2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sumberdaya Udang
Sumberdaya alam (natural resources) pada dasarnya mempunyai pengertian segala sesuatu yang berada di bawah atau di atas bumi, termasuk tanah itu sendiri (Suparmoko 1998). Dengan kata lain, sumberdaya alam adalah sesuatu yang masih terdapat di dalam maupun di luar bumi yang sifatnya masih potensial dan belum dilibatkan dalam proses produksi. Pengertian ini berbeda dengan barang sumberdaya (resources commodity), karena merupakan sumberdaya alam yang sudah diambil dari dalam atau di atas bumi dan siap dipergunakan atau dikombinasikan dengan faktor produksi lainnya untuk menghasilkan produk baru yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen maupun produsen.
Udang merupakan bagian dari sumberdaya alam. Wilayah perairan pantai selatan Jawa memiliki potensi sumberdaya udang yang tinggi, khususnya wilayah Cilacap sebagai sentra produksi udang. Di Cilacap banyak sekali ditemukan berbagai jenis udang dengan komoditas utama adalah udang Penaeid.
Udang sebagai sumberdaya hayati akuatik, meskipun bersifat dapat pulih (renewable), bukanlah berarti tidak terbatas. Sumberdaya udang perlu dikelola dengan baik sehingga tetap lestari dan bermanfaat secara ekonomi bagi nelayan. Dengan pengelolaan yang baik diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan dan berkontribusi bagi perekonomian daerah. Pengelolaan sumberdaya udang harus dilaksanakan secara terpadu dengan lingkungan pendukung dan sumberdaya lain yang mempengaruhinya.
Menurut Kusumastanto (2002), permasalahan pada pengelolaan perikanan, antara lain meliputi masalah biologi dan masalah ekonomi. Masalah biologi seperti ancaman berkurangnya stok, dan masalah ekonomi seperti borosnya tenaga kerja dan modal. Dalam kapasitas penangkapan yang berlebih serta pendapatan yang menurun, dapat diatasi dengan sistim Individual Transferable Quota (ITQ). Namun sistim ITQ dirasakan kurang sesuai untuk diterapkan di Indonesia, sehingga menyarankan kepada pemerintah agar mempertimbangkan model Territorial Used Right yang dipandang lebih realistis bagi Indonesia dalam
Community Based Management maupun Co-management, sehingga akan semakin besar kesempatan bagi nelayan lokal, untuk berpartisipasi dalam proses pengelolaan sumberdaya perikanan dan akan menguntungkan masyarakat dan generasi di masa datang.
Perikanan tangkap termasuk industri primer karena memanfaatkan sumber daya ikan sebagai kekayaan alam lautan. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pengumpulan dan pengambilan sumberdaya ikan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan pangan atau lainnya. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan bersirip, udang, cumi-cumi, hewan karang, kekerangan, atau hewan sejenis moluska termasuk juga benda seperti mutiara, rumput laut dan lain-lain. Jumlah produksi hasil laut yang diambil oleh nelayan tidak boleh melebihi kapasitas produksi yang terkandung dalam potensi sumber daya setiap jenisnya.
Udang Penaeid adalah termasuk jenis Decapoda yang melepaskan telurnya ke laut secara demersal segera setelah dibuahi, sedangkan jenis-jenis Decapoda lainnya membawa telurnya sampai menetas menjadi larva. Daur hidup dari udang Penaeid dibagi menjadi dua fase, yaitu fase lautan dan fase muara sungai. Udang betina memijah di laut terbuka. Telur-telur dilepaskan secara demersal dan setelah 24 jam menetas menjadi larva tingkat pertama (nauplius). Selanjutnya setelah 3-8 kali moulting berubah menjadi protozoea, mysis dan pasca larva. Saat pasca larva merupakan tingkatan yang sudah mencapai daerah asuhan di pantai dan mulai menuju dasar perairan. Larva bergerak dari daerah pemijahan di tengah laut ke teluk-teluk dan muara-muara sungai. Kemudian berubah menjadi yuwana, makan dan tumbuh di daerah asuhan 3-4 bulan menjadi udang muda, mulai berupaya ke laut dan menjadi udang dewasa kelamin, kawin dengan udang betina kemudian memijah. Yuwana banyak ditemukan di muara sungai dan biasanya pada perairan yang ada mangrovenya. Ruaya udang dikenal sebagai inshore-offshore migration yaitu dari pantai ke tengah laut dan sebaliknya, sepanjang pantai dan secara vertikal dalam kolom air, dan setelah menetas, larva udang bergerak secara pasif dari daerah pemijahan ke arah pantai dan muara sungai, dan pada fase yuwana meninggalkan lingkungan muara sungai dan memasuki perairan pantai yang lebih dalam (Kirkegaard et al. 1970).
Menurut Munro (1968) dalam Naamin (1984 dan 1992), life cycles atau daur hidup udang jerbung terbagi menjadi dua fase yaitu fase laut dan fase muara sungai (Gambar 1) dengan tahapan sebagai berikut:
1) Udang jerbung bertelur dan menetas menjadi larva di laut.
Telur udang jerbung akan menetas menjadi larva stadium nauplius menurut Teng (1971) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu 0,48 hari dan menurut Raje dan Ranade (1972) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu 0,88 hari serta menurut Motoh dan Buri (1979) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu kurang dari 1 hari.
2) Larva berkembang menjadi post larva masuk ke muara sungai.
Menurut Munro (1968) dalam Naamin (1984 dan 1992), perkembangan larva udang penaeid terdiri dari beberapa stadium yaitu mulai dari nauplius menjadi protozoea dan berkembang menjadi mysis dan selanjutnya menjadi post larva. Menurut Garcia dan Le Reste (1981), waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan nauplius menjadi post larva adalah selama sekitar 3 minggu, menurut Raje dan Ranade (1972) dalam Dall et al. (1990) membutuhkan waktu sekitar 13,88 hari dan menurut Motoh dan Buri (1979) dalam Dall et al. (1990) membutuhkan waktu sekitar 9,24 hari.
3) Post larva berkembang menjadi udang remaja kembali ke laut.
Menurut Garcia dan Le Reste (1981) dalam Naamin (1984), udang tumbuh dari stadium post larva menjadi stadium yuana (juvenil) di muara dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan dan kemudian baru mulai meninggalkan lingkungan muara sungai dan memasuki perairan pantai sebagai udang muda (yuana) dan kemudian migrasi ke laut.
4) Udang remaja berkembang menjadi udang dewasa dan matang telur serta kemudian memijah di laut.
Menurut Dall et al. (1990), udang muda bermigrasi ke laut yang lebih dalam, menjadi dewasa, kawin dan memijah. Waktu yang diperlukan untuk menjadi dewasa/induk sekitar 8-20 bulan.
Secara singkat pertumbuhan udang adalah telur, nauplius, protozoea, mysis, post larva, yuana (juvenil), udang muda (yuana) dan udang dewasa/induk. Pertumbuhan dari telur sampai menjadi udang dewasa/induk membutuhkan waktu
Gambar 1 Daur hidup udang Penaeid (Farley 2002)
Udang Penaeid termasuk dalam kelas Crustacea. Klasifikasi udang Penaeidae spp adalah sebagai berikut:
Phylum: Arthropoda Class: Crustacea
Sub class: Malacostraca Series: Eumalacostraca
Superorder: Eucarida Order: Decapoda Sub Order: Natantia
Section: Penaeidea Family: Penaeidae Sub Family: Penaeinae
Genus: Penaeus
Spesies: Penaeus merguensis Genus: Metapenaeus
Spesies: - Metapenaeus endevouri - Metapenaeus ensis
Habitat dan biologi udang Penaeid, benthic hidup di berbagai jenis lingkungan di dasar laut seperti di batu, lumpur, pasir dsb. Pada golongan Penaeus, proses pemijahan berlangsung di lepas pantai, dengan kedalaman antara 10 dan 80 m. Kantung sperma betina berada pada thelycum (alat kelamin yang berada pada kaki bagian belakang) yang digunakan ketika telur luruh. Setelah pembuahan, telur akan menetas dalam beberapa jam. Planktonic larvae akan dibawa oleh arus menuju pantai selama sekitar 3 minggu, dengan ukuran 6 sampai 14 mm. Perkembangan menuju dewasa akan berlangsung di air payau, mulut sungai, danau, daerah mangrove dan diakhiri dengan migrasi di lepas pantai untuk pemijahan kembali (Bianchi 1985).
Udang Penaeid adalah jenis udang yang berjenis heteroseksual. Kelamin bisa dibedakan dari luar setelah tingkat pasca larva terakhir selesai. Petasma alat kelamin jantan terletak antara pasangan pertama kaki renang, sedangkan thelycum alat kelamin betina terletak antara pasangan keempat dan kelima kaki jalan. Udang dewasa memperlihatkan perbedaan ukuran yang jelas untuk umur, karena udang betina lebih besar dari udang jantan pada umur yang sama. Udang Penaeid tidak mempunyai pasangan seks tertentu (promiscuos). Pembuahan terjadi di luar, udang betina kulitnya harus dalam keadaan lunak, sedangkan udang jantan kulitnya harus dalam keadaan keras untuk menempelkan (impregnation) kantong sperma (spermatophores). Telur yang dilepaskan oleh seekor induk udang diperkirakan sekitar 100.000 telur pada setiap kali memijah (Tuma 1967).
2.2 Wilayah Pesisir Cilacap
2.2.1 Kondisi Umum Wilayah Pesisir Cilacap
Menurut Dahuri (2001), wilayah pesisir umumnya merupakan kawasan yang paling padat dihuni, serta menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan pembangunan. Kawasan pesisir di dunia termasuk di Indonesia mengalami tekanan ekologis yang parah dan komplek, sehingga menjadi rusak. Di Indonesia, kerusakan wilayah pesisir terutama disebabkan oleh pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tanpa ada perhatian yang memadai terhadap karakteristik, fungsi, dan dinamika ekosistem. Padahal wilayah pesisir dan lautan beserta segenap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terkandung di dalamnya diharapkan akan menjadi tumpuan pembangunan nasional pada abad ke-21, oleh karena itu perlu perbaikan yang mendasar di dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan sumberdaya alam pesisir. Pola pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi perlu diganti dengan pembangunan berkelanjutan.
Wilayah perairan pantai Cilacap memiliki nilai yang amat penting, bagi pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam hayati khususnya perikanan dan nirhayati khususnya minyak bumi. Kedua sumberdaya alam dimaksud memiliki ciri pemanfaatan yang berbeda, dan berkaitan satu sama lain. Kondisi pantai Cilacap yang cukup dalam sampai ke pinggir menjadikan daerah ini cocok dikembangkan Pelabuhan Samudera dan sekaligus menjadi pusat industri. Hal
Secara ekologis kawasan perairan Cilacap didominasi oleh ekosistem mangrove seluas kurang lebih 15.000 hektar. Ekosistem tersebut terbentuk dari proses sedimentasi yang cukup lama dari Sungai Kaliyasa dan Laguna Segara Anakan. Laguna Segara Anakan memiliki panjang lebih kurang 12 km dengan debit aliran air 1.500 m3/detik dan konsentrasi muatan padatan tersuspensi mencapai 80 mg/l. Debit sungai yang tinggi sangat mempengaruhi formasi vegetasi mangrove di Laguna Segara Anakan. Laguna Segara Anakan sangat berguna sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi udang. Laguna Segara Anakan merupakan pertemuan antara dua daerah aliran sungai (DAS) besar, yaitu DAS Citandui dan DAS Segara Anakan. Hal tersebut menyebabkan sedimentasi yang tinggi sehingga banyak sekali ditemukan sedimen lumpur carbonaceous, sehingga sangat mendukung pertumbuhan asosiasi mangrove (Waryono 2002).
Kepercayaan tradisional masyarakat lokal yang berdomisili di tengah Laguna Segara Anakan meyakini bahwa merekalah yang berhak untuk menguasai sumber daya alam baik dari perairan maupun di kawasan mangrove. Masyarakat lokal tersebut mengambil keuntungan dari berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan kerang, juga memanfaatkan kulit bakau untuk bahan dasar tenun dan daun pohon mangrove untuk atap dan dinding. Jumlah penduduk di Kabupaten Cilacap mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu 1.709.908 jiwa tahun 2004, dengan peningkatan penduduk mencapai 0,69 persen per tahun. Penduduk dengan jumlah yang besar akan berpengaruh pula terhadap kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan (Waryono 2002).
2.2.2 Mangrove
Kelestarian sumberdaya udang sangat bergantung kepada daya dukung lingkungan penunjangnya. Lingkungan penunjang sumberdaya udang adalah ekosistem wilayah pesisir yaitu mangrove, estuaria, padang lamun dan terumbu karang. Kondisi kualitas perairan yang baik dan tidak tercemar juga menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup udang.
2.2.2.1 Pengertian Mangrove
Mangrove adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan subtropis yang didominasi tumbuhan bunga terestrial berhabitat pohon dan semak yang dapat menginvasi dan tumbuh di kawasan pasang surut. Hutan mangrove disebut juga hutan pasang surut, hutan payau, rawa-rawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering digunakan adalah hutan mangrove atau hutan bakau.
Daerah yang terdapat dalam kawasan pasang surut lingkungan tempat tumbuh mangrove mengandung substrat yang tidak stabil, dengan variasi salinitas yang tinggi dan pasang surut harian yang bersifat fluktuatif. Hal tersebut menyebabkan lahannya menjadi bersifat ekstrim dan tidak dapat dijadikan lahan bagi tumbuhan selain mangrove. Mangrove telah melalui berbagai evolusi fisiologis dan penyesuaian struktural seperti kutikula berlilin pada daun, akar nafas yang beragam dan bibit yang merupakan anakan dari mangrove. Pada akhirnya evolusi dari mangrove menciptakan habitat bersarang dan perkembangbiakan yang penting bagi banyak spesies satwa liar.
Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat payau. Tanaman dikotil adalah tumbuhan yang buahnya berbiji berbelah dua. Kelompok pohon di daerah mangrove bisa terdiri atas suatu jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan sebagaimana Gambar 2.
Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Melayu manggi-manggi dan bahasa Arab el-gurm menjadi mang-gurm, keduanya sama-sama berarti Avicennia (api-api), pelatinan nama Ibnu Sina yaitu seorang dokter Arab yang banyak mengidentifikasi manfaat obat tumbuhan mangrove. Kata mangrove dapat ditujukan untuk menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain sebagai sumber bahan bangunan, kayu bakar, arang, tanin, bahan pewarna, bahan makanan, bahan obat, serta bahan baku industri, seperti pulp, rayon dan lignoselulosa. Keanekaragaman hayati ekosistem mangrove berpotensi besar untuk menghasilkan produk berguna di masa depan (bioprospeksi). Tumbuhan obat yang selama ini dimanfaatkan secara tradisional dapat diteliti secara mendalam hingga diperoleh obat modern (Setyawan et al. 2002).
2.2.2.2 Formasi Mangrove
Menurut Setyawan et al. (2002), dalam penelitian pada wilayah perairan pantai selatan Jawa menghasilkan bahwa jumlah keseluruhan spesies mangrove komponen mayor, minor dan tumbuhan asosiasi pada 10 muara sungai di pantai selatan Jawa lebih banyak daripada di Segara Anakan, masing-masing 29 dan 27 spesies. Spesies yang ditemukan di Segara Anakan umumnya merupakan kelompok mayor dan minor, sedang spesies dari 10 muara sungai umumnya dari kelompok tumbuhan asosiasi. Hal ini terjadi karena pengamatan di Segara Anakan dilakukan pada pusat-pusat distribusi mangrove, dimana invasi tumbuhan asosiasi masih sangat terbatas. Sebaliknya pada 10 muara sungai yang diamati, kecuali Sungai Jeruk Legi-Donan, komunitas mangrove hanya tinggal sisa-sisa (relik), dimana invasi tumbuhan pantai dan spesies asosiasi lainnya sangat tinggi. Apabila pengamatan vegetasi mangrove di Segara Anakan juga dilakukan pada area tepi vegetasi, boleh jadi jumlah spesies asosiasi yang ditemukan akan bertambah.
Dalam penelitian Setyawan et al. (2002), spesies mangrove komponen mayor, minor dan tumbuhan asosiasi yang dijumpai di 10 muara sungai secara berturut-turut sebanyak 9, 2 dan 18 spesies, sedangkan di Segara Anakan dijumpai secara berturut-turut sebanyak 13, 8, dan 6 spesies. Tumbuhan mangrove
komponen mayor yang paling sering dijumpai pada muara muara sungai di pantai selatan Jawa adalah Sonneratia alba (9 sungai), disusul Nypa fruticans (6 sungai), Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa (4 sungai). Sedangkan Avicennia marina, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, dan Rhizophora apiculata masing-masing hanya ditemukan pada satu sungai. Sonneratia alba selaku tumbuhan pionir tampaknya memiliki pola pemencaran dan daya adaptasi lebih baik dari pada spesies lain. Tumbuhan tersebut mampu tumbuh pada lebih banyak muara sungai.
2.2.2.3 Fungsi dan Manfaat Mangrove
Mangrove mempunyai keterkaitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia sebagai penyedia bahan pangan, papan dan kesehatan. Fungsi mangrove dibedakan menjadi 5 golongan yaitu:
1) Fungsi Fisik
(1) Menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut.
(2) Melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam hari.
(3) Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru.
(4) Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke danau, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.
2) Fungsi Kimia
(1) Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen. (2) Sebagai penyerap karbondioksida.
(3) Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal di laut.
3) Fungsi Biologi
(1) Sebagai kawasan untuk berlindung, bersarang serta berkembang biak bagi burung dan satwa lain.
(2) Sebagai sumber plasma nutfah dan sumber genetika.
(4) Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus) yang kemudian berperan sebagai sumber makanan bagi hewan yang lebih besar. (5) Sebagai kawasan pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan
(nursery ground) bagi udang.
(6) Sebagai daerah mencari makanan (feeding ground) bagi plankton. 4) Fungsi Ekonomi
(1) Penghasil bahan baku industri, misalnya pulp, tekstil, makanan ringan. (2) Penghasil bibit ikan, udang, kerang dan kepiting, telur burung serta madu. (3) Penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan perabot rumah
tangga. 5) Fungsi Wisata
(1) Sebagai kawasan wisata alam pantai untuk membuat trail mangrove. (2) Sebagai sumber belajar bagi pelajar.
(3) Sebagai lahan konservasi dan lahan penelitian.
Dixon (1989) dalam Bengen (2001) menggambarkan manfaat hutan mangrove sebagaimana pada Gambar 3.
2.3 Model Bio-ekonomi Gordon-Schaefer
Model produksi hanya dapat mengetahui potensi produksi sumberdaya perikanan dan tingkat produksi maksimumnya. Model tersebut belum mampu menunjukkan potensi industri penangkapan ikan dan belum dapat menentukan tingkat pengusahaan yang maksimum bagi nelayan.
Sumberdaya perikanan tangkap merupakan sumberdaya yang open access, artinya setiap orang dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan di suatu wilayah perairan tanpa adanya pembatasan. Kecenderungan ini menyebabkan tingkat upaya tangkap ikan meningkat hingga tercapai keseimbangan dimana tidak lagi diperoleh keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut. Dengan perkataan lain dapat dikondisikan daerah tersebut telah mengalami overfishing (Fauzy dan Anna 2005).
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di suatu wilayah perairan, maka konsep yang harus dikembangkan adalah konsep kepemilikan tunggal (single owner concept) yang menganggap stok sumberdaya perikanan di suatu wilayah perairan sebagai modal (aset) oleh pihak pemilik tunggal, yakni pemerintah daerah. Pemilik tunggal mempunyai tujuan untuk memaksimumkan keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya ikan pada jangka panjang.
Titik pada saat keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan sama dengan nol (n = 0) disebut titik open access equilibrium (keseimbangan bionomi). Model bio-ekonomi merupakan hasil penggabungan dari model biologi dan ekonomi. Biasanya model bio-ekonomi penangkapan ikan berdasarkan pada model biologi Schaefer dan model ekonomi dari Gordon. Persamaan tersebut dinamakan model Gordon-Schaefer. Asumsi dasar yang digunakan dalam model ini adalah permintaan ikan hasil tangkapan dan penawaran upaya penangkapan adalah elastis sempurna. Harga ikan (p) dan biaya marginal upaya penangkapan masing-masing mencerminkan manfaat marginal dari ikan hasil tangkapan bagi masyarakat dan biaya sosial marginal upaya penangkapan (Fauzy dan Anna 2005).
Menurut Schaefer (1957) diacu dalam Fauzi dan Anna (2005), perubahan cadangan sumberdaya ikan secara alami dipengaruhi oleh pertumbuhan logistik ikan, yang secara metematis dapat dinyatakan dalam sebuah fungsi sebagai berikut:
(dx/dt = f x)
dx/dt = xr (1- x/k) ... (1) dimana:
x = ukuran kelimpahan biomas ikan k = daya dukung alam
r = laju pertumbuhan instrinsik f (x) = fungsi pertumbuhan biomas ikan dx/dt = 1aju pertumbuhan biomas
Apabila sumberdaya tersebut dimanfaatkan melalui kegiatan penangkapan, maka ukuran kelimpahan akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut merupakan selisih antara laju pertumbuhan biomas dengan jumlah biomas yang ditangkap, sehingga secara hubungan fungsional, dinyatakan sebagai berikut:
dx/ dt = f ( x )−h ... (2) dimana :
h = hasil tangkapan
dan hasil tangkapan, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut: h = q.E.x ... (3)
dimana:
q = koefisien teknologi penangkapan E = tingkat upaya penangkapan (effort)
Pada kondisi keseimbangan, perubahan kelimpahan sama dengan nol (dx/dt = 0), dengan asumsi koefisien teknologi sama dengan satu (q =1) maka diperoleh hubungan antara laju pertumbuhan biomassa dengan hasil tangkapan. Hubungan tersebut secara matematis dinyatakan dengan menggabungkan persamaan (1) dengan persamaan (3), sehingga diperoleh persamaan baru sebagai berikut:
h q.E sehingga h dinyatakan x Deng diperoleh hubungan lestarinya, h Deng satuan upa sumberday dim p c TR TC Dala penerimaa yang men acces fish biaya tota meningkat total lebih untuk me = f (x E.z = r.x hubungan a n dalam per = k − gan mensu fungsi pr antar tin , sehingga s = k.E gan memas aya penang ya perikana = TR = p.h mana : = ke = ha = bia R = pe C = bia am kondisi an total (TR nurut Gordo ery". Pada t alnya, sehi tkan upaya h besar dar engurangi u x) x (1− x / k) . antara ukura rsamaan seb − k / rE ... ubsitusikan roduksi les ngkat upay secara matem E−(k / r)E2 sukkan fakt gkapan, mak an menjadi R −TC ... h − c.E ... untungan p arga rata-rata aya penangk nerimaan to aya total pen
open acces R) sama den on disebut tingkat upay ngga pelak panangkap ri penerima upaya, den ... an kelimpah bagai beriku ... persamaan stari perika ya (effort) matis persa ... tor harga p ka persamaa ... ... emanfaatan a hasil tang kapan ikan otal nangkapan ss, tingkat k ngan biaya t juga sebag ya di bawah ku perikana pan ikannya aan total, se ngan demik ... han (stok) de ut: ... (5) ke dal anan tangk dengan h amaannya m ... er satuan h an keuntung ... ... n sumberday kapan per satuan u ikan keseimbang total (TC), d gai "bioecon h E0A, pener an akan le a. Pada ting ehingga me kian hanya ... engan tingk ... lam persam kap yang asil tangka menjadi: ... hasil tangka gan dari usa
... ... ya upaya gan akan te dengan ting nomic equi rimaan total ebih banyak kat upaya d endorong p pada ting (4) kat upaya da (5) maaan (3), menggamb apan (prod (6) ap dan biay aha pemanf (7) (8) ercapai pada gkat upaya = ilibrium of l lebih besa k tertarik u di atas E0A pelaku perik gkat upaya apat maka arkan duksi) ya per faatan a saat = E0A, f open ar dari untuk biaya kanan E0A,
Gambar 4 Keseimbangan bio-ekonomi Gordon-Schaefer (Fauzi dan Anna 2005) Pada Gambar 4, terlihat bahwa keuntungan maksimum akan dicapai pada tingkat upaya MEY, dimana jarak vertikal antara peneriman total dan biaya total mencapai tingkat yang paling tinggi. Tingkat MEY disebut sebagai Maximum Economic Sustainble Yield (MEY). Apabila tingkat upaya pada keseimbangan open access (E0A) dibandingkan dengan tingkat upaya pada saat MEY, ternyata
tingkat upaya yang dibutuhkan pada keseimbangan open access, jauh lebih banyak dari pada tingkat upaya pada saat MEY, ini berarti bahwa pada keseimbangan open access telah terjadi penggunaan sumberdaya yang berlebihan, yang menurut Gordon disebut sebagai economic overfishing.
Overfishing (tangkap lebih) pada hakikatnya adalah penangkapan ikan yang melebihi kapasitas stok (sumberdaya), sehingga kemampuan stok untuk memproduksi pada tingkat maximum sustainable yield (MSY) menurun. Secara umum overfishing dipilah menjadi dua yaitu overfishing secara biologi (biological overfishing) yang menggunakan poin referensi maximum sustainable yield (MSY) dan overfishing secara ekonomi (economical overfishing) yang menggunakan poin referensi maximum economic sustainable yield (MEY) (Fauzy 2010).
Overfishing pada dasarnya adalah penangkapan ikan yang melebihi kapasitas daya dukung alam sebenarnya. Economical overfishing (tangkap lebih secara ekonomi) pada hakikatnya adalah situasi dimana perikanan tangkap yang semestinya mampu menghasilkan rente ekonomi yang positif, namun ternyata menghasilkan rente ekonomi yang nihil oleh karena pemanfaatan input (effort) yang berlebihan (Fauzy 2010).
2.4 Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan, pengambilan, analisis data dan tampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. Sistem Informasi Geografis dirancang untuk secara efisien memasukkan, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan menyajikan semua jenis informasi yang berorientasi geografis (Prahasta 2002).
Peta merupakan gambaran kenampakan muka bumi pada bidang datar dengan menggunakan skala. Gambar peta merupakan gambaran kenampakan muka bumi yang diperkecil dari kenyataan sebenarnya dan digambarkan dalam bentuk simbol. Peta dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi lingkungan suatu tempat. Peta juga digunakan untuk mendapatkan luasan suatu wilayah (kawasan) misalnya kawasan hutan.
Peta akan memiliki tingkat pemanfaatan yang lebih tinggi apabila peta tersebut kemudian dikonversi menjadi Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan SIG, maka peta tidak hanya sekedar dipahami sebagai gambar 2 dimensi saja, tetapi peta dapat dimaksimalkan pemanfaatannya sebagai alat untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi pembangunan antar sektor, antar institusi, dan antar stakeholders.
Pemasukan data ke dalam sistem informasi geografis dilakukan dengan cara digitasi dan tabulasi. Manajemen data meliputi semua operasi penyimpanan, pengaktifan, penyimpanan kembali, dan pencetakan semua data yang diperoleh dari masukan data. Proses manipulasi dan analisa data dilakukan interpolasi
data raster, tumpang susun peta yang meliputi map crossing, tumpang susun dengan bantuan matriks atau tabel dua dimensi, dan kalkulasi peta. Keluaran utama dari sistem informasi geografis adalah informasi spasial baru yang dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu tersimpan dalam format raster dan tercetak ke hardcopy, sehingga dapat dimanfaatkan secara operasional.
Perencanaan spasial atau keruangan di wilayah pesisir lebih kompleks dibandingkan dengan perencanaan spasial di daratan karena 1) perencanaan di daerah pesisir harus mengikutsertakan semua aspek yang berkaitan baik dengan wilayah daratan maupun lautan, 2) aspek daratan dan lautan tersebut tidak dapat dipisahkan secara fisik oleh garis pantai. Kedua aspek tersebut saling berinteraksi secara terus menerus dan bersifat dinamis seiring dengan proses-proses fisik dan biogeokimia yang terjadi, 3) bentang alam daerah pesisir berubah secara cepat bila dibandingkan dengan wilayah daratan. Secara praktis penerapan SIG untuk pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan adalah 1) Konsep pembangunan basis data, 2) Penentuan ketersediaan wilayah pesisir (Coastal Use Availability), dan 3) Penentuan wilayah pesisir untuk pengembangan (Dahuri 1997).
Struktur data spasial dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur data vektor dan raster. Struktur data vektor kenampakan keruangan akan dihasilkan dalam bentuk titik dan garis yang membentuk kenampakan tertentu, sedangkan struktur data raster kenampakan keruangan akan disajikan dalam bentuk konfigurasi sel-sel yang membentuk gambar (Prahasta 2002).
Sistem Informasi Geografis (SIG) terdiri dari tiga bagian yang terintegrasi, yaitu 1) Geografi; dunia nyata, atau realita spasial, atauilmu bumi (geografi); 2) Informasi; data dan informasi, meliputi arti dan kegunaanya; dan 3) Sistem; teknologi komputer dan fasilitas pendukung. Dengan kata lain SIG merupakan kumpulan dari tiga aspek dalam kehidupan dunia modern kita, dan menawarkan metode baru untuk memahaminya.
Informasi penutupan lahan dapat diekstrak langsung melalui proses interpretasi citra atau foto udara yang kualitasnya baik. Namun demikian,
informasi tentang penggunaan lahannya tidak dapat diketahui secara langsung.Oleh karena itu diperlukan pengecekan lapang untuk mengetahui penggunaanlahan di suatu daerah. Pengecekan lapang atau disebut juga ground “truth” didefinisikan sebagai observasi, pengukuran, dan pengumpulaninformasi tentang kondisi aktual di lapangan dalam rangka menentukan hubungan antara data penginderaan jauh dan obyek yang diobservasi. Dengan demikian apabila ditemukan perbedaan pola atau kecenderungan yang tidak dimengerti pada data penginderaan jauh, bisa dilakukan verifikasi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) telah banyak digunakan untuk perencanaan pertanian, industri dan penggunaan lahan. Analisis terpadu terhadap penggunaan lahan, debit air, data kependudukan dan pengaruh dari masing-masing data dapat dilakukan.
Secara teknis, proses analisis spasial untuk penentuan lahan mangrove dan konversi lahan yang terjadi di pesisir Kabupaten Cilacap dengan bantuan perangkat lunak SIG ArcView dapat dilakukan dengan bantuan ekstensi Geoprocessing. Tahapan atau langkah-langkah dalam analisis spasial akan diuraikan berikut ini dengan menggunakan contoh. Data spasial yang digunakan dalam contoh ini adalah data spasial dalam format ArcView Shapefile (*.shp), dengan nama file sebagai berikut: 1) Vegetasi.shp (data spasial kondisi penutupan lahan); 2) Mangrove.shp (data spasial mangrove); 3) Sedimentasi.shp (data spasial tingkat sedimentasi); dan 4) Bangunan.shp (data spasial kondisi bangunan konversi lahan).
Batas wilayah pemetaan dari data spasial pada contoh yang digunakan adalah DAS/Sub DAS Lancar. Sungai Lancar adalah sungai yangbermuara di Segara Anakan. Meskipun sungai dan sistem sungaiyang digunakan dalam contoh ini adalah riil namun data dan informasi untuk setiap kriteria/ parameter telah disesuaikan dengan maksud hanya sebagai contoh untuk mempermudah dalam menjelaskan tahapan teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Secara garis besar tahapan dalam analisis spasial untuk penyusunan data spasial lahan kritis
2.5 Metode Ishikawa
Metode Ishikawa atau disebut diagram tulang ikan (fish-bone diagram) digunakan untuk mencari akar sebab dari suatu masalah. Melalui metode ini telah dicari faktor-faktor yang menjadi penyebab penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap. Diagram ini digunakan untuk menyelidiki akibat yang jelek dan untuk mengambil tindakan guna memperbaiki penyebab dan untuk mempelajari penyebab-penyebabnya. Karena bentuk diagram tersebut seperti tulang ikan maka disebut juga diagram tulang ikan (fish-bone diagram) (Ishikawa 1989). Diagram tulang ikan disebut juga diagram sebab akibat (cause effect diagram), Bentuk gambar diagram tulang ikan adalah sebagaimana Gambar 5.
Gambar 5 Diagram tulang ikan
Langkah-langkah untuk menyusun diagram Ishikawa yang baik dan mendapatkan hubungan sebab akibat yang runut, maka beberapa hal perlu diperhatikan dalam rangka penyusunannya adalah:
a. Nyatakan permasalahan yang merupakan akibat utama yang akan ditelusuri penyebabnya;
b. Tuliskan akibat utama (masalah utama) tersebut di dalam segi-empat pada posisi kepala ikan;
c. Tuliskan ke 4 faktor penyebab primer yaitu SDM, metoda, material dan mesin pada masing-masing 4 cabang utama tulang ikan (jika proses yang dianalisis adalah proses manufakturing).
d. Kembangkan tiap faktor primer tersebut ke dalam faktor penyebab sekunder. Kemudian faktor penyebab sekunder yang ditemukan dituliskan sebagai ranting pada cabang tulang ikan.
e. Ulangi hal yang sama terhadap masing-masing ranting, yaitu kembangkan kemungkinan penyebab tersier dan susunlah ke dalam grafik berupa anak ranting dan seterusnya.
f. Pertimbangkan untuk melakukan pemecahan ranting apabila anak ranting yang terbentuk terlalu bertumpuk.
g. Periksa kembali semua penyebab yang telah dituliskan, hilangkan hal-hal yang mungkin merupakan suatu akibat (dengan demikian menjadi masalah lain), atau merupakan suatu gejala (dengan demikian menjadi tidak nyata karena tidak dapat diukur, dikontrol atau tidak spesifik).
h. Ulangi pemeriksaan terhadap grafik yang diperoleh, eliminasi penyebab yang tidak dapat atau belum dapat diukur dan dikontrol atau dengan kata lain tidak dapat dilakukan perbaikan atas penyebab tersebut karena tidak spesifik. Selain itu lakukan penggantian istilah apabila ada istilah yang kurang tepat atau kurang spesifik.
i. Usahakan agar penyebab-penyebab teridentifikasi yang tersisa juga merupakan proses variabel. Sehingga peningkatan dan perbaikan terhadap proses variabel tersebut akan dapat dipastikan memberikan dampak atau akibat yaitu berkurangnya masalah utama atau bahkan hilangnya masalah utama (yaitu masalah yang dituliskan pada posisi kepala tulang ikan).
2.6 Analisis SWOT
Analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi pengelolaan sumberdaya udang. Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Istilah SWOT merupakan singkatan dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan threats (ancaman). Keterangan dalam mendefinisikan SWOT diantaranya yaitu: 1) strengths: faktor internal kekuatan; 2) weaknesses: faktor internal kelemahan; 3) opportunities: faktor eksternal peluang; 4) threats: faktor eksternal ancaman
Identifikasi dalam analisis SWOT merupakan bagian yang sangat penting untuk ketepatan langkah-langkah berikutnya untuk pencapaian tujuan. Analisis ini dimulai dengan menentukan apakah tujuan yang akan dicapai, dan jika ternyata tujuannya tidak tercapai dan mengarah pada tujuan yang berbeda yang tidak dikehendaki maka tahapan prosesnya diulangi. Tahapan analisis SWOT adalah, sebagai berikut:
1) Tetapkan tujuan. Mendefinisikan apa tujuan organisasi yang akan dicapai. 2) Lingkungan pemindaian. Penilaian internal SWOT organisasi, ini perlu untuk
menyertakan sebuah penilaian situasi sekarang serta portofolio produk/jasa dan analisis dari siklus/produk jasa hidup.
3) Analisis strategi yang ada, ini harus memperhitungkan kondisi internal dan eksternal.
4) Isu strategis didefinisikan sebagai faktor kunci dalam pengembangan rencana perusahaan yang harus ditangani oleh organisasi.
5) Mengembangkan revisi strategi baru dimana revisi analisis isu-isu strategis bisa berarti dan diperlukan untuk mengubah tujuan.
6) Menetapkan faktor penting keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan implementasi strategi kebijakan yang baru.
7) Persiapan operasional, sumber daya, proyek rencana implementasi strategi. 8) Hasil pemantauan berupa pemetaan terhadap rencana, mengambil tindakan
korektif yang dapat berarti mengubah tujuan/strategi.
2.7 Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Hierarchy Process (AHP) atau Proses Hierarki Analisis (PHA) digunakan untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan beberapa kriteria (multi kriteria) (Saaty 1991). Dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan, AHP sangat membantu dalam menemukan satu yang paling sesuai dengan tujuan.
Pada awal pengembangannya, yang dilakukan berdasarkan matematika dan psikologi, AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970 dan telah secara ekstensif dipelajari dan disempurnakan sejak itu. Sistem tersebut menyediakan kerangka kerja yang komprehensif dan rasional untuk penataan
masalah keputusan, sehingga dapat mewakili dan mengukur unsur-unsur, untuk elemen-elemen yang berkaitan dengan tujuan secara keseluruhan, dan untuk mengevaluasi solusi alternatif. Hal ini digunakan di seluruh dunia dalam berbagai situasi pengambilan keputusan, baik pada bidang pemerintah, bisnis, industri, kesehatan, dan pendidikan. Beberapa perusahaan menyediakan perangkat lunak komputer bahkan AHP dilakukan dalam proses untuk membantu dalam operasional kegiatan.
Penggunaan AHP dilakukan pada awalnya untuk representasi keputusan mereka ke dalam hierarki lebih mudah dipahami berdasarkan sub-masalah, masing-masing yang dapat dianalisis secara independen. Unsur-unsur hierarki dapat berhubungan dengan setiap aspek dari keputusan apa pun masalah berwujud atau tidak berwujud, suatu permasalahan yang diukur atau diperkirakan secara kasar, baik atau buruknya secara langsung akan berpengaruh pada semua yang berlaku untuk keputusan yang akan dilakukan. Setelah hierarki dibangun, barulah pembuat keputusan dapat mengevaluasi berbagai elemen dengan membandingkan mereka satu sama lain dua sekaligus, sekaligus dampak terhadap elemen atas perlakuan dalam hirarki.
Dalam melakukan perbandingan, para pembuat keputusan bisa menggunakan data konkret tentang unsur-unsur, atau mereka bisa menggunakan penilaian mereka tentang makna relatif unsur-unsur kepentingan yang dimiliki. Ini adalah esensi dari AHP bahwa penilaian manusia, dan bukan hanya informasi yang mendasari, dapat digunakan dalam melakukan evaluasi. AHP mengkonversi evaluasi ini untuk numerik nilai-nilai yang dapat diolah dan dibandingkan selama rentang seluruh masalah. Sebuah bobot numerik atau prioritas diturunkan untuk setiap elemen hierarki, sehingga sering dapat dibandingkan elemen dan beragam akan dibandingkan satu sama lain dalam cara yang rasional dan konsisten. Kemampuan ini membedakan AHP dari teknik pembuatan keputusan lainnya. Pada langkah akhir dari proses, prioritas numerik dihitung untuk masing-masing alternatif keputusan. Angka-angka ini merupakan kemampuan relatif alternatif untuk mencapai tujuan keputusan, sehingga mereka membiarkan pertimbangan langsung dari berbagai kursus tindakan.
Gambar 6 Diagram Proses Hierarki Analisis (PHA)
Diagram di atas menunjukkan sebuah hierarki AHP sederhana pada akhir proses pengambilan keputusan. Prioritas numerik, berasal dari masukan para pembuat keputusan, disajikan untuk setiap node dalam hirarki. Dalam keputusan ini, tujuannya adalah untuk memilih suatu perihal yang paling sesuai berdasarkan empat kriteria tertentu. Kriteria yang paling penting akan dengan mudah mencapai tujuan, diikuti oleh kriteria lainnya. Faktor-faktor ini memiliki karakteristik masing-masing.
Menjalankan suatu proses yang membutuhkan keputusan langsung, Analytic Hierarchy Process (AHP) sangat berguna dalam kasus dimana suatu tim atau orang yang bekerja pada masalah yang kompleks, terutama mereka dengan taruhan tinggi, yang melibatkan persepsi dan penilaian manusia, yang memiliki resolusi jangka panjang akibatnya. Faktanya analisis ini memiliki kelebihan unik ketika unsur-unsur dan karakteristik penting dalam proses pengambilan keputusan, dirasa sulit untuk mengukur atau membandingkan, atau dimana komunikasi antara anggota tim yang terhambat oleh spesialisasi yang berbeda, atau dari perspektif yang berbeda. Keputusan untuk situasi dimana AHP dapat diterapkan mencakup:
1) Pilihan - Pemilihan salah satu alternatif dari satu perangkat alternatif, biasanya dimana ada kriteria keputusan yang terlibat.
2) Peringkat - Puting satu set alternatif guna dari paling sedikit diinginkan
3) Prioritas - Menentukan kebaikan relatif dari anggota dari satu set alternatif, sebagai lawan memilih satu tunggal atau hanya peringkat mereka
5) Benchmarking - Membandingkan proses dalam organisasi sendiri satu dengan orang-orang dari organisasi best-of-breed lainnya
6) Manajemen mutu - Berurusan dengan aspek multidimensi kualitas dan peningkatan kualitas.
Aplikasi AHP untuk situasi keputusan yang kompleks memiliki angka dalam ribuan, dan telah menghasilkan banyak hal pada masalah yang melibatkan perencanaan, alokasi sumber daya, penetapan prioritas, dan pemilihan di antara alternatif. Indikator lainnya termasuk peramalan, manajemen kualitas total, proses bisnis re-engineering, fungsi penyebaran kualitas, dan balanced scorecard. Banyak aplikasi AHP tidak pernah dilaporkan kepada masyarakat pada umumnya, karena merupakan konsumsi tingkat tinggi dalam organisasi besar di mana keamanan dan privasi pertimbangan melarang pengungkapan mereka.Tetapi beberapa penggunaan AHP telah dibahas dalam literatur. Baru-baru ini telah termasuk:
1) Memutuskan bagaimana cara terbaik untuk mengurangi dampak global perubahan iklim (Fondazione Eni Enrico Mattei);
2) Mengukur keseluruhan kualitas dari sistem perangkat lunak (Microsoft Corporation);
3) Memilih peringkat Perguruan Tinggi diluar negeri (Bloomsburg University of Pennsylvania);
4) Memutuskan lokasi pembangunan pengeboran minyak lepas pantai (Cambridge University);
5) Menilai resiko dalam operasi lintas-negara pipa minyak bumi (American Society of Civil Engineers);
6) Memutuskan bagaimana cara terbaik untuk mengelola DAS (Pemerintah Kota Surabaya).
AHP sering pula digunakan dalam merancang prosedur yang sangat spesifik untuk situasi tertentu, seperti rating bangunan berdasarkan makna bersejarah. AHP merupakan salah satu metode untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan beberapa kriteria (multi criteria). Karena sifatnya yang multi kriteria, AHP cukup banyak digunakan dalam penyusunan prioritas. Sebagai contoh, untuk menyusun prioritas penelitian, pihak manajemen lembaga penelitian sering menggunakan beberapa kriteria seperti
Di samping bersifat multi kriteria, AHP juga didasarkan pada suatu proses yang terstruktur dan logis. Pemilihan atau penyusunan prioritas dilakukan dengan suatu prosedur yang logis dan terstruktur. Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli-ahli yang representatif berkaitan dengan alternatif-alternatif yang akan disusun prioritasnya.
Secara garis besar, ada tiga tahapan AHP dalam penyusunan prioritas, yaitu: 1) Dekomposisi dari masalah; 2) Penilaian untuk membandingkan elemen-elemen hasil dekomposisi; dan 3) Sintesis dari prioritas.
1) Dekomposisi Masalah
Dalam menyusun prioritas, maka masalah penyusunan prioritas harus mampu didekomposisi menjadi tujuan (goal) dari suatu kegiatan, identifikasi pilihan-pilihan (options), dan perumusan kriteria (criteria) untuk memilih prioritas. Langkah pertama adalah merumuskan tujuan dari suatu kegiatan penyusunan prioritas. Untuk kasus pemilihan supplier, tujuan kegiatan adalah untuk memilih pemasok terbaik.
Dalam kasus pemilihan riset proposal, tujuan kegiatan mungkin mencari topik/proposal penelitian yang terbaik. Setelah tujuan dapat ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kriteria dari tujuan tersebut.
Berdasarkan tujuan dan kriteria, beberapa pilihan perlu diidentifkasi. Pilihan-pilihan tersebut hendaknya merupakan pilihan-pilihan yang potensial, sehingga jumlah pilihan tidak terlalu banyak. Untuk penyusunan prioritas penelitian, pilihan yang mungkin adalah judul/topik penelitian yang diusulkan oleh peneliti.
2) Penilaian/Pembandingan Elemen
Setelah masalah terdekomposisi, maka ada dua tahap penilaian atau membandingkan antar elemen yaitu perbandingan antar kriteria dan perbandingan antar pilihan untuk setiap kriteria. Perbandingan antar kriteria dimaksudkan untuk menentukan bobot untuk masingmasing kriteria. Di sisi lain, perbandingan antar pilihan untuk setiapkriteria dimaksudkan untuk melihat bobot suatu pilihan untuk suatu kriteria. Dengan perkataan lain, penilaian ini dimaksudkan untuk melihat seberapa penting suatu pilihan dilihat dari kriteria tertentu.
Dala mengunak (indifferen baik/lebih lebih disu Penilaian logis. Seb antara A d Suat memakai pada Tabe B dinilai disukai ol seperti ini Deng kriteria a diasumsik berikut: 1) cij mer 2) ci. mer 3) c meru 4) Bobot am melaku kan skala da nt), maka A h disukai dar ukai dengan ini tidak ak bagaimana c dengan B ha tu alternati skala antar el 1. Jika A 0.7, mengin leh B, mak akan digun gan mengg akan meng kan hanya a rupakan has rupakan pen upakan penj kriteria ke ukan penila ari 1/9 samp A dan B ma ri B, maka A n B, maka A kan digunak contoh, jika ampir mend f penilaian ra 0.1 samp A sedikit leb ndikasikan j ka nilai A m nakan dalam Tab gunakan pen ghasilkan ada empat sil penilaian njulahan nil jumlahan se i diperoleh aian/perband pai dengan 9 sing-masing A diberi nil A misalnya kan dalam t a A nilainya dekati 700% n yang digu ai dengan 1 ih baik/disu jarak sekita menjadi 1.6 m tulisan ini bel 1 Skala nilaian sepe Tabel 2. kriteria. Pa n/perbanding lai yang dim emua nilai c dengan me dingan, Saa 9. Jika pilih g diberi nila lai 3 dan B d a diberi nila tulisan ini k a 7 dan B a %. unakan ole 1.9 dinilai l ukai dari B, ar 30% dari 6 dan B m i. penilaian erti Tabel 1 Untuk m ada Tabel 2 gan antara k miliki kriteri ci. embagi nilai aty mengem han A dan B ai 1. Jika m diberi nilai ai 7 dan B karena cara adalah 1/7, eh Bourgeo lebih logis maka A dib i nilai 1. J enjadi 0.4. 1, maka per memudahkan 2 dapat dir kriteria i den ia ke i i ci. dengan mbangkan B dianggap misalnya A 1/3. Jika A diberi nila a tersebut ku maka perbe ois (2005) seperti disa beri nilai 1. ika A jauh Cara pen rbandingan n, dalam rangkum se ngan j c. AHP sama lebih A jauh ai 1/7. urang edaan yang ajikan 3 dan lebih ilaian antar tabel ebagai
Deng antar pil mengilustr dengan pe 1) oij mer kriteri 2) oi. mer 3) merup 4) boij me Pros Sebagai c utama. sumberday masing-m melakukan mengump gan mengg lihan (OP rasikan per enjelasan se rupakan ha a ke j rupakan pen pakan penjum erupakan ni ses penilaia catatan, pen Biasanya, ya. Penilaia masing ahli a n penilaian pulkan para Tabel 3 Tabel 2 P gunakan pro ) untuk rbandingan bagai berik sil penilaian njumlahan n mlahan sem ilai pilihan k an antar pi nilaian seb jumlah an dapat di ataupun den tersebut. U tenaga ahli. 3 Perbandin Perbandinga osedur yang masing-ma antar pilih kut: n/permband nilai yang d mua nilai oi. ke i untuk k lihan ini te aiknya dila ahli berva ilakukan de ngan melak Untuk studi . ngan antar p an antar krit g sama, ma asing krite han (4 pilih dingan anta dimiliki pilih kriteria ke j erus dilaku akukan ole ariasi, berg engan meny kukan suatu kasus ini, p pilihan untu teria aka dilakuka eria. Ta han) untuk ra pilihan i han ke i ukan untuk h ahlinya gantung pa yebarkan k u pertemuan penilaian d uk kriteria C an perband abel 3 be k kriteria 1 i dengan k u semua kri dan stakeh ada keterse kuesioner ke n para ahli u dilakukan de C1 dingan erikut (C1) untuk iteria. holder ediaan epada untuk engan
3) Sintes Sinte sintesis in masing-m nilai suatu bo Form memudahk 4 berikut. mengalika tersebut un bo Hal memband disusun b semakin ti is Penilaian esis hasil p ni merupaka masing kriter u pilihan ada opi = nilai/ b mula terseb kan, diasum Sebagai co an nilai bob ntuk pilihan opi = bo11* b yang ide ingkan nila erdasarkan inggi priorit n. penilaian m an penjumla ria setelah alah sebaga ... bobot untuk but juga msikan ada ontoh nilai bot pada k n 1 sebagai bc1+ bo12* entik dilak ai yang dip besarnya n tasnya, dan Tab merupakan t ahan dari bo diberi bobo ai berikut : ... pilihan ke i dapat disa empat krite prioritas/bo ktiteria deng berikut: bc2 + bo13* kukan untu peroleh m nilai tersebu sebaliknya bel 4 Sintesa ahap akhir obot yang d ot dari krite ... i ajikan dal eria dengan obot pilihan gan nilai y * bc3+ bo14 uk pilihan masing-masi ut. Semakin a. a penilaian dari AHP. diperoleh set eria tersebut ... am bentuk empat pilih n 1 (OP1) d ang terkait 4* bc4 ... n 2, 3 d ing pilihan, n tinggi nil . Pada dasa tiap pilihan t. Secara um ... (1) k tabel. U han seperti T diperoleh de dengan kr ...(2) dan 4. De , prioritas lai suatu pi arnya, n pada mum, Untuk Tabel engan riteria engan dapat lihan,