• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATAAN PENDIDIKAN TINGGI PADA ERA ADAFTASI KEBIASAAN BARU (AKB) Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENATAAN PENDIDIKAN TINGGI PADA ERA ADAFTASI KEBIASAAN BARU (AKB) Abstrak"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENATAAN PENDIDIKAN TINGGI

PADA ERA “ADAFTASI KEBIASAAN BARU (AKB)”

OLEH : A R I F I N

Abstrak

Pandemi covid 19 ini yang telah menimbulkan kerugian dari berbagai bidang

kehidupan sekaligus juga menciptakan peluang baru seyogiyanya dilihat sebagai

sebuah momentum untuk melakukan perubahan fundamental, paling tidak

mewujudkan kehidupan manusia kearah kehidupan yang lebih baik. Begitupuni

pendidikan tinggi untuk melakukan penataan kelembagaannya secara

menyeluruh. Walaupun melalui dipaksa situasi dan kondisi karena adanya virus

covid 19, pemerintah Indonesia membuat kebijakan cq Kementerian Pendidikan

untuk melaksanakan perkuliahan dengan study from home (SFH) dan “work from

home” (WFH) bagi sebagian besar tenaga kependidikan. Tentunya hal ini

merupakan sesuatu yang sangat baru bagi dunia pendidikan di Indonesia

sehingga awalnya menimbulkan kekagetan budaya (cultural shock), menurut para

ahli bahwa seluruh aktivitas melalui daring/online diprediksi akan dilaksanakan

sepuluh tahun yang akan datang, namun dengan adanya pandemi covid 19 ini

dipaksa dipercepat harus dilaksanakan masa sekarang. Sebagian besar

mahasiswa, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan kemudian harus terbiasa

menggunakan komputer, android/HP, mengikuti perkuliahan melalui aplikasi

Google Classroom, Vidio Call, Zoom atau Google Meeting, meskipun awalnya

tertatih tatih.

Kata Kunci : Pendidikan Tonggi, Adaftasi Kebiasaan Baru

1. PENDAHULUAN

Wabah Covid 19 yang mengguncang dunia telah dan akan mengubah wajah tatanan kehidupan manusia di berbagai bidang kehidupan seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dalam teori perubahan dinyatakan bahwa didunia ini tidak ada yang abadi, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Akan muncul kehidupan baru dengan tatanan baru yang dinamakan “new normal” atau dikenal dengan istilah lain “Adaftasi Kebiasaan Baru”,

sebuah istilah yang awalnya yang digunakan dalam bidang ekonomi kemudian meluas pada bidang-bidang lainnya. Pandemi covid 19 ini yang telah menimbulkan kerugian dari berbagai bidang kehidupan sekaligus juga menciptakan peluang baru seyogiyanya

dilihat sebagai sebuah momentum untuk melakukan perubahan fundamental, paling tidak mewujudkan kehidupan manusia kearah kehidupan yang lebih baik.

Salah satu aspek yang disoroti di sini adalah peluang bagi pendidikan tinggi untuk melakukan penataan kelembagaannya secara menyeluruh. Walaupun melalui dipaksa situasi dan kondisi karena adanya virus covid 19, pemerintah Indonesia membuat kebijakan cq Kementerian Pendidikan untuk melaksanakan perkuliahan dengan study from home (SFH) dan “work from home” (WFH) bagi sebagian besar

tenaga kependidikan. Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang sangat baru bagi dunia pendidikan di Indonesia sehingga awalnya menimbulkan kekagetan budaya (cultural shock)2,

(2)

menurut para ahli bahwa seluruh aktivitas melalui daring/online diprediksi akan dilaksanakan sepuluh tahun yang akan datang, namun dengan adanya pandemi covid 19 ini dipaksa dipercepat harus dilaksanakan masa sekarang. Sebagian besar mahasiswa, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan kemudian harus terbiasa menggunakan komputer, android/HP, mengikuti perkuliahan melalui aplikasi Google Classroom, Vidio Call, Zoom atau Google Meeting, meskipun awalnya tertatih tatih. Konsep SFH dan WFH sebenarnya sudah pernah dilakukan ujicoba di berbagai universitas di dunia termasuk salah satunya di Indonesia, yaitu di Universitas Terbuka (UT).3

Pada saat ini sebenarnya sedang ada proses seleksi alamiah mengenai Perguruan Tinggi manakah di lingkungan Pendidikan Tinggi yang tetap harus pekerjaannya dikerjakan di kampus dan juga berbagai jenis pekerjaan sudah mulai dapat dikerjakan di rumah (WFH), seperti perencana pendidikan, konseptor pendidikan, penyusun kebijakan pendidikan, kegiatan pendidikan yang dijalankan tanpa ada praktikum, pelayanan perijinan administrasi yang tidak memerlukan tatap muka, dan lain sebagainya.

Momentum pandemik covid 19 seperti sekarang ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pendidikan tinggi untuk menata ulang sistem perkuliahan yang efektif yang tidak mengharuskan perkuliahan setiap hari, cukup hanya dua (2) atau tiga (3) hari di aktivitas di Kampus, sebagian hari yang lainnya bisa dimanfaatkan untuk aktivitas yang bermanfaat untuk mempertajam profesionalisme dan kompetensi lainya yang menunjang terhadap karier seorang pendidik atau tenaga kependidikan, sebagaimana yang direncanakan oleh Mas Menteri dengan konsep Kampus Merdekanya. Kehadiran covid 19 ini hanya mempercepat terjadinya

perubahan, karena dalam menghadapi revolusi digital 4.0 dan 5.0 yang salah

satu karakteristiknya adalah segala sesuatunya dengan internet (Internet of Things), Kampus (dunia pendidikan) memang harus mengubah paradigma, konsep, dan kebijakan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Tujuannya adalah agar kinerjanya menjadi lebih efektif, efisien, dan adil. Kalau perubahannya dilakukan secara alamiah, maka prosesnya akan memakan waktu lama atau bahkan malah mungkin tidak selesai. Dalam hal ini diperlukan kepemimpinan Pendidikan Tinggi untuk mengambil inisiatif mengubah tata kelola Kampusnya.Seperti dikatakan olehOrganizational for Economic Coorperation and Development (OECD)4 dalam laporannya yang berjudul ‘Education Today, The OECD

Perspective’ (2009) melakukan review tentang implementasi reformasi pendidikan tinggi, dan menyarankan supaya pendidikan tinggi melakukan: 1. Recognise the viewpoints of

stakeholders through iterative policy development.

Harus ada pengembangan kebijakan yang terus menerus untuk mengkaji perbedaan sudut pandang stakeholder.

2. Allow for bottom up initiatives to come forward as proposals by independent committees. Inisiatif yang sifatnya dari level bawah harus diberikan saluran dalam bentuk proposal oleh komite independen.

3. Establish ad-hoc independent committees to initiate tertiary education reforms and involve stakeholder. Diperlukannya komite ad hoc untuk inisiasi reformasi yang melibatkan stakeholder.

4. Use pilots and experimentation. Gunakan program pengenalan dan percobaan

5. Favour incremental reforms over comprehensive overhauls unless there iswide public support for change.melaksanakan peningkatan reformasi terhadap proses perbaikan yang menyeluruh, terkecuali jika ada dukungan luas dari publik untuk perubahan.

(3)

6. Identify potential loser from tertiary education reform and build in compensatory mechanisms. Melakukan identifikasi kerugian akibat reformasi pendidikan tinggi dan membangun sistem mekanisme kompensasi.

7. Create condition for and support the successful implementation of reforms. Menciptakan kondisi dan dukungan untuk pelaksanaan reformasi yang sukses.

8. Ensure communication about the benefit of reform and the costs of inaction. Memastikan komunikasi terkait keuntungan reformasi dan biaya kegagalan.

9. Implement the full package of policy proposals. Menjalankan keseluruhan proposal kebijakan.5

Meskipun langkah penataan ulang sistem perkuliahan mungkin tidak popular dan berimplikasi politis, tetapi perlu diambil karena sangat penting untuk dapat menciptakan pendidikan tinggi adaptif menghadapi lingkungan internal dan eskternal yang mengalami perubahan disruptif. Momentum tersebut tidak datang dua kali, oleh karenanya perlu dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas dan kemajuan pendidikan, dan khususnya pendidikan tinggi dalam jangka panjang. Perubahan semacam itu, memerlukan tatakelola

perguruan tinggi yang seharusnya sudah menjalankan model kepemimpinan 4.0. sebagaimana dikemukakan oleh Kelly.6 KAJIAN TEORITIS

Secara kajian sosial, penataan organisasi perguruan tinggi termasuk ke dalam teori perubahan sosial.Menurut Zaltman and Duncan,7 penataan

organisasi masuk ke dalam tipe keempat dari kategori perubahan sosial, yakni perubahan jangka panjang (long term) dilihat dari dimensi waktunya dan masuk ke dalam tingkat masyarakat aras menengah atau kelompok {intermediate

(group)}. (sebagaimana gambar di bawah ini).

Penataan organisasi perguruan tinggi merupakan perubahan pada tingkat menengah dalam jangka panjang, perlu disusun dengan cermat berdasarkan paradigma yang disepakati, ditetapkan jangka perubahannya, kemudian disusun peta jalannya. Perubahan yang akan dilakukan kemungkinan besar akan menimbulkan penolakan oleh pihak yang terkena dampak, karena secara hipotetis dapat dikatakan bahwa seseorang akan menolak perubahan manakalah perubahannya akan mengganggu kepentingannya yang sudah tertanam. Semakin besar gangguan yang diterima akan semakin besar daya tolaknya terhadap perubahan.

Berkaitan dengan perubahan organisasi perguruan tinggi dimasa new normal. Belakangan ini, disebabkan pandemi Covid-19, istilah new normal kembali muncul dalam konteks yang lebih luas, seperti; ekonomi, politik, kehidupan sosial, pendidikan dan kebiasaan sehari-hari di masyarakat awam. Mulai dari hal yang paling sederhana, seperti pemakaian masker, membersihkan tangan setiap kali setelah menyentuh pegangan pintu atau tombol lift, menempatkan petugas pengukur suhu tubuh di pintu-pintu masuk pusat perbelanjaan dan kantor-kantor, hingga hal-hal yang kompleks seperti bekerja dari rumah dan webinar.8

Dalam konteks pendidikan, disadari atau tidak, “new normal” telah mulai terjadi secara global sejak pandemi Covid-19. Kegiatan belajar mengajar yang bisanya dilaksanakan secara tatap muka secara langsung di kelas, dimana pendidik dan peserta didik hadir secara fisik di ruang-ruang kelas dan

(4)

tempat-tempat belajar, kini digantikan dengan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik (e-learning) baik secara sinkron ataupun secara nir-sinkron. E-learning nir-sinkron dapat dilakukan secara dalam jaringan (daring) maupun secara luar jaringan (luring).

Pada pembelajaran daring, pendidik dan peserta didik pada waktu yang sama berada dalam aplikasi atau platform internet yang sama dan dapat berinteraksi satu sama lain layaknya pembelajaran konvensional yang dilakukan selama ini. Sedangkan pada pembelajaran luring, pendidik melakukan pengunggahan materi melalui web, mengirim lewat surat elektronik (e-mail) ataupun mengunggahnya melalui media sosial untuk kemudian dapat diunduh oleh peserta didik.

Dalam cara luring, peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri tanpa terikat waktu dan tempat. Di sisi lain, e-learning secara sinkron hanya dapat terjadi secara daring. Meskipun pada kenyataannya, kegiatan belajar mengajar secara e-learning telah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi dari sejak lama, namun cara pembelajaran seperti ini adalah kesadaran (awareness) terhadap era Industrial Revolution 4.0, era yang membawa perubahan pada cara manusia dalam bekerja, berinteraksi dan bertransaksi.

Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 di Tengah Covid-19

Dalam perspektif pendidikan, istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan sebagai implikasi dari Industrial Revolution 4.0 adalah Education 4.0, untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi di era Industrial Revolution 4.0 baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Education 4.0 merupakan inovasi dunia pendidikan di era Industrial Revolution 4.0, diantaranya merupakan realisasi dari suatu ketidakpastian.Education 4.0 dapat dilihat sebagai sebuah respons kreatif di

mana manusia memanfaatkan teknologi digital, open sources contents dan global classroom dalam penerapan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), flexible education system, dan personalized learning, untuk memainkan peran yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, new normal pembelajaran secara e-learning bukanlah jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi adaptasi dari sebuah kondisi yang semua orang “terpaksa” melakukannya.

Sejak dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 20209 oleh Mendikbud dan diberlakukan beberapa hari kemudian, seluruh kegiatan belajar mengajar baik di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus dilaksanakan secara daring sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran pandemi Covid-19. Tidak ada yang bisa menjangka kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Namun demikian, pascapandemi Covid-19 nantinya, new normal pendidikan yang telah dimulai seharusnya diteruskan dan disempurnakan hingga memenuhi konsep blended learning, yakni sebuah konsep pendidikan yang mengkobinasikan metode kuliah tatap muka di ruang kelas dengan e-learning, dan pada gilirannya, dunia pendidikan akan benar-benar berada dalam era education 4.0. Terkait e-learning di perguruan tinggi, jika yang menjadi ukuran adalah “dapat dilakukan”, maka tidak bisa dipungkiri bahwa semua kampus dapat melakukannya.

Namun, apakah kualitas e-learning tersebut dapat terpenuhi sesuai dengan yang diingini? Tentu saja akan sulit dijawab karena dalam hal ini melibatkan banyak faktor, memerlukan keterlibatan berbagai pihak, dan harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pada titik ini, penulis berpendapat, paling tidak ada enam hal penting yang patut menjadi perhatian sebuah perguruan tinggi dalam mempersiapkan e-learning.

(5)

Strategi penting dalam menerapkan E-learning

1. Dosen dan mahasiswa harus meningkatkan keterampilan penguasaan internet dan literasi komputer

Paling tidak, dosen harus mampu memanfatkan kanal-kanal yang tersedia, seperti Learning Management System, media komunikasi berbasis audio-video, media sosial serta media penyimpan data yang dapat digunakan membantu terjadinya kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. Secara umum, keterampilan internet dan literasi komputer mahasiswa lebih baik daripada dosen, sehingga yang menjadi pertimbangan dari sisi mahasiswa adalah koneksi internet, terutama di daerah-daerah terpencil, terdepan dan tertinggal, dan beberapa mahasiswa mungkin akan terbebani jika menggunakan paket data.

2. Menentukan kembali

capaianpembelajaran

Dosen paling tidak harus melakukan pengajaran konstruktif (constructive aligment) ulang terhadap keselarasan tiga komponen Outcome Based Education (OBE), yakni (1) capaian pembelajaran, (2) aktivitas pembelajaran, dan (3) metode asesmen yang telah disusun dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).RPS tidak perlu dirubah secara total, namun cukup dengan menentukan kembali capaian pembelajaran mana yang dapat disampaikan secara e-learning dan mana yang tidak, karena tidak semua capaian pembelajaran dapat terpenuhi dengan pelaksanaan e-learning, seperti keterampilan yang bersifat hands on, terutama pada program-program studi vokasi. Selanjutnya lakukan pemetaan ulang capaian pembelajaran terhadap aktifitas pembelajaran, termasuk penentuan metode asesmen yang

sesuai bagi setiap capaian pembelajaran.

3. Dosen harus menjamin kesiapan (readiness) materi kuliah denganPerspektif “Belajar mandiri” dalam format digital sedemikian rupa sehingga mahasiswa mudah memahami materi kuliah, terutama jika diberikan secara luring. Untuk matakuliah umum, dasar keahlian dan pengetahuan terapan, penyampaian materi kuliah dalam bentuk ringkasan kuliah sebaiknya dihindari, akan lebih tepat jikalau dosen memberikan catatan kuliah, penggunaan software simulasi yang open source, ataupun rekaman audio-video. Materi kuliah praktik yang menggunakan toolbox, dosen diharapkan menyiapkan rekaman tutorial, untuk dipelajari mahasisa secara mandiri.

4. Tentukan durasi setiap unitpembelajaran

Durasi pembelajaran erat kaitannya dengan beban belajar mahasiswa (Sudent Learning Time/SLT) yang ditentukan dengan jumlah satuan kredit yang diambil mahasiswa. Untuk pembelajaran daring, perhatikan waktu yang koheren sesuai dengan tingkat pengaturan diri dan kemampuan metakognitif mahasiswa. Penentuan durasi setiap unit pembelajaran sangatlah penting, terutama dalam memberikan tugas kepada mahasiswa. Tugas yang menyita waktu dapat membuat beban belajar mahasiswa menjadi jauh lebih tinggi dari beban kredit yang dambilnya.

5. Asesmen dalam bentuk kuis dan tugas mandiri harus siap Asesmen dalam bentuk kuis dan tugas mandiri lainnya harus direncanakan sedemikian rupa, sehingga kualitas soal tetap memenuhi taxonomy level yang sesuai dengan jenjang program studi.Ujian formatif dan sumatif sebaiknya tetap dilakukan secara langsung dan terjadwal sebagaimana

(6)

cara konvensional yang dipraktekan selama ini.

6. Kampus harus mempersiapkan infrastruktur dan bandwidth yang cukup

Kampus harus mempersiapkan infrastruktur dan bandwidth yang cukup jika menggunakan jaringan kampus. Lonjakan pengguna secara tiba -tiba dan pemakaian yang simultan akan menyebabkan server mengalami bottleneck, hang, hingga down.Selain itu, kampus harus menetapkan aplikasi atau platform yang dipakai guna menghindari mahasiswa mengunduh dan mencoba terlalu banyak aplikasi atau platform. Tentu saja perguruan tinggi tidak semata-mata menumpukan perhatian kepada enam hal yang diuraikan di atas. Namun, setidaknya bisa menjadi langkah awal bagi perguruan tinggi saat menyusun e-learning dalam menerapkan Blended Learning guna mewujudkan Education 4.0 yang akan menjadi New Normal di era Industrial Revolution 4.0 pasca pandemi Covid-19.

KONSEP SOLUSI

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh McKensey Global Institute10, pandemi Covid-19 berdampak pada beberapa hal, mulai dari proses pengajaran dan pembelajaran, dosen, hingga kondisi finansial perguruan tinggi. Pada skenario pesimistis, pembelajaran online

akan dilakukan hingga 2021. Sebagian besar siswa akan menyelesaikan perkuliahan semester ini secara daring dan kelulusan akan dilakukan secara virtual (tanpa seremonial formal). Kemudian, pergeseran signifikan terjadi pada pembelajaran online yang tentunya menjadi tantangan besar perguruan tinggi. Standar pembelajaran online

yang layak perlu dikembangkan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi consumer needs, dalam hal ini mahasiswa. Selain itu, dosen yang tidak siap dengan pembelajaran ini

dituntut memberikan effort lebih untuk melek teknologi dan menjadi kreator konten edukasi yang kreatif.

Hal ini tentunya memakan waktu yang awalnya dialokasikan untuk penelitian dalam rangka peningkatan

scholarly productivity perguruan tinggi. Dalam hal finansial, seperti yang telah disampaikan oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Budi Djatmiko, perguruan tinggi khususnya swasta (PTS) menjadi lembaga pendidikan tinggi yang paling terdampak, karena sebagian besar pemasukan PTS berasal dari dana mahasiswa. Keterlambatan pembayaran ini disebabkan kesulitan finansial sebagian besar orangtua mahasiswa di tengah pandemi.

Beberapa Langkah

Untuk menjawab tantangan di tengah pandemi dan mempersiapkan skenario new normal perguruan tinggi, beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi meliputi; pertama, membentuk task force team sebagai

nerve center. Pembentukan tim kerja yang fokus pada tanggung jawab bidang tertentu dapat membantu pemimpin institusi pendidikan untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan respons terhadap Covid-19. Beberapa tanggungjawab kerja daintaranya : 1. Melakukan analisis kondisi

kampus pada umumnya dan online learning pada khususnya. Kedua, fokus pada apa yang urgent untuk dilakukan, perlu diputuskan apa yang harus dilakukan dengan cepat guna merespons consumer needs. Ketiga, fokus untuk mendesain portofolioactions (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan pragmatic operating model guna memperjelas rencana dan tindakan aksi tersebut. Keempat, menyampaikan rencana dan merespons tanggapan secara fleksibel dan efisien.Dalam rangka meningkatkan efektifitas pembentukan tim kerja ini, perlu dilakukan tracing apa yang sedang

(7)

dilakukan tim, kapan, dan oleh siapa. Pertemuan antaranggota tim dilakukan secara intensif dan seefisien mungkin guna merespons dan menjawab tantangan yang ada di lapangan.

2. Memperhatikan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan ketahanan finansial. Perguruan Tinggi perlu memperhatikan kebutuhan yang diperlukan oleh mahasiswa seperti melakukan optimalisasi standar pendidikan berbasis online. Mahasiswa membutuhkan pengalaman belajar secara online

yang menarik, sehingga universitas perlu menyediakan konten edukasi yang mampu meningkatkan minat dan kuriositas mata kuliah yang diambil.Selain itu, dosen perlu didukung untuk dapat melanjutkan penelitian, karena scholarly productivity mencerminkan kinerja universitas yang mana memiliki pembobotan tinggi (sebesar 60% dari keseluruhan indikator) dalam pemeringkatan perguruan tinggi tingkat dunia, yakni Times Higher Education dan Quacquarelli Symonds Rank. Selain penelitian, dosen perlu diberikan dukungan agar mampu melakukan pengajaran

online secara efektif dan bahkan jika dimungkinkan diadakan pelatihan untuk menjadi kreator konten edukasi. Kemudian yang terakhir, universitas perlu melihat bagaimana kondisi finansial institusi di tengah sistem pembelajaran yang serba

online. Dengan adanya ketidakpastian yang berkelanjutan di tengah wabah Covid, universitas perlu melakukan berbagai skenario untuk mendorong ketahanan finansial. Skenario tersebut perlu melihat corecompetence dari universitas tersebut misalnya dengan mendirikan online courses berbayar yang fee-nya dapat menjadi pemasukan universitas, atau bisa juga dengan mendirikan sebuah bisnis konsultasi yang bekerja sama dengan industri.

3. Fokus pada pendaftaran mahasiswa baru dan proses pengajaran tahun akademik selanjutnya. Melihat waktu pendaftaran mahasiswa baru semakin dekat, institusi pendidikan perlu melakukan perencanaan pada tahun ajaran berikutnya dengan mendirikan command center untuk mengelola aktivitas mahasiswa dan khususnya sebagai pusat informasi bagi mahasiswa yang berpotensi tidak mendaftar seperti mahasiswa internasional dan lower-income students.

Command center diharapkan mampu menjadi garda terdepan informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Selain optimalisasi pusat informasi, perguruan tinggi juga harus dapat menjawab tantangan bagaimana agar mampu memberikan perubahan signifikan pada model pengajaran saat ini menjadi pengajaran yang lebih fleksibel, terukur, berbiaya rendah, dan yang terpenting adalah yang menarik.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://promkes.kemkes.go.id/ma

teri-adaptasi-kebiasaan-baru,

diakses 10 Juni 2020.

2. Oberg (dalam Samovar, Porter, &McDaniel,

2010).

3. http://repository.ut.ac.id/6245/1/

40119.pdf, diakses 15 Juni

2020.

4. Organizational for Economic Coorperation and Development (OECD) dalam laporannya yang berjudul ‘Education Today, The

OECD Perspective’ (2009). 5. (https://nanangfattah.wordpress. com/2010/10/06/manajemen- transformasi-perguruan-tinggi-dalam-menghadapi-globalisasi). 6. Kelly, Richard; 2019. Constructing Leadership 4.0 – Swarm Leadership and the

(8)

Fourth Industrial Revolution; Palgrave Macmillan; Switzerland.

7. Zaltman, Gerald and Robert Duncan; 1977. Strategies for Planned Change; A Willey- Interscience Publications, New York.

8. (

https://sevima.com/new- normal-pembelajaran-di-

perguruan-tinggi-pasca-pandemi-covid-19).

9. Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020

tertanggal 17 Maret 2020. 10. Titik Handayani.2020.

McKinseyGlobalInstitute (MGI) tentang tenaga kerja pada tahun 2030. Pusat Penelitian

Kependudukan LIPI.

11. https://news.detik.com/kolom/d- 5039862/skenario-new-normal-perguruan-tinggi

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) adalah suatu pendekatan sistematis untuk manajemen keamanan pangan berdasarkan prinsip-prinsip baku yang bertujuan

Posisikan AUX channel pada posisi maksimum untuk Auto-Off dan tekan lagi Select Menu atau saklar di papan LED I/O, untuk menyimpan lebar pulsa pada R/C sistem

Tokoh-tokoh lain yaitu tokoh Rusli, Anwar, Kartini, Bung Parta merupakan tokoh atheis yaitu orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan agama (atheis). Tokoh tersebut tidak

27 tahun 2002 tentang Pengelolaan Limbah Radiaoktif, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2006 tentang Perizinan Reaktor Nuklir, Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun

Untuk mengaitkan setiap bahan kajian dalam BOK yang dijabarkan dalam bentuk mata kuliah dengan capaian pembelajaran [ELO1 – ELO9] program studi teknik sipil,

Buku Kurikululum Program Studi Magister Manajemen ini pada intinya memuat tentang visi, misi, tujuan, sasaran, profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, dan kurikulum

Standar kompetensi lulusan disusun dalam bentuk rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang mencakup unsur sikap dan tata nilai, ketrampilan umum,

• Kurikulum model parallel (Blok/Modular) menyajikan mata kuliah pada setiap semester sesuai dengan tujuan kompetensinya atau dalam bentuk semesteran yaitu dengan