka dengan uji t (test) dengan rumus sebagai berikut :

(64)

di mana :

b = koefisien regresi

β = rata-rata sampel

sb= standar eror dan koefisien regresi

Dalam uji signifikansi ini, apabila nilai thitung ≥ ttabel dengan taraf signifikansi (α) 5%, maka hoditolak. Artinya variabel merek dan

gaya hidup secara parsial tidak berpengarug terhadap keputusan pembelian.

c. Koefisien Determinasi (R2)

(65)

47

BAB IV

GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

Sejarah Perusahaan

Tahun 1938 Mr. Earl Tupper, seorang ahli kimia dari Amerika Serikat

berusia 31 tahun mendirikan perusahaan Tupper Plastic Company dan pabrik

pertamanya di Farnumsville, Massachussets, USA inilah produk plastik

dengan merek Tupper Plastic mulai dijual tahun 1946 melalui toko dan

katalog. Namun penjualan kurang sukses karena keistimewaan produk

Tupperware yaitu "SEAL" atau tutupnya yang kedap udara dan kedap cairan

ini tidak diketahui konsumen karena tidak ada penjelasan tentang itu.

Keadaan berubah ketika seorang wanita bernama Brownie Wise

memperkenalkan cara penjualan produk Tupperware melalui "PARTY

PLAN/HOME PARTY" atau peragaan dirumah-rumah yang terbukti lebih

sukses dan efektif karena disertai penjelasan mengenai keistimewaan dan

manfaat dari tiap produk. Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, saat

ini Tupperware telah menjadi salah satu perusahaan terkemuka didunia

dibidang wadah plastik untuk penyimpanan maupun penyajian yang

berkualitas tinggi. Dengan kantor pusat di Orlando, Florida (US), saat ini

(66)

Tupperware mulai dikenal masyarakat Indonesia sekitar tahun 1978. Namun, nyatanya belum dapat berkembang luas, karena belum memiliki kantor perwakilan dan distributor resmi Tupperware di Indonesia. Tahun 1990 Kantor Pusat Tupperware dari Orlando, datang ke Jakarta untuk menyeleksi tujuh calon rekanan. Diluar dugaan, dari hasil seleksi terpilih Ibu Nafisah Emir sebagai distributor pertama di Indonesia. Perlahan-lahan masyarakat Indonesia mulai mengenal Tupperware, dan sejak pertengahan tahun 2001 distributor Tupperware telah berkembang menjadi 83 distributor di seluruh Indonesia, dan tercatat sebagai salah satu dari tiga perusahaan direct sellingterbesar di Indonesia.

http://barbiedini.blogspot.com/2010/06/sejarah-tupperware.html

(67)

Gambar IV.1. Distributor Tupperware Sumber : Tupperware Indonesia

Sebagai produk rumah tangga yang berkualitas dan bermanfaat, peminat Tupperware mayoritas wanita, dan melalui jaringan wanita inilah Tupperware berhasil di pasarkan. Dalam memasarkan produknya Tupperware Indonesia berpegang pada tiga filosofinya, yaitu “Sharing and Caring”, “Devine and Grow” dan “Build people and people will build

the buisness”, dengan filosofi inilah Tupperware terus mengembangkan

sayapnya. Dan berdasarkan filosofi “Build people and people will build the buisness” ini juga Tupperware selain berhasil mengembangkan

produknya tapi juga mengembangkan para tenaga penjual atau sales forcesnya yang bergabung dengan Tupperware. Para sales force Tupperware dibekali kesempatan untuk mengembangkan dirinya melalui sejumlah rangkaian pelatihan yang bermanfaat, seperti pelatihan untuk

(68)

mengetahui potensi diri, keterampilan menjual dan memberikan pelayanan, juga pengetahuan mengenai produk. Dan pada akhirnya setelah mampu mengembangkan diri dan bisnisnya para sales forces diberikan penghargaan berupa insentif-insentif yang menarik dari Tupperware.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan perusahaan pada tahun 2004, Tupperware menempati peringkat pertama dengan tingkat “Top of mind awareness” sebesar 48% pada penelitian Plastic Ware Awareness, kemudian diikuti oleh Lion star sebesar 47%, sedangkan pada

penelitian Direct Sales Companies, Tupperware menempati posisi ketiga dengan tingkat awareness sebesar 14%, setelah Avon sebesar 37% pada peringkat pertama dan CNI sebesar 33% pada peringkat kedua.

(69)

Hingga saat ini kantor PT. Imawi Benjaya memiliki sekitar 90 karyawan. Dan telah memiliki 83 Distributor yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, dengan 3000 manajer dan 30000 salesforce yang tergabung di Tupperware, dan tersebar diseluruh Indonesia dan berasal dari latar belakang berbeda–beda.

B. Visi dan Misi Perusahaan Tupperware Indonesia

- Visi dari Tupperware Indonesia adalah ingin menjadi company of choice dan brand of choice

- Misi dari Tupperware Indonesia adalah merubah hidup lebih banyak orang menjadi lebih baik lagi

http://www.tupperware.co.id/Pages/Articlestatic/190110/0019/profil-1998 Excalibur – Country of The Year 2000 Plan Achievement

2001 Turn Around Achievement

2001 Emerging Market Growth

2001 Top in Company Sales Absolute Increase 2001 vs 2000 2001 Top in Company Sales Percentage Increase 2001 vs 2000 2001 Sales Increase in USD 2001 1st place

2001 Sales Increase in USD 2001 1st place 2002 Plan Achievement

2004 TW Aspac MD Meeting-Tokyo October 2004 Rising Star- Recruiting Q3 2004 TW Corporation-Aspac Marketing Award New Categories

2004 Superbrand Award

2005 Plan Achievement

(70)

D. Penjelasan mengenai produk

Tupperware merupakan produk peralatan rumah tangga yang ditujukan bagi keluarga Indonesia, tersedia dalam berbagai bentuk dan fungsi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda. Tupperware mulai diproduksi di Amerika Serikat pada tahun 1946 dan dikenal di Indonesia pada tahun 1978. Tupperware diciptakan untuk mempermudah kegiatan penyimpanan makanan di rumah, baik di dalam maupun di luar lemari es. Dimana Tupperware terbuat dari bahan plastic dynaplastyang kedap cair dan udara, sehingga makanan tetap higienis. Dalam memenuhi kebutuhan para konsumennya, produk Tupperware telah diciptakan dengan berbagai kategori untuk mempermudah pekerjaan para konsumennya. Kategori yang tersedia antara lain:

a. My First Collection

My first collectionmerupakan koleksi terbaru produk-produk Tupperware yang tersedia dalam berbagai ukuran. Dibuat dengan desain untuk seluruh anggota keluarga.

b. Preparation

Preparationmerupakan koleksi piranti untuk memasak di dapur. c. Serving Collection

(71)

d. Storage Collection

Storage collection diciptakan untuk menjaga makanan ringan di rumah, agar lebih tahan lama dengan tutup kedap udara.

e. Kitchen Organizer

Kitchen organizerdidesain dengan bentuk Modular Mates, dengan ukuran yang bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

f. Fridge Collection

Fridge collection membantu penyimpanan makanan dalam lemari es konsumen, terutama untuk sayur dan buah.

g. Freezer Collection

Freezer collection merupakan rangkain produk untuk menyimpan makanan di lemari pembeku (freezer).

h. Healthy Life Style

Healthy life style diciptakan untuk penyimpanan makanan yang dapat di bawa keluar rumah.

i. Teen’s Collection

Teen’s collection didesain untuk para anak remaja, untuk melengkapi kegiatan mereka dalam belajar maupun bepergian.

j. Kid’s Stuff

(72)

k. Premium Collection “Eleganzia”

Premium collection “eleganzia” dibuat dengan konsep produk “premium”, yang ditujukan lebih kepada konsumen wanita.

E. Kondisi Bisnis Perusahaan

Kondisi bisnis perusahaan dapat ditinjau dari kondisi persaingan PT. Imawi Benjaya dalam industri. Kondisi ini dapat digambarkan dengan analisis Porter yang menjelaskan lima elemen kekuatan yang dimiliki perusahaan dalam menghadapi persaingan yang ada. Bila dilihat ke dalam jenis pasarnya PT. Imawi Benjaya termasuk di dalam jenis pasar persaingan monopolistis yang dapat didefinisikan sebagai suatu pasar di mana terdapat banyak produsen menghasilkan barang yang berbeda corak.

Analisis Porter menggambarkan lima kekuatan persaingan dalam industri, yaitu:

a. Pendatang Baru Potensial

(73)

loyalnya konsumen Tupperware dengan tidak beralih kepada pendatang baru.

b. Produk Pengganti

Produk pengganti adalah produk yang dapat digunakan sebagai alternatif lain oleh konsumen untuk menggunakan produk yang berbeda. Saat ini ancaman produk pengganti masih rendah, dengan range harga yang murah (Rp.3000,-/box) dan kemudahan mendapatkan produk pengganti di pasaran, maka streofoam dan tempat plastik cukup sering dipergunakan untuk menggantikan wadah penyimpan makanan dari plastik. Namun berdasarkan kualitas sterofoam dan box plastik masih belum dapat menyaingi kualitas Tupperware.

c. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Kekuatan tawar menawar pembeli merupakan kekuatan dari pembeli atau pelanggan yang berpotensi dan berpengaruh bagi Tupperware. Ancaman kekuatan daya tawar pembeli masih rendah, karena konsumen bukanlah penentu harga produk yang dikeluarkan Tupperware sekalipun banyaknya pesaing serupa dengan beraneka varian harga memberikan konsumen kesempatan untuk memilih dari sekian banyak produk. Namun konsumen bukanlah penentu harga produk yang dikeluarkan Tupperware.

d. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

(74)

diimport langsung dari Tupperware Korea. Dimana pabrik Tupperware di Korea merupakan pusat pabrik untuk seluruh Tupperware di Asia Pasifik. Jadi hingga saat ini Tupperware Korea merupakan pemasok tunggal untuk produk-produk Tupperware.

e. Persaingan di Industri Sejenis

(75)

F. Struktur Organisasi dan Uraian Pekerjaan

Gambar IV.2. Struktur Organisasi PT. Imawi Benjaya (Tupperware Indonesia) Sumber : PT. Imawi Benjaya (Tupperware Indonesia)

Struktur Organisasi Tupperware Indonesia

 General manager :Nining .W. Pernama

 Executive Secretary : Netty Sitorus

 HR & IR Manager :Upik Susongko

 Finance Controller :Meliana Widjaja

 National Sales Director :Ricky Dendeng

 Marketing Director :Melyanti

 External Manufacturing

&Supply Chain Manager :Micha .D. Utama

(76)

 GA&Buying Officer :Wati Lukmansyah

 Finance Manager :Helen Effendi

 Sales Development manager :Sianne Pondaag Tinneke Tombokan Djoni Lo Bernard Hutabarat

 PR&Communication Manager:Yanti .S. Nugroho

 Supply Chain Manager :Effendi Susanto

 Promotion :Yani Surjadi

Berikut ini adalah uraian penjelasan mengenai tugas–tugas dari masing–masing divisi pada PT. Imawi Benjaya (Tupperware Indonesia) : a. General Manager

General manager berperan sebagai pengawas kegiatan yang berlangsung di perusahaan serta menerima laporan dari Direktur/manajer dibawahnya. General manager bertugas untuk melakukan prediksi angka penjualan, persetujuan kerjasama dengan pihak development import dan supplier.

b. Executive Secretary

(77)

c. Marketing Director

Marketing director berperan dalam perencanaan strategi kegiatan– kegiatan pemasaran secara menyeluruh di dalam perusahaan, pengembangan produk (product development), promosi dan menjaga citra perusahaan ke publik. Di mana ia juga akan menerima laporan dari divisi pemasaran di bawahnya antara lain dari PR & Communication manager, Promotion manager, Product and Marchandising manager.

d. National Sales Director

National sales director adalah yang menyusun strategi, mengawasi kegiatan–kegiatan penjualan, meihat prospek penjualan, mengelola seluruh kegiatan national worldwide dan menerima laporan dari Sales Development Manager, Associate SDM, Sales Support Officer, Distributor Administration Support Officer, dan Sales Executive. e. External Manufacturing & Supply Chain Manager

External manufacturing & Supply chain manager adalah yang berperan dalam mengatur kegiatan produksi, mencari sumber daya yang potensial, mengatur jalur pendistribuan yang efisien, dan mengelola hubungan dengan pemasok serta dengan pabrik-pabrik Tupperware di seluruh dunia.

f. Finance Controller

(78)

profit, menerima laporan dari Finance Manager dan IT manager untuk pertanggung jawaban dan budgeting akan datang.

g. HR&IR Manager

HR & IR manager bertugas untuk mengarahkan dan mengkoordinasi para pegawai yang terdapat di dalam perusahaan, bertanggung jawab atas perekrutan dan kinerja SDM dan menjaga serta mengawasi hubungan internal yang terjadi dalam perusahaan.

h. GA & Buying Officer

General officer (GA) bertugas untuk mengatur dan mengurus kebutuhan kantor secara keseluruhan mulai dari kebersihan, konsumsi, transportasi sampai dengan ATK. Dan Buying Officer bertugas di bidang purchasing, dengan spesifikasai pekerjaan antara lain mencari supplier, melakukan negosiasi harga, membuat purchase order dan melakukan inventarisasi.

i. Finance Manager

Finance manager bertugas untuk mengajukan anggaran penerimaan dan pengeluaran dana secara periodik dengan menetapkan rencana kerja bagian keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Diwajibkan menyerahkan laporan berkala pada Finance Controller.

j. Sales Development Manager

(79)

pencapaian target penjualan dan kemudian bertanggung jawab untuk melaporkan hasil penjualan akhir kepada National Sales Manager. k. PR& Communication Manager

PR & communication manager berwenang untuk menjaga hubungan dengan internal perusahaan, menjaga hubungan komunikasi dengan pelanggan, menjaga citra perusahaan, mengkomunikasikan produk. l. Supply Chain Manager

Supply chain managerbertugas untuk mengatur pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan bahan menjadi barang setengah jadi dan bahan jadi, mengatur pengiriman barang kepada pelanggan melalui sitem distribusi.

m. Promotion Manager

Promotion manager bertugas untuk menyusun perancangan kegiatan program promosi, mengatur dan mengelola promosi-promosi yang akan digunakan.

n. Product manager

(80)
(81)

menentukan valid jika memiliki nilai r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel (N=100) sebesar 0,195. Jika nilai r hitung lebih kecil dari r tabel maka butir instrumen yang dimaksud tidak valid atau gugur. Hasil uji validitas masing-masing varibel berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS for Windows 19.0 dapat disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel V.1 Hasil Uji Validitas

Merek

Item pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan

Merek1 0,576 0,195 Valid

Gaya hidup1 0,483 0,195 valid

Gaya hidup2 0,740 0,195 valid

Gaya hidup3 0,768 0,195 valid

Gaya hidup4 0,695 0,195 valid

Gaya hidup5 0,738 0,195 valid

Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian1 0,483 0,195 valid

Keputusan pembelian2 0,740 0,195 valid

Keputusan pembelian3 0,768 0,195 valid

Keputusan pembelian4 0,695 0,195 valid

Keputusan pembelian5 0,738 0,195 valid

Sumber: Data primer, 2013

(82)

atas menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan mempunyai nilai r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel (0,195). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh butir pernyataan dalam variabel merek, gaya hidup, dan keputusan pembelian produk Tupperware yang digunakan dalam penelitian adalah valid, sehingga dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas menggunakan cronbach’s alpha. Uji reliabilitas bertujuan untuk menguji konsistensi indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini. Indikator tersebut dikatakan reliabel diterima jika cronbach’s alphalebih besar atau sama dengan 0,60. Berikut adalah hasil pengujian reliabilitas instrumen:

Tabel V.2 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s Alpha Alpha Keterangan

Merek 0,793 0,600 Reliabel

Gaya hidup 0,862 0,600 Reliabel

Keputusan pembelian 0,898 0,600 Reliabel

N = 100

Sumber: Data primer, 2013

(83)

menunjukkan nilai koefisien Cronbach’s Alpha > 0,600. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap instrumen penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas/kehandalan yang baik.

B. Karakteristik Responden

Penelitian ini menggunakan data primer yang diambil dari hasil pengisian angket yang disebar di masyarakat. Karakteristik responden yang terdapat dalam angket penelitian ini meliputi usia, pekerjaan dan pembelian Tupperware. Hasil deskripsi karakteristik responden dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut:

1. Usia

Responden memiliki usia yang beranekaragam dari rentang usia yang kurang dari 20 tahun sampai di atas 51 tahun. Berikut adalah hasil karakteristik responden berdasarkan usia:

Tabel V.3.

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No Rentang Usia Frekuensi Persentase

1 ≤20 tahun 4 4,0

2 21 – 35 tahun 51 51,0

3 36 – 50 tahun 31 31,0

4 ≥51 tahun 14 14,0

Total 100 100,0

(84)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berusia 21-35 tahun (51,0%) dan yang paling sedikit berusia kurang dari 20 tahun yaitu 4 orang (4,0%).

2. Pekerjaan

Hasil penelitian berdasarkan pekerjaan dapat disajikan sebagai berikut ini: Tabel V.4.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

No Pekerjaan Frekuensi Persentase

1 Ibu rumah tangga 25 25,0

2 Mahasiswa 19 19,0

3 Pegawai 34 34,0

4 Wiraswasta 22 22,0

Total 100 100,0

Sumber: Data primer, 2013

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa sebagian besar responden berprofesi sebagai pegawai yaitu sebanyak 34 orang (34,0%) dan paling sedikit responden berprofesi sebagai mahasiswa yaitu sebanyak 19 orang (19,0%).

3. Pembelian Tupperware

(85)

Tabel V.5

Karakteristik Responden Berdasarkan Pembelian Tupperware No Pembelian Tupperware Frekuensi Persentase

1 1 kali 39 39,0

Tabel 5.5 menunjukkan hasil pembelian Tupperware mayoritas sebanyak 1 kali yaitu sebesar 39 orang (39,0%) dan yang paling sedikit yang 4 dan 5 kali masing-masing 4 orang (4,0%).

C. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif yang dihasilkan dalam analisis menunjukkan nilai rata-rata, standar deviasi dan nilai minimum serta maksimum dari setiap variabel. Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai sifat dari setiap variabel yang ada di dalam penelitian. Analisis didasarkan pada jawaban 100 responden pada angket penelitian. Berikut adalah tabel statistik deskriptif:

Tabel V.6 Statistik Deskriptif

Variabel Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Merek 13,00 30,00 24,1400 3,47290

Gaya hidup 5,00 25,00 16,9000 3,84681

Keputusan pembelian 5,00 25,00 16,2300 3,79754

N = 100

(86)

Berdasarkan statistik deskriptif di atas dapat diketahui nilai minimum paling kecil sebesar 5,00 terdapat pada variabel gaya hidup dan keputusan pembelian sedangkan paling besar terdapat pada variabel merek yaitu 13,00. Nilai maksimum variabel gaya hidup dan keputusan pembelian sama besar yaitu 25,00 dan nilai maksimum paling besar pada variabel merek yaitu sebesar 30,00.

Nilai rata-rata terkecil terdapat pada variabel keputusan pembelian Tupperware yaitu sebesar 16,2300 dengan standar deviasi sebesar 3,79754. Nilai rata-rata terbesar terdapat pada variabel merek yaitu sebanyak 24,1400 dengan standar deviasi 3,47290.

1. Hasil Analisis Deskriptif Frekuensi Merek

(87)

Tabel V.7

Statistik Deskriptif Merek

M1 M2 M3 M4 M5 M6

N Valid 100 100 100 100 100 100

Missing 0 0 0 0 0 0

Mean 4,3400 4,1800 3,6100 4,0600 3,9200 4,0300

Median 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000

Mode 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00

Std. Deviation 0,63913 0,75719 1,00398 0,88557 0,82487 0,79715

Minimum 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 1,00

Maksimum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00

Sum 434,00 418,00 361,00 406,00 392,00 403,00

Sumber: Data primer, 2013

Hasil tabel di atas menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada merek soal nomor 1 yang menyatakan merek Tupperware adalah merek yang mudah diingat bila dibandingkan dengan merek yang lainnya sebesar 4,34 yang artinya setuju apabila dibulatkan nilainya menjadi 4 dengan nilai standar deviasi 0, 63913. Nilai rata-rata terendah pada soal nomor 3 yang menyatakan saya langsung bisa mengenali produk Tupperware dengan hanya melihat dari modelnya saja sebesar 3,61 artinya jawabannya netral.

2. Hasil Analisis Deskriptif Frekuensi Gaya Hidup

(88)

Tabel V.8

Statistik Deskriptif Gaya Hidup

GH1 GH2 GH3 GH4 GH5

N Valid 100 100 100 100 100

Missing 0 0 0 0 0

Mean 2,8200 3,7800 3,3500 3,4400 3,5100

Median 3,0000 4,0000 3,0000 4,0000 4,0000

Mode 3,00 4,00 3,00 4,00 4,00

Std. Deviation 0,94687 0,88283 1,04809 0,94623 0,95869

Minimum 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Maksimum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00

Sum 282,00 378,00 335,00 344,00 351,00

Sumber: Data primer, 2013

Berdasarkan hasil tabel V.8 menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada gaya hidup soal nomor 2 yang menyatakan saya merasa bangga (lebih percaya diri) dengan memiliki produk Tupperware sebesar 3,78 yang artinya setuju apabila dibulatkan nilainya menjadi 4 dengan nilai standar deviasi 0,94687. Nilai rata-rata terendah pada soal nomor 1 pada gaya hidup yang menyatakan menggunakan Tupperware keluaran terbaru merupakan keharusan bagi saya sebesar 2,82 artinya jawabannya netral dengan standar deviasi 0,94687.

3. Hasil Analisis Deskriptif Frekuensi Keputusan Pembelian

(89)

makan atau toples Tupperware. Berikut tabel tentang merek beserta penjelasnnya:

Tabel V.9

Statistik Deskriptif Keputusan Pembelian

KP1 KP2 KP3 KP4 KP5

N Valid 100 100 100 100 100

Missing 0 0 0 0 0

Mean 3,0500 3,0300 3,3800 3,3600 3,4100

Median 3,0000 3,0000 4,0000 3,5000 3,0000

Mode 3,00 3,00 4,00 4,00 4,00

Std. Deviation 0,95743 0,88140 0,92965 0,87062 0,86568

Minimum 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Maximum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00

Sum 305,00 303,00 338,00 336,00 341,00

Sumber: Data primer, 2013

(90)

D. Uji Asumsi Klasik

Pada penelitian ini untuk menguji hipotesis adanya pengaruh merek dan gaya hidup terhadap keputusan pembelian produk Tupperware di Pedukuhan Mutihan, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Penggunaan analisis regresi linier ini karena suatu variabel dapat digunakan untuk memprediksi atau meramal variabel dependen lebih dari satu. Perhitungan statistik dan pengujian hipotesis dengan analisis regresi dalam penelitian ini dilakukan dengan program komputer SPSS 19. for windows. Sebelum dilakukan analisis regresi linier berganda terlebih dahulu

dilakukan uji asumsi klasik. Uji Asumsi Klasik merupakan pengujian asumsi-asumsi statistika yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda. Bagi pembuat model, asumsi merupakan anggapan pengarang dalam bentuk model statistika yang dapat digunakan dalam kondisi-kondisi data tertentu. Sedangkan bagi pengguna model, asumsi merupakan batasan yang berguna untuk mengetahui apakah model statistika yang digunakan layak untuk kondisi data pengamatan. Ketika asumsi tidak terpenuhi, biasanya peneliti menggunakan berbagai solusi agar asumsinya dapat terpenuhi, atau beralih kemetode yang lain advance agar solusinya dapat terselesaikan. Berikut adalah penjelasan dari masing – masing dari uji asumsi:

1. Uji Normalitas

(91)

untuk dianalisa. Pengujian normalitas menggunakan teknik analisis Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas untuk masing-masing variabel

penelitian disajikan berikut ini:

Tabel V.10

Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Z

merek gaya hidup

keputusan pembelian

N 100 100 100

Normal Parametersa,b Mean 24,1400 16,9000 16,2300

Std. Deviation 3,47290 3,84681 3,79754

Most Extreme Differences Absolute ,101 ,083 ,100

Positive ,056 ,080 ,070

Negative -,101 -,083 -,100

Kolmogorov-Smirnov Z 1,014 ,825 1,003

Asymp. Sig. (2-tailed) ,256 ,503 ,266

Sumber: Data primer, 2013

Gambar

table coefisients dimana setiap terjadi peningkatan variabel gaya hidup
Gambar II.1Kerangka Konseptual Variabel Merek dan Gaya Hidup
Tabel III.1
Tabel III.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dewasa ini orang selalu mendasarkan diri pada system yang menjamin kualitas, yaitu system yang terdiri dari kebijaksanaan, prosedur, dan pedoman yang membentuk dan

Sedangkan variabel yang paling mempengaruhi citra merek sabun mandi merek LUX yang tertanam di benak konsumen adalah product image (citra prduk), yang berarti bahwa

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya hasil dalam penelitian ini yang menunjukkan bahwa keputusan pembelian smartphone merek Huawei dipengaruhi variabel bebas yaitu

Data hasil kuesioner yang didapatkan menjadi bahan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah etnosentrisme, citra merek, dan gaya hidup memiliki pengaruh terhadap

a. Lokasi penelitian di Universitas kristen duta wacana Yogjakarta dan di sekitar toko Vans plaza ambarrukmo. Responden yang di butuhkan adalah masyarakat Yogjakarta baik

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh secara parsial baik langsung maupun tidak langsung dari variabel citra merek yang terdiri dari citra perusahaan,

Citra merek tercermin dari kualitas yang baik dari segi daya tahan, penampilan, maupun inovasi dari suatu produk dan hal ini ditunjukan oleh Kawasaki Ninja R 150cc

Maka dengan demikian untuk mengetahui secara parsial dapat diuraikan dari nilai yang didapat pada variabel citra merek yaitu sebesar 1,296 berarti thitung dari 0,05 artinya Citra