• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Teori Pendapatan

Pendapatan adalah penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dan dinilai dengan uang atas harga yang berlaku pada saat ini (Paramita,2014).Menurut Sukirno (2004) pendapatan pada dasarnya merupakan pendapatan yang diterima semua rumah tangga dalam perekonomian dari penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya dan dari pembayaran pindahan. Dalam pengertian umum pendapatan adalah hasil pencaharian usaha dan merupakan gambaran terhadap posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat (Laksmi Dewi, dkk, 2012). Menurut Febiyanti (2012) pendapatan merupakan uang yang diterima dan diberikan kepada subjek ekonomi berdasarkan prestasi-prestasi yang diserahkan yaitu berupa pendapatan dari profesi yang dilakukan sendiri atau usaha perorangan dan pendapatan dari kekayaan.

Menurut Chowdhury Khan (2012) untuk meningkatkan pendapatan perekonomian rumahtangga diperlukan penambahan waktu kerja. Jumlah pendapatan mempengaruhi permintaan. Jika jumlah pendapatan berkurang, permintaan juga akan berkurang. Barang yang berkurang permintaannya ketika pendapatan berkurang disebut barang normal, misalnya buah-buahan, susu, dan sebagainya, sedangkan barang yang meningkat permintaannya karena pendapatan

(2)

13

berkurang disebut barang interior (Darsana, 2009). Pendapatan juga diartikan sebagai semua hasil yang didapatkan setelah bekerja, sedangkan pendapatan pribadi diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun, yang diterima oleh penduduk negara (Sukirno, 2004).

2.1.2 Peranan Wanita Dalam Pembangunan

Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan suatu perubahan sosial-budaya. Pembangunan agar dapat menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi, bukan hanya dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah belaka (Subandi, 2011).Dalam pembangunan pemberdayaan perempuan yang terjadi selama ini permasalahan mendasar yang masih dialami adalah rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan, di samping masih adanya berbagai bentuk praktik diskriminasi terhadap perempuan (Khotimah, 2009). Kreativitas dan inovasi adalah pasangan yang baik untuk meningkatkan pembangunan dalam suatu bangsa, mereka juga memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor informal yang berkembang saat ini, dan di mana perempuan mendominasi. Pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam mendukung kreativitas dan inovasi perempuan melalui penyediaan infrastruktur yang diperlukan, pendidikan dan pembiayaan mikro dengan baik dan memantau upaya untuk menyingkirkan korupsi dari lembaga yang memberikan dukungan ekonomi. Diharapkan bahwa pemerintah akan membantu menyediakan

(3)

14

pasar yang baik dan informasi kepada perempuan untuk meningkatkan kemampuan kreatif dan inovatif mereka. Pemerintah harus mendorong perluasan kreativitas perempuan di sektor informal.Apabila dilihat dari sisi pendapatan, dapat diketahui bahwa wanita tidak bisa secara penuh dapat menghasilkan pendapatan. Pada kenyataannya wanita memiliki sedikit peluang dalam pasar kerja (Duflo, 2012). Melalui industri rumahan akan memperluas peluang wanita untuk menghasilkan produk pada tingkat yang lebih tinggi (Hassan, 2011).

Pembangunan dapat dikatakan berhasil jika keluarga sejahtera. Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera dengan jelas disebutkan, bahwa keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbangantar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (Martini, 2012).Umumnya perempuan mempunyai dua peranan yaitu, pertama, sebagai istri dan ibu rumah tangga dan kedua, sebagai partner untuk mencari nafkah bagi kehidupan rumah tangganya. Kewajiban perempuan dalam rumah tangga adalah mengatur dan memperhatikan kegiatan rumah tangga. Sementara itu hak mereka adalah menentukan dan mengatur anggaran belanja, mengatur menu makanan, dan lain-lain yang berkaitan dengan kerumahtanggaan. Sekarang ini, perempuan telah dibekali hak untuk mengambil keputusan dan turut serta mencari nafkah bagi keluargadi luar kegiatan rumah tangga pada umumnya, selain suami yang bertugas sebagai pencari nafkah. Tentunya semua dijalankan secara

(4)

15

selaras dan harmonis sebagai usaha untuk menjaga keutuhan keluarga dan kehidupan yang harmonis sebagai wadah tumbuh kembang anak. (Meydianawathi, 2011)

Meskipun kontribusi perempuan terhadap ekonomi nasional yang semakin diakui, namun demikianmasih banyak kesempatan yang diperlukan untuk mengembangkan peran wanita. Perempuan tidak memiliki pelatihan dan ini diperlukan untuk memajukan posisi perempuan, memperkuat mereka dengan cara memberikan keterampilan dan memperluas kesempatan bagi perempuan untuk lebih sepenuhnya mengembangkan peran wanita. Kebanyakan wanita tinggal dan bekerja di bawah memburuknya kondisi materi akibat ekonomi yang semakin sulit, menyebabkan wanita turut bekerja dengan kemampuan mereka (Tinuke, 2012). Peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi terjadi karena dua sebab, yaitu: (1) terdapat sikap dan pandangan masyarakat yang berubah mengenai pendidikan pria dan wanita yang sama pentingnya, serta perlunya wanita berpartisipasi dalam pembangunan, (2) keinginan wanita menjadi mandiri di bidang ekonomi yaitu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang mereka tanggung dengan hasil kerja sendiri (Haryanto, 2008). Haryanto (2008) menjelaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi karena adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang samapentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan pria, serta makin disadarinya perlu kaum perempuan ikut partisipasi dalam pembangunan.

(5)

16 2.1.3 Konsep Sektor Informal

Konsep sektor informal muncul dalam konsep keterlibatan pakar-pakar internasional dalam perencanan pembangunan di Dunia Ketiga. Gejala ini muncul setelah kelahiran Negara-negara maju. Kegiatan sektor informal dapat bervariasi. Kegiatan tersebut bisa dilakukan sebagai pekerjaan paruh waktu setelah bekerja, bagi kaum imigran pekerjaan sektor informal lebih mudah didapatkan karena mereka tidak diperkenankan bekerja pada sektor formal (Haris, 2011). Sementara itu menurut Meydianawathi (2011) sektor informal adalah sektor dimana pekerja tidak didasarkan atas kontrak kerja yang jelas bahkan seringkali si pekerja bekerja untuk dirinya sendiri, penghasilan sifatnya tidak tetap dan tidak permanen. Sektor informal merupakan unit usaha yang berskala kecil yang menghasilkan barang dan jasa dengan tujuan menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya sendiri. Sektor informal sering juga disebut dengan aktivitas informal, kesempatan kerja yang diciptakan (self employment), ekonomi dibawah tanah (underground economy) , casual work, shadow economy (Subarsono, 1998). Karakteristik yang dimiliki oleh sektor informal menurut pendapat Simel (2000:144) adalah sektor informal mudah dimasuki, tuntutan ketrampilan dan pendidikan yang rendah, modal rendah dan kekuatan pekerja yang tinggi.

Pengertian sektor informal adalah pembagian sektor usaha yang biasanya dengan skala usaha kecil. Istilah sektor informal pertama kali dikemukakan oleh Hart (1971) seorang antropolog Inggris, dalam rangka memecahkan masalah ketenagakerjaan di Kenya, dengan menggambarkan sektor informal sebagai bagian dari angkatan kerja di kota yang ada di luar pasar kerja yang teroganisir.

(6)

17

Mulai saat ini, sektor informal telah disebut sebagai suatu konsep yang memberikan harapan dan disempurnakan lagi oleh ILO (International Labour Organization) yang mempelajari kesempatan kerja di Kenya dalam rangka program kesempatan kerja dunia. Beberapa ciri pokok sektor informaldi Indonesia seperti yang terdapat dalam laporan International Labour Organization(Manning dan Effendi, 1985:138), antara lain.

1) Kegiatan usaha tidak terorganisir secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal.

2) Umumnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha.

3) Pola kegiatan usaha tidak teratur baikdalam arti lokasi maupun jam kerja. 4) Umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi

lemah tidak sampai ke sektor ini.

5) Unit usaha mudah keluar masuk dari suatu sub sektor ke lain sektor. 6) Teknologi yang dipergunakan bersifat primitif.

7) Modal dan perputaran usaha relatif kecil,sehingga skala operasi juga relatif kecil.

8) Umumnya unit usaha termasuk golongan one-man-enter prises dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.

9) Sumber dana modal usaha pada umumnyaberasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi.

10) Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat kota/desa yang berpenghasilan menengah.

(7)

18

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pekerja Wanita 2.1.4.1 Umur

Seseorang dengan usia produktif bisa bekerja lebih lama daripada dengan pekerja yang berusia nonproduktif (Budiantari dan Rustariyuni, 2013). Pekerja yang berada dalam rentang usia muda, umumnya memiliki fisik yang kuat, dinamis dan kreatif, tetapi cepat bosan dan kurang bertanggung jawab serta cenderung membolos. Sebaliknya pekerja yang berada dalam rentang usia lebih tua, kondisi fisiknya kurang, tetapi bekerja ulet dan memiliki tanggung jawab yang besar (Meydianawathi, 2011). Umur dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam melihat aktivitas seseorang dalam bekerja dimana dengan kondisi umur yang masih produktif maka kemungkinan besar seseorang dapat bekerja dengan baik dan maksimal.

2.1.4.2 Pendidikan

Pendidikan merupakan pemberian bekal kepada individu berupa ilmu pengetahuan, ketrampilan, budi pekerti yang luhur serta pembinaan kepribadian yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Paramita,2014). Simanjuntak (Helen,2008;Amnesi,2013) mengatakan pendidikan merupakan indikator kemajuan suatu bangsa. Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha secara sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan baik di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung sumur hidup.Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena dengan meningkatnya pendidikan maka seseorang akan dapat memperoleh pekerjaan dengan imbalan yang relatif tinggi.

(8)

19

Pendidikan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam kehidupan individu, masyarakat, bangsa dan negara karena pendidikan sangat menentukan tingkat kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin baik kualitas sumber dayanya (Russicaria dan Djayastra, 2014). Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan atau lapangan usaha yang ditekuni. Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung akan mempunyai pekerjaan dengan status formal, sebaliknya yang memiliki pendidikan rendah akan terserap ke sektor informal. Memasuki pekerjaan di sektor informal tidak menuntut syarat pendidikan tertentu seperti pada lapangan pekerjaan di sektor formal. Semua orang dari berbagai tingkat pendidikan bahkan yang tidak berpendidikan dapat terserap di sektor informal (Meydianawathi, 2011).

Menurut Tim HTS (2009), dalam dunia pendidikan dikenal adanya tiga lingkungan pendidikan, yaitu:

1) Ligkungan pendidikan informal atau lingkungan pendidikan keluarga. Ciri-ciri pendidikan informal antara lain:

(1) Proses pendidikannya berlangsung tanpa terkait waktu dan tempat. (2) Tidak mengenal persyaratan usia.

(3) Tidak mengenal adanya guru dan murid.

(4) Tidak adanya penghargaan yang berupa sertifikat atau tanda tamat. 2) Lingkungan pendidikan formal atau lingkungan pendidikan

sekolahmemiliki ciri-ciri:

(9)

20

(2) Adanya persyaratan usia untuk masing-masing jenjang pendidikan. (3) Dikenal adanya guru dan murid.

(4) Mempunyai anggaran pendidikan.

3) Lingkungan nonformal atau lingkungan pendidikan di luar sekolah memiliki ciri-ciri:

(1) Kegiatannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. (2) Tidak mengenal batas usia.

(3) Tidak mengenal kelas atau jenjang. (4) Tujuannya meningkatkan keterampilan.

2.1.4.3 Modal Kerja

Dalam prakteknya faktor-faktor produksi baik sumberdaya manusia maupun yang non sumber daya manusia seperti modal tidak dapat dipisahkan dalam menghasilkan barang dan jasa. Pada suatu industry, dengan asumsi faktor-faktorproduksi yang lain konstan, maka semakin besar modal yang ditanamkan akan semakin besar permintaan tenaga kerja (Haryani, 2002). Setiap perusahaan dalam menjalankan perusahaan pasti selalu membutuhkan modal kerja. Biasanya modal kerja tersebut digunakan untuk membayar upah buruh, gaji pegawai, membeli bahan mentah dan pengeluaran-pengeluaran lainnya untuk membiayai operasi perusahaan (Pratama, 2005:23).

Modal kerja adalah produk atau kekayaan yang digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal kerja pada hakikatnya merupakan jumlah yang terus menerus ada dalam menjembatani antara saat pengeluaran untuk memperoleh bahan, alat, dan jasa untuk digunakan selama proses produksi

(10)

21

sehingga memperoleh penerimaan penjualan (Ahmad,2004:72). Menurut Raheman dan Nars (2007:1), modal kerja memiliki dua fungsi yaitu:

1. Menopang kegiatan produksi.

2. Menutupi dana atau pengeluaran tetap dan dana yang tidak berhubungan secara langsung dengan produksi dan penjualan.

Semakin besar modal yang digunakan akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan. Modal kerja yang tepat merupakan syarat keberhasilan suatu perusahaan apalagi usaha kecil. Modal kerja sangat berkaitan erat dalam rangka menghitung aktiva perusahaan (Ahmad, 2004:72)

2.1.4.4 Alokasi Waktu

Menurut Ehrenberg dan Smith (1988) keputusan untuk bekerja merupakan suatu keputusan puncak mengenai bagaimana seharusnya memanfaatkan waktu. Salah satu cara untuk menggunakan waktu yang tersedia adalah dengan melakukan aktivitas-aktivitas di waktu senggang yang menyenangkan. Menurut Taniguchi (2012) dalam mengalokasikan waktu sektor informal dapat menghabiskan waktu lebih banyak kepada keluarga dan mendapat waktu lebih untuk bersosialisasi kepada sesama.

2.1.5 Hubungan Sarana Umurdengan Pendapatan Pekerja Wanita

Umur sangatberpengaruh terhadap pendapatan karena semakin tua umur wanita, maka produktifitasnya semakinmenurun dan kondisi fisiknya semakin lemah sehingga tidak mampu menyumbangkanpendapatan dalam keluarga (Amnesi, 2013). Umur rentang kehidupan yang diukur dengan tahun. Perbedaan

(11)

22

kekuatan fisik di usia dewasa ini dan muda adalah berbeda, sehingga akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan yang diterima (Febiyanti, 2012). Umur sangat berpengaruh pada kehidupan terutama bagi para pekerja wanita semakin tua umurnya maka kekuatan fisik tersebut semakin menurun dan dapat mempengaruhi pendapatan yang dihasilkan.

2.1.6 Hubungan Sarana Pendidikan dengan Pendapatan Pekerja Wanita Untuk meningkatkan pendapatan diperlukan peningkatan pendidikan, pendidikan sebagai cara untuk meningkatkan keterampilan yang pada gilirannya menyebabkan kemajuan teknologi, kewirausahaan, peningkatan pendapatan, kesejahteraan sebuah komunitas, pengurangan kemiskinan (Wanyama, 2014). Pendidikan biasanya berkaitan dengan lapangan pekerjaan dan akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dengantujuan meningkatkan kualitas hidup. Arti penting pendidikan semakin terasa, terutama dalam menghadapi era globalisasi dan perkembangan teknologi yang cepat. Pendidikan merupakan syarat utama guna masuk ke pasar kerja dan mencipatakan SDM yang handal, oleh karena itu pendidikan masyarakat harus ditingkatkan sehingga kualitas penduduk dapat meningkat. (Amnesi, 2013).

2.1.7 Hubungan Sarana Modal Kerja dengan Pendapatan Pekerja Wanita Menurut Nakirya dan Ellias State (2013) bagi ibu rumah tangga yang berpenghasilan rendah sebaiknya diberi modal oleh kepala daerah untuk membuka

(12)

23

usaha kecil-kecilan yang bersifat informal untuk menambah pendapatan keluarga. Modal kerja dapat mempengaruhi pendapatan dimana modal yang besar akan mempermudah untuk mendapatkan faktor-faktor produksi yang dibutuhkan sehingga akan memudahkan pedagang dalam menyediakan barang dagangannya, sebaliknya jika modal kerja yang dimiliki kecil maka akan susah dalam penyediaan faktor-faktor produksi. Ini artinya bahwa modal kerja memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan pedagang perempuan (Oguonu, 2010).

2.1.8 Hubungan Sarana Alokasi Waktudengan Pendapatan Pekerja Wanita Semakin tinggi waktu yang digunakan oleh pedagang perempuan untuk melakukan pekerjaan dagang, maka makin tinggi kesempatan pedagang untuk mendapatkan tambahan pendapatan (Martini,2012). Waktu yang dicurahkan oleh seorang wanita untuk pekerjaan rumah tangga jauh lebih tinggi dibandingkan waktu yang dicurahkan oleh laki-laki. Selain mengasuh anak, mencuci pakaian, mencuci piring ataupun membersihkan rumah, seorang wanita mencurahkan waktunya untuk membantu laki-laki dalam mencari nafkah. Jam kerja berpengaruh terhadap pendapatan perempuan dalam perekonomian rumah tangga semakin lama jam kerja perempuan, maka semakin banyak hasil yang diterima sehingga kebutuhan keluarga bisa terpenuhi(Amnesi, 2013)

(13)

24

Menurut Cendana (2010) tentang “Analisis Pengaruh Curahan Jam Kerja, Pengalaman Kerja Dan Pendidikan Terhadap Pendapatan Perempuan Anggota Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) Sektor Informal di Kecamatan Denpasar Barat Kota Denpasar”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendapatan perempuan yang bekerja di sektor informal yang tergabung dalam kelompok SPP. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah curahan jam kerja, pengalaman kerja, pendidikan. Dalam penelitian ini hasil analisis secara keseluruhan disimpulkan bahwa variabel curahan jam kerja, pengalaman kerja, pendidikan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan perempuan yang bekerja di sektor informal yang bergabung dalam kelompok SPP di Kecamatan Denpasar Barat Kota Denpasar.Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, antara lain.

1) Sama-sama menggunakan teknik analisis regresi linier berganda; 2) Penggunaan objek perempuan sektor informal;

3) Penggunaan pendidikan dan curahan jam kerja sebagai variabel bebas. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain : penelitian sebelumnya menggunakan variabel terikat pendapatan perempuan kelompok SPP di Kecamatan Denpasar Barat Kota Denpasar, sedangkan penelitian ini menggunakan pendapatan pekerja wanita di Desa Baturiti Kabupaten Tabanan.

Sari (2012) tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Alokasi Waktu Kerja Perempuan Pada Sektor Informal Perdagangan Di Desa

(14)

25

Dangin Puri Klod Kecamatan Denpasar Timur”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah alokasi waktu kerja perempuan pada sektor informal bidang perdagangan di Desa Puri Klod Kecamatan Denpasar Timur. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan rumah tangga, keberadaan anak balita. Dalam penelitian ini hasil analisis secara keseluruhan disimpulkan bahwa terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara variabel keberadaan anak balita terhadap alokasi waktu kerja perempuan pada sektor informal perdagangan di Desa Dangin Puri Klod. Berdasarkan hasil analisis secara simultan disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel pendidikan dan variabel jumlah tanggungan rumah tangga terhadap alokasi waktu kerja perempuan pada sektor informal perdagangan di Desa Dangin Puri Klod.Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, antara lain :

1) Sama-sama menggunakan teknik analisis regresi linier berganda; 2) Penggunaan objek perempuan sektor informal;

3) Penggunaan pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan sebagai variabel bebas.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain : penelitian sebelumnya menggunakan variabel terikat pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan rumah tangga, keberadaan anak balita, sedangkan penelitian ini menggunakan pendapatan pekerja wanita di Desa Baturiti Kabupaten Tabanan.

(15)

26

Sentana (2012) tentang “Pengaruh Modal, Jam Kerja, Tingkat Pendidikan Terhadap Pendapatan Pedagang Di Pasar Sanglah Kota Denpasar”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendapatan para pedagang di Pasar Sanglah Kota Denpasar. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah modal kerja pedagang, jam kerja pedagang, pendidikan. Berdasarkan ini hasil analisis secara keseluruhan disimpulkan bahwa variabel modal kerja, jam kerja, pendidikan berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap pendapatan pedagang di Pasar Sanglah Kota Denpasar. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, antara lain :

1) Sama-sama menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. 2) Penggunaan modal, jam kerja, pendidikan sebagai variabel bebas.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain : penelitian sebelumnya menggunakan variabel terikat pendapatan para pedagang di Pasar Sanglah Kota Denpasar. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah modal kerja pedagang, jam kerja pedagang, pendidikan, sedangkan penelitian ini menggunakan pendapatan pekerja wanita di Desa Baturiti Kabupaten Tabanan.

Wijaya (2013) tentang “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Jam Kerja Dan Jumlah Tanggungan Keluarga Terhadap Pendapatan Ibu Rumah Tangga Yang Bekerja Pada Sektor Informal Di Kelurahan Dauh Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Barat”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendapatan ibu rumah tangga yang bekerja pada sektor informal adalah jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh ibu rumah tangga di sektor informal yang diukur dengan satuan

(16)

27

rupiah. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan, jam kerja, jumlah tanggungan keluarga. Berdasarkan ini hasil analisis secara keseluruhan disimpulkan bahwa variabel tingkat pendidikan, jam kerja, jumlah tanggungan keluarga secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan ibu rumah tangga yang bekerja pada sektor informal.Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, antara lain :

1) Sama-sama menggunakan teknik analisis regresi linier berganda; 2) Penggunaan objek perempuan sektor informal;

3) Penggunaan pendidikan dan jam kerja sebagai variabel bebas.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain : penelitian sebelumnya menggunakan variabel terikat pendapatan ibu rumah tangga yang bekerja pada sektor informal di Kelurahan Dauh Puri Kauh, kecamatan Denpasar Barat, sedangkan penelitian ini menggunakan pendapatan pekerja wanita di Desa Baturiti Kabupaten Tabanan.

Ratih (2014) tentang “Pengaruh Pendidikan, Jumlah Tanggungan, Umur dan Pekerjaan Suami Terhadap Keterlibatan Ibu Rumah Tangga Dalam Ekonomi Keluarga Di Kabupaten Tabanan (Studi kasus Desa Penebel Kecamatan Penebel)”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterlibatan ibu rumah tangga bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dilihat dari pendapatan. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendidikan, jumlah tanggungan, umur, pekerjaan suami. Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan disimpulkan bahwa berpengaruh positif dan signifikan

(17)

28

terhadap keterlibatan ibu rumah tangga dalam ekonomi rumah tangga keluarga di Desa Penebel Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, antara lain.

1) Sama-sama menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. 2) Penggunaan pendidikan dan umur sebagai variabel bebas.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain : penelitian sebelumnya menggunakan variabel terikat keterlibatan ibu rumah tangga bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, sedangkan penelitian ini menggunakan pendapatan pekerja wanita di sektor informal.

(18)

29

Dalam hal ini yang menjadi variabel dependen adalah pendapatan pekerja wanita sektor informal (Y) dan yang menjadi variabel independen adalah umur (𝑋1), pendidikan (𝑋2), modal kerja (𝑋3), alokasi waktu (𝑋4).

Keterangan : Pengaruh Simultan Pengaruh Parsial

1) Bahwa variabel umur, pendidikan, modal kerja, alokasi waktu secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pekerja wanita sektor informal.

2) Bahwa variabel umur, pendidikan, modal kerja, alokasi waktu secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pekerja wanita sektor informal.

𝑋1 Umur 𝑋2 Pendidikan 𝑋3 Modal Kerja 𝑋4 Alokasi Waktu 𝑌 Pendapatan Pekerja Wanita Sektor Informal

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Masalah pengambilan keputusan sering terjadi pada keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sama-sama memegang peranan penting dalam rumah tangga.. Profil keluarga yang

1) Pendapatan dari upah atau gaji, yang mencakup upah atau gaji yang diterima seluruh rumah tangga ekonomi yang bekerja sebagai buruh dan imbalan bagi pekerjaan yang dilakukan

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Lusardi (2003) sekitar 30% rumah tangga yang akan masuk masa pensiun telah melakukan sedikit perencanaan untuk masa

Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Panjang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2011) tentang Pengaruh pelatihan, dukungan manajemen puncak,

Widodo (2013) dalam jurnal yang berjudul “Starategi Nafkah Berkelanjutan Bagi Rumah Tangga Miskin di Daerah Pesisir”, menunjukkan hasil penelitian bahwa kehidupan ekonomi dan sosial

Penelitian-penelitian sebelumnya menjadi suatu acuan bagi penelitian ini untuk dilakukan, antara lain penelitian yang dilakukan Muliari dan Ery (2011) dengan judul “Pengaruh

Keterangan: Variabel yang tidak diteliti Variabel yang diteliti Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Faktor rumah tangga dan keluarga Asupan makanan inadekuat Paparan terhadap