Hasil pengujian secara simultan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dapat dijabarkan sebagai berikut.

Teks penuh

(1)

32 PEMBAHASAN

Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini terdapat empat hipotesis yang telah diuji secara simultan dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah variabel tekanan etis, kompetensi, komitmen profesional, dan situasi konflik audit berpengaruh secara simultan terhadap skeptisme profesional auditor.

Hasil pengujian secara simultan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dapat dijabarkan sebagai berikut.

Hasil Pengujian Hipotesis Pertama

Berdasarkan tabel 7 diatas ini menunjukkan nilai signifikansi 0,619 (lebih besar dari α = 0,05), artinya tekanan etis tidak berpengaruh terhadap skeptisme profesional auditor pada α = 0,05 (tingkat kesalahan 5%). Hasil pengujian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Utami et al. (2006) bahwa pegawai berharap menerima nilai-nilai etis atau norma perilaku organisasi, namun organisasi gagal untuk memenuhi standar moral personalnya. Dari perspektif auditor, konflik etis umumnya meliputi situasi auditor merasakan tekanan dari pihak atasannya untuk mengkompromikan nilai-nilai personal mereka untuk mencapai tujuan organisasi (Leicht dan Fennel, 1987). Sesuai dengan Theory Reasoned action yang dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1980. 116) yang menyatakan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku menentukan akan dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor penentu dasar yang berhubungan dengan attitude towards behavior dan berhubungan dengan perilaku sosial yaitu subjective norms. Hal ini disebabkan oleh perbedaan indikator ketika mengukur tekanan etis tidak diturunkan dari sikap mental auditor untuk skeptis jika auditor tidak mempunyai komitmen atas standar

(2)

33 etikanya, mereka merasionalkan perilaku tidak etis sebagai bagian yang diperlukan dalam pekerjaan atau lingkungan bisnis dan bisa menghindari konflik internal (Shafer, 2002).

Perilaku auditor IGE Timor Leste untuk selalu skeptis dalam profesinya menghadapi situasi tekanan etis yang dipengaruhi secara signifikan oleh pihak lain, termasuk latarbelakang pendidikan auditor IGE, budaya institusi yang dihadapi auditor IGE yang cenderung tergantung pada pimpinan auditor IGE, aturan-aturan etika yang diperlukan auditor IGE dalam lingkungan profesinya turut mempengaruhi sikap skeptisme profesional auditor, tanpa memperhatikan apakah perilakunya sesuai dengan kode etik atau tidak. Sistem pengawasan yang lemah dari auditor IGE, serta tidak adanya kode etik auditor terhadap anggotanya menjadi penyebab kurangnya sikap skeptis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa situasi dalam tekanan etis yang berbeda-beda dan bermacam-macam oleh auditor IGE akan mempengaruhi sikap skptisme profesional auditor yang dimiliki. Hasil Pengujian Hipotesis Kedua

Berdasarkan tabel 7, di atas menunjukkan nilai signifikansi 0,596 (lebih besar dari α = 0,05), artinya kompetensi tidak berpengaruh terhadap skeptisme profesional auditor pada α = 0,05 (tingkat kesalahan 5%). Hasil pengujian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Silalahi (2013) yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif antara kompetensi terhadap skeptisisme profesional auditor. Yang berarti bahwa semakin bertambah kompetensi seseorang dalam bidang auditing maka akan semakin tinggi skeptisisme profesional auditor. Kompetensi umum yang perlu dimiliki oleh auditor adalah pemahaman mengenai akuntansi, khususnya akuntansi sektor publik dan pemerintahan termasuk pemahaman terhadap

(3)

34 standar akuntansi pemerintahan dan pemahaman auditor mengenai sistem pengendalian intern, Cris (2009).

Hal ini berarti bahwa skeptisme profesional auditor IGE, dapat dicapai jika auditor yang berkompetensi akan memiliki keahlian-keahlian yang diperoleh dari beberapa seminar atau pelatihan-pelatihan dalam hal pengauditan, sehingga mempengaruhi seorang auditor untuk memiliki sikap skeptisisme profesional auditor. Sesuai dengan Theory Reasoned action tentang tindakan yang beralasan, disebabkan dari dua faktor dasar penentunya, yakni individu dalam sifat alaminya dan pancaran pengaruh sosial kepada orang tersebut menganggap bahwa, pentingnya sikap atas perilaku dan norma subyektif secara relatif, sebagian bergantung kepada maksud di balik penelitian yang dilakukan.

Auditor IGE Timor Leste, sebagai ujung tombak pelaksanaan tugas audit memang harus senantiasa meningkatkan pengetahuan yang telah dimiliki agar penerapan pengetahuan dapat maksimal dalam praktiknya. Dengan melihat hasil penelitian ini maka, bisa dikatakan kompetensi tidak membantu auditor IGE dalam menyelesaikan audit secara efektif, disebabkan tidak adanya standar akuntansi di Timor Leste sebagai acuan mengakibatkan kurangnya pemahaman mengenai akuntansi, khususnya akuntansi sektor publik dan pemerintahan, dan pemahaman auditor mengenai sistem pengendalian intern. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa auditor yang berkompetensi akan memiliki keahlian-keahlian yang diperoleh dari beberapa seminar atau pelatihan-pelatihan dalam hal pengauditan, sehingga mempengaruhi seorang auditor untuk memiliki sikap skeptisisme profesional auditor.

(4)

35 Hasil Pengujian Hipotesis Ketiga

Berdasarkan tabel 7 di atas ini menunjukkan nilai signifikansi. 0,000 (sig<0,05), artinya komitmen profesional berpengaruh terhadap skeptisme profesional auditor pada α = 0,05 (tingkat kesalahan 5%). Hasil pengujian hipotesis ini menunjukkan bahwa komitmen profesional berpengaruh pada skeptisme profesional auditor. Beberapa penelitian sebelumnya memperkuat hasil penelitian ini. Utami et al. (2007) menyatakan bahwa komitmen profesional mendasari perilaku, sikap, dan orientasi profesional seseorang dalam menjalankan tugasnya. Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan Januarti (2011) yang menemukan bahwa komitmen profesional tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi dan pertimbangan etis auditor.

Hal tersebut dapat dikarenakan perbedaan persepsi mengenai komitmen profesional antara auditor IGE dan perbedaan budaya organisasi atau institusi dapat menjadi faktor penting yang membedakan pemahaman masing-masing auditor mengenai komitmen profesional. Sesuai dengan Theory Reasoned action tentang tindakan yang beralasan, yakni sifat alaminya dan pancaran pengaruh sosial kepada obyek tersebut, bahwa faktor kepribadian adalah sikap perseorangan atas perilaku, tidak seperti sikap umumnya, kepada berbagai lembaga, atau berbagai obyek, yang berkaitan dengan berbagai ketentuan berdasarkan norma subyektif. Maksudnya berbagai pertimbangan atas sikap, lebih penting daripada pertimbangan normatif, sedangkan bagi sebagian lainnya pertimbangan normatif lebih penting.

Komitmen profesional auditor IGE nampak pada komitmennya untuk selalu antusias dengan pekerjaannya sebagai auditor, selain itu auditor mempunyai tingkat komitmen profesional yang tinggi mempunyai pengaruh

(5)

36 positif dan signifikan terhadap skeptisme profesional auditor. Artinya apabila komitmen profesional auditor IGE ditingkatkan, maka akan meningkatkan skeptisme profesional auditornya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, apabila seorang auditor mempunyai kepercayaan dan penerimaan terhadap nilai-nilai profesi auditor, berusaha secara sungguh-sungguh demi kepentingan profesinya dan memelihara keanggotaan sebagai seorang auditor, maka akan berpengaruh pada semakin besarnya tingkat skeptisme tersebut.

Hasil Pengujian Hipotesis Keempat

Berdasarkan tabel 7, diatas ini menunjukkan nilai signifikansi 0,104 (lebih besar dari α = 0,05), artinya situasi konflik audit tidak berpengaruh terhadap skeptisme profesional auditor pada α = 0,05 (tingkat kesalahan 5%). Hasil pengujian hipotesis ini menunjukkan bahwa situasi konflik audit tidak berpengaruh pada skeptisme profesional auditor. Pengujian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Maghfirah (2005), dan Silalahi (2013). Yang menyatakan bahwa semakin besar resiko pada situasi audit maka seorang auditor akan semakin tinggi skeptisisme profesional auditor. Dimana dalam pelaksanaan auditnya seorang audit menemukan situasi audit yang beresiko besar, maka dalam pengumpulan bukti audit diperlukan sikap skeptisme yang lebih tinggi karena audit dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai atas pendeteksian salah saji yang material dalam laporan keuangan.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan indikator ketika mengukur situasi konflik audit tidak diturunkan dari sikap mental auditor untuk skeptis, sehingga merasionalkan perilaku tidak etis sebagai bagian yang diperlukan dalam pekerjaan atau lingkungan bisnis dan bisa menghindari konflik internal. Sesuai dengan Theory Reasoned Action yang berkaitan dengan

(6)

37 sebab yang mendahului perilaku semaunya sendiri. Dalam upaya mengungkapkan pengaruh sikap dan norma subjektif terhadap niat untuk melakukan atau perilaku tidak melakukannya, secara tidak langsung, tindakan yang beralasan berdasarkan kepada anggapan bahwa berperilaku dengan cara yang pantas; yakni mengambil berbagai keterangan secara langsung maupun tidak mempertimbangkan berbagai akibat dari perilakunya. Situasi konflik audit terhadap skeptisme profesional auditor IGE tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, disebabkan oleh pihak lain termasuk belum adanya aturan-aturan kode etik auditor di Timor Leste, dan adanya perbedaan yang akan mengarahkan sikap, tingkah laku dan perbuatan auditor dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, kaitannya untuk menjaga mutu auditor IGE yang tinggi, melalui skeptisisme profesional auditor yang dimiliki, tanpa memperhatikan apakah perilakunya sesuai dengan kode etik atau tidak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku auditor IGE dan latarbelakang pengetahuan serta kurangnya pemahaman penerapan profesi auditor, menghadapi situasi konflik audit yang berbeda-beda dan bermacam-macam akan mempengaruhi seorang auditor melalui sikap skeptisisme profesional auditor yang dia miliki.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :