• Tidak ada hasil yang ditemukan

Empat Jenis Perpustakaan Zaman "Now"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Empat Jenis Perpustakaan Zaman "Now""

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

194

EMPAT JENIS PERPUSTAKAAN ZAMAN NOW

Wahfiuddin Rahmad Harahap

Mahasiswa Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Email: [email protected]

Abstrak

Perkembangan zaman yang diikuti dengan teknologi informasi yang semakin canggih membuat perpustakaan harus mengikuti kemajuan itu dan inilah yang menjadi masalah bagi pengelola perpustakaan. Dengan kemajuan tersebut tentu istilah jenis perpustakaan memiliki tambahan tersendiri. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memaparkan empat jenis perpustakaan zaman now dengan menggunakan metode kajian literatur yang didapat dari berbagai sumber terpercaya. Hasil pembahasan pada kajian literatur ini menyimpulkan bahwa adapun empat jenis perpustakaan zaman now yaitu: perpustakaan konvensional (conventional library), perpustakaan hibrida (hybrid library), perpustakaan bookless (bookless library) dan perpustakaan digital (digital library). Kata Kunci: Perpustakaan, konvensional, hybrid, bookless, digital.

Abstract

Now a day information technology is increasingly relevant to make progress and will become a problem for the librarian to manage their good library. With this fact the author make it as the problem of this article. The aim of writing this article is to describe the four types of libraries nowadays by using research method study literature obtained from various reliable sources. The results of this literature study concluded that the four types of libraries are: conventional libraries, hybrid libraries, bookless library and digital libraries.

Keywords: Library, conventional, hybrid, bookless, digital.

PENDAHULUAN

Penilaian terhadap suatu bangsa menjadi maju ataupun berkembang dapat dilihat dari sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang mumpuni tentu dipengaruhi oleh pendidikan yang ia geluti. Pendidikan telah menjadi kebutuhan bagi seluruh ummat manusia dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin pesat.

Perpustakaan yang berperan sebagai sarana pendukung dalam pendidikan tidak dapat dikesampingkan manfaatnya. Ketersediaan informasinya berpengaruh dalam perkembangan pengetahuan masyarakat sekitarnya. Jadi pendidikan dengan perpustakaan bisa dikatakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Berperan sebagai sumber informasi, perpustakaan dituntut harus selalu update atau memperbaharui setiap perangkat didalamnya baik itu koleksi cetak, koleksi digital, sistem otomasinya hingga kemudahan aksesnya. Tidak hanya itu perpustakaan juga dituntut untuk ramah terhadap penggunanya sehingga kemudahan akses perpustakaan dapat dirasakan oleh pengguna.

Mengacu pada harapan diatas maka maksud dari penulisan artikel ini ialah untuk memaparkan empat jenis perpustakaan zaman now yang menjadi rumusan tujuan penelitian

(2)

195

ini. Agar pengertian perpustakaan itu tidak terkesan monoton pada adanya gedung, adanya buku, ada petugas dan adanya pengunjung. Sehingga dalam pembagiannya nanti (setelah pembahasan) kita mampu memberikan asumsi perpustakaan jenis apa yang kita temui dan ingin kita gunakan.

Istilah zaman now dimaksudkan pada ‘iniloh’perpustakaan yang kekinian itu. Penyematan istilah zaman now cukup pas dirasa jika terus melakukan pembaharuan yang diringi dengan perkembangan zamandengan teknologi informasi yang semakin canggih yang membuat perpustakaan harus mengikuti kemajuan itu.Era baru perpustakaan yang hadir saat ini telah mengubah ruang lingkup perpustakaan secara umum.Berdasarkan latar belakang diatas maka pada pembahasan dalam penelitian ilmiah ini akan dipaparkan apa saja jenis-jenis perpustakaan zaman now.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian dengan mengambil metode penelitian kajian literatur (library research) yang didapat dari berbagai sumber terpercaya.Olehkarenanya penelitian ini tidak memiliki lokasi penelitian yang spesifik sehingga memerlukan metode kajian kepustakaan (library research). Metode ini dilakukan untuk mempermudah penulis dalam mendapatkan sumber informasi yang diperoleh melalui buku-buku, artikel jurnal dan sumber tertulis lainnya yang mendukung pembahasan dalam artikel ini. Sebagai tambahan keabsahan informasi yang didapat penulis. Penulis juga mewawancarai informan seperti para dosen senior yang telah lama berkecimpung dibidang ilmu perpustakaan dan informasi. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sebab Akibat Ranah Perpustakaan

Mengingat kembali memori pada masa dahulu saat kita memerlukan informasi yang akurat solusi utamanya kita akan beranjak ke perpustakaan. Tapi itu masa lalu. Masa lalu biarlah berlalu, sekarang kita menghadapi masa dimana teknologi informasi yang perkembangannya bergerak semakin cepat. Semua informasi dapat diperoleh dengan hanya menari-narikan jari diatas layar sentuh smartphone/ komputer yang kita miliki. Sebab ini berakibat pada perpustakaan sebagai sumber informasi telah menyusut kebermanfaatannya. Dunia perpustakaan zaman dahulu telah berubah jika dibandingkan dengan dunia perpustakaan saat ini.

Ada beberapa hal penyebab terjadinya perubahan dalam dunia kepustakawan dan perpustakaan. Perubahan-perubahan tersebut ialah sebagai sebagai berikut (Priyanto, 2015: 1). : Pertama, adanya kenaikan harga-harga sumber-sumber informasi. Hal ini dikarenakan

(3)

196

pihak yang berkecimpung dalam industri informasi saat ini umumnya ingin mendapatkan komoditas keuntungan yang lebih. Terlebih lagi pembaca mempunyai minat serta keperluan informasi yang berbeda derajat walaupun subjeknya sama(Basuki, 2010: 2.3).Jadi tentu perpustakaan membutuhkan koleksi yang cukup banyak.

Kedua, hadirnya sumber informasi alternatif yang dapat digunakan dengan mudah dan cepat seperti Google yang sedang marak saat ini. Ketiga, menurunnya jumlah pemanfaatan sumber informasi yang ada di perpustakaan secara fisik, hal ini karena adanya pergerseran penggunaan dari media cetak ke digital. Keempat, terjadinya kebutuhan dan keinginan para pemustaka, hal ini karena adanya perubahan gaya hidup yang berpengaruh pada gaya belajar. Kalau dulu belajar membutuhkan ketenangan suasana, saat ini belajar tidak lagi memerlukan suasana yang sepi. Fenomena ini menuntut perpustakaan untuk menyediakan tempat (space) diskusi bagi pemustaka. Akibatnya minat pemustaka untuk datang keperpustakaan akan bertambah dan kebermanfaatan perpustakaan pun akan terpenuhi.

Menganalisis beberapa hal penyebab terjadinya perubahan dalam dunia kepustakawan dan perpustakaan diatas maka solusinya ialah mengevaluasi kebermanfaatan perpustakaan dan memperbaiki segala kekurangan dengan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman saat ini.

B. Jenis-Jenis Perpustakaan

Banyaknya perbedaan perpustakaan masa lalu dengan masa kini adalah suatu tindak positif. Empat hal penyebab terjadinya perubahan dalam dunia kepustakawan dan perpustakaan yang tertera diatas telah meleburkan perpustakaan pada empat jenis perpustakaan yaitu: perpustakaan konvensional, perpustakaan hibrida, perpustakaan bookless dan perpustakaan digital.

1. Perpustakaan Konvensional(Conventional Library)

Secara bahasa perpustakaan konvensional berarti perpustakan umum(KBBI, 2008: 752).Secara istilah Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (UU RI Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pada Pasal 1).

Perpustakaan juga sebagai pusat sumber daya informasi yang berperan sebagai tulang punggung gerak majunya suatu institusi, terutama institusi pendidikan, sebagai tempat tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi (Suwarno, 2013: 15).

(4)

197

Berdasarkan pengertian diatas hematnya penulis menarik benang merahnya bahwa perpustakaan konvensional adalah suatu konsep ‘dunia teks’ yaitu pada perpustakaan tersebut hanya terdapat koleksi cetak berupa buku dan media cetak lainnya yang dikembangkan dengan sistem otomasi yang bertujuan untuk mempermudah dalam temu kembali koleksinya. Kemudahan layanannya pun menjadi perhatian khusus untuk pengguna seperti kemudahan peminjaman koleksi cetak di perpustakaan konvensional. Perpustakaan ini juga masih menggunakan ruang (space) sebagai penyimpanan koleksinya maupun sebagai fasilitas bagi pengguna.

2. Perpustakaan Hibrida (Hybrid Library)

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang memiliki ‘dua muka’ yaitu merupakan perpaduan koleksi digital dan koleksi konvensional(Suwarno, 2013: 29).Perpustakaan hibrida didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber-sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat dan juga jarak jauh (online).

Perpustakaan hibrida dapat menjadi sosok perpustakaan ideal bagi masyarakat Indonesia yang masih berkembang di mana koleksi buku masih sangat diperlukan dan kehadiran internet telah menjelma sebagai satu kebutuhan. Meskipun ideal di Indonesia, tetapi kebanyakan perpustakaan diIndonesia menghilangkan istilah hibrida pada nama perpustakaannya dan lebih memilih istilah digital pada penamaan perpustakaannya padahal dari segi konsep, perpustakaan yang dinamai ‘perpustakaan digital’ itu masih berciri perpustakaan hibrida. Fenomena inilah yang menjadi permasalahan yang belum terselesaikan.

Pada perpustakaan hibrida ini terdapat kerja sama apik antara pustakawan dan para teknolog yang menyatukan keterpisahan tradisi sebagai konsekuensi perpustakaan hibrida yang secara bersamaan membangun koleksi ‘baru’ (elektronik atau digital) dan koleksi ‘lama’ (tercetak) secara terintegrasi, sedemikian rupa sehingga pemakai jasa perpustakaan tidak mengalami kesulitan memakai kedua jenis koleksi tersebut(Suwarno, 2010: 43).

Hematnya penulis berpendapat bahwa perpustakaan hibrida ini merupakan suatu bentuk evolusi dari perpustakaan konvensional menuju pada perpustakaan digital. Jika dibariskan maka ia berada pada posisi tengah. Bentuk koleksi dalamnya beragam dimulai dari cetak, analog, dan digital sehingga dalam penggunaannya bisa menggunakan akses secara fisik dan non fisik (koleksi cetak dan digital dengan e-reader). Memiliki Akses non-fisik untuk digital resources baik yang dilanggan/beli maupun dalam bentuk repositori.Membutuhkan pustakawan dalam melayani pemustakanya.

(5)

198

Adapun contoh kongkrit dari perpustakaan hibrida ini ialah seperti perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam mengembangkan perpustakaan hibrid ini yang harus dilakukan ialah sebagai berikut:

a. Membangun pangkalan data bibliografi yang dapat dikembangkan dalam suatu jaringan yang digunakan oleh pemakai sebagai media penelusuran koleksi atau yang lebih dikenal dengan Online Public Access Catalog (OPAC).

b. Mengembangkan sistem peminjaman secara elektronis dengan barcode.

c. Merancang website perpustakaan yang terintegrasi dengan system yang telah tersinergi antara koleksi cetak dengan digital, artinya konsep tradisional dan elektronik kedudukannya saling terintegrasi, melengkapi satu dengan lainnya, dan tidak terpisah.

3. Perpustakaan Bookless (Bookless Library)

Secara bahasa bookless dapat diartikan sebagai tidak mempunyai buku, jika kita kaitkan dengan perpustakaan berarti perpustakaan yang tanpa ketersediaan koleksi buku atau koleksi cetak didalamnya.

Jenis koleksi yang terdapat pada bookless ialah sepenuhnya buku elektronik/ digital bisa pula berbasis online. Dalam proses pemanfaatan buku elektronik ini tentu membutuhkan peralatan khusus untuk membacanya seperti e-reader (Purnomo, 2010: 173).

Jenis perpustakaan bookles baru saja populer beberapa waktu ini. Keberadaan perpustakaan ini diketahui berada di San Antonio Texas Amerika Serikat. Penulis belum menemukan informasi yang valid keberadaan perpustakaan ini di Indonesia.

Meskipun tanpa adanya koleksi cetak, perpustakaan bookless masih perlu bangunan fisik perpustakaan yang memadai dan memiliki dana yang tidak sedikit untuk memenuhi kriteria perpustakaan booklesskarena perpustakaan bookless, haruslah menyediakan fasilitas seperti laptop lounge, desktop dengan berbagai aplikasi dan ukuran layar, serta penyediaan e-reader, yang menjadi penting.

Perpustakaan bookless berbeda dengan perpustakaan hibrida yang memiliki dua jenis koleksi-koleksi cetak dan digital, sementara di perpustakaan bookless, semua koleksi cetak tidak disediakan. Fasilitas baca menggunakan e-reader berupa perangkat elektronik berbentuk tablet yang memiliki layar yang dapat menampilkan lembaran buku elektronik. Itulah sebabnya sebuah perpustakaan bookless meminjamkan e-reader kepada para pemustakanya, selain itu juga menyediakan desktop untuk akses koleksi di tempat sehingga membutuhkan tempat yang cukup luas.

(6)

199

Konsep perpustakaan bookless adalah perpustakaan tanpa koleksi cetak, dan tetap membutuhkan tempat (space). Sementara perpustakaan digital tidak membutuhkan space, tetapi membutuhkan konten yang dapat diakses dari manapun dan kapanpun (Priyanto, 2015: 4).

Kebutuhan tempat (space) ini tidak hanya sebatas ruang untuk membaca saja melainkan adanya suatu tempat untuk kolaborasi kerja (kerja kelompok) antara pengguna satu dengan lainnya sehingga menghasilkan suatu produk keilmuan yang baik.

4. Perpustakaan Digital (Digital Library)

Hadirnya jenis perpustakaan digital sudah tidak asing lagi bagi para praktisi perpustakaan. Hal ini disebabkan karena beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) atau yang dikenal dengan ICT (Information and Communication

Technology) dan lebih spesifik lagi

jaringan internet makin merambah ke seluruh aspek kegiatan termasuk bidang perpustakaan. Tidak ada yang bisa membendung kemajuan teknologi saat ini bahkan kita dituntut terus mengikuti perkembangannya.

Sebuah perpustakaan digital adalah suatu sistem yang menyediakan suatu komunitas pengguna dengan akses terpadu yang menjangkau keluasan informasi dan ilmu pengetahuan yang telah tersimpan dan terorganisasi dengan baik (Suwarno, 2010: 39). Singkatnya perpustakaan digital ini ialah perpustakaan yang mampu melayani penggunanya dengan segala kemudahannya yang tentunya harus terkoneksi dengan jaringan internet dalam pengaksesannya.

Perpustakaan digital adalah perpustakaan modern yang sudah menggunakan sistem otomasi dalam operasionalnya serta mempunyai koleksi bahan pustaka sebagian besar dalam bentuk format digital yang disimpan dalam arsitektur komputerisasi dan bisa diakses melalui komputer. Koleksi dari perpustakaan digital adalah dokumen digital umumnya terdiri dari lima jenis yaitu teks, gambar, suara, gambar bergerak (video), dan grafik (Susanto, 2010: 17).

Koleksi digital yang dilayankan perpustakaan digital diharapkan memberikan keleluasaan kepada pengguna dalam mengaksesnya meskipun dalam waktu yang bersamaan dengan pengguna lainnya (Istiana, 2014: 47). Sehingga hal ini menghasilkan manfaat lebih seperti putusnya ketergantungan terhadap tempat (space) dan penyebaran informasi yang lebih cepat.

Menganalisis penjelasan beberapa ahli diatas penulis mengasumsikan bahwa perpustakaan digital ialah perpustakaan yang bersifat virtual ‘tak berwujud tapi bisa dirasa

(7)

200

manfaatnya’ ia tidak membutuhkan ruang wujud perpustakaan sebagaimana mestinya pada perpustakaan konvensional, hibrida dan bookles. Dan perpustakaan digital ini menjadi jenis terakhir dari hasil revolusi perpustakaan sebelumnya yang mengikuti kemajuan zaman now.

C. Perbedaan Dan Persamaan Empat Jenis Perpustakaan Zaman Now

Guna memetakan pemahaman pada empat jenis perpustakaan zaman now, maka penulis membuat perbedaannya dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel 1. Perbedaan Dan Persamaan Empat Jenis Perpustakaan Zaman Now

Bentuk Perbedaan Perpustakaan Konvensional Perpustakaan Hibrida Perpustakaan Bookless Perpustakaan Digital

Jenis Koleksi Hanya Cetak

Cetak Dan Digital (Menggunakan E Reader) Dan Memiliki Resources Dan Repositori Hanya Digital/ Online (Menggunakan E Reader) Tidak Memiliki Resources Dan Repositori Digital/ Online Memiliki Resources Dan Repositori Temu

Kembali Terotomasi Terotomasi Terotomasi

Diakses Dan Dibaca Dari Manapun Dan Kapanpun/ Open Access Tempat

(Space) Dibutuhkan Dibutuhkan

Dibutuhkan Tempat Yang Cukup Luas Untuk Penempatan Desktop/ Komputer Dan Ruang Kerja Pengunjung Tidak Dibutuhkan (Virtual) Keberadaan Pustakawan Dalam Layanan

Dibutuhkan Dibutuhkan Dibutuhkan Tidak

(8)

201

PENUTUP Simpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, empat jenis perpustakaanzaman now yaitu: perpustakaan konvensional (conventional library), perpustakaan hibrida (hybrid library), perpustakaan bookless (bookless library) dan perpustakaan digital (digital library). Kedua, Terbaginya perpustakaan kepada 4 jenis ini didasarkan pada adanya kenaikan harga-harga sumber-sumber informasi, hadirnya sumber informasi alternatif yang dapat digunakan dengan mudah dan cepat seperti google yang sedang marak saat ini, menurunnya jumlah pemanfaatan sumber informasi yang ada di perpustakaan secara fisik dan terjadinya kebutuhan dan keinginan para pemustaka yang berbeda-beda.

Saran

Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Pertama, Perpustakaan diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman now sehingga relevan digunakan oleh pengguna yang berasal dari macam generasi dan kemampuan yang berbeda. Kedua, Dengan banyaknya jenis perpustakaan, diharapkan pihak pengelola perpustakaan menamakan jenis perpustakaannya dengan jenis yang akurat. Seperti tidak menamakan perpustakaannya dengan perpustakaan digital sementara berdasarkan jenisnya perpustakaan tersebut lebih layak disebut dengan perpustakaan hibrida.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo, 2010. “Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Universitas Terbuka

Fajar, Ida Priyanto, 2015. ‘Perkembangan Baru Dalam Dunia Perpustakaan’ Bagian Pertama Dari Dua Makalah yang dipersentaskan pada Seminar di Universitas Brawijaya, Malang, tanggal 29 September 2015.

Istiana, Purwani. 2014.Layanan Perpustakaan, Yogyakarta: Ombak. KBBI, 2008.Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: Pusat Bahasa.

Purnomo, Pungki. 2010.Manajemen Pengembangan Koleksi Perpustakaan, Jakarta: Lembaga Penelitian Uin Syarif Hidayatullah.

Susanto, Setyo Edy. 2010.“Desain Dan Standar Perpustakaan Digital”, DIALOG: Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 10 No. 2 Bogor: 8 November, 2010.

(9)

202

Suwarno, Wiji. 2013.Ilmu Perpustakaan Dan Kode Etik Pustakawan,Yogyakarta: Arruz Media.

Suwarno,Wiji. 2010.Pengetahuan Dasar Kepustakaan, Bogor: Ghalia Indonesia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pada Pasal 1.

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak : Aplikasi Pengolahan Data Perpustakaan Pada SMA Yayasan Wanita Kereta Api (YWKA) Palembang selama ini belum menggunakan sistem komputerisasi dengan kata lain masih

Memodifikasi bentuk permainan yang dapat meningkatkan atau melatih kelincah untuk anak umur 10-12 pada siswa kelas V SDN Lemah putro 1 adalah salah satu bentuk

Sutarno (2006: 85) menjelaskan bahwa pengertian ketersediaan koleksi perpustakaan adalah adanya sejumlah koleksi atau bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan

Upaya peningkatan proses pembelajaran dan manajemen pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah tidak semulus apa yang diharapkan, hal ini dapat dilihat bahwa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel Publication, Event, Identity Media, dan Public Service Activity mempunyai pengaruh yang cukup kuat hal ini

Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu; Bayu, Sabda dan Idep. Mahluk ini disebut juga Manusya. Bayu adalah kekuatan nafas, Sabda adalah kekuatan suara dan Idep

Namun dengan adanya zat besi, aktivitas anti-bakteri dari oksitetrasiklin baik tanpa maupun dengan adanya protein telur yang tidak dipanaskan menurun nyata,.. bahkan dengan pemanasan

Diberitahukan dengan hormat bahwa, Balai Pengembangan Pendidikan Kejuruan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2015 akan menyelenggarakan