• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH ENAM VARIABEL TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN PENATALAKSANAAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIRIMEKAR TAHUN 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH ENAM VARIABEL TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN PENATALAKSANAAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIRIMEKAR TAHUN 2019"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

52

PENGARUH ENAM VARIABEL TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN

PENATALAKSANAAN STUNTING DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS CIRIMEKAR TAHUN 2019

Warini, S. ST, MKM Akademi Kebidanan Annisa Jaya

Jl. Karanggan No. 30 Desa Puspasari Citeureup-Bogor ABSTRAK

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek (Stunting). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung serta besaran sarana prasarana, peran petugas kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan dan persepsi terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting pada balita di wilayah kerja Puskemas Cirimekar tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang menggunakan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 128 balita stunting yang telah mengikuti pemberdayaan keluarga. Metode analisis yang digunakan structural equation model (SEM) menggunakan SmartPLS dan SPPS. Hasil pengujian hipotesis temuan penelitian diketahui bahwa yaitu variabel Sarana Prasarana (16,74%), Peran Nakes (18,18%), Peran Kader (9,57%), Pemberdayaan Keluarga (3,19%), Kualitas Pelayanan (33,15%), dan Persepsi (4,41%) berpengaruh langsung terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting pada balita sebesar 85,25%, sedangkan pengaruh tidak langsung sebesar 0,98%, dan pengaruh langsung dan tidak langsung sebesar 86,22%. Kesimpulan penelitian yaitu kualitas pelayanan merupakan faktor yang sangat dominan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting. Semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan maka semakin baik pula ibu balita dalam memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan stunting. Diharapkan bagi petugas kesehatan dan kader lebih berperan aktif dalam pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan ibu mengenai penatalaksanaan stunting sehingga terbentuk persepsi positif untuk memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan stunting tersebut.

Kata Kunci : Pengaruh, Sarana Prasarana, Peran Nakes, Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan, Persepsi, Stunting

(2)

53

ABSTRACT

Indonesia still faces nutritional problems that have a serious impact on the quality of human resources (HR). One of the nutritional problems that is a major concern at this time is that Stunting’s children are still high.. The purpose of this research to know the influence of the direct and indirect as well as the value is in the role of health workers, the role of cadres, family empowerment, service quality and perceptions of the utilization of stunting management services in toddlers inside the Majalaya health center area of Karawang. in this study is a quantitative approach using cross sectional. The sample used was 128 stunting toddlers who had participated in family empowerment. The analytical method used structural equation model (SEM) using SmartPLS and SPPS. The results of testing the hypothesis of the research findings are known that the Infrastructure variable (16.74%), the role of health workers (18.18%), the role of cadres (9.57%), family empowerment (3.19%), service quality (33, 15%), and Perception (4.41%) directly influence the utilization of stunting management services for toddlers 85.25%, while the indirect effect is 0.98%, and the direct and indirect effect is 86.22%.The direct effect of the utilization of stunting management services on infants is 85.25%, while the indirect effect is 0.98%, and direct and indirect influences are 86.22%. Research conclusions is service quality is the most dominant factor influencing the use of stunting management services. The better the quality of services provided, the better the mother of toddlers in utilizing stunting management services. The advice of this study is for health workers and cadres to play an active role in family empowerment in increasing mothers’ knowledge and abilities about stunting management so that positive perceptions are formed in mothers to take advantage of stunting management services.

Keywords : Influence, Infrastructure Facilities, Role of Health Workers, Role of Cadres, Family Empowerment, Service Quality, Perception, Stunting

Pendahuluan

Dalam Global Nutrition Targets 2025 stunting merupakan insiden yang terjadi secara global, diperkirakan sekitar 171 juta sampai 314 juta anak berusia di bawah lima tahun mengalami stunting dan 90% diantaranya berada di negara-negara Benua Afrika dan Asia. 1 Pendek (stunting) diidentifikasi dengan membandingkan tinggi seorang anak dengan standar tinggi anak pada populasi yang normal sesuai dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Anak dikatakan pendek (stunting) jika tingginya berada dibawah -2 standar deviasi (SD) dari standar WHO. 2 Stunting meningkatkan risiko kematian anak, berdampak buruk pada kognitif dan pengembangan motorik, menurunkan kinerja di sekolah, meningkatkan risiko kelebihan gizi dan penyakit tidak menular, dan mengurangi produktivitas masa dewasa.

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek (Stunting). Negara Indonesia menempati peringkat ke 5 dunia

dengan jumlah anak pendek terbanyak mempunyai prevalensi cukup tinggi yaitu 30%-39%. Hasil dari South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) pada tahun 2010-2011 menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah anak balita pendek terbesar, jauh diatas Malaysia, Thailand serta Vietnam. Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2018 balita dengan status gizi sangat pendek dan pendek yaitu 30,8%.

Berdasarkan pusat data dan informasi Kementrian Kesehatan RI presentase stunting di Jawa Barat balita usia 0-59 bulan pada tahun 2016 dengan kategori sangat pendek 6,13% dan pendek 19,00%, pada tahun 2017 kategori sangat pendek 8,40% dan pendek 20,80%.

Berdasarkan data Puskesmas Cirimekar pada tahun 2019 terdapat 4642 balita usia (0-59 bulan) dimana 88 balita tergolong sangat pendek, dan 218 pendek.

Etiologi stunting menurut WHO tahun 2014 disebabkan oleh empat masalah utama yaitu faktor keluarga dan rumah tangga, pemberian makanan tambahan yang tidak adekuat, pemberian ASI, serta penyakit infeksi. Keempat masalah utama tersebut disebab kan oleh faktor sosial dan komunitas, seperti politik

(3)

54

dan ekonomi, kesehatan dan pelayanan kesehatan, pendidikan, kultur sosial, sistem pangan dan agrikutur, sanitasi, juga lingkungan. Upaya global dalam penanganan masalah gizi termasuk stunting telah diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui program Scaling-up Nutrition Movement (SUN Movement) yang berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan. Pemerintah Indonesia telah menjadi bagian SUN Movement dengan membuat kebijakan gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui perancangan kegiatan intervensi gizi yang bersifat spesifik dan sensitive. Pemerintah di tingkat nasional kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan serta regulasi yang diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan pervalensi stunting, termasuk diantaranya: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025. Berdasarkan studi pendahuluan Puskesmas Cirimekar sudah menerapkan sebagian besar program kebijakan kesehatan dalam upaya penurunan balita stunting yang berorientasi pada masa 1000 HPK fokus prenatal dan pascanatal. Dilihat dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) masih memerlukan tambahan untuk posisi koordinator gizi. Hasil observasi sarana prasarana sudah cukup mendukung dalam penatalaksanaan balita stunting, diantaranya pemberian vitamin A, mikronutrien sesuai dengan program pemberian makanan tambahan (PMT), ruang konseling gizi serta peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan. Dalam pemberdayaan keluarga guna perbaikan gizi puskesmas cirimekar menerapkan program keluarga sadar gizi (KADARZI) yang meliputi indikator kadarzi menimbang berat badan secara teratur, ASI Ekslusif, makan aneka ragam makanan, konsumsi garam beryodium dan konsumsi suplementasi gizi.

Namun hanya 128 balita stunting saja yang sudah menerapakan program pemberdayaan keluarga. Dari 128 balita stunting yang sudah menerapkan program pemberdayaan keluarga ternyata program pemberdayaan keluarga tersebut belum efektif dalam menanggulangi stunting, ini terbukti dari pengetahuan ibu dan keluarga mengenai stunting dan penatalaksanaannya yang hanya meningkat

58,6% juga kemampuan keluarga khususunya ibu dalam memberikan asuhan penatalaksanaan stunting terhadap balitanya yang belum memenuhi indikator KADARZI, seperti kurang

dalam memberikan aneka ragam makanan, suplementasi gizi, ketepatan dalam pemberian MP-ASI dan ASI Ekslusif.

Berdasarkan pencapaian hasil kegiatan posyandu program gizi melalui balok SKDN pada tahun 2018 di Puskesmas Cirimekar yaitu: S = jumlah anak balita yang ada di wilayah kerja posyandu berjumlah 4642, K = jumlah anak balita yang memiliki KMS (Kartu Menuju Sehat) berjumlah = 4642, D = jumlah anak balita yang datang ditimbang berjumlah= 3652 , N = jumlah anak balita yang menunjukkan kenaikan berat badannya= 2739. Dalam memberikan gambaran tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penimbangan bulanan yaitu digunakan rumus D/S (jumlah balita yang datang ke posyandu setiap bulan untuk ditimbang dibandingkan jumlah semua balita di wilayah posyandu), hasil perhitungan didapatkan presenase yaitu 78,67% yaitu belum memenuhi cakupan minimal dimana target atau standar cakupan minimal untuk D/S adalah 85%.

Pemanfaatan pelayanan kesehatan tidak terlepas dari usaha petugas kesehatan untuk mendorong masyarakat dalam rangka mensosialisasikan kegiatan-kegiatan yang ada di pelayanan kesehatan baik usaha promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan maupun pemulihan kesehatan. Peran petugas kesehatan dapat dideskripsikan sebagai informasi atau nasehat verbal maupun nonverbal, bantuan nyata atau tindakan yang didapatkan karena kehadiran petugas kesehatan dan mempunyai manfaat emosional atau efek bagi pihak penerima, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan.

Berdasarkan data masalah penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini belum diketahuinya pengaruh sarana prasarana, peran tenaga kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan, dan persepsi terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting pada balita diwilayah kerja Puskesmas Cirimekar Tahun 2019. Tujuan penelitin ini untuk mengetahui pengaruh sarana prasarana, peran tenaga kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan, dan persepsi terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting pada balita diwilayah kerja Puskesmas Cirimekar Tahun 2019.

(4)

55

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan desain tersebut dengan alasan bahwa penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu yang bersamaan untuk mengetahui pengaruh sarana prasarana, peran tenaga kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan, dan persepsi terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting pada balita.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita stunting pada tahun 2019 di wilayah kerja puskesmas cirimekar, dengan jumlah balita 306. Jumlah sampel diambil sesuai dengan kaidah jumlah sampel pada pedoman (PLS) kelipatan dari jumlah indikator yang akan diteliti sehingga dalam dalam penelitian ini besaran sampel yang diambil masih berada dalam kisaran 85-170. Berdasarkan hal tersebut maka ukuran sampel dalam penelitia ini ditetapkan sebanyak 128 responden. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu Orang tua yang memiliki balita dengan tinggi badan menurut usia dibawah -2 standar median dan telah melaksanakan pemberdayaan keluarga. Kriteria Eksklusinya adalah rang tua yang memiliki balita dengan tinggi > -2 standar kurva median dan keluarga balita yang tidak ikut melaksanakan program pemberdayaan keluarga. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan Purposive sampling yaitu cara pengambilan sampel berdasarkan kriteria kshusus yang menjadi syarat penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan pendekatan (PLS) dengan menggunakan software smartPLS. Diagram jalur SEM berfungsi untuk menunjukkan pola hubungan antar variabel yang akan diteliti. Dalam SEM pola hubungan antar varaibel akan diisi dengan variabel yang diobservasi, variabel laten dan indikator. Penelitian ini mempunyai tujuh variabel, dari ke tujuh variabel tersebut, lima variabel mempunyai indikator yaitu variabel sarana prasarana, peran tenaga kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga dan kualitas pelayanan. Sedangkan dua variabel tidak mempunyai indikator yaitu variabel persepsi dan pemanfaatan pelayanan. Indikator sarana prasarana adalah ruang konseling, kartu menuju sehat (KMS), dan register kohort balita. Peran petugas kesehatan mempunyai indikator caregiver, role model, dan motivator. Indikator peran kader yaitu

pencatatan, penyuluh dan pemantauan. Pemberdayaan keluarga terdiri dari indiaktor tahap dominasi profesional, partsipasi dan tahap tantangan. Indiaktor Kualitas pelayanan terdiri dari tangible, reability, responsiveness, assurance, dan emphaty.

Data penelitian dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 128 ibu yang mempunyai balita stunting dan telah melakukan pemberdayaan keluarga sebagai responden yang memenuhi kriteria untuk menjawab pertanyaan. Metode pengukuran baik variabel endogen dan variabel eksogen yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan skala interval, sedangkan teknik pengukurannya menggunakan semantic differential, yang mempunyai skala 5 point. Pada skala ini sifat positif diberi nilai paling besar dan sifat negatif diberi nilai paling kecil tetap dipertahankan, demikian juga prinsip menggabungkan positif-negatif dan positif-negatif- positif. Penyajian hasil penelitian disusun berdasarkan sistematika yang dimulai dari gambaran analisis univariat yang bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi variabel dependen dan independen. Sedangkan analisa bivariat untuk melihat pengaruh antara variabel eksogen dengan variabel endogen. Kemudian diakhir penelitian ini diberikan gambaran análisis SEM (Structural Equaton Modeling (SEM) untuk menjelaskan hubungan

yang komplek dari beberapa variabel yang diuji dalam penelitian ini.

Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari tiga set hubungan (1) Inner Model yang spesifikasinya hubungan antara variabel laten (structural model), diukur dengan menggunakan Q-square predictive relevance dengan rumus Q 2 = 1-R 1 2 ) (1-R p 2 ). (2) Outer Model yang menspesifikasikan hubungan antara variabel laten dengan indikatornya satau variabel manifestnya (measurement model), diukur dengan melihat convergent validity dan discriminant validity. Convergent validity dengan nilai loading 0,5 dianggap cukup, untuk jumlah indikator dari variabel laten berkisar 3 sampai 7, sedangkan discriminant validity direkomendasikan nilai AVE lebih besar dari 0,5 dan juga dengan melihat. Nilai cronbach’s alpha sebagian besar memiliki nilai lebih besar dari 0,7 sehingga dapat dikatakan bahwa konstruk memiliki reliabilitas yang baik.

Data penelitian disajikan dalam bentuk penyajian komposisi dan frekuensi dari

(5)

56

sampel. Data yang disajikan pada awal hasil analisa adalah berupa gambaran atau deskripsi mengenai sampel, dimana penjelasan disertai ringkasan dari deskripsi yang utama. Hal ini dilakukan untuk membantu pembaca lebih mengenal karakteristik dari responden dimana data penelitian tersebut diperoleh.

Hasil

Sebanyak 128 responden yang diteliti paling banyak berusia 20 - 35 tahun sebanyak 105 (82,0%) responden. Berdasarkan pendidikan memperlihatkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMP sebanyak 60 (46,9%) responden. Berdasarkan pekerjaan memperlihatkan bahwa sebagian besar responden sebagai ibu rumah tangga sebanyak 115 (89,8%) responden.

Gambar 1, menerangkan bahwa semua variabel bersifat refleksif, dimana indikator merupakan representasi dari masing-masing variabel, hal ini tercermin dari arah panah yang terbentuk. Untuk variabel sarana prasarana indikatornya adalah ruang konseling, kartu menuju sehat (KMS), dan register kohort balita. Peran petugas kesehatan mempunyai indikator caregiver, role model, dan motivator. Indikator peran kader yaitu pencatatan, penyuluh dan pemantauan. Pemberdayaan keluarga terdiri dari indiaktor tahap dominasi profesional, partsipasi dan tahap tantangan. Indiaktor Kualitas pelayanan terdiri dari tangible, reability, responsiveness, assurance, dan emphaty.

Gambar 1 menunjukkan bahwa nilai faktor loading telah memenuhi persyaratan yaitu nilai loading faktors lebih besar dari 0,5. Suatu indikator reflektif dinyatakan valid jika mempunyai loading faktor di atas 0,5 terhadap konstruk yang dituju berdasarkan pada substantive content-nya. Reliabel adalah nilai, Composite Reliability harus diatas uji > 0,7. Terlihat bahwa composite reliability masing-masing konstruk sudah lebih dari 0,70, artinya semua konstruk penelitian sudah reliabel.

Untuk nilai AVE untuk semua konstrak lebih besar dari 0,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa evaluasi pengukuran model memiliki diskriminan validity yang baik atau valid dalam mengukur konstruk.

Nilai Cronbach’s Alpha sebagian besar memiliki nilai lebih besar dari 0,7 sehingga dapat dikatakan bahwa konstruk memiliki reliabilitas yang baik. Nilai LV Correlation sarana prasarana terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,882, peran petugas kesehatan terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,848, peran kader terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,852, pemberdayaan keluarga terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,809, kualitas pelayanan terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,890, dan persepsi terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting adalah 0,875.

(6)

57

Hasil pemodelan pada inner model ini dapat dilihat pada gambar 2 yang diolah dengan menggunakan software smartPLS dengan melakukan bootstrapping: Gambar 2 dapat dilihat nilai T-Statistik semua jalur sudah memenuhi angka signifikan pada CI 95% > (1,96), apabila nilai t statistik lebih besar dari nilai α = 0,05 (1,96), maka konstruk laten tersebut signifikan terhadap konstruknya. Inner Model merupakan model struktural yang dapat dievaluasi dengan melihat Nilai R Square, Uji Hipotesis T-Statistik, Pengaruh variabel langsung dan tidak langsung dan Predictive Relavance (Nilai Q Square).

Berdasarkan output smartpls nilai R square dari pemanfaatan pelayanan sebesar 0,852, artinya bahwa sarana prasarana, peran petugas kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan dan persepsi mempengaruhi kualitas hidup ibu maternal sebesar 85,25%.Hasil evaluasi Inner model menunjukkan bahwa sarana prasarana berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif 0,189751, sedangkan nilai T- Statistik sebesar 5.852863, peran petugas kesehatan berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif 0,214350, sedangkan nilai T-Statistik sebesar 9.07759, peran kader berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif 0,112420, sedangkan nilai T- Statistik sebesar 7.084269, pemberdayaan keluarga berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif

0,039403, sedangkan nilai T-Statistik sebesar 3.612472, kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif 0,372564, sedangkan nilai T-Statistik sebesar 16.824563, dan persepsi berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan, hasil uji menunjukkan ada pengaruh positif 0,050427, sedangkan nilai T- Statistik sebesar 2.347698.

Nilai dari masing-masing pengaruh langsung variabel laten independen tersebut apabila secara bersama-sama menunjukkan kesesuaian dengan nilai R-Square atau dengan kata lain hal ini menyatakan bahwa variabel sarana prasarana, peran petugas kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan dan persepsi mampu menjelaskan variabel pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting (16,74% + 18,18% + 9,57% + 3,19% + 33,15%+ 4,41%) = 85,25%. Sedangkan pengaruh tidak langsung dari variabel sarana prasarana, peran petugas kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga dan kualitas pelayanan terhadap variabel Pemanfaatan pelayanan sebesar (0,81% + 0,06% + 0,07% + 0,03% + 0,003%) = 0,98%. Jadi total pengaruh langsung dan tidak langsung sebesar 86,22%.

Hasil perhitungan nilai predictive relevance (Q-Square) adalah 83,5%, hal ini dapat disimpulkan bahwa model mampu menjelaskan variabilitas data sebesar 83,85%, sedangkan 16,15% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

(7)

58

Pembahasan

Pengaruh Langsung antara Sarana Prasarana terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara sarana prasarana terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting di Puskesmas Cirimekar Tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 16,74%. Nilai T-Statistik sebesar 5.852863 dan signifikan pada α = 5%. Nilai T-Statistik tersebut berada jauh diatas nilai kritis (1.96).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Arifin & Barnawi bahwa sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. Sarana prasarana pelayanan kesehatan dapat didefinisikan sebagai proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan

prasarana kesehatan secara efektif dan efisien untuk memberikan layanan secara profesional dibidang sarana dan prasarana dalam proses pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien pula. Hasil penelitian tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wulandari et al. dengan judul “Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Di UPTD Puskesmas Langara Kecamatan Wawoni Barat Kabupaten Konawe” menunjukkan bahwa ada hubungan antara sarana dan prasarana dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat Langara. Berdasarkan analisis uji keeratan hubungan menunjukkan hubungan yang lemah.Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa saran dan prasarana mempunyai hubungan yang lemah dengan pemanfaatan Puskesmas Langara Kabupaten Konawe Kepulauan Tahun 2016.

Peneliti berasumsi bahwa sarana prasarana mempunyai peranan penting dalam pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting dapat kita ketahui bahwa sarana dan prasarana

(8)

59

adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan kesehatan, karena apabila kedua ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. Semakin baik sarana dan prasarana penatalaksanaan stunting semakin baik untuk ibu dalam memanfaarkan pelayanan penatalaksanaan stunting. Selain itu, sarana dan prasarana dapat dijadikan sebagai suatu pedoman atau dasar untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan bahkan juga penilaian agar nantinya kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pengaruh Tidak Langsung antara Sarana Prasarana terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Peran Petugas Kesehatan, Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter untuk pengaruh tidak langsung antara Sarana Prasarana terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Peran Petugas Kesehatan, Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi di Puskesmas Majalaya Karawang tahun 2019, sebesar 0,000000000001%.

Pengaruh tidak langsung Sarana Prasarana terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Peran Petugas Kesehatan, Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi dilalui oleh 31 (tiga puluh satu jalur). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh tidak langsung sarana prsarana terhadap pemanfaatan pelayanan melalui variabel peran petugas kesehatan sebesar 0,045, peran kader sebesar 0,004, pemberdayaan keluarga sebesar 0,010, kualitas pelayanan 0,006, dan persepsi sebesar 0,001. Hasil persentase pengaruh tidak langsung antara sarana prasarana terhadap pemanfaatan pelayanan lebih

didominasi oleh faktor peran petugas kesehatan.

Menurut Department of Health Education and Welfare, USA faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan salah satunya adalah faktor dari sistem pelayanan kesehatan yang bersangkutan dimana faktor ini mencakup kelengkapan program kesehatan, tersedianya fasilitas dan tenaga medis, teraturnya pelayanan, dan hubungan antara dokter/ tenaga kesehatan lainnya dengan penderita. Menurut Senjaya, sarana kesehatan adalah segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap kelancaran suatu kegiatan. Dapat disimpulakan bahwa sarana dan prasarana kesehatan sangat penting dalam program intervensi stunting. Dengan berbagai sarana dan prasarana kesehatan yang tersedia dan pemanfaatan yang menunjang kegiatan tentunya akan membantu memberikan informasi mengenai pentingnya memanfaatkan ruang konseling, KMS, Register Kohort dalam proses kegiatan intervensi atau pelayanan penatalaksanaan stunting tersebut.

Sarana dan prasarana tersebut tentu sangat penting keberadaan bagi petugas kesehatan dan kader dalam menunjang peran keduanya meningkatkan pengetahuan ibu dalam memperbaiki status gizi balita stunting agar dapat mengejar pertumbuhannya atau yang dikenal dengan catch up growth dimana ruang konseling adalah sarana yang diperuntukan dalam rangka menjalin hubungan komunikasi antara petugas kesehatan dengan pasien yang bertujuan untuk mengenali dan memecahkan masalah kesehatan khususnya penatalaksanaan stunting yang dihadapi.

Berdasarkan asumsi peneliti sarana prasarana dimana keberadaannya sangat mempengaruhi peran petugas kesehatan, peran kader, pemberdayaan keluarga, kualitas pelayanan dan persepsi karena dapat mendukung terhadap kelancaran suatu kegiatan. sarana dan prasarana adalah

(9)

60

alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. Selain itu langkah peningkatan kuantitas pembangunan sarana dan prasarana kesehatan harus diikuti dengan peningkatan kemampuan manajerial yang profesional dan didukung oleh peningkatan kemampuan teknis tenaga pemberi pelayanan untuk menjamin keberhasilan dan kelestrian upaya pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Pengaruh Langsung antara Peran Petugas Kesehatan terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara peran petugas kesehatan terhadap

pemanfaatan pelayanan

penatalaksanaan stunting di Puskesmas Cirimekar Tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 18,18%, sedangkan nilai T-Statistik sebesar 9.077591 dan signifikan pada α=5%, nilai T- statistik tersebut berada di atas nilai kritis (1,96).

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh langsung peran petugas kesehatan lebih besar nilainya dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dan ada pengaruh yang positif dan signifikan dari kedua variabel tersebut.

Menurut Dever utilisasi atau pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor yang berkaitan dengan provider yaitu kemampuan pemberi pelayanan kesehatan dalam menciptakan kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan melalui pelayanan dokter/bidan, pelayanan paramedis, dan kemudahan memperoleh informasi pelayanan kesehatan. Pelayanan dokter/bidan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan

provider yang dapat mempengaruhi individu dalam memutuskan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Peran petugas kesehatan adalah suatu kegiatan yang diharapkan dari seorang petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irianti dengan judul penelitian “Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Petani Rumput Laut Desa Garassikang Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto Tahun 2018” menunjukkan bahwa ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan petani rumput laut Desa Garassikang. Selain itu, sejalan dengan penelitian Mardiyah et al. Yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara pelayanan petugas dengan pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember Tahun 2013.

Menurut asumsi peneliti bahwa peran tenaga kesehatan dalam meningkatkan pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting dengan cara memotivasi, memberikan edukasi, dan memberikan perawatan terbaik. Seorang tenaga kesehatan harus mampu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam meningkatkan kesadaran pihak yang dimotivasi agar tumbuh ke arah pencapaian tujuan yang diinginkan yaitu catch up growth atau mengejar pertumbuhan dan peningkatan status gizi balita. Selain itu, melakukan pendampingan, menyadarkan, dan mendorong kelompok untuk mengenali masalah yang dihadapi selama memberikan asuhan dan dapat mengembangkan potensinya untuk memecahkan masalah tersebut.

Pengaruh Tidak Langsung antara Peran Petugas Kesehatan terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui

(10)

61

Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter untuk pengaruh tidak langsung antara Peran Petugas Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi di Puskesmas Cirimekar Tahun 2019 sebesar 0,00000000002 %. Pengaruh tidak langsung Peran Petugas Kesehatan Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi dilalui oleh 15 ( lima belas jalur). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh tidak langsung Peran Petugas Kesehatan Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting melalui Peran Kader sebesar 0,004, Pemberdayaan Keluarga sebesar 0,029, Kualitas Pelayanan sebesar 0,023 dan Persepsi sebesar 0,001. Hasil persentase pengaruh tidak langsung antara Peran Petugas Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Peran Kader, Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi lebih didominasi oleh faktor pemberdayaan keluarga.

Suwandono mengemukakan bahwa ada 3 komponen utama yang sangat berperan dalam keberhasilan pencapaian program gizi yaitu peran serta masyarakat (kader dan tokoh masyarakat), peranserta petugas puskesmas dan KB serta peran sektor lainnya. Peran petugas kesehatan selama ini dibantu oleh keberadaan kader, dimana dapat kita ketahui bahwa kader adalah orang yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perorangan atau masyarakat serta bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (Permenkes RI

No. 25 tahun 2014). Kader posyandu adalah health provider yang berada di dekat kegiatan sasaran posyandu, frekuensi tatap muka kader lebih sering daripada petugas kesehatan lainnya.

Menurut asumsi peneliti peran petugas kesehatan sangat berpengaruh terhadap peran kader, petugas kesehatan dapat memberikan dukung atau motivasi bahkan memberikan apresiasi terhadap kinerja kader dengan maksud agar kinerja kader meningkat, dalam pemberdayaan keluarga petugas kesehatan dapat menerapkan proses pemberdayaan keluarga. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan petugas kesehatan perlu melakukan evaluasi terhadap indikator kulitas pelayanan tersebut dan dalam membentuk persepsi ibu petugas kesehatan dapat memberikan edukasi dengan sering melakukan penyuluhan agar pengetahuan ibu meningkat mengenai tatalaksana stunting sehingga ibu memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan stunting.

Pengaruh Langsung antara Peran Kader terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara peran kader terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting di Puskesmas Cirimekar Tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 9,57%. Nilai T-Statistik sebesar 7.084269 dan signifikan pada α=5%, nilai T-Statistik tersebut berada di atas nilai kritis (1,96).

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh langsung peran tenaga kader lebih besar nilainya dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dan ada pengaruh yang positif dan signifikan dari kedua variabel tersebut.

Kader posyandu adalah health provider yang berada di dekat kegiatan sasaran posyandu, frekuensi tatap muka kader lebih sering daripada petugas kesehatan lainnya. Secara teknis, tugas

(11)

62

kader yang terkait dengan gizi adalah melakukan pendataan balita, melakukan penimbangan serta mencatatnya dalam Kartu Menuju Sehat (KMS), memberikan makanan tambahan, mendistribusikan vitamin A, melakukan penyuluhan gizi serta kunjungan ke rumah ibu yang menyusui dan ibu yang memiliki balita. Kader diharapkan berperan aktif dan mampu menjadi pendorong, motivator dan penyuluh masyarakat.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Mardiana Zakir dengan judul peenlitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia Kencana” menunjukan bahwa terdapat hubungan antara peran kader dengan pemanfaatan Posyandu Lansia Kencana. Kader diharapkan dapat menjembatani antara petugas/ahli kesehatan dengan masyarakat serta membantu masyarakat mengidentifikasi dan menghadapi/menjawab kebutuhan kesehatan mereka sendiri.

Menurut asumsi peneliti peran kader dalam pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting melalui pemberdayaaan masyarakat lahir sebagai manifestasi faktor motivasi untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat, kemampuan mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan dalam pelayanan kesehatan, pemahaman sumber daya yang tersedia di masyarakat, kemampuan koordinasi dengan tokoh masyarakat, pemerintahan dan petugas kesehatan untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan secara mandiri.

Pengaruh Tidak Langsung antara Peran Kader terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter untuk pengaruh tidak langsung antara Peran Kader Terhadap Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi di puskesmas cirimekar tahun 2019 sebesar 0,00000001 %.

Pengaruh tidak langsung Peran Kader Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi dilalui oleh 7 (tujuh jalur). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh tidak langsung Peran Kader Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga 0,010, Kualitas Pelayanan 0,016 dan Persepsi 0,023. Hasil persentase pengaruh tidak langsung antar Peran Kader Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga, Kualitas Pelayanan dan Persepsi lebih didominasi oleh faktor persepsi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fino et al. dengan judul penelitian “Peran kader posyandu dalam pemberdayaan masyarakat Bintan” dimana Kader posyandu berperan sebagai motivator kesehatan, penyuluh kesehatan dan pemberi layanan kesehatan melalui posyandu. Pemberdayaan masyarakat tercipta dari faktor motivasi untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat, kemampuan mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan layanan kesehatan, dan memahami sumber daya yang tersedia. Pemberdayaan keluarga memiliki makna bagaimana keluarga memampukan dirirnya sendiri dengan difasilitasi orang lain untuk meningkatkan atau mengontrol status kesehatan keluarga.

Salah satu tujuan pemberdayaan keluarga adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup seluruh anggota keluarga sepanjang tahap perkembangan keluarga dan siklus hidupnya. Kader posyandu memberikan informasi yang penting kepada ibu balita. Informasi yang

(12)

63

diberikan dapat berupa masalah-masalah gizi balita yang sering terjadi serta upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi balita. Melalui konseling/ penyuluhan gizi, pengunjung posyandu dengan bimbingan kader diharapkan dapat mengenali dan mengatasi masalah gizi yang dihadapi dan terdorong untuk mencari dan memilih cara pemecahan masalah gizi secara mudah sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Asumsi peneliti bahwa peran kader juga sangat mempengaruhi kegiatan pemeberdayaan keluarga , peran kader dalam pemberdayaan keluarga adalah sebagai motivator kesehatan, penyuluh kesehatan dan pemberi layanan kesehatan melalui posyandu. Ketika ibu sudah diberdayakan dengan memberikan edukasi dan motivasi, maka persepsi ibu akan menjadi positif sehingga ibu akan memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan tunting tersebut. Pengaruh Langsung antara Pemberdayaan Keluarga terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara Pemberdayaan Keluarga terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalakasanaan Stunting di Pukesmas Cirimekar tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 3,19%. Nilai T-Statistik sebesar 3.612472 dan signifikan pada α = 5%. Nilai T-Statistik tersebut berada jauh diatas nilai kritis (1,96).

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh langsung pemberdayaan keluarga lebih besar nilainya dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dan ada pengaruh yang positif dan signifikan dari kedua variabel tersebut.

Pemberdayaan keluarga memiliki makna bagaimana keluarga memampukan dirirnya sendiri dengan difasilitasi orang lain untuk

meningkatkan atau mengontrol status kesehatan keluarga. Figley menjelaskan bahwa intervensi pemberdayaan keluarga menekankan pada sikap filosofis terhadap konsep bekerja dengan keluarga. Keluarga dengan masalah anggota keluarga mengalami penyakit merupakan pengalaman traumatis bagi keluarga, maka pendekatan yang dilakukan adalah memperhalus intervensi keperawatan dengan memberikan penghormatan tulus terhadap kemampuan keluarga, baik kognitif,afektif maupun bertindak secara alami dan kekuatan keluarga yang dimiliki. Penelitian ini didukung oleh penelitian Rustina dengan judul “Pengaruh Pemberdayaan Keluarga terhadap Status Kesehatan Bayi Berat Lahir Rendah di Kota Jakarta” dimana hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberdayaan keluarga efektif dalam meningkatkan status imunisasi bayi, meningkatkan pemeriksaan kesehatan lanjutan, menurunkan frekuensi kunjungan akut, meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua dalam memberikan asuhan. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna skor pengetahuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah kelompok intervensi mendapatkan program pemberdayaan keluarga.

Hasil ini mengindikasikan bahwa program pemberdayaan keluarga efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu. Hal tersebut didukung oleh penelitian Lukiono terdapat pengaruh antara pengetahuan dan sikap ibu hamil miskin secara bersama-sama terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dengan lengkap menggunakan pembiayaan Jamkesmas, dan pengaruh tersebut secara statistik ”significant”.

Menurut Asumsi peneliti bahwa pemberdayaan keluarga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi

pemanfaatan pelayanan

penatalaksanaan stunting ketika ibu dan keluarga mendapatkan

(13)

64

pemberdayaan keluarga, pengetahuan ibu dan keluarga akan meningkat dimana tujuan dari pemberdayaan keluarga adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup seluruh anggota keluarga sepanjang tahap perkembangan keluarga dan siklus hidupnya, selain itu membantu ibu memperoleh kemampuan untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ibu lakukan yang berkait dengan penatalaksanaan stunting. Pemberdayaan dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuannya. Terbentuknya perilaku baru pada seseorang dimulai dari seseorang tahu dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek diluarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada seseorang tersebut. Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk menentukan perilaku seseorang untuk menyadari atau tidak, mampu untuk mengatur perilakunya sendiri. Timbulnya gangguan kesehatan atau penyakit pada seseorang disebabkan oleh perilaku seseorang tersebut. Jadi ketika ibu dan keluarga telah mampu atau berdaya maka akan memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan stunting tersebut. Pengaruh Tidak Langsung antara Pemberdayaan Keluarga terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Kulitas pelayanan dan Persepsi Parameter untuk pengaruh tidak langsung antara Pemberdayaan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Kulitas pelayanan dan Persepsi di Puskesmas Cirimekar tahun 2019 sebesar 0,000001% .

Pengaruh tidak langsung pemberdayaan keluarga Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Kulitas pelayanan dan Persepsi dilalui oleh 3 (tiga jalur). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh tidak langsung Pemberdayaan Keluarga Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting Melalui Kulitas pelayanan 0,023, dan Persepsi sebesar 0,01. Hasil persentase pengaruh tidak langsung antara Pemberdayaan Keluarga Terhadap

Pemanfaatan Pelayanan

Penatalaksanaan Stunting lebih didominasi oleh faktor kualitas pelayanan .

Menurut De Vreye dalam Sugiyanti dalam Hardiyansyah meningkatkan kualitas pelayanan, ada tujuh dimensi 7. Salah satu dimensi tersebut adalah empower (pemberdayaan). Dimana empower (pemberdayaan) dengan indikator memberdayakan karyawan/bawahan; belajar dari pengalaman; dan memberikan rangsangan, pengakuan dan penghargaan. 25 Salah satu tujuan pemberdayaan keluarga adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup seluruh anggota keluarga sepanjang tahap perkembangan keluarga dan siklus hidupnya. Figley menjelaskan bahwa intervensi pemberdayaan keluarga menekankan pada sikap filosofis terhadap konsep bekerja dengan keluarga. Keluarga dengan masalah anggota keluarga mengalami penyakit merupakan pengalaman traumatis bagi keluarga, maka pendekatan yang dilakukan adalah memperhalus intervensi keperawatan dengan memberikan penghormatan tulus terhadap kemampuan keluarga, baik kognitif, afektif maupun bertindak secara alami dan kekuatan keluarga yang dimiliki. Robinson menjelaskan bahwa intervensi pemberdayaan yang dilakukan pada keluarga adalah dengan menjadi pendengar yang baik, penuh kasih sayang, tidak menghakimi, kolaborator, memotivasi munculnya kekuatan keluarga, partisipasi keluarga dan keterlibatan dalam proses perubahan dan penyembuhan penyakit. Peneliti berasumsi bahwa pemeberdayaan keluarga sangat penting diterapkan karena dapat mempengaruhi kualitas pelayanan dan

(14)

65

persepsi ibu dimana tujuan dari pemberdayaan keluarga kita ketahui untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup seluruh anggota keluarga sepanjang tahap perkembangan keluarga dan siklus hidupnya. Membantu keluarga menentukan praktek perawatan keluarga dengan memperhatikan praktek perawatan yang telah dilakukan keluarga dan kebutuhan akan pendidikan kesehatan. Dalam upaya pemberdayaan keluarga, anggota keluarga berupaya menerapkan keterampilan dan kompetensi dalam rangka terjadinya perubahan dalam keluarga.

Pengaruh Langsung antara Kualitas Pelayanan terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara Kualitas Pelayanan Terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting di Puskesmas Kecamatan Majalaya Karawang tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 33,15 %. Nilai T-Statistik sebesar 16.824563 dan signifikan pada α = 5%. Nilai T-Statistik tersebut berada jauh diatas nilai kritis (1.96).

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh langsung kulitas pelayanan lebih besar nilainya dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari kedua variabel tersebut.

Menurut Azwar, kualitas pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan penampilan pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan, tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan. Zeithaml menyatakan bahwa kualitas pelayanan ditentukan oleh dua hal, yaitu expected service dan preceived service. Expected services dan preceived

ditentukan oleh dimention of service quality, dimention of service quality tersebut yang dijadikan sebagai indikator dalam meningkatkan mutu kualitas pelayanan penatalaksanaan stunting. Indikator- indikator yang digunakan terdiri dari dimensi bukti nyata (tangibles), reliabilti (reliability), keresponsifan (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) yang telah teruji dan mempunyai taraf reliabiliti (reliability) dan taraf kesahihan (validity) yang tinggi. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Herwanda dengan judul penelitian “Pengaruh perceived quality (persepsi pasien) terhadap minat pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan gigi dan mulut RSGM FKG Universitas Syiah Kuala” menunjukan hasil yaitu pengaruh signifikan perceived quality dan kelima dimensi kualitas layanan yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurancedan empathy terhadap minat pemanfaatan ulang.

Selain itu Penelitia Purba “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2017” hasil uji multivariat variabel kualitas pelayanan mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap, kualitas pelayanan merupakan model terbaik untuk meningkatkan pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di RSUD dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar.

Asumsi Peneliti bahwa kualitas pelayanan dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam memberikan pelayanan, ketika kualitas pelayanan bagus akan meningkatkan minat ibu dalam memanfaatkan pelayanan penatalaksanaan stunting. Ditinjau dari pemakai jasa pelayanan kesehatan (health consumer) maka kualitas pelayanan lebih terkait pada ketanggapan petugas memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi antara petugas dengan

(15)

66

pasien, keprihatinan serta keramahtamahan petugas dalam melayani pasien, kerendahan hati dan kesungguhan.

Pengaruh Tidak Langsung antara Kualitas Pelayanan terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Persepsi

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter untuk pengaruh tidak langsung antara Kulitas pelayanan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Persepsi di Puskesmas Cirimekar tahun 2019 sebesar 0,003%. Pengaruh tidak langsung kualitas pelayanan terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan Stunting melalui persepsi dilalui oleh 1 (satu jalur). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh tidak langsung Pemberdayaan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting melalui Persepsi sebesar 0,01. Hasil persentase pengaruh tidak langsung antara kualitas pelayanan terhadap pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan Stunting hanya didominasi oleh faktor persepsi. Menurut Apriyanto dalam Ryman Napirah et.al untuk mengukur sebuah kualitas pelayanan adalah dengan mengetahui persepsi tentang pelayanan tersebut dari kaca mata seorang konsumen atau pelanggan. Begitu juga dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan dengan mengetahui penilaian atau persepsi pelayanan tersebut oleh pasien. Persepsi pasien ini sangat penting karena pasien yang puas akan mematuhi pengobatan dan mau datang berobat kembali.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Herwanda dengan judul penelitian “Pengaruh Perceived Quality Pasien Terhadap Pemanfaatan Ulang Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di RSGM Unsyiah ” dengan hasil yaitu Persepsi pasien terhadap tangible memiliki memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap minat pemanfaatan ulang pasien di RSGM. Persepsi pasien terhadap reliability memiliki memiliki pengaruh signifikan terhadap minat pemanfaatan ulang pasien. Persepsi pasien terhadap responsiveness memiliki korelasi yang kuat terhadap minat pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan gigi dan mulut di RSGM dan memiliki pengaruh signifikan terhadap minat pemanfaatan ulang pasien diRSGM. Persepsi pasien terhadap assurance memiliki memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat pemanfaatan ulang pasien di RSGM. Persepsi pasien terhadap empathy memiliki korelasi yang kuat terhadap minat pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan gigi dan mulut di RSGM nilai dan memiliki pengaruh signifikan terhadap minat pemanfaatan ulang pasien di RSGM.

Asumsi peneliti bahwa inti dari konsep kualitas layanan adalah menunjukkan segala bentuk aktualisasi kegiatan pelayanan yang memuaskan ibu yang mempunyai balita stunting yang menerima pelayanan sesuai dengan daya tanggap(responsiveness), menumbuhkan adanya jaminan (Assurance), menunjukkan bukti fisik (tangible) yang dapat dilihatnya, menurut empati (Empathy) dari orang-orang yang memberikan pelayanan sesuai dengan keandalannya (Reliability) menjalankan tugas pelayanan yang diberikan secara konsekuen untuk memuaskan yang menerima. Baik buruknya kualitas pelayanan dinilai berdasarkan persepsi konsumen terhadap proses pelayanan secara menyeluruh (perceived quality). Perceived quality merupakan keyakinan konsumen tentang layanan yang diterimanya.

Pengaruh Langsung Antara Persepsi Terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting Melalui Persepsi

Berdasarkan hasil uji terhadap koefisien parameter antara Persepsi terhadap Pemanfataan Pelayanan Penatalaksanaan Stunting di

(16)

67

Puskesmas Cirimekar tahun 2019 menunjukkan pengaruh langsung sebesar 4,41%. Nilai T-Statistik sebesar 2.347698 dan signifikan pada α = 5%. Nilai T-Statistik tersebut berada jauh diatas nilai kritis (1.96).

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengaruh langsung persepsi lebih besar nilainya dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari kedua variabel tersebut.

Hasil penelitian tersebut didukung oleh penelitian Madunde et al., dengan judul penelitian “Faktor – faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Puskesmas di Kecamatan Kema” menunjukan bahwa Variabel tingkat persepsi masyarakat memiliki hubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Kema. Penelitian Madunde tersebut oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yuliah dengan judul penelitian “Pemanfaatan puskesmas ditinjau dari aspek pengguna jasa, penyelenggara pelayanan dan pendukung di puskesmas pasar kemis Kabupaten Tangerang” dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor pendidikan, persepsi sakit,sikap petugas, penyandang dana, jarak, biaya transportasi berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas. Dari keenam faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas, ternyata persepsi sakit yang paling dominan berhubungan dengan pemanfaatan Puskesmas.

Hasil penelitian Irianti dengan judul penelitian “Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Petani Rumput Laut Desa Garassikang Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto Tahun 2018” menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi sakit dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan petani rumput laut Desa Garassikang.

Peneliti berasumsi bahwa sesuai dengan Gambaraa Health belief

model yang terdiri dari 6 dimensi dimana Perceived susceptibility atau kerentanan yang dirasakan mengenai resiko atau kerentanan (susceptibility) personal, Hal ini membentuk pada persepsi subyektif seseorang berkaitan dengan risiko dari kondisi kesehatannya. Selanjutnya persepsi terhadap manfaat yang dirasakan atau Perceived benefitsm. Penerimaan susceptibility sesorang terhadap suatu kondisi yang dipercaya dapat memicu keseriusan (perceived threat) adalah mendorong untuk menghasilkan suatu kekuatan yang mendukung ke arah perubahan perilaku. Hal tersebut tergantung pada kepercayaan seseorang terhadap efektivitas dari berbagai cara yang tersedia untuk mengurangi ancaman penyakit, atau keuntungan-keuntungan yang dirasakan (perceived benefit) untuk mengambil upaya- upaya kesehatan tersebut. Saat seorang menunjukkan suatu kepercayaan terhadap adanya kepekaan (susceptibility) dan keseriusan (seriousness), sering tidak diharapkan untuk menerima apapun

upaya kesehatan yang

direkomendasikan kecuali jika upaya tersebut dirasa manjur dan cocok. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa variabel kualitas pelayanan merupakan faktor yang dominan yang sangat mempengaruhi pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting di Puskesmas Cirimekar Tahun 2019 dimana Kualitas pelayanan (service quality) diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pasien serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan pasien. Kualitas pelayanan sebagai hasil persepsi dan perbandingan antara harapan pasien dengan kinerja aktual pelayanan yang diberikan terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service (pengalaman yang diharapkan) dan perceived service (pelayanan yang diterima). Pelayanan yang berkualitas harus memperhatikan persepsi kualitas (perceived quality)

(17)

68

yang dirasakan oleh pasien, yang mana perceived quality tersebut dapat ditentukan oleh lima dimensi kualitas layanan, yaitu tampilan fisik (tangible), kehandalan (reliability), cepat tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (empathy).

Diharapkan dalam

meningkatkan pemanfaatan pelayanan penatalaksanaan stunting Puskesmas Cirimekar melakukan pemberdayaan kader dan revitalisasi puskesmas untuk memperkuat fungsi puskesmas sebagai pelaksana upaya preventif dan promotif. Selain itu Puskesmas perlu membentuk strategi dengan mempererat koordinasi dengan jaringan stake holders untuk membantu implementasi program pemberdayaan keluarga yang terfokus pada 1000 HPK dan KADARZI. Meningkatkan program pemberdayaan keluarga dengan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kelurga yang menerapkan program pemberdayaan keluarga oleh petugas kesehatan dan kader agar program tersebut menjadi efektif dalam menanggulangi stunting. Daftar Pustaka

Venny, M., Yasnani, H. lestari. Faktor-Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kejadian Stunting

Pada Balita Usia 24-59 Bulan Di Desa Wawatu Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2017. 3(2), 1–9; 2018.

De Onis, M., Dewey, K. G., Borghi, E., Onyango, A. W., Blössner, M., Daelmans, B., Branca, F. The world health organization’s global target for reducing childhood stunting by 2025 rationale and proposed actions. Maternal and Child Nutrition; 2013.

https://doi.org/10.1111/mcn.12 075

Torlesse, H., Cronin, A. A., Sebayang, S. K., & Nandy, R. Determinants of stunting in Indonesian children: Evidence

from a cross- sectional survey indicate a prominent role for the water, sanitation and hygiene sector in stunting reduction. BMC Public Health, 16(1), 1–11; 2016. https://doi.org/10.1186/s12889 - 016-3339-8

Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta; 2018.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2016. Bandung; 2017.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 100 Kabupaten/Kota Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta: TNP2K; 2017.

Khusna, R. Analisis Faktor-Faktor

Yang Mempengaruhi

Pemanfaatan Pelayanan

Antenatal Di Puskesmas

Pegandan Kota Semarang; 2016

Barnawi Dan Arifin, M. Etika Dan Profesi

Kependidikan.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media; 2012.

Moenir. Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.Solimun; 2010.

Wulandari, C., Ahmad, L., & Saptaputra, S. K. Faktor Yang

Berhubungan Dengan

Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan Di Uptd Puskesmas Langara Kecamatan Wawoni

Barat Kabupaten Konawe

Kepulauan. Jurnal Ilmiah

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 0–8; 2016.

Senjaya, W. Strategi Pembelajaran Beroriantasi Tandar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana; 2010.

(18)

69

Irianti, I. Faktor Yang Berhubungan

Dengan Pemanfaatan

Pelayanan Kesehatan Petani Rumput Laut Desa Garassing Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponton Tahun 2018. Universitas Hasanuddin, Makassar; 2018.

Mardiyah, U. L., Herawati, Y. T., & Witcahyo, E. Faktor Yang Berhubungan Dengan

Pemanfaatan Pelayanan

Antenatal Oleh Ibu Hamil Di

Wilayah Kerja Puskesmas

Tempurejo Kabupaten Jember Tahun 2013 ( Correlated Factors Of Antenatal Services

Utilization By Pregnant

Women At Community Health Center Of Tempurejo, Jember 2013 ), 2(1), 58–65; 2014. Sistiarani, C., & Nurhayati, S.

Peran Kader Dalam

Penggunaan Buku Kesehatan

Ibu Dan Anak. Jurnal

Kesehatan Masyarakat, 8(2), 99–105; 2013.

Iswarawanti, D. N. Kader Posyandu:

Peranan Dan Tantangan

Pemberdayaannya Dalam

Usaha Peningkatan Gizi Anak Di Indonesia, 13(04), 189–173; 2014.

Rahayu, R. Yuniar, N. Farzan, A. Peran Kader Posyandu Dalam

Upaya Peningkatan

Pemanfaatan Posyandu Di

Wilayah Kerja Puskesmas

Mokoau Tahun 2017.

Jimkesmas, 2(6), 1–7; 2017. Zakir, M. Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Pemanfaatan

Posyandu Lansia Kencana, 64–69; 2014.

Susanto, F., Claramita, M., & Handayani, S. Peran Kader

Posyandu Dalam

Pemberdayaan Masyarakat

Bintan. Journal of Community Medicine and Public Health, Vol. 33 No, 33–42; 2017.

Nurhaeni, N., Sutadi, H., Rustina, Y., & Supriyatno, B. Pemberdayaan Keluarga Pada Anak Balita Pneumonia Di

Rumah Sakit : Persepsi

Perawat Anak Dan Keluarga. Makara Kesehatan, 15(2), 58– 64; 2011.

Sukrayasa, W., Martiningsih, E., & Agung, I. G. Strategi

Pemberdayaan Kader

Posyandu untuk Meningkatkan Program Gizi di Kecamatan Denpasar Utara. Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science, 7(2), 42–48; 2018. Ardian, I. Pemberdayaan Keluarga

(Family Empowerment)

Sebagai Intervensi

Keperawatan Keluarga.

Majalah Ilmiah Sultan Agung, Vol. 52 ; 2014.

Rustina. The Influence of Family Empowerment on the Health Status of Low Birth Weight Infant in Jakarta. Makara Journal of Health Research, 18(1), 19–24; 2014.

Lukiono, W. T. Pengaruh Pengetahuan

Dan Sikap Terhadap

Pemanfaatan Jaminan

Kesehatan Pada Ibu Hamil

Miskin Di Kota Blitar.

Universitas Sebelas Maret, Surakarta; 2010.

Hardiyansyah. Kualitas Pelayanan

Publik (konsep, Dimensi,

Indikator dan

Implementasinya) (Revisi).

Yogyakarta: Gava Media; 2018.

Herwanda. Pengaruh Perceived

Quality Terhadap

Pemanfaatan Ulang

Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Di RSGM Unsiyah, 9(1), 16–25; 2017.

Purba, T. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat

(19)

70

Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar Tahun 2017. Universitas Sumatera Utara; 2017.

Ryman, N., & Rahman, A. T.

Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Dengan

Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan Di Wilayah Kerja

Puskesmas Tambarana

Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso, 4 No. 1; 2016.

Madunde, K. J., Pelealu, F. J., & Kawatu, P. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan

Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan di Puskesmas

KEMA Kecamatan Kema

Kabupaten Minahasa Utara; 2013.

Gambar

Gambar  1  menunjukkan  bahwa  nilai  faktor  loading  telah  memenuhi  persyaratan  yaitu nilai loading faktors lebih besar dari 0,5

Referensi

Dokumen terkait

Maka dapat disimpulkan bahwa, Disiplin Kerja, Kinerja Karyawan, Lingkungan Kerja, dan Stres Kerja telah memenuhi syarat model yang baik dengan memiliki nilai AVE

Pengembangan dan penerapan sistem pemanfaatan terpadu (conjunctive use) antara air permukaan dan air tanah akan digalakkan terutama untuk menciptakan sinergi dan

1) Menentukan pengguna jasa. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi sasaran adalah pengguna jasa maskapai penerbangan Citilink dengan rute penerbangan

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial keluarga terhadap pencegahan kekambuhan penderita gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Sukajaya5.

dari defnisi di atas dapat dipahami bahwa inti jual beli merupakan suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang memiliki nilai secara sukarela diantara kedua belah

Hal yang perlu dilakukan perpustakaan dalam pendekatan system pada manajemen adalah penataan sistem untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang paling efektif dan

Dapensi Trio Usaha Cabang Surabaya dengan pekerja outsourcing menggunakan perjanjian kerja waktu tertentu ( PKWT ) yang sebagian besar di dalam perjanjian tersebut