SKRIPSI
PENGARUH PEMAHAMAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (SAP), TRANSPARANSI, PELATIHAN TERHADAP KUALITAS
LAPORAN KEUANGAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KOTA MEDAN
OLEH
RIZKY AMALIA 130503139
PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi Saya yang berjudul “Pengaruh Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Transparansi dan Pelatihan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Medan” adalah benar hasil karya Saya sendiri sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang Saya peroleh dari perusahaan atau Lembaga, dan atau Saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan.
Apabila kemudian hari ditemukan kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, Saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 09 Oktober 2017 Yang membuat Pernyataan,
NIM. 130503139 RIZKY AMALIA
ABSTRAK
PENGARUH PEMAHAMAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (SAP), TRANSPARANSI DAN PELATIHAN TERHADAP KUALITAS
LAPORAN KEUANGAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KOTA MEDAN
SAP merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan berpedoman pada SAP, maka diharapkan laporan keuangan pemerintah daerah telah disajikan secara relevan dan handal sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pemerintah daerah akan digunakan oleh beberapa pihak yang berkepentingan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informasi yang terdapat di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) harus bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan para pemakai. Informasi akuntansi yang terdapat di dalam laporan keuangan pemerintah daerah harus memenuhi beberapa karakteristik kualitatif yang sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yakni relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami serta transparan dalam penyajiannya.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik Quesioner (angket), dengan teknik analisis data untuk mengetahui pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan terhadap kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah kota Medan menggunakan teknik analisis Regresi Berganda.
Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan memiliki pengaruh yang nyata (signifikan) dengan variabel kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah Kota Medan.
Kata Kunci : Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Transparansi, Pelatihan dan Kualitas Laporan Keuangan
ABSTRACT
EFFECT OF UNDERSTANDING OF GOVERNMENT
ACCOUNTINGSTANDARD(SAP), TRANSPARENCY AND TRAINING ON QUALITY OF FINANCIAL STATEMENTS UNIT
WORK DEVICEMEDAN CITY REGION
SAP is the accounting principles set out in preparing and presenting the government's financial statements. With reference to SAP, it is expected that local government financial statements have been presented in a relevant and reliable manner so that it can be used as a basis for decision making. The financial statements produced by the local government will be used by some interested parties as the basis for decision making. Therefore, the information contained in the Local Government Financial Statements (LKPD) should be useful and appropriate to the needs of the users. The accounting information contained in the local government financial statements must satisfy some qualitative characteristics as required by Government Regulation no. 71 Year 2010 on Government Accounting Standards, that is relevant, reliable, comparable and understandable and transparent in its presentation.
The data collection technique used in this research is Quesioner (questionnaire) technique, with data analysis technique to know the influence of understanding of government accounting standard (SAP), transparency and training on the quality of financial report of work unit of Medan city area using Multiple Regression analysis technique.
The results of this study indicate that the answer of the problem formulation in this research is the understanding of Government Accounting Standards (SAP), transparency and training have a significant effect (significant) with the variable quality of the financial report of the working unit of Medan City.
Keywords: Government Accounting Standards (SAP), Transparency, TrainingandQuality of Financial Statements
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan penyertaan-Nya bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang berjudul "Pengaruh Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Transparansi dan Pelatihan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Medan” guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta dukungan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak. Terutama penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda Zainuddin dan Ibunda Ratna Lubis. Terima kasih atas semua kasih sayang, doa, dukungan, didikan, dan semangat yang sangat berarti. Penulis ucapkan terima kasih atas dukungannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas hingga dapat diselesaikannya skripsi ini.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihan, MAFIS, Ak, CPA.selaku Ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M., Ak. selaku Sekretaris Departemen/Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. IbuProf. Dr. Erlina, SE., M.Si., Ph.D., Ak.,CA. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini barupa saran dan kritik yang sangat mambangun sehingga skripsi ini dapat
4. Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M., Ak. selaku dosen penguji dan Bapak Drs. Syamsul Bahri TRB., MM., AK selaku dosen pembanding yang memberikan banyak masukkan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 5. Para Bapak dan Ibu dosen pengajar yang telah memberikan ilmunya
kepada penulis selama masa kuliah.
6. Terima kasih kepada sahabat-sahabat terbaikku terutama Ariansyah Putra Lubis, April M.E. Pasaribu, Latifah Sinaga, Siti Hamdayani Purba dan kawan-kawan lainnyauntuk segala bantuan, dukungan yang selalu memacu semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini dan semua pihak yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Peneliti menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan peneliti dalam pengetahuan dan pengulasan skripsi. Peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga dapat menjadikan sebagai acuan dalam penelitian karya-karya ilmiah selanjutnya. Akhir kata, peneliti berharap agar skripsi ini bermanfaat.
Medan, 09 Oktober2017 Penulis
NIM : 130503139 RIZKY AMALIA
DAFTAR ISI Halaman PERNYATAAN ... i ABSTRAK ... ii ABSTRACT ... iii KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Identifikasi masalah ... 6 1.3. Perumusan masalah ... 6 1.4. Tujuan penelitian ... 7 1.5. Manfaat penelitian ... 7
BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Kualitas Laporan Keuangan ... 8
2.1.1. Pengertian Kualitas Laporan Keuangan ... 8
2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laporan KeuanganDaerah ... 9
2.1.3. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan ... 11
2.1.4. Peranan Pelaporan Keuangan ... 12
2.1.5. Dasar Hukum Laporan Keuangan ... 14
2.1.6. Tujuan Laporan Keuangan ... 15
2.2. Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)... 17
2.2.1. Pengertian Pemahaman SAP ... 18
2.2.2. Kerangka Konseptual SAP ... 18
2.2.3. Sejarah SAP ... 19
2.3.Transparansi ... 20
2.3.1. Pengertian Transparansi ... 20
2.3.2.KonsepTransparasiLaporanKeuanganPemerintah Daerah ... 22
2.3.3.Ciri-ciri transparansi yang Efektif serta langkah-langkah untuk Mengimplementasikan ... 24
2.4. Pelatihan ... 26
2.4.1. Pengertian Pelatihan ... 26
2.4.2. Metode Pelaksanaan Program Pendidikan dan Pelatihan ... 27
2.5.Penelitian Terdahulu ... 29
2.6. Kerangka Konseptual ... 31
2.6.1. Pengaruh Pemahaman SAP terhadap Penyusunan LaporanKeuangan SKPD Kota Medan ... 31
2.6.2.Pengaruh Transparansi terhadap Penyusunan
LaporanKeuangan SKPD Kota Medan ... 32
2.6.3.Pengaruh Pelatihan terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Kota Medan ... 33
2.7.Hipotesis ... 34
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Pendekatan Penelitian ... 35
3.2. Definisi Operasional Variabel ... 35
3.3. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
3.4. Populasi dan Sampel Penelitian ... 36
3.5. Teknik Pengumpulan Data ... 39
3.6. Teknik Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47
4.1. Gambaran Umum ... 47
4.2.Hasil Penelitian ... 50
4.2.1. Karakteristik Penelitian ... 50
4.2.2. Analisa Variabel Bebas – X1 (Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan) ... 53
4.2.3. Analisa Variabel Bebas – X2 (Transparansi) ... 54
4.2.4. Analisa Variabel Bebas – X3 (Pelatihan) ... 56
4.2.5. Analisa Variabel Terikat–Y (Kualitas Laporan Keuangan) ... 57
4.3. Pembahasan ... 59
4.3.1. Pengujian Validitas dan Reliabilitas ... 59
4.3.2. Pengujian Asumsi Klasik ... 66
4.3.3. Pengujian Regresi Berganda ... 70
4.3.4. Uji t (Uji Secara Parsial) ... 71
4.3.5. Uji F (Uji Secara Simultan) ... 73
4.3.6. Uji Determinasi (R2) ... 74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
5.1. Kesimpulan ... 75
5.2. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 78
DAFTAR TABEL No. Tabel Judul Halaman
2.1.Penelitian Terdahulu ... 29
3.1.Sampel Penelitian dan Responden ... 37
3.2. Tabel Skala Pengukuran Likert ... 39
4.1.Daftar Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Medan yang Diteliti ... 47
4.2.Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 50
4.3.Karakteristik Responden Usia ... 51
4.4.Karakteristik Respondn Pendidikan ... 51
4.5.Karakteristik Responden Lama Bekerja ... 52
4.6.Skor Angket RespondenUntuk Variabel Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan ... 53
4.7.Skor Angket Responden Untuk Variabel Transparansi ... 54
4.8.Skor Angket Responden Untuk Variabel Pelatihan ... 56
4.9.SkorAngketRespondenUntuk VariabelKualitas Laporan Keuangan ... 58
4.10.Uji Validitas Variabel Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) ... 60
4.11.Uji Validitas Variabel Transparansi ... 61
4.12.Uji Validitas Variabel Pelatihan ... 62
4.13.Uji Validitas Variabel Kualitas Laporan Keuangan ... 63
4.14.Uji RealibilitasVariabel Pemahaman StandarAkuntansi Pemerintahan (SAP) ... 64
4.15.Uji Realibilitas Variael Transparansi ... 64
4.16.Uji Realibilitas Variabel Pelatihan ... 65
4.17.Uji Realibilitas Variabel Kualitas Laporan Keuangan ... 65
4.18.Uji Multikolinearitas ... 69
4.19.Hasil Output Regresi Variabel X1, X2,X3 dan Y ... 70
4.20.Hasil Output Uji t Variabel X1, X2, X3 dan Y ... 72
4.21.Hasil Output Uji F Variabel X1, X2 dan Y ... 73
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1. Kerangka Konseptual ... 31
4.1. Grafik Histogram ... 66
4.2. Output SPSS Normal P-Plot ... 67
DAFTAR LAMPIRAN No. Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner Penelitian ... 82
2 Distribusi Jawaban Responden ... 85
3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 96
4 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 98
5 Hasil Uji Hipotesis Penelitian ... 100
6 Surat Persetujuan Izin Research/ Survey ... 102
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma pembangunan nasional. Perubahan paradigma ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah yang diatur dalam Undang yaitu Undang No. 9 Tahun 2015 Tentang Pemerintah Daerah. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang sekarang diubah menjadi Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
SAP merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan berpedoman pada SAP, maka diharapkan laporan keuangan pemerintah daerah telah disajikan secara relevan dan handal sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pemerintah daerah akan digunakan oleh beberapa pihak yang berkepentingan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informasi yang terdapat di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) harus bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan para pemakai. Menurut Sukmaningrum (2012: 41) menyatakan
pengambilan keputusan dan dapat dipahami oleh para pemakai”. Pemerintah daerah wajib memperhatikan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan untuk keperluan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Informasi akuntansi yang terdapat di dalam laporan keuangan pemerintah daerah harus memenuhi beberapa karakteristik kualitatif yang sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yakni relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami serta transparan dalam penyajiannya.
Wiraputra, dkk (2014:3) mengemukakan bahwa: “Selain pemahaman terhadap SAP, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah latar belakang pendidikan. Sumber daya manusia keberadaannya sangat penting dalam organisasi karena sumber daya manusia menunjang organisasi melalui karya, kreativitas, dorongannya dan peran nyata seperti yang dapat disaksikan dalam setiap organisasi”.
Dalam kaitan dengan kemampuan penyusunan laporan keuangan adalah sumber daya manusia yakni perangkat SKPD yang dimiliki mempunyai latar belakang pendidikan akuntansi. Terbatasnya pegawaiyang memiliki latar belakang pendidikan di bidang akuntansi menjadikan kurangnya pemahaman aparatur SKPD dalam mengelola keuangan daerah dengan baik dan benar. Sebagian besar pegawai negeri bagian keuangan tidak memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan posisinya serta belum memenuhi sepenuhnya tentang akuntansi.
Badan Pemeriksa Keuangan (2014:25) mengemukakan bahwa, “Jumlah SDM aparatur yang berlatar belakang pendidikan akuntansi pada satuan kerja
pengelola keuangan baik di pusat maupun daerah, jumlahnya sangat terbatas”. Hal ini akan berdampak pada penyusunan laporan keuangan yang kurang baik. Oleh karena itu dengan memperhatikan latar belakang pendidikan perangkat SKPD pengelola keuangan, maka akan berhubungan dengan tingkat pemahaman terhadap SAP sehingga membantu dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah.
Selain itu juga perlu juga diperlukan faktor pendidikan dan pelatihan (diklat) dalam mendukung perangkat SKPD menyusun laporan keuangan. Pendidikan dan pelatihan ini bertujuan agar perangkat SKPD tidak mengalami kesulitan dalam menyusun laporan keuangan daerah karena telah terbiasa disebabkan adanya diklat yang telah dilakukan. Hal tersebut senada dengan pendapat Lestari, dkk (2014:2) bahwa:
“Faktor pendukung lainnya seperti pelatihan juga dapat mendukung perangkat Dinas Daerah dalam penyajian laporankeuangan. Pelatihan ini dimaksudkan agar perangkat Dinas Daerah tidak mengalami kesulitan dalam menyusun laporan keuangan yang baik dan benar sesuai dengan SAP, karena telah mengikuti pelatihan tersebut. Namun seringkalipelatihan-pelatihan ini bersifat formalitas untuk memenuhi persyaratan jabatan. Sehingga pendidikan dan pelatihan yang dilakukan terkadang menjadi kurang efektif dan efisien”.
Akan tetapi pada kenyataannya pendidikan dan pelatihan pegawai yang berlaku dewasa ini hanya bersifat formalitas guna memenuhi persyaratan jabatan saja. Sehingga akibatnya pendidikan dan pelatihan yang dilakukan kurang efektif dan efisien.
perludikaji lebih dalam.Hal inidisebabkanoleh kurangnya pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam penyusunan Laporan Keuangan tersebut (Luh,2014:85).Adanya otonomi daerah menuntut secara tidak langsung pemerintah daerah untuk menyajikan Laporan Keuangan secara transparan dan tepat.Pemerintah daerah diwajibkan bertanggungjawab dan terbuka kepada masyarakat dalam penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Instansi Pemerintah wajib melakukan pengelolaan keuangan serta mempertanggung jawabkan pelaksanaan keuangannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang didasarkan pada perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Bentuk pertanggung jawaban tersebut diperlukan penerapan sistem pelaporan keuangan yang tepat, jelas dan terukur sesuai dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen sektor publik untuk memberikan informasi kepada publik, salah satunya adalah informasi akuntansi yang berupa laporan keuangan.
Laporan keuangan merupakan laporan yang disusun secara sistematis mengenai posisi keuangan suatu entitas pada saat tertentu, dan kinerja suatu entitas pada periode tertentu. Maka untuk memenuhi syarat–syarat dalam menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tersebut, pemerintah mengeluarkan peraturan yang dapat mengatur dan mengelola penyajian laporan keuangan. Peraturan itu yaitu peraturan pemerintah No 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Tujuannya adalah sebagai acuan bagi penyusun standar akuntansi pemerintahan pusat dan daerah dalam melaksanakan tugasnya,
penyusun laporan keuangan dalam menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar, pemeriksa dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan dan para pengguna laporan keuangan dalam menafsirkan informasi yang disajikan pada laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan ditemukan fenomena berkaitan dengan pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan terhadap kualitas laporan keuangan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Medan bahwa tidak semua pegawai yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan keuangan dinas pemerintah mengetahui dan memahami tentang standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan terhadap kualitas laporan keuangan. Dimana pelaporan keuangan pada kantor dinas bila dilihat dari segi tranparansi ternyata secara keseluruhan tidak diketahui oleh pegawai.
Laporan keuangan daerah pada dasarnya merupakan suatu asersi atau pernyataan dari pihak manajemen pemerintah daerah kepada pihak lain, yaitu pejabat yang memiliki kepentingan tentang kondisi keuangan pemerintah daerah. Agar dapat menyediakan informasi yang berguna dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, maka informasi yang disajikan dalam pelaporan keuangan harus memenuhi karakteristik kualitatif sehingga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan dapat dipenuhi dengan laporan yang disajikan secara wajar berdasarkan
Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Transparansi dan Pelatihan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Medan”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan penulis, dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1. Masih terjadi kasus buruknya kualitas laporan keuangan pemerintah daerah disebabkan oleh kurangnya pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam penyusunan Laporan Keuangan.
2. Penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintah daerah masih belum transparan.
3. Perangkat SKPD masih mengalami kesulitan karena kurangnya pemahaman dan tidak efektifnya pelatihan dalam menyusun laporan keuangan daerah.
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan baik secara parsial maupun simultan terhadap kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah Kota Medan?
1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan baik secara parsial maupun simultan terhadap kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah Kota Medan.
1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak antara lain :
1. Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan berkaitan dengan pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan terhadap kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah.
2. Bagi pihak pemerintah daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan berkaitan dengan masalah pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi, pelatihan dan kualitas laporan keuangan.
3. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi ataupun memberikan inspirasi untuk melakukan penelitian sejenis dengan mengembangkan variabel.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kualitas Laporan Keuangan
2.1.1. Pengertian Kualitas Laporan Keuangan Menurut PP No. 71 (2010 : 6):
“Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi- transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.”
Secara spesifik tujuan laporan keuangan pemerintah adalah untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Berikut ini adalah beberapa definisi mengenai laporan keuangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain:
1. Menurut Munawir (2000 : 2) “Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan atau aktivitas perusahaan tersebut”. 2. Menurut Sawir (2001 : 2) “Laporan Keuangan adalah media yang dapat
dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba rugi, ikhtisar laba ditahan, dan laporan posisi keuangan”.
3. Menurut Warren et al (2005 : 24) “Laporan Keuangan adalah laporan akuntansi yang dibuat setelah transaksi dicatat dan dikhtisarkan yang menghasilkan informasi bagi pemakainy”.
Sedangkan pengertian kualitas laporan keuangan pemerintahan dijelaskan pada Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 yaitu “Karakteristik kualitatif atau kualitas laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya”. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami.
2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Daerah Berdasarkan alur dan unsur yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan ada lima faktor utama yang menentukan kualitas laporan keuangan SKPD yaitu:
1. Kompetensi Sumber Daya Manusia
Menurut Widodo yang dikemukakan oleh Kharis (2010:11) menjelaskan kompetensi sumber dayamanusia adalah kemampuan sumber daya manusia untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya dengan bekal pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang cukup memadai.Menurut Wiley yang dikemukakan oleh Azhar (2007:35), Sumber daya manusia merupakan pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda
organisasi dalam usaha mewujudkan visi dan misi serta tujuan dari organisasi tersebut.
2. Teknologi Informasi yang digunakan
Menurut Goodhue dan Thompson (1995:213) “Technology is a tool used by individuals in the completion of their tasks”. Dalam konteks sistem informasi, teknologi terkait dengan sistem komputer (perangkat keras, perangkat lunak dan data) dan penggunaan jasa pendukung (training, misalnya) yang memberikan panduan pengguna dalam penyelesaian tugas.Model terfokus pada pengaruh sistem secara spesifik atau pengaruh umum seperangkat sistem, kebijakan dan jasa yang diberikan oleh departemen sistem informasi.
3. Peran PPK-SKPD
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dijelaskan bahwa Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD. PPK-SKPD sebagaimana dimaksud mempunyai tugas, antara lain: melaksanakan akuntansi SKPD; menyiapkan laporan keuangan SKPD; dan melaksanakan verifikasi atas SPJ yang disampaikan oleh Bendahara Penerimaan/Pengeluaran.
4. Rekonsiliasi
Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-/PB/2009 tentang Pedoman Rekonsiliasi dan Penyusunan Laporan Keuangan Kuasa Bendahara Umum Negara, rekonsiliasi merupakan salah satu kunci dalam upaya penyusunan laporan keuangan yang kredibel. Hal ini disebabkan oleh perannya yang cukup penting dalam rangka meminimalisasi terjadinya perbedaan pencatatan yang berdampak pada validitas dan akurasi data yang disajikan dalam laporan keuangan.
5. Sistem Pengendalian Intern (SPI)
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 mengungkapkan bahwa :
”Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan”.
SPI merupakan kegiatan pengendalian terutama atas pengelolaan sistem informasi yang bertujuan untuk memastikan akurasi dan kelengkapan informasi.
2.1.3.Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan
Menurut PP No. 71 (2010 : 9) “asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan. Asumsi dasar tersebut kemandirian entitas, asumsi
kesinambungan entitas, asumsi keterukuran dalam satuan uang (monetary
meansurement)”.
2.1.3.1. Kemandirian Entitas
Asumsi kemandirian entitas, berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggungjawab penuh.
2.1.3.2. Kesinambungan Entitas
Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berkelanjutan keberadannya. Dengan demikian, pemerintah diasumsikantidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek.
2.1.3.3. Keterukunan Dalam Satuan Uang (Monetary Measurement) Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi.
2.1.4. Peranan Pelaporan Keuangan
Menurut PP No. 71 (2010: 7) “Setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil
yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan”.
2.1.4.1. Akuntabilitas
Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.
2.1.4.2. Manajemen
Membantu para pengguna untuk mengecaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian atas seluruh asset, kewajiban, dan ekuitas pemerintah untuk kepentingan masyarakat.
2.1.4.3. Transparansi
Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang- undangan.
2.1.4.4. Keseimbangan Antargenerasi
Membantu para pengguna dalam mengetahui kecakupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai
datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. 2.1.4.5. Evaluasi Kerja
Mengevaluasi kinerja entitas pelaporan, terutama dalam penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola pemerintah untuk mencapai kinerja yang direncanakan.
Dari berbagai pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran pelaporan keuangan mempunyai kewajiban untuk melaporkan semua upaya yang telah dilakukan serta hasil yang telah dicapai dalam kegiatan, harus secara sistematis dan terstruktur dalam suatu periode pelaporan untuk kepentingan akuntabilitas, manajemen, transparansi, keseimbangan antar generasi serta evaluasi kerja. Dari semua hal tersebut akan dapat dilihat bagaimana kualitas dari penyusunan laporan keuangan. Kualitas penyusunan laporan keuangan akan bernilai baik apabila semua kepentingan pelaporan keuangan di atas dapat dicapai sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
2.1.5. Dasar Hukum Laporan Keuangan
Menurut PP No. 71 (2010: 8) Pelaporan keuangan pemerintah diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur keuangan pemerintah antara lain:
1. Undang- Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yaitu, Undang- Undang yang setiap tahunnya diterbitkan untuk menetapkan APBN yaitu, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah;
Selain dari ketiga Undang diatas terdapat banyak Undang yang mengatur tentang keuangan pemerintah Daerah. Seperti Undang-Undang yang dicantumkan di atas, UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara yaitu Undang- Undang yang mengatur anggaran pendapatan dan belanja negara yang dimana diterbitkan setiap tahunnya.
Kemudian Undang-Undang N0. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah merupakan Undang-Undang yang mencakup pembagian keuangan secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah. Dan UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah merupakan Undang-Undang yang mengatur pemungutan pajak dan retribusi di masing- masing daerah oleh pemerintah daerah yang kemudian disetorkan kepada pemerintah pusat.
2.1.6. Tujuan Laporan Keuangan
Menurut PP No. 71 (2010: 7) Pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan:
1. Menyediakan informasi tetang sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya keuangan;
2. Menyediakan informasi mengenai kecakupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;
3. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kinerja entitas pelaporan serta hasil- hasil yang
4. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas melaporkan dalam hal mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;
5. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya baik jangka pendek maupun jangka panjang termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman;
6. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan apakah mengalami kenaikan atau penurunan sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan;
Menurut PP No.71 (2010:25) Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, tujuan laporan keuangan adalah:
1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan disusun memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu.
3. Laporan keuangan yang menunjukkan apa yang dilakukan manajemen ataupertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan laporan keuangan adalah sebagai suatu informasi yang dapat dipercaya mengenai Aktiva, Kewajiban dan Modal, serta informasi mengenai perubahan sumber-sumber ekonomi lainnya. Selain itu laporan keuangan membantu para pemakai dalam menghasilkan laba dan pengambilan keputusan ekonomi lainnya.
2.2. Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) 2.2.1. Pengertian Pemahaman SAP
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. “Standar Akuntansi Pemerintah adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah”. Dengan demikian, SAP merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia.
Menurut PP No. 71 (2010: 2) lingkungan akuntansi pemerintahan sebagaimana yang terungkap di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan:
1. Lingkungan operasional organisasi pemerintah berpengaruh terhadap karakteristik tujuan akuntansi dan pelaporan keuangannya.
2. Ciri-ciri penting lingkungan pemerintah yang perlu dipertimbangkan dalammenetapkan tujuanakuntansi dan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut:
a.Ciri utama struktur pemerintahan dan pelayanan yang diberikan: 1) Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan. 2) Sistem pemerintahan otonomi dan transfer pendapatan antar
pemerintah.
3) Adanya pengaruh proses politik.
4) Hubungan antara pembayaran pajak dan pelayanan pemerintah.
b.Ciri keuangan pemerintah yang penting bagi pengendalian: 1) Anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, targettarget
fiskal, dan sebagai alat pengendaliannya.
2) Investasi dalam assetyang tidak langsung menghasilkan pendapat.
3) Kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk tujuan pengendalian.
2.2.2. Kerangka Konseptual SAP
Menurut PP No. 71 (2010: 1) “kerangka konseptual merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan pengembangan Standar Akuntansi Pemerintah yang selanjutnya dapat disebut standar”. Tujuannya menjadi acuan bagi:
1) Penyusunan standar dalam melaksanakan tugasnya.
2) Penyusunan laporan keuangan dalam menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar.
3) Pemeriksa dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan standar.
4) Para pengguna laporan keuangan dalam menafsir informasi yang disajikan pada laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah.
Dari penjelasan diatasdapat disimpulkan Kerangka Konseptual SAP merupakan acuan dalam penyusunan standar pelaksanaan tugas, sebagai solusi dalam menanggulangi permasalahan akuntansi yang belum diatur dalam standar, menjadi pedoman dalam pemeriksa yang dapat memberikan pendapat apakah laporan keuangan disusun sesuai standar dan untuk menafsirkan informasi yang disajikan pada laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah.
2.2.3. Sejarah SAP
2.2.3.1. Latar Belakang Terbitnya SAP
Pada tahun 2002 Menteri Keuangan membentuk Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah yang bertugas menyusun konsep standar akuntansi pemerintah pusat dan daerah yang tertuang dalam KMK 308/KMK012/2002. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa laporan pertanggungjawaban APBN/APBD harus disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, dan standar tersebut disusun oleh suatu komite standar yang independen dan ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
2.2.3.2. Penetapan SAP
Proses penetapan PP SAP berjalan dengan Koordinasi antara Sekretariat Negara, Departemen Keuangan dan Departemen Hukum dan HAM, serta pihak terkait lainnya hingga penandatanganan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
2.2.3.3. Sosialisasi Awal SAP
KSAP melakukan sosialisasi awal standar kepada para pengguna. Bentuk sosialisasi awal yang dilakukan berupa seminar atau diskusi dengan para pengguna, program pendidikan profesional berkelanjutan, training of trainers (TOT),dan lain-lain.
2.3. Transparansi
2.3.1. Pengertian Transparansi
Transparansi merupakan salah satu syarat penting untuk menciptakan
Good Governance. Dengan adanya transparansi di setiap kebijakan dan
keputusan di lingkungan organisasi, maka keadilan (fairness) dapat ditimbulkan. Transparansi di organisasi akan mendorong diungkapkannya kondisi yang sebenarnya sehingga setiap pihak yang berkepentingan (stakeholders) dapat mengukur dan mengantisipasi segala sesuatu yang menyangkut organisasi.
Menurut Mardiasmo (2013 : 30) “Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat”. Pemerintah berkewajiban memberikan informasi keuangan dan informasi lainnya yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Werimon (2005:73) prinsip transparansi memiliki 2 aspek, yaitu:
1. Komunikasi publik oleh pemerintah 2. Hak masyarakat terhadap aspek informasi
Keduanya akan sangat sulit dilakukan jika pemerintah tidak menangani dengan baik kinerjanya. Komunikasi publik menuntut usaha yang sungguh- sungguh dari pemerintah untuk membuka informasi yang terkait dengan aktivitas publik.Transparansi merupakan salah satu prinsip good governance, yaitu tata kelola pemerintahan yang baik. Dimana maksudnya adalah suatu
penyelenggaraan manajemen pembangunan, pemberdayaan dan pelayanan yang solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan demokrasi.
Dari penjelasan diatas transparansi merupakan salah satu prinsip dari
good governance karena apabila transparansi tidak terlaksana maka good governace akan susah untuk diterapkan.
Penerapan prinsip transparansi menuntut perusahaan, baik Dewan Komisaris/Pengawas, Dewan Direksi maupun karyawan selalu terbuka dan mencegah upaya penyembunyian informasi yang menyangkut kepentingan publik, pemegang saham dan stakeholders secara keseluruhan. Penerapan transparansi bisa dimulai melalui penyajian secara terbuka laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu, penetapan kriteria seleksi personil secara terbuka, penyediaan informasi tentang pendapatan pengurus perusahaan, pengungkapan atas transaksi atau kontrak dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan erat atau kedudukan istimewa, struktur kepemilikan, sampai pada penyajian informasi tentang berbagai resiko yang mungkin dihadapi perusahaan.
Dalam penerapan prinsip ini, perlu ada penyamaan persepsi tentang hal-hal apa dan seberapa banyak yang perlu diinformasikan, standar apa yang digunakan sebagai acuan, cara mempublikasikannya dan media apa yang akan digunakan, tolak ukur penilaiannya, serta bagaimana mengatasi kendala-kendala yang mungkin terjadi termasuk kendala budaya.
2.3.2. Konsep Transparasi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Transparansi seperti yang digunakan dalam istilah politik berarti keterbukaan dan pertanggungjabawan. Menurut Abdul Halim (2007:166) “Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan, transparansi yang dikaitkan dengan akuntabilitas mempunyai makna bahwa pertanggungjawaban tersebut dapat dilihat oleh masyarakat umum sebagai penilai pemerintah”.
Definisi lain menurut Mardiasmo (2004:30) menyebutkan bahwa “Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat”.
Menurut Bushman & Smith (2003:76) “"Corporate transparency as the
availability of widespread relevance, reliable information about the performance of the company in a related period, financial position, investment opportunity, government, values and risks of general trading companies".”.
Berdasarkan pengertian transparansi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa transparansi merupakan prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya serta hasil-hasil yang dicapai. Transparansi keuangan tingkat negara disusun berdasarkan intensitas pelaporan perusahaan, waktu
pelaporan, jumlah analisis dan media penyebarannya. Transparansi dilakukan oleh organisasi sektor politik terdiri dari beberapa dimensi.
Menurut Elwood yang dikemukakan oleh Hamid Abidin (2009:34), menjelaskan beberapa dimensi transparansi yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik atau badan hukum, yaitu :
1. Transparansi Proses.
Transparansi proses terkait dengan prosedur pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan kecukupan informasi yang diberikan pada publik.
2. Transparansi Kejujuran dan Transparansi Hukum.
Transparansi kejujuran terkait dengan keterbukaan atas tindakan yang tidak bertentangan dengan bentuk penyalahgunaan jabatan (abuse a power), sedang transparansi hukum berkaitan dengan jaminan akan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3. Transparansi Program.
Transparansi program terkait dengan pertimbangan atas pencapaian dari tujuan yang telah ditetapkan serta program yang memberikan hasil optimal.
4. Transparansi Kebijakan.
Transparansi kebijakan terkait dengan keterbukaan setiap organ terkait atas kebijakan-kebijakan yang diambil dalam rangka pencapaian tujuan.
Dari uraian di atas dijelaskan bahwa konsep transparansi dapat dilihat dari jenis dan dimensi transparansi itu sendiri. Menurut jenisnya transparansi terdiri dari transparansi keuangan dan transparansi pemerintah, dapat dilihat dari ruang lingkup transparansi tersebut dalam suatu organisasi. Adapun dimensi transparansi yang harus dipenuhi oleh organisasi publik adalah transparansi kejujuran dan transparansi hukum, transparansi proses, transparansi program, transparansi kebijakan.
2.3.3. Ciri-ciri Transparansi yang Efektif serta Langkah-langkah untuk Mengimplementasikannya.
Asas transparansi, asas adalah keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan setiap memperlihatkan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara. Menurut Bahtiar Arif (2002:135) ciri-ciri transparansi yang baik adalah sebagai berikut :
1. Kejelasan dari peranan dan tanggung jawab sektor Pemerintah harus dengan jelas dibedakan dari bagian-bagian lain dengan baik. 2. Tersedianya informasi publik kepada publik harus disediakan
denganlengkap mengenai aktifitas keuangan Pemerintah masa lalu, masa sekarang dan yang diproyeksikan.
3. Keterbukaan dalam penyusunan, pelaksanaan dan pelaporan dianggarkan.
4. Diperolehnya kepastian yang independen atas integritas.
Dapat penulis simpulkan bahwa ciri-ciri dari transparansi yang baik adalah tarnsparansi dilakukan secara menyeluruh, tersedianya informasi publik kepada publik harus disediakan dengan lengkap, keterbukaan dalam penyusunan. Pelaksanaan dan pelaporan dianggarkan, diperolehnya kepastian yang independen atas integritas, dana adanya pembedaan peranan dan tanggung jawab sektor pemerintahan.
Selanjutnya adalah langkah-langkah untuk mengimplementasikan transparansi agar menjadi efektif dalam pelaksanaanya, sebagai berikut :
1. Menunjukkan apakah sumber-sumber diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran yang legal dan menunjukkan ketaatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Menunjukkan sumber, alokasi dan penggunaan sumber-sumber serta status dari sumber-sumber anggaran keuangan.
3. Menunjukkan bagaimana pemerintah atau unit-unitnya membelanjakan aktivitasnya dan memenuhi kewajiban dan komitmennya.
4. Menyediakan informasi untuk mengevaluasi kemampuan pemerintah atau unit-unitnya untuk membelanjai aktifitasnya dan memenuhi kewajiban dan komitmennya.
5. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi keuangan pemerintah, untuk menetapkan apakah posisi keuangan pemerintah membaik atau memburuk.
6. Menyediakan informasi untuk menetapkan apakah operasi pemerintah telah memberikan kontribusi kepada kemakmuran rakyat sekarang dan masa depan.
7. Menyediakan informasi untuk mengevaluasi kinerja unit-unit pemerintah dalam ukuran biaya pelayanan, efisiensi dan pencapaian aktivitas.
8. Menyediakan informasi untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas manajemen pemerintah atas aset dan kewajibannya.
9. Mengungkapkan kontraktual atas sumber-sumber dan resiko kehilangan potensial dari sumber-sumber.
10. Menyediakan informasi untuk dapat memahami sifat, cakupan dan luasnya aktivitas keuangan pemerintah dalam hubungan dengan keseluruhan ekonomi.
Dapat penulis simpulkan bahwa langkah-langkah dalam mengimplementasikan transparansi berawal dari sumber-sumber diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran yang legal dan menunjukkan ketaatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, dan menyediakan informasi untuk dapat memahami sifat, cakupan dan luasnya aktivitas keuangan pemerintah dalam hubungan dengan keseluruhan ekonomi. Selanjutnya langkah-langkah implementasi transparansi ini menjadi salah satu indikator dalam mengukur transparansi.
2.4. Pelatihan
2.4.1. Pengertian Pelatihan
Dalam Peraturan MENPAN No.PER/66/M.PAN/6/2005 (pasal 1 : 72): “pelatihan adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan pada praktik dari pada teori yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan menggunakan pendekatan pelatihan untuk orang dewasa dan bertujuan meningkatkan kemampuan dalam satu atau beberapa jenis keterampilan tertentu”.
Terdapat beberapa pengertian dari pelatihan yang digunakan mendefenisikan pelatihan (training). Diantaranya adalah:
a. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009;719), “Pelatihan adalah proses melatih; kegiatan atau pekerjaan”.
b. Menurut Dessler (2009:46), “Pelatihan adalah proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”.
Menurut Mathis (2002:52), “Pelatihan adalah suatu proses dimana orang- orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi”. Dari beberapa pengertian pelatihan di atas dapat ditarik kesimpulan secara umum pelatihan adalah suatu proses pembelajaran atau pendidikan yang diberikan kepada pegawai baik secara teori ataupun praktek yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kemampuan pegawai dalam bekerja sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai menjadi lebih baik dari sebelumnya.
2.4.2.Metode Pelaksanaan Program Pendidikan dan Pelatihan
Berkaitan dengan metode pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan, Menurut Estiningsih (2008;16) menyatakan ada dua strategi pendidikan / pelatihan yang dapat dilakukan organisasi, yaitu metode di luar pekerjaan (off the job side) dan metode di dalam pekerjaan (on the job side).
1. Metode di luar pekerjaan (on the job side)
Pada metode ini pegawai yang mengikuti pendidikan atau pelatihan keluar sementara ini pekerjaannya, mengikuti pendidikan dan pelatihan secara intensif. Metode ini terdiri dari 2 teknik, yaitu: a. Teknis presentasi informasi, yaitu menyampaikan informasi
tujuannya mengintrodusikan pengetahuan, sikap dan keterampilan baru kepada peserta. Teknik ini dapat dilakukan melalui ceramah biasa, teknik diskusi, teknik pemodelan perilaku (behavioral modelling), model kelompok T, yaitu mengirim pekerja ke organisasi yang lebih maju untuk mempelajari teori dan mempraktekkannya.
seperti keadaan sebenarnya. Teknik ini seperti: simulator alat- alat kesehatan, studi kasus (case study), permainan peran (role
playing),dan teknik dalam keranjang (in basket), yaitu dengan
cara memberikan bermacam- macam masalah dan peserta diminta untuk memecahkan masalah tersebut sesuai dengan teori dan pengalamannya.
2. Metode di dalam pekerjaan (on the job side)
Pelatihan ini berbentuk penugasan pekerja baru, yang dibimbing oleh pegawai yang berpengalaman atau senior. Pekerja yang senior yang bertugas membimbing pekerja baru diharapkan memperlihatkan contoh-contoh pekerjaan yang baik, dan memperlihatkan penanganan pekerjaan yang jelas.
Selain kedua metode di atas, Estiningsih (2008:18) menyatakan bahwa terdapat beberapa metode lain yang dapat dilakukan dalam organisasi, sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan organisasi langsung di tempat kerja, yaitu belajar sendiri (self-learning), tutorial, studi kasus, gugus kendali mutu.
a. Self- Learning (belajar sendiri)
Belajar secara mandiri merupakan suatu pembelajaran melalui modul, yaitu materi yang berisi langkah-langkah proses belajar yang sistematis. Modul disusun sedemikian rupa, sehingga peserta atau pembaca modul dapat dengan mudah dituntun untuk mempelajarinya langkah demi langkah. Kelebihan dari cara pembelajaran ini adalah menjamin kemampuan belajar tiap peserta, dapat menjangkau banyak peserta serta dengan cepat dapat menilai kecakapannya. Sedangkan kelemahannya, memerlukan banyak waktu dalam menyusul modul dan biaya pembuatan modul tinggi. Dalam hal ini diperlukan motivasi yang kuat dari peserta untuk belajar.
b. Tutorial
Tutorial adalah suatu metode dalam proses pembelajaran dengan cara memberikan tugas baca pada suatu kelompok dengan topik tertentu yang kemudian didiskusikan dalam kelompok tersebut. Tujuan dari cara ini adalah untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap materi. Dalam sistem ini peserta berinteraksi melalui diskusi ilmiah berdasarkan referensi yang tersedia dan hasilnya disusun dalam suatu makalah untuk kemudian dipresentasikan. Kelebihan metode ini adalah analisis suatu topik
dibahas secara mendalam, sehingga menjamin dasar ilmiahnya dan terjadinya interaksi dalam kelompok.
c. Studi Kasus
Studi kasus adalah suatu metode pembelajaran dengan mengajak peserta menganalisis masalah dan memilih alternatif- alternaltif pemecahan masalah. Metode ini bertujuan untuk membantu peserta mengembangkan daya intelektualnya dan keterampilan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
d. Gugus Kendali Mutu
Gugus Kendali Mutu merupakan proses perbaikan kinerja staf secara terus menerus, melalui suatu wadah yang melibatkan staf pada tingkat pelaksana dalam kelompok kecil (3-8 orang) dan berada dalam suatu lingkup kerja yang sama. Tujuan dari Gugus Kendali Mutu ini adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan semua staf berperan serta dalam memecahkan masalah di tempat kerjanya, untuk meningkatkan mutu dan produktifitas kerja.
2.5. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini mengambil beberapa referensi dari penelitian yang terdahulu yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Judul Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Putri Bunga Meiliana Daulay (2015) Pengaruh Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP, Pelatihan, Akuntabilitas, Transparansi Terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Kota Padangsidimpuan 1. Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan. 2. Pelatihan. 3. Akuntabilitas. 4. Transparansi 5. Penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah Pemahaman SAP, pendidikan, pelatihan, dan akuntabilitas berpengaruh terhadap penyusunan laporan keuangan SKPD kota padang sidempuan Ni Putu Yogi Merta Maeka Sari, I Made Pradana Pengaruh Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan Pemanfaatan Sistem 1. Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) (X1), Terdapat pengaruh pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Kasus Pada Dinas-Dinas di Pemerintah Kabupaten Jembrana) 3. Kualitas Laporan Keuangan (Y) daerah terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah (studi kasus pada dinas-dinas di Pemerintah Kabupaten Jembrana) Rahim (2012) Pengaruh Pemahaman
SAP, Pendidikan, Pelatihan, dan Akuntabilitas terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Pemerintahan Kabupaten Bengkalis 1. Pemahaman SAP (X1), 2. Pendidikan (X2), 3. Pelatihan (X3), 4. Akuntabilitas (X4). 5. Penyusunan Laporan Keuangan (Y). Pemahaman SAP, pendidikan, pelatihan, dan akuntabilitas berpengaruh terhadap penyusunan laporan keuangan SKPD Pemerintahan Kabupaten Bengkalis putri (2010) Pengaruh Pemahaman
Standar Akuntansi Pemerintah, Pendidikan dan Pelatihan, serta Latar Belakang Pendidikan dalam kualitas Laporan Keuangan Daerah pada Pemerintah Kota Medan
i. Pemahaman Standar Akuntansi
Pemerintah,
ii. Pendidikan dan Pelatihan,
iii. Kualitas Laporan Keuangan Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintah, Pendidikan dan Pelatihan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan serta memiliki hubungan yang negatif terhadap kualitas laporan keuangan Rajana (2009) Pengaruh Pemahaman
Standar Akuntansi Pemerintah, Pendidikan dan Pelatihan terhadap Kualitas Laporan Keuangan SKPD Kota Pematangsiantar 1. Pemahaman SAP (X1), 2. Latar Belakang Pendidikan (X2), 3. Pelatihan (X3), 4. kualitas Laporan Keuangan (Y) Pemahaman SAP, Latar Belakang Pendidikan tidak mempunyai pengaruh yang siginifikan serta memiliki hubungan yang negatif, sedangkan Strata Pendidikan dan Pelatihan memiliki hubungan yang positif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan keuangan
2.6. Kerangka Konseptual
Pada penelitian ini model yang dibangun berdasarkan model yang dikembangkan oleh Yohannes (2008;34). Penelitian ini menggunakan empat variabel independen dan satu variabel dependen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen Pemahaman SAP, Pelatihan, Akuntabilitas serta Transparansi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Penyusunan Laporan Keuangan SKPD.
Didalam kerangka konseptual ini menunjukkan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen secara parsial dan simultan. Adapun gambar kerangkanya seperti dibawah ini:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.6.1. Pengaruh Pemahaman SAP terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Kota Medan
Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan dalam Penyusunan Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintah (X1) Transparansi (X2) Pelatihan (X3) Kualitas Laporan Keuangan (Y)
Standar Akuntansi Pemerintahan merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Jika perangkat kerja kurang memahami standar akuntansi pemerintahan maka akan mengurangi efesiensi perangkat kerja dalam menyusun laporan keuangan pemerintah. Namun, apabila perangkat kerja memahami standar akuntansi pemerintahan, maka akan sangat mudah dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintahan sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Rajana (2009;59) yang menemukan hubungan negatif antara pemahaman standar akuntansi pemerintahan dengan penyusunan laporan keuangan pemerintahan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa perangkat kerja masih banyak yang belum mengetahui dan memahami standar akuntansi pemerintahan.
2.6.2. Pengaruh Transparansi terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Kota Medan
Transparansi berarti keterbukaan. Transparansi pemerintah merupakan keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Didalam pemerintahan transparansi merupakan satu hal penting karena, apabila transparansi tidak diterapkan maka akan timbul rasa kecurigaan dan tidak percaya antara berbagai pihak. Pemerintah harus dapat memberikan informasi keuangan ataupun lainnya yang akan digunakan untuk suatu pengambilan keputusan oleh pihak tertentu. Pada penelitian Maryati (2008:63), transparansi berpengaruh signifikan dan positif terhadap
pengelolaan laporan keuangan. Transparansi mungkin sulit dilakukan oleh pihak- pihak tertentu karena berbagai alasan. Tetapi jika pemerintah dapat menangani dengan baik kinerjanya, serta komunikasi publik yang baik dapat terjalin tidak menutup kemungkinan bahwa transparansi dapat berjalan sesuai bagaimana seharusnya.
2.6.3. Pengaruh Pelatihan terhadap Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Kota Medan
Pelatihan diberikan kepada perangkat kerja untuk mendapatkan suatu pembelajaran yang lebih menekankan pada praktik dari pada teori, yang bertujuan meningkatkan kemampuan dalam satu atau beberapa jenis keterampilan tertentu. Semakin sering seseorang mengikuti pelatihan maka akan semakin bertambah pengetahuannya serta semakin meningkat pula keterampilannya dalam bidangnya masing-masing. Sebaliknya, jika seseorang jarang mengikuti pelatihan tidak menutupi kemungkinan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak sebanyak orang yang sering mengikuti pelatihan. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yaitu Rajana (2009;59) dan Enho (2009;61), pelatihan berpengaruh secara negatif. Hal ini disebabkan karena pendidikan dan pelatihan yang diberikan semata-mata hanya formalitas serta ketidaktahuan perangkat kerja mengenai materi yang diberikan. Namun tidak semua perangkat kerja yang jarang mengikuti pelatihan akan berarti pendidikan dan pengetahuannya hanya sedikit, karena bisa saja perangkat kerja mendapatkan ilmu pengetahuan tidak melalui
2.7. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 2012:51). Dari kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian ini adalah Ada pengaruh pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan baik secara parsial maupun simultan terhadap kualitas laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah Kota Medan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan penelitian yaitu pendekatan asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan yang tertinggi bila dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala (Sugiyono, 2012: 11).
3.2.Definisi Operasional Variabel
Defenisi operasional adalah petunjuk bagaimana suatu variabel diukur atau untuk mengetahui baik buruknya suatu penelitian dan untuk mempermudah pemahaman dalam membahas penelitian. Definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahsebagai variabel bebas (X1)
merupakan pengetahuan berkaitan Standar Akuntansi Pemerintah terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan Pemerintah.
2. Transparansi sebagai variabel bebas (X2) merupakan keterbukaan pemerintah
dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan masyarakat. 3. Pelatihan sebagai variabel bebas (X3) yang merupakan suatu proses dimana
orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi.
4. Kualitas laporan keuangansebagai variabel terikat (Y) merupakan kualitas keandalan dari laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan yang relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami serta transparan dalam penyajiannya.
3.3.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Medan yang dilaksanakan setelah mengikuti seminar proposal.Waktu penelitian ini dilakukan selama 2 (dua)bulan, dimulai sejak penyebaran kuesioner hingga pengumpulan kembali kuesioner terkait.
3.4. Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti umtuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2012: 72). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Negeri Sipil yang menjabat sebagai Bendahara dan Pejabat Penatausahaan Keuangan pada tiap kantor SKPD di kota Medan yang berjumlah 62 kantor dinas. Adapun ke 62 kantor tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1
Sampel Penelitian dan Responden
No Satuan Kerja Perangkat Daerah
1 Sekretariat Daerah Kota Medan 2 Sekretariat DPRD Kota Medan
3 Badan Kepegawaian Daerah Kota Medan
4 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan 5 Badan Peneliti dan Pengembangan Kota Medan
6 Inspektorat Kota Medan
7 Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Medan
8 Rumah Sakit Haji Kota Medan
9 Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan 10 Badan Pemberdayaan Perempuan & KB Kota Medan 11 Dinas Bina Marga Kota Medan Medan
12 Dinas Kesehatan Kota Medan 13 Dinas Pendidikan Kota Medan
14 Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan 15 Dinas Perhubungan Kota Medan
16 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan 17 Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan 18 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan 19 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan 20 Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan 21 Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan 22 Dinas Kebersihan Kota Medan
23 Dinas Pertamanan Kota Medan 24 Dinas Pendapatan Kota Medan
25 Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Medan
26 Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kota Medan 27 Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Medan
31 Badan Ketahanan Pangan Kota Medan
32 Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Medan 33 Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Medan 34 Badan Penanaman Modal Kota Medan
35 Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Medan 36 Sekretariat Korpri Kota Medan
37 Kantor Arsip Kota Medan 38 Kantor Sandi Kota Medan
39 Kantor Pendidikan dan Pelatihan Kota Medan 40 Kantor Camat Medan Marelan
41 Kantor Camat Medan Deli 42 Kantor Camat Medan Timur 43 Kantor Camat Medan Selayang 44 Kantor Camat Medan Tuntungan 45 Kantor Camat Medan Perjuangan 46 Kantor Camat Medan Johor 47 Kantor Camat Medan Baru 48 Kantor Camat Medan Petisah 49 Kantor Camat Medan Labuhan 50 Kantor Camat Medan Maimun 51 Kantor Camat Medan Belawan 52 Kantor Camat Helvetia
53 Kantor Camat Medan Barat 54 Kantor Camat Medan Kota 55 Kantor Camat Medan Sunggal 56 Kantor Camat Medan Denai 57 Kantor Camat Medan Polonia 58 Kantor Camat Medan Amplas 59 Kantor Camat Medan Tembung 60 Kantor Camat Medan Area 61 Kantor Perpustakaan Kota Medan 62 Asisten Pemerintahan
Sumber ; http;//www.pemkoedan.go.id
3.4.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi (Erlina dan Sri Mulyani, 2007: 74). Sampel penelitian ini adalah Pegawai negeri sipil yang menjabat sebagai Bendahara dan Pejabat Penatausahaan Keuangan pada tiap kantor SKPD di kota Medan.
Pada teknik penentuan sampel penelitian ini, peneliti menggunakan metode
total sampling (sampel jenuh) yang menurut Sugiyono (2012: 42) yaitu
menetapkan seluruh kantor Dinas Pemerintahan yang ada di kota Medan dengan mengambil 2 orang pegawai yang memenuhi kriteria untuk dijadikan responden. Sehingga jumlah sampel penelitian yaitu 62 x 2 orang = 124 orang responden.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik Quesioner (angket), yang merupakan teknik pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pernyataan atau pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu untuk diberikan kepada responden yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti. Dalam hal ini memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk memperoleh data yang berhubungan variabel yang diteliti. Skala yang digunakan adalah Likert dengan kategori:
Tabel 3.2
Tabel Skala Pengukuran Likert
PERTANYAAN BOBOT
Sangat Setuju Setuju
Ragu-Ragu Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
5 4 3 2 1 Sumber: Sugiyono (2012: 133)
3.5.1.Validitas
Validitas memiliki nama lain seperti sahih, tepat, benar. Menguji validitas berarti menguji sejauh mana ketepatan atau kebenaran suatu instrumen sebagai alat ukur untk variabel penelitian. Jika instrumen valid/benar maka hasil pengukurun kemungkinan akan benar.
Untuk mengukur validitas setiap butir pertanyaan, maka digunakan teknik korelasi product moment, yaitu:
(
)(
)
(
)
{
∑
∑
−∑
∑
}
{
∑
∑
−(
∑
)
}
= 2 2 i 2 2 1 i i i xy y y n x x n y -y x n. r i i i x (Sugiyono, 2012: 248) Keterangan:n = banyaknya pasangan pengamatan Σxi = jumlah pengamatan variabel x
Σyi = jumlah pengamatan variabel y
(Σxi2 = jumlah kuadrat pengamatan variabel x
(Σyi2) = jumlah pengamatan variabel y
(Σxi)2 = kuadrat jumlah pengamatan variabel x
(Σyi)2 = pengamatan jumlah variabel y
Σxiyi =jumlah hasil kali variabel x dan y
Ketentuan apakah suatu butir instrumen valid atau tidak adalah melihat nilai probabilitas koefisien kprelasinya.
1) Suatu item instrumen dikatakan valid apabila nilai Sig ≤ 0,05
3.5.2.Reliabilitas
Juliandi, dkk(2014: 83) mengemukakan bahwa “Tujuan pengujian
reliabilitas adalah untuk melihat apakah instrumen penelitian merupakan instrumen yang handal dan dapat dipercaya. Selanjutnya menurut Nunnaly dalam Juliandi, dkk(2014:83) menyatakan bahwa “Jika nilai koefisien reliabilitas (Sperman Brown/ri) > 0,6 maka instrument memiliki reliabilitas yang baik/reliabel/terpercaya.
Menurut Juliandi, dkk(2014: 86) menyatakan bahwa pengujian reliabilitas dengan menggunakan teknik Cronbach Alpha dengan rumus sebagai berikut: r = −
∑
2 1 2 1 1 -k kσ
σ
bAzuar dan Irfan (2013: 86) Keterangan:
r = Reliabilitas instrument (cronbach alpha) k = Banyaknya butir pertanyaan
Σσb2 = Jumlah varians butir
σ12= Varians Total
Kriteria pengujian reliabilitas instrumen adalah sebagai berikut :
1) jika nilai koefisien reliabilitas yakni > 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas yang baik
2) jika nilai koefisien reliabilitas yakni < 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas Tidak baik.
3.6. Teknik Analisis Data 3.6.1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif, yaitu metode statistik yang digunakan untuk mengumpulkan, meringkas, menyajikan dan mengdeskriptifkan data sehingga dapat memberikan informasi yang berguna.Data yang disajikan dalam statistika deskriptif biasanya dalam bentuk ukuran pemusatan data (mean, median, dan modus), ukuran penyebaran data (standar deviasi dan varians), tabel, serta grafik (histogram, pie dan bar) (Muhammad Nisfiannoor, 2009: 4). Adapun variabel yang akan diteliti dengan statistik deskriptif dalam penelitian ini adalah pemahaman standar akuntansi pemerintahan (SAP), transparansi dan pelatihan terhadap kualitas laporan keuangan.
3.6.2. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik untuk mengetahui model penelitian layak atau tidak, maka harus memenuhi syarat asumsi klasik yaitu :
3.6.2.1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel bebas, variabel terikat, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model yang paling baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal (Imam Ghozali,