TUGAS AKHIR MATA KULIAH PANCASILA Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia

11 

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR MATA KULIAH PANCASILA

Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Nama : Chandra sakuntala

NIM : 11.11.4805

Prodi :S1. TEKNIK INFORMATIKA

Dosen : Bp.Sudibyo

(2)

ABSTRAK

Persatuan Indonesia jika dikaitkan dengan pengertian modern sekarang ini disebut Nasionalisme. Nasionalisme adalah perasaan satu sebagai ssuatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang ada dimasyarakat. Oleh karena rasa satu demikian kuatnya, maka dari padanya timbul rasa cinta bangsa dan tanah air. Akan tetapi perlu di ketahui bahwa rasa cinta bangsa dan tanah air yang kita miliki di Indonesia bukan yang menjurus kepada chauvinism, yaitu rasa yang mengagungkan bangsa sendiri, dan merendahkan bangsa lain.jika hal ini terjadi, maka bertentangan dengan sla kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Walaupun ditulis cinta bangsa dan tanah air, tidak dimaksudkan untuk chauvinism. Dengan demikian jelas bahwa konsekwensi lebih lanjud dari kedua haltadi adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa,yang pada akhir-akhir inijustru menunjukkan gejala disintegrasi bangsa.

Hal ini sejalan dengan pengertian kesatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, hal-hal yang sifatnya tidak sejalan dengan persatuan dan kesatuan, misalnya menonjolnya kekuasaan, penonjolan keturunan, harus dusahakan agar tidak terwujud sebagai suatu prinsip dalam masyarakat Indonesia. Perlu diketahui bahwa ikatan kekeluargaan, kebersamaan di Indonesia sejak dulu hingga sekarang lebih dihargai dari pada kepentingan pribadi. Namun, tentunya semangat ini bagi bangsa Indonesia mengalami dinamikannya sendiri. Kadang kuat tapi kadang menjadi lemah karena beberapa berbagai macam sebab. Pada saat ini rasa nasionalisme bangsa Indonesia ditantang dan dalam kondisi yang agak rapuh karena banyak dari elemen bangsa yang lebih mementingkan kepentingan golongannya sendiri dari pada kepentingan bangsa dan negaranya. Misalnya munculnya gejala-gejala separatisme, primodialisme yang mengancam disintegrasi bangsa Indonesia.

(3)

BAB I

LATAR BELAKANG

Pada umumnya, kita mengenal bahwa bangsa Indonesia yang terdiri lebih dari 500 suku bangsa masing-masing memiliki kearifan lokal yang mengatur eksistensi dalam hubungannya dengan Tuhan YME, hubungan dalam dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam lingkungannya, dalam berbagai ungkapan tradisional berupa petatah, pantun nasihat, cerita rakyat dan sebagainya. Kearifan lokal itu yang selama mencitrakan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah, sopan santun dan bermartabat. Dari keberagaman ini muncul suatu pengertian bahwa ke-Indonesia-an memang di mulai dari adanya keberagaman. Keberagaman itu terjadi disebabkan karena kepulauan Nusantara terdiri atas: 17.200 pulau, lebih dari 300 etnis mayoritas dan minoritas dengan berbagai bahasa yang tersebar dalam pulau-pulau. Namun diakui bahwa keberagaman itu akan berakulturasi secara dinamik, kreatif dari berbagai aspek yang berbeda menuju kepada satu kesatuan yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Salah satu fenomena yang kita rasakan sejak terbukanya era globalisasi yang ditandai dengan masuknya pengaruh nilai-nilai baru dalam semua sendi kehidupan kita serta komitmen bangsa untuk melakukan reformasi di segala bidang telah membawa dampak perubahan masyarakat yang sangat besar. Dampak positif yang kita rasakan antara lain adalah perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni akibat teknologi informasi. Namun dampak negatif yang menyertai juga tidak kalah dahsyatnya berkaitan dengan masalah sosial budaya yang menyangkut hal mendasar dari tabiat dan mentalitas bangsa. Selanjutnya dari berbagai event budaya terlihat bahwa perkawinan budaya dalam era globalisasi saat ini, memperlihatkan kecenderungan akan pengaruh dominan budaya barat (Westernisasi) terhadap kebudayaan yang telah ada di Indonesia.

Masyarakat secara umum yang berinteraksi dengan budaya asing tersebut terus menerus menyerap budaya barat dalam kehidupan kesehariannya sehingga tidak disadari bahwa budaya Indonesia yang sangat tinggi beransur-angsur kehilangan akar budaya dan nilai dasarnya. Kehilangan jati diri atas kebersamaan tersebut menyebabkan terjadinya degradasi kehidupan sosial di mana-mana, munculnya kerusuhan, dekadensi moral, ketidakpercayaan, kehilangan semangat gotong royong dan sebagainya adalah dampak yang harus ditanggung bersama. Seharusnya dengan sikap ke-bhinneka-tunggal-ika-an, rasa kebersamaan yang seharusnya dipupuk dan dibina dalam rangka menuju

(4)

kemandirian dan kesejahteraan bangsa sesuai dengan tujuan bangsa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pondasi dasar kebudayaan Indonesia mempunyai sifat: akulturatif, integratif adaptif, kreatif dan harmonis yang dinamis dalam menerima unsur-unsur budaya asing menyaring dan menyerap akan hal hal yang dapat memperkaya munculnya ke-Indonesia-an. Dasar budaya “Bhinneka Tunggal Ika” merupakan suatu unsur yang sangat

fundamental yang dapat dijadikan bingkai dasar untuk merajut kembali goyahnya jati diri kebudayaan bangsa. Kemudian memahami kembali nilai-nilai kearifan lokal yang tergeser pengaruh dari luar untuk mencari makna ke-Indonesia-an yang sebenar-benarnya dalam arti yang lebih luas sebagai pedoman hidup individu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Rumusan Masalah

1. Apa makna dari persatuan dan kesatuan ?

2. Bagaimana Penerapan Pancasila dalam kehidupan ? 3. Dampak jika makna pancasila tidak dihargai ?

Pendekatan

Dalam tulisan ini mencoba mengkaji pancasila dengan pendekatan sosiologis. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat. Maka dari itu dalam konteks manusia Indonesia yang dihubungkan dengan pokok dasar Negara ini yaitu Pancasila hal ini sangat penting sekali. Pendekatan penelitian sosiologis selalu memusatkan perhatian kepada unsure-unsur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisa kelompok-kelompok khusus, hubungan antar kelompok, individu dengan individu atau proses-proses yang terdapat dalam masyarakat.1 Dalam hal ini focus penulisan adalah penafsiran makna sila terhadap kehidupan sehari-hari , yaitu tentang kesatuan dan persatuan bangsa.

1

(5)

BAB II PEMBAHASAN

a) Persatuan dan Kesatuan Indonesia

Makna yang terkandung dalam kata persatuan hakikatnya adalah satu, yang artinya bulat dan tidak terpecah-pecah. Mungkin persatuan di Indonesia bisa jika dihubungkan dengan pengertian yang lebih baru bisa menjadi Nasionalisme. Menurut Panggabean, Nasionalisme di bagi menjadi 2 macam yaitu, Kulturnation ( fokusnya pada formasi kesadaran dan solidaritas Nasional / sentiment Nasional ) dan Staatnatioon ( sebagai fenomena gerak idiologis yang bertujuan meraih otonom dan identitas politik ).

Nasionalisme sebagai loyalitas ( etnis dan Nasional ), keinginan untuk menegakkan Negara. Ibrahim Alfian menyatakan bahwa bentuk-bentuk organisasi sosial politik seperti kekerabatan marga dan kesukuan merupakan hasil perkembangan alamiah2., sedangkan nasionalisme lebih merupakan hasil perkembangan historis. Nasionalisme merupakan transformasi pemahaman kolektivitas berdasar pengalaman kolektif dalam sejarah.pembentukan ideologi nasionaisme sebagai suatu faham yang mempengaruhi sejarah politik berkembang secara bertahap.

Menurut Stephen van Evera, menyebutkan 2 ciri, yaitu: Loyalitas terhadap kelompok dan komunitasitu menginginkan Negara yang merdeka. Ada dua cirri kecenderungan dalam Nasionalisme, yaitu Polisentris dan Etnosentris. Menurut Benedict Anderson, menekankan Nasionalisme sebagai masyarakat yang imajiner bangsa, adalah komunitas politik yang dibayangkan walaupun warganya tidak saling mengenal, tetapi dalam dirinya ada perasaan sebagai suatu komunitas yang jelas terpisah batasan-batasannya sehingga terpisah dengan bangsa lain.

Makna sila persatuan Indonesia pada intinya adalah:

 Menjaga Persatuan dan Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia

 Rela berkorban demi bangsa dan negara.

 Cintaakan Tanah Air. 2

(6)

 Berbangga sebagai bagian dari Indonesia.

 Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

 Nasionalisme

 .Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan

Hal yang mencerminkan persatuan Indonesia dapat kita lihat pada isi dari sumpah pemuda yamg berbunyi “Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah-darah yang satu : tanah Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu : bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa yang satu : bahasa Indonesia”. Sumpah Pemuda yang dilahirkan sebagai hasil Kongres Pemuda II yang diselenggarakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta adalah perjuangan yang gemilang dari hasrat kuat kalangan muda Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan agama, untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Hal ini sangat jelas sekali tampak rasa nasionalisme yang sangat besar dari para pemuda pada masa itu, yang dengan segala cara bagaimana mempersatukan negara ini supaya menjadi negara yang merdeka berdaulat, adil dan makmur

Dengan rasa satu yang menjadi semakin kuatnya maka dalam diri seseorang tersebut dengan sendirinya akan timbul suatu rasa yang cinta bangsa dan cinta tanah air. Perlu diketahui bahwa cinta bangsa dan tanah air yang kita miliki di Indonesia bukan menjurus pada chauvinisne3. Sikap chauvinime ini akan menimbulkan disintegrasi baik di di dalam negara maupun sudah berada di luar negeri. Apabila sifat ini sudah melekat pada diri seseorang yang sudah salah mengartikan apa itu nasionalisme, maka hal ini akan berdampak dengan disintegrasi tersebut. Hal-hal yang sifatnya tidak sejalan dengan persatuan dan kesatuan, misalnya penonjolan kekuasaan, penonjolan keturunan4, harus diusahankan agar tidak terwujud sebagai suatu prinsip dalam masyarakat Indonesia.

Perlu diketahui ikatan kekeluargaan, kebersamaan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang lebih dihormati daripada kepentingan pribadi. Namun tentunya semangat ini bagi bangsa indoneisa mengalami dinamikanya sendiri, yang kadang kuat kadang melemah. Pada saat ini nasionalisme bangsa Indonesia bisa jadi semakin memudar dikarenakan banyak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan negara.

3

Chauvinime adalah suatu rasa yang mengagungkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain yang dianggapnya rendah dari pada negara atau bangsa yang ditinggali. Hal ini sangat bertentangan dengan pancasila, terutama sila ke dua.

4

(7)

Dengan berbagai situasi yang bisa menyebabkan rasa nasionalisme yang menjadi melemah bahkan memudar, misalnya dengan adanya pengaruh dari globalisasi, akses-akses hubungan antara Indonesia dengan pihak asing semakin bebas, baik dalam hal teknologi, ekonomi dan sebagainnya menjadi semakin terbuka lebar, bahkan bisa dibilang tanpa filter. Hal ini menyebabkan pudarnya semangat nasionalisme terhadap bangsa kita. Di kalangan remaja yang masih labil dengan hal-hal baru menjadikan terjadinya akulturasi, baik kebudayaan, pola pikir dan sebagainya. Mereka cenderung mementingkan dirinya, maksudnya cenderung mencari jati diri mereka, sehingga mereka cenderung mudah terombang-ambing.

Setelah kita berhasil melaksanakan perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan maka tujuan yang hendak dicapai bangsa Indonesia adalah mewujudkan Negara yang merdeka, besatu, berdaulat, adil dan makmur dan damai. Negara Republik Indonesia harus mampu melindungi kepentingan seluruh warga Negara, termasuk menjaga keselamatan bangsa dan tumpah darahnya, sebagaimana ditekadkan Pembukaan UUD 1945 Alenia IV yang berbunyi “… Pemerintah Negara Indonesiat melundungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…”. Yang dimaksud bangsa secara umum adalah kesatuan orang-orang yang mempunyai kesamaan asal keturunan , adapt istiadat, bahasa dan sejarahnya.

Menurut Ernest Renan bangsa Indonesia terbentuk dari orang-orang mempunyai persaan latar belakang sejarah, serta perjuangan yang sama dalam memcapai hasrat untuk bersatu.

b).Nilai Pancasila dalam Kemajemukian Budaya Indonesia

Keberagaman menjamin kehormatan antarmanusia di atas perbedaan, dari seluruh prinsip ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia, baik ilmu ekonomi, politik, hukum, dan sosial. Hak asasi manusia memperoleh tempat terhormat di dunia, hak memperoleh kehidupan, kebebasan dan kebahagiaan yang dirumuskan oleh MPR, dan ketika amandemen UUD `45, pasal 28, ditambah menjadi 10 ayat dengan memasukkan substansi hak pencapaian tujuan di dalam pembukaan UUD `45. Pancasila yang digali dan dirumuskan para pendiri bangsa ini adalah sebuah rasionalitas yang telah teruji. Pancasila adalah rasionalitas kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk, yang multi agama, multi bahasa, multi budaya, dan multi ras yang bernama Indonesia.

Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manuasia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Negara adalah suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk negara yang berupa, suku, ras, kelompok, golongan maupun kelompok

(8)

agama. Oleh karena perbedaan merupakan bawaan kodrat manusia dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk negara. Konsekuensinya negara adalah beranekaragam tetapi satu, mengikatkan diri dalam suatu persatuan yang diliukiskan dalam Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan bukan untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama.

Negara mengatasi segala paham golongan, etnis, suku, ras, indvidu, maupun golongan agama. Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan martabat seluruh warganya. Negara memberikan kebebasan atas individu, golongan, suku, ras, maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam kehidupan bersama yang bersifat integral. Oleh karena itu tujuan negara dirumuskan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah darahnya, memajukan kesejahteraan umum (kesejahteraan seluruh warganya) mencerdaskan kehidupan warganya serta dalam kaitannya dengan pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia untuk mewujudkan suatu ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kebinekaan yang kita miliki harus dijaga sebaik mungkin. Kebhinekaan yang kita inginkan adalah kebhinekaan yang bermartabat, yang berdiri tegak di atas moral dan etika bangsa kita sesuai dengan keragaman budaya kita sendiri. Untuk menjaga kebhinekaan yang bermartabat itulah, maka berbagai hal yang mengancam kebhinekaan mesti ditolak, pada saat yang sama segala sesuatu yang mengancam moral kebhinekaan mesti diberantas. Karena kebhinekaan yang bermatabat di atas moral bangsa yang kuat pastilah menjunjung eksistensi dan martabat manusia berbeda. Maka dari itu, masalah ataupun hal-hal yang berhubungan dengan pelecehan SARA harus di tiadakian demi tercapainya negara Indonesia yang penuh dengan persatuan dan kesatuan.

(9)

BAB III KESIMPULAN

Telah kita ketahui bersama bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki banyak ragam budaya yang berbeda-beda dari setiap suku daerah yang berbeda pula. Perbedaan itu sendiri justru memberikan kontribusi yang cukup besar pada citra bangsa Indonesia. Kebudayaan dari tiap-tiap suku daerah inilah yang menjadi penyokong dari terciptanya budaya nasional Indonesia.

Identitas budaya nasional kita saat ini memang belum jelas selain hanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan Pancasila sebagai filosofi atau pandangan hidup bangsa. Selain itu, perbedaan juga akan menyulut terjadinya sebuah konflik jika para pelakunya tidak dapat mengendalikan emosi mereka masing-masing. Lingkungan dan masyarakat sangatlah menentukan bagaimana sebuah kebudayaan itu tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat itu sendiri.

Manusia sebagai pelaku dan pencipta kebudayaan mengatur perkembangan budaya, dan budaya sebagai fenomena sosial citapaan manusia mendidik manusia itu sendiri untuk mengerti dan memahami tentang keadaan sosial masyarakatnya. itulah yang disebut dengan dialektika atau saling ketergantungan antara manusia dengan kebudayaan.

Ancaman lain yang turut serta datang dan membahayakan kebudayaan bangsa adalah budaya asing yang terbawa dalam arus globalisasi. Kebudayaan dalam konteks Nasional saja masih bisa berbeda, apalagi kebudayaan yang datang dari luar konteks tersebut, jelas sangat berbeda. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia akan mengikuti budaya yang sedang marak dan mulai melupakan budaya nenek moyang mereka, walaupun pada hakikatnya manusia tidak dapat bebas dari budayanya sendiri.

Jika kita melihat bangsa Indonesia pada masa lalu, maka yang ada di benak kita adalah sebuah pertanyaan ’mengapa bagsa Indonesia dapat menunjukkan kesatuaannya saat itu dan sekarang tidak?’. Hal itu terjadi karena seluruh komponen masyarakat mengalami nasib yang, yaitu dalam masa penjajahan. Sekarang, rasa persatuan tersebut hanya dapat kita lihat dalam beberapa kejadian saja di mana seluruh komponen masyarakat Indonesia kembali merasa senasib, sepenanggungan, dan seperjuangan. Dalam permainan sepak bola misalnya.

Baik masyarakat Jawa, Batak, Minang, Sunda, dan masyarakat budaya Indonesia lainnya akan mendukung tim sepak bola Indonesia dengan rasa kesatuannya, yaitu

(10)

Indonesia, bukan Bugis, Madura atau suku-suku lainnya. Maka dari itu mari kita jaga negara yang sudah dibangun para pendahulu kita dengan segenap perjuangan baik material maupun fisik, supaya menjadi negara yang bersatu berdaulat adil dan makmur.

(11)

Referensi

- Jamal, D. 1984. Pokok- Pokok Bahasa Pancasila.Bandung : Remaja Karya CV Bandung.

- Kaelan, 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma Yogyakarta - Koentjaraningrat, 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta - Margono, dkk. 2002. Pendidikan Pancasila Topik Aktual Kenegaraan dan Kebangsaan. Malang : UM

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :