5
PENDEKATAN TEORITIS
Tinjauan Pustaka Cyber Extension dan Diseminasi Teknologi Pertanian
Definisi teknologi menurut (Mangunwidjaja dan Sailah 2009) adalah teknologi terdiri atas unsur yang terkandung dalam diri manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku, serta etos semangat kerja (humanware), teknologi yang terkandung dalam mesin dan peralatan, produk serta barang buatan manusia (technoware), teknologi yang terkandung dalam kelembagaan yang diciptakan manusia, seperti organisasi, manajemen, tata cara, aturan, dan undang-undang (organoware), serta teknologi yang terkandung dalam dokumen yang memuat informasi gambar, rumus, paten, majalah, disket, tape, dan lain-lain (infoware). Teknologi pertanian adalah penerapan dari ilmu-ilmu teknik kepada kegiatan pertanian. Secara lengkap dari aspek ranah keilmuan, teknologi pertanian dapat diuraikan sebagai suatu penerapan prinsip-prinsip matematika dan sains alam dalam rangka pendayahgunaan secara ekonomis sumber daya pertanian dan sumber daya alam untuk kepentingan kesejahteraan manusia.
Cyber extension menurut Wijekuon et al. (2009) dalam Mulyandari (2011) adalah mekanisme pertukaran informasi pertanian melalui area cyber, suatu ruang imajiner-maya dibalik interkoneksi jaringan komputer melalui peralatan komunikasi. Subejo (2011) cyber extension merupakan penggunaan jaringan on-line, komputer, dan digital interactive multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi petani, petugas penyuluh, baik di lembaga penelitian maupun di universitas serta para manajer penyuluhan.
Definisi Cyber extension menurut (Mulyandari 2011) merupakan salah satu mekanisme pembangunan jaringan komunikasi inovasi pertanian yang terprogram secara efektif dengan mengimplementasikan teknologi informasi dengan komunikasi dalam sistem komunikasi inovasi atau penyuluhan pertanian yang diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan petani melalui penyiapan informasi pertanian yang tepat waktu dan relavan kepada petani dalam mendukung proses pengambilan keputusan berusaha tani untuk meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, cyber extension juga merupakan sistem yang mampu menjadi pendorong mekanisme pengelolaan, penyebaran, pendokumentasian, pencarian kembali, sinergitas inovasi pertanian yang dibutuhkan para pelaku pembangunan pertanian, sehingga dapat mendukung pengembangan inovasi yang berkelanjutan. Cyber extension sebagai media komunikasi inovasi pertanian yang bersifat massa namun dapat sekaligus menjadi media yang interaktif dalam perspektif hybrid media.
Cyber extension juga merupakan salah satu mekanisme komunikasi inovasi pertanian yang dapat difungsikan untuk mempertemukan lembaga penelitian, pengembangan, dan pengkajian dengan diseminator inovasi (penyuluh), pendidik, petani dan kelompok stakeholder lainnya yang masing-masing memiliki kebutuhan dengan jenis dan bentuk informasi yang berbeda sehingga dapat berperan secara sinergis dan saling melengkapi (Mulyandari et al. 2010).
6
Berdasarkan hasil penelitian Tjitroptranoto (2005) mengungkapkan bahwa kegiatan diseminasi yang biasa dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan teknologi baru, misalnya melalui ceramah, pameran dan percontohan, yang bisa dilakukan melalui alat bantu berupa film atau video yang menggambarkan bagaimana menerapkan teknologi baru, sehingga dalam mendiseminasikan teknologi pertanian diperlukan media komunikasi dalam penyebarannya. Selain itu, kegiatan diseminasi ini serupa dengan kegiatan penyuluhan pertanian yang selama ini dilakukan oleh penyuluh pertanian. Melalui pendekatan ini, dapat diharapkan bahwa sikap terhadap teknologi baru yang diperkenalkan akan tumbuh secara positif. Meskipun demikian perlu difahami bahwa tumbuhnya sikap tidak dapat terjadi dalam waktu cepat, waktu yang relatif lama disertai dengan upaya pertumbuhan berulang-ulang akan menghasilkan sikap yang positif terhadap teknologi yang diperkenalkan, yang kemudian akan diikuti dengan kemantapan dalam adopsi teknologinya.
Lebih lanjut, Tjitroptranoto (2005) menyatakan bahwa diseminasi teknologi pertanian yang baik akan menghasilkan umpan balik terhadap teknologi yang didiseminasikan dan penumbuhan kebutuhan lebih lanjut tentang teknologi pertanian. Selain untuk keperluan diseminasi, pendekatan tersebut di atas juga bermanfaat untuk memperoleh umpan balik dan identifikasi masalah dan kebutuhan petani akan teknologi pertanian.
Permasalahan yang umum terjadi dalam proses adopsi inovasi pertanian menurut (Mulyandari et al. 2010) adalah lambatnya adopsi teknologi oleh petani. Hal tersebut disebabkan diantaranya oleh: (a) sulitnya informasi sampai ke petani karena infrastrukturnya terbatas; (b) petani tidak memahami informasi yang diterimanya; (c) petani sulit menerapkan inovasi karena keterbatasan sumberdaya yang tersedia; (d) petani belum melihat manfaat dan dampak positif dari inovasi yang diintroduksi; (e) sifat petani yang cenderung tidak mau ambil resiko dalam menerapkan inovasi; dan (f) tidak mudah mengubah perilaku petani yang berkaitan dengan kebiasaan dalam melaksanakan usahataninya.
Media Komunikasi Inovasi Pertanian dan Media Massa
Definisi komunikasi bila dikaitkan dengan konteks pertanian adalah suatu pernyataan antar manusia yang berkaitan dengan kegiatan di bidang pertanian, baik secara perorangan maupun berkelompok, yang sifatnya umum dengan menggunakan lambang-lambang tertentu seperti yang sering dijumpai pada metode penyuluhan (Soekartawi 2005).
Menurut Suranto (2005) dalam Mulyandari (2011) media komunikasi adalah semua sarana yang dipergunakan untuk memproduksi, mereproduksi, mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi.
Lebih lanjut, Adekoya (2007) dalam Mulyandari (2011) menyatakan bahwa model komunikasi inovasi melalui pemanfaatan cyber extension adalah menghimpun atau memusatkan informasi yang diterima oleh petani dari berbagai sumber yang berbeda maupun yang sama dan disederhanakan dalam bahasa lokal disertai dengan teks dan ilustrasi audio visual yang dapat disajikan atau diperlihatkan kepada seluruh masyarakat desa khususnya petani semacam papan pengumuman (bulletin board) pada kios atau pusat informasi pertanian. Keuntungan yang potensial dari komunikasi cyber extension adalah ketersediaan yang secara terus-menerus, kekayaan informasi (informasi nyaris tanpa batas),
7 jangkauan wilayah internasional secara instan, pendekatan yang berorientasi kepada penerima, bersifat pribadi (individual), dan menghemat biaya, waktu, dan tenaga.
Mulyandari (2011) menyatakan bahwa media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukan kepada masyarakat secara massal, bukan informasi yang hanya boleh dikonsumsi oleh pribadi. Dengan demikian maka informasi publik adalah milik publik, bukan ditunjukkan kepada individu masing-masing. Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Bentuk media massa secara kasar dapat dibagi ke dalam tiga kelas utama (Leeuwis 2009), yaitu media massa konvensional, media interpersonal, dan media hibrida. Media konvensional misalnya koran, jurnal pertanian, leaflet, radio, dan televisi. Karakteristik dasarnya adalah bahwa seorang pengirim dapat mencapai banyak orang dengan media semacam itu, sambil tetap berada di kejauhan, dan tanpa kemungkinan keterlibatan dalam interaksi langsung dengan audiens. Dengan media pertukaran interpersonal lebih langsung di antara pihak-pihak yang berkomunikasi dapat terjadi, yakni media di mana pengirim dan penerima dapat dengan mudah berubah peran. Telepon merupakan contohnya. Namun, kebanyakan komunikasi interpersonal terjadi tanpa media artificial (mis. Tanpa alat teknologi), melibatkan kehadiran fisik orang. Bentuk-bentuk dasar komunikasi tatap muka itu merupakan pertemuan kelompok dan pertemuan di antara dua orang. Lebih lanjut, Mulyandari (2011) menyatakan bawah bentuk media massa, secara garis besar, ada dua jenis, yaitu media massa tradisional (konvensional) dan media massa modern dengan aplikasi teknologi informasi yang bersifat konvergen dan dapat interaktif.
Mulyandari (2011) menyatakan bahwa media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas dengan ciri-ciri sebagai berikut: informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan, dan didistribusikan, media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu, penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima, dan interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit. Selain itu, karakteristik dasar dari media massa tradisional atau konvensional adalah bahwa seorang pengirim dapat mencapai banyak orang dengan media semacam itu, sambil tetap berada di kejauhan, dan tanpa kemungkinan keterlibatan dalam interaksi langsung dengan audiens. Beberapa media massa yang termasuk dalam kategori media massa konvensional meliputi; (1) media cetak yang terdiri atas : surat kabar, majalah, dan, (2) media elektronis yang terdiri atas radio, televisi, dan film (layar lebar).
Koran merupakan media massa cetak yang berkembang seiring kemajuan zaman. Koran lebih mengutamakan pemberitaan yang bersifat lebih mendalam disertai dengan investigasi yang lebih akurat. Majalah cenderung lebih menfokuskan pada pemuasan audien sehingga muncul majalah dengan sasaran yang lebih spesifik, misalnya: remaja, wanita, pendidikan, dan pertanian (Sinar Tani, Trubus, Trobos). Koran atau majalah atau buletin: prasarana ini jarang
8
digunakan oleh masyarakat karena umumnya masyarakat malas membaca, rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan tidak bisa membaca (buta huruf) karena untuk memahami isi koran atau majalah atau buletin, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki intelektualitas tertentu (Hapsari 2009).
Berdasarkan hasil penelitian Hapsari (2009) menyatakan bahwa radio merupakan media massa paling penting bagi petani di negara berkembang. Program pedesaan untuk pembangunan pertanian harus disiarkan ketika petani dan keluarganya dapat mendengarkan, biasanya pada pagi hari sebelum ke sawah, atau pada sore hari sesudah selesai bekerja. Penyiar/ pemancar radio seharusnya dapat menyentuh pendengarnya dengan membuat acara yang sesuai dengan masalah lokal yang dihadapi petani, dan menggunakan bahasa yang dapat dipahami. Wawancara dengan petani yang berhasil biasanya lebih efektif daripada ceramah yang disajikan oleh ilmuan pertanian.
Siaran radio sebagai salah satu media massa merupakan media komunikasi yang dapat menyampaikan pesan secara serentak dengan kecepatan tinggi, dapat mengatasi ketidakmampuan baca tulis dan relatif lebih murah peralatannya dibandingkan dengan siaran televisi, siaran radio adalah media massa yang relatif murah ini dapat diandalkan untuk menyampaikan inovasi pertanian kepada petani di pedesaan (Mumpuni 2003).
Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian Mulyandari (2011) mengungkapkan bahwa televisi sebagai suatu media massa audio-visual modern, televisi memiliki daya tarik luar biasa. Televisi mampu mengantarkan pesan-pesan kepada pemirsa di rumah atau di tempat lain secara langsung. Media ini dapat berfungsi sebagai media informasi, media hiburan, dan media pendidikan. Di Indonesia, siaran televisi dengan substansi pertanian melalui media televisi juga pernah ditayangkan, diantaranya adalah dari desa ke desa pada tahun 1980-an, kuis asah terampil untuk para kelompok tani, dan saung tani yang disiarkan TVRI pada tahun 2007 dan pada tahun terakhir (2011) melalui program pelangi desa.
Berdasarkan hasil penelitian Sumaryo (2006) televisi telah berkembang menjadi salah satu media massa yang sangat populer. Televisi telah merambah sampai ke pelosok pedesaan. Peranan televisi merupakan tingkah laku yang diwujudkan oleh televisi dalam penyebaran infomasi baik itu informasi pertanian maupun informasi yang lainnya, membantu petani berpartisipasi, dan mendidik petani agar memiliki keterampilan. Peranan televisi diketahui dari pemanfaatan media tersebut dalam mendapatkan informasi pertanian. Peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian termasuk dalam kategori rendah, hal ini terjadi karena petani kurang tertarik untuk menyaksikan acara siaran informasi pertanian. Alasan umumnya karena siaran informasi pertanian tidak sesuai dengan waktu istirahat mereka. Petani juga lebih banyak menonton hiburan ketika melepas lelah. Penggunaan televisi dalam pembangunan pertanian perlu ditingkatkan.
Lebih lanjut, hasil penelitian Hapsari (2009) mengungkapkan bahwa petani dengan pendidikannya rendah, berharap banyak pada televisi sebagai sumber informasi usahatani. Akan tetapi, televisi yang beroperasi pada tataran umum dan populer itu, yang sangat sadar biaya, tidak mungkin memenuhi harapan segelintir petani akan informasi teknis, yang cukup detail. Jadi ketidaksesuaian realita televisi yang mereka saksikan dengan harapan yang mereka pendam, solusinya perlu dicari pada media massa lain. Media cetak dan media online sulit diakses karena umumnya responden tidak memiliki sarana dan prasarana, termasuk
9 kemampuan membaca dan memahami bahasa inggris sebagai bahasa yang digunakan untuk mengoperasikan media online, khususnya internet.
Media komunikasi dalam pemanfaatan informasi bagi petani bermacam-macam bentuknya. Hapsari (2009) menyatakan bahwa prasarana komunikasi dan informasi yaitu: Telepon adalah adanya sinyal telepon seluler atau handphone baik untuk pelanggan global system for mobile Communication/ general packet radio service (GSM/GPRS) maupun Code Division Multiple Acces (CDMA) dan terdapat jaringan telepon rumah. Layanan surat pos, layanan surat pos umumnya kurang diminati oleh masyarakat, karena masih ada masyarakat desa Ciareteun Ilir yang buta huruf (tidak bisa membaca dan menulis) sehingga motivasi untuk menulis atau membaca surat sangat rendah. Koran atau majalah atau buletin: prasarana ini jarang digunakan oleh masyarakat karena umumnya masyarakat malas membaca, rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan tidak bisa membaca (buta huruf) karena untuk memahami isi koran atau majalah atau buletin, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki intelektualitas tertentu. Forum komunikasi kader pemberdayaan masyarakat yaitu : wadah bagi masyarakat Desa Ciareteun Ilir untuk saling berdiskusi, bertukar informasi, dan bermusyawarah ketika ada suatu permasalahan atau kegiatan atau program yang harus melibatkan masyarakat.
Leeuwis (2009) menyatakan bahwa dengan mengikuti kemajuan yang cepat dalam teknologi computer dan telekomunikasi, sejak awal 1990-an kita telah meyaksikan peningkatan media hibrida baru, yang mengkombinasikan potensi yang ditawarkan oleh media massa dan komunikasi interpersonal. Teknologi internet dan CD-ROM misalnya, merupakan media yang potensial mencapai audiens yang luas, yang membiarkan aktivitas antara penerima dan pengirim sampai taraf tertentu. Internet memiliki aplikasi luas, banyak terkait dengan intervensi komunikatif (dalam berbagai bidang kemasyarakatan, termasuk pertanian dan manajemen sumberdaya).
Mulyandari (2011) menyatakan bahwa media massa baru/modern merupakan media massa yang telah menggunakan aplikasi teknologi informasi multimedia, diantaranya adalah komputer, telepon genggam, dan jaringan internet. Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri: (1) sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (Melalui SMS atau Internet misalnya); (2) isi Pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual; (3) tidak ada perantara, interaksi terjadi pada masing-masing individu-individu; (4) komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam; (5) Penerima yang menentukan waktu interaksi.
Lebih lanjut, kemajuan teknologi dalam penyebaran informasi mengenai teknologi pertanian berjalan dengan cepat, sehingga petani dituntut dan diharapkan dapat menyesuaikan dan menggunakan teknologi tersebut, contohnya adalah penggunaan cyber extension.
Menurut Van den ban dan Hawkins (1999) teknologi informasi modern memungkinkan petani dengan cepat memperoleh informasi, dan menyeleksi yang paling tepat dengan menggunakan model tertentu untuk mengambil keputusan. Perkembangan computer dan telekomunikasi memberikan petani kesempatan untuk memperoleh informasi teknis dan ekonomis dengan cepat dan menggunakannya dengan efektif untuk pengambilan keputusan.
10
Arifin (2011) menyatakan bahwa dampak dari revolusi komunikasi atau informasi yaitu terjadi perubahan dalam proses komunikasi yang meliputi (1) pengumpulan informasi; (2) penyimpanan informasi; (3) pengolahan informasi; (4) penyebaran informasi; dan (5) balikan informasi (umpan balik).
Menurut Bungin (2008) internet seperti yang diketahui adalah bentuk konvergensi dari beberapa teknologi penting terdahulu, seperti komputer (dengan berbagai varian manfaat), televisi, radio, dan telepon. Setelah penemuan komputer pada tahun 1960-an dan terus berkembang sampai pada tahun 1990-an sehingga melahirkan teknologi internet, para ahli tercengang dengan begitu pesat perkembangan teknologi ini yang oleh mereka disebut “sebagai yang tidak terduga”. Internet begitu memukau dan begitu cepat berkembang dengan varian-varian programnya yang menjadikan bumi ini dalam cengkraman teknologi. Internet telah berkembang menjadi sebuah teknologi yang tidak saja mampu mentransmisikan berbagai informasi, namun juga telah mampu menciptakan dunia baru dalam realitas kehidupan manusia, yaitu sebuah realitas materialistis yang tercipta dalam dunia maya.
Vardiansyah (2004) menyatakan bahwa perkembangan teknologi komunikasi, yakni teknologi komputer dengan internet melahirkan media yang bersifat multimedia karena hampir seluruh bentuk media komunikasi yang telah dikenal umat manusia menyatu dalam elektronik digitalnya. Di internet kita dapat menemukan surat elektronik, iphone (telepon internet), suratkabar/majalah elektronik, radio internet, TV internet, bahkan kegiatan tatap muka melalui internet. Internet atau interconnection networking telah membuat ruang dan waktu baru, yang bersifat nirjarak dan nirwaktu yang disebut cyberspace (multimedia).
Mulyandari (2011) dalam Browning et.al (2008) menyatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi seperti internet telah merevolusi cara kita bekerja dengan informasi dan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Tingginya tingkat adopsi teknologi tersebut, telah mengubah kebiasaan kita baik di tempat kerja maupun di lingkungan rumah tangga menjadi arena yang semakin bergantung pada teknologi informasi dan komunikasi dalam tugas sehari-hari. Penggunaan Short Message Service (SMS) maupun Web sudah biasa ditunjukan untuk mempublikasikan informasi tentang produk, perusahaan, pelatihan-pelatihan/kursus dari Universitas. Internet merupakan salah satu teknologi komunikasi dan informasi yang baru untuk praktek komunikasi. Secara lebih spesifik, teknologi informasi dan komunikasi dianggap lebih efisien, lebih murah, lebih cepat, dan boleh jadi merupakan cara yang lebih akurat untuk membantu tugas kita sehari-hari.
Lebih lanjut menurut Mulyandari (2011) menyatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah salah satu saluran atau media komunikasi, sehingga dapat dinyatakan bahwa cyber extension yang mensinergikan teknologi informasi dan komunikasi dalam komunikasi inovasi merupakan media baru atau sebagai suatu inovasi.
Implementasi dan Pemanfaatan Cyber Extension
Subejo (2011) menyatakan bahwa model cyber extension yang telah dikembangkan di Jepang dengan cukup pesat adalah computer network system yang dikenal dengan Extension Information Network (El-net). Sistim El-net merupakan sistim yang terintegrasi yang menggabungkan berbagai stakeholders
11 seperti pemerintah pusat, propinsi, lembaga penelitian, perusahaan pertanian, pasar, penyuluh dan petani. Pada sistim El-net, dikembangkan sistim database dan sistim komunikasi melalui email. Database tersebut antara lain mencakup berita pertanian, informasi pasar serta informasi cuaca.
Mulai akhir abad 20, akses informasi pasar di negara Cina sudah dilakukan melalui Personal Computer (PCs) desktop. Pada saat ini, selain pengusaha besar, petani sudah mulai akses informasi pasar melalui telepon seluler (mobile phone) dengan biaya yang relatif lebih murah. Website khusus untuk produk pertanian telah dioperasionalkan dengan menyediakan direktori berbagai produk, papan penawaran produk, layanan untuk perdagangan, pusat informasi produk pertanian, dan virtual office sehingga perdagangan global yang melibatkan pedagang dan perusahaan besar dalam dan luar negeri untuk produk dari Cina dapat berkembang dengan pesat (BBC News 2004 a dalam Mulyandari 2011).
Sumardjo et al. (2010) mengungkapkan bahwa Kenya Agricultural Commodities Exchange (KACE) didukung oleh perusahaan swasta mengembangkan Sistem Informasi Pasar (SIP) melalui aplikasi TIK untuk membantu akses petani terhadap informasi pasar dan harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani miskin di daerah pedesaan atau daerah terpencil di Kenya. Jaringan Huaral Valley di Peru dibangun untuk meningkatkan akses petani terhadap informasi pertanian. Jaringan dari pusat informasi masyarakat ini dirancang dengan teknologi jaringan tanpa kabel (wireless). Akses internet berjalan (mobile internet) memberikan kemungkinan yang lebih besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nyata bagi kehidupan petani pedesaan. Selain petani, para pelajar di pedesaan juga dapat merasakan manfaat dari infrastruktur telekomunikasi yang telah dibangun tersebut. Thailand Canada Tele-centre Project (TCTP) bekerja sama dengan pemerintahan Thailand, sektor swasta, dan World Bank telah mempromosikan akses layanan ICT di desa-desa dengan menempatkan beberapa telepon dan komputer untuk akses ke internet di lokasi yang mudah diakses oleh masyarakat yang disebut telecenter.
Mulyandari et al. (2010) menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi stakeholders dalam kemungkinannya untuk penerapan cyber extension dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu sebagai berikut: manajemen, infrastruktur dan sarana-prasarana lainnya, sumberdaya manusia, budaya
Cyber Extension memanfaatkan kekuatan jaringan komunikasi komputer dan multimedia interaktif untuk memfasilitasi mekanisme berbagai informasi atau pengetahuan. Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, mekanisme cyber extension sudah mulai diterapkan di banyak negara dalam tahun-tahun ini sebagai suatu mekanisme penyaluran informasi yang dapat diupayakan untuk memenuhi kebutuhan petani di pedesaan terhadap informasi untuk mendukung kegiatan usahataninya.
Mulyandari (2011) menyatakan bahwa cyber extension berfungsi untuk memperbaiki aksesibilitas petani terhadap informasi pasar, input produksi, tren konsumen, yang secara positif berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi, informasi pemasaran, praktek pengelolaan ternak dan tanaman atau ternak, ketersediaan transportasi, informasi peluang pasar dan harga input maupun output pertanian sangat penting untuk efisiensi produksi secara ekonomi. Dengan mengimplementasikan cyber extension dalam pembangunan pertanian berkelanjutan melalui peningkatan fungsi sistem pengetahuan dan informasi
12
pertanian dan peningkatan kapasitas petani, maka petani akan berpikir dengan cara yang berbeda, berkomunikasi yang berbeda-beda dan mengerjakan bisnisnya secara berbeda-beda. Selain itu, cyber extension memfokuskan pada keseluruhan pengembangan usahatani termasuk produksi, manajemen, pemasaran, dan kegiatan pembangunan pedesaan lainnya.
Pemanfaatan cyber extension dapat dilihat dari aspek cyber extension dan bagaimana proses pemanfaatan cyber extension. Pemanfaatan cyber extension dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1 Pemanfaatan cyber extension (diinspirasi dari Browning et al. 2008 dalam Mulyandari 2011 )
Aspek Cyber Extension
Pemanfaatan Cyber Extension
Dasar Menengah Lanjut
Sarana teknologi informasi yang dominan dimanfaatkan Mulai berbasis teknologi informasi namun masih dominan menggunakan media konvensional Berbasis pada teknologi informasi terbatas pada telepon baik telepon rumah maupun telepon genggam (HP) HP berinternet dan atau komputer offline dan online Intentitas pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan usaha tani
Tidak setiap hari menggunakan sarana teknologi informasi
Menggunakan sarana teknologi informasi setidaknya satu kali dalam satu hari
Menggunakan sarana teknologi informasi lebih dari satu kali dalam satu hari
Tingkat manfaat yang dirasakan
Memanfaatkan secara langsung dan atau secara tidak langsung
Komunikasi dan atau mencari informasi secara interaktif Komunikasi secara interaktif, browsing, chatting, jejaring sosial, pengelolaan/ dokumentasi informasi, dan promosi usaha Pengembangan jejaring sosial (jangkauan komunikasi atau interaksi)
Terbatas dan hanya dalam wilayah lokal sampai luar desa secara terbatas
Cukup luas, namun masih dalam batas provinsi- nasional Sangat luasan dapat menjangkau dunia gobal Aktivitas Berbagi informasi/penget ahuan Berbagi informasi dominan melalui konvensional Mulai mengenal teknologi Informasi untuk sarana berbagi informasi /pengetahuan dengan pihak lain Aktif berbagi informasi secara interaktif dengan sarana teknologi informasi baik untuk beberapa pengetahuan, berkoordinasi, maupun bersinegri.
13 Efektivitas Cyber Extension dalam Diseminasi Teknologi Pertanian
Komunikasi dikatakan efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan difahami oleh penerima pesan (Tubbs dan Moss 2000).
Tubbs dan Moss (2000) menyatakan bahwa ada lima hal yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu : pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atau pesan yang disampaikannya. Kegagalan utama dalam komunikasi adalah ketidakberhasilan dalam menyampaikan isi pesan secara cermat, semakin sulit pula untuk menentukan seberapa cermat pesan yang diterima.
1. Pemahaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Dalam hal ini, komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikan.
2. Tingkat kesenangan dalam berkomunikasi berkaitan erat dengan perasaan kita terhadap orang yang berinteraksi dengan kita.
3. Pengaruh pada sikap: tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita.
4. Hubungan yang makin baik : keefektivan komunikasi secara keseluruhan masih memerlukan suasana psikologis yang positif dan penuh kepercayaan. Bila hubungan manusia dibayang-bayangi oleh ketidakpercayaan, maka pesan yang disampaikan oleh komunikator yang paling kompeten pun bisa saja berubah makna atau didiskreditkan.
5. Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang kita inginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Tampaknya lebih mudah menggunakan agar pesan kita dipahami daripada mengusahakannya agar pesan kita disetujui.
Menurut Vardiansyah (2004) efek komunikasi adalah pengaruh yang ditimbulkan pesan komunikator dalam diri komunikannya. Efek komunikasi dapat kita bedakan atas efek kognitif (pengetahuan, seseorang menjadi tahu tentang sesuatu), afektif (sikap seseorang terbentuk, misalnya setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu), dan konatif (tingkah laku, yang membuat seseorang bertindak melakukan sesuatu), karenanya efek adalah salah satu elemen komunikasi yang penting untuk mengetahui berhasil atau tidaknya komunikasi yang diinginkan.
Menurut Wiryanto (2000) efek komunikasi merupakan setiap perubahan yang terjadi di dalam diri penerima, karena menerima pesan-pesan dari suatu sumber. Perubahan ini meliputi perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku nyata. Komunikasi dikatakan efektif apabila ia menghasilkan efek-efek atau perubahan-perubahan sebagai yang diharapkan sumber, seperti pengetahuan, sikap, dan perilaku atau ketiganya.
Hasanah (2005) menunjukkan bahwa komunikasi efektif dapat terjadi bila tercapainya suatu keberhasilan, di mana dapat terjadi jika penerima pesan terdedah terhadap pesan yang disampaikan oleh sumber. Dengan demikian, komunikasi yang efektif yaitu terjadinya pemahaman,kesenangan, pengaruh pada
14
sikap, hubungan yang semakin baik, dan tindakan. Selain itu, komunikasi yang efektif juga dapat menimbulkan dampak kognitif, afektif, dan behavioral.
Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi efektif menurut Effendy (2007) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi yaitu :
1. Faktor pada komponen komunikan
Faktor yang harus diperhatikan oleh seseorang komunikan dalam menyampaikan suatu pesan yaitu : timing yang tepat untuk suatu pesan, bahasa yang harus dipergunakan agar pesan dapat dimengerti, sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif, jenis kelompok dimana komunikasi itu dilaksanakan. Seseorang dapat dan akan menerima pesan hanya kalau terdapat kondisi berikut sebagai simultan; (a) Ia dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi; (b) Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya sesuai dengan tujuannya; (c) Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan pribadinya; (d) Ia mampu untuk menepati janjinya baik secara mental maupun secara fisik. 2. Faktor pada komponen komunikator: untuk melaksanakan komunikasi efektif,
terdapat dua faktor penting pada diri komunikator yakni kepercayaan kepada komunikator (source atrractiveness) dan daya tarik komunikator (source attractiveness)
1. Kepercayaan pada komunikator ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan yang besar akan dapat meningkatkan daya perubahan sikap, sedang kepercayaan yang kecil akan dapat mengurangi daya perubahan yang menyenangkan. Lebih dikenal dan disenanginya komunikator oleh komunikan, lebih cenderung komunikan merubah kepercayaannya kepada arah yang dikehendaki komunikator.
2. Daya tarik komunikator: seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya tarik. Jika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengan mereka dalam hubungannya dengan opini secara memuaskan.
Media komunikasi cyber extension dalam diseminasi teknologi pertanian dapat dikatakan efektif, jika media komunikasi cyber extension dalam diseminasi teknologi pertanian tersebut menimbulkan perubahan pada kognitif, afektif, behavioral dan sikap terhadap pemanfaatan cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian.
Potensi, Tantangan Pengembangan Tanaman Florikultura
Manurut Palungkung (2004) dalam Anggrayni (2006) menyatakan bahwa tanaman hias merupakan bagian dari hortikultura non pangan yang digolong dalam florikultur. Florikultur adalah cabang ilmu hortikultura yang mempelajari tanaman hias sebagai bunga potong, tanaman pot, atau tanaman penghias taman. Tanaman hias dengan keragamannya itu tidak semata-mata digunakan sebagai pelengkap saja, tetapi tanaman hias juga mempunyai beberapa fungsi lain yaitu: keindahan, stabilisator atau pemeliharaan lingkungan, pendidikan, pemeliharaan lingkungan, serta ekonomi dan sosial.
Lebih lanjut, Sudarmono (1997) menyatakan bahwa tanaman hias merupakan jenis tanaman tertentu yang berasal dari tanaman daun atau tanaman
15 bunga yang dapat ditata untuk memperindah lingkungan sehingga suasana menjadi lebih artistic dan menarik.
Menurut (Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura 2012) tanaman florikultura merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi, bahkan memberikan kontribusi yang besar dalam perdagangan dunia sekitar US $ 80 milyar. Beberapa negara memberikan perhatian kepada pembangunan industri tanaman florikultura di negaranya sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam perolehan devisa negara tersebut (lebih dari 40 %), seperti Belanda, Kolombia, Kenya, Costarica, Thailand, Taiwan dll. Sekitar tahun 2005, pemerintah Indonesia baru mulai memberikan perhatian kepada pengembangan agribisnis tanaman florikultura, karena dinilai bahwa komoditas tersebut ternyata memberikan kontribusi dalam perekonomian nasional, memberikan sumber perdapatan rumah tangga, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Berdasarkan data tahun 2008, sumbangan sub sektor agribisnis tanaman florikultura terhadap PDB nasional adalah sebesar Rp 6.4 trilyun (tahun 2008), namun kontribusi Indonesia dalam perdagangan tanaman florikultura dunia masih sangat kecil, baru sekitar US $ 12 juta ( 2008).
(Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura 2012) menyatakan bahwa pembangunan florikultura masih menghadapi permasalahan berkenaan dengan penerapan teknologi, ketersediaan sarana dan prasarana produksi, sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan modal serta kelembagaan.
Tantangan pembangunan florikultura antara lain: (1) Industri perbenihan belum optimal; (2) Hasil pemuliaan masih terbatas; (3) Kompetensi sumberdaya manusia masih rendah; (4) Rendahnya kompetensi sumberdaya manusia dalam teknologi maju budidaya florikultura; (5) Kelembagaan usaha belum optimal; (6) Sistem informasi belum tersedia; (7) Rantai pendingin dan manajemen rantai pasokan (SCM) belum tertata dengan baik; (8) Skala usaha kecil belum memenuhi skala industri; (9) Promosi dan edukasi kepada masyarakat kurang; (10) Luas lahan sempit; (11) Regulasi belum kondusif; (13) Hubungan pemerintah dan pelaku usaha belum harmonis. (14) Rantai pasok belum efisien; (15) Skim pembiyaan sulit diakses; (16) Industri Hulu dan Hilir belum berkembang; (17) Sistem penanganan di pelabuhan atau bandara ekspor belum optimal; dan (18) Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Hortikultura belum sinkron dengan
RUTR daerah.
Kerangka Pemikiran
Media komunikasi memiliki peran penting dalam mendiseminasikan teknologi pertanian (tanaman hias) untuk membantu petani dalam kegiatan usahanya. Media komunikasi yang digunakan petani berbagai macam, yaitu: media komunikasi interpersonal, media massa, dan media komunikasi cyber extension. Media komunikasi cyber extension merupakan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat digunakan petani untuk mencari informasi mengenai teknologi pertanian sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Beberapa kendala petani dalam penggembangan usahanya adalah sulit akses terhadap informasi mengenai inovasi teknologi pertanian, karena keterbatasan media
16
komunikasi yang mendiseminasikan teknologi pertanian dan keterbatasan kemampuan petani dalam menggunakan media komunikasi cyber extension. Oleh sebab itu, media komunikasi cyber extension diharapkan dapat mendiseminasikan teknologi pertanian secara efektif. Menurut Subejo (2011) cyber extension merupakan penggunaan jaringan on-line, komputer, dan digital interactive multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi petani, petugas penyuluh, baik di lembaga penelitian maupun di universitas serta para manajer penyuluhan. Cyber extension menurut Wijekuon et al. (2009) dalam Mulyandari (2011) adalah mekanisme pertukaran informasi pertanian melalui area cyber, suatu ruang imajiner-maya dibalik interkoneksi jaringan komputer melalui peralatan komunikasi. Informasi yang didiseminasikan melalui media komunikasi cyber extension diharapakan dapat digunakan dan diterapkan petani dalam menjalankan usahanya. Hubungan antar peubah yang menjadi kerangka pemikiran dari penelitian ini selengkapnya disajikan pada Gambar 1.
Keterangan: hubungan
Gambar 1 Kerangka pemikiran efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian.
Karakteristik individu 1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Tingkat pendidikan formal 4. Tingkat pendidikan nonformal 5. Tingkat pendapatan
Aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension 1. Persepsi
2.Tingkat ketersediaan teknologi informasi
3.Tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi
4.Tingkat keterjangkauan fasilitas training yang berkaitan dengan cyber extension
Efektivitas cyber extension 1. Kognitif
2. Sikap 3. Networking
17 Gambar 1 menyajikan kerangka pemikiran efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian. Karakteristik individu yang akan menjadi variabel dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (tingkat pendidikan formal dan tingkat pendidikan nonformal), dan tingkat pendapatan. Karakteristik individu berbeda antara satu petani dengan petani lainnya, sehingga diduga berhubungan dengan efektivitas media komunikasi cyber extension.
Aksesibilitas media komunikasi cyber extension yang akan menjadi variabel dalam penelitian ini adalah persepsi terhadap media komunikasi cyber extension (tingkat keuntungan relatif, tingkat kerumitan, tingkat kesesuaian, dan tingkat kemungkinan dicoba), tingkat ketersediaan teknologi informasi, tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi, dan tingkat keterjangkauan fasilitas training. Diduga terdapat hubungan antara aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension dengan efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian.
Efektivitas media komunikasi cyber extension yang akan menjadi variabel dalam penelitian ini adalah kognitif, sikap, dan networking.
Data hubungan antara karakteristik individu dengan aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension diperoleh dari petani pengguna dan non pengguna cyber extension, sedangkan data hubungan antara karakteristik individu dengan aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension, dan hubungan antara karakteristik individu dengan efektivitas media komunikasi cyber extension diperoleh dari petani pengguna media komunikasi cyber extension.
Data petani pengguna dan non pengguna cyber extension (36 petani) hanya dapat dihubungkan antara karakteristik individu dengan aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension. Hal ini disebabkan oleh petani non pengguna cyber extension tidak menggunakan media komunikasi cyber extension dalam mencari informasi mengenai teknologi pertanian, sehingga tidak dapat dihubungkan dengan efektivitas media komunikasi cyber extension.
Karakteristik individu yang diidentifikasi, yaitu: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan formal, dan tingkat pendapatan, sedangkan aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension yang diidentifikasi, yaitu: persepsi tentang tingkat keuntungan relatif media komunikasi cyber extension, persepsi tentang tingkat kerumitan media komunikasi cyber extension, dan tingkat keterjangkauan fasilitas training. Untuk variabel aksesibilitas terhadap media komunikasi lainnya tidak dihubungkan dengan karakteristik individu. Hal ini dikarenakan data/kuesioner pengguna dan non pengguna tidak sama.
18
Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian yang dapat ditarik dari penelitian ini diantaranya:
1. Diduga terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian.
2. Diduga terdapat hubungan antara aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension dengan efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi teknologi pertanian.
3. Diduga terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension.
Definisi Operasional
1. Karakteristik individu adalah ciri-ciri yang mengambarkan individu yang dapat dilihat dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (tingkat pendidikan formal dan tingkat pendidikan nonformal), dan tingkat pendapatan.
2. Usia adalah lama hidup petani yang dihitung berdasarkan tanggal lahir sampai dengan penelitian dilakukan, diukur dalam satuan tahun. Usia diukur berdasarkan rataan usia petani dari data yang didapat di lapangan. Usia dikategorikan menjadi dua kategori:
a. Muda (Skor 1 : 17 – 39 tahun ) b. Tua (Skor 2 : 40 – 67 tahun )
3. Jenis kelamin adalah identitas seksual yang melekat pada diri seseorang, digolongkan dengan skala nominal, dikategorikan dalam dua kategori:
a. Laki-laki (1)
b. Perempuan (2)
4. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah atau sedang dijalani dan pendidikan non formal yang diikuti.
4.1 Tingkat pendidikan formal adalah jenjang pendidikan terakhir yang telah dan sedang diikuti dibangku sekolah formal. Tingkat pendidikan formal terdiri dari SD, Tamat SD, SMP, Tamat SMP, SMA, Tamat SMA, dan Perguruan Tinggi, lalu dikategorikan menjadi dua kategori berdasarkan rataan pendidikan terakhir petani dari data yang didapat di lapangan, yaitu:
a. Rendah (Skor 1 ≤ SMA) b. Tinggi (Skor 2 > SMA)
4.2 Tingkat pendidikan nonformal adalah jenis dan banyaknya pelatihan yang telah diikuti, dinyatakan dengan jumlah pelatihan yang telah diikuti dalam satu tahun terakhir.
a. Rendah (skor 1 Tidak pernah mengikuti pelatihan sama sekali)
19 5. Tingkat pendapatan adalah penerimaan bersih dari pekerjaan yang diterima
petani dalam jangka waktu satu bulan terakhir dari hasil pertanian (tanaman hias) ditambah dengan pendapatan dari pekerjaan sampingan (jika ada). Tingkat pendapatan digolongkan dalam skala ordinal. Tingkat pendapatan digolongkan berdasarkan rata-rata pendapatan petani yang menjadi responden. Tingkat pendapatan dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu : rendah dan tinggi.
a. Rendah (skor 1 < 4000000) b. Tinggi (skor 2 ≥ 4000000)
6. Aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension adalah peluang memanfaatkan media komunikasi cyber extension yang meliputi beberapa aspek: persepsi, tingkat ketersediaan teknologi informasi, tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi, dan tingkat keterjangkauan fasilitas training.
6.1 Persepsi adalah penilaian petani terhadap media komunikasi cyber extension berdasarkan karakteristik inovasi media komunikasi cyber extension meliputi: tingkat keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dan tingkat kemungkinan dicoba.
6.1.1 Tingkat keuntungan relatif : Derajat dimana media komunikasi cyber extension dipandang sebagai jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi yang sebelumnya atau terdahulu. Tingkat keuntungan relatif dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 30) b. Tinggi (skor 2 ≥ 30)
6.1.2 Tingkat kesesuaian : Derajat dimana media komunikasi cyber extension dipandang sebagai konsisten atau sesuai dengan pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan terhadap informasi mengenai teknologi pertanian (tanaman hias). Tingkat kesesuaian dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 30) b. Tinggi (skor 2 ≥ 30)
6.1.3 Tingkat kerumitan : Derajat atau tingkat dimana media komunikasi cyber extension dianggap sulit untuk diakses. Tingkat kerumitan dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 30) b. Tinggi (skor 2 ≥ 30)
6.1.4 Tingkat kemungkinan dicoba : Derajat dimana media komunikasi cyber extension dapat dicoba dalam skala kecil. Tingkat kemungkinan dicoba dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 30) b. Tinggi (skor 2 ≥ 30)
20
7. Tingkat ketersediaan teknologi informasi: jenis saluran atau tempat yang memungkinkan petani menggunakan media komunikasi cyber extension berbasis teknologi informasi dalam mendapatkan informasi mengenai teknologi pertanian (tanaman hias). Meliputi : (1) Telepon rumah; (2) Telepon genggam; (3) Komputer berinternet; (4)Warnet/telecenter. Tingkat ketersediaan teknologi informasi dikategorikan menjadi dua kategori (jumlah teknologi informasi yang digunakan), yaitu:
a. Rendah (skor 1 : (1- 2) b. Tinggi (skor 2 : (3 - 4)
8. Tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi: keberadaan dan kondisi infrastruktur yang mendukung dapat operasionalnya sarana teknologi informasi dan komunikasi untuk akses informasi berbasis teknologi informasi. Tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: jaringan telepon rumah dan jaringan internet. Tingkat ketersediaan infrastruktur jaringan komunikasi dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 3) b. Tinggi (skor 2 ≥ 3)
9. Tingkat keterjangkauan fasilitas training: kemudahan petani memperoleh pelatihan penggunaan teknologi informasi, yaitu dalam penggunaan komputer, akses internet, dan akses informasi teknologi pertanian. Diukur berdasarkan tingkat keikutsertaan petani dalam pelatihan pemanfaatan teknologi informasi, yaitu: (1) Penggunaan komputer untuk pengolahan data dan akses informasi; (2) Pemanfaatan telepon genggam untuk akses informasi; dan (3) Pemanfaatan dan pengelolaan informasi melalui internet. Tingkat keterjangkauan fasilitas training dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 11.5) b. Tinggi (skor 2 ≥ 11.5)
10. Efektivitas media komunikasi cyber extension adalah keberhasilan sebuah media komunikasi cyber extension dalam mendiseminasikan informasi mengenai teknologi pertanian (tanaman hias). Efektivitas media komunikasi cyber extension diidentifikasi dari tingkat kognitif (pengetahuan), sikap dan networking.
10.1 Kognitif adalah : pengetahuan petani mengenai informasi teknologi pertanian (tanaman hias) yang didiseminasikan melalui media komunikasi cyber extension. Diukur berdasarkan jawaban petani pada tingkat kognitif (pengetahuan). Dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 21) b. Tinggi (skor 2 ≥ 21)
21 10.2. Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai dengan
kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan persepsinya terhadap obyek tersebut berhubungan dengan informasi mengenai teknologi pertanian (tanaman hias) yang didiseminasikan melalui media komunikasi cyber extension. Dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 < 11) b. Tinggi (skor 2 ≥ 11)
10.3. Networking : menyambungkan dan menghubungkan antara satu pihak dengan pihak lainnya dalam bidang pertanian (tanaman hias) mencakup membangun komunikasi, kemitraan, dan pemasaran melalui media komunikasi cyber extension. Networking dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Rendah (skor 1 (3 - 4)) b. Tinggi (skor 2 (5 - 6))