• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pendanaan awal, baik melalui pinjaman bank ataupun melalui modal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pendanaan awal, baik melalui pinjaman bank ataupun melalui modal"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan rintisan (start-up) seringkali memiliki kesulitan untuk mendapatkan pendanaan awal, baik melalui pinjaman bank ataupun melalui modal dari investor (Belleflamme, Lambert dan Schwienbacher 2014, 586). Tingginya bunga pinjaman di bank atau belum adanya jaminan yang memadai menjadi faktor-faktor penyebab bagi kesulitan pengusaha untuk mencari dana melalui kredit perbankan. Selain itu, menggantungkan diri pada beberapa investor yang spesifik bukanlah keputusan yang mudah. Campur tangan pemodal dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pengusaha untuk mencari dana dari sekelompok kecil investor.

Sejak terjadinya krisis keuangan global tahun 2008, mencari modal awal untuk perusahaan baru semakin sulit apalagi bagi sektor bisnis yang tidak berhubungan dengan teknologi. Menurut Yeoh (2014), hal ini disebabkan oleh bank melihat sektor yang tidak berbasis teknologi memiliki risiko kegagalan lebih besar, sedangkan investor dan pemilik modal tidak tertarik pada bisnis dengan prospek yang rendah (352). Kesulitan ini tidak hanya dirasakan pada modal awal, tetapi juga pada pencarian dana untuk bertahan di sektor bisnis masing-masing.

Pengusaha yang kreatif lalu menyasar sebuah sistem pendanaan yang baru, yaitu sistem urun dana (crowdfunding). Secara sederhana, urun dana artinya adalah upaya kolektif yang dilakukan masyarakat melalui internet untuk berinvestasi pada inisiatif orang lain (Ordanini, et al. 2011, 443). Sistem urun dana membantu

(2)

10 menciptakan kendaraan sosial bagi pengusaha-pengusaha baru (Bouaiss, Maque dan Meric 2015, 24). Dengan potongan biaya yang sedikit, bunga yang hampir tidak ada, serta pengambilan keputusan penuh di tangan para pengusaha baru, sistem urun dana tentu memiliki daya tarik yang besar. Sistem ini menawarkan cara baru untuk menutup celah kekurangan (early-stage gap) dalam permodalan perusahaan baru (Moritz, Block dan Lutz 2015, 310).

Sistem urun dana memudahkan pencari dana untuk mendapat investor secara terbuka dari internet (Belleflamme, Lambert dan Schwienbacher 2014, 588). Nilai yang ditawarkan oleh sistem urun dana ini adalah kesempatan yang sama bagi setiap bisnis untuk didanai sehingga pengusaha baru dapat secara seimbang berkompetisi dengan pengusaha profesional lainnya (Xu, Ribeiro-Soriano dan Gonzalez-Garcia 2015, 1159). Selain bagi pencari dana, sistem ini juga disukai oleh pemilik dana karena mereka dapat berinvestasi dalam jumlah yang kecil dan mendapatkan laporan secara transparan melalui internet. Hal ini mengurangi kemungkinan adanya asimetri informasi (Moritz, Block dan Lutz 2015, 320). Mekanisme dari penyedia jasa urun dana (crowdfunding platform) ini berbeda dengan pasar modal yang mengharuskan para pemilik dana untuk terikat membeli saham dalam ketentuan lot tertentu. Siapapun bisa menjadi investor dalam sistem urun dana ini.

Keberadaan peron (platform) yang dapat dipercaya menjadi faktor penentu keberhasilan pendanaan. Penyedia jasa urun dana ini menghubungkan pencari dana dan pemilik dana yang potensial. Di negara-negara Barat, beberapa peron, seperti IndieGoGo, Kickstarter, Sandawe, SellaBand, dsb, pada akhirnya membentuk pasar

(3)

11 pinjam-meminjam online tersendiri yang berhasil menghimpun dana besar bagi para klien mereka. Peron-peron yang berbasis pada teknologi internet tersebut berperan menjadi perantara keuangan (financial intermediaries) baru (Ordanini, et al. 2011, 460).

Di masa-masa sebelumnya financial intermediaries utama bagi masyarakat adalah bank komersial. Perannya bagi ekonomi disebabkan karena bank menjadi institusi pendanaan paling besar dan/atau satu-satunya (Saunders dan Cornett 2014, 9). Dengan sistem pinjaman dari bank, pencari dana diharuskan membayar bunga dan memiliki jaminan yang memadai. Bagi pengusaha baru, persyaratan ini seringkali memberatkan. Tidak hanya itu, sektor usaha juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi bank untuk mendanai suatu perusahaan baru. Sebagai contoh, portofolio pinjaman perbankan di Amerika Serikat didominasi oleh usaha di bidang perumahan dan real estate. Data tahun 2012 menunjukkan bahwa pinjaman perumahan mencapai 74,09% bagi bank kecil dan 49,09% bagi bank besar (Saunders dan Cornett 2014, 28). Dengan portofolio ini, sektor usaha lainnya memiliki kesempatan lebih kecil untuk mendapat dana dari bank. Maka dari itu, sistem crowdfunding membawa kesempatan emas bagi pengusaha-pengusaha di sektor lainnya.

Meskipun kini penyedia jasa urun dana telah dijadikan alternatif penyedia dana bagi pengusaha-pengusaha baru, tetapi crowdfunding tetap harus berkompetisi dengan bank yang berperan sebagai perantara keuangan konvensional. Daya saing penyedia jasa urun dana ini ditentukan oleh faktor-faktor tak berwujud (intangible factors) (Bounfour 2003, 396). Faktor-faktor tak berwujud ini memberikan

(4)

12 keuntungan bagi perusahaan karena berperan dalam proses penciptaan nilai. Hasil dari proses penciptaan nilai ini berupa pengetahuan sehingga pengetahuan dijadikan dasar dari ide mengenai modal intelektual (intellectual capital)* (O'Donnell, Henriksen dan Voelpel 2006, 7).

Secara budaya, Indonesia memiliki nilai gotong-royong yang juga merupakan prinsip dasar urun dana. Prinsip gotong royong dalam urun dana ini mencerminkan bahwa pengusaha-pengusaha baru tidak menargetkan investor tertentu secara spesifik untuk mencari dana, tetapi mereka menyasar keseluruhan masyarakat atau yang biasa disebut sebagai mengetuk keramaian (tapping the crowd) (Moritz, Block dan Lutz 2015, 586). Dengan adanya kesamaan ini, urun dana menjadi alternatif pendanaan yang sesuai untuk dikembangkan di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kini sedang melambat akibat adanya perlambatan ekonomi dunia. Pada tahun 2011 perubahan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada angka 6,2%. Angka tersebut terus menurun hingga menyentuh angka 5,0% pada tahun 2014 (Indonesia Investments 2016). Untuk itu, pemerintah Indonesia berupaya mengganti penggerak utama pertumbuhan. Sebelumnya, Indonesia bertumpu pada sektor konsumsi dan ekspor komoditas. Kini pemerintah menekankan pentingnya beralih ke sektor investasi (Akbar 2016). Besarnya potensi yang dimiliki sistem penyedia jasa urun dana ini membuat pemerintah memperhitungkan cara baru bagi masyarakat untuk berinvestasi. Cepat atau lambat, pemerintah akan memberi perhatian pada sistem yang tengah populer di Inggris dan Amerika Serikat ini (Drake 2015).

(5)

13 Salah satu karakter sistem pendanaan melalui penyedia jasa urun dana adalah dependensinya dengan koneksi internet. Menurut Bouaiss, Maque, dan Meric (2015), kesuksesan dari sistem urun dana dikarenakan kesederhanaannya (28). Dengan sistem di internet, pencari dana menyasar keramaian yang ada di dunia maya untuk mencari dana. Sebagai kontraprestasi, pemberi dana mendapatkan keuntungan yang seringkali bersifat simbolik, seperti ucapan terima kasih di Facebook, tanda suka di Instagram, atau undangan untuk sebuah acara melalui laman jaringan (Ordanini, et al. 2011, 447). Transaksi semacam ini menjadi revolusioner karena sebelumnya tidak ada teknologi internet yang bertindak sebagai peron (platform) dan berhasil menciptakankeramaian (Bouaiss, Maque dan Meric 2015, 24).

Dengan korelasi yang kuat dengan internet, sistem urun dana tentu memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), pengguna internet di Indonesia (per tahun 2014) mencapai angka 82 juta (Kemkominfo 2014). Angka ini mencapai 32,8% dari keseluruhan populasi di Indonesia. Angka penggunaan internet ini diprediksikan akan naik dari tahun ke tahun di Indonesia. Menurut Kartajaya (2011), masyarakat Indonesia yang beraktivitas dengan internet (netizen) akan menjadi salah satu dari tiga penggerak utama perekonomian Indonesia.

Penyedia jasa urun dana pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 2011. Meskipun memiliki potensi besar di Indonesia, karakter sebagai perusahaan rintisan membuat beberapa penyedia jasa urun dana tidak mampu bertahan di tahun-tahun

(6)

14 awal (gestation period) (Peña 2002, 187). Salah satu penyedia jasa urun dana yang berhasil bertahan pada tahun-tahun awalnya adalah Kitabisa.

Kitabisa berada di bawah naungan Rumah Perubahan, sebuah gerakan dalam bingkai bisnis sosial (social entreprenurship). Rumah Perubahan juga berperan sebagai inkubator perusahaan rintisan (start-up incubator) bagi Kitabisa sehingga ia mendapatkan fasilitas penasihat dan dukungan promosi dari Rumah Perubahan. Hal ini menjadikan Kitabisa berbentuk organisasi nonprofit yang berfokus pada isu sosial. Kebanyakan dari penyedia jasa urun dana menjalankan kegiatan operasional utamanya dengan dasar modal (equity-based) dan hutang

(debt-based). Akan tetapi, Kitabisa bergerak dalam bingkai landasan donasi

(donation-based) dan hadiah (reward-based). Berdasarkan jumlah donasi yang terkumpul dan kampanye yang telah terdanai, Kitabisa merupakan situs pencarian dana paling populer di Indonesia dibandingkan penyedia jasa urun dana lainnya.

Sebagai perusahaan rintisan, kinerja Kitabisa dipengaruhi oleh keberadaan faktor-faktor tak berwujud. Pena (2002), Bonfour (2003), Ståhle dan Bonfour (2008), serta Matricano (2016) telah membuktikan bahwa IC memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja perusahaan dan negara. Penelitian IC dengan metode studi kasus pada suatu perusahaan telah dilakukan oleh Graaf (2013) serta Marzo dan Scarpino (2016). Graaf (2013) meneliti IC pada perusahaan online gaming di Swedia, sedangkan Marzo dan Scarpino (2016) meneliti sebuah perusahaan otomotif di Italia. Kedua penelitian tersebut dilakukan di negara maju. Sampel perusahaan yang dipilih juga merupakan organisasi yang mencari keuntungan

(7)

15 penyedia jasa urun dana yang memiliki karakter sebagai organisasi nonprofit belum pernah diteliti sebelumnya.

Menurut Pena (2002, 2004) serta Marzo dan Scarpino (2016), IC pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu modal manusia, modal struktural, dan modal relasi. Pertama, modal manusia. Sebagai salah satu dari faktor produksi yang dibutuhkan perusahaan, sumber daya manusia merupakan komponen penting untuk menggerakkan proses internal dan eksternal. Pada Kitabisa, orang yang bekerja di dalamnya berperan dalam dua tahap, yaitu mencari klien pembuat proyek dan membantu klien mendapatkan dana. Kedua tahap ini menjadi penentu volume donasi yang akhirnya masuk melalui peron. Dengan akumulasi kemampuan ini, orang yang bekerja di dalam organisasi akan meningkatkan produktivitas, meningkatkan fungsi pasar, dan meningkatkan keuntungan perusahaan (O'Donnell, Henriksen dan Voelpel 2006, 7).

Kedua adalah modal organisasi. Faktor ini menunjukkan karakteristik perusahaan dan prosedur yang dimiliki. Kitabisa berkembang dari 2013 hingga 2016 dari segi jumlah donasi dan popularitas di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh ruang yang tersedia bagi Kitabisa untuk berkembang masih luas karena penyedia jasa urun dana belum begitu lama dikenal di Indonesia. Selain itu, keberadaan sistem yang semakin memadai kebutuhan perusahaan dari tahun ke tahun menjadi indikator peningkatan kinerja.

Faktor yang terakhir adalah modal relasi. Gately dan Cunningham (2014) membagi modal relasi menjadi empat kegiatan, yaitu mengembangkan jaringan, membangun hubungan bisnis dengan partner, mengakses ilmu pengetahuan, dan

(8)

16 memperbanyak anggota asosiasi. Selain keempat aktivitas tersebut, peran inkubator bisnis juga sangatlah penting (Gately dan Cunningham 2014, 517). Inkubator bisnis adalah program yang membantu perusahaan baru untuk mencapai tujuannya (Pena 2004, 227). Fasilitas ini dapat berbentuk program pelatihan bagi sumber daya manusianya, jaringan bisnis, hingga peminjaman kantor dan fasilitas fisik.

Untuk menganalisis isu IC pada perusahaan rintisan, peneliti menggunakan pendekatan “grounded theory” dan melakukan analisis kualitatif yang mendalam mengenai IC pada organisasi penyedia jasa urun dana di Indonesia, yaitu Kitabisa. Metode ini berfokus pada proses membandingkan data dan teori yang diawali dengan pengumpulan data di suatu organisasi dengan latar spesifik (Eisenhardt 1989, 534). Kitabisa dipilih karena ia merepresentasikan organisasi penyedia jasa urun dana di Indonesia yang dapat melalui masa-masa awal bisnisnya berkat peran dari karyawan dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat. Dengan unit analisis seluruh karyawan dan pemangku kepentingan di Kitabisa, penelitian ini dilakukan dengan tetap membagi IC ke dalam tiga faktor utama, yaitu modal manusia, modal organisasi, dan modal relasi.

Penelitian sebelumnya telah menyebutkan adanya hubungan yang positif antara IC dan kinerja perusahaan rintisan dengan pengukuran ketenagakerjaan, penjualan, dan profitabilitas (Peña 2002). Dalam penelitian ini, ukuran kinerja yang dipakai berkaitan dengan jumlah donasi yang masuk dan jumlah inisiatif yang berhasil didanai. Hal ini disebabkan oleh alasan kontekstual, yaitu karakter penyedia jasa urun dana di Indonesia sebagai organisasi nonprofit. Kinerja

(9)

17 keuangan diukur dengan return on assets (ROA). Meskipun begitu, laba bukanlah komponen pembilang dalam pengukuran ini, melainkan jumlah donasi.

Belum adanya pengukuran kinerja terstandar bagi penyedia jasa urun dana membuat organisasi-organisasi pada sektor tersebut mengandalkan perhitungan jumlah donasi. Pada masa awal berdiri (2013-2016) jumlah donasi yang didapatkan Kitabisa sangat dipengaruhi oleh IC organisasi untuk mendapatkan kepercayaan donatur. Maka dari itu, pengukuran jumlah donasi dan ROA pada 2013-2016 akan mencerminkan IC yang dimiliki organisasi.

Atas dasar latar belakang di atas, peneliti berekspektasi untuk dapat menganalisis IC pada Kitabisa dari tahun 2013 sampai 2016. Pada empat tahun itu, Kitabisa mengalami masa-masa awal pendirian perusahaan. Pada masa tersebut, kemampuan Kitabisa untuk mengelola modal manusia, modal organisasi, dan modal relasi sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Berinteraksi dengan inisiator maupun donatur bukan sekadar bagaimana memproses pencarian dana dengan memanfaatkan kebijaksanaan keramaian (crowd wisdom), tetapi juga bagaimana memilih para ahli keramaian (crowd expertise) dan berkomunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan (Lee, et al. 2015, 804).

1.2 Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana organisasi penyedia jasa urun dana di Indonesia mendapatkan dan/atau mengembangkan modal intelektual yang ada di dalam organisasi?

(10)

18 2. Bagaimana organisasi penyedia jasa urun dana di Indonesia mengorganisasi dan/atau memanfaatkan modal intelektual yang ada di dalam organisasi?

3. Bagaimana kinerja organisasi penyedia jasa urun dana dari tahun ke tahun dengan memanfaatkan modal intelektual yang ada di dalam organisasi?

4. Bagaimana persepsi karyawan tentang arti penting modal intelektual?

5. Bagaimana persepsi karyawan tentang kegunaan modal intelektual? Penelitian ini dilakukan khususnya pada penyedia jasa urun dana Kitabisa di periode 2013-2016.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:

1. Mengetahui bagaimana organisasi penyedia jasa urun dana mendapatkan dan/atau mengembangkan modal intelektual di dalam organisasinya.

2. Mengetahui bagaimana organisasi penyedia jasa urun dana mengorganisasi dan/atau memanfaatkan modal intelektual di dalam organisasinya.

3. Mengetahui perubahan kinerja organisasi penyedia jasa urun dana pada tahun 2013-2016 atas pemanfaatan modal intelektual di dalam organisasinya.

(11)

19 4. Mengetahui persepsi karyawan organisasi penyedia jasa urun dana

tentang arti penting modal intelektual di dalam organisasinya.

5. Mengetahui persepsi karyawan organisasi penyedia jasa urun dana tentang kegunaan modal intelektual di dalam organisasinya.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi secara teoritis dan praktis, di antaranya sebagai berikut:

a. Kontribusi Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman konsep modal intelektualterutama dalam kasus organisasi nonprofit yang bergerak di bidang penyedia jasa urun dana.

b. Kontribusi Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan para pelaku bisnis mengenai pemanfaatan modal intelektual bagi peningkatan kinerja perusahaan mereka, terutama yang bergerak sebagai perusahaan rintisan dalam bidang penyedia jasa urun dana.

1.5 Sistematika Penulisan

Penelitian analisis pengukuran modal intelektual ada organisasi penyedia jasa urun dana dengan studi kasus Kitabisa ini akan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab pertama ini memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

(12)

20 BAB II LANDASAN TEORI

Bab kedua memuat teori-teori terkait yang diperoleh melalui studi pustaka dari berbagai sumber literatur berkaitan dengan modal intelektual, jasa urun dana, serta perusahaan rintisan. Teori-teori yang dituliskan itu akan menjadi dasar pengembangan metodologi dalam melakukan observasi dan pengumpulan data di perusahaan terkait.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ketiga memuat profil perusahaan yang akan dijadikan objek penelitian, metodologi penelitian, jenis dan sumber data, serta metode analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab keempat menjelaskan analisis dan hasil penelitian yang telah dilakukan di perusahaan terkait.

BAB V PENUTUP

Bab kelima menerangkan keterbatasan penelitian, serta saran bagi penelitian yang akan dilakukan di masa depan.

Referensi

Dokumen terkait

Penunjukan tempat pelacuran ini berdasarkan campur tangan pemerintah daerah, dalam hal ini baik secara langsung ataupun tidak langsung memberikan izin kepada germo (mucikari

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan ini dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai serta prinsip-prinsip pendidikan akhlak yang terkandung dalam metode dakwah

Ratih Ramadhani Irawan, NIM E0012314, Optimalisasi Partisipasi Masyarakat dalam Mekanisme Seleksi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun

Gejala atau peristiwa alam yang sering terjadi di antara lain gunung meletus, banjir, gempa bumi, badai atau angin topan, tsunami, kekeringan dan tanah longsor..

Pada renovasi jalan tahun 2013 terdapat penghapusan batas tepian jalan di trotoar timur sehingga tidak ada perbedaan level paving antara jalur lambat (jalur kendaraan

Gelombang akustik tersebut akan merambat di dalam kolom air, dan pada saat membentur sebuah sasaran target (ikan, plankton atau dasar perairan) maka gelombang akustik akan

Berdasarkan dapatan hasil kajian juga, pengkaji membuat kesimpulan bahawa objektif kajian yang dibentuk telah dapat dicapai, iaitu konstruk amalan pengurusan risiko sukan telah

Perjuangan HAM di Perancis sebenarnya telah lebih dahulu daripada Amerika Serikat, namun perjuangan HAM di Negara ini baru mencapai puncaknya pada tahun 1780