1 FAKTOR YANG MEMENGARUHI BIDAN DALAM KEGIATAN
INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ONAN HASANG KECAMATAN PAHAE JULU
KABUPATEN TAPANULI UTARA TAHUN 2012
Rutmina Fretti1, Heru Santosa2, Asfriyati2 1
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat USU 2
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat USU ABSTRACT
Early initiation of breastfeeding is a natural process of breastfeeding is to provide opportunities for baby to explore and to suck milk itself, within the first hour at the beginning of a baby's life. Early initiation of breastfeeding success of the program is expected to support exclusive breastfeeding. The purpose of this study was to determine the effect of education, training, knowledge, attitudes, actions midwives in Early Initiation of Breastfeeding activities at the the work area Onan Hasang Health Center 2012.
This research is a descriptive analytic cross sectional design. The population is all midwives in the work area Onan Hasang Health center 30 people and all were sampled. The data used are primary data obtained through questionnaires and secondary data, in the form of common data and demographic data. Data were analyzed using Chi-Square test.
The results showed that the variables that influence the attitude factor (p = 0.034) and action (p = 0.029) with a p-value ˂α = 0.05. While educational factors (p =
0.586), training factors (p = 0.781), and the knowledge factor (p = 0.272) with a p-value ˃α = 0.05 in the Early Initiation of Breastfeeding activities.
Expected to midwifery education in particular midwives and health workers to improve the quality and service quality in providing midwifery care and applying Early Initiation of Breastfeeding in every birth and provide counseling and education about the Early Initiation of Breastfeeding mothers.
Keywords: education, training, knowledge, attitudes, actions, activities IMD PENDAHULUAN
Melahirkan merupakan pengalaman menegangkan, akan tetapi sekaligus menggembirakan. Ada satu hal yang selama ini tidak disadari dan tidak dilakukan orang tua dan tenaga medis, tetapi begitu vital bagi kehidupan bayi selanjutnya. Ternyata, dalam satu jam pertama setelah melahirkan, ada perilaku menakjubkan antara bayi dan ibunya yaitu proses menyusui dimulai segera
setelah lahir dengan membiarkan bayi diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit bayi ke kulit ibu, bayi akan mulai merangkak untuk mencari puting ibu dan menghisapnya. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) berperan dalam pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu membantu mengurangi kemiskinan dan kelaparan dan membantu mengurangi angka
2 kematian anak dengan target
menurunkan angka kematian sebanyak 2/3 dari tahun 1990 sampai tahun 2015 (Soetjiningsih, 1997).
Menurut Protokol Evidence Based yang baru diperbarui oleh WHO dan UNICEF tentang asuhan bayi baru lahir untuk satu jam pertama menyatakan bahwa bayi harus mendapat kontak kulit ke kulit dengan ibunya segera setelah lahir paling sedikit satu jam, bayi harus dibiarkan untuk melakukan Inisiasi Menyusui dan ibu dapat mengenali bahwa bayinya siap untuk menyusui serta memberikan bantuan jika diperlukan, menunda semua prosedur lainnya yang harus dilakukan kepada Bayi sampai dengan Inisiasi Menyusui selesai dilakukan (Roesli, 2008).
Berdasarkan penelitian WHO 2000, dienam negara berkembang yaitu Brasil, Ghana, India, Oman, Norwegia, dan Amerika Serikat resiko kematian bayi antara usia 9-12 bulan meningkat 40% jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia kurang dari 2 bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 48%, sekitar 40% kematian balita terjadi satu bulan pertama kehidupan bayi. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat mengurangi 22% kematian bayi 28 hari, berarti Inisiasi Menyusu Dini (IMD) mengurangi kematian balita 8,8% (Roesli, 2008).
Menurut penelitian-penelitian dari Inggris (2006) dibawah pimpinan Karen Edmond yang melakukan penelitian di Ghana terhadap hampir 11.000 bayi, jika bayi diberi kesempatan menyusu dalam waktu satu jam pertama dengan membiarkan kontak kulit ke kulit, maka 22% nyawa bayi kurang dari 28 hari dapat diselamatkan, jika mulai menyusui pertama saat bayi berusia lebih dari 2
jam dan dibawah 24 jam pertama, tinggal 16% nyawa bayi dibawah 28 hari dapat diselamatkan (Roesli, 2006).
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (2007), terdapat 95% anak di bawah umur 5 tahun yang pernah mendapat ASI. Akan tetapi, hanya 44% yang mendapat ASI satu jam pertama setelah lahir dan 62% yang mendapat ASI dalam hari pertama setelah lahir, yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan sebanyak 73%, yang diberikan ASI 2 sampai 3 bulan sebanyak 53% yang diberikan ASI 4 sampai 5 bulan sebanyak 20% dan menyusui eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 49%.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hubertin (2004), berdasarkan pengamatan terhadap 500 bayi baru lahir di Rumah Bersalin Tri Tunggal Jakarta menunjukkan bahwa bayi yang disusukan kurang dari satu jam setelah persalinan, 95% tidak rewel. ASI segera keluar satu sampai tiga jam kemudian, dan ibu tidak mengalami demam karena pembengkakan payudara pada hari ke-2 atau ke-3. Berat badan bayi pada waktu pulang hari ke-3 mengalami penurunan hanya 3-5%. Secara teori, penurunan berat badan bayi sampai dengan 10% dari berat badan bayi waktu lahir. Aktivitas bayi lebih aktif dibandingkan dengan yang diperlambat menyusu pada hari ke-2 atau ke-3 ketika ASI sudah cukup banyak (Hubertin, 2004).
Selama ini, masih banyak ibu-ibu yang mengalami kesulitan untuk menyusui bayinya. Hal ini disebabkan kemampuan bayi untuk mengisap ASI kurang sempurna sehingga secara keseluruhan proses menyusu terganggu. Keadaan ini
3 ternyata disebabkan terganggunya
proses alami dari bayi untuk menyusu sejak dilahirkan, selama ini penolong persalinan selalu memisahkan bayi dari ibunya segera setelah lahir, untuk dibersihkan, ditimbang, ditandai dan diberi pakaian. Ternyata, proses ini sangat menganggu proses alami bayi untuk menyusui. Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini belum banyak diketahui masyarakat, bahkan juga petugas kesehatan. Hal ini wajar karena Inisiasi Menyusu Dini adalah ilmu pengetahuan yang baru bagi Indonesia (Roesli, 2008).
Beberapa intervensi yang dapat mengganggu kemampuan alami bayi untuk mencari dan menemukan sendiri payudara ibunya diantaranya: obat kimiawi yang diberikan saat ibu melahirkan bisa sampai ke janin melalui ari-ari dan mungkin meyebabkan bayi sulit menyusu pada payudara ibu. Kelahiran dengan obat-obatan atau tindakan, seperti operasi caesar, vakum, forcep, bahkan perasaan sakit didaerah kulit yang digunting saat episiotomi dapat pula mengganggu kemampuan alamiah ini. Penting untuk menyampaikan informasi tentang Inisiasi Menyusu Dini pada petugas kesehatan yang belum menerima informasi ini. Dianjurkan juga kepada petugas kesehatan untuk menyampaikan informasi Inisiasi Menyusu Dini pada orang tua dan keluarga sebelum melakukan Inisiasi Menyusu Dini. Juga dianjurkan untuk menciptakan suasana yang tenang, nyaman dan penuh kesabaran untuk memberi kesempatan bayi mencari payudara ibu atau the breast crawl (Roesli, 2008).
Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas, disebabkan masih banyaknya sikap para petugas persalinan dari berbagai
tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kesehatan seperti konsep baru tentang pemberian ASI dan hal-hal yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersalin dan ibu menyusu dan bayi baru lahir. Bahkan ada juga sikap petugas kesehatan yang langsung memberikan susu botol pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar ibu mampu memberikan ASI kepada bayinya (Baskoro, 2008).
Persiapan menyusui pada masa kehamilan dan nifas merupakan hal yang penting, sebab dengan persiapan yang lebih baik, maka ibu lebih siap untuk menyusui bayinya. Oleh karena itu di Rumah Sakit, Puskesmas atau di Rumah Bersalin terdapat kelas seperti kelas persiapan menjadi orang tua (parent education), yang salah satu materi yang disampaikannya adalah bimbingan persiapan menyusui. Bidan dan perawat sangat berperan dalam memberikan penyuluhan-penyuluhan persiapan menyusui bagi ibu agar mendapatkan air susu yang optimal (Maryunani, 2009).
Berhasil atau tidaknya penyusuan dini di tempat pelayanan ibu bersalin, Rumah Sakit sangat tergantung pada petugas kesehatan yaitu perawat, bidan atau dokter. Merekalah yang pertama-tama akan membantu ibu bersalin melakukan penyusuan dini. Petugas kesehatan di kamar bersalin harus memahami tatalaksana laktasi yang baik dan benar, petugas kesehatan tersebut diharapkan selalu mempunyai sikap yang positif terhadap penyusuan dini. Mereka diharapkan dapat memahami,
menghayati dan mau
melaksanakannya. Betapapun sempitnya waktu yang dipunyai oleh petugas kesehatan tersebut,
4 diharapkan masih dapat meluangkan
waktu untuk memotivasi dan membantu ibu habis bersalin untuk penyusuan dini. Pada seorang primipara, ASI sering keluar pada hari ke 3 dan jumlah ASI selama 3 hari pertama hanya 50 ml (kira-kira 3 sendok makan), bila hal ini tidak diketahui baik oleh ibu maupun oleh petugas kesehatan, maka akan banyak ibu yang merasa ASI nya kurang, hal ini akan mendorong ibu tersebut untuk memberikan susu formula yang mengakibatkan produk ASI berkurang. Pengisapan ASI 30 menit pertama setelah lahir dengan adanya refleks mengisap akan mempercepat keluarnya ASI, juga merupakan stimulan dini terhadap tumbuh kembang anak, tidak dianjurkan memberikan prelacteal feeding yaitu minum, makan sebelum ASI keluar karena akan menimbulkan masalah, lebih-lebih kalau prelacteal feeding tersebut diberikan dengan menggunakan botol dot, hal ini akan menyebabkan bayi bingung (nipple confuse) yang disebabkan perbedaan mekanisme menyusui pada payudara ibu (Umar, 2000).
Peran Rumah Sakit Bersalin, Rumah Sakit Umum dan Puskesmas sangat menentukan pelaksanaan penyusuan dini. Peraturan Pemerintah telah banyak mendukung pelaksanaan penyusuan dini, peraturan-peraturan tersebut yaitu melarang para produsen susu buatan mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa susu buatan tersebut semutu ASI atau lebih dari ASI. Melarang promosi susu buatan/formula di semua sarana pelayanan kesehatan termasuk posyandu. Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai umur 6 bulan dan menganjurkan pemberian ASI sampai 2 tahun. Melaksanakan rawat
gabung di tempat persalinan baik unit persalinan milik pemerintah maupun swasta. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal ASI sehingga petugas tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan tentang ASI kepada masyarakat (Umar, 2000).
Menurut profil Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008 menunjukkan bahwa, pemberian ASI pada bayi di Sumatera Utara mencapai 96,5% tetapi hanya 30% dari mereka yang menyusui sampai 2 tahun. Sedangkan cakupan ASI Eksklusif yang ditargetkan dalam Program Pembangunan Nasiolal (PROPENAS) adalah 80% (Dinkes, 2008).
Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu Kabupaten yang belum mampu mencapai target pencapaian ASI Eksklusif sesuai dengan target PROPENAS yaitu 80%, dan salah satu Puskesmas yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara adalah Puskesmas Onan Hasang. Berdasarkan survei awal di Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu di jumpai jumlah kelahiran bayi pada tahun 2012 sebanyak 155 bayi, 75 orang (48,3%) bayi di antaranya mendapat ASI Eksklusif dan yang dilakukan IMD saat 1 jam setelah kelahiran hanya sekitar 10 bayi, hal ini disebabkan kebanyakan ibu menolak untuk dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) karena masih merasakan sakit dan kelelahan pasca persalinan. Pada sisi lain, saat wawancara singkat peneliti dengan 10 orang petugas kesehatan di Puskesmas Onan Hasang, terdapat 4 orang petugas kesehatan yang kurang mengetahui tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan petugas kesehatan masih menganggap Inisiasi Menyusu Dini
5 dilakukan apabila ada asisten dan dari
155 jumlah bayi yang dilahirkan, yang dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) hanya 10 bayi saja karena Ibu menolak untuk dilakukan IMD. Seperti telah dijelaskan di atas, keberhasilan ASI eksklusif sangat didukung oleh keberhasilan pemberian ASI segera setelah lahir melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dan keberhasilan IMD sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan tindakan bidan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh bidan dalam kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui mengetahui faktor yang memengaruhi bidan dalam kegiatan inisiasi menyusu dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2012.
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
Menambah masukan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan untuk meningkatkan dukungan terhadap pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini.
b. Bagi Penelitian Selanjutnya
Menambah referensi yang menunjang ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan mahasiswa tentang Inisiasi Menyusu Dini. c. Bagi Instansi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan pengetahuan bagi petugas kesehatan tentang peran petugas kesehatan dalam pelaksanaan
Inisiasi Menyusu Dini sehingga dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya dilakukan Inisiasi Menyusu Dini agar tercapainya program ASI eksklusif.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan desain cross sectional yaitu untuk mempelajari adanya hubungan pendidikan, pelatihan, pengetahuan, sikap, dan tindakan bidan dalam kegiatan inisiasi menyusu dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012.
Lokasi Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Onan Hasang, Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara.
Populasi adalah seluruh bidan yang memiliki ijin praktek sebanyak 30 orang di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara dan seluruhnya dijadikan sampel. Metode Pengumpulan Data:
a. Data Primer: Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan bidan dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun dan diobservasi langsung kepada ibu yang menyusui dini.
b. Data Sekunder: Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Pahae Julu yang berupa data umum dan data demografi.
Analisis data dilakukan secara bertahap, yaitu dengan analisis univariat dan analisis bivariat.
6 HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil pemeriksaan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hubungan Pendidikan Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012
Pendidikan Kegiatan IMD Jumlah Dilakukan Tidak Dilakukan n % n % N % D III 12 44,4 15 55,6 27 100 D IV/ S1 2 66,7 1 33.3 3 100 (χ)²= 0,464 dan p = 0,586
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa dari 27 bidan yang berpendidikan D III yang tidak melakukan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini sebanyak 15 (55,6%). Hasil uji Fisher’s Exact Test diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini dengan nilai (p=0,586)˃(α=0,05)
sehingga Ho diterima.
Meskipun mayoritas responden mempunyai tingkat pendidikan sebagai D III Kebidanan dan meskipun mereka sudah mengetahui tentang Inisiasi Menyusu Dini, tetapi dalam pelaksanaannya hanya untuk ASI Eksklusif saja. Lulusan pendidikan bidan pada tingkat Diploma III menerapkan ilmu pengetahuan klinik kebidanan untuk memberikan pelayanan kebidanan yang terorganisir, maupun praktik mandiri (Mustika, 2006).
Tabel 2. Hubungan Pelatihan Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012
Pelatihan Kegiatan IMD Jumlah Dilakukan Tidak Dilakukan n % n % n % Pernah 8 42,1 11 57,9 19 100 Tidak Pernah 6 54,5 5 45,5 11 100 (χ)²= 0,510 dan p = 0,781
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa apat dilihat dari bidan yang pernah mengikuti pelatihan dengan tidak melakukan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini atau tidak sesuai dengan tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini lebih banyak dijumpai sebanyak 11 (57,9%). Hasil uji pearson chi-square diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini dengan nilai (p=0,781)˃(α=0,05)
sehingga Ho diterima.
Bidan yang mendapat pelatihan tentang Inisiasi Menyusu Dini sudah termotivasi untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini dan sebagian bidan mengatakan bahwa pelatihan dapat meningkatkan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini dimana lamanya mengikuti pelatihan rata-rata 1-4 hari yang dilaksanakan di tempat yang berbeda.
Menurut Fitriani (2010), ada beberapa faktor yang mempengaruhi tindakan bidan dalam penerapan inisiasi menyusu dini salah satunya adalah pelatihan tentang insiasi menyusu dini walaupun sebagian bidan telah melakukan tindakan cukup, peneliti menyarankan perlunya perencanan yang matang dalam mempromosikan praktek inisiasi menyusu dini, termasuk didalamnya pelatihan bidan, selain itu
7 penelitian ini perlu ditindak lanjuti
melalui penelitian dengan skala yang lebih luas serta dengan metode yang lebih bervariasi untuk memberikan keyakinan terhadap hasil yang diperoleh, sehingga hasilnya lebih bermanfaat dan dapat diterapkan. Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012
Pengetahuan Kegiatan IMD Jumlah Dilakukan Tidak Dilakukan n % n % n % Baik 9 60,0 6 40,0 15 100 Buruk 5 33,3 10 66,7 15 100 (χ)²= 0,143 dan p = 0,272
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa tingkat pengetahuan yang buruk lebih banyak dijumpai pada kegiatan Inisiasi Menyusu Dini yang tidak dilakukan atau tidak sesuai dengan tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini sebanyak 10 (66,7%). Hasil uji pearson chi-square diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini dengan nilai (p=0,272)>(α=0,05) sehingga Ho
diterima.
Diketahui bahwa bidan sudah memahami tentang Inisiasi Menyusu Dini, tatalaksana, tujuan dan manfaat Inisiasi Menyusu Dini akan tetapi dalam pelaksanaannya masih banyak yang belum tepat atau untuk ASI Eksklusif saja. Pemahaman tentang IMD merupakan hal yang sangat penting. Apabila individu, keluarga, petugas kesehatan khususnya bidan dan masyarakat telah memahami tentang pengertian, manfaat, serta tujuan dari IMD, maka IMD dapat terlaksana dengan baik sehingga dapat diharapkan meningkatkan
cakupan ASI Eksklusif khususnya di Wilayah kerja Puskesmas Onan Hasang.
Prohealth (2009), menyatakan peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Selain itu ada faktor lain yang berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang, yaitu yang berasal dari pengalaman, hubungan sosial dan paparan media massa seperti majalah, TV, dan buku.
Tabel 4. Hubungan Sikap Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupate Tapanuli Utara Tahun 2012 Sikap Kegiatan IMD Jumlah Dilakukan Tidak Dilakukan n % n % n % Baik 8 72,7 3 27,3 11 100 Sedang 6 40,0 9 60,0 15 100 Buruk 0 0,0 4 100,0 4 100 (χ)²= 2,088 dan p = 0,148
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa bidan yang memiliki sikap baik yang melakukan kegiatan inisiasi menyusu dini lebih banyak dijumpai dari pada sikap sedang dan buruk sebanyak 8 (72,7%). Hasil uji statistik Fisher’s Exact test didapatkan nilai (p=0,026)<(α=0,05) sehingga Ho
ditolak dan memiliki hubungan yang bermakna. Artinya bahwa ada hubungan antara sikap dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini.
Diketahui bahwa bidan mendukung adanya program Inisiasi Menyusu Dini dimana banyak bidan yang sangat setuju bahwa Inisiasi Menyusu Dini dapat meningkatkan keberhasilan ASI Eksklusif dan dapat memberikan keuntungan bagi ibu dan bayi, tetapi sebagian bidan setuju
8 bahwa untuk mempercepat
pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini bayi didorong untuk menemukan payudara ibu padahal seharusnya bayi dibiarkan sendiri mencari putting susu ibu.
Azwar (2008), menyatakan bahwa pembentukan sikap terhadap berbagai objek dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, dan media massa. Sikap yang didasari pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas. Seseorang yang dianggap penting akan banyak memengaruhi sikap dan umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Selain itu media massa seperti majalah, surat kabar dan buku-buku mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang, sehingga memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap.
Tabel 5. Hubungan Tindakan Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012
Tindakan Kegiatan IMD Jumlah Dilakukan Tidak Dilakukan n % n % n % Baik 8 72,7 3 27,3 11 100 Buruk 6 31,6 13 68,4 19 100 (χ)²= 0,029 dan p = 0,029
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa bidan yang memiliki tindakan buruk lebih banyak dijumpai dari pada bidan yang memiliki tindakan baik pada yang tidak melakukan kegiatan IMD sebanyan 13 (68,4%). Dari hasil uji statistik pearson chi-square didapatkan nilai (p=0,029)˂(α=0,05)
sehingga Ho ditolak dan adanya memiliki hubungan yang bermakna. Artinya bahwa ada hubungan antara tindakan dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini.
Banyak faktor yang memengaruhi Inisiasi Menyusu Dini sangat sulit untuk berkembang, salah satunya adalah karena Inisiasi Menyusu Dini merupakan ilmu yang baru dan penerapannya masih sulit untuk dilaksanakan, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari bidan, masih rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusu yang benar, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan pemasaran agresif oleh perusahaan-perusahaan susu formula yang tidak saja memengaruhi ibu namun juga bidan serta persepsi budaya yang menentang pemberian ASI yaitu masih kuatnya kepercayaan keluarga bahwa ibu memerlukan istirahat yang cukup setelah melahirkan dan menyusui sulit dilakukan dan kolostrum yang keluar pada hari pertama tidak baik untuk bayi serta sebab dari orang tuanya sendiri tidak ingin melaksanakan karena merasa khawatir dan kasihan melihat bayinya.
Syafrina (2011), yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam pelaksanaan IMD tidak serta merta oleh bidan, dimana sudah disinggung diatas bahwa bidan tidak bisa bertindak sendiri untuk kegiatan IMD, banyak faktor antara lain kesediaan ibu bersalin, suami, dan keluarga. Niat (intention) dipengaruhi langsung oleh sikap (attitude) dan norma subjektif (subjectif norm) yang berhubungan dengan perilaku.
9 KESIMPULAN DAN SARAN
Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah:
1. Dari total keseluruhan 30 responden terdapat 14 (46,7%) bidan yang melakukan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini dan yang tidak melakukan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini atau tidak sesuai dengan tatalaksana kegiatan Inisiasi Menyusu Dini sebanyak 16 (53,3%) karena Inisiasi Menyusu Dini merupakan ilmu yang baru dan penerapannya masih sulit untuk dilaksanakan, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari bidan, masih rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusu yang benar. 2. Bidan yang lebih banyak dijumpai
berpendidikan terakhir tamatan D III. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan bidan dalam kegiatan Inisiasi Menyusu Dini. 3. Bidan yang pernah mengikuti
pelatihan lebih banyak dijumpai pada Bidan yang tidak melakukan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini atau tidak sesuai dengan tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pelatihan Bidan dalam kegatan Inisiasi Menyusu Dini.
4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan Bidan dalam kegiatan Inisiasi Menyusu Dini.
5. Adanya hubungan yang bermakna anatar sikap bidan dalam kegiatan Inisiasi Menyusu Dini.
6. Adanya hubungan yang bermakna anatar tindakan dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini.
Adapaun Saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Pendidikan Kebidanan
Dari hasil penelitian ini dapat menjadi suatu cerminan kondisi bidan di masyarakat sebagai lingkup utama dalam memberikan asuhan kebidanan, maka dalam pendidikan kebidanan hendaknya lebih menekankan pemberian asuhan kebidanan yang
komprehensif untuk
diimplementasikan pada pelayanan internatal care khususnya dalam penerapan inisiasi menyusu dini. 2. Bagi Pelayanan Kebidanan
Hendaknya pelayanan kesehatan khususnya bidan meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan dalam memberikan asuhan kepada ibu bersalin dan menerapkan inisiasi menyusu dini dalam setiap persalinan dan meningkatkan pengetahuan sehingga bidan dapat menerapkan asuhan Inisiasi Menyusu Dini di tempat prakteknya serta diharapkan kepada Bidan agar lebih meningkatkan program inisiasi menyusu dini (IMD) dan memberikan informasi kepada ibu-ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tindakan bidan dalam menerapkan Inisiasi Menyusu Dini oleh karena itu peneliti menyarankan faktor lain untuk diteliti pada penelitian berikutnya.
10 DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta : BKKBN Azwar, Syaifuddin. 2008. Sikap
Manusia: Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Baskoro, Anton. 2008. ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui. Yogyakarta: Banyu Media. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera
Utara. 2008. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008. Sumut.
Fitriani. 2010. Tindakan Bidan Dalam Penerapan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2010. KTI D-IV Bidan Pendidik Fakultas keperawatan USU. Hubertin, Sri Purwanti. (2004).
Konsep Penerapan ASI Eksklusif. EGC : Jakarta. Maryunani, Anik. 2009. Asuhan
Pada Ibu dalam masa Nifas. Jakarta: CV. Trans Info Media. Mustika, Sofyan. 2006. Bidan
Menyongsong Masa Depan. Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta
Prohealth. 2009. Pengetahuan dan
Faktor-faktor yang Memengaruhi. http://forbetterhealth.wordpress. com/2009/04/19/pengetahuan- dan-faktor-faktor-yang-memengaruhi. [02 Februari 2013]
Roesli. 2006. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya, Anggota IKAPI. Roesli. 2008. Inisiasi Menyusui
Dini. Jakarta: Pustaka Bunda. Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk
untuk Tenaga Kesehatan, Seri Gizi Klinik, cetakan 1. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Syafrina. 2011. Pengetahuan, Sikap,
Dan Tindakan Bidan
Kelurahan Siaga Dalam Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Di Kota Dumai. Skripsi FKM USU.
Umar,Nuchsan. 2000. Manfaat Pemakaian ASI Eksklusif. Cermin Dunia Kedokteran Vol 126 Masalah anak [Online] http://www.kalbe.co.id . diakses 15 Agustus 2012.
1 PERUBAHAN PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA YANG MEMILIKI PASANGAN TERHADAP PEMERIKSAAN PAP SMEAR SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN PENYULUHAN TENTANG
DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DENGAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI KELURAHAN GLUGUR DARAT I KECAMATAN
MEDAN TIMUR KOTA MEDAN TAHUN 2012 Rosmala Dewi1, Asfriyati2, Abdul Jalil Amri Arma2
1
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat USU 2
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat USU ABSTRACT
Cervical cancer is a disease that causes malignant gynecologic problems in women’s health. Pap smear is a microscopic examination that can detect cancer cells. The earlier the cancer cells are detected, the lower the risk of women who have a spouse suffering from cervical cancer. In fact, women who have a partner are still not aware of the importance of pap smears, due to low level of knowledge, lack of access to information and lack of response to a pap smear.
This research is a quasi experiments with the approach one group pretest-posttest. The population in this study are all women who have a partner who has never done a pap smear and lived in Kelurahan Glugur Darat I then selected an accidental sampling and obtained a sample of 72 respondents. The statistical test used was the Wilcoxon test.
Before the extension 50 respondents had a good knowledge and 22 have sufficient knowledge. After the extension 72 respondents had a good knowledge. Before the extension 24 respondents have a good attitude and 48 have enough attitude. After the extension 67 respondents have a good attitude and 5 have enough attitude. There are changes in knowledge and attitudes of women who have a partner for a pap smear before and after giving information to the value of p = 0.0001.
Health workers are expected to do counseling about cervical cancer and pap smears to improve knowledge and attitudes so that women who have a partner willing to do a pap smear.
Key word: pap smear, knowledge and attitude PENDAHULUAN
Kanker merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbesar pada abad ini. Secara umum kanker dapat menyerang hampir setiap bagian tubuh manusia, diantara kemungkinan yang paling besar terkena kanker adalah sistem reproduksi wanita, salah satunya adalah leher rahim. Kanker leher
rahim (kanker serviks) merupakan penyakit keganasan ginekologik yang menimbulkan masalah dalam kesehatan kaum wanita terutama di negara berkembang. Kanker ini mulai ditemukan di usia 25-34 tahun dan puncaknya pada usia 45-54 tahun. (Kusuma, 2004).
Di dunia, seorang wanita meninggal setiap dua menit akibat kanker serviks ini dan diperkirakan
2 angka kematian mencapai 270.000
kematian setiap tahunnya. Ini merupakan angka kematian yang besar, yang memicu stress baik dari segi emosional maupun fisik terhadap wanita bahkan pada tahap prakanker (Sastrosudarmo, 2012).
Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2008, terdapat 530.000 kasus baru kanker serviks. Negara-negara dengan kasus kanker serviks tertinggi adalah Afrika Barat (ASR lebih dari 30,0 per 100-000), Afrika Selatan (26,8 per 100.000), Asia Tengah (24,6 per 100.000), Amerika Selatan dan Afrika Tengah (masing-masing 23,9 dan 23,0 per 100.000). Negara dengan kasus kanker serviks terendah adalah Asia Barat, Amerika Utara dan Australia dengan ASR kurang dari 6 per 100.000. Secara keseluruhan angka kematian yang disebabkan oleh kanker serviks mencapai 275.000 (52%) dan 88% diantaranya terjadi di negara berkembang yaitu 53.000 di Afrika, 31.700 di Amerika Latin dan Karibia, dan 159.800 terjadi di Asia.
World Health Organization (WHO) mencatat penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker penyebab kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks. Sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia. Musababnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut (Saifullah, 2012).
Di negara maju kasus kanker serviks sudah menurun yaitu pada urutan kelima, hal ini kemungkinan karena dilakukan upaya pencegahan sekunder dan deteksi dini melalui program pemeriksaan “pap smear” yang dilakukan secara periodik dan teratur. Di Indonesia pada umumnya penderita kanker serviks baru berobat setelah stadium lanjut sehingga lebih sukar diatasi. Hal tersebut mungkin karena faktor ekonomi dan tidak mampu menjalani pemeriksaan pap smear, juga karena ketidaktahuan (Kusuma, 2004).
Pemeriksaan pap smear dilakukan untuk mendeteksi perubahan-perubahan prakanker yang mungkin terjadi pada serviks. Uji ini bisa dilakukan pada semua wanita yang berusia antara 20 sampai 64 tahun. Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa sekitar separuh dari semua wanita yang didiagnosa mengidap kanker serviks adalah mereka yang tidak pernah melakukan pemeriksaan pap smear atau terakhir kali melakukan uji itu dalam waktu lebih dari lima tahun sebelumnya (Indrawati, 2009).
WHO merekomendasikan semua wanita yang telah menikah atau telah berhubungan seksual untuk menjalani pemeriksaan pap smear minimal setahun sekali. Namun minimnya kesadaran masyarakat Indonesia terutama perempuan akan kanker maka peringkat kanker serviks menduduki peringkat pertama (Kusuma, 2004).
Penyebab masalah lain dalam deteksi dini adalah rasa takut kalau pap smear akan menyatakan bahwa mereka menderita kanker sehingga mereka lebih memilih untuk menghindarinya. Perasaan malu, khawatir atau cemas untuk menjalani pemeriksaan pap smear karena
3 adanya pikiran tentang ada orang lain
selain pasangan yang memasukkan sesuatu ke dalam dirinya, selain itu serangan dari pasangan yang beranggapan bahwa telah melakukan persetubuhan dengan siapa saja, sehingga mempengaruhi wanita tidak melakukan pemeriksaan pap smear (Evennet, 2004).
Menurut Evennet (2004), dampak dari tidak melakukan pemeriksaan pap smear adalah tidak terdeteksinya gejala awal dari kanker serviks. Sebagaimana kanker umumnya maka kanker serviks akan menimbulkan masalah berupa kesakitan (morbiditas) penderitaan, kematian, finansial/ekonomi maupun lingkungan bahkan pemerintah (Farid, 2001).
Mengingat beratnya akibat yang ditimbulkan oleh kanker serviks dipandang dari segi harapan hidup, lamanya penderitaan, serta tingginya biaya pengobatan, sudah sepatutnya apabila kita memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penyakit yang sudah terlalu banyak meminta korban itu, dan segala aspek yang berkaitan dengan penyakit tersebut serta upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan. (Bustan, 2007).
Departemen Kesehatan menganjurkan bahwa semua wanita yang berusia 20-60 tahun harus melakukan pemeriksaan pap smear. Di Kota Medan, deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear telah dijalankan di Puskesmas Glugur Darat. Dari hasil observasi dan data yang didapat dari Puskesmas diketahui bahwa di Kelurahan Glugur Darat I selama tahun 2011, jumlah wanita yang memiliki pasangan yang menjalani pemeriksaan pap smear masih rendah, yaitu 35 dari 2678 orang
(1,31%), sedangkan 2643 orang lagi belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear padahal Puskesmas Glugur Darat yang merupakan tempat melakukan pemeriksaan pap smear berada di Kelurahan Glugur Darat I. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran wanita yang memiliki pasangan untuk melakukan pemeriksaan dini masih rendah yang dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kurangnya respon terhadap pemeriksaan pap smear.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 10 orang wanita yang memiliki pasangan pada bulan Juli 2012, hanya 1 orang yang pernah melakukan pemeriksaan pap smear, sedangkan yang lainnya belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan tidak tahu dan belum pernah mendapat informasi tentang kanker serviks dan pap smear. Oleh karena itu perlu diberikan informasi tentang deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear melalui penyuluhan kepada wanita yang memiliki pasangan di Kelurahan Glugur Darat I.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, perumusan masalah penelitian adalah masih rendahnya jumlah wanita yang memiliki pasangan yang melakukan pemeriksaan pap smear di Kelurahan Glugur Darat I sehingga ingin diteliti “Perubahan Pengetahuan Dan Sikap Wanita yang memiliki pasangan Terhadap Pemeriksaan Pap smear Sebelum Dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Tentang Deteksi Dini Kanker Serviks Dengan Pemeriksaan Pap smear Di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Kota Medan Tahun 2012”.
4 Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap wanita yang memiliki pasangan terhadap pemeriksaan pap smear sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Kota Medan Tahun 2012.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Sebagai informasi bagi Dinas Kesehatan Kota Medan agar meningkatkan motivasi dan kinerja tenaga kesehatan khususnya di Wilayah kerja Puskesmas Glugur Darat Kelurahan Glugur Darat I.
2. Bagi wanita yang memiliki pasangan agar dapat menjadi tambahan pengetahuan tentang pentingnya melakukan pemeriksaan pap smear
3. Bisa dijadikan sumber referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut terutama yang
berhubungan dengan
pemeriksaan pap smear. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan pendekatan one group pretest-posttest yaitu sebuah kelompok sampel dengan subjek yang sama namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang berbeda, tujuannya untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap wanita yang memiliki pasangan terhadap pemeriksaan pap smear sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita yang memiliki pasangan yang belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear dan tinggal di Kelurahan Glugur
Darat I Kecamatan Medan Timur sebanyak 2643 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita yang memiliki pasangan yang belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear dan berada di Kelurahan Glugur Darat I yang terpilih menjadi sampel serta bersedia ikut serta dalam penelitian sebanyak 77 orang.
Aspek pengukuran: 1. Tingkat pengetahuan
Pada komponen pengetahuan terdapat 15 pertanyaan dengan tiga alternatif pilihan jawaban. Diberi skor 2 untuk jawaban benar, skor 1 untuk jawaban hamper benar, dan skor 0 untuk jawaban tidak tahu. Total skor pengetahuan tertinggi adalah 30 dan terendah adalah 0. Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan tingkat pengetahuan responden dengan kriteria sebagai berikut:
a. Baik, jika responden mendapatkan skor 21-30
b. Cukup, jika responden mendapatkan skor 11-20
c. Kurang, jika responden mendapatkan skor 0-10.
2. Sikap
Komponen sikap terdiri dari 10 pertanyaan dengan lima alternatif pilihan jawaban. Nilai diukur dengan skor 5 untuk jawaban sangat setuju, skor 4 untuk jawaban setuju, skor 3 untk jawaban ragu-ragu, skor 2 untuk jawaban tidak setuju dan skor 1 untuk jawaban sangat tidak setuju. Kecuali untuk pernyataan nomor 3, 5, 7 dan 9 pemberian skor merupakan kebalikan dari soal nomor 1, 2, 4, 6, 8 dan 10. Total skor tertinggi adalah 50 dan terendah adalah 10. Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan sikap responden dengan kriteria sebagai berikut:
5 a. Baik, jika responden
mendapatkan skor 37-50
b. Cukup, jika responden mendapatkan skor 24-36
c. Kurang, jika responden mendapatkan skor 10-23.
HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun hasil dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pengumpulan data tahap pertama (pretest) dilakukan pada hari Kamis 20 Desember 2012. Pretest dilakukan pada hari yang sama sebelum dilakukan penyuluhan tentang deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear. Berdasarkan perhitungan besar sampel, besar sampel minimal yang dibutuhkan adalah 77 orang sedangkan wanita yang memiliki pasangan yang hadir sebanyak 81
orang dan seluruhnya mengisi kuesioner yang diberikan. Setelah selesai mengisi kuesioner dilanjutkan dengan penyampaian materi penyuluhan dengan metode ceramah dan disertai dengan pembagian leaflet dan dilanjutkan dengan diskusi. Pengumpulan data tahap kedua (posttest) dilakukan pada hari Kamis 27 Desember 2012. Pengumpulan data tahap kedua ini sama dengan pengumpulan data pada tahap pertama yaitu dengan membagikan kuesioner yang sama dengan kuesioner pada saat pretest kepada wanita yang memiliki pasangan. Pada posttest jumlah wanita yang memiliki pasangan yang hadir sebanyak 72 orang. Dengan pertimbangan diatas maka responden yang diambil untuk penelitian ini adalah 72 orang.
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden
No Karakteristik Responden Jumlah
(n = 72) Persentase (%) 1. Umur a. 22-27 tahun b. 28-33 tahun c. 34-39 tahun d. 40-45 tahun e. 46-51 tahun f. 52-57 tahun g. 58-63 tahun 7 20 14 6 7 7 1 9,7 27,7 19,4 8,3 9,7 9,7 1,4 J u m l a h 72 100,0 2. Pendidikan a. Tidak tamat SD b. Tamat SD c. Tamat SLTP d. Tamat SLTA e. Akademi/Sarjana 1 12 21 27 11 1,4 16,7 29,2 37,5 15,3 J u m l a h 72 100,0 3. Status Pekerjaan a. Bekerja b. Tidak bekerja 31 41 43,1 56,9 J u m l a h 72 100,0
6 Responden yang mengikuti
penyuluhan paling banyak terdapat pada kelompok umur 28-33 tahun (27,7%) diikuti oleh kelompok umur 34-39 tahun (19,4%) dan kelompok umur 22-27 tahun, 46-51 tahun dan 52-57 tahun masing-masing (9,7%). Pendidikan responden terbanyak
adalah tamat SLTA (37,5%), diikuti SLTP (29,2%), dan yang paling sedikit adalah tidak tamat SD (1,4%). Responden yang bekerja sebanyak (43,1%) dan yang tidak bekerja (56,9%).
Tabel 2. Gambaran Pengetahuan Responden Sebelum Diberikan Penyuluhan No Item Pertanyaan tentang Pengetahuan
Jawaban Total Benar Hampir Benar Tidak Tahu 1. Pengertian kanker serviks atau kanker leher rahim 26 46 - 72 2. Penyebab kanker serviks 20 51 1 72 3. Salah satu gejala kanker serviks 21 28 23 72 4. Pengaruh kanker serviks 66 2 4 72 5. Tindakan yang diambil jika menderita kanker serviks 63 7 2 72 6. Cara mencegah kanker serviks 27 21 24 72
7. Pengertian pap smear 9 62 1 72
8. Cara pelaksanaan pap smear 56 3 13 72
9. Tujuan pap smear 25 47 - 72
10. Manfaat pap smear 49 12 11 72
11. Siapa saja yang harus melakukan pemeriksaan pap smear
67 - 5 72
12. Interval pemeriksaan pap smear 35 16 21 72 13. Persiapan sebelum melakukan pemeriksaan pap
smear
35 16 21 72
14. Informasi tentang pap smear 70 2 - 72 15. Tempat melakukan pemeriksaan pap smear 48 24 - 72
Sebelum diberikan penyuluhan responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap 4 pertanyaan yang diberikan. 66 responden menjawab pertanyaan keempat dengan jawaban benar, 63 responden menjawab pertanyaan kelima dengan benar, 56 responden menjawab pertanyaan kedelapan
dengan benar, 67 responden menjawab pertanyaan kesebelas dengan benar, 62 responden menjawab pertanyaan keduabelas dengan benar dan 70 responden menjawab pertanyaan keempatbelas dengan benar.
Tabel 3. Gambaran Sikap Responden Sebelum Diberikan Penyuluhan
No Item Pernyataan tentang Sikap Jawaban Total
SS S R TS STS 1. Pap smear sangat penting untuk wanita 16 56 - - - 72 2. Seorang wanita sebaiknya melakukan pemeriksaan
pap smear jika sudah pernah melakukan hubungan seksual
6 61 5 - - 72
3. Wanita yang sering melahirkan tidak perlu melakukan pap smear
- 10 14 44 4 72 4. Setiap wanita yang sudah menikah diharuskan untuk
melakukan pap smear
7 Lanjutan (Tabel 3.)
No Item Pernyataan tentang Sikap Jawaban Total
SS S R TS STS 5. Wanita yang sedang memakai alat kontrasepsi tidak
perlu melakukan pap smear
- 24 25 23 - 72 6. Pap smear dilakukan di rumah sakit dan puskesmas 6 66 - - - 72 7. Pemeriksaan pap smear tidak dapat mengetahui
adanya gangguan pada daerah leher rahim
- 8 23 40 1 72 8. Pap smear tidak boleh dilakukan pada wanita yang
sedang menggunakan obat-obatan yang dimasukkan kedalam alat kemaluan wanita
- 30 29 13 - 72
9. Wanita yang sudah berhenti haid/ menopause tidak perlu lagi melakukan pap smear
1 29 31 10 1 72 10
.
Setiap wanita wajib melakukan pap smear minimal satu kali seumur hidup
4 63 2 2 1 72
Sebelum diberikan penyuluhan 10 responden menyatakan setuju dan 14 responden menyatakan ragu-ragu terhadap pernyataan ketiga, masing-masing 24 dan 25 responden menyatakan setuju dan ragu-ragu serta satu (1)
responden menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan kelima, 29 responden menyatakan setuju dan 31 responden menyatakan ragu-ragu terhadap pernyataan kesembilan.
Tabel 4. Gambaran Pengetahuan Responden Sesudah Diberikan Penyuluhan
Item Pertanyaan tentang Pengetahuan
Jawaban Total Benar Hampir Benar Tidak Tahu 1. Pengertian kanker serviks atau kanker leher rahim 70 2 - 72 2. Penyebab kanker serviks 68 4 - 72 3. Salah satu gejala kanker serviks 63 9 - 72 4. Pengaruh kanker serviks 71 1 - 72 5. Tindakan yang diambil jika menderita kanker serviks 71 1 - 72 6. Cara mencegah kanker serviks 40 32 - 72 7. Pengertian pap smear 30 42 - 72 8. Cara pelaksanaan pap smear 71 1 - 72
9. Tujuan pap smear 44 28 - 72
10. Manfaat pap smear 67 5 - 72
11. Siapa saja yang harus melakukan pemeriksaan pap smear
71 - 1 72 12. Interval pemeriksaan pap smear 71 1 - 72 13. Persiapan sebelum melakukan pemeriksaan pap
smear
60 9 3 72 14. Informasi tentang pap smear 71 1 - 72 15. Tempat melakukan pemeriksaan pap smear 61 11 - 72
Sesudah diberikan penyuluhan hampir seluruh pertanyaan dapat diawab dengan benar. Ada 3 pertanyaan yang mendapat nilai terendah, yaitu 40 responden menjawab pertanyaan
keenam dengan benar, 30 responden menjawab pertanyaan ketujuh dengan benar dan 44 responden menjawab pertanyaan kesembilan dengan benar.
8 Tabel 5. Gambaran Sikap Responden Sesudah Diberikan Penyuluhan
No Item Pernyataan tentang Sikap Jawaban Total
SS S R TS STS 1. Pap smear sangat penting untuk wanita 40 32 - - - 72 2. Seorang wanita sebaiknya melakukan
pemeriksaan pap smear jika sudah pernah melakukan hubungan seksual
7 65 - - - 72
3. Wanita yang sering melahirkan tidak perlu melakukan pap smear
- 3 1 65 3 72 4. Setiap wanita yang sudah menikah diharuskan
untuk melakukan pap smear
7 65 - - - 72 5. Wanita yang sedang memakai alat kontrasepsi
tidak perlu melakukan pap smear
- 7 6 59 - 72 6. Pap smear dilakukan di rumah sakit dan
puskesmas
24 48 - - - 72 7. Pemeriksaan pap smear tidak dapat mengetahui
adanya gangguan pada daerah leher rahim
- 4 2 64 2 72 8. Pap smear tidak boleh dilakukan pada wanita
yang sedang menggunakan obat-obatan yang dimasukkan kedalam alat kemaluan wanita
1 61 5 5 - 72
9. Wanita yang sudah berhenti haid/menopause tidak perlu lagi melakukan pap smear
1 10 8 52 1 72 10. Setiap wanita wajib melakukan pap smear
minimal satu kali seumur hidup
5 61 2 4 - 72
Setelah diberikan penyuluhan ada 3 responden yang menyatakan setuju dan satu (1) responden menyatakan ragu-ragu pada pernyataan ketiga, 7 responden menyatakan setuju dan 6 responden menyatakan ragu-ragu pada
pernyataan kelima dan 10 responden menyatakan setuju dan 8 responden menyatakan ragu-ragu pada pernyataan kesembilan. Dengan demikian sikap responden sesudah diberikan penyuluhan tergolong baik.
Tabel 6. Hasil Uji Wilcoxon pada Pengetahuan dan Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Pretest (n=72) Posttest (n=72) n % n % Pengetahuan 0,0001 Baik 50 69,4 72 100,0 Cukup 22 30,6 0 0,0 Kurang 0 0,0 0 0,0 Sikap 0,0001 Baik 24 33,3 67 93,1 Cukup 48 66,7 5 6,9 Kurang 0 0,0 0 0,0
Hasil uji menunjukkan bahwa tidak ada responden yang memiliki tingkat pengetahuan ‘kurang’, responden yang memiliki tingkat pengetahuan ‘cukup’ sebelum diberikan penyuluhan sebanyak 22 orang dan sesudah diberikan penyuluhan tidak ada lagi responden
yang berpengetahuan ‘cukup’, dan tingkat pengetahuan ‘baik’ sebelum diberikan penyuluhan 50 orang dan sesudah diberikan penyuluhan menjadi 72 orang. Terjadi perubahan kategori rendah ke tinggi, seperti kategori pengetahuan ‘cukup’ menjadi ‘baik’ sebanyak 22 orang.
9 Juga terjadi kategori yang tidak
berubah, seperti kategori pengetahuan ‘baik’ sebelum dan sesudahnya sama sebanyak 50 orang. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p = 0,0001 < α (= 0,05). Artinya ada
perubahan pengetahuan wanita yang memiliki pasangan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear.
Demikian juga dengan perubahan tingkat sikap, hasil uji menunjukkan tidak ada responden yaang memiliki sikap ‘kurang’. Responden yang memiliki sikap ‘cukup’ sebelum konseling 48 orang dan sesudah diberikan penyuluhan menjadi 5 orang dan responden yang memiliki sikap ‘baik’ sebelum penyuluhan 24 orang dan sesudah penyuluhan menjadi 67 orang. Terjadi perubahan kategori rendah ke tinggi, seperti kategori sikap ‘cukup’ menjadi ‘baik’ sebanyak 43 orang. Juga terjadi kategori yang tidak berubah, seperti kategori sikap ‘cukup’ sebelum dan sesudahnya sama sebanyak 5 orang dan kategori sikap ‘baik’ sebelum dan sesudahnya sama sebanyak 24 orang. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan (p
=0,0001) < α (=0,05). Artinya ada
perubahan sikap wanita yang memiliki pasangan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear.
KESIMPULAN DAN SARAN Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Sebelum diberikan penyuluhan,
pengetahuan responden tergolong baik,sesudah diberikan penyuluhan pengetahuan responden mengalami perubahan
bahkan terjadi peningkatan. Sebelum diberikan penyuluhan masih banyak responden yang bersikap ragu-ragu terhadap pemeriksaan pap smear dan setelah diberikan penyuluhan sikap yang diberikan wanita yang memiliki pasangan berubah bahkan cenderung mengalami peningkatan. Penyuluhan deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear sangat berpengaruh dalam merubah maupun meningkatkan pengetahuan dan sikap wanita yang memiliki pasangan terhadap pemeriksaan pap smear.
2. Terjadi perubahan pengetahuan dan sikap pada beberapa pertanyaan yang diberikan kepada wanita yang memiliki pasangan.
Adapun saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Puskesmas Glugur Darat Diharapkan dapat melakukan penyuluhan tentang kanker serviks dan pemeriksaan pap smear secara terstruktur dan periodik agar dapat membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kejadian kanker serviks.
2. Bagi wanita yang memiliki pasangan
Diharapkan agar lebih aktif mencari informasi yang berkaitan dengan kanker serviks dan pemeriksaan pap smear agar pengetahuan yang diperoleh bisa berkembang sehingga wanita yang memiliki pasangan mau melakukan pemeriksaan pap smear sebagai deteksi dini kanker serviks.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini masih banyak kekurangan sehingga diharapkan
10 ada penelitian lebih lanjut dari
hasil penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA
Bustan MN, 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta.
Evennet K, 2004. Apa Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pap Smear, Arcan, Jakarta. Farid AM, 2001. Buku Acuan
Nasional Onkologi dan Ginekologi, YBP-SP, Jakarta. Globocan, 2008. Lembar Kanker,
http://globocan.iarc.fr/factshe ets/cancers/cervix, diakses 14 Oktober 2012.
Indrawati M, 2009. Bahaya Kanker bagi Wanita dan Pria, Buku Pendidikan untuk Kehidupan, Jakarta.
Kusuma HW, 2004. Atasi Kanker Dengan Tanaman Obat, PT. Niaga Swadaya, Jakarta. Saifullah M, 2012. Kanker Serviks
Renggut Nyawa 8.000 Perempuan Indonesia, http://health.okezone.com/rea d/2012/05/13/482/628842/ka nker-serviks-renggut-nyawa-8-000-perempuan-indonesia, diakses 26 Agustus 2012. Madiyono B, dkk, 2011. Perkiraan
Besar Sampel. Dalam Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis, CV. Sagung Seto, Jakarta. Sastrosudarmo, 2012. Kanker The
Silent Killer, Garda Media, Jakarta.
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, CV. Alfabeta, Jakarta.
1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU SEKSUAL
NARAPIDANA REMAJA PRIA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II B BALIGE
KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2012
Nani A.K.Siregar1, Asfriyati2, Abdul Jalil Amri Arma2 1
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat USU 2
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat USU ABSTRACT
Adolescents are those who are experiencing changes from childhood into adulthood. These changes include changes in the physical and emotional changes. Juvenile inmates is a group of teenagers who have complex problems, in addition to have committed the crime, followed by poor sexual acts plus more are in prison who daily interact with other youth inmates that will influence each other.This study aims to determine the factors that influence sexual behavior in male adolescent inmates Penitentiary class IIB Balige Toba Samosir regency in 2012. This research is a descriptive-analytic. Sampling was done by sampling with a total sample size of 30 people. Data were analyzed by Chi Square test with α 0.05. The results using logistic regression showed that the significant variables, namely knowledge (p = 0.038) and attitude (p = 0.022). Predictors forecast the probability 1, that the adolescent male inmates who have less knowledge of both affected by unfavorable attitude has a probability of sexual behavior at 5.46%, while probability prediction with predictor 0 was 91,21%.Teens who are in prison have limited knowledge about sexual problems and many have done just that deviant sexual behavior. Therefore to the prison to conduct outreach efforts on adolescent reproductive health issues and sexually transmitted diseases to the inmates teenage boys.
Keywords: Adolescent Sexual Behavior-Male Inmates PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masa remaja merupakan suatu masa kehidupan individu dimana terjadi eksplorasi psikologis untuk menemukan identitas diri. Remaja mempunyai sifat yang unik, salah satunya adalah sifat ingin meniru sesuatu hal yang dilihat, kepada keadaan, serta lingkungan disekitarnya. Di samping itu, remaja mempunyai kebutuhan akan kesehatan seksual,
dimana pemenuhan kebutuhan kesehatan seksual tersebut sangat bervariasi sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman (Kusmiran, 2011).
Remaja saat ini sedang mengalami perubahan sosial yang cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang juga mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya hidup mereka. Remaja yang dahulu terjaga secara kuat oleh sistem keluarga, adat budaya, serta nilai-nilai trasdisional yang ada, telah mengalami
2 pengikisan yang disebabkan oleh
urbanisasi dan industrialisasi yang cepat. Hal ini diikuti pula oleh adanya revolusi media yang terbuka bagi keragaman gaya hidup dan pilihan karir. Berbagai hal tersebut mengakibatkan peningkatan kerentanan remaja terhadap hamil diluar nikah, aborsi, perasaan bersalah dan berdosa, timbulnya berbagai macam penyakit terutama yang berhubungan dengan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk ancaman yang meningkat terhadap penyakit infeksi menular seksual (IMS) ataupun HIV/AIDS (Sarwono, 2011).
Jenis-jenis penyakit infeksi menular seksual akibat perilaku seksual beresiko yaitu kencing nanah (gonorrhea), sifilis (raja singa), herpes, klamidia (Chlamydia), infeksi ragi (candida), chancroid, granula inguinale, lymphogranuloma venereum, HIV (Humana Immunodeficiency Virus), AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), scabies, pelvic inflammatory disease (PID), trichomonas infection, veneral warts (Dianawati, 2006). Menurut estimasi World Health Organization (WHO), terdapat 340 juta kasus baru sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis setiap tahun pada laki-laki dan perempuan usia 15-49 . Dalam salah satu penelitian yang dilakukan di Australia, dari 2.376 orang pelajar tingkat 7 sampai tingkat 12 dari suku aborigin yang dijadikan sampel, sebanyak 33,7% dari total 1.140 orang anak laki-laki pernah melakukan hubungan seksual. Sebanyak 63,3% laki-laki memiliki lebih dari satu partner seks. Sebanyak 21,4% laki-laki tidak menggunakan kondom saat terakhir kali melakukan hubungan seks.
Sebuah survey yang dilakukan oleh Youth Risk Behavior Survei (YRBS) secara nasional di Amerika Serikat pada tahun 2010 mendapati bahwa 47,8% pelajar berusia yang duduk di tingkat 9-12 telah melakukan hubungan seksual, 35% pelajar SMA telah aktif secara seksual dan 38,5% dari pelajar SMA tersebut tidak menggunakan kondom pada saat hubungan seksual yang terakhir kali dilakukan (Daili, 2011).
Hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2010, 63,4 juta jiwa atau 26,7 % dari 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia termasuk ke dalam kelompok umur remaja (10-24 tahun). Besarnya proporsi penduduk yang berusia remaja ini dapat menimbulkan beberapa masalah karena ada beberapa perilaku remaja yang mengarah ke hal-hal yang mengkhawatirkan. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, masalah itu adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas, penyebaran penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja. Semua masalah itu oleh WHO disebut sebagai masalah kesehatan reproduksi remaja, yang telah mendapat perhatian khusus dari berbagai organisasi internasional (BkkbN, 2011).
Data Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada kelompok berisiko tinggi di Indonesia pada tahun 2011 dengan responden siswa SMA menemukan 3 temuan kunci perilaku kelompok beresiko. Temuan kunci pertama, masih rendahnya pengetahuan komprehensif di kalangan remaja, hanya 22,30% responden yang
memiliki pengetahuan
komprehensif. 7,23% responden pernah berhubungan seksual dan
3 51,18% diantaranya menggunakan
kondom, 4% responden pernah menggunakan Napza dan 0,4% responden pernah menggunakan napza suntik. Temuan kedua bahwa sebanyak 7% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Dari remaja tersebut, 51% menjawab menggunakan kondom pada hubungan seksual terakhir dan 100% menggunakan kondom secara konsisten dalam hubungan seksual setahun terakhir. Temuan ketiga, dari remaja yang pernah menggunakan napza, 11% diantaranya pernah menggunakan napza suntik (Kandun, 2011).
Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2011, remaja mengaku mempunyai teman yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah usia 14-19 tahun (perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%), usia 20-24 tahun (perempuan 48,6%, laki-laki 46,5%). Dengan responden remaja berusia antara 15-24 tahun menunjukkan bahwa sebanyak 1% remaja perempuan dan 6% remaja laki-laki menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Data hasil penelitian Kementerian Kesehatan RI di 4 kota besar (Medan, Jakarta Pusat, Bandung dan Surabaya) pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 35,9% remaja mempunyai teman yang sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah dan 6,9% responden telah melakukan hubungan seks pranikah. Sementara itu, penelitian Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (JATABEK) tahun 2011 dengan jumlah sampel 3.006 responden
(usia 17 – 24 tahun) mengindikasikan sebanyak 20,9% remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah sedangkan 38,7% remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Dari data Komnas Pendidikan Anak yang menyatakan sebanyak 62,7% remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Sementara data dari BkkbN menyatakan sebanyak 51% remaja pernah melakukan seks bebas (BkkbN, 2011).
Data profil kesehatan Kabupaten Toba Samosir tahun 2010 bahwa jumlah kasus IMS sebanyak 232 kasus dan seluruhnya telah ditangani, dan data HIV/AIDS sebanyak 4 kasus yang terjadi di Kecamatan Balige 3 kasus dan kecamatan Porsea 1 kasus (Dinkes Tobasa, 2011). Pada tahun 2011 jumlah IMS meningkat menjadi 313 dan seluruhnya telah ditangani dan data HIV/AIDS sebanyak 4 kasus. Dan pada tahun 2012 menyebutkan bahwa kasus infeksi menular seksual selama tahun 2012 tidak tercatat. Hal ini karena belum baiknya sistem pencatatan dan pelaporan. Sedangkan data yang diperoleh pada tahun 2012 yaitu penderita HIV positif sebanyak 5 orang dan penderita AIDS sebanyak 6 orang (Dinkes Tobasa, 2012)
Penelitian oleh Fox dan Inaz (2002) yang dikutip dari penelitian Wahyuni (2004) didapatkan bahwa semakin sering terjadi percakapan tentang seks, maka hubungan seks dapat dicegah. Cara lain untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks adalah dengan memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengembangkan diri secara optimal yaitu dengan
4 meningkatkan kemampuan remaja
dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Rutter dkk (2003) menyatakan masalah kejahatan telah mengalami peningkatan secara signifikan selama 50 tahun terakhir ini. Fenomena peningkatan kejahatan remaja yang terjadi di Indonesia terlihat dari data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2010) selama tahun 2007 tercatat sekitar 3.100 orang pelaku tindak pidana adalah remaja yang berusia 18 tahun, jumlah tersebut pada tahun 2008 dan 2009 masing-masing meningkat menjadi sekitar 3.300 remaja dan sekitar 4.200 remaja. Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi dan Pemberdayaan Pekerja dan Anak (LAPA) Apong Herlina menyatakan setiap tahunnya sedikitnya terdapat 4000 kasus pelanggaran hukum di Indonesia yang dilakukan oleh remaja. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 90,9% remaja pelaku kejahatan pada akhirnya divonis hakim masuk penjara. Pernyataan tersebut mendukung hasil riset yang dilakukan oleh UNDP (United Nation Development Program) pada tahun 2010 bahwa 43,4 narapidana di Indonesia adalah remaja. Menurut data yang dikumpilkan oleh direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada tahun 2010, diluar dari jumlah remaja yang masih ditahan di Polsek dan Polres karena kasusnya masih ditangani, jumlah remaja yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak adalah 4.722 orang. mereka tersebar di 14 LP Anak yang ada di seluruh Indonesia (Hanni, 2010).
Berdasarkan laporan yang masuk ke Direktorat III Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, tercatat 967 kasus anak yang berhadapan dengan hukum tahun 2011. Dari jumlah tersebut perkara yang paling banyak menyeret anak ke rimba hukum yaitu kasus penganiayaan 236 kasus, kasus pencabulan 128 kasus dan pemerkosaan 65 kasus. Data terbaru dari sistem database pemasyarakatan, jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan di Indonesia baik yang berstatus yang masih tahanan dan juga narapidana saat ini mencapai 153.224 dan 5.532 diantaranya adalah anak. Sedangkan anak yang berstatus narapidana saat ini sudah mencapai 3.335 anak, yaitu 3.282 anak diantaranya narapidana laki-laki dan 73 anak narapidana perempuan. Menurut Irwanto, Direktur Pusat Kajian Perlindungan Anak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, kondisi Lembaga Pemasyarakatan Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya Lapas yang belum memiliki sarana prasarana yang layak, sanitasi, layanan kesehatan, hingga kapasitas lapas yang melampaui batas. Selain itu berdasarkan data dari KPAI menunjukkan bahwa 80% anak yang masuk ke Lapas pernah mengalami kekerasan seksual (Irwanto, 2011).
Menurut Donaldson bahwa
narapidana mempunyai
kecenderungan untuk melampiaskan kebutuhan seksual mereka dengan melakukan hubungan seks dengan teman berjenis kelamin sama melalui cara oral seks, anal seks, dan masturbasi sehingga perilaku seks yang terbatas pada pengucapan dan pembicaraan sekitar seks.