Renstra PTLR BATAN 2020-2024 i
KATA PENGANTAR
Rencana Strategis (Renstra) Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) 2020-2024 disusun dalam rangka mendukung terwujudnya Renstra Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) 2020-2024, khususnya dalam bidang pengelolaan limbah radioaktif. Renstra BATAN 2020-2024 merupakan wujud dari keinginan luhur BATAN untuk dapat berkontribusi secara nyata dalam menyelesaikan permasalahan terkait prioritas pembangunan nasional melalui penyelenggaraan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) iptek nuklir dalam rangka mewujudkan iptek Nuklir untuk Indonesia Berdaya Saing dan Sejahtera. Sejalan dengan pelaksanaan tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawabnya, maka PTLR mendukung kontribusi BATAN tersebut dengan melaksanakan layanan pengelolaan limbah radioaktif secara selamat, aman, handal dan berwawasan lingkungan, melaksanakan pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif, termasuk pengembangan teknologi dekontaminasi dan dekomisioning, serta melaksanakan program jaminan mutu dan keamanan dalam pengelolaan limbah radioaktif.
Renstra PTLR 2020-2024 ini disusun berdasarkan kompetensi di bidang teknologi pengelolaan limbah radioaktif serta mengacu dan komitmen pada seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dokumen Renstra PTLR 2020-2024 ini digunakan sepenuhnya sebagai acuan dalam penyusunan dan pelaksanaan kegiatan PTLR.
Tangerang Selatan, Juli 2020 Kepala PTLR
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR _____________________________________________________ i DAFTAR ISI ___________________________________________________________ ii DAFTAR GAMBAR _____________________________________________________ iii DAFTAR TABEL _______________________________________________________ iv BAB I PENDAHULUAN ________________________________________________ 1
1.1 Kondisi Umum... 1
1.1.1. Dasar Hukum ... 3
1.1.2 Tugas dan Fungsi PTLR ... 3
1.1.3 Capaian Kinerja PTLR 2015-2019 ... 4
Prestasi dan Capaian Kinerja Lainnya ... 14
1.2 Potensi dan Permasalahan ... 20
1.2.1 Faktor Internal ... 20
1.2.2 Faktor Eksternal ... 22
BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN _____________________________________ 24 2.1 Visi ... 24 2.2 Misi ... 24 2.3 Tujuan ... 25 2.4 Sasaran Kegiatan PTLR ... 26 2.5 Prinsip ... 27 2.6 Nilai ... 28
BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI __________________________ 29 3.1 Arah Kebijakan dan Strategi BATAN ... 29
3.1.1 Fokus Bidang Kedeputian TEN ... 31
3.2 Arah Kebijakan dan Strategi PTLR ... 33
3.2.1 Peta Strategi PTLR ... 35
3.2.2 Program dan Kegiatan PTLR ... 42
3.3 Kerangka Regulasi ... 46
3.4 Kerangka Kelembagaan ... 48
BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN____________ 53 4.1. Target Kinerja ... 53
4.2. Kerangka Pendanaan ... 57 BAB V PENUTUP _____________________________________________________ 59 LAMPIRAN ___________________________________________________________ 60
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Dokumen Teknis Kajian Pengelolaan limbah Radioaktif ... 8
Gambar 2. Foto piagam penghargaan WBBM untuk PTLR dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ... 15
Gambar 3. Kunjungan peserta Expert Fellowship Training on Overview of Radioactive Waste Management Infrastructure for New Countries and Territories di PTLR ... 18
Gambar 4. Peta Strategi PTLR ... 41
Gambar 5. Struktur Organisasi PTLR ... 50
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pencapaian Kinerja PTLR 2015-2019 ... 4
Tabel 2. Perbandingan Realisasi IK.1.1 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 ... 6
Tabel 3. Perbandingan Realisasi IK 1.3 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 ... 9
Tabel 4. Capaian Publikasi Ilmiah PTLR Tahun 2015-2019 ... 9
Tabel 5. Perbandingan Realisasi IK.1.4 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 ... 10
Tabel 6. Perbandingan Realisasi IK.1.5 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 ... 12
Tabel 7. Perbandingan Realisasi IK.2.1 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 ... 13
Tabel 8. Tujuan dan Sasaran Kegiatan PTLR... 27
Tabel 9. Program dan Kegiatan PTLR 2020-2024... 43
Tabel 10. Kerangka Kelembagaan ... 49
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Kondisi Umum
Sesuai dengan arahan Presiden, fokus dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang merupakan fase terakhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 adalah untuk mencapai Visi Indonesia 2045, yaitu Indonesia Maju, melalui transformasi ekonomi yang didukung oleh hilirisasi industri dengan memanfaatkan SDM, infrastruktur, penyederhanaan regulasi, dan reformasi birokrasi. RPJMN 2020-2024 juga telah mengarusutamakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs) sebagai bentuk pembangunan inovatif dan adaptif. Selain memberikan penekanan pada kegiatan strategis tersebut di atas, Presiden juga menuntut adanya perubahan paradigma dan perilaku seluruh aparatur negara dalam melaksanakan pelayanannya terhadap masyarakat, yang semula hanya difokuskan pada pengerjaan output dan peningkatan akuntabilitas kinerja saja, menjadi pada pelayanan prima yang memastikan diterimanya outcome oleh masyarakat secara tepat guna (sent and delivered). Oleh karena itu, kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) iptek dituntut untuk dapat berkontribusi secara nyata dalam membantu menyelesaikan isu-isu strategis pembangunan nasional. Iptek juga diharapkan dapat menjadi katalis pembangunan melalui peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) untuk mendorong percepatan pembangunan di berbagai bidang.
Penguasaan dan pemanfaatan iptek nuklir telah menjadi tolok ukur yang banyak dikembangkan dan diterapkan oleh negara-negara maju saat ini. BATAN sebagai badan pelaksana ketenaganukliran sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran dan dipertegas dengan Peraturan Presiden 46 tahun 2013 tentang Badan Tenaga Nuklir Nasional, memiliki tugas pokok yang salah satunya adalah melaksanakan kegiatan litbangjirap iptek nuklir untuk
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 2
berkontribusi pada terwujudnya kemandirian bangsa, peningkatan daya saing dan mendorong pembangunan nasional.
Dalam pemanfaatan iptek nuklir termasuk di bidang industri dan aplikasi medis, tentu akan menghasilkan limbah radioaktif yang memiliki dampak negatif bagi manusia dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Secara nasional pengelolaan limbah radioaktif dilakukan oleh Badan Pelaksana. Hal ini secara tegas disebutkan dalam Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif. Kemampuan BATAN dalam mengelola limbah radioaktif dengan aman dan selamat sering disebut sebagai salah satu faktor kunci yang mempengaruhi penerimaan masyarakat (public acceptance) terhadap pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai bidang di Indonesia, khususnya terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Berdasarkan Perka BATAN Nomor 14 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja BATAN, pelaksanaan pengelolaan limbah radioaktif dilaksanakan oleh unit kerja Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR). Pada struktur organisasi BATAN, PTLR berada di bawah kedeputian Teknologi Energi Nuklir yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan teknologi energi nuklir dan daur bahan bakar nuklir.
PTLR dalam melaksanakan tugasnya memberikan kontribusi bagi kesejahteraan bangsa sesuai dengan peran yang diberikan dalam pengelolaan limbah radioaktif antara lain:
a. Pengelolaan limbah radioaktif dari kegiatan industri, medis dan litbang. b. Melindungi masyarakat dan lingkungan dalam pemanfaatan aplikasi
teknik nuklir dan kegiatan industri lainnya (non nuklir).
c. Mendukung pemanfaatan iptek nuklir yang aman bagi masyarakat dan lingkungan.
d. Menjamin keselamatan lingkungan hidup generasi sekarang dan akan datang dari bahaya radiasi yang ditimbulkan limbah radioaktif.
e. Penyediaan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkompeten dalam penguasaan teknologi pengelolaan limbah radioaktif.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 3 f. Pembinaan edukatif dan teknis pengelolaan limbah radioaktif bagi
pelanggan dan masyarakat.
1.1.1. Dasar Hukum
1) UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran
2) PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang Badan Tenaga Nuklir Nasional 3) PP Nomor 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif 4) Perka BATAN Nomor 14 Tahun 2013 tentang Organisasi Dan Tata
Kerja Badan Tenaga Nuklir Nasional.
5) Perka BATAN Nomor 21 Tahun 2014 tentang Rincian Tugas Unit Kerja
1.1.2 Tugas dan Fungsi PTLR
Mengacu pada Perka BATAN Nomor 14 Tahun 2013 Pasal 241 dan Perka BATAN Nomor 21 Tahun 2014 Pasal 254, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan dan bimbingan di bidang pengembangan teknologi dan pengelolaan limbah.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif menyelenggarakan fungsi:
1) pelaksanaan urusan perencanaan, persuratan dan kearsipan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga, dokumentasi ilmiah dan publikasi serta pelaporan;
2) pelaksanaan pengembangan teknologi pengolahan dan penyimpanan limbah;
3) pelaksanaan pengelolaan limbah;
4) pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan fasilitas limbah; 5) pelaksanaan pemantauan keselamatan kerja dan operasi; 6) pelaksanaan jaminan mutu;
7) pelaksanaan pengamanan nuklir; dan
8) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 4
1.1.3 Capaian Kinerja PTLR 2015-2019
Renstra PTLR 2015-2019 menekankan pada dua aspek penting yang menjadi tujuan utama pelaksanaan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) iptek nuklir yaitu keunggulan dan kemandirian. Kedua aspek tersebut kemudian dijabarkan dalam dua Sasaran Kegiatan yang ingin dicapai oleh PTLR, yaitu:
1) Diperoleh hasil penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif;
2) Meningkatnya kualitas pengelolaan limbah radioaktif.
Pencapaian kinerja PTLR pada periode 2015-2019 sesuai dengan target pada revisi matriks Renstra PTLR 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pencapaian Kinerja PTLR 2015-2019
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) s.d. 2019 Target s.d. 2019 Realisasi Dokumen teknis
pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif
Jumlah data riset pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif
31
Data Riset Data Riset 31 Jumlah dokumen teknis
pengelolaan limbah RDE Dokumen 5 Teknis
5 Dokumen
Teknis Jumlah dokumen teknis
pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif 3 Dokumen Teknis 3 Dokumen Teknis Jumlah publikasi ilmiah 34
Publikasi Publikasi 88 Jumlah laporan hasil
pengelolaan limbah radoaktif, limbah B3, dan bahan bakar nuklir bekas
9
Laporan Laporan 9
Jumlah hari dengan zero
accident 1826 Hari 1826 Hari
Meningkatnya kualitas pengelolaan limbah radioaktif
Indeks Kepuasan
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 5 Sasaran Kegiatan 1 (SK.1): Diperoleh Hasil Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Limbah Radioaktif
Yang dimaksud pada sasaran kegiatan diperoleh hasil penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktifadalah diperolehnya output kegiatan dari pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan di PTLR guna mencapai target/sasaran program eselon I (Renstra Deputi TEN).
Fokus kegiatan penelitian yang dilaksanakan oleh PTLR adalah untuk menunjang kegiatan pengelolaan limbah radioaktif yang merupakan amanat nasional sebagai salah satu tugas sebagai badan pelaksana dalam pengelolaan limbah radioaktif. Penelitian juga difokuskan untuk menunjang program nasional dalam upaya pencapaian target kemandirian energi di Indonesia dengan menyediakan data riset terkait dengan pengolahan dan penyimpanan limbah radioaktif yang berasal dari PLTN.
Fokus kegiatan pengembangan yang dilaksanakan oleh PTLR adalah untuk meningkatkan kualitas proses pengelolaan limbah radioaktif, pemantauan dan pengawasan sistem keselamatan, dan kualitas penyelenggaraan pelayanan publik.
Sasaran kegiatan PTLR dicapai melalui tujuh Indikator Kinerja (IK) yaitu:
IK 1.1 Jumlah data riset pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif
IK 1.2. Jumlah dokumen teknis pengelolaan limbah Reaktor Daya Eksperimental (RDE)
IK 1.3. Jumlah dokumen teknis pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif
IK 1.4. Jumlah publikasi ilmiah
IK 1.5. Jumlah laporan hasil pengelolaan limbah radioaktif, limbah B3 dan Bahan Bakar Nuklir Bekas
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 6
Indikator Kinerja 1.1 Jumlah Data Riset Pengembangan Teknologi Pengelolaan Limbah Radioaktif
IK 1.1 ini merupakan ukuran kuantitas/kualitas keberhasilan pelaksanaan penelitian dalam pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif yang dilaksanakan untuk pengembangan teknologi penyimpanan limbah radioaktif dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul pada pengelolaan limbah radioaktif.
Capaian kinerja IK 1.1 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa capaian kinerja IK 1.1 2015-2019 sebesar 100%, hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan kegiatan pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif telah sesuai dengan yang direncanakan, dimana target akhir Renstra 2015-2019 adalah berupa 31 data riset.
Tabel 2. Perbandingan Realisasi IK.1.1 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019
Indikator Kinerja
Target Tahun Realisasi s/d Tahun 2019 Persentase Realisasi s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 2015 2016 2017 2018 2019 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah data riset
pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif 8 data riset 7 data riset 6 data riset 6 data riset 4 data riset 31 data riset (100%) Target/Real (100%)
Data riset yang dimaksud dikelompokkan ke dalam judul berikut :
▪ Data riset pengembangan disposal limbah radioaktif tentang sifat kimia dan fisika bahan isian, buffer material dan tanah lokasi disposal (difusi, permeabilitas, sorpsi). Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2019.
▪ Data riset pengembangan disposal limbah radioaktif tentang aspek geoscience dan keselamatan disposal (Re-evaluasi tapak, safety case,
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 7 safety assessment). Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2019.
▪ Data riset pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif cair di Rumah sakit. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2016.
▪ Data riset pengembangan teknologi pengolahan limbah radioaktif mengunggunakan absorber. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2018.
▪ Data riset pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif PT. INUKI. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2017.
▪ Data riset pengembangan pengelolaan limbah radioaktif dekomisioning parsial reaktor Triga Mark II Bandung. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2016.
▪ Data riset pengembangan pengelolaan limbah radioaktif secara sinergi penukar ion-filtrasi dan elektrokimia. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2018.
▪ Data Riset Pengembangan Teknologi Penyimpanan Bahan Bakar Nuklir Bekas Tipe Kering. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2015-2019.
▪ Data Riset Pengembangan Teknologi Pengendalian Korosi pada Sistem, Struktur dan Komponen KHIPSB3. Dilaksanakan secara kontinyu pada tahun 2018-2019.
Indikator Kinerja 1.2 Jumlah Dokumen teknis pengelolaan limbah Reaktor Daya Eksperimental (RDE)
IK 1.2 ini untuk mempersiapkan pengelolaan limbah radioaktif yang ditimbulkan dari rencana operasional RDE, dimana diperoleh informasi tentang jenis, jumlah, karakteristik limbah radioaktif, dan strategi pengelolaan limbah RDE yang akan datang.
Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan oleh PTLR tahun 2018 dalam upaya untuk meningkatkan capaian dilakukan pengadaan barang dan jasa lebih awal, koordinasi ditingkatkan, dan pengumpulan referensi terkait RDE atau HTGR.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 8
Gambar 1. Dokumen Teknis Kajian Pengelolaan limbah Radioaktif Reaktor Daya Eksperimental (RDE)
Kegiatan ini diakhiri pada tahun 2018 karena pada tahun 2019 tidak dibiayai lagi karena ada perubahan kebijakan di tingkat BATAN sehingga tidak ada target pada tahun 2019.
Indikator Kinerja 1.3 Jumlah Publikasi Ilmiah
IK 1.3 merupakan ukuran kuantitas/kualitas keberhasilan pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan oleh PTLR yang dipublikasikan untuk meningkatkan wawasan masyarakat dan kalangan akademisi terhadap perkembangan IPTEK nuklir dan kesiapan dalam menyongsong era
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 9 PLTN, serta untuk memberi keyakinan kepada pemangku kepentingan bahwa proses pengelolaan limbah radioaktif dapat dilaksanakan secara aman dan selamat.
Untuk melihat capaian kinerja IK 1.3 2015-2019 dilakukan dengan membandingkan realisasi IK 1.3 2015-2019 dengan target akhir renstra 2015-2019, seperti terlihat pada Tabel 3 di bawah.
Tabel 3. Perbandingan Realisasi IK 1.3 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 Indikator
Kinerja
Target Tahun Realisasi s/d Tahun 2019 Persentase Realisasi s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 2015 2016 2017 2018 2019 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Publikasi Ilmiah 43 33 2 4 4 88 Target/Real (258, 82%)
Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa capaian kinerja IK 1.3 mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena sejak tahun 2017 prosiding nasional tidak dihitung dalam capaian kinerja, dan pada tahun 2019 prosiding internasional juga dikecualikan. Data capaian selengkapnya dari tahun 2015 s.d 2019 ditunjukkan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Capaian Publikasi Ilmiah PTLR Tahun 2015-2019 Jenis publikasi ilmiah Capaian tahun 2015 2016 2017 2018 2019 Jurnal Internasional 1 2 - 1 2 Jurnal nasional terakreditasi - 1 2 3 2 Prosiding internasional 8 - - 2 4 Prosiding nasional 34 30 17 24 - Keterangan Seluruh jenis publikasi merupakan capaian kinerja Seluruh jenis publikasi merupakan capaian kinerja Prosiding nasional tidak termasuk capaian kinerja Prosiding nasional tidak termasuk capaian kinerja Publikasi jenis prosiding tidak termasuk capaian kinerja
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 10
Indikator Kinerja 1.4 Jumlah Laporan Hasil Pengelolaan Limbah Radioaktif, Limbah B3 dan Bahan Bakar Nuklir Bekas
IK 1.4 merupakan ukuran kuantitas/kualitas keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengolahan limbah radioaktif, limbah B3 dan bahan bakar nuklir bekas.
Laporan hasil pengelolaan limbah radioaktif, limbah B3 dan bahan bakar nuklir bekas berisi uraian kegiatan rutin yang terkait layanan pengelolaan limbah radioaktif eksternal BATAN, limbah B3 dari satker di Kawasan Nuklir Serpong dan limbah bahan nuklir (BBNB dan limbah nuklir curah) dari internal BATAN.
Untuk melihat capaian kinerja IK 1.4 2015-2019 dilakukan dengan membandingkan realisasi IK 1.4 2015-2019 dengan target akhir renstra 2015-2019, seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Perbandingan Realisasi IK.1.4 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019
Indikator Kinerja
Target Tahun Realisasi s/d Tahun 2019 Persentase Realisasi s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 2015 2016 2017 2018 2019 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah laporan hasil pengelolaan limbah radioaktif, limbah B3 dan bahan bakar nuklir bekas 0 0 3 3 3 9 (100%) Target/Real (100%)
Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa capaian kinerja IK 1.4 2015-2019 sebesar 100%, hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah radioaktif, limbah B3 dan bahan bakar nuklir bekas telah sesuai dengan yang direncanakan, dimana target akhir Renstra 2015-2019 adalah berupa 9 laporan berdasarkan hasil revisi matriks renstra. Kegiatan pengelolaan limbah radioaktif, limbah B3 dan bahan bakar nuklir bekas
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 11 tetap dilakukan sejak tahun 2015, namun pada tahun 2015-2016 belum dijadikan sebagai target capaian untuk laporan pelaksanaannya.
Indikator Kinerja 1.5 Jumlah Hari dengan Zero Accident
IK 1.5 merupakan ukuran kuantitas/kualitas keberhasilan unit kerja dalam menjalankan keselamatan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi PTLR dengan memperhatikan definisi zero accident yang tercantum dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per-01/Men/I/2007 tentang Pedoman Pemberian Penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), zero accident (kecelakaan nihil) adalah suatu kondisi tidak terjadi kecelakaan di tempat kerja yang mengakibatkan pekerja sementara tidak mampu bekerja selama 2 x 24 jam dan atau menyebabkan terhentinya proses dan atau rusaknya peralatan tanpa korban jiwa dimana kehilangan waktu kerja tidak melebihi shift berikutnya pada kurun waktu tertentu dan jumlah jam kerja orang tertentu.
Untuk mencapai target jumlah hari dengan zero accident sebagaimana ditargetkan dalam perencanaan kegiatan PTLR, maka dilakukan pemantauan keselamatan pekerja dan pencatatan setiap peristiwa yang beresiko terjadinya kecelakaan kerja oleh petugas yang memiliki kompetensi yang sesuai. Selain pemantauan langsung oleh petugas dilakukan juga pemantauan sistem keselamatan dengan menggunakan teknologi informasi yang dikembangkan oleh PTLR.
Upaya yang telah dilakukan untuk pencapaian target antara lain:
1. Peningkatan budaya keselamatan melalui workshop, lomba bulan K3, sarasehan budaya keselamatan, transfer knowledge, safety joint inspection dan forum keselamatan untuk seluruh pegawai.
2. Pelaksanaan pemantauan keselamatan personil, keselamatan operasi fasilitas, keselamatan daerah kerja, dan pengendalian lepasan efluen cair/gas ke lingkungan secara berkala dan terus menerus.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 12
4. Memastikan setiap peralatan yang digunakan untuk proses pengukuran telah terkalibrasi.
5. Meningkatkan budaya kinerja pegawai melalui pendekatan perubahan pola pikir.
Adapun hasil yang diperoleh adalah:
▪ Data resiko keselamatan dalam pelaksanaan kegiatan.
▪ Rancangan pengendalian resiko keselamatan untuk setiap jenis kegiatan yang dituangkan dalam bentuk dokumen HIRADC dan HAZOP.
Untuk melihat capaian kinerja IK 1.5 2015-2019 dilakukan dengan membandingkan realisasi IK 1.5 2015-2019 dengan target akhir renstra 2015-2019, seperti terlihat pada Tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6. Perbandingan Realisasi IK.1.5 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019
Indikator Kinerja
Target Tahun Realisasi
s/d Tahun 2019 Persentase Realisasi s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 2015 2016 2017 2018 2019 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah hari dengan zero accident 365 366 365 365 365 1826 Target/Real (100%)
Berdasarkan Tabel 6 Terlihat bahwa capaian kinerja IK 1.5 2015-2019 sebesar 100%, hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan tugas dan fungsiPTLR dengan memprioritaskan aspek keselamatan telah sesuai dengan yang direncanakan, dimana target akhir Renstra 2015-2019 adalah berupa total 1826 hari zero accident.
Hasil tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertanggungjawaban dan jaminan keselamatan dalam pengoperasian instalasi nuklir terkait dengan kegiatan pengelolaan limbah radioaktif di
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 13 Indonesia, yang disampaikan kepada badan regulasi nasional/ Internasional.
Sasaran Kegiatan 2 (SK.2): Meningkatnya Kualitas Pengelolaan Limbah Radioaktif
SK.2 yang dimaksud adalah ukuran capaian dari pelaksanaan tugas dan fungsi PTLR dalam kegiatan pengelolaan limbah radioaktif yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh standar tertentu dan/atau Badan Regulasi. Indikator Kinerja (IK) yang ditetapkan pada Renstra PTLR 2015-2019 adalah Indeks kepuasan pengguna layanan.
Indikator Kinerja 2.1 Indeks kepuasan pengguna layanan
IK 2.1 merupakan ukuran kuantitas/kualitas kepuasan pelanggan/masyarakat atas layanan jasa pengelolaan limbah radioaktif yang diselenggarakan oleh PTLR.
Untuk melihat capaian kinerja IK 2.1 2015-2019 dilakukan dengan membandingkan realisasi IK 2.1 2015-2019 dengan target akhir renstra 2015-2019, seperti terlihat pada Tabel 7 di bawah.
Tabel 7. Perbandingan Realisasi IK.2.1 s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019
Indikator Kinerja
Target Tahun Realisasi s/d Tahun 2019 Persentase Realisasi s/d Tahun 2019 dibanding Target s/d 2019 2015 2016 2017 2018 2019 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Indeks kepuasan pengguna layanan 3,1 3,1 3,15 3,20 3,20 3,64 (113,75%) Target/Real (113,75%)
Pada tahun 2019, dirumuskan indikator kinerja tambahan untuk Sasaran Kegiatan 2, yaitu:
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 14
1) Persentase pengangkutan limbah radioaktif yang memenuhi standar keselamatan;
2) Persentase penerimaan limbah radioaktif yang memenuhi kriteria keberterimaan limbah;
3) Persentase penyimpanan limbah radioaktif yang memenuhi standard keselamatan;
4) Persentase peningkatan efisiensi dalam pengolahan limbah radioaktif; 5) Persentase pengolahan limbah radioaktif yang memenuhi standar
keselamatan;
Realisasi capaian dari target indikator tambahan tersebut, keseluruhannya dapat terealisasi 100%.
Prestasi dan Capaian Kinerja Lainnya
Selain capaian kinerja dari target yang sudah ditetapkan, PTLR juga mendapatkan prestasi berupa penghargaan sebagai berikut :
a. Penghargaan dari Kementerian Keuangan
Kinerja Pelaksanaan Anggaran Terbaik I tahun anggaran 2016 kategori pagu kecil yang diterima BATAN dari Kementerian Keuangan.
b. Predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) & Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM)
PTLR meraih predikat WBK pada tahun 2017, kemudian meraih predikat WBBM pada tahun 2018 dari Menteri PANRB. Satu-satunya satker di BATAN yang berhasil meraih penghargaan WBBM hingga saat ini (tahun 2020). Foto piagam penghargaan WBBM dapat dilihat pada Gambar 2.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 15 Gambar 2. Foto piagam penghargaan WBBM untuk PTLR dari Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
c. Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik
Peringkat I Pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik tahun 2017 untuk kategori Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian.
d. Penghargaan Pelayanan Publik
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) menerima piagam penghargaan dari Kementerian PANRB sebagai role model penyelenggara pelayanan publik dengan kategori SANGAT BAIK Tahun 2019 berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan pelayanan publik di BATAN.
e. Penghargaan Arsip
PTLR sebagai unit kearsipan II telah melakukan pengelolaan arsip sesuai ketentuan kearsipan nasional di bawah pembinaan unit kearsipan I (BATAN). Sebagai pembina unit kearsipan di BATAN, Biro
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 16
Umum melakukan evaluasi dan penilaian terhadap kegiatan kearsipan yang dilakukan oleh unit kearsipan II. Dari hasil evaluasi dan penilaian terhadap kinerja unit kearsipan II, PTLR mendapatkan nilai AA (Sangat Baik) pada tahun 2019.
f. Penghargaan PNBP
Pada tahun 2019, PTLR telah menerima penghargaan PNBP atas keberhasilannya dalam mencapai target PNBP 100%.
Capaian kinerja PTLR lainnya selama periode 2015-2019 yaitu:
a. Pusat Unggulan Iptek (PUI)
Mulai tahun 2019 PTLR mengikuti Pembinaan Lembaga PUI dengan fokus unggulan Teknologi Pengelolaan Limbah Radioaktif. Rencana Kerja Pengembangan PUI tahun 2019 untuk menguatkan kapasitas PTLR yang meliputi sourcing-absorptive capacity (SAC), research and development capacity (RDC) dan disseminating capacity (DC) melalui prioritas kegiatan-kegiatan seperti Akreditasi KNAPPP, jumlah peneliti sebagai pembicara/pemakalah pada forum ilmiah internasional, penerbitan jurnal online, jumlah publikasi ilmiah, jumlah PATEN dan kerjasama riset nasional/internasional.
b. Insentif Sistem Inovasi Nasional (INSINAS)
Pada tahun 2019, PTLR mendapat program INSINAS dari Kemenristekdikti tentang Inventarisasi dan Kajian Teknologi Pengelolaan Limbah TENORM Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi, produktifitas, dan optimalisasi sumber daya litbang PTLR. Anggaran yang diperoleh dari program ini adalah Rp 250.000.000,-.
Kegiatan INSINAS flagship di PTLR tahun 2019 mendapatkan dukungan dana dari Kemenristekdikti sebesar Rp 225.000.000,- untuk
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 17 melakukan kegiatan Analisis dan Desain Sistem Penyimpanan Bahan Bakar Nuklir Bekas RDE. Kegiatan ini meliputi penelitian dan kajian dan membuat publikasi ilmiah internasional dan nasional.
c. Pengelolaan Limbah Reflektor Reaktor Triga Mark Bandung
Pada tahun 2019, PTLR berhasil melakukan pengangkutan limbah reflektor TRIGA MARK II dari Bandung yang memiliki paparan sangat tinggi. Ini merupakan prestasi dikarenakan pengangkutan limbah reflektor sudah direncanakan sejak tahun 2000 setelah dilaksanakannya kegiatan peningkatan daya reaktor Bandung, tetapi baru bisa dilaksanakan tahun 2019 setelah memenuhi kaidah keselamatan. Untuk melakukan pengangkutan, diperlukan wadah atau kontainer dengan desain khusus agar radiasi yang keluar dari reflektor tidak membahayakan masyarakat dan lingkungan selama proses pengangkutan. Kontainer pengangkut reflektor dibuat oleh PTLR dengan spefisikasi diameter bagian dalam 130 cm dengan ketinggian 180 cm. Untuk bagian dasar dan penutup bagian atas kontainer, dilapisi timbal (Pb) setebal 3 cm. Setelah sampai di PTLR, limbah reflektor selanjutnya disimpan pada tempat penyimpanan sementara limbah aktivitas tinggi hingga aktivitasnya meluruh pada status aman.
d. Kerja Sama Terkait Reuse ZRTTD
Pada tahun 2019, PTLR melakukan kerja sama terkait reuse (penggunaan kembali) ZRTTD dengan 3 stakeholder. Ketiga kerja sama tersebut adalah:
o ATRO Bali dengan nilai nomimal Rp. 30.000.000,-, jenis sumber radioaktif Co-60
o Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan nilai nominal Rp. 30.000.000,-, jenis sumber radioaktif Cs-137
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 18
o PT. Wahana Kerja Indonesia dengan nilai nominal Rp. 60.000.000,-, jenis sumber radioaktif AmBe-241
e. Kepercayaan dan keterlibatan dalam agenda internasional
Salah satu bentuk keunggulan BATAN di tingkat regional dibuktikan keterlibatan BATAN dalam agenda internasional dengan International Atomic Energy Agency (IAEA), seperti :
1) Penunjukkan sebagai tuan rumah acara IAEA Fellowship Programme :
▪ Group Fellowship Training on Overview of Radioactive Waste Management Infrastructure for New Countries and Territories yang diikuti oleh 10 peserta dari negara Palestina, Mongolia, Myanmar, Nepal, Kamboja dan ditambah 5 peserta pendamping dari Indonesia pada tahun 2016.
Gambar 3. Kunjungan peserta Expert Fellowship Training on Overview of Radioactive
Waste Management Infrastructure for New Countries and Territories di PTLR ▪ IAEA RAS 9085 – Enhancing the Radioactive Waste Management
Infrastructure in the Asia – Pacific Region yang diikuti peserta 1 orang dari Palestina pada tahun 2017.
▪ IAEA Project LIB9015 - Radioactive Waste Management, Decommissioning and Environmental Remediation: Reinforcing
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 19 and Promoting Sustainable Radioactive Waste Management Practices yang dilaksanakan pada tahun 2018 diikuti oleh 3 peserta dari Libya dan tahun 2019 diikuti oleh 5 peserta dari Libya.
2) Host Scientific Visit untuk 2 pegawai The Libyan Atomic Energy Establishment pada tanggal 17-21 Desember 2018.
f. Pelayanan Informasi
PTLR melaksanakan sosialisasi dan pembinaan baik di internal BATAN maupun di eksternal BATAN. PTLR juga bertugas sebagai PPID Pembantu untuk melayani informasi publik khususnya tentang pengelolaan limbah radioaktif, mahasiswa kerja praktik, tugas akhir, siswa kerja praktik, baik dari negeri maupun swasta, serta menerima kunjungan ke fasilitas di PTLR.
g. Peningkatan Kompetensi SDM
Dalam kurun waktu 2015-2019, capaian dalam pengembangan SDM di PTLR, antara lain :
(1) Pegawai telah menyelesaikan tugas belajar S3 sebanyak 2 orang dari Kyoto University dan Hokkaido University, Jepang dan tugas belajar S2 sebanyak 1 orang di Korea Advanced Institute of Science and Technology - KAIST, Korea Selatan.
(2) Pegawai studi lanjut sebanyak 2 orang yaitu 1 pegawai studi S1/D4 di STTN dan 1 pegawai studi S2 di Universitas Indonesia sejak September 2019.
(3) 2 Peneliti Utama telah menerbitkan buku dengan judul : 1. Pengelolaan Limbah Radioaktif, penulis Prof. Dr. Budi
Setiawan; dan
2. Penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif PLTN, Tinjauan Aplikasinya di Dunia, penulis Ir. Sucipta, M.Si.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 20
1.2 Potensi dan Permasalahan
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, PTLR berada di sekitar lingkungan strategis BATAN yang bersifat dinamis, baik itu lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Perubahan yang terjadi pada lingkungan strategis BATAN akan sangat berdampak pada kinerja PTLR dalam mewujudkan pencapaian kegiatannya, baik itu berdampak positif maupun negatif. Perubahan lingkungan yang bersifat positif merupakan potensi atau sumber kekuatan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, sedangkan perubahan lingkungan yang bersifat negatif merupakan permasalahan atau sumber kelemahan yang harus diantisipasi dan diwaspadai. Faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan tersebut, dapat dikategorikan dalam 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1.2.1 Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi dapat menjadi suatu kekuatan (strengthness) maupun kelemahan (weakness) dalam organisasi.
Unsur-unsur kekuatan yang dapat dijadikan sebagai peluang peningkatan kinerja meliputi :
1. Fasilitas pengelolaan limbah radioaktif yang dimiliki terlengkap di kawasan regional. Instalasi pengolahan limbah radioaktif yang dimiliki terdiri dari:
▪ Evaporator (kapasitas 0,75 m3/jam)
▪ Chemical Treatment (kapasitas 0,5 m3/hari) ▪ Insinerator (kapasitas 50 kg/jam)
▪ Kompaktor (600kN) ▪ Imobilisasi/Sementasi
▪ Penyimpanan Sementara, KHIPSB3 ▪ Penyimpanan limbah B3
▪ Penyimpanan Sementara Limbah Aktivitas Tinggi ▪ Mobil Pengangkut Limbah Cair, Semi Cair dan Padat ▪ Laboratorium Preparasi dan Analisis Limbah
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 21 ▪ Laboratorium Teknologi Pengolahan Limbah Radioaktif
▪ Laboratorium Disposal
2. Reformasi Birokrasi di PTLR telah meraih predikat WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani).
3. Dilihat dari jenis kompetensinya, PTLR memiliki SDM yang lengkap untuk melaksanakan pengelolaan limbah radioaktif dari seluruh wilayah Indonesia, baik yang berasal dari industri, rumah sakit maupun internal BATAN sesuai dengan standar keselamatan yang telah ditetapkan. Selain itu, SDM PTLR mampu berperan aktif dalam penanganan pencemaran zat radioaktif Cs-137 di Perumahan Batan Indah.
4. Sistem Manajemen PTLR telah memadai, antara lain telah memperoleh sertifikat SMK3, sistem manajemen mutu SB 001-SNI-9001:2012, dan predikat WTP.
5. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari pengelolaan dan reuse/recycle limbah radioaktif menjadi salah satu sumber dana kegiatan PTLR.
6. Kerjasama yang baik dengan para pemangku kepentingan. 7. Motivasi kerja pegawai yang baik.
Disamping kekuatan yang dimiliki tersebut, masih terdapat sejumlah kelemahan PTLR, antara lain :
1) Perlu peningkatan kemampuan dalam bidang Dekontaminasi dan Remediasi pencemaran lahan oleh zat radioaktif tertentu.
2) Penuaan fasilitas yang menyebabkan sebagian peralatan tidak berfungsi optimal dan tidak efisien. Fasilitas pengolahan limbah radioaktif yang dimiliki, dibangun sejak diresmikannya IPLR pada tahun 1988. Seiring dengan berjalannya waktu, tentu fasilitas pengolahan limbah radioaktif tersebut lambat laun mengalami penuaan (ageing).
3) Adanya gap kompetensi antar pegawai senior dan junior karena adanya kebijakan zero growth dan moratorium PNS oleh pemerintah pusat di masa lalu sehingga laju penuaan (ageing) SDM yang tinggi tidak
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 22
diimbangi oleh rekruitmen pegawai dalam jumlah yang memadai. 4) PTLR belum memiliki Fasilitas disposal limbah radioaktif. Fasilitas ini
perlu untuk penguasaan teknologi penyimpanan limbah radioaktif jangka panjang.
5) PTLR belum mengembangkan alat dan metode karakterisasi limbah untuk penetapan klirens. Kapasitas penyimpanan sementara limbah radioaktif lambat laun akan penuh seiring dengan terus bertambahnya jumlah limbah radioaktif yang diterima. Limbah radioaktif yang sudah ditetapkan memenuhi persyaratan klirens tentunya akan mengurangi jumlah limbah radioaktif yang disimpan karena dapat dikeluarkan dari fasilitas penyimpanan sementara.
6) Terdapat jenis limbah tertentu yang belum bisa ditangani. Fasilitas IPLR dibangun dengan tujuan untuk mengolah limbah radioaktif yang dihasilkan dari reaktor riset dengan kriteria penerimaan limbah yang sudah ditetapkan. Dinamika perkembangan teknologi nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang memiliki sifat dan karakter tertentu yang perlu penanganan khusus.
7) PTLR belum memiliki fasilitas khusus dismantling sumber bekas. 8) Kurangnya jejaring dengan peneliti/perekayasa di satker/institusi lain.
Topik penelitian yang spesifik terkait pengelolaan limbah radioaktif membatasi lingkup dari jejaring yang dapat dikembangkan.
9) Jumlah publikasi ilmiah belum memadai, khususnya pada Jurnal Internasional.
1.2.2 Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi dapat menjadi suatu peluang (opportunities) maupun ancaman (threats) dalam organisasi. Beberapa peluang yang dimiliki PTLR, antara lain: 1. Peraturan terkait pengelolaan limbah radioaktif mendukung tugas dan
fungsi PTLR.
2. Jejaring kerja dengan pelanggan, Bapeten, dan IAEA telah terbentuk. Pemanfaatan aplikasi media sosial dan teknologi informasi digunakan secara optimal sebagai bagian dari strategi komunikasi.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 23 3. Dukungan dari IAEA. Di tingkat internasional, hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai anggota IAEA yang merupakan lembaga internasional di bidang ketenaganukliran. Indonesia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan litbangjirap iptek nuklir di tingkat regional dan internasional melalui kerja sama multilateral di bawah payung IAEA.
4. Kerjasama pemanfaatan produk litbang dengan institusi di dalam dan luar negeri.
5. Peningkatan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.
Sedangkan ancaman yang dihadapi oleh PTLR antara lain:
1. Rencana perubahan peraturan perundangan seperti RUUK dan peraturan pemerintah tentang pengelolaan limbah radioaktif, dapat membatasi peran PTLR dalam pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia.
2. Berkembangnya teknologi alternatif yang dapat menggantikan teknologi nuklir.
3. Jumlah pegawai yang pensiun tidak digantikan pegawai baru yang mencukupi karena pengurangan jumlah penerima CPNS.
4. Pelanggan yang tidak memenuhi Waste Acceptance Criteria (WAC). 5. Adanya Orphan Source atau Orphan Radioactive Material (sumber
radioaktif atau bahan radioaktif yang tidak ada penanggung jawabnya) yang perlu penanganan khusus.
6. Tidak tersedianya kontainer tertentu untuk penyimpanan dan transportasi yang harganya sangat mahal.
7. Perkembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif yang tidak sejalan dengan tantangan terkini.
8. Tidak tersedianya dana terencana untuk kegiatan dekomisioning fasilitas.
Berbagai permasalahan secara internal dan eksternal yang berada dalam lingkungan PTLR, pada akhirnya turut menentukan kondisi pelaksanaan tugas dan fungsi PTLR.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 24
BAB II
VISI, MISI, DAN TUJUAN
2.1 Visi
PTLR sebagai bagian dari BATAN melaksanakan Visi BATAN 2020-2024 yaitu “Nuklir untuk meningkatkan daya saing guna mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong”.
Untuk mewujudkan Visi BATAN 2020-2024 tersebut, PTLR turut bertanggung jawab untuk meningkatkan kapabilitas dan kompetensi SDM-nya khususSDM-nya di bidang teknologi pengelolaan limbah radioaktif sehingga PTLR dapat terus menjadi sentra pengembangan teknologi dan pelayanan pengelolaan limbah radioaktif yang prima.
2.2 Misi
Sejalan dengan visi Indonesia Maju dan visi BATAN 2020-2024 untuk meningkatkan daya saing serta mewujudkan kesejahteraan bangsa, BATAN melalui kegiatan litbangjirap iptek nuklir melaksanakan Misi Presiden dan Wakil Presiden RI yang 1 (Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia); ke-2 (Struktur Ekonomi yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing) dan ke-8 (Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya), dengan uraian sebagai berikut:
1) Menghadirkan iptek nuklir yang unggul secara kompetitif untuk meningkatkan kapasitas iptek dan memperkuat landasan sosio-ekonomi nasional.
2) Mewujudkan sistem manajemen yang efektif, efisien, akuntabel dan melayani sebagai implementasi Reformasi Birokrasi secara berkelanjutan menuju Indonesia yang berdaya saing.
PTLR sebagai salah unit kerja teknis di BATAN, menjalankan kedua Misi BATAN tersebut. Misi BATAN yang pertama memberi penekanan pada pentingnya peranan SDM iptek nuklir sebagai salah satu aset utama pembangunan nasional, dalam melakukan terobosan dan inovasi teknologi secara terus menerus untuk mendorong terjadinya lompatan kemajuan bagi
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 25 pengembangan kapasitas iptek nasional. Peningkatan kapasitas SDM PTLR dalam penguasaan iptek nuklir khususnya di bidang teknologi pengelolaan limbah radioaktif dilakukan tidak hanya melalui jalur pendidikan formal tetapi juga melalui jalur pendidikan informal seperti pelatihan/workshop atau transfer knowledge yang menjadi salah satu objek dari program Nuclear Knowledge Management (NKM) di PTLR. Orientasi pelaksanaan kegiatan litbangjirap iptek nuklir agar tidak hanya difokuskan pada bagaimana menghasilkan kegiatan litbangjirap yang berkualitas tinggi (high quality research output) saja, tetapi juga pada bagaimana menghasilkan output kegiatan litbangjirap iptek nuklir yang dapat berdampak luas pada masyarakat (impactful research output), baik dari sisi peningkatan produktivitas dan daya saing industri, maupun dari sisi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Melalui misi yang kedua, PTLR berkomitmen untuk memperbaiki tata kelola dan sistem manajemen kelembagaan yang dimilikinya secara terus menerus. Hal ini sejalan dengan arah program pembangunan zona integritas yang menjadi bagian dari pelaksanaan roadmap reformasi birokrasi yang dilakukan PTLR sehingga predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada tahun 2017 dan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada tahun 2018 dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah diraih PTLR dapat terus dipertahankan.
2.3 Tujuan
Untuk mewujudkan Visi dan Misi BATAN tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi potensi, permasalahan, peluang dan ancaman yang akan dihadapi BATAN selama lima tahun ke depan dalam kaitannya dengan prioritas pembangunan nasional. Adapun tujuan yang ingin dicapai BATAN adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan standar kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan iptek nuklir.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 26
PTLR sebagai satker di bawah koordinasi kedeputian TEN mendukung terwujudnya pelaksanaan kedua tujuan tersebut. PTLR menekankan pada tiga aspek penting yang akan menjadi tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) iptek nuklir khususnya terkait pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif dalam jangka menengah yaitu keselamatan, keamanan dan kemandirian. PTLR berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target yang telah ditetapkan sesuai dengan perjanjian kinerja setiap tahunnya. Program yang dijalankan kedeputian TEN yaitu Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
2.4 Sasaran Kegiatan PTLR
Pencapaian Sasaran Kegiatan yang menjadi output PTLR diukur dengan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK). Penetapan IKK harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a) Menganut prinsip SMART-C;
▪ Specific : mampu menyatakan sesuatu secara definitif (tidak normatif), tidak bermakna ganda, relevan dan khas/unik dalam menilai serta mendorong kinerja suatu unit/pegawai.
▪ Measurable : mampu diukur dengan jelas dan jelas cara pengukurannya. Pernyataan IKK seharusnya menunjukkan satuan pengukurannya.
▪ Agreeable : disepakati oleh pemilik IKK dan atasannya.
▪ Realistic : merupakan ukuran yang dapat dicapai dan memiliki target yang menantang.
▪ Time-bounded : memiliki batas waktu pencapaian.
▪ Continously Improved : kualitas dan target disesuaikan dengan perkembangan strategi organisasi dan selalu disempurnakan. b) Mencerminkan tugas dan fungsi utama organisasi/pegawai. c) Pemilihan IKK didasarkan pada prioritas dan fokus organisasi.
Dalam rangka pencapaian Sasaran Program Kedeputian TEN 2020-2024, PTLR melaksanakan kegiatan dimana hasil yang akan dicapai dari
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 27 kegiatan tersebut merupakan Sasaran Kegiatan PTLR. Keterkaitan Tujuan dan Sasaran Kegiatan disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Tujuan dan Sasaran Kegiatan PTLR
Tujuan Strategis Sasaran Program Sasaran Kegiatan Sasaran
N u k lir U nt u k In d onesi a B er d aya Sain g d an Seja ht er a Peningkatan standar kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan iptek nuklir Meningkatnya peran strategis iptek nuklir dalam mendukung peningkatan kapasitas iptek nasional, daya saing industri dan kemandirian bangsa Meningkatnya kontribusi hasil litbangjirap iptek nuklir dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa Terwujudnya inovasi layanan pengelolaan limbahradioaktif yang handal yang sesuai dengan prinsip keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja Terlaksananya kegiatan litbangjirap iptek nuklir dalam pengelolaan limbah radioaktif yang sesuai dengan prinsip keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja
2.5 Prinsip
Segenap kegiatan dilaksanakan secara profesional untuk tujuan damai dan diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengutamakan prinsip keselamatan dan keamanan, serta kelestarian lingkungan hidup yang didukung dengan keterlibatan seluruh unsur sumber daya PTLR secara sinergis.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 28
2.6 Nilai
Seluruh kegiatan litbangjirap iptek nuklir yang dilaksanakan oleh PTLR berpedoman pada nilai berikut:
a. Akuntabilitas
Siap menerima tanggung jawab dan melakukan tanggung jawab itu dengan baik seperti yang ditugaskan.
b. Disiplin
Bertindak sesuai peraturan, prosedur, tata tertib, tepat waktu dan tepat sasaran dengan tetap mempertahankan efisiensi dan efektivitas waktu dan anggaran.
c. Keunggulan
Memiliki sikap dan motivasi untuk senantiasa berusaha mencapai hasil yang lebih baik dari pada yang lain.
d. Integritas
Menjunjung tinggi dan mendasarkan setiap sikap dan tindakan pada prinsip dan nilai-nilai moral, etika, peraturan perundangan termasuk menjauhkan dari kecenderungan tindakan KKN.
e. Kolaborasi
Mengutamakan kerja sama, mengembangkan jejaring kerja dengan pihak eksternal dan mengedepankan kerja tim (team work) untuk mencapai kinerja yang lebih baik.
f. Kompetensi
Menekankan pada kualitas penguasaan dan pemenuhan kualifikasi kemampuan SDM seperti yang dibutuhkan.
g. Inovatif
Meningkatkan upaya kreatif untuk menemukan pembaharuan dalam setiap hasil litbang.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 29
BAB III
ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI
3.1 Arah Kebijakan dan Strategi BATAN
Sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024 adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala bidang dengan menekankan pada terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandasan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Terdapat lima arahan Presiden dalam RPJMN 2020-2024 yang diterjemahkan dalam tujuh agenda pembangunan, yaitu:
1) Memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan;
2) Mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan;
3) Meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing;
4) Revolusi mental dan pembangunan kebudayaan;
5) Memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar;
6) Membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim; dan
7) Memperkuat stabilitas politik hukum pertahanan dan keamanan dan transformasi pelayanan publik.
Terkait dengan agenda pembangunan tersebut, iptek nuklir diharapkan dapat berkontribusi secara strategis dalam agenda pembangunan ketiga yaitu meningkatkan SDM yang berkualitas berdaya saing yang secara spesifik ditujukan pada upaya untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Arah kebijakan dan strategi BATAN di jangka menengah diarahkan untuk dapat meningkatkan peran strategis iptek nuklir dalam mendukung peningkatan kapasitas iptek nasional, daya saing industri dan
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 30
kemandirian bangsa; dan meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM iptek nuklir di tingkat nasional/internasional.
Agenda pembangunan tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan kapabilitas iptek dan penciptaan inovasi yang mencakup empat kelompok strategi, yaitu:
1) Pemanfaatan Iptek dan inovasi di bidang-bidang fokus RIRN 2017-2045 untuk pembangunan yang berkelanjutan yang mencakup integrasi pelaksanaan riset dengan skema flagship Prioritas Riset Nasional (PRN) untuk menghasilkan produk riset dan produk inovasi strategis;
2) Pengembangan research powerhouse, yang mencakup peningkatan kuantitas dan kapabilitas SDM Iptek, pengembangan dan penguatan infrastruktur litbang strategis, penguatan Pusat Unggulan Iptek, pengelolaan data kekayaan hayati dan kekayaan intelektual, serta pengembangan jaringan kerja sama riset dalam dan luar negeri;
3) Penciptaan ekosistem inovasi, yang mencakup penguatan kerja sama triple-helix, perbaikan tata kelola paten/KI, penguatan Science Techno Park (STP) utama, perintisan fungsi Technology Commercialization Office dalam kerangka Manajemen Inovasi di perguruan tinggi, perintisan Technology Transfer Office di STP atau LPNK Iptek, dan pembinaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT); dan
4) Peningkatan jumlah dan kualitas belanja litbang melalui koordinasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang ditunjang oleh peningkatan belanja litbang dari hasil pengembangan Dana Abadi Penelitian Pengembangan, Pengkajian, dan Penerapan untuk menghasilkan Invensi dan Inovasi, penguatan pendataan dan fasilitasi pendanaan alternatif dari luar pemerintah, serta pemberian insentif fiskal untuk penelitian dan pengembangan Iptek-inovasi.
Bidang prioritas RIRN seperti yang dimaksud pada kelompok strategi pertama, terdiri dari sembilan bidang prioritas riset yaitu pangan, energi, kesehatan, transportasi, produk rekayasa keteknikan, keselamatan dan keamanan, kemaritiman, sosial humaniora, dan bidang riset lainnya.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 31 Selanjutnya, bidang prioritas RIRN tersebut dijabarkan lebih lanjut ke dalam PRN yang berlaku untuk jangka waktu lima tahun guna memberikan penjelasan yang lebih rinci dan bersifat teknis mengenai prioritas kebijakan riset di jangka menengah. Pada PRN periode 2020-2024 terdapat rencana transisi prioritas kelompok makro riset yang terdiri dari: (1) kelompok riset maju berbasis sumber daya alam; (2) kelompok riset terapan berbasis sumber daya alam; (3) kelompok riset terapan manufaktur; (4) kelompok riset maju manufaktur; (5) kelompok riset teknologi tinggi; dan (6) kelompok riset rintisan terdepan.
Untuk Kedeputian TEN, fokus PRN adalah bidang energi. Bidang riset energi mencakup seluruh bidang dan proses untuk mendukung ketersediaan dan kedaulatan energi. Bidang riset ini meliputi penelitian dan pengembangan pada pencarian sumber energi, pengelolaan, serta peningkatan konversi sumber daya alam menjadi sumber energi. Berdasarkan PRN 2020-2024, fokus riset energi diharapkan mampu menghasilkan dan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan, seperti bahan bakar bersih berbasis energi baru dan terbarukan, teknologi listrik berbasis energi baru dan terbarukan. Untuk Kedeputian TEN akan difokuskan dalam Pembangunan PLTN skala komersial di Kalimantan Barat.
3.1.1 Fokus Bidang Kedeputian TEN
Dengan merujuk pada kebijakan perencanaan jangka menengah nasional, RPJMN 2020-2024, dan kebijakan perencanaan pembangunan tematik iptek di jangka panjang, BATAN berkomitmen untuk menghasilkan output extraordinary yang difokuskan pada delapan bidang pemanfaatan, yaitu bidang pangan/pertanian, kesehatan, energi, SDAL, material maju, rekayasa keteknikan, keselamatan & keamanan, dan kelembagaan. Untuk kedeputian TEN, pencapaian keluaran difokuskan pada tiga bidang, yaitu :
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 32
1. Fokus Bidang Energi
Kegiatan litbangjirap iptek nuklir di bidang energi difokuskan untuk mewujudkan kontribusi energi nuklir dalam bauran energi nasional, dalam upaya mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Keluaran utama dari fokus bidang energi berupa :
▪ Dokumen studi kelayakan PLTN yang terdiri dari studi tapak dan non-tapak mencakup:
▪ Prototipe bahan bakar nuklir yang siap dimanfaatkan oleh industri; dan
▪ Dokumen studi kelayakan pabrik yellow cake.
2. Fokus Bidang Material Maju
Kegiatan litbangjirap iptek nuklir di bidang material maju diarahkan pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam lokal untuk mendorong tumbuhnya inovasi material maju berbasis iptek nuklir dalam rangka mendukung daya saing industri nasional. Untuk Kedeputian TEN maka akan mendorong prototipe pemurnian bahan mineral ikutan (pasir monasit, senotim, ilmenit dan zirkon) untuk memperoleh logam tanah jarang yang bernilai strategis dan bernilai ekonomi tinggi.
3. Fokus Bidang Kelembagaan
Kedeputian TEN mendukung penuh penguatan kelembagaan yang difokuskan pada perubahan sistem manajemen menuju organisasi modern dan research powerhouse yang mumpuni dalam rangka mendukung terlaksananya kegiatan litbangjirap iptek nuklir pada tujuh fokus bidang teknis tersebut di atas dengan keluaran utama berupa:
▪ Basis data yang berisikan keunggulan SDM BATAN, layanan BATAN dan capaian kemajuan hasil litbangjirap iptek nuklir di BATAN
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 33 beserta potensi pemanfaatannya di masyarakat yang dimutakhirkan secara berkala;
▪ Program Talent Management System; ▪ Program Nuclear Knowledge Management;
▪ Layanan pelatihan regional di bidang ketenaganukliran;
▪ Layanan diklat nasional di bidang ketenaganukliran dalam rangka penyiapan SDM iptek nuklir yang berkompeten dan handal; dan ▪ Penguatan Reformasi Birokrasi di BATAN.
3.2 Arah Kebijakan dan Strategi PTLR
Kebijakan dan strategi dalam pengelolaan limbah radioaktif harus memenuhi :
1) Proteksi Kesehatan Manusia
Limbah radioaktif harus dikelola sedemikian rupa sehingga memenuhi tingkat perlindungan kesehatan masyarakat
2) Perlindungan Lingkungan Hidup
Limbah radioaktif harus dikelola sedemikian rupa sehingga memberikan tingkat perlindungan yang dapat diterima bagi lingkungan hidup.
3) Proteksi Melampaui Batas Nasional
Limbah radioaktif harus dikelola sedemikian rupa untuk memastikan bahwa kemungkinan dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan diluar perbatasan nasional, telah dipertimbangkan.
4) Proteksi untuk Generasi Mendatang
Limbah radioaktif harus dikelola sedemikian rupa sehingga dampak terhadap generasi yang akan datang tidak lebih besar daripada dampak yang dapat diterima oleh generasi saat ini.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 34
Limbah radioaktif harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak menjadi beban melebihi kemampuan generasi yang akan datang.
6) Kerangka Hukum Nasional
Limbah radioaktif harus dikelola dalam kerangka hukum yang tepat termasuk alokasi tanggung jawab secara jelas dan ketentuan untuk fungsi pengawasan yang independen.
7) Pengendalian Timbulnya Limbah Radioaktif
Timbulnya Limbah radioaktif harus diupayakan seminimal mungkin yang dapat dicapai.
8) Saling Ketergantungan dalam Penimbulan dan Pengelolaan Limbah Radioaktif
Ketergantungan antar seluruh tahapan dalam pengelolaan dan penimbulan limbah radioaktif harus diperhitungkan secara tepat.
9) Keselamatan Fasilitas
Keselamatan fasilitas untuk pengelolaan limbah radioaktif harus dijamin sesuai ketentuan selama umur fasilitas tersebut.
Arah kebijakan strategi PTLR berdasarkan prinsip proteksi keamanan dan keselamatan tersebut, serta merujuk pada arah dan kebijakan strategi BATAN maka garis besar kebijakan PTLR difokuskan pada pencapaian sasaran strategis BATAN sesuai dengan fungsi dan kompetensi PTLR, yaitu dalam bidang penguasaan teknologi pengelolaan limbah radioaktif serta layanannya. Secara umum, maka garis besar kebijakan strategi PTLR adalah:
a. Meningkatkan kegiatan dan inovasi litbangjirap Iptek Nuklir di bidang pengelolaan limbah radioaktif,
b. Meningkatkan layanan pengelolaan limbah radioaktif nasional dan bahan bakar nuklir bekas (BBNB).
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 35
3.2.1 Peta Strategi PTLR
Peta strategi digunakan untuk menjabarkan strategi secara visual, melalui sejumlah Sasaran Strategis (SS), Sasaran Program (SP) dan Sasaran Kegiatan (SK) yang terangkai dalam hubungan sebab akibat, sehingga memudahkan dalam mengkomunikasikan strategi dalam mewujudkan visi dan misi. Peta strategi menggambarkan cara pandang organisasi dari berbagai perspektif.
Ada 4 (empat) perspektif dalam Peta Strategi, yaitu :
[1] Perspektif Stakeholder
Perspektif ini mencakup SS, SP dan/atau SK yang ingin diwujudkan organisasi untuk memenuhi harapan sehingga dinilai berhasil dari sudut pandang stakeholder. Stakeholder (pemangku kepentingan) adalah pihak internal maupun eksternal yang secara langsung atau tidak langsung memiliki kepentingan atas output/outcome dari suatu organisasi, namun tidak menggunakan layanan organisasi secara langsung. Pemangku kepentingan yang dimaksud diantaranya adalah Kepala BATAN dan Deputi TEN terkait kontribusi PTLR pada pencapaian sasaran strategis BATAN. Selain pihak internal BATAN, pemangku kepentingan dari pihak eksternal adalah BAPETEN sebagai badan pengawas atas perijinan pengoperasian fasilitas nuklir di PTLR, dan masyarakat pada umumnya terkait keamanan dan keselamatan lingkungan.
Deputi TEN dan Kepala BATAN adalah pihak internal BATAN yang memiliki kepentingan atas tercapainya sasaran kegiatan PTLR. Output yang dihasilkan PTLR berkontribusi dalam tercapainya sasaran strategis BATAN dalam mewujudkan visi BATAN. Selain hal tersebut, PTLR juga terikat dalam Perjanjian Kinerja dengan Deputi TEN yang mana pencapaian output PTLR berpengaruh langsung terhadap pencapaian output Deputi TEN. Selain pihak internal BATAN, Pemerintah dalam hal ini termasuk Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang merupakan badan regulasi dalam
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 36
pemanfaatan tenaga nuklir termasuk pihak berkepentingan dari kegiatan litbangjirap iptek nuklir dalam pengelolaan limbah radioaktif yang aman dan selamat. PTLR yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk mengelola limbah radioaktif dan mengoperasikan fasilitas nuklir harus memenuhi seluruh persyaratan peraturan perundangan yang terkait keamanan dan keselamatan dan melaporkan laporan operasi secara rutin kepada BAPETEN. Selain itu, pihak swasta (pelanggan/penimbul limbah), rumah sakit dan masyarakat umum juga dapat digolongkan sebagai pemangku kepentingan akan pengelolaan limbah radioaktif yang aman dan selamat. Secara luas, manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan litbangjirap iptek nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif yang aman dan selamat adalah terciptanya lingkungan yang selamat bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Sudut pandang ini menjabarkan pencapaian impact yang diharapkan, dengan Sasaran Impact-nya adalah Meningkatnya kontribusi hasil litbangjirap iptek nuklir dalam bidang pengelolaan limbah radioaktif (LRA) sesuai dengan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
[2] Perspektif Customer
Perspektif ini mencakup SS, SP dan/atau SK yang ingin diwujudkan organisasi untuk memenuhi harapan customer dan/atau harapan organisasi terhadap customer. Customer (pengguna layanan) merupakan pihak luar yang terkait langsung dengan pelayanan suatu organisasi.
PTLR menyelenggarakan layanan publik yaitu layanan jasa pengelolaan limbah radioaktif secara langsung kepada masyarakat di Indonesia. Masyarakat pengguna layanan jasa pengelolaan limbah radioaktif terdiri dari industri, rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Pengguna layanan tersebut adalah badan usaha/instansi yang menghasilkan limbah radioaktif dari hasil pemanfaatan zat radioaktif. Selain itu, PTLR juga memberikan layanan kepada unit kerja di internal BATAN yang menghasilkan limbah radioaktif. Dalam menyelenggarakan layanannya, PTLR berusaha untuk memenuhi
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 37 seluruh permohonan jasa pengelolaan limbah radioaktif yang memenuhi Kriteria Keberterimaan Limbah dan meningkatkan kualitas layanan jasa pengelolaan limbah radioaktif baik dari segi teknis, SDM pelaksana layanan, prosedur, maupun sarana/prasarana yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pengguna layanan. Pengukuran tingkat kepuasan pengguna layanan diukur melalui Survei Kepuasan Masyarakat yang kemudian diolah dan menghasilkan indeks kepuasan pengguna jasa layanan pengelolaan limbah radioaktif atau Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).
Meningkatnya kualitas layanan jasa pengelolaan limbah radioaktif yang diselenggarakan oleh PTLR merupakan sasaran yang akan dicapai pada sudut pandang ini.
[3] Perspektif Internal Process
Perspektif ini mencakup SK yang ingin diwujudkan melalui rangkaian proses yang dikelola organisasi dalam memberikan layanan serta menciptakan nilai bagi stakeholder dan customer (value chain).
Dalam melaksanakan kegiatan utama PTLR yaitu litbangjirap iptek nuklir dalam pengelolaan limbar radioaktif yang menjadi sasaran kegiatan PTLR, PTLR menerapkan siklus perencanaan- pelaksanaan-evaluasi-tindak lanjut (Plan Do Check Action / PDCA). Perencanaan dilakukan dengan menetapkan penganggung jawab (PJ) kegiatan dan usulan kegiatan, kemudian menyusun KAK dan RAB pada tahun n-1, hingga ditetapkannya DIPA. Para PJ kegiatan melakukan koordinasi dan menyusun program kerja untuk kegiatan selama satu tahun. Dalam proses pelaksanaan kegiatan, terjalin sinergi antar lingkup kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, fasilitas, layanan, administrasi, dan operasi. Dalam pelaksanaan kegiatan, keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama. PTLR menerapkan budaya keamanan dan budaya keselamatan serta melakukan pemantauan dan pengukuran terkait keamanan dan keselamatan secara rutin dan menyeluruh. Dalam melaksanakan seluruh kegiatan, PTLR juga menerapkan sistem manajemen mutu.
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 38
Ada 2 (dua) Sasaran Kinerja pada sudut pandang ini, yaitu :
1) Terwujudnya inovasi layanan pengelolaan limbah radioaktif yang handal yang sesuai dengan prinsip keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk mencapai Sasaran Kinerja ini, ada dua pelaksanaan pencapaian output. Yang pertama adalah kegiatan pelaksanaan riset dan inovasi yang menghasilkan output Produk inovasi Litbangjirap Iptek Nuklir di Bidang Pengelolaan Limbah Radioaktif. Kemudian yang kedua adalah Jasa layanan pengelolaan limbah radioaktif.
2) Terlaksananya kegiatan litbangjirap iptek nuklir dalam pengelolaan limbah radioaktif yang sesuai dengan prinsip keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk mencapai Sasaran Kinerja ini, kegiatan litbangjirap iptek nuklir dalam pengelolaan limbah radioaktif didukung oleh beberapa kegiatan yang dilakukan secara sinergis sesuai dengan struktur organisasi PTLR. Yaitu Operasionalisasi Pengelolaan Limbah Radioaktif, Limbah B3 dan Bahan Bakar Nuklir Bekas; Operasionalisasi Pengelolaan Limbah Radioaktif, Limbah B3 dan Bahan Bakar Nuklir Bekas; Layanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Dukungan Manajerial Pelaksanaan Litbangjirap Iptek Nuklir.
Untuk mencapai kedua Sasaran Kinerja di atas dilaksanakan dalam kerangka jaminan mutu untuk mewujudkan birokrasi yang bersih dan berintegritas menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good government) sejalan dengan pelaksanaan Program Pembangunan Zona Integritas (PZI) dan roadmap program Reformasi Birokrasi BATAN.
[4] Perspektif Learning and Growth
Perspektif ini mencakup SK yang berupa kondisi ideal atas sumber daya internal organisasi yang ingin diwujudkan atau yang seharusnya dimiliki
Renstra PTLR BATAN 2020-2024 39 oleh organisasi untuk menjalankan proses bisnis guna menghasilkan output atau outcome organisasi yang sesuai dengan harapan customer dan stakeholder. Sumber daya internal organisasi PTLR terdiri dari 4 (empat) komponen utama, yaitu SDM, Manajemen organisasi, Sarana dan Prasarana serta Anggaran untuk pembiayaan kegiatan yang dilaksanakan di PTLR.
Peningkatan kompetensi SDM yang profesional menjadi perhatian penting dalam program Nuclear Knowledge Management (NKM) dan Talent Pool Management yang sejalan dengan program di BATAN untuk mengurangi adanya gap kompetensi antar pegawai senior dan pegawai muda. Selain itu juga dilakukan pembinaan dalam bentuk diklat baik dari sisi kebutuhan fungsionalnya maupun manajemen. Keterlibatan dalam pelatihan/workshop maupun technical meeting di tingkat nasional maupun internasional juga terus ditingkatkan terutama bagi pegawai muda. Pengetahuan atau informasi dari kegiatan ini kemudian dibagi kepada pegawai lain pada kegiatan Transfer Knowledge yang diadakan secara rutin, termasuk juga untuk Transfer Knowledge Pegawai yang memasuki usia purna pensiun sebagai bentuk transfer ilmu ke pegawai yang masih aktif yang kemudian didokumentasikan dan disimpan dalam arsip ilmiah.
Manajemen organisasi PTLR menerapkan tata kelola yang bersih, transparan dan akuntabel sejalan dengan program reformasi birokrasi yang tertuang dalam roadmap nasional dan di tingkat BATAN. Mempertahankan predikat WBK/WBBM merupakan salah satu target capaian pada program Pembangunan Zona Integritas (PZI) di PTLR. Penerapan budaya kerja aman dan selamat selalu digaungkan sesuai dengan motto Budaya Keselamatan PTLR :
“Pergi Selamat, Kerja Selamat, Lingkungan Selamat, Pulang Selamat “
Sarana dan Prasarana yang telah dimiliki PTLR dalam pengelolaan limbah radioaktif merupakan fasilitas terlengkap di tingkat regional Asia Tenggara dan sering menjadi rujukan bagi negara tetangga bahkan ditunjuk sebagai tempat Fellowship oleh IAEA untuk negara-negara dari Afrika