Noverita Sv. Staf Pengajar US-XII, Medan

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

Sebagaima diketahui lahan pertanian sema-kin lama semakin sempit. Faktor pertambahan penduduk yang pesat disertai dengan kemajuan teknologi dan industri pada akhirnya akan menggeser fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan industri. Kekurangan lahan menjadi masalah tersendiri. Lahan yang luas semakin sulit didapat. Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan lahan adalah dengan jalan bercocok tanam secara vertikal atau dikenal dengan metoda “vertikultur”.

Sistem tanam vertikultur sangat cocok diterapkan, khususnya bagi para petani atau pengusaha yang memiliki lahan sempit. Vertikultur dapat pula diterapkan pada bangunan-bangunan bertingkat, perumahan umum, atau bahkan pada pemukiman di daerah padat yang tidak punya halaman sama sekali. Dengan metode vertikultur ini, kita dapat memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Usaha tani secara komersial

dapat dilakukan secara vertikultur, apalagi kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan sendiri akan sayuran atau buah-buahan semusim. Jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan secara vertikultur adalah jenis tanaman semusim yang tingginya tidak melebihi satu meter seperti cabai, tomat, terong, kubis, sawi, selederi, daun bawang (Widarto, 1997).

Di antara bermacam-macam jenis sayur, kaylan termasuk komoditas yang memiliki nilai komersial dan prospek yang baik. Kaylan layak diusahakan karena menyangkut kebutuhan orang banyak akan sayur (Rukmana, 1994). Menurut Setyawan (1984), sayuran mempunyai prospek cerah sebab permintaan sayuran cukup tinggi, sehingga tidak mengherankan jika selalu tersedia di pasar.

Dalam 100 g tanaman kaylan terkandung 85% air; 5 g protein; 0.7 g lemak; 5 g karbohidrat; 250 mg kalsium; 4 mg besi; 300 IU vitamin V; 0.1 mg thiamin; 1.5 mg serat; 0.3 mg riboflavin; 1,5 mg

1

PENGARUH KONSENTRASI PUPUK PELENGKAP CAIR

NIPKA-PLUS

DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN

PRODUKSI TANAMAN BABY KAYLAN (Brassica oleraceae L.

Var. Acephala DC.) SECARA VERTIKULTUR

Noverita Sv

Staf Pengajar US-XII, Medan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam, serta interaksi antara kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kaylan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor konsentrasi pupuk cair Nipka Plus dengan interval tiap pemberian 4 hari yaitu: K0 = 0 cc/l air, K1 = 0,5 cc/l air, K2 = 1,0 cc/l air, K3 = 1,5 cc/l air

dan K4 = 2,0 cc/l air. Faktor jarak tanam antar pot dalam satu tiang adalah: J1 = 20 cm, J2 = 25 cm

dan J3 = 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi pupuk cair

Nipka-Plus 2 cc/l air menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak, diameter batang yang lebih besar dan bobot kotor dan bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot yang lebih berat. Perlakuan jarak tanam antar pot dalam satu tiang 30 cm (J3) menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak, diameter

batang yang lebih besar dan bobot kotor dan bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot yang lebih berat. Secara umum interaksi konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dan

(2)

nikotinamida dan 100 mg asam askorbat (Rukmana, 19940).

Pada budidaya tanaman sayuran, masalah yang sering dihadapi adalah rendahnya kesubu-ran tanah. Untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan dapat dilakukan melalui akar dan daun tanaman. Dalam pertanian modern, peng-gunaan pupuk adalah mutlak untuk memacu tingkat produksi tanaman yang diharapkan.

Pemberian pupuk pelengkap cair bertujuan untuk melengkapi penggunaan pupuk makro dan menambah unsur lain karena kandungan utamanya adalah unsur hara sekunder dan mikro, sehingga mendukung produktivitas tanaman yang maksimal. Pada umumnya, pupuk pelengkap cair ini digunakan dengan cara disemprotkan sehingga membutuhkan keakuratan dari konsentrasi, cara dan waktu penggunaannya (Marsono dan Sigit, 2000).

Dalam pertanaman vertikultur sangat pen-ting diperhatikan jarak tanam antar pot dalam satu tiang. Jarak antar pot akan mempengaruhi intersepsi cahaya matahari ke daun tanaman. Berkurangnya sinar matahari pada daun tana-man dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan pengaturan jarak antar pot sehingga daun tanaman yang tumbuh tidak saling tumpang tindih.

Atas dasar uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian tentang pengaruh konsen-trasi pupuk cair Nipka-Plus dan jarak tanam terahdap pertumbuhan dan produksi tanaman kaylan secara vertikultur.

Hipotesis yang diajukan adalah ada pengaruh konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kaylan, ada pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kaylan, serta ada pengaruh interaksi

Plus dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kaylan.

Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua factor. Faktor konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan interval tiap pemberian 4 hari yaitu: K0=0 cc/l air, K1=0,5 cc/l air, K2=1,0

cc/l air, K3=1,5 cc/l air dan K4=2,0 cc/l air.

Faktor jarak tanam antar pot dalam satu tiang adalah: J1=20 cm, J2=25 cm dan

J3=30 cm.

Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati, maka dilakukan penguji-an statistik dengan menyusun Daftar Sidik Ragam (DSR). Terhadap perlakuan yang berpengaruh nyata, dilakukan pengujian beda rataan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Hasil dan Pembahasan

Pertambahan Tinggi Tanaman

Hasil uji BNJ pertambahan tinggi tanaman kaylan pada umur 9, 13, 17 dan 21 HSPT akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 menunjukkan bahwa, pada umur 21 HSPT, pertambahan tinggi tanaman terdapat pada perlakuan K4 berbeda sangat nyata dengan K0, K1, K2

dan K3.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan tinggi tanaman kaylan disajikan pada Gambar 1.

(3)

Kaylan pada Umur 21 Hari Setelah Pindah Tanam

Tabel 1 juga menunjukkan bahwa umumnya pengamatan tinggi tanaman, tanaman tertinggi terdapat pada

perlakuan J3 berbeda sangat nyata

dengan J1 dan J2. Demikian juga halnya

dengan perlakuan J2 berbeda sangat

nyata dengan perlakuan J1.

Hubungan antara jarak tanam dengan ting-gi tanaman kaylan disajikan pada Gambar 2.

Tabel 1. Rataan Pertambahan Tinggi Tanaman Kaylan Umur 9. 13. 17 dan 21 Hari Setelah Pindah Tanam Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam

Perlakuan Pertambahan tinggi tanaman pada umur (cm) 9 HSPT 13 HSPT 17 HSPT 21 HSPT K0 3.03 aA 1.03 aA 1.25 aAB 1.07 aA K1 3.16 abAB 1.20 bB 1.37 bBC 1.22 aA K2 3.04 abAB 1.27 cC 1.23 aA 3.41 bB K3 3.07 abAB 1.30 dC 1.45 bcC 3.57 bB K4 3.22 bB 1.34 eD 1.49 cC 4.39 cC BNJ0.05 0.15 0.02 0.1 0.61 BNJ0.01 0.18 0.03 0.13 0.75 J1 3.08 1.09 aA 1.24 aA 2.79 J2 3.11 1.24 bB 1.39 bB 2.65 J3 3.12 1.35 cC 1.44 bB 2.76 BNJ0.05 - 0.01 0.07 -BNJ0.01 - 0.02 0.09 -K0J1 3.05 aAB 0.79 aA 1.05 aA 0.86 K0J2 3.04 aAB 1.11 bB 1.30 bcdBCD 1.11 K0J3 3.00 aA 1.19 cC 1.40 cdeCD 1.25 K1J1 3.13 abAB 1.11 bB 1.33 bcdBCD 1.07 K1J2 3.24 abAB 1.20 cC 1.26 abcABC 1.1 K1J3 3.12 abAB 1.30 dD 1.51 defCD 1.5 K2J1 3.11 abAB 1.11 bB 1.15 abABC 3.71 K2J2 3.01 aA 1.30 dD 1.45 cdefCD 3.2 K2J3 2.99 aA 1.39 eE 1.08 abAB 3.33 K3J1 3.03 aAB 1.21 cC 1.33 bcdBCD 3.71 K3J2 3.11 abAB 1.29 dD 1.45 cdefCD 3.65 K3J3 3.07 aAB 1.40 eE 1.57 efD 3.35 K1J4 3.07 aAB 1.21 cC 1.33 bcdBCD 4.6 K1J5 3.18 abAB 1.31 dD 1.50 defCD 4.2 K1J6 3.43 aB 1.49 fF 1.63 fD 4.37 BNJ0.05 0.34 0.05 0.22 -BNJ0.01 0.40 0.06 0.26

-Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan 1%.

(4)

Gambar 2. Hubungan Jarak Tanah dengan Tinggi Tanaman Kaylan pada Umur 17 Hari Setelah Pindah Tanam

Jumlah Daun

Hasil uji BNJ jumlah daun tanaman kaylan pada umur 9, 13, 17 dan 21 HSPT akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada umur 13 HSPT, jumlah daun terbanyak

terdapat pada perlakuan K4 berbeda

nyata dengan K0. Pada umur 17 dan 21

HSPT, jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan K4 berbeda sangat nyata

dengan K0, berbeda nyata dengan K1

dan K2, tetapi berbeda tidak nyata

dengan K .

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan jumlah daun tanaman kaylan disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus terhadap Jumlah Daun Tanaman Kaylan pada Umur 21 Hari Setelah Pindah Tanam

Gambar 3 menunjukkan bahwa, semakin tinggi konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus yang diberikan jumlah daun tanaman kaylan semakin banyak.

Tabel 2 juga menunjukkan bahwa pada umur 21 HSPT, jumlah daun

terbanyak terdapat pada perlakuan J3

berbeda sangat nyata de-ngan J1, tetapi

tidak berbeda nyata dengan J2.

Hubungan antara jarak tanaman dengan jumlah daun tanaman kaylan

Tabel 2. Rataan Jumlah Daun Tanaman Kaylan Umur 9, 13, 17 dan 21 Hari setelah Pindah Tanam Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam.

Perlakuan Pertambahan tinggi tanaman pada umur (cm) 9 HSPT 13 HSPT 17 HSPT 21 HSPT K0 3.20 3.33 a 3,60 aA 4,42 aA K1 3.31 3.42 ab 3.67 aAB 4,49 aAB K2 3.22 3.44 an 3,67 aAB 4,49 aAB K3 3.27 3.47 ab 3,73 abAB 4,71 abAB K4 3.27 3.51 b 3.93 bB 4.91 bB BNJ0,05 - 0.14 0.23 0,35 BNJ0,01 - 0.17 0.28 0.42 J1 3.23 3.41 ab 3.63 aA 4.32 aA J2 3.29 3.40 a 3.67 aA 4.61 bAB J3 3.24 3.49 b 3.87 bB 4.88 cB BNJ0,05 - 0.09 0.15 0.23 BNJ0,01 - 0.12 0.19 0.29

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan

(5)

Gambar 4. Hubungan Jarak Tanam dengan Jumlah Daun Tanaman Kaylan pada Umur 21 Hari Setelah Tanam

Pertambahan Diameter Batang

Hasil uji BNJ pertambahan diameter batang tanaman kaylan pada umur 9, 13, 17 dan 21 HSPT akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa, pada umur 21 HSPT, pertambahan diameter

batang terbe-sar terdapat pada perlakuan K4, berbeda sa-ngat nyata dengan perlakuan K0, K1, K2 dan K3.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan pertambahan diameter batang tanaman kaylan disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus Terhadap Pertambahan Diameter Batang Tanaman Kaylan pada umur 21 Hari Setelah Pindah Tanam.

Tabel 3 juga menunjukkan bahwa semua umur pengamatan, diameter batang tanaman terbesar terdapat pada

perlakuan J3 berbeda sangat nyata

dengan J1 dan J2.

Hubungan antara jarak tanam dengan diameter batang tanaman kaylan disajikan pada Gambar 6.

Tabel 3. Rataan Pertambahan Diameter Batang Tanaman Kaylan Umur 9. 13. 17 dan 21 Hari setelah Pindah Tanam Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam.

Perlakuan Pertambahan tinggi tanaman pada umur (cm) 9 HSPT 13 HSPT 17 HSPT 21 HSPT K0 0.11 1.56 aA 3.60 aA 4.42 aA K1 0.11 1.56 aA 3.67 aAB 4.49 aAB K2 0.11 1.66 ab 3.67 aAB 4.49 aAB K3 0.11 1.77 cC 3.73 abAB 4.71 abAB K4 0.11 1.73 bB 3.93 bB 4.91 bB BNJ0.05 - 0.08 0.23 0.35 BNJ0.01 - 0.09 0.28 0.42 J1 0.11 ab 1.49 aA 0.57 aA 4.16 aA J2 0.10 a 1.70 bB 0.71 bB 4.69 bB J3 0.12 b 1.78 cC 0.76 bB 4.83 bB BNJ0.05 0.01 0.05 0.06 0.22 BNJ0.01 0.02 0.06 0.08 0.88

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan

(6)

Gambar 6. Hubungan Jarak Tanam dengan Diamter Batang Tanaman Kaylan pada Umur 21 Hari Setelah Tanam

Bobot Kotor Tanaman

Hasil uji BNJ bobot kotor tanaman kaylan pada umur 21 HSPT akibat

perlakuan konsen-trasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 menunjukkan bahwa, bobot kotor tanaman kaylan terberat terdapat

pada perlaku-an K4 berbeda sangat

nyata dengan K0, K1 dan K2, akan tetapi

berbeda tidak nyata dengan K3.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan bobot kotor tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus terhadap Bobot Kotor Tanaman Kaylan

Gambar 7 menunjukkan bahwa, semakin tinggi pemberian pupuk cair Nipka-Plus bobot kotor tanaman semakin meningkat.

Tabel 4 juga menunjukkan bahwa, bobot kotor tanaman terberat terdapat

pada perlakuan J3 berbeda sangat nyata

dengan J1, tetapi berbeda tidak nyata

dengan perlakuan J0.

Hubungan jarak tanam dengan konsentrasi bobot kotor tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Hubungan jarak Tanam dengan Bobot Kotor Tanaman Kaylan

Tabel 4. Rataan Bobot Kotor Kaylan Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam

Perlakuan Bobot Kotor Tanaman (g) Rataan

J1 J2 J3 K0 8.46 8.81 9.47 8.91 aA K1 8.77 9.47 9.69 9.31 bAB K2 8.79 9.88 9.91 9.53 bcB K3 9.38 9.91 10.05 9.78 cdBC K4 9.56 10.35 10.50 10.14 dC Rataan 8.99 aA 9.69 bB 9.92 bB BNJ0.05 (K) = 0.39 BNJ0.05 (J) = 0.26 BNJ0.01(K) = 0.49 BNJ0.01(J) = 0.33

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan 1%.

(7)

Bobot Bersih Tanaman

Hasil uji BNJ bobot bersih tanaman kaylan akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 5.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan bobot bersih tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus terhadap Bobot Bersih Tanaman Kaylan

Hubungan jarak tanam dengan konsentrasi bobot bersih tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 10.

Jarak Tanam (J)

Gambar 10. Hubungan Jarak Tanam dengan Bobot Bersih Tanaman Kaylan

Bobot Kotor per Polot

Hasil uji BNJ bobot kotor per plot tanaman kaylan akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 6.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan bobot kotor per plot dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus Terhadap Bobot Kotor per Plot Tanaman Kaylan

Tabel 5. Rataan Bobot Bersih Kaylan Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus

dan Jarak Tanam

Perlakuan Bobot Kotor Tanaman (g) Rataan

J1 J2 J3 K0 6.78 7.03 7.34 7.05 aA K1 6.91 7.79 8.15 7.62 bB K2 7.33 8.43 8.51 8.09 cC K3 7.75 8.51 8.60 8.29 cC K4 8.08 8.95 9.10 8.71 dD Rataan 7.37 aA 8.14 bB 8.34 bB BNJ0.05 (K) = 0.32 BNJ0.05 (J) = 0.21 BNJ0.01(K) = 0.39 BNJ0.01(J) = 0.27

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan

(8)

Hubungan jarak tanam dengan konsentrasi bobot kotor per plot tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Hubungan Jarak Tanam dengan Bobot Kotor per Plot Tanaman Kaylan Bobot Bersih per Plot

Hasil uji BNJ bobot bersih per plot tanaman kaylan akibat perlakuan konsentrasi pupuk pelengkap cair Nipka-Plus dan jarak tanam disajikan pada Tabel 7.

Hubungan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan bobot bersih per plot dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Hubungan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus Terhadap Bobot Bersih per Plot Tanaman Kaylan

Hubungan jarak tanam dengan konsentrasi bobot bersih per plot tanaman kaylan dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Hubungaj Jarak Tanam dengan Tabel 6. Rataan Bobot Kotor per Plot Akibat

Perlakuan Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam

Perlakuan Bobot Kotor Tanaman (g) Rataan

J1 J2 J3 K0 114.15 132.10 140.73 128.99 aA K1 131.50 142.10 145.40 139.67 bB K2 131.90 148.20 148.60 142.90 bB K3 140.70 148.70 150.70 146.70 bcBC K4 143.40 155.30 157.50 152.07 cC Rataan 132.33 aA 145.28 bB 148.59 bB BNJ0.05 (K) = 7.16 BNJ0.05 (J) = 4.69 BNJ0.01(K) = 8.83 BNJ0.01(J) = 6.02

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan 1%.

Tabel 7. Rataan Bobot Bersih per Plot Akibat Perlakuan Konsentrasi Pupuk

Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam Perlakuan Bobot Kotor Tanaman (g) Rataan

J1 J2 J3 K0 78.77 84.24 88.08 83.70 aA K1 82.96 93.44 97.76 91.39 bB K2 87.92 101.20 102.08 97.07 cC K3 92.96 102.16 103.20 99.44 cC K4 96.96 107.44 109.20 104.53 dC Rataan 87.91 aA 97.70 bB 100.06 bB 104.53 dC BNJ0.05 (K) = 7.16 BNJ0.05 (J) = 4.69 BNJ0.01(K) = 8.83 BNJ0.01(J) = 6.02

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda berdasarkan uji BNJ pada taraf 5% dan 1%..

(9)

Pembahasan Umum

a. Pengaruh Pupuk Nipka-Plus

Dari hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk cair Nipka-Plus berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot kotor dan bobot bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot. Hal ini disebabkan pemberian pupuk melalui daun lebih cepat penyerapannya dibandingkan engan pemberian melalui akar, akan tetapi resiko kehilangan pemberian pupuk juga lebih besar jika kondisi cuaca tidak mendukung, seperti kondisi hujan dan panas terik matahari.

Pertumbuhan tanaman kaylan dapat dilihat bahwa tanaman yang diberi pupuk cair Nipka-Plus lebih baik dibanding tanpa pemberian pupuk cair Nipka-Plus. Hal ini disebabkan pupuk cair Nipka-Plus mengandung unsur hara lengkap makro dan mikro yang sangat esensial bagi pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tana-man yang baik sangat menentukan tinggi rendahnya produksi kaylan.

Dengan tersedianya unsur hara makro dan mikro akibat pemberian pupuk Nipka-Plus selama pertumbuhan tanaman, dapat memacu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Peraka-ran tanaman yang baik maka pertumbuhan tanaman semakin baik akan semakin mening-katkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang dan produksi tanaman. Di samping itu pemupukan melalui daun dengan bahan-bahan gizi yang terkandung dalam Nipka Plus akan mendorong metabolis-me dalam tanaman dan dengan demikian merangsang diserapnya bahan-bahan gizi oleh akar. Dengan penyerapan unsur hara yang semakin baik akan mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman.

b. Pengaruh Jarak Tanam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot kotor dan bobot bersih per tanaman, serta

bobot kotor dan bersih per plot. Jarak tanam akan mempengaruhi pertum-buhan kanopi tanaman, sehingga akan mempe-ngaruhi besarnya cahaya matahari yang diteri-ma oleh tanaman.

Pada perlakuan J1 yaitu jarak tanam

antar plot dalam satu tiang 20 cm diperoleh pertumbuhan tanaman dan produksi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan pada jarak tanam ini, daun-daun dari setiap tanaman saling tumpang tindih, sehingga menutup ruang antar setiap tanaman. Daun tanaman yang saling tumpang tindih akan mengakibatkan tanaman tidak menerima cahaya matahari secara maksimal. Keadaan ini mengakibatkan fotosin-tesis berlangsung kurang optimal, karena fotosintesis sangat memerlukan cahaya dan proses tersebut hanya berlangsung di siang hari. Dengan fotosintesis yang kurang optimal, maka pertumbuhan tanaman juga akan terhambat, karena pertumbuhan tanaman berlangsung didasarkan pada jumlah fotosintat yang dihasil-kan oleh tanaman.

Menurut Sastrahidajat dan Soemarno (1991), tanaman yang hidup menggunakan karbohidrat untuk respirasinya. Pertumbuhan tanaman tergantung pada imbangan fotosintesis yang membangun karbohidrat dan bahan tanaman dan respirasi yang menguraikan karbohidrat. Kalau fotosintesis melebihi respira-si, seperti yang lazim terjadi pada tanaman yang sedang tumbuh, akan terjadi pertumbuhan. Akan tetapi pada kondisi yang kurang cahaya,

respirasi mungkin sama dengan

fotosintesis dan pertumbuhan akan terhambat.

c. Pengaruh Interaksi Konsentrasi Pupuk Cair Nipka-Plus dan Jarak Tanam

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi pupuk air Nipka-Plus dan jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati.

(10)

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

a. Perlakuan konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus 2 cc/l air menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak, diameter daun yang lebih besar dan bobot kotor dan bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot yang lebih berat.

b. Perlakuan jarak tanam antar pot dalam satu tiang 30 cm (J3) menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak, diameter batang yang lebih besar dan bobot kotor dan bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot yang lebih berat.

c. Interaksi konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman dan pertambahan diameter batang pada umur 17 HSPT, tetapi berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun, bobot kotor dan bobot bersih per tanaman, serta bobot kotor dan bobot bersih per plot tanaman kaylan.

Saran

a. Untuk memperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman baby kaylan disarankan menggunakan pemberian konsentrasi pupuk cair Nipka-Plus dengan konsentrasi 2 cc/l air dengan jarak tanam antar pot dalam satu tiang 30 cm dalam pertanaman vertikultur. b. Perlu dilakukan penelitian lanjutan

dengan penggunaan konsentrasi Nipka-Plus yang lebih tinggi, sehingga diperoleh konsentrasi optimum terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman baby kaylan.

Daftar Pustaka

Anonimus, 2003. Agribisnis Tulang Punggung Perekonomian Nasional. Jakarta.

Marsono dan Paulus Sigit. 2000. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta. 96 hal.

Pracaya. 1992. Bertanam Sayur dalam Pot. Penebar Swadaya. 57 hal.

Rukmana, R. 1994. Bertanam Kubis. Kanisius. Yogyakarta. 92 hal.

Sastrahidayat, H. I. R. dan Soemarno, D. S. 1991. Budidaya Tanaman Tropika. Usaha Nasional, Surabaya. 524 hal. Setyawan, A. I. 1984. Bercocok Tanam

Sayuran Dataran Tinggi: Budidaya dan Pengaturan Panen. Penebar Swadaya. Jakarta. 187 hal.

Sutejo, dan A.G. Kartasaputra, 1987. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta. 196 hal. Temmy, D., Yunia, A., Farida, F., Joesi. E. H.

2003. Vertikultur. Teknik Bertanam di Lahan Sempit. PT. Agromedia Pustaka, Depok. Jakarta.

Thomson and Kelly. 1979. Vegetable Crops. Tata Mc Graw Hill Publ. Co. Ltd, New Delhi. 303 hal.

Widarto, L. 1997. Vertikultur Bercocok Tanam Secara Bertingkat. Penebar Swadaya, Jakarta. 130 hal.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :